Unforgottable Love (Part 3)

FF Special Sungmin’s Birthday

Tittle : Unforgottable Love Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance
Lenght : Chapter 3 of 6
Find me on : @julianingati23

Main Cast :

  • Kim Taeyeon
  • Lee Sungmin

Support Cast:

  • Kim Heechul
  • Kim Kibum
  • Choi Siwon

Masih suka kah ama FF ini? Semoga temen-temen masih senang ya baca FF yang super gaje ini ^_^

Happy Reading..

Unforgottable Love by Dha Khanzaki

=====Part 3=====

Sejak hari itu Sungmin mulai bekerja keras. Ia semangat sekali menjalani profesinya sebagai pengacara dengan tekun. Entah kenapa berkat kunjungannya ke rumah Taeyeon, Sungmin mendapat keinginan kuat memiliki rumah sendiri. Ia harus memiliki satu sehingga kelak ketika ia menikah ia bisa mengajak istrinya menempati rumah yang ia beli dari hasil jerih payahnya sendiri. Kebetulan saja Eunhyuk—salah satu hoobaenya yang sudah sukses menjadi CEO menawari Sungmin untuk menjadi pengacara pribadinya. Tentu saja dengan senang hati ia menerima. Dengan begitu impiannya membeli rumah bisa lebih cepat tercapai.

“Kau ingin membeli rumah?”

Kedua orang tua Sungmin terkejut ketika mendengar pernyataaan putranya saat makan malam. Sungmin mengangguk mantap. Ayah ibunya kembali berpandangan. Keputusan Sungmin terlalu mendadak sehingga membuat Ayahnya mengerut curiga.

“Kenapa? kau seperti orang yang akan menikah saja.”

Sungmin kembali menatap kedua orang tuanya. Ia yakin sekarang saatnya mengutarakan keinginannya memperistri Taeyeon.

“Aku ingin mengajak Taeyeon menikah.” Ya, keputusan Sungmin sudah bulat. Ia akan melamar Taeyeon saat ulang tahunnya nanti karena itu ia ingin meminta izin orang tuanya terlebih dahulu.

Ayah dan ibu Sungmin seketika terdiam. Sungmin berani menatap mata kedua orang tuanya sebagai bukti bahwa ucapannya tidak main-main. Tiba-tiba wajah sang Ayah mengeras.

“Kenapa kau tiba-tiba ingin menikah?! Kau sudah menghamili seorang gadis??!!” tuduhnya membuat Sungmin membelalak kaget.

“Anniyeo, Appa!” Sungmin menyanggah cepat.

“Lagipula, siapa itu Taeyeon?” kini ibunya yang berbicara.

“Dia kekasihku, gadis yang kucintai.”

“Appa tidak pernah mendengar tentangnya!” sela Appa, “Lagipula bagaimana bisa kau begitu percaya diri mengajaknya menikah? Kau tidak tahu apapun tentangnya, bahkan keluarganya..”

“Aku yakin Appa pasti mengenal keluarganya.” Sungmin tahu tidak sopan menyela ketika Ayahnya berbicara tetapi Sungmin terpaksa melakukannya untuk meyakinkan Ayahnya.

“Kau..” Ayahnya menggeram, tersinggung karena Sungmin berani membantah.

“Sudahlah Appa, kita dengar dulu alasan Sungmin.” Sela Eomma lalu menatap putranya, “Katakanlah.”

Sungmin tersenyum, bersyukur karena memiliki ibu sebijak ibunya, setelah itu ia beralih menatap Ayahnya, “Appa pasti mengenal Kim Hyun Seok bukan? Dia adalah Ayah Taeyeon.”

Tentu saja, siapa yang tidak kenal nama dokter pemilik Seoul General Hospital? Ayah Sungmin seketika melebarkan mata, terkejut. “Kim Hyun Seok?” ulangnya seolah tidak yakin. Demi meyakinkan ayahnya Sungmin mengangguk, detik berikutnya ketegangan di meja makan itu menguap berganti dengan desahan lega yang keluar dari mulut Ayahnya.

