School in Love [Chapter 4]

Tittle : School in Love Chapter 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship

 

Main Cast :
Bae Suzy | Cho Kyuhyun | Park Jiyeon | Im Yoona | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Ini adalah FF bertema persahabatan dan kehidupan sekolah. Jadi maaf ya kalau sesi romantis-romantisannya masih jauh ^_^

Happy Reading

School in Love by Dha Khanzaki 3

====CHAPTER 4====

Suzy vs Kyuhyun

SUDAH hampir lima belas menit Suzy berdiam di depan pintu masuk gedung dengan kedua tangan melipat di depan dada. Ia sedang menunggu seseorang. Sudah ditekadkannya dalam hati, kali ini ia tidak akan membiarkan siapapun membully Jiyeon. Ia harus memastikan Jiyeon selamat hingga tiba di depan kelasnya. Tetapi ia heran karena Jiyeon tak kunjung muncul. Apakah gadis itu sakit karena tempo hari dia disiram air hingga basah kuyup.

Bagaimana ia tidak memikirkan kemungkinan itu? Ia harus menghubungi Jiyeon untuk memastikan keadaannya. Sebelum ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, sosok yang dinantikan muncul setelah sebuah mobil audi putih berhenti.
“Jiyeon-ah,” panggil Suzy girang. Gadis itu melambaikan tangan.
“Selamat pagi!!” sapa Jiyeon ceria.
“Kau terlihat senang, ” Suzy lega melihat paras Jiyeon begitu bahagia seperti tidak pernah terjadi hal buruk sebelumnya. Dia terlihat tidak takut dengan bahaya yang siap menghadang di depannya.

“Dibully satu kali tidak akan membuat Park Jiyeon jera,” balasnya mantap.
“Itu baru sahabatku! Kajja,” Suzy langsung menggandeng lengannya.

Mereka berdua berjalan melintasi lobi sekolah. Tidak terlihat keanehan yang terjadi ketika mereka melewati aula namun begitu tiba di koridor menuju ruang kelas Jiyeon, hawa aneh mulai terasa. Pandangan orang-orang tertuju ke arah mereka. Menusuk, dingin, dan tidak bersahabat. Suzy bisa merasakan aura tidak menyenangkan itu. Mereka jelas mengincar Jiyeon.
“Jiyeon-ah, ke belakangku sekarang!” titahnya waspada.
“Suzy-ah,” Jiyeon terharu karena tak pernah ada yang melindunginya hingga seperti ini. Meskipun tidak enak hati ia tetap berdiri di belakang Suzy.

“Dua orang pecundang seperti kalian berani juga datang ke sekolah ini!”
“Pergi kalian dari sini!”
“Iya! Pergi!”

Mereka terus dihujani oleh kata-kata pedas. Tak dipungkiri lagi bahwa orang-orang itu ingin sekali Jiyeon dan Suzy enyah dari sekolah. Suzy merasakan telinganya memanas karena kata-kata pedas itu. Ia mengorek-ngorek telinganya dengan kesal.
“Enak sekali kalian bicara!” omelnya jengkel, “Orangtua kami mengeluarkan banyak uang untuk bersekolah di sini. Lagipula bukan kalian yang memutuskan kami keluar atau tidak.” Tegasnya menggebu-gebu. Semangat Suzy itu tertular pada Jiyeon. Gadis itu ikut maju untuk membela diri.
“Betul, jika memang ingin kami pergi, kembalikan uang kami!” Jiyeon ikut berbicara juga setelah beberapa saat lalu dia diam. Kenekatan mereka berhasil menyulut kemarahan orang-orang itu.
“Dasar tidak tahu malu! Sudah merugikan Kyuhyun masih saja berani bertingkah.”

Siapa yang bertingkah siapa yang mendapat makian. Suzy menggeram dalam hati. Pada intinya yang menjadi sang biang keladi adalah Kyuhyun si raja sinis. Jika ingin menghentikan kegilaan ini maka Suzy harus memulai dengan mencabut akarnya. Ia harus menuntut Cho Kyuhyun agar menarik kembali kata-katanya. Jika tidak, maka kekacauan ini akan terus berlanjut. Ia akan menemui pria itu setelah ia mengantarkan Jiyeon ke kelasnya dengan selamat.
“Ayo Jiyeon-ah, jangan pedulikan mereka!” Suzy menarik tangan Jiyeon lalu menyeruak keluar dari kerumunan orang-orang itu. Ia mendesah lega setelah tiba di depan ruang kelas Jiyeon.
“Nah, kau selamat. Jangan keluar kelas lagi dan istirahat nanti aku akan menjemputmu untuk makan siang bersama. Arraseo
Jiyeon mengangguk senang, “Kau baik sekali Suzy-ah, jeongmal gomawo.
Suzy tersenyum kecil, “Ayo, kuantar kau ke depan kursimu.”

Mereka bergerak memasuki ruangan itu tanpa memikirkan apapun, termasuk jebakan yang mungkin saja disiapkan di kelas itu untuk Park Jiyeon. Begitu Suzy membuka pintu kelas, tak disangka-sangka sebuah ember yang berisi terigu tumpah tepat di kepalanya. Jiyeon menjerit kaget. Seketika sekujur tubuh Suzy menjadi putih dan kotor oleh tepung terigu.
“Suzy-ah!!”
Suara gelak tawa menggelegar dari dalam kelas. Meskipun tidak tepat pada sasaran tetapi mereka sangat puas karena ternyata yang masuk perangkap adalah Bae Suzy si pembangkang. Jiyeon menatap teman-teman sekelasnya dengan perasaan campur aduk. Ia merasa bersalah dan bertanggung jawab. Ia tidak tahu siapa yang menaruh ember itu di sana dan apa tujuannya, tetapi sepertinya jebakan ini sengaja dibuat untuknya. Ia merasa bersalah pada Suzy.

