Unforgottable Love (Part 6-END)

Tittle : Unforgottable Love Part 6 END
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Lee Sungmin
  • Kim Taeyeon

 

Dha’s Speech :
Ini adalah cerita flashback dari Shady Girl Sungmin’s Story yang khusus menceritakan kisah Sungmin-Taeyeon.

Happy Reading.

Unforgottable Love by Dha Khanzaki

====Part 6 END====

Keadaan sempat menjadi hening. Sungmin di hadapkan pada pilihan tersulit sepanjang hidupnya. Kepalanya tiba-tiba terasa pening. Ia bergantian menatap Taeyeon yang tampak begitu pucat dan perutnya yang membuncit.

“Tidak!!” Taeyeon menyela panik. Di tengah rasa sakitnya ia berteriak menolak usul dokter Park. “Aku tidak mau bayiku mati, aku tidak mau..kumohon dokter, aku bisa melahirkannya dengan normal, kumohon..” Taeyeon tidak mau, ia sudah menanti kelahiran bayi ini selama sembilan bulan. Bahkan setiap malam ia memimpikannya. Ia bertarung melawan rasa sakitnya demi menantikan kelahiran bayi ini. Tidak akan ia membiarkan ucapan tak bertanggung jawab dokter membuatnya kehilangan bayinya.

Melihat Taeyeon begitu berkeras, merintih dengan wajah penuh kesungguhan Sungmin merasa paru-parunya ditusuk-tusuk pisau. Ini pilihan yang sulit tetapi ia tidak mau kehilangan Taeyeon. “Yeobo..ini demi dirimu, soal anak kita bisa..”

Taeyeon menggenggam tangan Sungmin, menyela ucapannya. “Aku bisa. Aku yakin aku bisa. Percayalah padaku.” Sorot mata Taeyeon penuh dengan tekad. Sungmin hampir saja luluh tetapi ucapan dokter Park kembali menggoyahkannya.

“Jika tetap ingin melahirkannya, kemungkinan Taeyeon tidak akan bisa bertahan. Kita tidak mau mengambil resiko itu bukan?”

Rahang Sungmin mengeras, “Tidak..” tegasnya, kepalanya menggeleng cepat. Ia menoleh kembali pada Taeyeon. “Kumohon yeobo..kau harus selamat. Kita ambil pilihan yang diusulkan dokter Park..” mohonnya. Ia dilanda ketakutan yang begitu mencekik. Sungmin mulai menangis. Tetapi Taeyeon tetap pada keinginannya melahirkan bayinya dengan cara normal. Ia menggeleng, dan keputusannya itu membuat Sungmin tidak kuasa berdiri.

“Kumohon, aku tidak mau terjadi apapun padamu..”

Melihat Sungmin menangis dengan suara yang hampir habis, Taeyeon merasa sangat bersalah. Ia mengusap pipi suaminya dengan lembut. Tindakan itu menarik Sungmin kembali untuk memandangnya.

“Kita sama-sama tahu bayi ini adalah segalanya. Sebagai seorang ibu aku tidak bisa membiarkan kesempatan anak kita untuk melihat dunia lenyap begitu saja. Kumohon beri kesempatan pada anak kita untuk hidup..”

Sungmin tercekat, “Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua.”

Taeyeon tersenyum berharap Sungmin bisa melihat kesungguhan dari sorot matanya. “Aku mencintaimu dan untuk kali ini saja, kumohon kabulkan keinginanku. Aku ingin melahirkan bayi ini.”

Tepat setelah kalimat itu berakhir, Taeyeon kembali menjerit. Kontraksi kembali datang laksana ombak yang menghempaskannya dengan keras. Sungmin merasa seluruh tubuhnya mati rasa ketika Dokter berkata harus segera mengambil keputusan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya tetapi mulutnya bergerak tanpa ia sadari, mengucapkan kalimat yang ia tahu itu adalah keputusan terberatnya seumur hidup dan ia tahu keputusan itu akan sangat membahagiakan Taeyeon.

“Lakukan seperti yang istriku inginkan, dokter.”

Senyum bahagia terbit di bibir Taeyeon. Meskipun terlihat kesakitan, namun Sungmin tahu Taeyeon begitu gembira atas keputusannya.

