Shady Girl Heechul’s Story (Part 13-END)

Judul : Shady Girl Heechul’s Story Part 13 END
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life, Happy Ending

Main Cast :

  • Sung Youngjae
  • Kim Heechul

 

Dha’s speech :
Aku harap hasilnya tidak mengecewakan. Maaf untuk segala bentuk kekurangan FF ini dan selamat membaca ^_^

Shady Girl Heechul's Story by Dha Khanzaki

====Part 13 END====

Beberapa hari kemudian Kibum mengatakan dokter sudah memberi izin untuk Young Jae keluar dari rumah sakit karena kondisinya sudah lebih prima. Young Jae senang bukan main mengetahuinya. Ia sudah tidak betah berada di tempat penuh dengan bau orang sakit itu.

“Apa kau sudah siap?” Heechul melirik pintu kamar mandi yang terbuka. Ia merasa Youngjae menghabiskan waktu terlalu lama untuk berganti baju. Apa sih yang dilakukannya di sana? Penasaran, ia masuk untuk melihat istrinya.

Youngjae ternyata sedang berdiri di depan wastafel, menatap sedih gaun putihnya. Dia masih memakai baju rumah sakit dan kenyataan itu membuat Heechul sedikit kesal.

“Lima belas menit kau habiskan untuk menatap gaun itu? Cepat pakai lalu kita pulang.” Ia mengomel sambil berkacak pinggang. Istrinya itu menoleh lemas, mata berkaca-kacanya membuat Heechul sedikit panik. “A-ada apa?”

“Aku tidak bisa memakai gaun kesayanganku lagi. Gaun ini menjadi kecil semenjak aku mengandung.” Sedihnya dengan suara tercekat. Sepertinya ia siap menangis jika Heechul tidak segera merangkulnya.

“Aigoo..” pria itu menghela napas, merasa lucu sekaligus iba mendengar masalah ini, “Maaf aku lupa membelikanmu baju hamil. Tentu saja ukuran tubuhmu bertambah sejak kau hamil.”
Youngjae menatapnya tajam, “Jadi kau bermaksud mengataiku wanita gendut?”

Heechul terkikik. Ia langsung mencium keningnya begitu sadar Youngjae akan menangis, “Aku berbohong jika berkata kau sangat langsing. Tentu saja kau tetap cantik meskipun beratmu bertambah sepuluh kilogram. Sekarang cepat kau ganti pakaianmu setelah ini kita pergi belanja.”
“Mwo? Aku tidak memintanya sekarang.”
“Aku tidak mau dengar apapun. Kau memiliki waktu sepuluh menit untuk menyingkirkan pakaian rumah sakit ini.”

Heechul bergegas pergi sebelum Youngjae sempat memprotes lebih jauh lagi. Akhirnya dengan sangat terpaksa dan enggan, Youngjae memaksakan diri memakai gaun kekecilannya. Ia hanya tinggal memakai kardigan untuk menyamarkan bagian dadanya yang tampak terlalu ketat.

Siang itu mereka berbelanja beberapa pakaian di daerah Apgujeong. Meskipun Youngjae memiliki selera fashionnya sendiri, ia membiarkan Heechul memilihkan untuknya. Menyenangkan, tetapi ia sedikit tidak nyaman dengan pramuniaga yang terang-terangan memandangi suaminya seolah dirinya tidak ada di sana. Ia marah, tetapi tidak berani menunjukkannya. Aku tahu suamiku tampan, dengusnya. Ia memandangi dirinya sendiri, apa aku tidak tampak seperti istri untuk pria ini? Atau dia tidak terlihat seperti laki-laki yang sudah menikah?

Akhirnya Youngjae hanya mendengus selama mereka memilih pakaian. Setelah puas dengan empat potong baju hamil dan piyama, mereka memutuskan pulang. Sambil berjalan menuju tempat mobil diparkir Heechul terus menggenggam tangannya.
“Oppa, kau tidak memberitahu orang tuaku aku masuk rumah sakit bukan?” Youngjae membuka percakapan dengan topik mengenai orang tuanya. Ia tidak mau membahas hal yang lain yang bisa memancing emosi seperti rasa kesalnya pada wanita-wanita yang terang-terangan menikmati ketampanan suaminya.

“Tidak. Kau tenang saja.” Heechul tersenyum menenangkan. Ekspresinya mendadak berubah khawatir, “Lain kali kau harus berhati-hati saat melakukan apapun, Young Jae. Kau tidak hidup seorang diri sekarang. Ada anak kita yang harus kau jaga.”

Young Jae mengangguk paham. Ia senang dengan sikap perhatian Heechul. Semenjak ia mengandung, tidak ada lagi Heechul yang dingin. Semuanya lenyap digantikan dengan Heechul yang selalu tersenyum, perhatian, dan sabar. Hal-hal itu membuat hatinya hangat dan bahagia, “Arraseo, Appa..” ia langsung melingkarkan tangannya di lengan Heechul, bermanja-manja.

Wajah Heechul memanas sendiri mendengar Young Jae menyebutnya dengan panggilan keramat itu. Ia masih tidak bisa mempercayai bahwa ia akan disebut Ayah oleh anaknya kelak. Aigoo.. Apa sebutan itu akan membuatnya terlihat tua? Namun di atas segalanya Heechul gembira sekali karena hidupnya akan dilengkapi oleh dirinya dalam sosok lain. Ia penasaran apakah rupa anaknya kelak akan mirip sepertinya, Young Jae, atau justru percampuran keduanya?

