School in Love [Chapter 9]

Tittle : School in Love Chapter 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship, romance

 

Main Cast :
Im Yoona | Lee Donghae | Park Jiyeon | Cho Kyuhyun | Bae Suzy | Kim Kibum

Dha’s Speech :
Di sini menceritakan tentang Love story Yoona ama Jiyeon. Happy reading ^_^

School in Love by Dha Khanzaki 6

====o0o====

CHAPTER 9

Why did not you come?

SETELAH kejadian hari itu perubahan suasana terjadi dengan jelas di antara Kibum dan Yoona. Mereka terlihat akrab, terlebih karena keduanya berada di kelas yang sama. Dua orang itu kerap kali terlihat bersama di dalam kelas, membuat teman-teman sekelas mereka curiga sekaligus kecewa. Para penggemar wanita Kibum mengira pangerannya dan Yoona telah menjalin hubungan. Padahal apa yang mereka bicarakan setiap kali bersama bukan sesuatu yang romantis. Semua tentang pelajaran bela diri yang akan Kibum dalami dari Yoona.

Banyak fans Kibum yang menyayangkan hal itu. Memang tidak ada satupun yang berani protes karena mereka justru merasa Yoona pantas sekali bersanding dengan Kibum. Selain cantik dan pintar, gadis itu juga berasal dari keluarga kaya. Keluarga Im adalah penguasa di sektor pertambangan.

Ketika jam istirahat tiba, Kibum menyempatkan diri menghampiri Yoona saat gadis itu akan keluar kelas. Donghae dan Kyuhyun berpandangan heran melihatnya.
“Kapan latihan kita dimulai?” bisiknya pelan dengan nada rahasia. Yoona sudah memperingatkannya agar berkata dengan suara pelan bila mereka sedang membahas tentang latihan beladiri itu. Gadis itu tidak ingin siapapun tahu tentang kemampuannya. Orang lain yang melihatnya dari jauh akan berpikir Kibum sedang membisikkan kata cinta yang mesra.

“Akhir pekan ini, deal?”

Deal.” Kibum tersenyum. Ia lalu membiarkan Yoona pergi. Ketika ia kembali ke samping teman-temannya, mereka tanpa ragu menginterogasinya dengan sederet pertanyaan bernada penasaran.
“Sejak kapan kau akrab dengan Yoona?” Tanya Kyuhyun.
“Sejak kemarin.”
“Kau berpacaran dengannya?” Tanya Donghae.

Kibum menatap Donghae kaget, “Calm down, aku tidak berpacaran dengannya.” Ia tertawa menyadari Donghae menatapnya seolah siap membunuhnya. Pria itu mendesah.
“Hanya bertanya.” Dia lalu mendahului Kyuhyun meninggalkan ruang kelas Platinum itu.
“Dia berbeda sejak hari minggu kemarin.” Ujar Kyuhyun.
“Aku juga berpikir sama. Apa yang sudah terjadi?” mereka berpandangan selama beberapa saat lalu mengendikkan bahu setelah memutuskan bahwa percuma saja menduga-duga karena Donghae tidak akan pernah mengatakan masalahnya.

—o0o—

Ketiga gadis itu duduk di kantin dalam kondisi serupa. Murung. Jiyeon melamun menatap ponselnya, Suzy terus-menerus mengacak rambut setiap kali ia teringat pada kata-kata menghakimi yang diucapkannya pada Donghae sementara Yoona, terdiam karena hal lain.
“Apa yang membuat kalian lesu?” tanya Suzy pelan.
“Aku sudah menyinggung perasaan Kyuhyun.” Jiyeon menjawab dengan suara senada.
“Sama denganku. Bagaimana denganmu, Yoon?”
“Apa?” Yoona tersentak, “Tidak ada, aku hanya sedih melihat kalian sedih.”
Yoona memutuskan untuk menyembunyikan kejadian tempo hari dari kedua sahabatnya. Dia tidak ingin ada orang lain yang tahu mengenai kemampuan beladirinya. Cukup Kibum saja.

Dering ponsel menggema kencang, membuat ketiganya terperanjat dan terlepas sejenak dari acara bermurung ria. Entah ponsel siapa yang berbunyi karena mereka bertiga sengaja mengeset ringtone yang sama. Mereka mengangkat secara bersamaan.
Yeobseo,” seru mereka bersamaan.
“Iya.” Jawab Yoona. Jiyeon dan Suzy menyadari ponsel mereka tidak berdering, yang berbunyi adalah milik Yoona. Keduanya mendengus dengan kompak lalu sama-sama sibuk kembali dalam renungan mereka. Siapapun dari mereka tidak menyadari ekspresi Yoona yang berubah pucat karena seseorang yang kini berbicara dengannya di telepon.

Kau gembira minggu lalu berkencan dengan pria lain?” suara dingin Taecyeon mengejutkan Yoona. Tak perlu bertanya untuk tahu siapa yang dimaksud kekasihnya itu. Ia hanya tidak menyangka Taecyeon melihatnya bersama-sama Kibum kemarin dan pria itu salah paham. Jika memang mencurigainya kenapa tidak menghampirinya saja untuk meminta kepastian.

“Aku tidak berkencan, kau salah paham.” Ucap Yoona segera. Kepanikan dari suaranya menyadarkan Suzy dan Jiyeon dari lamunannya. Mereka memandang Yoona dengan raut bingung bercampur penasaran. Pasti terjadi sesuatu.

Salah paham? Aku tidak buta, Yoon. Dan aku tidak mugkin salah mengenalimu dan bagaimana perlakuanmu terhadap pria itu tempo hari. Kau berpegangan tangan dengannya, kau bahkan menyentuh wajahnya. Siapapun yang melihat pasti akan berasumsi sama sepertiku.” jelas Taecyeon kesal.

