School in Love [Chapter 12]

Tittle : School in Love Chapter 12
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, School Life, Friendship

 

Main Cast :
Bae Suzy | Park Jiyeon | Im Yoona
Cho Kyuhyun | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Hati-hati for typo. Terima kasih masih setia ngikutin sampai part ini.

Happy Reading^_^

School In Love [Shilla & Fahri]

===o0o===

CHAPTER 12

The Heartless Act

MOMEN ketika Siwon dan Kyuhyun bertemu pandang, saling melemparkan pandangan dingin masih membekas dalam benak Jiyeon keesokan harinya. Ia memegang sweatshirt Kyuhyun, berniat mengembalikannya hari ini tetapi entah kenapa ia tidak memiliki keberanian untuk menemui pria itu. Ia takut melihat ekspresi Kyuhyun, ia takut tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Pada akhirnya, baju penghangat tubuh itu masih ada di dalam genggaman tangannya.

Sepulang sekolah, ia berjalan-jalan di area pertokoan seorang diri. Suzy dan Yoona mengajaknya pergi ke karaoke hari ini tetapi ia tidak mood untuk meluapkan emosinya dengan menyanyi. Ia hanya ingin pulang. Ketika ia mengangkat kepalanya dengan lesu, seluruh aliran darahnya seperti dihentikan. Kedua matanya mengerjap melihat Kyuhyun berdiri di depan sebuah etalase toko. Pandangan pria itu tertuju pada sesuatu yang terpajang di balik kaca toko itu. Raut sendunya membuat Jiyeon penasaran dan menggerakkan kedua kakinya mendekati pria itu tanpa ia sadari.
“Apa yang kau lihat?” pertanyaan Jiyeon membuat Kyuhyun tersadar dari lamunannya. Pria itu menoleh cepat.
“Apa yang kau lakukan?!” bentaknya histeris. Jiyeon mengerucutkan bibir. Ekspresi Kyuhyun membuat perasaannya gelisah.
“Seharusnya itu pertanyaanku!”
Kyuhyun langsung membuang pandangan ke arah lain, “Tidak ada.” Lalu pergi meninggalkannya.

Jiyeon menengok ke arah yang diperhatikan Kyuhyun tadi, bibirnya langsung mendesah begitu ia menemukan sebuah boneka Teddy Bear berbulu merah muda berukuran sedang dipajang di etalase toko. Sungguh menggemaskan. Tetapi ia heran kenapa Kyuhyun memandangi boneka seperti ini. Apa pria itu bermaksud membelinya sebagai hadiah? Untuk siapa? Kakak perempuannya atau.. tidak mungkin. Kyuhyun tidak mungkin membelinya untuk Tiffany Hwang.

Tubuhnya langsung berbalik untuk mengejar Kyuhyun.
“Tunggu!!” teriaknya. Ia terengah-engah ketika tiba di sisi pria itu. Kyuhyun melirik malas.
“Apa?”
“Ada yang ingin kuberikan padamu.” ucapnya terpatah-patah. Jiyeon menyerahkan sweatshirt yang dipegangnya sekaligus foto Tiffany Hwang pada Kyuhyun. Kedua mata pria itu membelalak dan dia segera menyabet kedua benda itu dari tangan Jiyeon.
“Darimana kau mendapat ini?” cecarnya marah sekaligus lega. Jiyeon merengut jengkel. Dia yang salah menapa dirinya yang dimarahi? Tidak bisakah Kyuhyun berterima kasih saja?
“Terjatuh ketika kau makan malam di rumahku.”
Kyuhyun menjejalkan foto itu ke dalam saku jas seragamnya, “Kenapa kau tidak cepat mengembalikannya padaku.”
“Maaf, aku lupa. Apa benda-benda itu sangat penting untukmu?”

Kyuhyun terlihat enggan untuk menjawabnya. Lagi-lagi pria itu memalingkan wajah sebagai bentuk penghindaran.
“Penting atau tidak itu bukan urusanmu.”
“Kau benar juga.”
Kyuhyun yang sedang dipenuhi mood buruk pergi begitu saja. Jiyeon menyusulnya. Ada banyak yang ingin ia ajukan. Tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti karena ketika menatap ke depan, ia menemukan Taecyeon bersama dengan seorang gadis yang jelas-jelas bukanlah Yoona. Untuk sesaat ia berpikir gadis itu hanya temannya tetapi ketika ia melihat Taecyeon mencium pipi gadis itu, mulutnya langsung megap-megap.

Astaga, apa sekarang ia sedang menyaksikan adegan perselingkuhan?

Merasa heran, Kyuhyun mengikuti arah pandang Jiyeon, “Kau mengenalnya?” tanyanya datar.
“Dia Taecyeon.” bisik Jiyeon tanpa berkedip. Ia memekik tertahan dan langsung menarik Kyuhyun agar bersembunyi bersamanya ketika Taecyeon menoleh ke arah mereka. Ia tidak yakin apa Taecyeon mengenalinya atau tidak tetapi ia yakin pria itu mengenali seragam yang dipakainya. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Yoona harus diberitahu bahwa kekasih tercintanya berselingkuh. Karena itu ia akan mengintai untuk memastikan kecurigaannya.

