I Hate You, But.. (Epilog)

Tittle : I Hate You, But Epilog
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

 

Main Cast :
Kim Soeun | Choi Siwon

Happy Reading ^_^

I Hate You But By Dha Khanzaki

====EPILOG====

Dua minggu kemudian, So Eun diizinkan kembali ke rumah setelah Dokter menyatakan keadaannya sudah prima seperti sedia kala. Alangkah gembiranya So Eun dan dia tidak sabar untuk melihat apartemen mereka kembali.

“Ah, aku merindukan tempat tidur nyamanku.” Seru So Eun ketika mereka dalam perjalanan pulang.

“Kau boleh tidur sesukamu.” Sahut Siwon. Sesuai janji, setelah kandungan So Eun menginjak delapan bulan ia mengambil cuti agar bisa menemani istrinya karena sekarang adalah masa-masa paling rentan bagi So Eun. Tidak lama lagi dia akan menjalani persalinan.
“Loh, kita akan kemana?”

Aneh sekali, So Eun jelas hafal jalan menuju apartemen mereka tetapi jalan yang sekarang sedang diambil Siwon jelas tidak mengarah ke sana.

“Kita akan kemana?”

Bukannya menjawab Siwon justru tersenyum misterius, “Kau akan tahu nanti.”

So Eun mengerutkan kening dan dia memilih diam sambil menebak-nebak akhir dari perjalanan ini.

Hal yang didapatkan So Eun selanjutnya adalah kejutan paling tidak disangka seumur hidupnya. Siapa yang mengira bahwa hari ini mereka akan pindah ke sebuah rumah mungil yang tidak jauh dari rumah ibunya sendiri. So Eun memandang suaminya dengan mata berkabut.

“Oppa, kapan kau menyiapkan ini..?” lirihnya menahan tangis. Ia tak henti-hentinya menatapi rumah sederhana yang kini dipijakinya.

“Aku tidak bisa membiarkanmu tetap tinggal di tempat yang penuh kenangan buruk itu dan aku memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru. Bagaimana? Apa kau suka?”

“Ini lebih dari yang kubayangkan.” Seru So Eun gembira. Ya. Rumah ini memang tidak mewah, tetapi ia sangat menyukai arsitekturnya yang minimalis dan sesuai untuk keluarga kecil. Segala perabotan terbuat dari kayu dan tampak tradisional. Bahkan So Eun menyukai lantai kayunya yang mengkilat dan dinding berwarna putih bersih. Ia lebih takjub ketika melihat kamar bercat hijau lengkap dengan tempat tidur bayi dan segala pernak-pernik bayi lainnya. Itu kamar calon anak mereka.

“Oppa,” So Eun akhirnya menangis melihat semua itu. Ia lantas memeluk Siwon. berkali-kali mengucapkan terima kasih pada suami tercintanya itu.

“Untukmu dan bayi kita, apapun akan kulakukan..” bisik Siwon, membalas pelukannya. Mereka tenggelam dalam suasana intim itu untuk beberapa saat, lalu tiba-tiba Siwon teringat sesuatu, “Ah, aku tidak sabar memperlihatkanmu kamar tidur utama, kajja.”

Siwon memperlihatkan kamar tidur berukuran lebih besar dari kamar bayi tadi, di dominasi oleh warna kuning, cokelat dan merah kental dengan nuansa klasik karena dindingnya dilapisi oleh wallpaper bercorak indah. Suasana sensual sangat terasa. So Eun merasa hatinya berdesir ketika ia melihat tempat tidur yang tampak nyaman. Bed covernya yang berwarna merah marun tampak paling mencolok. Mereka akan tidur di sana, aigoo. Mereka akan tidur di sana..

“Kenapa pipimu tiba-tiba memerah?” Siwon menahan senyumnya melihat pipi istrinya merona, entah apa yang dipikirkannya.

“Oppa..” So Eun malu-malu menoleh.

“Apa?”

“Em..” So Eun mengikis jarak di antara mereka, lalu dengan manja meletakkan tangannya yang tidak terluka di dada Siwon. Pria itu mengerjapkan mata ketika So Eun dengan sengaja menggodanya.

“Apa maumu sebenarnya, Nyonya Choi?” desahnya tergoda. Ia mendadak bergairah karena So Eun terus-menerus mengusapi dadanya.

So Eun sebenarnya malu, tetapi ia merasakan ledakan perasaan yang sama seperti Siwon. Dengan senyum misterius ia menarik kerah Siwon ke bawah agar pria itu membungkuk ke arahnya.

“Bagaimana kalau kita mencoba tidur di sana?”

“Hah?” Siwon melebarkan mata. Kata-kata itu membuat jantungnya bertalu cepat. Ia menatap istrinya penuh harap, “Kau serius? Anak kita..”