Suzy terdiam selama beberapa saat karena syok. Ketika berhasil mengumpulkan seluruh emosinya, tangannya mengepal erat. Panas di hatinya mulai memuncak. Semua ini sudah tidak bisa dibiarkan. Seseorang harus memperingatkan Kyuhyun dan itu adalah dirinya.
“Aku tidak tahan lagi. Pria itu, bagaimanapun harus tahu dengan siapa dia membuat masalah!” bisik Suzy penuh dendam. Tanpa berkata apa-apa lagi gadis itu berbalik pergi dengan amarah meninggi.
“Kau akan pergi kemana, Suzy-ah?” teriak Jiyeon panik. Suzy tidak menjawab seruannya. Dia terus berjalan, menembus sekumpulan anak-anak yang menghadangnya. Tujuannya hanya satu; ruang kelas platinum tempat Kyuhyun berada.

—o0o—

Koridor daerah terlarang dilaluinya tanpa ada ketakutan sedikit pun. Berbeda dengan tempo hari saat ia tak berani menembus tempat itu sendirian. Hari ini ia telah melepaskan semua kekhawatirannya di ruang kelas Jiyeon. Ia tidak peduli apapun. Ia siap menerima apapun konsekuensinya karena detik ini yang ingin ia lakukan hanyalah mengacau di kelas platinum. Sepanjang melalui koridor itu orang-orang melayangkan macam-macam komentar padanya. Entah karena kondisinya yang terbalur tepung dari ujung rambut hingga ujung kaki atau karena dirinya adalah siswa kelas biasa yang nekat menerobos koridor terlarang itu. Alasan manapun ia tak memedulikannya.

BRAKKK!!!

Seisi kelas yang terkejut langsung mengarahkan pandangannya ke pintu. Suzy memasuki kelas 1–1 dengan membawa kehebohan ke dalam kelas platinum itu. Pandangan mereka berubah ngeri melihat penampilannya.
“Ya, apa yang kau lakukan di sini!” seseorang menahan Suzy agar tidak masuk. Pria itu adalah Kim Junsu, ketua kelas 1–1.
“Kau mencemari ruangan ini!” seru yang lain sambil memandangi badan Suzy yang kotor. Mereka terbiasa dengan ruang kelas yang selalu bersih serta bebas dari polusi dan debu. Mereka mengibas-ngibaskan tangan dengan heboh, beberapa orang bahkan melarikan diri keluar untuk mencari udara segar dan sebagian yang lain mulai menyemprotkan pengharum ruangan ke seluruh penjuru kelas. Suzy tidak memedulikannya sama sekali karena itu bukan urusannya. Matanya memandang berkeliling dengan liar, mencari seseorang.

“Perlihatkan dirimu, Cho Kyuhyun?!!” Suzy berteriak karena pria itu tak terlihat di manapun. “Bersembunyi seperti seorang pengecut. Hadapi aku jika kau memang pria sejati!!”
“Bukan hanya mengotori ruangan kami kau bahkan menghina Cho Kyuhyun?” Junsu membelalakkan matanya pada Suzy. Gadis itu langsung menarik kemeja pria itu dengan tangannya yang kotor.
“Yaaaa, kau mengotori bajuku! Kau tahu aku sengaja meminta Desainer Jung untuk membuat baju ini!!!” teriaknya heboh. Ia langsung menyingkirkan tangan Suzy dan sibuk membersihkan bajunya.
“Aku tidak peduli dengan baju bodohmu itu. Aku hanya ingin tahu dimana aku bisa menemukan Cho Kyuhyun!” Akhirnya amarah Suzy meledak juga. Semua orang memandangnya terkejut.

“Tak perlu berteriak. Aku di sini.” Suara sinis itu terdengar dari arah belakang Suzy. Ketika membalikkan badan Suzy menemukan pria itu berjalan masuk dengan langkah congkak. Benar-benar khas Cho Kyuhyun. Di belakangnya menyusul Kibum dan Donghae yang memandang ke sekeliling dengan heran. Tak pernah kelas platinum tampak sekacau sekarang.
“Ada perlu apa?” Kyuhyun bertanya dengan ekspresi datar.
“Cho Kyuhyun, aku meminta kau menghentikan semua ini sekarang juga!”
“Hentikan apa?” Kyuhyun mengangkat alisnya sebelah, pura-pura tak mengerti.
“Semua kekacauan yang dialami oleh Jiyeon, aku ingin kau menghentikannya dengan menarik kata-katamu kembali!!!”
Kyuhyun mengangguk malas, “Ah, ancamanku untuk gadis superpede itu?”
“Mwo?” Suzy terperangah tak percaya. Pria menyebalkan ini! Suzy ingin sekali menjambaknya tetapi ia harus tahan. Bagaimana pun Jiyeon sangat menyayangi pria iblis ini. “Jiyeon menyukaimu dengan segenap hatinya. Bisakah kau memperlakuannya sebagaimana mestinya?”
“Sebagaimana mestinya, sudah kulakukan.”
“Dasar pria tidak tahu malu!!” Suzy berteriak tepat di depan wajahnya. Seketika suasana berubah hening. Semua orang terkejut.

