Another Story In Shady Girl [Kibum’s Story] // Workaholic Couple

Another Story in Shady Girl

Tittle : Workaholic Couple
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : NC21, Married Life, Romance

Follow : @julaningati23

 

Main Cast :
Kim Kibum | Cho Jarin

Support Cast :
Kangin

Dha’s Speech :
Maaf untuk typo, bahasa amburadul, salah kata, dsb. Untuk yang belum 20 thn disarankan jangan baca ya. Jika memaksakan membaca, dosa ditanggung sendiri dan jangan menyalahkan aku. Kan sudah kuperingatkan. heheheheh.. ^^v

Happy Reading ^^

Another Story In Shady Girl - Workaholic Couple by Dha Khanzaki

=====Oneshot=====

JARIN tidak pernah berpikir bahwa memakai gaun pengantin lama-lama bisa membuat punggungnya berdenyut pegal. Pesta pernikahannya sudah berakhir satu jam yang lalu. Sekarang ia tidak sabar untuk melepas benda menyebalkan itu dari tubuhnya. Ia duduk di tepi tempat tidur di kamar pengantinnya. Sudah sejak semenit lalu ia mencoba meraih resleting gaun di punggungnya tetapi karena ia sudah lelah, pekerjaan yang seharusnya mudah itu menjadi lebih sulit.

“Butuh bantuan?”

Pandangan Jarin teralih ke arah Kibum yang berdiri di ambang pintu. Tuksedo yang ia kenakan saat pernikahan tadi sudah terlepas dan menyisakan kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka. Entah kenapa Jarin tersipu malu melihat pemandangan itu.

“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.” sahutnya terbata. Ia kembali mencoba menurunkan resleting gaun itu. Tetapi entah bagaimana caranya resleting itu seperti tersangkut dan tidak mau bergerak sama sekali.
“Aish jinjja! Membuatku kesal saja!”

Kibum tertawa mendengar gerutuan itu. Dengan langkah tenang ia duduk di samping istrinya. “Sekarang masih menolak bantuan dariku?”

Jarin tidak menjawab. Hatinya berdebar. Meski Kibum tidak bermaksud menggodanya, ia bisa merasakan nada itu dari cara bicaranya. Ia tidak akan pernah lupa bahwa malam ini adalah malam pengantin mereka.

Tanpa mengatakan apapun Kibum menurunkan resleting itu. Meskipun sedikit sulit pada awalnya, tetapi dengan sedikit teknik benda itu meluncur turun dengan mulus.
Jarin menahan napas ketika udara dingin menyentuh kulit telanjang punggungnya. Ia tidak memakai apapun di balik gaun itu. Ia bisa merasakan tatapan panas Kibum di belakangnya. Nah, apa sekarang pria itu masih bisa menahan diri?

Kibum merasakan sesuatu menggelitik dadanya saat ia melihat kulit mulus Jarin terpampang di depanya. Sudah cukup ia sekuat tenaga mengabaikannya selama beberapa bulan ini. Meskipun mereka sempat tinggal bersama sebelum menikah, tetapi Kibum tak pernah berniat menyentuh Jarin sedikit pun. Ia sudah berjanji pada Kyuhyun, kakak Jarin untuk tidak menyentuhnya.

Ternyata lebih sulit menepati janji itu di saat Jarin berada di sekitarnya setiap saat. Entah sudah berapa kali Kibum harus bertahan saat Jarin dengan terang-terangan mengajaknya tidur agar mereka bisa menikah. Ia hampir saja termakan rayuan kekasih cantiknya itu namun keyakinan berhasil mengalahkannya. Jarin adalah seorang CEO untuk Cho Corp, perusahaan keluarganya. Akan timbul dampak yang sangat besar jika sampai Kibum membuatnya hamil sebelum pernikahan mereka. Beruntung, ia tidak perlu melewati neraka itu lagi karena kini mereka sudah menikah.

Fakta bahwa tidak akan ada yang melarangnya menyentuh Jarin lagi membuat Kibum berdebar sekaligus senang. Ia mengulurkan tangan menyentuh kulit lembut itu, mengusapnya perlahan.

Tarikan napas Jarin semakin berat. Ia membiarkan Kibum menurunkan gaunnya hingga ke pinggang. Ia sudah lama menantikan malam ini. Ia sudah lelah mencoba merayu Kibum agar keluar dari jalur meski hanya sekali. Entah ia harus senang atau sebal, tetapi Kibum adalah pria dengan prinsip paling teguh yang pernah dikenalnya. Mungkin karakter itulah yang membuatnya menjadi dokter yang disayangi pasien-pasiennya.

“Jarin..” tangan Kibum merayap memeluk pinggangnya. Jarin berdebar saat merasakan bagian depan kemeja suaminya menempel di punggung telanjangnya. “Apa kau ada ide untuk menghabiskan malam yang panjang ini?” Pria itu berbicara tepat di telinganya. Bahkan deru napasnya membuat tengkuk Jarin meremang.

“Aku tidak tahu,” Jarin tidak percaya sekujur tubuhnya membeku akibat sentuhan Kibum. Padahal dahulu ia begitu mendambakan saat-saat Kibum dan dirinya berada dalam posisi seintim ini. Tetapi mengapa kenyataannya membuat jantungnya jungkir balik seperti sekarang?

Tawa ringan pria itu terdengar, “Bagaimana kalau kau memainkan permainanmu yang dulu? Menggodaku dengan berkeliaran di rumah hanya memakai lingerie seksi? Kau tidak tahu aku pria berdarah panas? Saat itu aku bisa saja menarikmu ke kamar dan memakanmu sampai habis.”

Wajah Jarin memerah, bagaimana bisa Kibum membahas hal itu dengan nada ringan? “I-itu karena kau terlalu keras kepala. Apa salahnya jika kita bermesraan sekali saja? Itu tidak akan membunuh kita berdua.” Jarin sadar tindakannya dulu konyol sekali. Sekarang ia merasa malu. Ia yakin kibum pasti berpikir dirinya wanita murahan.

