School in Love [Chapter 6]

Tittle : School in Love Chapter 6
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship, Romance

 

Main Cast :
Bae Suzy | Cho Kyuhyun | Park Jiyeon | Kim Kibum | Im Yoona | Lee Donghae

Dha’s Speech :
FF ini bercerita tentang persahabatan. How to get your love through friendship. Mempertahankan sahabat baikmu lebih penting daripada meraih cinta yang hanya akan membuatmu kehilangan sahabat penting yang kamu miliki. Happy Reading ^_^

Schol In Love Girls [Riri-Silla-Nitha]

===o0o===

CHAPTER 6

Meet with The Lover

SUZY tak pernah merasa sepanik ini ketika menghadapi kerumunan orang-orang. Tetapi kini bulu kuduknya berdiri dihujani tatapan tajam dari berbagai sudut. Sebagian besar siswa kelas platinum duduk di sekelilingnya.
“Pergi kau dari sini!”
“Iya pergi!!”
“Siapa yang menyuruhmu duduk di sana?!”

Sorakan-sorakan sinis itu membuat Suzy salah tingkah. Ia menutup telinganya agar tidak mendengar teriakan tajam yang ditujukan untuknya itu. Bodoh, kau bodoh Bae Suzy. Seharusnya kau bisa menjaga mulutmu sendiri.
Kibum yang tidak bisa membiarkan Suzy mendapat sambutan ‘hangat’ semeriah ini berdiri lalu berseru.
“Ya, berhenti! Siapa yang menyuruh kalian menyorakinya?” Tentu saja ucapan prince of school yang satu ini cukup ampuh dan meredakan sorak-sorai itu. Mereka langsung mematuhi kata-katanya dan beberapa saat kemudian suasana kembali normal. Fokus perhatian mereka kembali pada pertandingan. Kibum mendengus lalu kembali duduk.
“Kau bisa menurunkan tangan dari telingamu,” Kibum berbisik. Menuruti kata-kata Kibum, Suzy menjauhkan tangannya pelan-pelan dari telinganya dan mendesah lega karena tidak ada lagi yang menghujaninya dengan hujatan sinis.
“Terima kasih,” gumamnya. Sadar Kibum berada terlalu dekat dengannya, ia lekas mendorong pria itu jauh-jauh, “Jangan dekat-dekat denganku!”
“Huh, inikah sikapmu pada pria yang menjadi penolongmu?” namun Suzy tidak mendengar dengusannya karena gadis itu sibuk ber-euforia saat Donghae berhasil menyumbang poin untuk tim sekolahnya.
“Lee Donghae, kau yang terbaik!!!” Kibum sampai melonjak mendengar teriakannya.

Pertandingan persahabatan pun berakhir dengan kemenangan di pihak Royal President High School. Seperti biasa, Donghae yang mencetak point terbanyak. Suzy tidak bisa berhenti berteriak gembira bahkan di saat penonton perlahan-lahan membubarkan diri. Ketika menoleh, ia terkejut melihat Kibum masih berada di sampingnya.
“Kau tidak pergi?”
“Aku sedang menunggu Donghae.” sahut Kibum santai. Ia ingin tahu bagaimana reaksi gadis ini. Tetapi Suzy tidak histeris seperti yang dibayangkannya. Gadis itu memandangnya dengan ekspresi tak terbaca.
“Kenapa?” tanya Kibum heran karena Suzy terus memperhatikanya.
“Tidak…” Suzy mengedipkan matanya. Astaga, apa yang baru saja ia pikirkan? Untuk sesaat ia merasa Kim Kibum terlihat begitu menarik. Ia sekarang meyadari mengapa begitu banyak gadis yang jatuh pada pesonanya. Tetapi bagaimana pun, ia tidak akan pernah menyukai tipe playboy sepertinya.
“Aku menebak kau sudah mulai tertarik padaku.”
Suzy terhenyak kaget, “Percaya diri sekali. Lagipula bukankah kau seharusnya pergi berkencan hari ini?” tanya Suzy tiba-tiba.
“Bagaimana kau tahu?” pria itu terkejut.
“Kau tidak perlu bertanya, jawab saja.”
Kibum mendengus menerima kejutekan Suzy, “Aku malas. Lagipula menonton pertandingan sahabat itu jauh lebih penting.”
“Ck, alasan konyol! Aku tahu, kau tidak mau berkencan karena kau tidak serius berhubungan dengan gadis itu. I’m really sorry for your girlfriend, dan aku yakin kau melakukannya juga pada seribu pacarmu yang lain.”

