School in Love [Chapter 15]

Tittle : School in Love Chapter 15
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Friendship, School Life, Romance

 

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona |
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Karena ini cerita anak SMA, makanya kebanyakan tentang persahabatan dan keluarga. Bagian romantisnya nanti ya kalau mendekati part ending. Happy reading dan maaf untuk typo. ^_^

School In Love [Donghae-Kibum-Kyuhyun] by Dha Khanzaki

=====o0o=====

CHAPTER 15
Engagement of Kyuhyun & Yoona

KEBISUAN Jiyeon tidak hanya disebabkan oleh kelelahannya bekerja di restoran milik Jungsoo, kakaknya. Tetapi karena ia terganggu dengan sosok bernama Tiffany Hwang. Kyuhyun selalu menunjukkan reaksi yang berbeda setiap kali mendengar namanya. Ia begitu dihantui rasa penasaran ingin bertemu dengannya. Apakah salah satu sahabat Kyuhyun tahu dimana gadis itu saat ini? Tetapi apa yang akan ia lakukan saat ia mengetahui alamat rumah Tiffany?

“Kau melamun lagi.” Siwon mengagetkannya. Jiyeon mendongak ketika pria itu menyerahkan sebotol air mineral. Ia sedang beristirahat di sela latihan judonya. Beruntung latihan bersama Siwon tidak seketat latihan sebelumnya.

“Aku hanya kelelahan.” Ujar Jiyeon lalu meneguk minumannya. Ketika ia melihat senyum di wajah Siwon, ia baru teringat bahwa pria ini pun mengenal Kyuhyun. Jadi ada kemungkinan pria ini pun mengetahui tentang Tiffany.
“Apa kau dulu berteman dengan Kyuhyun?”
Pertanyaan itu membuat Siwon tersentak. Jiyeon terlihat sangat penasaran. Ia bingung memilih harus berkata jujur atau berbohong tentang kenyataan itu. Dan akhirnya Siwon memilih untuk jujur.

“Ya. Kenapa?”

Jiyeon terkesiap. “Tapi kalian tidak terlihat seperti sahabat karib. Apa kalian bertengkar?”
Siwon menggeleng. Tiba-tiba ekspresinya meredup. “Permusuhan di antara kami terjadi begitu saja.” lirihnya gamang.
“Apa itu karena Tiffany Hwang?”

Ketika Siwon menoleh padanya dengan raut terkejut, Jiyeon tahu telah salah mengajukan pertanyaan. Tetapi ia ingin tahu fakta di balik kesedihan yang selalu muncul di wajah Kyuhyun setiap kali mendengar nama itu.
Siwon seharusnya tidak perlu heran darimana Jiyeon mengetahui tentang Tiffany. Mungkin saja Kyuhyun menceritakannya bukan? Tetapi bagaimana bisa gadis ini menyimpulkan hubungan dingin di antara dirinya dan Kyuhyun disebabkan oleh Tiffany.

“Bukan, semua ini bukan karena Tiffany. Dia gadis yang baik dan jika kau sudah mendengarnya, dia adalah kekasih Kyuhyun. Maksudku, pernah menjadi kekasih Kyuhyun.” Siwon sedikit meralat kata-katanya saat melihat mata bulat Jiyeon melebar. “Kenapa kau menanyakan tentang Tiffany? Kenapa kau penasaran tentangnya?” Siwon mengerutkan kening dengan heran.

Tiba-tiba pipi Jiyeon merona. Ia sadar telah banyak bertanya. Ia heran kenapa Siwon tidak menebak bahwa dirinya menyukai Cho Kyuhyun.
“Kyuhyun sepertinya sangat terpukul karena hubungannya dan Tiffany berakhir.” Jiyeon berkata pelan.

Siwon mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya, “Mungkin karena kejadian itu.”
Jiyeon melebarkan mata,”Kejadian itu?”

Siwon mengangguk. Kemudian ia menceritakan kisah dua tahun yang lalu. Ketika dirinya dan Kyuhyun berada di tingkat dua Junior High School. Saat itu mereka masih bersahabat, sahabat yang sangat akrab dan saling memahami. Lalu hadirlah seorang gadis di antara persahabatan mereka. Gadis itu bernama Tiffany Hwang, seorang gadis yang cantik, feminin, pintar, ceria, dan bersemangat. Kyuhyun jatuh hati pada kebaikan hati Tiffany. Ia menyalah artikan kebaikan hati gadis itu sebagai bentuk rasa suka terhadapnya. Siwon ingin berkata bahwa Tiffany memang seperti itu, bersikap baik pada siapapun tetapi ia tidak tega karena betapa besarnya cinta Kyuhyun untuk Tiffany.

Persahabatan mereka mendapatkan cobaan berat ketika Tiffany mengutarakan perasaannya pada Siwon. Gadis itu memberinya surat sehari sebelum Kyuhyun menyatakan perasaannya. Siwon yang mengetahui perasaan sahabatnya untuk Tiffany dengan tegas menolak pernyataan gadis itu dengan alasan ia lebih suka bila hubungan mereka hanya sekedar sahabat. Siwon tidak menyadari kata-kata itu telah mematahkan hati Tiffany.

Tiffany yang terluka hatinya lantas menerima dengan senang hati ketika Kyuhyun menyatakan cinta padanya. Gadis itu melakukannya untuk mengobati luka di hatinya karena penolakan Siwon. Kyuhyun bahagia karena bisa mendapatkan cinta Tiffany namun Siwon tidak. Lelaki itu marah karena Tiffany memperlakukan Kyuhyun sebagai tempat pelampiasannya saja. Siwon ingin mengatakannya pada Kyuhyun tentang kenyataan itu namun ia mengurungkan niatnya karena tidak tega menghancurkan kebahagiaan Kyuhyun.

Beberapa bulan mereka menjalin hubungan, Kyuhyun menyadari Tiffany menerima cintanya hanya untuk memanas-manasi Siwon. Ia kesal, dan murka. Kemarahannya itu bukan ia tujukan pada Tiffany, melainkan pada Siwon. Terutama ketika ia menemukan surat cinta Tiffany untuk Siwon. Detik itu Kyuhyun merasa Siwon mengkhianatinya. Kenapa, kenapa Siwon membiarkan dirinya menerima Tiffany jika pria itu ternyata menyimpan surat cinta milik Tiffany untuknya dan kenapa sahabatnya itu tidak memberitahunya tentang hal ini?

