Unforgottable Love [Part 5]

Tittle : Unforgottable Love Part 5
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Married Life, Romance

Follow Me : @julianingati23

Main Cast :

  • Kim Taeyeon
  • Lee Sungmin

Harusnya ini udah selesai diposting di bulan Januari. Tapi karena WPnya sempet error jadi baru bisa posting lagi sekarang. Sujud syukur deh aku WPnya udah gak pundung lagi.

Happy Reading ^_^

Unforgottable Love by Dha Khanzaki

====Part 5====

Berita kehamilan Taeyeon menyebar begitu saja dalam keluarga besar mereka berdua. Sungmin dan Taeyeon tidak ragu membagi kebahagiaan pada yang lain. Selayaknya para wanita yang hamil muda, Taeyeon pun mengalami sindrom mengidam dan Sungmin yang menjadi bulan-bulanan Taeyeon dalam memenuhi keinginan janin dalam perutnya itu.

“Oppa, aku ingin ekskrim strawberry..”

Suara rengekan Taeyeon di tengah malam itu membuat Sungmin batal memejamkan mata. Ia bangkit dari tidurnya lalu memandang istrinya dengan sabar.

“Sekarang sudah malam dan kita tidak memiliki persediaan eskrim lagi.”

“Tapi..” Taeyeon mengerjapkan matanya yang berkaca-kaca, “Aku benar-benar menginginkannya.”

Sungmin tidak tega melihat Taeyeon hampir menangis karena mengidamkan eskrim. Ia menyerah meskipun kantuk menyerangnya saat ini. Ia menyibakkan selimut, melawan rasa lelah karena sibuk bekerja seharian dan meladeni acara mengidam Taeyeon.

“Tunggu sebenar, aku akan mencarinya di minimarket terdekat. Semoga mereka masih buka.” Sungmin melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi. Ia memakai sweter dan syal lalu mengambil kunci mobilnya.

“Aku ikut,” Taeyeon menyusul ketika Sungmin hendak membuka pintu.

“Apa? Tidak sayang, udara malam tidak baik untukmu. Kau tunggu saja di sini.” Sungmin panik tidak mau Taeyeon sakit karena angin malam ini lebih kencang dan berpotensi membawa penyakit seperti flu dan demam. Apalagi Taeyeon hanya memakai sweter tipisnya.

“Tapi aku ingin ikut. Aku tidak mau ditinggal sendiri di rumah. Jebaall.” Taeyeon mengayun-ayunkan tangan suaminya dengan manja. Sungmin lagi-lagi tidak bisa membantah keinginan istrinya. Ia sendiri tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Taeyeon saat ia pergi. akhirnya ia mendesah kalah lalu mengangguk.

“Baiklah,” Taeyeon melonjak girang. “Tapi,” Sungmin menarik lepas syal yang dipakainya lalu melilitkan syal itu ke leher istrinya. Tak lupa juga ia mengganti sweter tipis Taeyeon dengan yang lebih tebal dan bisa membuatnya hangat.

“Oppa,” Taeyeon terharu, pipinya merona merah. Ada sedikit rasa bersalah karena dirinya, Sungmin harus kerepotan seperti ini.

Sungmin memperlihatkan senyum demi menenangkan Taeyeon. Ia ingin tahu bahwa Taeyeon tidak pernah menyusahkannya. Bahkan ia merasa gembira karena itu artinya Taeyeon sangat membutuhkannya.

“Gwaenchana yeobo, aku hanya tidak mau kau sakit.” ia mencium bibir istrinya singkat sebelum membimbingnya keluar rumah.

—o0o—

Tidak banyak minimarket yang buka di waktu selarut ini. Beruntung Sungmin menemukan minimarket yang buka 24 jam dan tidak ragu lagi segera menepikan mobilnya di sana. Sungmin beruntung karena menemukan eskrim strawberry yang diinginkan Taeyeon.

“Ini eskrim pesananmu, putri.” Sungmin menyerahkan cup eskrim itu ke tangan Taeyeon. Ia berharap Taeyeon tersenyum tetapi istrinya itu justru merengut.

“Kenapa, apa kau tidak suka?” tanyanya cemas.
“Aku ingin eskrim strawberry.”
“Tapi ini eskrim strawberry.” Sungmin dengan sabar memperlihatkan gambar strawberry di cup eskrim itu. Jelas-jelas rasa eskrim itu strawberry. Tetapi Taeyeon tetap menggeleng dengan bibir mengerucut.

“Aku ingin eskrim strawberry, benar-benar eskrim strawberry.”
“Omonaa..” Sungmin mendesah kencang. Jika bukan karena rasa cintanya mungkin Sungmin sudah meninggalkan Taeyeon sendiri di sini. Ia sudah benar-benar mengantuk dan kedinginan. Sungmin tidak mau membuat Taeyeon kecewa karena itu ia meminta Taeyeon menunggu sementara ia mencari eskrim yang diinginkan Taeyeon.

