I Hate You, But.. (Part 12)

Tittle : I Hate You, But Part 12
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Kim So-Eun
  • Choi Si-Won

 

Dha’s Speech :
Maaf untuk typo dan sejenisnya. Happy Reading ^_^

I Hate You, But 3 by Dha Khanzaki

===Part 12===

Donghae dan Eun Ji berpacaran? Mendengarnya saja membuat kerutan di kening So Eun bertambah. Terdengar aneh dan tabu meskipun tidak menutup kemungkinan mereka benar-benar menjalin hubungan asmara. Tetapi tetap saja So Eun tidak habis pikir, apa yang membuat Donghae memutuskan untuk merajut tali kasih dengan wanita itu?

“Youngiii!!!!!!”

Lamunan So Eun terpotong oleh teriakan Kyuhyun yang lebih heboh daripada cheerleader di pertandingan basket. Pria itu dengan antusias melambaikan tangannya pada seorang wanita yang baru saja keluar dari gate kedatangan internasional. Wanita itu tersenyum lebar mengenali Kyuhyun lalu berjalan menghampirinya sambil mengerek sebuah koper. Kyuhyun sepertinya tidak sabar, setengah berlari ia menghampiri wanita itu lalu memeluknya erat seolah besok dunia akan berakhir jika ia tidak melakukannya.

“Apa itu istrinya?” tanya So Eun pada Siwon. Pria itu hanya mengangkat bahunya karena sejujurnya ia tidak pernah memperhatikan seperti apa rupa istri sahabatnya itu.
“Itu memang kakak iparku,” ujar Yoohee. Seperti yang sudah diduganya. Tentu saja, memang siapa lagi yang mereka tunggu selain istri Cho Kyuhyun itu.
“Ah, mereka benar-benar membuatku iri..” So Eun berkata dengan nada iri. Siwon mengerutkan kening mendengarnya lalu menoleh. “Apa yang membuatmu iri?”

“Perasaan mereka tidak berubah meskipun berpisah selama berbulan-bulan. Aku mungkin berlebihan tapi orang buta pun tahu betapa Kyuhyun merindukan istrinya. Aku kagum pada kesetiaan Kyuhyun-ssi. Sulit sekali menemukan pria seperti itu di dunia ini.” Ucap So Eun dengan pandangan menerawang. “Ah tunggu, rasanya ada pria seperti itu,” ujarnya sambil mengerjap.
“Nugu?” Yoo Hee penasaran sekali apakah ada orang di dunia ini yang selurus kakaknya. So Eun tersenyum penuh arti kepada Yoo Hee.
“Lee Donghae, dia orang yang seperti itu.”

Yoo Hee melebarkan matanya takjub mendengar nama pria yang disukainya disebut So Eun. Jadi, jadi Donghae adalah pria yang setia? Tapi tunggu dulu..jika memang Donghae pria yang setia itu artinya tidak akan ada kesempatan untuknya karena Donghae pasti tidak akan meninggalkan Eun Ji.

Entah kenapa Siwon merasa cemburu sekali mendengar So Eun berkata penuh kekaguman seperti itu dan secara tidak langsung So Eun berkata dirinya bukanlah pria yang setia. Apa karena dulu ia sempat membuatnya menderita karena gadis lain bernama Park Eun Ji sehingga So Eun tidak pernah merasa mendapatkan kesetiaan darinya?

“Kenapa diam Oppa?” So Eun heran sekali karena sejak tadi Siwon tidak berkomentar apa-apa. Pertanyaannya itu belum sempat terjawab karena Kyuhyun datang menghampiri mereka membawa istrinya. Siwon pun segera menormalkan perasaan yang sempat menggemuruh tadi. Tetapi So Eun tahu senyum yang diperlihatkan Siwon selanjutnya adalah senyum yang dipaksakan.

“Oh, jadi ini Nyonya Cho yang selalu dibanggakan Kyuhyun? Senang bertemu denganmu.” Siwon menjabat tangan Je Young—istri Kyuhyun—yang dikenalkan pria itu kepadanya sambil tersenyum.

“Terima kasih. Aku juga tidak tahu kau sudah menikah, Siwon-ssi,” Je Young balas tersenyum lalu melirik So Eun dan mengulurkan tangannya.
“Cho Je Young, senang berkenalan denganmu.”