Seharusnya kata-kata Suzy menyinggungnya dan membuatnya marah besar. Tetapi bukan kekesalan yang dirasakan Kibum saat ini, melainkan penyesalan.
“Bukan salahku. Mereka sendiri yang memintaku mengencani mereka.” Balas Kibum tanpa memandangnya.
”Tidak bertanggung jawab. Jika kau tidak menyukainya seharusnya kau mengatakannya dengan jujur. Membuat hati perempuan sakit saja.” ungkap Suzy kesal. Ia memang bukan salah satu korban Kibum, tetapi mendengar dan melihat cara Kibum memperlakukan seluruh mantan kekasihnya ia merasa jengkel. Kibum is a real damn ladiesman. Ia tidak memiliki minat mengobrol dengan pria ini lagi. Tanpa pamit terlebih dahulu, Suzy pergi begitu saja. Sementara Kibum terpaku mendengar penuturan dari Suzy. Setelah gadis itu pergi ia berkata dengan lirih.
“Tanpa perlu dibilang pun aku sudah mengetahuinya.”

—o0o—

Kim Kibum bodoh, jenis pria sepertinya yang sebenarnya harus ia perangi. Suzy terus terngiang pada pembicaraan antara dirinya dan Kibum tempo hari sehingga kali ini ia tidak bisa berkonsentrasi saat latihan.
“Ahh, pria gila!!!” Suzy melempar bolanya yang berhasil masuk ke ring dengan sempurna. Yoona langsung bertepuk tangan melihatnya.
Perfect three point, girl!” Serunya. Suzy seharusnya merasa puas karena berhasil menyempurnakan tembakan dari area three point. Namun karena pikirannya terlalu fokus pada hal lain ia hanya tersenyum kecut. Terlebih karena hari ini Lee Donghae tidak datang latihan.
“Yoon, apa Donhae selalu tidak datang saat latihan?” Suzy bertanya pada manager basket yang sedang membereskan bola yang berserakan di sisi lapangan. Yoona memiringkan kepalanya berpikir.

“Tidak juga. Terkadang dia datang.”
“Tapi aku jarang melihatnya latihan.”
Melihat Suzy begitu penasaran mendadak Yoona tersenyum simpul. “Kenapa, sepertinya kau sengsara jika tidak bertemu dengannya.”

Pertanyaan itu membuat Suzy panic.
“Ti-tidak apa-apa. Sebagai anggota klub yang baik, bukankah wajar jika aku bertanya tentang anggota yang jarang mengikuti latihan.”
“Tetapi kau hanya menanyakan Lee Donghae. Waeyo, kau menyukainya?”
Suzy tidak bisa membalas ucapan Yoona. Ia ingin berkata jujur, tetapi ia malu. Ia juga tidak bisa berbohong pada Yoona. Akhirnya ia hanya menunjukkan gigi putihnya pada sahabatnya itu.
I like him,” kedua pipinya memerah setelah mengakui hal itu. Melihat Yoona tidak bereaksi, Suzy melanjutkan dengan ragu-ragu, “Apa aku tidak pantas menyukainya?”
“Tidak, aku sangat memakluminya. Gadis bodoh mana yang tidak jatuh cinta pada Donghae yang tampan, berbakat dan baik hati itu.” senyum Yoona melegakan hati Suzy. Berkat kata-kata itu juga ia tiba-tiba merasa sedih.
“Tetapi aku sempat berpikir apa perasaanku ini akan dibalas olehnya. Aku takut Donghae membenciku setelah tahu aku menyimpan perasaan untuknya. Apalagi setelah aku dengan kasarnya mengacau di kelas Platinum. Aku malu setiap kali mengingatnya.” Suzy masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi Donghae ketika ia berteriak-teriak di depan Kyuhyun dengan kondisi tubuh berlumuran tepung. Ia selalu ingin terjun ke Sungai Han setiap kali mengingat hal itu. Malu sekali rasanya.
“Kau tidak akan tahu jika tidak mengatakannya dan aku yakin Donghae tidak akan membencimu saat dia tahu perasaanmu.” setelah mengatakannya tiba-tiba Yoona berpikir. Apa Donghae sudah menyukai orang lain? Atau bahkan dia sedang menjalin hubungan dengan gadis lain saat ini? Jika benar, lalu bagaimana dengan perasaan Suzy? Yoona tidak tega memikirkannya.

Yoona masih memikirkannya setelah latihan selesai dan sebagian besar anggota telah pulang. Sebagai manager ia masih harus membereskan peralatan klub basket ke tempat penyimpanan di lemari di dalam ruangan klub. Tentu saja Yoona tidak sendiri, dia meminta bantuan pada beberapa anggota klub laki-laki yang dengan senang hati membantu gadis cantik sepertinya.
Sambil menata handuk bersih kembali ke dalam lemari, Yoona tertegun. Kenapa pertanyaan tentang Donghae memiliki kekasih atau tidak sangat mengganggunya? Mungkin ia hanya merasa simpati pada Suzy dan ingin temannya itu menyempurnakan kisah cintanya. Ia sedang mengunci pintu lapangan basket indoor ketika ia melihat Donghae berjalan sendirian di sana.
Pada awalnya Yoona ingin menegur Donghae, tapi niatanya pudar ketika ia melihat Donghae menarik ponsel dari dalam saku celananya.
Yeobseo.
Yoona tidak berniat menguping pembicaraan orang lain, tetapi ia bisa mendengar dengan jelas kata-kata Donghae.
“Hari minggu nanti? Baiklah, akan aku usahakan… oh, oke. Sampai bertemu nanti ya.”
Setelah menutup pembicaraan, Donghae melanjutkan perjalanannya ke area parkir. Pria itu bahkan tidak menyadari sejak tadi Yoona mengintai tindakannya.
Donghae akan bertemu dengan seseorang hari minggu nanti? Apa mungkin ini pertemuan dengan seorang gadis?