Yoona menggeleng. Taecyeon jelas salah paham. Kemarin ia memegang wajah Kibum untuk mengobati luka kecil di pelipis pria itu dan ia memegang tangannya pun untuk alasan yang sama. Tidak ada momen mesra apapun. Mereka justru diliputi ketegangan karena baru saja terbebas dari gerombolan pria berandal yang berencana mencelakai mereka.

“Aku bisa menjelaskannya, sungguh tidak ada apapun. Aku akan menuggumu di taman kota pulang sekolah nanti. Akan kujelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” ia tidak bisa mengatakan detilnya di telepon. Ia harus bertemu Taecyeon lansung agar semua masalah bisa selesai dengan cepat dan mereka tidak perlu bertengkar. Ia benci pertengkaran.

Tanpa menjawab apa-apa, Taecyeon langsung memutus sambungan. Yoona mendesah berat lalu mengurut pelipisnya. Masalah yang datang silih berganti membuat kepalanya terasa lebih berat.
“Yoon, apa semuanya baik-baik saja.” tanya Suzy cemas.
“Sesuatu terjadi?” Jiyeon penasaran.
Yoona menggeleng lemah, “Taecyeon, dia marah dan menuduhku berselingkuh dengan Kibum.”
Mwo, itu jelas tuduhan tak berperikemanusiaan. Yoona kita tidak mungkin berselingkuh.” Komentar Suzy.
“Dia tidak percaya karena dia melihat sendiri kami bersama hari minggu kemarin.”
“Tidak terjadi apapun di antara kau dan Kibum bukan?” tanya Jiyeon.
Yoona menggeleng, “Tidak ada apapun yang terjadi.” ia tersenyum kepada kedua teman-temannya yang jelas sekali mencemaskannya.
“Kalian tenang saja. Aku akan bertemu dengannya hari ini. Kuharap hubungan kami bisa kembali normal setelah ini.”

—o0o—

Sesuai janji, sepulang sekolah Yoona menunggu Taecyeon di taman kota. Ia akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan kenyataan bahwa tidak ada hubungan apapun antara dirinya dan Kibum selain teman. Setelah itu ia harap Taecyeon akan paham dan hubungan mereka kembali membaik.
Yoona menunggu dengan sabar. Ia berdoa dalam hati agar kekasihnya itu bisa segera tiba.

Satu detik… satu menit… satu jam… Taecyeon tak kunjung terlihat. Ia memandang sekeliling berharap bisa menemukan pria itu. Namun Taecyeon tidak tampak di mana pun.

Awan mendung mulai berkumpul. Beberapa saat kemudian air hujan mulai menetes dan perlahan-lahan jatuh semakin deras. Semua orang berlarian mencari tempat berteduh kecuali Yoona. Ia tetap bersikukuh di tempatnya berdiri, tetap setia menunggu kedatangan Taecyeon. Hujan turun semakin deras dan Yoona tetap tidak mau beranjak.
“Kenapa kau lama sekali?”

Hati kecil dan rapuh Yoona terluka. Sudah selama ini ia menunggu kenapa kekasihnya itu tidak kunjung datang? Setengah jam pertama ia berpikir mungkin Taecyeon sedang dalam perjalanan kemari dan akan segera tiba. Tetapi setelah satu jam berlalu pria itu tidak kunjung menampakkan diri, ia mulai kecewa. Apakah pria itu benar-benar marah dan berniat menghukumnya dengan tidak datang! Oh, betapa kejamnya. Ia hanya ingin menjelaskan semuanya agar tidak ada kesalahpahaman lagi di antara mereka.

Sudah satu jam setengah lebih ia menunggu, baru ia berpikir. Mungkin benar Taecyeon tidak akan datang.

“Yoona…” seseorang memanggil. Yoona tersentak senang dengan senyum lebar. Ah, itu pasti Taecyeon! Sambil mendesah lega ia menoleh ke arah asal suara namun sesaat kemudian senyum lebarnya lenyap ketika ia menyadari sosok yang berdiri di depannya bukanlah Taecyeon melainkan Lee Donghae.

“Kau…” kekecewaan tak bisa ia sembunyikan lagi. Yoona menundukkan kepalanya sejenak untuk menahan rasa sedih yang tiba-tiba menyengat matanya.

“Kenapa kau membiarkan dirimu terguyur hujan?” tanya Donghae sambil memayunginya. Yoona menemukan seraut ekspresi cemas di wajah Donghae. Kenapa, kenapa di saat kondisinya menyedihkan seperti ini kenapa harus Donghae yang menemukannya? Ia sadar tidak bisa menahan gejolak emosinya lagi. Airmata itu jatuh begitu saja. Ia membiarkan dirinya menangis di hadapan Donghae.
“Apa yang terjadi?” Donghae membelalak bingung. Apa kemunculannya yang membuat Yoona menangis atau karena hal lain? Kekhawatirannya bertambah. “Tempat tinggalku hanya berjarak beberapa blok dari sini. Kau bisa menenangkan dirimu di sana.”

Yoona yang tidak sanggup lagi berkomentar pasrah saja ketika Donghae menggiringnya ke tempat pemuda itu tinggal.

Rumah Donghae adalah rumah berlantai dua dengan dinding yang didominasi cat warna putih. Bergaya modern dengan jendela-jendela besar yang memungkinkan penghematan penggunaan listrik di siang hari serta dipercantik dengan penataan halaman ala taman-taman di Inggris. Garasi yang terletak di bagian bawah bangunan rumah cukup luas sehingga bisa menampung dua mobil dan satu truk ukuran sedang. Tidak begitu mewah, namun siapapun yang melihat rumah itu akan berpikir itu adalah tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali. Rumah itu terletak di ketinggian sehingga tampak mencolok di antara rumah lain di kompleks perumahan itu.

