Shady Girl Heechul’s Story (Part 12)

Judul : Shady Girl Heechul’s Story Part 12
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life
Length : Chapter 12 of 13
Find me on : @julianingati23

Main Cast :

  • Sung Youngjae
  • Kim Heechul

Support Cast :

  • Henry Lau
  • Hong Inhee
  • Hwang Jinmi
  • Kim Kibum

WARNING !!
Typo bergentayangan di mana-mana.

Ini adalah part sebelum ending loh. Semoga mengena di hati deh. Author membuatnya dengan sepenuh hati untuk kalian semua penikmat FF Shady Girl series ^_^ terutama para pecinta Heechul Oppa.

Happy reading..

Shady Girl Heechul's Story by Dha Khanzaki

=====Part 12=====

Sehari sebelum lomba dimulai, Heechul mengajak Young Jae berjalan-jalan untuk menghilangkan ketegangannya. Young Jae memang butuh relaksasi karena seperti yang diduga suaminya, otaknya tidak berhenti memikirkan lomba, lomba dan lomba. Ia terus gelisah sampai kakinya tidak mau diam. Entah sudah berapa kali ia memutari meja makan untuk menghilangkan kegugupannya. Pada akhirnya, Heechul memutuskan untuk mengajak istrinya keluar demi mengurangi tingkat stressnya.

“Indah sekali,” gumam Young Jae. Sejauh mata memandang, sepanjang jalan yang dilaluinya ditumbuhi pohon sakura yang berbunga indah, memperlihatkan hamparan merah muda yang memanjakan mata. Gradasi antara kelopak bunga, ranting pohon, dan hijaunya rerumputan membuat taman itu membuat pemandangan tidak pantas lagi dipadankan dengan kata indah, tetapi lebih tepat digambarkan dengan kata menakjubkan dan spektakuler. Heechul merasa pilihannya tepat membawa Young Jae kemari. Istrinya tampak terpukau.

“Aku sekarang paham mengapa orang-orang Jepang memiliki tradisi Hanami,” gumam Young Jae dengan tatapan penuh kekaguman. Heechul menoleh, “Bunga sakura memiliki keindahan yang membuat seseorang bahagia meski hanya menatapnya.”

Senyum di wajah Heechul tidak bisa disembunyikan lagi. Inilah ekspresi yang ia harapkan muncul di wajah istrinya. Ia lega sekali bisa melihatnya.

“Kau tahu Young Jae, sebuah karya yang indah diciptakan untuk membuat orang yang menikmatinya bahagia. Karena itulah, kenapa para maestro seni bisa menciptakan mahakarya yang begitu melegenda. Mereka bukan menghasilkan karya yang penuh obsesi, melainkan karya yang membuat orang lain merasakan kebahagiaan.” Ujar Heechul, pandangannya menerawang gembira. Young Jae mengulum senyumnya takjub.

“Darimana kau dapat kata-kata bagus seperti itu? Kau mengarangnya?”
Heechul menoleh dengan tampang ditekuk sebal. Ia sedang mencoba memberi Young Jae petuah tapi gadis ini malah mengira ia sedang mengatakan sebuah lelucon.

“Ah, gadis lugu dan bodoh sepertimu mana paham. Aku lupa,” Heechul melengos malas, ia berjalan lebih dulu meninggalkan Young Jae yang kehilangan kata-katanya.

“Bisakah kau berhenti memanggilku gadis lugu dan bodoh? Bagaimana jika anak kita mendengar nantinya???” seru Young Jae seraya mengejarnya. Ia segera mengapit tangan suaminya begitu berdiri di sampingnya. Mereka melanjutkan acara jalan-jalan hingga sore menjelang.

—o0o—

Hong In Hee berjalan anggun dengan penuh percaya diri memasuki ruang untuk peserta lomba itu. Gadis manis berkaki jenjang itu sedang membenarkan tas tangannya saat ia mendengar suara tidak asing yang begitu berisik tak jauh darinya.

“Aku tidak akan memintamu berhasil,” Heechul berkata dengan nada tenang saat Young Jae berpamitan dengannya di depan pintu ruang peserta.

