Unforgottable Love [Part 4]

Tittle : Unforgottable Love Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life
Lenght : Chapter 4 of 6
Find Me on : @julianingati23

Main Cast :
– Kim Taeyeon
– Lee Sungmin
Support Cast :
– Kim Kibum
– Kim Heechul

Happy reading ^_^

Unforgottable Love by Dha Khanzaki

====Part 4====

“Kau sudah siap?”

Sungmin menoleh pada Heechul. Ia menghentikan sejenak kesibukannya merapikan rambut. Setelah yakin tuxedo hitam yang dikenakannya terlihat sempurna, ia menghadap Heechul. Pria itu menatapnya dengan wajah tak peduli andalannya, tetapi Sungmin tahu Heechul tidak seperti itu. Berkat persetujuan Heechul pernikahan tetap terlaksana pada waktu yang sudah ditetapkan sebelumnya. Karena itu senyum Sungmin hari ini lebih cerah dari sebelumnya dan ia bahkan tidak bisa marah karena terlalu gembira. Sekarang adalah hari pernikahannya dengan Taeyeon.

“Aku menyerahkan adikku yang berharga, jagalah dia untukku.” Lagi-lagi Heechul berkata dengan nada tidak peduli.
“Tentu saja Hyung, aku akan menjaganya.” Sungmin tersenyum hangat, senyumannya membuat Heechul merasa sedikit terintimidasi sekaligus canggung. Ia lebih bisa menghadapi seseorang bertampang sangar dibandingkan menghadapi seseorang dengan ekspresi hangat seperti Sungmin. Di depan pria itu Heechul merasa seperti penjahat. Rupanya selama ini ia sudah mencurigai seseorang yang salah.
Sungmin menatap Heechul beberapa saat lalu bertanya, “Kenapa Hyung sempat menentang pernikahan kami?”

Diajukan pertanyaan seperti itu Heechul bergerak-gerak gelisah, ia mencoba untuk lebih rileks “Aku, sebenarnya hanya ketakutan. Selama ini aku sudah terlalu bergantung pada Taeyeon, dia yang merawatku ketika aku sakit, dia yang menghiburku dengan nyanyiannya, dan dia yang membuatku hingga menjadi seperti sekarang. Karena itu ketika ia memutuskan menikah, aku tidak rela. Perhatian Taeyeon padaku tidak akan pernah sama lagi. Tetapi setelah melihat Taeyeon begitu mencintaimu, aku sadar bahwa yang bisa kulakukan untuk berterima kasih atas semua perhatiannya selama ini adalah membiarkannya bahagia bersamamu.” Heechul tersenyum mengenang masa lalunya yang lebih banyak ia habiskan bersama Taeyeon dibanding siapapun. “Mungkin rasa tidak relaku muncul karena aku terlalu menyayanginya.”

Kalimat itu membuat Sungmin terpaku sekaligus lega. Ternyata tanpa diketahui siapapun Heechul begitu menyayangi adiknya. Hanya saja pria itu seringkali menunjukkannya dengan cara yang tidak biasa. Taeyeon sangat beruntung. Ia berjanji akan menjaga Taeyeon demi Heechul juga.

—o0o—

Detik ini akan menjadi detik paling tidak terlupakan bagi hidup Sungmin karena ia bersanding di depan wanita yang dicintainya, mengucapkan janji sehidup semati bersama, dan resmi memiliki wanita itu. Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya selain bahagia.

Taeyeon sendiri sudah tidak bisa tersenyum lagi karena ia sudah terlalu lelah tersenyum bahagia. Kini ia menitikkan airmata terharu ketika mereka saling bertukar cincin. Ia memandang cincin di jari manisnya dengan pandangan mengabur. Ia mengerjapkan mata ketika jari Sungmin menyentuh pipinya, dan bergerak menghapus jejak airmatanya. Sungmin menggeleng lemah, “Seorang pengantin tidak boleh menangis di hari pernikahannya.” Tangan Sungmin bergerak turun lalu merengkuh tubuh Taeyeon ke pelukannya. Pria itu membisikkan kata-kata yang membuat Taeyeon benar-benar ingin menangis meraung-raung.
“Terima kasih sudah bersedia menikah denganku, aku mencintaimu.”
Taeyeon belum sempat menjawabnya, tidak diberi kesempatan oleh Sungmin untuk menjawabnya karena bibirnya kini dipagut dengan mesra oleh bibir Sungmin. Ia sempat membelalakkan mata terkejut, tetapi detik berikutnya ia membalas ciuman suaminya dengan lebih menggebu.

