School in Love [Chapter 14]

Tittle : School in Love Chapter 14
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Lee Donghae | Kim Kibum

Dha’s Speech :
Kisahnya masih panjang saudara-saudaraku ^_^ Semoga kalian betah ngikutin ini. Kalau gak suka sama couplenya jangan ngomel ya, entar semangat aku turun nih. Hehehehe. Maaf kalau alur ceritanya diluar dugaan, atau kepanjangan, dan kekurangan-kekurangan lainnya. Aku hanya manusia biasa yang tidak sempurna *mulai puitis*

Happy Reading ^_^

School In Love [Shilla-Riri-Nitha]

=====o0o=====

CHAPTER 14

The Beautiful Gift for Suzy

JIYEON merasa seperti tahanan ketika ia mengekor di belakang Kyuhyun. Bagaimana tidak, ketika ia melintasi koridor, seluruh mata langsung tertuju padanya. Bukan tatapan yang menyenangkan, tetapi penuh dengan kerutan curiga dan dugaan buruk. Sulit untuk mengabaikan perhatian orang-orang di saat dirinya berada di dekat Prince of School.

Kyuhyun baru berhenti ketika mereka tiba di sekitar green house. Lokasi favorit Yoona. Tempat ini memang sepi dari keramaian murid-murid Royal President. Yah, siapa yang mau diam dikelilingi oleh pot, berbagai macam tanaman, perkakas kebun, selang dan pupuk? Tepatnya, murid dengan gengsi tinggi mana yang mau.

“Ada apa?” Jiyeon menatap punggung Kyuhyun dengan bingung. Tiba-tiba pria itu membalikkan badannya. Tindakannya membuat Jiyeon terkejut, sontak ia mundur satu langkah.
“Apa kau ingin menolongku?”
“Menolong?” Jiyeon kaget karena wajah Kyuhyun terlampau serius.
“Bagaimana aku mengatakannya?” Kyuhyun berbisik dengan dirinya sendiri. Ia terlihat frustasi.
Jiyeon penasaran sekaligus geli melihatnya. Jarang sekali menyaksikan seorang Cho Kyuhyun tampak bingung dan kacau.

“Pacaranlah denganku.”

Kyuhyun langsung memejamkan mata seraya mengumpat pelan karena sedetik setelah ia mengucapkan isi kepalanya, Jiyeon memekik begitu kencang. Ia tahu kata-katanya mengejutkan tetapi haruskah berteriak tepat di depan wajahnya?

“Pa-pacar, kau memintaku berpacaran denganmu?” Jiyeon terpaksa mengulang karena ia takut telinganya mendadak mengalami gangguan. Jantungnya berdetak begitu cepat sampai ia takut beberapa detik kemudian ia terkapar di tanah karena terkena serangan jantung.
“Kenapa tiba-tiba?” setahu dirinya, seorang pria yang ingin menjalin hubungan dengan seorang wanita akan melakukan pendekatan, lalu menyatakan cinta. Tidak dengan cara seperti ini. Apa Kyuhyun sedang melakukan suatu trik, atau sekarang ia sedang terjebak dalam muslihat yang disiapkan kelas Platinum?

Kyuhyun mengusap wajahnya dengan cepat, menunjukkan bahwa pertanyaan itu membuatnya frustasi sekaligus bingung. Mungkin lebih baik Jiyeon tidak perlu bertanya dan menjawab ‘iya’ dengan segera.
“Begini,” Kyuhyun membasahi bibirnya, “Teman-teman SMPku mengadakan sebuah pesta reuni. Ada semacam syarat untuk membawa ‘partner’ bersama saat menghadiri acara reuni itu dan aku tidak memiliki kekasih, teman dekat wanita atau apapun sehingga..” pria itu mengurut pelipisnya sendiri. Ia sadar detik itu ia sudah melakukan sesuatu yang akan ditentang oleh akal sehatnya jika ia tidak sedang panik dan bingung. Ia memandang Jiyeon yang penasaran sekali lagi, “Aku menginginkanmu datang denganku pada acara itu. Sebagai pasanganku.”

Jiyeon masih tidak mengerti, kenapa Kyuhyun begitu ingin datang ke acara itu? Jika dia memang tidak memiliki pasangan, bukankah dia bisa memutuskan untuk tidak datang saja?
“Apa acara reuni itu penting sekali bagimu sampai kau memaksakan diri seperti ini?” tanya Jiyeon hati-hati.
Mendadak ekspresi Kyuhyun langsung segelap malaikat pencabut nyawa. “Kau menyuruhku untuk bunuh diri? Kau tidak tahu teman-teman SMPku seperti apa. Mereka akan menggosipkanku sebagai pria pengecut sampai lima puluh tahun ke depan. Aku tahu ini merupakan tantangan dari dia untukku, apakah aku masih bisa datang setelah kejadian itu..” Kyuhyun mengerang. “Sudahlah, kau tidak perlu tahu kenapa. Kau hanya perlu menyetujuinya saja.”