“Kenapa mendadak diam?” suara Young Jae membuyarkan lamunan Heechul tentang anaknya. Ia menoleh lalu tersenyum melihat wajah penasaran istrinya.
“Aku hanya penasaran seperti apa wajah anak kita kelak.” Gumamnya dengan senyum penuh arti.
“Tentu saja akan mirip denganku,” ujar Youngjae bangga sambil mengusap pipinya yang memerah.
Heechul mendelik cepat, “Tidak mungkin, jelas mirip denganku!”
“Tidak, tidak. Aku ibunya aku lebih tahu.”
“Aku ayahnya, seorang anak pasti akan menuruni sifat ayahnya.”
“Siapa bilang, di tempat manapun seorang anak pasti akan lebih mendengarkan kata-kata ibunya. Jadi dia pasti akan sama sepertiku,” mereka berdua terus berdebat sampai-sampai tidak sadar bahwa orang-orang yang berada di sekitar mereka mulai memperhatikan.
Keduanya kompak tertawa menyadari perdebatan aneh yang membuat keduanya menjadi pusat perhatian. Youngjae sendiri sadar ia begitu kekanakan berharap bayinya mirip dengan dirinya. Ia tidak peduli anaknya mirip dengan dirinya atau Heechul. Ia justru merasa sangat senang memiliki Heechul dalam sosok anaknya.

Tiba-tiba senyum Heechul terhenti ketika pandangannya teralih ke depan. Youngjae ikut berpaling lalu tercengang.

Di depan mereka berdiri Hong In Hee.

Gadis itu berdiri angkuh dengan gaya khasnya. Dihiasi seringaian tipis di bibir ia berkata, “Kejutan yang tak kusangka.” Ia bahkan tidak melihat Youngjae semakin pucat pasi. Ada kepuasan dalam hatinya bisa membuat Heechul dan Youngjae tercengang.

Setelah beberapa detik keheningan Heechul lebih dulu bereaksi. Ia memutar bola mata malas, “Aku tidak akan kaget melihatmu berada di sini. Aku berharap kau tidak sengaja mencegat dan membuat hari kami menjadi suram.” Ada nada menyindir dalam suara Heechul tetapi itu justru membuat In Hee tersedak oleh tawanya sendiri.
“Kau pikir itu satu-satunya alasanku berada di sini?” ucapnya sombong. Sorot matanya penuh rasa tidak suka ketika menatap Youngjae.

Secara naluriah Youngjae langsung memeluk perutnya sendiri. Ada desakan posesif untuk melindungi perutnya dari makhluk jahat di depannya.

In Hee menaikkan alisnya, “Apa kejadian kemarin membuatmu takut padaku?” tanyanya sarkastis. Rahang Heechul mengeras dan Youngjae menyadari kemarahannya dari remasan tangannya yang tiba-tiba mengetat. Ow, ia harus mencegah sebelum Heechul menerjang In Hee.
“Jadi kau sudah mengakui kau yang membuat Youngjae pingsan dan keluar sebagai pemenang dengan cara kotor seperti itu?”
Tawa In Hee langsung menyebar, “Kau lupa bahwa seluruh juri memutuskan aku pemenangnya berdasarkan karyaku yang luar biasa? Aku berhasil membuat mereka terkesan dan itu di luar dari usahaku menendang istrimu keluar dari kompetisi.”

Youngjae melebarkan mata sementara Heechul terperangah kesal, “Mwo?” serunya marah. Ia sudah maju satu langkah untuk memberi pelajaran pada Inhee tetapi Youngjae menahannya. Heechul menoleh padanya dan Youngjae menggeleng menyuruh Heechul agar tidak melakukan apapun. Sekarang mereka berada di tempat umum. Ia tidak mau membuat keributan. Heechul mendengus, ia kembali melemparkan pandangannya pada Inhee.
“Kenapa kau mencoba melukai Youngjae? Apa salahnya padamu?”
“Salahnya?” Inhee menaikkan alis dan wajahnya tampak meremehkan.

Youngjae tersentak ketika tatapan tajam Inhee menusuknya langsung, “Aku tidak mengerti apa yang kau lihat dari wanita ceroboh sepertinya dan apa yang tidak kau lihat dari wanita sempurna sepertiku? Aku masih dendam padamu karena kau memutuskan kencan kita seenaknya saja. Kau bahkan menganggapku seperti wabah penyakit dan itu melukai harga diriku.”

Youngjae merasa seperti telah ditikam pedang dengan langsung mendengar kata-kata Inhee yang penuh kebencian. Ia yakin kalimat itu ditujukan untuk Heechul tetapi sejak kalimat itu terucap Inhee terus menatap tajam dirinya. Tiba-tiba ia kesulitan bernapas. Tidak sadarkah dia baru saja melukai hati Youngjae? Tetapi yang terjadi berikutnya membuat sekujur tubuh Young Jae membeku karena Heechul dengan cepat melepaskan tangannya dan menarik Inhee pergi dari hadapan mereka.

—o0o—

Heechul tidak memperhatikan wajah pucat pasi istrinya ketika ia menarik Inhee pergi dengan segala kemarahan yang sudah tidak bisa ditahannya lagi. Kini mereka berdiri berhadapan di sebuah taman tak jauh dari pusat perbelanjaan.

“Sudah kukatakan padamu ratusan kali, kita tidak cocok sama sekali karena itu aku berhenti melakukan kencan denganmu. Lagipula Eomma yang bersikukuh mengatakan kau adalah calon istri yang baik meskipun aku tidak yakin Eomma tahu tipe wanita idealku.” Heechul tidak berbasa basi dalam mengutarakan isi kepalanya. Sejak dulu ia memang tidak suka berbasa-basi. Ia melipat tangan di depan dada, menyuguhkan sikap angkuh dan wajah dinginnya pada Inhee. Berdiri dengan pose tenang, berusaha menekan emosi agar tidak tampak di mimik wajahnya.

Inhee semakin tersinggung mendengarnya, “Dengan begitu kau bisa mencampakkanku seperti sampah? Kau sungguh pria tak berhati. Kau tidak tahu betapa sakit hatiku saat kau menghilang begitu saja dan menghindariku. Aku bertanya-tanya apa kesalahanku dan mencoba menemuimu untuk meminta penjelasan. Dan kau tahu apa yang kudapat saat berkunjung ke rumahmu? Wanita itu! Aku melihat wanita itu di rumahmu.” Mata Inhee menyala-nyala seperti lidah api saat mengatakannya.