Tepuk tangan menggema di seluruh penjuru kapel tempat pemberkatan itu berlangsung. Semuanya sangat menikmati pemandangan mesra di depannya. Bahkan kedua orang tua Taeyeon menitikkan airmata penuh haru. Kibum dan Heechul saling melempar senyum karena mereka sudah saling berjanji tidak akan bertengkar di hari penuh kebahagiaan ini.

Pesta pernikahan pun digelar dengan meriah karena ini adalah pesta pernikahan pertama bagi keluarga Kim maupun keluarga Lee. Ditambah kenyataan bahwa orang tua kedua mempelai adalah orang-orang terkenal. Semua orang bergembira hari itu dan yang terlihat paling gembira di antara semuanya adalah Sungmin dan Taeyeon. Tentu saja, mereka raja dan ratu pesta hari ini.

Taeyeon tidak bisa menahan airmatanya, hari ini ia menangis terharu melihat adik dan kakaknya tampak akrab. Dengan penuh sukacita ia memeluk keduanya dan berkata terima kasih berkali-kali.
“Janji kau tidak akan melupakanku?” ujar Heechul sambil mengelap airmatanya. Ia ikut menangis. Taeyeon tertawa lalu menggeleng mantap.
“Kau kakakku tercinta, mana mungkin aku melupakanmu. Aku akan mengunjungimu setiap hari.”
“Nuna, kau harus terus sehat, memiliki banyak anak, dan bahagia hingga tua nanti.” Kibum memeluknya erat. Taeyeon mengusap punggung Kibum lembut.
“Terima kasih. Jika aku sakit bukankah ada kau yang akan mengobatiku?”
“Aku belum jadi dokter, aku masih mahasiswa.” Keluh Kibum. Taeyeon melepas pelukannya lalu memandang adiknya dengan sorot mata yakin.
“Kau pasti bisa menjadi dokter yang hebat. Kelak di saat kau sudah sukses dengan profesimu aku akan menjadi pasien nomor satumu,”
Kibum memberengut tidak terima, “Itu menyeramkan Nuna, kau tidak boleh sakit. Aku akan membuatmu terus sehat.”
“Begitukah?” Taeyeon tertawa lalu kini memeluk adik dan kakaknya bersamaan.

—-o0o—

“Ah, lelah sekali..” Sungmin melepas jasnya lalu menyampirkannya di sandaran sofa begitu mereka tiba di rumah setelah acara resepsi selesai. Tubuhnya terasa pegal dan ia tidak yakin masih ada tenaga yang tersisa untuk esok hari. Ia sedang meregangkan otot-otot di tubuhnya ketika Taeyeon masuk dan memberikan selembar handuk yang terlipat rapi padanya.
“Oppa bisa mandi lebih dulu, aku akan mandi di tempat lain.”
“Baiklah,” Sungmin mengambil handuk itu lalu mendaratkan kecupan kilat di bibirnya. kedua pipi Taeyeon seketika memerah malu. Sungmin hanya tersenyum simpul lalu melenggang melewatinya sambil bersenandung kecil. Taeyeon hanya memandangnya dengan jantung berdebar kencang. Melihat Sungmin begitu agresif, gembira, dan berseri-seri membuatnya teringat bahwa sekarang adalah malam pertama mereka.

“Eotteohke?” lirihnya sambil memegangi kedua pipinya yang semakin memanas. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak pernah membahas tentang hal ini tentang siapapun. Jika ia tahu akan begini ia pasti sudah membaca buku seputar malam pertama sebagai antisipasi. Tetapi bukan itu yang penting. Sekarang ia harus melakukan persiapan awal. Setidaknya ibunya sudah mewanti-wantinya sebelum pernikahannya berlangsung tadi pagi.

