School in Love [Chapter 1]

Tittle : School in Love Chapter 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : School Life, Friendship

 

Main Cast :
Bae Suzy | Cho Kyuhyun | Park Jiyeon | Lee Donghae
Kim Kibum | Im Yoona

Dha’s Speech :
Kalau kalian rajin buka library FF di sini, pasti FF berjudul School in Love ada di peringkat paling atas alias FF yang paliiiiing lama. FF ini sudah mendekam di Lappy sejak tahun 2011. Cerita aslinya sih dibuat waktu aku masih sekolah, tahun 2009-2010. Singkat kata, ini novel yang ditransformasikan menjadi FF. Maaf kalau bahasanya masih amburadul soalnya ini cerita lama ^_^ waktu itu aku masih anak sekolah ingusan sih *lap ingus*

Di awal-awal memang rada mirip BBF gitu. Jadi jangan bilang ini plagiat atau semacamnya yah.. aku terinspirasi dari film itu ^_^ tapi kesananya dijamin beda deh. Kata temen aku sih bagus ceritanya, jadi aku coba posting di sini dalam bentuk FF. kan sayang kalau gak di share ^_^.  Buat yang bosen ama cerita romantis yang mengharu biru, ini bisa menjadi asinan bogor yang menyegarkan*apasih*. Maaf kalau ditemukan typo, aku kan miss gak teliti sekota Bogor. ^^v

Happy Reading.

School In Love by Dha Khanzaki1

CHAPTER 1

Transfer Student

Bel berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Murid-Murid Royal President High School berlarian menuju kelas masing-masing. Sudah tiba waktunya masuk kelas tetapi gerbang masih berjarak 100 meter dari tempatnya berdiri. Gadis dengan bola mata cokelat dan rambut hitam terurai indah sepinggang berlari dalam kecepatan penuh. Rambut hitam itu tampak melambai-lambai terbelai angin yang bertiup semilir. Dengan langkah yang agak dipercepat matanya terus tertuju pada gerbang sekolah yang hampir tertutup sempurna. Murid lain yang bernasib serupa pun berlarian menuju gerbang.

“Sial!! Aku tidak bisa lari lebih cepat lagi!” keluhnya sambil membetulkan tas punggungnya yang berwarna pink.

“Tunggu!!” serunya panik ketika gerbang itu hampir menutup.

Mati sudah harapannya. Gerbang sudah tertutup rapat sementara dirinya masih berdiri di sisi luar gerbang. Ia menatap nanar gerbang dari besi tempa yang berdiri kokoh tepat di hadapannya. Mengapa hanya dirinya yang tidak beruntung? Sementara yang lainnya sudah ada di lingkungan sekolah dan terlihat berlarian memasuki gedung.

“Ahjusshi… Tolong buka gerbangnya..”

Seorang pria paruh baya yang memakai seragam sekuriti berdiri di dekat pos dengan tongkat ditangannya itu tidak begitu memedulikan. Mimik wajahnya begitu tegas, seperti hakim yang akan mengadili pembobol bank.
“Maaf agasshi, tapi sudah waktunya gerbang ditutup. Saya hanya mengikuti perintah saja.” Dengan nada menyesal yang dibuat-buat sekuriti itu berusaha meyakinkan si gadis malang.
“Jebal, ini hari pertamaku masuk.”
“Tidak, tidak, tidak. Peraturan tetap peraturan.”

Ahjussi ini menyebalkan! Ia mengutuk dalam hati setelah permohonannya yang sangat tulus tak dikabulkan.

Setan dalam hatinya berbisik, merayunya untuk kabur saja dan berjalan-jalan memanfaatkan hari yang cerah seperti pagi ini. Lagipula bukankah ia belum mengenal kota Seoul dengan baik? Tetapi, sisi lain pun ikut bersuara. Jangan bolos! ini hari pertamamu masuk di sekolah ini. Ia tidak mau sampai di black list oleh guru.

