School in Love [Chapter 16]

Tittle : School in Love Chapter 16
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, School Life, Friendship

Follow twitter aku yuuk : @julianingati23

 

Main Cast :
Bae Suzy | Im Yoona | Park Jiyeon
Cho Kyuhyun | Lee Donghae | Kim Kibum

Dha’s Speech :
Aku cuma mau minta maaf kalau ada typo. Cerita ini masih panjaaaang. Semoga gak sepanjang naskah aslinya yah ^_^ Happy Reading.

School in Love by Dha Khanzaki 8

=====o0o=====

CHAPTER 16
The Lost Old Friend

“APA ada yang salah, Yoon?” Jiyeon bertanya penuh rasa penasaran saat menyadari sikap murung Yoona. Gadis cantik itu mengeleng seolah-olah memang tidak ada satu masalah pun yang mengganggu pikirannya.

Setiap kali teringat pada perjodohan yang diatur keluarganya, Yoona tidak sanggup menunjukkan wajahnya pada Jiyeon. Hatinya dipenuhi dengan kecemasan dan ketakutan. Apa yang akan terjadi jika Jiyeon tahu tentang perjodohannya dengan Kyuhyun? Astaga, ia tidak pernah menyiapkan diri untuk menghadapi situasi itu.

Jiyeon sungguh khawatir. Ia tidak bisa tersenyum lepas lagi meskipun kini ia membawa kantong belanja berisi gaun yang akan ia gunakan untuk pesta nanti.
“Aku baik-baik saja,” Yoona tersenyum. Senyum yang terbit di wajah Jiyeon detik berikutnya seperti silet yang menyayat hati. Aku akan menjadi orang brengsek jika membuat Jiyeon menangis saat mengetahui perjodohan itu kelak. Semoga Tuhan memberinya jalan untuk keluar dari dilema itu.

“Im Yoona,” seseorang mengejutkan Yoona sembari menepuk pundaknya. Kedua gadis itu menoleh bersamaan.
“Benar, kau Yoona!” si penepuk itu berseru gembira. Yoona yang canggung saat mengenali orang-orang di depannya tersenyum kikuk. Jiyeon takjub, ada lima anak lelaki berseragam SMA di hadapan mereka saat ini. Terlihat jelas mereka sangat mengenal Yoona. Ia tidak tahu Yoona bisa akrab dengan anak lelaki juga. Atau mungkin mereka hanya sedikit dari segerombol pria yang menjadi pengagum Yoona saja? Entahlah. Pria mana yang tidak terpesona pada kecantikan dan keanggunan seorang Im Yoona?

“Senang bertemu kalian lagi.” cara Yoona berkata dengan sopan dan anggun mengejutkan para lelaki itu. Mereka saling pandang untuk beberapa saat, lalu kembali tersenyum seperti telah memutuskan sesuatu.
“Kapan kau akan berkumpul dengan kami lagi?”
“Aku tidak bisa memutuskan kapan,” Yoona gugup, menoleh pada Jiyeon yang mengamatinya dengan penuh minat.

Pria-pria itu tampak kecewa. Mereka berbasa-basi sebentar dengan Yoona lalu pergi. Yoona terlihat lega setelah tidak menghadapi para pria itu lagi. Jiyeon terlihat penasaran, seperti ingin menanyakan sesuatu padanya. Tetapi kekhawatirannya itu lenyap ketika akhirnya Jiyeon memutuskan untuk tidak bertanya tentang mereka.

Krystal melihat kejadian itu dari balik jendela mobil yang terparkir di seberang jalan. Matanya menyipit oleh dendam. Kejadian di kafetaria itu tidak pernah ia lupakan. Ia membenci Yoona setengah mati setelah gadis itu mempermalukannya dan membuat hubungannya dengan Kibum resmi berakhir selamanya. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian licik saat ia telah menemukan cara untuk membalas perbuatan Yoona padanya. Ia turun dari mobil untuk menghampiri para pria yang mengenal Yoona tadi. Ia akan menggali sesuatu tentang Yoona dari mereka.

—o0o—

Langkah Jiyeon terhenti ketika mereka menyusuri trotoar dengan toko-toko disepanjang sisinya. Yoona langsung tahu apa yang membuat Jiyeon terhenti ketika ia mengalihkan pandangannya ke depan. Tak jauh dari tempat mereka berdiri Cho Kyuhyun. Pria itu diam di depan etalase sebuah toko. Matanya menatap lurus apapun yang dipajang di etalase itu. Raut wajahnya terlihat sendu.
Yoona menegang. Oh, ini buruk. Mengapa mereka harus bertemu di saat ia tidak ingin bertemu?
“Kyuhyun,” Jiyeon dengan rasa penasaran memanggil pria itu seraya mendekatinya. Kyuhyun menoleh, dia tampak terkesiap melihat kehadirannya terlebih ketika pandangannya menangkap sosok Yoona bersama gadis itu.

Ketika Jiyeon telah berdiri di sampingnya, ia tahu apa yang diperhatikan Kyuhyun. “Boneka beruang? Kau ingin membeli boneka beruang?” Jiyeon heran.
“Tidak,” Kyuhyun tanpa ragu menjawabnya meskipun ia memiliki alasan kuat mengapa memandangi boneka itu.
“Kyuhyun-ah.” lagi-lagi seseorang menyerukan namanya. Kyuhyun menggerutu. Tidak bisakah seseorang membiarkannya sendirian sehari saja. Ia menoleh ke arah lain dengan kesal. Matanya melebar saat ia tahu yang berdiri di depannya adalah Cho Hanna, ibunya.
Apa yang dia lakukan di sini? Kyuhyun langsung menoleh ke sekitar dan ia baru sadar berada di sekitar salon yang biasa ibunya kunjungi dan sialnya, hari ini adalah jadwal ibunya melakukan perawatan rambut dan kuku.

Yoona memucat mengenalinya sementara Jiyeon mengerutkan kening heran. Siapa wanita itu? Tanpa menyadari kehadiran dua gadis di depan Kyuhyun, Cho Hanna menghampiri putranya dengan gembira.
“Apa yang kau lakukan di sini, nak?” ia mengerjap senang saat menyadari Yoona sedang bersama Kyuhyun, “Ah, kau sedang bersama Yoona rupanya.”
Sisi kesopanan Yoona langsung terbangun mendengar sapaan itu, ia segera menundukkan kepala dengan sopan. “Selamat sore, Nyonya Cho.”
“Benar-benar gadis yang ramah.” Hanna berseru kagum, tak salah ia memilih Yoona sebagai calon menantunya. Gadis ini cantik sekaligus berkepribadian anggun khas bangsawan, “Dan siapa kau?” tanyanya heran pada Jiyeon.