“Aku hanya menghindar dari kemarahan Ayah dan kakakmu. Mereka bisa mencincangku jika aku menyentuh gadis kecil kesayangan mereka.” Kibum mendaratkan beberapa kecupan manis di tengkuknya.

Mata Jarin terpejam menikmatinya, “Yeah, maaf jika aku memiliki pria-pria yang terlalu menyayangiku.”

“Sekarang aku tidak perlu cemas. Kau milikku. Aku bisa melakukan apapun seperti..” tangan Kibum terangkat untuk menyentuh payudara istrinya. Suara desahan kecil keluar dari sudut bibir Jarin yang terkejut dengan sentuhan itu.

Reaksi Jarin membangkitkan gairah Kibum. Darah panasnya bergolak meningkatkan libido di seluruh tubuhnya. Ia meraih dagu Jarin memaksa wajah gadis itu menoleh ke arahnya lalu meraup bibirnya.

Jarin tidak asing dengan ciuman panas seperti ini, tetapi tidak pernah ia mendapatkan ciuman yang mampu menggetarkan seluruh syaraf di tubuhnya seperti yang Kibum lakukan saat ini. Kerja paru-parunya menjadi kacau balau. Ia tak pernah membayangkan ciuman mampu memberikan efek yang membuat pusat tubuhnya bergetar. Ia mulai kehabisan napas dan tak memiliki tempat untuk berpegangan. Terlebih saat tangan lincah Kibum sudah bergerilya menguasai payudaranya dengan gerakan menggoda. Meremas dan menekan-nekan daerah itu dengan lembut.

Sial, aku akan mati terbakar gairah. Pikir Jarin. Tubuhnya menggeliat membuat ciuman terlepas. Keduanya terengah dengan mata saling memandang liar.

“Wow, aku tidak menyangka kau bisa berfrench kiss seliar itu.” desah Jarin.
“Kau yang membangunkan singa tidur dalam diriku, sayang. Maka hadapilah taringnya.”

Kata-kata yang sungguh panas dan merangsang. Jarin tersenyum, tangannya langsung meraih rahang Kibum ke arahnya dan mempertemukan bibir mereka kembali. Kini dalam pagutan yang lebih liar dan menggebu. Mereka bertarung mempertaruhkan siapa yang akan menjadi pemenangnya. Jarin rupanya terlalu bersemangat. Kibum mengalah dan membiarkan dirinya jatuh perlahan di atas ranjang. Jarin kini berbaring di atasnya.

“Kau sangat bersemangat,” Kibum senang. Tangannya memeluk pinggang Jarin. Ia tak akan mengizinkan gadis itu bergerak sedikit pun dari tempatnya.

“Jangan meremehkan kekuatan wanita yang sedang terangsang.” Jarin menundukkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Menggesekan ujung hidung mereka dengan mesra.

Ucapan jenaka namun penuh rayuan itu membuat Kibum tertawa. Tak perlu membuang waktu lagi bagi mereka untuk memulai segalanya. Ia menyentuhkan bibirnya kembali, merasakan manisnya bibir Jarin yang dihiasi lipstik warna merah lembut. Entah seberapa lama mereka menghabiskan waktu hanya untuk saling melumat bibir, Jarin tak pernah memperhitungkannya.

Di saat hasrat mereka sudah tak terbendung lagi, deringan ponsel mengacaukan segalanya. Kibum tersentak sadar suara itu berasal dari ponselnya. Seseorang memanggil.

“Jangan diangkat!” Jarin mencegah saat Kibum melepaskan bibirnya.
Pria itu memberikan senyum penuh pengertian. “Mungkin panggilan penting dari rumah sakit. Aku harus mengangkatnya.”
Mata gadis itu membeliak, “Wae? Bahkan di saat malam pertama kita? Bisakah mereka memakluminya?”

“Aigoo, lihatlah sikap kekanakanmu ini..” Kibum berguling sehingga posisi mereka berubah. Kini Jarin berada di bawahnya. “Lima menit saja. Setelah itu aku milikmu kembali.” Ciuman ringan mendarat di bibirnya lalu Kibum bangkit dari atasnya, meraih ponsel itu dan berbicara sambil berjalan menjauh darinya.

“Ne, Sooyoung..” hanya itu percakapan terakhir yang ia dengar sebelum Kibum meninggalkannya sendirian di kamar. Dia mencibir jengkel setiap kali mendengar Kibum mengangkat panggilan dari rumah sakit.

“Sooyoung lagi, jadi gadis itu masih bekerja di rumah sakit? Aigoo, ini bahkan hampir tengah malam!” sejak awal Jarin cemburu sekali pada suster yang menjadi asisten Kibum di rumah sakit tempatnya bekerja itu.

Kim Kibum adalah seorang dokter. Dia bekerja di Seoul General Hospital, rumah sakit terbesar dan tercanggih di Seoul. Selain karena rumah sakit itu milik keluarganya, kemampuan Kibum dalam bidang kedokteranlah yang membuatnya bekerja di sana. Jarin tidak pernah menyukai rumah sakit ataupun pria yang berprofesi sebagai dokter. Seolah takdir mempermainkannya, ia justru jatuh cinta pada seorang dokter. Sungguh menggelikan pada awalnya. Tetapi perlahan-lahan ia bisa menerima Kibum apa adanya bahkan tergila-gila pada pria pemilik senyum mematikan itu.

Pria itu sangat polos dan memiliki jalan pikiran yang lurus. Entah apa yang membuat Kibum begitu berdedikasi pada pekerjaannya. Tak peduli waktu jika rumah sakit membutuhkannya ia akan datang. Jarin khawatir malam ini pun Kibum akan seperti itu sehingga malam ini ia akan kembali mendapat kekecewaan seperti sebelumnya di saat Kibum menjauh ketika mereka akan bermesraan.