“Dokter mengatakan tidak apa-apa..” balasnya membuat napas Siwon semakin memburu. Sungguh, sudah lama mereka tidak bersenang-senang dan Siwon amat merindukannya. Ia mencoba menahan diri untuk tidak memaksa So Eun mengingat dia baru saja keluar dari rumah sakit tetapi siapa yang menyangka justru So Eun-lah yang mengajaknya lebih dulu. Tentu saja, ia dengan senang hati menyambutnya. Matanya langsung berkilat oleh gairah.

“Kau akan menyesal sudah memintaku,” desah Siwon lalu mengangkat tubuh So Eun dengan ringannya lalu membawanya ke tempat tidur nyaman mereka.

—o0o—

Kehidupan pernikahannya menjadi lebih bahagia saat menjelang detik-detik menanti kelahiran bayi mereka. Pagi itu, ketika So Eun sedang menyiapkan sarapan dan Siwon sedang berkonsentrasi membaca korannya, tiba-tiba saja So Eun merasakan kontraksi yang luar biasa. Siwon terperanjat bangun melihat istrinya merintih kesakitan sambil memegangi perut. Dengan panik ia menelepon ibu dan ibu mertuanya. Ia segera membawa So Eun ke rumah sakit karena ia yakin istrinya itu akan melahirkan.

“Aku takut sekali, Oppa..bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya..”
“Ssst..kau pasti bisa..Kau ibu yang kuat.”

Siwon terus memberikan dukungan untuk So Eun yang pucat, kelelahan, dan bersimbah keringat di ruang bersalin itu. Beberapa kali terjadi kontraksi tetapi sang bayi belum menunjukkan tanda-tanda ingin keluar juga. Tangannya sudah habis dicengkeram oleh So Eun untuk mengalihkan kesakitannya saat kontraksi terjadi. Ia cemas, bingung, dan tidak tahu harus melakuan apa demi menolong istrinya. Ia hanya bisa mengelus perut So Eun dengan lembut.

“Kau anak yang pintar, lekaslah lahir dan jangan buat ibumu kesakitan terlalu lama.”

Tepat setelah Siwon mengatakannya, So Eun kembali mencengkram erat tangannya sambil menjerit karena kontraksi kembali terjadi. Siwon bergetar, tidak tega melihat perjuangan So Eun melahirkan anak mereka. Dirasakan dari betapa erat pegangan So Eun, ia tidak sanggup membayangkan bagaimana sakitnya. Ia terus berdoa sambil tak henti-hentinya menyeka keringat di kening So Eun

Dan ketika penderitaan itu berakhir bersamaan dengan suara tangis bayi yang terdengar memenuhi ruangan, betapa leganya Siwon. Ia mendesah lega, segera mencium seluruh wajah istrinya.
“Kau berhasil melahirkannya, yeobo.. anak kita sudah lahir..” bisiknya. So Eun tersenyum dengan sorot mata bahagia.

“Selamat Tuan, bayi yang lahir laki-laki.”

Suster menyerahkan bayi yang sudah terselubung kain hangat pada mereka. So Eun menerimanya dengan mata berkaca-kaca dan mereka menangis terharu ketika melihat bayi itu menggeliat dalam timangannya.

“Dia tampan, sepertimu.” So Eun tidak tahu harus berkata apa, atau memakai kata apa untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Semua kesakitan yang ia rasakan beberapa saat yang lalu sepertinya sudah lenyap setelah melihat bayinya lahir dengan sempurna. Ia ingin menangis, sungguh, tetapi jika ia menangis ia tidak bisa melihat anaknya dengan jelas.

“Kau sudah melahirkan malaikat setampan ini, terima kasih yeobo..” Siwon menyentuh pipi anaknya yang langsung menggeliat merespon sentuhannya. Ia terkekeh bahagia.

Sekarang, mereka sudah resmi menjadi orang tua.

—o0o—

“Appa, bantu aku buatkan susu Dongwon,”
“Dimana kau letakkan botol susunya?”
“Di nakas samping lemari pendingin,”

Siwon bergegas membuat susu untuk putra kecilnya yang kini sudah berusia satu tahun. Padahal ia sedang asyik berselancar di alam mimpi tetapi melihat So Eun sibuk mengurus rumah sekaligus si kecil, terpaksa ia menunda acara tidurnya.

