School in Love [Chapter 8]

Tittle : School in Love Chapter 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship

Main Cast :
Bae Suzy | Cho Kyuhyun | Park Jiyeon | Lee Donghae | Im Yoona | Kim Kibum

Dha’s Speech :
FF ini memiliki jumlah episode yang panjang. Jadi ikutin alurnya aja yah. Ntar juga jelas kok pasangannya siapa aja. Sekali lagi aku kasih tahu, ini adalah FF dengan tema persahabatan dan kehidupan sekolah dan keenam cast adalah main cast yang masing-masing akan diceritakan latar belakang masalah mereka. Karena aku buat cerita ini waktu masih duduk di bangku SMA *lama banget*, Jadi sesi romantisnya ada part-part hampir ending. Jangan dibash ya, kalau gak suka tekan tombol back atau jadi silent reader aja. ^_^

Happy Reading

School in Love by Dha Khanzaki 5

====CHAPTER 8====

Unexpected End Date

KONSER itu selesai beberapa jam kemudian. Mereka yang menggemari musik klasik keluar dengan wajah dipenuhi kepuasan, termasuk Jiyeon dan Donghae.

“Saat mereka mengadakan konser di sini lagi, aku tidak akan melewatkannya.” Seru Jiyeon.

“Aku juga.” sahut Donghae. Suzy yang masih dalam kondisi setengah tidurnya merengut iri pada kedua anak itu. Ia mengeluhkan dirinya sendiri karena tidak bisa menyukai apa yang disukai Donghae. Ia sudah berusaha fokus selama pertunjukan, tetapi bagaimana pun musik klasik di telinganya terdengar seperti lagu pengantar tidur yang membuatnya mudah sekali mengantuk. Akhirnya ia jadi tidak bisa berakrab ria dengan Donghae seperti halnya Jiyeon.

“Aku lelah,” keluh Suzy seraya memijat tengkuk.
“Kita bisa istirahat dulu.” Kibum menjawab. Suzy melemparkan pandangan tidak sukanya. Ia masih marah pada dirinya sendiri karena membiarkan kepalanya bersandar pada bahu Kibum selama ia tertidur. Betapa malunya ia ketika terbangun langsung bertatapan dengan wajah menyebalkannya yang menampilkan senyuman penuh kemenangan.
“Kalau begitu aku pergi duluan.” Kata Kyuhyun memecah keheningan.

Jiyeon terkejut mendengarnya.

“Kau akan pergi kemana?” tanya Donghae kaget, mendahului Jiyeon.
“Ada sesuatu yang harus kuurus.” Sebenarnya Kyuhyun bosan setengah mati dan ia ingin melarikan diri dari tempat menyebalkan ini. Tidak akan ada yang bisa mencegahnya pergi di saat ia sudah memutuskan. Jiyeon menganga melihat Kyuhyun membalikkan diri lalu berjalan pergi begitu saja.

“Ya, tunggu!” Suzy berteriak, menyuruh Kyuhyun berhenti. Pria itu memejamkan mata kesal lalu berhenti melangkah.
“Apa!” bentaknya kesal ketika Suzy berlari menariknya mendekati teman-temannya kembali.

Suzy sadar harus melakukan sesuatu ketika melihat Jiyeon sedih karena Kyuhyun pergi begitu saja.
“Lepaskan tanganku, gadis tengik!” Kyuhyun menarik tangannya dari pegangan Suzy. Pria itu mendengus sebal tetapi tidak bisa memprotes karena gadis itu melotot padanya. Suzy tersenyum pada teman-temannya yang lain.

“Begini, aku mempunyai ide bagus. Kyuhyun, kau ingin pergi bukan? Bagaimana jika Jiyeon menemanimu?” Jiyeon terkejut mendengarnya, “Aku akan tetap di sini bersama Donghae dan yang lainnya. Kau setuju bukan, Jiyeon-ah?” Suzy memandangnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata, ia memberikan semacam kode agar Jiyeon lekas mengangguk setuju. Jiyeon yang paham dengan akal muslihat Suzy langsung mengangguk.
“Aku tidak keberatan.” Sahut Jiyeon, ia merasa gugup karena dihujani tatapan tajam Kyuhyun secara langsung. Lagi-lagi pria itu memberikan pandangan yang membuatnya merasa seperti objek penelitian.

“Bagus!” Suzy berseru.
“Aku tidak bilang—“
“Kalau begitu silakan kalian pergi!” Suzy menyela kata-kata Kyuhyun. Pria itu langsung protes. Kapan sih gadis ini mau mendengarkannya?
“Ya!!!”
“Sudah sana pergi.” ia mendorong punggung Kyuhyun menjauh lalu menyuruh Jiyeon pergi menyusulnya. Gadis itu tersenyum lebar lalu berbisik, “Terima kasih banyak,” pada Suzy.
Good luck,” Suzy balas berbisik sambil mengedipkan mata lalu melambaikan tangannya pada Jiyeon dan Kyuhyun yang melenggang pergi. Ia begitu puas melihat mereka bisa bersama.

“Sebenarnya aku juga harus pergi. Ada tempat yang akan kukunjungi,” Ucap Donghae, kali ini mengagetkan Suzy.
“Aku ikut!” seru Suzy. Ia langsung ambil langkah seribu, mengikuti Donghae dari belakang. Pria itu tidak keberatan sama sekali.