Kyuhyun sebenarnya tidak paham mengapa Jiyeon mengajaknya bersembunyi. Tetapi ia tidak menolak ataupun mengeluh karena ia lebih merasa penasaran. Matanya menyipit pada sepasang laki-laki dan perempuan berseragam yang sedang bersenda gurau di salah satu meja di teras sebuah kafe.
“Siapa pria itu, apa dia pria yang kau sukai?”
Jiyeon menoleh padanya sambil menunjukkan ekspresi ‘orang yang kusukai adalah kau’. Tetapi tak ada satu kata pun yang keluar karena Jiyeon hanya mendesah berat.
“Dia Taecyeon, kekasih Yoona.”
Alis Kyuhyun langsung terangkat, “Yoona? Gadis aneh itu? Bukankah dia berkencan dengan Kibum?”
“Kibum dan Yoona berkencan? Sejak kapan?” Jiyeon terkejut mendengarnya. Kenapa ia tidak pernah tahu dan kenapa Yoona tidak pernah bercerita tentang itu?
“Ah, sudah lupakan!” Kyuhyun mengibaskan tangannya sambil menarik kembali ucapannya. Tadi ia hanya asal bicara.

Jiyeon mengendikkan bahu lalu kembali memandang ke arah kafe terbuka itu. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya, “Aku tidak percaya ternyata Taecyeon akan berselingkuh di belakang Yoona. Oh Yoona dear, kau tidak pantas diperlakukan seperti ini. Semua laki-laki memang seperti itu! Menyebalkan!” gerutu Jiyeon mengasihani. Setelah banyaknya luka yang harus Yoona rasakan untuk mengembalikan kepercayaan Taecyeon, pria itu justru mengkhianati perasaan tulusnya. Kurang ajar! Ia menyadari Kyuhyun sedang memandangnya dengan raut datar. Detik itu ia sadar telah menyinggung Kyuhyun.
“Semua laki-laki maksudmu?” bisiknya tidak suka.
“Maksudku, tidak semua.” ralat Jiyeon segera. Panik.
Kyuhyun mendengus lalu mengendikkan dagu ke arah Taecyeon, “Lalu apa yang akan kau lakukan? Menegurnya, atau menamparnya?”
“Aku tidak yakin,” gumam Jiyeon sambil menggigiti kukunya.

Mereka diam sejenak dan saling pandang.

“Biar aku saja yang melakukannya.” putus Kyuhyun. Jeyoung mengangguk tanpa sadar namun ketika ia melihat Kyuhyun pergi tanpa aba-aba darinya, ia tersentak dan panik. Apa yang akan dilakukan pria itu? Tidak, Kyuhyun akan mengacau jika dibiarkan melakukan apa yang dia inginkan.
“Tunggu,” Jiyeon berusaha mencegah tetapi terlambat karena Kyuhyun sudah tiba di sisi kursi Taecyeon dan teman kencannya.
“Maaf, jika aku tidak salah mengenali bukankah kau adalah kekasih Im Yoona, teman kami.” Ucap Kyuhyun tanpa basa-basi dan langsung mengejutkan Taecyeon sekaligus gadis yang bersamanya.

Taecyeon menggertakkan gigi kesal lalu berdiri, “Siapa kau?” tanyanya dengan nada menuduh. Jelas Kyuhyun berhasil menyinggungnya.
“Kau tidak perlu tahu siapa diriku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa apa yang kau lakukan ini akan melukai temanku.” Ia melirik pada Jiyeon yang panik di sampingnya, tak bisa berkata-kata. Ia tahu Jiyeon sangat menyayangi Yoona. Karena itu Jiyeon pasti akan merasa sakit jika Yoona tersakiti.
Namun ucapan Kyuhyun telah memicu kemarahan Taecyeon, “Hal sialan apa yang sedang kau bicarakan?! Aku tidak mengenal gadis manapun yang bernama Yoona!!” bentaknya sambil menarik kerah Kyuhyun. Pria itu tidak gentar sama sekali. Malah memasang ekspresi permusuhan.
“Berpura-pura tidak tahu, kau benar-benar pria pengecut.” Desis Kyuhyun di sela giginya.
Taecyeon menggeram. Ia siap memukul Kyuhyun ketika gadis yang sejak tadi diam ikut berdiri. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
“Siapa dia?”
“Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Pria ini tidak waras.”

Kyuhyun melepaskan cengkeraman Taecyeon di bajunya dengan mudah. Lalu berdiri tegak sambil menepuk-nepuk bajunya seolah ia baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. “Satu-satunya seseorang yang tidak waras di sini adalah kau.”
“Apa?” Taecyeon terlihat ingin benar-benar memukul Kyuhyun. Pria itu memang tidak takut sama sekali tetapi Jiyeon tidak bisa membiarkannya. Ia langsung berdiri menengahi di antara Kyuhyun dan Taecyeon. Ia tidak mau siapapun terluka di sini. Ia memang tidak tahu apakah Taecyeon bisa bela diri atau tidak. Tetapi Kyuhyun bisa dan kesalahan fatal bila membuat pria ini terpaksa bertarung.
“Sudah-sudah. Maaf sudah mengganggu kencan kalian.” Jiyeon menoleh pada Kyuhyun yang tampak tidak suka perbincangannya dengan Taecyeon terganggu, “Ayo pulang.” Ucapnya sambil menarik Kyuhyun pergi.
“Kau seharusnya bisa menjaga temanmu. Dia sepertinya abnormal!” ejek Taecyeon kesal.

“Ne. Maafkan aku.” Jiyeon memaksa Kyuhyun pergi. Pria itu sepertinya tidak terima ditarik begitu saja dari arena pertempuran karena wajahnya langsung mengerut marah. Setelah keberadaan mereka sudah cukup jauh, Kyuhyun menarik tangannya.
“Pria kurang ajar itu, apa kau yakin dia kekasih Yoona?” tanyanya tidak yakin dan marah. Dia terlihat ingin sekali menghabisi Taecyeon dengan satu pukulan.
“Tentu saja. Aku pernah bertemu dengannya.” Yakin Jiyeon.
“Lalu kenapa dia tidak mau mengaku ketika aku menyebut Yoona?”
“Mana aku tahu tentang itu.” Jiyeon tiba-tiba merasa sedih. Taecyeon bahkan tidak mau mengaku bahwa dirinya mengenal Yoona. Astaga, bagaimana ia harus mengatakan ini pada sahabatnya itu? Yoona pasti akan sangat terpukul. Tetapi jika ia tetap diam, Yoona akan sangat tersakiti ketika pada saatnya penyelewengan Taecyeon terkuak.
Apa yang harus ia lakukan?

