School in Love [Chapter 2]

Tittle : School in Love Chapter 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship

 

Main Cast :
Bae Suzy | Cho Kyuhyun | Park Jiyeon | Kim Kibum | Im Yoona | Lee Donghae

Dha’s Speech :

Ini adalah cerita yang panjang episodenya. Maaf jika ditemukan typo di tengah cerita. Happy Reading ^_^

School In Love by Dha Khanzaki1

CHAPTER 2

The Beautiful Girl Named Im Yoona

SEBUAH mobil mewah buatan Eropa berwarna hitam metalik berhenti tepat di area parkir SMU Royal President. Seorang dengan pakaian rapi terlihat keluar mobil dengan gayanya yang mempesona. Berjalan dengan tenang di koridor khusus kelas Platinum. Siapa lagi jika bukan Cho Kyuhyun, pria paling populer seantero sekolah. Terkenal karena pembawaannya yang tenang dan cuek. Tetapi sanggup membuat hati para gadis meleleh setiap kali melihatnya tersenyum–senyum evil. Sayang, tidak semua murid bisa melihat prince yang satu ini. Dia lebih sering berada di kawasan elit itu daripada di kawasan siswa umum. Murid kelas biasa hanya bisa melihatnya ketika pulang sekolah dan pagi saat dia datang.
“Hei, Kyuhyun-ah!” Kibum, si murid jenius namun playboy itu muncul tiba-tiba menepuk pundaknya.
“Sialan! Bisakah kau muncul tanpa mengagetkanku!” bentak Kyuhyun sinis, seperti biasa.

“Pagi Kyuhyun..” sapa beberapa wanita begitu ia dan Kibum melewati sekumpulan gadis di koridor yang biasa ia lalui. Kyuhyun hanya tersenyum kecil tanpa memandang wajah mereka.
“KYAA.. Dia tersenyum!” teriak mereka heboh. Benar-benar berisik! Bahkan Kibum sampai menutup kedua telinganya.
“Mengganggu saja!” gumam Kyuhyun pelan begitu langkah mereka menjauhi para gadis berisik itu.
“Kenapa? Mereka penggemarmu bukan?” komentar Kibum dengan nada menyindir. Kyuhyun memang selalu begitu. Tidak mau menghargai orang-orang yang sudah menghormatinya.
“Aku tidak pernah meminta mereka jadi fansku.” balas Kyuhyun cuek.
“Itu namanya kau tidak bersyukur dengan apa yang sudah diberikan Tuhan.” Kibum menasihati. Kyuhyun menoleh sebentar, tatapannya datar namun menusuk.
“Mereka begitu karena aku kaya. Tidak lebih!”
“Huh, aku benci pada sikapmu yang rendah diri itu,” Kibum mendengus.
“Up to you.”

Kibum hanya menggeleng-gelengkan kepala. Susah menasihati orang yang sudah keras kepala sejak lahir. Kyuhyun tahu itu sikap buruk dan harus di hilangkan, tapi sudahlah! Tidak penting! Itu yang selalu ada di otaknya sehingga menghalanginya untuk mengurangi sifat buruknya itu.
“Kibum..” panggil yeoja cantik, modis, dengan badan bak model professional menyapa Kibum dengan nada manja. Dia adalah Bora. Gadis itu mendekati Kibum.
“Pagi, sayang.” Kibum bersikap begitu manis disambut pelukan dari Bora.

Kyuhyun yang melihatnya agak risih. Tapi ia diam saja. Tidak mau mengganggu dua sejoli yang bermesraan di hadapannya. Ia memalingkan pandangan ke arah lain.
“Pulang sekolah nanti temani aku belanja, oke.” Bora merayu sambil memegang tangan Kibum.
“Pulang sekolah, hm..,” Kibum berpikir.
“Ayolah chagi, kau mau ya..” Bora ber-aegyeo seraya mengguncang-guncang lengan Kibum. Pria itu mendesah kalah.
“Mmm, Baiklah.”
“Kyaaa, kau memang yang terbaik..” Bora melonjak gembira lalu mengecup pipi Kibum cepat. Setelah itu pergi meninggalkannya dengan wajah cerah. Seperti baru mendapat hadiah besar saja.

Kibum tersenyum kecil. Bangganya sudah mendapat ciuman dari gadis secantik Bora di pagi hari seperti ini.
“Menjijikan” cibir Kyuhyun yang menyaksikan semuanya. Kibum yang masih berseri memandang Kyuhyun yang bermuka masam.
“Wae? Kau iri padaku? Karena tidak ada fansmu yang berani berbuat begitu?” sindirnya bangga. Kyuhyun berdecak sambil menggelengkan kepala. Ia merasa kasihan pada gadis-gadis yang menjadi korban pesona Kibum.
“Kasihan Bora. Aku yakin tidak lama kemudian dia akan menangis karena diputuskan pria playboy sepertimu.”
“Ya! Kau pikir semua ini adalah keinginanku. Aku sendiri tidak bisa mengontrol pesona yang memancar keluar dari wajah tampan ini lalu apakah aku harus menyalahkan gadis-gadis yang terpikat padaku?”
Kyuhyun mencibir, “Kalau begitu kenapa kau merayunya tempo hari?” tambahnya sambil melangkah pergi.
“Jinjja, pria itu!” Kibum menunjuk Kyuhyun jengkel. “Aku hanya mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan. Memang itu salah?” teriaknya, lalu mengejar Kyuhyun.

—o0o—

Jiyeon sesekali menengok ke area orang-orang hebat itu. Ia sedang mencari seseorang. Sudah dua hari ia tidak kunjung menemukan orang yang dicarinya dan kali ini ia bertekad untuk menemuinya. Ia sudah melakukan riset, jam istirahat seperti ini adalah waktu yang paling tepat bila ingin menemukan incarannya itu. ‘Dia’ selalu melintasi lorong itu bila ingin ke pergi ke kafetaria.
“Jiyeon-ah!” Suzy menepuk pundak Jiyeon, membuat gadis yang sedang fokus mengintip itu kaget bukan main.
“Bae Suzy! Kau mengagetkanku!”
“Sedang apa di sini? Ayo ke kantin, aku sudah lapar.”
“Iya, eh, ng, kau duluan saja. Aku..masih ada keperluan..”

