School in Love [Chapter 7]

Tittle : School in Love Chapter 7
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship, romance

 

Main Cast :
Bae Suzy | Cho Kyuhyun | Park Jiyeon | Im Yoona | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s speech :
Kuharap ceritanya tidak membosankan.

Happy Reading ^_^

School in love3 by Dha Khanzaki

=====CHAPTER 7=====

Triple Date

JIKA ada pilihan untuk menceburkan diri ke dalam danau selain harus menghadapi Kyuhyun dengan hati dan pikiran yang tidak siap, Jiyeon lebih memilih pilihan pertama. Namun di saat Kyuhyun memergokinya dalam kondisi supermemalukan seperti ini ia tidak memiliki pilihan selain menghadapinya. Sambil mengumpulkan segenap keberanian, Jiyeon bangkit. Sesekali ia mengatur napas agar debaran jantungnya yang kacau kembali teratur.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Bukuku terjatuh.” Jiyeon tidak sanggup memandang mata Kyuhyun yang memancarkan pesona mematikan. Matanya jatuh pada pemandangan sepasang sepatu pantofel hitamnya yang memijak lantai.

Kyuhyun mengangkat alisnya sebelah, “Apa kau sedang mengintipku?”
“Apa, tidak. Aku hanya kebetulan lewat. Aku–” Dengan terbata-bata Jiyeon menjelaskan bagaimana ia bisa berakhir di sana. Kyuhyun hanya mengerutkan kening mendengar penjelasan yang dikatakan dengan nada terburu-buru itu.
“Berhenti!” Kyuhyun berteriak ketika ia mulai tidak tahan lagi, “Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Ayo masuk.” ia mengendikkan kepalanya ke dalam lalu pergi begitu saja bahkan sebelum Jiyeon berkata iya.

Gadis itu sempat terbengong-bengong karena tidak bisa mengikuti cara berpikir Kyuhyun. Sungguh kesempatan langka bisa bersama pria itu. Jiyeon memasuki ruangan luas yang diperuntukkan klub karate untuk berlatih. Ketika tiba di dekat Kyuhyun yang sedang menumpuk balok bata itu hingga lima tingkat, mendadak ia meragu. Apa tidak apa-apa ia berada di sini? Bagaimana jika ternyata ia sedang masuk dalam perangkap kelas Platinum yang lain? Ia melirik ke segala arah untuk memastikan di ruangan itu hanya ada mereka berdua.

“Kau tidak perlu khawatir. Tidak ada seorang pun di ruangan ini selain dirimu dan aku.”

Jiyeon tersentak, “Maaf. Apa aku mengganggumu lagi?”

Kyuhyun mendengus mendengar hal itu, “Bisakah kau berhenti meminta maaf? Kau bahkan tidak melakukan kesalahan apapun.”
“Ta-tapi aku takut sikapku mengganggumu.”
“Aku tidak terganggu sama sekali. Baiklah, jika kau tidak ingin ada di sini kau bisa pergi.”
“Tidak, aku ingin berada di sini. Menyenangkan bisa melihatmu latihan.” Gadis itu tersenyum lebar. Kyuhyun mengangguk dan mulai berlatih sendiri sementara Jiyeon menatapnya dihiasi senyum penuh arti.

Kyuhyun tidak tahu kenapa ia membiarkan gadis itu masuk dan melihatnya latihan. Biasanya ia tidak pernah mengizinkan siapapun mengganggunya ketika ia sedang berlatih seorang diri. Kenapa ia merasa Jiyeon memberi pengaruh berbeda terhadap dirinya? Ada sesuatu yang terjadi sejak Jiyeon nekat ‘menembaknya’ dulu. Apa karena segala tindak-tanduk Jiyeon mengingatkannya pada Tiffany?

Brak.

Tanpa di sadari ia meninju tumpukan itu dengan segenap tenaganya hingga terpecah menjadi beberapa bagian. Tidak, Jiyeon SANGAT berbeda dengan Tiffany.
Jiyeon mengedip-ngedipkan bulu matanya melihat perubahan emosi Kyuhyun. Pria itu baru saja menghancurkan balok-balok itu dengan tenaga yang dibubuhi kemarahan. Ekpresinya pun menjadi lebih serius. Apa pikirannya terganggu oleh sesuatu?
“Hei,” Kyuhyun tiba-tiba menoleh padanya, membuatnya terkejut.
Ne,” jawabnya buru-buru.
“Apa kau ingin belajar karate?”

Jiyeon terkejut. Ia tidak mengerti dengan segala hal yang terjadi pada Kyuhyun hari ini. Ia tidak mengenali Kyuhyun yang sekarang sedang di hadapinya. Kenapa ia merasa Kyuhyun berubah? Meski begitu ia tetap mengangguk lalu menghampiri pria itu.

