Because WGM, You’ll Be Mine !! (Part 11)

Tittle : Because WGM, You’ll Be Mine Part 11
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Follow me : @julianingati23

 

Main Cast :
Shin Jeyoung | Cho Kyuhyun

 

Dha’s Speech :
Sorry for typo. Happy Reading ^_^

 

Because WGM You'll Be Mine !! By Dha Khanzaki

====PART 11====

WAJAH Lee Sooman tidak pernah sepucat ini seumur hidupnya dan dia tidak pernah kehilangan kata-kata meskipun berhadapan dengan lawan sebuas singa. Tetapi sekarang, di hadapan Jeremy Shin ia tidak bisa berkutik, bergerak, ataupun membantah. Dia ingin membuat perusahaan yang sudah kubangun dengan hasil jerih payahku ini bangkrut? Enak saja! Marah nya dalam hati. Namun tak ada satu kata pun yang berhasil keluar. Ia membeku di tempat duduknya.

“Aku tetap tidak bisa melakukannya, Tuan Shin.” Akhirnya dia berhasil membuka mulutnya. Jeremy Shin menajamkan tatapannya membuat Lee Sooman menegang. “Karir artisku juga dipertaruhkan di sini. Bagaimana jika skandal ini membuat Kyuhyun dan grupnya dibenci masyarakat? Karir mereka akan hancur.”

“Kau tidak memikirkan karir mereka, tapi karirmu.” Bantah Jeremy Shin cepat dan telak. Lee Sooman menelan ludahnya. Sial, pria ini pintar sekali berdebat.

“Lagipula kami memiliki peraturan, selama artis-artis kami terikat kontrak dengan agensi ini, mereka dilarang menjalin hubungan asmara.”

“Dilarang bukan berarti tidak ada.” Jeremy Shin kembali menyanggah dengan telak, “Aku yakin kau pun tahu bahwa ada di antara artismu yang mulai menjalin hubungan. Bahkan dengan sesama artis. Lalu bagaimana dengan putriku? Dia bukanlah artis dan kurasa tidak masalah seandainya mereka memang menjalin hubungan.”

“Apa?” Lee Sooman melonjak. “Anda tidak keberatan mereka berkencan?” matanya terbelalak.

“Tidak ada alasan bagiku menghalangi kebahagiaan putriku sendiri.” Jeremy Shin terdiam sejenak, “Untuk melihat putriku tersenyum, aku rela melakukan apapun. Termasuk membuat agensimu gulung tikar.” Ekspresi dinginnyalah yang membuat Lee Sooman terhenyak dan ia tahu pria di hadapannya itu tidak main-main. Bagaimana ini? Ia kebingungan setengah mati.

“Kau tahu,” ucapan Jeremy Shin menginterupsi lamunan Sooman, “Mereka saling mencintai. Orang bodoh pun tahu hal itu.”

Lee Sooman terdiam, matanya terbelalak. Didesak seperti ini membuatnya kelimpungan dan pusing. Jeremy Shin masih ada di sana menunggu jawabannya. Rupanya dia tidak memberikan kesempatan berpikir untuknya. Sial, sial, sial, apa yang harus ia putuskan? Jika ia membatalkan konferensi pers itu, nilai saham SM akan semakin menurun. Tetapi jika tidak, pria di depannya ini akan menghancurkan bisnisnya. Bagaimana ini? Dia terjepit.

“Tidak.” Berada di bawah tekanan membuat Sooman mengatakan jawaban yang tidak diinginkan Jeremy Shin. “Aku tidak akan membatalkannya. Aku yakin agensiku tidak akan bangkrut karena kami memiliki banyak artis yang akan menaikkan pendapatan kami.”

“Begitu, aku mengerti,” Jeremy Shin mengangguk. Pria itu menghela napas lalu bangkit. Lee Sooman menghela napas lega untuk beberapa saat. Tetapi napasnya kembali tercekat ketika Jeremy Shin menoleh padanya lalu berkata dengan nada rendah dan mengancam. “Diskusi kita selanjutnya akan dilakukan oleh pengacaraku.”

Lee Sooman terperanjat, “Apa maksud Anda?”

“Kau tidak ingin membatalkan konferensi itu, maka bersiaplah menghadapi tuntutanku. Bukankah sudah kukatakan, membuat agensimu bangkrut bukanlah perkara yang sulit bagiku.”

—-o0o—-

JEYOUNG POV

“Jadi, Lee Sooman memintamu melakukannya? Keparat itu!!” Jihoon Oppa meremas kaleng soda yang digenggamnya lalu melemparnya ke dinding. Pertama kalinya mendengar Jihoon Oppa mengutuk, aku terkejut. Meskipun begitu aku berterima kasih karena dia mewakiliku memaki pria jahat itu. Aku menunduk di kursiku. Menatap piring makananku yang sudah habis. Ibuku pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

“Lalu apa jawabanmu?”

“Eh?” aku terhenyak. “Jawabanku? Aku tidak tahu.”

“Apa?”