Donghae meminta Yoona duduk di kursi tinggi yang ada di depan meja bar yang menjadi pembatas antara dapur dan ruang makan. Masih tersisa isakan kecil ketika Donghae kembali dengan selembar handuk kering di tangannya.

“Keringkan tubuhmu dengan ini.” Yoona mengambil handuk itu sambil menggumamkan terima kasih lalu terlebih dahulu menyeka wajahnya yang basah oleh campuran airmata dan air hujan.

“Maaf aku tidak memiliki baju ganti untuk wanita. Di rumah ini tidak ada perempuan kecuali Bibi Hong. Tetapi dia tidak meninggalkan pakaiannya di sini.” Donghae mengangkat bahu tak peduli ketika ia menyinggung soal pengurus rumah tangga di rumah itu, “Jika kau tidak keberatan memakai bajuku aku bersedia meminjamkan.”

Yoona sebenarnya ingin menolak dengan beberapa alasan. Pertama karena ia tidak enak hati telah merepotkan Donghae dan yang kedua Yoona tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa ketika kelak ia  mengembalikan baju itu padanya. Tetapi sebelum ia mengeluarkan komentar Donghae sudah berbalik menaiki tangga lalu kembali membawa baju untuknya.

“Kau bisa memakai kamar mandi di dekat kamar tamu. Sebaiknya kau mandi air hangat agar tidak sakit.” sarannya sambil menunjuk ke arah kamar yang dimaksud. Yoona menerimanya dengan perasaan bercampur. Ia tidak bisa menolak lagi karena ia memang harus mengganti baju setelah hujan membuat seluruh tubuh dan pakaiannya basah kuyup. “Maaf, sudah merepotkanmu.” Gumamnya. Tangisannya sudah benar-benar berhenti.
“Tidak masalah.”

Setelah mandi air hangat ia merasa lebih segar. Ia keluar dari kamar itu dengan benak yang didominasi oleh rasa malu. Ia memakai kaus putih bergambar tokoh kartun Snoopy dan celana kargo warna hitam dengan motif tentara. Pakaian itu tampak menenggelamkan tubuhnya karena ukurannya yang terlalu besar untuk ukurannya. Yoona sampai harus menggulung lengan kausnya agar tidak terlihat aneh. Ia bertanya-tanya apa yang akan Donghae pikirkan ketika melihatnya dalam pakaian seperti ini?

Ketika kembali ke ruang makan ia menemukan Donghae sedang menata dua mangkuk sup di atas meja. Pria itu tersenyum ketika melihatnya berdiri di sana dengan tubuh kaku.
“Oh, kebetulan kau datang. Aku sudah membuatkan sup jagung untukmu. Cocok untuk menghangatkan perutmu setelah kehujanan.”

“Apa?” Yoona terperanjat. Setelah menolongnya, mengizinkannya ikut mandi dan meminjamkan baju Donghae bahkan membuatkannya makanan? “Kau tidak perlu melakukannya. Semua yang kau lakukan tadi sudah lebih dari cukup.” Ungkap Yoona tidak enak hati.
“Tapi aku ingin melakukannya.” Donghae berkata santai. Tanpa menghiraukan ekspresi Yoona ia menarik kursi lalu duduk. “Ayo duduklah. Aku membawa beberapa bahan untuk sup dari swalayan dan berniat membuat sup ketika bertemu denganmu. Karena itu kau tidak perlu merasa tidak enak hati dan nikmatilah.”

Senyum ramah Donghae membuat hati Yoona hangat dan ia merasa kurang ajar jika terus menolak. Akhirnya ia memutuskan duduk. Donghae menikmati supnya dengan santai. Yoona ikut mencicipinya dan ia terkejut mengetahui rasanya begitu lezat.
“Wow, sup ini enak. Aku tidak menyangka seseorang sepertimu pintar memasak.” Kagumnya. Ia yang wanita saja belum tentu bisa memasak sup seenak ini.
“Seseorang sepertiku?” Donghae mengangkat alisnya, tersinggung.
“Kau tidak terlihat seperti seseorang yang terampil dengan peralatan dapur.” Lanjut Yoona. “Kau lebih cocok dengan imagemu sebagai pemain basket yang tidak peduli apapun dan gigih. Jika aku mengatakan ini pada teman-teman di kelas pasti mereka mengira aku gila.” Yoona tertawa sendiri dengan ucapannya.

Donghae tertegun menatap tawa itu. Yoona memiliki tawa yang mampu membuat waktu seperti terhenti untuk sementara. Ia bahkan tidak sadar dirinya tenggelam dalam lamunan jika gadis itu tidak mengajukan pertanyaan padanya.
“Kau tinggal sendiri di rumah sebesar ini?”
“Tidak. Ada Paman Han dan anak lelakinya. Tetapi sekarang paman sedang sibuk mengurusi bisnisnya dan Jaehoon sedang mengikuti wisata sekolahnya ke Pulau Jeju.”
“Apa pekerjaan pamanmu?”
“Kau tahu SunriseMart? Pamanku pemiliknya. Sekarang dia sedang pergi ke Incheon untuk mengurusi cabangnya yang akan diresmikan seminggu lagi.”

Yoona bergumam takjub. SunriseMart adalah swalayan besar sekelas dengan Carrefour. Sejauh ini sudah memiliki tujuh cabang yang tersebar di Korea dan Jepang. Ia baru tahu pemiliknya adalah paman Donghae.

“Sebenarnya di sini aku hanya menumpang tinggal.”
“Menumpang?” Yoona kaget. “Kau tidak tinggal bersama orangtuamu?”
Donghae tidak langsung menjawab. Dilihat dari sorot matanya yang meredup, Yoona sadar ia telah salah mengajukan pertanyaan.
“Aku hanya tidak bisa.” Ujar Donghae santai dengan resmi menutup pembicaraan tentang orangtuanya.
“Maaf, aku terlalu lancang.” Yoona menyesal.

