School in Love [Chapter 3]

Tittle : School in Love Chapter 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship

Main Cast :
Bae Suzy | Cho Kyuhyun | Park Jiyeon | Im Yoona | Kim Kibum | Lee Donghae

Dha’s Speech :
Semoga masih betah ya baca FF ini ^_^, selagi aku menyelesaikan FF lain, tidak ada salahnya memposting FF yang sudah jadi. Daripada gak posting sama sekali ^^

Happy Reading

School in love by Dha Khanzaki2

Chapter 3

Kyuhyun, King of Cynical & Domineering

“Kyaaa…. prince datang!!!” Pekikan histeris gadis-gadis itu membuat Kyuhyun, Kibum dan Donghae agak jengkel. Mereka benar-benar berisik. Dengan tenang, ketiga prince of school itu melenggang di koridor siswa umum. Tidak seperti biasanya, mereka pasti melewati koridor khusus.
“Kyu, kau yakin tidak apa-apa jika kita melewati tempat ini?” Kibum melirik kanan kiri. Siswa-siswi biasa jarang sekali melihat mereka bertiga lewat di daerah murid umum sehingga kehadiran mereka di sana adalah pemandangan yang sangat langka. Sepanjang perjalanan mereka terus dipandangi dengan kagum oleh sebagian besar siswi perempuan.
“Gwaenchana. Ada sesuatu yang ingin kulakukan di tempat ini.” sahut Kyuhyun dingin.

—o0o—

“Ceria sekali.” Suzy tersenyum saat melihat wajah Jiyeon secerah matahari di musim panas.
“Siapa? Aku?!” Jiyeon menunjuk dirinya sendiri dengan bingung meskipun senyumannya tak terhenti sejak mereka memulai makan siang di kantin itu. Suzy menggeleng-gelengkan kepala. Sudahlah, gadis seceria Jiyeon akan bingung mendapatkan pertanyaan retorik seperti itu.
“Aku memiliki firasat. Kisah cintaku akan baik hari ini.” ujar Jiyeon mengingat surat cinta barunya sudah selesai. Setelah kehilangan suratnya, ia memutuskan untuk membuat surat yang baru. Ia tak peduli siapapun yang menemukan surat itu. Mungkin siapapun dia hanya akan tertawa setelah membaca suratnya. Banyak sekali wanita yang melakukan hal serupa. Ia tidak seharusnya khawatir.
Suzy mengerutkan kening, “Kisah cintamu, dengan siapa?”
“Kau akan tahu nanti,” Jiyeon tersipu. Ia mengambil gelas berisi jus alpukatnya ketika suara ribut terdengar dari arah pintu masuk kafetaria.

“Prince…”

Jiyeon terperanjat kaget mendengar sebagian besar perempuan histeris meneriakkan nama keramat itu.
“Di mana… di mana dia?” Jiyeon mengedarkan pandangannya mencari-cari target cintanya itu namun tak berhasil menemukannya. Suzy tak terpengaruh sama sekali dengan ribut-ribut itu, ia hanya mengangkat bahu lalu meneruskan kegiatan makannya. Jiyeon ingin sekali melihat Kyuhyun, berdiri tanpa lupa meletakkan gelas jusnya dan ketika ia berbalik seseorang menabrak bahunya.
Semuanya seperti berlangsung dalam gerakan lambat. Jiyeon menyadari dengan jelas bagaimana gelas jus yang dipegangnya lepas dari genggaman, menumpahkan isinya pada jas seseorang lalu hancur berkeping-keping di lantai. Bunyi pecahan nyaring terdengar karena kafetaria tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Semua orang menahan napas, terkejut bukan main. Seluruh tubuhnya seketika bergetar saat mengetahui siapa orang yang menjadi korban kecerobohannya itu.
“Jiyeon…” Suzy bangkit dari duduknya melihat ekspresi Jiyeon memucat. Gadis itu tidak berani mengangkat wajahnya karena di depannya berdiri Kyuhyun, pria yang disukainya.

Kyuhyun menatap tajam orang yang sudah berani menumpahkan minuman ke jasnya. Kemarahan tak berhasil disembunyikan dari mimik wajahnya dan membuat gadis malang di depannya semakin ketakuatan. Tak ada satu pun yang berani bersuara, termasuk Kibum dan Donghae yang berdiri paling dengan dengan Kyuhyun. Mereka cemas sekaligus penasaran dengan apa yang akan terjadi pada Jiyeon setelah membuat Cho Kyuhyun kesal.
“Gadis bodoh.” Desis Yuri prihatin. Gadis cantik yang mendapat julukan ‘Lady of Platinum Class’ itu memamerkan senyum sinis. Hatinya benar-benar bahagia menyaksikan kejadian itu. Ia tak sabar menunggu akibat apa yang akan diterima Jiyeon.
“Kau…” Kyuhyun mulai membuka mulutnya. Suasana semakin menegang. Jiyeon mengangkat wajahnya pelan-pelan.
“N-ne..” Jiyeon menyahut dengan suara terbata-bata.
“Sudah melakukan kesalahan fatal!” lanjut Kyuhyun sengit, tajam, dan mencekam. Perkataan Kyuhyun mengejutkan semuanya. Suasana di kantin itu berubah tegang. Terlebih Jiyeon. Sementara Suzy hanya terpana mendengar Kyuhyun tega berkata dengan nada sekejam itu pada temannya.
Kibum dan Donghae saling memandang, tak sanggup berkomentar. Bencana besar sedang menimpa Jiyeon. Mereka memandang gadis itu prihatin.
“Maafkan aku…” Jiyeon berinisiatif meminta maaf. Ia menundukkan kepalanya berkali-kali dengan gerakan ketakutan. Kyuhyun mengangkat tangannya dan menunjuk Jiyeon dengan pandangan dingin.
“Kau akan kena akibatnya!”