“Apa malam pertamaku akan gagal?” gumamnya. Jarin merasa sedih. Sudah lima menit berlalu Kibum belum kembali juga. Ia yakin saat Kibum kembali pria itu akan menampilkan wajah menyesal dan berkata bahwa dia harus pergi ke rumah sakit. Sebelum ini ia bisa memakluminya. Tetapi sekarang? Astaga, ia tidak mau bertengkar di malam pertama pernikahan mereka.

Akhirnya Jarin memutuskan untuk menunggu. Setelah melepas gaun pengantinnya dan mencuci muka ia membaringkan diri di tempat tidur.

—o0o—

Kibum berbicara sambil memandang jalanan jauh di bawah sana. Kamar hotel tempatnya berada terletak di lantai 23 Royal Palace Hotel, salah satu hotel milik keluarga Jarin. Saat ini ia sedang fokus mendengarkan seseorang yang berbicara dari ponsel yang menempel di telinga kanannya. Sooyoung meneleponnya untuk mengabarkan bahwa salah satu pasien yang ia tangani kondisinya menurun. Kibum sudah memberikan instruksi pada Sooyoung untuk melakukan penanganan.

“Aku menyesal, Sooyoung-ah,” ujar Kibum pelan, ia melirik ke arah kamar di mana ia meninggalkan Jarin. “Tetapi ada hal penting yang harus kulakukan sekarang. Aku tidak bisa pergi ke rumah sakit. Besok aku akan datang dan memeriksanya. Untuk saat ini lakukanlah seperti yang aku katakan.”

“Aku paham. Maaf sudah mengganggu malammu. Selamat bersenang-senang dokter Kim.” Pembicaraan berakhir meninggalkan kekacauan dalam hati Kibum. Sebenarnya ia tidak ingin menolak panggilan dari rumah sakit. Tetapi ia tidak mungkin mengacaukan malam indah ini. Terutama perasaan Jarin. Menghembuskan napas berat, Kibum berjalan kembali ke dalam kamar. Ia harap Jarin masih sabar menunggunya.

Tetapi ketika Kibum sudah tiba di kamar, ia menemukan Jarin sudah terlelap di tengah ranjang besar di tengah ruangan. Tanpa sadar Kibum melemaskan bahunya. Perasaan bersalah menyusupi relung hatinya. Jarin pasti tertidur saat menunggunya yang tak kunjung kembali. Wajar saja ia tidur begitu mudah karena resepsi pernikahan yang berlangsung hampir seharian menyita seluruh tenaga, membuat mereka berdua kelelahan.

Kibum duduk di pinggir tempat tidur, mengusap pipi istrinya dengan bibir tersenyum. “Mianhae. Aku pasti mengecewakanmu kembali.” Ia mendaratkan kecupan ringan di keningnya. Ia memutuskan untuk istirahat. Mereka memang membutuhkannya. Tentang malam pertama, bukankah itu masih bisa dilakukan esok hari? Setelah melepas seluruh pakaiannya Kibum ikut berbaring di samping Jarin. Memeluk tubuh ramping istrinya dengan perasaan lega.

—o0o—

Sinar matahari bersinar menembus gordin tipis. Silaunya membuat Jarin terjaga. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sepenuhnya ia mendudukkan diri di atas tempat tidur lalu meregangkan otot-otot di tubuhnya yang terasa kaku.

“Hmmm..dimana aku sekarang?” tanyanya linglung. Ia belum mengingat tempatnya berada saat ini dan memutuskan untuk tidur kembali karena berpikir hari ini hari libur. Namun saat ia berbaring miring membelakangi jendela, ia terperanjat kaget melihat Kibum berbaring di sampingnya.

“Aaaaaaarrggghhh!!!”

Sadarlah Jarin detik itu juga. Ia mengingat segalanya. Tentang pernikahan, resepsi dan malam pengantin. Semalam ia tanpa sadar tertidur saat Kibum tak kunjung muncul juga. Ia memekik kembali. Sambil meremas rambutnya ia menoleh histeris ke arah Kibum yang masih tertidur. Jika ia terlelap itu artinya malam pertamanya..

Gagal total!!

Jarin menoleh kembali pada Kibum. Pria itu bertelanjang dada dan tidak butuh waktu lama untuknya sadar bahwa Kibum tidak menggunakan sehelai benang pun di balik selimut yang menutupi hingga sebatas dadanya.

Astaga, jangan katakan Kibum menunggunya semalam? Lalu kenapa dia tidak membangunkannya saja? Oh tidak mungkin. Kibum terlalu baik hati untuk mengganggu tidur nyenyaknya hanya untuk berhubungan intim.

“Chagi mianhae..” dengan panik Jarin menghambur ke arah Kibum. Memeluk pria itu dengan erat sehingga Kibum terjaga dari tidurnya. Ia terkejut saat membuka mata tubuhnya ditindih oleh Jarin. Entah apa yang membuat Jarin panik, tetapi istrinya itu terus menggumamkan kata-kata maaf dengan nada penuh penyesalan.

“Jarin,” ia mengusap lembut rambut panjang istrinya. “Apa yang terjadi?”

“Aku sudah mengacaukan malam pertama kita, maaf.” Cicitnya. Apa? seharusnya ia yang meminta maaf bukan mengingat panggilan telepon yang membuat kegiatan mereka terhenti.
“Tidak apa-apa.”
“Tidak, tidak,” Jarin menggeleng lalu membenamkan kepalanya kembali di lehernya. Pergerakan kecil itu menimbulkan gesekan yang membuat Kibum mengeras. Ia terkesiap menyadari pusat tubuhnya tegang sempurna. Ia juga baru sadar Jarin memeluknya dalam kondisi tak terbalut sehelai pakaian pun. “Seharusnya aku tidak tertidur. Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku menyesal sudah membuatmu kecewa karena—“
“Jarin..”
“Aku bodoh sudah membuatmu menunggu seharusnya—“
“KIM JARIN!!” Kibum menarik kepala Jarin dari lehernya dan menatapnya, “Sudah kubilang tidak apa-apa. Lagipula salahku juga karena sudah membuatmu menunggu.”