BRRRMMMMMMM

Tiba-tiba suara mesin motor terdengar mendekat. Dengan gerakan malas gadis itu membalikkan badannya. Sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depan gerbang, tak jauh dari tempatnya berdiri. Si pengendara membuka helmnya dengan santai. Gadis yang berjarak hanya sekitar 2 meter dari si pengendara motor itu terpana ketika menyadari si pengendara motor adalah seorang pria dengan paras tampan. Uh, oh, mimpi apa ia semalam?

“Ahjussi, buka gerbangnya,” Pria itu berkata dengan nada dingin, tidak peduli, bahkan nyaris tidak sopan. Ia yakin sekuriti itu tidak akan membuka gerbangnya. Namun dugaannya salah, sekuriti itu menjawab dengan semangat.
“Siap Tuan!’ ucap satpam itu dengan wajah ramah. Wajah yang tidak sama dengan wajah yang diperlihatkannya pada gadis malang itu.

Apa!

Dengan segera sekuriti yang pilih kasih itu membukakan gerbang untuk murid yang sudah jelas lebih terlambat darinya. Benar-benar tidak adil! Ia yang tak bisa berkata-kata mematung dengan mulut menganga. Pria itu sepertinya menyadari kehadirannya karena kemudian suara baritonnya terdengar.
“Hei kau! Ayo masuk!” Si pengendara motor itu menegur gadis yang melongo menatapnya.
“HAH?”
Pria itu memakai helmnya kembali sambil mengendikkan kepalanya ke tempat di belakangnya. “Ayo naik! Apa kau akan terus berdiri di situ?”

Untuk beberapa detik gadis itu masih termangu. Ia cepat menepis pikiran melanturnya lalu mengangguk antusias. “Baiklah…” ia berlari mendekat lalu naik motor bersama pria itu. Baiklah, meskipun pria ini sedikit menyebalkan karena berhasil merayu sekuriti itu sementara dirinya tidak, yang paling penting ia tidak akan tertahan di depan gerbang di hari pertama sekolahnya.

Mereka berhenti di area parkir. Gadis itu lekas turun disusul pria itu setelah mematikan mesin motor lalu memasukkan kunci ke dalam jaket kulitnya. Mereka berjalan bersama memasuki gedung sekolah yang luas dan besar.

“Hei, siapa namamu?” Tanya gadis itu begitu tiba di depan gedung  berlantai 5. Siapa lagi yang diajak bicara kalau bukan pria tampan itu. Tetapi yang ditanya tidak menjawab, hanya memandang ke arah gadis itu sesaat lalu memalingkan wajah dan pergi begitu saja.

Gadis itu mendengus sambil berkacak pinggang, “Sopan sekali dia! Ya.. namaku Suzy..” teriaknya sekeras mungkin walau sudah yakin pria itu tidak akan mendengar karena sudah berjalan terlalu jauh di depannya.

“Hmm, aku penasaran siapa dia.”

—o0o—

“Annyeong haseyo, namaku Bae Suzy. Salam kenal.” Suzy, si murid baru yang datang terlambat itu memperkenalkan diri di depan kelas. Suzy adalah murid baru di Royal President High School yang baru duduk di tingkat 1.

“Baiklah Suzy, kau bisa menempati kursi di sebelah sana,” Ms. Haneul guru Sejarah yang sedang mengajar hari itu menunjuk bangku kosong di bagian belakang. Dengan semangat membara Suzy duduk di kursinya, bersiap menerima pelajaran baru di kelas baru bersama teman-teman baru.

Tepat ketika ia baru melewati masa SMUnya selama dua bulan, kantor tempat ayahnya bekerja memutasi ayahnya ke Seoul, tempat yang jauh dari kota tempatnya lahir. Ia dan keluarganya terpaksa pindah, begitu pun sekolahnya.

Ia harus meninggalkan teman-teman yang baru saja dikenalnya dan kini di lingkungan yang baru harus berusaha lagi mendapatkan teman baru.

—o0o—

Bel istirahat berdering. Suzy berdiri untuk meluruskan pinggangnya yang berdenyut pegal karena pelajaran fisika bukanlah kesukaannya. Pelajaran itu membuatnya mengantuk setengah mati. Kepalanya hampir saja terantuk meja jika tidak dikejutkan oleh bunyi bel.

