I Hate You, But.. (Part 13)

Tittle : I Hate You, But.. Part 13
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life, thriller

contact me on : @julianingati23

Main Cast :

  • Choi Siwon
  • Kim Soeun

Dha’s Speech :
FF ini tinggal 2 episode lagi.. hiks..bakal berpisah ama satu FF lagi. Perasaannya sedih, seneng, lega campur aduk semua. Aku mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya buat temen-temen yang masih setia ngunjungin site ini buat baca FF abal-abal aku. Makasih banyak.

Happy Reading ^_^

I Hate You, But 2 by Dha Khanzaki

===Part 13===

So Eun mungkin masih membeku di tempatnya jika suara ramah Eun Ji tidak terdengar. Wanita itu tersentak lalu matanya yang bulat mengerjap beberapa kali berusaha memastikan sosok di depannya bukanlah fatamorgana. Setelah sadar, susah payah ia mengeluarkan suara. “Aku tidak menyangka kau akan kemari.”

Eun Ji tertawa ringan sambil membenarkan letak sampiran tali tas di pundaknya. “Aku hanya ingin berkunjung, sudah cukup lama aku tidak kemari. Boleh aku masuk?”
So Eun yang tersadar ia sudah berlaku tidak sopan pada tamu segera membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Eun Ji masuk.
“Siwon Oppa tidak ada di sini, ya, jika kau ingin bertemu dengannya.”
Eun Ji berhenti mengamati apartemen lalu menoleh pada So Eun, “Mengapa kau berpikir aku kemari untuk bertemu Choi Siwon?”

Ucapan Eun Ji membuat So Eun terperanjat dan tergagap di saat yang bersamaan. Eun Ji benar, kenapa ia berpikir seperti itu? Astaga, ia sudah berpikir yang tidak-tidak.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tetapi bukankah sebelumnya kau kemari untuk bertemu dengannya?” So Eun tidak bermaksud menyinggung Eun Ji, tetapi bukankah memang begitu kenyataannya?

Eun Ji tahu kejadian mana yang dimaksud So Eun, karena itu ia hanya tersenyum simpul. “Aku ingin bertemu denganmu, tentu saja.” ekspresi Eun Ji benar-benar tulus ketika mengatakannya karena itu So Eun tidak bisa memikirkan hal buruk lagi tentangnya. Ia segera memaparkan senyum ramah.
“Tentu saja aku tahu,” So Eun berjalan menuju dapur untuk menyiapkan minuman. Ia mempersilakan Eun Ji duduk di kursi tinggi yang ada di depan meja bar kecil dekat dapur.
“Bagaimana kabarmu?” So Eun bertanya tetap dengan tangan yang tetap sibuk membuatkan teh untuk Eun Ji.
“Baik-baik saja,”

So Eun mencoba mengabaikan cerita yang didengarnya dari Je Young. Setelah mengamati Eun Ji hari ini bagaimana pun gadis itu terlihat normal dan sangat sehat. Mungkin Eun Ji memang sedang sakit ketika mereka bertemu di rumah sakit waktu itu.

Eun Ji menggumamkan kata terima kasih begitu So Eun meletakkan secangkir teh di depannya lalu duduk di kursi lain tepat di sampingnya.
“Kau benar-benar berbeda dengan istri kebanyakan,” Eun Ji menatap So Eun kagum. “Kau tidak marah dan membiarkan mantan kekasih suamimu masuk ke dalam rumahmu.”
So Eun tersenyum malu karena ia merasa Eun Ji sedang memujinya, “Bukankah kita berteman?” ujarnya dengan pandangan lembut. Sontak Eun Ji membelalakkan mata mendengar kata ‘teman’ yang sudah lama tidak didengarnya dari orang. Selama ini ia tidak pernah benar-benar memiliki seorang teman.
“Jika aku terus terpaku pada masa lalu, bagaimana aku bisa menjalin hubungan baik dengan seseorang di masa depan? Aku percaya padamu bahwa kau tidak akan melakukan hal jahat lagi.”