“Aku yakin aku tidak akan semarah ini jika kau mendapat wanita yang jauh lebih baik dan ketika sadar aku dikalahkan oleh wanita semacam itu, aku sangat marah. Hatiku tidak bisa menerimanya.” Lanjut Inhee masih dengan kemarahan yang sama. Heechul mengetatkan kepalan tangannya saat Inhee menyebut Youngjae ‘wanita itu’.

Heechul tetap tenang di posisinya, dan sikapnya yang tampak tidak peduli dengan luapan emosinya membuat Inhee kesal dan marah. Ia melangkah mendekati Heechul, berdiri tegak di depannya, “Aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersama wanita bernama Sung Youngjae itu. Apa yang kau sukai darinya? Apa yang dimiliki olehnya sampai kau membuang gadis sepertiku? Aku jauh lebih baik darinya!” Inhee mulai kehilangan kontrol diri, ia berteriak.

Semua kemarahan Inhee membuat Heechul menyeringai sinis, “Apa yang tidak kau miliki?” desisnya. Heechul menatapnya lekat, “Kesabaran.”
Inhee terkesiap.

“Aku adalah pria pemarah dan kau tidak bisa sabar menghadapi orang sepertiku. Sementara Youngjae, meskipun aku marah, membentaknya, dia selalu berusaha untuk membuatku senang. Dia selalu memastikan apapun yang dilakukannya bisa membuatku bahagia. Kau tidak pernah berlapang hati menerima bahwa dirimu memiliki kekurangan, kau selalu ingin orang menilaimu sempurna. Youngjae, dia tidak sepertimu.” Jelas Heechul.

Dalam hatinya kini berputar perasaan haru dan bangga. Ekspresinya justru membuat Inhee semakin tertekan. Terlebih ketika Inhee bertatapan dengan mata serius Heechul, ia terperangah melihat betapa banyak cinta Heechul untuk Youngjae.

“Kau jelas berbeda dengannya. Kau tidak memiliki apapun yang bisa menyentuh hatiku.” Heechul memberikan tatapan terdinginnya. “Aku bukan seseorang yang sempurna sementara kau adalah wanita yang selalu menuntut kesempurnaan. Aku tidak mencari wanita yang bisa mengimbangiku, tetapi wanita yang bisa melengkapiku.”
Inhee tidak pernah merasa lebih terhina lagi setelah mendengar kata-kata Heechul. Pria itu membuatnya marah, terkejut, dan terpukul di saat yang bersamaan. “Jadi kau ingin mengatakan Sung Youngjae adalah wanita yang ditakdirkan untukmu?”

“Ya.” Heechul menjawab mantap dan cepat, semakin menjengkelkan Inhee. Wanita itu mulai kehilangan kontrolnya. Dia ingin menjerit di depan Heechul, frustasi karena sikap dinginnya dan semua yang sudah Heechul lakukan padanya.

Ia harus mengubah taktik karena tujuan utamanya berbicara dengan Heechul adalah membuat pria itu menyesal, membuat Heechul marah dan memohon padanya agar kembali, itulah alasan kenapa ia mencelakai Youngjae tempo hari. Tetapi ketika melihat mereka bahagia, kekesalannya berkobar bak api tersiram bensin.
“Kurasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Aku harus kembali pada istriku—“
“Kau bohong, kalian belum menikah. Aku tidak pernah mendengar kalian menikah!” seru Inhee saat Heechul hendak meninggalkannya. Pria itu sempat mematung. Inhee menyunggingkan senyum kemenangan. “Aku tahu kalian hanya berpura-pura menikah. ”

Kepercayaan diri pria itu sedikit memudar. Tiba-tiba Heechul teringat pada kontrak yang sudah ia tandatangani dengan Youngjae hampir setahun yang lalu. Inhee benar, mereka tidak pernah menikah sebenarnya. Itu hanya pernyataan di selembar kertas dengan hukum yang terikat. Mereka tidak pernah berikrar, mengucapkan sumpah sehidup semati sebelumnya. Kenyataan itu membuatnya menggertakkan gigi. Ia harus melakukan sesuatu dengan itu atau Inhee akan mengganggu Youngjae kembali.

“Jika kalian tidak benar-benar menikah, itu artinya anak yang dikandung wanita itu..”

Heechul meremas tangannya. Beraninya Inhee membawa-bawa calon anaknya! Dengan tenang dan mata menyala-nyala Heechul membalikkan badan menghadap Inhee. “Kami memang belum pernah mengadakan pesta pernikahan sebelumnya, tetapi pernikahan kami sudah terdaftar dalam catatan sipil, jadi secara hukum negara kami sudah menikah.”

“Apa?” Inhee terkesiap, “Tapi..”

“Selamat tinggal Hong Inhee, dengan ini tidak ada alasan lagi bagi kita bertemu. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Semoga bahagia.” Heechul berbalik pergi, meninggalkan Inhee dengan hati sedikit lega. Ia harap Inhee tidak akan pernah mengusik kehidupannya dengan Youngjae lagi.
“Kim Heechul!!” Inhee meneriaki namanya dengan airmata mengalir tetapi Heechul tidak peduli. Baginya, sekarang adalah kali terakhir ia berurusan dengan gadis itu.

—-o0o—-

Ketika Heechul berbalik, ia baru sadar sudah meninggalkan Youngjae. Astaga, bagaimana bisa ia melupakan hal itu? Dengan langkah panik ia berlari. Ia mendesah lega melihat Youngjae masih berada di sana. Berdiri seperti orang hilang di depan sebuah restoran.

Tiba-tiba Heechul diserang rasa bersalah. Tadi dia sudah meninggalkannya demi berbicara dengan Inhee. Ia bertanya-tanya apakah Youngjae akan marah, meneriakinya di depan umum seperti ini? Tetapi Heechul sungguh tidak masalah karena ia memang pantas mendapatkannya. Ia ragu-ragu menghampiri Youngjae.