Kyuhyun mengajari berbagai macam teknik dasar karate. Awalnya ia sempat kebingungan, namun hatinya sangat bahagia. Ia takut Kyuhyun akan kasar mengingat sifat pria itu tetapi siapa yang menyangka ternyata Kyuhyun sangat sabar dan lembut ketika mengajarinya. Hari itu Jiyeon menyadari bahwa Kyuhyun sebenarnya berhati baik, hanya saja dia tidak menyukai siapapun yang mengganggu ketenangan hidupnya.

Cara Kyuhyun memperlakukannya hari ini membuat Jiyeon semakin mengaguminya. Ia menemukan sisi menakjubkan Kyuhyun yang lain. Ketika latihan, Kyuhyun terlihat bersinar. Auranya tidak lagi terlihat kelam, melainkah putih cerah seperti sinar mentari. Ia sadar pandangannya tidak pernah lepas sedetik pun dari Kyuhyun.

Kyuhyun bahkan memintanya menunggu ketika mereka telah selesai latihan. Alangkah gembiranya Jiyeon. Menunggu pria itu berganti baju membuat dirinya mengantuk.

Ketika kembali, Kyuhyun menemukan Jiyeon tertidur dengan tubuh bersandar pada dinding. Biasanya ia akan dengan kasar membangunkan siapapun yang tertidur saat ia akan mengunci ruangan ini namun entah kenapa ia tidak tega untuk membangunkannya.
“Hei,” Kyuhyun berbisik lembut padanya, ia berjongkok di samping gadis itu. Jiyeon hanya menggeliat kecil sebagai respon. Sejenak, ia terpaku pada wajah damai Jiyeon saat tertidur. Sesuatu dalam hatinya berdesir saat ia menyadari ada ketertarikan yang aneh saat menatap gadis ini. Ia buru-buru menggelengkan kepala untuk menepis perasaan asing itu.

“Kau memang merepotkan,” gumamnya seraya menatap Jiyeon. Ia memutuskan menggendongnya di punggung lalu membawanya pergi.

—o0o—

Jiyeon merasa seperti tidur di atas awan lembut yang melayang, ketika ia merasa awan yang dinaikinya berguncang hebat, ia langsung tersentak bangun dan menyadari bahwa ia tidak berada di atas awan melainkan di dalam sebuah mobil yang sedang melaju di jalan raya. Dari jendela berkaca kelam langit di luar sana sudah hitam.

“Kau sudah bangun?”

Suara Kyuhyun membuat pandangan Jiyeon teralih padanya. Ia mengerjapkan mata dan baru menyadari dirinya berada di dalam mobil yang sama dengan Kyuhyun.
“Kenapa aku berada di sini?” Jiyeon menyuarakan pertanyaan pertama yang terlintas di otaknya, “Bukankah seharusnya aku berada di ruang latihan karate?”
“Tidak mungkin kau kutinggalkan di tempat itu. Memang kau ingin bermalam di sana?”
“Tapi kau bisa membangunkanku.”

Kyuhyun menatapnya sejenak lalu memalingkan wajah. “Kau tidur terlalu nyenyak. Terpaksa aku membawamu ke mobil. Kau tenang saja, kita sedang dalam perjalanan ke rumahmu.”
Jiyeon melemaskan bahunya. Ia sadar tidak seharusnya bersikap seperti ini setelah Kyuhyun dengan baiknya mempertimbangkan kepentingan dirinya lebih dulu. Kyuhyun sudah berbaik hati membiarkannya tidur, bahkan mengantarnya pulang.
“Terima kasih.”
Kyuhyun menoleh mendengar kata-kata itu. Jiyeon tersenyum lebar padanya.
“Tidak perlu berterima kasih,” bentaknya gugup. Entah kenapa cara Jiyeon tersenyum membuatnya panik. “Kenapa tersenyum? Kau menertawakanku?”

Jiyeon menghentikan senyumannya menyadari Kyuhyun mulai tidak nyaman. Ia sendiri tidak tahu mengapa bibirnya tersenyum. Ia hanya merasa sangat bahagia.
“Aku tidak percaya bisa bersama denganmu sedekat ini. sebulan yang lalu mungkin duduk bersamamu dalam satu mobil hanyalah khayalan belaka. Karena itu aku merasa apa yang terjadi hari ini seperti mimpi.”

Kyuhyun jadi teringat bahwa Jiyeon adalah salah satu dari penggemarnya yang ia diamkan. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia bisa sebaik ini pada seseorang yang tidak disukainya. Padahal sejak kejadian itu ia selalu menutup diri dari gadis-gadis yang mencoba mendekatinya.
“Kau tak perlu khawatir. Ini bukan mimpi.” Jawabnya ketus. Sekarang ia sedikit menyesali keputusannya mengantarkan Jiyeon pulang.
“Aku tahu,” sahut Jiyeon gembira. Kyuhyun mendengus, senyum itu lagi, pikirnya jengkel melihat Jiyeon lagi-lagi menunjukkan senyum yang membuatnya panik. Keadaan kembali tenang beberapa saat kemudian.