“Aku bimbang, entah keputusan apa yang seharusnya kuambil. Jika aku setuju, maka harga diriku dan keluarga ini yang harus dikorbankan. Jika aku memilih tidak, karir Kyuhyun akan hancur.” Sejujurnya itulah yang kucemaskan, karir Kyuhyun. Pria itu sudah susah payah untuk mencapai posisinya sekarang dan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika mimpinya harus terhenti karena diriku.

Dengusan Jihoon Oppa kembali terdengar, “Kenapa kau harus mengorbankan diri demi laki-laki itu? Aku tidak mengerti sama sekali, Jeyoung. Dia tak lebih dari sekedar idola dan partner di variety show tak bermutu itu.” Ucapnya sarkastis. Jihoon Oppa sangat membenci fakta aku mengikuti WGM, dia tidak pernah menyukai acara murahan dan tidak mendidik—menurutnya—semacam itu.

Aku tidak tersinggung mendengarnya mengejek acara WGM namun aku tidak suka mendengar Jihoon Oppa menyebut Kyuhyun hanya idolaku. Oh, andaikan dia tahu. Ekspresiku berubah sendu.

Jihoon Oppa melebarkan mata, aku tahu dia menyadari ekspresiku. “Jeyoung, kau..”

Entah kenapa airmataku mengalir begitu saja. Hatiku sakit setiap kali mengingat perasaanku yang tidak akan pernah terbalas. Kenapa aku harus jatuh cinta pada Kyuhyun? Dia bintang yang sangat sulit kujangkau dengan kedua tangan ini. “Aku tahu aku bodoh, tetapi..aku mencintainya..” aku mencoba menghentikan tangisanku tetapi yang terjadi justru semakin parah. Jihoon Oppa merangkulku.

“Ssshhh, sudah kau tidak perlu menangis.” Ia masih terlalu kaget mendengarnya, tetapi Jihoon tidak senang melihat adiknya menangis. Dengan lembut ia menghapus airmata di pipinya, “Jatuh cinta bukanlah sesuatu yang bodoh. Itu bukan sebuah kesalahan. Tetapi jika orang yang kau cintai itu sulit untuk diraih, tak ada salahnya jika kau memilih untuk menyerah. Jika kau terlalu memaksakan diri, maka kaulah yang akan hancur.”

Aku diam seribu bahasa. Isak tangis sudah tidak tersisa lagi. Jihoon Oppa benar, aku tahu dia kakak yang bijaksana. Kyuhyun adalah bintang dan aku hanya bisa memandangnya. Dia tak bisa diraih, sekuat apapun aku berusaha hanya akan menyakiti diriku sendiri. Aku cepat menghapus airmataku karena sepertinya aku sudah tahu jawaban apa yang akan aku berikan di konferensi pers nanti.

—o0o—

Hatiku masih terasa mengganjal meskipun aku sudah menceritakan semuanya. Mereka mengerti dan mendukungku atas apapun keputusan yang kuambil. Seharusnya aku merasa lega. Tetapi entah kenapa aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan benar saja, firasatku itu terjawab karena Papa mengatakan sesuatu yang mengejutkan saat kami menikmati makan malam.

“SM tidak bersedia membatalkan konferensi pers, karena itu Papa akan mengambil jalur hukum.” Ucapnya ringan dan tegas. Kata-kata itu mengejutkan aku, ibuku, dan kakakku. Tidak ada satupun di antara kami yang menyambutnya dengan senyuman, atau mungkin menghela napas lega. Ekspresi kami sama, tercengang.

“Bagaimana jika SM bangkrut karena tuntutanmu, Papa?” ini tidak boleh dibiarkan. Papa tidak bisa menuntut SM. Karena jika SM bangkrut bagaimana dengan nasib Super Junior dan Kyuhyun?

“Papa tidak peduli. Mereka terlalu keras kepala dan egois. Papa hanya meminta mereka menghentikan konferensi pers, mudah bukan?”

“Tapi Papa, SM mengalami kerugian karena aku,” bantahku dan langsung tercekat ketika Papa mendelik tajam. Oh, dia tidak senang aku membantahnya.

“Bukan kau, nak. Tapi kalian. Kau dan Kyuhyun sama-sama terlibat dalam masalah itu. Hal ini tidak hanya merugikan mereka, tetapi juga kami. Papa tidak suka melihatmu digunjingkan banyak orang. Kau putriku, anakku yang baik dan penurut. SM Entertainment tidak bisa sembarangan menyuruhmu melakukan sesuatu yang akan merugikanmu. Mereka harus tahu dengan siapa mereka berurusan.”

“Papa..” aku mencoba membujuk Papa, tetapi dia memberikan tatapan tajam yang secara halus memberitahuku bahwa pembicaraan ini ditutup. Aku melemas di kursiku. Setelah ini, apa yang harus kulakukan? Malam ini aku harus kembali ke Seoul karena esok hari konferensi pers itu akan dilangsungkan.