Kyuhyun tidak tenang di tempatnya berdiri. Dari ekspresinya menunjukkan seolah dunianya akan berakhir jika Jiyeon tidak menyetujui permintaannya. Jiyeon memang tidak mengerti kenapa, tetapi ia tidak bisa membiarkan pria yang dicintainya seperti ini. Lagipula pria ini langsung bertanya padanya, itu artinya ia wanita yang pertama kali Kyuhyun ingat untuk dimintai bantuan. Bagaimana bisa ia tega menolaknya?
“Baiklah.”
Pria itu menoleh padanya terlalu cepat sampai Jiyeon takut lehernya akan patah. “Benarkah?” matanya dipenuhi percikan harapan. Melihatnya Jiyeon semakin yakin dengan keputusannya.
“Aku akan menjadi pasanganmu.”
“Oh, kau sungguh pahlawanku.”

Jiyeon terkejut ketika Kyuhyun tiba-tiba saja memeluknya lalu melepaskannya sebelum ia menikmatinya. Kedua tangan Kyuhyun memegang pundaknya dengan genggaman pasti.
“Sekali lagi aku berterima kasih padamu.”
Jiyeon tertawa, “Ternyata kau bisa juga mengucapkan terima kasih.” Ucapnya membuat Kyuhyun mengeryit tidak suka. “Hajiman, apa yang harus kupakai? Kuharap bukan gaun atau semacamnya. Aku tidak memiliki baju seperti itu.” sesalnya.
Kyuhyun langsung menyeringai, “Kau tidak perlu mencemaskan apapun. Sebagai imbalan dariku, izinkan aku membelikanmu gaun.”

—o0o—

Ada yang berbeda dengan salah satu kafe mewah di kawasan elit Apgujeong itu. Puluhan muda-mudi berbalut jas dan gaun datang berpasangan memasuki tempat itu. Sebuah pesta reuni sekolah sedang berlangsung di sana.
“Aku tidak yakin.” Jiyeon tiba-tiba merasa mual melihat tempat yang dipenuhi oleh orang-orang asing untuknya. Ia menoleh pada Kyuhyun yang tampak tampan dengan setelan kemeja kasual yang membuatnya tampak dewasa. Ia tidak menata rambutnya, tetapi bagi Jiyeon penampilan Kyuhyun lebih spektakuler dari seluruh pria yang datang ke acara pesta reuni itu. Melihat semua tamu tampak bersungguh-sungguh dengan penampilan mereka, Jiyeon merasa dirinya salah kostum meskipun kini ia memakai gaun warna jingga pemberian Kyuhyun. Tidak, ia tidak bisa menerima gaun semahal ini. Setelah acara ini selesai ia akan mengembalikannya.
“Kenapa?” Kyuhyun bertanya tanpa memandangnya. Mereka berjalan masuk berdampingan. Jiyeon menoleh.
“Itu, umm..” perhatiannya lalu turun ke arah tangannya. Apa Kyuhyun tidak sadar penyebab kegugupannya adalah genggaman Kyuhyun terhadap tangannya? Ia tidak sempat mengasihani jantungnya yang berdebar kencang karena kini perhatian seluruh penghuni pesta tertuju padanya begitu ia dan Kyuhyun tiba di dalam ruangan.

Oke, it’s show time.” Bisik Kyuhyun membuat keringat dingin di tengkuk Jiyeon kian membanjir. Jadi sekarang saatnya mereka beraksi? Bagaimana ia harus bersikap? Apakah ia harus memperlihatkan bahwa dirinya bagian dari mereka juga, bahwa dirinya seorang Chaebol juga?
“Apa yang harus kulakukan?” balas Jiyeon lewat sudut bibirnya.
“Apapun.”

Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk tersenyum anggun meskipun ia tidak tahu caranya. Ia hanya meniru cara Yoona tersenyum, tampak elegan dan cantik. Semua orang terlihat penasaran, tetapi tidak ada yang memberanikan diri untuk bertanya siapa wanita yang bersama dengan murid paling populer saat mereka SMP.
Seseorang mendekat dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” Pria itu memperlihatkan seringaian, yang anehnya tampak sombong dan penuh muslihat di mata Jiyeon.
“Seperti yang kau lihat, aku sehat dan gembira.” Kyuhyun membalasnya dengan seringaian yang mempesona. Jiyeon ikut tersenyum melihatnya. Jelas seringaian Kyuhyun yang terbaik.
“Kukira kau tidak akan datang.”
“Aku tidak datang? Mustahil.”
“Ya, siapa yang tahu. Apa nona ini sekarang kekasihmu?” Pria itu melirik Jiyeon. Gadis itu terkejut karena dirinya ditatap secara tidak sopan olehnya.

Apa-apaan pria ini! Jiyeon menahan diri untuk tidak menusuk matanya.

“Kenalkan, dia Park Jiyeon. Dia adalah kekasihku.”
“Kekasih?” Pria itu melebarkan mata dengan antusias. “Perkenalkan, namaku Lee Hyukjae. Tetapi aku lebih senang jika kau memanggilku Eunhyuk. Aku dan pacarmu adalah teman yang sangat dekat.”
Jiyeon menjabat uluran tangannya dengan setengah hati. Ketika pria bernama Eunhyuk itu lengah, ia berbisik pada Kyuhyun, “Aku tidak menyukainya. Dia tampak menyebalkan.”
“Aku tahu.” Kyuhyun menjawabnya sambil lalu. “Dia adalah musuh dalam selimut. Berpura-pura baik di depanku namun di belakangku dia adalah orang pertama yang ingin menjatuhkanku.”
Jiyeon terkesiap, “Benarkah?”