Sungmin kembali masuk ke dalam minimarket dan membeli satu kotak strawberry. Ia bahkan meminjam pisau pada penjaga toko, memotong-motong strawberry itu dan mencampurkannya pada eskrim. Semoga ini eskrim yang diinginkan istrinya. Penjaga toko itu memandang Sungmin heran.

“Kenapa kau harus repot-repot begitu?” tanyanya heran. Sungmin tersenyum.

“Kau akan paham saat kau sudah menikah nanti.” jawabnya singkat. Sungmin tahu penjaga toko itu masih terlalu muda untuk memahami apa yang sedang dilakukannya sekarang. Ia lekas pergi menghampiri istrinya yang kini sedang duduk di kursi yang ada di depan toko.
“Ini eskrim strawberrynya. Semoga kau suka.”

Taeyeon menerima eskrim itu dan membuka tutup cup eskrim dengan rasa penasaran. Detik kemudian matanya berbinar melihatnya. Matanya berkaca-kaca karena Sungmin benar-benar mengerti apa yang diinginkannya.

“Gomawo,” Taeyeon memeluknya gembira, Sungmin mendesah lega kali ini. Syukurlah jika Taeyeon menyukainya.

“Makan pelan-pelan,” ujar Sungmin melihat istrinya melahap eskrim itu dengan antusias. Pipinya tampak kemerahan. Sungmin bertanya-tanya apa Taeyeon tidak sakit perut karena sepanjang hari ini ia terus mengidamkan eskrim.

Udara malam membuat Sungmin menggigil. Ia meniup tangannya sendiri yang tidak tertutup sarung tangan. Tercium bau harum dari dekatnya dan ketika ia menoleh, matanya mengerjap melihat satu cup sup labu yang masih hangat diulurkan Taeyeon padanya.

“Aku tidak mau Oppa kedinginan. Makanlah.”

“Bagaimana bisa, maksudku, kau membeli ini dimana?” ucap Sungmin terbata. Ia tidak menyangka Taeyeon membeli ini untuknya.

“Di toko depan sana.” Taeyeon menunjuk sebuah toko tak jauh dari tempat mereka berdua.

“Aigoo, gomawo.” Sungmin mengambilnya dengan senang hati. Tak bisa dipungkiri sup ini akan sangat membantunya mengatasi udara dingin. Mereka makan bersama malam itu sambil berbincang hangat. Sesekali Sungmin menyuapi istrinya itu dengan sup labunya demikian juga dengan Taeyeon. Mereka melewati kebersamaan dengan gembira. Rasanya, waktu berlalu tanpa terasa saat dihabiskan bersama orang yang dicintai.

Mereka kembali ke rumah satu jam kemudian. Sungmin sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi, bahkan sejak di jalan terus menguap tanpa henti. Untung saja tiba di rumah dengan selamat. Taeyeon membantu Sungmin melepas sweternya dan segera menyelimuti Sungmin begitu mereka merebahkan diri bersama di ranjang.

“Jaljjayo,” Taeyeon mengecup keningnya, sebagai pengganti ucapan terima kasihnya.

Sungmin tersenyum hangat, “Kemari, aku ingin tidur sambil memelukmu.” Ia menarik Taeyeon ke pelukannya dan mereka tidur bersama.

—o0o—

Lima bulan berlalu tanpa terasa dan Taeyeon mulai senang  melihat perutnya sedikit membuncit. Ibunya dengan semangat memberikan saran-saran untuk putrinya sampai memilihkan dokter kandungan terbaik di rumah sakit milik keluarga Kim.

“Dokter Park In Jung adalah dokter kandungan terbaik di Seoul General Hospital, kau harus berkonsultasi padanya, aracchi?” jelas Eomma sambil membuatkan susu hamil untuk putrinya.

“Arasseo, Eomma.” Taeyeon segera meneguk susu itu meski lidahnya tidak pernah suka dengan rasa susu hamil yang membuatnya agak mual. “Uh, kenapa rasanya seperti ini?” keluhnya setelah susu itu tandas. “Eomma, akhir-akhir ini aku mudah sekali mual. Apa itu normal?”

Eomma tersenyum, “Semua wanita yang hamil mengalami itu, chagi. Kau tidak perlu khawatir. yang penting kau harus menjaga kesehatanmu. Apa kau sudah meminum obat penambah darahmu?”

Taeyeon terdiam, sebenarnya ia tidak meminumnya semenjak hamil karena obat itu selalu membuatnya muntah. Tetapi demi menenangkan ibunya ia tersenyum, “Sudah.”
Eomma mengangguk puas, “Kapan Sungmin kembali dari tugasnya?” tanyanya penasaran. “Hari minggu nanti, itulah yang dikatakannya di telepon.” Sahut Taeyeon tenang.