Sementara dokter sibuk melakukan penanganan untuknya, Sungmin hanya bisa menatap Taeyeon dengan penuh kesungguhan. Ia berkata lirih, seolah seluruh tenaganya habis hanya untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya.

“Kumohon, lahirkankah anak kita dan bertahanlah hidup demi kami berdua.”

Taeyeon tidak menjawab, karena kali ini ia sibuk mengerang, berjuang melahirkan bayi mereka dengan cara normal. Selama proses itu berlanjut Sungmin terus didera ketakutan dan ketegangan dan tepat ketika suara tangis bayi memenuhi seluruh ruangan, Sungmin merasa begitu lega. Ia menghembuskan napas leganya lalu mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.

“Selamat Tuan, bayi yang lahir perempuan.” Ucap suster sambil memperlihatkan bayi yang terselubung dengan handuk, bayi itu masih merah. Sungmin tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi. Ia segera menghampiri suster lalu menggendong bayinya, ia tidak tahu kata apa yang pantas menjabarkan perasaannya saat ini. Yang ia tahu, ia hanya bisa menangis penuh haru.

“Lihat Taeyeon, dia bayi yang sangat cantik.” Ia menoleh pada Taeyeon dan detik itu juga senyumnya memudar. Taeyeon terlihat begitu lemah, dan Dokter Park kini telah memeriksanya. Sekujur tubuh Sungmin membeku, dan ia membiarkan suster mengambil alih kembali bayinya.

“Yeobo..” Sungmin menggenggam tangan Taeyeon dengan panik. “Kau baik-baik saja bukan?”

Taeyeon tidak menjawab, hanya tersenyum. Sungmin mengalihkan perhatiannya pada dokter Park yang membuang napas, ia terlihat lebih sedih dibandingkan sebelumnya.

“Taeyeon tidak bisa bertahan,” ucapnya penuh penyesalan. Matanya terlihat berkaca-kaca. Bagaikan ada bom yang meledak di depannya, Sungmin hanya bisa tercengang. Seluruh dunianya seperti runtuh. “Aku sudah mencoba prosedur darurat tetapi semuanya sudah beresiko sejak awal.”

Dokter Park menepuk tangan Sungmin lalu undur diri membiarkannya berdua saja dengan istrinya. Apakah dokter itu tidak tahu bahwa kata-katanya tadi sama saja seperti pisau yang mencoba memotong urat nadinya? Sungmin merasakan kesakitan tiada akhir. Ini seperti sesuatu yang mencoba membunuhnya tetapi ia tidak bisa mati. Sungmin mengalihkan pandangan tercengangnya pada Taeyeon, ia tidak bisa mengatakan apapun selain airmata yang menetes dari ekor matanya.

“Aku baik-baik saja, aku merasa bahagia saat ini..” suara lirih Taeyeon terdengar. Sungmin memaksakan diri menatap istrinya. Taeyeon tersenyum lemah. Energi kehidupannya terlihat memudar, ia seperti seseorang yang sedang sekarat. Tangisan Sungmin pun pecah. Ia memeluk kepala Taeyeon begitu erat seolah takut Taeyeon akan pergi meninggalkannya.

“yeobo..” lirih Taeyeon tercekat. Ia tidak mau Sungmin seperti ini. “Kau tidak boleh menangis, aku tidak akan pergi kemanapun.” Ucapnya. Sungmin mengangkat kepalanya dari bahu Taeyeon. Ia tidak berkata-kata, hanya menatap Taeyeon lekat-lekat.

Seharusnya ini menjadi momen yang paling membahagiakan dan ia seharusnya yakin Tayeon baik-baik saja. Tetapi kenapa saat ini untuk tersenyum saja ia tidak bisa? Sungmin merasakan firasat terburuk seumur hidupnya dan itu berdampak pada airmatanya yang tidak bisa berhenti mengalir. Ia menghargai perjuangan Taeyeon, karena itu ia hanya bisa tersenyum lalu mencium bibirnya.

“Aku mencintaimu,” lirihnya.

“Aku juga,” Sungmin mengecupnya sekali lagi. Ia menghapus airmatanya ketika suara ribut terdengar dari pintu masuk.

“Nuna, kau sudah menjadi ibu sekarang..” Kibum menghampirinya dengan wajah bahagia. Taeyeon menoleh pada adiknya, airmatanya menetes dengan sendirinya.

“Terima kasih, Kibum.” Ucapnya lemah.