“Syukurlah nak, Appa kira kau akan menikahi wanita yang tidak jelas asal usulnya,” pria tua itu lalu tersenyum. “Mungkin terlalu muda bagimu untuk menikah, tetapi jika kau sudah memutuskan, Appa percaya kau bisa bertanggung jawab.”

Sungmin terpana, bersamaan dengan terbitnya senyum lebar di bibirnya. Ia tak percaya Ayahnya akan mengizinkan semudah itu ketika ia menyebutkan siapa Taeyeon. Seharusnya ia memakai cara ini sejak awal.

“Jeongmal? Kamsahamnida, Appa.” Sungmin menundukkan kepalanya berkali-kali. Eomma menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. Tak percaya ternyata putra yang dulu ditimang dan dipeluknya kini sudah menjadi pria dewasa yang akan menikahi seorang gadis.

“Hiduplah bahagia.” Ujar Appa senang, “Jadi, kapan kau akan membawa Taeyeon ke rumah ini?”

“Eh?” senyum di wajah Sungmin lenyap seketika berganti dengan raut tercengang. “Membawa Taeyeon kemari?”

“Ya. Appa ingin bertemu dengan calon menantu, tentu saja.”

Sungmin menggumam tidak jelas dalam hati. Alasan apa yang harus dia pakai untuk mengajak Taeyeon ke rumahnya? Sepertinya ia harus melamar Taeyeon lebih awal.

—o0o—

Sungmin sudah berkeliling Seoul, bertemu dengan berbagai agen perumahan namun tidak kunjung menemukan rumah yang cocok. Ia hampir putus asa di tengah pencariannya. Beruntung ada Siwon yang menemaninya hari ini. Siwon adalah seorang mahasiswa jurusan arsitektur. Jelas berkonsultasi dengannya adalah cara yang paling tepat.

Akhirnya, setelah menghabiskan waktu seharian penuh, Sungmin menemukan rumah idealnya. Harganya pun sesuai dengan budget yang ia miliki sehingga Sungmin tidak berpikir dua kali untuk membelinya. Ia tersenyum puas sambil menatap rumah itu. Namun lain halnya dengan Siwon, pria itu meringis ngeri melihat bangunan di depannya.

“Hyung, kau yakin? Ini tak ada bedanya dengan rumah hantu.” Keadaan rumah itu memang sudah tampak usang meskipun terlihat kokoh dan bergaya minimalis. Bahkan halaman depan rumah pun sudah ditumbuhi rumput liar setinggi 60 cm.

Sungmin tersenyum lebar, ia menoleh pada Siwon dengan ekspresi berbinar, “Bukankah ada kau yang akan mendesain ulang rumah ini?”

“Mwo?”

—o0o—

Siwon benar-benar melakukannya untuk Sungmin. Setelah dibeli, rumah itu kini menjalani tahap renovasi sesuai dengan keinginan Sungmin. Siwon sempat mengajukan beberapa jenis disain dan Sungmin harus mengakui bahwa semua desain itu sesuai impiannya dan membuatnya bingung memilih yang mana. Sementara rumah itu direnovasi, Sungmin tetap pada rencana awalnya melamar Taeyeon.

Sungmin tersenyum melihat kalender, hari ini, tepat tanggal 31 Desember. Itu artinya esok adalah hari ulang tahunnya. Ia sudah merencanakan segalanya untuk mendukung kesuksesannya melamar Taeyeon. Ia sudah menyewa sebuah restoran dan mengajak Taeyeon makan malam bersamanya.

Malamnya, Sungmin sudah bersiap di restoran dengan jas dan rambut yang telah tertata rapi. Jantungnya berdebar kencang dan ia tidak sabar menunggu datangnya Taeyeon. Ia membenarkan posisi duduknya dan ketika itulah pelayan memberi isyarat padanya bahwa Taeyeon sudah datang.