Jiyeon yang masih belum mengerti siapa wanita di depannya menundukkan kepala dengan sopan seperti yang Yoona lakukan, “Aku Park Jiyeon. Senang bertemu Anda.”
Cho Hanna melebar mengenali nama itu. Ia langsung menoleh pada Kyuhyun yang memandangnya tanpa ekspresi. “Park Jiyeon, dia.” Tangan ibunya tanpa sadar langsung menunjuk Jiyeon. Membuat gadis itu mengerjap sementara Yoona menundukkan kepala, takut Cho Hanna akan menguak hal yang sangat ia takuti.
Kyuhyun mengerang dalam hati. Kenapa ia harus bertemu dengan ibunya dan Yoona serta Jiyeon di saat yang bersamaan? Ia tersenyum pada ibunya lalu mengejutkan Jiyeon dengan menggamit tangannya dengan tiba-tiba.
“Kyu,” Jiyeon berdebar kencang tetapi Kyuhyun tak peduli dengan tindakan impulsifnya.
“Ya. Dia memang Park Jiyeon kekasihku. Aku senang Eomma masih mengingatnya.”

Apa?

Baik Jiyeon maupun Cho Hanna terkejut. Ada dua hal dari kata-kata Kyuhyun yang membuat Jiyeon kaget dan langsung memandangnya dengan raut tercengang. Pertama, pengakuan Kyuhyun tentang status mereka sebagai kekasih. Ia tidak mengerti kenapa Kyuhyun melakukannya karena hanya di depan teman-teman SMP-nya lah ia harus bersandiwara sebagai pacarnya dan kedua, Jiyeon tak percaya bahwa wanita cantik di depannya adalah ibu Kyuhyun. Ia semakin tidak mengerti mengapa Kyuhyun juga membeberkan status pura-pura itu pada ibunya juga.
Tetapi bukan berarti ia tidak suka. Sungguh, itu adalah pernyataan yang menggembirakan bagi Jiyeon. Hanya saja ia tidak mengerti mengapa Kyuhyun harus berbohong pada ibunya sendiri.

Eomma kira..,” Pandangan Cho Hanna bergantian menatap putranya lalu gadis yang digenggam olehnya. Ia kira Kyuhyun hanya bercanda ketika berkata telah memiliki kekasih, ternyata memang benar ada gadis yang bernama Park Jiyeon. Ia memandang putranya dengan tegas.
“Apa kekasihmu sudah tahu bahwa kau akan bertunangan dengan gadis lain?”
Yoona dan Kyuhyun terkejut, namun tak ada satupun dari mereka yang wajahnya sepucat Jiyeon. Sekujur syaraf dalam tubuhnya menegang mendengar pernyataan Hanna. Kyuhyun bertunangan? Dengan siapa?

Tuhan, kumohon agar dia tidak mengatakan apapun. Yoona berdoa keras dalam hati. Ia berharap Cho Hanna tidak mengungkapkan perjodohan itu di depan Jiyeon. Namun ketika wanita itu dengan gemas menoleh padanya, harapannya runtuh, “Kenapa kau tidak berkata jujur juga pada temanmu ini, Yoon? Ada baiknya kau jujur bahwa tak lama lagi kau dan Kyuhyun akan bertunangan.”

Sialan! Yoona mengumpat dalam hati.
Kyuhyun langsung memelototi ibunya.
Sementara Jiyeon, nyawanya seperti lepas dari tubuhnya mendengar pernyataan itu.

Cho Hanna tidak menyadari sama sekali perubahan ekspresi drastis di wajah tiga remaja di depannya. Ia ingin melanjutkan argumennya namun terpotong karena ponselnya berbunyi. Begitu tahu itu adalah panggilan darurat dari kantor, ia segera pergi setelah mencium pipi Kyuhyun dan memeluk Yoona. Jiyeon hanya mendapat usapan lembut di pundaknya dan pandangan penuh penyesalan setelah itu menghilang dari pandangan ketiganya.

Tak ada satupun dari mereka yang berani untuk bicara lebih dulu. Yoona menatap sedih Jiyeon. Ia sangat menyesal karena Jiyeon harus mendengar hal ini dari mulut orang lain. Sementara Kyuhyun merenung, ia merasa bersalah sekaligus kesal. Bersalah karena ia telah melibatkan Jiyeon dalam sandiwara omong kosongnya dan kesal karena ia tidak berhasil membuat ibunya berubah pikiran dengan pengakuan palsunya tadi.

Pergulatan emosi yang paling parah dialami oleh Park Jiyeon. Tak pernah ia merasa serapuh ini sampai berdiri pun adalah sesuatu yang dilakukan dengan penuh perjuangan. Sekuat tenaga ia menahan kedua kakinya agar tetap berdiri tegak. Sulit rasanya ia tetap waras di saat ia tahu pria yang dicintainya akan bertunangan dengan sahabat yang disayanginya.
“Yoon, kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau dan Kyuhyun akan bertunangan?” Jiyeon menoleh pada Yoona, bertanya dengan suara gemetar, jauh, dan kaku.

Yoona sungguh ingin memeluk Jiyeon lalu berlutut di kakinya sambil berkata bahwa itu tidak benar ketika melihat ekspresi menyedihkannya. Ia tahu Jiyeon berusaha tetap tegar padahal airmata di pelupuk matanya itu bisa tumpah membanjiri wajahnya kapan saja.
Mianhae, Jiyeon-ah.” pandangannya mengabur. Tak bisa dipungkiri perjodohan ini membuat hatinya kacau balau. “Semua ini terlalu tiba-tiba dan aku belum menyiapkan hati untuk menceritakannya padamu.”
Jiyeon mengangguk pelan. Entah mendapat kekuatan dari mana, tiba-tiba saja ia tersenyum. “Mengapa harus sedih. Aku senang mendengarnya. Yoon, kau sangat beruntung bisa bertunangan dengan pria seperti Kyuhyun. Aku senang mendengarnya. Selamat untuk kalian berdua.” tak lupa Jiyeon memandang Kyuhyun. Pria itu melebarkan mata dengan pernyataannya, terlebih Yoona.

“Jiyeon, aku tidak—“

“Tidak apa-apa Yoon,” Sela Jiyeon. Ia menggenggam tangan Yoona lalu mengusapnya, “Aku merestuimu. Kau adalah sahabatku yang terbaik selain Suzy. Aku menyayangimu dan akan selalu bahagia terhadap kebahagiaanmu juga. Lagipula, kau lebih pantas bersanding dengan Kyuhyun dibandingkan diriku.” Kata-kata Jiyeon mulai gemetar disertai isakan kecil.
“Ya, kau benar-benar Tukang Menyimpulkan Seenaknya.” Kyuhyun protes.
“Dan siapa diriku?” Jiyeon tidak mempedulikan ucapan Kyuhyun, “Aku bukan pacar sungguhannya. Aku hanya salah satu gadis yang nekat menyatakan perasaanku padanya.” tanpa memandang Kyuhyun, Jiyeon lagi-lagi mengejutkan kedua orang di dekatnya. Sebelum salah satu dari mereka mengeluarkan komentar, ia segera undur diri lalu pergi.
“Jiyeon!!!” Yoona berteriak panik ketika Jiyeon kabur meninggalkannya. Sesaat, ia bisa melihat setitik airmata jatuh di pipi sahabatnya itu.