Eun Ji hanya mengangguk ringan, ia mengambil cangkir teh lalu menyeruputnya sedikit. Ucapan So Eun membuat hati bergemuruh Eun Ji sedikit teredam. Eun Ji terus meyakinkan diri bahwa So Eun adalah gadis baik. Ia terus memprovokasi pikirannya sendiri dengan hal-hal positif.
“Apakah Siwon memperlakukanmu dengan baik?”
“Ya, dia sangat baik. bahkan dia semakin romantis semenjak aku mengandung,” So Eun mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. kemudian So Eun mulai menceritakan tentang betapa romantisnya Siwon padanya dan bagaimana pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.

Eun Ji harus mencengkram cangkirnya karena tiba-tiba saja hatinya seperti terbakar. Aku tidak boleh lepas kendali, aku tidak boleh lepas kendali. So Eun gadis baik, dia menganggapku teman. Terus saja Eun Ji mengulang kalimat itu. Tangannya sampai bergetar dan buku jarinya memutih. Ia bahkan mengabaikan bahwa cangkir itu berisi teh panas yang bisa melepuhkan kulit putihnya.

Namun sekuat apapun ia berusaha, bisikan-bisikan setan itu terus mengusiknya.

—o0o—

Donghae tidak bisa berkonsentrasi, ia mengurut keningnya sendiri dan menyerah dengan pekerjaannya. Ia menoleh pada telepon yang terletak di sisi kiri meja kerjanya, ragu-ragu apakah ia harus menelepon So Eun untuk memastikan keadaannya ataukan menelepon Eun Ji untuk bertanya keberadaan gadis itu.

Seandainya Donghae tidak terusik kata-kata Eun Ji, ia tidak akan semumet ini.

Flasback

Donghae terkejut saat ia duduk di samping Eun Ji, gadis itu tiba-tiba berkata dengan suara lirih.
“Aku sudah berusaha melawannya, sungguh. Tapi aku tidak bisa..” kedua sudut matanya mengalirkan airmata. Donghae tercengang. Sebelum ia sempat menyadari kondisi Eun Ji, gadis itu memeluknya tiba-tiba.
“Kumohon, Donghae-ssi..tolong aku..”

Donghae tercengang, apa sebenarnya yang terjadi? Ia bertanya-tanya sendiri. Karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia hanya bisa balas merangkul Eun Ji.
“Apa telah terjadi sesuatu?” bisiknya penasaran sekaligus cemas. Eun Ji melepaskan pelukannya pelan-pelan. Gadis itu menunduk dengan tangan meremas bajunya erat. Donghae bingung dengan sikap aneh Eun Ji malam ini. Gadis ini terlihat begitu berbeda.

“Aku sudah mencoba menghilangkannya, aku sudah berusaha melawannya hingga saat ini namun aku tidak bisa, dalam otakku hanya terlintas pikiran untuk melenyapkan semua hal yang menggangguku. Semua itu membuatku takut, membuatku tidak bisa tidur nyenyak, bahkan aku selalu merasa membenci semua orang yang membuatku seperti ini. Aku benci..” Eun Ji mencengkram erat rambutnya. Donghae tersentak lantas berusaha menghentikan ulah Eun Ji yang seolah ingin seluruh rambut di kepalanya terlepas.
“Chankamman, Eun Ji..” Donghae menurunkan tangan Eun Ji. Setelah Eun Ji menjadi lebih tenang, ia menatap gadis itu dengan penuh perhatian. “Sebenarnya apa yang terjadi?”

Eun Ji yang ditatap penuh perhatian oleh pria, untuk pertama kalinya setelah Siwon menikah dengan So Eun merasa begitu terharu hingga dari kedua sudut matanya mengalirkan airmata.
“Aku takut, aku takut diriku lepas kendali lagi..kumohon cegah aku melakukannya..”
Donghae terenyuh, antara simpati dan kasihan melihat Eun Ji menangis seperti ini. Ia masih tidak mengerti dengan masalah yang dialami Eun Ji. Tetapi siapapun yang menatap mata Eun Ji sekarang, pasti akan berpikir Eun Ji sedang menghadapi sesuatu yang sangat berat. Sesuatu yang begitu memilukan dan tak sanggup membuatnya hidup lagi.
“Aku..” Eun Ji berkata dengan suara terisak, “Aku tidak mau membunuh orang lagi. Aku tidak mau..”