Suzy memandang Jiyeon curiga. Tidak biasanya gadis ini menolak. Ia penasaran apa yang sedang dilakukannya di tempat ini, mengintip seperti orang yang akan mencuri saja.
“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?”
“Tidak ada apa-apa!” Jiyeon panik.
“Kalau begitu ayo!” Suzy menarik tangan Jiyeon pergi. Gadis itu seketika meronta panik karena mereka pergi ke arah yang salah. Mereka memasuki area terlarang. Suzy yang tidak tahu menahu tentang daerah itu terus menariknya pergi. Sial, kenapa tenaganya besar sekali?
“Tunggu Suzy, jangan ke sana!” bisik Jiyeon panik.
“Wae? Kita akanke kantin bukan? Menurut denah sekolah yang aku lihat di depan aula, lorong ini jalan pintas menuju kantin.” Suzy tak memedulikan wajah pucat Jiyeon.
“Tapi,” Jiyeon mencicit ketakutan. Suaranya terdengar berat.
“Tapi apa?” Suzy berpaling ke arah Jiyeon.
“Tapi ini daerah terlarang.” dengan berat hati Jiyeon berbicara. Kepalanya menunduk. Suzy berhenti melangkah menyadari keanehan itu. Ia juga baru menyadari orang-orang yang ada di koridor memerhatikan gerak gerik mereka berdua dengan raut tidak suka.

“Ya, kalian murid biasa, apa yang kalian lakukan di sini! Ini daerah terlarang untuk kalian!” tegur mereka sengit.

Suzy mengerjap mendengar ‘daerah terlarang’ disebut. Ia baru mendengar ada daerah seperti itu di sekokah ini. Seingatnya daerah itu tidak tertera di denah sekolah.
“Daerah macam apa itu?” Suzy mengerutkan dahi, dengan berani ia balas menatap orang-orang itu. Mereka mengerjap karena tak terbiasa mendapat perlakuan tidak sopan dari murid-murid kelas biasa.
“Daerah yang hanya diperuntukkan bagi kelas Platinum” jawab Jiyeon dengan kepala menunduk.
“Kelas Platinum??” Jiyeon mengangguk kecil mendengar Suzy tersentak kaget. Suzy memerhatikan koridor yang tadi ia tapaki. Pantas saja suasananya begitu berbeda. Aromanya pun berbeda. Lorong tempatnya berada memiliki dekorasi yang berbeda. Lebih mewah, modern, dan besar. Tempat yang benar-benar bersih dan tertata rapi.

Rasa takut Jiyeon memuncak ketika ada sekelompok murid perempuan mendekati mereka.
“Kalian pikir kalian siapa?” seru gadis yang paling cantik di antara ke empat anak lain. Dia adalah Kwon Yuri.
“Wae? Ada masalah?” Suzy balas menantang. Yuri menyeringai.
“Kalian adalah murid-murid kelas biasa! Tidak seharusnya kalian berkeliaran di sini! Ah, membuat udara kotor saja,” Yuri mengibas-ngibaskan tangannya dengan wajah mengeryit ngeri seolah Suzy adalah wabah penyakit menular. Suzy membalasnya dengan cibiran.
“Oh. Ya? Apa ada peraturan yang melarang anak biasa melewati daerah ini?”
“Kau!” Yuri menggeram tersinggung. Ia maju selangkah bersiap memberi Suzy pelajaran.

Ini harus dicegah! Jika tidak akan terjadi perang terbuka antara Suzy dan Yuri. Kemudian yang paling parah dari semua ini ada kemungkinan Suzy dibully oleh mereka!
“Suzy-ah. Bukankah sudah kukatakan, kita salah arah!” Jiyeon langsung menengahi. Ia menoleh pada Yuri.
“Mianhae, tadi kami tersesat,” Jiyeon menundukkan kepalanya disertai senyuman semenyesal mungkin. Semoga Yuri bermurah hati mau memaafkan mereka.
“Kenapa harus minta maaf?” Suzy tidak terima.
“Sudah, kita pergi dari sini!’ Jiyeon menarik tangan Suzy untuk pergi dari tempat berbahaya itu.
“Ya, kalian tung~” Awalnya Yuri ingin memaki, namun teriakannya melemah menyadari sesuatu yang gawat akan terjadi. Seseorang sedang berjalan tepat ke arah dua orang gadis itu dan mereka akan..

BRUUKK

Jiyeon tidak memerhatikan jalan di depannya sehingga tabrakan pun tak terelakkan. Buku catatan yang dipegangnya jatuh. Sebelum Jiyeon memandang wajah orang yang ditabraknya, ia buru-buru jongkok untuk memungut bukunya yang terjatuh.
“Kau..” Suzy terkejut melihat orang yang baru saja ditabrak Jiyeon. Di hadapannya kini berdiri Kyuhyun, Prince of School !!

Jiyeon mengambil buku catatan yang jatuh saat bertabrakan tadi. Ia tak menyadari sama sekali dengan ketegangan yang tiba-tiba mencekam di sekitarnya. Sebelum tangannya menyentuh buku, ada tangan kekar yang terulur untuk memungutnya lebih dulu. Pelan-pelan ia mengangkat pandangannya untuk melihat siapa si pemilik tangan. Raut terkejutnya tak bisa disembunyikan lagi ketika matanya bertabrakan dengan mata berbinar milik Kim Kibum, salah satu Prince of School.
“Gwenchana?” dengan senyum ramah Kibum membantu membereskan buku Jiyeon yang berserakan di lantai. Senyumannya membuat Jiyeon panik, ia tergesa-gesa mengambil buku-bukunya hingga tanpa sengaja membuatnya menyentuh tangan Kibum. Mereka sama-sama terkejut. Jiyeon terkesiap lantas buru-buru menarik tangannya.
“Maafkan aku…” Jiyeon langsung bangkit. Kibum pun berdiri dengan pose penuh percaya diri. Ia hanya memandang gadis itu dalam diam. Jiyeon yang ketakutan langsung berdiri di samping Suzy. Di antara ketiga Prince of School, yang paling ditakuti Jiyeon adalah Kim Kibum, si playboy jenius. Pria itu memberikan aura mencekam baginya.

