School in Love [Chapter 13]

Tittle : School In Love Chapter 13
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship, conflict

Main Cast :
Bae Suzy | Im Yoona | Park Jiyeon
Kim Kibum | Lee Donghae | Cho Kyuhyun

Dha’s Speech :
Selagi menunggu FF I Married The Bad Boy dirampungkan, FF ini diposting untuk mengisi kekosongan. Daripada gak ngepost FF, hampa rasanya ^_^

Semoga temen-temen masih betah ngikutinnya ^_^

Happy Reading

School in Love by Dha Khanzaki 7

====o0o====

CHAPTER 13

Ex-Lover Trouble Maker

AKTIVITAS di sekolah berjalan seperti biasa. Namun perbedaan mood tampak jelas di wajah Im Yoona. Gadis itu terlihat muram, sungguh berbeda dari dirinya yang biasa. Suzy dan Jiyeon saling memandang. Jiyeon langsung meletakkan sekop kecil yang ia pakai untuk menaburkan pupuk pada pot-pot tanaman bunga petunia sementara Suzy mematikan selang air yang digunakannya untuk menyiram tanaman. Mereka menghampiri Yoona yang duduk merenung di dalam green house itu. Setelah melepas sarung tangan, mereka duduk di sisi sahabatnya.

“Apa yang terjadi, Yoon? Kau tampak tidak sehat.” Suzy khawatir. Yoona menatap kedua sahabatnya dengan sorot mata meredup.
“Aku putus dengan Taecyeon.”

Pernyataan singkat itu mengejutkan Suzy dan Jiyeon.
“Aku menyesal mendengarnya.” Jiyeon tak kuasa menahan kesedihan. Ia benar-benar merasa bersalah. Karena dirinya, hubungan Yoona dan Taecyeon berakhir.
Yoona menggeleng, “Bukan salahmu. Aku justru merasa sangat berterima kasih karena kau memberitahuku tentang Taecyeon. Jika tidak, aku mungkin akan terus terjebak dengan pria pengkhianat sepertinya.”

Gadis itu terdiam. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin seusai latihan, dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan Taecyeon sedang bersama kekasih barunya. Kibum pun turut menyaksikan hal itu.

Flashback #

“Brengsek itu!”

Yoona tidak begitu memedulikan umpatan marah Kibum karena matanya tertuju pada pemandangan menyakitkan di depannya. Rasa sakit itu semakin menyengat ketika Taecyeon menoleh padanya. Pria itu menunjukkan keterkejutan mengetahui Yoona ternyata sedang menatap ke arahnya. Matanya melotot, ia sontak berdiri. Gadis yang bersamanya pun menunjukkan ekspresi yang sama. Sejenak mereka melupakan kegiatan makan malam mereka di sebuah restoran.

Beberapa saat yang lalu Kibum mengajaknya makan malam dan Yoona setuju karena mereka sama-sama lapar setelah latihan. Namun ia tak pernah menyangka ketika memasuki restoran, seluruh darah di tubuhnya langsung membeku karena ia melihat kebenaran dari kata-kata Jiyeon.
“Yoon, apa yang kau lakukan di sini?” Taecyeon langsung menghampiri Yoona dan menunjukkan sikap manis agar yang membuat Kibum muak.

“Orang bodoh pun tahu kami kemari untuk makan malam.” Kibum mencibir Taecyeon. Pria itu melayangkan tatapan tajam padanya, seolah Kibum-lah hal sang pembuat masalah.
“Mengapa kau mengajak kekasih orang lain makan malam bersama!” tuduhnya.
“Lalu apa yang kau lakukan dengan gadis itu?” Kibum mengendikkan dagunya pada seorang gadis yang bersamanya, kini sedang terpaku menatap ke arah mereka. “Di sini jelas kau yang sedang menyeleweng.”
“Mwo, kau!!” Taecyeon menarik kerah baju Kibum, ingin melakukan sesuatu pada pria itu tetapi Yoona mencegahnya dengan berteriak.

“Cukup!!!”

Taecyeon menatap nanar Yoona yang sekuat tenaga menahan tangis.
“Yoon, aku bisa jelaskan segalanya.” Pria itu mencoba menyentuhnya namun Yoona dengan segera menepis tangannya.
“Aku bilang cukup! Aku sudah memberimu kesempatan tetapi kau kembali mengecewakanku dengan mengulang kesalan yang sama. Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini. Kita putus.”

“Apa??!!” Taecyeon membelalakkan mata, terkejut. Kibum menyunggingkan senyum penuh kepuasan.

“Kibum, ayo pergi.” Yoona menoleh pada Kibum lalu pergi keluar dari restoran itu.
“Dengan senang hati,” Kibum menunjukkan wajah penuh kemenangan, membuat Taecyeon menggeram kesal. Ia tidak menghiraukan teriakan teman kencannya, malah belari untuk mengejar Yoona.
“Yoon, kumohon. Jangan seperti ini.” Taecyeon bersungguh-sungguh meminta ketika ia berhasil meraih tangan Yoona.
“Lepaskan tanganku.”
“Tidak. Sebelum kau mendengar penjelasanku.”