“Di mana letak kantin?” Suzy bertanya heran. Kepalanya melirik kanan kiri. Betapa besar SMU Royal President itu. Sekolah berstandar internasional yang luas dengan arsitektur indah bergaya barat. Hingga detik ini ia heran mengapa Ayahnya berpikir untuk memasukkannya ke sekolah super elit itu. Ia menginginkan sekolah yang biasa-biasa saja.

Begitu memasuki kawasan gedung olahraga, Suzy menyadari dirinya tersesat. Ia yakin selama ia tidak membawa denah sekolah itu ia tidak akan pernah menemukan tempat tujuannya. Siapa pula orang bodoh yang membangun sekolah seluas ini.

“SIALAN!”

Teriakan seseorang membuat Suzy terkejut bukan main. Sepertinya suara orang memaki orang lain. Suzy melirik dengan ragu ke arah sumber suara. Matanya membelalak saat menemukan dua orang murid lelaki sedang berkelahi. Ini harus dicegah!!
“Ya, berhenti kalian!” Suzy berusaha untuk melerai mereka. “Kalian ini kenapa bisa sampai berkelahi?” serunya ketika berhasil memisahkan dua orang itu. Rupanya ungkapan ‘jangan menolong anjing yang sedang terjepit’ memang benar karena berikutnya Suzy yang mendapat amukan salah satu dari mereka.
“Memangnya kau siapa? Kami berkelahi atau tidak itu bukan urusanmu!!” pria itu berteriak tepat di depan wajahnya. Seluruh emosi Suzy naik hingga ubun-ubun.
“Menyebalkan! Sudah bagus aku peduli!”
“Diam kau, dasar gadis cerewet!”

Pria yang mengamuk padanya tadi mendorongnya hingga jatuh. Suzy memekik kesakitan, “Aw, sakit sekali..” pantatnya berdenyut karena berbenturan dengan lantai.
“Dasar Kalian!!” Suzy beringsut bangun dengan wajah terbakar amarah.  Ia berniat balas menghajar mereka, namun seluruh gerakannya terhenti karena seruan seseorang.

“Ada apa ini?” seseorang bertanya dari arah belakang Suzy. Perempuan itu menghentikan aksinya sejenak karena melihat paras orang-orang yang berkelahi itu berubah menjadi pucat seolah mereka menghadapi malaikat kematian.
“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Orang-orang itu berkata dengan suara tergagap-gagap. Ada apa sebenarnya? Suzy penasaran. Siapa gerangan yang sudah membuat mereka sampai ketakutan seperti itu. Suzy pun membalikkan badannya.
“O, ow..” lirih Suzy pelan, nyaris tak terdengar. Percaya atau tidak, tetapi sepertinya saat ini ia sedang berhadapan dengan dua malaikat super tampan. Yang satu menunjukkan ekspresi sinis sementara yang lain..datar tak berekspresi dan dia adalah si pengendara motor yang ditemuinya di gerbang tadi.

“Aku bertanya ada apa!” Malaikat berwajah sinis bertanya. Suzy mengerjap karena tatapan tajam itu mengarah padanya. Alisnya terangkat sebelah menunggu jawaban darinya. Pria itu jelas tidak suka menunggu.
“Em, sebenarnya..” Suzy tidak melanjutkan. Matanya justru terpaku pada pria di samping si wajah sinis. Pria itu meski tanpa ekspresi tetapi tampan tanpa cela. Suzy menyukai bagaimana cara pria itu tidak memedulikan keadaan di sekitarnya dan entah kenapa ia seperti melihat sorot kesepian di mata pria itu.

“Ya, aku bertanya padamu!!” Pria sinis itu menjentikkan jarinya di depan wajah Suzy, membuatnya terkesiap dari lamunannya. Ekspresi sinisnya mulai dihiasi ekspresi lain. Kesal. Pria itu tidak suka diabaikan, sifat buruk lainnya yang diketahui Suzy.
“Em.. mereka tadi berkelahi..” Suzy dengan polos menunjuk orang-orang tadi. Jelaslah yang ditunjuk terkejut seketika memandang Suzy tajam. Itu membuat nyali Suzy yang tadi begitu besar menjadi ciut.
Pria sinis itu melirik mereka tajam. “Benar itu?”
“Bohong! dia bohong!” seru salah seorang dari mereka dengan nada tinggi. Hal itu membuatnya semakin curiga.