“Jadi, kau sudah melupakan perasaanmu terhadap Tiffany?”

Perhatian Jiyeon dan Kyuhyun kembali pada Eunhyuk. Kyuhyun membulatkan mata mendengar nama Tiffany disinggung pria itu. Jelas Eunhyuk mengetahui hubungannya dengan Tiffany.
“Itu bukan urusanmu.” Gertakan Kyuhyun membuat Eunhyuk tertawa. Pria itu terlihat kegelian sekaligus senang karena berhasil membuat lawan bicaranya naik pitam. Jiyeon menyipitkan mata, ia kesal dengan cara Eunhyuk memperlakukan Kyuhyun. Pria ini benar-benar tidak sopan. Dia pasti sengaja melakukannya sekaligus tahu bahwa topik tentang Tiffany bisa membuat Kyuhyun sebal.
“Kau masih marah? Come on, itu hanya masa lalu. Lagipula kau tahu bukan Tiffany—“
“Hentikan, kau sungguh tidak sopan Eunhyuk-ssi.” Bentak Jiyeon tanpa sadar. Eunhyuk menoleh, bukannya terkejut ia justru merasa takjub melihat keberanian Jiyeon melawannya.
“Hei, aku baru menyadari sesuatu tentangmu.” Ucap Eunhyuk sambil mengamati Jiyeon, “Kau mengingatkanku pada Tiffany. Sifat kalian, serupa.”

Eunhyuk tidak menyadari kata-katanya membuat Kyuhyun menegang. Pria itu menatapnya. “Kau ternyata belum bisa melupakan Tiffany juga.”
Ketika Kyuhyun sepertinya akan melayangkan pukulannya pada Eunhyuk, Jiyeon buru-buru menengahi, “Cukup! Kau tidak berhak sama sekali menghakimi masa lalu seseorang hanya untuk kesenanganmu sendiri!” ia berdiri di depan Kyuhyun, melindungi dirinya dari Eunhyuk. Pria itu tidak bisa menyakiti Kyuhyun di hadapannya.
“Kesenanganku? Kau tidak tahu apa kesenanganku nona—“
“Lagipula apa hakmu mengkritik siapa yang Kyuhyun sukai, aku jadi ingin tahu seperti apa gadis yang kau sukai. Ah, atau aku ganti saja pertanyaanku. Aku ingin tahu apa ada gadis yang menyukaimu karena dari yang kulihat sepertinya kau datang seorang diri.” Jiyeon dengan menatap Eunhyuk dengan cara pria itu memandangnya beberapa saat yang lalu, meremehkan.
Eunhyuk memucat. Ia mengepalkan tangan lalu mendengus. Tak mau mengakui bahwa dugaan Jiyeon memang benar, ia datang ke acara ini tanpa ditemani siapapun. Pria itu hanya menggertakkan gigi dan dengan segenap harga dirinya yang tersisa dia tersenyum.
Well, sepertinya sudah waktunya aku membiarkan kalian pergi untuk memberi salam pada yang lain. Permisi.”

Tepat setelah Eunhyuk membalikkan diri dan menghilang di antara kerumunan orang, Jiyeon merasa keberaniannya seperti tersedot habis. Entah adrenalin milik siapa yang ia pinjam sehingga ia sanggup menghadapi Eunhyuk. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Sekarang setelah ia berhasil menghadapi pria itu tenaganya seolah terkuras habis dan ia terhuyung ke belakang. Untung saja Kyuhyun yang berdiri di belakangnya segera melingkarkan tangan di pinggangnya.
“Sial, apa yang kulakukan tadi. Maaf karena sudah memperkeruh keadaan. Seharusnya aku tidak berkata kasar pada temanmu.” Lirihnya sambil memijat pelipis.
“Tidak apa-apa. Sejujurnya kau tadi sangat hebat. Terima kasih sudah melakukan apa yang tidak bisa kulakukan. Eunhyuk memang pantas mendapatkannya. Tak pernah aku melihat dia tak bisa berkata-kata seperti tadi.” balas Kyuhyun sambil berbisik. Ketika Jiyeon menoleh untuk melihat ekspresinya, jantungnya berhenti berdetak karena pria itu kini sedang tersenyum.

Astaga, apa ia tidak salah lihat?

Kyuhyun tersenyum padanya. Adakah hal yang lebih mengejutkan daripada ini?