—o0o—

Hari libur memang hari yang terbaik sepanjang masa. Suzy bisa tidur hingga siang tanpa khawatir akan ada yang mengomel-ngomel karena ia bangun kesiangan. Padahal semua orang di rumahnya memulai rutinitas akhir pekan masing-masing. Ibu dan adiknya sedang asyik berkutat di dapur dengan berbagai bahan-bahan untuk membuat kue sementara kakaknya fokus menekuni tanaman-tanaman bonzai koleksi kebanggaannya sejak kecil, sama seperti sang Ayah. Tuan Bae Sungwoo sendiri tidak berada di rumah karena tugas dinas di luar negeri.
“Minji, bangunkan Eonnimu sana. Ini sudah siang dan dia belum sarapan.” suruh Eomma pada anak ketiganya.
“Shireo, Eonni sering melemparku dengan bantal jika aku yang membangunkan.” Bae Minji yang baru berusia delapan tahun menolak mentah-mentah. Ia lebih menyukai membentuk adonan kuenya dengan cetakan berbentuk kepala kelinci.
“Sudahlah Eomma,” sahut Seungjo sambil memangkas beberapa ranting tanaman bonzainya, lalu melirik jam. “Aku yakin sebentar lagi dia akan bangun.” Dan ucapannya tepat sekali karena dalam hitungan lima detik kemudian, suara teriakan yang menggemparkan seluruh isi rumah terdengar dari arah kamar Suzy di lantai dua.

“AAAAAHHH… SUDAH JAM SEPULUH…!!!”

Seluruh kegiatan di rumah itu berhenti sejenak, termasuk Chelsea, anjing jenis Maltese milik Minji yang sedang menjilati air susu dalam cawan minumannya. Anjing berbulu seputih salju itu mendongak ke arah tangga. Sebenarnya hal itu sudah sering terjadi tetapi tetap saja teriakan Suzy selalu mengagetkan seluruh penghuni rumah.
Minji menoleh pada ibunya dengan kesal, “Eomma, penyakit amnesia Suzy Eonni sepertinya kambuh lagi.”
Eommanya hanya tersenyum seraya mengangkat bahu. Tidak lama setelahnya suara derap kaki menggema dengan cepat dari arah tangga.
“Dasar monster.” Seungjo hanya mendesis dengan kepala menggeleng. Suzy muncul di ruang makan dengan dapur dengan tampilan kacau. Eomma memekik ketika melihat penampilanya.
“Sayang, kau mau kemana?”
“Jangan mengajakku berdiskusi Eomma, aku sudah terlambat.” Dengan panik putri pertamanya itu mengambil segelas susu yang terhidang di atas meja makan dan sehelai roti tawar. Minji dan Seungjo hanya mendesah prihatin melihat tingkah Suzy sementara Eomma dengan sabar mendekatinya.
“Kenapa tidak ada yang membangunkanku?” gerutu Suzy sambil mengunyah roti itu dengan buru-buru. Ia tidak menyadari sama sekali ekspresi ngeri dari adik dan kakaknya.
Eomma, Eonni sakit lagi.”
“Sayang, kau tahu hari ini tanggal berapa?” Eomma mencoba menyembuhkan penyakit ‘amnesia sebagian’ nya Suzy. Gadis itu memandang heran ibuya.
“Tanggal 14.” Apa ibunya lupa melihat kalender hari ini? Pikirnya bingung.
“Kalau begitu kau tahu hari ini hari apa?”
“Tentu saja aku tahu. Bukankah hari ini hari minggu.” Jawabnya antusias lalu beberapa saat kemudian ia baru menyadari sesuatu. Bahkan sebelum Seungjo memberitahunya rasa malu telah menggerogoti hatinya.
“Jadi sekarang libur, adikku yang baik.” ucap Seungjo sabar sambil mengusap-usap kepalanya. “Kau tidak perlu pergi ke sekolah dengan seragam ini.”

Suzy menatap dirinya sendiri yang sudah memakai seragam lengkap dengan pipi memanas. Ia memandang ibunya yang tersenyum penuh pengertian dengan malu. Jika ada satu kekurangan besar yang dimiliki Bae Suzy, maka ia sangat buruk dalam hal ingat-mengingat jika tidak dicatat dalam reminder di ponselnya.
“Kau benar, Oppa.” jawab Suzy sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Bagaimana ia bisa lupa hari ini adalah hari libur. Ini sudah keterlaluan. Ia sudah memiliki masalah dalam mengingat jalan tanpa perlu lupa mengingat hari. Keluarganya menjuluki penyakin lupa Suzy ini dengan sebutan ‘amnesia sebagian’.