“Aku Choi So Eun,” So Eun rasanya aneh sekali memperkenalkan dirinya dengan marga suaminya. Namun jika Je Young saja bisa dengan tenang mengenalkan diri dengan marga Kyuhyun mengapa ia tidak.

“Eonni, akhirnya kau kembali. Aku takut kakakku akan masuk ruang IGD karena terus mengigaukan namamu setiap malam,” ujar Yoohee usil sambil merangkul kakak iparnya. Kyuhyun hanya menatap gemas adiknya itu. Bisa-bisanya mengadu hal-hal aneh pada istrinya.

Mereka kemudian mengobrol sejenak sebelum akhirnya pulang. Kyuhyun memaksa So Eun serta Siwon mampir ke rumahnya untuk merayakan kepulangan istrinya. Mereka bahkan tidak bisa menolak sama sekali setelah Je Young ikut memohon.

Sekarang mereka berada di kediaman Kyuhyun. Yoo Hee tidak ikut karena harus kembali ke rumah sakit. So Eun dengan senang hati membantu istri Kyuhyun itu menyiapkan makanan sementara para suami asyik mengobrol di ruang makan.

“Aku jadi tidak enak kau repot-repot membantu karena kau adalah tamu di sini,” Je Young mengungkapkan rasa tidak enaknya ketika So Eun ikut menyiapkan makanan dengannya di dapur. So Eun tersenyum menenangkan.

“Jangan sungkan. Aku tidak keberatan sama sekali.”

“Siwon-ssi bilang kau sedang hamil, benarkah?”

“Ne. Sekarang memasuki bulan ke dua.”

“Aigoo, aku juga ingin sekali lekas memiliki anak,” Jeyoung memandang wajah gembira So Eun ketika mengusap perutnya dengan iri.

“Sekarang mungkin kau bisa mendapatkannya, bukankah kau tidak akan pergi ke luar negeri lagi?”

“Oh, kegiatan amal sudah selesai. Lagipula jika aku terus pergi, aku khawatir Kyuhyun Oppa akan menceraikanku.” Candanya.

“Tidak mungkin, bisa kulihat betapa setianya dia menunggumu hingga pulang.”

Je Young tertawa ringan sambil memasukkan loyang ke dalam microwave. “Sebenarnya, awal kami menikah bukan karena cinta.” ujarnya. So Eun berhenti tersenyum lalu memandang Je Young.

“Saat itu aku belum mencintai suamiku, hanya saja ke dua orang tuaku menyuruhku lekas menikah begitu aku lulus dari kuliahku. Aku yang tidak memiliki kekasih tentu saja bingung ketika dituntut mengenalkan calon suamiku. Aku dilanda kebingungan dan sempat ingin kabur juga karena tidak mau dijodohkan oleh orang tua. Malam itu demi menghilangkan kepenatan aku pergi ke sebuah klub malam,” Je Young berhenti sejenak untuk memandang So Eun. Wanita itu tetap mendengarkan ceritanya dengan intens, sesekali melemparkan senyum penuh pengertian.

“Di sanalah aku bertemu dengan Kyuhyun. Kami teman satu kampus namun tidak saling mengenal, namun untuk pertama kalinya malam itu kami akrab. Kami saling berbagi cerita dan tanpa sadar sudah menghabiskan lebih dari satu botol brandy. Kami sama-sama mabuk dan entah apa yang terjadi namun keesokan harinya begitu aku tersadar, kami tidur di satu ranjang yang sama dalam kondisi tanpa sehelai benang pun.”

“Astaga,” So Eun menutup mulutnya. “Kalian melakukannya dalam keadaan mabuk?” ujarnya agak berbisik. Je Young mengendikkan bahu.

“Entahlah, aku tidak bisa mengingat apapun. Namun saat itu aku begitu histeris. Kami sepakat untuk tidak bertemu kembali namun beberapa minggu kemudian aku merasa mual-mual. Aku berpikir mungkin saat itu aku sedang hamil.”

So Eun mulai tertarik dengan cerita selanjutnya, “Lalu apa yang kau lakukan?”

“Aku meminta pertanggung jawaban Kyuhyun. Sebelum orang tuaku tahu dan menghakimi Kyuhyun, aku meminta Kyuhyun menikahiku dan mengatakan aku hamil tanpa mengetes kebenarannya. Padahal saat itu Kyuhyun hampir saja menikah dengan kekasihnya.”

“Apa?” So Eun melebarkan mata. “Dan Kyuhyun-ssi setuju menikahimu?”

