Crazy Because of You [Chapter 1]

I Married The Bad Boy Other Story

Tittle : Crazy Because of You
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :
Min Sora | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Karena IMTBB sudah selesai, aku posting deh lanjutannya. Maaf, aku udah gatel banget pengen posting FF ini sejak IMTBB masih di part 20. Tapi untuk menghormati, FF ini aku tahan nyampe FF sebelumnya selesai ^_^

Di sini mengisahkan love story Sora-Donghae yang rada gimana gitu, di FF ini Donghaenya is a bad boy too, tapi dia juga polos dan childish banget. Suka maksa kalau udah pengen sesuatu. Pokoknya part ini dipenuhi adegan romantis yang rada berlebihan. So buat yang gak kuat lebih baik tidak perlu membaca. Takut nanti muntah atau mual-mual ^_^

Happy Reading ^_^

Crazy because of You by Dha Khanzaki1

=====o0o=====

CHAPTER 1

Time to Stay

SEJAK pertama kali melihatnya di pesta pernikahan sahabatnya, Lee Donghae menyadari dirinya tertarik pada Min Sora. Gadis itu telah mencuri perhatiannya dengan cara yang tak dimengerti olehnya. Sora hanya gadis biasa yang cantik dengan pembawaan ceria. Senyumnya memberikan sesuatu yang mengagumkan, menggetarkan hatinya. Ia sudah melakukan segala cara untuk menaklukan hati gadis itu. Tapi laksana baja, hati gadis itu sulit sekali untuk diluluhkan.

Ia sadar kemungkinan Sora mengabaikan perhatiannya karena gadis itu telah mengecapnya sebagai bad boy karena kebiasaannya pergi ke night club untuk bersenang-senang dengan teman-temannya ditemani beberapa gadis. Sora selalu menghindar setiap kali ia mencoba berinteraksi lebih intim solah dirinya adalah bajingan yang telah meniduri setengah gadis di kota itu.

Padahal kenyataannya tidak. Donghae tidak berhubungan seks dengan setiap gadis yang mendekatinya—tak dipungkiri penampilannya tampan sempurna. Ia bahkan tidak tertarik ketika Jang Saerin, pelacur cantik dengan tarif termahal di klub itu menggodanya. Bahkan menawarinya kencan malam gratis. Pria lain mungkin akan langsung setuju tetapi ia tidak. Ia menolaknya dengan tegas karena satu-satunya gadis yang ingin ia ajak ke tempat tidur hanyalah Min Sora.

 

“Bisakah kau mengecek pasta itu, please.” Sora menunjuk panci berisi pasta yang sedang dimasak.
“Baik, honey.” Donghae berbisik di telinganya dengan mesra, meninggalkan paprika yang sedang dipotongnya untuk menengok panci yang ditunjuk Sora. Gadis itu merona malu lalu melanjutkan membuat saus bolognaise untuk pelengkap pasta sebagai hidangan makan malam mereka.

Seperti biasa, malam ini Donghae memintanya menyiapkan makan malam. Ritual mingguan itu telah berlangsung semenjak mereka menjadi lebih dekat, tepatnya beberapa bulan yang lalu setelah masalah di perusahaan tempatnya bekerja selesai. Sora tidak bisa menolak permintaan Donghae. Siapa yang bisa di saat Donghae memintanya dengan wajah aegyeo dan innocent miliknya. Wajah itu hampir selalu membuatnya lupa bahwa Donghae adalah seorang penakluk wanita.

Sora merasa hubungannya dengan Donghae begitu aneh. Pria itu memperlakukannya lebih mesra daripada seorang pria memperlakukan kekasihnya. Tidak, mereka bahkan tidak berpacaran apalagi menikah. Ia bertanya-tanya apa maksud Donghae bersikap manis padanya karena hingga saat ini, tak ada pengakuan cinta untuknya. Donghae memang selalu berkata manis, memujinya, namun semua itu tak lebih dari sekedar rayuan. Ia tahu Donghae mengincar sesuatu darinya. Ia bukanlah gadis dari keluarga kaya, ya, jika Donghae mengincar hartanya. Apartemen yang ditinggalinya sekarang saja bukan apartemen mewah.

“Pastanya sudah siap.” Donghae berseru sambil meniriskan pasta itu.

Lamunan Sora buyar dan ia tersenyum pada pria itu. Ia terlalu banyak berpikir. Diperhatikan seperti apapun, Donghae adalah pria baik-baik. Jeyoung mungkin salah menilai pria itu. Ia lalu kembali fokus pada saus yang dimasaknya.
Tiba-tiba Sora merasakan sengatan listrik statis yang membuat tubuhnya tersentak ketika kedua tangan Donghae melingkari pinggangnya.
“Aku sedang masak,” cicit Sora gugup. Ia menoleh pada Donghae melalui bahunya.
“Aku tahu. Kau sangat cantik ketika sedang memasak.” Suara desahan Donghae menggelitik telinganya. Sora menggeliat geli sambil tertawa kecil.
“Kau bisa membuat saus bolognaiseku gosong.”

Donghae pura-pura mengerang. “Baiklah, aku tidak akan mengambil resiko kelaparan sepanjang malam.” ia melepaskan Sora, “Lalu apa yang bisa kulakukan selain memandangmu, manis?” tambahnya seraya menyandarkan tubuhnya pada meja dapur.

“Kau bisa membantuku menata meja.”
“Saran yang bagus.” Ia melesat keluar dari dapur untuk melaksanakan titah Sora. Ia menata placemate, lalu piring, sendok, garpu dan yang terakhir gelas berisi air di atas meja yang berada di ruang makan kecil bersebelahan dengan dapur. Ia merasa bangga dengan hasil pekerjaannya.
Well, tidak terlalu buruk untuk seorang amatiran.” Seru Sora dari dapur. Gadis itu tersenyum sambil menuangkan saus di atas spagetti yang sudah ditata di atas piring saji.