Yoona bahkan tidak ingin memandang Taecyeon yang menunjukkan ekspresi memohon. Ia tidak mau terpengaruh pria itu lagi. Ia sudah muak. Ia marah dan kecewa. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah pergi dari hadapan pria itu.
“Ya, bukankah dia sudah mengatakan untuk melepaskan tangannya!” Kibum kesal melihat kekeraskepalaan Taecyeon. Ia menarik tangan Yoona yang digenggam pria itu. Mereka saling melempar pandangan dingin.
“Kibum, aku ingin pergi.” Yoona berkata dengan suara serak. Taecyeon melihat gadis itu mulai meneteskan airmata. isakan itu seperti alarm yang membuat Kibum panik. Ia menahan mati-matian sisi lemahnya itu agar tidak tampak ke permukaan dan mempermalukan dirinya sendiri di depan Taecyeon.
“Aku tidak bermaksud menyakitimu,Yoona. Kumohon maafkan aku.” mohon Taecyeon.

Yoona tidak menjawab, memalingkan wajah dengan airmata mengucur. Kibum tak memiliki pilihan lain selain pergi dan ia bisa panik sesuka hatinya.
“Ayo pergi.” Kibum menarik Yoona pergi namun seseorang kembali meneriaki mereka. Yang mengejutkan, orang itu justru menyerukan namanya.

“Kibum…”

Kibum berhenti melangkah lalu menengok. Rasanya ia mengenal suara lembut itu. Seorang gadis berambut panjang berada di sisi Taecyeon, memandangnya dengan sorot yang tak terbaca. Heran, niatnya untuk pergi benar-benar terlupakan. Bagaimana bisa gadis yang menjadi teman kencan Taecyeon itu mengetahui namanya? Ia tidak ingat pernah berkenalan dengannya.

“Jiwon-ah. Kau mengenalnya?” tanya Taecyeon heran sekaligus kaget. Gadis bernama Jiwon itu hanya menjawabnya dengan gumaman karena pandangannya terus tertuju pada Kibum. Tak percaya bisa bertemu dengan pria itu lagi.
“Apa kita pernah saling kenal?” Tanya Kibum penasaran. Gadis ini cantik, tidak mungkin ia melupakan gadis cantik sepertinya.
Jiwon tampak terkejut, “Kau tidak mengenaliku?”

Kibum mengerutkan dahi. Garis wajah Jiwon memang tampak familiar baginya. Ia yakin pernah bertemu dengan gadis ini di suatu tempat sebelumnya. Tetapi di mana? Apa mungkin dia salah satu gadis yang dikenalkan ibunya, teman sekolahnya, salah satu dari banyak gadis yang memberanikan diri memberinya hadiah? Tunggu..
“Ah!” Kibum menepukkan tangan, “Aku ingat. Bukankah kau Kim Jiwon, kita berada di SMP yang sama.”

Jiwon luar biasa senangnya. Mata gadis itu berbinar cerah, “Aku sangat tersanjung karena kau masih mengingatku.”

Tetapi kesenangan Kibum langsung lenyap. “Jadi kau berpacaran dengannya?” ia menunjuk Taecyeon.
Jiwon tampak ragu ketika akan menjawab pertanyaan Kibum. Gadis itu menoleh pada Pria di sampingnya, lalu kembali menatap Kibum. “Aku lelah menunggumu karena terlalu banyak gadis yang menyukaimu.”

“Karena itu juga kau berpacaran dengannya? Apa kau tidak tahu pria brengsek itu sudah memiliki kekasih.” Ucapan bernada sinis itu langsung dibalas tatapan tajam Taecyeon. Jiwon langsug pucat pasi. Gadis itu terlihat bersalah, terutama ketika melihat kondisi Yoona saat ini.
“Aku tidak tahu dia sudah berpacaran, sungguh.” Ia melirik Taecyeon agak kesal. Pria ini telah membuatnya menjadi wanita penghancur hubungan di mata Kibum. “Kenapa kau membohongiku?”

“Jiwon,” Taecyeon kebingungan menjelaskannya. Kibum mencibir dalam hati. Meskipun ia brengsek, tetapi ia tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan gadis lain ketika ia berpacaran dengan seseorang. “Itu karena aku dikhianati oleh Yoona.” Akunya.
Kibum dan Yoona langsung membelalak kaget.
“Brengsek, tega-teganya kau!!” Yoona mengumpat namun ia tidak melanjutkan kata-katanya. Kemarahan membuatnya tidak bisa menahan diri.
“Benar bukan, kau dan Kibum menjalin hubungan. Jika tidak mengapa kalian bersama malam ini?”
“Bukankah aku sudah mengatakan kami hanya bersahabat dan aku sudah memiliki kekasih.” Kibum membela diri. Apa pria ini menderita penyakit amnesia sebagian? Jika tidak maka pria ini benar-benar seorang bajingan.

Jiwon menatap Taecyeon tak percaya, “Kau membohongiku?”

“Kau percaya padanya?” Taecyeon menunjuk Kibum. “Aku sudah mendengar tentangnya. Kim Kibum dari Royal President High School adalah seorang ‘pemikat wanita’. Dia seorang playboy. Tidak akan mengherankan jika dia dan Yoona—“
“Taecyeon, hentikan bualanmu!” potong Jiyeon marah, sebelum Kibum dan Yoona menyela. “Aku mengenal Kibum dengan baik. Meskipun dia seorang playboy, tapi dia bukan seorang pembohong sepertimu! Dia tidak akan membohongi seorang gadis agar bisa memacarinya di saat dia berhubungan dengan orang lain.”

Kibum langsung tersenyum, “Terima kasih, Jiwon-ah.”
Jiwon benar-benar malu untuk sekedar menatap Kibum. Setelah melayangkan pandangan tidak sukanya pada Taecyeon, ia pergi meninggalkan pria itu.