“Jahat sekali. Ini lomba yang sangat penting untuk istrimu kau bahkan tidak memberikan semangat untuknya?” rutuk Young Jae kesal.

Hembusan nafas jengkelnya justru menjadi pemicu tawa renyah dari bibir Heechul.

“Jinjja, Sung Young Jae. Aku percaya sekali kau bisa berhasil. Sudah sana masuk dan buat aku bangga.” Titah Heechul pura-pura kesal. tetapi ketika Young Jae membalikkan badan dengan tampang dongkol, ia menarik tangan istrinya dan ketika Young Jae tersadar ia sudah berada di pelukan Heechul.

Young Jae mengerjap bersamaan dengan debaran jantungnya yang terpompa cepat. Belum sempat ia membuka mulut terdengar Heechul berbisik, “Jangan terlalu memaksakan diri. Kau harus ingat malaikat kecil kita sedang tumbuh di dalam sini.” Heechul mengelus lembut perut istrinya yang tertutup baju.

Sekujur tubuh Young Jae merona malu, “Oppa, ini tempat umum. Kau harus menjaga sikap,” cicit Young Jae namun ia tidak mencoba menyingkirkan tangan Heechul dari perutnya.

“Arro, kalau begitu pergilah.”

Young Jae sedikit berjinjit untuk mengecup pipinya lalu berjalan masuk ke dalam ruangan. Heechul melambaikan tangannya menyambut.

Hong In Hee melebarkan matanya terkejut ketika telinganya sendiri menangkap berita mengejutkan bahwa istri Kim Heechul sedang mengandung? Oh tidak, pria itu bahkan berhasil menghamili wanita itu? Geraman dalam dirinya semakin menggemuruh mirip petir di tengah badai. Ia memalingkan pandangan ke arah Young Jae yang berjalan santai memasuki ruangan. Ia harus melakukan sesuatu.

—-o0o—-

“Selamat pada kalian yang berhasil lolos sampai tahap final.” Ucap Michelle Lee dengan senyuman hangatnya. Ia menatap satu persatu peserta lomba yang berjumlah lima orang itu dengan penuh kebanggaan.

“Kalian yang berada di sini adalah orang-orang hebat. Kalian sudah menyingkikan ratusan desainer lain untuk bisa masuk ke babak final, tetapi hanya ada satu orang yang akan benar-benar mendapatkan kejayaannya. Yaitu sang pemenang. Karena itu hari ini, kalian kami tuntut untuk mengeluarkan seluruh kemampuan dalam merancang busana dan dapatkan satu tiket langsung pergi mempelajari seni merancang busana di Italia..”

Tepuk tangan menggema di ruangan itu. Young Jae berdiri di tempat yang jauh dari In Hee. Ia tidak mau mengambil resiko bersinggungan dengan gadis itu. Aura yang dibawa In Hee terasa mencekam baginya, mirip makhluk Dementor yang siap menyerap semua kebahagiaan dalam diri. Michelle Lee kembali menjelaskan peraturan lomba beserta juri-juri yang akan menilai—masih sama seperti sebelumnya.

“Nah, untuk kali ini kami akan memperkenalkan satu juri special.” Wanita itu menoleh ke arah pintu diiringi semua orang. “Dia adalah Hwang Jin Mi..”

Young Jae jelas terkejut ketika mendengar nama yang tidak asing itu keluar dari mulut Michelle dan ia lebih tidak percaya lagi ketika melihat sosok gadis cantik yang pernah memintanya merancangkan gaun untuk pesta keluar dari pintu tersebut.

Keterkejutan tidak hanya dirasakan Young Jae, peserta lain pun seketika berseru takjub. “Huwaa.. mereka bahkan mendatangkan Hwang Jin Mi untuk penilaian kali ini,” seru salah seorang peserta yang berdiri di sampingnya.

Young Jae mengerjapkan mata lantas menoleh. “Memangnya kenapa?” ia bertanya karena ia tidak tahu apa yang membuat orang begitu kagum pada sosok Jin Mi. Sejauh yang ia ketahui, Jin Mi hanyalah pewaris tunggal dari Hwang Group, yang membawahi banyak perusahaan besar di berbagai sektor.