—o0o—

“Ada apa?” Suzy bertanya heran ketika Yoona tiba-tiba saja berhenti melangkah ketika mereka puas berkaraoke. Yoona tersenyum kecil sambil mengusap kupingnya yang tiba-tiba terasa panas. Sepertinya seseorang sedang membicarakannya.
“Berdengung, sedikit.”
Sekarang mereka sedang berjalan-jalan di toko olahraga yang pernah dikunjungi Suzy bersama Donghae. Yoona berkata ingin mencari sesuatu di tempat itu. Suzy mengangguk lalu kembali menemani gadis itu melihat-lihat. Ia langsung memalingkan pandangan ketika melihat nunchaku. Ia memiliki kenangan memalukan dengan benda itu.

“Hai, kapten!” Yoona tiba-tiba saja berseru, membuat Suzy melonjak dan langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Matanya melebar tak percaya ketika menemukan sosok Lee Donghae di sana. Pria itu menoleh lalu tersenyum. Suzy langsung mengeratkan pegangannya pada baju Yoona ketika gadis itu dengan santai mengajaknya menghampiri pria itu.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah hari ini ada jadwal latihan?” tanya Donghae heran.
“Lalu apa yang kau lakukan di sini, kapten? Kau tidak pergi latihan?” Yoona membalikkan pertanyaan, membuat Donghae terdiam. Kedua gadis itu saling berpandangan dengan geli. Mereka lupa memberitahu Donghae bahwa tidak ada sesi latihan hari ini karena Pelatih Changmin berhalangan hadir.

Menyadari Donghae benar-benar bingung, Suzy memberanikan diri berkata. “Tidak ada sesi latihan hari ini, kau tenang saja kapten.” Ia ikut menyebut Donghae kapten karena Yoona. Ketika Donghae menatapnya dengan raut geli, Suzy menundukkan wajah dengan pipi memanas.
“Astaga, kalian hampir membuatku merasa seperti buronan yang tertangkap basah.” Desahnya lega. Yoona dan Suzy langsung tertawa.

Suzy tersenyum melihat Donghae tampak lepas dan tersenyum cerah seperti sekarang. Dia lebih terlihat seperti remaja kebanyakan. Santai dan gembira.
“Oh iya, kebetulan kita bertemu, aku ingin mengembalikan ini.” Yoona mengeluarkan sebuah kantong cokelat dari dalam tas punggungnya lalu menyerahkannya pada Donghae. Suzy menatap benda itu penasaran.
“Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu hari itu.” ucap Yoona tulus. Donghae menatap Yoona penuh pengertian. Ia tahu apa isi kantong itu tanpa Yoona menyebutkannya. Sekaligus mengingatkannya pada saat-saat kebersamaan mereka yang singkat di rumah Donghae.
Donghae menyunggingkan senyum yang memiliki arti terselubung, lembut namun penuh kerinduan. Senyum yang membuat Suzy cemburu. Tetapi tak ada yang bisa ia lakukan karena entah kenapa ia merasa rela jika dua orang di dekatnya ini menjalin hubungan.
“Sama-sama.” Ia mengambil kantong itu dari tangan Yoona.

Suzy ingin bertanya kejadian apa yang membuat Donghae menyunggingkan senyum seperti itu pada Yoona tetapi ia tidak memiliki kesempatan karena mereka melanjutkan pencarian di toko olahraga itu bersama-sama. Bahkan hingga mereka keluar dari toko lalu memutuskan untuk pergi mencari minum. Suzy merasa seperti serangga pengganggu ketika berjalan di antara Donghae dan Yoona.
“Jadi, kenapa kau tidak berjalan-jalan bersama kekasihmu?” tanya Suzy memecahkan keheningan. Donghae menoleh ke arah dua gadis itu dengan raut terkejut yang entah kenapa mengisyaratkan ketidaksukaan. Tampak jelas Donghae tidak mau membahas hal ini di tengah mereka berdua.
Yoona menatap Suzy heran. Kenapa gadis ini memilih topik yang akan menyakitkan hatinya?
“Jessica ada urusan hari ini. Dia menolak ketika aku mengajaknya.” Jawab Donghae malas-malasan. Yoona mengangguk saja karena ini pertama kalinya ia mendengar Donghae menyebut nama kekasihnya.
“Aku takjub ada juga gadis yang menolak ajakanmu,” canda Suzy hambar. Seharusnya itu membuat Yoona dan Donghae tertawa tapi tidak ada satupun yang tersenyum. Ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah melontarkan kalimat tidak penting.

Sadar Donghae tiba-tiba berhenti melangkah dengan wajah tegang, Suzy langsung diterkam rasa bersalah. Ia pasti sudah menyinggung perasaan pria itu lagi. Namun saat mengetahui arah pandang Donghae tertuju lurus ke depan, ia ikut menoleh. Dan detik itulah Suzy mengetahui apa yang membuat Donghae membeku.
Jessica berdiri di dekat kedai creepes dalam kondisi bergandengan dengan seorang pria. Suzy mendadak merasa sangat marah melihatnya. Ia lalu menoleh kembali pada Donghae. ekspresi pria itu semakin tidak terbaca namun dingin sebeku es di Antartika. Ia yakin Donghae merasa sangat marah.
Suasana semakin menegang ketika Jessica berbalik ke arah mereka masih dalam kondisi yang sama. Bibir gadis itu kaku menyadari Donghae sedang menatap lurus ke arahnya.
Bingo, bagaimana rasanya tertangkap basah, putri? Sengit Suzy puas dalam hati.