“Sejak saat itu Kyuhyun tidak pernah mau bicara padaku.” Ujar Siwon setelah ceritanya selesai. “Dia marah dan tidak ingin mendengar penjelasanku sama sekali. Aku tidak pernah bermaksud menyembunyikan fakta itu. Tiffany memang pernah menyatakan perasaannya, tetapi aku menolak karena aku tahu dia menyukai gadis itu.” Siwon menarik napas yang terasa menyesakkan dadanya. Pria itu terlihat menyesal. “Seharusnya aku berterus terang tentang surat itu sejak awal pada Kyuhyun. Mungkin dengan begitu dia tidak akan merasa sedang kupermainkan.”

Jiyeon terdiam dengan mata berkaca-kaca. Mendengar cerita Siwon, ia bisa merasakan betapa menyesalnya pria ini dan rasa sakit hati Kyuhyun karena ternyata cinta tulusnya untuk Tiffany tak lebih dari sekedar pelampiasan.
“Apa kau juga berpikir aku bersalah dalam hal ini?” tiba-tiba Siwon menatapnya, meminta pendapatnya dengan penuh harap.

Jiyeon tidak tega untuk mengatakan ya, karena hatinya pun berpendapat Siwon tidak bersalah dalam hal ini. “Kau tidak bersalah, Siwon-ah.” ia terdiam kembali. Jika ada satu orang yang harus disalahkan, maka Tiffany-lah orangnya. Karena keegoisan gadis itu, persahabatan Kyuhyun dan Siwon yang seharusnya tidak ternoda, menjadi hancur dan rusak.
Benar, Tiffany adalah biang keladinya. Jiyeon tak pernah merasa semarah ini pada seseorang. Ia tidak pernah merasa begitu ingin bertemu dengan seseorang untuk mencekiknya.

—o0o—

Yoona bimbang. Ingin rasanya ia pergi ke dunia antah berantah, tempat dimana tak ada seorang pun yang akan menyuruhnya pergi ke acara perjodohan. Tetapi sekarang sudah terlambat untuk kabur karena sekarang ia sedang duduk di dalam mobil dalam perjalanan menuju tempat pertemuan. Ia akan menemui calon tunangannya hari ini. Ia tersenyum masam pada dirinya sendiri.

Nah, sudah terlambat untuk kabur, Im Yoona. Sekarang apa yang akan kau lakukan?

“Kau baik-baik saja, nak?” ibunya menggenggam tangannya. Yoona menoleh lalu tersenyum. Ia berusaha menyembunyikan perasaan tidak sukanya dan senyum itu benar-benar telah mengelabui ibunya.

Kegugupan itu semakin terasa ketika mobil menepi dan mereka tiba di sebuah restoran terkenal di pusat kota. Yoona berjalan mengikuti ibunya di belakang, bimbang dan terus memikirkan cara untuk kabur. Tetapi sekali lagi sia-sia saja, terutama ketika mereka bertemu dengan seorang wanita seusia ibunya yang Yoona tebak sebagai ‘calon ibu mertua’nya.

Ia benar-benar tidak mempedulikan ketika para ibu itu berbasa-basi. Ia tetap berusaha ramah dan menunjukkan kesan baik untuk menyenangkan ibunya.
“Putrimu tumbuh dengan cantik. Bagaimana kabar putrimu yang lain?”
“Dia sedang belajar bisnis management di Harvard.”
Yoona diam, ia menoleh ke kiri dan kanan karena heran. Bukankah malam ini ia akan bertemu dengan calon tunangannya, tetapi kenapa teman ibunya itu hanya sendirian?
“Oh, aku tidak melihat putramu. Kemana dia?” ternyata yang heran tidak hanya dirinya, ibunya pun penasaran karena tak melihat pria yang akan dijodohkan dengannya.
“Benar, kemana anak itu?”

Tiba-tiba terdengar suara ribut dari arah pintu masuk. Beberapa tamu menoleh ke arah sumber suara tak terkecuali dirinya dan dua wanita yang duduk satu meja dengannya. Awalnya Yoona tidak begitu memperhatikan ketika seorang pria masuk dengan wajah kesal karena diseret paksa oleh beberapa orang bodyguard.
“Lepaskan aku! Bukankah kalian sudah berhasil membawaku ke tempat sialan ini!”

Yoona melebarkan mata ketika ia melihat dengan jelas siapa lelaki itu. Sebelum ia menyerukan nama yang ada dalam pikirannya, wanita yang duduk di samping ibunya berseru lebih dahulu.
“Kyuhyun, jaga bicaramu!”

Kyuhyun menoleh, mendekat dengan wajah menahan emosi. Pria itu terkejut ketika menyadari Yoona berada di meja yang sama dengan ibunya. Tanpa sadar ia menyebut nama gadis itu.
“Im Yoona, apa yang kau lakukan di sini?”
Cho Hanna, Ibunya langsung menunjukkan raut gembira. “Ternyata kau sudah mengenal calon tunanganmu. Siapa yang menyangka.”
Kyuhyun terkejut sementara Yoona mendesah berat.
“Apa, gadis ini calon tunanganku?” Kyuhyun menunjuk Yoona dengan alis terangkat sebelah.
“Ya, duduklah. Eomma akan mengenalkanmu dengan calon ibu mertuamu. Dia Im Saeryung dan itu putrinya, Im Yoona.” Cho Hanna memaksa putra kesayangannya itu untuk duduk meskipun Kyuhyun enggan setengah mati. Pria itu memperlihatkan raut malas dan sepertinya siap untuk kabur kapan saja. Yoona memahaminya, karena dirinya pun merasakan hal yang sama.

“Jadi kalian sudah saling mengenal?” Im Saeryung bertanya pada Kyuhyun dengan gembira, terutama setelah mengetahui calon tunangan putrinya adalah pria setampan Kyuhyun. Tetapi ketika ia melirik Yoona, putrinya itu terlihat tidak tertarik.
“Kami satu kelas di Royal President.” Ucap Kyuhyun malas.
“Oh, jadi Yoona pun sekolah di sana.” Cho Hanna berseru gembira. Kyuhyun memutar bola mata. Ia benar-benar ingin pergi dari tempat ini.