Kedua orang yang ditanya menoleh dengan ekspresi histeris seolah Young Jae baru saja mengatakan tentang alien, “Kau tidak tahu? Dia adalah harta karun nasional berharga dalam bidang seni. Ketajamannya dalam menilai suatu karya seni diakui oleh seluruh seniman dari yang professional hingga amatir. Isi dari Hwang Art Museum separuhnya adalah hasil dari temuannya. Dia mencari karya seni dari berbagai daerah hingga pelosok untuk menemukan satu mahakarya yang akan ia pajangkan di museum keluarganya. Dia bahkan rela membayar mahal untuk itu.” jelasnya panjang lebar dengan nada menggebu. Young Jae mendengarnya dengan mulut menganga.

Tak perlu belajar sejarah dulu untuk tahu Hwang Art Museum adalah galeri seni terlengkap di seluruh Korea. Young Jae pernah mengunjunginya sekali, ke bagian Sejarah Fashion Dari Masa ke Masa saat masih di college. Harus diakui di sana adalah tempat yang paling tepat untuk mencari inspirasi dan yang terhebat.

“Ah, aku penasaran karya seperti apa yang akan dipilihnya. Siapa tahu karyaku yang akan dipujinya,” ucapnya yakin.

Young Jae tidak mendengarkan lagi apa yang dikatakan peserta di sebelahnya itu karena ia sibuk terpukau oleh sosok Jin Mi. Gadis itu pernah meminta dirinya merancangkan gaun. Apa itu artinya, Jin Mi menghargai hasil karya-karyanya? Tetapi Young Jae cepat menepis pikiran sesat itu dengan menggelengkan kepalanya.

“Tidak Young Jae, kau tidak boleh berbangga diri. Aku harus ingat kata-kata Heechul Oppa. Seseorang tidak akan berhasil sukses jika sudah besar kepala hanya karena satu pujian.” Ia mengangguk keras untuk meyakinkan diri setelah itu kembali memusatkan perhatian pada Michelle Lee.

“Setiap juri akan memberikan angka 10 untuk nilai terbaik dan 1 untuk nilai terburuk. Akumulasi dari nilai masing-masing juri akan menjadi nilai karya kalian secara keseluruhan. Pemenang akan ditentukan berdasarkan point tertinggi yang diperoleh.” Jelas Michelle Lee. Semua orang mengangguk paham. Kini giliran Hwang Jin Mi yang dipersilakan untuk berbicara.

Gadis itu maju satu langkah ke depan dengan begitu anggun. Lihat, bahkan cara berjalannya saja sudah berbeda. Young Jae tertegun melihatnya.

“Ingatlah teman-teman, di sini kita tidak mencari seseorang yang hanya memikirkan kemenangan. Tapi seseorang yang memang memiliki niat untuk menghasilkan karya yang bisa berguna untuk orang banyak. Karena itu, berkompetisilah secara jujur.” Ujar Jin Mi dengan nada yang berwibawa, anggun, dan lemah lembut.

Gaya bicara yang sama seperti para putri yang melakukan pidato kenegaraan. “Mimpi adalah inspirasimu yang paling nyata. Yang perlu kalian lakukan hanyalah memvisualisasikan mimpi kalian pada sesuatu yang akan kalian buat, maka percayalah, itu akan menjadi sebuah mahakarya hebat yang tak pernah kalian sangka sebelumnya.” Hwang Jin Mi tersenyum anggun di akhir pidatonya yang langsung disambut tepuk tangan meriah oleh orang-orang dalam ruangan itu.

Juri mulai menyebutkan tema untuk desain kali ini. Semua peserta tak terkecuali Young Jae kembali dibuat kebingungan oleh tema desain.
“Cherry Blossom?” tanyanya bingung. “Bunga sakura?” lirihnya mengartikan kemudian. Ia masih diam di tempatnya membayangkan rupa bunga sakura. Seperti lampu yang mendadak menyala dalam otaknya, memorinya terlempar kembali pada pemandangan taman penuh pohon sakura yang ia kunjungi bersama Heechul. Kata-kata suaminya pun seperti nyanyian yang mengalun di telinganya, menggema dengan jelas.

..Sebuah karya yang indah diciptakan untuk membuat orang yang menikmatinya bahagia.