Jarin mengerjapkan mata. Apa Kibum tidak menyadari sekarang posisi mereka begitu dekat? Jarin bisa menjangkau bibirnya hanya dengan menggerakkan sedikit kepalanya. Lagipula kondisi mereka sama-sama tak berbusana. Jarin bisa merasakan langsung betapa hangatnya kulit Kibum dan otot-ototnya yang sekeras baja. Ia menelan ludahnya.

Kibum tidak bodoh untuk menyadari hal itu. Ia juga merasakan gairah yang memicu kebisuan di antara mereka. “Apa belum terlambat untukku memperbaiki malam pertama kita?” bisik Kibum dengan suara serak dan seksi. Jarin berdebar. Betapa kata-kata itu membuatnya senang hingga ingin melonjak-lonjak di atas ranjang seperti anak umur tiga tahun. Tetapi Jarin harus stay cool agar tidak tampak terlalu antusias.

“Aku tidak keberatan,” ia mengangkat bahu acuh tak acuh. “Lagipula aku sudah mengambil cuti sampai seminggu ke depan.”
Kibum memanfaatkan kelengahan Jarin untuk membalikkan posisi. “Wow, waktu yang lama untuk berbulan madu.”

Jarin terkikik geli oleh sensasi yang timbul karena pergesekan organ intim mereka. Ia juga tak menyangka Kibum bisa dengan mudah membalikkan posisi. Kekuatan yang mengagumkan. “Aku sudah merencanakan ini sejak lama. Menguasai dirimu selama mungkin di atas ranjang.” Ia melingkarkan tangannya di leher Kibum agar bisa mengecup bibir suaminya dengan mudah. “Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk berselingkuh.”
“Sayang sekali istriku, pasien-pasienku di rumah sakit adalah selingkuhan yang tidak bisa kutinggalkan.”
“Yeah, asalkan aku tetap nomor satu dalam hatimu.”
“Kau tak perlu meragukannya.”

Mereka tersenyum dan saling berbagi ciuman. Bercumbu bersamaan dengan hangatnya pancaran sinar matahari yang menyelinap di sela-sela gordin tipis. Segalanya sudah lebih mudah sejak awal. Kibum tak perlu lagi bersusah payah menelanjangi Jarin. Ia bebas menjelajahi kulit lembut di bawahnya sesuka hati.

Jarin merintih halus kala tangan kekar itu memain-mainkan puncak payudaranya. Tak perlu diminta, mulut Kibum sudah menghangatkan salah satu puncak itu di dalam mulutnya. Sesekali menekan-nekan bahkan meremasnya membuat wanita yang berbaring di bawahnya itu mabuk dan mengerang kenikmatan.
Tangan Jarin tak bisa diam, dengan lincah telah menguasai helaian rambut suaminya yang halus dan lebat. Kini Kibum memperlihatkan kehebatannya yang lain dalam hal mencium. Dia sedang melukis ciuman dari dada hingga perut Jarin.

“Chagi..” Jarin menggeliat kegelian. Ia membuka mata untuk melihat apa yang sedang di lakukan Kibum dengan bibirnya yang luar biasa itu. Pandangannya mengabur oleh gairah. Ia hanya bisa melihat rambut hitamnya yang sudah semrawut akibat ulah jari-jarinya semakin merangkak turun hingga tiba di pusat tubuhnya.
“Beautiful,” Kibum mengangkat kepalanya dan tersenyum. Jarin meleleh hanya melihatnya saja. Pria itu duduk sambil menyibakkan selimut. Alhasil tubuh telanjangnya kini terpampang jelas di depan mata Jarin.

Omona.

Jantung Jarin berdentum-dentum kencang seperti lagu beat yang sering dimainkan di klub malam. Kibum tampak sangat percaya diri memamerkan dirinya pada Jarin sementara gadis itu merona kemerahan saat tubuhnya yang telanjang dipandangi dengan tatapan penuh hasrat oleh suaminya. Tiba-tiba ia ingin sekali menarik selimut atau apapun untuk menutupi tubuhnya. Ia takut bentuk badannya tidak sesuai dengan harapan Kibum sementara apa yang dimiliki suaminya itu berhasil membuat Jarin meneteskan air liur. Kibum tak memerlukan apapun untuk menyembunyikannya. Tubuh indah itu memang seharusnya dipamerkan.

Kibum adalah pria yang terobsesi pada kebersihan dan kesehatan. Tak perlu ditanya bagaimana sempurnanya tubuh pria itu karena Kibum teratur membentuknya di pusat kebugaran. Saat pertama kali melihatnya dalam kondisi telanjang di bagian atas, rahang Jarin hampir saja jatuh. Tetapi saat ia melihat bentuk tubuh laksana patung dewa Yunani itu dalam suasana yang lebih intim, Jarin merasakan kedutan hebat di antara kedua pahanya. Ia tak bisa melepaskan matanya dari ABS yang terbentuk sempurna di perutnya. Astaga, apa benar dia seorang dokter? Kibum lebih pantas menjadi atlet renang atau model produk pakaian dalam Calvin Klein.
“Kenapa memandangiku seperti itu?” suara Kibum membuyarkan lamunan Jarin. Serta merta gadis itu mengerjapkan mata lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Ti-tidak apa-apa. Kau membuatku gugup.”

Kibum malah memperlihatkan senyuman maut yang membuat Jarin semakin tersipu malu. Apa kegelisahannya terlihat sejelas itu? Kibum merangkak ke atasnya lagi sambil menyingkirkan selimut dari badan istrinya. Jarin mengerjap menyadari wajah Kibum tepat di atas wajahnya. “Apa yang kulakukan sampai membuatmu gugup?”
“Memandangku dengan mata tajammu, dokter Kim.”
“Masih juga memanggilku dokter Kim?” Kibum meraup bibir Jarin, melumatnya dengan keras dan ganas. “Aku keberatan.” Bisiknya lalu kembali menciumi bibir selembut beludru itu.

Bukannya menjawab Jarin justru mengerang. Tangannya refleks menarik sejumput rambut Kibum ke belakang sehingga membuat cumbuan mereka terlepas. Selanjutnya Kibum tersenyum puas melihat Jarin kepayahan menahan sentakan nikmat yang dilancarkannya.