“Mengapa kau berbohong seperti itu! Sebagai laki-laki kau harus bisa mempertanggungjawabkan hal yang sudah kau perbuat!” Suzy mulai kesal.
“Diam kau.” amarah mereka semakin meninggi. Mereka bergerak mengarahkan pukulannya pada Suzy. Gadis itu memekik ketakutan sampai ia menutup kedua matanya.

“AHHHH” Suzy menjerit. Ia tidak pernah siap fisik dan mental menerima pukulan tangan laki-laki. Tetapi hingga beberapa detik berikutnya berlalu, ia tak kunjung merasakan sakit itu. Suzy memberanikan diri membuka matanya perlahan-lahan. Kemudian ia terperangah, kepalan tangan pria itu ditahan oleh tangan seseorang tepat beberapa inchi sebelum mengenai kepalanya. Suzy menoleh, ke arah pria berwajah sinis yang tidak suka diabaikan. Pria ini..menolongnya?

Pria itu mengeluarkan aura hitam yang membuat dua orang yang berkelahi tadi mundur perlahan karena ketakutan. “Apakah memukul perempuan adalah tindakan seorang lelaki?”
“Bu..Bukan begitu..”
“Ingat! Kalian sudah berbohong padaku. Aku harap kalian tahu apa akibatnya bukan?” ancamnya lalu menghempaskan tangan yang tadi di tahannya. Setelah berhasil membuat dua orang malang itu bergetar panik, pria-pria yang menolong Suzy itu berlalu begitu saja.

Suzy hanya menatap punggung mereka dengan raut terkesima. Ia menggelengkan kepalanya. Ia harus mengejar mereka. Setidaknya ia harus mengucapkan terima kasih.

“Hei..” Panggil Suzy begitu kedua orang yang tadi menolongnya berhasil dia kejar. Keduanya sama-sama menengok. Mereka menoleh dengan ekspresi yang tidak berubah.

“Gomawo.. Jeongmal gomawo..” Suzy berkata dengan napas tersengal-sengal.
“Terima kasih untuk apa?” tanya Si pria sinis itu dingin. Mungkin jika orang lain yang menunjukkan wajah sedingin itu ia akan balas memperlihatkan raut dingin tetapi saat ini, Suzy justru diserang kegugupan.
“Tadi kalian sudah menolongku.” Suzy tidak tenang di tempatnya berdiri. Apa yang terjadi padanya?
“Siapa yang kau pikir menolongmu, kami hanya kebetulan lewat.” Ujarnya angkuh. Kalimatnya benar-benar menyesakkan hati. Setelah berkata begitu mereka pergi. Suzy lagi-lagi terpaku di tempat. Ia masih menyesuaikan otaknya dengan kejadian yang baru saja ia alami. Setelah semuanya sinkron, darah di sekujur tubuhnya mendidih dalam kecepatan yang menakutkan.

“UUH,, tidak sopan!! Sudah bagus aku berterima kasih!!”

——o0o—–

Sudah ketiga kalinya pagi itu Suzy menguap. Koridor sekolah mulai ramai dipenuhi oleh siswa-siswi yang berjalan melaluinya.
“Semalam aku tidur terlalu larut,” keluhnya. Padahal salah sendiri, siapa yang menyuruh semalaman terlalu asyik bermain game bersama kakak laki-lakinya, Bae Seungjo.