“Tunggu dulu, kalian kenapa pergi!” seru Kibum tercengang karena ia ditinggal sendiri. Ia mematung seperti orang bodoh di tempat itu, “Karena Kyuhyun pergi bersama Jiyeon, dan Donghae bersama Suzy. Berarti yang tersisa…” Kibum menengok berharap tebakannya salah. Ia memejamkan matanya pasrah ketika menemukan Yoona, satu-satunya yang tersisa di sana. Gadis itu sejak tadi diam hanya mengamati. Kibum bukannya tidak mau bersama gadis secantik Yoona, tetapi Yoona adalah jenis gadis yang dihindari oleh Kibum karena terlalu sulit untuk didekati—tidak seperti gadis pada umumnya—dan sepertinya tidak tertarik pada jenis pria sepertinya. Tetapi kenapa sekarang ia harus terjebak bersama gadis seperti Yoona?

“Apa kau tetap ingin berada di sini?” tanya Yoona, tanpa ada kecanggungan sedikitpun sementara Kibum justru yang merasa kikuk.
“Oh, kalau begitu…ayo.” Ia mempersilakan Yoona untuk jalan lebih dulu. Gadis itu menundukkan kepalanya sopan lalu berjalan mendahuluinya dengan langkah anggun bak putri.

Di luar dugaan, hari itu mereka pergi berpasangan menuju tujuan yang berbeda. Kibum menoleh sebentar ke belakang, ke arah Donghae dan Kyuhyun pergi. Ia mendesah lalu mencoba menyejajarkan langkahnya dengan langkah Yoona.

—o0o—

Termasuk kejadian langka Kibum pergi bersama Yoona. Selama perjalanan mereka saling mendiamkan diri. Mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Kibum adalah tipikal pria yang senang menebar pesona terutama pada gadis cantik semacam Yoona. Tetapi kali ini Kibum terlihat kikuk dan kehilangan kemampuannya dalam hal rayu-merayu wanita.
“Aneh bukan.” Kibum akhirnya mampu membuka pembicaraan juga. Ia mengeluarkan tawa yang terdengar aneh.
“Aneh bagaimana maksudmu?” Yoona menoleh bingung.
“Kita. Kita tidak pernah berjalan berdua seperti ini bukan?”
“Tidak.”
“Aku juga berpikir begitu.” Seru Kibum sambil menepukkan tangan.

Bodoh, pikir Yoona. Antara bingung dan lucu. Prince of School yang terkenal playboy ternyata bisa gugup seperti ini juga. Aneh. Yoona tersenyum sendiri.
“Kenapa kau tersenyum? Apa ada sesuatu yang tampak menggelikan di sini?”
Yoona menggelengkan kepala, “Tidak ada.”

Melihat Yoona tertawa Kibum pun ikut tertawa. Ia baru menyadari betapa menggelikan tingkahnya sejak tadi. Perlahan-lahan kecanggungan yang ia rasakan memudar. Ia seharusnya tahu Yoona bukanlah tipikal gadis yang akan memelototinya seperti kakak perempuannya.
“Maaf karena sudah bertingkah menyebalkan.”
“Tidak apa-apa. Aku hanya heran, kau yang biasanya selalu percaya diri bisa kehilangan jati diri juga.”
“Itu karena aku bersama gadis yang sangat cantik.” Kibum mengedipkan mata tidak bermaksud merayu sama sekali. Sekarang barulah Yoona melihat Kim Kibum yang ia kenal.
“Rupanya si narsis dan perayu Kim Kibum telah kembali.” Canda gadis itu membuat mereka sama-sama tertawa.

Percakapan mereka terhenti oleh sesuatu yang tidak terduga. Sekumpulan anak berandalan mendekat ketika mereka berdua melintasi jalan yang sepi itu. Yoona terkejut melihat mereka semua. Apa yang akan mereka lakukan?
“Teman-teman, kita menemukan pasangan kekasih yang sedang berkencan. Sepertinya menyenangkan jika kita ganggu mereka.” salah satu dari mereka berkata. Sepertinya dia yang menjadi ketua.
“Mau apa kalian?” Tegur Kibum geram ketika salah satu dari mereka mendekat. Ia langsung menghadang jalannya dan menempatkan Yoona di belakangnya.
“Berlagak menjadi pahlawan rupanya agar bisa mendapat pujian dari kekasihmu.” Seru orang itu meremehkan. Ekspresinya sungguh menyebalkan. Yoona bersembunyi di belakang Kibum dengan perasaan was-was.

Kibum tidak menjawab, cukup memasang raut tegas penuh rasa permusuhan dengan harapan mereka akan takut. Tetapi ternyata tidak. Sang pemimpin preman itu justru mendekat karena tertarik pada Yoona.
“Sepertinya aku mengenalmu…” ucapnya sambil mengulurkan tangan hendak meraih Yoona. Kibum langsung menepis tangan itu bersamaan dengan jerit ketakutan Yoona.
“Berani mendekat aku tidak akan melepaskan kalian.” Ancam Kibum sambil menatap tajam pria yang mengaduh kesakitan di depannya.
Pria itu menggeram penuh dendam lalu maju mendekati Kibum.
“Aku bilang jangan mendekat!!!” Kibum menatapnya nyalang.
“Minggir kau, jangan berlagak hebat di depanku!” Pria itu mengarahkan tinju padanya.

BRAKK!!!

Detik berikutnya seseorang terlempar jatuh. Yoona terkejut. Teman-teman berandalan itu pun terkejut karena yang kini terkapar di tanah bukanlah Kibum, melainkan preman bertubuh besar itu.