—o0o—

KYUHYUN POV

“Konferensi pers akan berlangsung selama 30 menit. Jangan katakan apapun selain dari hal yang sudah kuperingatkan. Mengerti.”

Aku mengangguk malas pada Manager Hyung yang sejak tadi berkoar-koar hal yang sama. Terus memperingatkanku agar tidak melakukan kesalahan. Itu menyebalkan. Bukankah tujuan dari konferensi pers adalah untuk meluruskan masalah yang masih rumit? Tetapi kenapa mereka justru ingin memperkeruhnya?

Satu-satunya yang sangat kucemaskan hanyalah Shin Jeyoung. Aku tidak berhasil menapatkan informasi darinya sama sekali setelah pertemuanku dengannya di gedung SM. Apa yang dia lakukan sekarang? Aku begitu frustadi dan marah. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu apapun yang diperintahkan petinggi SM.
Sial!

“Kyu, semoga kau berhasil.”
“Aku mendoakan yang terbaik untukmu.”
“Apapun hasilnya, kuharap itu akan membuatmu bahagia.”

Hyundeul terus memberiku semangat. Wajah mereka memperlihatkan kekhawatiran. Aku memeluk mereka satu persatu seolah aku akan pergi untuk berperang. Ya, ini adalah pertaruhan hidup dan mati. Di sinilah nasibku dan Jeyoung ditentukan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan kami sebelum konferensi pers ini berakhir.

Aku pergi ke tempat konferensi pers. Selama di perjalanan aku terus menatap ponsel, setengah berharap Jeyoung akan menghubungiku. Aku tertawa pahit saat sadar harapanku sia-sia. Aku tiba di sana dengan harapan bisa bertemu Jeyoung sebelum acara dimulai. Aku bisa melihat begitu banyak wartawan yang berkerumun di lokasi, menunggu dengan tidak sabar dan wajah tegang.

Lee Sooman sudah ada di ruang tunggu bersama asistennya. Dia tampak merenung. Manger Hyung segera menghampirinya dan berbicara sesuatu. Aku hanya memberinya sapaan singkat lalu menuju penata rias yang akan memberiku sedikit sentuhan emasnya.

“Ya, masalah besar sedang terjadi,” samar-samar aku bisa mendengar ucapan Lee Sooman. “Ayah gadis itu datang dan mengancam akan menuntutku.” Tiba-tiba aku kesulitan bernapas. Ayah Shin Jeyoung datang dan mengancam Sajangnim?

Dari cermin aku bisa menangkap wajah terkejut managerku, “Menuntut? Itu seharusnya bukan perkara yang sulit ditangani.”

“Bukan hal yang sulit? Siapa yang menyangka gadis itu anak pemilik Shinhwa Company.”

“Mwo? Shinhwa Company?”

Shinhwa Company! Tanpa sadar aku ikut menggumamkan nama perusahaan itu. Mataku melebar. Shinhwa Company adalah perusahaan besar di bidang properti. Jadi Shin Jeyoung..astaga..bagaimana aku bisa tidak mengetahui fakta penting ini?

“Lalu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?”

“Jeremy Shin menginginkan kita membatalkan konferensi pers.”

Jeremy Shin? Ah, Ayah Shin Jeyoung!

“Itu tidak mungkin. Wartawan sudah berkumpul di luar. Mereka bisa menyerang balik kita jika tiba-tiba kita membatalkannya.”

Diam-diam aku tersenyum. Batalkan saja, aku justru akan berterima kasih jika kau melakukannya. Aku seharusnya menyadari hal ini. Saat pertama kali bertemu dengan Ayahnya, aku tahu ada sesuatu yang berbeda dari caranya berbicara dan menatap. Sorot matanya begitu serius dan hati-hati, ciri-ciri dari para pemimpin sebuah perusahaan besar. Mendadak aku ingat dengan apa yang kami bicarakan di apartemen Shin Jeyoung dulu.

*Flashback*

“Sejak awal aku menentang Jeyoung mengikuti acara itu, tetapi dia memohon dan berjanji tidak akan membuat masalah. Tetapi ternyata, masalah memang terjadi.”

Aku tidak nyaman di tempat dudukku. Sudut mataku melirik Jeyoung yang sibuk di dapur kecilnya. Pria yang duduk di seberangku memiliki aura tajam menusuk. Aku tidak bisa berkutik sama sekali. Aku langsung salah tingkah. Ya, siapa yang akan menyangka paparazzi akan mengabaikan momen ketika aku dan putrinya berciuman?

“Aku juga tidak menduganya sama sekali.” Aku mencoba menunjukkan senyum yang ramah. Tetapi perkataanku justru membuat tatapannya menajam. Untuk pertama kalinya aku tahu seperti apa death glare itu.

“Jadi kau bermaksud mengatakan bahwa kau mencium putriku hanya untuk main-main?” ujarnya pelan namun tajam. “Dengar anak muda, jika kau tipe laki-laki yang hanya ingin bermain-main kusarankan kau pergi mencari gadis lain. Aku tidak ingin putriku tersakiti karena ulahmu.”