Donghae terbelalak mendengarnya. Membunuh? Gumamnya tercengang.
“Hanya karena aku diperlakukan tidak adil, aku tidak ingin melampiaskan rasa kesalku pada orang-orang yang sudah membuatku menderita..aku takut..” Eun Ji menangis, suara tangisannya terdengar begitu memilukan. Donghae hanya bisa terpaku di tempatnya, sejujurnya, ia masih tidak paham maksud dari kata-kata Eun Ji.

Flasback End.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kata-kata Eun Ji? Gadis itu berkata takut membunuh orang lagi dan tidak mau melampiaskan rasa kesalnya karena diperlakukan tidak adil pada orang-orang yang telah membuatnya menderita? Kenapa Donghae merasa Eun Ji memiliki masalah dengan kejiwaannya? Tidak mungkin. Gadis itu terlihat sangat normal. Kau bodoh Donghae jika sudah berpikir seperti itu. Donghae memaki dirinya sendiri.
Jika Eun Ji memang sudah sangat frustasi dan berniat melakukan niatnya, sasarannya pasti Siwon atau Eun Ji.
“Ah, aku bisa gila!!” Donghae berteriak sendiri. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan mondar mandir. Ia menoleh kembali pada telepon dan memutuskan untuk menelepon Siwon saja.
“Yeobseo,” tak butuh waktu lama Siwon mengangkat panggilannya.

Donghae segera mencecar Siwon dengan pertanyaan yang sudah menari-nari dalam pikirannya.
“Apa So Eun berada sendirian di apartemen?”
“Ne, waeyo?”

Donghae mencengkeram gagang telepon, ragu apakah harus mengutarakan pikirannya. “Um, apa Eun Ji berkunjung ke apartemenmu hari ini?”
“Aku tidak tahu. Kenapa?”
“Ani, aku akan menghubungimu lagi nanti.” Donghae segera memutuskan sambungan sadar bahwa tindakannya terlalu awal. Ia terlalu mencurigai Eun Ji dan mengait-ngaitkannya dengan So Eun. Bisa saja masalah Eun Ji bukan hanya So Eun dan Siwon. tetapi kata-kata Eun Ji sungguh mengusiknya.
Akhirnya Donghae memutuskan menghubungi So Eun.

—o0o—

Setelah Donghae memutuskan sambungan, Siwon tidak bisa bekerja dengan tenang karena pikirannya teralih pada istrinya tercinta yang ia tinggal di rumah. Ia terusik karena Donghae menyinggung tentang Eun Ji. Apa pria itu tahu Eun Ji akan berkunjung ke rumahnya sehingga bertanya?
Lebih baik ia menanyakannya saja langsung daripada menebak-nebak sendiri. Siwon segera menghubungi istrinya.

Siwon menanti hingga hubungan tersambung dengan perasaan gelisah, “Yeobseo,” serunya senang ketika So Eun mengangkat panggilannya.
“Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa Eun Ji ada di sana? Jinjja? Kenapa, tidak, aku hanya heran karena tadi Donghae menelepon dan bertanya soal Eun Ji. Dia tidak melakukan apapun padamu bukan? Tidak? Syukurlah.” Siwon mendesah lega, “Kalau begitu sampaikan salamku pada Eun Ji. Ya, aku akan pulang segera. Jaga diri di rumah dan jika ada hal yang aneh segera hubungi aku.”

Siwon kira hatinya akan lega setelah menelepon So Eun, ternyata ia justru merasa semakin gelisah. Terusik oleh perasaan cemas yang tidak bisa dijelaskannya. Ini firasat aneh, Siwon curiga ini ada kaitannya dengan keberadaan Eun Ji di rumahnya. Ia sudah mengenal tabiat Eun Ji selama berpacaran dengannya dulu. Gadis itu tidak pernah benar-benar menyukai sesuatu jika sudah pernah membencinya sekali.
“So Eun,” lirihnya cemas. Ia harus pergi mengecek So Eun langsung agar hatinya bisa tenang. Siwon menelepon sekretarisnya untuk memberitahunya kemana ia akan pergi setelah itu ia bergegas pergi untuk menemui istrinya.

