Miracle Love Story (Part 2)

Tittle : Miracle Love Story Part 2
Author : Dha Khanzaki
Genre : School Life, Romance

Main Cast :

  • Kim Kibum
  • Park Heerin

 

Dha’s Speech :
Aduh, gak tau deh harus ngomong apa. FF ini udah lama banget ngendap di lappy. Sekedar info, ini adalah ‘before story’ dari FF Cherry Blossom. Buat yang udah pernah baca FF itu pasti tahu dong pasangan ajaib Kibum-Heerin? Nah, ini menceritakan khusus kisah mereka. Sayang kalau gak dipublish. So, Happy Reading. Hati-hati ketemu typo ^_^

 

Miracle Love Story by Dha Khanzaki

“Eomma, kau tahu siapa yang mengantarku pulang?” Heerin menghampiri Eommanya yang sedang memindahkan beberapa piring makanan dari dapur ke atas meja makan dibantu beberapa pelayan.

“Seorang laki-laki yang sangat tampan, Eonni. Namanya Kim Kibum” jawab Park Heejin, adiknya yang hanya berbeda dua tahun.

“Nde! Kim Kibum! Dia yang membawaku???” pekik Heerin syok.

“Ne. Dia namja yang baik dan sopan. Dia namjachingumu?” tanya Bibi Yoowon.

“Ani. Hanya teman” jawab Heerin.

“Oh iya. Dia memberikan ini. Katanya bisa membantumu belajar” Eomma menyerahkan sebuah CD dan beberapa buku. Heerin menerimanya dengan alis berkerut.

“Gomawo,” setelah menerimanya, Heerin segera kembali ke kamarnya di lantai dua.

===PART 2===

Heerin membuka-buka beberapa buku tebal yang Kibum berikan. Ia cukup memahami alasan Kibum meminjamkannya buku-buku ini, tetapi ia tidak paham alasan Kibum memberikan CD dengan sampul putih polos begini. Untuk apa? Tepatnya, apa yang ada di dalam CD ini?

Penasaran, Heerin memasukkan CD itu ke dalam DVD player. Memang tidak ada gambar apapun.. hanya layar berwarna hitam dan terdapat tulisan ‘classic’. Ia tertegun sambil duduk dengan kaki dilipat di atas tempat tidurnya.

“Kibum kan pintar, pasti ada alasan tersendiri memberiku CD aneh ini,” Gumam Heerin yakin dan bingung. Tak lama dari speaker mengalun sebuah musik, entah apa judulnya. Tapi Heerin yakin ini adalah musik klasik karya salah satu komposer ternama dunia. Hanya alunan musik saja bisa membuat jiwa dan pikirannya tengang. Ajaib.

Heerin melihat ada secarik kertas terselip di antara sampul CD, ia membacanya sekilas.

Dengarkan musik ini selagi kau belajar.
Kibum

Mulut Heerin ber’o’ ria setelah membacanya. Ia segera meraih buku yang tadi diberikan Kibum. Di sana terdapat beberapa bagian yang sudah ditandai untuk jadi bahan pembelajaran Heerin.

“Kapan dia menyiapkan ini semua untukku?” tanya Heerin sambil senyam-senyum sendiri melihat buku pelajaran di tangannya. Sampai-sampai di bagian yang ditandai sudah diberi penjelasan singkat oleh Kibum agar Heerin bisa paham dan tidak kesulitan belajar.

“Baiklah.. Heerin kau bisa, fighting!!” serunya pada diri sendiri.

@@@

“Bagaimana dengan bimbingan belajar yang kau berikan?”

Kibum mengangkat kepalanya dari buku yang ia baca. Ia mengerutkan kening melihat teman-temannya bertanya dengan muka penasaran. Mereka sudah tahu perihal les privat yang Kibum berikan pada seorang murid St. President bernama Park Heerin. Hal itu menjadi rahasia umum yang cukup mengejutkan.

“Oh, itu.. ya begitulah.” Jawab Kibum kemudian kembali membaca buku

“Kudengar nilai murid itu sangat buruk sampai Pak Nickhun meminta bantuan Bu Victoria agar kau mengajarinya.” Ucap Siwon.

Kibum mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya. “Tidak seburuk yang kalian bayangkan. Hanya di beberapa mata pelajaran saja.”

“Benarkah?”

“Em..”

“Apa dia cantik?” kini gantian Eunhyuk yang bertanya. Kibum baru menoleh, ia menatapi temannya yang terkenal paling suka menggoda wanita itu.