Sungmin keluar dari kamar mandi lima belas menit kemudian dan menyadari Taeyeon tidak berada di kamar. Ia menyimpulkan Taeyeon mungkin sedang mandi di tempat lain. Ia tidak terlalu mencemaskannya dan ia harus mencari handuk lain yang akan ia pakai untuk mengeringkan rambutnya. Tetapi karena ini rumah Taeyeon, ia tidak tahu handuk itu diletakkan di mana. Ketika ia hampir saja berteriak memanggil, Taeyeon melingkarkan handuk di lehernya. Sungmin mendesah lega lalu membalikkan badan. Detik berikutnya ia terpaku melihat penampilan Taeyeon saat ini. Bagaimana tidak, saat ini Taeyeon mengenakan gaun tidur yang terbuat dari bahan yang tipis bahkan nyaris transparan bahkan ia bisa melihat bra dan underwearnya yang berwarna lavender.

Taeyeon tersenyum malu, ia menyampirkan helaian rambutnya ke belakang telinga dengan gugup karena Sungmin memandangnya tanpa berkedip.
“Kau tidak kedinginan memakai pakaian setipis itu?” kalimat yang terlontar dari mulut Sungmin membuat senyum Taeyeon memudar seketika. Ia menatap Sungmin tidak percaya. Ia pikir Sungmin akan mengomentarinya cantik, seksi atau apapun. Ia tidak menyangka Sungmin justru mengeluarkan kalimat semacam itu.
“Sekarang sudah malam dan udara dingin sekali. Kau bisa sakit, chagi.” Sungmin memakaikan sweternya pada Taeyeon. Gadis itu ingin mendengus marah, tetapi melihat eskpresi Sungmin yang benar-benar khawatir, ia tahu suaminya itu hanya mencemaskan kesehatannya saja. karena itu ia tidak bisa marah ataupun mengeluh. Ia hanya bisa menghela napas meskipun rasa kecewa karena gagal membuat Sungmin terkesan.
“Sepertinya Oppa yang harus segera memakai baju. Jika masuk angin bagaimana?”

Sungmin memandangi dirinya sendiri yang masih terbalut selembar handuk. Ia hanya tersenyum manis dan Taeyeon tertular senyumnya. Aigoo, bagaimana bisa aku menikahi lelaki seperti ini? Keluh Taeyeon dalam hati.
“Baiklah, biar aku yang mengeringkan rambutmu.” Taeyeon mengambil handuk yang melingkar di leher Sungmin dan mengusapkan handuk itu ke kepala Sungmin, mengeringkan rambutnya yang basah. Dari jarak sedekat ini Taeyeon bisa mencium aroma sampo yang dipakai suaminya itu dengan jelas. Aroma itu membuat jantungnya berdebar kencang, ia tidak tahu kenapa kini pipinya kembali merona malu. Ia sadar Sungmin sedang menatapnya sambil menahan senyum.
“Sepertinya aku harus mengecek pintu depan,” Taeyeon menjauhkan tangannya dari kepala Sungmin tetapi pria itu menangkap kedua tangannya dengan cepat, membuat Taeyeon tetap di tempatnya. Ia terkejut dan hanya mengerjapkan mata tanpa bisa berkata apapun karena Sungmin tiba-tiba menatapnya seduktif.

Sungmin tidak bisa menahannya lagi, sejak Taeyeon mengusapkan handuk di rambutnya dan jarak mereka terlampau dekat. Pipinya yang merona kemerahan, gurat malu-malunya semua sungguh menggemaskan dan membuatnya tergoda meskipun Taeyeon tidak bermaksud sama sekali untuk menggodanya.

Taeyeon tidak kuat jika terus berada dalam posisi ini, di saat Sungmin menatapnya begitu intens, ia ragu apakah bisa tetap berdiri atau tidak. Sungmin mendekatkan wajahnya dan Taeyeon tahu apa yang akan terjadi. Ia justru tidak bisa bergerak karena terlalu gugup dan pada akhirnya membiarkan Sungmin menciumnya. Awalnya ia tegang, tetapi cara Sungmin menciumnya begitu menggetarkan dan perlahan-lahan Taeyeon melemas, mendesah kalah dan melingkarkan tangannya di leher suaminya. Ia bertanya-tanya apakah sekarang sudah tiba saatnya?