Suzy masih terpaku menatap Kyuhyun. Ia menoleh ke arah lain untuk mencari Donghae. Jika pria sinis ini ada, tak dipungkiri pangeran penolongnya pun ada bersamanya.
“Bukankah kau gadis pembuat onar tempo hari.” ujar Kyuhyun sinis.
“………” Suzy tidak menjawab. Matanya masih mencari-cari dimana gerangan Donghae yang baik hati itu. Pria itu tidak ada di antara mereka. Kyuhyun mendengus, kesal karena diabaikan. Pertama kalinya ada orang yang memperlakukannya seperti ini.
“Ya, aku bertanya padamu!” teguran kesal Kyuhyun membuat Suzy berpaling ke arahnya.

Jiyeon gugup karena di hadapannya berdiri pria yang disukainya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia terlalu gelisah hingga ingin pingsan rasanya.
Kibum tersenyum geli melihat kegugupan Jiyeon. Dengan gerakan tak terduga pria itu memegang tangan Jiyeon dan memandangnya.
“Wah, tanganmu halus sekali.” gumamnya disertai jurus mautnya yang sanggup membuat hati setiap wanita melumer. Jiyeon terkejut menyadari Kibum memandangnya dengan penuh kasih sayang. Merayu gadis dan membuatnya jatuh dalam lautan pesonanya adalah hal biasa dan mudah dilakukan untuk seorang player sepertinya. Tetapi bukannya terpesona Jiyeon justru gemetaran. Ia bahkan tidak sanggup menarik tangannya lagi.

Suzy terkejut melihat tangan sahabatnya dipermainkan dengan begitu mudah oleh Kibum. Ia tidak akan lupa bahwa Kim Kibum adalah seorang playboy. Tak akan ia biarkan Jiyeon terjebak dalam perangkapnya.
“Ya, kau pikir kau siapa! Lepaskan tanganmu darinya!” teriak Suzy dengan tinggi lalu menarik tangan Jiyeon dari cengkeraman tangan Kibum. Pria itu terkesiap.
“Jinjja, kasar benar gadis ini.” desis Kibum terkejut.
“Ya, gadis bodoh! Apa tahu siapa yang sedang kau hadapi?” Kyuhyun memaki. Ia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi karena diabaikan Suzy terlalu lama. Pertanyaannya tidak dijawab dan dia didiamkan. Sialan.
Murid lain yang sejak tadi memerhatikan perlahan mundur. Mereka tahu bencana apa yang terjadi jika Cho Kyuhyun sudah meledak. Jiyeon yang menyadari aura kejam itu langsung memegang erat tangan Suzy sementara gadis itu balas memelototi Kyuhyun. Ia tidak takut sama sekali. Sejak kejadian waktu itu, ia bertekad tidak akan lari lagi ketika berhadapan dengan orang-orang arogan seperti Cho Kyuhyun.

“Aku tahu! Kau adalah Cho Kyuhyun, si raja sinis yang sok berkuasa!” seru Suzy mantap. Mendengarnya Kyuhyun tersentak. Bahkan orang-orang yang ada di sekitar mereka pun ikut tersentak. Gadis ini sudah gila karena berani balas memaki Kyuhyun. Setidaknya itulah yang di pikirkan oleh mereka berada di TKP.
“Suzy-ah…” lirih Jiyeon seraya mengguncang tangannya. Ia ketakutan setelah melihat ekspresi Kyuhyun menggelap dan orang-orang di sekitarnya memandang mereka tajam. Jiyeon merasa kini ia dikelilingi oleh puluhan iblis. Atmosfer di sekitar mereka berubah menakutkan.

Tidak ada yang pernah mengataiku dengan julukan serendah itu. Batin Kyuhyun sengit.

Kyuhyun dengan mata tajam laksana pedang memaku tatapannya pada Suzy lalu berjalan melewati Jiyeon dan Suzy tanpa berkomentar sedikit pun. Suzy mengerjap melihat Kyuhyun pergi begitu saja. Pria itu tidak membalasnya? Mengapa? Ia kebingungan setengah mati.
Jiyeon mendesah lega menyadari suasana perlahan-perlahan membaik begitu salah satu prince of school itu pergi. Namun aura menyeramkan masih sedikit tersisa.
“Dia pikir dia siapa? Berani sekali…”
“Dia beruntung karena Kyuhyun tidak membalasnya.” Orang-orang mulai menggosipkan kejadian tadi dengan nada yang tidak enak didengar. Suzy mulai risih, ia menarik tangan Jiyeon.
“Sebaiknya kita pergi!” Suzy berbisik.

Mereka berdua segera bergegas pergi meninggalkan area terlarang itu. Tidak baik berlama-lama di sana. Mereka bisa saja dihabisi oleh murid kelas Platinum lain yang tidak menyukai mereka setelah insiden pembangkangan terhadap Kyuhyu si Pangeran Sekolah.
Kibum masih diam di tempat sambil memandangi dua gadis itu hingga sosok mereka menghilang dari pandangannya. Ia tersenyum menyadari baru saja menemukan mainan baru yang lebih menyenangkan.
“Mereka menarik.” Kibum tersenyum misterius. Pandangannya teralih ke lantai yang dipijaknya. Ia terkesiap menemukan sepucuk surat beramplop biru di dekat kakinya. Begitu benda itu ada di tangannya, alisnya bertautan.
“Bukankah ini milik gadis tadi.” ia menoleh ke arah Suzy dan Jiyeon pergi lalu menyeringai.