—o0o—

“Hal yang paling romantis dari Siwon adalah ketika dia mengusap perutku sambil bernyanyi sebelum aku tidur. Padahal siapapun tahu suaranya sumbang sekali tetapi aku sangat menghargai usahanya membuatku tidur nyenyak.” So Eun masih menceritakan kisah pernikahannya yang bahagia tanpa menyadari Eun Ji yang diam-diam menatapnya kejam.

Gadis itu penyebabnya. Dia yang sudah membuatmu menderita. Gadis itu harus dilenyapkan agar kau bisa bersama Siwon. suara itu kembali berbisik. Eun Ji menggelengkan kepalanya. Ia meremas bajunya sendiri dengan kencang demi mengenyahkan suara itu.

“Kau tahu, kami sudah menyiapkan nama untuk anak kami.” Ujar So Eun lagi. Eun Ji memaki dalam hati, meminta So Eun menyudahi ceritanya karena ia sudah tidak sanggup lagi. Eun Ji memejamkan mata sejenak setelah itu ia berkata.
“Sepertinya aku harus pulang.”

“Cepat sekali, kita baru berbincang sebentar.” seru So Eun kecewa. Eun Ji tersenyum palsu sambil turun dari tempat duduknya, “Ada urusan yang harus kuselesaikan.” Ia memang harus pergi sebelum suara-suara aneh itu semakin menggema, menyuruhnya untuk lepas kendali. So Eun memang sudah menghancurkan kebahagiaannya, tetapi bukan berarti ia harus melenyapkan gadis itu.

Tiba-tiba saja ponsel So Eun berdering, gadis itu mengangkatnya dengan wajah ceria, “Oh, Oppa.” Seru So Eun. Itu pasti panggilan dari Siwon, batin Eun Ji. “Aku sedang di rumah,” So Eun lalu menoleh pada Eun Ji, “Eun Ji memang berkunjung hari ini, waeyo? Apa? Donghae Oppa menanyakan hal aneh tentang Eun Ji?”

Rahang Eun Ji mengeras ketika So Eun menyebutkan tentang Donghae. Bagaimana bisa Donghae mencurigainya? Memang apa yang sudah dikatakannya pada pria itu?

“Aneh sekali,” gumam So Eun sambil menoleh pada Eun Ji yang berdiri kaku, ia memiringkan kepalanya. “Tidak biasanya Donghae Oppa menanyakanmu. Apa kalian benar-benar menjalin hubungan khusus?”
Eun Ji sadar So Eun sedang bertanya padanya, ia segera menepis pikiran melanturnya lalu tersenyum. “Begitulah,”
So Eun mengangguk-angguk, “Jadi begitu, Donghae Oppa mengatakan kalian hanya teman biasa.”

Eun Ji tidak menjawab, bahkan hanya berdiri kaku di tempatnya. Ia mulai kehilangan kesadaran dirinya lagi. “Tapi kenapa Siwon Oppa juga ikut menanyakanmu? Sepertinya dia cemas sekali.”

Mendengar nama Siwon disebut membuat Eun Ji tersentak, sesuatu dalam hatinya mendadak saja bergemuruh dan mendidih. Eun Ji merasakan kedinginan yang menusuk, ia melirik So Eun yang tersenyum ramah padanya, lalu kembali terdengar dering ponsel. So Eun terlihat berbicara riang di telepon. Eun Ji tidak begitu menyimak apa yang dibicarakan So Eun.

“Kenapa pria-pria itu bertingkah aneh hari ini? Sepertinya mereka terlalu curiga karena kau berkunjung hari ini,” canda So Eun. Eun Ji hanya menatapnya kosong.

So Eun mengajukan pertanyaan padanya namun telinganya tidak bisa menangkap apa pertanyaannya. Semuanya hening, yang terdengar hanya bisikan-bisikan aneh.

Dia yang sudah mengacaukan hidupmu. Dia yang sudah mengacaukan segalanya. Seandainya dia tidak muncul, kau sudah bahagia saat ini. Seandainya dia tidak ada, mungkin segalanya bisa lebih mudah.

Eun Ji sudah gelap mata. Dirinya betul-betul dipengaruhi sisi gelap yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun. So Eun tidak menyadari perubahan ekspresi dan auranya yang tiba-tiba berubah gelap. Eun Ji tidak sadar sama sekali kini di tangannya ada sebuah pisau dapur.