“Ayolah, aku sangat penasaran. Kalau cantik, kau bisa kenalkan padaku kan?” tambahnya.

“Ya! kau ini dari dulu tidak berubah. Berhentilah bersikap seperti ini!” tegur Donghae.

“Kau bisa mengikuti jejakku kalau kau mau.” Jawab Eunhyuk tak mau kalah.
Eunhyuk dan Donghae sibuk berdebat, Siwon hanya duduk sambil memainkan ponselnya, dan Kyuhyun dari tadi diam karena dia sedang berkonsentrasi bermain game di PSPnya. Lalu Kibum, dia menghela napas kemudian kembali membaca bukunya. Memang beginilah keseharian mereka di kala istirahat tiba. Berkumpul namun tetap sibuk dengan urusan masing-masing.

@@@

Heerin ragu-ragu berdiri di depan kelas 3-1. Sebenarnya ia ingin bertemu dengan Kibum perihal les privat itu. Namun ketika sudah berada di depan pintu kelas itu, mendadak ia gugup.

“Masuk tidak ya..” gumam Heerin bingung. “Aku harus masuk dan bertanya. Tapi…” heerin mondar-mandir gugup di sana.

“Ya, sedang apa kau di sini?” Heerin menoleh dan mendapati Ham Eunjung berdiri di dekatnya dengan tatapan menyelidik khas miliknya.

“Anu.. aku..” Heerin bahkan tidak sanggup mengatakan tujuannya pada Eunjung.

“Minggir, aku ingin masuk!” Eunjung mendorong bahu Heerin dan melenggang masuk lebih dulu ke dalam kelas itu. Heerin hanya mematung di tempatnya. Ia menoleh ke dalam kelas dengan pasrah.

Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Eunjung menghampiri Kibum dan teman-temannya, mengajak namja itu mengobrol dengan leluasa. Sementara dirinya hanya bisa memperhatikan dari jauh dengan tatapan iri. Em.. dia juga ingin masuk…tapi kenapa ia jadi begini ragu dan takut?

“Ada perlu apa?” Heerin mengangkat kepalanya yang tertunduk, ia mengerjapkan mata karena di hadapannya berdiri Donghae, temannya Kibum.

Donghae tadi tanpa sengaja melirik ke arah pintu dan ia melihat seorang gadis berdiri di sana dengan kepala tertunduk lemas. Lantas ia menghampirinya.

“Ah, aku.. sebenarnya..” Heerin melirik Kibum yang asyik mengobrol. “Aku ada perlu dengan Kim Kibum. Tapi..”
“Oh, Kim Kibum.. sebentar aku panggilkan.” Potong Donghae. Ia menoleh ke arah Kibum, lalu berteriak. “Hooi.. Kim Kibum.. ada yang ingin berbicara denganmu..”

Kibum menolehkan perhatiannya dari Eunjung ke arah suara Donghae. Di depan pintu kelas, ia melihat sahabatnya itu sedang mengobrol dengan seorang yeoja. Setelah diamati baik-baik, ia kenal yeoja itu. Dia Park Heerin, lantas tanpa membuang waktu Kibum bangkit dari duduknya.

“Ya.. aku kan belum selesai bicara..” protes heerin, namun terlambat. Karena ternyata Kibum sudah menghampiri mereka.

“Kibum, dia ingin berbicara denganmu.” Ucap Donghae sambil menunjuk Heerin.

Heerin mengerjap karena Kibum kini sedang menatapnya. “Oh, Kau Park Heerin kan. Ada apa?” ucapnya riang

Donghae meninggalkan Kibum dan Heerin berdua. Setelah Donghae pergi, Kibum masih menatap Heerin yang tertunduk sambil memainkan kakinya.

“Tentang Les Privat itu.. sekarang apa masih berlanjut?” tanya heerin akhirnya.

“Tentu saja. Sampai ujian akhir nanti, kau berada di bawah bimbinganku.” Ucap Kibum. “Apa kau sudah membaca buku yang kuberikan kemarin?”

Heerin mengangguk. “Sekarang aku juga sedang mendengarkan lagu klasik yang kau berikan padaku.” Heerin menunjuk earphone yang sedang dipakainya.

Kibum tersenyum. “Ternyata kau mengikuti petunjukku dengan baik.”

“Em, kalau boleh tahu lagu apa ini?” Heerin penasaran. Karena yang didengarnya hanya untaian musik tanpa lirik sedikitpun.