Semua yang mendengar terkejut. Tak percaya kalimat itu akan dijatuhkan pada gadis seperti Jiyeon. Semua orang tahu bahwa kalimat itu berarti perintah untuk seluruh siwa-siswi di SMU Royal President.
“Ya, Cho Kyuhyun, kau serius?” seru Kibum tak percaya. Donghae terdiam. Mana mungkin Kyuhyun tega menjatuhkan kalimat itu, apalagi pada seorang gadis.
“Dia hanya menumpahkan jus di jasmu” sahut Donghae.

Suzy gemetar di tempat duduknya. Bukan karena ia ketakutan mendengar ancaman Kyuhyun. tetapi karena tiba-tiba saja ia seperti mengulang kembali kejadian kelam beberapa tahun lalu bersama sahabat pertamanya. Ia bahkan tidak bisa melakukan apapun ketika sahabatnya dibully seperti ini dan sekarang, sekujur tubuhnya seperti dilem di tempatnya berdiri sehingga ia tak sanggup bergerak sedikit pun.
“Tolong aku..”
“Mianhae..”
Tidak! Suzy memejamkan matanya rapat-rapat. Ia merasa bersalah pada Jiyeon karena di saat seperti ini ia tidak bisa membantunya.

Kyuhyun tidak memedulikan nasihat teman-temannya. Dengan angkuh ia pergi mendahului Kibum dan Donghae meninggalkan kantin. Suasana berubah ribut ketika Kyuhyun sudah menghilang dari tempat itu. Kebanyakan menggunjingkan bagaimana mereka mengasihani Jiyeon karena cepat atau lambat bencana akan jatuh di pangkuannya.
Suzy menatap nanar Jiyeon. Maafkan aku, batinnya. Setelah berhasil menggerakkan kakinya, ia mengulurkan tangannya perlahan menyentuh bahu gadis itu. Dengan perasaan bersalah ia berkata, “Jiyeon-ah, tak perlu kau pikirkan…” ia mencelos merasakan bahu gadis itu gemetar.
Jiyeon-ah, batinnya iba. Ia hendak mengeluarkan kata-kata lain untuk menghiburnya ketika Jiyeon tiba-tiba saja menegakkan kepalanya.
“Tidak. Aku belum kalah!” serunya penuh semangat. Suzy terhenyak kaget. Sebelum ia sempat bertanya Jiyeon melangkah pergi untuk menyusul Kyuhyun.
“Jiyeon-ah!!” Suzy berteriak. Ia tercengang.

Jiyeon berlari secepat mungkin menyusul pria yang dicintainya. Ketika ia berhasil menemukan Kyuhyun dan teman-temannya berjalan santai menuju daerah terlarang, ia berteriak.
“Tunggu…”
Merasa ada yang berbicara padanya, Kyuhyun menoleh. Namun saat ia melihat Jiyeon berlari menghampirinya, ia melengos lalu melanjutkan perjalanannya. Jiyeon terbelalak lalu mempercepat langkahnya. Dengan panik ia memotong jalan Kyuhyun.
“Aku bilang tunggu! Kau tidak dengar?”
“Gadis cerewet! Apa maumu?” kesabaran Kyuhyun sudah habis. Ia tak percaya ada gadis senekad ini sampai berani menghadangnya tepat ketika mereka berada di daerah terlarang. Ia memandang Jiyeon dengan memperhatikan raut wajah yang benar-benar marah. Namun Jiyeon tidak takut. Dengan berani ia balas memandang Kyuhyun.
“Ada yang ingin kukatakan.”

Kedua alis tebal Kyuhyun bertautan, penasaran. Suzy sudah tiba di sana ketika ia melihat Jiyeon menarik napas dalam. Entah apa yang akan dikatakannya. Kibum dan Donghae menanti apa yang akan dilakukan gadis ini pada Kyuhyun. Mereka jelas tertarik melihat aksi Jiyeon. Mulai dari mengejar Kyuhyun, menatap matanya langsung sampai membuat sahabatnya itu penasaran.
“Apa cepat katakan!” bentak Kyuhyun tak sabar.
“Aku…” Jiyeon menarik napas lalu menghembuskannya lagi dengan gugup. Tekanan darahnya naik seketika.
“Aku menyukaimu, Cho Kyuhyun.” seru Jiyeon setengah berteriak tanpa memandang Kyuhyun.
“Mwo?!!!” Kyuhyun membelalakan mata. Kibum dan Donghae terkejut bukan main. Suzy memekik tanpa disadarinya. tak kalah terkejut. Beberapa orang menoleh, tertarik untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Jiyeon sendiri baru tersadar dengan apa yang dikatakannya. Ia tersentak. Kedua tangannya dengan cepat menutup mulutnya, “Bagaimana bisa aku menyatakan cinta lebih dulu!” gumamnya panik. Seketika keringat dingin mengalir. Dasar bodoh… dasar bodoh… Jiyeon terus mengumpati dirinya. Rasa malu membuatnya tidak sanggup memandang Kyuhyun. Ia melihat Suzy berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Gadis itu bisa menjadi alasannya melarikan diri. Akhirnya tanpa mengatakan apapun lagi ia melewati Kyuhyun dan teman-temannya lalu pergi sambil menarik Suzy.