Kibum berdiri di hadapannya dengan dagu terangkat bangga, ia tersenyum penuh kemenangan dengan kedua tangan melipat di depan dada, “Bukan berlagak hebat, tetapi aku memang hebat!!” tegas Kibum, “Dan mengagumkan.” Tambahnya sambil mengerling pada Yoona.

“Kibum, ayo lari!” Yoona tidak memiliki waktu untuk mengagumi. Mereka harus segera menyelamatkan diri. Tetapi terlambat karena teman-teman pria itu telah mengepung mereka. Kibum maju melindungi Yoona, tetapi ia tidak mungkin melawan mereka seorang diri. Ia bisa, tetapi sampai sejauh mana ia bisa bertahan?

Satu orang maju melayangkan tinju dan Kibum masih bisa menghadapinya. “Yoona menjauh!” suruh Kibum. Yoona segera menjauhi arena pertempuran. Kibum sanggup melawan jika mereka maju satu persatu seperti sekarang, tetapi ketika mereka menyerang bersamaan, Kibum mulai kewalahan. Ia tidak bisa melindungi diri dari segala arah. Terlebih ia tidak bisa melindungi Yoona juga. Kibum menyesal karena tidak serius memperhatikan ketika Kyuhyun mengajarinya beberapa teknik pertahanan diri dalam karate.

Yoona berdiri dari jauh dengan perasaan cemas setengah mati. Ia ingin membantu Kibum tetapi ia tidak bisa. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia maju ke arena pertempuran itu? Tidak, bisa timbul masalah yang lebih gawat. Ia terjebak dalam perasaan gundah dan semakin parah ketika melihat Kibum mulai terkena serangan beberapa kali. Tidak, Kibum bisa tumbang dalam beberapa saat lagi jika ia tidak segera bertindak. Yoona memejamkan mata, ia mengepalkan kedua tangan erat lalu menarik napas.

Detik itu Im Yoona telah memutuskan untuk masuk ke dalam pertarungan timpang itu.

BRAKKK!!

Kibum berhenti melakukan perlawanan ketika salah seorang dari mereka terlempar jatuh. Ia heran karena ia tidak meninju ataupun menendang orang itu. Ketika orang kedua dan ketiga terjatuh dengan keras ke tanah Kibum barulah menyadari siapa yang telah menyerang mereka. Kedua matanya melebar dan seluruh gerakan tubuhnya benar-benar terhenti. Ia mematung sempurna.

“Yoona…” Kibum tidak percaya dengan matanya sendiri. Apakah ia sedang berhalusinasi atau tidak karena kini ia sedang menyaksikan gadis seanggun Yoona menghajar orang-orang itu dengan jurus-jurus bela diri yang mengagumkan. Entah bela diri apa yang dipakainya. Wushu, karate, atau aikido ia tidak bisa menebaknya. Perlawanan Yoona membuat perhatian orang-orang berandal itu tertuju padanya dan kini Kibum yang terabaikan di sudut arena. Melongo dengan mulut menganga takjub.

Yoona tidak gentar sama sekali ketika gerombolan pria berjumlah sembilan orang itu mengelilinginya. Ia justru telah menunggunya sejak tadi. Ia berdiri tegak dengan pandangan dingin. Tangannya terangkat, menunjukkan gerakan provokatif yang menyuruh mereka untuk maju menyerangnya.

“Majulah, tunjukan kemampuan kalian.” Tantangnya. Mereka berpandangan untuk sesaat karena merasa terintimidasi oleh aura yang dipancarkan oleh sorot mata dingin gadis itu. Kibum menjengit ngeri ketika orang-orang itu dengan bodohnya maju dan melawan Yoona karena detik berikutnya satu persatu dari mereka terkapar di tanah dengan luka di sana-sini.

Yoona menghembuskan napas di akhir pertarungannya, ia menghampiri orang-orang itu, “Masih berani melawan? Aku siap menghajar kalian sekali lagi. Kalian tinggal memilih tujuan akhirnya, rumah sakit atau pemakaman.” Gadis itu mengatakannya dengan nada tenang, tetapi berhasil mengancam berandalan itu. Mereka bergidig takut lalu beringsut bangun dan lari kalang kabut meninggalkannya dan Kibum yang menganggur di luar arena pertandingan.

Setelah keadaan menjadi kondusif seperti semula, barulah ia tersadar atas apa yang telah dilakukannya. Terlebih ketika suara tepuk tangan penuh kekaguman Kibum menusuk telinganya.

Great, Yoon. You were so cool. Darimana kau belajar bela diri secanggih itu? China, Jepang, Thailand, atau…”

Yoona menghela napas berat lalu menyelanya, “Aku ingin kau berjanji padaku. Kau tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun.”
Senyum Kibum langsung lenyap terganti oleh keterkejutan. “Apa? Kenapa?!” serunya kecewa.
Just begging not to tell anyone about this.” Tegas Yoona, jelas tidak ingin menceritakan apapun tentang aksinya tadi.
Okay, but why? Tadi itu sesuatu yang hebat Yoon, bukan hal yang memalukan. Tidak ada alasan untuk menyembunyikannya?”

Yoona mengerang, ia berjalan menjauhi Kibum sambil meremas kepalanya frustasi. “Kau tidak mengerti. Bagiku itu sesuatu yang memalukan dan bagi keluargaku itu adalah sesuatu yang tabu. Aku bisa dibunuh oleh mereka seandainya mereka tahu aku melakukannya lagi hari ini.”
“Lagi?” Kibum menyipit karena ia mencium sesuatu yang mencurigakan tetapi ketika melihat Yoona membelalak, ia memilih mengganti pertanyaan. “Lalu kenapa kau mempelajarinya jika kau tahu itu memalukan bagimu?”
Jebal.” Yoona tahu akan sulit jika si jenius Kibum sudah penasaran. Namun ia benar-benar tidak ingin membahas tentang kemampuannya, “Ini adalah permohonan hidup dan mati.”