“Donghae,” untuk pertama kalinya Suzy mendengar suara Jessica. Suaranya terdengar gugup. Berkali-kali ia memalingkan wajahnya ke arah Donghae lalu ke arah pria di sampingnya.
Donghae masih belum berkomentar. Hanya diam dengan mimik muka datar.
“Siapa gadis itu?” Yoona berbisik pada Suzy. Ia belum tahu rupa kekasih Jessica.
“Dia gadis yang membuatku patah hati tempo hari,” bisik Suzy pelan. Yoona langsung mengangguk paham. Ternyata gadis itu kekasih Lee Donghae. Ia hanya tidak menyangka akan menyaksikan hal mengejutkan seperti ini. Bagaimana perasaan Lee Donghae saat ini? Ia langsung memandang ke arah Donghae.
“Siapa dia?” akhirnya Donghae bersuara. Matanya melirik dingin pada pria di samping Jessica.
“Dia…” Jessica tampak kebingugan menjawabnya.

Pacar! Ayo katakan dia pacarmu! Suzy terus bersorak seperti itu di dalam hati. Ia sangat mengharapkan jawaban itu. Segalanya akan lebih mudah jika Jessica mengakui bahwa dirinya berselingkuh. Suzy melirik ke arah Yoona untuk meminta bantuan dukungan. Semangatnya sedikit memudar saat ia menyadari Yoona ikut menatap tajam Jessica. Astaga, kenapa hanya dirinya yang gembira di sini?
“Maaf, Donghae. Dia kekasihku.” Aku Jessica pelan. Suzy mengepalkan tangan diam-diam, merasa puas dengan jawaban itu sementara Yoona menajamkan tatapannya. Sungguh gadis bodoh, batinnya kesal.

Tak tampak perubahan emosi sedikitpun di wajah Lee Donghae. Pria itu tidak terlihat terkejut, hanya menghela napas pelan untuk memperbaiki posisi berdirinya.
“Begitu. Sejak kapan?”
Jessica mengigit bibirnya. Creepes ice cream di tangannya mulai meleleh. Suzy mengeryit ketika melihat gadis itu tiba-tiba saja berkaca-kaca seolah Donghae sudah menyakitinya lebih dulu. “Sejak kau tidak pernah memperhatikanku lagi. Tidak, kau bahkan tidak pernah memperhatikanku. Selama tiga bulan ini hubungan kita lebih datar dibandingan arena seluncur es. Kau sungguh tidak mengerti perasaanku. Karena itu aku memutuskan untuk menerima dia,” Jessica melirik pria di sampingnya.
“Alasan apa itu?!” Suzy mengeryit tidak terima mendengarnya. Jika memang merasa tidak nyaman mengapa tidak berkata yang sejujurnya? Kenapa justru menusuk kekasihnya dari belakang?
“Hanya itu?” tanya Donghae tetap dengan nada dingin.

Jessica diam dengan kepala menunduk kebingungan. Suzy dan Yoona yang sejak tadi berperan sebagai penonton sebenarnya sudah gatal ingin melakukan sesuatu. Tetapi mereka cukup tahu diri untuk tidak melakukan apapun. Mereka membiarkan Donghae menyelesaikan urusannya dengan gadis itu.
“Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu. Tapi sudahlah.”
Suzy menoleh bingung pada Donghae yang hanya menanggapi penyelewengan kekasihnya dengan helaan napas lalu pergi tanpa mempedulikannya. Pria itu tidak marah, tersinggung atau kesal sedikit pun atau dia hanya sedang menahan diri?
Perubahan ekspresi jelas terlihat di wajah Jessica. Gadis itu tampak ingin mengejar Donghae tetapi tertahan karena pria di sampingnya. Suzy menyeringai puas. Aha, sekarang kau merasa menyesal bukan? Rasakan akibatnya. Ia membuka mulut untuk mengutarakan kekesalannyatetapi kalah cepat karena Yoona lebih dulu berbicara.

“Gadis bodoh. Kenapa kau melakukan hal yang tidak berguna seperti ini? Berselingkuh sama saja dengan mengakui bahwa kau seorang pengkhianat.” Yoona berkata dengan nada tenang namun tajam. Suzy menoleh takjub. Jessica langsung melayangkan pandangan tidak sukanya pada Yoona terlebih ketika melihat seragam yang dikenakannya. Gadis itu menyadari dua gadis di depannya adalah teman satu sekolah Donghae.
“Ayo Suzy,” Yoona mengajak Suzy pergi. Suzy melayangkan pandangan tajamnya pada Jessica.
“Kau pasti akan menyesalinya. Aku berjanji.” Suzy bukannya mengancam, tetapi ia yakin tak lama Jessica pasti akan mencari-cari Donghae dan berlutut di kakinya meminta hubungan mereka kembali seperti dulu. Puas berkata begitu, ia lekas menyusul Yoona.

Mereka mencari-cari Donghae untuk menghiburnya. Tetapi bagaikan asap, sang kapten tim basket Royal President itu menghilang entah kemana.

—o0o—

Tak ada yang berubah dari raut wajah Donghae belakangan ini. Pria itu terlihat lebih tertutup, seperti melamunkan sesuatu. Suzy cemas sekali melihatnya. Apa pria itu masih tidak bisa menerima bahwa pacarnya berselingkuh? Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghiburnya.
Kabar baiknya sekarang sang kapten itu lebih sering datang latihan. Meski begitu Suzy justru merasa semakin cemas. Donghae seperti terlihat sedang mengalihkan pikirannya dengan bermain basket hingga gila-gilaan.
Tidak hanya Suzy yang cemas, tetapi juga Yoona. Saat yang lain sedang sibuk berlatih di lapangan, Yoona menghampiri Donghae yang beristirahat di tepi lapangan dalam kondisi bermandikan keringat.