Tetapi di saat Taeyeon begitu menggebu dan bersemangat membalas setiap pagutan Sungmin, pria itu menjauhkan wajahnya. tanpa sadar ia mendesah kecewa. Sungmin menatapnya dengan wajah penuh penyesalan. Ia tahu apa yang ada dalam pikiran Taeyeon karena ia pun merasakan hal yang sama tetapi ia tidak bisa melakukannya sekarang.
“Kenapa berhenti? Bukankah sekarang malam pertama kita?” ucap Taeyeon polos. Sungmin menggeleng halus.
“Tidak, tidak malam ini. Kau pasti lelah. Sekarang tidurlah. Lagipula kita bisa melakukannya esok hari, ”
Taeyeon mendesah kecewa, ia bingung kenapa ia harus merasa seperti itu. Bukankah seharusnya ia senang? Mungkin karena ia terus merasa gugup sejak tadi namun pada akhirnya ia tidak mendapatkan apapun selain ciuman. Rasanya seperti penantian yang berakhir sia-sia. Sungmin menciumnya lagi untuk menenangkannya.
“Tetapi biarkan aku tidur sambil memelukmu malam ini.” Ia memperlihatkan senyum itu kembali. Taeyeon mendesah karena lagi-lagi ia terpengaruh senyum Sungmin. Ia mengangguk.
“Arraseo.”
“Nah kau berbaringlah lebih dulu,” Sungmin mengambil beberapa helai pakaian dari dalam kopernya lalu pergi ke kamar mandi lagi sementara Taeyeon menunggunya di tempat tidur. Sungmin rupanya benar tentang dirinya yang kelelahan. Buktinya ketika Taeyeon merebahkan diri dan merasakan nyamannya tempat tidur, ia langsung terlelap. Ketika Sungmin kembali dan melihat Taeyeon sudah pulas, ia hanya tersenyum lalu ikut tidur sambil memeluk istrinya itu.

—o0o—

Taeyeon kira setelah menikah Sungmin akan mengajaknya pergi berbulan madu. Tetapi kenyataannya ia justru ditinggal pergi oleh Sungmin selama seminggu karena suaminya itu harus menemani Eunhyuk sang CEO SJ Tv—Sungmin pengacara pribadinya—pergi ke Jepang untuk suatu urusan.

Sungmin juga tidak mengharuskan Taeyeon berhenti dari pekerjaannya. Ia tetap bekerja di lembaga penelitian dan sesekali pergi ke universitas untuk menyelesaikan kuliahnya. Selama Sungmin pergi Taeyeon tinggal sendiri di rumahnya. Mereka belum memutuskan akan tinggal di mana, tetapi jika Sungmin ingin Taeyeon tinggal di rumah mertuanya, itu tidak masalah baginya dan ia berniat memberikan rumahnya untuk Kibum.

Taeyeon benar-benar merindukan Sungmin dan ketika suaminya itu kembali, ia tidak tahu betapa senangnya ia. Taeyeon langsung berlari dan memeluknya erat. Sungmin bahkan belum meletakkan tas kerjanya dan hanya bisa menyambut pelukan istrinya dengan hati berbunga.
“Kau baik-baik saja tanpaku, bukan?” tanya Sungmin. Taeyeon melepas pelukannya lalu memukul ringan dada suaminya.
“Baik-baik saja? kau pergi selama seminggu tanpa mengabariku. Bagaimana aku bisa ‘baik-baik saja’?” Taeyeon hampir menangis saat mengatakannya. Sungmin tertawa kecil lalu menarik Taeyeon kembali ke pelukannya.
“Sebagai permintaan maaf aku ingin memperlihatkan sesuatu untukmu..”
Taeyeon berhenti terisak lalu memandang suaminya, “Apa?” ia benar-benar penasaran. Apa Sungmin membelikannya sesuatu saat pergi bertugas?
“Kau harus ikut denganku ke suatu tempat,” ucapnya sambil tersenyum.

