School in Love [Chapter 10]

Tittle : School in Love Chapter 10
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Friendship

 

Main Cast :
Bae Suzy | Kim Kibum | Im Yoona | Lee Donghae | Park Jiyeon | Cho Kyuhyun

Dha’s Speech :
Karena kemarin menceritakan Jiyeon dan Yoona, maka sekarang part khusus Suzy *banzaiii* Semoga temen-temen masih berkenan ngikutin ceritanya.

Happy Reading ^_^

School In Love [Nitha & Satya] 3 by Dha Khanzaki

===o0o===

CHAPTER 10

The Pain of a Broken Heart

KEDUA gadis itu tercengang melihat kondisi Yoona keesokan harinya. Matanya masih kemerahan. Mereka yakin Yoona sudah menangis semalaman.
“Tidak berjalan mulus, ya?” ucap Suzy prihatin. Meskipun Yoona sudah memaksakan senyum untuk menunjukkan bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi, itu tidak berhasil mengelabui Suzy maupun Jiyeon.
“Dia tidak datang,” lirih Yoona akhirnya. Airmata yang menggenang di sudut mata gadis itu membuat kedua sahabatnya ikut merasakan kesedihannya.

“Kejam sekali.” Jiyeon langsung merangkul Yoona.
“Tidak. Ini semua salahku.” Yoona menyalahkan dirinya sendiri, “Seandainya aku bisa menjaga sikapku, ini tidak akan terjadi.”
“Yoon, tidak ada salahnya kau pergi bersama seorang teman. Lagipula kebersamaanmu dengan Kibum tidak berarti apapun bukan. Tidak ada yang terjadi bukan?” Suzy tidak setuju dengan pemikiran Yoona.
“Ini salahku. Taecyeon Oppa pantas kesal padaku.”

“Tidak Yoon, kau tidak salah.” Suzy tetap bersikukuh dengan pendapatnya bahwa Yoona memang tidak salah. Jika Taecyeon memang cemburu karena Yoona bersama pria lain kenapa kemarin pria itu tidak datang, kenapa justru mendiamkan Yoona dan memperkeruh masalah di antara mereka? Ia mengepalkan tangan merasa harus melakukan sesuatu.

Yoona tidak bisa terus menyalahkan dirinya sendiri. Jika Taecyeon ingin marah, limpahkan semua itu pada Kim Kibum si pembuat onar yang sesungguhnya. Suzy mengerjap. Benar juga, hanya Kibum yang bisa menyelesaikan masalah ini. Pria itu harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada hubungan Yoona dan Taecyeon. Hanya penjelasan pria itu yang bisa menghentikan kemarahan Taecyeon pada Yoona.
“Suzy, kau mau kemana!!” teriak Jiyeon kaget melihat gadis itu tiba-tiba pergi, tanpa sepatah katapun meninggalkan dirinya dan Yoona yang melongo di green house.

Suzy berjalan dengan langkah cepat dan menggebu. Jika ingin menemui Kim Kibum, ia harus mencarinya di kelas Platinum. Meskipun ia sudah berjanji tidak mau menginjak kawasan itu lagi, ia tetap memaksakan diri di sana. Ia akan melayangkan protes. Tetapi ketika ia sekali lagi mengagetkan seluruh penghuni kelas dengan mendobrak pintu ruangan kelas 1-1, ia tidak menemukan Kibum di sana.
“Kau lagi, Kyuhyun tidak ada di sini.” Ujar Kim Junsu sang ketua kelas dengan angkuh. Suzy mendelik tajam padanya.
“Aku tidak mencarinya. Aku mencari Kim Kibum. Kemana dia?!”
“Dia juga tidak ada di sini.”
“Kalau begitu katakan dia pergi kemana!?” Suzy mulai naik pitam karena Junsu terus menerus menjawab dengan nada congkak.
“Cari saja sendiri.”

Jika Suzy tidak sedang buru-buru ia sudah melayangkan satu pukulan ke wajah pria di depannya. Adakah satu orang saja di kelas ini selain Yoona yang tidak congkak? Jangan sebut Donghae karena dia juga pengecualian. Ketika membalikkan badan dengan kesal, ia langsung membentur dada seorang pria. Kesal, ia mendongak untuk tahu siapa orang bodoh yang seenaknya saja diam di belakangnya. Ia terkesiap saat menyadari sosok yang berdiri di depannya adalah Kibum, pria ia ia cari.
“Kau!!” serunya, tanpa mempedulikan seorang gadis yang berdiri di samping pria itu. Tidak sadar tatapan gadis itu menajam curiga padanya.
“Hai, gadis monster.” Kibum menyeringai lebar.

“Mana tanggung jawabmu?” tuduh Suzy langsung.

Kibum mengangkat alisnya tak mengerti, “Tanggung jawab apa?” dari nada bicara Suzy mengisyaratkan seolah dirinya telah melakukan tindakan asusila. Akibatnya ucapan Suzy menimbulkan kemarahan gadis di sampingnya.
“Siapa dia Kibum?”
“Hanya teman.” Jawab Kibum sambil lalu karena fokus perhatiannya kini tercurah pada Suzy.
“Aku sekali lagi meminta tanggung jawabmu. Kau tahu, karena dirimu Yoona dan pacarnya bertengkar.”