“Itu, Eine Kleine Nachtmusic; Allegro. Karya Mozart.” Ujar Kibum seolah semua orang tahu lagu itu. Hanya saja ekspresi Heerin menyiratkan bahwa dia tidak tahu lagu itu karena itu Kibum menambahkan. “Lagu klasik sangat baik untuk merangsang daya tangkap otak manusia” lanjutnya.

“Bukankah biasanya lagu yang dipakai lagu milik Bach atau Beethoven? Kupikir lagu ini terlalu ceria untuk dipakai saat belajar.”

Kibum menahan diri agar tidak tampak melongo mendengar ucapan Heerin. Baiklah, sepertinya dia tahu soal lagu klasik. “Tipe sepertimu sangat cocok belajar dengan memakai lagu ceria seperti itu. Jika aku memperdengarkanmu simfoni milik Bach atau Beethoven, aku yakin kau akan jatuh tertidur sebelum belajar apapun,” Kibum merasa adrenalinnya terpacu saat menjelaskannya. Ia tidak percaya rasa penasarannya bisa tersulut seperti api yang melahap kertas saat berbicara dengan gadis ini. Heerin, dia gadis yang unik.

Kepala Heerin mengangguk-angguk paham, sementara mulutnya membentuk huruf ‘O’.

Kibum bahkan sampai mengetahui hal seperti ini. Atau memang dia yang kuper? Ah, siapa peduli.
“Oh, iya. Karena besok libur, bagaimana jika belajar berikutnya di rumahku?” tawar Kibum.

“Belajar, di rumahmu?” matanya melebar kaget. Heerin tak percaya, entah dia harus senang atau tidak. Belajar di rumah Kibum? Tuhan.. ini mimpi atau bukan?

“Iya. Kemarin kita tidak jadi belajar karena kau ketiduran.” Mendengar Kibum menyinggung soal kemarin, Heerin jadi ingat satu hal.

“Soal itu, apa kamu yang mengantarku kemarin?”

“Iya” aku Kibum.

“Bagaimana kau tahu rumahku? Aku kan tidak pernah mengatakan alamat rumahku padamu.”

“Tentang itu..” Kibum teringat kejadian kemarin.

#flashback#

Setelah mobilnya datang, Kibum segera mengangkat Heerin ke dalam mobilnya. Ia tidak tega membiarkan Heerin tertidur dengan posisi seperti itu. Di bawah pohon pula. Sekarang sudah sore dan udara begitu dingin karena sudah memasuki musim gugur. Ia tidak mau Heerin sampai sakit.
Kibum merebahkan Heerin di jok belakang. Ia menjadikan pahanya sebagai bantalan heerin tidur. Gadis itu tidur dengan begitu pulas. Sampai-sampai tidak sadar sekarang sedang ada di dalam mobil bersama seorang namja.
“Eotte.. aku tidak tahu di mana rumahnya..” Kibum melupakan hal penting seperti itu. Lalu dia harus di bawa kemana? Tidak mungkin Kibum membawa Heerin ke rumahnya.

Kibum melirik tas Heerin yang ia letakkan di jok depan. Dengan sedikit kesulitan, Kibum meraih tas itu dan menggeledah isinya mencari-cari sesuatu.
“Mianhae, bukan maksudku tidak sopan. Aku hanya ingin tahu alamat rumahmu.” Cukup lama juga Kibum mengaduk-aduk isi tas Heerin, akhirnya ia menemukan dompet Heerin di dalamnya.

Ia membukanya, di dalam dompet itu ia menemukan foto Heerin bersama keluarganya. Juga beberapa foto selca Heerin. Hem.. jika diamati baik-baik, yeoja ini cantik juga. Senyumnya manis, sorot matanya begitu meneduhkan.

“Pabo! Bukan saatnya memikirkan macam-macam Kim Kibum!” kibum tersadar langsung memukul kepalanya sendiri.

Kibum menemukan sesuatu yang dicarinya dari tadi, kartu pelajar Heerin. Di situ tertera alamatnya. Kibum membacanya baik-baik. Setelah itu, ia menyebutkan alamat itu pada supir pribadinya. Agar segera mengantarnya ke alamat itu.

#flashback end#

Setelah semua memorinya lengkap, tiba-tiba Kibum menundukkan kepalanya berulang-ulang. Membuat Heerin bingung.