Kyuhyun tentu saja terkejut. Kibum dan Donghae sampai menutup telinganya agar tidak terkena dampak teriakan Suzy.
“Ya, gadis gila! Kau tidak perlu sampai berteriak!” tegur Kibum karena telinganya mulai berdengung.
“Kau tidak tahu malu. Dasar penjahat! Berkat kata-katamu yang tak tersaring itu, sahabatku terkena batunya. Dia harus mengalami penderitaan yang tak seharusnya dia alami. Sekarang tarik semua ucapanmu kemarin dan minta maaf pada Jiyeon!!!” tegas Suzy dengan mata yang menyala-nyala. Penuh dengan amarah.
Shireo. Kata-kata yang sudah keluar mana bisa ditarik kembali.” Kyuhyun tidak peduli, ia memalingkan pandangannya ke arah lain. Ketidakpedulian itu membuat amarah Suzy tak bisa dibendung lagi.
“Ya!!” tiba-tiba Suzy menarik kerah baju Kyuhyun, membuat tubuh pria itu condong ke arahnya. Kyuhyun mengerjapkan mata menyadari Suzy menatapnya langsung. Ia tak bisa berkata-kata karena jarak mereka terlalu dekat. Orang-orang sampai terkejut melihatnya.

“Apa kau tidak bisa menyadari keseriusanku? Dengar kata-kataku baik-baik dan camkan! Tarik kata-katamu sekarang juga. Jika tidak, aku tidak akan segan-segan untuk mengacaukan hidupmu!”
Suzy sudah mengerahkan seluruh upayanya untuk mengancam Kyuhyun. Tetapi rupanya itu belum cukup untuk menggertak Prince of School itu. Ancaman Suzy bahkan tidak menimbulkan luka sedikit pun di hatinya. Tak disangka, Kyuhyun justru mengeluarkan smirk congkak. Suzy mengangkat alisnya sebelah, tak mengerti.
“Kau memang gadis pemberani, karena terlalu berani kau sampai tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi sekarang.”
“Aku tahu. Kau adalah Cho Kyuhyun, anak dari orang yang memiliki andil terbesar di sekolah ini. Lalu, apa yang istimewa dengan itu?”

Rahang pria itu seketika mengeras. Kyuhyun merasa tersinggung saat Suzy membahas tentang orangtuanya. Ia tidak suka mendengar orang lain menyebutkan tentang apapun yang berkaitan dengan mereka. Semua omong kosong bahwa ia adalah putra dari keluarga Chaebol Cho sungguh membuatnya jengah.
“Jangan pernah menyebut tentang orangtuaku di depanku! Aku membencinya!” bentak Kyuhyun. Ia menepis tangan Suzy dari kerah kemejanya. Gadis itu mundur menjauh.
“Sekarang kau tahu bagaimana rasanya dihina? Karena itu jangan hanya menggangggu ketentraman orang lain dengan kekuasaanmu saja! Kau menyedihkan, hanya berani bertindak di bawah lindungan tangan orangtuamu. Selagi aku masih meminta dengan cara halus padamu, kau harus mendengarkan kata-kataku. Minta maaf pada Jiyeon sekarang juga.”
Kyuhyun merasa emosinya bergolak seperti air yang mendidih dalam kuali. Gadis ini, semakin didiamkan semakin melunjak. Ia yang berniat tidak akan meladeninya mau tidak mau harus bertindak juga.
“Kau pikir kau pintar? Sekarang minta maaf padaku sebelum aku membuatmu mengalami hal serupa seperti sahabatmu itu!” ancam Kyuhyun sambil menunjuk-nunjuk di hadapan wajah Suzy.

Sama seperti halnya Suzy yang tak berhasil mengancam Kyuhyun, pria itu pun tak bisa menakuti Suzy dengan kata-katanya. Sementara orang lain memandangnya ngeri, Suzy justru tertawa mengejek. “Ha,ha, kau benar-benar menggelikan! Apa salahku sampai harus meminta maaf padamu. Bukankah seharusnya kau yang meminta maaf?”
“Kau…!!!” Kyuhyun menunjuk Suzy. Tangannya tepat ada di hadapan Suzy. Ia bersiap menjatuhkan vonis seperti yang ia jatuhkan pada Jiyeon. Suzy tidak takut. Ia justru balas menatap Kyuhyun dengan penuh percaya diri.

Mereka saling bertatapan selama beberapa saat dalam diam. Kyuhyun menemukan jiwa petarung di dalam diri gadis itu yang membuatnya mengerang. Keteguhan gadis itu membuat Kyuhyun tidak bisa berkata-kata. Akhirnya tangan yang menunjuk Suzy mengepal lalu perlahan-lahan ia menjatuhkan tangannya ke sisi tubuh. Kibum dan Donghae mengerjap melihat Kyuhyun melunak. Jangan katakan Kyuhyun sudah menyerah.
“Kenapa, kau tidak berani melawanku?” sindir Suzy. Kyuhyun menoleh dengan mata membelalak. Pria itu menekan kuat-kuat emosinya. Ia menoleh pada murid lain yang sejak tadi menonton lalu mengendikkan kepalanya ke arah Suzy. Tak perlu diulang mereka sudah tahu apa yang diinginkan Kyuhyun. Itu semacam kode bahwa pria itu ingin Suzy enyah dari hadapannya.

Belum mendapatkan apa yang diinginkannya, Suzy memberontak saat beberapa anak laki-laki merenggut lengannya dan dengan paksa menyeretnya keluar.
“Ya, lepaskan aku!!!” ia meronta sekuat tenaga, berkali-kali berhasil lolos lalu masuk kembali ke kelas untuk mencecar Kyuhyun namun setiap kali ia memberontak, jumlah orang yang menahannya semakin bertambah. Kibum bersiul kagum karena hingga tujuh orang menahannya pun Suzy selalu berhasil memberontak. Itu karena mereka tidak serius memegangi Suzy. Anak kelas Platinum mana yang mau menyentuh siswa biasa yang kotor?