Gadis yang di sebelahnya membelalakkan mata terkejut. Ia langsung menarik Kibum agar menghadapnya. “Apa maksudnya? Kau berpacaran dengan gadis lain?”
“Tidak, Krystal. Tidak ada pacar lagi selain dirimu.” Tukas Kibum pada gadis yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya.
“Ya, kau dengar ucapanku atau tidak!” Suzy berteriak padanya, memaksa Kibum menghadapnya.
“Kibum, apa maksudnya ini? Jelaskan padaku!!”

Mereka berdua terus bertanya tanpa henti, membalikkan tubuh Kibum ke sana kemari seolah dirinya boneka. Kepalanya pusing dan ia merasa seperti semut yang terjepit di antara dua monster yang sedang bertarung. Suzy dan Krystal terus mengajukan pertanyaan padanya secara bersamaan. Telinganya berdengung karena suara keras yang terdengar tumpang-tindih itu.
“Stop!!!” teriak Kibum ketika akhirnya ia tidak mampu bertahan lagi. Ia ingin kedua makhluk di sampingnya untuk berhenti sejenak. Suasana langsung hening karena baik Suzy maupun Krystal seketika mengatupkan bibirnya.
Girls, calm down please! Aku tahu kalian berdua tak bisa mengendalikan emosi karena pesona diriku selain itu kalian juga membutuhkan jawaban dariku. Tapi bisakah kalian mengajukan pertanyaan secara bergiliran? Kepalaku pusing jika kalian berkata bersamaan.”
Suzy dan Krystal mengerjapkan mata.
Suasana hening.

“Aku lebih dulu!” Suzy mengambil kesempatan itu. Baiklah, Kibum langsung memusatkan perhatiannya pada Suzy.
“Kau tahu, Yoona dan kekasihnya bertengkar setelah melihatmu jalan dengan Yoona. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya hari itu, tetapi keadaannya sudah gawat sehingga hanya kau yang bisa menyelesaikan masalah ini.”
“Ini jelas bukan kesalahanku. Mereka bertengkar karena diri mereka sendiri. Kekasihnya hanya pria yang pencemburu. Yoona tinggal menjelaskannya dan semua akan baik-baik saja. Bagaimana bisa kau melimpahkan semua ini sebagai tanggung jawabku.”
“Bodoh! Ini jelas termasuk tanggung jawabmu! Segalanya akan selesai jika kau mau menjelaskan bahwa tidak ada apapun di antara kalian. Taecyeon tidak akan percaya jika bukan kau yang mengatakannya.”
“What???” Kibum terkejut, “Itu justru akan menimbulkan kecurigaan. Segalanya akan menjadi lebih sulit jika aku mencampuri masalah mereka. Kekasihnya—siapa namanya?”
“Taecyeon.”
“Ah, Taecyeon akan menuduh Yoona berkonspirasi denganku untuk menyembunyikan hubungan gelap di antara kami.”

Suzy berpikir itu ada benarnya juga. Ia membuka mulut untuk membantah tetapi ketika sadar ia tak memiliki kalimat bagus untuk membalikkan kata-kata Kibum, ia mengatupkan mulutnya kembali. Ia mengerang.
“Ayolah Kibum, aku benar-benar tidak bisa membiarkan Yoona sedih dan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Terlebih karena dia sangat menyayangi kekasihnya ini.”
Kibum terdiam karena dia tersentuh dengan cara Suzy memohon padanya. Penuh kesungguhan dan entah kenapa ia merasa cemburu karena Yoona mendapatkan banyak perhatian dari gadis ini sementara dirinya, entahlah.
“Baiklah,” Kibum mendesah kalah, “Aku akan membantumu.”

Ketika ia menyaksikan senyum paling indah yang pernah ia lihat, detik itulah Kibum merasa dirinya baru saja membuat keputusan paling tepat sepanjang masa.
“Aku tidak akan melupakan kebaikanmu!” seru Suzy luar biasa gembira.

Oh, tentu. Kau harus membayar mahal untuk jasaku ini, Kibum diam-diam menyeringai.

—o0o—

Hari itu, atas usulan Suzy sekali lagi Yoona mengajak Taecyeon bertemu. Bedanya, gadis itu tidak sendirian. Suzy dan Kibum ikut menemani. Setelah menunggu selama sepuluh menit di salah satu meja yang terletak di kafe favorit Yoona, Taecyeon muncul. Pria itu dengan wajah dingin duduk di samping Yoona sementara Suzy dan Kibum menempati kursi di seberang mereka.
“Apa maksudmu mengajaknya?” Taecyeon bertanya ketus, matanya menyipit ketika melihat senyum innocent Kibum.
“Aku mengajaknya karena ada sesuatu yang harus dijelaskannya padamu.” ujar Yoona pelan.