Donghae hanya tersenyum. Ia sama sekali bukan amatiran untuk urusan tata-menata meja seperti yang dikira Sora. Ia sudah berkecimpung dalam dunia perhotelan selama lebih dari 4 tahun, sudah pasti hal seperti ini menjadi pelajaran dasar untuk seorang pewaris LD Hotel Group sepertinya. Selain itu ia terbiasa menata mejanya sendiri sejak kecil. Apa yang membuat Sora berpikir dirinya seorang amatir?
“Sebenarnya ini sudah kulakukan sejak aku kecil.”
“Oh ya, apa kau tidak memiliki pembantu yang melakukannya untukmu?” Sora yakin di rumah besar yang ditinggali pria itu, dia sudah terbiasa dilayani puluhan pelayan sejak dilahirkan ke dunia.

Pria itu meringis, “Aku tidak memiliki pembantu yang bertugas menata mejaku. Sejak usiaku 10 tahun, ibuku meninggal dunia karena penyakit kanker yang dideritanya dan ayahku terlalu sibuk mengurus bisnis sehingga aku harus mengurus diriku sendiri. Segalanya kucoba kulakukan sendiri tanpa bantuan pembantu. Ayahku mendidikku dengan keras. Meskipun hidupku bergelimang harta, aku diajarkan untuk tidak bermanja-manja. Dari menyiapkan baju sekolahku sampai makan aku menyiapkannya seorang diri. Semua kulakukan sampai akhirnya ayahku menikah kembali saat usiaku 14 tahun. Seluruh pekerjaan itu segera diambil alih oleh ibu tiriku.”

Sora merenung menyadari nada sedih dari cara Donghae bercerita tentang masa lalunya.
“Maaf, sepertinya aku mengajukan pertanyaan yang salah.”
Donghae mengerjap menyadari ceritanya membuat ekspresi Sora menjadi mendung. Ia berjalan mendekati gadis itu, “Hei, pertanyaanmu tidak melukaiku, sayang.” menarik dagu Sora ke atas lalu memberikan kecupan kilat di bibirnya.

Ciuman itu mengejutkan Sora. Donghae mengedipkan mata lalu mendudukkan dirinya di salah satu kursi. Sora selalu terdiam setiap kali Donghae menciumnya. Ia tidak mengerti mengapa pria ini menciumnya atau lebih tepatnya apa alasannya?

Biasanya seorang pria memberikan ciuman sebagai bentuk kasih sayang untuk wanita yang dicintainya. Tetapi Donghae tidak pernah menyatakan cinta padanya. Saat ia bertanya kenapa, pria itu hanya menjawabnya dengan suara lirih.

“Aku tertarik padamu, Sora. Aku belum yakin apa yang kurasakan terhadapmu adalah cinta atau bukan, tetapi aku bisa memastikan bahwa kau membuatku tertarik.”

Sejujurnya jawaban itu membuatnya bingung. Jika tidak mencintainya dan hanya tertarik padanya, lalu kenapa dia selalu marah setiap kali melihatnya bersama pria lain? Ia sungguh tidak bisa mengerti apa yang diinginkan Donghae darinya. Uangnya? Tidak, harta orang tuanya bahkan tidak sampai seperempat harta miliknya. Apa karena ia cantik? Jeyoung memang selalu berkata dirinya adalah gadis cantik yang pantas menjadi rebutan para pria, tetapi entah kenapa ia tidak yakin itu alasan Donghae mendekatinya. Pria itu bisa mendapatkan gadis yang lebih cantik darinya.

Sora memutuskan menunda kebingungannya itu dan membawa piring sajinya ke ruang makan.

“Waw, kau bisa membuatku gemuk,” seru Donghae saat ia meletakkan piring saji dengan porsi lebih besar di depannya. Ia lalu duduk di kursi di seberangnya.
“Kupikir tidak, bukankah kau rutin pergi ke Gym?”
Donghae mengangguk, “Yah, aku menyukai segala bentuk kegiatan yang membuatku berkeringat.” lalu mencoba spagettinya, “Ah, mashita!!” serunya dengan bibir dipenuhi saus merah. Sora menahan tawa karena Donghae saat ini terlihat seperti vampir, vampir yang menawan, lucu, dan manis.
“Aku senang kau menyukainya.” Sora lalu mencoba spagetti buatannya dan mengangguk setuju. Spagetti buatannya malam ini benar-benar enak. Atau mungkin karena ia merasa lapar saja?
“Aku memang menyukainya, terutama berkeringat bersamamu di atas ranjang.”

Sora langsung tersedak. Ia buru-buru meneguk segelas air sebelum ia jatuh pingsan karena tidak bisa bernapas. “Kau mulai lagi!” serunya sambil memelototi Donghae setelah ia merasa selamat dari kematian.
Donghae tertawa, “Kenapa, kau tidak penasaran bagaimana rasanya? Aku bisa mengajarimu jika kau mau.”

Gadis itu langsung mendengus sebal dengan jenis godaan Donghae yang satu ini. Lagi-lagi ia harus berpikir ulang tentang sifatnya. Pria ini beberapa kali melontarkan lelucon yang intinya mengarah pada ajakan untuk tidur bersama. Ada apa sebenarnya dengan para pria dan seks? Sora sungguh tidak mengerti. Ironisnya, Donghae tidak pernah menyerah meski ia sudah menolaknya dengan terang-terangan. Tidak etis rasanya jika ia setuju tidur bersama pria itu hanya karena berpikir kegiatan itu menyenangkan. Pria itu bukan pacarnya atau suaminya dan ia hanya akan menyerahkan keperawanannya pada suaminya kelak.