Akhir-akhir ini Sungmin seringkali pergi lama karena urusan pekerjaan sehingga Taeyeon lebih sering ditemani ibunya ataupun saudara-saudaranya. Padahal selama kehamilan seorang istri pasti lebih membutuhkan suaminya dibandingkan siapapun. Tetapi Taeyeon tidak mengeluh karena ia tahu Sungmin bekerja keras untuknya dan calon anak mereka.

“Aigoo, kau tidak kesepian?”

“Tidak, aku sering mengajak si kecil mengobrol,” Taeyeon mengusap perutnya penuh kasih sayang. Meksipun masih terlalu dini, tetapi Taeyeon merasa sangat senang mengajaknya mengobrol. Setelahnya ia selalu merasa tidak sabar ingin segera melihatnya lahir di dunia dan hidupnya menjadi lebih sibuk untuk membesarkannya. Pasti sangat menyenangkan.

Taeyeon kembali membaca buku, ia tidak memiliki kesibukan lain karena setelah hamil, baik Sungmin maupun keluarganya menyuruhnya berhenti sementara dari kesibukannya di lab penelitian. Eomma melihat Taeyeon hanya membalikkan halaman buku itu tanpa membacanya. Sepertinya dia mulai bosan, “Jika kau bosan kita bisa berjalan-jalan sebentar.”

“Jinjja?” seru Taeyeon, tiba-tiba matanya berbinar-binar gembira. Ibunya tahu saja apa yang diinginkannya. Ia memang bosan setengah mati tetapi segan untuk mengatakannya.

Eomma mengangguk, mendadak ponselnya berdering kencang. Senyum Taeyeon memudar saat ia melihat ibunya berbicara dengan seseorang di telepon. Ia yakin itu pasti panggilan dari rumah sakit. Meskipun sudah tidak terlalu aktif sebagai dokter, tetapi ibunya tetap dibutuhkan di sana saat terjadi keadaan darurat.

Begitu menyudahi pembicaraan, raut wajah Eomma tampak menyesal. “Taeyeon-ah,” lirihnya menggantung. Taeyeon membuang napas berat lalu mengangguk paham.
“Arraseo Eomma. Panggilan dari rumah sakit bukan? Keadaan darurat? Gwaenchana.”
“Eomma sangat menyesal. Eomma akan menelepon Heechul atau Kibum untuk menemanimu jalan-jalan.”

Meskipun kecewa, Taeyeon hanya bisa mengangguk. Eomma kemudian menelepon salah satu dari kakak dan adiknya dan yang bersedia menemaninya adalah Heechul.

“Kau ingin kemana?” Heechul bertanya pada Taeyeon ketika mereka sedang dalam perjalanan, tanpa arah tujuan.
“Aku ingin bermain ke taman ria.”
“Oke, kita ke sana..” Heechul memutar mobilnya. Tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di taman hiburan terdekat. Tempat hiburan itu tidak terlalu ramai karena mereka datang di hari kerja. Taeyeon lebih nyaman seperti ini karena ia tidak terlalu suka tempat-tempat ramai.

Heechul dengan sabar menemani adiknya menaiki berbagai macam wahana. Mereka bersenang-senang bersama. Kerap kali Heechul dipusingkan oleh keinginan Taeyeon yang berubah-ubah saat memutuskan menaiki wahana mana. Ia juga hanya bisa menggelengkan kepala melihat banyaknya makanan yang dicicipi Taeyeon di sana.

“Oppa aku ingin permen apel.” Perkataan Taeyeon mengejutkan Heechul karena entah ini permintaan aneh ke-berapa yang didengarnya. Padahal tadi dia baru menghabiskan beberapa potong kue keju.

“Aku harus mencari kemana permen semacam itu?” keluhnya putus asa. Di tempat seperti ini tidak ada penjual permen.

“Jebal.” Taeyeon menampilkan mimik lucu yang membuat Heechul tidak bisa membantah. Biasanya ia paling malas menghadapi sifat manja para wanita, tetapi ini adiknya dan ia tahu ia tidak bisa mengabaikan keinginan Taeyeon begitu saja.
“Baiklah.” Heechul menyerah. “Aku akan mencoba mencarikannya untukmu.”

Mereka memutuskan pergi dari taman hiburan untuk mencari permen apel yang diinginkan Taeyeon. Hampir setiap toko permen sudah dikunjungi dan mereka belum menemukan permen yang diinginkan Taeyeon. Heechul mulai frustasi.