Taecyeon melipat kedua tangannya. Dengan angkuh ia mengangkat dagunya, “Oh, oke. Jadi rahasia apa yang ingin kau katakan padaku?”
Kibum menarik napas, ia memandang Suzy yang menyuruhnya segera mengatakan segalanya lalu Yoona yang menundukkan kepala.
“Ayolah, man. Aku menunggu.” Taecyeon mulai tidak sabar.

“Begini, kebersamaanku dan Yoona tempo hari hanya kebetulan. Tidak ada hal romantis apapun yang terjadi dan kami berjalan bersama hanya sebagai teman. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau beruntung bisa memiliki gadis secantik Yoona.”
“Oke, lalu?” Taecyeon sepertinya tidak tersentuh. “Kau yakin tidak terjadi apapun kemarin? Aku melihat kalian berpegangan tangan dan Yoona bahkan menyentuh wajahmu.”

Kibum langsung memandang Yoona ragu. Gadis itu mememberinya isyarat lewat matanya bahwa jangan mengatakan apapu tentang dirinya yang mampu menumbangkan gerombolan preman seorang diri. Ia harus memutar otak untuk mencari alasan lain. Jangan sebut ia jenius jika ia tidak berhasil menemukan solusi masalah yang sedang dihadapinya.
“Sebenarnya kemarin itu aku sedang berkonsultasi pada Yoona, aku ingin membeli kado untuk pacarku. Benar bukan, Yoon?”

Yoona yang terkejut dengan alasan yang tidak hanya membelok tetapi juga ngawur itu tersentak. Tetapi demi kelancaran rencana ia mengangguk dan tersenyum. “Ya, begitulah.”

“Kado apa?” bisik Suzy penasaran. Ia ingin tahu kado apa yang dibeli Kim Kibum untuk kekasihnya tanpa tahu bahwa hal itu akan membuat dirinya masuk ke dalam perangkap manis pria itu.

Kibum mengalihkan pandangan padanya, “Seharusnya aku tidak mengatakan hal ini padamu, sayang. Karena ini adalah kejutan untukmu. Tetapi aku harus mengatakanya untuk menyelesaikan kesalahpahaman.” Ia menghela napas seolah-olah memang terjadi sesuatu di antara mereka. Suzy mengerutkan kening superbingung. Apa, Kibum baru saja memanggilnya dengan sebutan apa?
Apakah pria ini baru saja memanggilnya ‘sayang’!!! How dare you!

“Kado itu untukmu karena sebentar lagi kau berulang tahun.”

“Mwo?!” pekikan Suzy naik tiga oktaf. Gadis ini benar-benar terkejut. Berani-beraninya pria ini menggunakan dirinya untuk membebaskan permasalahan di antara Yoona dan Taecyeon. Dia gila!

Suzy ingin berteriak memaki atau paling tidak memberi pria itu beberapa pukulan namun niatnya terpaksa ia tahan karena Taecyeon memandangi mereka. Jika ia tidak mengikuti skenario yang dilakoni Kibum rencana mereka bisa gagal total. Akhirnya dengan senyum yang benar-benar dipaksakan ia tersenyum.

“Oh, kau manis sekali.” ia menggertakkan giginya saat mengatakan itu. Kibum menyunggingkan senyum miris, antara mengasihani diri sendiri karena setelah ini akan menerima amukan Suzy dan gembira karena gadis ini mengikuti alur cerita yang ia buat. Ia alihkan perhatiannya pada Taecyeon kembali karena Suzy sepertinya siap melayangkan tinju padanya jika ia masih menatap gadis itu.

“Yoona adalah sahabat kekasihku, Suzy.” Suzy membelalakkan mata ngeri ketika Kibum dengan lancang merangkul bahunya. “Dan aku sedang meminta pendapat Yoona untuk memilihkanku kado yang sesuai untuknya.”
“Apa harus dengan berpegangan tangan dan menyentuh wajah?” Taecyeon sinis.
“Tidak, tentu saja tidak.”
Kapan pria ini akan melepaskan tangannya dari bahuku!! Geram Suzy.
“Saat itu angin bertiup dan mataku kelilipan. Tidak ada sesuatu yang menyimpang di antara kami. Aku berani bersumpah.”

Oh Tuhan, sampai sejauh mana bualan Kibum ini berlanjut! Suzy memutar bola mata. Kabar baiknya Taecyeon sepertinya berhasil dipengaruhi. Pria itu merenung.
“Baiklah, sepertinya aku memang salah paham.” Taecyeon menghela napas. Suzy bersorak dalam hati sementara Yoona menghela napas lega. “Yoon, aku minta maaf padamu.”
“Tidak apa-apa.” Yoona tersenyum, “Jadi hubungan kita baik-baik saja?”
Taecyeon tersenyum lalu mengangguk. “Mengapa tidak?”

—o0o—

Suzy masih menunjukkan senyum tulus ketika ia melambaikan tangannya pada Taecyeon dan Yoona di depan kafe itu . Setelah segalanya membaik, mereka memutuskan berpisah. Satu masalah memang selesai, namun masalah lain justru muncul. Begitu Yoona dan Taecyeon tidak terlihat lagi ia langsung melemparkan tatapan dinginnya pada Kibum. Ia akan membuat perhitungan dengan pria ini.
“Kenapa kau menyebut diriku sebagai kekasihmu di depan Taecyeon? Bukankah kekasihmu adalah Krystal!” sambarnya kesal.