—o0o—

Jiyeon mendesah lega ketika ia tiba di depan rumahnya setelah acara pesta reuni Kyuhyun selesai. Mereka melewatinya dengan lancar tanpa gangguan dari Eunhyuk lagi. Pesta itu sepenuhnya menyenangkan jika tidak ada yang mengacaukan suasana.
“Kapan aku harus mengembalikan gaun ini?” tanya Jiyeon sebelum ia turun dari mobil Kyuhyun. Pria itu menoleh, kaget karena dibangunkan dari lamunannya lalu memandangnya dengan heran.
“Kau tidak perlu mengembalikannya. Itu untukmu.”
“Tapi, ini terlalu mahal.” Jiyeon terkejut kemudian memandang baju yang dipakainya. Ia yakin harganya lebih dari enam bulan uang belanja yang diberikan ayahnya.
“Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi. Sekarang sudah malam, kau harus segera masuk ke rumah.” Kyuhyun menjulurkan tangan untuk membuka pintu lalu menyuruhnya keluar. Jiyeon membuka mulut ingin mendebat, tetapi ia membatalkannya karena pandangan tajam Kyuhyun. Pria ini tidak ingin dibantah.
“Baiklah. Kalau begitu, terima kasih.” Jiyeon melompat keluar dari dalam mobil. Ia menundukkan kepala sekilas sebelum melewati gerbang rumahnya yang terbuat dari kayu dengan ukiran tradisional. Kyuhyun lama memandang pintu itu sampai benar-benar tertutup. Ia ingin memastikan Jiyeon tiba dengan selamat. Hari ini suasana hatinya begitu aneh. Ia tidak tahu, tetapi cara Jiyeon membelanya di depan Eunhyuk tadi berhasil menghangatkan hatinya.

—o0o—

Yoona duduk di beranda rumahnya menghadap pemandangan taman rumahnya yang bergaya khas istana Versailles. Ia suka berada di sana ketika malam tiba. Matanya fokus pada kanvas di depannya sementara seluruh pikirannya terpusat pada gambar yang sedang ia lukis. Hati dan pikirannya begitu tercurah pada lukisannya sehingga tidak menyadari sama sekali sepasang kaki sudah berdiri di belakangnya sejak tadi. Raut wajahnya begitu ramah, penuh kasih sayang. Kerutan-kerutan yang mulai muncul di sekitar mata menegaskan kematangan usianya.
“Melukis lagi.” desahnya. Suara itu tidak mengejutkan Yoona, ia menoleh sekilas, tersenyum lalu kembali melukis.
“Ada apa Eomma?”

Wanita yang disebut ibu itu menyentuh pundak putrinya dengan penuh kasih sayang, “Ada yang ingin Eomma bicarakan denganmu. Bisakah kau berhenti melukis sejenak?”
Sapuan kuas yang dipegang Yoona terhenti. Ia menoleh pada ibunya yang kini duduk di sofa dekat dengan tempatnya duduk. Ekspresi seriusnya membuat Yoona mengerutkan dahi.
“Apa yang ingin Eomma katakan padaku adalah sesuatu yang mendesak?”
“Ya.” Wanita itu tersenyum ketika wajah putrinya menegang. “Tidak, bukan sesuatu yang akan mengancam keselamatan keluarga kita tapi apa yang akan Eomma katakan mungkin sedikit mengejutkanmu.”
Kata-kata ibunya membuat Yoona penasaran, akhirnya ia menaruh seluruh perhatiannya pada sang ibu.
Eomma akan menjodohkanmu.”

Kuas dan palet yang digenggamnya jatuh dari tangan. Yoona mematung di tempat duduknya, matanya terpaku pada wajah ibunya.
Eomma tidak bercanda, nak.” Ibunya menegaskan kata-katanya karena yakin Yoona berpikir dirinya sedang bergurau.
Yoona mengerjapkan mata, “Kenapa?” bisiknya gamang. “Usiaku baru 17 tahun.”
Ibunya menunjukkan raut penuh penyesalan, “Ini adalah salah satu wasiat mendiang Ayahmu.”
Yoona langsung bungkam. Ibunya jelas tahu kata apa yang paling ampuh untuk membuatnya tak bisa membantah. Ia selalut idak berdaya selama menyangkut tentang mendiang Ayahnya. Ia mendesah lalu memungut kembali kuas dan palet yang ia jatuhkan, ia memutuskan untuk menyelesaikan lukisannya.
“Terserah padamu saja, Eomma.” ibunya tahu jawaban itu tidak dikatakan dengan tulus. Sebagai ibu ia bisa merasakan beban yang ada dalam putrinya. Yoona menjadi sangat pasrah selama berhubungan dengan Ayahnya.
Yoona tahu percuma saja membantah. Meskipun ia menolak, ibunya akan memaksa dengan dalih wasiat ayahnya. Adakah hal yang lebih buruk dari ini?

—o0o—

Suzy menghembuskan napas berat ketika ia melirik kalender di atas meja belajarnya. Ia baru menyadari, tak lama lagi ulangtahunnya tiba. Jika kebanyakan orang menyambut dengan tidak sabar ulang tahun ke-17 mereka, ia justru berharap tidak pernah bertemu dengan hari ulang tahunnya lagi. Atau paling tidak ia melupakan hari ulangtahunnya. Hari ulang tahun seperti alarm yang mengingatkannya pada kejadian fatal di masa lalu.

Hari dimana ia mengkhianati sahabat terdekatnya.