Sungmin membawanya ke suatu tempat dan ketika mereka tiba di tempat tujuan, Taeyeon hanya bisa menganga takjub. Ia menoleh pada Sungmin dengan pandangan tak percaya. Sungmin mengangguk sebagai jawabannya.
“Ini rumah kita. Di sini kita akan membangun keluarga kecil bersama,” kata-kata Sungmin membuat Taeyeon lebih terharu lagi. Ia kembali memeluknya. Ia tidak percaya ternyata diam-diam Sungmin menyiapkan sebuah rumah untuk ditinggali bersamanya. Ini, kejutan paling tak disangkanya.
“Gomawo, rumah ini indah sekali.” Taeyeon tidak tahu bagaimana ia menjelaskan, tetapi Sungmin benar-benar tahu tipe rumah seperti apa yang ia inginkan. Ia sangat menyukai rumah ini.

Sungmin segera mengajak Taeyeon masuk. Ia memperlihatkan setiap sudut rumah itu dengan bangga dan Taeyeon sungguh menyukainya. Sungmin bersyukur sudah meminta Siwon merenovasi ulang rumah ini dan syukurlah jika sesuai dengan selera Taeyeon. Ia memperlihatkan kamar utama yang luas dan indah dengan tempat tidur yang tampak nyaman terletak di tengah ruangan. Taeyeon sudah tak bisa berkata-kata, hanya bisa berdecak kagum.
“Aku lelah sekali, setelah penerbangan lama dari Jepang ke Korea. Rasanya aku ingin beristirahat,” desah Sungmin seraya membuka kancing kemejanya. Ia sudah melepas jasnya dari tadi. Taeyeon menoleh pada Sungmin yang sedang duduk di atas ranjang. Ia tidak tahu harus melakukan apa di saat seperti ini.
“Kemarilah,” ujar Sungmin sambil tersenyum. Ia menepuk tempat di sampingnya, “Aku ingin kau menemaniku. Aku ingin melepas lelah bersamamu.”

Wajah Taeyeon kembali memanas namun ia tetap duduk di samping Sungmin. Tanpa diduga pria itu langsung menciumnya, membuat Taeyeon kaget sekaligus kewalahan karena tidak memiliki persiapan sama sekali. Sungmin bahkan tidak hanya mencium bibirnya, tetapi seluruh wajahnya dan perlahan turun ke lehernya. Seluruh tubuh Taeyeon berdesir menerima perlakuan itu. Tanpa disadari ia mendesah. Taeyeon bahkan tidak peduli ketika Sungmin mulai melepas satu persatu pakaiannya dan membaringkannya di atas ranjang. Taeyeon tidak begitu ingat detail yang terjadi selanjutnya. Tetapi ia yakin saat itu adalah saat yang paling menyenangkan seumur hidupnya karena untuk pertama kali, ia tahu bagaimana rasanya dicintai oleh seorang lelaki.

—o0o—

Sejak saat itu mereka resmi menempati rumah yang dibeli Sungmin. Dua bulan tanpa terasa berlalu sejak mereka menikah dan hari-hari yang mereka lalui bersama membuat keduanya semakin memahami kepribadian masing-masing. Taeyeon sudah hapal semua tabiat suaminya begitupun Sungmin. Meksi sering terjadi pertentangan tetapi mereka sekalipun tidak pernah bertengkar, malah semakin hari semakin romantis. Di balik sifat gigih dan pekerja kerasnya ternyata Sungmin suami yang sangat romantis. Taeyeon merasa diperlakukan laksana ratu terlebih setiap mereka menghabiskan waktu bersama di atas ranjang.
“Kau ingin memiliki anak berapa?” Taeyeon tiba-tiba bertanya seusai bermesraan. Sungmin memeluknya erat sambil berpikir.
“Kurasa dua saja cukup. Satu yeoja dan satu namja.”
Taeyeon tersenyum simpul membayangkan dirinya kelak melahirkan anak yang sangat mirip dengan suaminya, pasti akan sangat menyenangkan. “Kurasa anak kita kelak akan mirip denganmu.”
“Ho, waeyo?”
“Karena aku mencintaimu lebih dari cintamu padaku. Karena itu dia pasti akan mirip denganmu.”