Jiyeon melirik Kyuhyun yang terdiam menatap ke arah jalanan di luar sana. Hatinya bergetar melihat ekspresi Kyuhyun yang sendu. Ia penasaran apa yang ada dalam pikiran pria itu sampai membuat wajahnya sedih. Ia harap bukan sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian buruk di masa lalu.

“Bagaimana kau tahu rumahku?” Jiyeon bertanya untuk menghapus raut sedih di wajah Kyuhyun.
“Aku bertanya,” jawabnya pendek. Ia tidak ingin menjelaskan detail tentang ia menelepon Kibum untuk mencari tahu alamat rumah Jiyeon. Gadis itu dengan polosnya mengangguk. Ia sedih menyadari ekspresi Kyuhyun tidak berubah. Sebenarnya apa yang membuatnya sedih?

“Aku memperhatikan kau sangat menyukai karate. Apa ada alasan khusus?”
Tanpa diduga Kyuhyun tercengang mendengar pertanyaannya. Jiyeon tersentak, mungkinkah pertanyaannya berkaitan dengan apa yang sedang dipikirkannya?
“Aku belajar beladiri agar aku bisa melindungi orang-orang yang kusayangi.” Kyuhyun menjawab dengan nada dingin. Pandangannya menerawang ke arah depan, kosong seperti patung tanpa jiwa. Jiyeon tidak berkata apa-apa lagi karena ia sadar dirinya telah mengingatkan Kyuhyun pada kenangan buruk di masa lalu.

—o0o—

Suzy menguap untuk ketiga kalinya meskipun perutnya sudah terisi makanan. Ia menyalahkan pelajaran bahasa inggris yang membuatnya mengantuk setengah mati.
“Kemana yang lain?” dengan mata mengantuk ia melirik jam di ponselnya. Ia sudah mengirimkan pesan singkat pada Jiyeon dan Yoona untuk bertemu di kafetaria sekolah untuk makan siang bersama. Karena lapar ia terpaksa memesan lebih dulu makan siang dan meski makanannya sudah tandas kedua sahabatnya itu belum muncul juga.

“Wah, si gadis monster duduk sendirian rupanya.” Dengan marah Suzy menengok pada manusia bodoh yang sudah memanggilnya dengan julukan sekurang ajar itu. Ia hampir menyembur orang itu saat sadar sang pelaku adalah Kim Kibum. Ia langsung melengos malas.

Ah, SI PLAYBOY lagi, gumam Suzy. Ia memutar bola mata melihat Kibum tersenyum lebar, membuat beberapa gadis menjerit histeris di kafetaria itu.
“Kau tidak bersama teman-temanmu?”
“Apa kau tidak lihat aku sendirian?!” balasnya ketus agar playboy satu ini tidak mengganggunya lagi. Ia bertanya-tanya mengapa Kibum tidak kunjung pergi dania sadar kejutekkannya itu tak membuahkan hasil karena Kibum justru mendudukkan diri di sampingnya.

Kedua matanya langsung membelalak, “Kenapa kau duduk di sini!”
“Aku ingin.” Jawab Kibum innocent.
“Tidak ada yang mengundangmu untuk duduk di sini. Pergi!”
“Kau benar. Aku hanya berinisiatif.”
“Uhh, kau menyebalkan!” Suzy yang merasa kalah debat dengan kesal menarik gelas minumannya lalu meminum isinya hingga setengahnya. Kibum tersenyum penuh kemenangan. Ia senang sekali berhasil membuat gadis monster ini gusar.
“Kibum…” beberapa gadis yang melintas menyapa Kibum dengan gaya centilnya. Suzy memutar bola mata melihat Kibum tersenyum gembira, bahkan sempat melambaikan tangannya. Pria itu tidak sadar sama sekali bahwa tindakannya mengganggu penghuni lain di sampingnya.

“Ya, apa kau tidak menyadari keberadaanmu di sini mengganggu seseorang di sampingmu?” sindir Suzy sinis.
“Oh ya? Siapa?” Kibum memandang ke sekeliling dengan wajah tak berdosa.
Suzy menepuk keningnya sambil menggeram. Jika terus berada di sana, ia yakin otaknya akan meledak karena hipertensi. Lebih baik ia pergi saja mencari tempat lain yang lebih aman.
“Kau akan pergi kemana?” seru Kibum kaget saat melihat Suzy bangkit dengan wajah ditekuk kesal.
“Yang pasti ke tempat dimana tidak ada pengganggu di dalamnya.” Kibum melongo menyaksikan gadis monster itu pergi meninggalkannya dengan langkah menghentak-hentak. Senyum manisnya kemudian terbit setelah Suzy benar-benar menghilang dari pandangan.
“So interesting.”