Tangannya. Jarin mengumpat dalam hati. Sejak kapan tangan Kibum merangsang klitorisnya dengan begini hebat? Sejak ciuman tadi dimulai? Atau sejak Kibum merangkak ke atasnya. Jarin tidak begitu ingat karena yang ia tahu sekarang ia dibuat gila oleh jari-jari mahir itu. Bergerak menggesek ke atas dan ke bawah, terkadang menekan dan memutar membuat mulutnya menjerit. Gelombang itu datang. Jarin tahu dan benar saja detik berikutnya ia merasakan desakan gairah yang langsung meledak. Tubuhnya menegang dan ia merasakan kekosongan selama beberapa detik. Ketika ia sadar dirinya terengah-engah.
“Apa yang kau lakukan padaku..” Jarin merintih penuh kepuasan. Kibum hanya tersenyum lalu mengecup bibirnya lagi.
“Hanya untuk memudahkanmu menerima diriku, sayang.”

Jarin langsung memeluk leher Kibum lebih erat mendengar hal itu. “Apa benar momen pertama itu akan membuatku sakit?” sejujurnya ia khawatir. Banyak mitos yang berhembus tentang betapa sakitnya ketika keperawanan itu direnggut sehingga menimbulkan kegelisahan bagi Jarin.
“Tidak jika kau menikmatinya.” Selagi mata Jarin terpaku pada matanya, Kibum mempersiapkan dirinya di depan pintu menuju surga milik istrinya itu. “Kau percaya padaku bukan?”

Jarin mengangguk karena terhipnotis retina mata itu. “Sekarang maukah kau menciumku?” pinta Kibum penuh permohonan.
“Permintaanmu terkabulkan,” Jarin langsung mempertemukan bibir mereka. Ciuman kali ini terasa lembut dan perlahan. Begitu nikmat dan memabukkan. Sekilas Jarin merasakan pusat tubuhnya diterobos sesuatu membuatnya sesak dan ngilu. Tetapi semua itu kalah oleh nikmat yang ia rasakan. Lalu tiba-tiba rasa sakit seperti cubitan kecil membuatnya terkesiap. Ia mendesis dan tanpa sadar menancapkan kuku jarinya yang baru dicat ke punggung Kibum. Pria itu mendesis kecil, tetapi ketika berhasil menembus dinding pertahanan Jarin dan membenamkan dirinya, keduanya sama-sama mendesah lega.

“Bagaimana rasanya?” Kibum berbisik. Jarin menengadah menatap wajah tampan di atasnya, tersenyum begitu indah sehingga menarik Jarin sampai tersadar. Seakan kembali ke dunia nyata, kini Jarin baru menyadari Kibum baru saja menyatukan tubuh mereka. Ia mengerjap menatap pusat tubuh mereka yang berhimpitan tanpa celah. Pandangannya kembali pada Kibum. Pria itu bisa melihat binar kegembiraan dan haru menari-nari dalam bola mata Jarin.
“Rasanya penuh dan eunnghhh..” Jarin mendesah. Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Kibum telah menggerakkan pinggulnya.
“Apa sayang? Luar biasa nikmat?” tambah Kibum jahil. Jarin mengangguk kepayahan. Tanpa perlu dibantah, memang benar adanya. Rasanya begitu nikmat dan spektakuler. Sekarang ia bisa memaklumi mengapa banyak sekali orang menyukai kegiatan ini. Sensasinya tak tertandingi oleh apapun yang nikmat dan menyenangkan menjadi satu.

Tangan mereka saling mengait, Jarin sibuk mendesah dengan mata terpejam. Kibum menikmati pemandangan itu dengan perasaan bahagia. Bercinta akan menjadi lebih menyenangkan di saat melakukannya dengan orang yang dicintai. Itu memang benar. Fakta itu membuatnya dipenuhi keinginan untuk lebih memuaskan Jarin. Maka ketika gerakannya semakin cepat dan menggila, Jarin menjerit-jerit dengan tangan mengait pada punggungnya. Tubuhnya mulai berkeringat dan ia melenguh merasakan Jarin semakin mengetat, berkontraksi lalu jeritan penuh kepuasan keluar dari mulutnya diiringi aliran hangat yang membanjiri batang tubuhnya. Alangkah gembiranya ia bisa membuat Jarin orgasme untuk yang ke dua kali. Itu semakin memudahkan jalannya.

Jarin terbaring lelah dengan sekujur tubuh seperti melayang. Tetapi ia masih bisa merasakan gerakan Kibum dalam tubuhnya. Ah, tentu saja. Kibum belum selesai. Ia mengencangkan otot-otot kewanitaannya untuk membantu Kibum. Alhasil, pria itu mengerang.
“Oh, Jarin..jangan pernah berhenti melakukannya!!” seru pria itu. Jarin takjub melihat Kibum yang biasanya tenang menjadi seliar ini. Pria itu membuka mata gelapnya lalu menatap Jarin antara jengkel dan puas. “Kau gadis luar biasa.” Ia mencium Jarin bertubi-tubi sementara gerakannya semakin menggila. Jarin ikut mengerang karena bagaimana pun rasanya sangat nikmat. Lalu tak lama kemudian ia merasakan Kibum mengeras, membesar memenuhi seluruh tubuhnya dan pria itu mengerang kencang.
“Jariiin..” Tubuhnya menghujam sedalam mungkin saat aliran hangat terasa di dalam sana. Ia suka mendengar bagaimana Kibum menyebut namanya saat pria itu datang. Bagaimana pun itu terdengar romantis sekaligus seksi.

Kibum merebahkan dirinya menindih Jarin. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Hanya terdengar tarikan napas tak teratur dan desahan kepuasan. Kibum memeluk erat Jarin, begitu pun sebaliknya.
Jarin memandang langit-langit dengan perasaan tak terlukiskan. Jadi beginilah rasanya? Tak sia-sia ia menunggu begitu lama karena semuanya terbayarkan oleh apa yang mereka lakukan pagi ini. Liar dan panas sekaligus lembut dan romantis. Ia memejamkan mata selama beberapa saat. Ia berjanji tidak akan melupakan momen ini.