“Youngjae..” panggilnya pelan. Wanita itu menoleh lalu kembali menatap ke arah lain. Sikap acuh tak acuhnya mengkonfirmasi Heechul bahwa istrinya itu marah. Yah, memang sudah sewajarnya.

“Maaf sudah membuatmu menunggu.” Heechul tidak pernah merasa sekikuk ini. Hal yang sangat tidak biasa. Ia mengusap tengkuknya yang mulai dibanjiri keringat dingin.
“Siapa bilang aku menunggumu?” sahut Youngjae ketus. “Aku sedang menunggu seseorang yang akan membawaku pulang ke rumah. Aku berharap seseorang akan menabrakku sehingga aku bisa memarahinya karena dia sudah membuatku menjatuhkan barang-barang yang kubawa!”

Rasa canggung hilang sudah berganti oleh kelegaan. Heechul ingin tertawa mendengar skenario itu. Jika ia tidak salah ingat bukankah itu adalah adegan ketika mereka pertama kali bertemu? Jadi Youngjae ingin mencoba memutar balik kembali memori itu, manis sekali.
“Oh, kalau begitu tunggulah sampai kau menemukannya sementara aku akan pulang untuk istirahat.”

Youngjae mendelik tersinggung. Heechul sengaja tidak memperhatikan ekspresi istrinya dengan pura-pura melirik jam tangan, “Ah, kemana perginya istriku? Aku pikir dia akan menungguku di sini. Aku harus pergi dan mencarinya.” Ia membalikkan badan dan pergi.
Wanita itu langsung melongo menatap kepergian Heechul. Dengan hati terbakar emosi ia berteriak, “Ya, Kim Heechul!!!!”

Pria itu berhenti, menyunggingkan senyum lebar penuh kemenangan namun ia tidak berniat membalikkan badan.

Youngjae menghampirinya sambil menghentak-hentakkan kaki, “Kenapa kau tidak memiliki hati sama sekali! Aku marah padamu, dasar pria tidak peka!!” semburnya marah. Ia bahkan tidak memedulikan orang-orang yang mulai memperhatikan mereka dengan alis berkerut dan mimik penasaran.
Pria itu menoleh dengan raut innocentnya, “Aku tidak mendengar alasan apapun yang membuatmu marah.”

“Mwo?” Youngjae kehabisan kata-kata. “Kau pergi membawa wanita itu pergi! Kupikir,kupikir..” matanya mulai berkaca-kaca. Youngjae kesal sekali dengan perubahan emosi yang begitu cepat semenjak dirinya hamil. Ia menjadi cepat sekali menangis hanya karena masalah sepele. Heechul memperhatikannya. Sikapnya yang tak terlihat menyesal itu membuat pelupuk mata Youngjae berat oleh airmata. Akhirnya ia menangis tanpa bisa menyelesaikan kata-katanya.

Heechul langsung memeluknya. “Kau pikir aku akan pergi bersamanya dan tidak akan pernah kembali untuk menjemputmu?” ia menyambung kalimat istrinya yang tersendat. Sambil terisak dalam pelukannya Youngjae mengangguk. Pria itu langsung tertawa, “Yang benar saja, Youngjae. Kau wanita yang sedang mengandung anakku. Bagaimana bisa aku tidak bertanggung jawab terhadapmu dan pergi bersama wanita lain?”

“Tapi dia Hong Inhee. Dia wanita yang jauh lebih membanggakan dibandingkan diriku. Aku selalu menyusahkan. Aku kikuk dan ceroboh. Aku wanita yang tidak berguna..” ia kembali menangis tersedu-sedu.

“Sssshhh..” Heechul mengusap-usap rambutnya. Ia tidak peduli jika orang-orang mulai tertawa melihat opera sabun yang sedang dipertunjukkan Heechul. Ia hanya ingin menenangkan istrinya, wanita yang dicintainya, ibu dari anaknya.

“Mianhae,” bisiknya menyesal, sangat menyesal. Ia segera menggenggam tangan Youngjae, mengangkat lalu mencium buku-buku jarinya dengan lembut. “Aku memang pria tidak tahu diri. Seharusnya tadi tidak kulakukan..”

Youngjae mengerjapkan matanya yang sembab dengan takjub. Hatinya bergetar merasakan gelenyar sensasi hangat saat bibir Heechul mengecup lembut tangannya. Pandangan Heechul menguncinya. Pria itu mencoba mengatakan sesuatu dan itu membuat tangisan Youngjae terhenti.

“Jangan pernah katakan kau wanita yang tidak berguna lagi, Youngjae sayang. Jelas kau sangat berguna, berarti dan penting bagiku. Tanpa kau aku mungkin tidak akan pernah berbaikan dengan Kibum. Tanpa kau aku mungkin terus menjadi pria lajang yang tidak tahu apa itu dicintai dan tanpa kau aku tidak akan pernah merasa bahagia menjadi calon Ayah. Kau tidak perlu merasa malu ataupun sedih. Seperti apapun dirimu, kau tetap Sung Youngjae. Wanita yang sudah membuatku jatuh cinta.”

Aliran kata-kata itu berhasil membuat Youngjae berhenti menangis. Berangsur-angsur senyumnya kembali. “Terkadang aku merasa tidak mengenali suamiku sendiri saat dia berkata manis seperti sekarang.”
“Apa di matamu aku selalu tampak kaku, arogan, dan keras kepala?” balas Heechul dengan nada dibuat tersinggung.

Youngjae langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang, “Seperti apapun kau tetap Kim Heechul yang kucintai.”

Senyum lega terbit di sudut bibir pria itu. “Aku tidak mencoba menyanjungmu di depan Inhee tadi, tetapi semua pujian yang kukatakan padanya tentangmu memang benar.” Heechul menarik wajah Youngjae agar bertatapan dengannya, “Kau satu-satunya wanita yang bisa melengkapiku.”