“KYAAAA..” Terdengar suara perempuan menjerit histeris. Suzy yang berada dalam kondisi setengah tertidur tersentak kaget lalu menengok ke arah datangnya suara. Matanya terbelalak dan rasa kantuknya hilang seketika melihat banyak sekali perempuan berlari ke arahnya. Ia memekik panik lalu berjongkok sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

“Apa, ada apa?!” pekiknya panik. Apa yang terjadi? Apa ada kebakaran? Pikirnya kebingungan. Beberapa saat kemudian ia sadar keributan itu bersumber dari arah belakangnya. Suzy lantas berdiri lalu menahan seorang gadis yang melintas di depannya, “Kenapa mereka ribut-ribut?”
“Mereka datang,” seru gadis itu tak kalah histeris. Ekspresinya luar biasa sumringah.
Kedua alis Suzy bertautan, “Mereka siapa?”
“Mereka,” jawaban misterius itu terulang lagi.
“Prince.”
“Pangeran? Siapa!!”
“Itu..” Dengan senang perempuan itu menunjuk ke arah di belakang Suzy. Gadis itu dengan kebingungan membalikkan badannya. Barulah Suzy melihat apa yang menjadi penyebab keributan itu.
“O ow..” Suzy tidak sanggup berkata-kata. Ia sungguh.. Sungguh terkejut dengan kenyataan yang ada di hadapannya. Orang-orang yang menjadi biang keributan itu adalah pria-pria yang menolongnya kemarin. Suzy tidak pernah menyangka mereka adalah murid-murid populer. Sebenarnya ia tidak perlu heran. Meskipun ekspresi mereka dingin dengan sikap angkuh sebagai pelengkapnya, mereka tetaplah sosok-sosok sempurna secara fisik. Tinggi, tampan, dengan senyum yang sanggup meluluhkan hati wanita manapun. Tuhan sungguh adil memberi mereka kesempurnaan itu.

Para gadis berdiri mengelilingi mereka, semakin menjerit histeris begitu si pria sinis kemarin berjalan lebih dulu dari yang lain dengan menampilkan evil smirk yang memesona.

“Kyaaaa…” Suzy terperanjat karena perempuan yang berdiri di sampingnya pun menjerit melihat senyum itu. Suzy mendengus. Huh, apa bagusnya? Ia tidak akan ikut histeris. Ia justru bingung pangkat dua. Mengapa orang sinis sepertinya harus dikagumi? Ia mengalihkan perhatiannya ke arah lain, ke arah pengendara tampan yang ditemuinya tempo hari. Menatap wajah santainya pagi ini membuat Suzy merasakan kesejukan.

Mereka berjalan melintasi Suzy diikuti gerombolan gadis di sekelilingnya. Suzy melambaikan tangan dengan senyum lebar pada pria itu. Tetapi dia sama sekali tidak memandang ke arahnya walau Suzy sudah tersenyum hingga pipinya pegal. Suzy lagi-lagi mematung. Jika terus diperlakukan sedingin itu lama-lama ia bisa kesal.

“Sebenarnya siapa mereka?” Suzy menoleh menuntut penjelasan. Senyumnya yang diabaikan membuat hatinya jengkel. Bukannya menjawab, gadis itu malah menatap Suzy dengan tatapan yang menunjukkan ketidakpercayaan.
“Kau tidak tahu siapa mereka?”
Suzy menggeleng. Itu membuat Suzy terlihat seperti idiot yang tak mengetahui berita yang seharusnya diketahui oleh orang di seluruh dunia. Tapi benar bukan, ia memang tidak tahu siapa ‘Prince’ itu.

“Mereka itu Prince of School Royal President! Kau tahu yang tadi berjalan paling depan?”
“Em, itu..” Suzy tidak meneruskan. “Si pria sinis.” gumamnya dalam hati.
“Dia murid paling populer di sekolah. Orangtuanya adalah penyumbang dana terbesar untuk sekolah ini. Namanya Cho Kyuhyun. Dia pewaris tunggal perusahaan raksasa milik orangtuanya nanti. Tampan? Kau tak perlu mempertanyakannya. Itu sudah jelas.”
Suzy mencibir diam-diam. “Dan yang kedua adalah Kim Kibum. Konon pria itu si jenius dengan IQ 150. Dia selalu tersenyum dan mudah akrab dengan orang lain. Tetapi kau harus berhati-hati dengannya karena he is a Lady killer(penakhluk wanita).” Gadis itu menyipitkan mata, “Dia seorang playboy.”