“Jiwon!” teriak Taecyeon, tercengang melihat kekasih ‘keduanya’ pergi.
Smirk kemenangan tersungging di sudut bibir Kibum, “Rasakan.” Setelah puas mengatakan itu ia langsung membawa Yoona pergi tanpa memedulikan apa-apa lagi.

—o0o—

“Kuharap ini bisa menenangkanmu,” Kibum memberikan Yoona softdrink kalengan untuk menenangkannya. Yoona duduk di sebuah kursi panjang sambil menyeka airmatanya dengan saputangan.
“Terima kasih.” Yoona mengambilnya tanpa memandang Kibum. Ia sangat malu untuk memperlihatkan wajahnya yang kacau pada Kibum.

Kibum terdiam memandangi gadis itu, tidak mengatakan apapun. Gadis itu tidak meminum minumannya. Hanya memandangnya dengan ekspresi kosong.
“Minumlah, aku tidak membubuhkan racun di dalamnya.”
Yoona menoleh dan sadar Kibum sedang mencoba melontarkan lelucon. Pria itu berusaha keras menahan bibirnya agar tidak tersenyum. Menyadari Kibum sedang berusaha menghiburnya, Yoona merasa tersanjung sampai tidak menyadari bibirnya sudah tersenyum.
“Aku tidak tahu kau berbakat menjadi pelawak. Terima kasih sudah mencoba menghiburku.”

Kibum tertawa puas, “Aku senang sekali melihatmu tersenyum. Carammu tersenyum benar-benar mengagumkan, Yoon.”
Bukannya tersipu Yoona justru tergelak. Kibum mendengus karena ternyata rayuannya pun tidak ampuh pada Yoona. Ia kira hanya Suzy dan kakak perempuannya saja yang tidak bisa ia rayu.
“Apa kau selalu seperti ini pada gadis lain?” Yoona memandang Kibum dengan tatapan ingin tahu. Perubahan topik pembicaraan ini membuatnya bingung.
“Seperti ini bagaimana?”
“Membuat para gadis tersenyum.”

Kibum diam sejenak. Ia tidak tahu sejak kapan membuat para gadis tersenyum setelah mereka menangis menjadi kebiasaannya. Tetapi ada satu kepuasan sendiri ketika ia berhasil memunculkan senyum itu di wajah seorang wanita yang dipenuhi airmata. Ia menjawab dengan senyuman tulus.
“Aku tidak suka melihat seseorang merengut sedih. Apalagi menangis. Jika ekspresi itu muncul di depan mataku, aku akan berusaha keras untuk mengembalikan senyumnya.” Ucapnya. Ya, seperti apa yang ia lakukan untuk Suzy tempo hari dan mungkin ia akan melakukan hal yang sama pada Yoona.

“Sekarang aku tidak akan heran mengapa banyak sekali gadis yang terpesona padamu. Kau adalah pria yang benar-benar baik.” Yoona memperlihatkan senyum terindahnya. Kibum yang tidak biasanya tersipu ketika dipuji wanita, malam ini tersenyum malu melihatnya. Ia merasa bahagia, kegembiraan yang sama seperti ketika ia berhasil membuat kakak perempuannya terkesan padanya.

Flashback end

“Taecyeon sungguh pria menyebalkan!” hardik Jiyeon setelah mendengar keseluruhan cerita Yoona.
“Syukurlah hubungan kalian sudah berakhir. Aku benar-benar tidak tahan jika kau terus terjebak dengan pria kurang ajar itu.” tambah Suzy menggebu. Ia tidak menyangka di balik wajah tampan Taecyeon ternyata tersembunyi hati selicik itu.
Yoona mengangguk, tersenyum pada kedua sahabatnya yang penuh pengertian. Mereka dengan setia mendengar ceritanya. Ia sangat terharu sampai rasanya ingin memeluk mereka.
“Bisakah kalian memberiku pelukan?” tanya Yoona sambil merentangkan tangannya, mengundang Suzy dan Jiyeon untuk memeluknya. Kedua gadis itu dengan senang hati memeluknya.

Detik itu Yoona merasa hidupnya sangat diberkati. Ia bersyukur karena Tuhan memberinya sahabat yang menerima dirinya apa adanya.

—o0o—

Suzy merasa gembira mengikuti sesi latihan basket akhir-akhir ini. Sudah jelas alasannya begitu semangat karena Donghae lebih sering hadir daripada membolos. Ternyata patah hati memberikan hal positif untuk pria itu. Tetapi tetap saja sulit sekali baginya mendekati pria itu. Donghae selalu berlatih di sisi lain lapangan bersama para pria dan ia tidak memiliki alasan yang wajar untuk mendekatinya. Yang menyebalkan, ternyata tidak hanya dirinya yang senang melihat Donghae berada di sana. Sebagian besar para gadis anggota klub pun ternyata menyukai Donghae. Suzy bisa merasakan aura persaingan di antara mereka dan semuanya terlihat terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada sang kapten.

“Kapten, apa shootku sudah benar?” terlihat seorang gadis bertanya dengan nada sok dibuat manis pada Donghae. Suzy langsung berhenti ketika ia sedang melakukan latihan chest pass dengan Soyu. Akhirnya bola yang ia lempar meleset dan mengenai bagian kepala gadis itu.