Donghae mengerang dalam hati karena seberapapun ia berusaha melupakan beban pikirannya, hal itu seolah menempel dengan erat dalam setiap sel di otaknya. Sebuah handuk tiba-tiba terulur di depan wajahya. Ia menengadahkan kepalanya pada sang pemilik tangan. Begitu tahu Yoona pelakunya, ia langsung membenarkan posisi duduknya.
“Kau Yoon,” desahnya lalu mengusap wajahnya dengan handuk yang diberikan Yoona.
“Perubahan memang perlu demi menunjang kehidupan yang lebih baik.” ujarnya lembut, ikut duduk di samping Donghae. Maksud dari kata-katanya adalah agar Donghae tidak terus terlarut dalam kesedihannya dan belajar untuk menerima. Kesedihan bisa memberi pelajaran sekaligus melatihnya untuk menjadi lebih baik di kemudian hari.

“Perubahan seperti apa maksudmu?” Donghae tidak mengerti.
“Seperti ini. Kau lebih sering datang latihan. Aku senang.” Yoona mengatakannya sambil tersenyum.
“Aku hanya sedang tidak ada kesibukan.” Ucapnya tidak peduli. Yoona menatapnya, ia bisa menangkap mendung dalam ekspresi Donghae.
“Apa gadis itu begitu penting untukmu sehingga pengkhianatannya membuatmu berubah drastis seperti ini.”

“Entahlah, Yoon.” Desah Donghae lemas. Yoona takjub karena ini pertama kalinya Donghae terlihat begitu manusiawi. Biasanya ia selalu melihat Donghae ibarat robot yang seolah setiap ekspresi yang muncul di wajahnya sudah dikontrol dengan baik. Tetapi kali ini, ekspresi itu benar-benar mencerminkan isi hatinya.
“Sepertinya karena selama ini aku sadar aku tidak pernah memperlakukan Jessica sebagaimana mestinya sehingga aku tidak merasa marah atau pun kesal ketika dia berkata berpacaran dengan pria lain. Tetapi mengetahui ternyata hubungan kami selama ini begitu dipaksakan, entah kenapa itu memukul hatiku. Kenapa dia tetap bersamaku jika tahu aku tidak memperhatikannya? Itu yang membuatku terus berpikir dan bingung.”
Yoona bersimpati mendengar cerita Donghae, “Apa yang membuatmu bingung?” tanyanya penuh perhatian.
Donghae menoleh pada Yoona sambil berkata pelan, “Aku tidak mengerti seperti apa itu mencintai.”

Yoona tidak menjawab karena hal itu membuatnya berpikir. Ia, entah kenapa merasa hal yang sama pada Taecyeon.

—o0o—

Kesedihan Donghae menular pada Yoona. Gadis itu tampak melamun ketika bertemu dengan Suzy dan Jiyeon di jam istirahat keesokan harinya.
“Kau serius? Jadi Donghae..astaga,” Jiyeon membekam mulutnya ketika mendengar cerita Suzy tentang Jessica yang berselingkuh di belakang Donghae. Ia langsung melirik ke arah Yoona yang terdiam. Tiba-tiba ia teringat pada apa yang dilihatnya tentang Taecyeon beberapa hari yang lalu. Ia penasaran apakah Yoona sudah tahu. Atau jangan-jangan kesedihannya disebabkan oleh Taecyeon yang menyeleweng?
Apa sebaiknya ia bertanya? Tetapi ia takut akan menyinggung perasaan Yoona.

“Yoon, bagaimana hubunganmu dengan Taecyeon?” Jiyeon bertanya ragu.

Yoona terkesiap. Pertanyaan itu mengejutkannya, “Baik.” ucapnya santai. Tidak ada semburat merah yang biasanya muncul setiap kali mereka bertanya tentang hubungan asmaranya. Kali ini Yoona terlihat kebingungan. “Tapi akhir-akhir ini kami jarang bertemu karena dia sibuk dengan kegiatan sekolahnya.”
Keraguan di wajah Jiyeon membuat Yoona penasaran, “Kenapa?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu.” Jiyeon ragu-ragu.
“Katakan saja.”
“Tapi kau harus berjanji tidak akan marah.”
“Oke.”

Jiyeon memandang Suzy sejenak lalu kembali pada Yoona, “Tempo hari, aku melihat Taecyeon berkencan dengan gadis lain.” Jelasnya perlahan sambil memperhatikan ekspresi Yoona. Ia takut kata-katanya menyinggung gadis itu. Tidak ada perubahan ekspresi yang berarti di wajahnya, tetapi Jiyeon tahu detik itu Yoona membeku.
“Kau pasti bercanda.” suara Yoona terdengar kaku.
Dengan penuh penyesalan Jiyeon menggeleng, “Aku tidak bisa memastikan gadis itu teman kencannya atau bukan. Tetapi, aku melihat Taecyeon menciumnya.” Ia langsung mengatupkan bibirnya ketika melihat Yoona langsung pucat pasi sementara Suzy memekik kaget.
“Kau serius?” pekik Suzy lebih dulu. Setelah mengetahui Jessica mengkhianati Donghae sekarang ia mendengar Taecyeon pun melakukan hal yang sama?
“Yoon, aku hanya ingin memberitahumu, aku tidak bermaksud sama sekali untuk memprovokasimu. Maaf.” Jiyeon benar-benar menyesal karena ucapannya menyinggung perasaannya.
Tanpa diduga Yoona tersenyum, senyum miris.
“Tidak apa-apa,” bisiknya getir. Suzy dan Jiyeon saling memandang bingung.
“Aku sudah menduga akan terjadi hal seperti ini lagi.” Yoona menundukkan kepala, sekuat hati menahan emosinya.
“Lagi?” Suzy bingung.
“Dahulu kami sempat putus karena hal yang sama.”