Sungmin tersenyum lalu mencium puncak kepala Taeyeon, “Kurasa aku lebih suka dia mirip denganmu. Cantik, pandai bernyanyi, dan lincah.”
“Sepertinya kau berharap anak pertama kita perempuan,” ujar Taeyeon. Sungmin tergelak mendengarnya.
“Laki-laki pun tak apa. Jika memang benar perempuan, kau ingin memberinya nama siapa?”
“Em..” Taeyeon menengadahkan kepalanya, memikirkan nama yang cantik dan terdengar manis. “Minki. Aku ingin namanya Minki. Jika ditambah margamu menjadi Lee Minki. Eotte, cantik bukan?”
Senyum Sungmin melebar, “Nama yang indah. Bagaimana jika anak kita laki-laki? Apa namanya berubah menjadi Minho?”

Kali ini Taeyeon yang tertawa, “Kurasa nama itu tidak buruk.” Ia lalu menengadahkan kepalanya, menatap Sungmin. “Apa Oppa ingin cepat memiliki anak?”
“Ya. Aku tidak sabar ingin memilikinya, karena itu kita rajin bermesraan seperti ini,” Sungmin mengedipkan matanya. lagi-lagi Taeyeon merasa wajahnya memanas. Kenapa ia mudah sekali merona malu? Apakah itu karena ia sangat mencintai suaminya?

Sungmin meraih dagu Taeyeon ke arahnya lalu menciumnya kembali, sambil sibuk mencumbunya ia berbisik, “Saranghaeyo.”
Taeyeon tersenyum lalu membalasnya, “Nado saranghae.” Dan mereka kembali melanjutkan kegiatan indah itu.

—o0o—

“Kau terlihat pucat, chagi. Apa anemiamu kambuh?” Sungmin bertanya cemas setelah melihat wajah Taeyeon. Biasanya kedua pipinya tampak memerah namun kali ini pucat pasi seperti mayat.
“Benarkah?” Taeyeon memegang pipinya sendiri, “Mungkin hanya kelelahan.”
“Aigoo,” Sungmin meletakkan wajan yang sedang dipegang istrinya lalu mendudukkannya di kursi meja makan. “Duduklah, biar aku yang menyiapkan makan malam.” Ia kemudian mengambil alih pekerjaan Taeyeon.

Taeyeon mengerjapkan mata, “Mana bisa begitu Oppa, aku istrimu jadi seharusnya..”
“Apa memasak hanya pekerjaan seorang istri? Sudahlah, kau duduk yang manis saja di sana.” potong Sungmin. Taeyeon yang sudah setengah berdiri akhirnya duduk kembali. Ia hanya mendengus sambil menatap punggung Sungmin.
“Memang kau bisa memasak?” tanyanya, tak bermaksud meremehkan kemampuan Sungmin.
“Kau tidak bisa meremehkanku nona, biar begini aku dijuluki chef oleh teman-temanku.”
Taeyeon mengangguk-anggukan kepalanya, “Begitu, baiklah chef, buatlah masakan yang enak untukku.” Perintahnya. Sesekali membiarkan suami memasak untuk istrinya bukanlah ide yang buruk. Terlebih rasanya menyenangkan memperhatikan Sungmin yang sibuk membuat makanan dengan apron berenda warna pink. Aigoo, jika pria lain mungkin terlihat lucu, tetapi saat Sungmin yang memakainya, dia justru tampak begitu maskulin dan Taeyeon merasa malu sendiri karena sudah membayangkan yang tidak-tidak.

Beberapa saat kemudian hidangan lengkap sudah terhidang di atas meja. Taeyeon menganga melihat semua masakan itu. Baunya begitu sedap dan membuat cacing dalam perutnya berdemo. Ia mendelik pada suaminya yang duduk di seberang meja, memandangnya dengan ekspresi bangga.

“Cobalah,” Sungmin menyodorkan sepiring bulgogi padanya, Taeyeon mendesah dalam hati karena Sungmin tahu dengan benar makanan kesukaannya. Ia menyumpit sepotong daging lalu memasukkannya ke dalam mulut. Ketika makanan itu dicap oleh indera perasanya, ia harus memejamkan mata karena merasa itu taste bulgogi terenak yang penah ia cicipi.
“Sebenarnya bakat apa lagi yang kau sembunyikan, Oppa? Kenapa ini bisa enak sekali?” Taeyeon memegang pipinya dengan ekspresi memuja.
“Syukurlah jika kau suka,”
“Apa resep rahasianya?”
“Cinta,” jawab Sungmin cepat. “Aku membuat semua ini sambil memikirkanmu.”
Taeyeon hampir saja tersedak jika ia tidak cepat meneguk minumannya, ia merasa pipinya memanas kembali. Sungmin mendesah lega melihat istrinya tidak pucat pasi lagi. Makan malam kali ini terasa begitu menyenangkan. Taeyeon menikmati masakan yang dibuat Sungmin dengan penuh cinta itu.