“Ya!!” Soyu protes. Suzy tidak memerhatikan bentakannya karena perhatiannya fokus pada pemandangan menyebalkan itu. Beberapa gadis menunjukkan raut sebal serupa. Tetapi kemudian berubah menjadi seringaian senang ketika Donghae dengan baikknya menyarankan pada gadis itu agar bertanya pada Pelatih Changmin karena dia sedang dalam sesi latih tanding dengan para anggota pria lainnya.

“Rasakan itu, gadis centil!” gumam Suzy puas melihat kekecewaan di wajah gadis cantik itu. Tetapi kemudian ia merenung, gadis secantik itu saja ditolak Donghae apalagi dirinya? Ia memandang penampilannya sendiri dan membandingkannya diam-diam dengan gadis malang tadi. Jelas jauh sekali. Kenyataan itu membuatnya bertanya-tanya seperti apa tipe gadis idaman seorang Lee Donghae. Kibum sudah mengatakan dengan jelas bahwa dirinya bukanlah tipe idaman Donghae. Apa itu benar? Kibum tidak mungkin bohong tentang fakta itu bukan? Pria itu sahabat Donghae, jelas mengenal Donghae lebih baik dibandingkan siapapun di sekolah ini.

“Awww!” Suzy terkesiap sadar ketika sebuah pukulan mendarat di kepalanya. Ia menoleh berniat ingin membentak tetapi kemudian mulutnya mengatup menyadari di depannya berdiri Pelatih Changmin yang berkacak pinggang dengan tampang marah.

“Melamun saat latihan, apa teknikmu sudah sempurna!” bentaknya.
Mianhae.” Gumam Suzy lemas. Ia semakin lemas dan malu ketika seluruh perhatian anggota klub memperhatikannya dimarahi Pelatih Changmin.

“Soyu!” panggil Pelatih Changmin tanpa menoleh. Soyu yang sejak awal ditugaskan untuk melatih Suzy menghampiri dengan cepat. “Katakan apa saja yang sudah dikuasai Suzy?!”

Suzy memberikan tatapan penuh permohonan pada teman latihannya itu agar mengatakan seluruh yang bagus pada Pelatih Changmin. Tetapi Soyu rupanya tidak bisa diajak bekerja sama.

“Seluruh teknik melempar bola sudah dia kuasai entah itu chest pass, overhead pass, atau bounce pass. Dan yang terbaik darinya adalah three point-nya dengan keakuratan mencapai 85 %. Tetapi, dia sangat buruk dalam lay up dan crossover.”

Pelatih Changmin terlihat kaget, “Aku tidak heran jika dia belum menguasai crossover, tetapi lay up, aigoo..”

Suzy menundukkan kepala siap menerima omelan lain karena memang terlalu bodoh bagi seorang pemain basket jika tidak bisa melakukan lay up. Sejak dulu Suzy memang tidak pernah melakukan lay up saat akan menembak bola ke dalam ring. Ia cukup melempar bola dari area three point dan timnya langsung mendapatkan tambahan tiga angka. Cara yang sangat efektif untuk memimpin skor. Atau dengan shooting langsung ke arah ring.

Tetapi pelatih itu ternyata hanya mendesah lalu menggeleng pasrah. “Kau harus diajarkan oleh ahlinya.” Ia lalu mengedarkan pandangan ke penjuru lapangan. Ketika pandangannya terhenti pada objek yang dicarinya, ia langsung berteriak.

“Kapten!!”

Suzy tersentak. Apa hubungan kesembronoannya dengan Lee Donghae? Ketika ia belum menyesuaikan diri, ia sadar Donghae sudah berdiri di sampingnya.
“Ada apa pelatih?”
“Ajari dia lay up dan crossover. Sebagai pemain terbaik kau jelas ahli dalam hal itu.”

Apa? suzy langsung menoleh pada Donghae kaget, termasuk beberapa gadis lainnya. Mereka jelas menolak gagasan itu tetapi tidak ada satupun yang berani protes. Yoona yang baru tiba di lapangan dengan setumpuk handuk di tangannya menatap bingung.

“Aku melatihnya?” tanya Donghae sangsi sambil menunjuk Suzy.
“Siapa lagi? Ayo cepat ajari dia.” Suruh Pelatih Changmin malas lalu berlalu pergi. Suzy masih melongo di tempatnya, otaknya yang sempit belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Sampai akhirnya ia mendengar suara Donghae, tubuhnya seperti disengat listrik.

“Ayo latihan.”

“Apa?” Suzy bertanya seperti orang bodoh. Ia sadar seluruh mata gadis di lapangan menyipit ke arahnya. Tetapi ia tidak peduli karena satu-satunya hal yang terlihat di matanya saat ini hanyalah Lee Donghae. Dunia di sekitarnya seperti mengabur.