—o0o—-

Sudah beberapa hari berlalu sejak Yoona mengetahui Taecyeon menyeleweng. Ia tidak berniat menyelidiki kebenarannya. Bukannya ia tidak mempercayai Jiyeon, tapi percuma saja karena ia sudah tahu jawabannya. Jiyeon memang tidak salah lihat hari itu. Taecyeon pasti sedang bersama kekasih barunya.

Beberapa jam berlalu. Latihan itu dilakukan di dojo aikido tempat Yoona biasa latihan dulu. Kibum yang baru pertama kali mengenal bela diri tentu saja syok dengan metode latihan Yoona yang superketat, superkeras, dan penuh disiplin.
“Aku meminta istirahat, please” Pinta Kibum kepayahan dalam kondisi menyedihkan di atas matras tempatnya melakukan pemanasan. Yoona hanya menggeleng pasrah. Si playboy pintar ternyata tidak kuat menjalani latihan fisik khas kemiliteran.
“Kita baru saja pemanasan selama satu jam.” Yoona melirik jam dinding dan hebatnya dia tampak masih segar meskipun mereka melakukan porsi pemanasan yang sama. Sementara Kibum sudah terkapar di atas matras itu seperti habis digilas truk.
“Baru?!” Kibum berseru dengan mata membelalak tak percaya. Menggunakan sisa tenaganya ia mendudukkan diri. “Aku sudah sit up 500 kali, push up 500 kali, back up, scottjump, serta pemanasan gila lainnya. Dan kau dengan santai berkata ‘baru saja’?!” rentetan kata-kata itu terucap dihiasi raut histeris. Ketika tubuhnya sudah tidak bisa menoleransi segala macam bentuk pemanasan itu lagi Yoona terlihat seolah dia baru saja melakukan peregangan ringan? Ia sungguh tidak bisa mempercayainya. Apakah Yoona benar-benar seorang gadis? Dirinya yang laki-laki kuat dan mempesona saja tidak bisa seperti itu.

Yoona bangkit dari atas matras lalu meregangkan tangannya, “Bukankah kau berkata ingin bisa beladiri? Apa yang kau lakukan hari ini belum seberapa. Aku tidak percaya ternyata kau adalah pria yang lemah.”
Kata-kata Yoona memukul ego Kibum dengan telak. Pria itu bangkit sambil menunjukkan diri bahwa ia tidak apa-apa. “Aku tidak bisa menerima sindiranmu, Yoon. Sebagai pria sejati akan kutunjukkan bahwa aku bisa membuktikan kekeliruan kata-katamu tadi.”
Yoona berdecak mendengar kalimat penuh percaya diri itu. “Sudah jangan banyak mulut! Buktikan dengan tindakan, jika kau memang laki-laki.” gadis itu berdiri sambil mengencangkan sabuk di pinggangnya. “Sekarang ayo kita masuk pada latihan inti.”
Kibum langsung kaku di tempatnya berdiri. Ia semakin menegang ketika Yoona melangkah maju untuk memulai latihan yang sebenarnya. Detik ketika Yoona menyunggingkan senyum misteriusnya, Kibum tahu ia akan segera memasuki ruang penyiksaan.

—o0o—

“Aku menyerah!!” Kibum berteriak penuh keputusasaan dan permohonan dua jam berikutnya. Ia berada di bawah kuncian Yoona di atas lantai. Wajahnya mencium lantai kayu yang dingin dan licin.
Yoona langsung melepaskan dirinya, “Kau sungguh mengecewakan, Tuan Pintar. Ternyata staminamu tidak sama dengan ucapanmu.” Ia pun sama terengah-engah meskipun senang karena mereka melewati sesi latihan yang menyenangkan.
Kibum mengaduh ketika ia bangkit sambil memegangi bahunya yang terasa nyeri, “Apa yang bisa kulakukan ketika melawan seorang master? Aku baru berada di tingkat pemula.”
“Ya, ya, kau kumaafkan untuk saat ini. Istirahatlah.” Yoona tersenyum manis lalu meraih handuk untuk mengusap keringat di wajahnya.

Kibum mencibir. Ketika berkata dengan nada seperti itu Yoona tampak seperti gadis lemah gemulai pada umumnya. Tetapi siapa yang akan menyangka dibalik senyum memikat itu terdapat senyum mematikan yang bisa meretakkan seluruh tulang. Tetapi bagaimana pun sosok Yoona tetap mengagumkan baginya.
Yoona mendudukkan dirinya di teras dojo itu. Ia suka diam di sana sambil memandangi halaman yang rindang oleh pepohonan. Ia suka suasananya yang tenang, bahkan sejak pertama kali menginjak tempat ini.
“Aku heran, kenapa tidak ada orang lain di tempat ini.” Yoona menoleh pada Kibum yang mendudukkan diri di sampingnya.
“Di sini selalu sepi jika akhir pekan. Karena itu kita hanya bisa leluasa latihan di saat seperti sekarang.”
Kibum mengangguk. “Sepertinya alasan sebenarnya karena kau memang tidak ingin latihanmu dilihat orang lain.”
Penuturan itu membuat Yoona tertawa, “Aku lupa sedang berbicara dengan siapa.” Ia lalu memandang ke sekeliling. Tidak berniat membenarkan ataupun membantah anggapan Kibum. “Sudah hampir dua tahun aku tidak kemari. Rasanya masih sama seperti dulu. “ gadis itu tesenyum. Dalam benaknya terbayang masa-masa ketika ia masih berlatih di sini tanpa mengkhawatirkan apapun. Rasanya sudah begitu lama sampai ia lupa.
“Kau baik-baik saja?” tanya Kibum. Yoona hanya terkejut untuk beberapa saat lalu kembali merenung.
“Apa terlihat jelas?” Yoona menunduk. Kibum diam karena ia bisa merasakan kesedihan dari nada suara Yoona. Pastilah sedang terjadi sesuatu.