“Mianhae, kemarin aku menggeledah tasmu. Aku tahu alamatmu dari kartu pelajar yang ada di dalam dompetmu”

Heerin jadi tidak enak hati. “Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu minta maaf. Seharusnya aku berterima kasih padamu” ia mengibas-ngibaskan tangannya agar Kibum tidak perlu khawatir dia akan marah.

“Jadi dia yang bernama Park Heerin?” tanya Eunhyuk mengangguk-anggukkan kepalanya. tanpa disadari Kibum maupun Heerin, ternyata ke empat sahabatnya sejak tadi memperhatikan mereka. Namun yang benar-benar patut diwaspadai oleh Kibum adalah bagaimana ekspresi Ham Eunjung sekarang. Wajahnya menunjukkan rona kebencian. Matanya yang tajam itu menyipit menatap sosok Heerin, gadis yang dimatanya terlalu biasa untuk menarik perhatian seorang Kim Kibum.

@@@

Heerin menatap gedung mewah di depannya dengan raut muka ragu. Sekali lagi ia melihat kertas yang di atasnya tertulis alamat rumah Kibum dan mencocokkannya ke alamat yang tertera di depan gerbang tadi. Ia bahkan sempat bertanya kepada security takut salah alamat. Tapi memang benar, ia tidak salah.

Tapi kenapa ketika ia sudah berdiri di depan apartement mewah ini ia jadi ragu? Ya sudahlah. Ia kan datang dengan tujuan untuk belajar. Kenapa jadi gugup begini? Heerin masuk ke lobby apartement mewah itu, ia masuk ke lift dan memencet tombol 11. Apartement kibum ada di lantai itu.

Semalam ia tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini. Otaknya terus mengkhayalkan yang bukan-bukan. Apakah di sana ia hanya akan berduaan dengan Kibum, apakah nanti akan terjadi sesuatu.. dan.. akh.. otaknya sudah memikirkan hal yang bukan-bukan lagi.

Ting

Pintu lift terbuka, Heerin makin gugup saja ketika menatap lorong sepi yang akan mengantarkannya pada Kibum.

“Nomor 1103. Ah, benar. Ini dia..” Heerin menarik napas sejenak sebelum ia memencet bel apartement itu.

Cukup lama juga ia menunggu sebelum pintu dibuka setelah ia memencet bel. Heerin mengecek sekali lagi penampilannya. Takut penampilannya akan buruk di hadapan Kibum nanti.

Tak lama pintu pun terbuka. Heerin tersenyum semanis mungkin menyambut Kibum yang akan muncul di balik pintu.

“Haiii…” ucapnya sambil tersenyum lebar.. namun sedetik kemudian senyumnya menghilang karena yang membuka ternyata bukanlah Kibum melainkan Donghae..

“Oh, kau Heerin..Mencari Kibum?? Dia ada di dalam. Ayo masuk..”

Donghae tersenyum manis lalu membukakan pintu lebar-lebar. Heerin masuk dengan langkah canggung.

“Kibum..” Heerin ragu ketika akan bertanya.
“Dia ada di dalam. Tenang saja, aku akan pulang sekarang. Jadi jangan khawatir aku akan mengganggu acara kalian.” Donghae tersenyum. Ia mengambil tas yang ada di atas sofa ruang tamu.

“Bukan begitu maksudku..”

“Kibuum.. aku pulang.. muridmu sudah datang ..” teriak Donghae. Ia lalu pergi meninggalkan apartement itu.

Heerin mendadak jadi sangat gugup. Benar saja, kegugupannya itu kian memuncak saat Kibum muncul dari dalam ruangan. Dengan memakai pakaian rumah, a.k.a celana jins dan kaos, Heerin harus menahan dirinya agar tidak meneteskan air liur ataupun menganga karena terlalu kagum menatap sosok Kibum yang sangat tampan di matanya. Melihat Kibum selain memakai seragam sekolah, membuatnya gugup setengah mati.

“Oh, kau sudah datang. Ayo masuk..” ajak Kibum ramah.

“Em.. bukankah aku memang sudah masuk rumahmu..” ujar Heerin polos.

Kibum mematung sejenak, ia melongo. “Ah, benar. Maksudku.. ikut aku ke dalam. Kita akan belajar di sana.”

Heerin mengangguk paham. Ia lalu mengikuti Kibum memasuki lebih dalam lagi apartementnya yang mewah itu.