“Sebenarnya permen macam apa yang kau inginkan?” keluh Heechul ketika mereka menyusuri trotoar mencari toko permen lain.
“Permen apel, Oppa. Benar-benar permen apel.”
“Bukankah tadi sudah ada permen rasa apel? Kenapa kau tidak mau?”
“Aku ingin permen apel.”
“Aigoo, leherku keram.” Heechul memegang tengkuknya. Sekali lagi, jika bukan karena Taeyeon adiknya detik ini mungkin saja ia sudah meledak-ledak. Ia heran bagaimana Sungmin bisa tahan dengan permintaan aneh-aneh Taeyeon. Jika begini pada akhirnya Heechul harus berpikir ulang untuk menikah.

Heechul memutar otaknya mencari solusi. Pandangannya mengedar berharap menemukan pencerahan agar keinginan Taeyeon bisa terpenuhi dan ketika matanya tertuju pada sebuah toko kue, sebersit ide cemerlang melintas di otaknya. Seulas seringaian tipis muncul di sudut bibirnya.

“Taeyeon, tunggu di sini.” Perintahnya. Taeyeon mengangguk melihat kakaknya lari tergopoh-gopoh ke sebuah toko. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan kakaknya itu tetapi sepuluh menit kemudian Heechul kembali di tangannya dengan sebuah kotak makanan.

“Ini, permen apel untukmu.” Heechul menyerahkan kotak itu padanya. Taeyeon yang diserbu rasa penasaran lekas membuka tutup kotak dan semilir harum makanan menyeruak keluar.

“Wahhh..” Taeyeon berseru kagum melihat makanan yang ada di dalam kotak. Ia menatap kakaknya kagum. “Permen apel!!” serunya girang.
Heechul mengangguk puas akan kejeniusannya sendiri. “Aku tidak tahu permen apel apa yang kau inginkan dan karena kita tidak bisa menemukannya, maka kubuat sendiri.”

“Kau jenius, Oppa!!” seru Taeyeon lalu memeluknya bangga. Makanan yang dibawa Heechul tidak benar-benar berupa permen dengan rasa apel atau permen dengan bentuk apel. Itu hanya potongan buah apel yang disiram saus karamel. Tetapi menurut Taeyeon itulah permen apel yang ia maksud dan ia bangga karena kakaknya bisa menebak isi pikirannya dengan cemerlang, sama seperti Sungmin. Mereka berdua adalah lelaki jenius kebanggaannya.

“Ya, ya, makanlah.” Heechul merasa sangat bangga dengan kejeniusannya sendiri. Ia melihat adiknya menikmati makanan hasil dari mengarang bebasnya dengan penuh suka cita. Hal itu memberikan kebahagiaan lain bagi Heechul.

Setelah puas menghabiskan waktu, tiba saatnya Heechul mengantar adiknya pulang dengan selamat hingga rumah. Setibanya di depan pintu rumahnya Taeyeon memeluk Heechul sekali lagi.
“Gomawo,” bisiknya penuh sayang. Heechul hanya tersenyum sambil mengusap-usap kepalanya. Tanpa mengatakan apapun ia pergi.

—-o0o—

Hari ini adalah hari pemeriksaan kandungan bagi Taeyeon. Sungmin sudah siap mengantarnya ke rumah sakit tepatnya menemui dokter Park In Jung, dokter kandungan yang sudah direkomendasikan ibu Taeyeon. Sungmin tidak mau melewatkan momen menggembirakan ketika dokter memberitahukan perkembangan anak pertama mereka karena itu setiap kali Taeyeon memeriksakan kandungan, ia selalu menemaninya tak terkecuali hari ini.

“Kau yakin bisa memeriksanya sendiri?” tanya Sungmin cemas. Ia harus menebus obat untuk ibunya yang kebetulan sakit sementara di saat yang bersamaan ia juga harus mengantar Taeyeon menemui dokter In Jung.

“Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri. Lagipula kau akan menyusul bukan?” Benar, ia hanya tinggal berjalan menyusuri lorong, berbelok ke kanan dan tiba di ruangan dokter Park.

“Baiklah, aku akan mengantarmu dulu.” Sungmin tetap tidak tega membiarkan Taeyeon berjalan sendiri ke ruangan dokter Park. Ditambah kenyataan kondisi kandungannya yang sudah memasuki bulan ke-8. Setelah memastikan Taeyeon masuk ke ruangan, ia baru pergi menebus obat untuk ibunya.

Taeyeon melakukan pemeriksaan rutin oleh dokter In Jung. Ia merasa gembira melihat hasil USG, bayinya terlihat sehat dan aktif. Hatinya menghangat melihat foto USG bayi dalam kandungannya. Namun tidak sama halnya bagi dokter In Jung, hari ini ia terlihat menghela napas.

“Aku tahu ini akan membuatmu sedikit down tetapi aku tidak bisa berbohong padamu,” jujur dokter Park membuat Taeyeon mengeraskan pandangannya.

“Apa ada masalah dengan kandunganku?” tanyanya cemas. Naluri keibuannya bangkit sehingga Taeyeon melingkarkan tangan di perutnya.