Suzy kembali ke kamarnya setelah dipaksa sarapan oleh ibunya. Ia hendak melepas baju seragam itu ketika ponselnya berdering. Dengan semangat ia mengambil ponsel yang tersimpan dalam jas seragamnya.
“Yeobseo,” sapa Suzy mengawali pembicaraan.
“Pagi…” terdengar suara seorang perempuan berbicara di ujung sana. Tapi Suzy sudah tahu siapa yang berbicara.
“Yoon,”
“Kenapa belum datang? Bukankah sudah kukirimi pesan bahwa hari ini kita latihan.”
Suzy terperanjat, “Jinjja?” ia langsung memeriksa kotak masuk dan langsung menyadari sms dari Yoona tadi malam—yang tidak dibacanya dengan benar karena ia terlalu sibuk bermain game melawan kakaknya, Seungjo. “Maaf Yoon, aku baru membacanya.”
“Kalau begitu cepat kemari. Donghae sudah datang sejak tadi.”
“Benarkah?!” Suzy memekik senang, “Baiklah, baiklah. Aku datang secepatnya.” Mana mungkin ia melewatkan kesempatan selangka ini. Tanpa mengganti bajunya lebih dulu ia bergegas pergi.

—o0o—

Tiga puluh menit kemudian Suzy sudah tiba di lapangan basket indoor. Sebagian besar anggota telah tersebar di seluruh penjuru lapangan dengan seragam latihan. Sementara Suzy yang masih memakai seragam sekolah itu langsung menghampiri Yoona dengan wajah ceria.
“Im Yoona…” panggilnya. Gadis cantik itu menengok.
“Akhirnya, kukira kau tidak akan datang.”
“Aku tidak mungkin melewatkannya. Apa benar Donghae datang?” Suzy memandang ke sekeliling lapangan mencari sosok pria itu dan ia baru sadar semua anggota klub sudah datang.
“Semuanya datang. Ajaib sekali mengingat Pelatih Shim sendiri belum datang.” gumam Suzy saat ia belum melihat kehadiran pelatih mereka.
“Ini bukan usul dari pelatih. Tapi inisiatif dari sang kapten sendiri mengingat turnamen basket nasional akan digelar tak lama lagi.” Ujar Yoona membuat Suzy mengangguk paham. Ternyata pengaruh Lee Donghae memang luar biasa.
Senyum Suzy baru melebar ketika Donghae, prince of platinum class itu datang dengan bola basket di tangan kirinya. Dia yang akan melatih hari ini menggantikan Pelatih Shim Changmin yang berhalangan hadir.
“Oke teman-teman, terima kasih sudah hadir dalam latihan ini. Aku tahu mungkin di antara kalian seharusnya menikmati liburan kalian di rumah tetapi aku dengan seenaknya mengacaukan hal itu.”
“Aku bahagia bertemu denganmu!” seru Suzy tanpa sadar telah memotong pidato Donghae. Seluruh orang di lapangan itu menoleh padanya, termasuk Donghae. Ia yang baru sadar bahwa ia menyuarakan isi kepalanya terlalu kencang langsung menunduk untuk menyembunyikan wajah memerahnya.
“Memalukan,” bisiknya malu. Yoona hanya menahan tawa sementara Donghae mengulum senyum lalu kembali berpidato.
“Aku melakukannya demi penampilan kita di turnamen nasional nanti. Tim basket sekolah kita harus kembali meraih juara seperti tahun-tahun sebelumnya karena itu kita harus berlatih ekstra keras. Baiklah, kita mulai saja latihan ini.”
“Baik!!” kali ini tidak hanya Suzy yang berteriak penuh semangat. Seluruh anggota itu dengan gembira menyambut latihan mereka hari itu.

Selama latihan Suzy berkali-kali mencari perhatian Donghae dengan permainan bolanya yang dibuat-buat kacau. Berhasil, Donghae akhirnya menghampirinya dengan raut kesal karena melihat Suzy lagi-lagi gagal merebut bola dari lawan mainnya, Soyu.
“Bae Suzy, jika kau bermain seperti itu timmu akan ketinggalan angka.” Omelnya. Ia lalu menyuruh Soyu berlatih dengan orang lain sementara Suzy dilatih sementara olehnya. Tentu saja itu yang ditunggu Suzy. Ia dengan senang hati menerima gerutuan apapun yang akan dilayangkan Donghae.
“Pegang bolanya dengan benar.”
“Astaga, dengan posisi seperti itu seharusnya kau bisa merebut bola.”
“Gerakkan tubuhmu dengan cepat jika tidak ingin bolamu diambil lawan.”
“Seharusnya tadi kau bisa mencetak poin.”
Jinjja, kau sungguh kacau.”