Jika Donghae pikir ia bisa luluh dengan godaan nakalnya, maka pria itu harus kecewa. Meskipun yah, ia sudah beberapa kali hampir kecolongan. Donghae dengan wajah polosnya terlalu sulit untuk ditolak. Sora sendiri mengakui hal itu.

Lalu, apa tujuan Donghae dekat dengannya hanya untuk mengajaknya ke tempat tidur? Sora merasa sedih ketika memikirkannya. Dengan begitu Donghae berpikir dirinya tak lebih dari wanita yang didekati hanya untuk one night stand.

“Hei, aku hanya bercanda.” Ujar Donghae sambil memegangi tangannya ketika melihat Sora mengeluarkan raut sedihnya.
“Aku hanya berpikir,” lirih Sora lalu memandang pria di depannya. “Apa kau mendekatiku hanya untuk mengajakku tidur?”
Rahang Donghae langsung mengeras, “Kenapa kau berpikir seperti itu? Kau bukan jenis wanita yang pantas diperlakukan layaknya pelacur, Sora.”
“Lalu kenapa kau terus mengatakan lelucon nakal seperti itu? Bagiku itu terdengar seperti ajakan untuk seks.”
Donghae menggeram dalam hati. Tak bisa dipungkiri alasan itu memang ada benarnya, tetapi ia tidak bermaksud sama sekali untuk membuat Sora merasa direndahkan sebagai wanita.
“Tentu saja tidak, Sora. Kau terlalu berharga untuk kunodai. Aku terus bersamamu karena tak ada tempat yang lebih nyaman selain berada di sampingmu.” Ujarnya sungguh-sungguh.

Sora langsung luluh melihat tatapannya saja. Ini memang sisi lemahnya. Donghae seperti pangeran yang keluar dari dalam imajinasinya dan tipe pria yang ia idamkan sebagai sosok suami masa depannya. Karena itu, ia tak pernah bisa kesal meskipun tak ada kejelasan yang pasti dalam hubungan mereka.
Kalau begitu mengapa kau tidak mengatakan cinta padaku? Kenapa kau tidak memperjelas hubungan kita? Mungkin dengan begitu aku akan menjadi salah satu wanita bodoh yang merelakan keperawanannya untuk pria yang bukan suaminya.

Ingin sekali Sora menyuarakan isi hatinya, tetapi ia memilih diam lalu memaksakan seulas senyum.
“Baiklah.” Mereka lalu melanjutkan makan malam itu dalam keheningan.

“Hari ini aku mengunjungi Ahyoon,” Donghae memecahkan suasana kaku. Sora mengangkat kepala, matanya langsung bersinar-sinar kala ia menyebutkan nama anak perempuan Jeyoung, sahabat gadis itu yang baru berusia 5 bulan.
“Bagaimana kabar bayi manis itu? Aku belum sempat menemuinya karena Ayahnya yang diktator itu memberiku setumpuk pekerjaan.” keluh Sora menyinggung bosnya, Cho Kyuhyun yang merupakan suami Jeyoung. Sora bekerja untuk Cho Corp sebagai Manager HRD.
“Dia sangat sehat dan dan menggemaskan.”
“Aaa, aku ingin sekali mengunjunginya. Akhir pekan nanti aku harus ke rumahnya.”
“Aku akan sangat senang menemanimu.”
“Baik, jadi akhir pekan nanti aku akan berkencan dengan Ahyoon.”
Donghae tertawa sambil menggelengkan kepala, “Sora, kau tidak bisa berkencan dengan bayi perempuan.”
“Oh, tentu saja aku bisa.”

—o0o—

Makan malam telah selesai dan dapur sudah bersih kembali tepat ketika jarum jam menunjuk angka 11 malam. Donghae melirik ke arah Sora yang sedang menata piring dan gelas yang sudah dikeringkan kembali ke dalam rak lalu menguap. Sial, sudah ini bahkan belum tengah malam mengapa ia sudah mengantuk? Ia melirik jam tangan sekali lagi lalu mengerang. Ia tidak ingin pulang.

Sudah menjadi tradisi jika pekan pertama setiap bulannya, ia harus menginap di rumah orang tuanya. Sementara itu untuk sekarang ia tidak ingin menginap di tempat itu meskipun di sanalah dulu ia dibesarkan. Sejak kembali ke Korea beberapa tahun yang lalu, ia menolak untuk tinggal di rumah besarnya dan memilih menempati apartemen di kawasan elit di Gangnam. Sebelum-sebelumnya mungkin ia masih bisa memenuhi tradisi itu. Tetapi sejak beberapa bulan yang lalu, ia mulai merasa rumah itu seperti neraka.

Alasan terbesarnya tak lain dan tak bukan adalah ibunya yang selalu bertanya kapan ia akan mengenalkan calon istrinya. Ia bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Karena itu ia tidak bisa terus menginap di sana dan untungnya ia selalu berhasil menemukan alasan untuk menghindari tradisi itu. Dan malam ini, pun ia sudah menemukan alasannya.

Dengan seulai seringaian di sudut bibirnya, Donghae menoleh ke arah Sora. Tepat di saat gadis itu mengangkat kepala dan pandangan mereka bertemu.

“Apa tidak masalah Oppa mengendarai mobil selarut ini?” tanya Sora antara heran dan bingung mengartikan senyum Donghae. Ia sedikit heran karena Donghae belum bersiap-siap padahal malam sudah begitu larut.
“Seoul tidak akan pernah tidur sayang. Karena itu aku tidak akan takut. Tetapi, aku sangat lelah hari ini,” pria itu tiba-tiba menunjukkan raut lesu. Sambil memijat-mijat pundaknya Donghae melangkah memasuki ruang duduk lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa.
“Aku bisa memijatmu sampai kau merasa lebih baik.” ucap Sora sambil mendekati Donghae.