Kedua pipi Youngjae langsung dihiasi warna merah muda. Ia tidak mengerti kenapa masih juga merasa gugup dan berdebar setiap kali Heechul memujinya. Tetapi cara Heechul menatapnya saat ini membuat Youngjae merasa sangat dicintai. Oh Tuhan, aku juga sangat mencintainya.
“Seharusnya tadi kutarik dia agar meminta maaf padamu. Dia sudah mencelakaimu. Membuat nyawamu dan bayi kita dalam bahaya.” Gumamnya penuh penyesalan. Heechul sakit sekali setiap kali mengingat kejadian itu. Ia tidak bisa melindungi istri dan calon anaknya. Ia tidak bisa membiarkan hal buruk itu terjadi lagi.

Youngjae mengusap pipi suaminya ketika ia melihat kilat kemarahan di matanya. “Tak perlu memaksa seseorang meminta maaf, Oppa. Tuhan tahu apa yang harus dilakukan untuk orang-orang yang sudah mencelakai kita. Sekarang lupakan masalah lomba itu. Aku yakin jika aku tidak menyerah, kemenangan yang sesungguhnya pasti akan menjemput kita.”
Heechul mendesis gemas sekaligus bangga, “Sial, kenapa kau menjadi sebijak ini Youngjae? Ini sangat berbeda dengan image-mu saat pertama kali kita bertemu.”

Wanita itu tersenyum, “Hidup bersamamu membuatku menjadi bijak.”

Heechul tergelak lalu memeluk Youngjae kembali. “Wanita aneh yang tadinya ingin kusiksa sampai memohon ampun.”
“Pria bermulut tajam yang sok dewasa.” Balas Youngjae lalu mendongak, “dan dia tidak tahu bagaimana cara yang benar mencintai seseorang.”

Detik itu keduanya sadar kebahagiaan ini hanya bisa bertahan jika keduanya saling mendukung dan mempercayai. Semua masalah yang timbul telah berakhir. Hanya tinggal tersisa untuk mereka saling mencintai dan menantikan kelahiran buah hati mereka.

Waktu terus berjalan. Youngjae mulai menyusun kembali rencananya menjadi seorang desainer yang sukses di Korea. Heechul mendukungnya dengan baik meskipun masih selalu mengomel agar dirinya tidak terlalu kelelahan. Di usia kandungan yang semakin hari semakin membesar, Youngjae justru merasa semakin bersemangat. Ia sudah berhenti bekerja di redaksi majalah Ri-Bon. Choi Eunri atasannya sempat menentang tetapi akhirnya memberi pengertian setelah mempertimbangkan kehamilan Youngjae.

Heechul memberikan Youngjae tempat untuk memulai bisnisnya. Sebuah studio kecil berlantai dua yang tak jauh dari kantor suaminya. Betapa gembiranya Youngjae ketika mendapatkannya. Ia tak menyangka Heechul serius membantunya mewujudkan mimpi. Kini Youngjae merintis usahanya dimulai dengan membuka sebuah butik kecil yang memajang baju-baju hasil rancangannya. Meskipun belum terlalu ramai tetapi ia bahagia saat ada beberapa orang yang sengaja datang setelah tahu dirinya pernah merancang untuk majalah Ri-Bon. Di tambah fakta bahwa Tiffany Hwang menyukai baju hasil rancangannya.

Pernikahannya dengan Heechul pun berjalan sebagai mestinya. Mereka terkadang terlibat pertengkaran. Tetapi bukankah memang seperti itu hidup berumah tangga? Meskipun jengkel Youngjae tetap tidak bisa berpisah dengan Heechul. Pria itu sangat menyayanginya dan tidak pernah menolak apapun hal yang ia minta, seperti keinginan anehnya pagi itu.

“Young Jae, aku tidak mau keluar dengan pakaian ini!”
“Ayolah, kau tampak sangat menawan dengan baju itu!”
“Sung Young Jae!!!”

Pertengkaran ringan pagi itu memberikan sedikit penyegaran untuk Young Jae. Bagaimanapun ia tidak pernah bisa tertawa selepas ini semenjak dirinya gagal dalam kompetisi desain waktu itu. Inhee rupanya cukup tahu diri untuk tidak pernah menggangu kehidupan pernikahan Heechul. Jinmi mengatakan bahwa gadis itu kini berangkat ke Italia untuk belajar ilmu rancang busana, hadiah eksklusif dari lomba merancang waktu itu. Youngjae tidak akan merasa iri lagi karena mimpinya baru saja dimulai.

“Ayolah Oppa, jangan malu. Lagipula di rumah ini hanya aku yang melihat!!” Young Jae masih tertawa puas. Sambil memakan popcorn ia membuat duduknya senyaman mungkin dengan mata terfokus pada pintu kamar mereka. Di sana tampak kepala Heechul menyembul dari balik pintu.
“Aku berjanji jika kau sampai mengidam hal memalukan seperti ini lagi aku akan mengikatmu di dalam kamar!!!” ancamnya penuh dendam serta keputusasaan. Young Jae hanya terkekeh senang sambil mengusap kehamilannya yang sudah besar.
“Kau tidak bisa menolak permintaan anakmu sendiri, Appa..” serunya menang. Heechul mendesah berat kemudian perlahan-lahan ia muncul dari balik pintu kamar dengan penampilan yang amat memalukan—menurutnya.

“Huwaaaa..neomu yeppeo!!!” seru Young Jae. Ia spontan berdiri melihat pemandangan di depannya. Dengusan napas Heechul kembali terjadi. Bagaimana pun penampilannya sekarang sangat memalukan, lebih memalukan dibandingkan memakai kostum badut di pesta ulang tahun.
Pria itu mendesah malu, “Jika bukan karena kau mengidam, aku tidak akan mau memakai baju terkutuk ini.”

“Kau tampak cantik, Oppa. Aku saja tidak secantik itu.” meskipun bibirnya berkata kagum, namun sebenarnya Young Jae menahan tawanya mati-matian. Ia tidak bohong tentang Heechul yang lebih cantik darinya. Entah karena wajahnya yang terlalu tampan atau memang Heechul memiliki garis wajah yang cenderung dimiliki kaum hawa, bagaimanapun sack dress kuning yang kini dipakainya membuatnya tampak mempesona, cantik, sekaligus lucu.