Bulan Oktober selalu menjadi bulan terburuk sejak hari itu. Tetapi ia tidak boleh menunjukkan kesedihannya di depan Jiyeon dan Yoona. Lagipula kedua sahabatnya itu tampak ceria dan pulang sekolah nanti mereka akan berburu gaun untuk pesta sekolah bersama.
“Kau menulis angka sepuluh sejak tadi. Apa ada yang khusus dengan angka itu?”
Suzy terkesiap dari lamunannya. Ia langsung memandang Jiyeon, sahabatnya itu terlihat penasaran. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan, mereka bepergian dengan bus. Yoona tampak antusias dan dengan wajah merona berkata bahwa ini pengalaman pertamanya sementara Suzy dan Jiyeon sudah terbiasa dengan transportasi umum ini.
“Itu,” Jiyeon menunjuk buku catatan kecil yang digenggamnya. Detik itu Suzy baru sadar bahwa ia telah membuat satu halaman dipenuhi dengan coretan angka sepuluh. Seharusnya ia menulis keperluan apa saja yang akan ia beli untuk pesta nanti.
“Oh, bukan apa-apa. Ini..”
“Apa itu tanggal ulang tahunmu?” Yoona bertanya. Suzy terperanjat, menoleh dengan cepat ke arah gadis itu. Bagaimana dia bisa menebaknya dengan tepat?
“Astaga, jadi benar?” Yoona menutup mulutnya.
“Apa tanggal sepuluh nanti kau berulang tahun?” Seru Jiyeon girang.

Aku tidak mengatakan apapun! Suzy berteriak dalam hati. Tanpa berkata-kata ia mengangguk. Ia tidak bisa berbohong pada kedua sahabatnya. Lagipula untuk apa menyembunyikan? Cepat atau lambat mereka pasti akan tahu.

“Itu artinya ulang tahunmu berdekatan dengan ulang tahun sekolah.” Ucap Yoona senang. Suzy dengan wajah merona malu mengangguk pelan. Ia tidak akan memperlihatkan wajah sedih di depan mereka.
“Hadiah apa yang kau inginkan? Karena kau banyak membantu aku akan berusaha memberikan hadiah apapun yang kau mau.” ujar Jiyeon sungguh-sungguh. Tetapi kata-kata itu justru menyentak hati terdalam Suzy. Gadis itu membisu. Ia pernah mendengar kalimat yang sama keluar dari mulut sahabatnya.
Sahabat yang kini telah menghilang.
“Suzy-ah,” Yoona menepuk pundaknya. Gadis itu cemas karena ia tiba-tiba diam.
“Tidak apa-apa. Aku sungguh terharu. Terima kasih.” Ia tersenyum tulus pada Jiyeon. “Aku tidak mengharapkan apa-apa. Hadiah apapun yang akan kau berikan untukku, akan aku terima dengan senang hati.”

Tidak, sebenarnya aku ingin sahabatku yang hilang kembali. Suzy memanjatkan seuntai doa itu pada Tuhan dan ia berharap harapannya akan terkabul tahun ini.

—o0o—

Jiyeon memutuskan untuk bekerja paruh waktu di restoran ramyeon milik kakaknya. Dengan begitu ia memiliki uang tambahan untuk membeli gaun dan kado untuk Suzy. Jungsoo tidak keberatan dengan syarat Jiyeon bekerja setelah jam sekolah usai hingga waktu makan malam tiba. Ketika pergi berbelanja bersama Suzy dan Yoona, dengan malu ia berkata akan membeli gaun lain kali saja karena tidak ada yang sesuai untuknya. Suzy dan Yoona sempat memaksa dirinya mengambil satu gaun dan mereka akan membayar untuknya tetapi ia menolak. Ia tidak ingin memanfaatkan kebaikan teman-temannya. Mereka mungkin boleh saja memiliki lebih banyak uang darinya, tetapi ia akan merasa bersalah jika memanfaatkan harta sahabatnya.

Karena terlalu lelah bekerja, keesokan harinya tubuhnya pegal-pegal. Alhasil, setelah kegiatan ekstrakulikulernya selesai ia tertidur di salah satu kursi di ruang klubnya. Ia bahkan tidak mendengar ponselnya yang berbunyi nyaring.
“Bodoh, kenapa tertidur di sini?”

Suara dering ponsel itu terdengar nyaring di saat suasana sekolah sudah mulai sepi, bahkan Donghae yang sedang berjalan di lorong hendak pulang pun bisa mendengarnya. Ia yang penasaran mencari ke sumber suara itu dan menemukan Park Jiyeon tertidur di ruangan PKK. Ponsel yang berdering itu tergeletak di atas meja. Karena deringannya tak kunjung berhenti, ia berasumsi siapapun yang menelepon pasti memiliki urusan mendesak. Ia mengangkatnya.

“Kau kemana saja, sudah jam delapan dan kau belum tiba di rumah?! Kau membuatku dan Appa cemas!!” belum Donghae berkata, suara bentakan seorang pria menerjang telinganya. Ia terkesiap.
“Maaf, tapi Park Jiyeon sedang tidur.”

Seketika suasana di ujung sana hening. Donghae berpikir pria di ujung sana mematikan sambungan karena akhirnya tahu menghubungi ke nomor yang salah. Namun detik berikutnya bentakan kembali terdengar.