Kibum menyerah melihat kesungguhan Yoona, ia mengangkat tangan. “Baiklah. Tapi dengan satu syarat,” ujarnya dihiasi senyum lebar, “Kau harus menjadi pacarku.”
“APA!!!” Yoona terkejut setengah mati. Ia langsung mendekati Kibum sambil menggulung lengan bajunya, ia siap menghajar Kibum kali ini. Pria itu langsung mundur takut menyadari ucapannya telah membuat Yoona marah. Mungkin ia tidak akan menjadi pengecut seandainya ia belum tahu bahwa Yoona adalah seorang master bela diri.
“Oi oi, it’s just a joke. Kau tidak perlu semarah ini.” Kibum mengangkat kedua tangannya seperti penjahat yang menyerah ketika disergap polisi.

Yoona berhenti maju untuk memberinya pelajaran.
“Dengarkan kata-kataku baik-baik,” mata gadis itu menyipit. Baru kali ini Kibum merasa terancam melihat tatapan tajam seorang gadis, terlebih ancaman itu berasal dari gadis seanggun Yoona. Demi Tuhan, ia menganggap Yoona gadis yang anggun, lemah lembut, dan tidak suka hal-hal yang menyangkut kekerasan. Tetapi setelah kejadian tadi pandangannya berputar seratus delapan puluh derajat. Ia menelan ludah menunggu lanjutan ancaman Yoona.

“Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau menjadi pacarmu!” Yoona menunjuk tepat ke hidung Kibum. Pria itu langsung mengangguk patuh.
“Aku mengerti.” Kibum terbata-bata ketika menjawab. Sial, Yoona bahkan lebih menyeramkan dibandingkan Queen Narissa dalam film Enchanted. “Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun, tetapi..”
“Apa lagi?” bentak Yoona tidak sabar. Ia sudah terlanjur menunjukkan jati diri sesungguhnya yang sudah ia jaga mati-matian selama beberapa tahun ini karena itu percuma saja ia menahan diri lagi.

Kibum masih mengerut takut, tetapi ia memberanikan diri berkata dihiasi senyum lebar, “Kau bersedia mengajariku jurus-jurus hebat tadi.”
“Kau pasti bercanda.” Yoona bersedekap, alisnya terangkat sebelah.
“Kali ini aku serius.”
“Untuk apa?”
Kali ini Kibum yang mengerang frustasi, harga dirinya betul-betul terbanting ketika ia mengakui kekalahan yang ia rasakan. Sungguh memalukan bila seorang pria dilindungi oleh wanita, “Kau tidak mengerti. Tentu saja untuk mengatakan pada orang-orang seandainya mereka bertanya apa aku bisa melawan sepuluh orang berandalan sekaligus.”
“Tentu saja kau bisa. Kau sudah melakukannya tadi.”
“Tidak Yoon, kau yang mengalahkan mereka. Ayolah, tidak mungkin bukan aku berkata bahwa aku menghajar mereka memakai rumus matematika. Tidak akan ada yang percaya.” Kibum menegakkan tubuhnya lalu menunjukkan raut serius, “Dan aku tidak ingin menjadi pengecut jika lain kali ada penjahat yang berniat menyakiti orang-orang di sekitarku.”

Yoona terdiam sejenak. Kali ini ia yang mengaku dikalahkan oleh kesungguhan dan tekad di mata Kibum. Ia mengangguk pasrah.
“Baiklah.”
Jinjja? Itu baru hebat.” Kibum berseru gembira. Reflek ia merentangkan tangannya hendak memeluk Yoona namun dengan mudah gadis itu menahan tubuhnya.

“Maaf, aku terbiasa memeluk siapapun saat sedang senang,” ujarnya tersipu. Ia langsung membungkukkan badannya pada Yoona karena hari itu ia menganggap Yoona sebagai masternya. “Mohon bimbingan darimu, master.”
Yoona mendesah kencang, kenapa semuanya berakhir seperti ini?

—o0o—

Sementara itu Jiyeon kewalahan mengikuti Kyuhyun yang berjalan mendahuluinya. Langkah pria itu begitu lebar dan ia hanya setengahnya karena itu Jiyeon agak berlari agar bisa sejajar dengannya.
“Kyuhyun tunggu!” pinta Jiyeon yang semakin tertinggal. Pria itu langsung berhenti sampai hidung Jiyeon menubruk punggungnya.
“Kenapa buru-buru sekali? Apa tempat yang kau tuju begitu jauh? Kalau begitu kenapa tidak naik mobil saja.” keluhnya sambil mengusap hidungnya yang memerah.
“Aku tidak akan kemana-mana.” Kata Kyuhyun tak peduli.
“Lalu kenapa tadi kau pergi?” Jiyeon tak percaya.
“Tempat tadi sungguh membosankan. Aku tidak sabar ingin meninggalkannya sejak satu jam pertama konser berlangsung.”

“Lalu sekarang kita akan kemana?” Jiyeon menoleh ke kanan dan kiri, tidak ada tempat yang bagus selain pertokoan dan gedung perkantoran. Ketika mendongak mencari tempat singgah tiba-tiba perutnya berbunyi. Wajahnya langsung memerah apalagi ia sadar Kyuhyun mendengarnya.
“Nah,” Pria itu berkata tenang, “Sekarang aku memiliki tujuan. Aku akan mencari tempat makan.” Ucap Kyuhyun singkat. Jiyeon tidak bisa menyembunyikan rasa malunya lagi.
“Ayo,” Kyuhyun mengendikkan kepala menyuruh Jiyeon mengikutinya lagi. Dengan langkah tidak seantusias sebelumnya ia mengekor di belakang Kyuhyun.