Kibum hanya memutar bola mata lalu melengos pergi tanpa memedulikan kemarahan Suzy.
“Ayolah, itu hanya ungkapan kosong.” Desahnya pasrah seolah Suzy baru saja membahas tentang daun yang bergoyang. Suzy yang tidak menerima langsung mencengkeram lengan Kibum, dengan gerakan kasar ia memaksa pria itu menghadapinya.
“Kau tahu, itu adalah alasan paling tidak masuk akal sedunia. Kenapa kau memakaiku sebagai umpanmu!?”

Kibum mendesah melihat mata bulat Suzy melotot padanya, “Apa yang membuatmu semarah ini? Semestinya kau bahagia karena aku mengakuimu sebagai kakasihku. Ada banyak gadis di luar sana yang rela bertarung untuk menjadi kekasihku.”
Kali ini Suzy yang memutar bola mata, “Yang benar saja! Aku tidak sudi menjadi kekasih playboy sepertimu!”

Sorot mata Suzy yang berapi-api justru membangkitkan gairah Kibum. Seperti menemukan kesenangan yang tidak pernah ia rasakan, mendadak hatinya dipenuhi gejolak untuk menggoda gadis ini. Membuatnya gelisah, gusar, dan marah bagai obor yang berkobar terkena semburan minyak tanah.
“Kau yakin? Aku tidak percaya pada ucapanmu.” Godanya dihiasi senyum memukau. Biasanya jurus ini sangat ampuh untuk meluluhkan hati para gadis. Tetapi gadis monster ini memberikan reaksi yang berbeda untuknya.
“Tidak!!!” sentak Suzy dengan mata membelalak. Setelah itu ia memalingkan wajah lalu pergi meninggalkan Kibum yang terkejut bukan main. Ia terperangah dan tubuhnya membatu.

Tidak mungkin. Selama ia bertemu perempuan selain ibu, nenek dan kakak perempuannya ia tidak pernah gagal memesona para gadis dengan senyuman itu. Ia menghembuskan napas, tercengang.
“Ini benar-benar aneh. Kenapa dia tidak terpesona? Mengapa dia tidak menyukaiku? Ya Tuhan, apa yang salah denganku? I’m cool, I have a style, and I’m genius. Kenapa dia tidak tertarik padaku?” Kibum berdebat dengan dirinya sendiri. Nada suaranya bingung bercampur histeris. Ini seperti percobaan yang sudah jelas hasil akhirnya tetapi ternyata di tengah jalan muncul variabel tidak terduga yang membuat hasil eksperimen yang seharusnya sama menjadi berbeda.

Artinya, hanya ada satu kesimpulan. Ada sesuatu yang salah dengan gadis itu.

“Ya, gadis monster.!!!” Kibum lekas mengejar Suzy untuk membenarkan hipotesanya.

Oh God, kenapa dia mengikutiku?!” Suzy tidak suka karena Kibum mengekorinya. Pria itu tidak juga lost feeling padanya? Ia sudah menunjukkan secara terang-terangan ketidaksukaannya pada pria itu. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti seperti ada seseorang yang menekan tombol pause pada tubuhnya.

Kibum berhenti melangkah saat sadar Suzy mematung. “Kenapa?” tanyanya heran. Suzy menatap ke depan tanpa berkedip. Pemandangan yang tak terduga sedang terjadi di depan matanya. Ketika Kibum ikut menoleh ke arah yang membuat gadis itu terpaku, ia meringis.

Tak jauh dari hadapan mereka, tepatnya di tempat parkir area perbelanjaan itu Donghae sedang bersiap untuk menaiki motornya. Di belakang pria itu duduk seorang gadis cantik, memeluk pinggangnya dengan mesra. Siapapun yang melihat pasti akan menyimpulkan hubungan mereka bukanlah kakak-adik. Jelas mereka adalah sepasang kekasih. Mereka bersiap pergi.

Dan pemandangan itu sudah membuat Suzy syok.

“Si-siapa gadis itu?” lirih Suzy tidak percaya. Ia tidak ingin menyimpulkan sembarangan, tetapi mengapa hatinya justru berpikir bahwa gadis itu memiliki hubungan spesial dengan Donghae?

“Oh, gadis itu. Dia Jessica, pacarnya Donghae. Ah, rupanya hubungan mereka masih bertahan hingga sekarang.” Ucap Kibum santai tanpa tahu bahwa kata-katanya barusan Suzy tercengang. Hatinya bagai dihantam batu yang membuatnya hancur berkeping-keping.

“Bohong!!”

“Untuk apa aku berbohong. Mereka memang berpacaran sejak tiga bulan lalu!” Kibum berkata polos. Wajah Suzy langsung pucat pasi.
“Jadi benar,” bisik gadis itu gamang. Kibum memanggil Donghae lalu melambai-lambaikan tangan ketika pria itu menoleh padanya. Donghae hanya tersenyum singkat lalu memakai helmnya. Pria itu sepertinya tidak menyadari ada Suzy di samping Kibum karena Suzy tidak melihat mata Donghae meliriknya. Ia hanya melongo seperti orang tolol, hatinya patah mengetahui lelaki yang ia cintai telah dimiliki gadis lain.