Apa? Aku sama sekali tidak berniat mempermainkan Shin Jeyoung! Aku ingin mengatakan itu tetapi dia menyelaku. “Aku tahu seperti apa perangai orang-orang yang sudah terkenal dan tahu bagaimana rasanya dipuja banyak orang. Mereka akan bertindak seenaknya dan aku tidak mau putriku mengalami nasib buruk jika terus bersamamu.”

“Aku bukanlah tipe pria seperti itu.” Sanggahku tenang. Aku sendiri bingung bagaimana aku bisa setenang ini. “Aku tahu masalah ini di luar kendaliku tetapi, aku berjanji tidak akan menyakiti Jeyoung. Aku akan menjaganya.”

Tuan Shin menatapku, mencoba mencari kebohongan di mataku. Aku sedikit takut berada di bawah hujaman pandangannya namun aku yakin dengan kata-kataku. Shin Jeyoung tidak akan pernah kusakiti.

“Kau mencintainya?”

Deg. Jantungku terhenti mendengar pertanyaan itu. Aku mencintainya? Ulangku dalam hati. Aku tidak peduli apa akibatnya jika aku berkata jujur, tetapi untuk perasaanku aku tidak bisa berbohong. Karena itu aku mengangguk.

“Ya. Aku mencintainya.”

Seketika aku melihat kelegaan di mata Tuan Shin. Entah kenapa aku pun lega dengan reaksinya.

“Baiklah, aku akan memegang kata-katamu.”

*Flashback End*

“Jeyoung,”

Praktis aku tersentak dari lamunanku ketika aku mendengar suara manager menyerukan namanya. Kepalaku berputar cepat ke arah pintu, tempat di mana aku menemukan sosoknya yang cantik dan..oh, pucat?

Shin Jeyoung masuk sambil menyapa beberapa orang, termasuk Sooman Sajangnim. Aku masih terpaku di tempat dudukku, menatapnya tanpa mengedipkan mata. Baru aku merasa harus bernapas di detik ketika mata kami bertemu. Aku tercekat.

Sekilas Jeyoung tampak terkejut, namun dia cepat menguasai diri dan tersenyum padaku.

“Annyeong haseyo, Kyuhyun-ssi.” Jeyoung menundukkan kepalanya. Hatiku tersayat melihatnya tersenyum penuh pura-pura. Namun di sisi lain aku lega, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik.”

Bohong. Mataku menyipit. Jeyoung menundukkan kepalanya canggung.
“Kenapa teleponku tidak pernah diangkat dan pesanku tidak kau balas? Aku mengkhawatirkanmu.”
“Itu, aku mematikan ponselku. Yah, kau tahu, untuk berjaga-jaga dari penelepon asing.”

Aku mengangguk. Itu masuk akal. Aku sendiri terkadang mematikan ponselku demi menghindari orang-orang yang berniat mencari keuntungan dariku, terlebih wartawan. Aku menyadari Jeyoung menatapku cukup lama, sepertinya ada yang ingin dia katakan.

“Kenapa? Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?”

Jeyoung mengerjap, “Tidak,” dia menggigit bibirnya. Oh, tahukah bahwa hal yang dilakukannya itu membuat hatiku berdesir? Aku harus berjuang mati-matian agar tidak membodohi diriku sendiri dengan menarik Jeyoung ke pelukanku lalu menciumnya.

“Kyuhyun, Jeyoung, bersiaplah. Konferensi pers akan dimulai beberapa menit lagi.” Ucapan manager menyadarkanku. Ini dia. Akhirnya tiba saatnya. Aku sadar suasana di ruangan semakin tegang.

Kami mengangguk bersamaan sementara yang lain mulai meninggalkan ruangan satu-persatu. Sooman Sajangnim sempat menatap Jeyoung dengan pandangan yang tak bisa kubaca sementara Jeyoung hanya menunduk, wajahnya terlihat takut dan kebingungan. Ada apa lagi ini? Aku yakin ada yang terjadi di antara mereka. Aku akan menanyakannya, kuharap aku memiliki kesempatan setelah konferensi pers ini selesai.

—o0o—

JEYOUNG POV

Wartawan langsung menyerang dengan puluhan pertanyaan yang diajukan bersamaan serta kilatan blits yang berkilat di sana sini ketika aku dan yang lainnya masuk ruang konferensi pers. Aku sangat gugup, aku bahkan hampir tersandung kakiku dan terjatuh jika Kyuhyun tidak segera menahan tanganku. Dia tersenyum singkat lalu kembali melepaskanku.

Lee Sooman mengambil tempat paling tengah—dialah yang akan menjadi pusat kali ini. Kyuhyun dan managernya duduk di samping kanannya dan aku di samping kiri Lee Sooman. Di sampingku duduk PD acara WGM dan di sebelahnya lagi aku tidak tahu siapa, mungkin asistennya. Aku tidak berani menatap ke depan di mana puluhan wartawan dengan name tag berbagai media cetak dan televisi duduk membawa atributnya. Mereka siap dengan pena, mikrofon dan kamera. Aku mempertahankan diriku dari serangan rasa gugup, pusing, dan mual. Aku tidak boleh pingsan di sini.