Kibum mempersilakan Heerin duduk di sebuah 1 set sofa berwarna krem yang ada di ruang tengah. Ruangan itu cukup luas. Heerin tidak bisa membayangkan betapa mahalnya harga apartement semewah ini. Tapi ia tidak perlu heran. Bukankah Kibum itu anak orang kaya sama seperti teman-temannya .

“Kau ingin minum apa?”

Heerin menoleh ke arah Kibum yang berada di dapur. Tempat itu hanya di pisahkan oleh sebuah kabinet transparan yang terbuat dari kaca.

“Em..terserah padamu.”

Sempat terlintas rasa heran di benaknya. Kibum hanya seorang diri di apartement ini. Kemana orang tuanya? Atau, memang tidak ada pembantu yang dipekerjakan di sini.

Kibum meletakkan segelas orange juice di atas meja.

“Kau hanya sendiri di apartement ini?” tanya Heerin tanpa ragu langsung meminum orange jusnya.

Kibum sempat terpaku beberapa saat. Baru kali ini ada orang yang tidak segan-segan bertanya tentang keadaannya. Apalagi Heerin sepertinya tidak canggung berada di dekatnya. Tidak seperti yeoja kebanyakan.

“Iya. Mereka berada di California.”

“Jinjja? Wah, itu artinya kau sendirian di sini.”
“Ya.” jawab Kibum dengan suara rendah. Ia sedih. Namun Heerin tidak menyadarinya.

“Wah, aku iri sekali.”

Kibum terkejut. Bagaimana mungkin tinggal sendiri dan selalu kesepian seperti dirinya bisa membuat Heerin iri.

“Kenapa? Kau suka tinggal sendiri?”

“Bukan. Itu artinya di sini begitu sepi dan tenang. Di rumahku selalu berisik. Kau tahu kan anggota keluargaku banyak sekali. Jadi…yah.. aku tidak bisa belajar dengan tenang..”

Heerin menggembungkan pipinya mengingat rutinitas kesehariannya yang selalu dihiasi keributan dan kebisingan.

Kibum menatap Heerin dengan hati perih. Jujur saja ia sangat iri pada Heerin. Saat ke rumahnya dulu, semua keluarga Heerin menyambutnya dengan ramah. Meskipun benar kata Heerin, mereka membuat suasana ramai, namun itu jauh lebih baik daripada tinggal sendirian.

Kyuhyun, meskipun dia anak tunggal, namun kedua orangtuanya selalu ada bahkan ia sangat dimanja oleh eommanya yang cantik itu. Lalu Donghae, yah, dia memang senasib seperti dirinya. Tinggal sendiri sementara orangtuanya sibuk bekerja mengurus perusahaan. Namun Donghae mempunyai asisten-asisten yang siap membantunya kapanpun ia minta.

Lalu Eunhyuk, orangtuanya juga sama sibuknya. Tapi dia mempunyai Nuna yang cantik dan bahkan sangat menyayanginya lebih dari orangtuanya sendiri*read: Lee Si Young*

Dan terakhir Siwon, keluarganya semua peduli padanya karena dia adalah calon penerus perusahaan raksasa milik Appanya. Karena itu Siwon selalu mendapatkan perhatian penuh dari mereka. Sementara dirinya? Ia tinggal sendiri, tidak memiliki saudara atau siapapun yang bisa dijadikan tempatnya bergantung. Ia sangat kesepian. Jujur saja, mendengar Heerin bercerita tentang keluarganya, ia sangat iri.

“Ya sudah, ayo kita mulai belajar” Kibum menggelengkan kepalanya mencoba menghapus pikiran yang selalu membuatnya tersenyum miris itu. Kibum pergi sebentar ke kamarnya untuk mengambil buku yang sudah ia siapkan semalam untuk Heerin.

Heerin bersiap-siap duduk di depan meja. Duduk senyaman mungkin. Namun ia terkejut bersamaan dengan Kibum yang meletakkan setumpuk buku di hadapan Heerin. Matanya melotot melihat tumpukan buku itu.

“Kibum, ini apa?” tanyanya dengan suara bergetar. Kibum tersenyum, lalu duduk di hadapan Heerin.

“Ini buku yang harus kau pelajari sampai seminggu ke depan.”

Heerin menelan ludahnya dengan susah payah. “Ta-tapi kenapa tinggi tumpukannya melebihi tinggiku waktu duduk?”

Kibum tertawa mendengar ucapan polos Heerin. “Hanya ini satu-satunya cara agar kau bisa mencapai nilai target saat ujian akhir nanti.”