Itulah beberapa omelan Donghae yang diterima dengan hati gembira oleh Suzy. Jika orang lain yang mengatakannya mungkin ia sudah balas meneriaki orang itu tetapi karena ini Lee Donghae, Suzy tidak merasa sakit hati sedikitpun. Justru bahagia. Kini dengan tubuh berkeringat ia duduk di tepi lapangan. Donghae menyuruhnya istirahat sementara pria itu sibuk berlatih dengan anggota lain.
“Aku selalu gembira melihat ekspresi seseorang yang jatuh cinta.”
Suzy mendongak pada Yoona yang tersenyum sambil mengulurkan sebotol air mineral. Gadis itu ikut duduk di sampingnya.
“Kau sengaja melakukannya bukan? Yang kutahu permainanmu tidak seburuk itu. Tembakan di area three poinmu bahkan sudah mendekati sempurna.”
“Kau tahu, ya, aku memang sengaja melakukannya.”
“Astaga, dia pasti marah jika mendengarnya.” Yoona melebarkan mata dengan takjub. Suzy tidak tahu saja saat Lee Donghae mengamuk, bahkan serigala pun tidak akan berani melolong.
“Biar saja, jika itu bisa membuat Donghae memandangku, aku akan melakukan apa saja.”

Yoona tersenyum melihat semangat Suzy. Ia teringat pada janji Donghae bertemu dengan seseorang hari ini. Ia berniat menyampaikannya pada Suzy namun ia mengurungkan niatnya karena belum tentu Donghae akan menemui seorang gadis. Ia tidak tega menghapus raut gembira Suzy hari ini.

Ketika latihan usai sore harinya, Donghae tampak bergegas menuju motornya yang diparkir di area parkir sekolah. Yoona yang dihantui rasa penasaran memutuskan mengikuti Donghae dengan mobilnya. Jika ia telah memastikan Donghae menemui seorang gadis dan dia adalah kekasihnya ia akan segera memberitahu Suzy. Ia berhasil mengikuti Donghae hingga pria itu berhenti di sebuah departement store besar di pusat kota. Yoona bergegas turun dari mobilnya melihat Donghae begitu terburu-buru. Tetapi banyaknya orang yang mengunjungi tempat itu membuat Yoona kehilangan Donghae begitu ia tiba di dalam sana.
“Sial.” Yoona mendengus kesal.
“Yoona…” seru seseorang ketika ia berniat meninggalkan tempat itu. Yoona membalikkan badan dan terkejut melihat seorang laki-laki yang memakai jaket warna coklat tengah berdiri di depannya dengan senyum hangat.
“Kau…” Yoona tidak percaya akan bertemu dengannya lagi. “Taecyeon Oppa,” ucapnya menyebut nama pria itu.

—o0o—

Mereka berdua duduk berhadap-hadapan di sebuah kafe tanpa obrolan sepatah kata pun. Yoona mengaduk-aduk segelas ice chococinonya, ia tidak sanggup untuk memandang Taecyeon.
Long time no see, Yoon.” Taecyeon memulai pembicaraan. Kini mau tak mau Yoona harus memandang wajahnya.
“Iya.” Jawab Yoona datar.
“Sudah banyak yang berubah sejak aku pergi dua tahun yang lalu.” Taecyeon memandang lekat wajahnya. Yoona merasa tidak nyaman dengan cara pria ini memandangnya.
“Kenapa kau kembali ke Korea?”
“Aku merindukan kampung halamanku. Aku juga merindukan teman-temanku, dan yang paling utama, aku merindukanmu.” Yoona seketika kesal mendengarnya. Seenaknya saja pria ini berkata setelah begitu besar rasa kecewa yang ia alami karena pria ini.
“Bohong, kau tidak mungkin merindukanku.”
Taecyeon terperangah, “Yoon, kali ini aku jujur.”
“Aku tidak percaya.”
“Aku menyayangimu, Yoon. Aku tahu kau pasti kesal karena aku pergi tanpa berpamitan denganmu. Saat itu aku tidak memiliki pilihan. Tolong mengertilah.”
“Mengapa aku harus selalu aku yang mengerti? Mengapa kau tidak mencoba mengerti diriku? Kemana kau di saat aku membutuhkanmu? Kau tiba-tiba mengilang saat aku membutuhkan perhatian dan dukungan darimu. Setelah membuat hatiku kecewa sekarang kau memintaku untuk mengerti dirimu? Menggelikan.”
Yoona langsung pergi setelah puas melampiaskan semua kekesalannya. Sudah dua tahun berlalu sejak Taecyeon, cinta pertamanya itu pergi. Ia tidak pernah lupa kejadian itu. Peristiwa pahit yang membuat kekesalannya memuncak kembali.