Semua ini bermula tadi pagi, Young Jae ingin sekali melihat suaminya mengenakan baju perempuan setelah mengamati wajahnya dengan seksama saat pria itu masih terlelap. Sejujurnya ia iri, bagaimana bisa seorang pria bisa begitu pantas memakai pakaian wanita? Ia yang wanita saja tidak sepantas itu.

“Sudah puas? Pakaian ini membuatku gatal!” gerutu Heechul melihat istrinya sangat puas. Memakai baju wanita saja tidak masalah baginya, tapi Young Jae mengharuskannya memakai wig panjang berikut riasan untuk wanita. Ia sendiri merasa malu ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Sebenarnya anaknya pria atau wanita sih? Mengapa keinginannya aneh-aneh sekali.

“Sebentar!!” Young Jae mengambil kamera lalu memotretnya sampai puas. Heechul hanya berdiri dengan pasrah membiarkan Young Jae mengambil gambarnya. Setelah puas mendapatkan apa yang ia inginkan, Young Jae tidak tega membuat suaminya cemberut lebih lama lagi. Ia mendekat lalu mengecup bibirnya lembut.
“Gomawo,”

Kekesalan yang menggeluti hati Heechul sejak tadi sirna sudah saat ia menangkap senyum istrinya. Entah mengapa semenjak Young Jae hamil, ia selalu tersipu sendiri setiap kali istrinya itu tersenyum padanya. Aneh memang, tetapi itu nyata dialaminya. Ia pun merasa Young Jae semakin cantik. Apa perasaannya saja atau memang begitu? Entahlah. Ia segera memeluk Young Jae erat, penuh rasa sukacita. Sungguh tindakan yang membuat wanita dalam pelukannya memekik kaget, namun tawa menghiasi bibirnya.

“Jinjja, kau membuatku kaget!!” serunya. Mereka bercanda tawa sejenak lalu diam dengan Heechul memeluknya. Young Jae membiarkan kepalanya bersandar pada dada bidang Heechul yang hangat. Ia ingin mendengarkan debaran jantung suaminya.
“Aku tidak bisa membayangkan gadis sepertimu menjadi seorang ibu kelak.” Terdengar Heechul menggumam. Young Jae mengulum senyum.
“Aku juga tidak menyangka ayah dari anakku adalah dirimu.”
“Kim Young Jae,”
“Ne..”
“Apa yang kau inginkan di hari anniversarry kita yang pertama nanti?”
“Anniversarry?” Youngjae mengerutkan kening “Apa kita memiliki hari anniversarry?”

Heechul menyipitkan mata, “Kau mulai amnesia, Nyonya Kim. Bukankah kita sepakat hari pertama kau masuk ke rumah ini dan menjadi istriku sebagai hari anniversarry?”
“Ah,” Youngjae menepukkan tangannya. Bagaimana ia bisa melupakan hal itu? Youngjae memutar otaknya dengan gembira, mencoba memikirkan hal apa yang bagus untuk ia pinta di hari anniversarry mereka nanti. Youngjae mengerjap, ia tahu apa yang ia inginkan. Dengan wajah berbinar ia menatap Heechul.
“Aku ingin pesta resepsi yang meriah!”
“Mwo?”
“Ne, sekaligus hari selamatan kelahiran anak kita. Aku yakin saat anniversarry nanti anak kita sudah lahir. Oke, oke?” Youngjae dengan manja menggoyang-goyangkan tangan Heechul, “Jebal..” ia mengedip-ngedipkan matanya.
“Tapi, untuk apa pesta resepsi?”
“Karena kita belum mengadakan pesta resepsi apapun dan aku ingin merasakan bagaimana rasanya menikah sungguhan di depan altar. Bukankah menyenangkan? Menikah kembali di hari anniversary pertama kita dan kita akan memperkenalkan bayi kita di sana.”

Heechul tidak langsung menjawab. Ia sekarang sibuk memikirkan gagasan itu. Sebenarnya tidak hanya Youngjae yang menginginkan hal itu. Ia pun pernah memimpikan bisa menikah dengan cara yang benar. Di depan banyak saksi mengucapkan janji suci bersama. Tetapi untuk saat ini ada prioritas lain yang harus dipertimbangkan. Yaitu persalinan Youngjae yang diperkirakan tak lama lagi.
“Pesta resepsi butuh biaya yang tidak sedikit sementara kita membutuhkan uang untuk biaya persalinanmu.”
Youngjae merengut kecewa, “Dokter bilang perkiraan aku melahirkan seminggu kemudian.”
“Kita tidak bisa mempercayai kata-kata Dokter seratus persen. Kau bisa saja melahirkan hari ini.”
“Aku tidak merasakan apapun. Aku..akhhhh..”

Perdebatan mereka terhenti karena tiba-tiba Young Jae meringis sambil memegangi perutnya. Kepanikan menyerbung di udara, Heechul segera menyongsong tubuh istrinya yang hampir jatuh.

“Young jae, gwaencana?” cecarnya. Young Jae yang kesulitan antara menahan sakit yang menyiksa dan menjawab pertanyaan panik Heechul hanya bisa menatap suaminya dengan pandangan yang agak mengabur. Ia melirik pada bagian bawah tubuhnya. Heechul ikut menoleh dan ia terkejut menyadari ada cairan mengaliri sepanjang kaki Young Jae. Gawat, air ketubannya sudah pecah!

“Young Jae, kita harus segera ke rumah sakit! Kau akan melahirkan!!” seru Heechul panik. Ia akan menggendong istrinya ketika Youngjae buru-buru menepis tangannya.
“Kenapa? Aku akan membawamu!” omelnya bingung. Sambil menahan kesakitan Youngjae menunjuk bajunya.
“Kau harus mengganti bajumu dulu Oppa, aku tidak mau mengambil resiko Ayah anakku ditertawai orang-orang di rumah sakit.”