Kakinya baru berhenti berlari ketika ia berada di tempat yang tidak ramai dikunjungi orang. Jiyeon menjatuhkan dirinya di atas rerumputan di dekat taman bermain anak-anak. Ia menangis kencang, sendirian di sana. Ia meluapkan seluruh airmata yang ia tahan mati-matian di depan Kyuhyun dan Yoona. Demi apapun, tak ada yang menghancurkan dirinya selain kenyataan bahwa Kyuhyun akan menjadi milik sahabatnya sendiri. Itu jauh lebih menyayat daripada ia tahu Kyuhyun bertunangan dengan gadis yang tak dikenalnya.

—o0o—

Suzy kesal karena Kibum benar-benar Tuan-Keras-Kepala. Ia sudah mencegah Kibum agar tidak bersikeras datang ke rumahnya dengan cara halus namun pria itu sepertinya terlalu bodoh untuk menyadari ketidaksukaannya. Akhirnya saat mereka tiba di depan rumahnya, ia pasrah. Toh ibunya tidak mungkin mengizinkan ia pergi bersama seorang pria. Ibunya adalah satu dari sekian banyak ibu yang melarang anaknya menjalin hubungan asmara sebelum berusia 20 tahun.

Benar saja, ibunya sangat terkejut ketika Suzy dengan malas memperkenalkan Kibum padanya karena ini pertama kalinya putrinya nekat membawa seorang pria ke rumah untuk diperkenalkan di saat ia sudah beratus-ratus kali memperingatkan Suzy agar tidak berkencan dengan siapapun sebelum melewati usia 20. Dengan kaku ibunya mempersilakan Kibum duduk. Suzy tidak membantah ketika ibunya memberi kode agar ikut dengannya ke dapur.

Sial, aku akan diceramahi. Batin Suzy yakin. Untuk pertama kalinya ia sangat senang akan dimarahi ibunya.

“Apa hubunganmu dengan pria manis itu?” ibunya tiba-tiba bertanya sementara tangannya sibuk menyiapkan minuman. Suzy terkejut dengan ekspresi ibunya. Kenapa ia merasa ibunya tidak sedang memarahinya? Terlebih ia melihat tidak ada raut wajah sedikit pun di wajahnya.
“Dia temanku.”

Ibunya lalu mengatakan sesuatu yang membuat Suzy merasa rahangnya jatuh ke lantai. “Aigoo, dia sungguh tampan. Benar kau hanya berteman dengannya?” ibunya terlihat sangat berharap ia membantah dan berkata bahwa sebenarnya mereka adalah sepasang kekasih.

Tunggu, apa yang salah dengan ibunya hari ini?!!! Kenapa dia tidak marah?
Eomma, ada apa denganmu? Biasanya Eomma selalu marah jika aku dekat dengan seorang pria.” Suzy kesal dengan reaksi ibunya yang tidak terduga.
“Tidak di saat kau berhubungan dengan pria semanis dan setampan itu. Aigoo, senyumnya benar-benar mengingatkan Eomma pada ayahmu ketika muda dulu. Eomma bisa jatuh cinta jika melihat senyumnya terlalu lama.”
“Haaahhhh—“ Suzy menganga. Detik itu ia menyadari bahwa Kim Kibum adalah pria yang mengerikan, pria itu bahkan memiliki kemampuan untuk mempesona wanita yang berusia dua kali lipat darinya.
Eomma!!”
“Sudah diam dan antarkan minuman ini!” ibunya menyerahkan nampan berisi dua gelas minuman berwarna kemerahan.

Kibum tidak bisa mendengar perdebatan ibu dan anak itu. Ia sibuk mengamati ruang tamu tempatnya duduk. Ia tertarik pada sebuah foto berukuran besar yang terpajang di dinding di hadapannya. Melihat foto keluarga itu Kibum tahu bahwa Suzy memiliki seorang kakak laki-laki dan adik perempuan.

“Aku pulang!!”

Bae Minji berteriak sambil mengayunkan tasnya. Ia baru saja pulang dari les bahasa Inggris yang diikutinya. Ketika mengetahui ada orang asing duduk di kursi ruang tamu, gadis cilik itu mengerjapkan mata. Terutama ketika si tamu asing itu tersenyum dengan begitu manisnya.
Oppa nuguseyo(kakak siapa)?” tanyanya seraya menghampiri Kibum. Dilihat dari foto, Kibum bisa menebak gadis cilik itu adalah adik perempuan Suzy.
“Teman kakakmu. Kau pasti adiknya. Cantik sekali.” Kibum mengelus puncak kepala Minji. Bocah kelas 2 SD itu tersipu malu. Tanpa diminta Minji mengulurkan tangannya.
“Bae Minji imnida.”
“Manisnya,” Kibum berseru. Ia menjabat tangan Minji, “Namaku Kim Kibum.”
“Kim Kibum Oppa,” ulang Minji untuk menegaskan. Kibum mengangguk. Minji seperti menemukan seseorang yang membuatnya sangat nyaman sehingga ia tidak malu untuk duduk di samping Kibum.

Suzy tiba di ruang tamu, ia kaget melihat adiknya berakrab ria dengan Kibum. Ia memutar bola mata melihat Minji begitu antusias ketika berbicara dengan Kibum. Pria itu bahkan membuat adiknya mabuk kepayang juga.
“Minji, jauh-jauh dari kakak itu. Dia berbahaya.” kata Suzy membuat mereka menoleh padanya. Kibum langsung menyeringai lebar ketika ia meletakkan gelas minuman di depannya.
“Terima kasih.”
“Kenapa aku harus jauh-jauh? Kibum Oppa tidak jahat pada Minji.”
“Sekarang ya, tapi lihat nanti saat kau tahu apa yang Eonni maksud.” Suzy kemudian menarik Minji agar menjauh dari Kibum. Gadis cilik itu menggerutu.
Eonni kejam. Bilang saja tidak suka Minji dekat-dekat dengan Kibum Oppa!”
Ucapan itu langsung membuat Suzy tertegun. Benar juga. Untuk apa ia keberatan dengan kedekatan adiknya dan Kibum.
Eonni-mu hanya cemburu. Kemari.” Ucapnya membuat Suzy memekik marah. Seenaknya saja pria ini bicara. Kibum tidak peduli dengan pelototannya, ia malah meminta Minji duduk di pangkuannya. Gadis itu luar biasa gembira dan dengan senang hati duduk di pangkuan Kibum.

“Kim Kibum, jika kau disini untuk merayu adikku sebaiknya kau pulang saja.” sindir Suzy sambil berkacak pinggang. Entah kenapa ia merasa terusik dengan keakraban Minji dan Kibum. Demi Tuhan, adiknya baru delapan tahun. Jika Kibum ingin memacarinya dia harus menunggu sepuluh tahun lagi.
Kibum mendongakkan kepala agar bisa bertatapan dengan Suzy dan ketika sadar gadis itu merengut tidak suka, ia langsung ingat dengan tujuannya datang kemari.
“Kau benar. Aku harus meminta izin pada ibumu.”