Percakapan berlanjut sampai mereka selesai menikmati makan malam. Yoona dan Kyuhyun saling melirik, sama-sama tidak percaya karena ternyata mereka akan dipertemukan dalam situasi serbacanggung seperti ini. Yoona tidak enak hati, karena yang ia cemaskan saat ini adalah; bagaimana jika Jiyeon mengetahuinya? Jiyeon menyukai Kyuhyun setengah mati dan jika sahabatnya itu tahu siapa yang sedang bersamanya saat ini dan dalam acara apa, Yoona tidak akan sanggup membayangkan betapa kecewa dan sakit hatinya Jiyeon.
“Kau tahu nomor ponsel Jiyeon?” bisik Kyuhyun, mengagetkan Yoona. Gadis itu menoleh cepat ke arah pria di sampingnya.
“Tentu saja,” jawabnya bingung. “Kenapa?”
“Sejujurnya aku bisa mati bosan jika berada di tempat ini beberapa saat lagi. Aku butuh alasan untuk pergi dari sini.”
Yoona tersenyum bahagia, ternyata Kyuhyun memikirkan Jiyeon. Baguslah. Ia akan dengan senang hati berbagi nomor sahabatnya itu. “Tunggu sebentar,” ia merogoh ponsel dari dalam tas selempangnya.

“Lihat mereka, bukankah mereka tampak serasi,” lirih Im Saeryung pada Cho Hanna. Kedua wanita itu tampak gembira melihat Kyuhyun dan Yoona mengobrol lalu berbagi nomor tanpa mengetahui hal apa yang sedang dibicarakan anak-anak mereka sebenarnya.
“Jadi kita sepakat untuk menjodohkan mereka?” ujar Cho Hanna.
“Kenapa tidak?”

“Um,” Kyuhyun berdehem, membuat dua wanita itu menoleh menatapnya. “Aku harus pergi, ada panggilan penting yang harus kujawab.”
Ibunya langsung bereaksi, “Siapa?” ia terlihat tidak suka melihat putranya bangkit dari kursinya.
“Park Jiyeon.” Ucap Kyuhyun penuh kebanggaan, “Dia kekasihku. Permisi.”

Ibunya langsung menganga, menatap putranya yang melenggang pergi dengan mata melebar. Pernyataan Kyuhyun membuatnya tak bisa berkata-kata.
“Nyonya Cho, apa maksudnya?” Im Saeryung menuntut penjelasan. Cho Hanna tergagap.
“Aku tidak mengerti, Saeryung-ssi. Sejak kapan dia memiliki kekasih? Jangan dipikirkan, aku yakin Kyuhyun hanya bercanda.” Cho Hanna menatap Yoona dengan raut menyesal. Yoona tersenyum manis.
“Aku tidak menyalahkannya, lagipula kekasihnya adalah sahabatku. Dia cantik dan lebih cocok menjadi pasangan Kyuhyun. Permisi.” Yoona merasa begitu senang mengatakannya, sangat berterima kasih dengan aksi Kyuhyun. Ia bangkit lalu melenggang pergi meninggalkan dua wanita yang sama-sama tercengang memandang kepergiannya.

Meskipun ia tidak tahu apa yang Kyuhyun katakan benar atau tidak, tetapi ia sangat mendukung pernyataannya. Semoga pengakuan Kyuhyun tentang hubungannya dengan Jiyeon membuat kedua orang tua mereka membatalkan rencana perjodohan.

—o0o—

Suzy bermimpi buruk malam itu.

Dalam mimpinya, ia sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-10. Teman-temannya memberinya sebuah pesta kejutan di dalam kelas. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Suzy merasa begitu gembira.
“Suzy-ah, tiup lilinnya.” Seorang gadis yang memegang kue ulang tahun dengan lilin angka 1 dan 0 memintanya untuk meniup lilin yang menyala di atasnya. Suzy dengan mata berbinar menangkupkan tangannya di depan dada, berdoa sebelum meniup lilin ulang tahunnya.
Semoga persahabatanku abadi selamanya.

Setelah mengucapkan doa itu Suzy meniup lilin dan teman-temannya bertepuk tangan.
“Selamat ulang tahun,” gadis yang memegang kue ulang tahun itu memeluknya.
Gomawo, Ji-ah,” Suzy memeluk sahabat terbaiknya dengan penuh sukacita. Ini adalah ulang tahun terbaik dalam hidupnya.

Pulang sekolah, kedua sahabat itu dicegat oleh beberapa anak senior di sekolah. Mereka adalah sekumpulan gadis bodoh yang suka meminta uang secara paksa. Suzy dan sahabatnya ketakutan, namun menolak memberikan uang. Salah satu dari mereka menarik sahabat Suzy, mengancam akan menyakitinya jika Suzy tidak memberikan uang. Mereka tahu Suzy berasal dari keluarga kaya, karena itu mereka yakin Suzy akan memberikan uang untuk mereka. Tetapi yang terjadi saat itu, Suzy ketakutan, ia terlalu pengecut untuk melawan gadis-gadis seniornya itu.

“Suzy, tolong.” Sahabatnya meronta, memohon agar ia menolongnya. Suzy menangis, seluruh tubuhnya gemetar karena para senior itu mengacungkan gunting ke arahnya jika ia tidak segera memberikan uang. Mereka mengancam akan menggunting rambut sahabatnya jika ia tidak menyerahkan uangnya. Ia terlalu kecil, sendirian dan tidak berdaya saat itu untuk melawan senior-senior itu sendirian. Ia menatap nanar sahabatnya yang menangis, meratap padanya agar menyelamatkannya. Tetapi Suzy terlalu pengecut, ketakutan membuat kakinya melangkah mundur tanpa sadar setelah itu ia melakukan tindakan paling bodoh di dunia. Meninggalkan sahabatnya sendirian dalam bencana itu.

“Suzy!!!!!” bahkan dalam pelariannya, Suzy bisa mendengar dengan jelas teriakan minta tolongnya. Suzy memejamkan mata, dengan airmata berderai ia berlari meninggalkannya.

Bukannya mencari bantuan ia justru berlari pulang ke rumahnya lalu bersembunyi di dalam kamar mandi rumahnya dalam kondisi seluruh tubuh gemetar ketakutan. Selama beberapa saat ia menangis, trauma karena senior itu mengacungkan gunting tajam padanya. Tetapi beberapa detik kemudian, ia mengerjap. Sesuatu yang fatal telah dilupakannya. Bagaimana nasib sahabatnya yang ditawan senior-senior itu? Astaga, kenapa ia meninggalkan sahabatnya sendiri?