Begitu sosok Jiyeon dan Suzy hilang dari pandangan mereka, Kyuhyun mulai menunjukkan reaksi. Pernyataan tiba-tiba Jiyeon sempat membuat jantungnya berhenti berdetak karena kaget. Ia menggelengkan kepalanya singkat lalu melanjutkan jalannya menuju kelas. Tidak, ia tidak boleh terpengaruh kata-kata gadis tadi. Tidak boleh. Kibum dan Donghae melempar pandangan lalu berjalan mengikuti Kyuhyun.
“Kau tidak terkejut dengan pernyataan gadis tadi?” tanya Donghae begitu mereka bertiga tiba di kelas.
“Tidak!” tegas Kyuhyun dingin. Pria itu duduk di kursinya, langsung menyandarkan kakinya di atas meja. Donghae hanya tersenyum melihat Kyuhyun merengut. Pria itu jelas terguncang. Sejak dulu Kyuhyun memiliki masalah serius dengan para gadis yang menyatakan cinta padanya. Kibum menghempaskan dirinya di kursi di depan meja Kyuhyun.
“Baru kali ini aku melihat gadis senekat itu. Berani menyatakan cinta lebih dulu.” Komentar Kibum sambil tertawa kecil. Donghae ikut tertawa. Pria itu menyandarkan tangannya di atas meja lalu bertopang dagu.
“Lalu…?” lanjut pria itu sambil menaik turunkan alisnya.
“Terus apa!” Kyuhyun pura-pura tidak paham. Ia memalingkan wajahnya.
“Jawabanmu atas pernyataan gadis itu?”
“Aku tidak suka gadis yang terlalu percaya diri seperti itu.”
“So..”
“Kau menolaknya?” sambung Donghae. Kyuhyun menatap kedua temannya tak percaya. Sebenarnya apa tujuan mereka melakukan ini?
“Sudahlah, jangan pernah membahas hal itu lagi di depanku!”

—o0o—

Sementara itu, gadis malang yang beberapa saat lalu baru saja mempermalukan dirinya sendiri itu diam di tepian kolam dengan wajah tertutup oleh kedua tangannya sendiri. Suzy menghembuskan napas berat. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur Jiyeon.
“Jiyeon-ah, kau tidak apa-apa?” Suzy mencoba menguatkan. Ia terkejut saat menyentuh tubuh Jiyeon yang bergetar. Ia bisa memahami jika kejadian tadi membuatnya terguncang.
“Aku bodoh! Aku memang bodoh!” suara Jiyeon mulai terdengar. Hanya kata-kata dengan nada penuh penyesalan dan rasa kesal yang terus keluar dari mulut gadis itu. Ia merasa dirinya orang paling bodoh sedunia. Suzy menatap iba sahabatnya.
“Kau benar-benar jatuh cinta pada Cho Kyuhyun?”
“Aku bodoh…”
Suzy mendesah, “Jiyeon-ah, jawab pertanyaanku.”
“Aku bodoh!”
“Jiyeon!” Suzy melepaskan tangan Jiyeon yang terus menutupi wajahnya. “Kau memang bodoh!” akhirnya ia tidak bisa menahan kesabarannya lagi. “Untuk apa kau menyatakan cinta padanya jika kau tidak menyukai Kyuhyun?” Suzy berkata dengan suara agak kesal. Jiyeon menatap Jiyeon dengan mata berkaca-kaca.
“Aku memang menyukainya.”
“Hmm, lalu….” Suzy dengan sabar mendengar setiap jawaban Jiyeon. Ia ingin menjadi sahabat yang selalu ada untuknya. Ia tidak ingin menjadi sahabat yang pengecut seperti dulu lagi. Ia tidak mau kehilangan sahabat lagi.
“Kenapa? Apa aku salah?” tanya Jiyeon sangsi menyadari Suzy menatapnya intens, seolah gadis itu sedang mencoba mencari kesalahannya.
“Tidak, hanya saja kau terlalu bodoh. Apa untungnya bagimu menyukai pria seperti Kyuhyun? Dia terlalu arogan, kasar, dan sombong untukmu.”
“Aku tahu,” Jiyeon mendesah. Ekspresinya perlahan berubah. Ia seperti sedang mengenang memori menyenangkan di masa lalu. “Tetapi aku hanya merasa dia sesorang yang istimewa dan berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku merasa bahagia. Aku yakin Kyuhyun adalah pria baik-baik meskipun dari tampak luar dia terlihat arogan, kasar dan sombong.”
Suzy tertegun dengan kening mengerut. Ia tidak mengerti dengan alasan Jiyeon menyukai Kyuhyun. Tidak masuk akal. Pria arogan seperti Kyuhyun bagaimana bisa terlihat baik di mata gadis ini? “Aku tidak mengerti.”
“Tak mengerti pun tak apa.”
Jiyeon ingin sekali tertawa melihat ekspresi Suzy saat ini. Entah kenapa cara Suzy memberikan perhatian padanya membuat kesedihannya lenyap.
“Meskipun semua orang menentang, aku akan tetap menyukai Kyuhyun,” lirihnya dengan mata berbinar-binar. Menunjukkan bahwa dirinya benar-benar menyukai Kyuhyun apapun alasannya. Melihatnya membuat Suzy menghela napas.
“Baiklah, aku tidak bisa menghakimi seseorang yang sedang jatuh cinta. Apapun keputusanmu, aku akan tetap mendukungmu.”
“Jinjja!”
“Yups.” Sahut Jiyeon yakin. Mulai saat ini ia akan membantu Jiyeon mendapatkan cintanya sebisa mungkin.
“Thank you, my friend…” Jiyeon memeluk Suzy dengan erat.