Ketika gadis itu duduk di sampingnya, Donghae langsung menunjukkan aegyeonya.
“Sebenarnya, aku akan sangat senang jika kau mengizinkanku menginap di sini.”

Jelas saja kalimat itu membuat Sora melonjak kaget. “Apartemen ini hanya memiliki satu kamar. Kecuali jika kau bersedia tidur di sofa ini.”
“Dan membuatku tidak bisa bergerak keesokan harinya? Bagaimana kau tega padaku, Min Sora? Sofa ini terlalu kecil untukku.”
Sora mengakuinya, sofa yang ada di ruang duduk yang merangkap sebagai ruang tamu apartemenya ini memiliki ukuran yang kecil meski cukup untuk ditempati oleh tiga orang. Ia memang tidak berniat mengalih-fungsikan sofa ini sebagai tempat tidur untuk siapapun yang menginap di apartemennya, tidak, tidak ada yang menginap di rumahnya selain Jeyoung dan temannya itu selalu tidur bersamanya di ranjang Queen Size yang terdapat di kamarnya.

Tetapi ia tidak mungkin membiarkan Donghae tidur bersamanya.

“Apa kau ingin aku mengantarkanmu pulang?” tanya Sora hati-hati. Donghae langsung membelalakan mata seolah Sora baru saja mengatakan akan bunuh diri.
“Pria pengecut mana yang membiarkan wanita mengantarnya pulang? Dan aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian di tengah malam, penjahat bisa mencegatmu di mana saja di setiap jalan di kota ini.”
“Lalu kau tidur di mana?”
Donghae langsung menyeringai, “Kau bisa membiarkanku tidur bersamamu, di dalam kamarmu.” Ucapnya sambil mengerling ke arah kamar.

Sora gelagapan, “Ti-tidur bersama? Satu ranjang?”
“Kecuali jika kau memiliki 2 ranjang single.” Dan itu jelas mustahil karena Donghae tahu satu-satunya ranjang di kamar Sora berukuran Queen sehingga bisa menampung lebih dari dua orang.

Gadis itu merenung. Malam ini Donghae sudah berkali-kali melihat Sora merenung. Apa yang membuat gadis itu ragu padanya? Meskipun ia sering melontarkan gurauan-gurauan nakal, namun ia tidak akan memperkosa Sora di dalam sana. Tidak, ia tidak pernah memaksa seorang gadis untuk melayani kebutuhan fisiknya. Hanya mereka yang mau dan bersedia dan itu pun jarang sekali terjadi. Bukan karena para gadis tidak mau, tetapi karena ia yang menolak mereka. Tidur dengan semua gadis yang merayunya, ia bukanlah Kim Kibum sahabatnya yang mengidap penyakit playboy stadium akhir.

“Jadi?” pertanyaan itu membuat Sora mengerjap karena detik itu juga ia sadar Donghae sedang mencondongkan tubuh ke arahnya. Wajah mereka terlalu dekat dan itu membuat jantung Sora berdetak tak terkendali.
Melihat ekspresi penuh permohonan di wajah polosnya, Sora melemaskan bahu. Dan ia tahu ia tidak akan tega untuk mengatakan tidak. “Baiklah, kau bisa menginap dan tidur di kamarku malam ini.”
Senyum Donghae langsung terbit dengan manisnya, “Itu jawaban terindah yang pernah kudengar. Aku berjanji tidak akan melakukan apapun di dalam sana kecuali tidur.” ia menormalkan posisi duduknya dengan ekspresi puas bercampur lega. Sora bertanya-tanya apakah kepuasan itu muncul karena dia berhasil tidur di kamarnya atau karena hal lain.

Donghae merasa senang sekali Sora mengizinkannya menginap. Ia memiliki alasan yang sempurna jika esok hari ibunya bertanya dan ia yakin ibunya akan terkejut saat mendengar jawabannya. Putranya tidur bersama gadis yang bukan istrinya, ibunya bisa terkena serangan jantung.

“Ya, aku bisa menggunakan sofa ini untuk tempat tidurku.”

Ucapan Sora mengejutkan Donghae. “Tidak, kau tidak akan tidur di tempat lain selain tempat tidurmu, nona. Aku tidak ingin membuat tubuh cantikmu pegal-pegal besok pagi. Kecuali pegal karena alasan lain.”

Seluruh kulit di tubuh Sora langsung memerah ketika menangkap maksud terselubung dari kata-kata Donghae. Ia berdiri untuk menghindar, “A-aku harus mencuci mukaku dulu.” dengan langkah kaku ia meninggalkan Donghae sendirian di ruang duduk.

Donghae tersenyum geli, “Dia terlalu polos,” kepalanya menggeleng. Tetapi bukankah itu yang membuat Sora menjadi wanita yang sangat menarik?

—o0o—

Ketika berdiri di tengah kamar yang bernuansa ‘sangat perempuan’ itu, Donghae tiba-tiba merasa begitu feminin. Boneka terpajang rapi dalam satu rak penuh di sisi ruangan. Dinding kamar itu dilapisi oleh wallpaper berwarna baby pink dengan motif bunga kecil. Lemari dua pintu, meja rias, meja kerja, dan lemari kecil seluruh furniturnya berwarna putih. Segala pernak-pernik wanita tertata rapi di atas meja rias. Bahkan meja riasnya pun cantik. Ranjang Sora berukuran queen dengan rangka besi ditempa dengan cantik yang juga berwarna putih, dilapisi bed cover warna cokelat muda. Beberapa bantal berbentuk hati di tempatkan di antara tumpukan bantal. Tempat tidur yang nyaman. Semoga tidak pernah ada pria yang tidur di sana selain dirinya.