“Oh chagi, I love you,” desah Young Jae lega. Berkat kata-kata mutiara suaminya kini sebuah ide sudah tergambar otomatis di dalam otaknya. Ia harus memvisualisasikan apa yang ada di dalam pikirannya dalam wujud nyata. Itu pasti akan menjadi karya terbaiknya.

Juri berkeliling untuk melihat-lihat kegiatan para peserta, sudah sejauh mana mereka membuat baju sesuai dengan tema. Beberapa juri sempat mengajukan pertanyaan dan mendengarkan jawabannya dengan teliti. Mungkin itu akan menjadi nilai tambah.

“Sung Young Jae, sudah kuduga kau akan masuk final.”

Young Jae dikejutkan oleh suara Jin Mi. Ketika kepalanya terangkat ke depan, gadis itu berada tepat di depannya. Kepalanya menunduk memberi salam yang dibalas dengan senyuman hangat.

“Anda tahu aku mengikuti lomba ini?” tanya Young Jae sopan.

“Tentu saja, aku memperhatikanmu sejak kau mendaftarkan dirimu untuk lomba ini.” cara Jin Mi menatapnya membuat Young Jae tersipu malu. “Karena juri lain memberi pertanyaan maka aku juga akan mengajukan satu pertanyaan untukmu,” Jin Mi berkata dengan penuh wibawa. Young Jae menghentikan kegiatannya memotong pola dan beralih menatap Jin Mi. Suasana di antara mereka mendadak menjadi lebih serius. Young Jae memegang erat gunting di tangannya sebagai pengalihan rasa gugupnya.

“Apa filosofi dari setiap baju yang kau rancang?”

Pertanyaan Jin Mi begitu sederhana dan singkat namun hal itu membutuhkan jawaban yang lebih dari sekedar memeras otak, membuatnya tersentak. Young Jae tidak pernah menerapkan satu filosofi apapun dalam setiap karya yang dihasilkannya. Bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan itu? Ia terdiam selama beberapa saat. Oh tunggu, ia memiliki satu. Ia tersenyum saat tahu bahwa selama ini ia sudah menerapkan satu prinsip pada setiap rancangannya.

“Setiap karya yang kubuat adalah karya yang diciptakan untuk membahagiakan orang lain. Cukup dengan kebahagiaan mereka ketika melihat ataupun menggunakan hasil rancanganku, maka di sanalah letak keberhasilan terbesarku,” Young Jae begitu mantap saat mengatakannya. Jin Mi sepertinya puas dengan jawaban Young Jae karena gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya antusias.

“Karya yang membuat seseorang bahagia, itu terpuji sekali. Kebanyakan seorang seniman membuat karya untuk mendapatkan pujian. Kau memang berbeda. baiklah, silakan lanjutkan.”

Young Jae tersenyum lega lalu menundukkan kepalanya saat Jin Mi pamit dan pergi melihat-lihat kinerja peserta lain. Ia harus berterima kasih pada suaminya yang sudah memberikan kata-kata mutiara seindah itu. Jika tidak, entah jawaban apa yang dikatakannya pada Jin Mi?

In Hee keheranan melihat Young Jae begitu akrab dengan Hwang Jin Mi. Bagaimana mereka bisa saling mengenal? Pikirnya penasaran. Hal itu membuat kadar kebenciannya pada Young Jae semakin bertambah. Ia harus melakukan sesuatu karena sepertinya Young Jae mulai menarik minat para Juri.

Waktu lomba tersisa satu jam lagi. Rancangan beberapa peserta sudah memasuki tahap finishing saja. Young Jae harus tersenyum lega karena rancangannya sudah selesai. Ia tinggal menambahkan aksesori untuk di bagian leher saja. Ia pergi ke ruangan yang menyediakan berbagai macam aksesori.

In Hee mengikuti Young Jae ke dalam ruangan itu. Di ruangan berukuran 2 x 2 meter itu hanya ada mereka berdua saja. Diam-diam ia melirik musuhnya menunggu kesempatan untuk melancarkan niat busuknya. Selagi Young Jae sibuk memilih macam-macam kalung, diam-diam ia mengaitkan syal panjang yang melingkar di leher Young Jae pada paku yang mencuat di bawah meja di belakang gadis itu. Ia lalu pergi setelah melakan apa yang direncanakannya.