—o0o—

Hari itu tidak seperti biasanya, langit yang mendung itu  menumpahkan rintik-rintik hujan yang makin lama semakin deras.

“Aish, pagi-pagi begini sudah hujan?” Suzy mengeluh saat ia menatap langit di teras rumahnya.

“Supir Han akan mengantarmu ke sekolah.” ucap ibunya sambil mengendik ke arah garasi yang terbuka di mana supir pribadi ibunya menunggu di samping mobil SUV hitam. Sejujurnya tidak suka pergi ke sekolah dengan mobil pribadi. Menurutnya lebih menyenangkan menggunakan kendaraan umum. Namun karena ia hampir saja terlambat, ia tidak ingin membuang-buang waktu berdebat dengan ibunya.
“Kau bisa pergi bersama Appa,” sahut Ayahnya ketika Suzy merengut karena tidak mau diantar oleh Supir Han. Dengan senang hati Suzy mengangguk lalu masuk ke dalam mobil coupes yang biasa dikendarai Ayahnya ke kantor.

Bae Sungwoo, Ayahnya adalah seorang General Manager di sebuah perusahaan multinasional. Tak seperti kebanyakan pejabat yang menyewa supir untuk mengendarai mobilnya. Ayahnya memilih untuk mengendarainya sendiri.
“Baiklah, Appa yakin tidak akan terlambat?” ujar Suzy setelah duduk di samping ayahnya.
Ayahnya hanya tersenyum, “Tidak. Pasang sabuk pengamanmu.”
“Siap, captain!”

Sepanjang perjalanan Suzy terus bercerita tentang pengalamannya selama di sekolah baru. Termasuk bertanya mengapa Ayahnya memasukkannya ke sekolah gila seperti itu.
“Salah satu rekan Appa yang menyarankan. Menurutnya, sekolah itu adalah sekolah terbaik di Seoul.”
“Tetapi keadaan di sana sungguh kacau balau. Kelas Platinum inilah, kelas Platinum itulah, dan pembagian kelasnya benar-benar tidak adil.”
“Hahaha, bagaimana bisa sekolah yang berisi anak-anak dari keluarga Chaebol bisa sekacau itu.”
“Menurutku di situlah letak masalahnya. Karena sebagian besar murid di sana berasal dari keluarga Chaebol.”
“Kalau begitu Appa sudah memasukkanmu ke sekolah yang salah, ya.” Canda Appanya. Suzy hanya mendengus karena ia tidak yakin Ayahnya menanggapi ceritanya atau tidak. “Sudah sampai, ayo turun.” Karena terlalu asyik mengobrol, Suzy tidak sadar sudah tiba di pelataran sekolahnya. Ia segera turun lalu melambaikan tangannya.
“Semoga harimu menyenangkan, ” Ucap Appa sebelum pergi. Suzy mengacungkan jempol.
“Tentu saja!”

Begitu mobil Ayahnya pergi, Suzy masuk ke dalam gedung. Ia penasaran dengan daerah terlarang itu. Apa sungguhan tercetak dalam denah? Setahu dirinya daerah terlarang itu tidak ada. Ia mendatangi peta seluruh sekolah itu yang terpajang jelas di aula sekolah. Mencari tanda dengan tulisan ‘restricted areas’. Tetapi ia tidak menemukannya di mana pun.
“Sudah kuduga,” cibirnya. Di dalam denah yang dilihatnya memang tak tertera tanda apapun yang menunjukkan kawasan terlarang. “Jinjja, bagaimana sebenarnya peraturan sekolah ini! Bagaimana bisa ada area terlarang yang jelas-jelas tidak tercetak di peta.” Ia pergi dengan pikiran dipenuhi hal-hal mengenai daerah terlarang. Ia tidak tahu kemana ia pergi, hanya mengikuti langkah kakinya saja dan ketika kakinya berhenti melangkah, ia menyadari dirinya tersesat. Lagi.

“Jinjja, ini menyebalkan!” keluhnya sambil melirik tempat di sekitarnya. “Kenapa sekolah ini luas sekali? Ke mana arah ke kelasku?” Ia yakin sekali bisa mengingat setiap detail di peta tetapi mengapa ia tetap tidak mengenali tempatnya berada saat ini. Ia berdiri di tempat yang aneh, di sisi kirinya terdapat greenhouse yang rindang dan sejuk. Di sisi lainnya ruang kesenian yang sudah tidak terpakai lagi.
“Hei, kau!” seseorang memanggilnya. Dari suara beratnya jelas seorang laki-laki dan panggilannya itu berhasil membuat bulu kuduk Suzy berdiri. Ia membalikkan badannya kemudian mengerjap kaget melihat segerombolan anak laki-laki. Dari penampilannya Suzy menebak dia berasal dari satu atau dua tingkat di atasnya. Ia mundur merasa kehadiran pria-pria itu mengancamnya.
“Ah, bukankah kau gadis sialan yang mengganggukutempo hari.” Ucap salah satu dari mereka. Suzy mengenali wajah itu. Dia pria yang berkelahi tempo hari.
“Tak kusangka kita akan bertemu lagi,” Suzy tertawa tidak jelas untuk menyembunyikan ketakutannya.
“Sunbae, sebaiknya kau balas dia! Karena dia, aku mendapat skorsing selama dua hari!”