Suzy merinding. Tentu dia bukan malaikat penolongnya. Tinggal tersisa satu orang lagi yang tak lain dan tak bukan..
“Terakhir, pria paling cool dan sangat terkenal dengan kebaikannya bernama Lee Donghae.” gadis itu menghela napas kagum, mendekap tangannya di dada.  “Hanya saja, karena terlalu pendiam, dia terkesan tertutup dan dingin. Padahal dia sangat baik hati.”
Jadi pria itu bernama Lee Donghae! Suzy menepukkan tangannya senang, “Sudah kuduga, dia seseorang yang mengagumkan” serunya. Sungguh tidak dapat dipercaya. Orang yang kini dikaguminya adalah seseorang dengan kepribadian mengagumkan.

“Sudah kuputuskan, aku harus bisa dekat dengannya!” Kini sudah ia pahat dalam hati, ia Bae Suzy akan menjadikan Lee Donghae sahabat karibnya. Kali ini ia tidak akan salah dalam memilih teman. Trauma masa lalu cukup memberikan pelajaran berharga tentang arti sahabat sesungguhnya.

—o0o—

Tidak boleh sampai telat makan siang lagi! Karena kemarin ia tidak sempat makan siang, penyakit maagnya kambuh sehingga dirinya mengerang kesakitan selama pelajaran terakhir. Sekarang ia tidak akan kesulitan menemukan kantin setelah ia membuntuti seseorang di kelasnya yang pergi ke kantin.

Ternyata tidak sulit. Kantin itu adalah tempat yang luas menyerupai restoran elit yang pernah ia kunjungi bersama Ayahnya. Ia sempat menganga ketika pertama kali menginjakkan kaki di sana. Jika sebelumnya ia menyangkal bahwa ada kantin semewah ini di sekolah, maka kali ini ia mengakuinya. Makanan dan minuman yang disediakan pun tidak pernah ia temukan di kantin sekolah lain. Semua adalah hidangan kelas atas.

“Segala kelas atas. Selalu seperti itu.” dengusnya.

Begitu selesai membeli makan dan minum, Suzy mencari tempat duduk. Ia mengerang menyadari semua kursi sudah terisi penuh. Tidak tampak satupun yang kosong. Menyebalkan!
“Ya, jangan berdiri di tengah jalan, minggir!” Orang-orang mulai protes karena Suzy menghalangi mereka yang hendak lewat.
“Oh, Mian,” lantas ia menyingkir. Tapi ia malah menabrak orang yang ada di sampingnya. Tanpa sengaja jus alpukat yang dipegang orang itu tumpah membasahi kemeja seragam Suzy.
“Mianhae. Aku tidak sengaja!” spontan gadis itu mengeluarkan saputangan untuk mengelap noda jus di bajunya.
“Tidak apa-apa. Aku juga salah.” Suzy tidak enak hati, terlebih karena gadis itu panik.
“Aku yang salah, ” Bola mata berkaca-kaca itu menatap wajahnya dengan sorot panik dan bingung. Suzy tak tega untuk mencegah lagi. “Aku akan membantumu membersihkannya.” Suzy belum sempat menolak karena gadis itu secara tiba-tiba menariknya ke pergi.

Di toilet, gadis itu terus meminta maaf sambil membersihkan baju Suzy meski entah berapa kali ia bilang ‘tidak apa-apa’.
“Ah, dia benar-benar keras kepala!” ringis Suzy pelan. Bagaimana ia menghentikan kepanikan gadis ini? “Tenang saja. Bukankah kita memakai jas, nodanya tidak akan terlihat.” Suzy merapatkan jas yang dikenakannya. Gadis itu berdiri tegak lalu mengangguk canggung. Suzy tersenyum untuk membuktikan bahwa dirinya tidak apa-apa. Gadis itu mendesah lega lalu tersenyum lebih ceria.