Semenjak Ayahnya pensiun dan menyerahkan urusan perusahaan padanya, Siwon tak pernah pulang kurang dari jam 8 malam. Ia sangat lelah, tetapi saat melihat istri dan anaknya ia tidak bisa mengeluh sama sekali. Ia menghabiskan sisa malamnya bermain bersama anaknya hingga putranya itu tertidur. Karena itu di hari Minggu seperti sekarang ia ingin sekali tidur lebih lama. Tetapi Siwon tidak keberatan tidur nyenyaknya terganggu selama itu berhubungan dengan istri dan anaknya.

“Yeobo, ini susunya.” Sambil menguap Siwon menyerahkan botol susu itu pada So Eun yang sudah selesai mengganti popok Dongwon. Keduanya sepakat memberi nama Dongwon untuk putra kecil mereka untuk mengingatkan mereka pada sang kakek.

Siwon duduk di samping istrinya, dengan gembira mengamati So Eun yang menimang-nimang Dongwon sambil bersenandung kecil.

“Kau boleh tidur lagi, maaf sudah membangunkanmu,” So Eun tersenyum setelah menidurkan Dongwon yang sudah kekenyangan di tempat tidurnya.
Siwon mengerucutkan bibir, “Bagaimana bisa aku tidur lagi setelah terjaga sepenuhnya seperti ini.” ia memeluk So Eun, bermanja-manja dengan kepala bersandar di pundaknya.

“Ah, semenjak menjadi seorang Appa kau semakin manja.”

“Habis, semenjak jadi Eomma cintamu untukku sudah tidak sama lagi.”

“Jinjja?” So Eun ingin sekali tertawa kencang mendengar nada merajuk dari suara Siwon. Yang benar saja, bagaimana bisa So Eun mengurangi cintanya pada orang yang sudah memberinya kebahagiaan sempurna seperti ini?

“Kukira kau tidak keberatan membagi cintaku dengan Dongwon.”

Siwon pura-pura marah, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. “Huh, kau membawa Dongwon lagi, aku mana bisa membantah.” Ia lalu tersenyum lebar.

“Cium aku setelah itu aku tidak akan menuntutmu apa-apa lagi.”

“Aigoo, dasar Appa manja!” So Eun merangkul tengkuk Siwon, menarik kepalanya turun agar bisa menautkan bibir mereka.

Begitulah setiap harinya. Cinta mereka tidak pernah berubah dan kehadiran Dongwon adalah penyempurna hidup pernikahan keduanya. Ia tidak tahu apa yang mungkin terjadi saat ini jika dahulu ia bersikukuh mencintai Eun Ji. Mungkinkah ia sebahagia sekarang? Entahlah.

Siwon menciumnya dalam dan lama-kelamaan semakin mendominasi. So Eun mulai kewalahan dan ia berniat menyudahi pagutan itu bersamaan dengan suara dering ponsel yang berbunyi nyaring. Siwon mengumpat pelan karena ia terpaksa melepaskan So Eun.

“Siapa yang mengganggu di hari libur seperti ini?!” sungutnya kesal.

“Diamlah, mungkin ini Eomma yang ingin menanyakan kabar Dongwon kita.” So Eun menjawabnya dengan sapaan ceria. Siwon mendengus.

“Oh, Donghae Oppa..” serunya membuat Siwon menoleh. “Apa? Eomma?” kening So Eun mengerut lalu sedetik kemudian ia tertawa kencang. Siwon hanya menatapnya penasaran.

“Astaga Oppa, Eomma benar. Kau memang harus segera menikah. Karena itu jangan mengeluh dan temui gadis itu. Siapa tahu dia memang jodohmu.”

“Kenapa?” serobot Siwon saat So Eun menyudahi obrolannya dengan Donghae. Dia menggeleng dan tawa itu masih tersisa di bibirnya.

“Donghae Oppa mengeluh dengan rencana Eomma. Dia bilang sudah malas menemui gadis-gadis yang coba Eomma jodohkan padanya.”

“Eommamu mengatur kencan buta untuknya lagi?” Siwon ikut menahan tawanya.

Akhir-akhir ini menjodohkan Donghae dengan gadis-gadis pilihannya menjadi hobi baru Eomma So Eun. Siwon kagum pada kesabaran Donghae menghadapi wanita-wanita itu. Ia mungkin sudah memilih kabur jika mendapatkan situasi seperti Donghae.

“Jadi, sekarang siapa calonnya?”

“Entahlah,” So Eun mengangkat bahu. Selama ini Donghae tidak pernah bercerita tentang gadis-gadis blind date itu. Padahal So Eun ingin sekali melihat pria itu bersama seorang gadis, mencintai seseorang lagi.

“Kupikir dia bisa saja berjodoh dengan Eunji. Mereka rutih bertemu sejak insiden itu bukan?” ujar Siwon. So Eun tidak mungkin melupakan Eunji. Gadis itu sudah menjadi lebih baik semenjak menjalani terapi. Tetapi gagasan tentang kedekatan Donghae dengan Eunji tidak membuatnya senang. Menurutnya, Donghae seharusnya mendapatkan gadis lain yang jauh lebih baik.