“Bagaimana perasaanmu ketika kau mempermainkan perasaan seorang gadis?” tanyanya tiba-tiba. Kibum terkesiap kaget.
“Mungkin beberapa kali, aku sendiri tidak terlalu yakin.” Jawabnya sambil mengangkat bahu. Ia tidak pernah berniat mempermainkan perasaan siapapun tetapi ia tidak menjamin jika beberapa gadis yang pernah berpacaran dengannya tidak merasa sakit hati ketika ia memutuskan untuk meninggalkan mereka tanpa sebab.
“Apa kau merasa bersalah?”
“Tentu saja!” Kibum berkata tegas. Yoona menoleh dengan kening mengerut. Ia baru mendengar seorang playboy menyesali perbuatannya.

Kibum menghela napas lalu memeluk lututnya sendiri. Pandangannya menengadah ke langit lembayung di atas sana.
“Aku selalu merasa menyesal setiap kali aku memutuskan berkencan lalu memutuskan hubungan sekehendak hatiku. Sebenarnya aku tidak berniat sama sekali, tetapi karena terbiasa, terkadang aku melakukannya tanpa berpikir. Ketika hubunganku berakhir dan aku sadar telah menyakiti perasaan seseorang, aku berpikir. Sebenarnya aku manusia atau ular? Tidakkah kau sadar bahwa menyakiti hati seseorang akan menimbulkan luka yang sulit untuk disembuhkan? Membayangkan mereka menangis karena keegoisan diriku, di saat itulah aku merasa sangat menyesal.” Kibum mendesah di akhir ceritanya. Ketika ia memandang Yoona, ia mengerjap menyadari Yoona menatapnya tanpa berkedip.
“Fine, mungkin kalimatku terdengar aneh dan hanya diucapkan oleh banci. Lupakan saja. Sekarang ceritakan padaku siapa yang sudah mempermainkan perasaanmu.”

Yoona terkejut dengan pembelokan arah pembicaraan ini. Kenapa Kibum bisa mengasumsikan pertanyaan itu adalah untuk dirinya? Baiklah, sepertinya percuma saja menyembunyikan fakta ini pada Kibum. Pria itu pasti akan memahaminya.
“Jiyeon melihat Taecyeon bersama seorang gadis dan mereka berciuman.” Ucapnya membuat Kibum menganga. Seharusnya berita ini tidak mengejutkan tetapi entah kenapa ia seperti baru saja mendengar pengumuman bahwa perang sedang meletus di perbatasan.
“Apa kau yakin?”
Kepala Yoona menggeleng, “Entahlah. Aku tidak berniat membuktikannya.”
“Kenapa?”
“Aku sudah tidak peduli lagi. Ini kedua kalinya dia melakukan ini padaku. Rasanya, kepercayaanku padanya sudah tidak ada lagi.” Yoona menutupi wajahnya karena ia tidak ingin Kibum melihat airmatanya mengalir.

Kibum mengulurkan tangan ingin melakukan sesuatu untuk menenangkan Yoona. Tetapi gerakannya terhenti ketika ia mendengar isak tangis Yoona. Ia menggertakkan gigi, menahan sekuat tenaga untuk tidak panik mendengar tangisan perempuan.
“Kalau begitu satu-satunya jalan adalah kau memutuskan hubungan dengannya.” Ucapnya pelan. Yoona terisak di sampingnya, tanpa sanggup ia sentuh atau ia hibur. “Pria seperti itu tidak layak untuk dipertahankan.”

—o0o—

Hari itu tanpa diduga Jiyeon kembali bertemu dengan Siwon di supermarket. Pria itu seperti biasa, tersenyum ramah memamerkan lesung pipi yang membuatnya tampak manis sekaligus memikat. Jiyeon balas tersenyum meskipun tidak yakin senyumannya bisa semanis milik Siwon.
“Kau selalu berbelanja sendiri untuk makan malam?” tanya Siwon ketika mereka berhenti di rak yang memajang deretan daging sapi segar. Jiyeon memang berniat memasak bulgogi malam ini.
“Ya. Dan apa ingin kau beli kali ini?”
“Hanya beberapa bahan makanan pesanan ibuku.” Siwon menunjukkan keranjang berisi beberapa kotak susu dan bahan kering lainnya. Jiyeon tertawa.
“Aku tidak tahu kau seorang Mamaboy.”
Siwon langsung mendesis, “Tidak, dia seorang ibu yang cerewet dan suka menggerutu saat keinginannya tidak dituruti.”
Jiyeon tersenyum simpul, “Lebih baik daripada tidak memiliki ibu.” Ucapnya iri.

Siwon diam memandang Jiyeon. Ia sudah mendengar dari Jungsoo yang selalu datang latihan secara berkala ke dojo judonya. Pria itu selalu berkata bahwa Jiyeon sudah dianggap seperti ibu dan adik olehnya semenjak ibunya meninggal dunia.
“Apa aku boleh bertanya?” pertanyaan Jiyeon membuyarkan lamunannya.
“Mmm…”
“Apa kau mengenal Kyuhyun?” ketika menyadari perubahan ekspresi Siwon, Jiyeon melanjutkan, “Aku tahu kau pasti mengenalnya. Tidak perlu malu padaku.”

