I Hate You, But.. (Part 14-END)

Tittle : I Hate You, But Part 14 END
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life

 

Main Cast
Kim Soeun | Choi Siwon

Dha’s Speech :
Kalau ada istilah-istilah di part ini yang salah atau ngaco maafkan aku ya.

Happy Reading ^_^

I Hate You But By Dha Khanzaki

====Part 14 END====

Seusai menjalani operasi, So Eun dipindahkan ke ruangan rawat biasa. Meskipun dokter sudah mengatakan kondisinya baik-baik saja, Siwon tetap merasa cemas. Ia terus terkurung dalam kekhawatiran yang membuatnya sulit memejamkan mata, tidak berselera makan, dan tidak bergairah menjalani hidupnya.

Wajah pucat So Eun yang masih tertidur seperti putri menjadi penyebab utama mendung di wajah Siwon. Ia sudah beberapa kali bertanya pada dokter kapan istrinya itu siuman namun dokter tetap memberikan jawaban yang sama.

“Chagi,” Siwon memandang sendu istrinya. Menyentuh pipi So Eun dengan ujung jarinya, begitu hati-hati seolah itu adalah benda rapuh yang mudah retak. Ia tidak pernah beranjak dari tempatnya. Terus memantau keadaan So Eun berharap terjadi keajaiban. So Eun tersadar dan hilanglah segala kegelisahannya.

“Cepatlah sadar, aku sangat merindukanmu..” menyadari suara yang keluar dari tenggorokannya begitu serak, Siwon bersusah payah bertahan agar tidak menangis. Ia tidak kuat, ia tidak tega melihat So Eun seperti ini. Ia terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada So Eun. Jika ia tidak membiarkan So Eun sendirian di rumah, musibah ini tidak akan terjadi. Semua itu salahnya.

Siwon menundukkan kepala ketika rasa sakit menyengat hatinya, membuatnya tidak peduli pada hal lain termasuk siapapun yang masuk ke ruangannya.
“Kau harus istirahat, nak.” Ibu So Eun memandang menantunya iba. Sudah 12 jam Siwon berada di kursi itu, duduk sambil menggenggam tangan putrinya. Dia bahkan tidak mempedulikan penampilannya yang sudah berantakan.

Siwon menoleh, ia segera bangkit lalu membungkukkan badannya menyadari ibu mertuanya datang. “Selamat pagi,Eommanim.” Ia memaksakan seulas senyum hangat setelah terburu-buru menghapus airmatanya.

Wanita paruh baya itu tersenyum simpul. Ia tahu Siwon sangat menyayangi So Eun tetapi tidak berarti mengabaikan kondisi dirinya sendiri. Ia melihat lingkaran hitam di sekitar mata Siwon pertanda pria itu tidak mendapat tidur yang berkualitas.

“Kau bisa pulang dan tidur. Eomma akan menggantikanmu menjaga So Eun. Eomma berjanji akan segera mengabarimu begitu dia siuman.”

Siwon lekas menggeleng, “Aniyeo, aku akan tetap di sini. Meskipun aku memaksakan diri kembali, aku yakin aku tetap tidak bisa tidur.” ia sangat yakin, pikirannya yang terus tertuju pada istrinya membuat ia sulit tertidur tak peduli dimanapun ia berada.

Ia yakin tidak akan kelaparan ataupun mengantuk, tetapi perut yang keroncongan tidak bisa disembunyikan. Siwon tercengang ketika perutnya dengan sangat lancang berbunyi, membuatnya harus menahan malu saat Ibu mertuanya tertawa kecil.

“Cintamu pada So Eun tidak akan menyelamatkanmu dari perut kosong, nak. Aku tidak akan mengusirmu, tapi kau harus makan,” Ia menyodorkan kantong berisi makanan ketika Siwon hampir membantah. Kali ini Siwon tidak bisa beralasan lagi. Menunggu So Eun membuatnya lupa untuk mengisi perut. Ia lupa kapan terakhir kali ia menelan makanan.