“Hyung, kau juga sudah jadi Appa sekarang.”

Sungmin mengangguk, ia memaksakan diri tersenyum meskipun masih terlihat sedikit raut kesedihan dalam ekspresinya. Kibum terlalu pintar untuk menyadari raut itu. Ia mengerjap saat menyadarinya, “Hyung, kenapa kau menangis?”

Sungmin menggeleng, ia semakin mengeratkan genggamannya pada tangan istrinya. Taeyeon menatapnya sendu.

“Yeobo, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau jangan menangis.” suaranya begitu pelan, “Meskipun aku pergi, kau tetap harus bahagia.”

Sungmin akhirnya tak bisa menahan airmatanya lagi . Lelehan itu kembali membanjiri pipinya.

“Apa maksudnya ini??” tanya Kibum bingung. Ia tidak mengerti situasi yang terjadi saat ini.

Dokter menjelaskan apa yang terjadi pada Taeyeon dan seketika itu juga seluruh keluarga Taeyeon berubah tercengang. Kibum kembali menghampiri mereka dengan wajah dipenuhi airmata. Ia berjalan begitu pelan, bahkan seperti tidak menapaki lantai.

“Nuna..” ucapnya terisak, “Nuna, kajima..” Airmatanya mengalir deras.

Taeyeon merasakan sedih di hatinya. Karena ia, seluruh keluarganya harus bersedih hari ini. Ia pun merasa sudahtidak kuat lagi, pandangannya mulai memburam dan napasnya semakin sesak, ia tahu ia tidak akan kuat bertahan lagi, “Kibum, setelah Nuna pergi, kau harus kuat. Kau ini adikku yang paling hebat. Jangan biarkan dirimu terus kesepian. Bahagialah. Kau mau kan berjanji pada Nuna?”

Sungmin tercengang, ia membelalakkan matanya pada Taeyeon. Mengapa dia bisa mengucapkan kalimat yang tidak bertanggung jawab seperti itu?

Kibum mengangguk lemah. Kepalanya tertunduk. Taeyeon mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Kibum.

“Adikku, Nuna yakin kau bisa menjadi dokter. Kau bisa membuktikan pada dunia bahwa kau ini hebat. Buatlah Nuna bangga. Kibum, kemarilah.”

Taeyeon meminta Kibum agar mendekatinya. Kibum menurut. Taeyeon meminta Kibum agar memeluknya. Pelukan perpisahan.

“Nuna, aku menyayangimu.. sangat..” lirih Kibum.

“A-ra” jawab Taeyeon lemah. Ia menoleh pada Sungmin, merentangkan tangannya yang lemah meminta Sungmin memeluknya.

“yeobo, aku percayakan anak kita padamu..jangan kau buat dia merasakan kesepian karena tidak ada aku. Buat dia merasa memiliki segalanya.”
Sungmin kembali meneteskan airmatanya. “Tentu saja. Aku berjanji”

Taeyeon tersenyum. Ia menitikkan airmata bahagia. Tak lama juga masuk Appa, Eomma, dan Heechul. Taeyeon memberikan mereka senyuman dan Sungmin merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat ketika melihat secara perlahan mata Taeyeon menutup, nafasnya terhenti bersamaan alat pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring pertanda pasien sudah pergi untuk selama-lamanya.

Tangisan pecah detik itu juga di ruangan Taeyeon. Kedua orang tua Taeyeon menangis histeris, bahkan ibunya jatuh pingsan. Kibum jatuh berlutut di dekat tempat tidur Taeyeon. Heechul hanya berdiri terpaku tanpa meneteskan setitik airmata pun. Ia tercengang, lalu berbalik pergi dari tempat itu dan Sungmin, ia memeluk kepala Taeyeon sambil menangis kencang.

“Tidak Taeyeon, kau berjanji akan baik-baik saja. Tidak..jangan tinggalkan aku..” Sungmin terus memanggil-manggil namanya berharap Taeyeon sedang bercanda saat ini. Ia berharap Taeyeon membuka matanya lagi dan memberi mereka kejutan. Ia ingin sekali mendengar suaranya, mendengar nyanyiannya, dan merasakan napasnya yang hangat setiap kali mereka berpelukan. Merasakan pelukannya, semuanya tentang diri Taeyeon.

Taeyeon telah pergi, itulah kenyataan pahit yang harus ia terima.