Keheningan itu terpecahkan oleh dering ponsel yang menggema nyaring. “Sial,” desis Jarin. Ia tahu yang berbunyi adalah ponsel milik suaminya. Kibum pun menyadarinya. Maka dengan sedikit enggan ia bangkit dari posisinya lalu mengambil ponsel di atas nakas. Jarin meringis ketika Kibum pelan-pelan memutus kontak fisik mereka. Ia membiarkan suaminya itu mengangkat panggilannya, mungkin dari rumah sakit lagi. Dan memang benar.

Kibum duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di telinga, “Ada masalah, Sooyoung?”

Choi Sooyoung lagi, pikir Jarin. Memang tidak ada suster lain apa? Ia menatap punggung suaminya dengan penasaran. Apa yang sedang dibicarakan mereka? Akhirnya demi menjawab rasa penasarannya, ia bangkit perlahan untuk mendekat. Ia memeluk Kibum dari belakang lalu menyandarkan dagu di pundaknya. Kibum hanya tersenyum menyadari Jarin sedang mencoba mencuri dengar pembicaraannya di telepon dengan sengaja.
“Apa keadaannya seburuk itu?”
“Ne. Aku sudah melakukan apa yang dokter sarankan, tetapi sepertinya pasien ini memang harus ditangani secara khusus.”
“Bagaimana dengan meminta bantuan dokter lain?”
“Mereka terlalu sibuk. Banyak pasien yang akan menjalani operasi hari ini sehingga mereka tidak bisa memeriksanya.”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan ke sana sesegera mungkin.”

Apa? Jarin mengerjap.

Kibum menatap ponsel di tangannya setelah pembicaraan berakhir. Setelah menghela napas berat ia menoleh ke arah istrinya, “Mianhae, ada panggilan darurat dari rumah sakit. Hari ini terpaksa aku meninggalkanmu.” Ia sungguh menyesal karena rencananya pasti merusak acara bulan madu yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Ia memandang Jarin memelas berharap istrinya itu mengerti dan tidak marah.

Marah? Tentu saja Jarin merasakannya. Siapa yang tidak jengkel ketika saat-saat romantisnya terganggu. Tetapi sekarang bukan tempatnya Jarin untuk kesal, marah, atau merajuk. Sudah tugas seorang dokter untuk datang kapanpun pasien membutuhkannya. Semacam sumpah para dokter.
“Yeah, apa yang bisa kulakukan? Pergilah.” Jarin mengangkat bahu lalu tersenyum. Kibum mengerjap takjub melihat kemurahan hati istrinya. Ia memeluk Jarin sebagai bentuk terima kasih.
“Kau pengertian sekali, gomawo.” Ia memandang Jarin, “Aku akan menebus bulan madu kita, secepatnya.”
“Ne,” senyum lebar Jarin terbit. Membahas bulan madu selalu membuatnya antusias.
“Kalau begitu aku akan bersiap-siap.” Kibum bangkit dari tempat tidur dan melangkah santai ke kamar mandi.

“Aku juga.” Jarin memutuskan pergi ke kantor karena tidak ada gunanya ia diam di kamar hotel sementara suaminya bekerja. Lagipula kantornya hanya berjarak beberapa blok dari sini. Namun ketika ia bangkit, Jarin meringis merasakan ngilu di antara kakinya. Kibum mendengar hal itu. Ia menoleh dengan terkejut. Istrinya itu duduk di pinggir ranjang dengan tangan menyentuh kewanitaannya.
“Aigoo, bagaimana aku bisa lupa?” Kibum segera menghampiri istrinya. “Apa terasa sakit?” tanyanya cemas. Jarin menoleh lalu mengangguk, “Sedikit. Mungkin karena aku belum terbiasa.” Ia menoleh ke arah seprei mereka yang kusut masai. Di sana ada setitik noda darah. Jarin mendesah. Ternyata keperawanannya benar-benar sudah hilang.

Kibum segera beranjak dan tak lama kembali lagi dengan handuk dan semangkuk air hangat. Ia lalu berlutut di hadapan Jarin. “Buka pahamu, sayang.”

Permintaan itu dilakukan Jarin tanpa membantah. Ia membiarkan Kibum membersihkan sisa-sisa percintaan mereka di tubuhnya dengan hati-hati dan penuh cinta. Rasanya hangat namun sedikit merangsang. Tekanan-tekanan halus yang dilakukan Kibum di pusat tubuhnya membuat Jarin melenguh halus.
“Mungkin aku sedikit keterlaluan. Seharusnya aku sadar ini saat pertamamu.” Kibum menyesal. Jika ia menahan dirinya sedikit saja Jarin tidak perlu merasakan ini.
Jarin mengerjap, “Aniyeo. Tadi itu sangat luar biasa.” Ia tidak bisa menjelaskan alasan mengapa ia merintih saat ini. Ia tidak mau Kibum menahan diri. Sangat menyebalkan saat Kibum terus menahan diri sebelum mereka menikah dulu.
“Jinjja?” Kibum mendongak setelah selesai membersihkan Jarin.
“Ne. Luar biasa dan kau sangat hebat.” Ia mengalungkan tangannya di leher Kibum untuk berbisik tepat di sudut bibirnya, “Kau membuatku sangat puas.” ia memiringkan kepalanya, “Bagaimana dengan satu morning kiss?”

Kibum langsung tergelak. Sungguh, Jarin membuatnya sangat bahagia dengan segala keagresifan dan kepolosan kata-katanya. “Bagaimana dengan satu shower kiss?” balasnya membuat Jarin membelalak. Sebelum Jarin membalasnya Kibum sudah mengangkat Jarin dari ranjang dan membawanya dengan mudah menuju kamar mandi untuk melaksanakan niatnya.