“Apa kau sudah mengusut pelaku yang menikam So Eun?” pertanyaan Eomma membuat konsentrasi Siwon pada makanan teralih. Ibu mertuanya itu terlihat penasaran sekaligus cemas. Siwon menghentikan kegiatannya sejenak. Seketika itu juga ia teringat kata-kata Donghae di telepon tentang perkembangan kasus penikaman itu. Ia memang menyerahkan penanganan Eun Ji pada Donghae agar ia bisa fokus menjaga So Eun.

“Donghae sudah mengamankannya ke kantor polisi. Aku mendapat laporan darinya pagi tadi,”

“Benarkah? Lega sekali mendengarnya. Siapapun dia harus mendapatkan hukuman atas tindakannya. Dia hampir saja membuat So Eun dan bayinya meninggal.” Eomma menghela napas lega. Ia beralih menatap putrinya yang masih tertidur nyenyak. Lengannya yang terkena tikaman pisau sudah diperban. “Anak yang malang, kau terlalu baik sampai membiarkan penjahat itu masuk ke rumahmu.” Eomma menyentuh pipi So Eun dengan airmata menggenang. Bagaimana pun sebagai seorang ibu ia merasa sedih hal ini menimpa putrinya.

Siwon tak bisa banyak berkomentar selain menghela napasnya, penyesalan karena sudah lalai masih dirasakannya. Ia tidak mengatakan apapun soal Eun Ji, tetapi Polisi yang mengurus kasus ini telah menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya kemarin. Ia kembali mengembuskan napas berat jika teringat apa yang ayahnya katakan tentang Eun Ji, fakta yang membuatnya terkejut setengah mati.

*Flashback*

“Apa?”

Siwon tercengang menatap polisi yang didampingi seorang psikiater di depannya. Ia sudah meminta Donghae untuk membawa Eun Ji ke kantor polisi. Setelah diperiksa secara teliti terkuaklah fakta yang mengejutkan.

“Eun Ji seorang penderita Skizofrenia?” serunya tercengang pada polisi yang baru saja menjelaskan kasus percobaan pembunuhan istrinya. Ia mengalihkan pandangannya pada Donghae yang menghela napas lalu mengangguk. Siwon memandang pria berjas resmi yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai dokter spesialis penyakit kejiwaan. Memahami maksud wajah-menuntut-penjelasan Siwon, ia menjelaskan.

“Skizofrenia adalah semacam gangguan kejiwaan yang mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal pikiran, perasaan juga tingkah laku. Pada umumnya para penderitanya memiliki ciri-ciri seperti hilangnya perasaan afektif atau respons emosional, sering kali diikuti dengan delusi atau keyakinan yang salah dan halusinasi.”

“Tapi Eun Ji terlihat seperti gadis normal pada umumnya.” Bantah Siwon, ia tidak percaya Eun Ji yang tampak sempurna ternyata menyembunyikan penyakit mengerikan seperti itu.

“Pada beberapa kasus penderita bisa saja bertingkah normal. Penyakit itu akan kembali ketika rasa marah akan sesuatu begitu meluap dan tertahan. Biasanya penderita akan meledakkan emosinya dengan melakukan sesuatu yang tidak disadari seperti melempar barang, atau bisa saja membunuh. Halusinasi terjadi ketika penderita mencoba melawan emosi negatifnya sehingga terjadi pertentangan dalam dirinya sendiri.”

“Apa anda bermaksud mengatakan penikaman terhadap istri saya terjadi karena Eun Ji berhalusinasi?” ujar Siwon tak percaya. Kedua orang di depannya mengangguk.

“Kami masih harus menyelidiki kasus ini lebih jauh sebelum memutuskan untuk menahan pelaku atau mengirimnya ke panti rehabilitasi.” Polisi lalu undur diri setelah menjelaskan segalanya.

Siwon mengurut keningnya sendiri. setelah mendengar penjelasan polisi bukannya lega ia justru semakin frustasi. Ia ingin sekali menuntut Eun Ji, ia marah pada gadis itu dan membencinya setengah mati karena hampir saja membunuh So Eun. Tetapi setelah mendengar semua ini ia justru merasa kasihan.

“Eun Ji berkata padaku bahwa ia sudah tidak kuat dengan dirinya sendiri dan ingin sekali pergi dari apartemen, namun entah kenapa tiba-tiba saja ia hilang kendali dan ketika tersadar, So Eun sudah tergeletak di depannya dan tangannya menggenggam pisau.” Donghae berkata. Ia mendengarkan Eun Ji yang mencoba menjelaskan dengan suara gemetar saat di kantor polisi tadi.