“KENAPA KAU YANG MENJAWAB PONSEL ADIKKU DAN APA KAU BILANG, ADIKKU SEDANG TIDUR DI TEMPATMU! BEDEBAH, SIAPA KAU!!” Donghae meringis seraya menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“Anda salah paham, Jiyeon tidak tidur di tempatku. Dia tidur di sekolah. Aku hanya kebetulan lewat dan mencoba membangunkannya ketika menyadari ponselnya berdering.” Ucap Donghae sedikit berbohong karena ia tahu jika ia salah bicara kemungkinan pria yang sepertinya kakak laki-laki Jiyeon itu akan berteriak lagi padanya.
“Dia tertidur di sekolah?” nada suara pria itu turun beberapa oktaf, kini menjurus ke arah khawatir.
“Iya. Apa Anda ingin aku mengantarnya pulang?”
“Enak saja, tidak perlu! Kau cukup bangunkan dia dan jika kau berani melakukan sesuatu pada adikku, aku bersumpah akan memenjarakanmu!” setelah itu sambungan terputus. Donghae melongo di tempatnya. Sebelum kakak laki-laki Jiyeon itu menelepon dan memarahinya lagi, ia harus membangunkan gadis itu.

Donghae mengulurkan tangan untuk membangunkannya namun terhenti ketika ia melihat airmata mengalir dari sudut mata Jiyeon. Astaga, gadis ini menangis dalam tidurnya?

Dalam mimpi, Jiyeon berada dalam salah satu kenangan terindah sekaligus sedih masa lalunya. Saat itu ia masih di taman kanak-kanak. Ia bermain bersama teman-temannya, saling kejar ke sana kemari layaknya anak berusia 5 tahun. Ia berlari pada ibunya ketika lelah, dan di tempat itu pula ia bertemu dengannya.
Seorang anak laki-laki yang berada di kelas berbeda dengannya. Senyum bocah lelaki itu secerah matahari, membuat hati kecilnya gembira. Lelaki itu membantunya ketika ia terjatuh di lapangan karena berlari mengejar teman-temannya. Ia, terpesona pada kebaikan lelaki itu.
Rasa suka itu mulai berkembang ke arah yang tidak terduga. Jiyeon ingin sekali memberitahu perasaannya pada pria itu. Ia ingin berteman dekat dengannya. Maka ia mulai menulis di atas selembar kertas tentang apa yang ia rasakan. Meski baru belajar menulis, tapi ia yakin pria itu akan memahami apa yang ia maksud. Hanya kalimat sederhana, sesuatu yang ia pelajari dari gurunya untuk mengungkapkan kasih sayang kepada ibu dan ayahnya.

Saranghaeyo.

Namun ketika ia memberanikan diri memberikan suratnya pada lelaki cilik itu, dengan mudah pria itu menolak suratnya. Dia berkata tidak mengerti kenapa perempuan suka sekali memberi surat. Kata-kata itu membuatnya menangis. Ia pergi meninggalkan pria itu dalam keadaan hati yang terpecah belah.

Tiba-tiba dunianya seperti berguncang. Jiyeon kira ia mengalami gempa bumi dalam mimpinya. Tetapi sedetik kemudian ia sadar seseorang sedang mengguncang tubuhnya kemudian ia terbangun dari mimpi.
“Ini sudah malam. Bangun.”
Masih dalam keadaan setengah sadar, Jiyeon menggeliat. Ketika seluruh jiwanya terkumpul ia terkejut mendapati Lee Donghae berdiri di depannya dengan wajah bingung.
“Astaga, apa yang kau lakukan di sini!” pekiknya panik. Donghae tidak melakukan apapun bukan padanya selama ia tertidur?
“Aku hanya membangunkanmu. Tadi kakakmu menelepon, dia kelihatannya cemas karena kau belum pulang juga.”
Tepat ketika ia mendengar kata kakak terucap dari mulut Donghae, ingatannya langsung tertuju pada Jungsoo. Ia langsung memekik. “Jam berapa sekarang?!”
“20.30, tiga puluh menit lagi sekolah akan ditutup. Kau harus segera pulang jika tidak ingin terjebak di sini.”

Sial, Jiyeon mengumpat dalam hati. Ia bergegas membereskan barang-barangnya.

“Terima kasih, tanpamu aku akan bermalam di sini. Kalau begitu aku pulang dulu. Selamat malam.” Jiyeon menundukkan kepala lalu pergi. Beberapa detik kemudian dia menghilang. Donghae menggelengkan kepala, Jiyeon benar-benar gadis yang aneh. Tertidur sampai menangis dan ketika bangun panik seperti orang gila. Sebaiknya ia juga bergegas pulang sebelum sekolah ditutup. Ketika melangkah ia menginjak sesuatu, sebuah note kecil bersampul merah tergeletak di dekat kakinya.
“Pasti milik Jiyeon.” Ia akan mengembalikannya besok ketika bertemu dengannya. Ia tidak bermaksud melihat apa isinya, namun saat ia membuka halaman yang ditandai dengan pita merah, ia membaca sebait kalimat yang membuatnya melebarkan mata.

10 oktober, Suzy’s birthday. Kumpulkan uang agar bisa membeli kado untuknya. Park Jiyeon, hwaiting!

Suzy berulang tahun tak lama lagi?