“Berhenti!!!” Suzy berteriak, dengan tenaga supernya ia berhasil menghempaskan orang-orang itu sampai mereka terdorong jatuh.
“Baiklah, ternyata kau memang ingin aku memakai cara keras untuk melawanmu!” ia menderap mendekati Kyuhyun yang menyandarkan pinggulnya pada ujung meja, menatapnya angkuh dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Pria itu tak gentar ketika ia sudah tiba di depannya dengan sorot mata menyala-nyala. “Aku menantangmu bermain basket satu lawan satu. Siapa yang mencetak poin lebih dahulu, dia yang menang. Jika kau kalah, kau harus ikuti apapun perkataanku.”

Semua orang menahan napas mendengarnya termasuk kedua sahabat Kyuhyun. Tak pernah ada yang berani menantang Kyuhyun sebelumnya. Jika itu terjadi artinya dia memiliki kepercayaan penuh untuk mengalahkan Kyuhyun.
“Dan jika kau kalah?” balas Kyuhyun menantang.
“Aku rela menjadi pembantumu selama satu bulan penuh.”

Gadis ini mencari mati. Begitulah pandangan orang-orang saat Suzy mengatakannya. Kyuhyun menyeringai. Meskipun ia tahu sia-sia saja gadis ini melawannya, tetapi tantangan gadis ini tidak ada salahnya dilayani. Ia akan tunjukkan siapa bos sebenarnya di sini.
“Baiklah, aku akan membuat kau menyesal karena pernah menantangku.”
Suzy mengangkat dagunya tak kalah angkuh, “Justru kau yang akan aku buat menyesal.” Bersamaan dengan itu bel masuk berbunyi. Suzy sadar sudah saatnya ia pergi karena ia sudah mendapatkan apa yang ia mau. Sambil menghentak-hentakkan kaki Suzy menghilang dari hadapan Kyuhyun.

Setelah itu tidak ada satupun yang berani bersuara karena mereka tidak ingin menyinggung perasaan Kyuhyun. Emosi pria itu sedang tidak stabil. Lihat saja, tangannya mengepal kencang.
How  awesome she is,” Komentar Kibum sambil bersiul kecil. Ia menoleh pada Kyuhyun, “Siapapun yang berhasil menaklukkannya, dia pasti the greatest man in the world.”
“Kyu, kau baik-baik saja?” tanya Donghae sambil menepuk pundak Kyuhyun karena pria itu tak kunjung merespon.

Tidak, sejak insiden itu Kyuhyun tidak pernah merasa baik-baik saja. Ia memejamkan matanya erat-erat. Ia ingin mengenyahkan masa lalu buruk itu dari pikirannya dan terima kasih pada Suzy karena kini ia kembali mengingatnya.

—o0o—

Suzy berjalan sambil menggerutu. Ia tak memedulikan orang-orang yang bersinggungan dengannya ketika ia melewati koridor terlarang itu. Murid lain berlarian dengan panik menuju kelas masing-masing sementara Suzy kebingungan. Bagaimana mungkin ia tampil di kelasnya dalam kondisi seperti ini. Ia bisa diusir oleh guru mata pelajaran pertama. Ia mengerang frustasi karena ia tak memiliki baju ganti.
“Bae Suzy?”
Gadis itu berhenti karena mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke arah suara dan menemukan Im Yoona berdiri tak jauh darinya dengan beberapa buku dalam dekapannya.
“Yoon,” lirihnya senang. Mata bening Yoona membelalak melihat kondisinya yang mengenaskan.
“Apa yang terjadi padamu?” ia menderap menghampiri Suzy. “Siapa yang melakukan ini padamu?”
Suzy mengusap tengkuknya antara malu dan segan, “Aku terkena jebakan yang disiapkan anak-anak bodoh itu untuk Jiyeon.” Ucapnya malas.
“Anak bodoh?” gadis itu mengerutkan keningnya.
Ne, boneka-boneka tolol dari kelas 1-1.”

Ekspresi Yoona meredup mendengar hal itu, tetapi Suzy tidak terlalu menyadarinya. “Yoon, sebaiknya kau masuk kelas saja. Tak perlu khawatirkan aku.” katanya. Ia tidak mau menahan siapapun dari pelajaran yang seharusnya diikutinya. Yoona mengerjap menatap Suzy lalu tersenyum.
“Tidak apa-apa, lagipula pelajaran pertama tidak begitu penting. Aku tidak suka berada di kelas. Tak ada seorang pun yang menyenangkan di sana.” Ucapnya tenang lalu memegang tangan Suzy, “Ikut aku, aku memiliki beberapa baju bersih untukmu.”

Sebelum Suzy sempat membantah, Yoona membawanya ke ruang ganti klub basket putri. Di sana ada kamar mandi dan handuk bersih. Suzy bisa membersihkan diri di sana sementara Yoona mengambil baju dari lokernya.
“Aku tidak tahu ini pas untukmu atau tidak, tetapi coba saja dulu.” Yoona memberikan baju bersih itu pada Suzy setelah gadis itu selesai mandi.
“Aku tidak yakin, ukuranmu pasti lebih kecil dariku.” Ujar Suzy sangsi sambil mengamati tubuh Yoona yang langsing dan semampai. Berat badannya bertambah akhir-akhir ini karena Jiyeon terus mencekokinya dengan kue-kue lezat.

Suzy menemui Yoona setelah ia mengganti baju. Siapa sangka ternyata ukuran Yoona sama dengannya meskipun gadis itu sedikit lebih tinggi darinya. Ia menemukan Yoona duduk di bangku dekat dengan green house lalu di sampingnya yang asyik membaca buku tentang perawatan tanaman.