“Ya!!” Suzy tertawa kecil bermaksud membuat suasana tegang itu mencair. Tak disangka ketegangan itu justru semakin mencekam saat ia sadar pria-pria itu menatapnya dengan ekspresi lapar. Seperti gerombolan singa yang berhasil mengepung rusa kecil yang tersudut tanpa bisa melawan.
“Apa yang sebaiknya aku lakukan, menghajarnya!!!” pemimpin gerombolan itu menoleh ke salah satu bawahannya menyuruh mereka menahan Suzy. “Tahan dia.”
Suzy bersiap kabur namun kalah cepat. Ia menjerit panik saat kedua tangannya di tahan oleh pria-pria itu. Ia meronta. Sia-sia saja karena seorang wanita tidak mungkin bisa melawan kekuatan dua pria sekaligus. Dilihat dari ekspresinya, mereka serius dan tidak main-main ingin memberinya pelajaran. Meskipun ia ketakutan, tidak berarti ia akan diam saja. Ia harus bisa melawan sekumpulan lelaki pecundang itu.
“Jika kalian memang merasa jantan, maju satu persatu untuk melawanku!” seru Suzy sambil meronta-ronta.
“Baik jika itu permintaanmu! Lepaskan dia.”
“BRUUKKK!” kedua orang pria yang menahannya mendorongnya jatuh secara bersamaan. Suzy memekik ketika tubuhnya ambruk di lantai yang keras. Ia belum sempat berdiri ketika tubuhnya ditarik bangun oleh pria tadi.
“Aarrghhhh!!!!!”

Jeritannya tidak terdengar berat seperti itu. Suzy berhenti memekik ketika ia sadar tidak hanya dirinya yang menjerit. Pria pria itu panik karena tiba-tiba saja seseorang dengan sengaja menyemprotkan air ke arah mereka.
“Siapa itu?!” maki si pemimpin kesal lalu berbalik. Matanya terbelalak melihat siapa yang berdiri di depannya dengan selang air di tangan. Seorang gadis cantik berambut panjang bergelombang berdiri sambil memegang alat pembersih kaca beserta selang air di tangannya yang lain.
“Kenapa? Kaget melihatku?” tanya gadis itu menyadari perubahan raut wajah pria-pria yang ada di hadapoannya. Laki-laki yang dimaksud terpaku sampai tidak mampu menjawab. Sementara teman-temannya yang lain kabur meninggalkan sang ketua. Suzy menyaksikan kejadian itu dengan mulut menganga takjub.
“Besar sekali nyali kalian berbuat seperti itu di sekolah?!” ucapnya dengan tenang dan datar namun mampu membuat pria itu gemetaran.
“N-ne, maafkan aku.”

Perempuan cantik itu meletakkan selang air itu, dengan langkah tenang mendekati satu-satunya pria yang tersisa di sana. “Jika aku sampai melihat kalian seperti tadi untuk kedua kalinya, kau tahu apa akibatnya.” gadis itu mengancam dengan wajah dingin. Sungguh mengerikan. Matanya menyala-nyala seperti kilat. Tunggu, sepertinya Suzy pernah mendengar kalimat seperti itu sebelumnya.
Lelaki itu langsung lari terbirit-birit. Suzy takjub dibuatnya. Benar-benar menakjubkan, seorang gadis feminin mampu membuat preman sekolah lari terbirit-birit, tentu dia bukan orang biasa.
“Kau tidak apa-apa?” gadis itu berbalik menghadapnya dengan senyum hangat di bibir. Suzy yang masih tertegun menatap gadis berparas cantik itu hingga sepasang mata indahnya memandang Suzy dengan pandangan bingung yang berhasil membuatnya terkesiap sadar.

“Ne, aku baik-baik saja.” Suzy heran mengapa suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar gugup. Ini hanya terjadi padanya di saat ia berbicara dengan sesorang yang dianggapnya hebat.
Gadis itu tersenyum manis, “Tidak perlu segugup itu.”
“Kau hebat bisa membuat mereka lari terbirit-birit.” Suzy berkata dengan mata berbinar.
“Ah, aku tidak sehebat itu. Aku hanya mengatakan apa yang ingin aku katakan. Itu saja.” Gadis itu menundukkan kepalanya dengan sopan lalu pergi.
“Ah, aku lupa menanyakan namanya!” Suzy menyadari hal itu setelah sosok gadis cantik itu menghilang dari pandangannya. Dasar bodoh! Ia telah mengulangi kecerobohan yang sama.

—o0o—

Amplop berwarna biru itu masih dipandangi Kibum dengan penuh minat. Kakinya ia sandarkan di atas meja. Ia bebas melakukan apapun di ruangan khusus yang sengaja dirancang untuk prince of school. Ruangan yang sedikit lebih luas dari ruang kelas itu terletak di jantung daerah terlarang. Didesain indah menyerupai istana raja-raja eropa pada era renaissance. Mewah, dan di dominasi furniture kayu berukiran klasik.
Suara derit pintu yang dibuka terdengar. Kyuhyun dan Donghae berjalan masuk lalu duduk di sofa yang ada di hadapannya.
“Apa itu?” tanya Donghae datar. Sebenarnya ia tak heran melihat seorang Kim Kibum memegang surat cinta atau semacamnya. Benda-benda semacam itu tertumpuk menyedihkan di sudut ruangan sana.
“Kau tidak lihat, ini surat cinta.”
“Apa mereka tidak bosan mengirimimu surat sementara sudah ada cara lain yang lebih cepat dan praktis.” ujar Kyuhyun dengan nada menyindir. Kibum membalasnya dengan senyuman.
“Kau tak perlu iri padaku. Lagipula surat ini memang untukmu.”