Aku tidak terlalu memperhatikan ketika masing-masing dari mereka berbicara. Aku hanya menatap meja di depanku. Aku ingin sekali tahu bagaimana ekspresi Kyuhyun saat ini, tetapi tidak mungkin kulakukan tanpa menyingkirkan Lee Sooman dan managernya. Astaga, kenapa dia terpisah begitu jauh dariku? Inilah jarak antara aku dan Kyuhyun yang sesungguhnya? Hatiku sakit menyadari kenyataan itu.

“Apa Nona Shin Jeyoung dan Kyuhyun benar-benar menjalin hubungan seperti yang terlihat dalam video?”

Aku tersentak, pembicaraan sudah memasuki bagian inti.

Lee Sooman tersenyum, “Bukankah sudah dijelaskan, sama seperti sebelumnya. Itu hanya bagian dari skenario.”

Aku menelan ludah. Melihat dari ekspresi para wartawan sepertinya mereka tidak percaya karena detik berikutnya sasaran mereka adalah aku. Tubuhku membeku.

“Bagaimana dengan pendapatmu, Jeyoung-ssi?”

Aku sadar kini semua orang sedang menatapku, termasuk Kyuhyun. Dia menunjukkan raut penuh harap. Kau ingin aku mengatakan apa, sayang karena sekarang aku sangat bingung. Ini seperti menghadapi dua jalan dan jalan manapun yang kau ambil akan membawamu jatuh ke dalam jurang. Aku sadar sekujur tubuhku bergetar.

“Apa mungkin kalian diam-diam memang menjalin hubungan?” wartawan tidak menyerah, terus menyerangku karena aku tidak menjawab

pertanyaan mereka. Aku melirik Lee Sooman yang langsung memalingkan wajahnya. Aku tercengang. Apa maksudnya itu? Kau ingin aku melakukan hal yang sudah kau suruh? Mengakui pada dunia bahwa aku merayu Kyuhyun?

Kusadari tanganku meraih mikerofon.

“Aku..” Suaraku terdengar di pengeras suara. Sadar aku akan mengatakan hal penting, semua orang berhenti berbicara. Mereka serius menatapku.

“Apa kau menjalin hubungan dengan Kyuhyun?”

Aku menarik napasku lalu menghembuskannya. Dunia seperti berputar di depan mataku. Aku ingin berkata ya, tetapi bayangan SM entertainment bangkrut dan karir Kyuhyun yang hancur menghantuiku. Papa akan menuntut SM jika aku berkata iya. Tetapi jika tidak, maka aku yang akan hancur. Ayo Shin Jeyoung, mana yang akan kau pilih?

“Tidak.”

Seketika suasana hening dan aku melihat dari sudut mataku Kyuhyun terkejut. Bahkan PD pun terkejut. Hanya Lee Sooman yang menghela napas.
“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Kyuhyun. Hubungan kami hanya sebatas rekan kerja.”

Ledakan pertanyaan kembali berdengung membuatku pusing. Aku sudah mengatakan apa yang mereka inginkan dan semua hal sudah dijelaskan. Jadi bisakah aku pergi? Aku benar-benar butuh sendirian, aku ingin menangis.

“Jadi ciuman itu hanya sekedar skenario?”

“Menurut informasi kau adalah fans dari Cho Kyuhyun.”

“Itulah alasanmu ikut WGM? Ingin mendapatkan ciuman dari Kyuhyun?”

Aku tercengang mendengar pertanyaan itu. Tidak, itu sama sekali tidak benar. Kyuhyun sepertinya ingin mengatakan sesuatu namun aku mendahuluinya.

“Aku bukan fans Cho Kyuhyun.” Hatiku sakit ketika mengatakan itu, tetapi hanya inilah jawaban yang kumiliki. “Bahkan aku mengikuti WGM ini karena didaftarkan sahabatku. Aku tidak pernah mengharapkan bisa menjadi pasangannya dalam We Got Married. Jadi semua yang terjadi hanyalah skenario. Aku hanya mengikuti apa yang sutradara perintahkan.”

“Jika kau bukan fansnya kenapa kau setuju ikut acara ini?”

“Aku sudah terlanjur dipilih. Tak ada kesempatan untuk mundur. Lagipula bukankah ada syarat jika sudah terpilih tidak bisa untuk mengundurkan diri?” Aku terengah-engah ketika selesai mengutarakan isi hatiku. Inilah jawaban yang sudah kupilih. Aku harap tidak akan merugikan siapapun. Terutama, Kyuhyun.

PD mengangguk demi menguatkan kata-kataku. Sisanya dia yang menjelaskan karena wartawan terus menodongkan pertanyaan. Selama sisa konferensi aku terus diam. Karena hanya dengan diam aku bisa menahan airmataku.