Saat itu, Yoona baru saja menjalin hubungan dengan Ok Taecyeon. Ia baru saja duduk di bangku kelas dua SMP sementara Taecyeon kelas 3. Setelah beberapa bulan berpacaran, tanpa diduga ia mendengar berita bahwa Taecyeon dan keluarganya akan pindah ke luar negeri. Ia yang tidak ingin membuat keributan mencoba menunggu Taecyeon menceritakan sendiri padanya. Tetapi Pria itu tidak kunjung mengatakan apapun perihal kepergiannya. Masalah berikutnya muncul ketika hubungan mereka ditentang oleh Ayahnya.
Yoona sesungguhnya ingin mempertahankan hubungannya dengan Taecyeon tetapi sepertinya pria itu tidak berpikir demikian. Hubungan pun menjadi semakin renggang. Karena rasa sayang Yoona begitu besar untuknya, ia berusaha untuk meminta maaf. Hubungan sempat membaik. Hingga tiba berita yang sangat mengguncang hati Yoona. Ayahnya mengalami serangan jantung dan meninggal dunia. Ia ingin ada Taecyeon yang menghiburnya. Ia mencoba menghubungi Taecyeon mengharapkan pria itu akan menghiburnya tetapi yang ia dapat justru kabar bahwa pria itu telah pergi ke luar negeri. Disitulah awal kekesalan dan rasa kecewa Yoona untuk pria itu. Betapa teganya dia pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Dua orang yang dia sayangi pergi begitu saja, meninggalkan luka yang mendalam dalam hati gadis kecil sepertinya.
Hingga saat ini peristiwa itu masih menyayat hatinya. Ia berjanji tidak akan menangis lagi tetapi hari ini, ia menangis mendengar Taecyeon mengatakan kata sayang padanya. Trauma di masa lalu membuatnya terpaksa menutup hati. Ia tidak ingin menerima pernyataan sayang dari siapa pun lagi, termasuk dari pria yang pernah menjadi kekasihnya dahulu.

—o0o—

Hari sudah malam saat Yoona menangis sendirian di taman. Entah kenapa hanya dengan mengingat masa lalu cukup membuatnya menangis tersedu-sedu. Ia memang salah sudah menentang Ayahnya, tetapi haruskah ayahnya menghukumnya dengan rasa bersalah yang begitu dalam? Ia bahkan belum sempat meminta maaf pada ayahnya. Tetapi ia tidak mengerti apa salahnya pada Taecyeon sehingga pria itu meninggalkannya di saat ia terpuruk dan muncul kembali di saat dirinya mencoba untuk melupakannya.
“Ah, ternyata benar Yoona.” Seru seseorang. Yoona menengadahkan kepalanya karena kali ini ia mendengar suara perempuan. Matanya melebar menyadari Jiyeon berdiri di hadapannya.
“Yoon, kau baik-baik saja? Kenapa menangis sendirian di sini?” Jiyeon kaget saat melihat lelehan air mata di pipi Yoona. Gadis itu buru-buru menghapus airmatanya dengan punggung tangan lalu tersenyum.
“Aku hanya kelilipan debu.”
Jiyeon hanya mengangguk tanpa mencurigai apapun. Dia memang tidak seperti Suzy yang sangat penasaran di saat seseorang tidak ingin menjelaskan apapun. Ia cukup paham bahwa saat ini Yoona tidak ingin dipaksa menceritakan alasan mengapa dirinya menangis. Yoona baru menyadari Jiyeon menenteng sebuah kantong plastik yang penuh dengan bahan makanan di tangan kirinya.
“Kau habis berbelanja untuk makan malam?”
“Oh, iya.” Sahut Jiyeon sambil melirik
“Apa kau juga yang memasaknya?” jika Jiyeon bisa membuat kue enak seperti yang dimakannya tempo hari artinya memasak makan malam pun mungkin hal mudah untuknya.
“Siapa lagi yang akan memasak jika bukan aku. Appa sibuk, sementara Eomma… beliau sudah meninggal empat tahun yang lalu.” Wajahnya langsung diselimuti kesedihan setiap ia teringat masa lalu ketika ibunya meninggal dunia.
Yoona langsung merasa tidak enak hati, “Maaf, aku tidak bermaksud…”
“It’s okay,” sela Jiyeon dengan senyum lebar. Memang menyedihkan, tetapi ia mencoba melupakannya. “Oh, ya, bagaimana kalau kau ikut ke rumahku untuk makan malam?” ajaknya dengan mata berbinar. Ia selalu gembira mengajak orang lain makan malam di rumahnya.
“Tapi…”
“Tidak ada penolakan!” Jiyeon menarik tangan Yoona dan segera mengajaknya ke rumahnya. Letak rumah Jiyeon tidak terlalu jauh dari taman itu, hanya tinggal berjalan selama sepuluh menit dan kau akan langsung menemukannya dengan mudah karena rumah dengan papan nama Park di depan rumah di areal itu hanya ada satu.

