Hello My Charming Wife #1 [Chapter 1]

Tittle : Hello My Charming Wife #1 Chapter 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life

 

Main Cast :
Shin Jeyoung | Cho Kyuhyun

Dha’s Speech :
Sebelum membaca FF ini ada baiknya membaca FF sebelumnya yaitu Hello My Charming Yeoja karena ini adalah sekuel dari FF itu. Di sini menceritakan kehidupan pernikahan Kyu-Je couple setelah Jinwoo–anak mereka–lahir. Akan ada konflik-konflik kecil khas pasangan suami istri di sini.

Hope you enjoy this ^_^

Hello my Charming Wife by Dha Khanzaki

====CHAPTER 1====

Sexy Mom Needs Holiday

MUSIM semi, musim gugur, musim dingin dan musim panas datang silih berganti. Tahun ke tahun, musim ke musimnya terasa semakin berwarna. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Cho Kyuhyun. Tak pernah ia tersenyum sesimpul ini ketika menengadahkan kepalanya menatap kuncup bunga yang mekar di ujung dahan. Ia menghembuskan napas lega karena musim dingin yang panjang telah berakhir.
“Jeyoung suka sekali bunga,” lirihnya mengenang wanita yang kini sudah menjadi pelengkap hidupnya. Wanita hebat karena telah melahirkan pangeran kecil untuk melengkapi pernikahan mereka. Kyuhyun melirik jam tangannya. Sudah waktunya pulang. Ia bergegas menuju mobil yang sejak tadi terparkir di tepi taman kota itu.

Kyuhyun memang selalu tak sabar untuk kembali ke rumah karena di sanalah ia akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih hebat dari apapun. Di sanalah ia bisa menemukan wajah cantik istrinya dan tawa riang putranya yang berusia hampir satu tahun. Kali ini pun Kyuhyun tak sanggup menyembunyikan senyumnya meski tangannya baru saja membuka pintu. Dari dalam rumahnya ia bisa mendengar celotehan Jinwoo, putranya yang mulai belajar berbicara .
Aigooo..bagaimana bisa putra Eomma selucu ini. Aaaa..Eomma ingin memakanmu..,” suara Jeyoung terdengar ketika Kyuhyun tiba di kamarnya. Senyum simpulnya kembali terbit melihat istrinya asyik bermain dengan putranya di atas tempat tidur.

Jeyoung gemas sekali pada Jinwoo sehingga ingin rasanya menggigit tangan putranya yang mungil itu sementara Jinwoo tertawa senang karena berpikir Eommanya mengajak bermain. Mereka tidak menyadari sejak tadi Kyuhyun berdiri menatap mereka dengan pandangan penuh arti.
“Sini, Eomma kisseu..” Jeyoung mencium pipi Jinwoo sehingga bayi itu tertawa geli. Kyuhyun mendekat lalu ikut berbaring bersama Jeyoung yang menelungkupkan badannya di atas ranjang.

“Huh, kau asyik bermain dengan anak kita hingga tidak sadar aku datang?” keluh Kyuhyun sambil memeluk Jeyoung. Wanita itu hanya tersenyum.
“Mana ada seorang ayah yang cemburu pada putranya sendiri,” jawab Jeyoung ringan, meskipun begitu ia tetap mengecup pipi Kyuhyun sekilas.

“Selamat datang, Appa. Bagaimana harimu?”
“Buruk jika kau tidak menciumku di sini,” Kyuhyun mengerucutkan bibirnya meminta Jeyoung mengecupnya.

“Ya, malu pada Jinwoo,” Jeyoung menjepit hidung Kyuhyun di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Dia terlalu kecil untuk memahaminya,” Kyuhyun tersenyum manis, itu cara yang sering dilakukannya untuk merayu Jeyoung dan sampai sekarang cara itu masih ampuh. Buktinya, Jeyoung segera mengecup bibir suaminya. Jeyoung kira itu hanya akan menjadi sentuhan yang singkat tapi tak di sangka Kyuhyun malah menahan tengkuknya.

Bogoshipo, yeobo,” bisik Kyuhyun di sela-sela ciumannya. Mereka terlalu asyik saling mengecup satu sama lain hingga melupakan sepasang mata mungil yang menatap mereka tak berkedip. Hati kecilnya merasa cemburu karena kedua orang tuanya bermain tanpa menghiraukan dirinya. Bibir mungilnya yang kemerahan mengerucut dan matanya berkaca-kaca.

Jeyoung menjauhkan wajahnya refleks ketika mendengar suara isak tangis Jinwoo. Dia hampir saja melupakan anaknya yang kini mulai menangis.
Appa, Jinwoo menangis,” Jeyoung mendorong Kyuhyun lalu bangkit meraih Jinwoo ke dalam gendongannya. Ia tahu jika Jinwoo sudah menangis akan sulit baginya melakukan hal lain.
“Dia cemburu,” lirih Kyuhyun sambil tersenyum simpul. Jeyoung menepuk pelan Kyuhyun yang meleletkan lidahnya. Rupanya Kyuhyun puas sekali sudah mengerjai istrinya sendiri dan membuat anaknya menangis.