“Aku akan mengantarmu sampai depan, kebetulan aku ingin membeli—“ kata-kata So Eun terhenti ketika ia berbalik menghadap Eun Ji, gadis itu memegang pisau yang mengarah padanya. Matanya membelalak dan ia melihat bola mata Eun Ji kosong, seperti terhipnotis. Gadis itu bergerak ke arahnya.
“Eun Ji-ssi, kau kena—“ So Eun bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba saja sesuatu seperti menyendat tenggorokannya. Rasa sakit yang menyengat pun menjalar ke seluruh tubuhnya yang berasal dari pisau yang dihunuskan Eun Ji ke salah satu bagian tubuhnya.

“Eun Ji..” susah payah So Eun berkata, menatap Eun Ji dengan ekspresi nanar. Ia tak percaya Eun Ji tega menusuknya seperti ini. Ia jatuh berlutut sambil memegang tangannya yang masih tertancap pisau dapur. Darah mulai mengalir deras membasahi lantai dan sebelum kesadarannya hilang, ia masih melihat Eun Ji berdiri kaku dengan pandangan dingin.

Tepat ketika mendengar suara So Eun yang terkapar di lantai, Eun Ji tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali laksana orang yang baru tersadar dari hipnotis. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan ketika melihat So Eun terkapar dalam kondisi berlumuran darah, tenggorokannya seperti tercekik. Ia menahan napasnya terkejut.

Apa aku yang melakukannya? Sekujur tubuh Eun Ji bergetar ketakutan. Eotteohke? Apa yang harus kulakukan? Tiba-tiba saja sekelebat bayangan serupa kembali muncul dalam memori otaknya. Bayangan seseorang yang terkapar dalam kondisi serupa di sebuah kamar.
Tidak, bayangan apa itu..

“Tidaakkk..” Eun Ji mencengkeram rambutnya sendiri dan jatuh terduduk kehabisan tenaga. Ia bagai diteror rasa takut yang dulu pernah membuatnya frustasi dan dirawat oleh psikiater. Napasnya tersengal, bahkan Eun Ji merasa dadanya begitu sakit. Ia sudah membunuh.. ia sudah membunuh untuk kedua kalinya. Ia ingat sekarang. bayangan seseorang yang terkapar itu adalah bayangan jasad ibunya yang ia bunuh dengan tangannya sendiri.

Ia harus menolong So Eun kali ini. Ia tidak mau disebut pembunuh, So Eun tidak boleh mati karena tindakan sisi gelapnya. Seluruh akal Eun Ji seolah kembali namun ketika ia akan bangkit tiba-tiba saja pintu menjeblak terbuka dan sosok yang masuk membuat Eun Ji membelalakkan mata.

“Siwon..” tamatlah riwayatku.

—o0o—

Siwon merasakan firasat buruk yang aneh. Ini tidak wajar dan pikirannya langsung tertuju pada So Eun. Istrinya berada di rumah, dalam kondisi hamil dan bersama mantan kekasihnya. Tidak ada alasan bagi Siwon untuk tetap duduk tenang di kantornya. Karena itu sekarang ia dalam perjalanan kembali pulang.

Ketika tiba di depan gedung apartemennya, ia berpapasan dengan Donghae yang berjalan cepat dengan langkah lebar. Wajahnya tampak tegang.
“Ada apa?” Siwon menyusulnya. Donghae menoleh dan mendesah lega melihat Siwon ada di sana.
“Eun Ji, ada yang tidak beres tentangnya. Aku harus memastikan So Eun baik-baik saja.”
Mendengar pernyataan Donghae, Siwon semakin was-was, “Apa maksudmu?”
“Sebaiknya kita periksa istrimu terlebih dahulu.”