“Apa kau suka bercocok tanam? Aku juga baru ingat beberapa kali melihatmu di sini. Rumah kaca itu, apa kau yang merawat tanaman-tanaman di sana?” celoteh Suzy sambil menunjuk rumah kaca yang rimbun dan asri. Yoona hanya memamerkan senyum yang membuatnya terlihat rendah hati.

“Berinteraksi dengan tumbuhan jauh lebih menyenangkan dari yang kau kira.”

Suzy mengangguk, “Tercermin jelas dari kepribadianmu. Seseorang yang mencintai tanaman, pasti berhati baik.”

Yoona memandangnya, kata-kata Suzy berhasil membuat hatinya berdesir. Itu adalah kalimat sederhana yang membuatnya gembira. “Terima kasih,” bisiknya.
Mianhae, karena aku kau harus melewati pelajaran pertama.” Suzy tiba-tiba merasa menyesal membuat murid sebaik Yoona harus membolos.
“Bukankah sudah kubilang tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di koridor itu?”
“Aku ingin membuat perhitungan dengan Cho Kyuhyun. Pria itu sudah membuat seluruh orang di sekolah ini membully Jiyeon.” Pertanyaan Yoona membuat Suzy marah kembali. “Apa karena mereka ditempatkan di kasta tertinggi mereka bisa menindas orang-orang di kelas bawah seenaknya? Aku benci sekali siswa-siswi kelas 1-1 yang super arogan itu. Melihat tingkah mereka benar-benar membuatku muak.”

Yoona tak menunjukkan reaksi, hanya menatap Suzy dengan wajah muram. Ia menutup bukunya tak bertenaga.
“Mianhae.” Tanpa disadari gadis itu berkata lirih. Suzy menoleh bingung.
“Kenapa harus minta maaf?”
“Itu..” kata-kata Yoona terpotong karena seseorang berseru dengan heboh dari arah depan.

“Suzy-ah!!!” Jiyeon berlari dengan heboh menghampirinya. “Aku mencari-carimu kemana-mana, jinjja!! Omo, kau mendapatkan baju bersih itu darimana?” serunya menunjuk baju bersih yang dipakai Suzy.
“Yoon yang membantuku.” Suzy menunjuk pada Yoona di sampingnya.
Aigoo, syukurlah. Kau tahu, aku hampir saja membobol loker orang lain untuk mencarikanmu baju ganti. Aku benar-benar merasa bersalah padamu. Jeongmal mianhae.” Jiyeon menundukkan kepalanya berkali-kali pada Suzy. Ia merasa sangat bertanggung jawab atas apa yang menimpa Suzy. Seharusnya ia yang mengalami hal itu, bukan Suzy.
Suzy dan Yoona berpandangan lalu tertawa, “Sudahlah, lagipula aku baik-baik saja bukan? Jebakan kekanakan seperti itu tidak akan berhasil menumbangkan Bae Suzy.”
Yoona mengangguk, “Kau sungguh pengertian, karena mencemaskan Suzy kau sampai membolos pelajaran pertama.”

Jiyeon tersenyum malu. Tadi ia memang sempat izin pada guru pelajaran pertama dengan alasan tidak enak badan. Ia tidak bermaksud berbohong, tetapi hatinya memang tidak enak sebelum memastikan Suzy baik-baik saja.
“Suzy-ah, kau tidak mengacau di kelas 1-1, bukan?” Ekspresi Jiyeon berubah cemas, “Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah sama sepertiku. Mereka itu sama saja dengan monster, siap menghancurkan apapun yang menghalangi jalan mereka.” Jiyeon pun tidak menyadari ekspresi Yoona yang semakin meredup sedih.
“Tidak,” bantah Suzy. Ia tidak ingin membuat Jiyeon khawatir. Ia tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu jika tahu dirinya menantang pangeran pujaan hatinya. “Aku sedang mencari baju ganti ketika aku bertemu Yoona.”

Gadis itu mengangguk percaya. Ia lalu menoleh pada Yoona, “Kau tidak masuk kelas? Aku tidak tahu kau kelas berapa. Apa kau satu angkatan denganku?”

Yoona tidak langsung menjawab pertanyaan Jiyeon karena ia tidak yakin apakah ia pantas memberitahukannya, ia tidak tahu bagaimana kedua gadis ini akan memandangnya setelah ia memberitahukan di kelas mana ia ditempatkan.
“Aku,” Yoona dengan enggan memasang sebuah lencana di jas seragamnya. Suzy mengerutkan kening tak mengerti sementara Jiyeon langsung pucat pasi. Seluruh tubuhnya gemetar seketika.
“Ka-kau murid kelas Platinum!!” serunya panik.

“Ya, aku kelas 1-1.” balas Yoona tidak enak hati. Jiyeon lalu tersentak sadar dengan kata-kata sebelumnya. Ia menyebut anak-anak kelas 1-1 sebagai monster. Omo, bagaimana jika Yoona juga membullynya? Tanpa aba-aba Jiyeon langsung meminta maaf.
Mianhae, aku sungguh tidak tahu. Kuharap kau tidak memasukkan ke dalam hati kata-kata kasarku tadi.”
Suzy membelalakkan mata lalu ikut menoleh pada Yoona. Gadis itu tercengang melihat apa yang dilakukan Jiyeon padanya.
“Jiyeon-ah, sungguh tidak apa-apa. Kau tidak perlu meminta maaf padaku.”

