Because WGM, You’ll Be Mine !! (Part 9)

Tittle : Because WGM, You’ll Be Mine !! Part 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Shin Jeyoung
  • Cho Kyuhyun

 

Dha’s Speech :
Maaf untuk typo. Happy Reading ^_^

Because WGM, you'll be mine by Dha Khanzaki

Kyuhyun melonjak begitu senang lalu mengecup tangannya lagi. Jeyoug merasa seperti putri sungguhan hari ini. Tetapi senyumnya tidak bertahan lama karena satu kalimat Kyuhyun membuatnya membelalak kaget.

“Saranghaeyo.”

Jeyoung merasa jantungnya berhenti berdetak mendengar kalimat itu. Kyuhyun mencintainya?

===Part 9===

JEYOUNG POV

“Saranghaeyo,”

Dunia tempatku berada sepertinya berubah menjadi hening. Telingaku tak dapat mendengar apapun selain kata itu. Kata yang sudah membuat seluruh kerja tubuhku macet, kecuali jantungku berpacu dua kali lebih cepat.

Untuk sedetik aku hampir mati bahagia karena kupikir Kyuhyun sedang menyatakan perasaannya padaku, yang artinya cintaku padanya telah berbalas. Namun aku sadar itu hanya bayang-bayangku ketika suara PD berseru.

“CUT!”

Aku mengerjapkan mata dan refleks memundurkan tubuhku satu langkah darinya agar aku bisa mengatur kembali napasku yang tersengal. Kyuhyun sepertinya tidak menyadari dampak kata-katanya padaku karena dia tersenyum lebar pada kru yang menghampirinya untuk membenarkan riasan. Dia bahkan sempat-sempatnya bercanda dengan managernya dan bertanya apakah penampilannya luar biasa—sambil meneguk air banyak-banyak.

Lalu aku? Aku membeku di tempat. Masih tak bisa berpikir jernih karena pikiranku tersesat. Aku pusing dan kebingungan. Bahkan aku tak bisa berdiri tegak dan harus berpegangan pada salah satu kru yang datang untuk merapikan rambutku.

“Akting yang luar biasa Kyu, mungkin aku sudah berpikir kau sungguh-sungguh menyatakan cintamu pada Shin Jeyoung,” aku mendengar PD berbicara dengan wajah bangganya pada Kyuhyun yang disambut cengiran santai pria itu.

“Jika ratingnya naik karena ungkapanku, kau harus mentraktirku.” Canda Kyuhyun lalu mereka tertawa—bahkan kru lain pun ikut tertawa.

Aku tercenung. Lihat, dia begitu santai Shin Jeyoung. Kyuhyun memang hanya berakting ketika mengatakan kata-kata itu padamu. Aku memarahi diri sendiri karena sudah berpikir terlalu jauh sampai-sampai kakiku lemas karena terlalu bahagia.

Detik itu, ketika aku sadar Kyuhyun hanya berakting, hatiku seperti tertimpa batu berton-ton beratnya. Rasa sesak menjalar ke seluruh urat nadiku seperti sengatan listrik. Kenapa aku harus terkejut? Bukankah tugas seorang aktor adalah memperlihatkan acting yang membuat siapapun merasa melayang? Untuk apa aku berpikir tindakah Kyuhyun tadi adalah sesuatu hal yang dilakukan khusus untukku? Mustahil.

Aku merasa kasihan pada diriku sendiri karena sudah berharap terlalu tinggi.

Ketika syuting dilanjutkan, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa Kyuhyun hanya berusaha tampil total untuk acara ini. Berkat itu aku bisa menghadapi Kyuhyun tanpa harus berpikir yang berlebihan lagi tentang segala sikap romantisnya terhadapku. Tetapi tetap saja, setiap kali dia menatapku intens, aku bisa melihat sorot mata penuh kejujuran bahwa apa yang dilakuannya memang murni untukku. Oh tidak, aku sudah mulai gila. Semakin lama aku memikirkannya aku semakin frustasi.

Kenapa kau lakukan ini kepadaku? Kenapa kau memperlihatkan senyum khasmu itu padaku? Kenapa kau bersikap lembut? Dan kenapa, kenapa kau membuatku semakin salah paham dengan perasaan ini?

—o0o—

Aku bersyukur ketika syuting berakhir tepat sebelum jam menunjukkan pukul 10 malam. Aku membereskan barang-barangku yang tidak banyak setelah itu berpamitan pada semua orang. Aku harus segera tiba di halte di depan resort sebelum pukul setengah sebelas atau aku akan ketinggalan bus dan tidak bisa pulang ke apartemen.

“Kenapa terburu-buru?” seru Manager Kyuhyun kaget ketika aku berpamitan padanya. Kyuhyun tidak ada di ruang gantinya ketika aku masuk untuk berpamitan. Kutebak dia sedang berganti baju atau mungkin ke kamar kecil.

“Aku bisa ketinggalan bus jika tidak bergegas. Lagipula besok aku ada kuliah pagi. Karena itu aku tidak bisa tinggal lama di sini, yah, tak peduli tempat ini luar biasa indah.” Ucapku seringan mungkin namun terlihat sedikit menyesal.

“Kau tidak ingin diantar Kyuhyun? Dia sedang berbicara dengan PD.”