Oh tidak!

Sekujur tubuhnya langsung lemas karena perang batin dalam dirinya. Otaknya berteriak kencang untuk tidak mempercayainya sementara hatinya berseru bahwa itu adalah kenyataan. Ia hampir terkulai lemah di atas trotoar jika Kibum tidak lekas menahan pinggangnya.
“Kau tidak apa-apa?”

Pertanyaan itu seperti tamparan bagi Suzy dan meledaklah tangisannya. Donghae sudah memiliki kekasih, pantas saja sekeras apapun ia mencoba menarik perhatian pria itu tak pernah ada respon. Rupanya, hati yang ingin ia curi adalah properti milik orang lain? Tidak, tidak, tidak.

Awalnya Kibum hanya mengeryitkan kening melihat Suzy merengut sedih, tetapi ketika ia melihat gadis itu terisak, lalu menangis kencang ia langsung diserang kepanikan yang membuatnya lepas kendali.
“Hei, jangan menangis, jebal..” bisiknya panik. Ia bergerak ke sana kemari dengan wajah histeris seolah Suzy sedang sekarat. Tetapi tangisan Suzy semakin kencang, kini terduduk lemas di atas trotoar. Orang-orang mulai memperhatikan mereka.

Apa yang harus kulakukan? Kibum kehilangan akal. Otaknya selalu tumpul setiap kali ia melihat wanita menangis. Tidak ada lagi Kim Kibum si jenius ketika ia berhadapan dengan airmata wanita. Entahlah, itu semacam penyakit yang ia idap sejak kejadian itu. Ia selalu mendapati dirinya panik tanpa sebab saat wanita manapun menangis di depannya.

Suzy melihatnya bingung, meskipun ia masih menangis.
“Ah!!” ia berseru gembira ketika menemukan saputangan di salah satu saku jaketnya. Ia buru-buru berjongkok lalu menyerahkan saputangan itu pada Suzy.
“Terima kasih.” Suzy menerima itu lalu menghapus airmatanya. Tangisannya sedikit mereda. Kibum membantunya berdiri.
“Kenapa kau menangis hanya karena melihat Donghae bersama seorang gadis? Kau tidak mungkin cemburu bukan, kau tidak mungkin menyukai Donghae bukan?”

Ketika ia menyadari Suzy tercengang lalu menangis kembali, Kibum tahu ucapannya memukul hati gadis itu dengan telak. Kibum mengerang panik. Berbagai perasaan bercampur baur dalam dirinya. Cemburu, sedih, dan tidak tega.
Oh please baby, jangan menangis.” Kibum semakin panik. Ia bingung harus melakukan apa lagi agar Suzy berhenti menangis.
Suzy terisak kecil, ia memandang Kibum dengan heran. “Aku yang menangis, kenapa kau yang panik?”

Kibum mengusap tengkuknya, tiba-tiba ia merasa canggung. “Maaf, sejak dulu aku paling tidak bisa melihat perempuan menangis.”
“Hah?” Suzy terkejut. Kekagetan itu membuat tangisannya berhenti.
“Jangan pandang aku seperti itu!” gerutu Kibum dengan pipi tersipu. Ia tahu ini sangat memalukan tetapi haruskah Suzy menatapnya tanpa mengedipkan mata?

Suzy mengerjapkan mata tersadar. Sejenak sakit hatinya terlupa berkat pengakuan Kibum. Ia tidak tahu pria playboy sepertinya tidak bisa melihat perempuan menangis. Ia kira tak ada yang lebih disukai Kibum di dunia ini selain membuat para wanita menangis dengan kelakuannya.
“Jadi, kau menyukai Lee Donghae?” ucap Kibum. Ia lebih memilih mengajukan pertanyaan menyakitkan daripada harus membahas kelemahan dirinya yang baru saja ia akui.

Ekspresi Suzy kembali meredup. Sebelum menjawab ia menghela napas, “Aku memang menyukainya sejak hari pertamaku di Royal President.”
“Ow.” Kibum terkejut dengan suara mengambang, “Kejutan yang tak kusangka.” Ia lalu memandang Suzy, “Kukira kau menyukai Kyuhyun.”

“Cih, pria sombong dan angkuh seperti itu bukanlah tipeku! Lagipula Jiyeon menyukainya!” Suzy berteriak. Kenapa semua orang selalu menyangkut pautkan dirinya dengan Kyuhyun? Sedikitpun tak ada rasa terhadap pria arogan itu. “Aku lebih menyukai tipe pria seperti Lee Donghae. Dia gigih, baik dan..” tiba-tiba ia teringat pemandangan mengerikan tadi, ketika gadis itu memeluk pinggang Donghae dari belakang dengan mesra, astaga..tenggorokannya kembali sakit.
“Apa aku terlalu bodoh, tak pernah terlintas sedikit pun di pikiranku Donghae memiliki kekasih. Kenapa aku tidak pernah memperkirakannya?” Suzy menepuk kepalanya sendiri. Ia mengerang. Hatinya yang hancur semakin hancur saja. Lebih baik ia diberi peringatan lebih dulu daripada harus melihatnya secara langsung tanpa persiapan.