“Karena itu tadi kau meminta maaf padaku, karena kau juga bagian dari murid platinum?” ucap Suzy tak percaya. Astaga, ini sungguh kenyataan yang mengejutkan. Seharusnya ia tidak perlu kaget karena ia telah menyaksikan bagaimana anak-anak laki-laki yang ingin menghajarnya tempo hari lari ketakutan mendengar kata-katanya. Karena dia juga murid kelas platinum.

Yoona mengangguk lemas. Ia merasa sedih dengan kenyataan ini. Kenapa ia harus di tempatkan di kelas neraka itu? Berkat keangkuhan teman sekelasnya yang lain ia jadi tidak bisa mendapatkan teman di luar kelas platinum. Setelah ini ia tidak yakin Suzy dan Jiyeon masih mau berbicara padanya terlebih dengan apa yang sudah dilakukan teman-temannya pada kedua gadis itu.
“Lencana ini khusus dibuat untuk menandakan bahwa kami dari kelas platinum. Kelas platinum tidak mau disamakan dengan kelas biasa. Mereka ingin dibedakan.” Lirih Yoona. Ia semakin sedih melihat Jiyeon berdiri di belakang Suzy. Gadis yang semula ramah sekali kini takut padanya.

“Yeah, kalian berhasil membuat perbedaan yang sangat besar. Chukkae.” Sinis Suzy. Yoona tersentak, melihat sorot matanya yang dipenuhi emosi, ia bisa merasakan sakit hati yang Suzy alami. Detik berikutnya Yoona berdiri lalu dengan segenap hati ia menundukkan kepalanya pada Suzy dan Jiyeon. Ia ingin meminta maaf mewakili teman-temannya.
Mianhae, aku mewakili mereka meminta maaf pada kalian. Aku siap menerima apapun makian kalian, tetapi aku mohon pada kalian jangan mengubah pandangan kalian terhadapku.” Yoona menatap Jiyeon dan Suzy bergantian, “Sungguh, rasa sulit sekali bagiku memiliki teman setulus kalian.” Matanya berkaca-kaca.

Suzy dan Jiyeon seketika terperangah melihat Yoona begitu bersungguh-sungguh. Kemarahan yang beberapa saat lalu tersulut karena mendengar Yoona dari kelas 1-1 hilang sudah melihat betapa gadis itu berbeda dengan orang-orang dari kelas platinum. Mana ada anak kelas platinum yang mau meminta maaf, menundukkan kepalanya pada seseorang dari kasta di bawahnya. Benar, anak-anak kelas platinum memang kejam namun tidak berarti semua orang di sana berwatak angkuh. Yoona-lah buktinya. Sekarang mereka sadar kenapa sebelum ini mereka tidak melihat Yoona memakai lencana itu. Ternyata alasannya karena Yoona ingin menghapuskan kesenjangan yang selama ini terjadi di sekolah itu.
Gwaenchana,” ucap Jiyeon, gadis itu maju ke samping Yoona. “Lagipula kau tidak bersalah bukan?”
“Benar. Kau berbeda dengan mereka, Yoon. Kau tak perlu merasa bersalah dengan apa yang mereka lakukan karena kau tidak ikut melakukannya bukan?” timpal Suzy. Kedua gadis itu tersenyum tulus padanya. “Kau tenang saja, kami tidak akan menganggapmu sama seperti mereka.”

Yoona tak pernah merasa terharu seperti itu sebelumnya. Ia memeluk kedua gadis itu dengan perasaan seperti seseorang yang baru saja dibebaskan dari vonis mati.
Gomawo.”
Jiyeon mengedipkan matanya pada Suzy di balik punggung Yoona. Mereka sepakat untuk melupakan fakta bahwa Yoona adalah bagian dari kelas menyebalkan itu. Jika Yoona ingin menjalin pertemanan baik dengan mereka kenapa harus ditolak?

—o0o—

Sesuai dengan perjanjian yang sudah dibuat sebelumnya, Suzy menunggu di lapangan basket indoor. Ia akan membuat perhitungan dengan Kyuhyun dan membebaskan Jiyeon dari siksaan yang disebabkan oleh kata-kata Kyuhyun. Ia diam di tengah lapangan dengan bola basket di tangannya. Ia melirik jam tangan, waktu perjanjian masih beberapa menit lagi. Ia harus sabar menunggu. Lagipula klub basket tidak ada jadwal latihan hari ini karena itu ia tidak perlu khawatir.

Sambil mendribble bola Suzy merenung. Ia heran kenapa ia seantusias ini untuk menolong Jiyeon. Gadis itu baru dikenalnya belum lama ini, tetapi Suzy begitu ingin melindunginya dari orang-orang yang membuatnya sedih. Sementara dulu ketika sahabat yang ia kenal selama bertahun-tahun menghadapi kesulitan, ia melarikan diri dari sisinya. Meninggalkan sahabatnya sendirian dalam kesengsaraannya. Dan apa akibat yang ia terima, ia kehilangan sahabatnya.
Bola yang ia dribble meleset dari tangan dan menggelinding ke sisi lapangan. Suzy terdiam. Ekspresinya meredup. Ia tersenyum miris menyadari alasan mengapa kali ini ia begitu ingin membebaskan Jiyeon dari penderitaan.
Karena ia tidak ingin kehilangan sahabatnya lagi.
Ia cukup tahu bagaimana sakitnya saat sahabat terbaik pergi meninggalkannya. Ia merasa kesepian, sendirian, dan hampa.