“Tidak, seperti yang kau lihat, dia tampak sangat sehat.” Dokter In Jung terdiam sejenak sambil menatapi Taeyeon lekat. “Yang masalah justru rahimmu.”
“Apa?”
“Bukankah kau selalu mengeluh sakit di bagian perutmu?”
“Ya.” Ujar Taeyeon. Sejak awal kehamilan ia memang seringkali mengeluh sakit perut, tetapi ia kira itu wajar dialami wanita hamil. Bahkan terkadang disertai pendarahan. Ia tidak berani bilang pada siapapun dan hanya mengkonsultasikannya dengan dokter Park saja.

“Rahimmu terlalu lemah. Jika kau tetap memaksakan diri terus mengandung anakmu, aku takut akan terjadi komplikasi saat melahirkan nanti. Kau bisa bertahan hingga detik ini itu sudah suatu keajaiban.”

Wajah Taeyeon berubah pucat seketika. Nyawanya seperti tercabut detik itu juga. Ketakutan seketika menghantui Taeyeon. Apa itu artinya ia harus kehilangan bayinya? Tidak, tidak!!!

“Lalu apa yang harus kulakukan dokter? Apa ini semua karena anemia yang kuderita?”

“Tidak, itu tidak ada sangkut pautnya.” Sanggahnya. “Sebagai dokter aku ingin menyarankanmu melakukan operasi sekarang. Anakmu harus segera dilahirkan atau itu akan membahayakan nyawamu sendiri.”

“Itu artinya anakku harus lahir prematur? Tidak,” Taeyeon menggeleng posesif. Ia tidak mau membiarkan anaknya lahir dalam keadaan prematur. Bayi lahir prematur lebih beresiko meninggal saat dilahirkan dibandingkan bayi yang lahir dalam keadaan normal. Ia tidak mau kehilangan bayinya sekarang ataupun nanti.

Dokter Park tetap mencoba memberikan pengertian pada Taeyeon namun wanita itu tetap pada pendiriannya.
“Tidak dokter, aku akan melahirkannya jika sudah tiba waktunya untuk lahir.”
“Tapi..”
“Tidak.” Seru Taeyeon, ia berdiri. “Kalau begitu aku permisi dokter,” ia membungkukkan badannya lalu bergegas pergi.

Taeyeon berjalan gontai menyusuri lorong dengan pikiran yang bercabang-cabang. Semuanya berakar pada pernyataan yang diberikan dokter In Jung. Tentang rahimnya yang lemah, tentang bayinya yang harus dilahirkan segera, dan ketakutannya sendiri. tangannya terangkat mengusap perut. Kenapa hal ini harus terjadi padanya? Di saat kebahagiaannya hampir saja sempurna kenapa harus ada hal semacam ini? Taeyeon memejamkan matanya rapat-rapat. Sebagai seorang calon ibu siapa yang mau membuat anaknya sendiri lahir dalam keadaan tidak normal? Apa salah bayi itu?

“Chagi..”

Taeyeon berhenti melamun begitu mendengar suara Sungmin. Melihat wajah suaminya yang ceria, Taeyeon semakin merasa sedih. Apa yang terjadi dengan ekspresi suaminya kelak jika dia tahu keadaan kandungannya sekarang? Akankah senyum simpul itu hilang? Akankah kegembiraannya lenyap? Ia tidak mau merusaknya. Ia terlalu menyayangi Sungmin dan bayinya.

Sungmin menyadari senyum Taeyeon tidak seperti biasanya, senyumnya pun perlahan memudar.

“Apa pemeriksaannya tidak berjalan lancar? Apa ada masalah dengan bayi kita?” Sungmin merangkulnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian. Ia juga mengusap perutnya dengan perlahan seolah takut menyakiti bayi mereka. Taeyeon benar-benar ingin menangis melihatnya. Ia tidak bisa membuat Sungmin cemas.

“Tidak ada. Semuanya berjalan lancar. Lihat saja,” Taeyeon memberikan foto USG anak mereka. Senyum lebar seketika terlukis di wajah Sungmin.

“Ini anak kita? Aigoo, lihat dia terlihat sangat sehat..” seru Sungmin bahagia. Taeyeon dirangkul dan diciumnya detik itu juga. Sungmin tidak sadar bahwa saat itu Taeyeon menatapnya sambil tersenyum sedih. Dalam hatinya Taeyeon sudah memutuskan, ia akan menjaga bayi dalam kandungannya meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri. Ia harus membuktikan bahwa ia bisa melahirkan bayi ini dalam keadaan normal dan setelah itu, ia akan baik-baik saja.