Heechul melirik penampilannya sendiri lalu menggerutu, “Sial, kenapa di saat genting begini.. tunggu sebentar.” Ia bergegas pergi ke kamar untuk mengganti pakaian, melepas wig, dan menghapus make up di wajahnya. Youngjae hanya memberikan senyum simpul melihat kepanikan Heechul. Senyum itu lalu digantikan oleh rintihan kesakitannya. Perutnya seperti dililit oleh tali membuat pandangannya berkunang-kunang. Beruntung Heechul segera kembali dengan pakaian yang membuatnya terlihat tampan dan sangat gentle. Pria itu menenangkannya dengan senyuman lalu mengangkat tubuhnya dari lantai.
“Sekarang saatnya kita ke rumah sakit. Sepertinya si kecil ingin segera lahir ke dunia ini.”

Youngjae tersenyum bahagia, “Kau sangat tampan, Oppa.” Bisiknya. Pria itu tertawa kecil. Di saat seperti ini sempat-sempatnya berkata manis. Ia tahu ini hanya akal-akalan Youngjae untuk mengalihkan kesakitannya. Wajah pucat Youngjae mulai dibanjiri keringat dingin.
“Aku tahu. Jika memujiku membuatku tenang maka teruslah melakukannya. Aku dengan senang hati menerimanya.” Ia mengedipkan mata lalu membawanya menuju mobil.

—o0o—

Tiga jam di dalam ruang persalinan adalah masa-masa paling menegangkan bagi Heechul. Ia seperti mengulangi kembali masa saat ia dilanda kecemasan luar biasa seperti saat Taeyeon akan melahirkan dahulu namun kali ini bedanya, ia harus menyaksikan sendiri saat Young Jae menjerit-jerit kesakitan dengan keringat yang tak henti-hentinya mengaliri wajahnya. Heechul terjepit antara rasa kasihan, tidak tega, dan bingung. Ia ingin sekali rasanya melakukan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa sakit Young Jae saat berjuang melahirkan anak mereka namun ia tidak tahu. Yang bisa dilakukan Heechul hanyalah menggenggam tangan Young Jae erat selagi istrinya itu memperjuangkan hidup dua nyawa.

“Chagi, ayo kau bisa..” Heechul terus mengulangi kata-kata itu. Sesekali ia menyeka keringat di kening Young Jae. Tangannya habis dicengkeram oleh istrinya. Meskipun sakit, ia tidak keberatan.

Sementara itu di luar, suasana tidak kalah menegangkannya seperti di dalam. Orang tua Heechul yang sudah berada di sana sejak tiga jam lalu terus mondar mandir menanti kelahiran cucu kedua mereka. Kibum dan Jarin juga berada di sana dengan raut cemas serupa seperti kedua orang tua mereka. Sementara kedua orang tua Youngjae masih dalam perjalanan.
“Appa, kenapa lama sekali?” Nyonya Kim bertanya panik pada suaminya.
“Yah, tunggu saja.” Ia tahu baik istrinya maupun dirinya tidak akan bisa tenang di saat seperti ini. Mengingat memori tentang Tayeon saat melahirkan dulu, siapapun pasti akan ketakutan. Sebagai Ayah ia hanya berdoa semoga cucunya lahir dengan selamat dan menantunya baik-baik saja. Tak lupa juga ia berdoa untuk putranya agar bisa kuat menghadapi situasi ini.

Tiga puluh menit kemudian terdengar suara tangis bayi yang membuat semuanya mendesah lega dan kalimat syukur pun terucap bersamaan.
“Bayinya lahir!” seru Jarin bahagia lalu memeluk Kibum.

Di dalam suasana jauh lebih mengharukan lagi. Heechul menghela napas lega karena akhirnya perjalanan panjang itu telah berakhir. Ia merasa begitu lapang, bahagia, dan terharu setelah mendengar suara tangis bayi yang baru saja lahir. Young Jae masih terengah, bayang matanya masih mengabur dan ia merasa dirinya begitu ringan. Rasa sakit yang masih tersisa, perlahan lenyap oleh rasa yang lebih mendominasi yaitu kebahagiaan. Ia ingin menangis, namun tiada suara yang keluar dari tenggorokannya setelah lelah menjerit. Kesadarannya yang hampir hilang kembali berkat sebuah kecupan lembut yang mendarat di keningnya. Ia memaksakan diri membuka mata untuk menatap raut gembira yang sangat dikenalinya, wajah bahagia Kim Heechul, suaminya.

“Aku tahu kau bisa, Eomma..” bisiknya rendah karena terpengaruh oleh airmata. Young Jae sendiri hanya bisa menikmati suasana haru ini dengan lelehan airmata di pipinya. Ia mencoba meresapi setiap moment ke dalam memori otaknya. Inilah saat paling membahagiakan dalam hidupnya, ketika ia berhasil menjadi seorang ibu.
“Peluk aku, kumohon.” Pintanya. Ia tidak ingin menghabiskan waktu bahagia ini dengan menangis. Ia ingin memeluk seseorang sebagai gantinya. Heechul membelalak kaget karena tiba-tiba ia teringat kebiasaan mendiang adiknya saat bahagia ataupun sedih. Ia cepat menggelengkan kepalanya menyadari kelopak matanya berat oleh airmata. Sial, laki-laki mana boleh menangis.

“Oppa..” tangan Youngjae meraih pipinya. Meskipun Heechul tidak ingin menangis, tetapi airmata itu tetap saja menetes keluar tanpa izin. “Kenapa menangis?”
“Aku tidak tahu,” Heechul mengerjapkan matanya lalu menyeka dengan cepat lelehan bening dari pipinya. “Mungkin ini luapan kegembiraanku karena kau masih ada di sini bersamaku.” Sorot matanya meredup, “Untuk sesaat aku merasa takut kau akan meninggalkanku seperti Taeyeon. Tetapi syukurlah, kau masih di sini.”