“Eits, jagoan Appa tidak boleh menangis…” Kyuhyun segera menggendong Jinwoo lalu mengajaknya bermain. Tangisannya perlahan menghilang dan kini terganti oleh tawa lepas. Jeyoung mendesah lega lalu turun dari tempat tidur setelah teringat sesuatu.

“Aku akan siapkan makan malam. Jaga Jinwoo sebentar, oke..” ia bergegas pergi ke luar kamar.

Begitulah rutinitas sehari-hari Shin Jeyoung pasca menjadi istri dari Cho Kyuhyun, CEO Cho Corp yang bergerak di sektor perdagangan. Mengurus anak dan rumah tangga selayaknya wanita rumahan jaman dulu. Bukannya dia ingin, namun Kyuhyun memang melarangnya berkarir. Berhubung ia langsung mengandung Jinwoo setelah mereka tiga bulan menikah.

“Appa, kau mandilah dulu. Aku akan memandikan Jinwoo juga,” Jeyoung kembali setelah selesai memasak. Kyuhyun yang asik bermain dengan Jinwoo sampai membuat tempat tidur mereka berantakan menoleh. Ia memang merasa seluruh badannya lengket. Jeyoung segera mengambil Jinwoo yang asyik menggigiti boneka beruangnya.

“Boneka bukan untuk dimakan, sayang,” ucap Jeyoung mengambil boneka itu dari tangan Jinwoo lalu menggendongnya. Ia menoleh pada Kyuhyun.
Appa, kau juga bangun lalu mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat.”
“Aku akan mandi kalau kau ikut denganku,” candanya. Jeyoung langsung salah tingkah.
“Kita bukan pengantin baru, ingat sudah ada Jinwoo..” Jeyoung malu. Kyuhyun turun lalu memeluknya.

“Ah, ini salah Jinwoo kenapa lahir lebih cepat..” ucap Kyuhyun bercanda. Jeyoung terkesiap lalu mencubit lengan Kyuhyun yang melingkar di perutnya. Pria itu pura-pura meringis padahal cubitan Jeyoung tidak menyakitinya sama sekali.
“Ini salahmu juga. Kenapa kau menyerangku hampir setiap malam???”
Omo, salahkan kenapa kau sangat cantik dan seksi setiap malam,” bisiknya membuat Jeyoung mengerjapkan mata.

Lama-lama Jeyoung bisa menjadi kepiting rebus jika mereka terus membicarakan masalah ini.
“Sudahlah, aku akan memandikan Jinwoo dulu.” Jeyoung segera membawa putranya keluar dari kamar meninggalkan Kyuhyun sendiri di sana. Putra kecil mereka itu melambai-lambaikan tangannya yang penuh air liur pada Kyuhyun sambil tertawa menampilkan dua gigi susunya yang baru tumbuh. Pria itu hanya tertawa kecil melihat tingkah anaknya.

—o0o—

Yeobo, besok ada acara penting di kantor. Kau harus datang, oke.” Ucap Kyuhyun ketika mereka makan malam bersama. Jeyoung yang tengah memberi makan putranya menoleh heran.
“Acara apa? Tidak biasanya.”
“Aku mengadakan pesta kecil untuk pertemuan para pemegang saham dan kolega perusahaan kita. Aku ingin memperkenalkanmu dan putra mahkota kita pada mereka,” Kyuhyun melirik Jinwoo yang belepotan makanan dengan senyum di bibirnya.
“Baiklah,” Jeyoung mengangguk singkat lalu kembali fokus pada Jinwoo, kini sibuk mengelap sekitar mulut Jinwoo yang belepotan bubur.

Kyuhyun tertegun melihat segala yang dilakukan Jeyoung pada anak mereka. Perlahan perhatiannya teralih pada piring makan istrinya yang masih bersih. Memang selalu begitu setiap kali mereka makan malam. Jeyoung selalu mengutamakan Jinwoo makan sementara dirinya sendiri terkadang lupa untuk makan. Tak heran jika diperhatikan badan Jeyoung justru lebih kurus dari sebelumnya.
Yeobo,” Kyuhyun mulai terusik, ia bangkit dari kursinya lalu berjalan memutar menghampiri tempat duduk istrinya, “Aku sudah selesai makan. Sebaiknya kau makan dulu saja. Aku akan menggantikanmu menyuapi Jinwoo.”