—o0o—

Keputusan itu sudah bulat, Taeyeon mulai mengikuti anjuran yang diberikan dokter Park. Ia rajin berolahraga seperti senam kehamilan dan makan banyak sayur dan buah-buahan kaya serat. Meminum vitamin dan susu. Sungmin senang sekali melihat Taeyeon lahap sehingga dia terlihat lebih gemuk dari biasanya. Taeyeon juga rajin sekali menyanyi agar anaknya bisa mengenali suaranya. Terkadang ia meminta Sungmin menyanyi untuknya dan bayinya.

“Ah, dia menendang!!” seru Taeyeon. Sungmin yang memegang gitar di sampingnya terkejut.

“Jinjja?”

“Ne. Coba Oppa tempelkan telingamu di sini,” Taeyeon mengusap perutnya. Sungmin menempelkan telinganya di perut Taeyeon yang membuncit. Ia mendengar suara tendangan halus dari balik kulit perut istrinya. Seketika ia berseru gembira.

“Huwaa..dia aktif sekali di dalam sana. Dia pasti akan menjadi anak yang lincah.” Seru Sungmin senang. Taeyeon hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tanpa terasa hampir sembilan bulan ia mengandung dan detik ini ia masih baik-baik saja. Sungmin tidak tahu sama sekali tentang peringatan dokter In Jung dan itu akan terus menjadi rahasia sampai ia melahirkan nanti. Taeyeon menyandarkan kepalanya di pundak Sungmin. Pria itu berhenti tertawa dan kini hanya tersisa senyum tipis di wajahnya.

“Kau mulai bermanja-manja, apa kau ingin meminta sesuatu dariku?”

Taeyeon tertawa kecil karena tebakan Sungmin seratus persen benar, “Ya. Kau selalu bisa menebakku.” Ia mendongakkan kepalanya, “aku ingin kau menyanyi untukku, seperti saat kau melamarku dulu.”

Permintaan Taeyeon mengingatkan Sungmin kembali pada momen itu. Taeyeon tidak tahu saja saat itu Sungmin gugup setengah mati. Bahkan sehari sebelumnya ia sempat diserang stress mirip seseorang yang akan sidang dan takut sekali usahanya gagal.

“Baiklah, tetapi kali ini aku akan menyanyikan lagu yang berbeda.” Sungmin berdehem sebelum memulai nyanyiannya.

Cheoeumbutheo neukkyeojyo.
[Aku merasa dari awal]
Naneun geudaeege ppajyeobeoryeotjyo
[aku jatuh cinta kepadamu pada saat itu]
Sarangeul hage dwingeojyo
[Aku jatuh cinta kepadamu]
Naegen yoksimingayo geudael saranghaneunge.
[Apakah aku mencintaimu menjadi satu keserakahanku]
Geureohkedo himdeungeongayo
[apakah itu menyulitkanmu?]

Eonjena geudae nan wonhago itjyo
[Aku selalu menginginkanmu]
hoksirado urin saranghal su eobnayo
[bisakah kita saling mencintai?]
Himdeulgetjiman nan geudael wihae chamayaman hagetjyo
[Meskipun itu sulit tetapi aku hanya]
nan geudaemaneul saranghaeyo
[akan kembali mencintaimu]
Confession by Kim Bum

Taeyeon tersenyum, ia memeluk Sungmin lebih erat. Setelah didera kekhawatiran, ketakutan, dan kesedihan sekarang hatinya lebih menghangat. Sungmin memang selalu bisa menghiburnya, terlebih karena cinta pria itu yang begitu besar untuknya. Ia tak tahu dengan apa ia membalas selain dengan cinta yang sama besar.

“Indah sekali, terima kasih.”

“Sekarang giliranmu bernyanyi untukku.” Pinta Sungmin. Taeyeon tidak akan segan-segan mengabulkan permintaannya. Ia segera menyanyi.

Uri heeojimyeon andwaejanha
(Bukankah kita tak boleh berakhir)
Uri ibyeolhagin ireujanha
(Bukankah kita terlalu awal untuk berpisah)
Ireohke nal tteonagamyeon andwaeyo
(Kau tak boleh meninggalkanku seperti ini)
Naega haji mothan maldeuri
(Aku tak bisa mengatakan apapun)
Ajik neomu manheunde
(Masih sangat banyak)
Idaero nal tteonagaji maseyo
(Jangan meninggalkanku seperti ini)

Geudaeneun nae sarang geuriun
(Aku merindukanmu cintaku)
Nae sarang nal saranghaetdeon saram
(Cintaku, orang yang mencintaiku)
Ijeneun manjil su eobjiman
(Sekarang aku tak bisa menyentuhmu)
Naega geuriun mankheum geudaedo geuriungayo
(Apakah kau merindukanku seperti aku yang merindukanmu?)
Naega michil deusi saranghaetdeon geu saram…
(Aku mencintainya sampai gila,)
Hello by Huh Gak

“Hei, kenapa kau menyanyikan lagu itu? Aku tidak akan meninggalkanmu kemana-mana.” Ujar Sungmin. Ia heran kenapa Taeyeon menyanyikan lagu ini. Apa mungkin Taeyeon takut kehilangannya karena ia sering meninggalkan Taeyeon pergi bertugas?