Donghae memejamkan mata sejenak, ikut merasa bertanggung jawab atas kejadian ini. JIka saja ia menyadari lebih cepat, ia mungkin bisa mencegah Eun Ji melakukannya setelah ia melihat gadis itu menangis frustasi tempo hari.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” desah Siwon. “Apa kita tetap menuntutnya?”

Donghae menepuk pundak Siwon, “Jika kau merasa keberatan karena dia sudah menikam So Eun, kau boleh menuntutnya. Tetapi kusarankan kau agar tidak memperkarakan ini ke pengadilan. Aku tidak bermaksud membela Eun Ji. Tetapi dia lebih membutuhkan terapi dibandingkan kurungan penjara.” Donghae segera melanjutkan ketika Siwon membelalakkan mata padanya, “Lagipula bukankah So Eun baik-baik saja?”

Siwon membuka mulut ingin mengeluarkan amarahnya bahwa Eun Ji lebih dari pantas untuk dipenjara. Namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar karena akal sehatnya menyetujui pendapat Donghae. Akhirnya ia hanya mengerang dan meninju tembok di sampingnya.

Eun Ji bersalah, tentu saja ia harus membuat perhitungan dengan gadis itu. Tetapi Siwon merasakan ganjalan di hati yang membuatnya menolak gagasan itu. Eunji melakukannya karena jiwanya terganggu. Apakah ia harus mengikuti saran Donghae? Lagipula pria itu benar. Yang terpenting So Eun baik-baik saja sekarang. Ia harus memprioritaskan keselamatan So Eun.

Teringat So Eun, seketika itu juga emosi lenyap di hati Siwon. Ia menghembuskan napas keras lalu mengangguk.

“Jika itu memang yang terbaik, aku ikuti saranmu.”

Donghae mengangguk lalu berbicara dengan polisi dan psikiater itu. Kemudian beranjak pergi untuk mengurusnya.

“Sudah kuduga ini akan terjadi!” ujar Ayahnya dingin. Siwon mengangkat wajah, terkejut atas ucapan tiba-tiba pria paruh baya itu, “karena itu kusuruh kau menjauh darinya! Dia tidak lebih dari seorang psikopat gila yang berpura-pura menjadi gadis normal!”

“Apa maksudmu, Appa?” Siwon membelalakkan mata kaget.

Rahang Ayahnya tampak mengeras, “Inilah alasan kenapa aku menyuruhmu tidak menjalin hubungan dengan gadis itu. Mentalnya terganggu karena trauma di masa kecilnya. Dia seringkali kehilangan diri jika ia sudah terlalu marah ataupun sedih. Kau tidak pernah bertanya kenapa Eun Ji tidak pernah menceritakan tentang ibunya?”

Siwon lantas menggeleng, seingatnya Eun Ji memang tidak pernah menceritakan apapun mengenai ibunya. Malah Siwon tidak pernah mendengar Eun Ji bercerita tentang keluarganya. Namun detik berikutnya ia mengerjap, ia tercengang memandang ayahnya, “Jangan katakan,” kalimatnya menggantung. Ayahnya mengangguk dengan berat hati.

“Dia yang membunuh ibunya sendiri.”

Wajah Siwon memucat.

“Saat itu dia bersumpah tidak tahu dan hanya ingat bahwa dirinya dihipnotis oleh suara-suara mengerikan yang terus terdengar sebelum dia kehilangan diri dan menghabisi nyawa ibunya sendiri.”

Siwon melebarkan matanya dengan mulut terkatup rapat. Tak pernah ia sangka Eun Ji yang terlihat begitu normal, cantik dan pintar memiliki sisi gelap seperti itu. Ia jadi ingat cerita Jeyoung—Istri Kyuhyun—tentang Eun Ji. Gadis itu mendadak berubah baik setelah terjebak kasus misterius dan menghilang. Mungkinkah saat itu Eun Ji sedang dalam masa pemulihan di tangan psikiater? Sekarang cerita itu membuatnya masuk akal. Astaga, ia bahkan mengabaikan hal itu sama sekali. Ia kebali jatuh terduduk di kursi panjang.