“Oh tidak perlu,” tolakku cepat, bahkan terlalu cepat sampai-sampai diriku sendiri terkejut. “Aku tidak ingin merepotkannya. Sampaikan salamku padanya.”

Aku sudah menyiksa diriku seharian ini dengan menerima semua kebaikannya. Karena itu aku ingin waktu untukku sendiri, agar bisa memikirkan bagaimana perasaanku dengan akal sehat dan pikiran jernih. Aku tidak ingin terus berburuk sangka di saat Kyuhyun berada dalam jarak pandangku.

Aku bergegas pergi sebelum Kyuhyun kembali dan aku berpapasan dengannya. Aku berpamitan seadanya pada beberapa kru yang kebetulan bersinggungan denganku ketika aku berjalan keluar dari resort. Aku mendesah lega ketika pintu depan terpampang jelas di hadapanku. Itu artinya tinggal beberapa langkah lagi sebelum aku terbebas dari perasaan takut akan bertemu dengan Kyuhyun.

Aku benar-benar bisa menghembuskan napas lega setelah aku melewati bagian depan resort. Tinggal berjalan beberapa meter sebelum mencapai gerbang dan tiba di halte yang kutuju. Kulangkahkan kakiku secepat yang kubisa. Namun baru beberapa langkah sebuah tangan tiba-tiba menahanku. Tubuhku membeku, aku hampir menjerit karena kupikir ini adalah ulah hantu atau lebih parah penjahat.

“Mau kemana kau?”

Seketika aku terdiam. Itu suara Kyuhyun. Secepat kilat aku menoleh untuk memastikan kebenarannya. Benar, sosok itu berdiri di sampingku dengan alis bertautan. Entah kenapa aku merasa terancam melihat ekspresi Kyuhyun saat ini. Dia terlihat marah.

“Tentu saja aku ingin pulang. Memang apa lagi?” ujarku sok polos. Aku bisa merasakan dengan jelas ketidaksukaannya. Kedua alisnya semakin berkerut di dahinya.

“Pulang?” tanyanya sinis, “Bahkan tanpa berpamitan denganku?”

Oh itu, rupanya dia marah karena aku tidak berpamitan dengannya. Yah, aku tahu aku sudah beretiket jelek. Tapi siapa yang sanggup menatap wajahnya lagi setelah seharian dia membuatku salah paham?

“Kau tidak ada saat aku datang ke ruanganmu,” kilahku.

“Bukankah kau bisa menungguku sebentar?” aku berusaha bertahan agar tidak meringis karena sadar atau tidak Kyuhyun sedang mencengkeram tanganku saat ini. Sepertinya aku sudah membuatnya jengkel dan kenyataan itu semakin mengesalkan hatiku. Kenapa dia harus marah? Apanya yang salah jika seorang teman tidak berpamitan padanya saat akan pulang?

“Untuk apa aku menunggumu? Aku bisa ketinggalan bus jika aku menunggu hingga kau datang hanya untuk berpamitan padamu.”

“Apa?” Kyuhyun menggertakkan gigi, tampak seperti naga yang siap menyemburkan api padaku. Sikapnya membuatku tidak mengerti dan terus bertanya-tanya. “Ketinggalan bus? Lelucon apa itu!” bentaknya kesal. Dan kenapa dia harus membentakku!!!

Akhirnya, aku tidak bisa menahan amarahku lagi. Aku mencoba menghempaskan tanganku dari cengkeramannya tetapi Kyuhyun tetap bertahan memegangku. Dengan dada bergemuruh aku membelalakkan mata padanya.

“Apa hakmu berteriak padaku! Jika kau memang keberatan karena aku sudah bersikap tidak sopan pada orang penting sepertimu aku minta maaf. Tetapi aku tidak suka jika kau harus membentakku seperti itu.” Teriakku membuat Kyuhyun tercengang, kuharap kata-kataku menelak hatinya, “Sekarang lepaskan tanganku dan biarkan aku pergi!” aku menyakiti tanganku sendiri dengan berusaha menariknya tetapi Kyuhyun tidak ingin melepaskanku. Mataku seperti ditusuk-tusuk dan pandanganku mulai mengabur. Aku menundukkan kepala, perlahan-lahan aku berhenti meronta-ronta mencegah agar aku tidak menangis di depan Kyuhyun. Aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa melawan kekuatan kaum pria. Kenapa aku menjadi wanita yang lemah?

“Kau harus pulang denganku,” aku mengangkat kepalaku mendengar Kyuhyun berkata dengan suara tercekat. AKu tidak sempat melihat ekspresinya karena Kyuhyun langsung menarik tanganku pergi. Dia setengah menyeretku menuju area parkir resort ini.

Aku tidak mau memberontak karena itu hanya akan membuatku tampak konyol. Aku hanya berharap tidak ada yang melihatku diseret seperti anjing oleh Kyuhyun.

Kyuhyun membuka pintu mobilnya lalu segera memasukkanku ke dalam sebelum aku melarikan diri. Dia bahkan tidak membuang waktunya sama sekali dan segera mengunci pintu mobilnya setelah dia duduk di sampingku. Bagus, aku merasa seperti tawanan sekarang.