—-o0o—-

Sungmin menatap langit yang mendung saat pemakaman itu berlangsung. Ia sempat mencium kening istrinya itu sebelum petinya ditutup dan dimasukan ke liang lahat. Sekali lagi Eomma Taeyeon menangis, ibu mana yang rela melihat anaknya pergi lebih dahulu? Sungmin tahu itulah hal yang dirasakan Taeyeon karena itu ia bersikeras melahirkan bayinya. Kini sebelum pergi meninggalkan Taeyeon, ia menatap nisan istrinya itu dengan bibir yang tersenyum.

“Aku baik-baik saja, kau tenanglah di sana.”

Seusai pemakaman, Sungmin kembali ke rumahnya dengan perasaan kosong. Setelah tadi sempat menengok putrinya yang kini diurus oleh orang tuanya, ia segera kembali untuk membereskan barang-barang Taeyeon. Ia dibantu oleh Kibum dan Donghae.

Sungmin bukan ingin menyingkirkan semua kenangan tentang Taeyeon, orang tuanya dan orang tua Taeyeon-lah yang ingin Sungmin membereskan semua itu. Jika ia boleh menolak, ia tidak mau memindahkan satupun barang milik mendiang istrinya itu ke tempat lain. Ia ingin hidup bersama seluruh kenangan Taeyeon.

Tiba-tiba hatinya tertusuk-tusuk mengingat Taeyeon sudah tidak bersamanya lagi. Ia tidak bisa menyentuh raga istrinya, melihat senyumnya, merasakan pelukannya, dan mendengar nyanyiannya lagi. Kenyataan itu membuat Sungmin sedih, tetapi ia sudah berjanji tidak akan menangis. Ia melanjutkan membereskan semua baju Taeyeon, memasukkan seluruh perlengkapan milik Taeyeon ke dalam kotak. Tetapi ia memutuskan tetap menyimpan foto Taeyeon dan menggantungkannya di dekat pintu kamarnya. Ia menyentuh foto itu dan matanya kembali berkaca-kaca.

“Aku berjanji akan membesarkan putri kita, untukmu.”

“Hyung,” suara Kibum membuat Sungmin menoleh padanya. Kibum menghampirinya dengan sebuah amplop berwarna cokelat. Sungmin mengerutkan keningnya melihat benda yang tak dikenalinya itu.

“Apa ini?”

“Aku tidak tahu,” Kibum mengendikkan bahu, “Aku menemukan ini dibalik buku catatan milik Nuna. Kukira ini ditujukan untukmu. Ada namamu di sini.”

Sungmin mengerjap, lantas mengambil surat itu dari tangan Kibum. Ia menjauh darinya untuk membacanya. Ia kira akan menemukan secarik surat dari dalam amplop tetapi justru sekeping CD. Apa mungkin Taeyeon merekamkan sesuatu untuknya. Sungmin segera memasukannya ke dalam DVD player untuk mengetahui apa isinya.

Donghae dan Kibum mendekat karena merasa dilanda rasa penasaran yang sama. Sungmin menahan napasnya ketika ia melihat Taeyeon ada dalam layar tv, tersenyum padanya dengan gugup. Jika dilihat dari kondisi perutnya yang membuncit, Sungmin menebak video ini direkam ketika Taeyeon usia kandungannya memasuki 8 bulan.

“Annyeong,”

Sungmin tak bisa menahan senyumnya mendengar suara Taeyeon dan kegugupan istrinya itu dari layar televisi. Sesuatu membuat pandangannya mengabur.

“Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini, ini bukan wasiat atau semacamnya. Aku tahu saat Oppa menemukan rekaman ini, sesuatu telah terjadi padaku bukan?”

Sungmin tercekat, hatinya terasa disayat-sayat melihat ekspresi Taeyeon mulai meredup. Istrinya itu mengambil gitar dan bersiap memainkannya.
“Aku ingin menyanyikan sesuatu untukmu Oppa. Aku teringat lagu ini setiap kali aku merasa gundah.” Dan Taeyeon mulai memainkan gitarnya, suaranya yang merdu kembali terdengar.