Donghae memungut bola basket yang menggelinding di kakinya lalu mengendikkan bahu meminta Suzy mengikutinya.
“Ikut aku.”
“Aku latihan denganmu?” Suzy bertanya dengan nada tak percaya, tetapi tetap mengikuti Donghae seperti anak ayam mengikuti induknya.
“Kau tidak dengar apa yang dikatakan pelatih Changmin?”
“Dengar, tapi rasanya seperti mimpi.” Ucap gadis itu dengan suara mengambang. Lalu sedetik kemudian menjerit karena Donghae mencubit pipinya sampai memerah. “Kenapa kau mencubitku?” omelnya sambil mengusapi pipinya yang terasa sakit.
“Sakit bukan? Itu membuktikan bahwa kau tidak bermimpi. Nah sekarang jangan bermain-main lagi. Kau tahu, aku adalah guru yang buruk dan tidak sabaran. Aku tidak akan segan-segan menghukummu jika kau tidak memperhatikan latihan dengan baik.” ancamnya dan Suzy merasakan bulu romanya berdiri melihat Donghae menajamkan pandangannya. Pria itu tidak main-main dan Suzy cukup familiar dengan gaya melatihnya yang mirip dengan militer. Ia pernah merasakannya beberapa waktu yang lalu. Donghae bisa menjadi sangat cerewet dan penuntut. Apa ia akan menjadi bahan tertawaan kali ini, atau mungkin bahan hujatan mengingat kini mereka dihujani pandangan penuh permusuhan dari beberapa gadis di lapangan.

“Sekarang perhatikan aku.” suruh Donghae ketika sesi latihan mereka di mulai. Meskipun sepertinya ia akan melihat neraka, tetapi bagaimana pun menatap Donghae sama saja seperti menatap surga. Pria itu sungguh mempesona ketika mulai mendribble bola dan melakukan teknik lay up dengan sempurna. Bola pun masuk ke dalam ring dengan cantiknya. Ia rela pingsan untuk melihat lompatan indah itu lagi.

“Kau bisa melakukan seperti yang aku contohkan?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Suzy. Ia menjawab dengan suara tergagap. “N-ne?” ia jelas tidak memerhatikan teknik lay up Donghae, melainkan pria itu.
Donghae menghembuskan napas, ia sedang menahan emosi. “Kau tidak memerhatikanku.”

“Bagaimana bisa di saat aku terpesona padamu. eh—“ Suzy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika sadar kata-katanya membuat Donghae mendelik. Ia mengumpat dalam hati, bisakah ia menahan dirinya untuk tidak langsung menyuarakan isi hatinya sekali saja?
“Terpesona?” Donghae menggertakkan gigi. Sepertinya pernyataan itu terdengar berlebihan di telinganya. Pria itu langsung melemparkan bola padanya. Suzy menangkapnya dengan panik.
“Sekarang tunjukkan jika memang kau terpesona padaku.” Katanya sambil mengendikkan kepala ke arah ring. Suzy mendongak dengan ekspresi ngeri.
“Sekarang?”
“Tahun depan. Tentu saja sekarang.”
Suzy dengan ragu melangkah seraya mendrible bola, namun melangkah dua kali lalu ketika ia akan melompat ia justru kehilangan keseimbangan dan..

Bruukk..

“Suzy!!”

Donghae membelalakkan mata sementara Yoona terkejut melihat gadis itu tersungkur dengan posisi seperti kiper yang gagal menangkap bola lalu tertelungkup dengan posisi menyedihkan di dekat kaki ring.

“Aw, pasti sakit sekali.” komentar gadis lain sambil menyeringai puas. Seketika suara tawa meledak di seluruh penjuru lapangan.

Suzy memang merasa sangat sakit pada siku, pinggul dan lututnya. Tetapi tak sebanding dengan rasa malu yang dirasakannya.
Gwaenchana?” dua tangan langsung terulur di depan wajahnya ketika ia akan bangun dari posisinya. Ketika ia mendongakkan kepala, ia tahu kedua tangan itu adalah milik Donghae dan Yoona. Sesaat ia bimbang harus menerima yang mana. Akhirnya ia memutuskan mengapit masing-masing tangan itu dengan kedua tangannya lalu bangkit.
“Bagaimana kau bisa jatuh seperti itu?” tanya Donghae heran.
“Aku tersandung kakiku sendiri.”
“Apa ada yang sakit?”

Suzy mengalihkan perhatiannya pada Yoona yang tampak sangat khawatir. “Lututku..” ia menunjuk lututnya yang terluka. Donghae ikut melirik lututnya lalu ikut meringis.
“Kau harus segera diobati.” Yoona memapah Suzy pergi. Donghae tak mengatakan apapun. Ia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Suzy hari ini.

—o0o—

Pagi itu koridor tempat mading sekolah dipasang tampak dipenuhi oleh kerumunan murid yang saling berdesakan. Apapun yang disajikan di papan buletin sekolah itu pastilah sangat menarik. Suzy berjalan agak tertatih ketika tiba di sana setelah mengambil bukunya dari dalam loker tak jauh dari tempat itu.
“Ada apa?” Suzy bertanya pada Jiyeon ketika berpapasan dengan gadis itu di sana.
“Aku tidak tahu. Lututmu kenapa?” gadis itu menunjuk lututnya yang ditutupi perban dan plester.
“Luka saat latihan.” Jawab Suzy sambil lalu. Ia mencoba menyeruak masuk ke kerumunan. Walaupun penuh sesak, ia terus memaksakan diri karena ia penasaran sekali ingin melihat apa pengumuman yang tertempel di sana. Setelah saling bersinggungan dengan murid lain akhirnya ia tiba di depan papan pengumuman itu.

ROYAL PRESIDENT 45TH BIRTHDAY PARTY
Will Celebrate on October 20th
Prom Night with Main Theme : Cherry Blossoms

“Pesta ulang tahun sekolah akhir Oktober nanti.” Seru Suzy girang ketika kembali di depan Jiyeon. “Akan ada prom night juga. Aku tidak pernah menghadiri prom night sebelumnya.”
Jinjja. Itu baru kabar gembira.” Jiyeon ikut berseru lalu mereka melompat-lompat bersama sambil berpegangan tangan. Mereka berhenti ketika lututnya terasa sakit, tetapi itu tidak menghentikan kegembiraannya.