“Aku tahu,” Taeyeon memperlihatkan senyum tulusnya. “Aku justru yang merasa akan meninggalkanmu.”

“Hei..” Sungmin mencubit pipinya gemas. Ia tidak suka mendengar kata-kata Taeyeon tadi. Kalimat itu membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. “Kau tidak akan pergi kemana-mana, karena aku juga tidak akan pergi. Kita harus bersama-sama sampai tua nanti. Kau berjanji?” Sungmin mengulurkan jari kelingkingnya.

Taeyeon memandang sendu suaminya. Tidak bisa, aku tidak bisa berjanji. Lirih Taeyeon sedih. Tetapi ia tidak sanggup membuat Sungmin sedih ataupun mencemaskannya, karena itu Taeyeon mengangguk lalu mengaitkan jari kelingking mereka. Sungmin mendesah, entah untuk alasan apa. Ia langsung menarik Taeyeon ke dalam lingkaran tangannya.

“Aku mencintaimu, Taeyeon. Aku mencintaimu dan anak yang akan lahir sebentar lagi.” Sungmin menundukkan sedikit kepalanya untuk meraih bibir istrinya. Mereka saling berbagi ciuman dengan penuh cinta. Entah kenapa Sungmin merasa kali ini respon Taeyeon begitu berbeda. Ia tidak tahu apa, tetapi ia harap itu bukanlah pertanda buruk. Sungmin mengeratkan pelukannya sambil berusaha agar tidak menyakiti bayi mereka dan memperdalam ciumannya. Ia tidak mau kebahagiaan ini berakhir. Tuhan, tolong jangan rusak kebahagiaan ini.

—-o0o—-

Taeyeon tahu, Sungmin begitu menantikan lahirnya bayi yang sedang dikandungnya sampai-sampai pria itu rela cuti dari pekerjaannya agar bisa menemaninya selama proses persalinan. Taeyeon lagi-lagi mendapat peringatan dari dokter dan ia tetap mengabaikannya.

“Nuna, kau kenapa?” tanya Kibum heran melihat kakaknya tampak sangat pucat, bahkan keringat dingin terus membanjir di pelipisnya. Mereka sedang mengobrol di teras depan rumah. Taeyeon memegang perutnya yang terasa seperti diperas kencang. Ia sudah merasakan ini sejak pagi namun tidak separah sekarang.

“Tidak tahu, sepertinya akan melahirkan.”

“Mwo?” Kibum bangkit, “Hyungg, Nuna akan melahirkan..eotteohke??” Kibum bergerak-gerak gelisah. Ia segera membantu Taeyeon berdiri. Sungmin yang lari tergopoh-gopoh terkejut melihat keadaan Taeyeon sudah begitu lemah.

“Yeobo, gwaenchana?” Sungmin merangkulnya, “Kibum, kau siapkan mobil. Ppalli!”

Sungmin di bantu Kibum memapah Taeyeon menuju mobil. Sungmin membiarkan Kibum menyetir sementara dirinya menjaga Taeyeon di kursi belakang. Ia menyadarkan kepala Taeyeon di pundaknya sementara istrinya itu terus merintih kesakitan.

“Oppa, aku tidak kuat..” rintihnya, “Rasanya seperti akan mati..”

“Bertahanlah, kau wanita kuat..” Sungmin terus mengelap keringat yang mengucur di wajah Taeyeon. Ia khawatir sekaligus tidak tega melihat Taeyeon menderita seperti ini, tetapi ia tidak tahu harus melakukan apa dan tidak tahu cara yang ampuh untuk meredakan sakitnya. Ia hanya berdoa semoga Taeyeon bisa bertahan hingga anak mereka lahir nanti.
“Kibum, bisakah kau mempercepat mobilnya?”

Dua puluh menit kemudian mereka tiba di rumah sakit dan dokter segera membawa Taeyeon ke ruang bersalin. Keluarga mereka sudah tiba di sana lebih dulu dan Kibum tidak diizinkan ikut masuk meskipun dia sudah memohon pada dokter In Jung agar bisa menemani kakaknya melahirkan.

“Hanya suami, dokter dan asistennya yang boleh ada di sini, selain itu harus keluar.” Tegas Dokter In Jung. Kibum pun terpaksa menyingkir dari ruangan itu. Ruangan pun ditutup dan dokter kembali fokus pada Taeyeon yang terus mengerang kesakitan sejak tadi.

“Yeobo, kau bisa. Kuatkan dirimu.” Sungmin menggenggam erat tangan Taeyeon. Ia terus memberikan semangat padanya. Dokter memeriksa Taeyeon sementara asistennya melakukan persiapan untuk persalinan. Wajah dokter itu tampak memucat dan ia memandang Sungmin dengan raut cemas.