Siwon mendahului Donghae memencet tombol lift dan menunggu dengan tidak sabar hingga pintu lift membuka. Kata-kata Donghae tadi terus menghantuinya, membuat seluruh tubuhnya tidak tenang, gelisah, dan panik. So Eun, semoga kau baik-baik saja, Siwon berdoa. Begitu pintu lift terbuka, ia segera masuk diikuti Donghae. Siwon bahkan menekan lantai apartemennya berkali-kali karena cemas dan tidak sabar.
“Kenapa liftnya bergerak lambat sekali!” keluh Siwon, kakinya bergerak resah sementara Donghae mengerutkan keningnya. Isi kepalanya dipenuhi oleh kepingan memori pertemuannya dengan Eun Ji malam lalu. Cara berbicara gadis itu terdengar begitu frustasi dan di sisi lain terkesan seolah meminta tolong. Eun Ji meminta seseorang mencegahnya melakukan sesuatu. Ah, segala tanda tanya ini akan membuatnya gila.

Begitu lift berdenting, Siwon lekas angkat kaki keluar dan berlari kencang menuju apartemennya. Mulutnya terus bergumam berharap ketika ia membuka pintu, ia mendapati So Eun baik-baik saja. Ia segera membuka pintu dan bergegas masuk.

“Yeobo…” Seluruh kalimat Siwon seperti tersedot vacum cleaner ketika ia melihat pemandangan di depannya saat ini. Seperti ada pisau yang memotong paksa urat nadi di lehernya dan ia tidak bisa bernapas, sekaligus merasa sakit yang menjengit melihat istrinya terkapar di lantai, bersimbah darah yang berasal dari luka di lengannya. Ia terbelalak dan dunianya seperti terhenti.
“SO EUN !!!” Siwon berteriak histeris. Ia menghambur ke sisi istrinya, segera merangkul tubuh lemah So Eun ke pelukannya, “So Eun, ireona. Jangan membuatku panik sayang,” Siwon hampir saja menangis ketika ia menepuk-nepuk pipi istrinya, tak ada reaksi sedikitpun. Terlebih karena sekujur tubuh gadi situ mulai mendingin. Tidak ada waktu untuk menelepon ambulans, dengan cekatan Siwon mengangkat tubuh So Eun dan membawanya pergi. ia bahkan tidak mempedulikan apapun, atau menyempatkan diri menoleh pada Eun Ji.

Donghae membeku di tempatnya. Seperti ada gempa yang mengguncang tempatnya berpijak, ia berpegangan pada dinding di dekatnya. Ia menyesal, setelah melihat semua ini ia menyesal kenapa tidak menyadari ucapan Eun Ji lebih cepat. Eun Ji? Donghae segera menolehkan pandangannya pada sosok lain yang sejak tadi terabaikan.

Eun Ji masih duduk di tempatnya, menyesal karena membiarkan dirinya lepas kendali. Seluruh tubuhnya bergetar, ia bahkan tidak kuasa menahan airmatanya sendiri. Menyadari Donghae menatapnya, kepalanya terangkat perlahan dan ketika pandangan mereka bertemu, ia menemukan Donghae menatapnya iba, prihatin, dan penuh penyesalan. Ekspresi itu membuatnya lebih sakit lagi. Semuanya seperti palu yang membuatnya sadar bahwa ia memang seorang pembunuh. Ia bersalah atas semua ini.

“Aku..aku melakukannya..aku..aku..” Eun Ji menangis lirih. Ia menatapi tangannya sendiri yang masih bersimbah darah So Eun. “Aku sudah membunuhnya..AKU SUDAH MEMBUNUHNYA!!!!” Eun Ji berteriak. Ia menjambak rambutnya sendiri seperti orang gila. Ia sangat takut, tubuhnya menggigil kedinginan meskipun peluh terus membanjiri pelipisnya.

“Aniyeo.”

Tiba-tiba Donghae berkata. Eun Ji berhenti histeris dan menatap pria itu. Pandangannya masih kabur, ia tidak bisa melihat Donghae dengan jelas. “Kau bukan pembunuh. Kau tidak pernah bermaksud membunuhnya.” Kalimat itu terdengar begitu lugas di telinga Eun Ji, membuatnya merasa begitu lega namun sedih di saat yang bersamaan. Detik itu juga, Eun Ji menangis meraung-raung meratapi perbuatannya sendiri.