Pesta sekolah Royal President High School memang memiliki tradisi menggelar pesta besar-besaran pada saat ulang tahun sekolah elit itu. Akan ada bazaar, pertunjukkan musik, pameran, dan acara puncaknya adalah pesta dansa malam harinya. Uniknya lagi, pesta dansa itu terbuka untuk umum. Namun ada tiket yang harus dibeli untuk orang di luar murid dan staff Royal Presiden yang ingin menghadiri acara itu dan biasanya tiket itu yang lebih dulu terjual habis di saat bazaar yang berlangsung seminggu sebelum hingga acara puncak digelar.

Seketika topik tentang pesta ulang tahun sekolah menyadi berita paling hangat dan ramai diperbincangkan di seluruh penjuru sekolah. Mereka tampak begitu bersemangat. Pesta itu jelas merupakan hiburan setelah mereka melalui begitu banyak kegiatan sekolah yang padat yang melelahkan. Suzy pun tidak bisa tinggal diam. Segera ketika istirahat ia membahas hal itu bersama teman-temannya di kafetaria sekolah.

“Kau sudah tahu Yoon, pesta ulang tahun sekolah akan digelar secara besar-besaran.” Seru Suzy sambil memakan kue berasnya.
“Aku sudah tahu. Teman-teman di kelasku ribut tentang hal itu.” sahut Yoona, entah kenapa dia tidak terlihat begitu antusias.
“Aku penasaran apa yang dibicarakan teman-teman di kelasmu.” Jiyeon penasaran.
“Mereka sibuk membahas tentang apa yang akan mereka pakai untuk prom night dan berencana memesan gaun dan tuksedo yang sesuai dengan tema pesta pada desainer-desainer ternama sebelum didahului yang lain.”
Aigoo, benar-benar pembicaraan khas mereka.” Jiyeon meringis.
“Ya. Jelas menunjukkan kearoganan dan otak dangkal mereka.” Ujar Suzy sinis. Ia masih dendam pada orang-orang dari kelas Platinum.
“Aku tidak tahu apa yang akan kupakai. Sepertinya aku tidak memiliki gaun yang sesuai dengan tema pesta. Apa aku tidak datang saja?” gumam Yoona sangsi.

“Tidak boleh!” Suzy dan Jiyeon sontak berseru.

“Kau harus datang Yoon, tidak seru rasanya jika kau tidak ada.” Suzy berkata cepat.
“Aku setuju.” Sahut Jiyeon.

Yoona langsung tertawa dengan keseriusan di wajah kedua temannya. “Baiklah, kalau begitu kalian harus mengantarku memburu gaun yang pas sesuai dengan tema.”
“Setuju.” Seru Suzy. Jiyeon ingin berkata juga tetapi ia ragu. Apa ia memiliki uang yang cukup untuk membeli satu gaun. Ayahnya tidak memberi uang saku yang banyak tiap bulannya kecuali uang yang harus ia pakai untuk membeli keperluan rumah.
Wae?” Suzy bertanya heran.

Jiyeon memaksakan senyumnya. “Aku—“ ucapannya terpotong karena tiba-tiba saja ada seseorang yang menggebrak meja mereka. Ketiga orang itu langsung mendongak pada sang pelaku.

You, Im Yoona!!” Krystal berdiri di sana diapit oleh dua orang dayang. Ekspresinya tidak ramah sama sekali malah menjurus pada kemarahan. Suzy mengerap, apa yang dilakukan kekasih terbaru Kibum di sini, dan kenapa dia membentak Yoona?!
“Ada apa?” Yoona menjawabnya dengan ramah.
Krystal memutar bola mata dengan gaya sok. “Kau tak perlu berpura-pura manis di depanku.” Matanya kemudian melotot. “Aku tahu karena kau Kibum memutuskanku.”

Suzy, Jiyeon, dan Yoona membelalakkan mata.

“Aku tidak mengerti.” Ucapan Krystal sungguh tak masuk akal. Bagaimana bisa dirinya menjadi penyebab berakhirnya hubungan mereka?

“Kau benar-benar memuakkan.” Krystal mendengus. “Kau pikir aku tidak tahu Kibum pergi berkencan dengan siapa akhir pekan lalu? Dan hari berikutnya ketika kami bertemu di sekolah dia berkata ingin mengakhiri hubungannya denganku. Siapa lagi yang pantas bertanggung jawab selain dirimu? Kau penyebabnya. Aku yakin kau sudah merayu Kibum dan memaksanya untuk memutuskan hubungan denganku.” Cerocosnya panjang lebar. Kedua gadis di belakangnya hanya menyunggingkan senyum congkak sambil mengibaskan rambut.

Tidak ada seorang pun yang berani maju untuk melawan Krystal karena tahu gadis itu pun penghuni kelas Platinum.
“Yoona tidak mungkin melakukannya!” seru Suzy sambil menggebrak meja. Sepertinya hanya dia satu-satunya murid di sekolah yang berani menentang murid-murid kelas Platinum. Krystal menatapnya tajam.
“Aku tidak berbicara denganmu, bitch!”