Suasana menjadi sedikit lebih kaku. Yoona memilih menikmati supnya karena Donghae tidak berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba Donghae teringat sesuatu, “Kenapa tadi kau membiarkan dirimu basah kuyup? Untuk menghilangkan stress?”

Yoona langsung tersedak. Pertanyaan itu mengingatkannya kembali pada rasa sakit ketika ia tahu Taecyeon tidak datang. Pria itu tidak mau memdengarkan cerita darinya. Pria itu sudah tidak mempercayainya lagi. Dengan raut wajah meredup, Yoona menggeleng lemah.
“Lalu kenapa? Untuk bermain-main?”
Yoona menggeleng lagi.
“Kau tidak mungkin sedang menunggu sesorang, bukan?” ujar Donghae setengah bercanda. Namun kali ini Yoona mengangguk. Donghae terperanjat melihatnya. Yang benar saja!
“Kau menunggu seseorang sampai rela tubuhmu sendiri basah kuyup?” tanya Donghae tidak percaya.

Yoona mengangguk lagi. Eskpresinya semakin mendung. Donghae bisa merasakan kesedihan itu hanya melihat ekspresinya saja, “Siapapun yang kautunggu pasti memiliki arti yang sangat penting bagimu.”

Yoona terdiam. Memiliki arti penting? Astaga, ia tidak tahu jawabannya. Apa Taecyeon baginya adalah seseorang yang sangat penting? Ia mengangkat kepalanya. Ketika pandangan mereka bertemu, Donghae mengerjap melihat begitu banyak luka di mata gadis itu.
“Apakah menurutmu bila ada seorang gadis yang meminta kekasihnya untuk datang menemuinya itu hal yang berlebihan?” lirihnya dengan suara pelan.
Of course not.” Sahut Donghae sambil menggertakkan gigi. Ia menahan emosi. Tiba-tiba ia ingin sekali menghajar siapapun yang sudah membuat Yoona seperti ini.

“Apakah karena gadis itu melakukan kesalahan, maka kekasihnya berhak memberikan hukuman padanya dengan tidak datang, itu tindakan yang benar?”
“Tentu tidak.”
“Di saat gadis itu ingin memberikan penjelasan padanya untuk memperbaiki kesalahpahaman di antara mereka kekasihnya tetap memutuskan tidak datang. Apakah itu baik?”

Donghae tertegun mendengar serentetan pertanyaan itu. Ia menyimpulkan bahwa seseorang yang tengah ditunggunya adalah kekasihnya. Pria itu memutuskan tidak datang karena untuk menghukum Yoona yang telah melakukan kesalahan. Pria itu tidak datang di saat Yoona ingin menjelaskan segala sesuatu untuk memperbaiki hubungan mereka. Dasar pria bejat! Donghae mengepalkan erat tangannya. Jika ia bertemu pria itu lagi ia akan menghajarnya. Ia menatap Yoona yang menunggu jawabannya.

“Dia tidak serius sejak awal. Jika memang dia peduli padamu, dia akan datang seberapa besar pun dia kesal padamu. Karena seorang laki-laki yang mencintai kekasihnya tidak akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikat gadis yang dicintainya tetap di sisinya. Melihat gadisnya bahagia adalah satu-satunya yang dipikirkannya. Lelaki itu tidak akan pernah mengecewakan kekasihnya terlebih di saat kekasihnya telah memohon dan berusaha menjaga agar hubungan mereka tetap sama.”

Jawaban Donghae telah mematahkan hati Yoona sekaligus menyadarkannya. Detik itu ia tahu bahwa perasaan yang ada dalam hatinya untuk Taecyeon sudah tidak sama lagi sejak perpisahan mereka dulu. kemungkinan ia menerimanya kembali karena merasa itu adalah sebuah kewajiban dan hubungan cinta yang sebenarnya bukan berdasarkan pada kewajiban.

Yoona menarik napas panjang setelah ia menyadari perasaannya sendiri. Sejak awal ia salah memilih menjalin cinta kembali dengan Taecyeon. Ia memandang Donghae, “Kalau begitu bisakah aku meminta sesuatu padamu sebagai seorang lelaki?” tanyanya membuat Donghae mengerjapkan mata. “Jangan pernah kau memaksakan diri bersama gadis yang tidak kau cintai, karena hal itu akan melukai hatinya.”

Donghae langsung teringat pada Jessica Jung, kekasihnya. Ia tidak pernah mencintai gadis yang sudah menjalih hubungan dengannya sejak tiga bulan lalu. Dahulu ia menerima cinta gadis itu hanya karena merasa perlu melakukannya, bukan karena ia tertarik padanya. Apakah gadis itu juga akan terluka seandainya tahu bagaimana isi hatinya yang sebenarnya?

—o0o—

Jiyeon menghembuskan napas panjang ketika ia melihat hujan mengguyur dengan deras ketika ia akan pulang setelah kegiatan ekstrakulikulernya selesai. Ia melirik jam di ponselnya. Sudah hampir makan malam. Jika ia tidak segera pulang siapa yang akan menyiapkan makan malam untuk kakak dan Ayahnya? Mereka pasti akan mengomel sekaligus mencemaskannya jika ia tidak lekas pulang.

Lelah menunggu tanpa melakukan apapun, Jiyeon bermaksud kembali untuk meminjam payung pada Ms. Park, pembimbing klub memasaknya. Ketika melintasi ruang kesenian yang pintunya terbuka lebar, ia melihat Kyuhyun berada di sana. Duduk di depan grand piano yang berada di muka kelas. Sekolah sudah hampir sepi pria itu masih berada di sana?