Suzy mengerjap. Sial, ia lupa dengan hal itu. Kibum mendudukkan Minji di atas sofa lalu bangkit. “Dimana ibumu?” tanyanya.
Suzy langsung panik. “Eomma…”
Eommaaaaa, Kibum Oppaa ingin bicaraaa..” tiba-tiba Minji berlari mencari ibunya dengan semangat.
“Minji-ya!” Suzy berseru panik. Ia menatap Kibum yang terlihat tenang-tenang saja. Ia yakin pria ini pasti terbiasa membuat para wanita kelimpungan. Tak lama kemudian ibunya muncul, sedikit ditarik oleh Minji yang antusias. Gadis itu menghampiri Kibum kembali ketika ibunya sudah berada di antara mereka. Menatap heran Kibum dan Suzy.

“Ada apa nak, Minji bilang kau ingin bicara denganku.” Tanyanya lembut. Kibum tersenyum manis dan Suzy berdoa cepat semoga ibunya akan menolak apapun yang diminta Kibum.
“Hari ini adalah ulang tahun Suzy, aku bermaksud mengajaknya pergi untuk merayakan ulang tahunnya. Suzy bilang dia tidak akan pergi sebelum meminta izin pada Anda. Jika boleh, aku ingin mengajak Suzy pergi.” kata-kata Kibum begitu lancar dan tidak tersendat, gugup, atau kacau sedikitpun. Suzy terkejut dengan kelugasan kalimatnya. Apa pria ini melatih mengucapkan kalimat itu sebelumnya? Kini ia mengalihkan perhatiannya pada ibunya, menanti jawaban wanita itu dengan harap-harap cemas.

Tidak diizinkan, tidak diizinkan. Kumohon, jangan katakan apapun selain itu. Suzy berdoa.

“Tentu saja boleh. Sudah lama Suzy tidak merayakan ulang tahun bersama teman-temannya.” Ibunya terlihat terpukau dengan kesopanan Kibum. Pria ini sungguh bertanggung jawab.

Apa..Apa..APAAAAAA !!!

Suzy terbengong-bengong dengan mulut menganga. Apa ia tidak salah dengar? Ibunya mengizinkan? Itu adalah hal paling mustahil tetapi nyata terjadi saat ini. Ia terdiam, mematung menatap ibunya yang tersenyum.
“Terima kasih,” Kibum menundukkan kepala, ia lalu menoleh pada Suzy yang masih belum menormalkan akal sehat dari keterkejutannya. “Nah, ibumu sudah mengizinkan. Sekarang kita pergi.”
Suzy mengerang frustasi. Arrrgghh, apa aku boleh menenggelamkan diriku ke sungai Han sekarang juga?

—o0o—

Kibum tidak mengajak Suzy ke tempat yang menakjubkan seperti sebelumnya. Pria itu justru mengajaknya ke J-Park Restaurant milik kakak laki-laki Jiyeon, Park Jungsoo. Ia menatap Kibum tak mengerti. Pria itu mengangkat bahu acuh tak acuh namun tetap dihiasi seringaian khasnya.
“Kau harus menggunakan kartu pemberian Jiyeon, bukan?”

Benar juga. Suzy mengangguk membetulkan. Ia menarik kartu yang diberikan Jiyeon dari dalam saku sweternya. Ia akan menggunakan hadiah ulangtahun Jiyeon untuk makan sepuasnya. Meskipun hingga saat ini ia masih tidak habis pikir bagaimana bisa berakhir bersama Kibum si playboy stadium akhir, ia tetap mengikuti pria itu masuk ke dalam restoran. Sedikit kesal, karena ia membiarkan dirinya setuju pergi dengan Tuan-aku-paling-jenius. Seharusnya ia menolak selagi ada kesempatan.

Restoran itu ramai di jam pulang kerja seperti ini. Suzy takjub dengan dekorasinya yang sama seperti desain rumah Jiyeon. Sangat tradisional dan nyaman. Seorang pramusaji mengantar mereka ke meja kosong di dekat akuarium besar. Ia ingat ketika berkunjung ke rumah Jiyeon, ada beberapa kolam ikan di sana. Termasuk yang besar yang terletak di halaman samping rumah. Ah, ia lupa kakak Jiyeon adalah seorang hobiis ikan hias.
“Apa yang ingin kau pesan?” Kibum bertanya, mengembalikan perhatian Suzy padanya. Melihat senyum pria itu ia kembali ingat terhadap sikap pemaksa pria ini. Ia tidak mau mematikan selera makannya sehingga lebih memilih mengabaikan Kibum lalu menyebutkan beberapa pesanannya pada pelayan.
“Wow, kau benar-benar ingin makan sepuasnya?” Kibum terkikik geli.
“Tentu saja. Aku harus memanfaatkan hadiah sebaik-baiknya.”

Ketika pramusaji itu pergi, Suzy tertegun menatap Kibum. Ia heran megapa pria ini bisa memiliki pengaruh terhadap debaran jantung para gadis sehingga ibunya saja bisa luluh dengan mudah. Dan mengapa ia tidak bisa menolak keinginan pria ini dan meskipun ia kesal setengah mati, kenapa ia tidak bisa membencinya? Astaga, apa mungkin secara tidak sadar ia telah terjebak dalam perangkap yang dibuat Kibum? Seluruh tubuhnya langsung menegang.
“Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu, tetapi aku sangat senang bisa menghabiskan hari bahagiamu bersama-sama.” Suara tulus Kibum menembus telinganya. Ia menatap pria ini dengan bingung. Ia mencoba menemukan muslihat di mata pria itu tapi demi dewa Aphrodite, kedua iris mata Kibum terlihat sangat tulus, polos, dan jujur.
“Benarkah?” Suzy tertegun. Ia tidak yakin dengan perasaannya saat ini.
“Ya. Selamat ulang tahun.” ucapnya tulus. Pria mendadak itu bangkit, Suzy melihat Kibum berjalan menuju counter yang memajang aneka kue di dekat kasir. Pria itu terlihat berdiskusi dengan penjaga. Ia mengerjap ketika Kibum kembali membawa cupcakes cokelat dengan satu lilin di atasnya. Ketika kembali duduk di depannya, pria meletakkan kue di tengah meja. Lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.

