I Hate You, But.. (Part 11)

Tittle : I Hate You, But Part 11
Author : DHA KHANZAKI a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Kim Soeun
  • Choi Siwon

Happy Reading all ^_^

I Hate You, But 2 by Dha Khanzaki

====Part 11====

[Author POV]

“Kandungan istri Anda dalam kondisi sehat, Tuan. Kusarankan agar lebih memperbanyak asupan vitamin dan sering-seringlah berolahraga ringan.”

Siwon dan So Eun mendesah lega mendengar penuturan dari dokter mengenai kondisi calon anak mereka. So Eun mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang lalu melemparkan senyum pada suaminya. Siwon membalas senyum itu dengan senyuman yang tak kalah indah. Mereka berpamitan dengan dokter lalu bergegas pulang.

“Sudah kubilang, Oppa. Anak kita bukanlah anak yang rewel. Dia tumbuh dengan sehat, bukan?”

“Kau terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini. Aku hanya mencemaskanmu dan anak kita saja,” balas Siwon sambil mencubit pipi So Eun. Istrinya itu hanya mengerucutkan bibir, membuat Siwon terkekeh pelan lalu kembali fokus pada jalan yang sedang dilaluinya.

“Yakin kau tidak ingin pulang?” lanjut Siwon karena mereka sekarang dalam perjalanan menuju kantor perusahaan milik keluarga So Eun.
“Ada yang ingin disampaikan oleh Eomma di sana. Mungkin ini berkaitan dengan masa depan perusahaan.”
“Waeyo? Bukankah sudah kukatakan aku yang akan mengambil alih perusahaanmu?”

So Eun menghembuskan napas pelan lalu menoleh, “Kau bukan manusia super, Oppa. Menghandel dua perusahaan besar tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Aku tidak mau kau terlalu kelelahan.”
“Lalu apa yang akan ibumu lakukan? Mengambil alihnya? Itu tidak mungkin So Eun, Eomma-nim tidak akan sanggup. Dan kau, aku tidak akan mengizinkanmu mengurus perusahaan besar itu selama kau hamil,” tegas Siwon, tak bersedia menerima bantahan. So Eun  menaikkan alisnya sebelah. Astaga, sejak kapan suaminya menjadi possessif seperti ini? Untuk menenangkan Siwon, So Eun mengeluarkan senyum manisnya.

“Arraseo, terima kasih.”

Senyum renyah istrinya justru membuat Siwon salah tingkah. Ia hampir saja membuat mobil yang dikemudikannya menabrak trotoar jika So Eun tidak segera berteriak panik.

Lima belas menit kemudian mereka tiba di kantor perusahaan milik keluarga So Eun. Di sana mereka bertemu dengan Eomma dan seorang pria yang So Eun tahu adalah pengacara pribadi mendiang Ayahnya. Urusan apa yang membuatnya berada di sini?

“Ada apa sebenarnya, Eomma?” tanya So Eun setelah duduk di sofa di hadapan ibunya. Siwon ikut duduk di sampingnya. Ia ikut menatap ibu mertuanya itu dengan raut tenang.

“Eomma tidak yakin, sebaiknya biarkan Pengacara Park yang menjelaskan semuanya,” jelas Eomma sambil melirik pria yang sejak tadi menjadi pusat rasa penasaran So Eun. Pengacara Park paham lantas berdehem agar semua fokus perhatian tertuju padanya. Benar, detik berikutnya suasana di ruangan itu hening karena semua mata memandangnya serius.

“Tujuan utama saya datang kemari adalah untuk menyampaikan surat wasiat yang ditulis oleh Tuan Kim Dong Woo sebelum beliau wafat,” kata Pengacara Park dengan tenang namun tegas. Sontak pertanyaan itu membuat mata ketiga orang di depannya terbelalak.

“Wasiat?” ulang Eomma dengan wajah tercengang sementara So Eun memandang suaminya khawatir. Kira-kira apa yang ditulis mendiang Ayahnya dalam surat wasiat yang dipegang Pengacara Park? Apakah itu berhubungan dengan harta warisan?

“Aku tidak tahu suamiku membuat surat wasiat,” sela Eomma sebelum Pengacara Park melanjutkan penjelasannya.

“Beliau mengunjungiku satu bulan tepat sebelum beliau dirawat di rumah sakit. Sepertinya beliau sudah memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan berkenaan dengan hidupnya karena itu beliau memintaku mengesahkan surat wasiat yang sudah dibuatnya sebelum berkunjung,” ia berhenti sejenak untuk mengeluarkan sebuah surat beramplop resmi dari dalam tasnya lalu kembali menatap Eomma, So Eun, serta Siwon.