—o0o—

“Kalian pergi kemana saja, kenapa kalian berada di sini?” tanya Suzy kesal ketika ia menemukan kedua sahabatnya itu sedang duduk berdampingan di kursi dekat perpustakaan. Ia menyadari aura kelam menyelimuti suasana di antara Jiyeon dan Yoona. Kemarahannya hilang seketika berganti kecemasan.
Yoona tampak diam. Senyum indah yang biasa diperlihatkannya kini tidak terlihat. Sesuatu pasti sedang terjadi. Jiyeon duduk di samping Yoona dengan ekspresi sedih.
“Apa yang terjadi? Kau terlihat sedih?” tanyanya khawatir.

Yoona menunduk. Ia sebenarnya tidak ingin membicarakan masalah pribadinya dengan orang lain, tapi bagaimanapun ia tidak kuat memendam perasaan sedih yang sekarang ia rasakan sendirian. Ia membutuhkan teman untuk berbagi. Airmatanya mengucur dengan sendirinya kendati pun ia tidak ingin menangis.
“Taecyeon, dia…”
“Siapa Taecyeon?” Suzy tidak mengenali nama itu.
“Dia mantan pacarku.…”

Meskipun ia tidak sanggup untuk menceritakannya, ia tetap meneruskan ceritanya. Meskipun menyebut namanya saja ia merasa sakit hati, namun ia tetap menyebut nama itu berkali-kali. Yoona menceritakan semuanya pada Suzy dan Jiyeon. Tentang masa lalunya dan Ayahnya. Kedua sahabatnya itu memeluknya, mereka berusaha menguatkannya. Tangisannya terhenti ketika cerita sampai pada Taecyeon yang meneleponnya kemarin malam, memintanya bertemu.

Sebaiknya kau temui saja dia, jika kau memang masih mencintainya.” Ungkap Suzy. Yoona memang tidak mengakui hal itu, tetapi ia merasakan perasaan sayang Yoona untuk Taecyeon masih ada dari ceritanya.
“Aku tidak tahu. Rasanya semuanya lebih kabur setelah kami berpisah.”
“Karena itu untuk memastikan, kau temui saja dia.”
Yoona memandang kedua temannya, “Jika kalian bersedia menemaniku.”

—o0o—

Sesuai janji, Yoona menunggu di sebuah kafe. Sementara Suzy dan Jiyeon mengintip di tempat yang agak jauh dari tempat Yoona duduk. Sebenarnya mereka merasa sedikit tidak nyaman. Mengintip kencan seseorang bukanlah kebiasaan Suzy dan Jiyeon. Tapi untuk Yoona, mereka sanggup melakukannya.
“Ternyata Taecyeon adalah pria yang suka datang terlambat,” bisik Jiyeon. Suzy mengangguk karena setelah lima belas menit mereka menunggu, tak ada seorang pria pun yang menghampiri meja Yoona selain pelayan.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiri meja Yoona. Pria itu memakai seragam sekolah Neul Paran High School, yang merupakan satu-satunya SMU yang patut disamakan dengan Royal President High School. Ekspresi wajah Yoona berubah cerah ketika pria itu duduk di hadapannya. Sudah dipastikan dia adalah Taecyeon.
“Jadi dia Taecyeon? Tampannya…” Jiyeon mendesah penuh kekaguman.
“Ssttt… kau berisik sekali, tidak tahan melihat pria tampan.”

Suzy dan Jiyeon hanya bisa mengamati dari jauh. Mereka tidak bisa mendengar pembicaraan Yoona dan Taecyeon. Cukup lama mereka menunggu, akhirnya selesai juga. Yoona dan Taecyeon berdiri lalu berpelukan sekilas. Taecyeon tampak membisikkan sesuatu pada Yoona setelah itu pergi dengan wajah ceria. Suzy dan Jiyeon buru-buru menghampiri Yoona yang berdiri dengan pipi merona.
“Bagaimana?” tanya Suzy penasaran. Yoona masih diam dengan pikirannya.
“Yoon, aku tidak menyangka Taecyeon benar-benar tampan. Jika kau tidak mau bersamanya aku bersedia menggantikanmu.” Ucap Jiyeon bercanda, ia memandang ke arah perginya pria itu. Tiba-tiba Suzy mencubit pipinya sampai memerah.
“Suzy-ah, Appo!!” Jiyeon mengerang kesakitan.
“Berhenti bercanda. Bukankah kau menyukai Kyuhyun?!” sentak Suzy.

Yoona buru-buru melerai sebelum Suzy dah Jiyeon saling adu argumen.
“Aku baik-baik saja teman-teman. Kalian tahu apa kabar baiknya, aku dan Taecyeon sepakat menjalin hubungan kembali.” Ucap Yoona dengan wajah yang berseri-seri.
“Kau serius!” seru Suzy dan Jiyeon bersamaan. Mereka merapat dengan wajah segembira Yoona. Gadis itu mengangguk malu-malu.
“Aku menyadari masih ada perasaanku untuknya.”
Suzy langsung merangkul bahu Yoona. “Baguslah. Dengan begini masalahmu selesai.”
“Aku turut bahagia untukmu!” Jiyeon memeluk Yoona. Pengunjung lain menatap heran ketiga sahabat yang saling berpelukan itu. Mereka lalu melenggang pergi sambil bernyanyi-nyanyi tidak jelas.