Suara langkah kaki menggema dengan jelas di ruangan kosong itu. Suzy tersadar dari lamunannya lalu menoleh ke arah sumber suara. Ia menemukan Kyuhyun berdiri di sana dengan tangan bertolak di pinggangnya sementara tangan yang lain memegang bola basket.
“Berani juga kau datang!” ejek Kyuhyun.
“Sombong sekali. Lihat saja! Siapa nanti yang bakal kalah.” gumam Suzy. Ia yakin sekali bahwa kali ini ia akan menang. Ia tidak akan berani menantang Kyuhyun bertanding basket dengannya jika ia tidak ahli dalam bidang itu. Ia memang licik, mengajak Kyuhyun bertaruh dalam bidang yang dikuasainya.

Senyum percaya diri Suzy menghilang saat ia melihat Kibum dan Donghae masuk lalu berdiri beberapa langkah di belakang Kyuhyun. Ia terpaku menyadari Donghae akan memperhatikannya bertanding. Astaga, bagaimana ia melupakan poin penting ini? Bagaimana jika ternyata Kyuhyun sama hebatnya dengan Donghae?
“Hei, gadis monster, apa kau serius melawan Kyuhyun?” teriak Kibum pada Suzy.
Suzy mengerjapkan mata. “Tentu saja aku serius!”
“Jangan memaksakan diri.” Donghae ikut berseru. Meskipun itu hanya beberapa patah kata saja, tetapi cukup untuk membuat hati Suzy berbunga-bunga bahagia. Ada secercah cahaya bersinar di hati Suzy setelah mendengar ucapan Donghae. Donghae benar-benar pria berhati lembut dan perhatian. Bibirnya tersenyum.
“Baik,” balasnya genit. Kyuhyun memutar bola mata melihat tingkah Suzy. Ia sudah berdiri di depannya.
“Jangan buang waktuku. Ayo cepat mulai!” tegurnya jengkel.
“Kau ingat baik-baik! Siapapun yang kalah harus nurut pada sang pemenang.” Peringat Suzy sekali lagi.
“Kau pikir aku bodoh! Cepat mulai!”

Suzy dan Kyuhyun pun siap di posisinya masing-masing. Di pertandingan ini, Donghae bertindak sebagai wasit. Mereka saling melemparkan pandangan sinis ketika Donghae berdiri di antara mereka. Pertandingan pun dimulai saat bola dilemparkan ke atas. Suzy dan Kyuhyun bergerak untuk meraih bola. Suzy melupakan poin penting lain bahwa Kyuhyun lebih tinggi darinya dan itu berarti, jangkauan lompatannya pun lebih tinggi darinya. Bola langsung dikuasai pria itu. Suzy tidak akan masuk tim basket sekolah itu jika ia tidak pintar mencuri bola. Dengan teknik yang bagus dan gerakan yang gesit ia berhasil merebut bola itu dari tangan Kyuhyun. Mereka sama-sama tidak ingin kalah, saling memperlihatkan kemampuan masing-masing.

“Suara ribut-ribut apa ini?” Yoona berhenti melangkah ketika ia melintasi kawasan gedung olahraga dengan satu pot tanaman bunga petunia. Ia penasaran dengan suara bising yang didengarnya dari dalam lapangan basket indoor. Bukankah hari ini tidak ada jadwal latihan, lalu siapa yang seenaknya memakai lapangan? Ia masuk bermaksud untuk menegur. Tetapi yang ia lihat di dalam justru membuat hatinya terkejut. Ia melihat Suzy dan Kyuhyun berlarian di lapangan saling merebut bola.
“Ada apa ini?” serunya. Kibum yang diam di sisi lapangan menoleh. Matanya mengedip berkali-kali menyadari kehadirannya.
“Bukankah kau…” Kibum tidak meneruskan kata-katanya. Ia menyadari gadis dengan pot bunga di tangannya adalah Im Yoona, gadis yang berada di kelas yang sama dengannya. Tetapi karena gadis itu terlalu tertutup ia jadi tidak terlalu mengenalnya.
“Ada apa ini? Kenapa Suzy dan Kyuhyun sampai bertanding?” Yoona menunjuk ke arah lapangan.
“Mereka sedang bertaruh, siapapun yang kalah harus mengikuti apa saja permintaan pemenang.” Ucap Kibum santai, “Tunggu, kau mengenal gadis monster itu?” Kibum membelalakkan mata.
Yoona tidak menjawab karena fokus perhatiannya kini adalah Suzy yang bertanding dengan Kyuhyun di lapangan sana, ia mendadak cemas. “Gawat kalau Suzy sampai kalah…” apapun yang akan dipertaruhkan mereka, Suzy jelas berada dalam bahaya.

Bola sekarang sedang dikuasai oleh Kyuhyun. Ia mendesak Suzy dengan terus mendribble bola menuju ring. Tidak bisa dibiarkan, Suzy segera merebut bola dan membalikkan keadaan namun ketika ia sudah mendekati daerah three point, tubuh Kyuhyun menghadangnya. Gawat, bagaimana ia bisa mencetak poin?
“Suzy-ah, three point!” tiba-tiba terdengar suara dari arah lapangan. Sesuatu menyala di otak Suzy. Benar, jika ia tidak bisa memasukkan bola dalam jarak dekat maka three point adalah cara terbaik.
Kibum menoleh mendengar Yoona berteriak menginstruksi-kan agar Suzy melakukan tembakan tiga poin. Kyuhyun kaget dan menengok, itu memberikan kesempatan kepada Suzy untuk bergerak. Dia bergerak cepat dan, shoot!!! Bola pun masuk ke dalam ring.
“Masuk!!!” Suzy berteriak heboh. Yoona menghela napas lega. Kibum dan Donghae sama-sama melongo sementara Kyuhyun berdiri di tempatnya tanpa bisa mengatakan apapun. Pandangannya tiba-tiba kosong. Apa ia baru saja dikalahkan seorang perempuan?
“Sial!” umpat Kyuhyun kesal setelah semua akal sehatnya terkumpul.
“Gawat, dia kalah.” bisik Kibum ngeri. Ia memandang Suzy yang tersenyum gembira. Gadis itu terlihat sangat cerah, ringan, dan bahagia.