Selama beberapa saat keheningan menyelimuti. Aku tidak akan membuka mulut atau memandangnya jika ia tidak memulai lebih dulu. Aku masih kesal, entah untuk alasan apa.

Tiba-tiba tanganku seperti tersengat listrik dan aku sadar Kyuhyun sedang menggenggam tanganku. Dia mencoba menarik perhatianku padanya.

“Maafkan aku. Sungguh, aku tidak bermaksud berteriak padamu. Aku hanya kesal karena kau mencoba pergi tanpa berpamitan padaku—“

“Kenapa aku harus melakukannya?” aku memotong, “Apa?” ucapnya kaget.

“Maksudku, kenapa kau harus merasa kesal? Aku hanya seorang teman biasa bagimu bukan? Tentu tidak masalah jika aku pergi tanpa pamit padamu.”

Kyuhyun mengeryitkan keningnya ketika aku menekankan kata teman. Sepertinya dia terpukul atau mungkin baru sadar bahwa tingkah lakunya malam ini aneh sekali. Dia terdiam selama beberapa saat dan aku sadar waktu sudah setengah sebelas lewat. Bus yang kutunggu mungkin sudah lewat dan aku tidak bisa pulang selain mengharapkan belas kasihan dari Kyuhyun.

“Kau masih berpikir kita teman setelah semua hal yang terjadi di antara kita?”

Kali ini aku yang terkejut mendengar kata-katanya, “Tidak ada yang terjadi di antara kita,” seruku jengkel. Apa dia masih juga berakting untuk membodohiku? Masih mencoba membuatku salah paham? Aku sudah bosan merasakannya. Aku ingin keluar dari ruang sempit ini, tepatnya, aku tidak ingin berada dalam ruangan yang sama dengan Kyuhyun karena aku akan kesulitan mengambil napasku sendiri.

“Ada!” Kyuhyun berkata dengan tidak sabar dan tangannya menggenggamku erat. Aku tertahan di tempat dudukku.

“Kita sudah pernah tidur bersama, berpelukan, bahkan..kita sudah pernah berciuman.”

“Itu tidak lebih dari sekedar akting! Kita hanya melakukan apa yang diperintahkan sutradara.” Tangisku hampir meledak, tak pernah kusangka perasaan ku akan berkembang sejauh ini. Seharusnya sejak awal aku menganggap Kyuhyun hanya sebagai idola saja, bukan seorang pria. Seandainya kulakukan itu, aku tidak akan sesakit ini. Semua yang dikatakan Kyuhyun tadi memang membuatku bahagia, tetapi juga menyiksa di saat yang sama.

Kyuhyun membelalakkan mata, dia langsung terdiam dengan wajah terpukul. Kata-kataku memang agak kejam, tetapi itulah kenyataannya. Tidak ada hubungan apapun di antara kami.

Ketika aku hampir saja menangis karena tidak bisa menahan perasaan yang bergolak, tiba-tiba saja Kyuhyun berkata dengan suara tercekat.

“Apa kau sungguh-sungguh mengira apa yang kulakukan padamu hanyalah sebuah akting?”

Jantungku berdebar kencang, seketika menoleh padanya. Kyuhyun kini tengah menatapku dalam. Dia meminta kesungguhan dariku.

“Apa kau juga berpikir kata cinta yang kuucapkan padamu tak lebih dari sekedar skenario?”

Apa? Napasku rasanya terhenti selama beberapa detik dan ketika aku bisa menghirup udara kembali, perasaan gembira menyusup masuk dan membuatku lapang. Airmataku menitik. Pria ini, kenapa dia mengatakan kalimat sekejam ini padaku? Apa dia tidak bisa berkata langsung saja tanpa membuatku berpikir dua kali?

“Kau benar-benar jahat,” aku berkata di sela isak tangisku. “Seharian ini aku kebingungan karena tidak tahu apa kau sedang berakting, mencoba membodohiku, atau memang sungguh-sungguh bersikap hangat. Aku..” kalimatku tersendat karena tangan Kyuhyun singgah di pipiku. Otomatis aku berhenti menangis saat mata kami bertatapan.

“Ne, aku pria jahat. Bahkan semua Hyung-ku pun tahu. Bukankah sebagai penggemarku kau juga sudah mengetahuinya. Tetapi, kau harus tahu bahwa aku tidak pernah mencoba mempermainkan hati seorang wanita baik, terlebih jika aku memiliki perasaan tertentu padanya.” Kyuhyun berkata dengan suara rendah yang menggelitik hati dan membuatnya hangat. Dia tersenyum, matanya tak pernah lepas dari wajahku dan aku merasakan dia mulai mendekatkan diri. Oh, apa yang dia lakukan? Sebelum aku sempat menerka apa yang akan terjadi, bibir kami saling bertaut.

—o0o—

AUTHOR POV

Jeyoung merasa jauh lebih baik setelah malam itu. Setidaknya ia tahu Kyuhyun tidak pernah mencoba mempermainkan perasaannya. Hal itulah yang membuat Jeyoung terus tersenyum. Bahkan Nichan pun bisa merasakan kebahagiaannya.