Donghae merasa kamar ini benar-benar mencerminkan Min Sora. Cantik, feminin, dan menggemaskan. Dan ada satu masalah kecil yang ia lupakan. Apa ia akan tidur mengenakan pakaian kerja? Kemeja dan celana yang dikenakannya sekarang?

Tidak mungkin.

Kecuali jika Sora membiarkannya tidur dalam kondisi tanpa busana.

Donghae tertawa memikirkan kemungkinan itu. Sora akan langsung mengusirnya keluar atau mereka akan batal tidur di atas ranjang yang sama malam ini.

Sementara Donghae kebingungan di dalam kamar, Sora merasa gugup luar biasa di dalam kamar mandi. Ia menghabiskan waktu terlalu lama untuk mencuci mukanya. Bagaimana ia tetap tenang di saat ia akan tidur bersama seorang pria malam ini. Astaga, ia akan membuat ibunya pingsan jika ibunya tahu hal ini dan ayahnya akan datang ke Seoul dan menyeretnya dengan paksa kembali ke kampung halamannya di Mokpo.

“Aku tahu kau akan seperti ini jika terus dibiarkan tinggal di kota seperti Seoul! Pergaulan di sana sudah terlalu bebas dan Appa tidak akan pernah membiarkan putrinya terjebak dalam kehidupan kelam kota besar?”

Sora memejamkan mata ketika nasehat Ayahnya menggelegar di telinganya. Ia tidak ingin hal itu terjadi karena itu jangan sampai terjadi ‘kecelakaan’ apapun malam ini. Ia harus memastikan Donghae hanya akan tidur di ranjangnya. Bukan ‘tidur’ bersamanya. Setelah mengumpulkan keberanian, ia berjalan keluar kamar mandi dengan piyama tidurnya. Ia menemukan Donghae kebingungan di kamarnya. Pria itu belum mengganti baju.

Oh sial!

Tentu saja Donghae tidak membawa baju tidur. Bagaimana ia bisa lupa? Donghae tidak berniat menginap, ingat. Jika pria itu sampai membawanya maka ia harus mencurigainya.

“Apa kau akan tidur dengan pakaian itu?” Sora terkejut dirinya bertanya. Donghae menoleh ke arahnya.

Sebenarnya ia mengharapkan ekspresi seperti bingung, gelisah, atau ragu. Tetapi ketika mata mereka bertemu ia justru menemukan raut kaget. Kedua mata pria itu langsung menatapnya dari ujung kaki hingga rambut.

“Itu pakaian tidurmu?” tanyanya terkejut sambil menunjuk baju yang dikenakannya. Sora menatap piyamanya sendiri. Sebuah kaus longgar yang sudah lusuh dan celana trainning yang tampak menenggelamkan kakinya.
“Apa yang salah dengan pakaianku?” tanyanya heran. Ini pakaian yang sopan tetapi kenapa Donghae membuatnya seolah ia hanya memakai bra dan celana dalam saja?

Donghae langsung berkacak pinggang dengan tidak sabar. “Apa pakaian ini yang biasa kau pakai untuk tidur atau kau sedang berusaha bersikap sopan karena keberadaanku?”
Pertanyaan Donghae sungguh tidak bisa dimengerti Sora, tetapi ia tetap menjawabnya. “Aku selalu memakai ini setiap kali aku tidur.”

Melihat Donghae langsung membuang napas frustasi, Sora benar-benar merasa kebingungan.
“Sebenarnya apa yang salah denganku?”
“Well, kukira kau sedang berusaha mematikan gairahku karena itu kau memakai pakaian seperti itu. Tetapi kau tidak berhasil, Min Sora. Karena apa, kenyataannya aku tetap akan tidur bersama seorang wanita. Dan kau adalah wanita yang cantik dan seksi.”

Sora mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Apa kau tidak memiliki baju tidur yang lebih ‘wanita’?” sahut Donghae langsung karena Sora sepertinya tidak mengerti maksud dari kata-katanya.
“Baju tidur yang lebih ‘wanita’?” Sora mengerutkan kening.
“Yaah, seperti lingerie? Pakaian tidur seksi berbahan satin atau sifon dengan aksen renda dan pita?”

Detik itulah Sora menangkap maksud dibalik pertanyaan Donghae. Jadi pria ini mengharapkannya memakai pakaian tidur tidak sopan seperti itu di depannya? Baik, kebanyakan gadis memang akan memakainya saat tidur sendiri, tetapi sayangnya itu bukan kebiasaannya. Ia dibesarkan di sebuah kota nelayan dan adat istiadat yang dianut penduduk di kotanya masih bersifat konvensional sehingga akan sangat melanggar norma kesopanan jika ia berkeliaran di rumah pada malam hari hanya dengan memakai pakaian berbahan tipis dan menonjolkan lekuk tubuh.

Sora mendengus, “Maaf mengecewakanku Lee Donghae, tetapi inilah pakaian tidurku sehari-hari.”

Sepertinya pernyataan itu benar-benar mengejutkan pria itu karena kedua matanya langsung melebar. “Mustahil. Seorang gadis tidak memiliki baju tidur seperti itu? Kakakku saja memiliki banyak baju tidur seksi seperti itu. Kau gadis cantik Sora, kenapa kau tidak mencoba mengenakannya?”
Sora memutar bola mata lalu berjalan melewati Donghae untuk menyibakkan bedcovernya. “Aku tidak memiliki waktu untuk membelinya. Lagipula apa gunanya, tidak akan ada yang melihat.”
“Tapi aku ingin melihatnya sekarang.” ucap Donghae tidak sabar.
Sora melotot pada Donghae, “Tapi aku tidak memilikinya, Tuan Lee.”
“Bohong. Kau pasti memiliki satu di lemarimu.” Donghae menunjuk lemari Sora. Gadis itu mengendikkan bahu tidak peduli lalu merebahkan dirinya. Sekarang topik ini benar-benar membuatnya kesal.
“Geledah saja kalau kau mau.”