“Kau pasti lelah. Sudah jangan cemaskan aku,” Jeyoung tersenyum untuk menenangkan Kyuhyun yang selalu mencemaskannya.
“Yeobo,” Kyuhyun tak mau mengalah. Jeyoung menghentikan kegiatannya sejenak lalu menoleh pada Kyuhyun dengan gemas.
“Sekarang apa lagi hm?”
“Bagaimana kalau kita pergi liburan akhir pekan nanti? Aku memiliki dua tiket liburan ke Paris,” ucap Kyuhyun membuat Jeyoung mengerjapkan mata.

“Liburan?”

“Em. Bukankah kita belum pernah melakukan perjalanan bulan madu? Kita anggap saja liburan kali ini sebagai bulan madu.” Kyuhyun tersenyum lebar sementara Jeyoung tampak merenung.
“Jinwoo masih terlalu kecil untuk naik pesawat dan kita tidak mungkin meninggalkannya sendiri.”
“Tentu saja kau benar tentang hal itu,” ucap Kyuhyun sambil menatap anaknya yang masih balita itu. Jinwoo tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Dia masih membutuhkan banyak perhatian dari ibunya. Tambahan, Jinwoo itu suka sekali cemburu jika melihat kedua orang tuanya bermesraan tanpa mengajaknya. Seperti tahu bahwa kemungkinan mereka melupakannya.
“Ah, kau bisa menitipkannya pada Nuna, dia pasti senang.”
“Tidak. Ahra Eonni pasti repot mengurus Baekhyun. Lagipula kita tidak mungkin menambah daftar kesibukannya dengan menitipkan Jinwoo kita. Sudahlah, kita lupakan saja Honeymoon itu,” ujar Jeyoung. Kyuhyun mengangguk singkat sambil memutar otak mencari celah ide di kepalanya.

Sebenarnya, niat Kyuhyun mengajak berbulan madu bukan karena mereka belum pernah mengalaminya, tapi karena ia merasa istri tercintanya itu butuh liburan. Terlalu banyak kesibukan yang dilakukannya. Mengurus rumah tangga dua kali lebih sulit di bandingkan mengurus pekerjaan kantor.
“Kita bisa menitipkannya pada Appa, atau pada Eomma.”
Jeyoung menggeleng menolak ide Kyuhyun, “Aku tidak tega merepotkan mereka. Sekarang Appa sedang dalam masa-masa pensiunnya sementara Eomma juga sibuk mengurus butik.”
Aigoo, kenapa sulit sekali mengajakmu berbulan madu!” gerutu Kyuhyun. Sepertinya ia memang harus memberikan tiket liburannya pada orang lain.

—o0o—

Kyuhyun memandangi dua lembar tiket di tangannya dengan ekspresi ragu. Padahal ketika tiket ini pertama kali ada di tangannya, terbayang semua hal indah yang akan dilakukan saat bulan madu nanti. Sekarang semua itu hanyalah mimpinya di siang bolong. Kyuhyun mendengar suara pintu berderit ia lantas menyembunyikan tiket itu di bawah bantalnya lalu mengambil buku, pura-pura membaca.
Oppa, kau belum tidur?” ujar Jeyoung sambil naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sampingnya.

“Jinwoo sudah tidur?”

“Ya, meskipun dia selalu rewel tiap kali akan tidur,” Jeyoung melirik buku yang dibaca Kyuhyun.
“Hei..” Kyuhyun terkesiap kaget saat Jeyoung mengambil buku di tangannya dalam sekali sentakan.
“Sudah malam, saatnya tidur.” Jeyoung meletakan buku di atas meja samping. Ia menoleh menatap suaminya yang menunjukkan raut protes. Jeyoung tahu cara yang tepat untuk menghapus wajah itu. Ia melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun lalu mencium pipinya dengan lembut.

“Selamat malam,” Jeyoung berbisik kemudian melepaskan pelukannya bahkan sebelum Kyuhyun menikmatinya. Ia menatap istrinya yang kini sudah membaringkan tubuhnya dengan mata terpejam.
“Ya, kau harus menuntaskan pekerjaanmu,” protes Kyuhyun sambil mengguncang tubuh Jeyoung.
“Pekerjaan apa?” gumam Jeyoung dengan mata tetap terpejam. Kyuhyun ikut berbaring dan tangannya ia selipkan ke bawah punggung Jeyoung lalu memeluknya.
“Cium aku dengan cara yang benar,” Kyuhyun berkata lembut tepat di telinga istrinya. Jeyoung tertawa geli begitu ia merasakan sesuatu yang basah menempel di lehernya, bergerak mengecupnya berkali-kali.
“Sepertinya kau memang suka curi start duluan,” Jeyoung memang protes namun pada kenyataannya ia justru menikmati Kyuhyun yang mulai nyaman dengan apa yang dilakukannya. Mereka melupakan niat mereka untuk tidur, justru sibuk saling melumat satu sama lainnya.