—o0o—

Suzy gembira karena Yoona sudah tidak bersedih lagi. Ia juga senang karena hubungan Jiyeon dan Kyuhyun semakin membaik. Satu-satunya masalah yang belum terselesaikan hanyalah kisah cintanya. Hingga saat ini, ia belum bertemu dengan Donghae. Pria itu tidak datang ke latihan, juga jarang terlihat setiap kali Suzy memberanikan diri melintasi kelas platinum. Kemana perginya pria itu.
Pencariannya bahkan sampai pada ruang kesenian, dimana terdapat grand piano di sana. Tempo hari ia menemukan Donghae bermain piano di sana karena itu ia menebak akan melihat Donghae di sana kali ini. Tetapi dugaannya meleset, ruangan itu kosong. Tak ada seorang pun di dalamnya.
Suzy menggerutu. “Sebenarnya kemana perginya pria itu?”

Jika saja Suzy mau lelah sedikit dengan memutari ruangan itu ia akan menemukan pria yang dicari-carinya. Donghae sedang duduk di bawah pohon di halaman belakang ruang kesenian yang jarang dilalui oleh orang. Pria itu tertidur dibelai oleh udara sejuk dan angin yang bertiup semilir.
Ia terbangun oleh suara biola yang mengalun merdu seiring dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Alunan musik itu terdengar lembut namun mantap, pertanda bahwa siapapun orang yang memainkannya  bukanlah seorang amatir.
Donghae menegakkan posisi duduknya. Dengan wajah mengantuk ia mengedar mencari sumber suara. Ia penasaran siapa yang memainkan biola di tempat sesepi ini.
“Siapa yang memainkan biola di tengah hari begini.” Gumamnya seraya bangkit.

Penasaran, Donghae mencari siapa gerangan yang sudah memainkan untaian nada seindah itu. Tak jauh dari tempatnya tertidur tadi, di dekat sebuah kolam luas dengan pemandangan indah seorang gadis duduk membelakanginya. Sebuah biola tengah dimainkan olehnya dengan sepenuh hati. Tanpa sadar Donghae terhanyut dalam permainan gesekan biolanya.
Baru ia kembali ke dunia nyata ketika aluan biola itu berhenti. Tangannya terangkat, ia bertepuk tangan untuk gadis pemain biola itu.

Jiyeon tersentak mendengar suara tepuk tangan di belakangnya. Ia menoleh dan terkejut menemukan salah satu Prince of School berdiri di depannya. Sejak kapan Lee Donghae berdiri di sana?
“Permainan yang indah. Kau sungguh hebat. ” Ucap Donghae kagum. Bukannya berterima kasih atau apa, Jiyeon yang masih terkejut tidak sanggup berkomentar. Ia bangkit sambil mencengkeram erat biola di tangannya.
Donghae mengerutkan kening menyadari gadis di depannya waspada, “Kenapa? Kau tidak senang menerima pujianku?”
“Aku sangat senang karena kau memuji permainan biolaku yang masih amatiran ini.”
“Tidak terlihat seperti permainan seorang amatir. Aku bahkan sempat mengira kau anggota orkestra atau semacamnya.” Ia mengamati Jiyeon dan baru tersadar bahwa gadis yang berdiri di hadapannya adalah gadis yang nekat menyatakan cinta pada Cho Kyuhyun.

“Oh, bukankah kau Park Jiyeon?”

Jiyeon terkejut ketika Donghae mengenalinya. Siapa yang tidak tahu, bahkan seluruh sekolah tahu gadis yang menyebabkan masalah untuk Kyuhyun.
“Iya.”
Tanpa di sangka pria itu terkenyum. “Akhir-akhir ini Kyuhyun terlihat berubah. Aku asumsikan itu berhubungan denganmu. Aku sungguh berterima kasih padamu.”

Jiyeon benar-benar kewalahan menanggapi pujian Donghae ditambah pria itu membahas tentang Kyuhyun di depannya. Ia semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Dan sekarang, pria itu mendekatinya dengan senyum cerah. Ia berdiri dengan posisi gugup. Kemana Suzy di saat pangerannya berada di sini?
“Kau tidak perlu takut padaku. Aku bukan Kyuhyun yang akan menjatuhkan vonis padamu atau Kibum yang akan merayumu.” Ucap Donghae melihat Jiyeon tidak nyaman dengan kehadirannya.
“Ti-tidak. Aku hanya tidak terbiasa saja.” aku Jiyeon gugup. Ia berdoa semoga Suzy atau Yoona muncul untuk menyelamatkannya.
“Kenapa, apa karena aku adalah prince of school?”
“Bukan, tapi…”
“Aku tahu. Setiap orang menganggap aku adalah seorang prince. Menurutku itu benar-benar konyol. Lagipula aku tidak memiliki kualifikasi untuk disebut seorang prince.” Ucap Donghae santai, tanpa sadar ia menyuarakan isi hatinya yang terdalam. Jiyeon hanya mendengarkan saja tanpa bisa berkata apapun. Tepatnya ia tak tahu bagaimana merespon ucapan Donghae. Pria itu menoleh menatapnya.
“Apa menurutmu aku pantas disebut prince?’