Suzy terperanjat. Ia bangkit dari pelariannya. Tidak, senior-senior bodoh itu pasti melampiaskan kekesalan mereka pada sahabatnya. Seperti takut kehilangan uang jutaan won, Suzy berlari kembali ke sekolah, tempat ia dan sahabatnya tadi dicegat untuk diperas.

Setibanya di sana Suzy tidak melihat senior-senior itu lagi. Tetapi seluruh tubuhnya gemetar ketika ia menemukan sahabatnya terduduk di sudut dalam kondisi mengerikan. Wajahnya memucat dan rasanya Suzy ingin menangis histeris. Bagaimana tidak, senior-senior itu menggunakan gunting yang mereka bawa untuk menggunting rambut sahabatnya dan membuat bajunya tak berbentuk lagi, sobek di sana-sini. Suzy tidak tahu apa lagi yang senior itu lakukan karena rambut sahabatnya tampak basah, bahkan seluruh tubuhnya pun kotor. Dari jarak tiga meter Suzy bisa mendengar isak tangis penuh kesakitan sahabatnya.

Detik itu Suzy merasa sangat menyesal karena telah meninggalkan sahabatnya. Jika mereka melawan bersama, mungkin sahabatnya tidak akan seperti ini. Kakinya bahkan bergetar hebat saat Suzy mendekati sahabatnya.
“Ji-ah,” Suzy mengulurkan tangan untuk menyentuh sahabatnya, ia ngeri melihat kondisi rambut sahabatnya yang berantakan. Gadis itu menepis tangannya sampai Suzy meringis sakit. Ketika gadis di depannya mengangkat wajah sehingga mata mereka bisa bertatapan, hati Suzy mencelos jatuh ke perutnya. Wajah sahabat tersayangnya itu lusuh, tampak memerah seperti telah ditampar berkali-kali dan sudut bibirnya berdarah. Rasa bersalah itu langsung berubah menjadi kekhawatiran dan kemarahan. Apa yang sudah senior tolol itu lakukan pada sahabatku! Suzy mengepalkan tangannya.

“Aku akan mengantarmu ke klinik,” Suzy mencoba membantu sahabatnya bangun sambil sekuat tenaga menahan tangisannya. Tetapi sekali lagi temannya itu menepisnya tangannya lalu mendorongnya hingga jatuh. Suzy tercengang.

“Jangan pernah sentuh aku lagi! Persahabatan kita berakhir saat kau meninggalkanku sendiri! Aku tidak akan menganggapmu temanku lagi. Aku sangat membencimu!” sahabatnya itu bangkit sambil menangis meninggalkan Suzy yang tak bisa berkata-kata. Ia terkejut mendengar vonis mati dari sahabatnya.
“Tidak, Ji-ah, tidak !!!” Suzy mengulurkan tangan untuk mencegah gadis itu pergi tetapi terlambat, sahabatnya itu telah menghilang. Suzy berdiri kaku di tempatnya, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan sahabatnya.
Persahabatan mereka telah berakhir karena dirinya menjadi seorang pengecut. Suzy menangis. “Ji !!!!” ia berteriak kencang memanggil nama sahabatnya.

“Ji!!!” Suzy berteriak sekali lagi. Kedua matanya membelalak terbuka dan detik itu ia sadar dirinya bukan berada di sekolah di masa ia Sekolah Dasar, ia sedang menatap langit-langit kamarnya dengan tangan teracung tinggi-tinggi. Astaga, aku baru saja bermimpi buruk. Suzy mendudukkan dirinya sambil mengusap airmata di pipinya. Selalu. Mimpi buruk itu selalu datang setiap kali hari ulang tahunnya akan tiba. Ini sudah terjadi semenjak sahabatnya pergi memutuskan persahabatan mereka. Kala itu keesokan harinya Suzy berniat meminta maaf namun sahabatnya tidak pernah masuk sekolah lagi. Ketika ia bertanya kepada wali kelasnya, Suzy terkejut mengetahui sahabatnya sudah pindah sekolah. Hingga saat ini, Suzy tidak pernah melihatnya lagi dan sejak hari itu pula rasa bersalahnya seperti noda yang tak bisa di hapus.

Jam analog yang ada di mejanya menunjukkan pukul 06.00 pagi tanggal 10 Oktober. Suzy mendesah berat. Pantas saja ia bermimpi, rupanya hari ini ia berulang tahun. Mungkin hanya ia satu-satunya orang di dunia ini yang tidak pernah bersyukur akan datangnya hari pertambahan usia.
Suzy turun dari tempat tidur untuk mandi dan bersiap-siap. Ia tidak akan bolos sekolah hanya karena hatinya kacau di hari ulang tahunnya. Lagipula sekujur tubuhnya lengket oleh keringat. Setelah rapi dengan seragam sekolah, tas, dan wajah terpoles bedak bayi ia turun untuk menemui keluarganya. Jam baru menunjukkan pukul 07.00. Mungkin keluarganya akan terkejut karena tidak terlambat bangun atau mereka yang akan mengejutkannya. Entahlah, ia tidak pernah mengharapkan pesta kejutan apapun.

Di ruang makan, Suzy terkesiap menyadari seluruh keluarganya berkumpul bahkan sang Ayah—Bae Sungwoo sudah kembali dari Brussel dan kini sedang duduk di kepala meja.
“Appa!!” Suzy berteriak gembira lalu berlari menghampiri untuk memeluk Ayahnya—pria yang paling ia cintai sejagat raya.
“Saengil chukkae sayang,” Ayahnya mengecup sayang puncak kepala putrinya. Sedikit kesulitan karena Suzy semakin bertambah tinggi dari tahun ke tahun. “Astaga, siapa yang menyangka putri-ku sudah berusia 17 tahun hari ini, kau tumbuh dengan baik dan cantik. Appa bahkan kesulitan jika ingin mengelus kepalamu lagi.” Suzy tertawa karena terharu. Haruskah ia mengatakan tingginya sekarang sudah mencapai 167 cm? Ia hanya mengangguk lalu membisikkan kata terima kasih pada ayahnya. Setelah itu ia duduk di kursi kosong di samping Minji, adik perempuannya.

Tiba-tiba kakak laki-lakinya, Seungjo mengulurkan sebuah kado untuknya dari seberang meja. “Selamat ulang tahun.” pria itu mengedipkan mata dan Suzy hanya melongo. Ia tidak berharap akan mendapat kado juga. Belum ia menguasai perasaan terharunya, jas seragamnya ditarik-tarik oleh Minji. Suzy menoleh ke arahnya. Gadis cilik itu mengulurkan kotak berbungkus kertas kado padanya.