Mereka saling menjauh ketika napas keduanya menipis. Ketika mata mereka bertatapan keduanya tertawa. Kyuhyun menarik kepala Jeyoung ke dadanya, ia mendesah lega lalu menengadahkan kepalanya ke langit-langit kamar.
“Lihat apa yang bisa kita lakukan saat Jinwoo tertidur pulas,” Kyuhyun berbisik lembut. Jeyoung menikmati pelukannya yang hangat.
“Aku bahagia dengan kehadiran Jinwoo. Karena itu aku tidak keberatan meskipun aku tidak memiliki banyak waktu luang untuk bermesraan seperti dulu.” Jeyoung mendongak menatap suaminya. “Apa Oppa keberatan?”

Kyuhyun mengerang melihat ekspresi sedih istrinya, “Tentu saja tidak, Jinwoo adalah bukti dari cinta kita. Bagaimana bisa aku menyalahkan kehadirannya. Tidak sama sekali. Hanya saja, kau menjadi semakin kurus sejak Jinwoo lahir. Rutinitasmu ke salon pun sudah tidak ada lagi. Pergi berbelanja pakaian pun hanya tiga bulan sekali itu pun untuk membeli keperluan Jinwoo atau aku. Kau tidak pernah memiliki waktu untuk memanjakan dirimu sendiri lagi. Melihatmu seperti itu terus menerus aku merasa bersalah.” ia menatap Jeyoung langsung, “Sebagai suami aku merasa gagal membuatmu bahagia.”

“Bagaimana bisa Oppa memiliki pemikiran seperti itu?” Jeyoung mengerjapkan mata lalu memberontak dari pelukan Kyuhyun, “Apa kebahagiaan menurutmu hanya sebatas pergi ke salon, berbelanja banyak pakaian baru setiap musimnya dan bermalas-malasan? Apa aku terlihat seperti wanita lajang yang memiliki banyak uang untuk dihamburkan? Aku istrimu Oppa, tanggung jawab seorang istri adalah mengurus suami dan rumah tangga. Terlebih sekarang kita memiliki Jinwoo. Apa karena aku sibuk mengurus semua itu Oppa merasa aku tidak bahagia?”

“Bukan begitu.” Kyuhyun tidak bermaksud membuat istrinya tersinggung, “Aku hanya merasa sejak Jinwoo lahir kau tidak sempat merawat dirimu lagi. Lihat kau sekarang sangat kurus.”
“Jadi Oppa menyalahkan aku yang sudah melahirkan Jinwoo?” Jeyoung lebih histeris lagi. “Aku memang tidak cantik lagi sejak menjadi ibu, maafkan aku.” ia menarik selimut dengan kasar lalu tidur sambil membelakangi Kyuhyun.
Aigoo..” Kyuhyun mengacak rambutnya sendiri. “Aku harus menggunakan kalimat apa untuk membuatmu tidak salah paham. Aku tidak pernah bermaksud menyalahkan Jinwoo.” Ia sudah hapal sifat Jeyoung yang satu ini. Bahkan sejak pertama kali menyukainya, Kyuhyun kesulitan mengambil hati gadis itu. Dia selalu salah paham dengan semua yang dilakukannya untuk menarik hati Jeyoung.

Tidak ada respon dari Jeyoung sehingga Kyuhyun berpikir sudah membuatnya marah. Kyuhyun menghela napas lalu ikut berbaring. “Aku tetap akan mengajakmu pergi ke Paris. Siap atau tidak aku sudah membeli dua tiket pesawat.”
Kalimat itu sukses membuat Jeyoung terperanjat bangkit, “Mwo? Lalu bagaimana dengan Jinwoo!!”

—o0o—

Jeyoung baru selesai memulaskan blush on di tulang pipinya. Ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke pesta Cho Corp, perusahaan dulu tempatnya bekerja sebagai sekretaris direktur. Tentu saja saat itu CEOnya bukan suaminya, melainkan Ayah mertuanya.

Ibu muda itu berdandan semaksimal mungkin demi menyenangkan suaminya yang setiap malam protes karena ia terlalu sibuk mengurus keluarga sampai lupa memanjakan diri.

Harus diakui Kyuhyun memang benar. Jeyoung merindukan aktivitas saat ia masih menjadi wanita lajang dulu. Pergi ke salon bersama Minah–sahabatnya, berbelanja pakaian model terbaru hingga bergossip ria di Coffe Shop favorit ditemani sepotong cake bersama teman-teman sebaya lainnya. Sejak menikah dan menjadi seorang ibu, satu-satunya kegiatan menyenangkan yang ia ingat adalah saat bermain bersama Jinwoo.

Sekarang ia merasa kembali ke masa dulu saat menatap penampilannya sendiri di depan cermin. Gaun selutut warna kuning muda yang ia kenakan membuat kulitnya terlihat bersinar. Ia bersyukur karena bentuk badannya tidak berubah meskipun telah melahirkan sehingga ia tidak malu memakai baju dengan model ketat di bagian pinggang seperti gaun yang ia kenakan sekarang.