Kyuhyun tertegun memandangi foto yang menampilkan wajah gadis yang ia rindukan. Akhir-akhir ini entah mengapa ia selalu teringat padanya. Rasa bersalah yang menumpuk di hatinya tidak akan pernah hilang sebelum ia mendapatkan maaf dari gadis itu. Ia hanya perlu mengumpulkan keberanian sebelum mampu datang menemuinya.
“Kyuhyun, kau belum pulang?”

Kyuhyun terkejut mendengar suara seseorang di belakangnya. Ia langsung menjejalkan foto itu ke dalam saku sweatshirt yang dikenakannya. Jiyeon memandangnya heran ketika ia menoleh.
“Ada apa?” tanyanya ketus, terlebih disebabkan karena ia terkejut.
“Tidak ada. Aku hanya penasaran apa yang sedang kau lakukan di sini. Kau bisa memainkan piano?” tanya Jiyeon teringat ucapan Kibum ketika mereka pergi ke konser kemarin.
“Tentu.” Ucapnya acuh tak acuh berharap Jiyeon pergi karena dia ingin sendirian saat ini. Tetapi gadis itu justru mendudukkan diri di sampingnya.
“Aku ingin mendengarnya. Bisakah kau memainkannya sedikit untukku?” pinta Jiyeon sambil tersenyum manis. Kyuhyun ingin sekali berkata tidak namun entah kenapa senyum Jiyeon membuatnya tidak tega untuk menolak.
“Baiklah, hanya sedikit oke.”

Kyuhyun menempatkan jari-jarinya di atas tuts piano lalu mulai memainkannya. Nada-nada yang dihasilkan terdengar sangat merdu. Jiyeon mengagumi cara Kyuhyun memainkan piano. Mengingatkannya mendiang ibunya yang piawai memainkan piano.
“Hebat…” seru Jiyeon sambil bertepuk tangan begitu Kyuhyun selesai memainkannya. Kyuhyun tidak pernah merasa bangga dengan keahliannya yang satu ini, tetapi entah kenapa hari ini ia merasa kursus piano yang ia ikuti ketika ia masih kecil tidak sia-sia.
“Apa kau juga bisa memainkan ini?”
“Sedikit.” Jiyeon lalu mencoba memainkannya sebagaimana ibunya pernah ajarkan dulu. Kyuhyun memperhatikan dengan seksama. Ia tertegun, gaya permainannya, Kyuhyun merasa begitu familiar. Ketika nada berakhir ia bertepuk tangan.
“Bagaimana?” tanya Jiyeon dengan mata berbinar-binar. Ini pertama kalinya ia bermain piano di depan orang lain, terutama pria yang disukainya. Ia sangat bahagia meskipun Kyuhyun hanya menghargainya dengan tepuk tangan biasa.
“Bagus. Mirip sekali dengan permainan Cheon Jihye.”

Jiyeon tiba-tiba menegang, “Kau mengenal Cheon Jihye?”
Kyuhyun mengerjap melihat perubahan drastis dalam ekspresi Jiyeon. Gadis itu kini tercengang seolah ia baru saja mengatakan kalimat terlarang.
“Tentu saja. Beliau pianis terkenal sekaligus guruku. Apa itu masalah untukmu?” Kyuhyun heran. Seharusnya Jiyeon bangga bukan karena kemampuannya disamakan dengan pianis selevel Cheon Jihye. Pianis itu bahkan pernah bermain di sebuah pesta jamuan kenegaraan yang di hadiri presiden dan beberapa delegasi dari luar negeri.
“Dia mendiang ibuku.” Jiyeon mengatakannya dengan suara mengambang. Kyuhyun terperanjat kaget. Ia tak pernah menyangka guru pianonya semasa kecil adalah ibu Park Jiyeon? Ia berhenti ikut kursus sejak usianya sepuluh tahun. Sudah enam tahun lebih ia tidak bertemu dengannya lagi. Ia menatap Jiyeon kembali. Pantas saja ia selalu merasa pernah bertemu dengan Jiyeon. Tentu saja, Jiyeon mewarisi wajah ramah dan senyum menenangkan milik ibunya.

—o0o—

Hari itu Kyuhyun tidak menyangka akhirnya ia akan berkunjung ke rumah Jiyeon juga. Setelah mengetahui fakta bahwa Jiyeon adalah putri gurunya, Kyuhyun ingin sekali mengunjungi rumahnya. Jiyeon tidak menolak. Ia menyambut siapapun yang ingin berkunjung ke rumahnya, terutama para penggemar ibunya.

Jiyeon mengajaknya ke ruangan yang menjadi kebanggan keluarganya. Ruangan itu berisi seluruh penghargaan dan foto-foto Cheon Jihye ketika melangsungkan pertunjukan di berbagai tempat. Serta foto-foto pianis itu bersama beberapa seniman dan publik figur terkenal. Kyuhyun memandang tropi dan beberapa plakat yang terpajang di satu rak kayu dengan perasaan bangga bercampur sedih.
“Aku tidak pernah menyangka ternyata guru telah tiada.” Gumam Kyuhyun lalu memandang Jiyeon yang sejak tadi berdiri di dekat figura besar berisi potret ibunya. “maafkan aku, pasti ucapanku telah mengingatkanmu pada kenangan tidak menyenangkan.”
Jiyeon tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut karena kau adalah murid ibuku.”