“Kalung ni sepertinya bagus,” Young Jae tersenyum gembira, ia tidak sadar bahwa syalnya terkait pada sebuah paku. Tanpa mengecek apapun ia membalikkan badan sambil melangkahkan kaki cepat. Sedetik kemudian insiden pun terjadi, syal itu mencekik lehernya.

“Akh!” Young Jae merasakan tekanan yang begitu kuat di lehernya, membuat dunianya menggelap dan ia merasakan dirinya tumbang di lantai. Hal terakhir yang diingatnya adalah; ia belum menuntaskan rancangan yang dibuatnya.

—-o0o—

Young Jae mendengar suara mesin yang berbunyi teratur. Hidungnya pun mencium bau menyengat seperti yang sering dihirupnya di rumah sakit. Bau obat dan alkohol. Ia tidak pernah suka bau itu. Bias putih yang menyilaukan matanya perlahan-lahan menghilang digantikan oleh pemandangan sebuah ruang rawat.

“Hyung, istrimu sudah siuman!!!”

Kenapa rasanya ia mendengar suara Kibum? Apa ia benar-benar berada di rumah sakit sekarang? Suara yang ia dengar berikutnya adalah suara kaki yang menderap cepat menghampirinya disusul oleh suara lain yang amat ia rindukan, suara Heechul suaminya.

“Chagi, gwaenchana?”

Suara itu diucapkan begitu terburu-buru dan penuh dengan kekhawatiran. Penglihatan Young Jae masih belum jelas namun ia memaksakan kepalanya menoleh ke arah sumber suara. Ia tersenyum mendapati wajah Heechul ada di sampingnya dan tangan hangat pria itu menggenggam tangannya yang ditempeli selang infus.

“Oppa, dimana aku?” lirihnya. Ia terkejut mendapati suara yang keluar dari kerongkongannya serak dan kecil.

“Kau ada di rumah sakit. Kau pingsan di tengah lomba. Aigoo, kenapa kau bisa ceroboh sekali. Bagaimana bisa sepatu high heelmu patah di saat seperti itu?” cecar Heechul antara cemas, memarahinya, atau lega. Ah ya, Young Jae teringat ia mendadak pingsan saat membalikkan badan hendak pergi dari ruang aksesori. Namun penyebabnya sama sekali bukan high heel yang patah, melainkan syalnya yang mengait sampai mencekik lehernya.

Lamunannya buyar saat tubuhnya diselubungi oleh tangan hangat Heechul. Suaminya itu mendekapnya erat. Seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan boneka kesayangannya.

“Kau sungguh bodoh, kau membuatku cemas setengah mati! Kau tahu betapa cemasnya aku saat diberitahu panitia lomba kau pingsan di tengah lomba? Aku segera teringat pada bayi kita.”

“Hah, bayi..” Young Jae tersentak. Ia teringat bahwa ia jatuh dengan keras di lantai. “Apa bayiku..” ia mendadak histeris. Jika sampai terjadi sesuatu itu akan menjadi penyesalannya seumur hidup. Untung saja Heechul tersenyum sambil buru-buru menenangkannya, jawaban yang membuat Young Jae tenang seketika.

“Dia tidak apa-apa. Dokter mengatakan bahwa rahimmu kuat sehingga tidak menimbulkan efek yang membahayakan bayi kita.”

“Syukurlah..” Young Jae mengucap syukur dalam hati. Lain kali ia harus berhati-hati. Kehamilannya masih ada di trimester pertama. Kibum segera memeriksa keadaannya. Setelah memastikan segalanya baik-baik saja ia pamit keluar dari ruangan untuk melaporkan kondisi ini pada ayahnya. Sekarang, yang tersisa di ruangan tinggal Heechul dan Young Jae saja.

Terjadi keheningan yang cukup lama. Heechul tahu apa yang membuat Young Jae menjadi pendiam seperti ini. Segalanya terbaca hanya dengan melihat ekspresi sedihnya saja. Heechul mengangkat telapak tangan Young Jae lalu mengecupnya. Ia mengerjap sadar lalu menoleh dengan sorot mata redup.