Ketika makan malam sudah selesai, Taeyeon bermaksud meminum obat penambah darahnya tetapi entah kenapa rasanya tiba-tiba mual. Ia memuntahkan kembali obat yang hampir ditelannya lalu terbatuk-batuk. Sungmin yang melihat Taeyeon kepayahan sendiri di wastafel dapur dengan panik menghampirinya.
“Kau kenapa?” Sungmin mengambilkan segelas air hangat untuk Taeyeon tetapi istrinya itu kembali merasa mual dan muntah-muntah. Tidak ada yang keluar, hanya cairan berwarna putih. Sungmin tidak bisa membiarkan ini begitu saja.
“Aku harus menelepon Ayahmu,” ia bergegas menghubungi ayah mertuanya dan menjelaskan kondisi yang dialami Taeyeon dengan nada panik. Ia pikir Ayah mertuanya yang berprofesi sebagai dokter itu akan panik mendengar putrinya muntah-muntah, tetapi yang Sungmin dengar kali ini justru nada senang.
“Mungkin saja dia sedang mengandung, cobalah kau meminta Taeyeon untuk memeriksanya.”
“Apa? kemungkinan Taeyeon mengandung?” seru Sungmin kaget, sejujurnya ia tidak memikirkan hal itu sama sekali. Tiba-tiba perasaan senang menyerang Sungmin detik itu juga. Ia segera mengakhiri pembicaraannya lalu bergegas menghampiri Taeyeon yang kini sedang duduk di sofa ruang tengah sambil mengurut tengkuknya sendiri.

“Chagi..” Sungmin berbicara terburu-buru. Ia berlutut di depannya dengan mata berbinar. Mirip anak kecil yang mencoba merayu ibunya agar diberi uang jajan lebih.
“Kenapa?” Taeyeon mengerjapkan matanya bingung.
“Kapan terakhir kali kau datang bulan?”
“He?” Taeyeon mengerjap bingung, ia terkejut karena Sungmin mengajukan pertanyaan yang tidak terduga. Ia memiringkan kepalanya mencoba mengingat-ingat kapan ia datang bulan.
“Kalau tidak salah terakhir kali sekitar sebulan yang lalu..” ia terdiam lalu menoleh pada Sungmin. “Mungkinkah?” ia tercengang sendiri menyadari kemungkinan yang Sungmin pikirkan sama dengan dugaannya. Mungkinkah sekarang ia sedang mengandung?

Sungmin mengangguk cepat, tidak sabar. “Kau harus memastikannya chagi. Ayo aku antar kau ke rumah sakit.”
“Tunggu, kita bisa mengeceknya di rumah. Eomma memberiku test pack minggu lalu,” cegah Taeyeon saat Sungmin menariknya pergi. Ia bergegas lari ke kamar dan melakukan proses seperti yang dikatakan ibunya. Sungmin menghampiri Taeyeon di kamar. Saat ini mereka berdua sama-sama cemas menanti hasilnya dan ketika alat kecil itu memberikan konfirmasi bahwa Taeyeon mengandung, keduanya berseru senang bersamaan.
“Kau hamil chagi, chukkae yo!!” Sungmin langsung memeluknya erat sampai membuat Taeyeon memekik kaget dan test pack yang dipegangnya terlepas. Mereka tertawa bahagia bersama dan saling berpelukan. Perlahan-lahan tawa bahagia itu menghilang dan kini Taeyeon mulai terisak, ia menangis bahagia.
“Aku hamil, Oppa..kita akan memiliki bayi yang lucu.” Taeyeon membenamkan kepalanya di pundak Sungmin, ia memproklamirkan diri bahwa hari ini ia adalah wanita paling bahagia di dunia. Ia akan memberikan Sungmin anak dan keluarga kecil mereka menjadi lengkap. Kebahagiaan mereka menjadi sempurna.