Kibum menggertakkan gigi melihat Suzy seperti ini. Entah apa yang membuatnya kesal. Apa ia tidak suka mendengar Suzy menyukai Donghae? “Kau memang bodoh!” serunya kejam.
“Apa?!!!”
“Apa gunanya menyukai pria seperti Donghae? Dia itu tipikal pria yang dingin, sulit dimengerti dan tidak peka dengan perasaan orang. Dan dia tidak akan menyukai gadis monster sepertimu! Kau seharusnya menyukai pria yang lebih pintar, lebih tampan, dan lebih populer sepertiku!”

Suzy tersinggung. Ia kesal karena Kibum mengatainya bodoh, ia juga kesal karena Kibum telah menjelek-jelekkan Donghae. Tetapi entah kenapa ia tidak memiliki kuasa lagi untuk membantah. Ia justru merasa kian terpuruk.

“Kata-katamu kejam sekali.” Suzy merengut, airmata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia merasakan tangan Kibum melingkari bahunya. Kali ini Suzy tidak merasa marah, tetapi ia bisa merasakan perlindungan Kibum untuknya. Ini benar-benar aneh.
“Tapi Donghae jauuuuh lebih bodoh. Kau tahu kenapa?” Bisik Kibum lembut di telinganya, membuat Suzy menoleh. Ketika pandangan mereka bertemu, pria itu tersenyum manis. “Karena dia tidak menyadari bahwa ada satu gadis cantik yang menyukainya.” Dengan jemarinya Kibum menghapus sisa-sisa airmata di pipi Suzy.

Mungkinkah ini sisi lembut Kibum yang membuat para wanita menyukainya? Suzy terpaku. Kalau begitu ia tidak akan menyalahkan para gadis yang mengaguminya. Karena berkat kata-katanya, rasa sakit di hati Suzy sedikit berkurang. Ia tertawa kecil, ia meninju bahu Kibum pelan.
“Kau benar-benar seorang perayu! Berhenti bercanda denganku.”
Bukannya kesal Kibum justru tertawa puas, “Akhirnya aku melihat senyummu lagi.”

Tawa Suzy sedikit menghilang. Jadi Kibum melakukan ini untuk membuatnya tersenyum?

—o0o—

Suzy termenung di perpustakaan. Jika pada hari biasanya di jam istirahat seperti ini ia selalu berkumpul bersama Jiyeon dan Yoona, kali ini ia ingin menenangkan diri dari keterkejutannya setelah mengetahui Donghae memiliki kekasih. Sebelumnya ia selalu mencibir setiap gadis yang mendadak menjadi sangat bodoh, tenggelam dalam kesedihan karena patah hati. Namun sekarang ia paham mengapa para gadis yang patah hati menjadi seseorang yang berbeda. Patah hati benar-benar menguras perasaan dan tenaganya. Membuat pikirannya pusing dan kehilangan selera makan. Karena itu Suzy memilih perpustakaan, tepat yang paling tepat karena tidak banyak orang yang datang ke tempat ini.

“Donghae memiliki kekasih, Donghae memiliki kekasih.” Suzy terus merapal kalimat itu tanpa sadar. Pandangannya kosong menerawang ke depan. Buku Sejarah Korea yang terbuka di atas meja di depannya terabaikan begitu saja.
“Ya, dia memang memiliki kekasih.”

Suzy langsung tersentak dari lamunannya dan saat ia mengedipkan mata ia baru menyadari Kim Kibum duduk di seberangnya. Memamerkan senyum tak berdosa dengan tangan menopang dagu. Tatapan pria itu tertuju intens padanya. Suzy gusar karena ia merasa seperti tengah ditelanjangi oleh pria itu dengan tatapannya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?!” ujarnya sengit dengan nada tinggi.
Kibum meringis, menyadari teriakan Suzy membuat para penghuni perpustakaan lain melirik pada mereka. “Sssttt… ini perpustakaan ingat? Kau tidak boleh berisik di sini.” Bisiknya pelan sambil meletakkan jari telunjuk di bibir, menyuruh Suzy berhenti berteriak dan memelotinya.

Suzy yang terlanjur kesal langsung menutup bukunya yang tebal dengan keras, membuat Kibum terperanjat kaget. Ia lalu menghempaskan buku dengan keras ke atas meja, Kibum kembali terkejut. Tanpa berkata apa-apapun apalagi menatapnya. Suzy melenggang pergi.

Kibum terperangah tak percaya melihat tingkah ajaib Suzy. Ia bersungut-sungut sambil menatap heran gadis monster itu, “Jinjja, dia benar-benar abnormal! Bagaimana bisa dia tidak terpesona padaku? Apa karena wajahku kurang tampan.” Ia terdiam, lalu tertawa sendiri, “Itu mustahil!” ia mengibaskan tangannya merasa pikiran itu sungguh melantur. Orang buta pun tahu dia tampan. Lalu kenapa Suzy tidak terpesona ketika dia mengerahkan seluruh kemampuannya merayu wanita? Hingga saat ini ia masih bingung menemukan jawabannya. Ia langsung mencegat salah satu gadis yang melintas di dekatnya lalu bertanya dengan nada serius.