Donghae mengerang. Ia tahu Sora tidak akan bisa membohonginya, itulah yang ia sesali sekarang. Ia harap Sora sedang berbohong sehingga ia bisa meminta gadis itu memakainya.

“Kau ingin tidur atau tidak, Tuan Lee? Jika kau keberatan melihatku tidur mengenakan ini, kau boleh tidur di sofa.”
Never!” balas Donghae cepat. Sora memejamkan mata lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Donghae.

Sora benar-benar mengantuk dan lelah dengan topik bahasan tidak penting yang selalu mereka perdebatkan. Terkadang Donghae selalu mengajaknya berargumen hanya karena sesuatu yang terlalu remeh untuk dibicarakan. Seperti topik tentang lingerie itu. Peduli amat wanita cantik atau bukan. Ia tidak akan pernah mengenakan baju tidur terkutuk itu hanya untuk menyenangkan pria yang bukan suaminya. Dulu ia begitu semangat menyuruh Jeyoung membeli lingerie seksi karena Jeyoung memang harus melakukannya untuk menyenangkan suaminya. Tetapi dirinya, untuk apa? Ia bahkan heran kenapa dulu ia antusias sekali mempelajari segala hal tentang seks dari buku milik Jeyoung yang dipinjamnya dengan paksa.

Ranjang terasa bergerak di belakangnya. Ia tahu Donghae sudah memutuskan untuk tidur tanpa memperdebatkan apapun lagi. Tetapi ketika ia merasakan tangan Donghae melingkari tubuhnya dan napas pria itu terasa di tengkuknya, ia menoleh dengan cepat ke belakang.
“Sebaiknya kau..” kata-katanya terhenti ketika ia sadar Donghae bertelanjang dada. Apa-apaan pria ini! Ia akan bangkit tetapi tangan Donghae menahannya di tempat.
“Kenapa kau membuka bajumu?!” tanyanya cepat. Ia tidak bisa memastikan apa Donghae masih mengenakan celananya atau tidak karena bagian itu tertutup oleh selimut.
“Ssstt.. tidak perlu histeris begitu. Aku hanya tidak ingin kemejaku bau saat aku memakainya untuk pulang besok pagi.” Ia lalu berbisik, “Dan kuharap kau tidak keberatan karena aku juga menanggalkan celanaku.”
Mwo?!” Sora berteriak. Apa ia sekarang sedang berbaring di atas ranjang dengan seorang pria yang telanjang?
“Sssttt, kau tenang saja. Aku masih memakai celana dalamku.” Bisiknya mesra. “Untuk menjaga monsterku tetap dalam kandangnya.”

Sora betul-betul ingin protes tetapi ia mengurungkan niatnya. Percuma saja karena Donghae tidak mungkin mau memakai celananya kembali atau akan terjadi hal buruk di atas ranjang ini.
“Baiklah, asal kau tidak melakukan apapun padaku.”
“Tapi aku akan tidur sambil memelukmu.”

Jantung Sora langsung berdebar kencang. “Yah, jika hanya memeluk aku mengizinkannya.” Ia lalu membelakangi Donghae kembali sambil mencoba menenangkan debaran jantungnya. Sial, bagaimana ia bisa tidur di saat napas hangat yang terasa asing terus menerus menggelitik tengkuknya? Pria itu telah menyingkirkan rambut panjang yang menghalangi tengkuknya dan membiarkan bibirnya yang terasa basah menempel di sana. Ia bahkan bisa merasakan kulit dada telanjang Donghae menempel dengan punggungnya.

“Aku bersedia menemanimu berbelanja lingerie jika kau mau. Aku memiliki selera bagus untuk itu.” bisik Donghae mengagetkannya. Pria ini belum tidur?
“Eoh, aku tidak meragukannya.” Jawab Sora. Dulu bukankah pria ini juga yang memberinya saran memilih lingerie yang cocok untuknya dan ia menurunkan ilmu itu pada Jeyoung.
Sora bersumpah ia berasakan bibir Donghae bergerak membentuk senyuman di atas kulitnya.
“Jadi lain kali ketika kita tidur bersama seperti ini kau akan mengenakannya?”

Sora mengeryit diam-diam. Donghae bahkan mengharapkan adanya ‘lain kali’?

“Jika kau bersedia untuk menikahiku.” Ucapnya asal lalu memutuskan untuk menutup pembicaraan dengan berusaha terjatuh ke alam mimpi.

Gadis itu tidak menyadari sama sekali bahwa kata-katanya sungguh mengejutkan Donghae. Pria itu melebarkan matanya lalu menatap gadis yang kini sudah tertidur lelap dalam pelukannya.

Menikah?

Apa gadis ini tidak tahu bahwa menikah membutuhkan cinta sementara dirinya belum mengetahui perasaan apa yang ada dalam hatinya. Cinta? Entahlah, ia hanya merasa Min Sora adalah gadis paling menarik yang ia lihat setelah gadis itu.

—o0o—

Donghae bangun dalam keadaan tubuh berkeringat. Ia bermimpi buruk. Mimpi yang selama bertahun-tahun selalu menjadi teror untuknya. Ia langsung bangkit lalu meremas rambutnya, kepalanya yang terasa pening. Matahari sudah muncul, sinar paginya yang hangat masuk menembus jendela bertirai putih, membuatnya terpaksa menyipitkan mata untuk menghalau sinar yang membuatnya silau.

Ah, aku berada di kamar Min Sora. Ketika seluruh memorinya terkumpul, ia sadar ia tidak berada di kamar apartemennya. Tempat tidur itu sudah kosong. Min Sora tidak berada bersamanya lagi. Kemana perginya gadis itu? Ketika tercium bau roti yang sedang dipanggang dan suara desisan sesuatu yang digoreng di atas wajan, ia tahu Sora sedang berada di dapur.