“Aku merasa menemukan kembali Shin Jeyoung yang membuatku jatuh cinta dulu.”

Jeyoung menatap Kyuhyun dari cermin. Suaminya itu berdiri di ambang pintu sambil menggendong Jinwoo yang sudah lebih dulu didandani. Jagoan kecilnya itu sedang asyik mengulum tangannya sendiri. Ia tersenyum ketika Kyuhyun mendekatinya.

“Aku tak percaya masih pantas mengenakan gaun.” ia mengambil alih Jinwoo dari tangan Kyuhyun. “Kau lapar sayang?” tanyanya dengan nada gemas. Ia mengelus-elus pipi putranya yang bulat berisi.

“Kau bahkan masih secantik dulu. Aku berani bertaruh tidak akan ada yang sadar bahwa kau seorang ibu jika kau tidak memberitahu mereka.”
“Benarkah? Lalu apa yang akan mereka pikirkan saat melihatku menggendong seorang bayi?”
“Mereka akan mengira bayi ini adikmu.”

Jeyoung langsung tertawa, “Kau berlebihan. Mereka akan bertanya-tanya berapa usia ibuku saat melahirkan bayi ini.”

Melihat ibunya tertawa Jinwoo ikut tertawa. Celotehan lucu bayi itu membuat kedua orang tuanya ikut tersenyum gembira. Kyuhyun mendekat untuk memeluk dua orang yang paling ia sayangi di dunia ini.
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa kau dan putraku.” Ujar Kyuhyun pada Jeyoung. Ia langsung mencium istrinya dengan segenap hati sebagai luapan rasa bahagia.
“Kau masih tidak ingin pergi liburan denganku?” tanyanya ketika ia menjauhkan kepala. Jeyoung tertegun melihat kesungguhan di mata Kyuhyun. Sebagai jawabannya, ia tersenyum.
“Jika kita menemukan orang yang akan menjaga Jinwoo kita.”

—o0o—

Sesederhana apapun sebuah pesta yang diselenggarakan Cho Corp, tetap dikategorikan mewah bagi Shin Jeyoung. Ia tertegun ketika tiba di tempat pesta. Aula besar itu telah didekorasi sedemikian rupa dengan penataan khas pesta mewah pada umumnya. Beberapa meja berisikan makanan-makanan menggugah selera tertata di sudut ruangan. Jeyoung menoleh pada suaminya setelah mereka masuk dan disambut oleh beberapa rekan bisnis Kyuhyun.

“Kau bilang hanya pertemuan sederhana para pemegang saham.”

Kyuhyun kebingungan menjawab pertanyaan itu, “Pada awalnya. Tetapi kemudian berkembang menjadi pesta pertemuan untuk kolega bisnis. Ada beberapa tamu yang datang dari luar negeri, karena itu rasanya tidak sopan jika hanya mengadakan pesta biasa.”
Aigoo, seandainya aku tahu aku tidak akan memakai baju sesederhana ini.” ujar Jeyoung. Ia juga baru menyadari para wanita yang datang ke pesta itu memakai gaun yang terlihat eksklusif, mahal, dan indah sementara ia hanya gaun dengan model sederhana yang dibuatkan oleh ibunya.
“Tidak ada yang salah. Kau tampak menakjubkan. Ingat, kecantikan muncul dari kesederhanaan.” Kyuhyun mengedipkan mata.
Jeyoung menghela napas, “Kau mengutip kata-kata yang diucapkan Minah lagi.”

Kyuhyun hanya menunjukkan seringaian tak berdosa. Sejak mengejar-ngejarnya dulu, suaminya itu memang paling mematuhi apapun yang disarakan Lee Minah, sahabatnya yang kini sudah menikah dan memiliki seorang putri yang cantik.
“Tunggu di sini sebentar, aku harus menyapa Mr. Gerald dulu.” Kyuhyun berbisik padanya lalu pergi meninggalkan Jeyoung dan Jinwoo di tengah kerumunan orang-orang yang tak dikenalinya. Ia hanya menatap suaminya dengan bibir mengerucut sebal.

“Jinwoo, Appamu keterlaluan. Bukankah dia berkata akan mengenalkan kita pada rekan-rekan kerjanya, lalu kenapa kita ditinggal di sini?”
Jinwoo hanya menjawabnya dengan celotehan yang tidak jelas, ia mengulurkan tangannya menyentuh pipi ibunya, meminta perhatian.
“Kau ingin aku menyusul Appamu, hmm?”
Jinwoo berceloteh kembali dengan seuntai kalimat yang terdengar sama di telinga orang awam, ‘bu bu bu’. Bayi itu menunjuk-nunjuk suatu arah meminta Jeyoung pergi ke arah yang ditunjuknya.