“Tentu saja, dengan sedikit paksaan akhirnya kami menikah.” Je Young bercerita dengan tangan sibuk mengolah masakan dalam wajan sementara So Eun sedang mengiris buah untuk salad.

“Kau bergosip tentangku dengan istri temanku, hm?” Kyuhyun tiba-tiba sudah berada di samping Je Young, berkata pada istrinya itu dengan nada jahil.

“Itu fakta, bukan gossip,” balas Jeyoung cuek, sambil melempar senyum misterius pada So Eun yang membalasnya dengan senyum serupa.

Kyuhyun mengendikkan bahu dan melaksanakan tujuan utamanya menginjak dapur, yaitu mengambil teko kopi dari mesin kopi dan menuangkannya ke dua gelas cangkir.

“Yang pasti pada akhirnya aku mencintaimu, bukan?” Kyuhyun melemparkan senyum kembali sebelum pergi.

So Eun tahu kata-kata itu bukan untuknya, tapi entah kenapa pipinya merasa memanas karena malu atau mungkin iri. Ia tidak pernah mendapatkan pernyataan cinta yang langsung dan gamblang dari Siwon. Pandangan matanya melirik ke arah Je Young dan sesuai dugaannya, gadis itu juga merona merah.

“Ya, dia selalu benar.” lirih Je Young di sambut anggukan ringan dari So Eun. Mengetahui ada seseorang yang mengalami nasib serupa, So Eun merasa hidupnya menjadi lebih baik. Setidaknya, ia bukan satu-satunya wanita di dunia ini yang menjalani pernikahan penuh kebencian pada awalnya.

Awal pernikahannya memang terasa begitu berat. Tetapi sekarang ia bisa memetik buah manis dari kesabaran dan ketegarannya menghadapi keangkuhan seorang Choi Siwon. Ia bisa mendapatkan cinta pria itu dan juga bayi yang sedang bertumbuh-kembang di dalam perutnya sekarang.

—o0o—

Hari ini adalah hari pemeriksaan kandungan untuk So Eun. Siwon dengan setia menemani istrinya menemui dokter kandungan pribadinya. Dokter mengatakan kandungan So Eun baik-baik saja dan dalam keadaan stabil. Mereka lekas pamit segera setelah pemeriksaan selesai.

“Sudah kukatakan, kau harus banyak minum susu. Kenapa kau sulit sekali kunasehati?” Siwon berkata, dengan mesra menggandeng tangan istrinya ketika mereka berjalan melewati lobi rumah sakit.
“Tapi aku lebih suka makan buah.”

“Aku tahu, tapi buah yang kau makan hanya anggur dan strawberry, aku curiga jangan-jangan anak kita perempuan,” Siwon tersenyum hingga menampilkan lesung pipinya. Lirikan nakalnya membuat pipi So Eun merona merah, meskipun ia tahu Siwon tidak bermaksud membuatnya tersipu malu.

“Apakah akan masalah jika anak kita perempuan?” So Eun berkata dengan nada kecewa. Mendadak saja ia takut Siwon akan menelantarkan anaknya hanya karena bayi yang terlahir nanti adalah bayi perempuan.

“Tentu saja tidak, sayang. Aku tidak peduli anak kita perempuan atau laki-laki. Asalkan itu anak yang terlahir darimu, aku akan mencintainya seperti aku mencintaimu.”

Pipi So Eun semakin memerah hingga ke telinganya. Akhir-akhir ini Siwon pernah ragu mengatakan cinta padanya. Bahkan tak peduli berat badannya semakin bertambah akhir-akhir ini, pria itu justru semakin bersikap romantis. Bangun lebih dulu demi menyiapkan sarapan untuknya adalah kebiasaan baru Choi Siwon. Pria itu juga tidak akan ragu untuk menciumnya jika So Eun mulai memandanginya cukup lama. Yah, entah karena bawaan bayi, So Eun sendiri tidak tahu namun ia seperti mengharapkan Siwon lebih sering menciumnya di bandingkan sebelum ia hamil dulu.

So Eun tak perlu berkata karena Siwon sudah tahu apa yang diinginkannya hanya dari tatapan mata saja. Beruntung sekali ia memiliki suami secekatan Siwon.