—o0o—

Suzy terbangun dari tidurnya karena suara dering ponsel. Siapa yang mengganggu mimpi indahnya sepagi ini? Ia melirik ke arah jam. Oh sial, sekarang sudah jam sembilan pagi. Ia heran kenapa ibunya tidak membangunkan untuk pergi sekolah. Oh tentu saja, sekarang sekolah libur.
Yeobseo..” dengan jiwa yang baru setengah mengumpul ia menjawab panggilan masuk itu.
“Bukankah kau sudah berjanji akan mengikuti kursus tambahan denganku hari ini?”

Suara Donghae membuat Suzy terperanjat dari tidurnya dan detik itu juga ia teringat pada janjinya dengan pria itu untuk latihan khusus karena dirinya belum menguasai teknik dasar basket dengan sempurna. Ia langsung mendudukkan diri di atas tempat tidur lalu melirik jam. Ia mengerang, ia sudah terlambat sepuluh menit dari waktu perjanjian.
“Maaf, jam di rumahku rusak. Sekarang aku dalam perjalanan ke sana. Aku harap kau masih bersedia melatihku.” Mohon Suzy.
“Baik, aku tunggu kau. Cepat sebelum aku berubah pikiran!!!”
“Siap kapten!!!” Suzy langsung bangkit dari tempat tidurnya seperti orang kesetanan. Ia melupakan niatnya untuk mandi, hanya mencuci muka, menggosok gigi, dan memakai sedikit riasan wajah agar tampak lebih cantik. Setelah dirinya siap dengan seragam latihan, rambut yang terikat model ekor kuda, dan sepatu olah raga, ia langsung menyabet tasnya dan pergi.

Bagaimana ia bisa lupa dengan janjinya kemarin? Ketika ia belum juga menguasai teknik lay up, Donghae memutuskan untuk mengajarinya secara privat. Mereka akan bertemu di lapangan basket sekolah pada hari libur. Ini salah dirinya kenapa semalam terlalu asyik bermain game. Ia hampir saja melewatkan kesempatan emas untuk latihan berdua saja dengan Lee Donghae. Diulang, berdua saja.

Tiga puluh menit kemudian ia tiba di sekolah, begitu senang karena menemukan pria itu di lapangan dengan seragam latihan kebanggaan klub basket mereka. Senyumnya tak bisa dibendung lagi. Ia tidak peduli jika setelah latihan nanti bibirnya akan sobek karena terlalu sering tersenyum. Ia terlalu bahagia.
“Kapten, aku sudah tiba.” serunya dengan suara tersengal. Lari dari gerbang sekolah sampai lapangan ini, siapa yang tidak lelah.
Donghae tidak terlihat kesal. Pria itu menunjukkan senyum lega lalu berkata, “Kau harus pemanasan dulu setelah itu kita latihan.”
“Tapi aku sudah pemanasan sejak masuk gerbang hingga kemari.” Keluh Suzy, ia selalu membenci pemanasan.
“Lakukan!” Donghae mendelik, tidak suka perintahnya dibantah. Dengan bahu melemas Suzy mengangguk lalu pemanasan seorang diri. Tetapi itu tidak berjalan seratus persen karena ia justru lebih banyak menghabiskan waktunya memandangi Donghae yang berlatih menembak dari berbagai sudut. Ia harus menahan agar air liurnya tidak menetes melihat betapa indahnya kerennya ketika pria itu menembakkan bola ke arah ring.

Detik ketika Donghae menangkap basah dirinya sedang tersenyum aneh sambil memandangnya, pria itu mendengus lalu membentaknya agar berlari tiga kali mengelilingi lapangan itu. Suzy langsung mengomel bahwa Donghae adalah pria paling kejam di dunia. Sesi latihan selama dua jam berikutnya adalah sesi latihan seperti di neraka. Donghae dua kali lipat lebih diktator dari Hitler dan Pelatih Changmin. Suzy serasa mengikuti latihan untuk tentara dalam wajib militer.
“Sudah kubilang lari beberapa langkah lalu tembak bola sambil melompat!”
“Astaga, anak kecil saja bisa teknik itu.”
“Bae Suzy, apa kau tidak pernah belajar menari? Itu sama saja seperti gerakan grand jete dalam balet.”

Suzy berhenti melangkah lalu melempar bolanya pada Donghae dengan ekspresi tersinggung. “Maaf kalau aku tidak pernah belajar balet sehingga aku menjadi murid yang sangat bodoh. Marahi saja aku mungkin dengan begitu tiba-tiba saja Tuhan memberiku mukjizat, aku bisa menjadi pemain professional yang diberkati kemampuan menakjubkan sepertimu!” Ia berlari ke sisi lapangan lalu mengambil botol minumnya.

Donghae terpaku selama beberapa saat mendengar kata-kata itu. Sambil menghela napas ia menghampiri Suzy yang kini duduk di tepi lapangan dengan wajah ditekuk.
“Maaf, aku membuatmu kesal kembali.” Pria itu meminta maaf dengan tulus. “Terkadang aku lupa diri bila sudah menyangkut urusan basket. Apa kata-kataku menyinggungmu?”
“Sedikit,” aku Suzy dengan pipi merona. Melihat ekspresi Donghae saat ini membuatnya merasa sangat buruk. Ia seperti murid bodoh yang merajuk karena tidak kunjung mengerti dengan apa yang diajarkan gurunya.
Donghae ikut duduk di sampingnya, “Baiklah, aku tidak akan terlalu keras padamu lagi.” nada suaranya yang berat dan terkesan lelah membuat Suzy panik. Apa setelah ini Donghae tidak mau melatihnya lagi? Tidak!