Jeyoung menoleh ke arah yang ditunjuk Jinwoo dan ia mengerjap melihat Lee Minah berada di sana sambil menutun putrinya, Lee Minrae yang berusia dua tahun lebih.
Omo, Jeyoung-ah!!!” Minah yang ceria melambaikan tangannya. Ia dan putrinya langsung menghampirinya. Jeyoung tersenyum gembira menyambut sahabat lamanya itu. Sudah lama rasanya mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing sebagai istri dan ibu.
“Bagaimana kabarmu, aigoo, Minrae-ya, kau terlihat cantik sekali.” seru Jeyoung pada gadis cilik yang asyik mengemut lollypop.

“Ucapkan salam, honey.” Suruh Minah lembut. Putrinya langsung menundukkan kepala lalu berkata, “Annyeong haseyo” dengan nada khas anak kecil yang baru bisa bicara. Gadis kecil itu memakai jepit rambut yang sama seperti yang dipakai ibunya. Baju mereka bahkan terlihat serasi satu sama lain. Jeyoung iri sekali, seandainya Jinwoo perempuan ia pasti sudah mendandaninya dengan pernak pernik lucu seperti yang Minah pakaikan pada putrinya.
“Dia pintar sekali,” sahut Jeyoung kagum. Minah menjawabnya dengan tawa renyah, “Kepintaranku dan Ayahnya diturunkan dengan sempurna padanya.”
“Kau masih juga percaya diri,” gumam Jeyoung. Ia ingat betapa gigih dan tegarnya Minah ketika mengejar suaminya, Lee Sungmin. Meskipun sudah ditentang olehnya beberapa kali tetapi Minah terus maju pantang mundur dan pada akhirnya berhasil juga memenangkan hati pria itu. *baca Hello My Glassess Namja*

Jinwoo tertawa juga merasa Minah sedang mengajaknya bermain. Minah langsung berseru takjub, “Aigoo, kau sungguh menggemaskan. Sepertinya aku bisa melihat bibit narsistik Kyuhyun di wajah lucu jagoanmu ini.”
“Bagaimana tidak, Ayahnya mengajarkannya setiap hari,” ucap Jeyoung sambil mendesah pasrah tetapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum gembiranya. Hal yang paling membuatnya senang adalah ketika melihat dua orang pria yang ia cintai bermain bersama, tersenyum lepas seolah telah mendapatkan seluruh dunia.
“Apa sayang,” Jeyoung menoleh pada putranya ketika bayi lucu itu meronta sambil menjulurkan tangan mungilnya ke arah Minrae yang sedang mengemut lollypop. Sepertinya Jinwoo tertarik pada benda warna-warni yang dipegang gadis cilik itu.
“Kau sudah tahu makanan enak rupanya,” gumam Jeyoung pada putranya. Ia menurunkan Jinwoo yang sudah belajar berdiri dengan kedua kakinya. Ia membiarkan Jinwoo berjalan pelan menghampiri Minrae. Gadis itu terlihat senang membagi apa yang ia miliki dengan Jinwoo.

“Kau terlihat lebih kurus dibandingkan saat terakhir kali kita bertemu.” Ucap Minah sambil mengamati Jeyoung dari ujung rambut hingga kaki.
“Jinjja?” Jeyoung terkejut sambil memegang pipinya sendiri. Ia kira selama ini Kyuhyun hanya salah lihat ketika mengatakan dirinya semakin kurus. Jika Minah saja sampai berkata demikian itu artinya ia memang terlihat kurus. “Apa aku terlihat menyedihkan?”
“Tidak, hanya saja kau tampak kelelahan. Wanita pada umumnya akan terlihat lebih senang dan sehat setelah menikah sementara kau..” Minah menggeleng lemah, “Lagipula sepertinya Jinwoo dan suamimu baik-baik saja. Apa kau mencemaskan sesuatu?” Jeyoung tertegun memandangi Minah yang terlihat sehat dan gembira. dan ia juga menyadari akhir-akhir ini ia tampak pucat setiap kali melihat wajahnya sendiri di cermin. Pantas saja jika Kyuhyun cemas setengah mati.
“Kau seharusnya sedikit memanjakan dirimu sendiri. Tidak ada salahnya, aku juga tetap rutin pergi ke salon meskipun sibuk mengurus Minrae dan Sungmin Oppa.”

Kata-kata Minah membuatnya terpaksa berpikir ulang mengenai pendapatnya selama ini. Ia memang beberapa kali mendengar Kyuhyun yang selalu memaksanya sesekali meluangkan waktu untuk diri sendiri. Tetapi karena ia merasa Jinwoo lebih membutuhkannya, ia mengabaikan saran suaminya itu. Ia bahkan selalu lupa kapan ia makan ataupun sekedar memulaskan bedak pada wajahnya. Well, segalanya memang berubah semenjak Jinwoo lahir. Kebiasaan makannya hingga rutinitas perawatan kecantikannya. Bahkan ia lupa kapan terakhir kali berbelanja baju baru. Apa ia memang membutuhkan liburan dan berhenti sejenak dari rutinitas sehariannya sebagai ibu? Tidak, Jinwoo masih terlalu kecil untuk ditinggal sendirian. Dia bahkan masih membutuhkan ASI-nya.