Rumah Jiyeon tidak semewah rumahnya. Tetapi rumah ini sangat unik dan tradisional dengan arsitektur tempo dulu yang didominasi kayu dan batu-batuan alam. Yoona jadi teringat rumah-rumah dalam drama Saeguk(sejarah) yang pernah ditontonnya tetapi rumah Jiyeon ini mirip sekali seperti beberapa hanok(rumah tradisional korea) yang bisa dijumpai di daerah Bukchon. Halaman rumah cukup luas dengan satu kolam ikan koi khas Jepang di sudut taman. Banyak tanaman sikas dari berbagai varietas berjejer di sepanjang jalan setapak dari batu kali yang menuju bangunan utama. Ia memandangnya dengan kagum. Yoona menyimpulkan Ayah Jiyeon adalah seorang hobiis tumbuhan itu atau mungkin Jiyeon sendiri. Salah jika seseorang menyimpulkan pemilik rumah ini adalah seseorang dari kalangan menengah ke bawah. Tidak mungkin orang biasa memiliki rumah seluas dan seindah ini.

Pendapat Yoona benar ketika ia menginjakkan kaki di dalam rumah Jiyeon. Tampak luar memang terlihat tradisional namun rumah itu dipenuhi oleh furniture antik yang dikombinasikan dengan beberapa peralatan elektronik model terbaru. Ia bahkan melihat beberapa setsugekka karya pelukis Jepang terkenal tergantung di dinding. Pandangannya tertuju pada foto keluarga yang tertempel di dinding ruang duduk utama. Ada empat orang dalam foto itu. Jiyeon, ayahnya, lelaki yang lebih tua yang kemungkinan kakak Jiyeon dan wanita cantik yang tersenyum.

“Ibumu cantik sekali” Ucap Yoona, ia merasa familiar dengan wajah itu.
“Terima kasih.” Sahut Jiyeon dari dapur.

Jiyeon sekarang tinggal dengan ayah dan kakak laki-lakinya. Ayahnya adalah seorang peneliti senior di bidang ilmu botani, dan kakaknya sekarang seorang mahasiswa semester akhir jurusan teknik. Selain belajar Park Jungsoo, kakaknya juga mulai merintis restoran jajangmyunnya. Jiyeon terkadang berkunjung ke sana untuk meminta jajangmyun gratis.
“Apa kau selalu sendirian di rumah ini?” ia bertanya karena sudah malam seperti ini rumah masih juga sepi. Padahal hari ini adalah hari Minggu. Ia paham jika Jiyeon begitu antusias mengajaknya makan malam bersama. Siapa yang mau makan sendirian di rumah yang sepi di malam hari?
“Hampir setiap hari. Tapi rumah akan ramai lagi saat makan malam tiba. Jadi kau tenang saja, sebentar lagi Ayah dan kakakku akan pulang.”
Mereka berdua mulai sibuk memasak. Yoona tidak terlalu pandai memasak sehingga ia tidak begitu banyak membantu. Alhasil Jiyeon hanya memintanya memotong sayur dan mencuci beras.
“Kau benar-benar terampil masak.” ucap Yoona kagum karena di rumahnya sendiri ia hampir tidak pernah masak. Sudah ada chef dari Italia yang memasakkan makanan untuk seluruh keluarganya.
“Kau juga pasti terampil jika rajin berlatih.”

Dua puluh menit kemudian, semua masakan sudah terhidang di meja makan. Meskipun Yoona tidak mengambil banyak bagian ia merasa sangat puas. Terdengar suara pintu depan dibuka ketika ia sedang meletakkan panci sup di tengah meja.
“Itu pasti Oppa.” Ucap Jiyeon senang. Benar saja, seorang laki-laki berusia kurang lebih 24 tahun meuncul dari arah ruang tamu. Pria itu langsung berseru melihat meja makan sudah penuh hidangan untuk makan malam.
“Whua, kebetulan sekali. Perutku sudah lapar.” Ia tersenyum menyadari Jiyeon tidak sendiri, “Ada temanmu rupanya.”
Oppa, perkenalkan dia Im Yoona. Yoona, dia Oppaku tercinta, Park Jungsoo.” Jiyeon memperkenalkannya.
“Hallo,” Jungsoo tersenyum ramah. “Kau akan ikut makan malam dengan kami bukan?”
“Jika Oppa tidak keberatan.”
“Tentu saja tidak, anggap saja rumah ini rumahmu sendiri.” ia menoleh pada adiknya, “Aku akan ganti baju dulu.” Jungsoo melesat meninggalkan ruangan itu.
“Kakakmu baik sekali.”
“Memang, tapi terkadang berlebihan.”