“Bisakah saya membacakannya sekarang?”

“Tentu,” ucap Eomma cepat. Ia sudah tidak sabar ingin segera tahu apa isi dari surat wasiat itu.

Bagian awal surat yang dibaca Pengacara Park seputar permintaan maaf Ayah So Eun pada dirinya dan ibunya serta permintaan untuk bahagia dan saling menjaga meskipun dia sudah tidak ada. So Eun masih bisa memakluminya. Entah kenapa ia merasa begitu tersentuh seolah Sang Ayah sendiri yang mengatakan hal itu kepadanya. Siwon dengan sigap menggenggam tangannya sadar So Eun mulai menunjukkan raut sedih demi memberinya kekuatan.

Tetapi saat Pengacara Park mulai membacakan isi surat selanjutnya, perlahan-lahan ketegangan muncul di wajah Eomma dan So Eun hingga akhirnya mereka berubah histeris.

“Apa Anda tidak bercanda, Tuan Park?” ujar Eomma tercengang. Ia menatap lekat pria kepercayaan almarhum suaminya itu, menuntut jawaban yang sejujur-jujurnya. “Bagaimana bisa suamiku menyerahkan perusahaan ini pada Lee Donghae?”

“Ya, tidak diragukan. Jika boleh tahu, siapa sebenarnya Lee Donghae di sini? Tuan Kim enggan memberitahu Saya ketika beliau menyerahkan surat wasiat ini.”

Eomma masih dengan hati terkejutnya memandang putri semata wayangnya, yang terlihat begitu kosong—seolah nyawa baru terlepas dari tubunya. Jelas So Eun pun terkejut atas pemberitahuan ini. Ia bimbang apakah ia harus berkata jujur atau tidak.
“Alangkah baiknya jika kita memberitahu fakta yang ada, Eommanim,” ujar Siwon tahu kegundahan ibu mertuanya. Berhubung So Eun belum bisa menjawab maka ia yang menjawab pandangan bingung Eomma. Ia yakin So Eun pasti mengharapkan hal yang sama. Tidak ada gunanya menyembunyikan fakta bahwa Lee Donghae adalah anak Kim Dong Woo juga. Lagipula Pengacara Park tidak mungkin mengumbar kenyataan itu pada dunia.

Eomma mengangguk paham karena ia pun berpikiran sama. Ia menghela napas berat sebelum mengalihkan pandangan pada Pengacara Park kembali, “Lee Donghae adalah anak laki-laki suamiku.”

So Eun mengerjap sadar dari lamunannya mendengar Eomma mengatakan perihal Donghae pada Pengacara Park. “Eomma,” lirihnya. Ia kira Eomma akan merahasiakan hal ini rupanya tidak.

Pengacara Park sempat terkejut namun ia cukup professional untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun.

“Suamiku benar-benar menyerahkan keseluruhan perusahaan ini pada Donghae?” Eomma mengulang rasa penasarannya dengan bertanya.

“Jika Anda tidak percaya silakan dibaca surat ini. Ada tandatangan Tuan Kim sendiri dan surat ini tidak saya sentuh semenjak Tuan Kim memasang segel surat ini di amplop,” jelas Pengacara Park seraya menyerahkan lembar surat di tangannya serta amplop cokelat yang masih tersisa segel resmi di permukaannya.

Sementara ibunya sibuk membaca surat itu dengan wajah tidak percaya, So Eun hanya terdiam di tempat duduknya. Ia rasa keputusan Ayahnya dalam surat wasiat itu sangat bijak. Ayahnya sering berkata bahwa seorang wanita tidak selayaknya sibuk bekerja di perusahaan, karena itu Ayahnya tidak pernah mengizinkannya ikut terjun dalam dunia bisnis secara langsung dan sekarang ia sadar mengapa pihak management perusahaan tidak menyerahkan kursi pimpinan secara resmi padanya—sebagai satu-satunya ahli waris yang mereka ketahui. Rupanya sejak awal Ayahnya memang berencana memberikan perusahaan ini untuk Donghae—putranya. So Eun sangat menghargai keputusan Ayahnya meskipun ia merasa sedikit tersinggung.

Setitik airmata menetes di sudut mata Eomma setelah ia membaca sendiri surat wasiat itu kata perkatanya. Ia yakin suaminya sudah memikirkan ini masak-masak sebelum akhirnya memutuskan untuk menyerahkan perusahaan pada putra yang tidak bisa diakuinya. Ini adalah keputusan yang bijak. Ia memang sempat terpikir bagaimana jadinya jika perusahaan yang telah ditinggal suaminya itu dipimpin oleh putrinya. So Eun memang cekatan dan pintar, namun bagaimana pun dia seorang wanita terlebih sekarang dia sedang mengandung. Tidak mungkin ia meminta anak menantunya mengurus dua perusahaan sekaligus. Cara yang paling tepat adalah menyerahkannya pada Donghae. Lagipula Donghae mewarisi segala sikap baik dan bijak suaminya. Donghae pasti bisa menjadi pemimpin yang bijaksana kelak.