“Omo, Jeyoung-ah!! Anak kita menghilang!!”

Jeyoung terkesiap sadar dari lamunannya ketika mendengar suara pekikan Minah. Ketika ia melirik ke sekeliling, ia baru menyadari putranya sudah tidak ada di sampingnya lagi.
“Cho Jinwoo!!!” teriaknya panik.

—o0o—

Kyuhyun sedang mengobrol ringan dengan beberapa kliennya sambil menikmati segelas sampanye Perancis yang mahal.
“Tidak ada tempat yang paling romantis di Paris selain Menara Eiffel.” Sahut Kim Saeryung, rekan bisnisnya dengan pandangan mengenang. “Aku dan suamiku melewati masa bulan madu di Perancis sana.” Jelasnya gembira.
“Bisa kulihat,” sahut Kyuhyun, “Aku dan istriku berencana berlibur ke sana.”
“Benarkah? Betapa romantisnya Anda. Masih bisa mengajak istri tercinta berbulan madu meskipun telah memiliki putra.”
Kyuhyun tertawa penuh wibawa untuk menyamarkan wajah tersipunya, “Hanya hadiah untuk wanita yang kucintai. Dia terlalu sibuk mengurus rumah tangga kami sehingga aku berpikir untuk mengajaknya berlibur. Kurasa Perancis adalah tempat yang paling tepat.”
“Jelas Anda memilih tempat yang sempurna. Aku yakin istri Anda akan merasa sangat dicintai.” Sahut yang lain.
Meskipun bibirnya tersenyum gembira namun dalam hatinya Kyuhyun sedih karena Jeyoung masih belum meluluskan ajakannya itu karena Jinwoo. Sebenarnya bukan masalah Kyuhyun mengajak serta putranya. Hanya saja Jinwoo masih terlalu kecil untuk bepergian jauh. Lagipula tidak nyaman rasanya berbulan madu sambil mengajak bayi. Alangkah sempurnanya jika ada yang bersedia mengurus Jinwoo sementara ia dan istrinya pergi berlibur ke Perancis.

“A—ppa.”

Kyuhyun membulatkan matanya kaget ketika ia mendengar suara khas anak kecil yang sangat di kenalinya. Ia merasakan sepasang tangan kecil memeluk kakinya. Ia dan rekannya yang lain sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Alangkah terkejutnya Kyuhyun saat menyadari Jinwoo sedang memeluk kakinya saat itu. Bayi itu tertawa senang lalu jatuh terduduk di lantai.
“Jinwoo,” seru Kyuhyun melihat putranya itu mulai merengut sedih. Ia langsung meraihnya sebelum Jinwoo menangis kencang dan menarik perhatian orang-orang seaula.
“Sshh, sayang, dimana ibumu? Kenapa kau bisa berkeliaran sendirian?”

Kyuhyun menoleh ke seluruh penjuru ruangan mencari sosok istrinya sambil menepuk-nepuk punggung Jinwoo agar tidak menangis. Jinwoo memang sedang belajar berjalan. Tetapi ia tidak menyangka bayi ini bisa kabur dari pengawasan ibunya dan tiba di tempatnya dengan selamat.
Jinwoo mengerucutkan bibirnya yang merah dan basah lalu berceloteh. Kyuhyun lega karena Jinwoo tidak jadi menangis. Bisa repot jadinya karena ia tidak tahu bagaimana cara meredakan tangisannya.

“Kau berjalan jauh untuk mencari Appa, hmm? Anak pintar, kau sudah menemukan Appamu.” Kyuhyun mengangkat Jinwoo tinggi-tinggi, membuat bayi lelaki itu terkekeh senang. Kaki dan tangannya bergerak-gerak lincah menendang-nendang udara. Ia lalu menoleh pada rekan-rekannya yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan kagum. Kyuhyun sekarang benar-benar terlihat sebagai seorang pria penyayang keluarga, juga ayah yang luar biasa.
“Kuharap kalian tidak keberatan jika kutinggalkan, aku harus mencari Jinwoo Eomma.” ujarnya sopan.
“Mengapa tidak?” jawab salah satu rekan bisnisnya itu sambil tersenyum hangat. Kyuhyun langsung pergi sambil sesekali mengajak putranya bermain.

Aigoo, Jinwoo!!”