(Geudaeneun nae sarang geuriun nae sarang)
Kaulah cintaku, aku merindukanmu cintaku
(Nal saranghaetdeon saram)
Orang yang mencintaiku
(Ijeneun manjil su eobjiman)
Meskipun sekarang aku tak bisa menyentuhmu, tetapi
(Naega geuriun mankheum geudaedo geuriungayo)
Apakah kau merindukanku seperti aku yang merindukanmu?
(Naega michil deusi saranghaetdeon geu saram)
Aku mencintainya sampai gila

(Gyeou idaero kkeutnal georamyeon)
Jika itu akan berakhir seperti ini
(Jeongmal majimagiramyeon)
Jika ini benar-benar terakhir
(Jigeum doraga Geuttaero seoro mulleotdeon geuttaero)
Aku ingin kembali ke waktu ketika kita belum saling mengenal
(Neomu neujeobeorimyeon neomu neujeobeorimyeon)
Jika ini sangat terlambat, jika ini sangat terlambat
(Naega saraganeun ge neomu himi deureo)
Aku terlalu lemah untuk hidup
(Nal beorinkka bwa)
Lihatlah aku

Akhirnya, Sungmin mengingkari janjinya sendiri pada Taeyeon. Ia menangis. Bahkan suara merdu Taeyeon tidak hanya membuat Sungmin meneteskan airmata, sisi sensitif Kibum pun kembali tersentuh. Bahkan Donghae sudah pergi dari tempat itu karena tidak ingin tertangkap basah meneteskan airmata.

“Oppa,” suara Taeyeon dari layar televisi membuat Sungmin mengangkat wajahnya kembali. Kali ini Taeyeon tersenyum, senyum yang begitu indah sampai-sampai membuat Sungmin terperangah.
“Aku mencintaimu, ada atau tidak aku bersamamu, aku tetap mencintaimu. Berjanjilah padaku kau akan hidup dengan bahagia karena aku pun berjanji akan bahagia. Jangan tenggelam pada cintamu terhadapku karena aku akan marah jika kau tidak mencari cinta lain untuk menyempurnakan tempat kosong di hatimu.”

Sungmin benar-benar ingin memeluk Taeyeon. Tetapi detik ini ia hanya bisa tersenyum dengan hati yang menghangat. Ia menundukkan kepalanya sejenak.

“Aku berjanji Taeyeon, aku akan hidup bahagia.”

 

 

Meskipun aku berusaha meyakinkan diri ini, tetap saja semua tidak sama seperti dulu
Meskipun kau berusaha melupakanku seutuhnya
Meskipun kau menganggapku hanya seseorang yang baru saja berlalu
Setiap malam – malam ku
Tetap sama, seperti saat kau belum meninggalkanku
Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah
Aku tidak mengharapkan agar kau kembali padaku
Hatiku masih terperangkap jauh didalam dirimu
Bagiku, kau akan tetap sama..

.
.
.
.
.
.
.
.
.

 

Tanpa diduga, setitik airmata jatuh di pipinya saat seluruh memori indah tentang Taeyeon terulang seluruhnya. Sungmin menyeka dengan cepat lelehan bening itu. Pandangannya lalu tertoleh ke arah putrinya yang asyik menjilati es krim.

“Putri kita tumbuh semakin cantik dan dia benar-benar mewarisi seluruh bakatmu karena itu aku tidak akan merasa kesepian.” Ia memandang makam istrinya sebelum bergumam dengan nada yang begitu dalam,

“Terima kasih, Taeyeon. Kau sudah memberikan aku putri secantik dia. Aku memberinya nama sesuai dengan keinginanmu, Minki.” Ia pikir saat ini Taeyeon pasti sedang tersenyum bahagia melihat anaknya tumbuh dengan sempurna.

Sungmin berpikir waktunya berziaran telah selesai. Ia memberikan penghormatan terakhir untuk istrinya sebelum pergi.

“Ayo chagi, kita pulang.” Sungmin menuntun putrinya pergi meninggalkan pemakaman.

“Appa, Minnie ingin eskrim lagi.” Minki mengulurkan stik eskrimnya pada Sungmin. Pria itu tersenyum lalu merendahkan posisinya agar bisa mencium pipi putrinya.

“Ne, nanti kita beli eskrim yang banyak saat perjalanan pulang.”