Kyuhyun menatap salah satu tropi, ia terkenang masa-masa menyenangkan setiap kali Jihye seonsaengnim berkunjung ke rumahnya untuk mengajarinya teknik-teknik memainkan piano. Ia sungguh mengagumi sosoknya terlebih ketika wanita ramah itu memainkan beberapa lagu klasik dengan cara yang tidak membuatnya mengantuk. Wanita itu sangat baik, ramah, dan menyayanginya.
“Bagiku, Jihye Ssaem sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Ayah dan ibuku sering sekali berpergian ke luar negeri untuk urusan bisnis dan meninggalkanku berdua saja dengan kakak di rumah. Beliau selalu menghiburku dengan musiknya di saat aku kesepian. Karena itu aku sangat menantikan saat-saat beliau datang ke rumah untuk mengajariku dan aku sangat kecewa ketika Ibuku memutuskan untuk menghentikan kursus pianoku.” Kyuhyun muram diakhir kata-katanya. Ia masih tidak mempercayai gurunya telah tiada. Ketika ia mendongak Jiyeon telah berdiri di sampingnya.

“Seperti itulah ibuku, penuh kasih sayang. Beliau selalu berusaha membahagiakan orang lain. Semuanya ia perlakukan sama rata, tak peduli itu anak-anaknya atau muridnya.”

“Aku sangat menginat ucapannya setiap kali beliau menghiburku; ‘Tidak ada orang tua di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya. Mereka berada jauh darimu bukan berarti tidak memikirkanmu. Mereka menginginkan hal terbaik untukmu karena itu mereka pergi jauh bekerja, mencari nafkah untukmu agar kau kelak bisa melakukan apa yang dahulu mereka tidak bisa lakukan’.” Kyuhyun terdiam sejenak, tersenyum.
“Aku mungkin akan membenci orang tuaku jika aku tidak mendengarnya. Tetapi beliau benar, jika orang tuaku tidak bekerja keras, aku tidak akan pernah menyadari bahwa aku jauh lebih beruntung dibandingkan anak-anak lain di luar sana. Karena itu sampai saat ini aku tidak pernah bisa membenci kedua orang tuaku meskipun mereka tidak pernah memberiku kasih sayang seperti yang dilakukan orang tua kebanyakan.”
Jiyeon termenung. Ia tidak tahu harus mengatakan apa untuk merespon ungkapan hati Kyuhyun itu. Jika itu terjadi padanya, ia pasti akan membenci orangtuanya karena lebih memikirkan bisnis dibandingkan anak-anaknya.

Mereka terdiam selama beberapa saat hingga Jiyeon tersadar oleh dering telepon rumahnya. Ia berlari untuk menjawabnya.
“Kediaman keluarga Park, dengan Jiyeon di sini.” Ucap Jiyeon seperti biasa ia menjawab setiap panggilan yang masuk.
“Jiyeon-ah, Appa akan pulang terlambat karena ada kunjungan mendadak dari Dinas Pertanian. Kau tidak perlu menunggu Appa pulang, makanlah lebih dahulu.”
“Heeee?” Jiyeon mengerang. Itu artinya malam ini ia harus makan malam sendiri karena Jungsoo pun beberapa saat yang lalu mengiriminya pesan bahwa akan pulang terlambat karena harus merekap gaji untuk pegawai di restorannya. Wajar saja karena ini sudah masuk akhir bulan.

Jiyeon mendesah lesu. Ia paling tidak suka makan sendiri. Kyuhyun muncul di depannya dengan ekspresi bertanya-tanya.
“Kenapa? Ada masalah?”
Kepalanya menggeleng, “Ayah dan kakakku akan pulang terlambat dan aku akan makan sendirian malam ini.”
Kyuhyun langsung melirik jam tangannya. Astaga, waktu makan malam sudah hampir terlewat dan ia belum pulang. Tapi siapa yang akan mencari? Kakaknya tidak akan repot-repot bertanya seandainya dia tidak menemukan adiknya di kamar. Ayolah, kakaknya bahkan jarang berada di rumah karena sibuk mengurusi Agensi bakatnya. Cho Ahra adalah seorang CEO untuk agensi artis Moon Ent. Belum termasuk agensi besar, tetapi sudah ada beberapa artis terkenal yang berhasil diorbitkan oleh agensi itu.
“Sudah malam, aku harus pulang.” Ujar Kyuhyun.

Jiyeon tersentak, “Kau mau kemana!!!” serunya histeris. Ia mencegah Kyuhyun yang akan pergi, “Bagaimana kalau kau makan malam di sini?” Ah, itu ide yang sangat bagus, pikir Jiyeon dalam hati. Otaknya sungguh brilian.
“Makan di sini? Apa kita akan memesan makanan di luar dan aku tidak suka makanan cepat saji.”
“Kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan memasak.” Jiyeon menyunggingkan senyum gembira melihat Kyuhyun melebarkan mata takjub.
“Kau memasak?”
“Em. Jadi kau bersedia tinggal?”

Kyuhyun terdiam. Ia tak pernah percaya akan ada seorang gadis yang memasak makan malam untuknya karena seluruh gadis yang ia kenal hampir tidak bisa memasak apalagi menyentuh peralatan dapur.
Jiyeon menyuruhnya duduk di salah satu kursi meja makan. Dari tempatnya duduk ia bisa menyaksikan seluruh kegiatan Jiyeon di dapur. Ia mendapati jantungnya berdebar ketika ia melihat Jiyeon memakai apron lalu mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam lemari pendingin. Mungkin ia berlebihan, tetapi menurutnya pemandangan itu sangat menakjubkan. Seorang wanita yang terampil di dapur dan memasak untuk seluruh keluarga. Kyuhyun selalu membayangkan ibunya seperti itu. Tetapi ibunya bahkan tidak pernah memasakkan makan malam untuknya. Dan sekarang ia melihat Jiyeon sedang memasak untuknya. Kyuhyun sadar seperti inilah sosok wanita yang ia impikan menjadi istri masa depannya.
“Bersiaplah, karena Chef Jiyeon akan membuat hidangan makan malam yang spesial untuk tamu spesial.” Seru Jiyeon membuyarkan lamunannya. Gadis itu tersenyum sambil mengangkat spatula. Kyuhyun tersenyum tanpa sadar.
“Aku tidak sabar, chef.” Sahutnya.