“Kenapa sekarang kau menatapku?” So Eun tersadar begitu mendengar suara Siwon. Ia mengerjapkan beberapa kali dan terhenyak sadar melihat Siwon menatapnya gemas. Matanya yang jernih itu berkilat-kilat penuh arti. “So Eun, tidak mungkin aku menciummu di sini. Kau tahu bukan kita berada di tempat umum?”

So Eun baru benar-benar tersadar kali ini. Astaga, Siwon benar-benar salah mengartikan tatapan matanya. Ia segera memalingkan pandangannya dengan wajah merona malu. Ia memejamkan mata erat sambil menggumam dalam hati; Aegi, kenapa kau meminta hal yang tidak-tidak?
So Eun tidak bermaksud menyalahkan anaknya, hanya saja ia tidak tahu harus melimpahkan pada siapa lagi penyebab keinginan anehnya selama hamil. Siwon tergelak namun tetap sopan. Dasar, sejak kapan suaminya berubah menjadi pria jahil seperti ini?

Semuanya terasa baik-baik saja sebelum keduanya mencapai pintu keluar rumah sakit sampai keduanya berpapasan dengan Eun Ji. Suasana tiba-tiba saja terasa begitu hening. Eun Ji hanya berdiri sambil menatap dua orang di depannya. Untuk sesaat pikirannya seperti kosong.

“Wah, tak kusangka kita bertemu di sini, apa yang kalian lakukan?” Eun Ji tersenyum, terlihat jelas ia memaksakannya.
Siwon merasa Eun Ji sedang menyembunyikan sesuatu namun ia tidak mau merusak rasa bahagianya dengan bertanya yang tidak-tidak. Karena itu Siwon balas tersenyum.

“Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan So Eun,” jawabnya santai. Eun Ji menggigit bibirnya sebelum menjawab dengan suara tercekat.

“Senang mendengar kalian akan memiliki anak, kalau begitu aku permisi.” Eun Ji buru-buru melenggang keluar dari rumah sakit. Siwon dan So Eun hanya berpandangan.
“Eun Ji sepertinya tidak sehat, wajahnya tampak pucat.” Ujar So Eun, mendadak saja ia mencemaskan Eun Ji. Sekilas So Eun merasa Eun Ji tampak seperti pasien yang menderita penyakit parah. Siwon pun sempat berpikir demikian, namun Eun Ji memang mudah sekali sakit sejak dulu. Selain perasaannya yang mudah terluka.

“Sudahlah, mungkin saja dia sedang sakit.” Siwon mengibaskan tangan lalu menarik So Eun pergi.

—o0o—-

Setiap kali menatap Donghae, So Eun merasakan suatu ganjalan. Ada pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan. Ia seharusnya tahu Donghae bebas menyukai siapapun namun mengingat pernyataan Yoo Hae ketika di bandara, So Eun tidak pernah bisa tenang. Donghae boleh tertarik pada siapapun, tetapi kenapa harus Eun Ji? Meskipun gadis itu sudah menjadi baik tapi tetap saja.

“Semua berjalan lancar, kau tenang saja.” Donghae tersenyum sambil meletakkan cangkir kopinya. So Eun tersenyum simpul lalu menyesap teh. Tiba-tiba saja hari ini ia ingin sekali menengok Donghae pasca menjadi CEO baru perusahaan mendiang Ayahnya.

“Aku percaya padamu. Hanya saja ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

“Malhaebwa.”

“Apa kau benar-benar menjalin hubungan dengan Eun Ji?” So Eun bertanya serius.

Untuk beberapa detik Donghae terpaku, reaksinya menunjukkan keterkejutan. Pria itu tidak langsung membantah ataupun membenarkan, tetapi menjawab dengan nada gamang, “Kau tahu darimana?”

“Menurut gossip yang kudengar…” So Eun tidak mau berkata ia tahu semua ini dari Yoo Hee.

“Pasti gadis dokter itu yang mengatakannya,” sela Donghae yakin, karena hanya pada gadis itu ia mengakui Eun Ji adalah kekasihnya. So Eun mengerjap, kaget. Donghae menatapnya yakin sehingga sulit bagi So Eun untuk mengelak.

“Iya,” So Eun membalas kata-kata Donghae dengan mata membulat. Pria ini tahu?

Donghae menghela napas pasrah, seolah topik yang mereka bicarakan ini adalah sesuatu yang membuatnya lelah. Pria itu mengurut pelipisnya, “Itu tidak sungguhan. Aku tidak berpacaran dengan Eun Ji atau siapapun.” Ia lalu menatap So Eun yang tanpa sadar mendesah lega. “Kenapa kau bertanya? Bukankah tidak masalah aku berhubungan dengan siapapun?”