“Ya!” panggil Suzy. Dengan napas tak beraturan ia mendekati Kyuhyun. Meskipun ini adalah kenyataan pahit yang harus ia terima, tetapi Kyuhyun masih tidak percaya ia dikalahkan oleh gadis monster ini. Tidak, itu tidak mungkin.
“Kau kalah, kau tahu bukan apa artinya?” ucap Suzy tenang.
“Iya. Aku tahu.” ujar Kyuhyun dingin. Ia kesal, ingin rasanya menghancurkan sepuluh tumpuk bata dengan tangan kosong. Itu yang biasa ia lakukan jika sedang kesal. Dengan perasaan malu bercampur kesal ia memandang Suzy dengan dagu terangkat.
“Sekarang katakan apa yang kau inginkan?!”

Cih, sudah kalah masih juga angkuh. Cibir Suzy dalam hati. Tetapi karena Kyuhyun sudah menanyakannya maka ia tidak akan ragu.
“Kau harus menuruti 3 permintaan dariku.”
“Mwo?” Kyuhyun terkejut dan Suzy tidak memiliki waktu untuk mengurusi kekagetannya.
“Ya, dan permintaanku yang pertama,” Suzy menunjuknya tanpa ragu. “Kau harus meminta maaf pada Jiyeon.”

Kyuhyun benar-benar ingin menghancurkan sesuatu detik itu juga. Seumur hidup ia tidak pernah meminta maaf. Bahkan saat dirinya melakukan kesalahanpun seperti memecahkan jambangan mahal milik ibunya, ia tidak meminta maaf dan sekarang gadis ini dengan berani menyuruhnya meminta maaf?
Kibum dan Donghae menatap Kyuhyun hati-hati. Mereka siap menahan Kyuhyun kapanpun saat pria itu ingin mencekik Suzy, karena itulah yang mereka lihat dari ekspresi Kyuhyun. Suzy tidak takut sama sekali, bahkan berani menatap tajam Kyuhyun. Pria itu mendengus menyadari dirinya sudah dikalahkan baik dalam pertandingan maupun secara emosional. Ia menggertakkan gigi sebelum berkata, “Baiklah.”

“Bagus! Tak kusangka kau tidak akan menghindar.” Kali ini Suzy tersenyum ramah. Ia lega karena harapan untuk melenyapkan kesengsaraan Jiyeon terbuka lebar. Kyuhyun mencibir kesal lalu menderap meninggalkan Suzy di lapangan.
“Aku menang!!!” seru Suzy girang sambil menari-nari tidak jelas di lapangan. Donghae hanya tersenyum lalu mengikuti Kyuhyun meninggalkan lapangan. Ketika Yoona menghampiri Suzy, gadis itu langsung memeluknya karena gembira sambil meneriakkan kata terima kasih berkali-kali. Ia tahu Yoona yang sudah menolongnya tadi.

Kyuhyun berjalan dengan langkah cepat meninggalkan gedung itu. Wajahnya tertekuk sebal, menyebarkan aura hitam yang membuat siapapun bergidig ngeri melihatnya. Kibum dan Donghae berlarian menghampiri Kyuhyun bermaksud menghiburnya.
“Sudahlah, kau harus menerima kekalahan ini secara jantan.” Donghae menepuk pundak Kyuhyun.
“Apa yang akan dikatakan orang-orang saat mereka tahu Cho Kyuhyun dikalahkan seorang gadis?” komentar Kyuhyun sengit. Ia menepis tangan Donghae dari pundaknya lalu berjalan pergi.
“Dan yang mengalahkanmu adalah gadis monster itu.” sahut Kibum gembira. Entah apa yang membuatnya begitu senang.
“Diam kau!”

Kibum tertawa kecil mendengar Kyuhyun begitu marah. Sementara Donghae diam, ia menolehkan kepalanya ke arah gedung tadi, di mana Suzy dan Yoona berada. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia hampir memutuskan untuk kembali ke gedung itu ketika ia sadar apa yang dirasakan benaknya itu tidak terlalu penting. Ia akhirnya memutuskan untuk mengabaikan suara kecil yang berteriak di hatinya lalu berlari menyusul teman-temannya.

~~~TBC~~~

282 thoughts on “School in Love [Chapter 4]

  1. Akhirnya Suzy bisa mengalahkan Kyu dalam pertandingan basket..seneng banget deh liat Kyu yang kesel..gak sabar liat Kyu yang memenuhi 3 permintaan Suzy..

  2. Ehm pikiranku benar yoona anak platinum. Tapi dari sikap nya dia dia gk jht kan? Masi penasaran sama hae. Bener bener penasaran.

  3. Ciahhh cho kyuhyun!!! You lose ! :p rasakan haha #tawaevil ckckck-.- ff ini benar2 keren school life dan friendship nya bener2 kentel wkwk ^^

  4. hahhaha mampus gk tu kyuppa ama suzy. . wah suzy siap siap udh ngebngunin ‘polisi’ tidur. .
    #hahApaan. .~_~
    #KyuppaYgSbar. . Q padamu. .^_^

  5. 100% salut sama keberanian suzy yang rela sampe tanding basket, demi sahabatnya kekeke

    Hahaha kasian si raja bossy, kesel marah gemes karna di kalahin sama yeoja!! #ketawaevil

    Penasaran sama hae, sumpahh

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s