“Kibum, aku tidak keberatan kau membunuhku dengan pisau. Tapi jika dengan buku sebanyak ini.. aku tidak mau..” ujar Heerin dengan ekspresi tersiksa.

“Oh, ayolah. Kau Park Heerin. Aku yakin kau bisa” Kibum mengambil salah satu buku yang tebalnya kira-kira 3 cm. Dia membuka bagian yang sudah ia tandai dan menyerahkannya pada Heerin.

“Dan tugas pertama adalah, kau kerjakan soal-soal yang sudah aku tandai di buku ini”

Heerin kembali membelalakkan matanya. “Tapi Kibum, banyak sekali yang ditandai di sini.”

“Bingo. Itu maksudku. Kau kerjakan semuanya”

“lalu kau?”

“Aku akan mengawasimu sambil membaca buku” ujar Kibum mengangkat buku tebal dengan judul bahasa Inggris. Heerin mengangguk patuh lalu mulai mengerjakan soal.

Kibum menguap setelah selesai membaca sampai setengah halaman. Ia melirik Heerin karena sedari tadi suasana begitu hening. Ia terkejut ketika mendapati Heerin tengah tertidur sambil menopang kepalanya dengan tangan di atas meja. Kibum tersenyum, ya ampun, apa soal-soal itu membuatnya mengantuk?

Tanpa ia sadari, sudah beberapa menit ia hanya diam sambil memandangi Heerin yang tertidur pulas. Ia tersentak melihat Heerin mulai bergerak. Ah, bukan bergerak. Lebih tepatnya, tangan yang menopang kepalanya itu bergerak dan membuat kepalanya tidak ada sandaran lagi.

Kibum yang kaget buru-buru menahan kepala Heerin yang hampir saja terantuk meja jika tidak segera ia tahan. Ya ampun, kenapa ia jadi sepanik ini? Ia sendiri tidak mengerti.

Heerin mengerjap bangun. Namun saat ia membuka matanya, ia ternyata tidur di atas sofa. bukan di dekat meja seperti yang terakhir diingatnya. Pasti Kibum yang sudah memindahkannya. Ia menoleh ke arah meja tempatnya belajar tadi. Heerin segera bangkit karena Kibum masih berada di sana.

“Mianhae.. aku ketiduran..” Heerin segera duduk di tempatnya semula. Kibum tidak menjawab. Dia tampak serius mengotak atik buku di hadapannya. Heerin memperhatikan baik-baik. Omo, bukankah itu..

“Dari 80 soal yang kau jawab, kau benar 68. Ini kemajuan pesat.” Kibum tersenyum lalu menyerahkan buku yang tadi ia periksa. Heerin mengangguk malu. Bahkan di saat ia tidur, Kibum tetap sibuk belajar.

“Seharusnya aku bisa benar semua..” ujar Heerin kecewa. Ini kan hanya soal level 1. Masa level mudah saja ia masih ada yang salah.

“Gwaenchana. Semuanya butuh proses”

Heerin melirik jam dinding di belakang Kibum. Ia mengerjap kembali.
“Omona.. aku tidak tahu kalau sekarang sudah malam. Aku harus segera pulang” Heerin segera membereskan buku-buku dan peralatan tulisnya ke dalam tas.

Kibum menatap Heerin kecewa. “Secepat itu kah? Sekarang kan baru jam 7 malam”

“Aku tidak boleh pulang lebih dari jam 8 malam. Atau Appa akan menghukumku.” Heerin segera pamit pergi. Kibum hanya bisa pasrah. Dengan perginya Heerin, artinya ia akan kesepian kembali di apartement mewahnya itu.

@@@

Sejak hari itu, Heerin semakin giat belajar. Bimbingan belajar dengan Kibum pun terasa semakin menyenangkan. Heerin mendengarkan dengan baik apa yang Kibum ajarkan . Ia harus mendapatkan nilai baik di ujian kali ini karena ia ingin sekali membuat Kibum terkesan padanya. Ia ingin setidaknya bisa menyamai kemampuan akademis Kibum meskipun hanya setengahnya.

Hari ujian tiba. Heerin menarik nafas dalam lalu menoleh pada Kibum yang memberikannya semangat sebelum mereka masuk ke ruang ujian.

“Kau pasti bisa.”

“Jika aku berhasil, itu semua berkatmu,” ujar Heerin tulus. Kibum menggeleng.

“Bukan. Semua berkat kerja kerasmu,” ralatnya. “Aku hanya menstimulan saja.”