Ketika Jiyeon sadar Donghae benar-benar mengharapkan jawaban darinya, akhirnya ia membuka mulut. “Menurutku kalian pantas disebut prince karena selain kalian adalah orang-orang yang hebat, kalian juga memiliki jiwa dan karisma yang membuat orang-orang mudah sekali mengagumi kalian.”
Donghae mengangguk, tampak tidak terlalu puas dengan jawaban Jiyeon. “Aku senang kau mengatakannya. Tapi aku tidak sehebat itu, terkadang aku merasa tidak nyaman ketika orang-orang menyamakanku dengan prince yang lain.”
“Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang seperti kalian. Apa yang membuatmu tidak puas ketika ada seseorang yang memujimu? Orang lain memanggilmu prince karena kau memang seorang prince.” Ucap Jiyeon dengan nada tinggi, ia kesal.

Donghae kaget karena Jiyeon berbicara seperti menyentaknya. Sorot mata gadis itu berkobar laksana api. Menyadari ia terlalu kasar sampai Donghae melongo, Jiyeon menenangkan dirinya lalu melanjutkan.
“Bukan tanpa alasan orang lain menyebutmu prince. Secara tidak disadari, mungkin dulu kau pernah membantu mereka walau hanya sedikit. Kau disebut peangeran karena kebaikan hatimu, bukan karena kau kaya ataupun kau tampan–Ya, sebagian juga mungkin karena itu–jadi jangan pernah merasa rendah diri. Dengan kebaikan yang pernah kau perbuat pun kau pantas di sebut seorang prince.”

Donghae dengan seksama mendengarkan opini dari Jiyeon. Ia tersenyum. Kata-kata Jiyeon membuatnya menyadari kenapa selama ini ia merasa tidak puas dengan sebutan orang-orang untuknya. Karena ia tidak pernah bersyukur. Ia selalu mengeluh atas apa yang terjadi dalam hidupnya tanpa menyadari kebaikan apa yang sudah ia dapat.
“Kau benar, terima kasih atas pendapatmu.”
Never mind.” Jiyeon tersenyum.

Donghae tiba-tiba teringat, “Kau menyukai musik bukan. Bagaimana kalau hari Minggu nanti kau ikut denganku?” ketika ia melihat kedua mata Jiyeon melebar, Donghae tertawa. “Ini bukan ajakan kencan atau semacamnya. Aku hanya ingin ada seseorang yang menemaniku.” Pria itu mengeluarkan dua buah tiket.
“Ada konser musik klasik. Kau tau Orchid Orchestra dari Rusia?”
“Kau bercanda, tentu saja aku tahu!!” seru Jiyeon gembira. Penggemar musik klasik mana yang tidak tahu? Ia sudah menantikan kedatangan orkestra itu ke Korea sejak lama. Jadi Donghae sekarang sedang mengajaknya datang ke konser itu? Jiyeon tidak akan pernah menolaknya.
“Sudah kuduga. Jadi kau mau ikut denganku?”
“Jangan harap aku akan menolaknya!!” Jiyeon mengambil tiket itu dengan gembira.
“Hari minggu di gedung teater pusat kota. Aku menunggumu jam 11 pagi. Ajaklah teman bersamamu. Aku pun akan mengajak temanku.”

—o0o—

Hari minggu itu langit tampak cerah dan cuaca pun bersahabat. Jiyeon mengajak serta Suzy untuk datang ke konser itu. Yoona pun ikut karena kebetulan memiliki tiket yang sama. Mereka tiba di sana sepuluh menit lebih awal.
“Bagaimana bisa Donghae memberimu tiket itu?” ujar Suzy cemburu namun senang. “Aku sudah mencari-carinya ke seluruh sekolah dan ternyata dia bersamamu?” tambahnya bingung. Jiyeon mengusap tengkuknya.
“Aku ingin sekali meneleponmu. Tetapi karena terlalu kaget aku lupa. Mian.”
“Hei, bukankah Jiyeon mengajakmu? Sudah nikmati saja sisi baiknya. Kau akan bertemu Donghae.” hibur Yoona. Senyum Suzy langsung terbit bak mentari yang bersinar cerah hari itu.
“Kau benar.”

Tak lama kemudian, Lee Donghae muncul. Suzy girang bukan main melihat pangeran hatinya dalam penampilan lain untuk pertama kalinya. Siapa yang menyangka ternyata Donghae jauh lebih tampan dalam baju bebas, bukan dalam seragam sekolah yang membuatnya tampak dingin dan misterius.
“Kau sudah tiba, dan mengajak teman-temanmu.” Donghae menatap Suzy yang melambai-lambaikan tangannya gembira lalu pada Yoona yang tersenyum ramah padanya.
“Iya. Kau juga mengajak temanmu bukan?” Jiyeon tidak melihat siapapun di dekat Donghae.
“Ya. Tidak masalah bukan jika aku mengajak Kyuhyun dan Kibum?” agak tidak enak hati saat mengucapkannya.