Kehangatan semakin terasa saat ayah Jiyeon datang dan mereka makan malam bersama. Jiyeon terkejut mengetahui ayahnya dan Yoona memiliki ketertarikan yang sama.
“Tanaman sikas paman di depan rumah sungguh menakjubkan.”
“Wah, tak kusangka anak muda sepertimu paham. Sikas di depan memang varietas langka yang sedang kubudidayakan.”
“Aku mengelola rumah kaca di sekolah. Di sana ada sekitar dua ratus jenis tanaman dan beberapa di antaranya dari adalah tumbuhan langka. Jika aku boleh tahu paman mendapatkannya dimana? Aku juga ingin menanamnya di rumah.”
“Jenis itu benar-benar langka. Bibitnya saja di dapat saat ada pameran tanaman hias di sebuah kebun raya di Kanada.”
“Ah, pantas saja. Aku tidak pernah melihat jenis itu di Korea sebelumnya.”
Jinjja, kalian bisa menghabiskan malam ini dengan satu topik saja.” ucap Jungsoo kagum.
“Aku baru tahu Yoona menyukai tanaman.” Sambung Jiyeon. Pantas saja ia sering melihat Yoona berada di green house sekolah.
Yoona tersenyum, “Sekarang aku tahu kemana aku harus berkonsultasi.”

Park Jungmin—ayah Jiyeon tertawa lebar. “Datanglah kapanpun, nak. Aku akan menyambut siapapun yang mencintai tanaman dengan tangan terbuka.”
Yoona juga baru mengetahui Ayah Jiyeon adalah kepala peneliti di pusat penelitian untuk ilmu botani terkenal di Seoul. Ia tidak menyangka pria ramah yang penuh humor ini adalah seseorang yang jenius.
“Aku sempat mengira Jiyeon tidak akan mendapat teman mengingat sikap canggungnya.” Ucap Jungsoo. Jiyeon langsung mengerucutkan bibirnya.
“Asal Oppa tahu, aku sudah memiliki dua sahabat baik. Suzy dan Yoona. Suzy seseorang yang pemberani sementara Yoona benar-benar baik hati. Mereka banyak menolongku.”
“Jiyeon, kau berlebihan.” kedua pipi Yoona merah karena tersipu.
Makan malam itu terasa sangat menyenangkan. Yoona belum pernah merasakan kegembiraan seperti ini. Sebuah keluarga memang harus seperti ini. Hangat, dan penuh dengan cinta. Ia tidak pernah merasakannya lagi, setidaknya setelah kematian ayahnya.

—o0o—

Ketika mereka bertemu kembali di sekolah, Yoona mengucapkan rasa terima kasihnya pada Jiyeon saat mereka bertemu di green house untuk membantu gadis itu merawat tanaman. Suzy mendengar seluruh cerita menyenangkan Yoona saat berkunjung ke rumah Jiyeon dengan raut iri. Jiyeon langsung meminta Suzy ke rumahnya.

Jiyeon baru keluar dari perpustakaan tepat pukul saat langit sudah berwarna oranye, lega rasanya karena dia telah menyelesaikan tugas sejarahnya. Ia berjalan santai menyusuri lorong dengan beberapa buku di tangan. Ia tidak sabar untuk sampai di rumah karena Suzy akan berkunjung ke rumahnya malam ini.
“Sebaiknya aku memasak makan malam apa?” ia sedang memikirkan beberapa menu makan malam saat ia mendengar suara benda jatuh yang kencang dari salah satu ruangan.
“Brakkk!!!”
Jiyeon kaget hingga buku yang dipegangnya jatuh berantakan di lantai. Ia segera memungut bukut-buku itu sambil menajamkan telinga. Suara apa itu? Tidak mungkin hantu bukan? Ini masih sore. Hantu mana yang mau muncul saat matahari masih menampakkan diri.
Jiyeon yakin ini bukan perbuatan usil hantu saat suara berisik itu terdengar kembali. Ini pasti ulah manusia. Ia berjalan mencari sumber suara. Ternyata, suara itu berasal dari tempat latihan ekstrakulikuler karate. Jiyeon mengintip dari celah pintu yang terbuka. Ada seseorang di dalam ruangan dan dia sedang latihan memecahkan setumpuk balok dengan tangan kosong. Jiyeon menahan napas. Bukankah itu Cho Kyuhyun?!
“Tentu saja, Kyuhyun mengambil ekskul karate.” Karena terlalu mengagumi tanpa disengaja buku yang dipegangnya terjatuh.
“Siapa itu?” Kyuhyun berhenti saat ia selesai menumpuk balok lagi, ia terkejut. Jiyeon panik dan segera merapikan bukunya. Ia berniat kabur sebelum tertangkap oleh Kyuhyun namun gerakannya terhenti ketika ia sadar Kyuhyun berdiri di depannya. Gadis itu tersenyum kikuk.

“A-Apa kabar.”

~~~TBC~~~

(Masih bingung couplenya siapa aja??? ^_^ gak akan ada cinta segi-segian di sini. Aku kurang suka hubungan yang merusak persahabatan.)

317 thoughts on “School in Love [Chapter 6]

  1. Makin penasaran >_< couple'nya blm ketebak,masih bingung -_- tapi pengen'nya sih Donghae sama Yoona,Kibum sama Jiyeon & Kyuhyun sama Suzy :v

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s