—o0o—

Sesuai dengan perkataan Kyuhyun kemarin. Ada yang berbeda dengan kondisi anak-anak di sekolah keesokan harinya. Tatapan mereka terhadap Jiyeon sangat berbeda. Tajam dan dingin menusuk hati.
“E… Selamat pagi…” Jiyeon mencoba mencairkan suasana. Namun upayanya sia-sia. Ekspresi mereka tidak berubah. Jiyeon berjalan cepat melintasi koridor menuju kelasnya. Ia ingin menghindari orang-orang itu namun langkahnya terhenti karena jalannya kini di hadang oleh seorang gadis.
“Ya, kau masih berani menunjukkan hidungmu di sekolah ini!” gadis itu berkata dengan nada kasar lalu mendorong Jiyeon hingga dia terjatuh.
Jiyeon terlempar jatuh tanpa sempat membalas apapun. Pantatnya terasa sakit dan berdenyut. Ia membisu, semua ini pasti karena insiden kemarin. Kata-kata Kyuhyun yang telah memicu situasi ini. Jiyeon kira orang-orang hanya bercanda ketika mengatakan bahwa ancaman Kyuhyun selalu dianggap serius oleh seluruh murid Royal President High School.

“Jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan memiliki nyali datang ke sekolah.” sahut Yuri, si Lady of Platinum Class itu ikut berbicara. Ia memberi sejumlah uang pada gadis yang mendorong Jiyeon tadi lalu menatap gadis yang terduduk di lantai dengan pandangan meremehkan.
“Apa salahnya datang ke sekolah lagipula di sini aku…” Jiyeon tidak melanjutkan kata-katanya sebab mata orang-orang itu mulai mengerikan. Ia lekas bangkit lalu melarikan diri sebelum ada yang melakukan sesuatu padanya.
“Beraninya dia lari,” desis Yuri jengkel. Ia melirik ke arah orang-orang di belakangnya, memberi mereka tatapan tajam untuk mengejar Jiyeon.

Gadis itu berlari dalam kepanikan. Ia menoleh ke belakangnya, terkejut menyadari beberapa orang sedang mengejarnya. Ia tidak percaya, hari kesialan untuknya tiba juga. Ia menyesali dirinya yang ceroboh. Seharusnya ia tidak menumpahkan jus itu di baju Kyuhyun. Ia berhenti sejenak karena paru-parunya mulai terasa seperti tertusuk-tusuk. Tetapi sepertinya itu kesalahan besar karena seseorang dengan sengaja menumpahkan soft drink hingga membuat bagian depan jasnya basah kuyup. Jiyeon memekik kaget.
“Mianhae, aku tidak sengaja!” ungkap seorang gadis yang menumpahkan soda itu dihiasi oleh tawa mengejek. Jiyeon menahan amarahnya, ia ingin berteriak memaki tetapi tidak sanggup melakukannya. Akhirnya ia memaksakan diri tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
“Tidak apa-apa.” ia merasa tenggorokannya tercekat. Menyesali apa yang tak bisa diperbuatnya untuk memperbaiki situasi ini. Tidak ada yang membantunya sama sekali karena semua orang di sekitarnya mulai membencinya karena Kyuhyun membencinya.
Jiyeon merasakan atmosfer itu kembali. Ia sadar orang-orang sedang memandangnya tajam.
“Si anak tidak tahu diri datang ke sekolah.”
Ia terperanjat karena orang-orang itu mendekatinya perlahan. “Ka… kalian mau apa?” Jiyeon panik. Ia merasa mereka ingin menjahilinya ramai-ramai.
“Apa yang harus kami lakukan padamu?”
Jiyeon mundur beberapa langkah. Ia seperti tikus yang sudah terjebak dalam kerumunan kucing lapar. Cakar mereka siap melukainya kapan saja. Ia terlalu terpaku pada apa yang ada di depannya sehingga tidak sadar ada seseorang yang dengan sengaja menyiram dirinya dengan air dari belakang.

Byuuurr

Seluruh badan Jiyeon basah seketika. Gadis itu terkejut dengan mulut menganga. Semua ini keterlaluan. Yang benar saja! Bagaimana bisa ia melawan, yang dihadapinya bukan satu atau dua orang, tetapi sekitar dua puluh orang. Membalas mereka sama dengan bunuh diri.