—o0o—

AUTHOR POV

Kyuhyun memandang tajam Jeyoung. Apa maksud kata-katanya barusan?! Kyuhyun marah luar biasa pada pengakuan Jeyoung. Hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja dan yang lebih menyebalkan, Jeyoung berkata dia BUKAN FANSNYA!!

Kyuhyun tidak pernah merasa semarah ini. Hatinya tidak pernah sampai terbakar hangus hingga tumbuh keinginan kuat untuk menghancurkan sesuatu dengan tangannya sendiri. Ia sudah cukup kesal dengan kata-kata Lee Sooman bahwa ciuman itu hanya skenario dan sekarang ditambah pengakuan Jeyoung. Timbul pertanyaan besar dalai dirinya.

Apa pengakuan itu juga hanya rancangan Lee Sooman?

Jika benar maka Kyuhyun sendiri yang akan menuntutnya.

Segera setelah konferensi selesai, Kyuhyun tidak bisa menahan keinginannya untuk berbicara dengan Jeyoung dan menanyakan segalanya. Ia melihat gadis itu sedang berbicara dengan PD WGM dan ketika Jeyoung lengah, dia menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi. PD yang melihatnya hanya tersenyum lalu meraih ponselnya.

Kyuhyun menarik Jeyoung masuk ke ruang rias lalu mendorong Jeyoung ke pintu, tangannya mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu acara privat mereka.

Jeyoung meringis, ia kesakitan dengan ulah Kyuhyun. Namun Kyuhyun tidak menyadarinya, ia terlalu marah untuk tahu. Ia hanya memikirkan bagaimana mencari tahu jawaban atas pertanyaan yang mengganggunya sejak awal.

“Jelaskan apa maksud ucapanmu tadi!” Kyuhyun menekan bahu Jeyoung ke dinding dengan kedua tangannya. Matanya nyalang, tajam menusuk Jeyoung. “Kau berkata kita hanya rekan kerja dan kau bukan fansku? Lalu kau menganggap kedekatan kita selama ini apa? Kau menyebut apa hubungan kita?”

Emosi Jeyoung tersulut, ia meronta dari desakan Kyuhyun yang terus memojokannya ke dinding. Ia sudah lelah, ia ingin pergi dari sini dan menangis kencang.

“Memang tidak ada hubungan apapun!” Jeyoung membentak Kyuhyun tepat di depan wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Kyuhyun yang menyadarinya mengerjapkan mata. “Kau bahkan bukan kekasihku. Kita hanya pasangan di We Got Married. Selain itu, tidak ada arti lebih yang lain.” Suaranya tercekat. Jeyoung memalingkan wajah untuk menyembunyikan airmatanya.

“Lepaskan aku,” bisiknya.

“Jeyoung, aku..”

“LEPASKAN AKU!!”

Kyuhyun melepaskan Jeyoung. Perasaannya terluka melihat Jeyoung tampak kesulitan dan menderita. Ia bahkan tidak bisa membalas kata-kata Jeyoung. Ia tidak pernah menyatakan cinta. Astaga, bagaimana ia lupa hal penting seperti itu? Kyuhyun sadar yang paling harus disalahkan adalah dirinya sendiri.

“Sepertinya ini kali terakhir kita bertemu. We Got Married tidak akan bisa dilanjutkan.” Jeyoung membalikkan badan setelah mengatakannya. Kyuhyun menggeleng, ia menarik tangan Jeyoung.

“Katakan yang sejujurnya padaku, kumohon.” Ia diam sejenak, “Semua yang kau katakan di konferensi pers tadi adalah bohong.”

Itu memang bohong. Kenapa kau tidak menyadarinya? Jeyoung memejamkan mata frustasi, ia ingin mengatakan semuanya namun bibirnya tak bisa bergerak.

Hati Kyuhyun terseret dalam pusaran keputusasaan, ia tak peduli meskipun harus berlutut di hadapan Jeyoung agar gadis itu menceritakan segalanya.

“Kumohon, aku ingin tahu kebenarannya sehingga aku bisa menentukan tindakan apa yang akan kulakukan.”

Jeyoung tak bergeming, “Lepaskan aku,” bisiknya. Kyuhyun justru mengeratkan pegangannya.

“Apa Sajangnim sudah mengancammu untuk mengatakannya?”

Ketika Jeyoung membalikkan badan, Kyuhyun merasa sedikit lega, tetapi perasaan itu kembali jatuh ke jurang ketika ia menatap mata Jeyoung. Gadis itu terluka parah, bahkan nyaris mati. “Tidak ada yang mengancamku. Ini adalah keputusan yang kuambil agar tidak ada siapapun yang akan terluka.”

Kyuhyun mati rasa. Ia terlalu terpaku pada cara Jeyoung mengatakannya. Sengsara karena tertekan. Ia bahkan tidak sadar genggaman tangannya terlepas. Ia baru terhenyak ketika Jeyoung membuka kunci pintu dan keluar meninggalkannya.