“Kuharap Cho Kyuhyun tidak membuat sahabatku gila. Aku akan menuntutnya jika sampai acara WGM itu selesai Shin Jeyoung tetap tersenyum tidak jelas seperti ini.”

“Apa maksudmu?!” Jeyoung tersentak sadar. Ia memukul pelan Nichan yang tertawa puas setelah berhasil menggodanya. Nichan melanjutkan kegiatannya memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Jam kuliah sudah berakhir tetapi mereka belum juga berniat meninggalkan kelas.

“Kau tahu, Jihoon Oppa terus menginterogasiku karena dia penasaran sekali pada hubunganmu dengan Tuan Cho-mu itu.” Keluh Nichan tetapi tak dapat menyembunyikan binar gembiranya. Memang sejak lama inilah yang ia harapkan, dekat dengan Shin Jihoon, kakak kandung sahabatnya sendiri.

Jeyoung menyikutnya, “Huh, katakan saja kalau kau bahagia karena akhirnya Jihoon Oppa mengajakmu bicara.”

Akhirnya, Nichan tidak bisa menyembunyikan kegirangannya lagi. “Jinjja, kau harus sering berbuat onar agar Jihoon Oppa terus merecokiku sepanjang malam. Kau tidak tahu semalam aku tidak bisa tidur karena suara kakakmu terus terngiang di kepalaku.” Nichan menengadahkan kepalanya dengan pikiran menerawang. Mencoba mengulang kembali saat-saat indah ketika tidurnya terganggu oleh dering ponsel dan ketika dia mengangkatnya, ternyata sang Pangeranlah yang menelepon. Jihoon bahkan tidak menyadari suara Nichan yang bergetar ketika menjawab setiap pertanyaannya. “Ah, ingin rasanya aku memutar waktu kembali ke tadi malam.” Desahnya.

“Aigoo, kau benar-benar tak tertolong. Lain kali mainlah ke rumahku, kau bisa menatap Jihoon Oppa sampai kau puas.”

“Dia tidak tinggal di apartemen?”

“Aku tidak akan mengizinkan kau mengunjunginya di apartemen! Kau lupa kalau kakakku pria normal juga? Kau bisa pulang dalam keadaan tidak utuh.”

“Kau berlebihan!” cibir Nichan. “Sekarang lupakan dia, aku ingin mendengar cerita baru tentang pernikahan virtualmu.”

Pipi Jeyoung langsung merona malu. “Tidak ada yang istimewa.”

“Kau bohong,” Nichan tidak mudah tertipu dan Jeyoung adalah seorang aktris yang buruk. Dengan mudah Nichan bisa menebak apa yang sedang terjadi, “Kyuhyun sudah mengatakan cinta padamu?”

“Aku tidak tahu,” desah Jeyoung membuat Nichat memekik pelan. Memang begitulah keadaannya. “Malam itu Kyuhyun memang mengatakan bahwa semua sikap romantisnya padaku bukanlah sandiwara, tetapi dia tidak pernah mengatakan perasaannya dengan gamblang. Aku masih ragu meskipun aku merasa sedikit lega.”

“Aigoo,” Nichan mendengus, “Sampai kapan dia terus menggantungkanmu? Dia harus berkata dengan tegas.”

“Kenapa dia harus? Kurasa tidak aka nada yang peduli apakah Kyuhyun benar-benar mencintaiku atau tidak.”

Nichan menahan napasnya, “Shin Jeyoung, jangan katakan kau tidak mengetahuinya?”

“Mengetahui apa?”

Gadis itu menggeser duduknya dan berkata dengan suara pelan, “Semua orang mengira kalian memang menjalin hubungan.”

“Mwo? Darimana datangnya gossip itu?” Jeyoung benar-benar terkejut. Pantas saja ia merasa banyak orang yang diam-diam mengamatinya atau berbisik di belakangnya meskipun skandal itu sudah berakhir.

“Kau pikir orang-orang akan percaya meskipun pihak SM sudah membantahnya? Orang bodohpun tahu ada sesuatu di antara kalian setelah melihat penampilan kalian berdua di WGM.”

Bulu kuduk Jeyoung meremang, “Nichan, jangan coba menakutiku.”

“Aku hanya berbicara tentang fakta.”

Jeyoung memeluk tubuhnya sendiri lalu melirik ke sekitarnya dengan gerakan paranoid. Bagaimana ia tidak menyadari hal itu? Kenapa ia tidak berpikir sampai ke sana? Mungkin saja hal itu juga yang sudah memaksa Ayahnya datang menemuinya dan berbicara dengan Kyuhyun?

“Tenanglah, kau tidak perlu panik.” Hibur Nichan, “Selama kau dan Kyuhyun tidak mengumumkan pernikahan, tidak akan terjadi kekacauan.”

—o0o—

Kyuhyun sudah bosan menghadapi ledekan yang datang dari Hyungdeulnya selama itu berkaitan dengan Shin Jeyoung. Sekarang mereka tahu titik lemahnya sehingga membalas perbuatan jahat Kyuhyun selama ini. Kyuhyun tidak marah, kesal, ataupun mencoba membalas. Entah kenapa ia justru merasa bahagia karena dengan datangnya candaan itu, artinya semua orang memang berpikir dirinya dan Jeyoung adalah pasangan yang serasi.