“Untuk Eonni, Minji membuatnya tadi malam bersama Eomma.” Suzy menerima kotak itu lalu membukanya. Isinya adalah biskuit cokelat berbentuk kepala kelinci dengan hiasan gula-gula warna-warni di atasnya. Terlihat jelas hasil cetakan adiknya sendiri karena bentuknya yang tidak sempurna. Suzy langsung tidak bisa melihat apa-apa lagi karena pandangannya mengabur. Bahkan adiknya memberinya hadiah. Dan tangisannya meledak ketika ibunya datang bersama kue ulang tahun lalu mencium pipinya, mengucapkan selamat ulang tahun untuknya juga.

Seluruh keluarganya lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun, membuat Suzy tenggelam dalam tangisan bahagianya. Ia tidak pernah berharap ulang tahun ke-17nya akan seperti ini. Ini adalah kejutan yang membahagiakan.
“Terima kasih,” Suzy tersedak airmatanya sendiri saat mengutarakan rasa terima kasihnya. Ibunya memeluknya dengan penuh kasih sayang, menghapus airmatanya lalu menyuruhnya meniup lilin. Suzy meniupnya setelah memanjatkan pengharapan. Ia langsung memeluk keluarganya satu persatu sambil mengucapkan terima kasih. Sekali lagi, ini adalah ulang tahun terindah dalam hidupnya.

—o0o—

Suzy tiba di sekolah dengan perasaan ringan setelah mendapatkan kejutan dari keluarganya. Ia menyimpan seluruh kado yang ia dapatkan di dalam kamarnya. Ia akan membukanya nanti malam.

Saat ini suasana sekolah mulai berbeda karena persiapan untuk peringatan ulang tahun sekolah. Ia sempat melihat stand yang menjual tiket untuk prom night di dekat gerbang. Ia tidak memerlukannya karena tiket itu hanya untuk tamu di luar murid Royal President. Beberapa sudut sekolah mulai dihias dengan dekorasi untuk bazaar yang akan berlangsung tiga hari lagi. Melihat dekorasi yang meriah,entah kenapa ia merasa gembira.
Baik, Suzy semangat!

Di hari ulang tahunnya ia tidak boleh sedih. Setelah mendapatkan semangatnya kembali, ia berjalan melintasi lobi dengan langkah penuh percaya diri. Ia tidak terlalu memperhatikan siapa saja atau apa saja yang ia lewatkan. Bahkan ia tidak menyadari ketika ia melintasi salah satu Prince of School yang sedang asyik mengobrol bersama beberapa gadis kelas Platinum.

Kim Kibum menyunggingkan senyum ketika melihat si gadis monster yang menarik perhatiannya melintasinya. Ia gemas sekali karena gadis itu tidak menyadari keberadaannya di saat seluruh murid perempuan di sekolah ini mengelu-elukan namanya kemana pun ia pergi. Ia menyeruak keluar dari kerumunan gadis yang sejak tadi mengobrol dengannya dan tidak menghiraukan raut kecewa mereka karena perhatiannya tertuju pada Bae Suzy, si gadis keras kepala yang tidak terpesona padanya.

Kibum mengerahkan seluruh pesona yang ia miliki ketika ia tiba di samping gadis itu. Ia menunjukkan killer smile miliknya yang selama ini tak pernah gagal membuat para gadis jatuh terpesona.
“Hai,” ia mengusahakan suaranya terdengar ramah, memikat, dan tenang ketika ia menyapa Suzy. Dalam benaknya ia membayangkan Suzy akan terpaku, lalu tersipu saat menoleh padanya. Tetapi yang terjadi gadis itu hanya menoleh sekilas, mendengus, lalu melenggang pergi meninggalkannya.

Sekujur tubuh Kibum mematung. Ia tercengang tak percaya. Apa aku baru saja diabaikan oleh seorang gadis?

Dada Kibum bergemuruh. Ini pertama kalinya gaya keramat yang ia miliki tidak mempan mempesona seorang wanita. Ini sama saja dengan pelecehan harga diri! Dengan gemas ia menyusul Suzy.

“Pagi,” kali ini ia memilih tersenyum ketika menyapa gadis itu. Suzy berhenti melangkah lalu menoleh padanya. Dewi batinnya melompat salto kegirangan mengetahui ia telah berhasil menarik perhatian Suzy. Gadis ini tidak bisa mengabaikan senyumannya. Ia tahu itu. Gadis mana yang sanggup? Ia siap melancarkan aksi berikutnya ketika Suzy tiba-tiba meninggalkannya.

Kibum tercengang untuk kedua kalinya. DEMI TUHAN, APA AKU BARU SAJA DIABAIKAN KEMBALI!!! Tanpa di sadari mulutnya menganga lebar.
“Jinjja, dia benar-benar gadis abnormal. Bagaimana bisa tidak terpesona padaku?!” matanya membelalak. Rasanya ingin sekali ia menarik Suzy ke pelukannya lalu memaksa gadis itu agar mengaku bahwa sebenarnya dia terpesona padanya. Dengan hati gemas sekaligus penasaran ia kembali mendekati Suzy. Ia memutuskan melepas semua taktiknya dan mengajak Suzy bicara dengan cara biasa saja.

“Aku tidak mengerti, kenapa kau dingin sekali padaku.” Keluhnya ketika ia berjalan di samping Suzy. Gadis itu dengan nada santai menjawab.
“Karena di pagi hari yang seharusnya indah ini aku justru mendapatkan gangguan dari seseorang yang tidak memiliki pekerjaan lain selain membuat orang lain tidak nyaman.”
Kibum terkejut, “Ada yang mengganggumu, siapa? Katakan padaku, aku bisa membantumu membereskan orang itu.” ujarnya antusias. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Suzy memutar bola mata. Ia berhenti lalu menatapnya dengan kesal.
“Kau tahu siapa si pengganggu yang kumaksud?” tanyanya jengkel. Kibum menanti dengan tidak sabar. Suzy mengerang, bukankah Sunny pernah berkata Kim Kibum adalah murid paling jenius di sekolah ini tetapi kenapa pria ini tidak bisa mengerti maksud dari kata-katanya?

“Tentu saja itu kau!!”