Aniyeo, perlakukan aku dengan keras! Aku memang murid yang bodoh tetapi aku bisa berusaha.” Suzy tiba-tiba dipenuhi oleh tekad yang kuat. Donghae melongo melihat perubahan ekspresi yang tiba-tiba itu. Ada apa sebenarnya dengan Suzy dan teman-temannya? Emosi mereka bisa menjadi sangat mudah berubah sampai ia tidak bisa mengikutinya. Atau dirinya saja yang tidak bisa memahami wanita?
“Baiklah jika itu maumu.” Donghae terdiam sejenak, ia memandang Suzy lalu tersenyum. Senyum itu membuat gadis di sampingnya berdebar.

“Bisakah kau mengulurkan tanganmu?”

Suzy terkesiap, meskipun tidak mengerti ia tetap mengulurkan tangannya dan ketika Donghae memasangkan sesuatu di pergelangan tangannya, matanya melebar takjub.
“Donghae, ini..” Suzy tidak sanggup berkata-kata. Ia memandang Donghae dengan perasaan gembira yang membuncah. “Apa maksudnya?” ia tidak mengerti kenapa Donghae memberinya sebuah jam tangan dengan model yang cantik.
“Ini sebagai pengingat agar kau tidak datang terlambat latihan lagi.”
“Apa?” Suzy merengut tidak suka. Jadi Donghae secara tidak sengaja menyebutnya ‘si lambat’.

Donghae tersenyum lebih lebar lalu menambahkan. “Aku tahu ini terlalu cepat, tapi sebenarnya ini adalah hadiah ulang tahun dariku untukmu. Aku merasa bersalah karena akhir-akhir ini selalu membuatmu terluka dan membuatmu kesal, karena itu..kuharap kau mau memaafkanku dan menerimanya.”

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Suzy selain kata-kata yang baru saja Donghae ucapkan. Ia menatap jam tangan itu dengan mata berkaca-kaca.
“Bagaimana kau tahu tentang ulangtahunku?” tanyanya terharu, “Itu bahkan masih seminggu lagi.”
“Tidak apa-apa, lebih cepat lebih baik.” Donghae mengendikkan bahu lalu bangkit. “Sekarang ayo latihan kembali.” Ia berjalan ke arah lapangan sambil mendribble bola. Suzy terpukau memandangnya. Bolehkah ia menangis sekarang? Ia ingin sekali berteriak karena Donghae baru saja memberinya hadiah ulang tahun. Tetapi yang terjadi bukanlah apa yang ia inginkan, tetapi apa yang tidak ia inginkan.

Setitik airmata jatuh di pipinya. Ini adalah hadiah yang tak pernah ia sangka sekaligus yang terindah. Apakah Tuhan akan memberikan hadiah yang ia harapkan? Suzy mendekap jam tangan itu di dadanya.

Untuk pertama kalinya ia merasa begitu berharap hari ulang tahunnya dipercepat lebih awal.

~~~TBC~~~

229 thoughts on “School in Love [Chapter 14]

  1. huaaaaaa huaaaaaaaaaa authorr akuuuuuu galaaaauuuuuu ayoo thor smangat lanjutannyaaa aku uring uringan gara gara ff ini huaaaaa aku maunyaa kyu sama suzy haaaaaa author aku galaaauuuu

  2. Omo pnsrn ama masa lalu Suzy dn Jiyeon???
    Ngakak deh bca pas jungsoo yg mmbntak donghae gto….lucu bngt thor si jungsoo kliatan panik mndpti sang adik yg telat pulang trlbh yg ngangkat telpon xa abang donghae slh pham deh..
    Hahah momen KyuYeon msh kurang,,,dn msh bngung sma pairing suzy ama donghae or kibum??

  3. Yoona dijodohin sama siapa ? Sahabat yg hilangnya Suzy siapa ? Cowok yg disukain sama Jiyeon siapa? >< banyak banget tekatekinya :3

  4. ya thor,kenapa kyu ga ma susy aja,pasti tambh seru…
    aku suka,aku suka walaupun kyu ga ma susy
    hehe
    oh ya jadi penasarn yg dijodohn ma yon itu siapa..? and shabt susy yg hlang itu sapa…
    lanjt trus thor

  5. Rupanya couple Donghae-Eunhyuk terpisah,, Hyuk jadi orang yang jahat dan nyebelin, beda banget sama Donghae yang manis dan baik..
    Ternyata hadiah untuk Suzy itu berasal dari Donghae toh..sempet ngira klo yang kasih kadonya Kibum..

  6. eonni aku suka banget sama ff eonni^^ maaf ya aku baru baca, soalnya aku baru nemu blog ini hehehe^^ keep writing eon!! fighting!!!

  7. Kyaaaa seneng juga ngeliat suzy seneng..
    Galauu deh kekeke mikirin akhir cerita ini wkwkwk
    Omo yoona mau di jodohin ama siapa?
    Omg jungsoo bikin shock nge bentak nya, untung hae gk jantungan ckckck

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s