“Sepertinya aku baru pertama kali melihatmu,” ucap gadis itu ragu setelah memperhatikan Suzy lekat-lekat. Senyum cerah membuat wajahnya tampak bersinar. Benar-benar gadis yang penuh semangat, meskipun sebelumnya sempat ketakutan setengah mati.
“Aku murid baru. Bae Suzy.” Suzy mengulurkan tangannya.
“Annyeong. Park Jiyeon imnida,” Dengan senang hati Jiyeon menyambutnya. “Mulai sekarang kau adalah temanku.” celoteh Jiyeon.
“Hah?” Suzy terkejut mendengar kata ‘teman’. Seketika pikirannya terlempar kembali pada masa lalunya yang kelam mengenai seorang teman. Suara hatinya menjerit lagi mengenang hal itu.

‘tolong,..’ sayup-sayup suara orang meminta tolong menggema di telinganya.
“Maaf..” hatinya menangis begitu teringat kejadian 8 tahun lalu itu.

“MAAF!” Teriak Suzy sekencang-kencangnya. Jiyeon terkejut melihat Suzy mendadak histeris.
“Kau kenapa? Tidak mau jadi temanku?” Jiyeon sedih. Suzy mengerjap sadar lantas menggelengkan kepalanya. Apa ia baru saja mengatakan sesuatu yang membuat Jiyeon menampakkan wajah murungnya?
“Bukan! Aku tidak bermaksud begitu. Baiklah kita berteman,” Kata itu terucap begitu saja dari mulutnya. Ia tidak enak menolak berteman dengan gadis ini. Dia tampak baik dan..sedikit rapuh.

Jiyeon tersenyum manis, membuat kecantikan yang sebelumnya tersembunyi memancar keluar.
“Geurae, kita sahabat!” Suzy menegaskan sambil mengangkat jari kelingkingnya.
“Ne.” Jiyeon menautkan jarinya dan mereka tertawa. Baik Jiyeon maupun Suzy  tak pernah menyangka bahwa hari itu adalah awal bagi persahabatan panjang mereka yang kuat dan tak terlupakan.

—o0o—

Hari itu Jiyeon menyandarkan dirinya pada tembok sambil sesekali menarik napas.
“Jiyeon, kau bisa!” serunya meyakinkan diri sendiri.

Sebuah amplop berwarna biru didekap olehnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Hatinya begitu gugup, debaran jantungnya tak kunjung normal sejak ia berdiri di sana. Perlahan langkah pertama dimulai.

Lorong lebar itu penuh dengan loker yang berderet di sepanjang sisinya. Pagi itu sekolah masih sepi. Tidak ada seorang murid pun yang melaluinya. Jadi tidak akan ada yang melihat seandainya Jiyeon menyelinap diam-diam lalu berdiri di depan salah satu loker. Tinggal satu langkah lagi untuk menyelesaikan misinya saat  tiba-tiba terdengar suara derap sepatu. Tidak seorang, tapi beberapa orang. Jiyeon terperanjat panik. Gawat! Ia lekas melarikan diri. Satu persatu anak melewati lorong itu dan membuka lokernya masing-masing. Beruntung Jiyeon sudah menghilang dari sana. Ia sekarang berada di tempatnya semula.

“Jiyeon, sedang apa kau di situ?” pertanyaan Sunny, teman sekelasnya yang tiba-tiba membuat Jiyeon terkesiap kaget.
“Tidak ada.” Jiyeon gugup.
“Kalau begitu sebaiknya kau pergi! Ini lorong untuk kelas Platinum! Jika kau ketahuan mereka kau bisa dicincang!” seru Sunny.
Jiyeon sudah tahu hal itu sejak ia diterima di sekolah ini tiga bulan yang lalu bahwa memasuki ‘daerah terlarang’ bagi murid biasa sepertinya sangat diharamkan. Hanya murid-murid dari kelas Platinum saja yang boleh, malah wajib melewatinya. Sunny menarik Jiyeon pergi.
“Lagi-lagi gagal.” Jiyeon menatap pasrah lorong itu seraya menghela nafas.

—o0o—

Semenjak kejadian tak terduga tempo hari, Suzy tanpa sadar sudah mengakrabkan diri dengan Jiyeon. Beberapa kali mereka bersama saat istirahat makan siang. Suzy nyaman dengannya. Jiyeon adalah gadis yang baik dan penuh semangat. Meski sikapnya mudah berubah-ubah, pada dasarnya dia gadis yang menyenangkan.
“Boleh aku bertanya?” ujar Jiyeon ketika mereka sedang menikmati makan siang.