Suzy baru tiba di sekolah, ia terkejut bukan main melihat Suzy dibuli ramai-ramai seperti itu. Tensi darahnya naik melihat sahabatnya diperlakukan dengan tidak adil seperti itu.
“Yaa, kalian keterlaluan!” bentaknya. Ia tidak bisa menahan diri. Dengan langkah cepat ia menderap menghampiri Jiyeon. Orang-orang yang melakukan tindakan itu memandang Suzy. Mereka tertawa melihat ekspresi gadis itu berada dipuncak amarahnya. Ia melepaskan jasnya untuk disampirkan di pundak Jiyeon. Gadis itu menangis menyadari kehadirannya. Ia memandang orang-orang di depannya tajam.
“Kenapa kalian tertawa!!! Puas! Karena kalian sudah membuatnya sengsara, kalian puas?! Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian, bisa-bisanya memperlakukan teman sendiri seperti memperlakukan binatang?!” setelah berkata begitu Suzy pergi sambil menggiring Jiyeon.

Suzy membawa Jiyeon ke klinik sekolah. Jiyeon duduk di tepi ranjang dengan pandangan menerawang. Setelah diberi handuk dan segelas teh hangat oleh Ms. Victoria, seorang dokter muda yang cantik dan baik hati gadis itu terus merenung. Ekspresinya sedih sekali. Suzy kembali menyesal karena di saat kesulitan, ia tidak sedang bersama Jiyeon. Mereka berada di kelas berbeda yang menjadi penyebabnya.
“Sudah lebih baik?” tanya Suzy sambil mengusap punggung Jiyeon. Bajunya yang basah tadi sudah diganti. Untung saja ia membawa baju olahraga sehingga ia tidak perlu cemas akan memakai baju basah sepanjang hari.
“Sedikit.” Lirih Jiyeon pelan. Ia masih syok setelah kejadian tadi.
“Keterlaluan, apa ini ulah Kyuhyun lagi?” tanya Ms. Victoria seraya menggelengkan kepala. Suzy menengok lalu memandang dokter itu dengan tatapan terkejut.
“Lagi? Apa hal ini pernah terjadi sebelumnya?”

Ms. Victoria tidak bermaksud untuk mengungkit-ungkit kejadian kelam yang seharusnya dilupakan itu. Tetapi kedua gadis ini harus tahu apa yang sedang mereka hadapi. Ia menghela napas.
“Sebenarnya aku tidak boleh menceritakannya. Tetapi karena kejadian serupa terulang kembali, aku harus memberitahukannya pada kalian. Satu bulan yang lalu, ada seorang anak yang mengalami kejadian yang sama. Dia dijahili karena sudah membuat masalah dengan Kyuhyun. Tidak tak tahan terus menerus menerima perlakuan buruk, berselang beberapa hari kemudian, anak itu pindah.”
“Apa? Pindah?” Jiyeon ikut tersentak. Karena dia tidak tahu sama sekali tentang kejadian itu.
“Kejam. Apa ada tindakan dari sekolah tentang kejadian itu?” sahut Suzy ngeri.
Ms. Victoria menggeleng lemah, “Tidak ada. Pengaruh orang tua Kyuhyun begitu besar untuk sekolah ini sehingga pihak yayasan memutuskan tidak mempersoalkan kejadian itu. Mereka hanya menganggap hal itu sebagai kenakalan remaja biasa.”
“Kenakalan remaja apa!” seru Suzy kesal. “Membully termasuk tindakan kriminal dan seharusnya pihak sekolah bisa mencegahnya dengan baik. Jika membiarkan Kyuhyun semena-mena memperlakukan siapapun seperti sampah sama saja dengan membiarkan penjahat berkeliaran! Sekuat apapun pengaruh orang tuaKyuhyun, kelakuannya tetap saja tidak bisa diterima!”
“Harus bagaimana lagi. Semua dilakukan untuk kelangsungan hidup sekolah. Tanpa bantuan dari orang tua Kyuhyun, Royal President High School tidak akan ada.” Ucap Ms. Victoria membuat Suzy diam.

Tidak! Walaupun jasa orang tua Kyuhyun begitu besar, tetapi kesalahan tetaplah kesalahan. Siapapun yang melakukannya haruslah dihukum meskipun itu Kyuhyun. Cerita Ms. Victoria membuat Jiyeon termenung. Orang boleh saja mengatainya gila atau apapun. Tetapi kenapa ia merasa Kyuhyun memiliki alasan kuat melakukan semua ini.
Melihat ekspresi sendu Jiyeon, Suzy yakin gadis ini syok. Pria yang dicintainya ternyata seseorang yang mengerikan, siapa yang tidak terguncang?
“Jiyeon-ah” lirih Suzy sedih. Jiyeon menengok.
“Maafkan aku…”
“Untuk apa?” Jiyeon mengerjap bingung.
“Aku tidak ada di saat kau membutuhkan pertolongan.” Jiyeon melemaskan bahunya melihat Suzy begitu menyesal, seolah apa yang terjadi padanya disebabkan oleh kesalahan gadis itu.