Siwon menghentikan langkahnya, kenapa di saat seperti ini harus keluar pertanyaan seperti ini? Ia kembali memandang Jiyeon yang sepertinya benar-benar penasaran. Baiklah, ia akan jujur untuk yang satu ini.
“Aku memang mengenalnya. Apa itu mengejutkanmu?”
Jiyeon melebarkan kedua matanya, “Tidak.” Lirihnya pelan. “Aku tahu sesuatu terjadi di antara kalian sehingga sikap kalian begitu dingin ketika bertemu tempo hari.”

Siwon merespon kalimat itu dengan senyuman simpul.
“Kenapa Kyuhyun berkata dia tidak mengenalmu?”
“Aku tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu.
“Kalian bertengkar?” tanya Jiyeon benar-benar penasaran.
Pria itu hanya mengangkat bahu. Sepertinya Siwon tidak mau membicarakan hal ini. Tetapi Jiyeon tidak akan menyerah. Bagaimana jika ia mengganti pertanyaan saja.
“Apa kau mengenal Tiffany Hwang?” tanya Jiyeon asal. Ia tidak yakin apakah ia menanyakan hal ini pada orang yang tepat. Namun saat melihat Siwon tercengang, Jiyeon tahu ia sudah bertanya pada orang yang tepat.
“Bagaimana kau tahu tentang Tiffany? Apa Kyuhyun..” Siwon mengatupkan bibirnya seolah apa yang ia katakan adalah hal yang terlarang untuk dibocorkan.
Jiyeon mengerutkan kening curiga, “Apa hubungan Tiffany dengan Kyuhyun?” ia tidak tahu kenapa ia menanyakannya. Apakah ia siap mendengar jawaban Siwon. Ia berharap Siwon tidak akan meresponnya.
“Tiffany Hwang adalah pacar Kyuhyun.” jawaban gamblang Siwon membuat sekujur tubuh Jiyeon mematung. Ia tak pernah mengharapkan jawaban ini tetapi kenapa ia harus mendengarnya?
“Pacar??” Jiyeon menatapnya tak percaya.
“Mantan pacar…” ralat Siwon. Ekspresi wajahnya terlihat lebih sedih.

Jiyeon tidak bisa berpikir lagi detik berikutnya karena hatinya terpukul. Meskipun Siwon berkata Tiffanya dalah mantan kekasih Kyuhyun, tetapi tetap saja fakta itu berhasil mematahkan hatinya. Sekarang ia tahu alasan mengapa Kyuhyun masih membawa foto Tiffany kemana-mana. Mungkin hingga saat ini, perasaan Kyuhyun untuk Tiffany belum berubah. Atau malah tidak berubah.
Lalu, bagaimana dengan perasaannya untuk pria itu?

~~~TBC~~~

198 thoughts on “School in Love [Chapter 12]

  1. gk ada moment kibum suzy.. aku suka liat mrka brengkar😀 mreka lucu🙂 dari pda hae suzy, mrka trlaku kaku.. tp gk papa crtanya ttap seru (y) slalu tk sbar nunggu klnjutn xh..

  2. Lanjuuutt eon
    Makin penasaran
    Kok kyuhyun bs putus sm tiffany?
    Yoona mending cptan putus sm taecyeon trus pacaran sm donghae..
    Kibum kpn lagi nih berduaan sm suzy..hehehe

  3. dari kemarin udah baca, tapi separo2 karna gy sbuk. dan akhirnya sekarang waktunya komen

    dha-ssi, kapan lagi suzy-kyu momentnya? trus kibum-jiyeon?kok blum tersentuh sma skali? atau pasangan itu saling pdkt nya mau-mau kelar gitu? rencana ampek part brp?

  4. Hahaha kibum K.O nih dbuat yoona. Ksian liat yoona, dsar taecyeon buaya darat.
    Hmm jd tifanny mantany kyu. Trz knp mrk ptus? Ap ini ad hubngany dg siwon…

  5. Aku nunggu kyuhyun sma suzy berantem lagi… Teruss aku suka kyu sma suzy. Dri pada kyu sma jiyeon. Trus aku jga suka hae sma suzy dri pada yoona hehehe

  6. Suzy aneh, knapa dia suka sama Donghae tpi dia rela kalo Donghae pacaran dengan sahabatnya sendiri, Yoona. Spertinya memang suzy diceritakan memiliki hubungan dengan Kibum. Walaupun setiap betemu Suzy dan Kibum sperti anjing dan tikus, ttapi kedepan bisa sperti sendal, saling memiliki dan melengkapi.
    Yoona kasihan skali karna Taecheon mengknatiny lagi. Yoona pun udh gk pnya kepercayaan lagi buay Taecheon.
    Dan Jiyeon pasti hatiny sakit krna seorang Kyuhyun masih mncintai Tiffany. Sepertiny Siwon memang pnya hubungan dimasa lalu Kyuhyun.
    Sngguh penasaran dngan kelanjutanny ^^

  7. waahhh pada saling mengkhianati,. wkwkwkwk >.<
    yoona n donghae lg patah hati,. semoga bisa move on ya,. ^_^
    dan hae jadian sma yoona,.😀 hohoho

  8. nah loe…
    patah hati smw dech….
    dr k3 princes of school q pling suka ma kibum
    orgx ramah n peka bgt ma perasaan cewek
    ngobrol ma cpa ja keaanx nyaman…welcome bgt karakterx!!
    next chap psti dy bkal bwt perhtungan ma taecyeon
    go kibum..go kibum…♥♥

  9. Huaaa sabar ya jiyeon:3 ah sabar juga buat suzy:’3 donghae nya gak peka peka wkwkwk hahahaha. Ah sungguh masih dilema saat ini-.- daebak :’) feel yg slalu dapet nyampe dilema begini kalo jadi suzy sama jiyeon:D

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s