“Aku tidak keberatan,” ucap Eomma sambil menyerahkan surat itu kembali pada Pengacara Park, “Aku membiarkan perusahaan ini diserahkan pada Lee Donghae.” suara Eomma kian tercekat, tampak jelas ia mati-matian menahan tangis.

“Eomma,” lirih So Eun. Ia terkejut dengan keputusan ibunya yang tiba-tiba.

“Eomma bukannya tidak memikirkanmu, Nak. Tapi sepertinya Eomma paham mengapa Appa-mu menyuruhmu menikah dengan Siwon. Karena ia yakin suamimu bisa menjagamu di saat ia menyerahkan perusahaan pada putranya. Ayahmu sudah memutuskan ini sejak kehilangan Donghae dulu. Eomma yakin seandainya ia tidak bertemu Donghae sekarang pun, Ayahmu pasti akan mencari Donghae dan menyerahkan perusahaan ini padanya. Eomma harap kau mengerti.” Jelas Eomma dengan linangan airmata.

So Eun menggeleng. Bukan itu yang ia cemaskan. Ia tidak masalah sama sekali seandainya perusahaan memang diserahkan pada Donghae. Namun yang ia cemaskan adalah ibunya. Apakah ia merasa tersinggung karena Ayahnya memutuskan hal ini tanpa sepengetahuannya. Atau justru sakit hati.
“Eomma, sungguh tidak apa-apa dengan keputusan ini?” tanyanya lagi. “Eomma tampak tidak rela.”
“Eomma hanya tidak menyangka Ayahmu tidak meninggalkan apapun untukmu, bagaimana pun kau tetap darah dagingnya.”
“Eomma..”
“Anda jangan khawatir, Nyonya..” sela Pengacara Park. “Tuan Kim hanya menyerahkan kursi pimpinan kepada Lee Donghae. Selebihnya aset-aset yang lainnya tetap atas nama putri Anda, Kim So Eun. Anda sebaiknya baca baik-baik surat wasiat tersebut.”

Eomma segera membaca surat wasiat itu baik-baik dan mendesah lega. Pengacara Park benar, suaminya memang hanya menyerahkan pimpinan perusahaan kepada Donghae. Selebihnya tidak.

So Eun tersenyum seraya merangkul ibunya, “Lihat, Appa tetap menyayangi kita.”

“Lagipula sepertinya perusahaan ini memang harus dipimpin oleh seorang yang kompeten. Kurasa Donghae bisa melakukannya,” Siwon yang sejak tadi diam ikut berkata. So Eun lantas menebarkan senyum bangga untuk suaminya itu. “Lebih baik daripada kau yang harus menghandel perusahaan sebesar ini,” tambah Siwon sambil berbisik.

—o0o—

“Kau bisa merelakan semua ini bukan?” Siwon bertanya khawatir ketika mereka kembali ke rumah karena sejak tadi So Eun terus termenung dalam pikirannya sendiri. Pasti surat wasiat ayahnya masih membuat ganjalan bagi hatinya.

So Eun tersentak, lalu menoleh. Ia sendiri bingung sejak kapan dirinya melamun. “Aku tidak masalah sama sekali, Oppa. Kurasa Appa mungkin merasa bersalah karena tidak bisa memberikan apapun pada putranya. Karena itu, dia melakukan ini.”

Siwon tersentuh mendengarnya, “Aigoo, kenapa kau bisa begitu baik?” ujarnya tidak habis pikir. Ia heran sekaligus kagum dengan sikap istrinya yang begitu santai, berpikir lurus, optimis, dan sulit berburuk sangka pada orang lain. Jika itu dialami olehnya mungkin ia akan frustasi dan marah besar pada Ayahnya sendiri. Namun So Eun selalu memperlihatkan sikap yang membuatnya kagum. Semoga kelak anak mereka bisa mewarisi sifat ibunya.

So Eun memang sempat marah pada Ayahnya karena sudah menghianati ibunya namun itu tidak berlangsung lama. Setelah semua permasalahannya jelas So Eun kembali mempercayai Ayahnya. Jika ia membenci ayahnya, ia tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang.

“Sekarang aku jadi terpikir,” tiba-tiba Siwon berkata dengan nada merenung.