“Menurutmu aku tampan tidak?”

Gadis itu langsung menganga. Ia terkejut sekaligus terkesima karena pertama kalinya salah seorang Prince of School bertanya padanya. Dan Kibum baru saja mengajukan pertanyaan retorik padanya. Siapapun yang lihatnya pasti akan berkata pria itu sangat sangat sangat tampan.
“Ne,” dia mengangguk seperti robot, terpukau karena Kibum langsung mengeluarkan senyuman mautnya.
“Terima kasih, kau sangat membantu.” Kibum lalu pergi mengejar Suzy. “Benar bukan, artinya memang dia yang abnormal!” gerutu Kibum. Ia bergegas meninggalkan perpustakaan.

Gadis yang tadi dicegatnya menatapnya dengan mulut menganga, lalu jatuh terduduk di lantai karena tenaganya habis tersedot oleh pesona Kibum.

—o0o—

Kibum berjalan cepat mencari Suzy yang telah menghilang entah kemana. Tetapi di tengah pencariannya, ia justru bertemu dengan Donghae yang sedang mendribble bola basket di lapangan. Ah, kebetulan sekali. Ada yang ingin ia katakan.
“Lee Donghae!” teriak Kibum sambil menghampirinya. Donghae berhenti bermain sejenak. Ia mengusap keringatnya ketika Kibum sudah berdiri di sampingnya.
“Ada apa?”
“Aku hanya penasaran bagaimana hubunganmu dengan Jessica.”
“Baik-baik saja.” ucapnya datar. Kibum kemarin melihatnya bersama Jessica, karena itu ia hanya bisa berkata bahwa hubungannya biasa saja.

Oh tidak, sebenarnya buruk sekali karena ia merasa jahat telah mempermainkan perasaan Jessica yang mencintainya sementara dirinya tidak.

Kibum tersenyum, tidak begitu memperhatikan ekspresi Donghae. Dengan tenangnya ia berkata, “Kau tahu, ada seseorang yang menyukaimu.”
Donghae tidak terkejut mendengarnya. Setiap saat ia mendengar hal itu dari beberapa perempuan yang sengaja mengajaknya bicara. Tetapi karena pernyataan itu keluar dari mulut Kibum, ia penasaran juga. “Siapa?”
“Gadis yang kemarin bersamaku.” Ucap Kibum dengan senyum lebar tanpa menyadari bahwa kemarin Donghae tidak memperhatikan Suzy yang berdiri di sampingnya. Donghae justru berpikir gadis yang kemarin bersama Kibum adalah Yoona. Pria itu mengerjapkan mata mengetahui Yoona menyukainya. Benarkah?
Donghae langsung memandang Kibum dengan alis terangkat sebelah, “Kau serius?”
Of course. Sekarang dia sedang patah hati ketika tahu kau sudah memiliki kekasih.” Kibum berpikir Donghae sepaham dengannya. Ternyata tidak.

Kini Donghae dibuat berpikir. Bukankah Yoona baru saja patah hati karena hubungannya dengan kekasihnya berakhir buruk? Tetapi kenapa tiba-tiba Kibum mengatakan Yoona menyukainya. Apa Yoona sudah putus dengan kekasihnya. Ia benar-benar kebingungan.

“Bukannya dia sudah memiliki kekasih?” tanya Donghae bingung. Ia tidak paham kenapa tiba-tiba Yoona patah hati karena mengetahui dirinya berpacaran dengan Jessica?

“Apa???” kini Kibum yang kaget. Suzy sudah memiliki pacar? Kapan, siapa? Kenapa ia tidak tahu sementara Donghae tahu? Ia harus menanyakannya langsung pada gadis itu untuk mendapatkan jawabannya. Ketika ia menoleh ke arah luar lapangan, ia terkesiap melihat Yoona melintas dengan satu pot tanaman bunga di tangannya.

“Oi, Yoona…” panggil Kibum girang. Ia sejenak meninggalkan Donghae untuk menghampiri Yoona. Donghae memperhatikan dari jauh. Ia penasaran bagaimana reaksi Yoona ketika melihatnya. Apa betul gadis itu patah hati karena dirinya? Ia tidak begitu mendengar apa pembicaraan mereka. Ia hanya bisa menebak Kibum sedang bertanya lalu Yoona menjawab dengan senyum ramah khas miliknya. Ketika gadis itu menoleh padanya, ia mengerjap karena Yoona langsung memalingkan pandangan. Meski hanya sekilas, tetapi Donghae bersumpah melihat kedua pipi gadis itu merona. Astaga, apa benar?

Ketika Kibum kembali ke sisinya, Donghae langsung mendengus. Ia merasa marah tanpa sebab.

“Kalian tampak akrab. Kenapa tidak kalian saja yang berpacaran untuk menyembuhkan patah hatinya?” ucap Donghae sambil berlalu. Ia tidak suka Kibum bisa akrab dengan Yoona sementara ia tidak.