Benar, detik berikutnya Taeyeon muncul dengan gaun berwarna putih. Sungmin terpaku melihat Taeyeon begitu cantik. Rambutnya disanggul tinggi dan menyisakan beberapa helai jatuh di sisi wajahnya. Astaga, ia tidak pernah menyangka Taeyeon benar-benar mempersiapkan dirinya untuk acara ini. Bahkan gaun putih itu tidak bisa menyembunyikan kilau cantik yang terpancar dari sorot mata dan senyumnya. Taeyeon, sungguh menyerupai dewi di matanya. Taeyeon menoleh menatapnya dan Sungmin harus menahan nafasnya sendiri.

Sungmin sontak berdiri ketika Taeyeon dengan anggun berjalan ke depannya. “Selamat malam,” sapa Taeyeon.

“Selamat malam,” balas Sungmin seraya menggeser kursi agar Taeyeon bisa duduk. Ia segera kembali ke kursinya dan mencoba segala cara agar tidak tampak gugup.

“Aku merasa Oppa sengaja mempersiapkan semua ini, restoran yang sepi dan musik yang romantis,” ucap Taeyeon kagum seraya mengedarkan pandangan. “Apa ini hari yang istimewa?”

Ini hari ulang tahunku, batin Sungmin. Setidaknya ketika jam menunjukkan pukul 12 malam nanti. Taeyeon wajar saja tidak tahu karena Sungmin tidak pernah mengatakannya. Dan ia tidak marah akan hal itu,

“Kenapa? Apa kau ada acara lain untuk melewatkan tahun baru?” Sungmin mengajukan pertanyaan sambil tersenyum. Taeyeon tertawa renyah.

“Aniyeo, aku justru merasa terhormat bisa menghabiskan waktu bersamamu.”

Aigoo, kenapa Taeyeon pintar sekali membuat jantungku hampir copot? Batin Sungmin. Gadis itu terlalu jujur.

Sungmin ikut tersenyum lalu tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi lebih romantis, “Sebenarnya, tepat jam 12 nanti aku berulang tahun.”

“Astaga,” seru Taeyeon refleks, terkejut. “Aku tidak tahu sama sekali tentang hal itu. Mianhae. Jika tahu sebelumnya aku akan membawa kado.”

“Tidak perlu.” Sela Sungmin sambil memegang tangan Taeyeon, mencoba menenangkan kekasihnya yang mulai panik. “Karena itu aku ingin melewatkan detik-detik saat pergantian tahun ini bersamamu. Terima kasih sudah meluangkan waktu.”

Taeyeon merasa pipinya memanas, terlebih karena Sungmin menatapnya dengan begitu intens. Ia tidak pernah disanjung seperti ini oleh pria. Mungkin ini pengalaman pertamanya selama 21 tahun ia hidup.

“Kalau begitu, kita mulai saja makan malamnya. Kau sudah lapar bukan?”

Mereka menikmati makan malam dengan senyum bahagia sambil sesekali bersenda gurau hingga tanpa terasa mereka telah selesai makan dan waktu menunjukkan pukul 11.45. tinggal 15 menit lagi pergantian tahun tiba. Sungmin melirik jam di tangannya dengan gelisah.

“Apa yang kita lakukan? Sepertinya terlalu lama jika dihabiskan hanya duduk sambil mengobrol.” Ucap Taeyeon. Sungmin tahu Taeyeon mulai bosan. Sebenarnya ia sudah menyiapkan kejutan namun ragu untuk memperlihatkannya pada Taeyeon.

“Sebenarnya, aku ingin menyanyikan lagu untukmu.”aku Sungmin gugup. Taeyeon mengerjapkan mata, terkejut karena ia tidak tahu Sungmin bisa menyanyi juga.

“Jinjjayo?” matanya berbinar senang. Sungguh, tidak pernah ada pria yang menyanyikan lagu untuknya dan ini adalah yang pertama kali. Sungmin benar-benar memberikan pengalaman baru untuknya. Ia senang sekali.

Sungmin berdehem, “Iya. Mungkin suaraku tidak sebagus milikmu tetapi, aku menjamin telingamu tidak akan sakit setelah mendengarku menyanyi.”