“Bagaimana Appa tahu semua ini?” lirihnya, menatap Ayahnya putus asa.

“Dan kenapa Appa tidak menceritakannya dengan jujur padaku? Jika sejak awal aku tahu, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Oh Tuhan..” Siwon meremas rambutnya.

Semua kenyataan ini membuatnya limbung. Siwon bangkit lalu memandang ke arah dalam, di mana istrinya berbaring dengan seperangkat alat medis tertempel di tubuhnya. Hatinya terasa sesak. So Eun, jika kau ada bersamaku kau pasti akan memberiku saran yang tak akan membuatku bingung. Kau harus bangun, sayang.

*Flashback End*

—o0o—

Satu gerakan kecil membuat Siwon terjaga pagi itu. Semalaman tangannya tidak lepas menggenggam tangan istrinya dan ketika ia merasakan tangan itu bergerak, ia langsung terjaga.

“Yeobo..” desahnya penuh harap sambil menatap lekat-lekat wajah pucat So Eun. Perasaan gembira segera meledak di benaknya ketika kelopak mata itu perlahan membuka dan menampilkan sepasang iris mata hitam yang dirindukannya.

Betapa bahagianya Siwon saat itu. Hilang sudah kantuknya karena perasaan lega yang melingkupi hatinya menyadari So Eun baik-baik saja.

SO EUN POV

Aku masih mencoba menyesuaikan penglihatanku yang terganggu oleh cahaya putih menyilaukan yang membuat mataku pedih. Untuk sesaat aku bertanya-tanya tempatku berada saat ini. Tetapi ketika mendengar suara deru mesin dan melihat selang infus tertempel di tanganku, aku sadar kini aku berada di rumah sakit.

“Yeobo..”

Aku menoleh ke samping dan langsung bertemu pandang dengan seraut wajah tampan milik suamiku. Tanpa kusadari bibir ini tertarik membentuk senyuman samar. Wajah itu, aku mengucapkan seribu syukur dalam hati karena masih bisa melihatnya.

Ingatanku melayang kembali pada detik-detik ketika sebilah pisau mendadak bersarang di lenganku dan darah merembes keluar di sela rekahan luka yang terasa menyakitkan. Saat itu aku takut sekali, takut ajal akan datang menjemput dan aku tidak akan bisa bertemu dengan Siwon kembali. Namun sekarang semua itu tinggal kenangan karena kenyataannya aku masih bernapas dan suamiku nyata ada di depanku, tersenyum dengan raut yang membuatku merasa dicintai.

“O-Oppa..” Aku mengeryitkan kening karena suara yang keluar dari tenggorokanku begitu kecil dan serak. Astaga, sudah berapa lama aku berbaring di sini sehingga berbicara saja aku kesulitan?

“Jangan banyak bicara dulu, sayang. Aku akan memanggilkan dokter.” Siwon menekan tombol merah di samping ranjang. Ia terlihat gembira dan lapang. Mataku mulai mengabur saat Siwon menatapku lekat. Ia membalas senyumku lalu membungkukkan badan untuk mengecup keningku penuh kasih sayang.

“Kau tidak tahu betapa aku ketakutan melihatmu terus tertidur seperti bayi, sayang. Aku takut kau akan pergi bersama bayi kita. Demi apapun, jangan pernah melakukan hal ini padaku lagi..” Siwon memohon padanya dengan suara bergetar. Kata-kata itu membuat mataku memanas dan setitik airmata haru menetes di sudut mata. Siwon mencintaiku, dia tidak mau kehilanganku dan betapa aku ingin berkata bahwa aku mencintainya tetapi tersendat karena Siwon mengecup bibirku.

Kehangatan menjalar di setiap urat nadiku, termasuk syaraf-syaraf tanganku yang mati rasa karena luka.

“Bayi..” Aku terkesiap. Dengan panik aku memalingkan pandangan pada perutku yang masih membuncit. Kedua tanganku memeluknya posesif, ingin memastikan tidak ada yang terjadi pada anakku.

“Dia baik-baik saja,” kalimat itu langsung membuatku mendesah lega. Syukurlah, karena jika terjadi sesuatu entah apa yang bisa kulakukan untuk melukai diriku sendiri.