Kibum merengut bingung, “Apa maksudmu Lee Donghae???”

—o0o—

Yoona tidak ingin menatap Donghae terutama setelah percakapan di rumah pria itu tempo hari. Ia merasa malu karena Donghae menemukan dirinya dalam kondisi paling menyedihkan. Itulah yang membuatnya tidak sanggup memandang Donghae dan selalu malu jika harus bertatapan dengan pria itu. ia berjalan secepat mungkin menuju green house untuk meletakkan pot bunga hortensia yang harus ia beri pupuk.

Ketika ia tiba di pelataran green house yang rimbun dengan berbagai tumbuhan, ia mengerjapkan mata karena Suzy berada di sana. Duduk di salah satu kursi kosong tempat ia biasa istirahat setelah selesai mengurus tumbuhan-tumbuhan di sana. Ia menyadari gadis itu tidak segembira biasanya. Apa gerangan yang terjadi?

Suzy benar-benar ingin menenangkan diri tetapi kenapa Kibum tidak membiarkannya dengan pikirannya sendiri? Pria itu benar-benar menyebalkan. Ia kesal, ia ingin marah, tetapi tak ada tenaga untuk berteriak seperti biasanya. Yang terjadi justru setitik airmata jatuh di pipinya.

Astaga, sudah berapa kali ia menangis karena patah hati? Haruskah ia menjadi orang bodoh seperti gadis kebanyakan?
Seseorang memberikan saputangan, Suzy mengambilnya dengan senang hati. Ia tahu siapa yang berdiri di depannya tanpa perlu mendongak. Hanya Yoona yang akan berkeliaran di sekolah ini sambil memeluk pot bunga. Terlebih green house adalah daerah kekuasaannya.

“Sedih? Kenapa?” tanya Yoona seraya duduk di sampingnya. Ia telah meletakkan pot itu di atas rak bersama jejeran pot bunga yang lain.
“Patah hati.”
Yoona terkejut. “Kenapa? Apa kau melihat Donghae berjalan dengan seorang gadis?”
“Bukan hanya seorang gadis, tapi kekasihnya.” Suzy mengusap dengan kasar lelehan ingus di hidungnya. “Pria itu sudah memiliki kekasih, kenapa aku sampai tidak mengetahuinya?” tangisannya kembali meledak.
“Aku turut prihatin,” Yoona langsung memeluknya. Ia membiarkan Suzy menangis di pelukannya. Ia terkejut sekaligus menyesal. Jika ia tahu Donghae sudah memiliki kekasih, ia pasti bisa memperingatkan Suzy sejak awal. Ia tidak akan menyuruh Suzy berhenti menangis. Ia akan membiarkannya karena hanya inilah satu-satunya cara untuk melepaskan seluruh ganjalan dalam hati Suzy.

Hari ini Suzy benar-benar bertingkah seperti gadis bodoh. Ia terus mengingatkan diri bahwa laki-laki tidak hanya Lee Donghae. Tetapi akan sulit jika ia memiliki perasaan terhadap pria itu. Sepertinya ia harus belajar untuk tidak meremehkan dampak dari patah hati.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kondisi matanya yang membengkak pada ibunya. Ia yakin ibunya pasti akan bertanya-tanya. Jika dia sampai tahu bahwa putri sulungnya sedang patah hati, entah hal heboh apa yang akan dilakukan ibunya. Ia akan diceramahi macam-macam hingga tengah malam karena telah melalaikan tugasnya sebagai pelajar dan malah main-main dengan sesuatu yang belum saatnya seperti, jatuh cinta.

“Ketemu kau!”

Lagi-lagi Suzy terperanjat ketika Kibum muncul di depannya. Kali ini pria itu berkacak pinggang dengan senyum mencurigakan di bibirnya.
“Mau apa kau!” tegur Suzy bingung. Entah kenapa ia merasa Kibum akan menculiknya.
“Jangan banyak bicara, ikut aku!!” tiba-tiba dan tanpa persiapan tangannya direnggut pria itu lalu ia diseret pergi.
“Ya, pria gila! Kau akan membawaku kemana?” Suzy meronta. Masih dengan senyum misterius pria itu menoleh padanya.
“Aku akan membawamu ke tempat dimana kau bisa tersenyum kembali. Karena kau sudah menangis di depanku, aku merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan senyummu lagi.”

Apa? Suzy terperanjat mendengarnya. Tanpa bisa melawan ia membiarkan dirinya ditarik paksa oleh Kim Kibum.

~~~TBC~~~

229 thoughts on “School in Love [Chapter 10]

  1. Ah…. Aku tahu sekarang….
    ini dia yang sebenarnya…
    Kyuhyun-Jiyeon
    Kibum-Suzy
    Donghae-Yoona…
    bener gak Kak Dha? hehhe

    Ntahlah… Aku suka ceritanya tapi karakternya gak mendukung… Maaf ya kak… bagiku rating untuk FF ini kurang… ~_~
    I love IMTBB so much! sama SD serries…!

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s