Jiyeon terperanjat kaget ketika perjalanan mereka berhenti di depan sebuah restoran mewah yang menjadi tempat makan favorit para pasangan untuk menikmati makan malam eksklusif atau tempat bertemunya para ibu-ibu kaum sosialita. Untuk pelajar sepertinya, jelas tempat ini terlalu ‘wah’.
“Kita tidak bisa makan di sini. Tempat ini terlalu mahal untuk kita.” bisik Jiyeon panik karena ia berpikir mereka akan membayar makanan mereka masing-masing. Ia tidak membawa uang sebanyak itu.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Restoran ini milik ibuku.” Jawab Kyuhyun dengan tenangnya. Jiyeon lebih terkejut lagi. Sebelum ia berkomentar Kyuhyun masuk lebih dulu. Terpaksa ia mengikuti Kyuhyun.

Seorang pria berpakaian rapi menyambutnya dengan raut gembira. Dia adalah manager restoran itu, “Tuan Muda, sudah lama Anda tidak datang berkunjung. Saya sangat senang akhirnya Anda datang kembali kemari.”
“Aku dan temanku akan makan siang di sini. Bisakah kau menyiapkannya?” ucap Kyuhyun datar sambil menunjuk Jiyeon yang buru-buru memberi salam.
“Tentu saja. Saya akan menyiapkan menu makan siang kesukaan Anda.”

Pria itu langsung menyuruh pelayan untuk mengantarkannya ke meja kosong yang terletak di sudut ruangan, berdekatan dengan jendela. Jiyeon hanya menganga karena ini pertama kalinya ia melihat indahnya interior restoran itu. Ruangan luas dengan meja dan kursi kayu berukiran klasik yang tertata rapi. Di setiap meja diselimuti kain putih berukir dan vas bunga dengan beberapa tangkai bunga mawar. Penatan sendok, pisau, garpu dan gelas kosong berikut nafkin pun begitu sempurna dan elegan. Akuarium besar yang memisahkan antara ruang satu dan yang lainnya menjadi pemanis yang sempurna.

“Ho, ada ikan Arapaima Gigas!” seru Jiyeon takjub ketika melihat ikan berwarna abu-abu mengilat sepanjang satu meter yang berenang-renang di dalam akuarium itu. Ia lalu memandang Kyuhyun, “Daebak, restoran ibumu memilikinya.” Ia tahu bibit ikan itu saja harganya luar biasa mahal apalagi yang sebesar ini.

Kyuhyun menunjukkan sedikit senyumnya melihat Jiyeon begitu tertarik. “Arapaima di sini masih tergolong muda. Kau akan terkejut jika melihat ikan itu jika sudah tumbuh dewasa.”
“Tentu saja. Panjangnya bisa lebih dari tiga meter. Akuarium ini bisa hancur.” Sahut Jiyeon.
Kyuhyun mengerjapkan mata, “Kau tahu rupanya.”
“Jungsoo Oppa memelihara beberapa di rumah. Ikan-ikan yang masih bayi. Dia sengaja membuat kolam khusus di belakang rumah yang memiliki lebar sepuluh meter. Benar-benar menghabiskan seluruh halaman.”

Kyuhyun mengangguk kagum, ia tersenyum tertular keceriaan gadis itu. “Kau sekali-kali harus berkunjung ke rumahku. Di sana ada Arapaima yang sudah dewasa.”
Apa itu ajakan untuk mengunjungi rumahnya? Jiyeon girang luar biasa,“Kau bahkan memeliharanya di rumah?”
“Ya, salah satu hobi mahal Ayahku.” Ujar Kyuhyun dan ketika mereka tiba di kursi mereka Jiyeon langsung menyerang Kyuhyun dengan pertanyaan lain.
“Wah, kolam di rumahmu pasti sangaaat luas.”
“Em. Kau mungkin bisa menenggelamkan satu lapangan basket di sana.”
Daebak!!!” seru Jiyeon takjub. Mereka lalu tenggelam dalam obrolan seru tentang ikan dan segala hal yang mereka sukai sambil menikmati makan siang mereka. Jiyeon jadi tahu tentang Kyuhyun, apa yang disukainya dan apa yang menjadi minat utamanya. Kyuhyun pun merasa bahagia karena untuk pertama kalinya ia mendapat teman yang benar-benar bisa ia ajak berbagi.

“Kyuhyun.” Seru seseorang menyela obrolan seru mereka. Tidak hanya Kyuhyun yang menengok, tapi Jiyeon juga. Seorang gadis cantik berdiri di hadapan mereka, melambaikan tangan dengan anggun. Siapa gadis ini? Jiyeon mendadak merasakan firasat buruk.

—o0o—

Suzy sempat membayangkan Donghae akan mengajaknya ke tempat yang menakjubkan. Angan-angan tingginya itu harus meletus ketika mereka tiba di sebuah toko besar yang khusus menjual segala macam alat untuk berolahraga.
“Kau ingin membeli apa? Bola basket?” tanya Suzy polos.
“Kau akan mengetahuinya di dalam nanti.”
Dahinya langsung mengerut. Di benaknya kini terbayang-bayang benda apa saja yang kemungkinan dibeli Donghae. Tentu saja sesuatu yang berkaitan dengan basket. Ia harap benda yang dibeli bukan untuk kekasihnya. Tidak, Donghae tidak mungkin memiliki kekasih. Yoona tidak pernah mengatakan apapun tentang itu.