Kyuhyun yang tengah bersantai di dekat bar kecil langsung terperanjat kaget. Ia memandang Kibum tampak tidak sedang bermain-main dengan ucapannya tadi. Ia harap telinganya salah dengar.
“Aku tidak bercanda. Kau bisa lihat tercetak tulisan ‘to Kyuhyun’ dengan jelas di amplopnya.” Kibum menjawab raut terkejut Kyuhyun.
Dengan diselimuti rasa penasaran, Kyuhyun mengambil surat itu lalu membacanya sendiri. Di pojok kanan atas amplop benar-benar tertulis namanya. Kibum tidak sedang menggodanya kali ini.
“Sebaiknya cepat kau baca.”
“Shireo! Kau saja yang membacanya!” Kyuhyun melempar surat itu. Ia bangkit lalu keluar dari ruangan. Donghae dan Kibum saling berpandangan lalu menghela napas bersama-sama.
“Dia masih sensitif dengan ini!” Donghae menatap sedih surat itu lalu bangkit. Ia pun meninggalkan ruangan itu hingga yang tertinggal di ruangan hanyalah Kibum. Ia memungut surat yang sudah dibuang Kyuhyun tadi. Tersenyum miris memandangnya.
“Gadis bodoh! Mengapa kau menyukai Kyuhyun!”

—o0o—

Seusai pelajaran, Suzy melakukan touring singkat menjelajahi sebagian sekolahnya. Ia tak bisa mengajak Jiyeon karena hari ini jadwal ekstrakulikuler yang diikutinya. Ia juga bermaksud mengikuti salah satu dari ekskul di sekolah itu. Namun sebelumnya, ia akan berkeliling.

Sekolah itu benar-benar besar dan luas. Segala yang ada di sana berstandar internasional baik itu tata ruang, peralatan penunjang kurikulum sekolah hingga fasilitas yang di sediakan. Semuanya tersedia lengkap dan canggih. Suzy takjub sekali ketika ia melihat ruang audiovisual, yang digunakannya tempo hari ketika pelajaran bahasa. Langkahnya kemudian terhenti saat telinganya mendengar alunan musik yang begitu merdu berasal dari arah ruang kesenian.
“Siapa yang bermain piano sore hari begini?” Ia mendekati arah datangnya suara. Membuka pintu ruang kesenian dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Seorang siswa laki-laki duduk di depan grand piano di depan ruang kelas, memainkannya dengan mata terpejam. Suzy tertegun sesaat dan ketika dirinya mengetahui siapa lelaki itu, ia tersentak kaget.
“Donghae…” gumamnya dengan suara pelan. Kegembiraan seketika meluap-luap dari relung hatinya. Sudah lama ia mencari sosok pangeran tampan itu dan kini pria itu ada di hadapannya.
Suzy berjalan perlahan lalu duduk di salah satu kursi. Ia memejamkan mata untuk menghayati untaian nada yang mengalun indah. Begitu terhanyut sampai membuatnya tak sadar ketika lagu itu selesai dimainkan dan berhenti di not terakhir. Donghae membuka matanya pelan. Setelah memainkan piano, ia merasa beban di hatinya berkurang. Ia melirik ke arah gadis yang duduk di salah satu deretan kursi. Ia menyadari ketika gadis itu masuk ruangan dan diam-diam menontonnya. Karena ia tidak bisa berhenti bermain, maka ia membiarkan gadis itu mendengarkan lagunya hingga habis.
“Apa sebegitu indahnya lagu yang kumainkan sampai kau tertidur seperti itu?” lirih Donghae membuat Suzy tersentak sadar dari alam khayalnya. Ia gugup karena tidak tahu sejak kapan Donghae memandangnya.
“Apa aku mengganggumu? Kuharap tidak.” Ia bangkit untuk menghampiri Donghae. Gadis itu tersenyum sementara Donghae menatapnya datar.
“Lagu yang kau mainkan sangat menyentuh. Apa kau yang mengarangnya?”
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
“Mendiang kakakku.” Jawabnya datar. Suzy terperanjat. Ekspresi Donghae berubah dingin seperti salju. Ia merasa bersalah karena sudah menanyakan hal mengingatkan Donghae pada kenangan buruknya.
“Maaf, aku tidak bermaksud.”
“Gwaenchana.” Sela Donghae datar.
“Kurasa kita belum berkenalan. Siapa namamu?” tanya Suzy penuh semangat yang dipelajarinya dari Jiyeon. Donghae memandang Suzy sesaat lalu memalingkan pandangannya.
“Lee Donghae.”
“Oh hai, namaku..”
“Suzy. Bukankah itu namamu?” jawab Donghae santai. Suzy terkejut.
“Darimana kau tahu?” seru Suzy bingung sekaligus gembira.
Donghae menaikkan alisnya sebelah, “Kau lupa? Di hari pertama bertemu kau menyebutkan namamu dengan kencang. Tidak mungkin aku tidak mengingatnya.”

Suzy mengangguk antusias. Benar-benar tidak disangka!!! Pangeran yang ia sukai mengingat namanya. Pada awalnya ia berpikir Donghae tidak mungkin mendengar namanya apalagi ingat. Ternyata dugaannya salah besar. Pria ini bagaimana pun telah memberikan kesan mendalam untuknya.
“Kau bersedia menjadi temanku?” Suzy sambil mengulurkan tangan. Donghae hanya menatapnya tanpa ada niat sedikit pun untuk menyambutnya
“Kita baru saja saling mengenal, kupikir pertemanan masih terlalu jauh.”
Donghae lalu meninggalkan ruangan itu. Suzy mendengus. Kenyataan bahwa mereka baru saja bertemu memang benar. Tetapi apa hanya karena itu mereka tidak bisa berteman? Ia tidak mengerti jalan pikiran Lee Donghae.

—o0o—

“Aish, jinjja..lelahnya.”

Jiyeon duduk santai di bangku panjang di taman depan ruang klub tataboga yang diikutinya. Di tangannya kini terdapat kotak berisi beberapa potong kue hasil prakteknya tadi. Ia akan memberikan kue ini untuk kakaknya, Park Jungsoo. Tiba-tiba ia teringat pada surat cintanya untuk Kyuhyun. Ia harus menyerahkannya hari ini. Ia berharap Kyuhyun masih di sekolah. Ia membuka tasnya untuk mencari surat itu. Parasnya seketika berubah pucat saat ia tidak berhasil menemukan suratnya.
“Aigooo, dimana suratnya…” Jiyeon panik. Ia mengeluarkan seluruh isi tasnya, mencari-carinya di antara buku-buku, hingga ke setiap lembar buku namun hasilnya nihil.
“Bagaimana ini, suratku tidak ada…” keringat dingin mengalir melalui pori-pori kulitnya.
Apa yang akan terjadi jika surat itu sampai jatuh ke tangan yang salah, dibaca lalu disebarluaskan ke seluruh penjuru sekolah. Ia bisa tamat detik itu juga. Jiyeon tidak sanggup membayangkan apa yang akan dilakukan para pendukung Kyuhyun untuk memberinya pelajaran karena sudah mempermalukan sang pangeran.
“Tidaaaaaakkk!!!”