Heerin tersipu. Kibum selalu rendah hati seperti ini dan itu membuat perasaan yang ada dalam hatinya kian membesar.

“Jika kau berhasil mendapatkan nilai bagus, aku akan memberimu hadiah,” bisik Kibum sebelum mereka benar-benar masuk ruangan. Heerin mengerjapkan mata berkali-kali. Ia menatap punggung Kibum dengan raut tak percaya. Apa benar Kibum akan memberikannya hadiah? Hadiah apa kira-kira? Seperti mendapatkan semangat, Heerin mengepalkan tangannya erat, lalu meninjunya ke udara.

“Aku bisa!!!” teriaknya lalu menyusul Kibum memasuki ruangan. Seperti biasa, St. President selalu mengadakan ujian di aula yang mereka set menjadi ruang ujian terbuka. Itu agar mereka bisa lebih mudah mengawasi jalannya ujian.

Dan tibalah pengumuman hasil ujian akhir itu di umumkan. Semua murid tingkat tiga berkerumun di sekitar papan informasi yang terletak di samping perpustakaan. Heerin memaksakan diri menyeruak masuk untuk melihat hasil ujiannya. Dipindainya cepat kertas besar berisi hasil ujian yang diurutkan berdasarkan nilai. Ia melewatkan bagian Top 50 karena tidak mungkin ia masuk daftar itu.

“Kau menemukan namamu?” tanya Luna setelah berhasil tiba di samping Heerin.

“Belum. Ah, namamu ada di urutan ke 80!” seru Heerin saat menemukan nama Luna. Ia terus memindai dan hampir putus asa ketika tiba di urutan 100 masih belum juga menemukan namanya.

“Ahhh, ketemu!!”

Heerin menemukan namanya berada di urutan ke 108 dari sekitar 200 murid tingkat tiga! Heerin melonjak senang dan segera memeluk Luna karena hasil ujiannya lebih baik dari yang ia perkirakan. Setidaknya ia tidak berada di urutan ke 200 seperti sebelumnya. Semuanya berkat kerja kerasnya yang dibantu Kibum. Heerin melirik kertas dengan deretan nama yang masuk Top 50. Ia tersenyum. Seperti sebelumnya, yang berada di posisi teratas tetap ditempati Kim Kibum di susul oleh Cho Kyuhyun yang menempati urutan ke dua. Tanpa sadar ia mendesah berat. Jika ia ingin menyamai Kibum, harus berapa puluh orang yang mesti ia kalahkan? Ah, perjuangan berat.

“Selamat.. itu artinya kau tidak perlu ikut bimbingan belajar lagi..” ujar Luna membuat Heerin tersadar dari sisi buruk dari hasil ujian bagusnya.
“kau benar..” Heerin langsung cemberut. Bimbingan belajar berakhir dengan kenaikan nilainya.

“Huaaaa.. lagi-lagi Uri Kibum berada di urutan no.1!!” teriak Eunhyuk membuat keributan di sekitar papan pengumuman itu. Pantas saja mendadak suasana menjadi ramai. Ternyata gerombolan anak-anak platinum itu ada di sana.

Heerin melirik Kibum yang tersenyum lebar tengah dirangkul oleh Siwon. Anak itu menanggapinya dengan senyuman. Itu memang sudah menjadi ciri khas seorang Kim Kibum.

“Gagal lagi aku mengalahkanmu” keluh Kyuhyun sambil mengerucutkan bibirnya.

“Sekali-kali kau harus berkencan dengan buku. Jangan dengan PSPmu itu.” Ujar Siwon menahan tawa. Donghae langsung memekik histeris.

“Jangan! Jika dia berpacaran dengan buku, aku makin sulit mengalahkannya!” bantah Donghae. Kyuhyun yang selalu bermain game saja sulit dia kalahkan, apalagi jika anak itu benar-benar belajar.

Kibum menyadari sejak tadi Heerin berada tak jauh darinya. Ia menyingkir sebentar lalu menghampiri gadis itu. Ia melirik papan dan tersenyum ketika menemukan nama Heerin naik jauh dari hasil ujian sebelumnya.

“Wah, selamat .. aku lihat nilaimu meningkat drastis.”

“Iya. Ini semua karena bimbinganmu..” ucap heerin malu-malu. Ia baru ingat perkataan Kibum minggu lalu. Bukankah Kibum akan memberikannya hadiah jika ia berhasil meraih nilai bagus?