“Apa?”

“Kenapa Appa begitu membenci Eun Ji? Seingatku dia tidak pernah bersikap kurang ajar kepada Appaku,” ujarnya dengan pandangan menerawang. So Eun tersentak. Ia tidak berani berspekulasi macam-macam mengenai hal ini. Ia tidak pernah berbincang lama dengan Ayah mertuanya karena itu ia tidak pernah bertanya juga mengapa Eun Ji begitu dibenci olehnya.

“Semoga tidak sama dengan kasus Ayahku. Aku tidak bisa membayangkan jika Eun Ji adalah kakak atau adik tiriku,” canda So Eun berharap Siwon ikut tertawa sepertinya. Namun sepertinya lelucon itu tidak menarik sama sekali karena buktinya, ekspresi Siwon semakin meredup.

Perkataan So Eun menimbulkan efek pukulan yang cukup kuat bagi Siwon. Dahulu ia memang sempat memikirkan alasan-alasan yang masuk akal mengapa Ayahnya membenci Eun Ji. Tapi ia tidak pernah memikirkan alasan Ayahnya membenci Eun Ji karena gadis itu adalah saudara kandungnya. Tidak, jangan sampai hal itu benar-benar terjadi.

“Aku hanya bercanda, Oppa. Kenapa kau memikirkan kata-kataku dengan serius?” So Eun bersalah sudah berkata yang tidak-tidak. Siwon mengubah cepat raut murungnya. Senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya tersungging, membuat So Eun sedikit lega.

“Sudahlah lupakan. Sekarang yang penting kita segera pulang agar kau bisa beristirahat.”

So Eun kira Siwon tidak memikirkan ucapannya tadi namun ketika mereka hendak tidur malam harinya, So Eun melihat suaminya kembali melamun.

“Oppa, kenapa semenjak kita membahas Eun Ji wajahmu selalu murung?”
Siwon masih terdiam, menimbulkan kejengkelan di hati gadis yang sedang di peluknya di atas tempat tidur itu.

“Oppa…” So Eun menusuk-nusuk pipi Siwon dengan jari telunjuknya. Barulah ulah So Eun berhasil membuat Siwon mengerjapkan mata berkali-kali, sadar dari lamunannya.

“Nyonya Choi, kau usil sekali!” omelnya.

“Siapa suruh kau melamun! Aku sempat mengira suamiku mulai kerasukan. Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Apa itu menyangkut soal Eun Ji?”

“Tidak.” Sela Siwon cepat, terlalu cepat sampai membuat istrinya semakin curiga.
“Sungguh?”
“Iya, sudah sekarang kau tidur saja, tidur..” Siwon mendekap erat So Eun sampai wanita itu mengeryitkan kening karena kesulitan bernapas.

“Oppa, aku mana bisa tidur jika kau memelukku seperti ini,” So Eun sebenarnya tidak keberatan Siwon memeluknya, bagaimana pun pelukan Siwon membuatnya merasa terlindungi dan nyaman. Namun jika ia kesulitan bernapas, bagaimana ia bisa nyaman dalam pelukan itu?
So Eun terus memberontak membuat Siwon terpaksa menghentikan rontaan itu dengan memenjarakan tubuh So Eun di bawah himpitan tubuhnya. Tindakan itu sukses menghentikan pemberontakan So Eun, kini gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat karena merasa terintimidasi dengan senyum menyerupai seringaian yang dikeluarkan suaminya.

“Apa aku harus menciummu dulu baru kau tertidur?” Siwon berbisik dengan ekspresi sensual. So Eun mengerjapkan mata berkali-kali bersamaan dengan jantungnya yang berdegup kencang.

“Di-di dalam dongeng ma-napun tidak ada seorang putri yang akan tertidur jika dicium pangerannya,” kata So Eun terbata. Sial, mengapa Siwon selalu bisa membungkamnya dengan cara seperti ini? Dan kenapa ia masih juga terjerumus dalam rayuannya yang tidak pernah berubah sejak dulu itu? Ini adalah cara yang sering Siwon gunakan untuk memperdayanya namun tetap saja ia terjebak. Sial sekali. Oh, mungkin ini akibatnya karena ia terlalu mencintai suaminya.

Siwon mengangkat alisnya sebelah, “Kalau begitu kita buat dongeng yang baru. Yang lebih indah dari sekedar fairytale,” So Eun mulai memejamkan mata ketika ia kembali merasakan bibir suaminya bersentuhan dengan bibirnya. Sepertinya Siwon benar, ia sekarang memang merasa seperti berada di dalam sebuah cerita dongeng. Rasanya begitu indah dan membahagiakan.