—o0o—

Lapangan basket penuh oleh siswa-siswi dari klub basket. Ada jadwal latihan hari ini. Karena setiap siswa sekolah itu diharuskan mengikuti satu kegiatan ekstrakulikuler, Suzy memutuskan untuk mengikuti ekskul tersebut. Ia berjalan pelan menyusuri pinggir lapangan. Menatap kagum siswa laki-laki yang sedang asyik mendriblle, melempar, dan memasukkan bola ke ring di lapangan sana. Sementara untuk anggota perempuan, mereka sedang berkumpul di sudut lapangan untuk pemanasan.

“Semuanya perkenalkan, dia Bae Suzy. Anggota baru klub kita.” Ucap Shim Changmin, pelatih basket yang berusia dua puluh tahunan. Pelatih basket itu seorang mahasiswa. Karena kepandaiannya bermain basket, lelaki dengan tinggi lebih dari 180 cm itu direkrut pihak sekolah untuk menjadi pelatih klub basket sekolahnya.
“Mohon kerjasamanya…” Suzy membungkukkan badan.
Anak-anak hanya memperhatikan Suzy sejenak, lalu membubarkan diri walaupun tak ada aba-aba apapun dari Changmin. Ia merengut sedih. Di hari pertama sudah mendapatkan perlakuan dingin.
“Karena kau masih pemula, kau harus memulainya dari mendribble bola.”

Sebenarnya aku bukan pemula, batin Suzy dalam hati. Ia sudah cukup familiar dengan olahraga itu karena sejak SMP ia mengikuti ekskul yang sama.Kenapa pria ini mengira aku buta soal basket? Tetapi Suzy diam saja. Changmin menoleh untuk memanggil seseorang. “Soyu-ah.”
Seorang gadis dengan tinggi lebih dari 170 cm menoleh, “Ne, pelatih.” Gadis itu mendekati mereka.
“Bantu Suzy memulai latihannya.”

Soyu memandangnya. Suzy menundukkan kepala sekilas, merasa terintimidasi ketika mata mereka bertatapan. Gadis dengan rambut pendek sebahu dan gaya tomboy itu berhasil membuat Suzy tak bisa berkutik. Dia terlihat tidak ramah. “Kajja,” Gadis itu mengendikkan kepalanya meminta Suzy mengikutinya ke tengah lapangan.

Pada awalnya Suzy berpikir Soyu adalah gadis berperangai buruk dan suka membentak orang lain. Pada kenyataannnya, dia baik hati dan sabar ketika melatihnya. Ia merasa malu karena sudah seenaknya menerka-nerka sifat seseorang. Soyu melatihnya dengan baik, membuatnya berlari ke sana kemari untuk mencoba berbagai teknik mendribble bola. Ia berhenti sejenak setelah tubuhnya berkeringat. Iseng menoleh ke arah tepi lapangan, ada sesuatu yang menarik Suzy sehingga ia terpaku menatapnya.
Suzy melihat gadis cantik yang menolongnya pagi tadi. Gadis itu tengah mengobrol dengan Pelatih Changmin dengan memegang buku di tangan kirinya.
“Soyu-ssi, kau tahu siapa gadis itu?” tanya Suzy pada Soyu. Gadis itu menengok ke arah yang ditunjuknya.
“Dia Im Yoona, manager klub ini.”
“Jinjja?” Suzy terkesiap.

“Awas!!!” teriak orang-orang histeris. Tanpa diduga-duga, sebuh bola melayang ke arah Suzy. Namun yang bersangkutan tidak menyadarinya sama sekali. Suzy samar-sama mendengar orang-orang yang berteriak ke arahnya. Ketika menolehkan kepala, ia sadar bahaya tengah mengancamnya. Namun terlambat untuk menghindar karena bola sudah ada di depan mata.
“Kyaaaaa…” Suzy melindungi wajahnya dengan kedua tangan.

Bugh.

Suzy membuka matanya pelan-pelan. Bola dihentikan oleh seseorang dengan menggunakan satu tangan nyaris sebelum mengenai wajahnya. Orang-orang terpana menyaksikannya terlebih Suzy yang berdiri tepat di belakangnya. Karena terlalu terkejut sampai-sampai ia tidak sanggup berdiri dan jatuh terduduk di lantai.
Tak pernah ia sangka Donghae sang penyelamat berdiri di hadapannya menahan bola itu. Ini adalah pertolongan kedua darinya. Spontan anak-anak bertepuk tangan bahkan ada juga yang bersiul atas peristiwa itu. Semua itu ditujukan untuk aksi heroik Donghae. Pria itu mengangkat tangan meminta semua orang berhenti ribut. Setelah suasana menjadi senang, ia menoleh pada Suzy. Pria itu baru akan mengulurkan tangan untuk membantu Suzy saat ia melihat ada orang lain yang lebih dulu menghampiri gadis itu.