Ketulusan Kibum membuatnya terharu kembali. Meksipun hanya kue sederhana, baginya tidak masalah. Karena apa yang dilakukan Kibum sudah lebih dari cukup untuk menyentuh hatinya.
“Ayo make a wish,” Kibum berkata setelah nyanyiannya selesai. Suzy tercengang, ia teringat kembali pada momen ketika ia meniup lilin di ulang tahunnya yang ke sepuluh. Ia mengharapkan persahabatannya akan abadi namun yang terjadi adalah kebalikannya. Sejak saat itu ia tidak akan pernah make a wish lagi.
“Maaf, aku tidak bisa.” Suzy menyesal. Ia menundukkan kepalanya. Kibum kecewa, tetapi ia tidak memaksa Suzy melakukan hal yang tidak diinginkannya. “Kalau begitu tiup lilin saja.”
Tanpa ragu Suzy meniup lilin di atas cupcake itu. Ia tertawa sendiri ketika mencabut lilin kecil dari atas kue. Seumur hidup ini pertama kalinya ia meniup lilin di atas kue sekecil ini. Ia membelahnya menjadi dua dengan sumpit yang ada di atas meja lalu memberikan setengahnya untuk Kibum.
“Kau manis sekali. Apa kau bermaksud membagi setengah hatimu padaku juga?” pria itu berseru senang.
Suzy memutar bola mata, “Jangan terlalu percaya diri.”

Setelah itu pesanan mereka datang. Suzy memakannya dengan lahap. Ia menghabiskan satu porsi jajangmyun beserta acar lobak, satu prosi sup ayam, beberapa potong sosis goreng dan dua porsi tteokbokki. Kibum memperhatikannya dengan mulut menganga. Terlalu takjub melihat cara makan Suzy ia sampai lupa menikmati makanannya. Setelah itu Suzy juga memesan puding dan eskrim sebagai makanan penutup. Ia terlihat sangat puas setelah menghabiskan begitu banyak makanan.
“Aku heran, dengan porsi makan sebanyak itu kau tidak gemuk.” Kibum berkata setelah meja dibersihkan dari piring-piring kotor. Ia menikmati tehnya dengan pelan.
“Yah, karena semua lemak itu diserap oleh tulangku. Aku tumbuh tinggi lebih cepat dari gadis kebanyakan.” Ujar Suzy sambil mengangkat bahu. Kibum mengangguk. Harus ia akui Suzy memang lebih tinggi untuk ukuran gadis seusianya.
“Kupikir dengan tubuh setinggi itu kau bisa menjadi seorang model.”
“Model?” Suzy langsung tertawa geli. “Itu tidak mungkin. Apa aku cocok menjadi model?”
“Hei, kau tidak tahu kalau kau itu sangat fotogenik?” Kibum mengerjap seolah Suzy baru mengatakan bahwa dirinya bisa terbang. Suzy langsung tertawa karena Kibum berkata seolah-olah pria itu seorang fotografer professional.
“Aku lebih suka menjadi seorang pemain basket.” Suzy tersenyum, tiba-tiba ia terbayang sosok Donghae. Menjadi hebat seperti pria itu, tidak ada salahnya bukan.
“Huh, kau menyia-nyiakan potensi diri yang kau miliki.” Kibum tidak suka.

Mereka memutuskan untuk pergi. Jiyeon tidak bohong tentang kartu itu, ia dibebaskan dari kewajiban membayar ketika menunjukkan kartu itu pada petugas kasir. Ia begitu senang sekaligus bertanya-tanya apakah ia bisa menggunakan kartu ini lain kali. Ia berjalan keluar restoran dengan perasaan gembira. Ini adalah ulang tahun paling menggembirakan seumur hidupnya. Ia menoleh pada Kibum yang berdiri di sampingnya. Pria itu tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum padanya. Tiba-tiba ia seperti diingatkan untuk bersopan santun.
“Terima kasih.”
Kibum mengangkat alisnya sebelah, “Hanya itu?” tanyanya heran.
“Memang kau mau aku melakukan apa lagi?” Suzy heran.
Mendadak Kibum mengejutkan Suzy dengan mencondongkan tubuhnya, tepatnya mendekatkan pipinya ke arah wajah Suzy. “Cium aku.” pintanya.
“Kau gila!” Suzy langsung menyemburnya dengan teriakan keras dan dorongan kencang. “Kau minta kupukul! Meskipun aku tidak bisa bela diri aku masih bisa membuatmu terkapar di tanah!” teriaknya sembari mengacungkan tinjunya tinggi-tinggi. Ekspresi wajahnya terlihat begitu horor sampai Kibum mundur dengan bulu roma berdiri.
“Aku hanya bercanda, honey.” Ucapnya panik. Astaga, ternyata tidak hanya Yoona yang bereaksi berlebihan ketika digoda ternyata Suzy pun sama saja.

“Jangan pernah bercanda denganku tentang itu!”Suzy memelototinya lalu mendengus. Ia memalingkan pandangan. Sebenarnya ia membentak bukan karena marah, tetapi terlebih karena ia terkejut oleh tindakan tiba-tiba pria itu. Jantungnya hampir saja jatuh saat Kibum mendekatkan wajah padanya.

Kibum merasa bersalah karena sudah membuat mood Suzy buruk kembali. Ia mengumpat dalam hati. Seharusnya ia tidak memperlakukan Suzy seperti gadis pada umumnya. Dia selalu menunjukkan reaksi yang diluar dugaan.
“Tunggu sebentar.” Kibum melesat pergi meninggalkan Suzy. Gadis itu melonjak kaget. Apa Kibum sedang meninggalkannya sendirian? Tak lama pria itu kembali dengan senyum misterius di wajahnya dan tangan yang tersembunyi di balik tubuhnya. Suzy mengerutkan kening penasaran.

“Untukmu.” Tanpa diduga, sebuket bunga mawar merah terpampang di depan matanya. Ia mengerjapkan mata, seolah bunga itu membuatnya silau. Apa maksud pria ini memberinya bunga mawar, warna merah pula. Jantungnya berdebar kembali. Apa maksud pria ini memberinya mawar merah? Tetapi ia tidak ingin menduga-duga. Ia memilih menyembunyikannya dengan sikap acuh tak acuh. Bibirnya langsung mengerucut.
“Aku tidak suka bunga,” ia memalingkan wajah, tidak suka.
“Bohong. Kau menerima mawar yang diberikan Yoona.” Kibum membelalak.
“Ya dan mawarmu adalah mawar merah. Aku tidak suka warna merah.”
“Aneh sekali.” Kibum memandang mawar merahnya. Biasanya gadis yang ia berikan bunga mawar merah akan berjingkrak-jingkrak senang seperti bocah. Tetapi Suzy sungguh berbeda dengan gadis yang selama ini ia hadapi. Ketika ia mengangkat kepala ia terkejut karena Suzy sudah meninggalkannya pergi. Gadis itu sungguh sulit dikendalikan! Seperti hewan liar yang tidak bisa dijinakkan. Dengan gemas sekaligus kesal Kibum mengejarnya.

“Kau jahat sekali padaku!” Kibum berkata, ia merasa sedih sekaligus putus asa karena tidak bisa memahami Suzy sama sekali. “Ini adalah kado dariku, kenapa kau tidak mau menerimanya?” ia setengah merengek ketika mereka berjalan beriringan. Merengek adalah hal terakhir yang akan ia lakukan karena itu bukanlah tindakan seorang pria sejati. Tetapi Suzy membuatnya terpaksa meruntuhkan semua usahanya menjadi pria sejati.
Suzy berhenti, ia merasa tidak enak hati juga. “Baiklah, aku akan menerimanya.”
Kibum senang luar biasa lalu memberikan bunga itu pada Suzy.
“Minji akan menyukainya.” Tambah Suzy.
“Kenapa kau memberikannya pada adikmu?”
“Kenapa, tidak suka?”
“Tidak.” Kibum mendengus. Meskipun ia tidak rela, lebih baik daripada Suzy membuang bunga itu ke tempat sampah.