—o0o—

Siwon membuat keributan begitu tiba di rumah sakit. Ia berteriak membabi buta, meminta semua dokter dan perawat di sana agar menolong istrinya. So Eun segera dibawa ke ruang IGD dan operasi pun dilaksanakan. Orang tua mereka tiba ketika operasi masih berlangsung. Eomma So Eun menangis histeris dan sempat pingsan beberapa kali saat melihat kondisi pakaian Siwon yang penuh darah karena tidak kuasa membayangkan bagaimana kondisi putrinya di dalam sana. Donghae muncul beberapa saat kemudian. Ia membantu suster menenangkan Eomma So Eun.

Kumohon, bertahanlah sayang. Aku masih membutuhkanmu di sini. Kau harus tetap hidup, jangan pergi dan membawa anak kita ikut bersamamu. Siwon terus berdoa. Ia duduk di sudut kursi sendirian, ia bahkan tidak ingat untuk mengganti baju atau sekedar mencuci tangannya yang masih bernoda darah. Ia hanya memikirkan keselamatan istri dan bayi yang dikandungnya. Sebagai seorang suami ia merasa tidak berguna. Ia menyesal kenapa tidak bertindak cekatan. Seharusnya ia menanggapi firasatnya lebih cepat. Seharusnya ia menyuruh So Eun tinggal bersama ibunya selama ia bekerja. Ah, tidak, sejak awal semua salahnya karena tidak menjaga So Eun.

Siwon yang masih terbayang pemandangan buruk saat So Eun tergeletak di lantai. Ia trauma, dan merasa begitu ngeri sekaligus ketakutan setiap kali bayangan kelam itu terlintas di benaknya. Ia lekas menggelengkan kepala sebelum ia berteriak histeris dan kehilangan akalnya.

Tidak ada seorang pun yang berani bersuara selama dokter belum keluar dari ruang operasi dan memberi mereka kabar gembira. Kecanggungan menggantung di udara.Kegelisahan yang membuat tenggorokan terasa tercekat. Eomma Siwon bahkan sudah tidak bisa menahan kesedihannya lagi. Ia mulai terisak, teringat kondisi menantunya yang sedang mengandung.

Siwon sudah sepuluh kali melirik jam tangannya dengan gelisah. Ia bahkan sampai menonaktifkan ponselnya yang terus berdering karena Siwon tak kunjung kembali ke kantor. Ia tidak akan pernah beranjak sebelum ia memastikan So Eun baik-baik saja. Perasaannya kacau balau, dan ia lupa kapan terakhir kali ia merasakan kegelisahan yang menyiksa seperti ini.
Akhirnya lampu ruang operasi pun mati, semua orang meloncat dari tempat duduknya dan mendekat begitu pintu terbuka. Dokter dan beberapa asistennya yang keluar disambut oleh wajah penasaran dan cemas keluarga pasiennya.
“Bagaimana keadaan istriku?”
“Apakah menantuku baik-baik saja?”
“Lukanya tidak parah bukan?”

Dokter hanya menghela napas lalu membuka maskernya menanggapi pertanyaan yang menyerbu di saat yang bersamaan. Ia meminta mereka berhenti. Kediamannya membuat Siwon dan yang lainnya terdiam dengan perasaan was-was. Lalu secara melegakan dokter itu tersenyum.
“Pasien baik-baik saja. Memang sempat terjadi syok karena banyaknya darah yang keluar tetapi kami sudah berhasil menanganinya. Kami sudah memberi pasien obat tidur. Dia tidak akan sadar selama kurang lebih 12 jam.”

Seketika setelah dokter selesai dengan penjelasannya, udara menjadi lebih ringan karena semua orang mendesah lega. Siwon benar-benar ingin menangis dan memeluk istrinya tetapi yang terjadi seluruh tubuhnya melemas dan ia menyandarkan tubuhnya ke tembok agar tidak jatuh.
So Eun, syukurlah kau baik-baik saja. aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku seadainya dokter itu keluar membawa kabar buruk.

Setitik airmata jatuh di sudut mata Siwon, airmata penuh rasa syukur.