—o0o—

Suzy mengendap-endap menuju daerah terlarang. Walau tahu bahwa badai akan menerjang dirinya kapanpun, tapi rasa nekatnya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Tujuannya adalah untuk mencari Kyuhyun. Ia ingin membuat perhitungan dengan pria itu. Ia akan membuat Kyuhyun menarik kata-katanya kembali. Tetapi begitu memasuki kawasan itu, rasa takutnyalah yang lebih menguasai dirinya. Daerah itu dipenuhi orang-orang kelas platinum. Ia hanya sendiri, jika ia membuat keributan di sana sama saja dengan menceburkan diri ke dalam kolam penuh buaya kelaparan.
“Kyuhyun bodoh, aku tidak berani masuk daerah itu.” ia menggerutu sendiri. Ia cepat-cepat pergi dari tempat itu. Ia lalu duduk di bangku taman dekat dengan green house sekolah.
“Ini salah Jiyeon juga! Untuk apa suka pada lelaki iblis seperti Kyuhyun! Tak sedikit pun kebaikan dimiliki pria itu!”

Ia sedang kesal sampai kepalanya terasa panas. Sepertinya seseorang mengetahui hal itu karena saat ini seseorang sedang menyemprotkan air ke arahnya, seolah ingin mendinginkan kepalanya.
“Ya, berhenti!” Suzy bangkit untuk melihat siapa pelakunya. Ekspresi marahnya melunak ketika matanya menangkap sosok itu.
“Maafkan aku, aku tidak melihatmu duduk di sana.” ucap Yoona, gadis berparas cantik yang sudah menolongnya tempo hari. Ia memegang seutas selang ditangannya. Ia lalu mengarahkan selangnya ke arah tanaman lain yang berada di dekat rumah kaca itu. Suzy mengusap tengkuknya karena ia sadar berada di tempat yang salah. Wajar saja jika gadis itu tidak melihatnya. Tempatnya duduk terhalang oleh semak belukar yang dipenuhi bunga berwarna kuning cerah.
“Tidak apa-apa. Hanya sedikit membasahi rambutku.”

Yoona mendekat dengan raut penuh penyesalan, “Pakai ini.” ia mengulurkan saputangan pada Suzy untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
“Terima kasih.” Suzy menerimanya dengan canggung. Yoona membalas tatapannya dengan senyuman ramah lalu kembali menyirami tanamannya. Kali ini rumpun bunga poppy yang tertanam dalam beberapa pot besar.
“Kau kenapa?” tanyanya tiba-tiba.
Suzy terhenyak, “Siapa?!”
“Kau. Kudengar tadi kau berteriak memaki.”
Apa suaraku tadi terlalu keras? Batin Suzy heran. Ia tidak ingin menceritakan masalahnya tetapi karena Yoona terlanjur bertanya, tak ada salahnya berbagi. “Hatiku sedang kesal.”
Mata gadis itu mengedip heran, “Siapa orang malang yang membuatmu kesal?”
“Cho Kyuhyun, si raja sinis itu!” dengan penuh amarah Suzy berkata. Yoona terperangah.
“Apa yang dilakukannya?”
“Karena ulahnya, sahabatku dibully oleh sebagian besar murid sekolah ini.”
Napas Yoona tertahan. Dia melakukannya lagi, batinnya iba.

Suzy mengerang kesal karena berkat pertanyaan Yoona, gemuruh di hatinya semakin bergolak. Mungkin panasnya sanggup melelehkan baja sekeras apapun. “Uuuuhhh… aku benci!!! Aku kesal pada diriku sendiri! Mengapa di saat sahabatku tertimpa musibah, aku justru tidak bisa membantunya! Aku benci. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau kejadian dahulu terulang kembali.” Ia lalu menundukkan kepalanya. Trauma masa lalu sungguh menyiksanya. Ia merasa begitu bersalah dan menyesal melihat Jiyeon menangis di depan matanya sementara dirinya hanya diam terpaku, tanpa bisa melakukan apapun. Kenapa, kenapa ia masih tidak memiliki kekuatan untuk melawan?

Rasa frustasi Suzy tampak memprihatinkan di mata Yoona. Sejujurnya, ia kagum pada Suzy yang bisa sekesal ini karena tak bisa berbuat apapun untuk teman terdekatnya. Ia mendesah, “Memang menyebalkan tidak bisa membantu. Tetapi bukan berarti kau ikut terpuruk bukan? Justru sahabatmu akan semakin sedih kalau saat tahu kau terpuruk karena dirinya. Tugasmu adalah membuatnya tegar, memberikannya semangat agar ia tidak merasa sendiri.”
Mendengarnya Suzy terperangah. Betul apa yang dikatakan Yoona. Itulah kesalahan yang dilakukannya dulu. Tidak bisa membuat tegar seorang sahabat yang menderita, itulah letak kesalahannya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah membuat Jiyeon merasa tidak sendirian.
“Kau betul!” teriak Suzy semangat. “Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku. Kau pasti bosan luar biasa.”
Yoona tersenyum, ia senang bisa membantu. “Don’t mention it.”
“Karena kau sudah menolongku, sekarang kau adalah sahabatku juga.” Suzy menggenggam kedua tangan Yoona, memandangnya penuh kehangatan. Kali ini Yoona terperangah. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengatakannya. Mengajaknya untuk menjadi sahabat. Oh Tuhan, ini anugerah. Selama ini Yoona tidak pernah mempunyai seorang sahabat.
“Terima kasih…” Yoona tersipu. Kecantikannya semakin memancar keluar. Ia tidak boleh menangis meski tidak bisa dipungkiri saat ini adalah momen yang paling membahagiakan untuknya.