Suzy kesal melihat Kibum cemberut. Ia mencubit pipi pria itu sampai memerah.
“Yaaa!!!” Kibum merintih sakit. Ia mengusap pipinya sambil menatap gadis di depannya dengan kening berkerut. Ia tidak mengerti kenapa Suzy mencubit pipinya.
“Aku tidak suka melihat seseorang yang cemberut.” Suzy memalingkan pandangan lalu pergi.
Walaupun pipinya terasa sakit, tetapi Kibum justru merasa senang. Kata-kata Suzy tadi ia anggap sebagai bentuk perhatian untuknya.

—o0o—

Jiyeon tidak pernah sediam ini sebelumnya. Ayah dan kakaknya heran karena Jiyeon tidak berselera makan. Setelah selesai membereskan peralatan dapur yang digunakan untuk memasak, Jiyeon kembali ke kamarnya. Setelah mengetahui Kyuhyun akan bertunangan dengan Yoona, semangatnya seperti jatuh ke tingkat terdasar. Keterkejutannya belum hilang. Untuk menenangkan hatinya, ia mendekam diri di kamar.
Kenapa aku harus sedih, bukankah Kyuhyun memang lebih pantas mendapatkan gadis seperti Yoona. Yoona cantik, baik dan dia berasal dari keluarga berada. Mereka pasangan yang seimbang.
Pikiran itu justru membuat airmatanya jatuh. Jiyeon seperti tersadar bahwa sejak awal, cintanya untuk Kyuhyun seperti mencoba memetik bintang di langit. Kenapa ia harus jatuh cinta pada Kyuhyun? Kenapa bukan pada seseorang dari kasta yang sama sepertinya saja?
Tiba-tiba ponselnya berdering.

Yeobseo,” Jiyeon mengangkatnya dengan suara yang dibuat ceria.
“Jiyeon.”
Deg. Ini adalah telepon dari Kyuhyun.
“Ada apa?”
Sejenak hening di ujung sana. “Untuk tadi siang, aku ingin meminta maaf.”

Jiyeon terkejut mendengar penuturan bernada menyesal dari mulut Kyuhyun. Pria ini meminta maaf? Ia mengerjapkan mata untuk beberapa saat.
“Kau tidak apa-apa bukan, aku mengkhawatirkanmu, Yoona juga mengkhawatirkanmu. Kuharap kata-kata ibuku tidak melukai hatimu.”
Senyum pahit terbit di bibirnya. Melukai hati? Apa Kyuhyun tidak sadar itu bukan hanya melukai hatinya, tetapi juga menghancur leburkan hatinya.
“Tidak apa-apa.” Jiyeon tidak ingin membuat Kyuhyun khawatir. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
“Aku menyesal membuatmu terlibat hal ini. Asal kau tahu, aku sangat membenci perjodohan itu. Karenanya, aku meminta bantuanmu untuk meyakinkan ibuku bahwa aku menolak rencananya. Aku dan Yoona sepakat untuk mengatakan pada orang tua kami bahwa kami menolak pertunangan itu. Yoona sangat mencemaskanmu. Satu-satunya yang ia khawatirkan adalah perasaanmu.”

Jiyeon tidak menjawab. Kalimat itu membuat hatinya senang. “Benarkah?” Kyuhyun tidak mencoba untuk menghiburnya bukan? Lagipula pria ini mau repot-repot meneleponnya hanya untuk meminta maaf dan menjelaskan tentang perjodohan yang tak diinginkannya. Entah Kyuhyun menyadari atau tidak, tetapi apa yang dilakukannya kali ini berarti besar bagi Jiyeon. Kyuhyun mengkhawatirkan dirinya. Pria itu mencemaskan perasaannya.
“Kenapa kau terdengar senang?”
“Apa aku terdengar senang?” Jiyeon tidak bermaksud bahagia di atas penderitaan orang, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dari suaranya.
Setelah itu, semangat Jiyeon langsung naik ke level tertinggi. Lega rasanya mengetahui Kyuhyun tidak mau bertunangan dengan Yoona. Ia tidak perlu menyerah dengan perasaannya dan ia tidak perlu merasa canggung saat menghadapi Yoona.

—o0o—

Sore itu lapangan basket Royal President High School padat dipenuhi oleh penonton. Sebuah pertandingan persahabatan sedang berlangsung di sana antara sekolah tuan rumah melawan Neul Paran High School, sekolah yang sejak dulu selalu bersaing dalam hal akademis dan non akademis.
Sorak sorai penonton membuat Yoona tidak tenang. Tidak, alasannya tidak hanya itu. Ia sedang berdoa semoga setelah ini ia tidak perlu berhadapan dengan Taecyeon, mantan pacar yang kebetulan menjadi salah satu pemain yang saat ini sedang bertanding melawan tim sekolahnya. Sebelum pertandingan tadi Taecyeon menghampirinya yang sedang mengobrol dengan Donghae. Ia sedang berdiskusi dengan sang kapten tentang keperluan apa yang harus ia siapkan ketika pria itu menegurnya.
“Kau terlihat bahagia, Yoon. Aku senang mengetahuinya.”

Yoona dan Donghae sontak menoleh. Donghae menyipitkan mata sementara Yoona terkejut. Taecyeon berdiri dengan senyum sinis di bibirnya. Senang atau tidak, Yoona tahu Taecyeon sedang dalam suasana hati buruk dilihat dari caranya tersenyum.
“Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi, karena itu aku tidak harus menjelaskan apapun padamu.” ungkap Yoona tenang.
”Siapa kau?” Donghae bertanya karena Taecyeon menatapnya dengan aura permusuhan.
“Aku kapten tim basket Neul Paran yang akan menjadi lawanmu. Hmm, kutebak, kau pasti kapten tim Royal President bukan?”

Nada bicara Taecyeon sungguh mengejek sehingga membuat amarah Donghae tersulut. Tetapi Taecyeon kembali bicara sebelum ia membalas.
“Kau terlihat tidak terlalu kuat. Ah, apa sekolahmu sudah menurunkan standar para pemainnya?” Pria itu menggelengkan kepala prihatin.
Bukan Donghae yang langsung tersinggung karena kalimat itu, tetapi Yoona. “Kau tidak tahu siapa yang—“
“Yoon, tak perlu bicara apapun padanya.” sela Donghae. Ia menahan Yoona yang sepertinya siap menyerang Taecyeon dengan tangannya. “Kita tidak ingin ada perkelahian sebelum pertandingan dimulai. Lagipula sepertinya dia begitu percaya diri dengan kemampuannya.” Donghae sengaja memindai Taecyeon dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan yang tidak sopan sama sekali.