Jiyeon dan Suzy kompak berteriak, “Apa kau bilang!!!” Yoona hanya tersenyum geli melihat Jiyeon gugup setengah mati sementara Suzy bersungut-sungut kesal.
“Sepertinya aku salah mengajak mereka.” Ujar Donghae melihat reaksi berlebihan Jiyeon dan Suzy.
“Tidak, sama sekali tidak!!” lagi-lagi Jiyeon dan Suzy menjawab dengan serempak. Jiyeon benar-benar tidak masalah jika Donghae mengajak Kyuhyun, hanya saja ia tidak siap bertemu dengan pria itu setelah kejadian tempo hari sementara Suzy ia tidak mau bertemu Kibum setelah insiden di lapangan basket waktu itu tetapi ia tidak mungkin membuat Donghae tidak nyaman.

Tak lama kemudian dua orang pria itu muncul. Bahkan kedatangannya pun berhasil menarik perhatian beberapa gadis yang berada di sana. Kyuhyun berjalan santai dengan gaya tak peduli sementara Kibum tersenyum senang. Pria itu langsung melambaikan tangannya dengan heboh ketika menemukan Donghae dan yang lainnya.
“Hei kalian!!” Ia langsung menepuk pundak Kyuhyun menyuruhnya berjalan lebih cepat.
“Kau saja duluan sana!” dengus pria itu kesal.

Kibum takjub ketika melihat ada tiga gadis cantik di dekat Donghae, “Ya, Lee Donghae, kau sengaja membuat pertemuan ini menjadi ‘triple date’?” Celetuk Kibum.

Suzy langsung mendelik tajam, “Apa yang kau maksud dengan triple date?” ia membentak dengan kasar.
“Tidak, tidak ada maksud apapun.” Kibum sedikit takut melihat tatapan Suzy yang setajam mata pisau. Gadis monster memang lain. Jiyeon tersenyum sopan pada Kyuhyun yang diam saja.
Donghae melirik jam tangannya, “Konsernya akan dimulai. Sebaiknya kita masuk saja. Ayo.” Pria itu mempersilakan Jiyeon untuk duluan lalu menyusul. Suzy melebarkan mata melihatnya.
“Ya, kalian!! Tunggu aku!!” gadis itu buru-buru menyusul Donghae dan Jiyeon. Kyuhyun mendengus kesal melihatnya.
“Cemburu? Kalau begitu ambil dia dari tangan Donghae.” ucap Kibum usil. Tawanya meledak ketika Kyuhyun melemparkan pandangan mematikan padanya.
“Tutup mulutmu!!!” ia lalu menyusul Kibum yang masuk lebih dulu. Yoona hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu mengekor di belakang pria-pria tampan itu.

—o0o—

Orchid Orchestra benar-benar menyuguhkan penampilan yang spektakuler. Musik-musik yang mereka mainkan sungguh sempurna dan membuat para pecinta musik klasik berdecak kagum. Jiyeon sampai menitikkan airmata saat para pemain itu mengalunkan musik berirama lembut yang menyentuh hati. Mereka duduk dalam satu baris kursi. Jiyeon berada di samping Kyuhyun dan Donghae, Suzy berada di antara Donghae dan Kibum sementara Yoona mengambil kursi di samping Kibum.

“Aku jadi ingat lagu Joy of Man’s Desiring karya Bach.” gumam Jiyeon.
“Ya, komposisi nadanya sungguh menyentuh.” Sahut Donghae.
Kyuhyun lagi-lagi mendengus, “Dasar penggemar musik klasik.” Jiyeon menoleh pada Kyuhyun yang duduk di sampingnya.
“Kau tidak suka musik klasik?”
Kyuhyun hampir saja menjawab tidak ketika Kibum menyahut, “Tentu saja dia suka. Piano klasik adalah spesialisnya. Sayangnya dia lebih menyukai Beethoven daripada Bach.”
“Kibum kau!!” Kyuhyun melotot pada sahabatnya yang usil setengah mati itu. Tidak ada yang menyuruhnya memberitahu apa yang diminatinya. Kibum hanya meleletkan lidah. Ia lalu menoleh pada Suzy yang tampak mengantuk.
“Sepertinya nona yang satu ini tidak suka musik klasik.” Lirihnya. Suzy sepertinya sudah tertidur karena gadis itu tidak merespon apa yang dikatakannya. Biasanya Suzy akan langsung menghujatnya dengan suara tinggi dan mata membelalak. Tetapi kali ini, gadis itu terkantuk-kantuk. Kibum buru-buru menyandarkan kepala Suzy pada bahunya sebelum kepala gadis itu jatuh di pundak Donghae. Ia tersenyum puas. Ketika ia menoleh ke samping, ia menyadari Yoona menatapnya dengan ekspresi tak tertebak.
“Kenapa?” tanyanya kaget dan heran.
“Tidak. Kau..” Yoona menghentikan kata-katanya. Ia hampir saja menanyakan ‘apa kau menyukai Suzy?’ syukurlah ia masih bisa menjaga mulutnya. “Tidak apa-apa. Lupakan saja.” fokusnya lalu kembali ke arah panggung.