“Shin Jeyoung gadis yang manis, bukan?”

“Ne, kau benar.”

“Seandainya saat itu aku yang ditawari, aku tidak akan menolak jika dipasangkan dengannya.”

Kali ini pun Kyuhyun harus menahan diri agar tidak mengomeli Hyungnya yang terang-terangan membicarakan Jeyoung di depannya. Sementara ia menggeram di sudut ruang ganti, Hyungdeul terkekeh puas.

“Tak perlu diambil hati, semua orang tahu Shin Jeyoung adalah milikmu.” Ujar Sungmin menenangkan. “Penampilan kalian berdua tadi mengkonfirmasi semuanya.”

Kyuhyun tadinya memang kesal, tetapi ia tahu Sungmin memang selalu bisa menghiburnya. “Aku tahu. Seluruh Korea juga tahu. Karena itu jika ada yang berani mengusiknya,” Kyuhyun mendelik tajam ke arah kakak-kakaknya yang tadi mencoba memanasi, “Mereka akan berhadapan denganku.” Kyuhyun menambahkan ketika Hyungdeul memutar bola matanya, “Aku serius.”

“Kami tahu, Kyu. Kau tidak usah memelototi kami seperti itu.” Sahut Siwon. Mereka semua bisa merasakan jika sang magnae mulai mengamuk dan akan fatal akibatnya. Karena itu semuanya memutuskan untuk berhenti menggoda Kyuhyun.

“Sekarang kemana Jeyoung?” Tanya Kangin. Tadi sebelum Super Junior tampil di acara musik, Kyuhyun dan Jeyoung memang sempat melakukan pengambilan gambar untuk sebuah acara talkshow. Kyuhyun mencoba bersikap sewajarnya, tetapi yang terjadi justru membuat semua orang semakin yakin bahwa hubungannya dan Jeyoung lebih dari sekedar rekan kerja.

“Kupikir dia pergi ke toilet.”

—o0o—

JEYOUNG POV

Aku tidak mungkin tersesat, pikirku pada awalnya. Tetapi setelah menyadari aku tidak bisa menemukan dress room Super Junior, aku membenarkan firasatku. Siapa yang menyangka studio tv adalah tempat yang luar biasa luas dan bisa membuat seseorang tersesat?

Ponselku tertinggal di tas sehingga aku tidak bisa menghubungi Kyuhyun untuk menjemputku. Apa aku harus bertanya pada seseorang di sini? Tetapi masalahnya siapa? Semua orang di sini hilir mudik dengan langkah tergesa. JIka biasanya aku menikmati rutinitas itu tetapi sekarang aku mulai panik karena aku tidak bisa bertanya jalan pada mereka.

“Hei, Shin Jeyoung!”

Demi Tuhan, aku bersyukur karena ada seseorang yang menemukanku. Aku segera berbalik dan yang kutemukan justru seseorang yang tak kusangka.

“Kim Myungsoo?” seruku. Myungsoo melambaikan tangannya dan setengah berlari menghampiriku.

“Tak kusangka kita bertemu kembali. Aku sempat ragu itu kau, ternyata kau berbalik dan mengenaliku. Aku sangat lega.”

Aku masih terkaget-kaget melihat Myungsoo, teman SMPku yang sekarang menjadi member salah satu boyband berdiri di depanku dengan tampilan yang sangat berbeda.

“Kau akan tampil?” Aku melihat Myungsoo memakai kostum panggungnya. Lengkap dengan make-up dan aksesoris. Aku hampir tidak mengenali Myungsoo lagi. Tentu saja, Myungsoo menjadi semakin tampan.

“Ya. Aku dalam perjalanan menuju tempat rehearsal. Kau ingin lihat sesi latihan kami sebelum tampil?” ajaknya dengan mata berbinar. Aku masih berpikir antara setuju atau tidak ketika Myungsoo menarik tanganku tanpa mendengar jawaban apapun dariku.

Aku tiba di sebuah ruang studio yang luas dengan panggung dan kursi penonton yang berderet rapi. Ruangan itu masih sepi selain beberapa orang yang berkerumun dekat panggung dan kru tv yang sedang menyempurnakan venue.

“Kita turun agar kau bisa melihat lebih dekat.” Myungku mengajakku turun hingga tiba di dekat panggung. Beberapa orang menoleh dan mereka mengerjap melihatku bersama Myungsoo. Aku penasaran kekagetan mereka karena mengenaliku atau karena aku dibawa oleh Myungsoo.

“Kau kekasih Cho Kyuhyun!” salah satu member Infinite berseru, seketika aku membungkukkan badan dengan wajah memerah.

“Shin Jeyoung imnida.”

“Tak kusangka Myungsoo membawa penonton kemari, apa kau diseret paksa olehnya?” canda yang lain, aku lupa siapa namanya. Aku hanya tersenyum. Mereka mengajakku mengobrol dengan santai sehingga aku tidak merasa canggung. Aku bahkan sempat melihat mereka latihan satu lagu.

“Sekarang aku ingin melihatmu menyanyi.”