Taecyeon mengerjap, kini dirinya yang tersinggung. Sialan, pria ini memiliki aura tenang tetapi sikapnya sungguh menjengkelkan.
“Aku kemari bukan untuk mendengarkan ceramahmu. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Yoona!” Taecyeon kesal. Donghae melirik Yoona yang terkejut lalu kembali menatap Taecyeon.
“Yoona adalah manager kami. Jika kau memiliki urusan dengannya, kau harus mendapatkan izin dari pelatih kami atau aku. Dan aku tidak mengizinkanmu bicara dengannya.”

Yoona terkesiap karena Donghae membelanya. Apa pria ini bisa membaca isi hatinya? Ia memang tidak mau bicara apapun dengan Taecyeon lagi. Tidak setelah pria ini mengkhianatinya.
“Apa?” Taecyeon menyembur marah. Ia meringsek maju namun dengan mudah Donghae menahan tubuh Taecyeon tetap di tempatnya dengan satu tangannya sehingga pria itu tak bergerak maju sesenti pun.
“Sialan, jangan cegah aku!!” bentaknya. Tatapan tajam mereka bertemu dan Taecyeon menangkap dengan jelas aura pertarungan di mata Donghae.
“Jika kau memang berniat menemui Yoona dan karena kau begitu percaya diri bisa melawanku, maka cobalah untuk mengalahkanku di lapangan. Jika kau bisa merebut bola di tanganku lebih dari tiga kali, aku akan membiarkanmu bertemu dengan Yoona.”

Baik Yoona ataupun Taecyeon terkejut mendengar tantangan itu. Meskipun baru mengenal Donghae selama beberapa bulan, tetapi Yoona tahu Donghae bukan tipikal pria yang akan melayangkan tantangan semudah itu kepada orang lain dan sejauh yang ia tahu, jika Donghae sudah berkata sesuatu, maka dia yakin Taecyeon tidak akan bisa menjawab tantangannya.
Tetapi dia tidak tahu bahwa Taecyeon juga seorang pemain basket yang unggul. Meskipun mereka belum pernah secara resmi bertanding untuk menentukan siapa yang terkuat, Taecyeon juga tidak seharusnya meremehkan Donghae.

Taecyeon mundur satu langkah seperti selayaknya petarung yang siap menerima tantangan dari lawannya.
“Baik. Aku akan mempermalukanmu di lapangan dan membuat gadis di sampingmu itu bicara denganku!” pria itu lalu berbalik pergi dengan kemarahan terlihat jelas dari setiap langkahnya.

Teriakan riuh penonton ketika Donghae berhasil mencetak poin membuat Yoona tersadar dari lamunannya. Sekarang, ia berada dalam kecemasan yang mencekik sehingga tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Ia sungguh berharap Donghae memenangkan pertandingan karena ia tidak mau bicara dengan pria itu. Tak peduli hal baik apapun yang akan Taecyeon diskusikan dengannya. Ia sudah muak, marah, dan kesal terhadap pria itu.
Sejauh ini Taecyeon baru bisa merebut satu bola dari tangan Donghae. Jantung Yoona nyaris copot ketika menyaksikannya karena tidak hanya merebut bola, Taecyeon bahkan membuat Donghae terjatuh di tengah pertandingan. Pria itu memang kerap kali bersikap kasar karena merasa dirinya memiliki tubuh tinggi dan kuat. Ya, hal itulah yang membuat Yoona begitu mencintainya dulu. Taecyeon adalah sosok yang kuat dan menurutnya tidak ada lelaki lain yang sekuat Taecyeon.

Tetapi jangan tempatkan Donghae pada posisi pemain professional jika tidak bisa berhasil menakhlukkan Taecyeon. Di akhir pertandingan, Taecyeon terpaksa menelan pil pahit karena timnya kalah dari segi skor maupun cara bermain. Perbedaan skor yang terlalu jauh membuat mereka kalah telak. Dan yang lebih menyesakkan, Taecyeon hanya berhasil merebut bola dari tangan Donghae satu kali saja.

Yoona tak pernah segembira ini ketika tim sekolahnya menang. Ia sampai ingin berlari ke lapangan untuk memeluk Donghae tak peduli berapa banyak wanita yang akan melemparkan botol minuman ke arahnya atau gossip yang akan muncul keesokan harinya. Rasa bangga dan kagumnya terhadap Donghae bertambah berkali-kali lipat mulai detik ini.
“Donghae..!!!” ratusan fans Donghae berteriak heboh seperti koor dalam drama kolosal yang pernah ia tonton. Donghae juga mendapat pelukan gembira dari teman-teman satu tim dan ketika mereka kembali ke sisi lapangan. Pelatih Changmin pun memeluk anak didiknya satu persatu.

Yoona bertahan di tempat dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia menunggu sampai euforia itu usai untuk mengucapkan terima kasih dan memberikan semangat. Ketika Donghae sedang sendirian duduk sambil meminum air, Yoona menghampirinya. Donghae terkejut karena tiba-tiba saja sehelai handuk kering mendarat di kepalanya. Ketika mendongak, ia bertatapan dengan Yoona.
“Terima kasih karena sudah memenangkan pertandingan.”
Donghae tersenyum. “Aku memang harus melakukannya sehingga kau tidak perlu menghadapi mantan kekasihmu itu.”
“Apa, kau tahu?” Yoona terkejut. Donghae tidak pernah bertemu dengan Taecyeon sebelumnya bukan, atau ia tidak ingat?
“Sikapmu menunjukkan segalanya.”
Pipi Yoona memerah. Donghae selalu berhasil memahami dirinya. Mengapa di antara sekian banyak orang justru Donghae yang selalu mengeluarkannya dari kekacauan hatinya?

Taecyeon melempar bola melihat Donghae berakrab ria dengan Yoona. Tanpa berbasa-basi dengan teman-temannya, ia mengambil tasnya lalu melenggang pergi dari lapangan. Ia hendak meninggalkan dari tempat itu saat ia melihat Jiwon, gadis yang sudah menjadi mantan kekasihnya juga.
Apa yang dilakukan gadis itu di sini?
“Kim Jiwon, apa kau datang untuk melihatku bertanding?” tanyanya senang. Jiwon hanya menoleh sekilas padanya lalu kembali membuang muka.
“Percaya diri sekali, aku datang kemari untuk bertemu dengan Kibum.”
“Apa?” Taecyeon tidak pernah melupakan nama itu. Kibum adalah biang keladi yang membuat hubungannya dan Yoona kandas. Pria itu adalah kekasih Yoona, ia tahu meskipun Yoona bersikeras berkata tidak.