Siwon menyadari ketakutan di wajahku, “Semua ini salahku. Seandainya aku menjagamu..” ucapnya lalu menempelkan punggung tanganku ke pipinya. Matanya menatapmu dengan sorot penuh permintaan maaf. Aku terenyuh sekaligus tidak tega melihatnya.

“Aku tidak menyalahkanmu,” kuharap kata-kataku bisa melenyapkan raut sedih itu. Tak ada setitikpun keinginanku menyalahkannya. Aku menganggap kejadian ini sebagai cobaan untukku.

Detik berikutnya Siwon merengkuhku, meski tidak menyakitiku namun dekapannya terasa erat dan nyaman. Aku mendesah lega, rasanya sudah lama aku tidak merasakan pelukan hangat seperti ini. Sebelah tanganku terangkat merengkuh kepalanya yang ia sandarkan di bahuku. Aku menoleh agar bisa mendekatkan bibirku dengan telinganya untuk membisikkan perasaanku saat ini.

“Saranghae.”

Meskipun aku tidak bisa melihatnya, tetapi bisa kurasakan Siwon tersenyum.

“Nado,” satu kecupan indah kurasakan menyapa tengkukku.

—o0o—

Keesokan harinya kondisiku semakin membaik. Bahkan aku diizinkan untuk keluar dari ruangan pengap itu meskipun harus tertatih-tatih. Tanganku yang terluka masih sulit digerakkan. Siwon tidak pernah meninggalkanku dan hanya pergi untuk makan saja. Itupun setelah kubujuk. Dia baru pergi makan setelah Eomma datang menggantikannya menjagaku.

“Bagaimana kabar Park Eunji?” aku mendongakkan kepalaku ke arah suamiku yang berdiri di belakang kursi roda, tempatku duduk saat ini. Kami berada di taman rumah sakit. Aku membutuhkan udara segar, bosan dengan bau obat dan alkohol yang terus kuhirup sejak aku siuman.

“Kau tak perlu mencemaskan hal itu,” Siwon mengecup puncak kepalaku. “Donghae sudah mengurusnya untuk kita.”

“Apa dia akan dihukum?” tanyaku ragu-ragu. Aku tidak tahu bagaimana tanggapan Siwon tentang hal ini dan tidak pernah berani menanyakannya. Tetapi aku harus tahu. Aku ingin tahu bagaimana nasib Eunji setelah tindakan kejam yang dilakukannya padaku.

Tepat dugaanku, Siwon tidak langsung menjawab. Dia hanya terdiam dengan bibir mengatup rapat. Aku berdoa dalam hati semoga dia tidak berusaha menyembunyikan apapun dariku.

“Dia akan mendapatkan hukuman atas tindakannya.”

Apa? Aku menahan napas terkejut. Bukankah seharusnya aku gembira karena Eunji akhirnya diadili, tetapi kenapa hatiku rasanya kosong? Aku tidak merasa lega, bahagia, ataupun puas. Siwon berlutut di samping kursi roda, menatapku dengan sorot mata sendu seolah ingin meminta pengertianku.
“Apa kau membencinya karena kejadian ini?”

Pertanyaan itu membuatku mengerjapkan mata. Sejujurnya, aku memang kecewa pada Eun Ji. Aku sudah menganggapnya teman, tetapi siapa yang menyangka ternyata di matanya aku tidak pernah bisa menjadi seorang teman. Aku meremas tanganku sebelum menjawab.

“Sejujurnya, aku justru merasa sedih.” Aku mengakuinya dan Siwon terkejut.
“Apa?”
“Eunji adalah gadis yang baik. Menurutku sikapnya selama ini muncul karena dia merasa kesepian. Bahkan sebelum dia menyerangku, dia tampak begitu akrab, ceria, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan kesedihan di matanya. Aku, merasa kasihan.” Aku menatap Siwon yang tercengang memandangku, “Aku sempat marah padanya. Tetapi, aku selalu siap memaafkannya.”

Siwon belum mengedipkan matanya, melongo dan aku mulai cemas. Apakah aku sudah mengatakan hal yang salah? Normal bagi korban sepertiku marah pada pelaku yang mencoba membunuhku. Mungkin seharusnya aku memang marah dan membenci Eunji.