TO BE CONTINUED

94 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 13)

  1. omo, kasian eun ji eonni. kasian juga so eun.
    ah makin penasaran sama part selanjutnya. keep writing eon.
    FIGHTING…!!!! :-))

  2. Nih salah satu ff yg ku tunggu” klnjutan ny, soal ny cast utama ny suami ku =D
    Author gomawo udh di lnjut, di part ini bener” tegang dri awal smpai akhir
    Aku udh gak sbr sma next part ny, berharap bayi eunso msh hidup
    Hwaiting thor !! Buat lanjutin dan bikin ff ny😉
    Aku sllu tunggu =))

  3. kyaaaa…. greget baca part ini. smpe triakm dlm hat “Andweee…. andweee… Eunji…” hhhh…
    Daebak.. next partnya jgan lama” ya eon..🙂

  4. Hmmmm
    liat kyu dsini kya’a aneh
    biasanya kn dy d cerita2 th orangnya eviiiilllll bgg tp dsini th kya’a dewasa trus sayang n setia bgt ma istrinya
    serem jg ya th c eun ji ternyata dy punya masalah kejiwaan
    untung siwon oppa jd’a sama so eun
    tp chingu jgn korbankan suamiku(dtampar fishy),masa dy yg sama eun ji
    mendingan suamiku sama adiknya kyu yg dokter itu jgn eun ji,seremmm
    tp ceritanya makin penasaran
    untung so eun gpp n untung jg nusuk’a g k perut’a…

  5. authooor, kewl banget. kok bisa sih kepikiran eun ji itu skizofrenia? wiw, seru loh hasilnya. aku kan jadi penasaran eun ji yg selama ini dianggap jahat. dan… penasaran juga hubungan segitiga antara eun ji – dong hae – dan (aduh lupa namanya) adiknya kyuhyun yg dokter itu.

    nice… aku mau nunggu kelanjutan.

  6. kyak’y eun ji btuh prawatn dech, dia udah mulai lpas kndali. Tau pling tdk diasingkn dlu jgn ktemu sma sso eonnie sma wonppa. Nanti klo udah smbuh bru tuh boleh ktemu lgi. Ksian jga Sso eonnie, untung eun ji nusuk’y g’k diperut klau tdk entah apa yk akan trjdi dgn bayi’y. Next part di tunggu ya thor ? Fighting !!! OYEEEHHHH….

  7. baru nyadaraku belum baca part ini,,, karna part end nya udah muncul ehh baru kepikiran heheheh…
    itu eun ji nya ky kena gangguan jiwa ya mungkin karna di tinggal ama siwon kali ya

  8. What the ?? Penyakit apa yg ada pd Eun Ji. knp dy jd sprt itu ??
    Gangguan kjiwaan itlh jwban.a !!
    Udh mw End jd hrs cpt2 bca^^

  9. eunji emang sakit jiwa , gimana bisa ngelakuin kayak gitu
    poor so eun😥
    gmana kandungannya ?
    semoga mereka berdua baik” saja

  10. Hiks..hiks…. Cerintanya makin seru…. Tp kok aq ngrasa ini kesalahan mengarah ke So Eun ya…. Eun Ji bgtu krna jiwanya trganggu, dia udh brusaha ngendalikan diri,,, tp So Eun malah manas2sin Eun Ji… Dlu So Eun marah krna Eun Ji blg tdr breng Siwon,,, skrg dia malah yg crita2 ttg kemesraannya di dpn Eun Ji,,, jd Eun Ji lepas kendali deh….. Hmmm complicated

  11. jadi si mbak lampir itu adalah sosok alter ego yang lepas kendali dalam diri eunji?? O_O jangan2 itu kali ya yang bikin bapaknya siwon ogah nerima dia jadi mantu.. >.< /anggepan saya, bapaknya siwon cenayang disini.. bisa tau orang sekali liat.. :3/

  12. Prihatin sama kejiwaan eunji.. Harus nya dia bisa mengendalikan dia gak tau apa itu bahaya?
    bisa buat siwon murka soal nya ada aegi juga kan…haeppa gue masih bgg dia suka apa justru prihatin ngeliat eunjii tau deh ahh

  13. Eun ji prnh jdi pembunuh ibunya.. OMG hello…
    Gk nyangka gw..

    Alhamdulillah so eun baik” saja pasca operasi…
    Lega ane…

  14. kasian juga sm eunji yg ky gitu. ga nyangka klo dia bs pny penyakit psikis. tapi aku jd penasaran latar belakang eunji b begitu.
    aku harap siwon dan so eun maafin eun ji krn eunji begitu krn dy sakit

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s