“Tunggu!!” Kyuhyun mengejarnya. Ketika ia keluar, sosok gadis itu sudah tidak ada. Kyuhyun menggeram lalu meninju tembok sebagai luapan emosinya. Ia menyandarkan dahinya pada tembok dan berkata lirih. “Aku mencintaimu, Shin Jeyoung..kenapa kau tidak memberiku waktu untuk mengatakannya?”

Kyuhyun sadar, itulah kali terakhir ia bertemu dengan Shin Jeyoung.

—o0o—

Satu bulan berlalu sejak konferensi pers dilaksanakan. Skandal itu perlahan-lahan mereda dan tertelan oleh skandal lain yang lebih heboh. Jeyoung sudah bisa menjalani kehidupannya seperti semula dan orang-orang pun mulai melupakan skandalnya dengan Kyuhyun. Sekarang Jeyoung hanya fokus pada kegiatan kampusnya yang sempat tertinggal.

“Akhirnya semuanya selesai!” Nichan menghempaskan dirinya di sofa lalu meregangkan otot-ototnya yang kaku. “Badai sudah terlewati dan kini tinggal kesenangan menunggu. Aku tidak sabar menanti graduation party akhir bulan nanti.” dia mendesah lega, wajahnya berbinar cerah membayangkan pesta meriah yang selalu diadakan bertepatan dengan acara wisuda.

“Apa yang kau rencanakan untuk pesta nanti?” dia berteriak pada Jeyoung yang sedang sibuk di dapur, menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

“Aku tidak tahu,” sahut Jeyoung. Dia meletakkan dua mangkuk berisi jajangmyun di atas meja lalu ikut duduk di samping Nichan.

“Kau harus tampil, sudah saatnya dunia tahu bakat menyanyimu sayang.” ujar Nichan sambil memakan jajangmyunnya. Jeyoung mendesah.

“Aku bisa dibunuh Papa jika dia tahu. Kau tahu dia tidak suka jika aku menyanyi. Di tambah lagi dengan kejadian kemarin.” Jeyoung menatap lesu mie hitam yang masih mengepulkan asap di tangannya. Tiba-tiba saja ia kembali teringat Kyuhyun. Sudah satu bulan tidak ada kabar apapun darinya. Hari itu selepas konferensi benar-benar menjadi hari terakhir dirinya bertemu dengan Kyuhyun.

“Kau tidak mendapat kabar apapun dari Cho Kyuhyun?” tanya Nichan prihatin. Ia tahu sahabatnya itu masih memikirkan Kyuhyun. Sulit sekali rasanya menghilangkan kenangan indah bersama seseorang yang dicintai, bukan? Meskipun Jeyoung berusaha bahagia tetapi Nichan tahu jauh di dalam lubuk hatinya gadis itu merindukan Kyuhyun.

Jeyoung menggeleng, “Dia sibuk. Kau lupa dia dan Super Junior sibuk dengan rangkaian tur konser dunia-nya.”

“Kau benar.” Nichan mengangguk. Dia sudah melihat banyak beritanya di televisi. Super Junior justru semakin melesat jauh dan gosip itu tidak menggoyahkannya sama sekali.

“Lalu apa acara WGM itu benar-benar dihentikan?”

“Entahlah. PD belum menghubungiku lagi. Tapi jika dilihat dari kondisinya, sepertinya memang dihentikan total. Sejak awal ide memakai pasangan selain artis pasti akan menuai kontroversi. Dengan begini aku tidak akan pernah bisa bertemu Kyuhyun lagi.” kesedihan terselip dari nada suaranya. Jeyoung menarik napas dalam menahan kesakitannya lalu meyuapkan mie banyak-banyak ke mulutnya.

“Gadis malang,” Nichan mengusap bahunya. “Sampai sekarang kau bahkan tidak tahu bagaimana perasaan Kyuhyun padamu?”

“Aku tidak berani mengharapkan apapun dari Kyuhyun. Lagipula dia tidak mengatakan apapun padaku tentang perasaannya jadi kupikir dia tidak memiliki perasaan khusus padaku.”

“Aku tidak yakin,” Nichan menyela, Jeyoung menatapnya. “Siapapun yang mengamati cara Kyuhyun menatapmu, mereka akan menyimpulkan Kyuhyun jatuh cinta padamu.”

Jeyoung langsung tertawa, tawa hambar, “Itu karena dia pandai berakting.”
“Jeyoung, Kyuhyun adalah member Super Junior terburuk dalam hal akting.” Ujar Nichan blak-blakan. “Untuk urusan menelak orang lain dia baru juaranya.”
“Tapi..”
“Kau tidak pernah menanyakannya langsung pada Kyuhyun bukan?”

Jeyoung terdiam. Tentu saja tidak pernah. Untuk apa menanyakan hal konyol seperti itu pada Kyuhyun? Ingin mempermalukan diri sendiri?

“Lagipula jika aku bertanya, aku tidak yakin aku berani mendengarkan jawabannya. Bagaimana jika dia berkata tidak?” Jeyoung menatap Nichan, wajahnya tampak sedih, “Aku tidak siap untuk patah hati.”