So Eun tersentak, ucapan Donghae memang ada benarnya. Sekarang ia merasa terlalu ikut campur urusan orang lain, “Aku hanya berpikir Eun Ji bukanlah tipe wanita idamanmu. Aku tidak bermaksud mengatakan Eun Ji wanita yang buruk, tetapi entah kenapa aku merasa cemas setelah mendengar kau menjalin hubungan dengan Eun Ji. Aku tidak pernah mencurigai siapapun tetapi Eun Ji..” kata-kata So Eun menggantung, ia sadar dirinya sudah kelewatan mencurigai seseorang.

“Setahuku dia gadis yang baik,” gumam Donghae dengan senyum penuh arti, “Tetapi jika kau mencemaskanku, aku berterima kasih.”

So Eun merasa malu dan bersalah saat itu juga. Ia tahu kecurigaannya terhadap Eun Ji tidak beralasan. Seperti yang Donghae katakan, sekarang Eun Ji sudah menjadi gadis yang baik, lantas mengapa ia berfirasat akan terjadi hal buruk?

“So Eun,” Donghae memanggil karena ia melihat So Eun begitu murung. Dalam hati ia merasa senang, entah kenapa. So Eun masih memperhatikannya meski kini perhatian So Eun dalam konteks perhatian adik pada kakaknya. “Terima kasih.”

Donghae tersenyum begitu tulus membuat So Eun yakin bahwa Donghae pantas mendapatkan gadis yang lebih baik segala-galanya di banding Park Eun Ji. Pria itu begitu baik dan apa adanya. Jika memang benar Eun Ji tertarik pada Donghae, maka gadis itu sudah terpikat pada ketulusannya.

—o0o—

Siwon mendapatkan undangan makan malam di rumah Kyuhyun, ketika mengatakannya pada So Eun istrinya itu begitu gembira dan menyambut dengan antusias. Sepertinya So Eun merasa begitu akrab dengan istri sahabatnya, Je Young semenjak mendengar kisah cinta mereka yang serupa dengan kisah cintanya.

Selama makan malam berlangsung, suasana terasa begitu hangat dan akrab. Mereka membincangkan banyak hal termasuk rencana Siwon untuk ambil cuti saat kandungan istrinya masuk usia 9 bulan.

“Aku mendengarnya dari Eomma, perkiraan dokter tentang waktu kelahiran bayi bisa saja meleset. Karena itu aku ingin berada di sisinya agar siap siaga jika perkiraan dokter benar-benar meleset. Aku tidak bisa membayangkan So Eun yang merintih sakit sendirian di saat ia akan melahirkan, oh Tuhan, jangan sampai itu terjadi.” Siwon menjelaskan panjang lebar sambil sesekali melirik So Eun yang tersenyum simpul.

“Astaga, aku iri sekali,” Je Young memperlihatkan wajah irinya, ia mendekap tangannya di dada, merasa kagum pada suami So Eun itu.

“Kyuhyun saja tidak seperti itu ketika aku dirawat di rumah sakit dahulu.”
Kyuhyun hanya tersenyum karena ia tahu Je Young tidak bermaksud membanding-bandingkannya dengan Siwon, tentu saja mereka dua orang yang sangat berbeda.

“Kau tidak cemburu?” Siwon bertanya karena Kyuhyun malah tersenyum tidak jelas.

“Kau benar-benar sudah berubah, entah kenapa aku sekarang merasa sangat bangga padamu,” Kyuhyun melemparkan kalimat yang membuat Siwon tersentak, begitupun So Eun.

“Berubah apa maksudmu? Kau pikir aku Superman yang bisa berubah?”

“Bukan begitu,” Kyuhyun menepis gurauan Siwon, “Bukankah sudah pernah kukatakan, hati manusia adalah komponen paling rumit yang dibuat Tuhan. Sekarang kau tahu bukan, yang jelas tertulis di hatimu bukanlah Park Eun Ji, melainkan Kim So Eun.”