Siwon merebahkan tubuhnya di samping So Eun tanpa melepas pagutan bibir mereka. Ia sangat nyaman dengan posisi ini. Entah kenapa rasanya ciuman kali ini begitu ringan, lepas, dan tanpa beban apapun. Ia justru merasa bahagia seperti saat pertama kali jatuh cinta pada So Eun.

“Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasa sebahagia ini ketika sedang mencium istriku,” gumam Siwon begitu ia menjauhkan kepalanya. Ia menatap dalam iris mata hitam So Eun. Ia yakin So Eun pasti bisa merasakan begitu banyak cinta yang ia berikan untuknya hanya dengan menyelami sorot matanya saja.

So Eun yang paham maksud Siwon tersenyum lepas, “Maaf jika sebelumnya aku membuatmu terbebani,” ia membenamkan wajahnya dalam dada Siwon yang hangat, demi menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba saja menghiasi kedua pipi putihnya.

“Tak perlu merasa bersalah, aku sudah cukup menyakiti hatimu saat kita di masa-masa awal pernikahan dulu. Akulah yang seharusnya meminta maaf.”
So Eun bisa merasakan tangan kekar Siwon memeluknya begitu erat membuatnya merasa begitu istimewa dan terlindungi. Ia melingkarkan tangannya di punggung Siwon sebagai balasannya. Diam-diam ia tersenyum, bersyukur karena dahulu ia memilih untuk menikah dengan Siwon dan tidak menuruti kata hatinya yang terkadang keliru itu. Jika tidak, mungkin ia-lah yang paling terluka saat tahu Donghae adalah kakak kandungnya dan Ayahnya selama ini menyembunyikan fakta itu darinya.

“yeobo,” Siwon memanggil istrinya ketika tiba-tiba saja suasana hening. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat kondisi So Eun, setelah sadar So Eun sudah tertidur lelap dari caranya bernapas yang teratur, ia tersenyum.

“Jaljjayo,” ia mengecup puncak kepala So Eun lalu ikut menyusul So Eun ke dunia mimpi detik berikutnya.

—-o0o—-

Donghae duduk di depan Ayahnya dengan kepala menunduk. Ia menerima apapun yang akan Ayahnya putuskan hari ini. Ia sudah menceritakan pada keluarga yang sudah membesarkannya bahwa ia sudah tahu kronologis kisah orangtua kandungnya dari Ibu So Eun. Ia tahu Ayahnya pasti akan marah karena ia melakukan tindakan lancang itu namun ia berharap Ayahnya paham. Ia juga ingin tahu sejarah hidup kedua orang tua kandungnya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” suara tinggi Tuan Lee mengganung. Pria itu mengangkat dagunya dengan angkuh dan tegas, memperlihatkan sikap wibawa seorang Ayah. “Apa kau akan mengganti margamu dengan Kim?”

Donghae mengangkat kepala agar bisa memandang ekspresi Ayahnya secara langsung. Ia terdiam, merenungi pertanyaan terakhir Ayahnya sebelum menjawab dengan nada yakin, “Tidak, Appa.” Ujarnya lugas membuat pria paruh baya di depannya membelalakkan mata.

“Tidak? Mengapa? Bukankah kau sudah tahu Ayah kandungmu bukanlah aku. Ayah kandungmu bermarga Kim, bukan Lee.”

Donghae memperlihatkan senyum yang selalu muncul di saat ia sudah yakin dengan keputusan yang diambilnya, ia kembali memandang Ayahnya dengan sorot mata tenang. “Bagiku, Ayahku tetaplah dirimu. Bagaimana bisa aku mengkhianati Ayah yang sudah rela memberiku marganya. Aku tidak pernah kekurangan kasih sayang sedikit pun selama ini. Karena itu aku akan tetap menjadi anakmu.”

Tuan Lee begitu terharu mendengar penuturan Donghae yang begitu tulus. Ini pertama kalinya dalam hidup ada yang menganggapnya begitu istimewa. Sebenarnya, semenjak ia menceritakan masa lalu Donghae ia takut Donghae akan memilih tinggal bersama keluarga Ayah kandungnya. Semenjak adiknya meninggal dunia, ia sudah menyayangi Donghae seperti anaknya sendiri. Ia sudah terlanjur memberikan separuh cintanya pada Donghae. Ia tidak akan rela melepas Donghae begitu saja pada Ayah yang bahkan tidak diketahuinya.