Semua orang yang mendengarnya langsung menganga kaget, terutapa Suzy. Seumur hidup tak pernah ia mendengar seseorang menyebutnya dengan kata serendah itu. Sekujur darah di tubuhnya mendidih mendengar kata penghinaan paling hina itu. Meskipun kata-kata itu terlalu kasar untuk diucapkan pada teman sendiri, tetapi tidak ada yang berani memarahi Krystal.
“Kau!” Suzy mengangkat tangannya yang bergetar oleh kemarahan.

Plak!!

Suzy tercengang, begitu pun Jiyeon dan seluruh penghuni kafetaria karena Yoona menampar Krystal lebih dulu sampai kepalanya terlempar ke samping.
“Kau!” Krystal memegangi pipinya yang terasa panas, perih dan sakit. Tetapi kemudian kemarahannya sedikit tertahan saat sadar Yoona yang dilihatnya kali ini menunjukkan ekspresi yang membuat nyalinya menciut.
“Jangan pernah kau menyebut temanku dengan panggilan sehina itu di hadapanku. Kau tidak tahu apapun tentangnya. Apakau tidak tahu, kaulah wanita jalang yang sebenarnya, Krystal Jung. Sekarang aku tidak heran kalau Kibum memutuskan hubungannya denganmu. Kau memang pantas mendapatkannya.”

Krystal langsung kehilangan kata-katanya. Sebelumnya ia selalu meremehkan Yoona karena gadis itu kerap kali mengucilkan diri dan bergaul dengan murid kelas lain. Yoona adalah aib untuk kelas Platinum. Karena itu ia membencinya. Tetapi sekarang setelah ia berhadapan dengan Yoona yang marah, gadis ini jelas memiliki aura yang pantas untuk ditempatkan di kelas Platinum. Entah mengapa ia merasa terintimidasi.

“Ada apa ini?”

Seluruh perhatian langsung teralihkan pada si pemilik suara dingin. Seluruh penghuni kafetaria terkejut, tak terkecuali Krystal karena sekarang di depan mereka berdiri Kyuhyun dan Kibum, dua dari tiga Prince of School.
Kibum bisa langsung menyadari apa yang terjadi ketika menyadari ketegangan di antara para gadis itu. Krystal yang masih memegangi pipinya yang kemerahan, Yoona yang menatap gadis itu marah dan Jiyeon yang terlihat menahan Suzy yang mengepalkan tangannya. Pasti sedang terjadi perkelahian hebat di sini.

“Ada apa?” Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Krystal. Gadis itu langsung gelagapan.
“I-itu..”

“Semua ini disebabkan olehmu!” Suzy yang mendendam langsung menunjuk Kibum. Memang dialah biang kerok sebenarnya dari semua masalah yang terjadi hari ini. Pria itu membelalak kaget karena baru saja tiba di sana sudah dituduh macam-macam.
“Aku?” tanyanya heran.
“Suzy-ah..” Jiyeon membisikinya agar tidak berbuat onar lagi karena sekarang Krystal dan hampir seluruh gadis di kafetaria menatapnya tajam.
“Tidak, aku yang bersalah. Aku baru saja menamparnya.” Sela Yoona membuat Kibum menoleh kaget.

“Benar, dia menamparku sayang. Lihat pipiku memerah.” Krystal dengan nada dibuat-buat menderita mendekati Kibum lalu menunjukkan pipinya yang terkena tamparan pedas Yoona. Suzy memutar bola mata melihatnya.
Kibum hanya melirik Krystal sekilas lalu kembali memandang Yoona.
“Kenapa kau menamparnya?” tanyanya lebih karena ia penasaran, bukan untuk membela Krystal. Tetapi gadis itu tersenyum penuh kepuasan karena mengira Kibum sedang menolongnya. Kibum tahu Yoona bukan tipikal gadis yang akan ‘main tangan’ jika tidak diserang lebih dulu. Krystal pasti telah mengatakan sesuatu yang menyakitinya.
“Tanyakan saja padanya. Kata-kata kotor apa yang sudah diucapkannya pada Suzy.” Sahut Yoona dingin.

Krystal mengerjap ketika Kibum langsung memandangnya. “Apa yang kau katakan?”
“I-itu..” Krystal gugup. Ia menoleh pada teman-temannya meminta bantuan. Tetapi mereka langsung memalingkan wajah dengan ekspresi ketakutan.

“Cepat ulangi apa yang kau katakan!” bentak Kibum membuat Krystal dan teman-temannya terkejut. Ia tidak pernah terlihat semarah ini. Kibum sendiri tidak tahu apa pemicunya. Ia hanya tidak suka saat mendengar seorang gadis yang pernah berhubungan dengannya menyebut Suzy dengan kata-kata kotor. Gadis itu tidak pantas mendapatkan sebutan kotor apapun itu.

“Apa yang sudah dia katakan?” Kyuhyun mencoba membantu dengan meminta jawaban dari Jiyeon. Gadis itu langsung tergagap. Ia ingin memberitahu tapi takut untuk mengulang kembali kata-kata kotor itu.
Jiyeon mendekati Kyuhyun lalu membisikkan kata-kata itu padanya. Kyuhyun langsung mengerjap dan dia mentransfer apa yang Jiyeon sampaikan pada Kibum. Pria itu mengerjap.
“Kau menyebut Suzy dengan kata-kata sekotor itu? Krystal Jung, aku tidak tahu kau setega itu.” Kibum marah padanya.