Jiyeon memulai dengan memotong sayuran, mencuci beras lalu menyiapkan adonan untuk membuat tempura. Gadis itu bergerak dengan cekatan, luwes, dan santai. Tampak jelas dapur bukan wilayah asing untuknya. Beberapa saat kemudian bau lezat khas masakan yang tengah diolah memenuhi ruangan. Bunyi denting spatula dan wajan yang beradu ketika Jiyeon menumis terdengar menyenangkan. Kyuhyun bahkan suka melihat betapa piawainya saat gadis itu mengangkat wajan untuk mengaduk tumis sayur lalu meletakkannya lagi di atas kompor. Ia benar-benar menikmati pemandangan itu. Jiyeon bahkan tidak memerlukan bantuannya untuk memasak semua makanan itu.

Tak lama kemudian beberapa piring berisi hidangan lezat tertata rapi di atas meja. Kyuhyun berdecak kagum.
“Benar-benar masakan rumahan,” lirihnya tidak bermaksud menyinggung Jiyeon.
“Maaf jika terlalu sederhana. Aku tidak biasa membuat hidangan khas Eropa. Ayah dan kakaku tidak menyukainya.” Ucap Jiyeon menyesal. Ia berpikir di rumah Kyuhyun memiliki seorang chef handal yang selalu menyajikan masakan khas Perancis atau Italia untuknya.
“Tidak apa-apa, karena ini buatan Chef Jiyeon rasanya pasti enak.” Ucap Kyuhyun.
“Kau bahkan belum mencobanya.” Jiyeon tersipu lalu ikut duduk.
“Karena jika tidak enak Ayah dan kakakmu tidak akan memakan masakanmu bukan?”

Kyuhyun benar. Kata-katanya membuat Jiyeon sangat lega sekaligus merasa dihargai. Mereka berdua lalu makan. Di suapan pertama Kyuhyun terpesona karena seperti baunya, rasanya pun tidak mengecewakan. Lezat.
“Sejak kapan kau belajar memasak?” tanyanya penasaran.
“Sejak ibuku meninggal dunia. Seseorang harus memasak atau jika tidak pria-pria di rumah ini akan kelaparan. Mereka terlalu malas dan lebih suka memesan makanan di luar atau tidak makan sama sekali.”
Jiyeon bahkan memikirkan keluarganya, batin Kyuhyun. “Aku yakin kelak kau akan menjadi istri yang baik.”

Gadis itu terkesima, kedua pipinya langsung memerah. Ketika belajar memasak tak pernah terpikir olehnya kelak kemampuan ini akan membuatnya bahagia karena kebanyakan pria yang dikenalnya, tidak terlalu menyukai gadis dengan bau dapur yang melekat di tubuhnya. Itu terjadi pada beberapa pria yang ia sukai menjauhinya saat di SMP dulu. Mereka mengatakan Jiyeon kotor, berbau asap dan tidak menarik karena ia lebih sering berkutat di ruang PKK dibandingkan duduk sambil bergossip seperti yang dilakukan gadis-gadis di kelasnya yang lain.
Saat itu Jiyeon merasa usahanya yang ingin terampil mengolah makanan tidak akan membuat para pria menyukainya. Karena itu ia menekankan pada dirinya sendiri bahwa ia belajar memasak untuk kakak dan Ayahnya.
Sekarang, ia merasa apa yang telah ia lakukan dengan susah payah tidak sia-sia.
Karena di depannya, seorang pria tampan yang memikat hatinya terlihat kagum dengan kemampuannya. Jiyeon sadar ia semakin tenggelam akan perasaan cintanya terhadap Kyuhyun.

Suara pintu depan yang dibuka membuyarkan lamunan Jiyeon. Ketika ia sadar Kyuhyun telah menghabiskan makanannya.
“Sepertinya ada yang datang.”
“Ah, itu pasti Jungsoo Oppa.” Jiyeon langsung bangkit untuk menyambut kakaknya. Benar, Jungsoo muncul dengan wajah lelah. Di bahunya tersampir jaket yang ia kenakan tadi pagi.
“Apa Oppa sudah makan malam? Aku sedang makan bersama temanku. Oppa bisa ikut jika mau.”
“Temanmu tempo hari?” tanyanya sambil melirik ke ruang makan. Ketika mendapati seorang pria duduk di meja makan itu, matanya langsung menyipit. Dengan marah ia menoleh pada adiknya.
“Siapa dia, kenapa kau membawa laki-laki ke rumah ini?” sentaknya. Jiyeon panik, ia lupa Jungsoo tidak menyukai jika dirinya membawa laki-laki ke rumah. Lebih tepatnya dia tidak suka melihat adiknya dekat dengan seorang laki-laki yang tidak jelas asal usulnya.
“Dia Cho Kyuhyun, temanku. Dia salah satu murid Eomma dan datang kemari untuk mengunjunginya.”

Amarah Jungsoo sedikit mereda, tetapi ia tatapan matanya masih tajam. Kyuhyun langsung berdiri ketika pria itu mendekatinya.
“Selamat malam, aku Cho Kyuhyun.” Kyuhyun memperkenalkan dirinya dengan sopan. Bagaimana pun sebagai seorang calon pewaris Cho Foundation ia diajari attitude yang baik ketika bertemu dengan seseorang.
“Jadi kau murid ibuku? Aku tidak pernah melihatmu datang kemari.” Ucapnya penuh selidik. Jelas dia mencurigai Kyuhyun memiliki maksud lain pada adik perempuan satu-satunya yang ia jaga sepenuh hati. Dahulu ibunya memang membuka kursus piano di paviliun terbuka di belakang rumah. Ia ingat wajah setiap anak yang datang ke kursus itu.
“Jihye Ssaem datang ke rumahku setiap akhir pekan. Beliau mengajariku secara privat.”