“Jinjja?” Minki melompat-lompat girang. Sungmin memandang putrinya penuh haru. Minki tumbuh dengan segala hal milik Taeyeon diwariskan padanya. Suara indahnya, kebiasaannya makan eskrim, matanya yang innocent, hingga senyum manisnya yang bisa meluluhkan hati siapapun. Ia adalah peninggalan paling berharga dari Taeyeon dan Sungmin berjanji akan membesarkannya tanpa kekurangan sedikitpun rasa cinta dan kasih sayang.

Sungmin membiarkan Minki berjalan sendiri tanpa dituntun olehnya. Gadis ciliknya itu begitu lincah, melompat ke sana kemari sambil sesekali memainkan gaun putihnya. Minki menoleh ke suatu arah dan ia melihat seseorang yang ia kenal sedang berjalan ke arahnya. Senyum cerahnya terbit dan ia dengan kaki kecilnya berlari menghampiri orang tersebut.

“Eomma!!!” Minki berlari lalu memeluk Insung yang berjongkok lebih dulu untuk menyambutnya.

Sungmin tersenyum ketika tiba di depan istrinya lalu mendaratkan satu kecupan ringan di pipinya.

“Bagaimana dengan ziarahnya?” tanya Insung lembut.

“Lancar.” Sungmin tersenyum, “Ayo kita pulang. Minki sudah tidak sabar ingin mendapatkan eskrimnya.”

“Eomma, Minnie ingin digendong..” Minki merengek meminta Insung, ibu tirinya agar menggendongnya.

“Hei, biar Appa saja yang menggendongmu.” Sungmin segera menggendong Minki karena ia tidak tega membiarkan Insung menggendong Minki yang semakin berat karena hobi makannya.

Sesuai dengan permintaan Taeyeon. Sungmin kini telah menemukan cintanya yang lain dari gadis bernama Shin Insung yang ia nikahi belum lama ini. Insung begitu mencintai Minki, karena itu ia pun mencintainya. Ia berharap Taeyeon tidak akan keberatan jika ia membagi ruang di hatinya untuk gadis lain. Bukankah itu yang Taeyeon inginkan?

Ia memandang langit yang cerah, sambil tersenyum ia bergumam dan ia harap Taeyeon bisa mendengar isi hatinya.

“Aku hidup dengan bahagia, kau pun bahagialah di sana.” Ia lalu melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah bersama istri dan anaknya.

“Eomma!!” Minki tiba-tiba menunjuk ke suatu arah. Sungmin menghentikan langkahnya lalu menoleh. Ia tidak mengerti kenapa Minki menunjuk ke arah belakangnya yang jelas tidak ada siapapun sementara Insung ada di depannya di dekat mobil hendak membuka pintu mobil.

“Iya sayang, kita pulang sekarang.” Sungmin mengusap kepalanya lalu masuk ke dalam mobil.

Bukan Insung yang Minki maksud, melainkan seseorang yang baru saja mereka kunjungi. Minki menoleh kembali pada arah dimana ia melihat sosok ibu kandungnya yang ia kenali dari foto. Sosok itu tersenyum padanya dengan gaun putih yang cantik dan Minki tanpa sadar ikut tersenyum. Sosok itu melambaikan tangan padanya dan menghilang saat angin berhembus meniupkan daun-daun kering.

…The End…

68 thoughts on “Unforgottable Love (Part 6-END)

  1. Ini ff buat aku nangis bahkan sambil terhisak – hisak seperti menonton film Hearty Paws walaupun ceritanya berbeda tetapi intinya sama, yaitu kehilangan orang yang kita sayangi. Dari sekian ff yang aku baca baru kali ini nangis seperti itu. Daebak !!

  2. Sukses!!! So touching…

    Kak Dha… kalo boleh jujur dari semua FF Kak Dha yang buat Aku gak minat itu Kisah Kyu-Aira. Soalnya ngrasa janggal gimana gitu. Mungkin karena mustahil juga ceritanya. Bahasanya juga gaul…

    Aku lebih suka baca FF kakak yang no “Korean” walaupun cast.nya orang Korea. Tapi entah, Kalo ada bahasa Koreanya jadi risih.

    Next… FF! Keep Write!

    Wating for next part of “Crazy Because of You” sama ” When I Lost in Your Memory”nya Kak Dha….

  3. jd pgen nangis nie baca ff yg ini.. . sukses terus ya bwt eonni Dha, ff nya sprti biasa slalu keren bangt. klo baca ff nya eonni tu, aku ngrasa kyk nonton drama bukan lg baca ff. hehe.. .

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s