Tuan Lee menghapus airmata yang menitik di sudut mata. “Yah, jika itu keputusanmu.” Ujarnya. Ketika ia akan mengatakan kalimat selanjutnya tiba-tiba saja terdengar suara ketukan. Seorang wanita masuk ke dalam lalu membungkuk hormat pada Donghae, pemilik dari ruangan tempat mereka berada sekarang.
“Tuan, ada tamu.”
“Oh ya?” ujar Donghae, “Siapa?”
“Kami,” Siwon muncul bersama So Eun bahkan sebelum Donghae mengizinkan mereka masuk.

Donghae dan Ayahnya sama-sama terkesiap. Suasana sempat menjadi canggung meskipun So Eun sudah mati-matian memperlihatkan senyum ramah. Ia menggenggam erat tangan Siwon karena tidak kuat dengan tatapan penuh selidik Tuan Lee.

“Tidak biasanya kalian datang kemari. Ada apa?” Donghae bertanya ramah. Dilihat dari ekspresinya So Eun yakin Donghae sudah tidak terbebani sama sekali dengan masalah sebelumnya. Donghae terlihat seperti Donghae yang dikenalnya. Memang begitu seharusnya.

“Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan,” kali ini So Eun berkata. Donghae terdiam melihat keseriusan di wajah So Eun dan suaminya. Ia menoleh sekilas pada Ayahnya yang mengangguk paham.

“Aku sepertinya harus pergi,” ujarnya lalu pergi meninggalkan ruangan. Tidak seperti Donghae, Tuan Lee sepertinya masih belum bisa menerima masalah lalu karena pria itu tidak menunjukkan raut ramah sama sekali saat melintasi So Eun dan Siwon.

Donghae segera mempersilakan mereka duduk di sofa set yang tadi di tempat dirinya dan Ayahnya.
“Maaf, soal Appa. Sulit baginya menerima semua ini,” ujar Donghae menyesali sikap tidak ramah Ayahnya barusan.
“Oh, jadi kau tetap ‘Lee Donghae’ rupanya. Kau tetap memanggil Tuan Lee Jung Shik dengan sebutan ‘Appa’,” Siwon menyimpulkan sendiri hipotesanya. Ia menganggap Donghae tetap memutuskan menggunakan marga Lee meskipun ayah kandungnya bermarga Kim.

Donghae tersenyum ringan, “Ini sebagai tanda terima kasihku pada Ayah yang sudah membesarkanku. Jadi ya, kau benar. Aku tetap ‘Lee Donghae’,”

Siwon memutar bola matanya sementara So Eun menganggukkan kepala, puas sekaligus bangga dengan jawaban kakak kandungnya itu. “Bagaimana bisa kalian berdua memiliki pikiran sebijak itu?” tambah Siwon tak habis pikir. Tak menunggu sampai salah satu dari So Eun atau Donghae menjawab, Siwon melanjutkan, “Oh tentu saja karena kalian memiliki Ayah yang sama.”

So Eun dan Donghae kompak tertawa. “Ayahku jelas jauh lebih bijak dari kami,” ucap So Eun bangga. Ia kembali menemukan kebanggaannya terhadap sang Ayah setelah beberapa waktu lalu sempat dikecewakan olehnya.

“Hal apa yang ingin kalian bicarakan denganku?” Donghae kembali ke topik pembicaraan awal.

“Ini tentang perusahaan Appa,” ucap So Eun mengawali. Donghae agak terkejut mendengar So Eun menyinggung soal perusahaan.

“Apa ada masalah dengan kerjasama kita? Aku sudah berhasil meyakinkan Appa untuk bekerjasama dengan perusahaanmu,” jelas Donghae takut So Eun datang dengan tujuan membatalkan kesepakatan kerjasama yang pernah mereka buat sebelumnya.

“Tidak, bukan itu. Ini tentang surat wasiat yang ditinggalkan Appa. Beliau menginginkan kursi CEO ditempati olehmu.”

Sedetik kemudian sempat terjadi kesunyian karena sekujur tubuh Lee Donghae membeku karena terkejut. So Eun sudah memprediksinya karena itu ia diam hingga Donghae bisa menguasai kekagetannya.

Ketika Donghae sudah bisa menormalkan diri, ia memalingkan perhatiannya pada So Eun. Dengan wajah tercengang bercampur bingung ia berkata, “Kenapa aku? Bukankah seharusnya itu hakmu?”

“Aku tidak keberatan jika kau yang mengambil alih posisi ini. Kau adalah anak laki-laki Appaku. Tentu saja Appa sejak dulu ingin sekali memiliki anak lelaki yang akan meneruskan bisnisnya. Aku yakin yang dimaksud Appa adalah dirimu.”

Donghae tidak langsung menjawab. Kini ia merenung. Semuanya terlalu tiba-tiba. Ia takut jika ia memutuskan persoalan kompleks ini dengan gegabah, keluarganya akan tersinggung.