Taeyeon tergelak mendengar candaan Sungmin, “Baiklah, aku tidak sabar mendengarnya.”

Sungmin menggeser kursinya lalu berdiri. Ia berjalan tenang menuju sebuah piano yang ada di sudut ruangan lalu duduk di depannya, namun sebelum ia mulai memainkan, pandangannya tertuju pada Taeyeon yang tidak sabar ingin mendengar permainannya.

“Selama aku hidup, aku tidak pernah berpikir untuk melakukan sesuatu yang romantis terhadap seorang wanita, tetapi hari ini aku menyanyikan lagu ini untuk seorang wanita yang istimewa, untuk pertama kalinya. Kuharap, wanita itu bisa mendengar isi hatiku melalui lagu ini.”

Taeyeon terperangah, ia merasa tersanjung, gembira, sekaligus terharu di saat yang bersamaan. Ia tidak tahu apa yang membuat matanya menjadi berkaca-kaca seperti ini namun ucapan Sungmin sungguh menyentuh hatinya. Ia mendapati dirinya berdebar. Ia semakin tidak sabar mendengar lagu apa yang akan dinyanyikan Sungmin.

Alunan piano pun terdengar, lihat, Sungmin bahkan mahir memainkan piano setelah tempo hari Taeyeon dikejutkan oleh kemampuan bermain gitarnya yang lihai. Apa dia memang semulti-talenta itu? Suara lembut Sungmin pun terdengar.

Iyureul mollasseo wae naega byeonhaenneunji
(I don’t know the reason why I changed)
Hancham saenggakhaesseo na mannan ihuro
(I’ve been thinking for a long time, with many difficulties ahead)
Na byeonhan geot gata aju manhi mariya
(I seem to be changing quite a lot, please end this)
Inorae deullini oh
(Can you hear this song?)

Niga neomu gomapjanha oh baby
(Thank you oh baby)
Niga neomu yeppeujanha oh
(You’re so pretty oh)
Nuneul ttel suga eobseo nae nunen neoman boyeo
(There’s not a thing that can stop me from looking at you)
Neoman gyesok baro bogo sipjanha nan oh jeongmal oh baby
(Only you I continuously see)

_Baby Baby by 4Men_

Setitik airmata jatuh di sudut mata Taeyeon. Ia bahkan tidak menyadarinya. Ia hanya sibuk memperhatikan pria yang menyanyi dengan sepenuh hati untuknya. Tidak ada kata-kata yang bisa diurai, hanya seulas senyum bahagia yang bisa ia berikan.

Sungmin bangkit dari tempat duduknya dengan mulut tetap menyenandungkan nyanyiannya. Musik telah diganti oleh kuartet gesek yang entah sejak kapan berdiri di atas panggung kecil.

Taeyeon menutup mulutnya saat Sungmin berlutut di depannya. Paru-parunya mulai kesulitan memompa udara.

“Kim Taeyeon,” Sungmin berkata dengan mata berbinar menatapnya, tangan pria itu meraih tangannya. Tidak hanya jantung Taeyeon yang berdetak lebih cepat, bahkan darahnya pun mengalir dengan cepat.

Ketika mata mereka bertemu, Taeyeon mengerjap karena ia bisa melihat ketulusan yang nyata dari mata Sungmin. Ia bertekad, apapun yang dikatakan pria itu ia akan mengangguk dan mengiyakan.

Will you marry me?

Sungguh, detik itu juga Taeyeon ingin sekali berhambur ke pelukan Sungmin dan berkata iya dengan kencang. Namun pada kenyataannya tidak ada sesentipun organ di tubuhnya yang tidak terpesona. Ia tidak pernah sebahagia ini. Seumur hidup ia tidak pernah menyangka momen ketika seorang pria melamarnya datang secepat ini.

Sungmin tersenyum,hatinya berdesir kencang melihat Taeyeon menitikkan airmata. Ia tidak bermaksud membuatnya menangis, tetapi jika Taeyeon bahagia dengan lamarannya ia akan lebih bahagia lagi.