“Silakan.”

“Kau ditempatkan di kelas mana?” tanya Jiyeon penasaran. Suzy berhenti mengunyah lalu memiringkan kepala.
“Kelas 1-3.” Jawabnya sambil mengendikkan bahu tak peduli. Tetapi reaksi Jiyeon sungguh di luar dugaan. Gadis itu membelalakkan matanya.
“Ha..daebak!” serunya kagum. Sesaat kemudian gadis itu memelas. “Sedangkan aku masuk kelas 1-4.”
Suzy mengeryit bingung, “Apa itu berpengaruh?”

“Em.” Jiyeon mengangguk. “Pembagian kelas di sini tidak adil.” jawabnya.
“Tidak adil?” Suzy tidak paham.
“Jika kau kaya, berbakat, pintar, maka kau akan masuk kelas platinum. Jika tidak, ya di tempatkan di kelas biasa saja.”
Suzy langsung mengangkat sebelah tangannya, “Tunggu, aku tidak paham!”
“Singkatnya, pembagian kelas di sini berdasarkan tingkat popularitas dan kekayaan.” Jelas Jiyeon sabar.

Suzy terbelalak. “Hah? Popularitas? Pembagian macam apa itu! Benar-benar tidak adil!” ia berteriak sambil memukul meja. Suara yang ditimbulkannya membuat orang-orang berpaling memandang mereka.
“Betul! Aku pun berpikir begitu!” Jiyeon ikut-ikutan bergelora.
Suzy kemudian memandang Jiyeon polos, “Eh,ngomong-ngomong, kelas Platinum itu apa?”
Jiyeon memejamkan mata sesaat, dengan sabar ia menjelaskannya. “Itu kelas anak-anak seleb yang super kaya, pintar, dan populer. Kelas yang hanya bisa ditempati oleh orang yang berkedudukan tinggi dalam masyarakat. Tidak sembarang orang ditempatkan di sana. Mereka yang ditempatkan di kelas 1-1, 2-1, dan 3-1 adalah anak-anak kelas Platinum.”

Suzy mengangguk paham. Berarti di tempatkan di kelas 1-3, ia termasuk rakyat menengah ke bawah?
“Lalu kelas yang paling akhir..” Suzy tidak tega melanjutkan.
“1-6. Mereka yang ditempatkan di kelas itu sungguh malang.” Jiyeon menggelengkan kepalanya prihatin.

Suzy menganggukkan kepalanya paham. Sebenarnya pembagian kelas berdasarkan kasta itu hanya membuat kesenjangan sosial saja. Mereka yang ditempatkan di kasta paling bawah pasti berpikir mereka tidak beruntung dan yang ditempatkan di kasta tertinggi merasa dirinya menguasai langit sehingga bisa menindas orang di bawahnya sesuka hati.Tapi ia yakin setiap murid di SMU Royal President adalah orang-orang hebat! Mereka istimewa dengan bakat masing-masing. Bukankah tidak sembarang orang diterima di SMU super elit se-Korea Selatan itu.

~~~TBC~~~

236 thoughts on “School in Love [Chapter 1]

  1. penasaran siapa seh yang ngajak suzy naek ke motor ya ?????!!!!!
    jadii jiyeon mau ngapain di kelas platinum itu ????!!!
    ehm suzy ngincer donghae buatjadi pacar nya atau sahabat ???!
    nah nah penasaran kok suzy kek nya anti ya am temenan ???!

  2. Wihh udah lama gak main ke sini😀

    Seperti nya seruu, penasaran jiyeon mau ngapain ke loker platinum? ada seseorang yg di sukai kah??
    Suzy, suka sama hae? penasaran lah😛

  3. Semoga di dunia nyata kg ada aturan kaya gitu,kalo ada ? Kg kebayang gw -_-
    Kaya’nya nih cerita bakalan seru,walau emang agak mirip BBF sih

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s