—o0o—

Jarin sudah tiba di gedung kantornya dan berjalan dengan santai menuju ruang kerjanya. Ia merasa begitu bugar dan bahagia.
“Omo sajangnim, bukankah kau seharusnya berbulan madu?” seru Kangin kaget melihat Jarin memasuki ruangannya. Kangin adalah salah satu staff yang ditempatkan di bagian khusus direktur. Bisa dikatakan dia adalah tangan kanan Jarin.

Jarin tersenyum penuh arti, “Maaf mengecewakanmu, Kangin-ssi. Tetapi bulan maduku tertunda sampai minggu depan. Suamiku harus menangani pasiennya terlebih dahulu di rumah sakit.” ucapnya penuh kebanggaan.
“Ah, jinjja, ternyata sulit juga menikah dengan seorang dokter.” Gumam Kangin.
“Sudahlah, sekarang apa ada laporan yang harus kuperiksa?”
“Ne, sajangnim. Akan kuambilkan.”

Kangin segera meninggalkan ruangannya. Jarin berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan hiruk pikuk kota Seoul dari ketinggian. Belum mereka berpisah selama beberapa jam ia sudah merindukan Kibum. Apa yang dilakukan suaminya itu sekarang? Setelah percintaan singkat mereka yang luar biasa di kamar mandi tadi, Jarin merasa sangat berat membiarkan Kibum pergi ke rumah sakit. Namun itulah kenyataan. Ia harus menerimanya. Dengan malas akhirnya ia pun bersiap-siap pergi ke kantor. Mereka pergi sendiri-sendiri karena rumah sakit tempat Kibum bekerja berada di arah yang berlawanan.
Setelah ini aku harus menjadi istri yang baik. Tekad Jarin. Ia tidak boleh marah dengan Kibum yang lebih memprioritaskan pasiennya daripada dirinya. Semua dokter juga begitu.

Namun dua minggu berlalu, Kibum masih tetap sibuk juga. Mereka belum bercinta lagi sejak pagi itu di hotel. Jarin amat merindukannya dan ia tidak bisa mengeluh karena sudah berjanji. Maka ia menyibukkan dirinya di kantor agar tidak terlalu memikirkannya. Ia sudah memakai pakaian seseksi mungkin tetapi pada akhirnya mereka hanya tidur sambil berpelukan. Jadi apa yang dilakukan Kibum sekarang? Menahan diri atau bosan? Astaga, mereka baru saja menikah selama dua minggu.

Mungkin Kibum kelelahan saja. Dia selalu pulang di atas jam sebelas malam. Rumah sakit memang sedang sibuk karena mendapatkan banyak pasien yang menderita penyakit menular yang akhir-akhir ini menjangkit di sebagian distrik Kota Seoul. Tetapi bukan berarti Kibum mengabaikannya bukan? Maka malam itu Jarin memberanikan diri bertanya, di saat suaminya sedang beristirahat di ranjang.

“Chagi..” Jarin sudah duduk di sampingnya.
“Hmmm..” gumam Kibum. Matanya tetap fokus pada layar tabletnya. Ia sedang membaca beberapa artikel kesehatan dengan serius. Jarin sebal diabaikan.
“Kapan kita akan berbulan madu. Apa kesibukan di rumah sakit membuatmu melupakannya?”
“Bukankah kau yang sibuk?”
“Mwo?” Jarin mengerutkan keningnya. Ia terkejut bukan main mendengar kata-kata itu. Bagaimana bisa Kibum mengatainya sibuk? “Aku tidak sibuk.”

Kibum menghela napas lalu menoleh, “Kau sibuk akhir-akhir ini sayang, kau terlalu kelelahan. Kita bisa menunda waktu sampai kita berdua sama-sama memiliki waktu luang.” Kibum menyentuh pipinya, ia terlihat cemas, “Lihat wajahmu pucat, apa kau meminum suplemenmu dengan teratur?”
“Tidak, tunggu.” Jarin memegang tangan suaminya. “Aku sibuk? Bagaimana bisa kau menuduhku mengacaukan bulan madu kita? Sudah sangat jelas kau lebih sibuk dariku sehingga kita bahkan tidak bisa bermesraan.” Emosinya sudah tersulut. Kibum tega sekali menimpakan kesalahan itu padanya. Padahal jelas selama lebih dari seminggu ini dirinya yang didiamkan sementara pria itu sibuk dengan urusan rumah sakitnya.
Ekpresi terluka Jarin dan matanya yang berkaca-kaca membuat Kibum terhenyak. Ia meletakkan tabletnya di atas nakas lalu menatap istrinya itu penuh pengertian.
“Aku tidak menuduhmu, sayang. Itu memang kenyataan. Kau tidak menyadarinya?” Jarin langsung menggeleng. Toh ia memang tidak merasa melakukan apapun yang membuat Kibum tidak mengacuhkannya.

“Jadi harus kuingatkan?” ujar Kibum. “Kau ingat senin lalu ketika aku ingin mengajakmu tidur? Kau terus menerus sibuk memeriksa laporan bulananmu di ruang kerja. Setelah itu semalaman kau berkutat dengan laptop sampai aku harus memaksamu untuk tidur. Lalu beberapa hari setelahnya setiap menjelang tidur kau selalu berbicara dengan asistenmu untuk mengecek kesiapan proyek dan sebagainya. Kau yang kurang tidur dan kelelahan, bagaimana bisa aku tidak membiarkanmu beristirahat? Kau bisa sakit dan bulan madu kita akan benar-benar tertunda.”

Jarin terdiam. Ia teringat kembali pada segala hal yang Kibum sebutkan tadi. Memang benar adanya. Ia yang sibuk dengan pekerjaannya di kantor karena tenggat waktu peluncuran proyek barunya sudah hampir tiba sehingga ia bekerja mati-matian siang malam untuk memastikan segalanya berjalan lancar. Seperti yang dikatakan Kibum juga, ia membawa tugas kantornya ke rumah dan mengerjakannya hingga malam. Tetapi itu ia lakukan untuk menunggu Kibum pulang dari rumah sakit. ketika ia akan mengajak suaminya tidur, ponselnya berdering alhasil sehingga ia harus menjawabnya. Alhasil, ia hanya bisa tidur sambil memeluk suaminya.