Jungsoo menaikkan alisnya, hanya ada satu orang yang menyewa ibunya untuk mengajari anaknya secara privat. Cho Hanna dari keluarga Cho. “Oh, anak keluarga Cho. Rupanya itu kau.” Ucapnya. Bagaimana ia tidak sadar sebelumnya. Nama pria ini Cho Kyuhyun.
“Iya, Hyung.” Jungsoo langsung mendelik padanya ketika Kyuhyun menyebutnya ‘Hyung’. Ada apa dengannya? Apa aku telah melakukan sesuatu yang membuatnya membenciku? Pikir Kyuhyun heran.
Oppa, aku akan membawakan makan malam ke kamarmu jika Oppa tidak ingin makan di sini.” Sela Jiyeon sambil menarik Jungsoo menjauh dari Kyuhyun.

“Tidak perlu. Aku sudah makan malam. Lagipula banyak yang harus kukerjakan malam ini. Tapi, kau bisa menyiapkan kudapan untukku.” Jungsoo pergi meninggalkan mereka berdua, menimbulkan pertanyaan dalam benak Kyuhyun.
“Apa aku terlihat menyebalkan karena sepertinya dia membenciku.” ujarnya tak habis pikir.
“Maaf. Oppaku memang seperti itu. Dia selalu mencurigai pria-pria yang kuajak ke rumah ini ataupun yang dekat denganku.”
Kyuhyun mengangguk. Syukurlah jika itu terjadi pada setiap pria yang bersama Jiyeon. Ia sempat berpikir Jungsoo melayangkan tatapan penuh kebencian karena Jiyeon telah bercerita dirinya memberi adiknya banyak kesulitan di sekolah.

—o0o—

Jiyeon mengunjungi kamar Jungsoo setelah Kyuhyun pulang. Ia membawa piring berisi potongan buah dan sandwich serta secangkir teh hijau hangat untuk kakaknya. Pria itu sedang berkutat di depan laptopnya. Rambutnya yang biasanya jatuh menutupi kening ditahan ke belakang oleh bando dengan pita berwarna pink miliknya.
Oppa, kau mencuri aksesoriku lagi.” keluhnya sambil meletakkan kudapan itu di meja tempat kakaknya meletakkan printer.
“Aku tidak mencurinya. Aku menemukan ini di dapur.” Ungkap Jungsoo polos sambil meraih satu potong buah melon lalu menjejalkannya ke mulutnya. “Temanmu sudah pulang?”
“Iya.” Ia diam memandang kakaknya, ia ingin meminta sesuatu dari kakaknya. “Oppa, apa kau masih aktif berlatih di sasana judo milik temanmu?”
“Ya, kenapa?”

Jiyeon mengusap tengkuknya, “Tiba-tiba aku ingin sekali belajar beladiri.”
“Kenapa tiba-tiba?” Jungsoo terkejut mendengar ucapannya karena dahulu setiap kali ia mengajak Jiyeon untuk belajar judo sebagai pertahanan diri, gadis itu menolaknya karena menurutnya seorang gadis yang bisa beladiri itu menyeramkan.
“Untuk berjaga-jaga. Oppa tidak mungkin selalu bersamaku untuk melindungiku bukan, karena itu aku tiba-tiba merasa perlu belajar mempertahankan diriku sendiri seandainya—Ya Tuhan jangan sampai terjadi—ada orang yang berniat buruk padaku.”
Jungsoo mengangguk-angguk, “Baiklah, aku akan mencoba mengatakannya pada temanku. Jika dia setuju menambah murid lagi, kau bisa mulai latihan akhir pekan nanti.”
Jiyeon tak percaya Jungsoo langsung meluluskan keinginannya. “Jinjja, Oppa kau yang terbaik!!!” ia langsung memeluk kakaknya lalu mencium pipinya.
“Aku akan berlatih dengan giat.” Seru Jiyeon lalu pergi diiringi gelengan kepala kakaknya.

Jiyeon menari-nari sepanjang perjalanan menuju dapur. Ia senang sekali karena kelak ia akan memiliki keahlian yang sama seperti Kyuhyun. Kata-kata pria itu telah menginspirasinya untuk mempelajari beladiri juga. Seperti pria itu, dengan belajar beladiri ia bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi dari orang-orang yang berniat jahat.
Kesenangannya terhenti saat ia melihat dapur masih dalam kondisi berantakan, ia harus membereskannya dulu sebelum pergi tidur. Ketika melintasi ruang makan ia melihat sweatshirt Kyuhyun tersampir di kursi yang tadi diduduki pria itu.
Aigoo, kenapa dia bisa meninggalkan ini?” Jiyeon meraihnya. Ia memutuskan untuk mengembalikan ini esok hari. Ia senang karena memiliki alasan untuk menemui Kyuhyun. Saat akan melipatnya, sesuatu terjatuh ke kakinya. Jiyeon melihat selembar foto tergeletak di dekat kakinya. Diraihnya foto itu dan ketika ia mengetahui itu adalah foto seorang perempuan cantik, napasnya seperti terenggut. Siapa wanita dalam foto ini? Kenapa Kyuhyun membawanya kemana-mana?

Saat itu Jiyeon menyadari bahwa ia sedang tersandung batu besar dalam jalannya meraih cinta Kyuhyun.

~~~TBC~~~

232 thoughts on “School in Love [Chapter 9]

  1. Aigoo kyu kayak nya terpesona bgt liat jiyeon masak :^
    Tapi harapan jiyeon musnah karna foto mantan nya kyu
    Bener deh hae naruh cinta ke yoona

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s