Tak kusangka Siwon memelukku dengan erat. Berkali-kali aku merasakan dia menghela napas lega. “So Eun-ku memang gadis berhati mulia, terima kasih Tuhan.” Dia mencium pipiku lalu kembali berlutut, “Kupikir kau akan membencinya, atau menyuruhku untuk memenjarakan Eunji seumur hidup. Aku sangat lega ternyata kau mau memaafkannya.”

Siwon menceritakan kisah yang cukup mengejutkanku. Tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Eunji dan yang lebih membuatku menganga adalah kenyataan bahwa Eunji menderita penyakit Skizofrenia. Tak kusangka, Eunji terlihat normal. Dia anggun, cantik, dan pintar.

“Atas persetujuan Ayahnya, Eunji dikirim ke panti rehabilitasi di luar kota. Dia akan menjalani terapi di sana selama satu tahun.”

Aku menutup mulutku, masih tidak bisa mempercayainya, “Bagaimana kondisinya saat ini?”

“Dia terus merasa ketakutan dan paranoid setiap kali bertemu orang. Dokter yang pernah menanganinya di Prancis dahulu sengaja di datangkan kemari untuk merawat Eunji.”

“Eunji yang malang,” lirihku kasihan. Setelah mendengar seluruh cerita tentang gadis itu, aku tidak bisa marah lagi. Aku hanya bertanya-tanya apa yang membuat Eunji menderita penyakit semengerikan itu. Aku menatap sedih suamiku.

“Kau tidak perlu mencemaskannya karena Eunji sudah ditangani oleh orang yang tepat.” Siwon mencubit pipiku gemas. Ia bangkit, berjalan ke belakangku bersiap mendorong kursi rodaku. “Sekarang ayo kita kembali. Eomma pasti sedang mencari kita.”

—o0o—

AUTHOR POV

So Eun menjalani terapi hari-hari berikutnya untuk memastikan tangannya bisa berfungsi normal seperti sedia kala. Meskipun keadaannya sudah jauh lebih baik, tetapi Siwon belum mengizinkannya pulang.
“Aku rindu rumah.”
“Tidak, kau masih harus dirawat.”
“Tapi aku bosan di sini.”
“Bukankah ada aku?”

“Aigoo, inikah cara kalian menyambutku? Dengan bertengkar dan tidak mempedulikan sama sekali siapa yang datang membesuk.”

Sejenak suami-istri itu berhenti berdebat dan menoleh serempak ke arah Donghae yang berjalan masuk dengan seikat bunga dan sekeranjang buah di tangannya.

“Donghae Oppa!” So Eun mengerjap senang melihat kakaknya setelah hampir satu minggu Donghae tidak muncul. Sebenarnya semenjak dia siuman baru kali ini ia melihat Donghae datang menjenguknya.

“Tak perlu berdiri, biar aku yang datang.” Donghae mencegah So Eun bangkit dari tempat tidurnya. Ia mendekat lalu memeluk So Eun selayaknya kakak yang merindukan adiknya.

“Hei,” Siwon bersedekap tidak suka. Ia tahu mereka memang kakak-adik. Tetapi dia tetap tidak suka melihat keduanya saling berpelukan seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.

“Senang melihatmu kembali sehat,” bisik Donghae lalu melepas pelukannya. Ia mengamati So Eun baik-baik lalu tersenyum puas melihat keadaannya yang jauh lebih baik dari bayangannya.

“Kemana saja? Aku hampir menangis karena berpikir kakakku sendiri melupakan adiknya yang dirawat di rumah sakit.” keluh So Eun. Donghae tertawa.

“Aku sibuk mengurus perusahaan, tentu saja. Selain itu aku juga harus bolak-balik ke kantor polisi untuk menyelesaikan kasusmu.”

“Jinjja?” So Eun melebarkan mata. Ia menoleh pada Siwon sejenak sebelum bertanya kembali, “Bagaimana perkembangannya?”

Donghae diam sejenak, membuat So Eun tidak nyaman di tempatnya karena gelisah, namun beberapa saat kemudian ia tersenyum menenangkan,

“Setelah kedua belah pihak sepakat untuk menutup kasus ini, Eunji harus menjalani terapinya. Kau tenang saja, keadaannya sudah semakin membaik meskipun terkadang dia mengalami serangan. Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Kau sebaiknya mencemaskan kondisimu sendiri. Hmm, bagaimana tanganmu?”