Jas, kemeja dan celana kerja yang dipakainya kemarin terlipat dengan rapi di atas kursi di depan meja rias. Berikut dasi dan ikat pinggangnya yang tergulung di atas tumpukan baju itu. Sora bahkan menyiapkan handuk bersih untuknya di atas tempat tidur.

Benar-benar calon istri idaman. Donghae tersenyum atas pemikirannya sendiri. Sora adalah calon istri yang sesuai dengannya? Benar-benar pemikiran baru.

“Sarapan sudah siap,” Sora mengintip dari ambang pintu satu jam berikutnya setelah ia selesai mandi dan berpakaian. Ia sedang menyisir rambutnya dengan jari ketika gadis itu masuk.
“Kuharap kau tidak keberatan dengan sarapan ala amerika.”
“Kau tidak tahu bahwa aku menghabiskan empat tahun waktu kuliahku di sana?”
“Tentu saja, kau dan Sajangnim.” Tambah Sora sambil tersenyum.

Donghae ikut tersenyum lalu membenarkan kerah kemejanya. Penampilan Sora pagi ini benar-benar segar. Gadis itu membiarkan rambutnya yang setengah basah tergerai, membuatnya terlihat sangat seksi. Sora yang ia lihat saat ini tanpa polesan make-up dan bibirnya yang selalu menyunggingkan senyum manis itu tersapu lipgloss warna peach. Tampak segar dan menggoda.

“Jadi kau tidak keberatan memakan roti panggang, telur, beberapa potong bacon dan segelas susu lowfat?”
“Kedengarannya mengenyangkan.” Sahut Donghae. “Sebenarnya kau tidak perlu menyiapkan apapun untukku, manis. Aku harus berada di apartemenku sebelum ibuku menelepon ke sana dan dijawab oleh mesin penerima pesan. Jika itu terjadi aku akan diceramahi hingga sore nanti dan kita tidak mau itu terjadi bukan? Itu bisa merusak hari Minggu yang menyenangkan ini.”
Sora langsung terlihat sedih, “Jadi kau akan pulang?”
“Kau mengharapkanku tetap tinggal?” tanyanya menggoda. Sora langsung memalingkan wajah tersipunya. “Aku akan tinggal hanya untuk satu alasan.” Ia kembali mengatakannya dengan bisikan, “Kau bersedia tidur denganku.”

“Kita sudah tidur bersama semalam.”
Donghae menyipit, “Kau tentu tahu tidur yang kumaksud bukan tidur seperti semalam.”

“Aku tidak ingin mengira-ngira apapun.” Sora mendengus. Donghae mendekat lalu menariknya ke dalam dekapannya. Sora mengerjapkan mata.
“Tapi aku tidak keberatan untuk mendapatkan satu morning kiss yang panas darimu.” Suara Donghae tiba-tiba berubah serak. Tangan pria itu menyentuh dagunya, mendongakkan kepalanya ke atas lalu dalam beberapa detik mulut mereka telah menyatu.

Sora terkejut dengan cara Donghae menciumnya kali ini. Setiap pagutan yang dilakukannya terasa panjang, menggebu dan penuh nafsu. Jelas Donghae sedang berusaha bercinta dengan bibirnya. Mengecap setiap sudut bibirnya dengan gerakan yang lembut namun pasti. membuatnya tidak berdaya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kakinya melangkah mundur karena secara naluriah Donghae mendesak maju. Bagian belakang pahanya bersentuhan dengan ranjang lalu tubuhnya jatuh dengan lembut di atas kasur dengan tubuh Donghae menghimpit di atasnya.

Pria itu tidak berhenti menciumnya, seakan merasai bibirnya sama pentingnya dengan menghirup oksigen. Sora harus pandai-pandai menarik napas di sela serangan hebat yang menggetarkan seluruh tubuhnya itu atau ia akan kehabisan udara. Tubuhnya sontak menggelinjang ketika ia merasakan sentuhan lembut tangan Donghae di perutnya. Astaga, sejak kapan tangan itu menyusup ke dalam bajunya? Gerakan itu terus merambah naik dan akhirnya berhenti diatas tonjolan lembut yang tertutup bra.
Sora mengerang ketika tangan Donghae menekan buah dadanya. Ia langsung memegang tangan itu, mencoba menghentikan aksinya. Ia tidak akan membiarkan bagian sensitifnya itu dieksplorasi sebelum waktunya. Tetapi tangan Donghae yang lain menariknya menjauh lalu menempatkannya di sisi kepalanya.

“Kau membuatku bergairah, Sora..” bisik Donghae lalu memindahkan ciuman ke pipinya. Ketika ciuman itu tiba di lehernya, Sora sudah tidak ingat apa-apa lagi. Ia hanya tahu tubuhnya meliuk-liuk merespon setiap penjejakan Donghae di lehernya. Untungnya hanya beberapa saat karena Donghae kembali menciumi bibirnya.

Bajunya telah tersingkap. Tangan Donghae memang sudah tidak menggerayangi tubuhnya lagi tetapi tangannya pria itu menahan tangannya di sisi kepalanya. Ledakan gairah yang tiba-tiba ini sungguh tidak disangka. Sora menggerakkan tangannya sebisa mungkin lalu memeluk pundak Donghae.
Oppa..” ia mendesah, pria itu hanya menjawabnya dengan gumaman karena sibuk menandai bahunya dengan jejak basah. Jari-jarinya menyusup ke sela helaian rambut lebat Donghae lalu menariknya ketika pria itu dengan tiba-tiba menggigit lembut bahunya.