“Ini tidak mudah diputuskan,” lirihnya dengan wajah serius.

“Pikirkanlah baik-baik. Kami menunggu jawabanmu, segera.” Siwon terpaksa ikut berbicara.

“Kenapa kau menyerahkan posisi ini padaku begitu saja?” Donghae menatap So Eun penuh tanda tanya. Bukankah selama ini So Eun-lah yang dikenal orang-orang sebagai anak satu-satunya Kim Dong Woo? Akan sangat mengejutkan seandainya kursi pimpinan itu diberikan kepada orang lain.

“Ini hal yang diinginkan Appa. Lagipula sekarang aku sedang mengandung. Siwon Oppa tidak mengizinkanku kelelahan karena mengurus perusahaan.”
Donghae masih tampak merenung bahkan setelah So Eun berkata dengan nada memohon.
“Kami memberimu waktu dua hari untuk berpikir. Setuju atau tidak, jawabah itu harus kau berikan besok lusa,” ucap Siwon.
“Aku harap kau menyetujuinya, Oppa. Aku dan Eomma sangat mengharapkan bantuanmu.”
Donghae menoleh menatap wajah penuh permohonan So Eun. Ia terenyuh detik itu juga. Ia tahu, ia tidak akan pernah tega menolak So Eun jika sudah memperlihatkan wajah memelas seperti itu.

Donghae dilema antara setuju atau tidak. Ia hanya mencemaskan bagaimana perasaan Ayahnya. Tak bisa dipungkiri sebenarnya ia senang dengan permintaan So Eun karena itu artinya, sejak dulu ayah kandungnya tidak pernah melupakan dirinya. Namun ia tidak ingin melupakan segala kebaikan keluarga Lee. Mereka juga saudaranya, terutama Ayahnya.
Ia sudah mengambil keputusan, jika ini adalah keinginan Ayah kandungnya dan So Eun serta ibunya setuju, maka tidak ada alasan baginya menolak. Ia bisa membicarakan perihal ini pada Ayahnya saat mereka bertemu kembali malam nanti.

“Baiklah,” tiba-tiba Donghae mengangkat kepalanya lalu melontarkan kata-kata persetujuan. So Eun dan Siwon terkejut lalu saling pandang. Terang saja mereka takjub sekaligus tidak percaya akhirnya Donghae berkata iya.

“Aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Oppa!!” seru So Eun, matanya berbinar haru. Ia menoleh pada Siwon yang tersenyum sama cerahnya dengan dirinya. Siwon bangkit lalu menyalami Donghae. Sungguh tindakan ramah yang membuat Donghae yakin bahwa keputusannya tidaklah salah.

“Terima kasih sudah membantu kami,” ucap Siwon.

“Ini sudah tugasku,” Donghae tersenyum. So Eun sebenarnya ingin sekali memeluk Donghae sebagai ungkapan rasa terimakasihnya namun ia tidak yakin apakah Siwon akan senang dengan perlakuan semacam itu. Semenjak mengenal Donghae suaminya itu mudah sekali cemburu. So Eun tidak yakin setelah hubungan keduanya membaik pria itu akan menghilangkan kadar kecemburuannya. Jadi ia urungkan dan memilih menjabat tangan Donghae saja.

“Terima kasih banyak, Donghae Oppa.”

“Jangan sungkan, kumohon. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk mendiang Ayah kita.”

Donghae melihat senyum So Eun yang disukainya muncul kembali. Itulah senyum yang membuatnya jatuh cinta dulu. Namun sekarang senyum sudah menjadi milik Siwon, suaminya. Donghae hanya bisa memandang senyum itu sesaat sebelum So Eun memalingkan pandangannya pada Siwon lalu memeluk suaminya itu. Donghae tersenyum simpul. Ya, mungkin ia bisa menemukan wanita yang bisa memberinya senyum semacam itu suatu hari nanti. So Eun bukanlah wanita yang patut dicintai olehnya sejak awal.

—o0o—

Hari itu Donghae segera mengatakan bahwa ia akan memimpin perusahaan keluarga So Eun kepada Ayah dan ibunya sewaktu makan malam. Ayahnya sempat membelalakkan mata, termasuk ibu dan kakaknya. Donghae kira ia akan mendapatkan luapan kemarahan dari Ayahnya namun ia salah. Meski sempat terkejut namun Ayahnya membiarkan Donghae melakukannya. Itu adalah hal yang baik untuk Donghae.

Kemudian esok harinya, Donghae resmi diperkenalkan sebagai CEO baru oleh Ibu So Eun kepada semua jajaran manajemen di Kim Corporation.