“Bagaimana dengan lombanya?!!!” Young Jae bertanya dengan suara tercekat. Heechul merengut sedih. Ia tidak menyalahkan Young Jae atas semua yang terjadi, ia hanya takut Young Jae menyalahkan dirinya sendiri. Heechul tidak langsung menjawab, hanya mengusap kepalanya lembut lalu mengecup keningnya.

Mata Young Jae berkaca-kaca dengan sendirinya. Dari cara Heechul merespon. Ia tahu jawaban apa yang akan ia dengar. Untuk sesaat ia berharap dengan sangat bahwa lomba itu belum selesai dan ia masih memiliki kesempatan untuk memenangkan lomba. Tetapi ekspresi Heechul membuat segalanya sirna dan yang tersisa hanya rasa takut dan penyesalan.

“Itu..” Heechul terdiam sejenak, ia tampak ragu untuk menjelaskan segalanya pada Young Jae, “Lomba itu sudah selesai satu jam yang lalu.”

Meskipun sudah tahu jawaban itu akan keluar dari mulut Heechul, Young Jae tetap melebarkan mata kaget. Ia mencelos, “Sudah kuduga.” Lirihnya dalam. Young Jae benar-benar merasakan pahitnya kekalahan. Aku kalah, aku kalah, aku kalah. Itulah frasa yang terus berputar-putar dalam otaknya dan berhasil membuat tenggorokanya tercekat. Matanya pun merespon dengan baik karena detik berikutnya bulir-bulir airmata mengalir deras. Ia menangis penuh penyesalan.

“Aku tidak percaya ini, semuanya salahku..aku ceroboh dan bodoh..”

“Young Jae..” Heechul segera bangkit untuk memeluk istrinya. Ia merasa ikut sedih dan menyesal. Tetapi siapa yang menyangka musibah ini akan terjadi? Young Jae memang kalah tetapi berita baiknya Young Jae dan calon anaknya baik-baik saja. Ia tahu seberapa besarnya harapan Young Jae memenangkan lomba desain ini. Menjadi seorang desainer professional yang mendunia adalah impiannya sejak lama. Heechul tahu betapa sakitnya jika mimpi yang sudah ada di depan mata harus kandas karena kecerobohan kecil. Ia bisa merasakan rasa tercekat itu. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain ini, memeluk dan memberinya semangat.

“Dengar Young Jae, kau tetap bisa menjadi seorang desainer tanpa atau dengan medali kemenangan itu,” hibur Heechul begitu tangisan Young Jae mereda. Ia tidak mau istrinya terlibat dalam kesedihan yang mendalam sampai berimbas pada anak yang dikandungnya. “Kau tenang saja, aku akan membantumu,” Heechul serius saat mengatakan itu. Ia akan membantu sebisanya membuat Young Jae menjadi desainer terkenal.

Melihat senyum tulus yang ditujukan Heechul padanya, perlahan-lahan Young Jae tersenyum. Ia mengangguk. Heechul menghapus airmata di pipinya lalu mengecup keningnya.

“Siapa yang memenangkan lomba ini?”

Heechul tidak menjawabnya langsung kali ini. Ia terlihat dua kali lebih ragu dari sebelumnya. Young Jae tidak paham kenapa suaminya seperti enggan memberitahunya siapa pemenang lomba itu. Apa jangan-jangan yang memenangkannya..

“Hong In Hee..”

Ia terkejut mendengar nama itu disebut. Kepala Young Jae berputar ke arah pintu dimana sosok Hwang Jin Mi masuk dengan senyum anggunnya.
“Jin Mi-ssi,” lirih Young Jae, ia lebih terkejut dengan kehadiran Jin Mi di ruangannya. Gadis itu menatapnya hangat.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Baik. Apa benar In Hee-ssi yang memenangkannya?” Young Jae bertanya dengan suara pelan. Ia menoleh pada Heechul yang terlihat sama terpukulnya lalu beralih kembali pada Jin Mi.