Siwon melebarkan matanya, sebenarnya ia sudah lupa sama sekali dengan ucapan Kyuhyun itu. Tetapi ucapan pria ini kembali menyentak hati nuraninya yang terdalam. Kata-kata sederhana yang mampu menamparnya, membuatnya tersadar bahwa hati manusia tidak akan pernah bisa di atur oleh diri manusia itu sendiri, namun selalu ada Tangan Tuhan yang menjadikan hati serupa dengan alat mekanika yang berfungsi sendiri dan itulah yang di sebut nurani. Sebuah titik terdalam di hati manusia yang seringkali terabaikan, tenggelam oleh arogansi.

Entah kenapa Siwon merasa malu. Dahulu ia begitu yakin bahwa nama Eun-Ji lah yang terpahat di hatinya namun Tuhan berkehendak lain. Mungkin nama So Eun sudah lama terukir di sana hanya saja ia berusaha keras menutupnya dengan rasa egois.

“Wow, kata-kata yang hebat,” So Eun kini berdecak kagum. Di balik sikap jahil dan blak-blakkannya siapa sangka Kyuhyun seseorang yang berhati bijak. Seseorang memang tidak bisa dinilai hanya dari penampilannya saja. So Eun pun merasa malu karena sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang Eun Ji. Seharusnya ia tidak berburuk sangka pada gadis itu.

Kyuhyun mengusap tengkuknya, merasa tidak enak telah membuat suasana menjadi sepi dan canggung. Ia menoleh pada istrinya yang tersenyum simpul, dengan santai Je Young berkata, “Kau mengingat kata-kataku dengan baik rupanya.”

Kyuhyun sontak tertawa, tindakannya itu telah mencairkan suasana kembali. So Eun merasa sangat terhibur berkat tawa Kyuhyun. Ia menoleh pada Siwon dan dibalas senyum penuh arti dari suaminya itu.
“Bicara tentang Eun Ji..” Je Young ingat sesuatu tentang Eun Ji, “Apakah dia baik-baik saja?”

“Kau mengenal Park Eun Ji?” So Eun terperangah.

“Dulu kami teman satu kampus. Aku dan Siwon kebetulan berada dalam satu fakultas yang sama dengan Eun Ji. Sementara Je Young masuk fakultas lain,” jelas Kyuhyun lebih dulu.

“Ya, dan aku satu kampus juga dengannya ketika melanjutkan kuliah di Prancis.” Tambah Jeyoung.

So Eun mengangguk-angguk, “Kau mengenalnya dengan baik?”

“Tidak juga, hanya saja yang kutahu Eun Ji adalah gadis yang pintar dan ambisius. Tetapi ada kabar buruk yang beredar tentangnya..” Je Young terdiam sejenak untuk memandangi satu persatu orang-orang yang menatapnya dengan raut serius dan penasaran, “Menurut kabar angin yang kudengar, Eun Ji berkali-kali pergi ke rumah sakit. Aku sempat mengira dia sakit, namun aku baru tahu ternyata dia menemui seorang psikiater.”

Siwon maupun So Eun melebarkan mata terkejut, “Kau bermaksud mengatakan Eun Ji menderita penyakit kejiwaan?” serobot So Eun.

“Tidak begitu, hanya saja mungkin Eun Ji sedang berada dalam masa sulit waktu itu karena kasus yang melibatkan keluarganya.”

“Kasus?”

“Ya, aku tidak tahu kasus apa namun karena masalah itu Eun Ji seolah menjadi sosok lain. Dia menjadi dingin dan tidak mau bergaul hingga suatu ketika Eun Ji berubah sangat drastis. Dia menjadi gadis yang senang mencari perhatian, ceria, dan mudah sekali bergaul. Agak aneh memang, mana ada seseorang yang berubah drastis dalam waktu sekejap. Aku khawatir jangan-jangan dia bertingkah sama akhir-akhir ini.”

Seketika, Siwon maupun So Eun saling memandang dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dalam pikiran mereka sama-sama berkelebat satu gagasan; Apa mungkin perubahan tiba-tiba Eun Ji disebabkan oleh penyakitnya?
“Honey, ceritamu membuatku merinding,” Kyuhyun memecah suasana hening dengan gurauannya. “Apa itu cerita yang kau bawa dari kegiatan beramalmu?”

“Yah, sebaiknya kita mengganti topik saja. Maaf sudah menceritakan hal yang tidak seharusnya.”