Krystal terbata-bata. Ia panik. “Aku tidak sengaja mengatakannya.” Akunya tertekan.
“Sepertinya tadi tidak terlihat ‘tidak sengaja’.” Cibir Suzy.
“Aku tidak memiliki pilihan lain,” bela Krystal karena Kibum menatapnya curiga. “Kau memutuskanku tanpa alasan yang jelas. Aku yakin itu karena Yoona, bukan?”

“Yoona? Kau menyalahkan Yoona?” Kibum tak percaya Krystal menyangkut pautkan berakhirnya hubungan mereka dengan Yoona. “Akhir-akhir ini aku memang dekat dengan Yoona, tetapi aku tidak menjalin hubungan apapun dengannya. Kami hanya teman.”
“Lalu apa yang kau lakukan dengan Yoona akhir pekan kemarin?”

Kibum memandang Yoona sekilas, gadis itu langsung menunjukkan reaksi yang membuatnya paham bahwa ia tidak boleh mengatakan apapun pada Krystal. Akhir pekan kemarin ia berlatih Aikido bersama Yoona di dojo. Jika ia mengatakannya pada Krystal, Yoona tidak akan mempercayainya lagi.
“Kami tidak melakukan apapun selain mengunjungi Donghae, benar bukan Yoon?”
“Ah, iya.” Sahut Yoona meski alasan itu terlalu absurd baginya.

“Dengar Krystal,” ujar Kibum ketika Krystal sepertinya akan mengatakan sesuatu lagi. “Aku meminta maaf padamu karena ini semua adalah kesalahanku. Selama ini aku tidak pernah sekalipun menganggap serius hubungan kita. Karena mempermainkan perasaan seseorang itu adalah perbuatan seorang pengecut, maka sebelum aku terlanjur melukai hatimu lebih baik aku mengakhiri hubungan yang tidak dilandasi perasaan apapun ini. Kau tahu apa, karena aku bukan seorang pengecut dan kau adalah wanita yang terlalu berharga untuk disakiti.”

Seketika suasana kafetaria menjadi sehening pemakaman. Hal itu dikarenakan siapapun yang mendengarkan penuturan Kibum tadi telah terpesona. Bahkan Krystal sekalipun. Ia merasa dipermalukan sekaligus dipandang rendah oleh murid yang lain. Gadis itu langsung menundukkan kepalanya. Ia memberikan kode pada teman-temannya untuk pergi. Dengan wajah tertunduk malu Krystal beserta dayang-dayangnya pergi meninggalkan kafetaria itu.

Kibum mendesah lega. Ia harap Krystal memahami apa yang dikatakannya tadi. Ia melirik Suzy lalu bertanya, “Kau tidak apa-apa?”
“Kau seharusnya menanyakan itu pada Yoona.” Kata Suzy kesal. Ia lalu menarik Jiyeon untuk ikut pergi bersamanya tetapi tangan Jiyeon ditahan oleh orang lain. Jiyeon menoleh dan ia sadar Kyuhyun sedang menahan tangannya. Semua mata mengerjap karena untuk pertama kalinya mereka menyaksikan Kyuhyun memegang tangan seorang gadis. Apa artinya kali ini?
“Apa?” tanya Jiyeon gugup.
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ucapnya datar, tetapi cukup untuk membuat jantung gadis di depannya berdegup kencang. “Bisakah kau ikut denganku sebentar?”

Permintaan itu berhasil mengejutkan semua orang.

~~~TBC~~~

270 thoughts on “School in Love [Chapter 13]

  1. Seneng deh Kibum belain Suzy, apalagi didepan cewek menyebalkan seperti Krystal..
    Apa yg ingin dibicarakan oleh Kyu yaw,, jangan-jangan ngebahas masalah pada waktu
    terakhir mereka ketemu..

  2. Tjieee tjiee jiyeon*kedip2mata eheeem tangannye dipegang kyu entuh:D wkwkwk mungkin jiyeon ama kyu kali-,- tp itu baru asal tebak:v padahal maunya moment suzy-,- tp ini suzy nya ,, ahh donghae peka kek peka!!! Wkwkwk

  3. … “Aku meminta maaf padamu karena ini semua adalah kesalahanku. Selama ini aku tidak pernah sekalipun menganggap serius hubungan kita. Karena mempermainkan perasaan seseorang itu adalah perbuatan seorang pengecut, maka sebelum aku terlanjur melukai hatimu lebih baik aku mengakhiri hubungan yang tidak dilandasi perasaan apapun ini. Kau tahu apa, karena aku bukan seorang pengecut dan kau adalah wanita yang terlalu berharga untuk disakiti.”…
    ahhh kibum, aku terpesona dg kata katamu.. hahaha
    omg! tbc nya keren! kyuhyun.. kok tiba tiba.. hahaha
    pasti soal siwon lagi ck,

  4. Bru bca lg SIL tp aku ga tw part2 sblm’a ak komen ga ya?mf ya thor klo ga ada jejak aku.crita’a mkn seru *wlwpun lp crt sblm’a gmana,next dl ya

  5. Hehehe ada yang belain suzy, tp suzy belum ngeh karna ada seorang prince yang suka sama dia.
    Wow kyu mau ngapain, ajak jiyeon ikut acara itu kah??
    makin penasaran dehh

  6. Yeaaayyyy… kibum jelas menyukai suzy.. uuuuwaooow…

    Yoon kau sahabat iank baik.. *terharu.

    Ya kyuhyun.. jiyeon.. ehem.. hahhaag jadi pemicu ketwrkejutan masal.. kyuhyun rada aneh.. apa karna cinta.. kekekeke

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s