“Ya, aku hanya bisa mengharapkan yang terbaik untuknya.”

“Baik, berhenti basa-basinya. Lebih baik kita lanjutkan saja yang tadi.” Siwon menaik turunkan alisnya cepat. So Eun hanya memutar bola mata namun ia tidak protes sama sekali saat Siwon mendekapnya lalu menyatukan bibir mereka kembali.

.
.
.
.

.

.

Donghae sekali lagi melirik jam tangannya. Ia sadar gadis itu datang terlambat dari waktu yang dijanjikan. Kafe tempat mereka bertemu sudah mulai penuh dan entah berapa kali pelayan datang menawarinya makan tetapi Donghae hanya memesan makanan.

Ia menatap sekeliling lalu mendesah. Ia menyesal karena tidak melihat lebih dulu gadis yang akan menjadi teman kencan butanya hari ini sehingga dia tidak tahu gadis itu sudah datang atau belum. Jika lima menit lagi gadis itu tidak muncul, maka ia akan pergi.

Dalam hati Donghae memarahi dirinya sendiri karena bisa-bisanya menerima permintaan ibu So Eun yang ingin menjodohkannya. Donghae tidak keberatan hidup sendirian karena ia belum berminat untuk mencintai seseorang.

“Donghae-ssi?”

Donghae mendongakkan kepalanya dan mendesah lega karena akhirnya kencan butanya tiba juga. Ia ingin bergegas menyelesaikan acara konyol ini dan pulang mengunjungi keponakan lucunya. Tetapi wajahnya berubah tercengang ketika ia melihat siapa gadis yang berdiri di hadapannya itu.

“Kau..”

“Huh, lagi-lagi kau menunjukkan wajah itu setiap kali melihatku.” Yoo Hee duduk dengan tenangnya di kursi tepat di hadapan Donghae. Pria itu melongo, tak berkedip sama sekali menatapnya. Untuk sesaat Donghae berharap ia hanya kebetulan bertemu Yoo Hee di sini, tetapi harapannya itu musnah ketika gadis itu menjatuhkan diri di kursi yang seharusnya di tempati teman kencan butanya.

“Kau, tidak mungkin..”

“Apa? Kita memang akan berkencan hari ini.” sela Yoo Hee santai.
Donghae melemaskan bahunya menyadari ia terlalu tegang, “Aku tidak menyangka ternyata kau teman kencanku.” Desahnya dengan ekspesi tak terbaca. “Bagaimana bisa? Apa yang membuatmu memutuskan mengikuti acara konyol seperti ini?”

“Konyol?” Yoo Hee tertawa anggun, “Aku sengaja melakukannya.”

“Sengaja?” Donghae mengangkat sebelah alisnya bingung.

“Ne. Aku sengaja karena aku ingin sekali dekat denganmu dan aku tidak tahu bagaimana caranya. Jadi aku meminta bantuan Ibuku untuk mengatur acara kencan buta ini.”

Donghae masih tak bisa berkata-kata dan hanya memandangi Yoo Hee yang harap-harap cemas menanti reaksinya. Ia sebenarnya ingin marah, tetapi melihat betapa gigih usaha Yoo Hee untuk dekat dengannya, mau tidak mau Donghae tertawa.

“Baiklah, kali ini aku menyerah.” Ucapnya membuat gadis di depannya mengerjapkan mata bahagia.

Sepertinya seseorang telah berhasil diluluhkan hari ini.

FIN

114 thoughts on “I Hate You, But.. (Epilog)

  1. Wah, keren deh, Author yg kece (y)!
    .
    Lagi lagi, aku jatuh cinta sma ff, eonni🙂
    .
    Tp, donghae sma yoo hee nanggung amat, Eon. Si eun ji, sma siapa dong?! Nanggung amat crita.a, Eonni.
    .tp, tetap kece kok.
    Keep writing dn tetap lnjutn ff yg lainny y, Eon. Gomawo and HWAITING! (y) ^^

  2. Akhirnya Donghae sama Yoohee… cocok kok… Donghaenya acuh tak acuh… Yooheenya pantang menyerah.. yeay Happy Ending…
    kirain Dongwon itu dari nama Donghae dan Siwon… ternyata Itu nama kakeknya… jadi lupa.. hahah

  3. thor buat sequel tentang yoohee & donghae couple dong seru tuh kayanya, pingin tau entar akhirnya couple Ini bakalan gimana Wkwk😄 ini Aku request sih kabulin ya Thor ^^ Hehe maaf cerewet Thor

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s