—o0o—

Tanpa sengaja, malam ini Donghae bertemu dengan Eun Ji ketika ia sedang bernostalgia di sebuah taman kota tempat dirinya dan So Eun pertama kali berjumpa dulu. Mereka duduk berdampingan di bangku taman dengan suasana yang terasa begitu hening. Sepuluh menit berlalu tanpa ada yang membuka mulut lebih dahulu. Donghae sesekali melirik ke arah Eun Ji, anehnya malam ini ekspresinya tampak begitu sendu.

“Bagaimana kau bisa setenang ini setelah cinta yang cukup lama kau tumbuhkan di hatimu mati begitu saja?” tiba-tiba Eun Ji berkata, membuat Donghae membeku selama beberapa saat.

“Apa sesuatu terjadi?” Donghae merasa Eun Ji yang sekarang duduk bersamanya bukanlah Eun Ji yang ia kenal. Eun Ji menoleh menatapnya, dengan ekspresi yang membuat siapapun merasa begitu malang. Ada apa sebenarnya?

“Aku sudah berusaha melawannya, sungguh. Tapi aku tidak bisa..” kedua sudut matanya mengalirkan airmata. Donghae tercengang. Sebelum ia sempat menyadari kondisi Eun Ji, gadis itu memeluknya tiba-tiba.
“Kumohon, Donghae-ssi..tolong aku..”

Donghae tercengang, apa sebenarnya yang terjadi?

—o0o—

“Nanti sore, aku akan mengajakmu makan malam. Berdandanlah yang cantik,” Siwon mengecup kening istrinya sebelum ia berangkat ke kantor.

“Kenapa tiba-tiba ingin makan malam di luar?”

Siwon tersenyum penuh arti, “Kau lupa hari ini hari apa?”

“Hari Kamis,” So Eun memiringkan kepalanya. Ia tidak mungkin salah, hari ini memang hari Kamis.
Siwon tergelak, ia tidak merasa kecewa sama sekali karena Siwon melupakan hari pernikahan mereka, namun ia justru tertawa lepas.

“Kenapa Oppa tertawa? Apa aku salah?”

Siwon mengecup bibirnya kali ini, “Sudahlah, kau akan tahu nanti.” Jika So Eun tidak ingat bukankah akan menjadi kejutan yang spesial? “Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa meneleponku atau Eomma. Kau benar tidak apa-apa kutinggal sendiri?”

“Usia kandunganku belum 9 bulan. Kau tidak perlu mengambil cuti dan aku pasti baik-baik saja. Eomma akan datang siang nanti,”
Siwon mengangguk, sekali lagi ia pamit lalu pergi bekerja.

So Eun mulai menyibukkan diri dengan membersihkan rumah. Siwon mungkin akan marah jika melihatnya mengerjakan pekerjaan rumah, tapi So Eun tidak bisa membiarkan apartemen mereka berantakan. Lagipula ia berjanji pada diri sendiri tidak akan membuat dirinya kelelahan.
Selagi membersihkan karpet dengan vacuum cleaner, So Eun mendengar bunyi bel.

“Sebentar,” So Eun berteriak karena bel terus dibunyikan. Siapapun yang berada di balik pintu pastilah tidak sabar. So Eun bergegas menghampiri pintu lalu membukanya. Daun pintu mengayun terbuka memapangkan seseorang yang berdiri tegak dengan senyum lebar di wajahnya. So Eun langsung terpaku ketika matanya bertemu dengan mata jernih Park Eun Ji.

To Be Continued

73 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 12)

  1. tuh kan ada yang aneh sama eunji
    aku takut dia punya niat jahat jangan sampe dehhh

    oia aku suka banget sma kata-katanya kyuhyun “Hati manusia adalah komponen paling
    rumit yang dibuat Tuhan. Kau bahkan tidak bisa
    mengira nama siapa yang sebenarnya terukir di
    hatimu”
    beneran itu pas banget deh ^^

    berharap banget happy ending buat siwon sma so eun
    dan juga berharap dong hae sma yoo hee jangan eunji !

  2. ahh eunji udh ktahuan gg beres.nya nih , dia skit pa sih ?
    ngapain jga si eunji k rumah so eun , jngan smpe dia nyakitin so eun lgi…

  3. i…itu eunji mo ngapain kerumah so eun?*jangan2 mau ngelakuin hal buruk!! andwaee!!
    serem euy pas jeyoung ceritain ttg eunji -___- ya Ampun jangan sampe Haeppa jatuh cinta ma dia? mending sama yoohee deh yang normal ckckckck

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s