“Aku?” Kibum menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. Ia menunjukkan raut bodoh yang tak pernah ia perlihatkan pada gadis manapun. “Aku tidak pernah merasa diriku mengganggu siapapun.” Itu benar, sejak tadi ia tidak melakukan sesuatu yang menyebalkan bukan, ia hanya menyapa. Sejak kapan menyapa menjadi sesuatu yang mengganggu?
“Oh Tuhan!!” Suzy mengerang. Jika ia terus berada bersama Kibum ia akan meledak, dan ia tidak mau merusak hari terbaiknya dengan mengamuk pada Kim Kibum. Ia hampir saja menumpahkan seluruh kekesalannya ketika tiba-tiba saja seseorang merangkul pundaknya dengan antusias.
Happy birthday, sayangku.” Jiyeon memeluknya dengan erat. Suzy tersenyum lebar.
“Terima kasih.”
Kibum terkejut mendengarnya. Ia tidak pernah tahu hari ini Suzy berulang tahun.

“Ini adalah hadiah ulang tahun dariku.” Jiyeon mengulurkan sebuah kartu pada Suzy. Gadis itu menatap sahabatnya bingung. Apa gunanya kartu ini? Meskipun tidak mengerti ia tetap menerimanya lalu membaca tulisan yang ada di atasnya.

Unlimitted Card of J-Park Restaurant.

“Itu adalah kartu akses tak terbatas untuk menikmati Jajangmyun dan ramyun di restoran kakakku. Kau bisa makan sepuasnya di sana. Kau tinggal menunjukkannya pada pelayan restoran dan mereka akan memberikan apapun yang kau mau.”
Suzy melebarkan mata mendengar penjelasan Jiyeon tentang kartu yang ada di tangannya. “Jiyeon-ah,” matanya berkaca-kaca. Sial, ia menjadi sangat cengeng hari ini. Tetapi ia tak pernah mendapatkan hadiah sebuah kartu akses untuk makan sepuasnya di sebuah restoran. Ini, hadiah yang sangat spektakuler. Betapa Jiyeon mengenalnya sebagai sahabat karena gadis ini tahu bahwa hobinya selain bermain game adalah makan.
“Terima kasih, ini sangat menakjubkan.” Suzy berseru girang. Ia memeluk sahabatnya.

“Apa aku boleh ikut dalam pelukan itu?” Yoona yang baru tiba di dekat mereka ikut senang meskipun tidak paham apa yang membuat dua orang sahabatnya itu saling berpelukan.

“Hai Yoon,” sapa Jiyeon dan Suzy.
“Selamat ulang tahun, ini hadiah dariku.”
Suzy terkejut ketika Yoona mengulurkan satu pot bunga mawar kuning yang masih kuncup dan sudah diberi hiasan pita pada potnya. Yoona tampak gembira saat menyerahkan kado itu pada Suzy.
“Kau tahu, mawar kuning adalah simbol untuk persahabatan. Sejujurnya aku bingung memberimu apa. Kupikir barang-barang yang dibuat manusia bisa saja rusak dan hilang. Tetapi bunga adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan, dan kupikir persahabatan pun bukanlah sesuatu yang diciptakan manusia, melainkan anugerah dari Tuhan. Sebab itulah aku memberimu bunga mawar ini agar kau bisa merawatnya, membuatnya tumbuh besar dan berbunga lebih banyak lagi. Aku juga mengharapkan yang sama untuk persahabatan kita. Akan tumbuh jika kita merawatnya dan akan mati jika kita mengabaikannya.”

Oh Tuhan.

Seumur hidup, itu adalah kata-kata paling mengharukan yang pernah Suzy dengar tentang persahabatan. Ia menerima mawar pemberian Yoona dengan senang hati.
“Yoon, itu adalah kalimat terindah yang pernah kudengar.” Lirih Suzy. “Dan kuning adalah warna kesukaanku. Terima kasih.” Mata gadis itu berkaca-kaca kembali. Kenapa kedua sahabatnya kompak sekali membuatnya menangis dengan kado mereka yang tidak biasa sekaligus luar biasa.

Kibum diam menatap ketiga gadis itu. Ia resmi tersudutkan dari lingkaran mereka. Ia memandang Suzy yang tersenyum bahagia pada teman-temannya. Kenapa gadis itu tidak bisa menunjukkan senyum selepas itu ketika di depannya?
“Mawar kuning juga bisa berarti pengkhianatan, rasa cemburu, dan cinta yang bertepuk sebelah tangan.”
Kata-kata Kibum yang diucapkan dengan suara lirih itu membuat Suzy menoleh. Ia hampir saja melupakan keberadaan Kibum jika pria ini tidak mengatakan apa-apa.
“Apa kau bilang?” Suzy menaikkan alis sebelah. Kibum menggelengkan kepala.
“Tidak apa-apa. Jadi hari ini kau berulang tahun?”
“Iya. Kenapa?” Suzy mengangkat dagu, menantang Kibum untuk mengatakan sesuatu. Ia siap mendebat apapun yang akan dilontarkan Kibum.
Pria itu tidak membalas Suzy, membuat gadis itu terkejut karena yang dilakukan Kibum selanjutnya hanya mengangguk singkat lalu melenggang pergi.

Suzy terkesiap dengan reaksi Kibum. Ia tertegun memandang ke arah pria itu pergi. Hanya itu saja? Di saat ia siap berdebat dengan argumennya Kibum memilih untuk keluar dari arena pertempuran. Yang benar saja. Ia tidak mengerti jalan pikiran pria itu. Sedetik bisa begitu semangat mengganggunya dan sedetik kemudian bersikap dingin seolah mereka tidak saling mengenal.
“Dasar pria aneh!” Suzy mendengus. Ia lalu mengajak teman-temannya pergi.

—o0o—

Yoona selalu canggung setiap kali bersinggungan dengan Kyuhyun semenjak tahu mereka dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Untungnya, tidak ada satupun di antara mereka yang menyinggung hal itu saat berpapasan di kelas. Keduanya kompak untuk menyembunyikannya. Lagipula, siapa yang mau menerima perjodohan di jaman milenium seperti sekarang? Yoona sendiri sudah berkata tidak pada ibunya. Alasannya jelas, karena ia tidak mau menyakiti hati Jiyeon dan ia tidak mencintai Kyuhyun. Tidak akan pernah.

“Kau kenapa Yoon, wajahmu pucat.” Donghae heran melihat Yoona. Gadis itu memang tidak banyak tingkah saat di kelas, tetapi ada yang aneh dengannya hari ini. Kyuhyun melirik sekilas lalu mendengus tanpa berkomentar apa-apa.