“Ada masalah apa dok?”

“Aku sudah memberitahu Taeyeon sejak awal, jika dia terus mempertahankan bayinya, akan terjadi komplikasi saat melahirkan.”

“Apa maksudmu dokter?” ujar Sungmin tercengang. Ada ketakutan yang sangat besar menyusup di benaknya. Dokter Park menjelaskan tentang kondisi Taeyeon. Ia tercengang mendengarnya. Kenapa selama ini Taeyeon tidak pernah menceritakan apapun padanya?

“Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?” lirih Sungmin kecewa. Setelah mendengar semua ini ia merasa tidak berguna karena tidak tahu apapun. Airmata menetes di ekor matanya. Pantas saja akhir-akhir ini ia terkadang menangkap basah Taeyeon sedang bersedih. Ia sama sekali tidak menyadari itu ada kaitannya dengan kandungannya. Taeyeon tercekat, ia menyesal karena sudah membohongi Sungmin selama ini.

“Mian yeobo, mianhae..” ia mengusap pipi Sungmin. Pria itu terlihat tersiksa. Karena inilah, karena tidak ingin melihat ekspresi ini Taeyeon sengaja menyembunyikan segalanya. Ia tahu ia tidak akan kuat melihatnya.

“Kita hanya memiliki satu pilihan, selamatkan Taeyeon dan kita keluarkan bayinya melalui operasi.” Sela dokter memberikan pengharapan.
Sungmin mengangguk segera. “Ya, lakukan saja. Tidak apa-apa. Iya kan chagi..” Sungmin menatap Taeyeon meminta persetujuan.

“Tetapi itu sangat beresiko bagi bayi. Dia bisa saja lahir dalam keadaan tak bernyawa.”

Apa? Mereka bisa kehilangan bayinya? Sungmin tercengang. Ia tidak mau kehilangan bayinya, begitupun Taeyeon.

To be continued

See You at The END part ^_^

29 thoughts on “Unforgottable Love [Part 5]

  1. Legaaaaaaaaaaaaaaaaa akhirnya ada yang publish juga……………keren2……….tapi knapa Ɣƍ IMMTB klanjutannya di akun FB’mu Dha?? Jadi gak bisa komen krna blm jd tmnmu (⌣́_⌣̀)

  2. Akhirnyaa… setelah sekian lama dipublish jg…🙂
    Hhmmm…. sedih bngt nih sampe nangis baca.a… gk bisa ngomong bnyk… DAEBAK poko.a…

  3. Sudah baca di fb dan sekarang tetap banjir,,, sama seperti waktu awal baca di fb…
    Sampai harus sedia tisue…

    Feelnya selalu dapet,, dan gak akan berubah berapa kali pun aku baca.. selalu menyentuh….

  4. Omonaaa .. Bentar lagi end yaa ?
    Jadi makin sedihh, menantikan part end-nya ..
    Tapi tetap di tunggu yaa chingu🙂 Fighting (y)

  5. Akhirnya di posting jg ff-nya… Yeee *jingkrak-jingkrak sungmin oppa pst akan jd suami n ayah yg baik nanti, next chapter eonni… ^_^ tetep semangat nlis ya, bnyak yg mnantikan ff.u

  6. aaahhh seedih bngt seharusnya mereka bahagia, tapi malah Taeyeon harus berpisah dengan Sungmin Dan Putri kecilnya😦😦😦😦

  7. Kasian bgt liat perjuangan’y taeyeon bwt ng’lahirin anak’y..dy rela b’korban nyawa spy anak’y selamat pz d’lahirin…jd sedih baca’y…

  8. Yg ini aku ga consen baca’a
    maaf g serius mataku hari ini terbagi 2 antara baca ini n ngobrol ma temen
    tiba2 udah end part aja tp aku g ngeuh cerita’a
    maaf

  9. oh oh udah mau end part! omg ini detik2 taeyeon mau melahirkan!! jd inget di shaddy girl kibum yg kalo gasalah yg flashback taeyeon melahirkan omggggg siap siap nangisㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ daebak ihh di tunggu terus ffnya. keep writing and fighting!!

  10. huuuuh…
    menegangkan…

    walaupun aku udah tau endingny gmana..toi ni crita bkin aku penasaran bgaimana tragis endingny…

    kau hbat unni….
    🙂

  11. Pilihan yg sulit untuk seorang suami a.k.a sungmin………
    Sorry baru cpment di part ini soal aku baru dapet ff ini jadi tadi bacanya ngebut dari part satu…….
    Salam kenal…………..

  12. eonni sedih banget aku sampe nangis😦 gak ngebayang gmana perasaan sungmin dia harus pilih salah satu yang dia sayang :(((

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s