“Benar.” lirih Jarin malu, “Memang aku yang mengacaukannya.” Ia menundukkan kepala. Malu sekali rasanya. Ia sudah menuduh Kibum yang membuat segalanya berantakan. Ternyata dirinyalah.
“Aigooo..” seru Jarin sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, “Kenapa sifat jelekku ini masih juga ada? Aku selalu menyalahkan orang lain tanpa menyadari bahwa itu kesalahanku.”

Sudah puluhan kali hal ini terjadi. Ia selalu marah, berteriak menyalahkan Kibum atau orang lain atas semua hal buruk yang terjadi padanya. Seperti ia menyalahkan Kyuhyun karena kakaknya itu kabur dari rumah sehingga dirinya yang harus menjadi penerus Ayahnya. Padahal memang sejak awal dirinya yang terus mengompori kakaknya agar meraih apa yang dia inginkan. Lalu ia juga pernah menyalahkan Key, mantan kekasihnya karena sudah membuatnya menderita. Tetapi jauh sebelum itu ia lebih sering membuat Key yang menderita. Dan kali ini, ia menyalahkan suaminya sendiri atas kacaunya bulan madu mereka. Namun pada kenyataannya dialah yang melakukannya.

Kibum mendengar Jarin mulai terisak. Ia sudah memahami Jarin sehingga ia tidak akan marah saat gadis itu menuduhnya yang tidak-tidak seperti sekarang. Ia menggeser duduknya agar bisa memeluk istrinya dengan lembut.
“Sudah, sudah.”
“Aku malu sekali padamu..”
“Kenapa harus malu pada suami sendiri?”
“Aku sudah menuduhmu lagi.”
“Aku sudah terbiasa mendapatkannya.”

Alhasil Jarin justru menangis kencang. Betapa pengertiannya Kibum. Pria itu memiliki hati dan pikiran yang tenang dan tidak pernah balas meneriakinya seperti mantan kekasihnya yang lain ketika dirinya meledak. Ya Tuhan, ia beruntung sekali mendapatkan pria sepertinya dan di saat yang bersamaan ia merasa sangat tidak pantas memiliki cinta pria itu. Ia gadis yang buruk, pemarah, dan berpikiran pendek.
“Terkadang aku merasa, kau tidak seharusnya menikahi gadis arogan sepertiku..” lirih Jarin.
“Yaa..” Kibum menyentil keningnya gemas, “Darimana datangnya pikiran itu?” ia memarahinya. Ia bisa memaklumi kata-kata menuduh Jarin kepadanya, tetapi ia tidak bisa menerima Jarin yang merasa tidak pantas bersamanya. Memang siapa yang sudah membuat hidupnya menjadi lebih indah? Jarin yang sudah mengenalkan cinta padanya sehingga hal itulah yang membuat Jarin memenuhi syarat untuk menjadi istrinya.
“Kita terlalu berbeda. Seperti air dan minyak.”
“Bukan, kita seperti Yin dan Yang. Kita memang berlawanan tetapi saling melengkapi. Bukankah hidup berumah tangga seharusnya begitu?”

Kata-kata Kibum selalu berhasil membungkam Jarin sekaligus membuatnya terharu. Jarin memeluknya. “Aku paham kenapa kita ditakdirkan bersama.”
“Oh ya?” Kibum lega karena Jarin sudah berhenti menangis. Ia memeluknya dengan mesra.
“Ya. Di saat aku marah, ada kau yang siap untuk menyejukkanku.”
Kibum tergelak, “Seperti air yang memadamkan api?”
“Tepat sekali.”

Mereka sama-sama tertawa dan Kibum teringat satu hal yang dilupakannya. “Tunggu sebentar,” ia menarik laci paling atas nakas dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Dengan bangga ia memberikannya pada Jarin. “Maaf, seharusnya aku memberikan ini pagi itu.”

Jarin membulatkan mata melihat dua tiket berlibur ke Swiss berada di tangannya, “Chagi ini..”
“Ya, itu tiket bulan madu kita. Aku sudah membelinya agar bisa mengajakmu berlibur ke Swiss. Di sana aku mempelajari berbagai macam ilmu kedokteran. Aku mendapatkan sertifikatku di sana dan aku ingin memperlihatkan betapa indahnya tempat itu pada istriku kelak.”
“Kau mengajakku berbulan madu ke sana? Jeongmal?” Jarin tidak bisa menahan kegembiraannya lagi. Ia langsung menghambur memeluk Kibum hingga pria itu terjungkal jatuh ke belakang.
“Kapan kita bisa pergi?” Jarin menatapnya senang.
“Tepat akhir pekan ini.”
“Kyaaa..kau yang terbaik.” Jarin melupakan kebahagiaannya dengan mencium bibir Kibum semesra yang bisa ia lakukan. Cepat pula suasana suka cita itu berubah menjadi lebih intim dan sensual. Kibum dengan sigap menggulingkan tubuhnya sehingga Jarin tertindih di bawahnya. Jarin memang agresif, berani dan tidak terduga. Tetapi tidak berarti dia bisa berkuasa di atas ranjang. Kibum selalu memegang kendali selama hal itu berkaitan dengan urusan hubungan intim.

Akhirnya, mereka berbulan madu lebih awal malam itu.

FIN

(Gaje yah? Semoga aja enggak dan sampai ketemu di part bulan madu nanti ^^)

206 thoughts on “Another Story In Shady Girl [Kibum’s Story] // Workaholic Couple

  1. Eonnie~ kapan nih part honey moon nya di publish😦 udah ga sabar nunggu, ff ini salah satu favorit ku jadi next part beneran ditunggu😦
    Oh iya kenapa ff promise di pw eon ? Bukannya mau dibuatin sequelnya lagi (edisi jaeyoung hamil) ? Atau mungkin mau di terbitkan eon ? Plis Eonnie responnya ff promise favorit banget juga😦

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s