“Gwaenchana?” tanya Yoona sambil membantu Suzy berdiri. Donghae menarik tangannya kembali dengan enggan.
“Ne. Gomawo,” Suzy masih belum bisa menyelaraskan detak jantungnya ke mode normal. ‘Oh, sepertinya aku akan mati.’ Batinnya panik. Ia ragu-ragu memandang Donghae.
“Kau anggota klub basket juga???” tanyanya tak percaya melihat Donghae memakai seragam latihan seperti yang dipakai anak-anak lain. Demi Dewi Fortuna, bagaimana ia bisa seberuntung ini?
Donghae mengangguk enggan lalu memalingkan wajahnya ke arah Yoona. Tatapannya berubah menjadi tak terbaca ketika bertemu pandang dengan gadis itu. Tanpa berkata apa pun, ia berjalan meninggalkan lapangan. Ada apa sebenarnya ini? Bergantian memandang kedua orang tua itu dengan raut tak mengerti.

“Apa ada yang sakit?” Pertanyaan Yoona menyadarkan Suzy dari lamunannya. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, merasa pikirannya terlalu mudah melantur akhir-akhir ini.
“Tidak, aku baik-baik saja.” Suzy menggelengkan kepalanya. Pandangannya kembali teralih pada sosok Donghae yang kembali melanjutkan latihannya. Ia tersenyum dalam hati.

Terkadang, takdir bisa menyuguhkan sesuatu yang tak terduga.

~~~TBC~~~

196 thoughts on “School in Love [Chapter 2]

  1. Yaampun, donghae keren bgt sih. Kayanya donghae sma yoona punya hub yg lebih deh di masa lalu –” hmm, makin penasaran u,u

  2. donghae sma yoona apakah dulunya punya hbungan khusus thor? Wah ternyata jiyeon nulis surat buat kyuhyun ya thor? Trus isinya apa? Kenapa jiyeon kyknya takut bnget ngeliat kalau kibum? Wuah makin penasaran aja nih sma ceritanya thor, lanjut bca ke chapter selanjutnya ya thor ^^

  3. Ternyata ji yeon mencintai khuyhyun apa kah cintanya terbalas ????
    Sepertinya suzy mulai dekat dgn donghae🙂.
    Ceritanya menarik🙂

  4. Jadi Kibum tertarik sama Jiyeon, Jiyeon naksir Kyu, tp bgaimna kyu? Dia gak akan tertarik sama suzy kan? *Semoga*
    Suzy-Hae ada kemajuan *Bagus*, tp Yoona? Aissh penasaran…

  5. Gue bisa dikit” paham ama ni ff. Mungkin saja Donghae suka sama yoona jadi sikapnya kayak gitu. Terus Kyuhyun mungkin punya masa lalu yang kelas soal pacar”an. Dan kibum suka sama Jiyeon.

    Its only my thinking. And i hope this fanfic can ending happily. To author keep writng, keep calm and keep smile🙂

  6. nice…nice…nice…. karakter donghae sangat mirip dgn karakter hyun jung di BBF, kyuhyun, kibum jga…mungkin yg author bilang terinsfirasi dr flm tsbt ada bnernya, so akupun merasa larut kdalam alur crita tsbt…jangan sampai ada cinta segi”an diantara persahabatan mereka, kalaupun ada jangan sampai persahabatan mereka hancur… aku kagum sma sifat yoona. sbenarnya ada hubungan apa yoona ama donghae yaaak…jdi penasaran.

  7. Keren banget cDonghae, udah 2x nyelametin Suzy..mana pake gayanya yang cool lagi..bikin cewek-cewek pada klepek-klepek..
    Sebenarnya da hubungan aoa yah antara Donghae dan Yoona, bikin penasaran..

  8. Suzy suka sma hae??
    Tapi hae sama yoona kaya nya ad sesuatu.
    Kibum tau gk y surt itu asli nya dari siapa.
    Lanjut ya sist. Seru.

  9. semakin menarik!!! hahaha aigoo suzy dan jiyeon sepertinya mereka bakal mengalamin hari2 yang makin kacau.. terlebih jiyeon,, surat cinta nya. . . waks~

  10. Penuh kejutan semua
    Sulit gua tebak
    nebakx salah mulu
    gua kira jiyeon ngIrim surat cintax ke DongHae

    Ah..yoOna n doNgHAe ada hubungan kah?

    Perbedaan kasta yg menonjol

  11. Wuhuuuuuuwwwwww aku takut kak aku takut. Tau deh kenapa xD takut Jiyeon sama Suzy gimana gitu sama kaya di BBF, bingung juga tepatnya. Jiyeon ntar jahat ngga ya? Yoona itu sama kaya cinta pertama Jihoo ato disini Donghae di BBF ga ya?
    Terus entar kibum suka sama sapa? Huaaaaaaaaaa ngga sabar hahahahah
    BETTY.

  12. jngn bilang gni ntr crita’a kibum suka jiyeon,jiyeon suka kyuhyun,kyuhyun suka suzy,suzy suka donghae,donghae suka yoona,yoona suka kyuhyun!! ribet

  13. Aku baru baca FF ini… Maaf Kak Dha… soalnya waktu itu belum selesai2 jadi Aku tunggu sampe final sekarang udah Final jadi Aku mo baca sampe tuntas… Kalo Aku pengen koment Aku akan koment..

    Tebakanku disini… Donghae punya kakak… Tapi kakak Donghae pacarnya Yoona… Donghae juga suka sama Yoona udah lama sebelum kakaknya suka Yoona, tapi karena Yoona pacar kakaknya jadi Donghae gak enak hati sama kakaknya… tapi kakak Donghae sekarang…udah meninggal… jadi….
    itu baru perkiraan.. heheh

  14. Kayak nya pd cinta bertepuk sebelah tangan deh??
    #sotoynyasaya #abaikan thor😀

    Hae sama yoona penasaran ama hub mereka.
    dan kyu apa nnti suka sama suzy dan kibum sama jiyeon??
    Penuh teka-teki

  15. Kyaaaaa.. seru sekaliiiiik.. ^^*
    Sperty.nya kimbum suka jiyeon.. dan jiyeon suka kyuhyun.. kyuhyun di abaikhan suzy.. suzy suka donghae.. dan donghae.. seperty.nya ada something ama youna..
    Wah kerennnn.. u.u

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s