—o0o—

Kyuhyun baru saja kembali setelah konser selama beberapa hari di Eropa. Dia beristirahat di kamarnya sambil memejamkan mata. Bayangan Shin Jeyoung tampa permisi menyelinap dalam benaknya. Seketika ia membuka mata.

Kenapa bayanganmu tidak ingin pergi?

Dengan gontai Kyuhyun bangkit lalu mengurut pelipisnya. Satu bulan. Sudah satu bulan ia tidak bertemu dengan Shin Jeyoung. Ia merasa seperti orang gila dan satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras adalah dengan bekerja keras. Karena itu selama sebulan ini ia bekerja seperti mesin. Hanya dengan menyibukkan diri ia bisa melupakan rasa sakitnya.
Astaga, separah itukah rasa rindunya pada Jeyoung?

Kyuhyun teringat ketika terakhir kali ia melihat gadis itu, Jeyoung hampir menangis. Ya, gadis itu menderita karena dirinya. Karena ia tidak bisa melindunginya dari paparazzi bahkan atasannya sendiri. Ia membenci dirinya karena itu. Menyalahkan dirinya terus menerus karena kepergian Jeyoung dari hidupnya. Jika ia lebih berani, jika ia mengakui perasaannya pada dunia, segalanya tidak akan berakhir seperti ini.

Shinhwa Company memang sudah menarik tuntutannya dan perlahan-lahan SM entertainment kembali pulih. Sooman Sajangnim juga sudah tidak mempermasalahkan lagi dan syuting WGM terpaksa harus dihentikan. Kyuhyun mengerang putus asa ketika mendengar berita itu dari managernya. Itu berarti kesempatannya bertemu Jeyoung hilang sama sekali. Sial, sekarang apa yang harus dilakukannya?

Ponselnya bergetar. Kyuhyun melihat nomor managernya muncul. “yeobseo,” gumamnya parau.

“Kyu, kau harus datang ke gedung SM sekarang. Sajangnim ingin berbicara denganmu.”

Apa? Kyuhyun terkejut. Masalah apalagi ini? “Baiklah. Aku akan tiba tiga puluh menit lagi.” ia langsung melempar ponselnya dan bangkit dengan malas. Ketika ia keluar dari kamar dalam keadaan rapi, dorm sunyi senyap. Ia tahu semua orang sedang terlelap selepas pulang dari konser yang melelahkan. Hanya dia yang tidak bisa tidur dan semua itu karena Shin Jeyoung. Ia pergi dari dorm tanpa berpamitan.

Kyuhyun heran bagaimana ia bisa tiba di gedung SM dengan pikiran terbagi dua. Ia tidak bersemangat sama sekali dan tidak peduli dengan apapun yang akan dibicarakan atasannya itu. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun kali ini. Ia melaksanakan semua jadwal tampilnya dengan sempurna. Bahkan member lain pun berpikir ia sudah kembali ceria meskipun dalam hatinya hancur lebur. Jadi, untuk apa Lee Sooman memanggilnya kali ini?

“Sajangnim,” Kyuhyun membungkukkan badan ketika ia sudah tiba di ruangan Lee Sooman. Pria itu duduk di sofa hitam berbahan kulit yang khusus disediakan untuk tamu penting.

“Oh, Kyuhyun, kau sudah datang. Kemarilah.” Lee Sooman dengan wajah ramahnya menyuruh Kyuhyun duduk. Ia mengerutkan kening melihatnya.

“Sajangnim, sebenarnya ada perlu apa kau—“ kata-kata Kyuhyun menggantung di udara karena ia baru menyadari ada sosok lain yang duduk di hadapan Lee Sooman. Matanya terbelalak mengenali pria itu.

“Tuan Shin.” Kyuhyun tercekat, ini kali keduanya bertemu dengan Ayah Shin Jeyoung. Ia terkejut, apa yang dilakukannya di sini?

To Be Continued

124 thoughts on “Because WGM, You’ll Be Mine !! (Part 11)

  1. Huft~ di sini hatiku patah sepatah-patahnya, hancur lebur tak bersisa *abaikan*
    Abisnya Kyu msh ngegantungin perasaan jeyoung sih, tp2 spertinya bkal ada yg jd Hero lg nih,, waduh keren2, stidaknya msh ada harapan mreka bkal brsatu,, lnjut bc endpart^^

  2. Nyesekk parah pas bagian confrensipers huhuhu
    kasian banget je young nya ><
    Sooman nih ada2 aja.. itu kyu juga emang dr awal gak pernah nyatain perasaan sih..
    appa je young ngapain ke SM???

  3. Hayo loh ngapain ayah je young ada di gedung SM. ,tapi ternyata ayah je young tidak menentang hubungan je young dan kyuhyun ,,baguslah ,, kyuhyun juga lamban katanya cinta tapi ngga bilang2 ya iyalah je young ragu

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s