—o0o—

Seperti biasanya, latihan hari itu di lapangan basket berlangsung dengan khidmat. Suzy tak pernah lupa untuk mencari Donghae. Tetapi sejak latihan tempo hari hingga hari ini pria itu tidak terlihat selama latihan. Suzy berpaling pada Soyu yang sedang asyik berlatih shoot.
“Soyu-ssi, akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat Donghae-ssi latihan? Apa dia benar-benar anggota klub basket ini?” Soyu berhenti sejenak lalu memandang Suzy.
“Lee Donghae memang anggota klub ini. Hanya saja dia jarang mengikuti latihan. Dia lebih senang bersama teman-temannya. Dia datang untuk meninjau atau jika akan latihan untuk pertandingan saja.”
“Bagaimana bisa, apa pelatih tidak keberatan dengan anggota seenaknya seperti itu?”
“Tidak, dia kejam sekali untuk anggota yang seenaknya. Hajiman, karena Donghae adalah pemain dengan kemampuan setingkat dengan pemain professional sekaligus kapten tim basket putra dan putri, kurasa dia tidak masalah.”
Suzy membelalakkan mata, “Donghae-ssi adalah kapten tim?”
“Yup.”
“Daebak..” Sungguh mengagumkan. Suzy tidak pernah menyangka ternyata Lee Donghae adalah seseorang yang penuh dengan bakat. Setelah tahu dia seorang pangeran, pintar bermain piano dan sekarang dia juga tahu Donghae memiliki keahlian hebat dalam olahraga. Tetapi pria itu tidak disiplin and suka seenaknya. Pantas sekali menjadi bersahabat dengan Cho Kyuhyun. Ah tidak, Donghae adalah orang yang berbeda dengan raja sinis itu. Ia yakin sekali.

—o0o—

Yoona terlihat kerepotan membawa perlengkapan klub di dalam sebuah kardus yang besar. Pelatih Changmin menyuruhnya membawa semua itu karena akan digunakan untuk latihan hari ini. Karena kardus itu terlalu besar ia tidak bisa melihat jalan yang ada di hadapannya. Ia tidak menyadari ada tangga menurun di hadapannya. Beberapa langkah lagi jika ia tidak hati-hati ia akan..
“Aaaah…” Yoona berteriak saat kakinya terpeleset jatuh. Kardus yang dipegangnya lepas dari tangan. Isinya jatuh berhamburan di ujung tangga. Untuk beberapa saat ia sempat berpikir seluruh tubuhnya akan berguling-guling di tangga namun kemudian ia sadar, tak ada sedikit pun rasa sakit yang ia terima karena seseorang memegang tangannya.
“Jika kau tidak bisa membawa barang sebanyak itu sendirian, kau tidak perlu memaksakan diri.” Yoona menengok cepat mendengar suara Donghae yang tinggi dengan ekspresi wajah setenang permukaan air. Setelah yakin Yoona berdiri di posisi yang aman, Donghae melepaskan tangannya.
“Baiklah, lain kali aku akan meminta bantuan anak laki-laki di klub, kapten.” Balas Yoona tenang. Donghae hanya mengangguk tak peduli. Tanpa berkomentar apapun lagi ia meninggalkan Yoona.

Gadis itu menghembuskan napas berat. Pria itu, benar-benar sulit dipahami. Padahal sudah hampir tiga bulan sejak pertama kali Yoona bertemu dengannya setelah bergabung di klub yang sama. Ia sudah mengenal semua karakter anggota klub basket baik itu tim putra maupun tim putri, namun hanya Donghae seorang yang tak berhasil ia pahami. Sifatnya sulit untuk ditebak. Pria itu memang ramah dan suka menolong. Tetapi karena pendiam, Yona tidak begitu bisa memperkirakan apa yang akan dilakukan ataupun dikatakannya.
“Omo, Barangnya!”
Yoona seketika teringat kembali pada barang-barang yang tadi ia jatuhkan. Kini berserakan di ujung tangga sana. Beruntung bukan barang pecah belah yang ia bawa, hanya berbagi perlengkapan klub dan beberapa handuk. Dengan gesit Yoona segera menuruni tangga lalu bergegas membereskan barangnya.

“Butuh bantuan?” tanya seseorang.

Yoona menengadahkan kepalanya ke arah datangnya suara. Jiyeon berdiri di depannya dengan senyum ramah. Ia balas tersenyum. Tanpa diminta oleh Yoona, Jiyeon langsung berinisiatif membantunya hingga semua benda berhasil masuk ke dalam kardus.
“Gomawo…”
“Sama-sama…”
Merkea berdua diam sejenak. Jiyeon memperhatikan Yoona sejenak. Tampak aura kecantikan terpancar dari wajahnya. Benar-benar gadis yang cantik. Batin Jiyeon iri.
“Siapa namamu?” tanya Yoona membuyarkan lamunan Jiyeon.
“Park Jiyeon imnida.” Jiyeon mengulurkan tangannya. Yoona tersenyum dan menjabat tangan Jiyeon.
“Aku Im Yoona.”
“Salam kenal, bisa aku bantu kau membawanya sebagian?”
“Tentu. Aku sangat tertolong.” Yoona menyerahkan setumpuk handuk pada Jiyeon.
“Barangnya banyak sekali. Bukankah semua ini perlengkapan untuk klub basket?” tanya Jiyeon.
“Bingo. Aku manajer sekaligus anggota klub basket.”
“Jinjja, daebak!” Jiyeon sudah mendengar bahwa klub basket sekolah ini selalu memenangkan turnamen basket tingkat nasional sehingga mereka menyeleksi dengan ketat setiap anggota yang ingin bergabung. Tunggu, bukankah Suzy mengatakan dia baru saja diterima bergabung dengan klub itu?