Aku tersentak kaget, Myungsoo tiba-tiba menghampiriku dengan sebuah gitar di tangannya. “Ayo mainkah,” ucapnya sambil menyerahkan gitar itu padaku. Aku tergagap karena sejujurnya sudah lama sekali aku tidak bernyanyi sambil memainkan gitar. Di tambah aku harus bernyanyi di hadapan penyanyi professional. Ini sama saja dengan audisi.

“Myungsoo, aku tidak yakin..” desisku cemas. Myungsoo menganggap ucapanku gurauan, dia tertawa sambil mengacak poniku.

“Tidak yakin apa? Sudahlah, anggap saja kami patung.”

Entah karena pengaruh Myungsoo atau karena penasaran member lain ikut menyemangatiku. Aku tidak bisa mengecewakan mereka. Akhirnya aku menghela napas kalah.

“Baiklah, tapi kalian janji jangan menertawakan suaraku.”

“Tenang saja, aku yakin suaramu lebih bagus dari Myungsoo.” Canda yang lain. Aku tersenyum lega.

Aku membenarkan posisi dudukku lalu mulai memainkan beberapa nada awal. Sejujurnya aku malu ketika mendapati semua orang focus memandangku, namun aku tetap melanjutkan nyanyianku.

Neol sangsanghaetdeon neol geuryeowatdeon nae kkumsoge neoreul
(I’ve imagine you, drawing you inside my dream)
Honja ganjikhaetdeon bimilseureobdeon neoreul
(The you who I kept along dearly and secretly)
Nae jageun byeore nae jageun mame niga deureowaseo
(You have come to my little star, my little heart)
Tteollineun nan jeongmal ni apeseo isseosseo
(I’m so trembled being right in front of you)

Nae sangsangsoge geuryeodoetdeon nae kkumsogeman damadoetdeon
(You who I draw in my imagination and only remains in my dream)
Neol ireohke ireohke mannage dwaesseo, Wae gaseumeul gaseumeul tteolligehaeseo
(The way I met you like this, why my heart keep trembling?)
Chagawatdeon barammajeo nal ttatteuthage mandeureoseo
(The way I met you like this, why my heart keep trembling?)
Ireohke neowana duri (duri) nae sarangeul neowana duri forever
(Just like this you and me together (two of us), my love-you and me together forever)

[I’m Coming to See You, song by Deok Hwan]

Semuanya bertepuk tangan ketika aku selesai bernyanyi. Aku merasa lega, karena hingga nada terakhir aku tidak mempermalukan diriku sendiri.

“Daebak, kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja?”

“Myungsoo benar, suaramu memang indah.”

“Ah, apa aku bilang. Kalian akan terpesona jika sudah mendengar nyanyiannya.”

Pipiku memerah mendengar semua pujian itu. Jujur, seumur hidup inilah kali pertamaku mendapat pujian sedemikian rupa setelah aku menyanyi. Aku suka menyanyi, tetapi aku tidak berniat sama sekali untuk menjadikan hobiku sebagai profesi. Mungkin karena aku terlalu pemalu. Aku hanya bisa mengidolakan orang-orang yang pandai menyanyi, seperti Kyuhyun. Oh tunggu dulu, Kyuhyun!

“Ah,” aku terkesiap seraya bangkit. Myungsoo dan yang lainnya menoleh padaku.

“Kenapa?”

“Aku harus kembali.” Aku panik. Aku berjanji akan pulang bersama Kyuhyun dan jika aku tidak cepat kembali entah apa yang dia lakuan padaku.

“Waeyo? Kau baru sebentar di sini.”

“Aku harus pergi atau seseorang akan mengomel, mianhae,” Dengan wajah memelas aku berpamitan pada semua orang.

“Biar kuantar sampai depan,” seru Myungsoo.

“Oh tidak, bukankah kau akan tampil?”

“Satu jam lagi, aku bosan menunggu. Ayo, jangan buang waktu kita di sini.” Myungsoo mengantarku hingga lorong yang familiar untukku. Aku ingat dari tempat ini hanya tinggal belok satu kali untuk mencapai dress room Super Junior. Aku mendesah lega dan berniat pamit padanya ketika sebuah suara dari belakang mengagetkanku.

“Kau di sini rupanya, aku mencarimu kemana-mana.”

Kyuhyun berada di depanku ketika aku membalikkan badan. Dia terlihat khawatir tetapi ketika menyadari Myungsoo berada di sampingku, wajahnya menegang.

“Um, aku tersesat dan kebetulan bertemu dengan Myungsoo, dia mengantarku kemari.” Aku mencoba menjelaskan dengan harapan Kyuhyun tidak melakukan hal-hal aneh seperti menatap tajam Myungsoo.

“Oh, benarkah? Lalu kenapa kau tidak meneleponku?” Kyuhyun menginterogasiku seperti aku sedang berselingkuh saja. “Ponselku tertinggal.” Aku menoleh gugup pada Myungsoo yang kebingungan.

“Terima kasih sudah mengantarku, senang sekali bertemu denganmu dan yang lainnya.” Aku tidak bermaksud mengusir Myungsoo, tetapi dia harus pergi selagi masih ada kesempatan.

“Kapan-kapan kau harus bernyanyi lagi, aku sangat suka mendengar suaramu.”