Jin Mi mengangguk, “Iya. Dia berhasil membuat seluruh Juri terpukau. Aku akui karyanya hebat namun menurutku hasil rancanganya adalah refleksi dari obsesi dan keangkuhannya saja. Siapa yang mau memakai baju yang hanya membuat seseorang terlihat angkuh dan sombong?” gadis itu terdiam sejenak. Bagaimanapun tatapannya sekarang membuat Young Jae salah tingkah. “Seandainya kau bertahan hingga akhir, aku yakin karyamu yang akan keluar sebagai juara.”

Young Jae sangat tersanjung dengan pujian Jin Mi. Ia sangat menghormati orang-orang yang menerima karyanya dengan baik, terlepas dari rumor bahwa Jin Mi adalah seorang pengamat seni terkenal di Korea. Pipinya merona kemerahan. Cukup satu pujian dari juri khusus Young Jae sudah merasa puas. Sekarang ia tidak akan merasa sakit hati lagi karena gugur dalam lomba itu.

“Sebenarnya, kecelakaan itu tidak sepenuhnya salah Young Jae.”

Suara itu membuat semua orang menoleh secara bersamaan pada Henry Lau yang baru saja masuk. Pria itu melambaikan tangan pada Young Jae, sikap ramah dan akrab yang sudah menjadi ciri khasnya.

“Henry,” Young Jae tersenyum riang saat pria itu sudah berada di dekatnya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Henry sedikit cemas, “Bayimu tidak apa-apa bukan?”

Young Jae mengangguk, “Dia kuat seperti ibunya.”

Henry mengangguk puas di saat Heechul menyela, “Apa maksud ucapanmu tadi?” selidiknya antara heran dan penasaran. Henry menoleh dan seketika itu juga ekspresinya kembali serius.

“Aku tidak bermaksud memprovokasimu atau siapapun di sini, tetapi aku tidak bisa diam saja saat melihat Young Jae jatuh dan pingsan di ruangan itu. Bagaimanapun segalahnya terjadi dengan tidak wajar. Kulihat ujung syal yang dikenakannya robek dan sebagian benang tertinggal di paku yang mencuat di salah satu meja.” Jelas Henry panjang lebar.

Young Jae mengerutkan kening begitu pun Jin Mi sementara Heechul langsung menangkap inti dari penjelasan Henry. Rahangnya mengeras seketika.

“Maksudmu itu perbuatan iseng seseorang?” geramnya. Sebenarnya ia tidak mau menuduh tetapi ia bisa menebak siapa pelakunya. Henry mengangguk. “Aku memeriksa CCTV di ruangan tersebut dan aku menemukan ini.”

Henry memperlihatkan rekaman CCTV saat kejadian berlangsung. Heechul melebarkan mata sementara Young Jae membekam mulutnya sendiri. Ia tidak percaya melihat bagaimana In Hee dengan lihai dan hati-hati mengaitkan syal yang dikenakannya. Tindakannya terlalu halus dan mungkin sebagian orang tidak akan ada yang menyadari In Hee sedang melakukan tindakan kriminal, tetapi Young Jae maupun Heechul sadar In Hee sedang mencoba mencelakai Young Jae.

“Astaga,” lirih Young Jae tidak percaya.

Heechul menggeram, ia meremas tangannya begitu kencang. Ia marah bukan karena In Hee membuat Young Jae kalah lomba, tetapi ia marah karena In Hee melakukan tindakan kotor itu disebabkan oleh dirinya. In Hee pasti ingin memberi Heechul pelajaran dengan mencelakai Young Jae. Betapa liciknya.

Jin Mi hanya mendesis melihatnya. “Aku tahu dia seperti ini,” gumamnya pelan. Cara In Hee tersenyum saat namanya diumumkan sebagai pemenang tampak sinis dan sombong. Tetapi ia justru merasa kasihan terhadap In Hee. Seseorang yang sudah membuat hidup orang lain tidak bahagia, tidak akan pernah merasakan ketenangan. Karena itu lupakan saja In Hee.

“Ah, aku lupa. Ada yang ingin kuberikan padamu,” gumam Jin Mi. Ia lalu menyerahkan sebuah kotak pada Young Jae. Dengan raut bingung dan penasaran Young Jae membukanya. Ia melebarkan mata ketika sadar isi kotak itu adalah desain rancangannya yang belum selesai dalam lomba. Jin Mi membawakan ini untuknya?