“Tidak apa-apa.” Yoona tersenyum. Donghae berhenti bertanya karena seorang guru masuk ke dalam kelas saat itu. Senyum Yoona langsung lenyap ketika Donghae tidak memandangnya lagi. Ia membuka buku pelajarannya tanpa tenaga.

Ayah, apa yang harus aku lakukan? Batinnya dalam hati. Ia sungguh terbebani wasiat mendiang Ayahnya tentang perjodohan itu. Ia tidak mau, tetapi ia akan merasa sangat bersalah jika tidak melaksanakan permintaan terakhir ayahnya.

Ketika istirahat berbunyi, Jiyeon menyempatkan diri mendatangi kolam di belakang ruang kesenian sebelum menemui Suzy dan Yoona di kantin. Ketika ia berdiri di sisi kolam, ia berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan penat yang mengganjal di hati.

“Sebenarnya dimana kau Tiffany Hwang!!!” Jiyeon berteriak seperti orang gila, memaki seseorang yang tidak dikenalnya. Ia duduk di atas rerumputan dengan kesal. Setelah mendengar cerita Siwon tentang hubungan Tiffany dan Kyuhyun, ia sungguh ingin menemui gadis itu, memberinya ceramah panjang tentang sikap egoisnya yang telah menimbulkan perselisihan di antara Siwon dan Kyuhyun. Ia meneguk sisa minumannya lalu membuang kotak kemasannya ke belakang setelah diremas-remas hingga tak berbentuk lagi. Sampah itu terlempar dan mendarat di kaki Lee Donghae.

Lagi-lagi bertemu gadis ini. Donghae menghela napas berat. Apa taman belakang gedung kesenian sudah bukan wilayah eksklusifnya lagi? Ia tidak bisa tidur siang jika Jiyeon ada di sana.
“Kau tahu, membuang sampah sembarangan adalah pelanggaran berat terhadap peraturan sekolah tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah.”

Jiyeon menoleh kaget. Donghae berdiri di belakangnya dengan tangan memegang sampah yang ia lempar tadi. Pria itu melempar sampah itu ke arah tong sampah di dekat gedung dan masuk dengan sempurna. Tak diragukan lagi kemampuan hebatnya dalam membidik bola ke dalam ring patut diacungi jempol.

“Maaf, aku hanya sedang kesal.”

“Karena itu kau boleh membuang sampah sembarangan?” sahut Donghae santai. Jiyeon langsung menggeleng gugup. Pria itu mendesah, sepertinya niatnya tidur siang gagal karena itu sebaiknya ia pergi.
Jiyeon mengerjap melihat Donghae membalikkan badan. Ia teringat sesuatu, bukankah Donghae adalah sahabat Kyuhyun, pasti pria ini tahu sesuatu tentang Tiffany.
“Tunggu!!” Jiyeon buru-buru bangkit. Donghae berhenti lalu menoleh.
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.” Jiyeon menghampirinya.
“Apa?”

“Kau mengenal Tiffany Hwang bukan?” tanya Jiyeon ragu. Donghae mengangkat alisnya, terkejut karena Jiyeon menanyakan tentang gadis itu padanya.
“Iya. Aku mengenalnya. Kenapa?”
Jiyeon langsung menyerbunya, “Kau tahu dimana dia tinggal? Aku ingin sekali menemuinya.”
Donghae terkejut karena Jiyeon mendadak memegang tangannya. “Kenapa kau ingin menemuinya?” tanyanya bingung dan panik.
“Aku ingin memintanya untuk memperbaiki hubungan Kyuhyun dan Siwon. Hanya gadis itu yang bisa. Kumohon, jika kau tahu di mana gadis itu tinggal beritahu aku.”

Ternyata gadis ini pun tahu tentang pertengkaran Kyuhyun dan sahabatnya saat SMP, Choi Siwon yang disebabkan oleh Tiffany. Dia pasti sudah mendengarnya dari Siwon karena Kyuhyun tidak mungkin menceritakannya. Ia ingin bertanya bagaimana caranya Jiyeon mengenal Siwon tetapi tidak jadi karena Jiyeon mengedip-ngedipkan matanya dengan ekspresi memohon. Ia berdehem.
“Jadi kau ingin aku memberitahumu dimana kau bisa menemui Tiffany?”
“Em,” Jiyeon mengangguk antusias. Ia melihat secercah harapan. Donghae akan memberitahunya dimana rumah Tiffany? Jinjja, pria ini baik sekali.
“Kau bisa menemuinya di..” Donghae menyebutkan sebuah alamat yang tidak jauh dari tempatnya tinggal. Jiyeon mengangguk lalu mengingat-ingat alamat itu. Ia tahu, dan hapal daerah itu dengan baik. Ia tersenyum lebar.
“Itu tidak jauh dari tempatku tinggal. Aku hanya tinggal naik bus satu kali, melewati dua supermarket lalu..” Jiyeon tertegun. Tiba-tiba kegembiraan dan rasa antusiasnya lenyap ketika ia menyadari apa yang terdapat di alamat yang baru diucapkan Donghae tadi.
“Donghae-ya, bukankah itu alamat pemakaman umum.” Lirihnya tak percaya. Donghae tidak mengangguk ataupun menggeleng. Pria itu menunjukkan raut penuh penyesalan dan terlihat sedih.
“Astaga,” Jiyeon menutup mulutnya ketika ia menyadari arti ekspresi Donghae. Pria itu mengangguk pelan.
“Ya, Tiffany Hwang meninggal dunia beberapa bulan yang lalu karena penyakit jantung.”

Jiyeon tidak pernah menyangka hal ini. Mulutnya kini terkunci. Tak ada makian, tak ada kemarahan yang bisa ia keluarkan untuk Tiffany. Gadis itu telah tiada. Ya Tuhan, pantas saja selalu terlihat kesakitan dalam ekspresi Kyuhyun setiap kali nama Tiffany Hwang disebutkan. Kyuhyun pasti sangat terpukul mengetahui gadis yang dicintainya telah tiada.
“Kematiannya begitu mendadak. Kyuhyun tidak pernah menyiapkan diri ketika ia mendengar Tiffany jatuh dan meninggal dunia.”
Kepala Jiyeon menggeleng. Ia bisa marah pada Tiffany jika gadis itu masih hidup, tetapi saat tahu gadis itu sudah tidak ada, ia tidak hanya merasa sedih, tetapi ia yakin akan sulit baginya menyembuhkan luka di hati Kyuhyun.
“Bagaimana ini, bagaimana caraku menyembuhkan luka di hati Kyuhyun?”