Aku bisa merasakan tatapan Kyuhyun menusuk punggungku. Mungkin dia terkejut dengan kata-kata Myungsoo barusan. Tentu saja, aku lupa memberitahunya bahwa aku bisa menyanyi. Kyuhyun mendekat ke arahku ketika aku menjabat tangan Myungsoo untuk berpamitan. Dia terlihat tidak suka.

“Kau menyimpan nomor ponselku bukan? Kirimi aku pesan agar kita bisa saling mengontak.” Ujar Myungsoo masih tidak menyadari bahwa Kyuhyun semakin menyipitkan matanya, terutama pada tangannya yang menggenggam tanganku.

“Tentu saja.” ujarku diselingi cengiran tidak jelas. Myungsoo sepertinya mulai menyadari ketidaksukaan Kyuhyun karena pria itu justru mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum pergi. Aku terperanjat kaget sampai memundurkan tubuhku dan menabrak dada Kyuhyun. Dia segera menahan tubuhku sebelum aku tersungkur jatuh.

“Jadi, kau bertemu dengan teman lamamu lagi dan membiarkan aku mencarimu dengan panik ke seluruh gedung studio ini? Kau lupa luasnya sama seperti Osaka Dome?”

Oow, baiklah. Saatnya kau menghadapi Tuan Pemarah Shin Jeyoung. Berbaliklah dengan tampang tak bersalah dan tunjukkan senyum manis.

“Maaf,”

“Dan kenapa kau tinggalkan ponselmu di dalam tas?” tangannya memperlihatkan ponselku. Aku mengerjapkan mata melihat layarnya menunjukkan jumlah panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk. Aku ingin memperlihatkan wajah innocent tetapi wajah cemas Kyuhyun membuat senyumku lenyap. Aku menunduk memandangi tanganku dengan gugup.

“Kupikir aku tidak akan tersesat, jadi kutinggalkan saja. Maaf jika aku sudah membuatmu khawatir.”

“Sangat khawatir,” ralat Kyuhyun, tubuhnya yang tinggi menjulang di depanku membuat tubuhku mengerut ketakutan. “Kupikir kau..diburu wartawan atau..Ya Tuhan..” tubuhku tersentak dan detik berikutnya aku sudah berada dalam pelukan Kyuhyun.

Seluruh syarafku berhenti bekerja. Aku seharusnya tahu setiap tindakan impulsif Kyuhyun selalu berakibat fatal terhadap sistem pertahanan tubuhku dan aku merasakan dampaknya saat ini. Aku merasa gugup namun bahagia sehingga tidak bisa berkata-kata.

“K-Kyu,” lirihku terbata. “Sebaiknya kau melepaskanku sebelum seseorang melihat kita.”

Kyuhyun menggeram. “Diam kau. Ini hukuman karena kau membuatku cemas. Tetap seperti ini sampai punggungmu kesemutan.” Aku terperangah. Oh, dia ingin menyiksaku dalam pelukannya. Tidak masalah Tuan Cho karena ini adalah perintah termanis yang pernah kuterima. Aku merasa sangat nyaman meskipun kegugupan tak bisa kusembunyikan. Maka, peluklah aku hingga kau puas.

—o0o—

AUTHOR POV

Jeyoung selalu merasa gugup setiap kali acara WGMnya akan tayang di televisi. Termasuk hari ini, ia terus meremas tangannya dengan gugup sampai-sampai Kyuhyun mengeluh.

“Berhenti melakukannya atau tanganmu akan membiru.”

“Kau tidak cemas, di episode ini seluruh Korea akan melihat adegan ciuman kita.” Serunya.

“Lalu? Apa itu masalah?” tanya Kyuhyun santai. Dia meletakkan dua kaleng soda di meja di hadapan Jeyoung lalu menghempaskan diri di sofa tempat Jeyoung berada. Saat ini mereka berada di apartement milik Kyuhyun. Tempat yang jarang dikunjungi pria itu karena dia lebih menyukai tinggal di dorm bersama member SJ lain. Jeyoung sangat menyayangkan tempat semewah ini dibiarkan terbengkalai begitu saja oleh pemiliknya.

“Apa menghamburkan uang adalah kebiasaan seluruh orang kaya?” Jeyoung melirik ke sekitar untuk mengalihkan rasa gugupnya. Ia sempat mengira Kyuhyun akan mengajaknya menonton bersama di dorm, seperti sebelumnya dan ia terkejut ketika Kyuhyun membawanya ke sebuah gedung apartemen mewah di daerah Gangnam.

Kyuhyun menyandarkan kakinya ke atas meja, “Ibuku yang melakukannya. Menurutnya apartemen ini adalah investasi untuk masa depanku, bisa kugunakan setelah aku menikah nanti.”

Deg.

Jeyoung mendadak gugup karena Kyuhyun menatapnya. Apa arti dari tatapan itu? Jeyoung tidak mau menebak-nebak. Dia memilih meraih kaleng sodanya lalu meneguk isinya mesti harus meringis saat buih soda menggelitik tenggorokannya.

Kyuhyun terkekeh mengetahui dirinya berhasil menggoda Jeyoung. Dia tidak bercanda, suatu saat nanti ia akan mengajak istrinya tinggal di apartemen ini. Dia hanya berharap wanita beruntung itu adalah wanita yang sedang duduk di hadapannya.