Sungmin tidak bisa berhenti bersyukur dalam hatinya, ia menciumi pelipis Taeyeon dengan penuh kasih sayang. “Terima kasih, terima kasih..” entah ia tujukan kata itu untuk siapa, tetapi ia sangat berterima kasih pada Tuhan karena sudah memberikannya kesempatan menjadi orang tua. Ia sangat bahagia. Sungmin mengangkat wajah Taeyeon dari pundaknya lalu menyatukan bibir mereka kembali sebagai luapan rasa bahagia yang kini membuncah di benaknya.

To be continued

47 thoughts on “Unforgottable Love [Part 4]

  1. Wah chukkae buat sungmin sama taeyeon akhirnya punya calon aegi😀
    Tapi habis ini sad ending ya hiks hiks😥
    Sedih bayanginnya
    Eon, IMTBB dilanjut dong eon pleaseu ;;)

  2. Semakin dekat waktunya dengan kelahiran…semakin cepat pula sungmin kehilangan taeyeon (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

  3. ckckckck bahagianya Taeyon…
    Jd pengen punya suami ky bang Umin yg romnts n’ bs msak pula, ky’nya g’ rela dech min klo ff ni sad ending hiks hiks hiks tp mo gmn lg kan Sungmin dah sm istri brunya (maaf thor aq lupa ma nama mak tirinya Minki) dah hamil pula tuh….

    Btw IMTBB d lnjt donkzzz

  4. Senenggg bgt baca part ini dan ketawa ngikik pas bagian taeyeon pke lingeri pas first night mereka tp mlah gitu tanggapan sungmi.. Astaga *geleng”.,😉
    Hmhh sayang sekali ntar taeyeon bkal mninggal pas abis nglahirin minki😦

  5. Hiks.. hiks…
    Bagaimana mungkin semua kebahagiaan ini akan berakhir,,, bahkan akan berganti dengan sebuah kesedihan mendalam.

    Next part SOON…
    Hiks…hiks…

  6. So sweet banget couple ini, slg memahami slg mencintai dan menerima satu sama lain.. Pantas Sungmin oppa sulit melupakan Taeyeon wlpn sdh meninggal dan skrg sdh mempunyai istri lg stlh sekian lama menutup diri.. Romantis bgt Sungmin oppa and Taeyeon oennie, this couple have a lot of sweetest moment.. Pantas Minki itu imut dan manis bgt krn kedua org tuanya mempunyai sikap yg sgt baik.. Daebak.. ditunggu kelanjutannya chingu

  7. seru makin penasaran aja…
    tapi i married the bad boy nya kapan di lanjutin ??😦 aku sudah menanti cukup lama author…
    tapi tetep semangat yah buat lanjutin semua ff yg blm selesai faighting author:)

  8. huhu entah kenapa karena tau endingnya taeyeon meninggal malah jd sedih:(((( lanjuuutt thorr, kan heechul pernah cerita dia bantuin taeyeon yg lagi ngidam haha pengen liat mereka semua kewalahan karena taeyeon ngidam hihi

  9. Walaupun uda tau endingnya tp tetep nunggu kelanjutannya nih.
    Buran lanjutin ya eon😀
    oh ya di tunggu juga nih ff IMTBB nya.
    Fighting!

  10. akhirnyaaa sudaah lmaa tak berkunjuung k blog iniii…
    kangeern juga!!! sebenernyaa udaah lma ada email masuk blog inii publish ff tapii baruu sempet bacaa sekarang.
    Huaaaa semakin mendekati meninggalnya taeyoon. kasian bang umiin.
    pasangaan yg romantiis bgt.

  11. Author aku tau nulis ff ga semudah membacanya aku selalu setia nunggu ff kamu semangat….. Banyak readers yg menanti karya kamu terutama aku karna ff kamu bikin aku yg membacanya bahagia sory aku ga pnya twit or fb jadi cma bisa kasih semangat lewat gmail.

  12. wah so sweet banget sungmin sebelum menikah udah memiliki rumah seperti yang di idamkan Taeyeon. chukkae sungmin dan Taeyeon

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s