“Aku tahu mungkin ini terlalu awal karena kita baru saja beberapa bulan mengenal, tetapi selama beberapa bulan kebersamaan kita telah membuatku yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu,”

Napas Taeyeon tercekat ketika ia melihat Sungmin melingkarkan cincin di tangannya. Pria ini sungguh melamarnya. Tuhan, kebaikan apa yang dilakukannya di masa lalu sehingga kebahagiaan seindah ini harus ia dapatkan. Sungmin menatapnya kembali dan membuat Taeyeon semakin kehilangan kata-kata.

“Maukah kau menerimanya?”

I do, I do Sungmin Oppa. Aku bersedia menikah denganmu. Kalimat itu terus menari-nari dalam otaknya tetapi entah kenapa lidah tidak bersedia menguraikan dan hanya terendap begitu saja di rongga mulutnya. Kini Taeyeon terlalu sibuk menangis, meresapi momen bahagia ini dengan airmatanya.

Tepat detik itu terdengar suara terompet yang ditiup kencang, konfeti yang berterbangan serta kembang api yang meletup-letup di langit. Keduanya mengerjap sadar bahwa waktu pergantian tahun sudah tiba. Bahkan seluruh kru restoran tempat mereka berada pun sibuk ber-euforia merayakan tahun baru.

Menyadari mereka terlalu larut dalam acara sendiri, Sungmin dan Taeyeon kompak tertawa. Sungmin mengajak Taeyeon keluar dari restoran menuju halaman samping restoran itu. Mereka bersama-sama kru restoran lain berpesta menikmati langit malam yang cantik dihiasi oleh kembang api yang menyemarakan suasana.

Taeyeon menoleh pada Sungmin yang gembira dengan kepala menengadah ke langit. Ia melingkarkan tangannya di lengan pria itu lalu berbisik, “Saengil chukhahamnida.”

Sungmin mengerjapkan mata lalu menoleh. Senyum manis Taeyeon membuatnya ikut tersenyum. Aigoo, hampir saja ia lupa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dengan lembut ia mengecup pipi Taeyeon, “Gomawo.”

Sungmin menemukan pipi Taeyeon merona ketika ia menjauhkan kepalanya, gadis itu dengan malu-malu mengatakan kalimat yang membuat Sungmin lebih bahagia dari siapapun di dunia ini.

“Aku bersedia menikah denganmu.”

Tepat setelah kalimat itu berakhir Sungmin mendesah lega, memeluk lalu mencium Taeyeon.

—o0o—

Kedua keluarga bertemu untuk membicarakan perihal pernikahan malam itu. Mungkin lebih tepatnya acara reuni antara dua kepala keluarga karena mereka lebih banyak bernostalgia tentang masa-masa mereka masih remaja dahulu.

Segala tetek bengek yang berhubungan dengan pernikahan dibahas dalam pertemuan itu. Sungmin dan Taeyeon hanya mengangguk dan menjawab seperlunya karena mereka menyerahkan seluruh keputusan kepada kedua orang tua mereka.

Seluruh keluara Kim hadir malam itu sementara dari pihak Sungmin yang datang adalah orang tuanya dan pamannya saja. Sungmin adalah anak tunggal. Mereka tampak bahagia tetapi ada satu orang yang  terlihat tidak begitu senang.

Heechul tidak banyak bicara, hanya duduk diam di sudut sofa. Entah apa yang membuat moodnya begitu buruk, tetapi Taeyeon tahu ada sesuatu yang tidak disukai kakaknya dengan pertemuan malam ini. Heechul bahkan pergi begitu saja sebelum pertemuan selesai.

“Oppa terlihat tidak senang malam ini, kenapa?” seusai pertemuan Taeyeon menghampiri kakaknya yang duduk di ayunan di halaman rumah mereka. Heechul menoleh sejenak lalu kembali pada perenungannya.

“Kau akan menikah.” Ia menjawab dengan nada ketus. Taeyeon mengerjap. Ia lupa, seharusnya ia memikirkan perasaan Heechul sebelum memutuskan menikah. Heechul pasti merasa tersinggung karena ia menikah lebih dulu dibanding dirinya. Ia menatap kakaknya dengan sorot mata meredup.