Toko itu besar dan luas. Suzy bisa menemukan berbagai peralatan untuk menunjang aktivitas olahraga. Bahkan ia menemukan nunchaku di sana. Penasaran, ia mengambil benda yang sering digunakan Bruce Lee saat bertarung itu lalu memainkannya sedikit. Ia geli sendiri saat memeragakan beberapa jurus yang tampak konyol. Gerakannya langsung berhenti ketika ia sadar Donghae memerhatikannya dengan alis terangkat sejak tadi. Pipinya memanas karena malu.

“Aku hanya menguji kelayakan benda ini.” ucapnya kikuk lalu meletakkan benda itu ke raknya semula. Ketika melihat Donghae pergi sambil menahan senyum Suzy bersumpah tidak akan pernah menyentuh benda itu lagi atau menonton film dengan nunchaku di dalamnya. Tingkahnya tadi sangat sangat sangat sangat memalukan.

Seseorang menghampiri Donghae ketika pria itu memilih sesuatu di bagian souvenir. “Kau benar-benar seorang pemain, dude. Gadis yang kau bawa tempo hari berbeda dengan hari ini. Apa dia pacar keduamu?” ledeknya sambil menepuk pundak Donghae main-main. Pria itu tersenyum dengan kepala menggeleng.
“Bukan. Dia bukan pacarku.”
“Kau tak perlu malu. Aku tidak akan menceritakan apapun pada gadismu tempo hari.” bisiknya mengedipkan mata lalu pergi. Donghae tak mengatakan apapun lagi bahkan ketika Suzy menghampirinya dengan raut bertanya-tanya.
“Siapa dia?”
“Teman.” Jawab Donghae ringan.

Mereka berkeliling sebentar. Suzy penasaran apa yang dicari-cari pria itu. Kesempatan ini harus dimanfaatkannya dengan baik untuk mengobrol banyak dengan Lee Donghae.
“Aku penasaran mengapa akhir-akhir ini kau jarang ikut latihan.” kata Suzy tiba-tiba. Donghae menengok dengan raut datar.
“Menurutku basket itu membosankan.”

Suzy terperanjat kaget, “Lalu kenapa kau mengikutinya?”
“Hanya untuk mengisi waktu luang.” Jawabnya acuh tak acuh. Donghae lebih memilih memusatkan perhatiannya pada deretan sepatu olahraga model terbaru. Ia sedang mengira-ngira akan mengambil sepatu mana ketika ia mendengar gumaman Suzy.
“Mustahil…” gadis itu menerawang. Sepertinya pengakuannya benar-benar mengejutkannya.

“Memang alasanku terdengar aneh dan arogan. Tapi bagiku, mempelajari hal yang sudah diketahui itu membosankan.”
“Tapi, tapi, bagaimanapun… kau sudah memutuskan bergabung, bukan. Suka atau tidak, harus tetap latihan. Jika kau tidak ingin mengikuti latihan hanya karena kau tidak mau, itu namanya tidak bertanggungjawab.” Suzy memang tahu kemampuan Donghae begitu hebat meskipun pria itu tidak selalu datang di setiap sesi latihan, dia akan tetap berhasil menyumbangkan banyak poin. Tetapi tetap saja bagi Suzy itu tidak adil.
“Jadi menurutmu aku tidak bertanggung jawab?” tanya Donghae dengan raut tenang yang justru membuat Suzy kalang kabut.
“Aku tidak bermaksud menyebutmu begitu…,”
“Kalau begitu aku tidak pantas menjadi kapten tim basket sekolah kita?”
“Tidak, aku tidak..” Suzy kebingungan menjelaskan maksudnya pada Donghae. Ia hanya ingin mengatakan pada Donghae agar sering datang latihan untuk menghargai anggota lain.
“Lalu bagaimana?”

Suzy diam sejenak untuk menemukan jawaban yang tepat. “Tentu saja kau pantas menjadi kapten tim basket sekolah kita. Kau hebat dalam hal permainan dan memimpin tim agar solid dan kompak…” kalimatnya tersendat-sendat karena otaknya sibuk menyusun kata-kata.
“Sudahlah, kau tidak perlu memaksakan diri. Aku menerima apapun pendapatmu. Jika kau berkata aku tidak pantas bermain basket lagi pun aku akan menerimanya.” Donghae lalu pergi mendahului Suzy yang tercengang.
“Apa kau harus selalu pasrah dengan dirimu sendiri.” seru Suzy kesal. “Aku tidak bisa menjawab tidak berarti aku mengakui kau itu tidak pantas. Sekarang kau yang memutuskan apa kau pantas masih berada di tim basket atau tidak karena hanya kau yang tahu apa yang membuatmu bahagia.”

Ucapan itu sukses membuat Donghae terpaku. Aku harus bisa memutuskan sendiri karena hanya aku yang tahu apa yang membuatku bahagia? Kata-kata itu sungguh menusuk hatinya. Mengingatkannya pada ketidakadilan yang ia terima karena ia tidak bisa memutuskan apapun yang membuatnya bahagia.