“Ah, hadiah. Kau berjanji memberiku hadiah jika aku mendapat nilai bagus!” Heerin menggucang lengan Kibum seperti anak kecil yang menagih janji pada ibunya.

“Ah, iya.”

Dari jauh, Eunjung yang tanpa sengaja melihat kembali keakraban Kibum dan Heerin langsung tersulut api. Ia bergerak dengan langkah lebar menghampiri Kibum lalu berteriak. Kibum yang hendak mengambil sesuatu dari kantong jasnya berhenti lalu menoleh.

“Kibum, kau lupa siang ini ada janji makan siang denganku.” Ujarnya manja sambil menggandeng Kibum. Sempat terlihat ekspresi malas di wajah Kibum, namun buru-buru ia tersenyum ramah kembali. Teman-temannya hanya bisa menghela napas. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mencegah Ham Eunjung melakukan apa yang diinginkannya.

Heerin merasa iri melihat Eunjung bisa dengan bebas mendekati Kibum. Dan sekarang gadis itu membawa Kibum pergi dari hadapannya. Ia tidak bisa mencegahnya sama sekali.

“Wah, Eunjung itu benar-benar yeoja tangguh” Luna menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Eunjung.

“Kau tahu Heerin, dia sudah mengejar-ngejar Kibum sejak tingkat 1” bisik Luna,

“Benarkah? Lalu kenapa Kibum tidak menerimanya?” Heerin terkejut.

“Aku tidak tahu. Yang pasti tipe gadis Kibum bukan sepertinya.”
Heerin jadi ingin tahu, seperti apa tipe cewek bagi seorang Kim Kibum.

“Ah, iya.. kau ingin masuk universitas mana, Heerin?” tanya Luna lagi. “Pak Nickhun memberi kita selebaran tentang universitas yang diinginkan berikut jurusannya bukan? Kau sudah mengisinya?”

Heerin teringat hal itu dan ia belum mengisinya sama sekali. Memang sebentar lagi akan masuk ujian akhir dan mereka harus segera belajar untuk ujian masuk Universitas. Ia menoleh ke arah Kibum pergi. Sekarang Heerin hanya ingin masuk universitas yang sama dengan Kibum.

“Entahlah. Aku ingin kuliah nanti tetap satu kampus dengan Kibum” ujar Heerin sambil mengerucutkan bibir. Luna berhenti melangkah, lalu menoleh dengan ekspresi tak percaya.

“Kibum? Hahaha..” Luna tertawa kencang.

“Waeyooo?” Heerin mendelik bingung. Apanya yang lucu? Memangnya salah jika ia ingin satu kampus dengan Kibum.

Luna berusha menghentikan tawanya. “Menyerahlah Heerin. Kudengar dia ingin masuk Kyunghee. Kau tahu kan? Hanya orang pintar yang bisa masuk sana.”

“Mwo??? Kyunghee??” percaya diri Heerin langsung drop begitu mendengarnya. Wajahnya memucat dan tak perlu waktu lama untuk tahu alasan Luna tertawa sekencang itu. Dengan kemampuan akademiknya sekarang, mustahil baginya untuk masuk universitas kelas tinggi semacam Kyunghee University. Heerin menundukkan kepala sedih. Ucapannya barusan memang tak lebih dari sekedar lelucon yang pantas ditertawakan sampai satu bulan ke depan.

Mengapa ia harus jatuh cinta pada seorang Kim Kibum yang begitu sulit diraih? Apa ia harus menyerah saja atau, berusaha lebih giat untuk bisa mencapai cintanya?

To be continued

69 thoughts on “Miracle Love Story (Part 2)

  1. wah…knp disklh ku tk ada geng kyuhyun ya???kalau ada ma…udah semangat terus utk kesekolah….ini kpn dilanjutnya???makin seru thor…

  2. kpn dlnjutin thor?aq sk crtanya..keren..

    pasangan ajaib antra kim bum dan heerin..aq sk sm psangan ini..
    beda tp slg mlengkapi..

  3. Ping-balik: Miracle Love Story [Chapter 3] | Dha Khanzaki's Fanfiction

  4. ya ampun eunjung bener bener deh tuh cewek…. kasian kibum ga seneng tapi terpaksa harus ngeladenin eunjung…. ayo heerin belajar giat biar bisa kuliah bareng kibum… lucu sama donghae…. ga mau kyuhyun pacaran sama buku takut ga bisa ngalahin kyuhyun…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s