Donghae merasa iba. Ia tidak tahu bagaimana cara menghibur Jiyeon tentang hal ini. Tiffany akan selalu menjadi luka besar di hati Kyuhyun. Meskipun gadis itu pernah menyakitinya, tetapi Kyuhyun tetap mencintainya. Sejak kematian Tiffany pula sikap Kyuhyun berubah 180 derajat. Akan sulit bagi wanita yang mencintai Kyuhyun untuk menyembuhkan luka hati pria itu. Tetapi ia yakin Jiyeon bukanlah gadis yang mudah menyerah, ia yakin. Gadis ini memiliki sesuatu yang akan melelehkan hati beku Kyuhyun. Sejauh ini dia sudah membuktikannya.
“Kau tidak perlu khawatir. Aku yakin, kau bisa melakukannya.” Donghae menepuk pundak Jiyeon.

Kata-kata itu tidak terdengar oleh Jiyeon karena ia masih mencoba menata hatinya sendiri.

—o0o—

Suzy tidak ikut bersama Jiyeon dan Yoona berbelanja. Ia memilih pulang saja, ia tidak dalam mood yang bagus untuk berjalan-jalan memasuki toko yang satu ke toko yang lain.

“Hai.”

Tubuhnya terperanjat mundur satu langkah ketika Kibum tiba-tiba saja muncul menyapa sekaligus mengagetkannya.
“Astaga, kau membuat jantungku hampir lepas.” Suzy mengusap dadanya. Kibum hanya menunjukkan raut tak berdosa dengan senyum merekah dengan manis di bibirnya. Suzy heran, bukankah terakhir kali pria ini menunjukkan sikap dingin, kenapa tiba-tiba saja sekarang berubah?
“Ada apa?” Suzy berkacak pinggang karena Kibum tidak berkata apa-apa, hanya memandangnya dengan cara yang membuat Suzy malu.
“Ikut aku.” Kibum tiba-tiba meraih tangannya lalu menariknya pergi. Suzy membelalak, apa Kibum akan menculiknya lagi seperti dulu?
“Oi stop!!” Suzy meronta berusaha melepaskan tangannya. “Kau akan membawaku kemana?!”
“Rahasia.” Kibum kembali menariknya pergi melintasi halaman depan sekolah, memberikan pemandangan menarik bagi sebagian besar murid yang melintas meninggalkan sekolah. Mereka berbisik-bisik penuh rahasia. Suzy yang menyadarinya langsung menarik tangannya dari genggaman Kibum. Pria itu berbalik memandangnya dengan raut jengkel.
“Kau ini kenapa sih?” Kibum mengeluh.

Seharusnya itu kalimatku! Suzy tidak mengerti maksud dan tujuan pria ini menariknya pergi tiba-tiba. Tidak ada kata pendahuluan, tidak ada basa-basi. Gadis bodoh mana yang mau ikut begitu saja.

“Aku tidak mau ikut denganmu!”
“Kenapa, aku akan membawamu ke tempat yang indah. Bukankah sekarang hari ulang tahunmu, kita harus merayakannya.”
“Kita,” Suzy mengangkat alisnya. “Sejak kapan kau dan aku menjadi ‘kita’?”
“Sejak hari ini. ayo.” Kibum menariknya lagi. Aigoo, kapan sih pria ini bisa sedikit peka dengan suasana hatinya? Ia tidak mau pergi dengannya. Kenapa Kibum bersikukuh menariknya pergi ke tempat-tempat misterius?
“Tunggu dulu!” Suzy kembali membuat langkah Kibum terhenti. Ia melirik murid lain yang melirik tidak suka. Ia harus mencari alasan untuk menghentikan apapun yang ingin dilakukan Kibum terhadapnya. “Aku benar-benar tidak bisa pergi denganmu.”
“Ya, tapi kenapa? Dulu bisa mengapa sekarang tidak bisa?”
“Aku belum meminta izin pada ibuku.” Akhirnya Suzy mengeluarkan kartu terakhirnya. Kibum memandangnya dengan ekspresi aneh. Suzy yakin ia sudah menang ketika menyadari Kibum tidak berkomentar apapun. Tetapi pria itu tiba-tiba saja tersenyum.

“Kalau begitu biar aku yang meminta izin pada ibumu.”

~~~TBC~~~

218 thoughts on “School in Love [Chapter 15]

  1. walah tiffany udah meninggal disini ceritanya. huhffjiyeon sekarang tgl usahanya aja biar kyu ga musuhan ama siwon lagi. yoona bilang aja ama jiiyeon dari pada nanti jiyeon salah paham.
    kibum tarik2 aja ya. ckckc

  2. Wkwkwk kibum bum-,- haha yoona kyu dijodohin? Huuh kesel banget denger cerita siwon tentang tiffany!!-,- tp langsung sedih,tiffany udah nggak ada T.T kyu kayaknya udah buka hati buat jiyeon*cahelah kkkk~ ceritanya nggak pernah membosankan^^ selalu ada hal baru dan mengejutkan!! DAEBAK!!^^

  3. Omooo
    Kibum sweetie bangeddd

    Jadi kibum sama suzi
    Hae sama yoona
    Kyu sama jiyeon kahhh
    Wah masa lalunya sudah terbuka
    Unpredictable

    Kirain dl kyu sebel sama siwon karena tiffany selingkuh sama siwon
    Ternyata bukan gitu

    Hehehhe

    Awesome ^^

  4. oh, Tif udah meninggal to, n alasan Kyu musuhin Siwon karna cwe, uh memang, tp kan jd Jiyeon g terhalang Tif, tp ada perjodohan mengejutkan, wedew-wedew, apakah akan mulus perjuangan Jiyeon???
    Oh ternyata Suzy pernah ninggalin temanx, gila ganas amat ya masa SDnya, trus Ji bakal muncul lagi g ya??

  5. Omo tiffany udah meninggal??
    Pantes san kyu murung gitu.. seandainya masih hidup kyu pasti ngedeketin dia lah, apapun caranya.
    Yoona bilang aja ke jiyeon dr pd nnti timbul hal” yg gk di inginkan.
    Kibum tangan ank org main di seret” aja, ciee elah ada yg mau ketemu ibu mertua neh kekekkek

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s