“Itu karya yang indah. Aku sudah meminta juri untuk mempertimbangkannya agar diikut sertakan dalam show namun dengan keempat dari Juri menolak dengan alasan rancangan ini tetaplah rancangan yang belum rampung. Terlebih karena sang desainer tidak bisa hadir dalam penilaian.”

Heechul tertegun melihat rancangan Young Jae yang begitu indah. Siapapun pasti berpikir itu adalah rancangan yang dibuat sepenuh hati. Heechul tiba-tiba merasa murka. Seharusnya dengan karya seperti itu Young Jae bisa menang. In Hee harus dituntut. Ia menatap tajam Henry,

“Kita bisa gunakan video itu untuk mengulang lomba,” marah Heechul penuh emosi. Dengan cepat Henry mendesah.

“Aku sudah mencoba menggunakan video ini untuk mempengaruhi juri, tetapi mereka tidak percaya dan tetap mengukuhkan In Hee sebagai pemenangnya.” Jelas Henry penuh penyesalan. Ia pun sudah mencoba tetapi ia tidak memiliki kewenangan penuh. Tidak ada juri yang mendukungnya. “Seperti yang Jin Mi-ssi katakan, karya itu belum rampung sepenuhnya.”

Deg.

Young Jae tahu Henry tidak bermaksud mengejek karyanya tetapi kata-katanya memang benar. Ia merasa terpukul sekaligus sadar bahwa ia memang telah dikalahkan. Airmata menetes di sudut matanya, entah untuk alasan apa.

“Aku tidak bisa membiarkan wanita itu bahagia setelah berbuat curang,” Heechul bangkit dari kursinya. Ia tidak tega melihat Young Jae seperti ini. In Hee harus diberi pelajaran. Dengan penuh emosi ia bergerak tetapi ketika akan melangkah tangannya dicekal oleh Young Jae.

“Jangan Oppa, kau tidak perlu melakukan apapun.”

Heechul menoleh bingung pada istrinya, “Young Jae, aku ingin membuat perhitungan dengan Hong In Hee! Perlombaan itu berjalan tidak adil. Seharusnya kau menang jika dia tidak menjebakmu.”

Young Jae menggeleng, tanpa menatapnya. “Aniyeo, Oppa. Jangan pergi.” cegahnya dengan suara nyaris merintih. Heechul mengerjap menyadari Young Jae tidak marah, ia justru merasa iba melihat rancangannya sendiri. Ia bergumam seraya menyentuh rancangan di tangannya dengan ujung jari. “Juri itu benar. Meskipun ini hanya tinggal diberi sentuhan akhir, tetap saja baju ini adalah karya yang belum rampung dan apakah pantas karya seperti ini disandingkan dengan karya peserta lain yang telah selesai sempurna?”

Henry berseru takjub sementara Jin Mi menggelengkan kepala kagum, “Seperti dugaanku, kau memang seorang wise-designer. Beritahu aku jika sudah selesai. Aku ingin sekali memakainya.”
Young Jae tersenyum lebar. “Aku akan meneleponmu nanti.” secercah harapan sudah terbit dalam hatinya.

Detik itu juga, amarah dalam hati Heechul lenyap. Melihat Young Jae begitu bijak menerima kekalahannya, ia justru merasa bangga. Heechul memeluk Young Jae erat.
“Aku tahu kau wanita yang sangat baik. Aku bangga padamu.” Young Jae tidak menjawab, hanya memperlihatkan senyum simpul.

Benar sekali, kalah sekali dalam lomba bukanlah akhir dari dunia. Kegagalan bukanlah sebuah bencana, melainkan peringatan dari Tuhan bahwa kesuksesan tinggal satu langkah lagi jadi untuk apa ia bersedih. Ia pasti bisa menjadi desainer professional meskipun tanpa medali apapun. Yang terpenting dalam membuat sebuah karya bukanlah penghargaan ataupun pujian melainkan sebuah dedikasi. Young Jae akan mendedikasikan dirinya membuat karya yang bisa membuat semua orang bahagia. Bukankah itu filosofi dari setiap karyanya?

…To be continued…

[see you at the end part]

202 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 12)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s