“Oh, Kibum!” Jiwon berseru ketika melihat Kibum. Pria itu sepertinya sedang mencari-cari seseorang. Merasa dipanggil, Kibum berhenti lalu menoleh. Senyumnya melebar ketika mengenali Jiwon—gadis yang menjadi salah satu penggemarnya ketika di SMP. Bagaimana pun ia harus bersikap sopan tak peduli ia suka atau tidak.
“Kau Jiwon, bukan?” ujarnya. Jiwon tersipu malu karena Kibum masih mengingatnya. Taecyeon menghampiri dengan raut tidak suka.
“Hentikan senyuman menggelikanmu.” Titahnya benci. Ia masih marah karena baru saja dikalahkan tak perlu harus menerima kekesalan lain karena Jiwon pun direbut oleh pria dari sekolah sialan ini.
“Apa salahku?” gumam Kibum heran. Jiwon memelototi Taecyeon yang sudah bersikap tidak sopan pada Kibum. Taecyeon memutar bola mata kesal. Ada apa dengan para gadis dan pria dari sekolah ini?

Suzy dan Jiyeon keluar dari lapangan setelah mengucapkan selamat pada Donghae. Mereka berniat kembali ke gedung utama ketika melihat pemandangan asing. Kibum berhadapan dengan Taecyeon dan seorang gadis pun berada di antara mereka. Mereka terlihat bertengkar. Ia penasaran apa yang membuat Taecyeon begitu marah. Tanpa sadar Suzy memperhatikan mereka.
Awalnya ia tidak peduli, tetapi ketika ia merasa mengenali gadis yang berada di antara mereka, hatinya bergetar oleh sesuatu. Ia tidak salah melihat bukan?
“Ji!!!” ia berteriak ketika hatinya mantap mengenali gadis itu. Kegembiraannya membuncah. Tuhan, apa aku benar-benar bertemu dengan sahabat lamaku? Suzy langsung berlari menghampiri mereka tanpa ditunda-tunda lagi. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Jiyeon yang heran mengikutinya.

Jiwon seperti mendengar seseorang memanggilnya dengan nama kecilnya. Ketika ia menoleh, ia membelalak melihat seorang gadis yang sudah lama tidak ia lihat berlari menghampirinya.
“Aku tidak salah bukan, kau Kim Jiwon, Ji-ku.” Sebelum ia mengenalinya, gadis itu memeluknya dengan erat sampai ia mundur satu langkah. Hal itu mengejutkan Jiyeon, Kibum, dan Taecyeon. Namun yang lebih tidak percaya di antara mereka tentu saja Jiwon. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya karena ia tidak percaya akan menyebut nama itu lagi.
“Suzy..” lirihnya pelan. Astaga, apa sekarang ia bertemu kembali dengan seseorang yang dihindarinya seumur hidup? Suzy mengangguk antusias. Ketika mereka bertatapan, Jiwon melihat kedua mata Suzy berkaca-kaca oleh kegembiraan.
“Aku sangat merindukanmu. Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu lagi. Ji-ah, kau tidak tahu bahwa aku tidak bisa tidur nyenyak selama satu bulan setelah kau pergi secara tiba-tiba.”

Tak ada jawaban keluar dari mulut Jiwon. Hanya kesunyian dan kebisuan. Suzy kemudian sadar bahwa kediaman Jiwon karena gadis ini belum melupakan apa yang menyebabkan kepergiannya secara tiba-tiba.
“Dia siapa?” Jiyeon bertanya penasaran.
“Dia sahabatku.” Suzy tersenyum pada Jiyeon, seperti ingin sekali memamerkan Jiwon pada sahabat barunya itu.
Mendengar kata ‘sahabat’ keluar dari mulut Suzy semakin membuat Jiwon sesak oleh memori tentang kejadian tujuh tahun yang lalu, luka lamanya kembali terbuka lebar dan meneteskan darah.

Taecyeon yang tidak mengerti apa yang terjadi memutuskan untuk menyelesaikan urusannya. “Aku yakin kau menghasut Yoona agar dia membenciku, bukankah begitu!” tuduhnya membuat perhatian semua orang kembali padanya.
“Jangan sembarangan menuduh. Ini salahmu karena sudah mengkhianati Yoona.” Jawab Kibum setenang teratai di atas air. Ia tidak ingin berteriak di depan Suzy. Ketiga gadis itu menatap mereka berdua dengan berbagai ekspresi.
“Menduakan apa? Tidak ada gadis yang lebih setia dari Yoona!” Suzy merasa kesal karena Taecyeon lagi-lagi menuduh Yoona si tukang selingkuh.
“Tidak mungkin, pria ini pasti sudah merayu Yoona dan menjalin hubungan dengannya.” Taecyeon meremehkan Kibum dengan tatapannya.

Kibum seketika tertawa. Itu adalah alasan paling konyol yang pernah ia dengar. Ia sungguh kasihan pada Taecyeon atas keputusasaannya.
“Apa kau tuli atau bodoh? Sudah ribuan kali aku berkata bahwa aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Yoona selain sahabat. Lagipula, kekasih yang kucintai adalah Suzy.” Tiba-tiba Kibum melingkarkan tangan di sekeliling bahu Suzy, mengejutkan gadis itu.

Apa?

Suzy mendelik tajam sementara Jiyeon memekik. Suzy tidak pernah bercerita bahwa dirinya dan Kibum telah menjalin hubungan. Namun keterkejutan paling jelas terlihat di wajah Jiwon. Ia tidak percaya bahwa cinta pertamanya ternyata telah dimiliki oleh mantan sahabat yang dibencinya? Tak ada yang lebih melukai hatinya daripada kenyataan ini. Kedua tangannya langsung mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.
Jiwon merasa matanya perih dan mengabur. Ia membalikkan badan lalu pergi tanpa mengatakan apapun. Taecyeon langsung mengejarnya. Suzy terperanjat. Ia ingin sekali mengejar Jiwon untuk memperbaiki persahabatan mereka namun lingkaran tangan Kibum di bahu menahannya. Dengan kesal ia melemparkan tangan Kibum dari pundaknya.
“Ini semua salahmu!” teriaknya marah. Ia lalu pergi meninggalkan Kibum yang melongo tidak mengerti. Apa yang salah dengan kata-katanya?

~~~TBC~~~

216 thoughts on “School in Love [Chapter 16]

  1. sepertinya kesalahpahaman lebih mendominasi lg.. konflik mereka cukup berat .. yah suzy mencoba memperbaiki.. tapi ga semudah itu memang..
    ayolah suzy mulai terima kibum, jgn musuhin mulu😉

  2. gilak, sumpah pas scene yoona jiyeon kyuhyun dan eomma kyuhyun yang bikin nyesek sampai mampus, ternyata kibum dan suzy benar2 bikin ngakak abis!!!
    ahhh kibummmm!!! aku terpesona olehhh mu!!!!! ahahahaha..
    omg! jadi suzy dan kibum udah jadian O_O
    dan tampaknya makin rumin antara kibum, suzy dan jiwon.. astaga!!!

  3. Omo makin sulit deh, ini konflik makin menganga lebar >< ke dua sahabat yg lama terpisahkan bakalan susah u/ saling bersatu lagi..
    Gimana jadinya ini -____-

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s