“Sudah bisa digerakkan meskipun masih sedikit kaku,” So Eun mencoba menggerakkan tangannya yang diperban tetapi harus meringis karena syaraf-syaraf yang kaku dan terasa sakit.

“Syukurlah.” Donghae mengacak poninya. “Dan bagaimana keadaan keponakanku di dalam sana? Kurasa dia sudah tidak sabar ingin melihat dunia ini.”

Senyum indah seketika merekah di wajah So Eun. Dia dan Siwon tersenyum lebar dan menatap perut So Eun yang besar dengan bahagia.

“Dia tumbuh dengan sehat. Aku yakin yang paling tidak sabar di sini adalah aku,”

“Ya, tentu saja.” sahut Siwon lalu mereka bertiga tertawa.

~~~

93 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 14-END)

  1. akhirnya…
    oh ternyata eunji sakit toh.moga cepet sembuh dah…kasihan.
    happy end story…
    nice….
    jjjjiiianggggg….jianggggggg

  2. aaahh…. ending yg soft bgt.. like it so much !..
    gumowo Eonii..🙂..
    IMTBB n dangereous boy ny dtunggu sangat publish ny.. hehe🙂

  3. kyaa so eun eonni memang yang paling baik. suka eon. wonnie oppa sudah sangat mencintai istrinya eoh ?
    so sweet bgt..
    eonni keep writing fighting

  4. wah udah end ternyata ceritanya,,, walaupun masih belum tau siapa yang bakalan jadi pasangannya donghae.

    Tapi tetap keren buat ceritanya ini mulai dari awal sampai akhir……🙂

    Buatin lagi ya yang castnya so eun dan member suju😉

  5. wah daebak. syukur deh so eun baik2 aja.
    untung aja eun ji di terapi. nggak bisa bayangin kalo sampe dia masuk penjara.
    daebak eon KEEP WRITING..!!!! FIGHTING…..!!!!^^

  6. endingnya krng seru dan kependekan semoga sequelnya soeun udah melahirkan,dan donghae punya pasangan kasihan klu sendirian!!!hahaha….:-)

  7. kasian juga sama eunji pasti tersiksa
    wah suka sama hub dong hae sama so eun walaupun dulunya sepasang kekasih sekarang mereka bisa baik” saja menjadi sepasang adik kakak ^^

  8. untung soo eun nya ndx papa,kalau diknpa2 ndx tau wonpa masih baik2 saja pa ndx*eeh!
    akhir yg manis….:)*pengen punya suami kyk woonpa:)

    #maaf ea di capt2 yg lalu ndx komt..:)

  9. akhirnya udh end aja ni fanfic
    syukurlah happy ending

    smoga eunji cpt smbuh n semua bahagia

    thor boleh request gg??
    bkinin story.nya donghae oppa ma yoo hee dong , cz d sni part.nya hmpir gg da n q pnsaran
    khamsamnida

    author , kmu luar biasa🙂😀

  10. hihihi akhirnya semua nya udah terungkap dan kasus eunji di tutup semua nya merasakan bahagia.. tapi 1 donghae belum bahagia.. thor siapa cinta nya donghae *penasaran nih* dan kapan aegi nya lahir??

  11. Akhirnya selesai jugaa~~ Buat story afternya dong tp yg donghae sama eunji nya thor hehe:D btw mau kasih saran thor,kalo mau buat ff yg genrenya nyesek,lebih bagus kalo nyeseknya sampe menjelang episode terakhir,pas di episode mau terakhir baru romance..pasti rame tuh thor!! Semangat terus thor!!Selesaiin ff yg belum selesai ya thor hehe;)

  12. HI, I am from Philippines and I am glad that I found this site. I have been a fan of So Eun and Si Won pairing and there are only few fanfictions about them. I’m so happy and very lucky to discover this and read your story. Even though I can only understand it by translating it through Google, I was still enjoying it until the last chapter. This is such a good story. Thank you so much and I hope you’ll write more about So Eun and Si Won couple. ^^V

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s