Langit sudah berwarna jingga ketika Yoona dan Jiyeon tiba di lapangan basket indoor. Setelah meletakkan perlengkapan itu di sudut lapangan, Jiyeon menyempatkan diri melihat-lihat.
“Banyak juga anggotanya.” bisik Jiyeon sambil duduk di bangku penonton namun cukup untuk didengar oleh Yoona, “Dari tahun ke tahun jumlahnya selalu bertambah.”
Jiyeon menganggukkan kepala. Ia memandang ke arah lapangan. Sebenarnya ia sedang mencari-cari sosok Suzy. Setelah menemukan gadis itu sedang berlari sambil mendribble bola.
“Oh, Suzy..Bae Suzy!!” Jiyeon dengan heboh memanggil-manggil namanya.

Suzy berhenti karena ia merasa ada yang menyerukan namanya. Ia memandang berkeliling, gerakan kepalanya berhenti ketika matanya terbentur pada sosok Jiyeon yang melambaikan tangan padanya dengan heboh. Tindakannya itu membuat beberapa orang memperhatikan ke arahnya. Suzy tersenyum geli.
“Hei” Ia balas melambaikan tangan, lalu berlari menghampiri Jiyeon setelah berhasil menembakkan bola ke dalam ring.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku tadi sudah membantu Yoona”
Suzy baru menyadari kehadiran Yoona. Gadis itu tersenyum padanya. “Kulihat kau bersenang-senang dengan bola itu.”
“Ya, teman bulat kecil yang sempurna.” Suzy menyeringai. “Aku tidak tahu kalian saling kenal.” Ia menunjuk Jiyeon dan Yoona bergantian.
“Tidak juga, kami baru saling mengenal hari ini.”
“Dia membantuku membereskan barang-barang. Aku hampir saja membuat tulang-tulang di tubuhku patah karena tidak melihat tangga di depanku. Tapi tidak terjadi apa-apa,” sahut Yoona cepat melihat kedua gadis di depannya meringis ngeri, “Thanks God karena ada Donghae yang menolongku sebelum aku melukai diriku sendiri dengan terjun bebas dari tangga setinggi satu meter.”
“Donghae,” Suzy membisikan nama itu. Baik Jiyeon maupun Yoona tidak menyadari perubahan ekspresinya. Ia memandang Yoona dengan perasaan iri. Entah kenapa ia merasa Yoona begitu beruntung bisa bertemu dengan Donghae. Hari ini ia tidak berhasil melihat pria itu. Ia merasakan sesuatu yang aneh terjadi.
“Oh, apa kalian ingin kue? Pelajaran PKK hari ini membuat cupcakes cokelat.” Suara Jiyeon membuat Suzy terkesiap sadar dari lamunannya. Ia menepis pikiran sedihnya secepat kilat dan menggantinya dengan mode ceria.
“Jinjja, kebetulan aku lapar sekali.” ia berseru menyambut Jiyeon yang mengeluarkan kotak makanan.

Yoona menatap kedua orang itu dengan iri. Ketika Jiyeon memberikan sepotong kue pada Suzy dan bagaimana mereka terlihat sangat akrab. Bercanda dan bergurau selayaknya para remaja. Ia tidak pernah merasakan itu dan ia sangat ingin tahu bagaimana rasanya hidup sebagai remaja normal tanpa menghiraukan beban hidup apapun.
“Kenapa kau berdiri saja, ayo kemari dan bergabung. Jiyeon membuat kue yang benar-benar lezat.” Ucap Suzy seraya menarik Yoona ke dekatnya. Dengan semangat Jiyeon memberi Yoona kue. Gadis itu menerimanya dengan takjub lalu memakannya.
“Mashita,” bisik gadis itu.
“Benar bukan? Jika kau suka kau boleh membawa sisanya pulang.”
“Ya, bagaimana bisa kau tidak membagiku sebagian?” protes Suzy.
“Kau bisa mendapatkannya, oh, bagaimana jika kita pergi ke karaoke hari ini?”
“Ide bagus, aku sudah lama tidak pergi ke sana, Yoon, kau ikut juga bukan?”
“Ne?” Yoona mengerjap. Tidak pernah ada yang mengajaknya pergi ke karaoke. Dengan kaku ia mengangguk. Setelah itu Suzy dan Jiyeon heboh membicarakan lagu apa yang akan mereka nyanyikan. Yoona masih tak percaya, ia menatap Jiyeon dan Suzy dengan pandangan sendu. Meskipun hanya diajak pergi ke karaoke, tetapi setidaknya ia pergi bersama teman-teman sebayanya, mereka akan bersenang-senang seperti remaja normal. Perasaan haru menyelimuti hatinya dan tanpa disadari siapapun, setitik airmata jatuh di pipinya.

Terima kasih Tuhan, karena kali ini ia dipertemukan dengan orang-orang yang melihatnya sebagai Yoona, hanya Im Yoona.

~~~TBC~~~

209 thoughts on “School in Love [Chapter 3]

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s