Lalu segala siksaan lembut itu tiba-tiba terhenti. Sora langsung melepaskan tangannya dari kepala Donghae dan membiarkannya jatuh terkulai di sisi kepalanya. Napas mereka terengah, dan ia bisa melihat ada binar kepuasan dalam retina mata Donghae. Wajah tampannya basah oleh keringat dan hembusan napas tidak teraturnya menerpa pipinya. Sora tak pernah bila pria bisa terlihat sangat mempesona sekaligus liar ketika mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan.

“Ciuman ‘selamat pagi’ yang mengagumkan. Terima kasih.” Donghae membisikkan kata itu di sudut bibirnya yang masih terasa panas. Pria itu bangkit lalu membenarkan jasnya yang sedikit kusut. Sementara Donghae sibuk membenarkan tatanan rambutnya, Sora bangkit dengan pikiran kacau balau. Buru-buru menurunkan kembali kausnya yang tersingkap, tiba-tiba ia merasa sangat malu dan bodoh. Mengapa ia begitu mudah dipermainkan? Mengapa ia membiarkan Donghae memperlakukannya seperti wanita gampangan begitu saja?

“Baiklah, aku akan pulang.” Donghae terdiam melihat Sora merenung di atas ranjangnya. Ia mendadak merasa bersalah. Sora pasti berpikir dirinya hanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
“Sora sayang,” Donghae menyentuh dagu gadis itu lalu mendongakkannya. “Apa yang membuatmu sedih?”
Mata Sora langsung berkaca-kaca mendengar ketulusan dari nada suara Donghae. “Tidak apa-apa.” Jawabnya sambil memalingkan wajah. Ia bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menjauhi Donghae.
“Kau yakin?” tanya pria itu khawatir karena tiba-tiba Sora mendiamkannya. Ia mengikuti Sora keluar kamar. Ia memang berniat pulang. Tetapi melihat gadis itu tampak sedih mendadak ia ragu.

“Kau akan kemana?” tanyanya kaget melihat Sora buru-buru memakai sweter rajut berwarna oranye favoritnya lalu memakai sepatu olahraga.
“Aku tiba-tiba ingin sekali jogging. Jika kau ingin pulang, kau bisa pergi sekarang. Aku akan mengantarmu hingga depan.”

Donghae hapal sekali perubahan emosi Sora yang tiba-tiba seperti ini sebagai bentuk pengalihan rasa frustasinya. Sora tiba-tiba ingin melakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa ia ikuti saat gadis itu merasa perlu menghindarinya. Seperti saat ini, ia tidak mungkin menemani gadis itu pergi berjogging dengan jas dan pakaian kerja kemarin.

“Baiklah.” Donghae memberikan kesempatan bagi Sora untuk menjernihkan pikirannya. Ia tidak akan berkomentar kali ini.

~~~TBC~~~

438 thoughts on “Crazy Because of You [Chapter 1]

  1. ‘Sora, gadis yang menarik selain gadis itu’ maksudnya wanita itu siapa? Apa aku yang salah baca atau ketik gitu?

    ‘Mimpi buruk yang selalu meteror selama bertahun-tahun’ mimpi apa yang Donghae lami?

  2. Bang Ikan mah gtu orang nya , masa gg tau perasaan sendiri gimana :p
    ntar kl sora lari gimana . kl cewek mah butuh kepastian bang ,,jangan maen sentuh” aja tp gg jelas status nya kan kasian sora nya

  3. koq kesannya sora kayak gadis gampangan gitu…koq mau dich di.php.in… donghae jg keterlaluan peka’ bgt… ngajak aneh”..tp gx cepet buat komitmen. penasaran kenapa sora mau aja menjalin hubungan tanpa status. 😛😛

  4. Aku sebenarnya nunggu ff ini selesai baru dibaca. Eh ternyata udah selesai, akhirnya bisa baca.
    Aigoo, donghae ini tertarik banget sama sora. Baru ‘tertarik’? -_- oh, ayolah hae. Eih si donghae kata-katanya bikin panas meleleh gitu😀 aih benar-benar romantis.. Ahh, sesuai karakter donghae yang aslinya polos cute gituu. Suka sama part awalnya eonn..
    Hmm, jadi kangen IMTBB😥😦
    Fighting calon eomma❤

  5. Tinggal ngmong aku mencintaimu aja susahnya minta ampun. Kan jadinya sora merasa di php in.

    Sebenarnya sih udah baca ff ini tapi karena udah ada part endnya jadi aku baca ulang lagi supaya dapet feelnya

  6. akhirnya berani baca ff ini…padahal udah penasaran dari pertam ff ini keluar…
    donghae nyatain cinta gih sama sora…keburu sora direbut cowok lain baru tau rasa..

  7. Hallo kaka😀 aku baru dapat blog ini dario salah satu temen fb ku , dan aku buka blog ini . ternyata banyak ff di sini dan udah ending lagi . Dan disini aku langsung tertarik dengan jalan cerita hae yang bad boy .

    Tapi pas awal baca, ini alnjutan ff imtbb . Imtbb apa ya ka ?? Dan aku liat di komen ada pass , kalau boleh tau pass nya apa ya ka ? Biar tau jalan ceritanya . Mohon di bales ke email fb ku ya ka , vitawulandari559@yahoo.co.id . Makasih😀

  8. Kyaaa donghae. Ini sebagai pengalihan rasa rindu ku. hahaha.

    hubungannya msh.dibilang gantung. Ayo dong oppa ungkapin perasaanmu.

  9. Hai thor😄
    Baru baca ff Ini😀
    kesan aku di chapter ini — nyesek😂
    ngegantung gitu hubungannya, kasian Sora nya ㅠ.ㅠ
    perempuan tuh gak bisa di gituin ㅋㅋㅋ

    Izin baca ff ini sampe END yaa thor ^^

  10. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s