“Oh, acaranya sudah mulai,” Kyuhyun mengerjap saat melihat jam dinding. Ia segera meraih remot tv lalu menyalakannya. Jeyoung duduk tegang seperti akan menghadapi pengadilan kasus kriminal. Kyuhyun sengaja menambah ketegangan Jeyoung dengan duduk di sampingnya. Ia menikmati aktivitasnya membuat Jeyoung gelisah. Ia bahkan ingin tertawa melihat Jeyoung tidak tenang di tempat duduknya. Ia tidak terlalu fokus pada acara yang mereka tonton karena ia lebih sibuk termenung menatap gadis di sampingnya.

Hatinya berdesir. Sungguh, betapa Kyuhyun diselubungi rasa bahagia mendapati Jeyoung berada di dekatnya. Saat tangannya bisa menjangkau Jeyoung dengan mudah, tak ada yang lebih ia inginkan di dunia ini selain eksistensi Jeyoung di hidupnya. Jeyoung juga tidak tahu bahwa ia cemas setengah mati ketika tidak mengetahui keberadaannya, tidak tahu apa yang terjadi padanya, seperti saat Jeyoung tersesat di studio tv.

Gadis itu bahkan tidak menyadari rasa cemburu yang membakar hati Kyuhyun saat melihat dia bersama pria lain, termasuk saat Myungsoo mengantarnya pulang. Jeyoung seharusnya sadar betapa Kyuhyun marah ketika Jeyoung menghindarinya, menghilang tanpa kabar dan membuatnya uring-uringan karena perasaan bersalah seperti ketika insiden saat mereka tidur bersama.

Jeyoung, gadis sederhana yang selalu gugup setiap kali menatapnya, gadis yang mengaku sebagai penggemarnya tetapi tidak antusias ketika berhadapan dengannya. Kyuhyun tidak pernah mengakuinya, tetapi sebenarnya ia sudah terpesona sejak pertama kali ia memandangi foto Jeyoung yang disodorkan Managernya sore itu, tepat sehari setelah ia menyetujui untuk ikut berpartisipasi dalam acara We Got Married edisi spesial.

Kyuhyun sempat heran, kenapa gadis ini yang terpilih dari sekian banyak wanita yang mengirimkan aplikasinya. Namun belakangan ia sadar, alasan pihak WGM memilih Jeyoung karena gadis itu memenuhi kualifikasi gadis impian Kyuhyun—ia memberikan informasi itu pada pihak WGM demi keperluan syuting.

Kyuhyun sempat ragu, takut ia akan gagal karena gadis yang dipasangkan dengannya ternyata tidak cocok dengannya. Anggapannya itu salah. Jeyoung jelas cocok dengannya, bahkan ia sudah menyadari hal itu sejak pertama kali melakukan sesi foto prewedding dengannya.

Senyum misterius kini terbit di sudut bibirnya. Shin Jeyoung, semenjak kau menjadi istriku di acara ini, aku akan berusaha menjadikanmu istriku yang sesungguhnya.

—o0o—

Dugaan PD tepat, rating acara meningkat tajam dibandingkan episode sebelumnya dan semua karena adegan itu. Berbagai komentar bermunculan di beberapa media sosial. Bahkan topik itu menjadi nomor satu dalam situs pencarian di internet. Jeyoung tidak berani membuka akun jejaring sosialnya karena ia yakin akan menerima banyak sekali komentar negatif dari penggemar Kyuhyun.

“SHIN JEYOUNG!!!”

Jeyoung terperanjat kaget mendengar teriakan Nichan. Gadis itu tidak mempedulikan apapun, bahkan pada beberapa orang yang mulai tertarik memperhatikan mereka.

“Kau hampir membuatku terserang stroke! Kau bisa bukan memanggilku dengan nada normal?” Jeyoung mengusap dadanya. Nichan tidak peduli, dengan panik dia membuka laptopnya lalu memperlihatkan sebuah video di salah satu situs pemberitaan padanya.

“Kau harus lihat ini, Shin Jeyoung. Ini darurat pangkat sepuluh!!” serunya panik. Jeyoung yang tidak tahu menahu apapun segera memperhatikan video yang diputar Nichan untuknya. Selama beberapa detik ia hanya mengerutkan kening bingung, tetapi kemudian kerutan itu menghilang karena Jeyoung tercengang. Wajahnya pucat pasi.

“I-ini..” suara Jeyoung bergetar. Ia memandang Nichan yang balas menatapnya prihatin.

Kenapa hal ini terjadi lagi? Jeyoung menatap nanar video yang ia lihat, video yang memperlihatkan momen ketika mereka berciuman di dalam mobil malam itu.

To be continued

110 thoughts on “Because WGM, You’ll Be Mine !! (Part 9)

  1. Omo….apalagi nih…..baru jg kelar masalah kemarin??!
    Waduuuh jd inget ancaman presdir lee sama kyuhyun klo dia bikin masalah lg dia bakal dikeluarin dr suju,serius?? Jd gmn dong nasib kyuhyun

  2. Bahkan ciuman di dalam.mobil pun bisa tertangkap juga ,, pinter tuh paparazi ,, siap siap aka do serbu wartawan dan penggemar kyuhyun

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s