—o0o—

Siapa wanita ini? Pikir Jiyeon penasaran, curiga, sekaligus takut. Ia tidak berani menerka-nerka.
Nuna,” seru Kyuhyun heran. Nuna—kakak perempuan Kyuhyun? Kenyataan itu membuatnya lega setengah mati. Ia langsung menghembuskan napas yang sejak tadi ditahannya karena gugup.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kyuhyun bingung. Gadis itu menarik kursi kosong lalu duduk di sana. Tanpa menghiraukan pertanyaan Kyuhyun dia menatap Jiyeon.
“Siapa gadis ini?” tanyanya ramah namun Jiyeon bisa merasakan tatapan penuh selidik itu memindainya dari atas hingga bawah.
“Dia temanku.”
“Teman?” Dia memandang Kyuhyun heran seolah jawaban itu tidak memuaskan hatinya. “Aku pikir dia kekasihmu karena kau tidak pernah mengajak teman wanitamu kemari. Perkenalkan, namaku Cho Ahra. Aku kakak perempuan Kyuhyun, adikku yang manis dan lucu ini–” Ahra dengan gemas mencubit pipi Kyuhyu sampai pria itu mengomel kesal lalu mengulurkan tangan.

“Namaku Park Jiyeon,” dengan malu Jiyeon menjabat tangan itu.
“Kalian teman satu sekolah?” Ahra menopang dagunya, menatap Jiyeon dengan penasaran.
“Iya.” Jawab Jiyeon dengan pipi merona.
How cute,” serunya senang, “Kau tahu, ini pertama kalinya aku melihat Kyuhyun berkencan lagi semenjak kejadian itu.” ucapnya membuat Kyuhyun berhenti makan. Raut wajahnya langsung berubah.

“Berhenti mengatakan hal yang tidak perlu! Sebaiknya kau pergi saja, Nuna.” usir Kyuhyun dengan sengit. Jiyeon terkejut sementara Ahra menanggapinya dengan santai. Gadis itu berdiri lalu mencubit pipinya lagi dengan penuh kasih sayang. Sejak dulu Ahra memang terbiasa memanjakan Kyuhyun. Bahkan hingga Kyuhyun beranjak remaja dia masih memperlakukan adiknya seperti anak balita. Karena itu dia tidak terpengaruh sama sekali dengan sikap kasar Kyuhyun. Malah selalu berhasil mengontrol adiknya.

“Baiklah aku tidak akan mengganggu kencanmu lagi. Uh, adik kecilku sudah dewasa.” Pipi Kyuhyun menjadi sasaran cubitannya lagi. Kyuhyun langsung menepis tangannya dengan raut sebal.
“Kami tidak berkencan!” bentaknya membuat Jiyeon tertawa. Keakraban Kyuhyun dan Ahra mengingatkannya pada hubungannya dengan kakaknya sendiri, Jungsoo.
“Aku pergi dulu, senang bertemu denganmu, Jiyeon-ah.” Ucap Ahra pada Jiyeon. Detik itu Jiyeon langsung menyukai kakak Kyuhyun yang ramah dan menyenangkan. Terutama sikapnya saat memperlakukan Kyuhyun.

“Jangan pedulikan, dia memang seperti itu.” Dengus Kyuhyun. Ia memotong daging tenderloin panggang di piringnya dengan kasar lalu menyuapkan potongan besar itu bulat-bulat ke mulutnya.
Jiyeon menahan tawa melihat Kyuhyun yang tampak kesulitan mengunyah makanannya. “Menurutku, dia seorang kakak yang cantik dan lucu.”

Kyuhyun langsung mencibir, “Tunggu sampai kau melihat tingkah menyebalkannya saat dia sedang berbelanja. Dia benar-benar setan shopping yang membawa bom waktu kemana-mana. Kau akan mendapati dirimu dipermalukan ketika dia dengan histeris menemukan tas model baru yang akan cocok dengan pita yang dipakai Giselle.” Jelas Kyuhyun kesulitan karena mulutnya penuh.
“Giselle?” Jiyeon mengerut bingung.
“Anjing Pomeranian-nya.” Kyuhyun mengangkat bahu tak peduli. Ia lalu meneguk air hingga habis satu gelas.

Jiyeon tiba-tiba teringat kalimat mengganjal hati yang diucapkan Ahra, “Ahra Eonni berkata bahwa ini pertama kalinya kau berkencan setelah kejadian itu. Kejadian apa tepatnya?” tanyanya polos. Ia benar-benar lupa bahwa pertanyaan itu sangat sensitif dan dengan mudah menyinggung perasaan Kyuhyun.
“Itu bukan urusanmu!!” tegas Kyuhyun tajam.
Jiyeon memucat, “Maafkan aku.” Ia tidak berani bertanya lebih lanjut.

Setelah menikmati makan siang itu mereka memutuskan untuk pulang. Kyuhyun mengantarnya meski selama perjalanan mereka saling diam. Jiyeon merasa bersalah, berkali-kali ia mencoba untuk meminta maaf tetapi terhenti di detik terakhir. Akhirnya dengan hati muram ia memutuskan diam hingga tiba di depan rumahnya.

“Terima kasih sudah mengantarku. Apa kau ingin masuk?” tanya Jiyeon sebelum dia turun dari mobil Kyuhyun. Pria itu menggeleng.
“Terima kasih sudah menawarkan tetapi aku tidak bisa.”
“Aku tahu.” cicit Jiyeon murung. Ia membuka pintu itu lalu melompat keluar. Napasnya menghembus lesu ketika ia melihat mobil Kyuhyun pergi. “Aku pulang,” ucapnya lemas ketika ia membuka pintu rumah.
Jungsoo dan Ayahnya sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton acara memancing. Mereka menoleh mengetahui satu-satunya wanita di rumah itu tiba di rumah dengan selamat.
“Kau sudah pulang,” seru Jungsoo.
“Oo..” sahut Jiyeon lemas. Adiknya itu langsung menuju kamarnya. Ia dan Ayahnya langsung saling melempar pandangan heran.
“Kenapa adikmu?”
Molla,” Jungsoo menatap ke arah perginya Jiyeon dengan alis bertautan.