Donghae melirik sekilas ke arah Suzy lalu Yoona yang duduk paling ujung. Ia mendesah pelan perasaannya yang sesungguhnya tidak akan pernah disadari oleh gadis itu.

~~~TBC~~~

305 thoughts on “School in Love [Chapter 7]

  1. ceritanya bagus … aku suka ~ aku suka banget ama karakternya suzy hehe ~ tapi masih bingung ini ntar pasang2annya ama siapa ? okesip keren laaahh pokoknya (y)

  2. donghae sma jiyeon cinta sma musik klasik. Kyuhyun kyknya udah mulai cmburu deh. Apa donghae itu suka sma yoona thor? Hah makin penasaran aja sma ceritanya, lanjut ke chapter selanjutnya thor ^^

  3. Wah,mkn rumit nh couple story ny…tp yg pntg smuany happy ending dh…jd ingt zman SMA,triple date brg tmn2..he..’curcol.com’

  4. aduuhhj… makin bingung.
    mungkin kyuhyun ama jiyeon,donghae ama yonna, kibum sma suzi..
    ya AMMMMMMPUUUUNNN…
    PUSIIING.
    Padahal q berharap suzy ama kyuhyun.
    mereka cocok bgt…:(

  5. Wuaaaa mkin penasran dgn prsaan hae oppa. Ap hae oppa mnyukai yoona?? Aduhh ksian abang ikan qu,, yoona udh blikan sma taechyeon lgii..

  6. rasax couple2 ne bkalan brubah dech…
    g ykin ma couple2 yg skrg ne!!
    sumpah q msh ngarep kyuhyun ma suzy ja
    tp d sni suzy kyak cewk bar2!!!
    mgkin author bwt karakter suzy gt cz yoona ma jiyeon karakterx kalem2…jd biar paz komposi2x.bner g thor?????
    hehehe..nebak2 sendiri#mian#
    mw bca next chap aaahhhhh…♥♥

  7. Sprtinya Kyu mulai melunak sama Jiyeon, udh mulai cemburu jga tuh… xixixixi
    Suzy sama Kibum aja, cocok, kali aja Kibum nya tobat.. Kekekekek
    Btw, itu cwek yg dimaksud hae siapa? klo Yoona ksian Suzy ntar, tp sprtinya Yoona *Sotoy*

  8. threeple date, kan jarang” udah gtu nonton konser musik klassic pla pantes aja suzy ampe ktiduran, kibuuuummm cari kesempatan dalam kesempitan!!!! jiyon cocok bgt dpt karakter maju terus pantang mundur, udah dpt lampu kuni dri kyuhyun bentar lagi lampu hijau langsung tancap gas..wkwkwk

  9. Makin penasaran ajah,,sebenarnya siapa couple mereka yang sebenarnya,,penasaran tingkat tinggi niy thor..
    dari akhir ceritanya sepertinya Donghae suka sama Yoona..

  10. Donghae suka sm yonna,, kibum bisa sm suzy? Kyu jiyeon juga ga apalh,, ok juga… Suzy sm kyu ato pun kibum blh juga,, sama2 lucu kalo mereka d pasangin klo suzy sm donghae jd agak adem ayem,, karakter suzy yg bringas jd ilang kalo lg sm hae.. Kekee…
    Thor,, jd bingung ni,, sbnrnya date mereka gmn?

  11. Tebakanku salah total total total argggggghhhhh
    sampe chapter 6 aku bhkan mngira kalo Kyuhyun itu sama Suzy bukan Jiyeon :3 ahhh Dha eonni bener2 hebat udah buat aku bingung bukan main kayak gni. Tapiiiii bagusss banget eonn.. Okok mian aku komennya langsung dichapter 7😀 hehe
    yaudh aku mau lanjut baca dulu eonni #kekeke

  12. aaahhaaa mereka smua udah akur kecuali suzy sm kibum…brantem mulu…tp mereka lucu…hahaha….next….yesss kyuyeon jjaaaanngggg…

  13. Hahaha ciee yang ada yg cemburu, ngeliat hae ma jiyeon ~kekekek
    Wah kayak nya hae suka sama yoona or suzy?
    ki bum suka sama suzy kah??
    Gak di sangka ini awal yg baik u/ mereka ber 6,sesuai kata kibum td triple date😛

  14. Menurut gw couple’nya Kibum sama Suzy,trus Donghae sama Yoona & Kyuhyun sama Jiyeon ?! Tapi pengen’nya Kyuhyun sama Suzy😦

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s