Youngjae mengerjapkan mata ketika Heechul memeluknya dengan penuh perasaan. Ia mengusap punggungnya sementara pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Youngjae.

“Aku masih di sini, kau tenang saja.” Youngjae berbisik lembut. Ia mengerti perasaan Heechul. Suaminya itu sangat menyayangi Taeyeon, mendiang adik perempuannya yang meninggal setelah melahirkan. Meskipun dari luar tampak tegas dan arogan, tetap saja jauh di dalam hatinya ia adalah seorang pria dengan perasaan. Youngjae sendiri sempat tidak yakin akan bertahan ketika ia merasakan sakit yang luar biasa karena kontraksi. Syukurlah masa berat itu sudah berlalu dan kini ia masih bernapas. Mengingat anugerah itu pelukan Youngjae mengerat.

Dokter dan beberapa suster yang menyaksikan adegan itu saling melempar senyum. Mereka tidak berniat sedikitpun merusak momen itu tetapi sebagai orangtua baru Youngjae dan Heechul harus melihat bayi mereka.

“Ekhem..” deheman sang dokter berhasil menarik perhatian keduanya. Dengan kompak Youngjae dan Heechul menoleh.
“Kalian tidak penasaran dengan bayi kalian yang baru saja lahir?” tanyanya dengan ekspresi menahan senyum. Heechul dan Youngjae saling berpandangan lalu sama-sama tersipu malu. Astaga, bagaimana mereka bisa melupakan hal itu?

“Tentu saja kami sangat penasaran,” ujar Heechul lebih dulu. Seorang suster mendekat sambil menimang bayi yang terselubung kain hangat.

“Selamat, Tuan Nyonya, bayi yang lahir laki-laki,” suster itu menyerahkannya ke pangkuan Youngjae. Perasaan ketika ia memeluk bayi itu untuk pertama kali sungguh tidak tergantikan. Youngjae mengusap pipi bayinya yang kemerahan. Bayi itu menggeliat merasakan sentuhan pertama ibunya. Youngjae sungguh ingin menangis melihatnya. Bayinya, janin yang selama sembilan bulan yang lalu ia kandung kini telah lahir. Ia bisa menyentuhnya dengan langsung, merasakan, dan mendengar suara merdunya. Youngjae tidak bisa menahan diri untuk mengecup pipi bayinya sambil menahan diri agar airmatanya tidak jatuh.

“Dia sungguh tampan,” ujar Heechul dengan suara serak. Ia ikut mengecup pipi bayinya. “Sudah kubilang Youngjae, dia akan mirip denganku. Lihat, dia seratus persen mewarisi genku.” Heechul tertawa sendiri dengan pernyataannya. Tetapi memang benar, bayi laki-laki itu memiliki garis-garis wajah seperti milik Ayahnya.

“Aigoo, aku tidak mau berdebat tentang hal itu saat ini!!” seru Youngjae antara jengkel dan terharu. Kenapa Heechul selalu memiliki kalimat bagus untuk menghancurkan mood orang?

Bayi itu menangis merasa tidurnya telah terganggu oleh perdebatan kecil Ayah Ibunya, Young Jae dan Heechul sama-sama tertawa bahagia melihatnya. Dokter mengintruksikan Youngjae untuk menyusuinya. Youngjae menoleh pada Heechul yang tersenyum penuh arti lalu sama-sama memperhatikan bagaimana semangatnya Heechul junior melahap makanan pertamanya di dunia ini.

Kebahagiaan mereka semakin sempurna ketika kedua orang tua Heechul, Kibum, serta Jarin memberikan ucapan selamat setelah Youngjae dipindahkan ke ruang rawat biasa. Ayah dan Ibu Heechul bahkan sempat berdebat tentang siapa yang lebih dulu menggendong bayi itu. Jarin belakangan mengambil alih bayi itu lebih dulu dari gendongan Youngjae. Dia sangat berhati-hati saat menimangnya karena bayi itu sedang tertidur nyenyak.

“Dia sangat lucu.” Erangnya gemas, “Chagi, kita harus memiliki bayi lucu seperti ini secepatnya.” Jarin setengah memohon pada suaminya, Kibum yang sekarang sedang mengobrol dengan Youngjae.
“Bisa diusahakan,” jawabnya lembut, melemparkan senyum simpul yang membuat Jarin merona malu. Youngjae hanya menggelengkan kepala sambil bergumam, “Dasar pengantin baru.”
“Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?” tanya Nyonya Kim. Perlahan-lahan ia mengambil bayi itu dari Jarin lalu menimangnya dengan penuh kasih sayang.

Baik Heechul dan Young Jae sama-sama tersentak lalu saling memandang. Mereka memang selalu berdebat soal apapun karena perbedaan pendapat namun untuk soal nama anak mereka, baik Heechul maupun Young jae sudah sepakat memilihkan nama untuk malaikat kecil mereka.

“Kim Joon Hee.”

Mereka menjawabnya dengan serempak. Heechul memeluk Young Jae yang tertawa geli karena kekompakan mereka. Beberapa jam kemudian kedua orang tua Youngjae datang membuat keributan yang lebih heboh lagi. Ibu Youngjae langsung menangis terharu melihat cucunya untuk pertama kali. Dia langsung berargumen dengan suaminya karena mereka sama-sama ingin menggendong Joon Hee yang akhirnya terpaksa dihentikan karena bayi itu menangis.

Inilah hari paling indah bagi semuanya.

~~~

162 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 13-END)

  1. Ini ga ada epilognya??? Aduhh, maap ya thor bru komen pas di chapter terakhir😀
    Huwaaa~~ Endingnya sangat manisss!! Tapi, kirain endingnya Young Jae bakalan jadi Designer trkenal.. Okelah thor, semngat trus buat ffnyaa!!
    FIGHTING!!!

  2. Baby Joonhee jd objek rebutan oleh kakek neneknya hehehehe
    snengnya mrka udah bsa mliht malaikat kcilny trlhir d dunia…
    Qu ikut bhgia,,,,,,

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s