—o0o—

Hari sudah sore ketika Suzy memutuskan untuk berpamitan pulang dengan Donghae. Donghae pada akhirnya hanya membeli wristband hitam dan sarung tangan entah untuk apa. Sejak percakapan itu suasana di antara mereka menjadi sedikit tidak nyaman. Suzy memaki dalam hati. Bagus, singgung saja hatinya agar kau dibenci. Mungkin besok Donghae tidak ingin melihat wajahnya lagi.

“Apa kau ingin kuantar pulang?” tanya Donghae ketika mereka berdiri di tepi jalan dekat halte bus. Suzy tersentak. Jika dalam situasi normal mungkin ia akan mengiyakan dengan segera tetapi sekarang ia justru ingin menghilang dari pandangan Donghae. Ia merasa bersalah pada pria itu karena sifatnya yang tidak bisa menahan diri.

“Tidak perlu. Kakakku akan menjemputku. Aku yakin dia akan sampai tak lama lagi.” dan benar saja, tak lama sebuah mobil BMW M3 coupe putih kakaknya berhenti di dekat Suzy. Gadis itu buru-buru berpamitan.
“Aku duluan.”

Donghae melihat Suzy yang buru-buru pergi dengan pandangan kosong. Gemuruh di hatinya masih belum reda bahkan setelah gadis itu pergi. Kata-katanya memberikan pengaruh besar terhadap suasana hatinya.

Deringan ponsel membuatnya terkesiap sadar. “Yeobseo,” bisiknya pelan. Ia memaksakan seulas senyum mendengar suara seorang gadis di ujung teleponnya.

“Kau sudah tiba? Aku ada toko olahraga OZ.” Ucapnya. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jaket. Berdiri seperti orang bodoh di tempatnya. Ia tidak peduli pada siapapun yang akan datang karena perasaannya tidak akan berubah.

“Donghae-ya!!” seruan manis seorang perempuan menyadarkan Donghae. Pria itu menoleh lalu tersenyum pada sosok cantik yang melambaikan tangan padanya dengan ceria.
“Kau sudah lama menungguku?” tanya gadis itu seraya menggelayut di lengan Donghae dengan manja. Donghae tersenyum samar.
“Tidak.”
“Apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum menonton?”
“Tidak masalah.”
“Kau sangat manis. Kajja.” Donghae membiarkan gadis itu menariknya pergi karena pikirannya sama sekali tidak tertuju pada gadis yang bersamanya.

~~~TBC~~~

233 thoughts on “School in Love [Chapter 8]

  1. yak..yak..yak..yak…tuan lee!!!kau berkencan dg siapa????
    kyuhyun n donghae misterius….cma kibum yg fine2 ja nech
    omooo..omoo yoong???!!!cewek sekalem qmu bsa bela diri???
    woah DAEBAK
    kyakx emang ank2 klaz platinum yg byk nyimpen mslh y??!!
    penasaran…♥♥

  2. Waw kalem2 Yoona jago bela diri, mpe bkin Kibum takjub… hhehhehhe
    Akhirnya ada topik pmbicaraan yg membuat Kyuyeon nyambung, dan Kyu jga mulai bicara bnyak sama Jiyeon wlo akhirnya keadaan sdkit tdak mnyenangkan -_- … semoga lebih bnyak Kyuyeon moment di part2 berikutnya..🙂
    Hae kok gtu sih sama Suzy, dingin, mlah Hae lbh dpet feel nya sama Jiyeon krna pnya ksamaan, Suzy sama Kibum aja mendingan *siapa gue?*, saling melengkapi sifatnya..😀

  3. wkwkwk awalnya kibum mu lindungin yoona ekh malah sebaliknya, kyuhyun masih aja teringat masa lalu. udehlah lem_biru, kan ada jiyeon. suzy mulutnya gax bsa di rem, tpi aku ska sma karakter suzy…

  4. Yoona keren , Luar nya anggun eh ternyata master beladiri😀 Suzy sama Jiyeon kasian._. btw siapa cewek yg jalan sama donghae ?

  5. Yoona kalem2 tp punya kemampuan bela diri ya:v ampe kibum oppa takjub gitu-,- eh si kyuhyun cepet akrab sama jiyeon tp sensitif kalo ngomong soal masa lalunya rempong yoo:v masih penasaran banget sama couple nya:3 maunya suzy sama kyu,tp mau juga sama donghae😀 hahaha si donghae ama siapa tuh?-.- disini kyu sama donghae misterius banget:v wkwkwk

  6. daebak ini akhir dari date mereka benar2 tidak dapat di tebak! terlebih yoona! kibum sepertinya sudah menjadi fanboy yoona haha

  7. wow wow, Yoona si ahli beladiri membuat Kimbum tercengang, Jiyeon yg selalu minta maaf ma Kyu, Suzy mencari perhatian Hae terus, trus spa tu cwe yg ama Hae??

  8. Ngakak ngeliat kibum, bengong” ngeliat yoona ber kelahi, tp kayak nya? kenapa yoona bilang hidup or mati??
    Kyu n Hae punya masalah pribadi kek nya deh!
    Hae itu siapa?? yeoja nya kah??

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s