Betapa leganya Jeyoung ketika ia menemukan putranya itu dalam pelukan suaminya. Dengan langkah lebar ia menghampiri Kyuhyun.
“Sayang, Jinwoo kita pintar sekali. Dia mengenaliku di sekian banyak orang dan berhasil tiba di sampingku dengan selamat.” Ujar Kyuhyun ketika Jeyoung tiba di depannya. Istrinya itu tidak menghiraukannya sama sekali karena satu-satunya hal yang dipikirkannya adalah kenyataan bahwa Jinwoo baik-baik saja.
“Kau hampir membuat Eomma mati cemas, sayang. Jangan ulangi lagi, oke.” Jeyoung mendesah lega lalu mengambil Jinwoo dari pelukan Kyuhyun. Ia memeluk putranya itu dengan sayang seolah baru saja menemukan mainan lama yang hilang.
“Aigoo, Jinwoo tidak diculik atau semacamnya bukan? Dia hanya terlalu lincah.”
“Ya, dan bagaimana jika Jinwoo tidak pernah ditemukan lagi atau dibawa pergi oleh seseorang yang tidak dikenal?” sahut Jeyoung dengan ekspresi lega bercampur kesal karena Kyuhyun tidak sepanik dirinya.

Kyuhyun langsung melemaskan bahunya, “Aku tahu kau terlalu menyayangi Jinwoo. Tapi bisakah kau tidak terlalu mencemaskannya secara berlebihan?”
“Astaga, Jinwoo masih bayi. Bagaimana bisa aku tidak mencemaskannya?” Jeyoung mulai jengkel. Kenapa Kyuhyun selalu menanggapi semua masalah dengan sesantai ini?
“Jangan mulai mendebatku lagi, sayang. Kita sedang berada di tengah pesta.” Ujar Kyuhyun mencoba bersabar. Tentu saja ia juga akan sepanik Jeyoung seandainya Jinwoo menghilang. Tetapi ia akan berusaha agar hal itu tidak terjadi. “Lagipula apa yang kau lakukan sampai kau kehilangan Jinwoo?”
“Aku hanya—“ Jeyoung berhenti ketika ia hampir saja mengatakan bahwa ia sedang memikirkan tentang ajakan Kyuhyun berlibur. Tetapi setelah kejadian ini ia harus berpikir ulang kembali. Ia sadar ia tidak akan bisa meninggalkan Jinwoo sendirian.

Jinwoo terisak ketika melihat kedua orang tuanya saling melempar pandangan dingin. Meskipun masih bayi namun dia bisa merasakan kemarahan dalam aksi diam ayah dan ibunya. Jeyoung buru-buru menenangkan Jinwoo lalu menatap Kyuhyun, “Aku tidak mau membahas ini lagi.” ia lalu pergi meninggalkan suaminya yang menghembuskan napas berat.

Sejak dulu selalu seperti ini. Satu-satunya hal yang sulit ia lakukan adalah meyakinkan Shin Jeyoung akan perasaannya.

~~~TBC~~~

343 thoughts on “Hello My Charming Wife #1 [Chapter 1]

  1. Yah jeyoung ko ngga mau d ajak bulan madu sih,
    ya ampun baby cho nya lucu banget deh,jadi gemes,cho kyuhyun kayanya jadi suami idaman banget tuh klo kya gtu kkkeee……

  2. Keluarga yg sempurna!!
    Iya, jeyoung nya keras kepala…
    Tapi, maklum lah. Dia ibu muda, pasti sayang bgt sama anaknya…

  3. jeyoung knpa ssh sekali di kadih penjelasan sama kyuhyun ya?ya ampun jinwoo kamu lucu banget sih nak..jadi gemes deh…di tunggu kelanjutannya ya..

  4. sabar donk Kyu appa….

    Untuk mendapatkan Jeyeong aja kamu harus berusaha mati2 jadi untuk meyakinkannya juga kamu harus mati2an donk…

    Sesuatu yang didapat dengan pengorbanan akan menjadikan sesuatu itu istimewa #jiah , so tetaplah jadi suami dan appa yang baik…..

    Untuk masalah ke Paris, aduuh sayang banget Jeyeong harus nolak, tapi emang sih kalau udah punya anak tuh ngk tega banget deh ninggalin meski hanya sebentar. Kalo honeymoon ngajak anak yah malah jadi aneh pake banget, judulnya udah bukan hanoymoon lagi tuh ….😀

  5. Ohhh jadi ini sequel dari my charming yeoja eon?? Wahhh seru dong…… Aku lanjut dulu ya eon.. Penasaran!!🙂

  6. kasihan je young kurus gt. memang jiwooo membutuh kan kasih sayang ibu tapi ditinggal beberapa hari ga jadi masalah

  7. Aish, ji young terlalu berlbhan hingga lupa mengurus dirinya sendiri.
    Ji young belum bisa membagi waktu antara mengurus anak dan mengurus dirinya sendiri.
    cus ke part selanjutnya eonnie ^^

  8. Keluarga kecil yg bahagia😀 tapi biar bagaimanapun Je Young tetap harus merawat diri,bagaimana kalo kyuhyun jadi tertarik dengan wanita di luar sana >< di karenakan Je Young yg sangat cuek dengan penampilan'nya,semenjak melahirkan anak mereka…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s