Hari-hari yang dilalui Siwon dan So Eun mulai berjalan baik dan normal. Ia sudah tidak mendengar tentang Eun Ji lagi, entah bagaimana kabarnya gadis itu. Ia sudah tidak memikirkan lagi alasan Ayahnya membenci Eun Ji dan ia membiarkan itu menjadi misteri karena sekarang satu-satunya yang menjadi fokus pikirannya adalah So Eun, yang sedang mengandung anak mereka.

“Kau yakin tidak menginginkan apapun? Bukankah wanita hamil semuanya seperti itu?”

“Aigoo, seharusnya Oppa bersyukur karena aku tidak merepotkanmu,”

“Aku suka direpotkan,” kekeuhnya. Siwon heran sekali dengan kehamilan So Eun. Padahal ini adalah masa-masa awal kehamilan tapi kenapa istrinya itu tidak mengidam? Jelas ia heran dengan hal itu. Padahal ia sudah menantikan sensasi repot namun menyenangkan ketika ia berusaha untuk mewujudkan keinginan istrinya.

“Jika kau menginginkan sesuatu, jangan ragu untuk menelepon.”

“Arro.”

Siwon baru menyudahi sesi pembincangan dengan istrinya melalui telepon. Ia melirik jam tangan dan baru sadar kalau ia ada janji dengan Kyuhyun siang ini. Sahabatnya itu memintanya menemani menjemput istrinya yang kembali dari kegiatan amal di luar negeri.

“Sebaiknya aku mengajak So Eun juga,”

—o0o—

Bandara Internasional Incheon selalu penuh padat seperti biasanya. Bahkan merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia. Banyak sekali orang hilir mudik sampai bandara seluas itu rasanya sempit sekali.
Siwon berdiri bersama So Eun dan Yoo Hee, adik Kyuhyun yang sejak tadi mencemaskan kakaknya yang mulai tidak sabar.

“Aigoo, kau yakin pesawatnya akan tiba sebentar lagi?” cerocosnya tidak sabar. Yoo Hee hanya memutar bola mata malas.

“Tenanglah kakakku. Je Young eonni akan tiba dengan selamat. Aku jamin itu.” ia lalu menoleh pada So Eun dan Siwon, “Dia terkadang suka cemas berlebihan pada istrinya.”

“Sepertinya kakakmu terlalu merindukan istrinya,” ujar So Eun.

“Ya, aku yang tidak bertemu beberapa jam dengan istriku saja sudah rindu apalagi jika tidak bertemu selama berbulan-bulan. Aku terkadang kagum pada kesabarannya. Dia bisa saja berselingkuh dengan kondisinya sekarang.” canda Siwon yang langsung menerima sikutan dari So Eun.
“Jangan begitu,” ujarnya.

“Ngomong-ngomong,” sela Yoo Hee sambil menatap ke sekeliling So Eun, “Kau tidak mengajak pria, em siapa itu..” Yoo Hee ragu harus melanjutkannya atau tidak. So Eun yang paham segera menjawab.
“Donghae maksudmu?”
“Ah,” Yoohee mengerjap lalu mengangguk.

“Dia sedang sibuk bekerja. Sepertinya dia sedang semangat-semangatnya. Eomma sampai berdecak kagum karena Donghae Oppa berhasil menyelesaikan semua tugas bahkan sebelum waktunya,” ucap So Eun sambil tertawa kecil. Yoohee menganggukkan kepala antusias. Setelah beberapa lama tidak melihat pria itu rupanya segala berita tentang Donghae selalu menarik baginya.

“Um, apa dia benar berpacaran dengan gadis bernama Park Eun Ji?” Yoohee benar-benar penasaran. So Eun terkejut mendengarnya.

“Apa? Sejak kapan Donghae berpacaran dengan Eun Ji?” serobot Siwon lebih dulu.

Yoohae gelagapan, “Aku mendengarnya langsung dari Donghae-ssi.”
Dengan wajah tercengang So Eun memandang suaminya. Ini adalah hal yang sangat mengejutkan karena ia mengenal Donghae dengan baik dan Eun Ji jelas bukan tipe wanita impian Donghae.

..To Be Continued..

78 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 11)

  1. eomma sma so eun bijak bngt….Salut ma mereka

    ngomong” eunji kmna y , gg kliatan ??? tpi moga ja gg buat mslah lgi

    haeppa jngan sma eunji sma yoo hee ajaaa

  2. Aigooo untung haeppa mau ambil jabatan itu hihihi
    sekarang misteri hub nya haeppa n siapa ya? *penasaran haeppa pilih yoohee atau eunji?

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s