“Apa kau membenci Sungmin Oppa atau tidak setuju aku menikah mendahuluimu?”

Kali ini gantian Heechul yang mengerjap kaget, ia menoleh cepat pada adiknya yang menunduk sedih, “Bukan, bukan itu.. aku tidak keberatan sama sekali meskipun kau menikah mendahuluiku dan dengan pria manapun.. tetapi..” Heechul menatapnya sendu. “Jika kau menikah nanti, aku yakin kau perlahan-lahan akan melupakanku.”

“Oppa,” Taeyeon menggeleng cepat dengan mata berkaca-kaca. Heechul salah paham. Ia tidak mungkin melupakan keluarganya jika telah menikah kelak. “Aku tidak mungkin melakukannya. Aku tidak setega itu.” Taeyeon menggenggam erat kedua tangannya. Ia ingin Heechul merasakan kesungguhannya tetapi detik itu Heechul menghempaskan tangannya dengan cepat. Taeyeon terperangah. Padahal hanya tangannya tetapi kenapa seolah Heechul telah menamparnya?

“Aku tidak setuju kau menikah. Kau masih terlalu muda untuk menikah. Tunggu satu atau dua tahun lagi setelah kau menyelesaikan seluruh studimu.” Heechul bergegas pergi meninggalkan Taeyeon yang tercengang di tempatnya.

“Oppa..” taeyeon bangkit untuk mengejarnya.

Heechul berjalan cepat melewati lorong yang akan membawanya ke ruang tengah, namun ketika tiba di ujung lorong Kibum menahan pundaknya.

“Kau tidak boleh egois Hyung,” Kibum berkata dengan tenang, ia mendengar semua yang dibicarakan Heechul dan Taeyeon saat di halaman.

Heechul mendelik tajam, dengan keras menyingkirkan tangan Kibum dari pundaknya. “Kau tidak tahu apapun! Jangan pernah ikut campur urusanku.” Ia berjalan pergi namun seruan Kibum membuatnya terhenti kembali.

“Segala yang berkaitan dengan Nuna adalah urusanku!” serunya. “Sikapmu sekarang bukanlah sikap seorang kakak yang menyayangi adiknya. Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri tanpa pernah ingin memberikan kebahagiaan bagi saudaramu yang lain.”

Heechul terpaku, dengan gerakan perlahan ia berbalik dan memandang adiknya dengan ekspresi meremehkan. “Anak kecil sepertimu tahu apa?! Jangan berpikir karena sekarang kau adalah mahasiswa kedokteran kau berani mengkhotbahiku.”

Kali ini Kibum yang membelalakkan matanya. Ia sudah sering diperlakukan seperti ini, Heechul sudah sering melukainya dengan kata-kata yang lebih tajam daripada samurai, tetapi kenapa Kibum tetap merasakan sakit yang menjengit?

Heechul kembali menyerangnya dengan kata-kata tajam seolah kalimat barusan tidak berhasil memuaskan hatinya, “Dengar ini, di rumah ini kau bukan siapa-siapa. bahkan jika kau menentang pun, tidak akan ada yang mendukungmu—“

Kibum terpaku, pandangan matanya tiba-tiba menjadi kosong.

“Oppa hentikan!!” Taeyeon segera memisahkan mereka sebelum segalanya menjadi lebih parah. Dengan airmata terburai ia menenangkan adiknya,

“Heechul Oppa tidak berkata sebenarnya. Dia hanya sedang emosi. Jangan kau ambil hati kata-katanya.”

“Aku hanya berkata apa adanya. Sejak dulu bukankah kau hanya anak yang tidak diharapkan?” sinis Heechul. Kibum hanya memandangnya tajam. Mulutnya terkatup rapat seolah menahan kalimat-kalimat umpatan yang ingin ia layangkan pada Heechul.

Kondisi itu membuat Taeyeon menjerit frustasi. “Kumohon hentikan!!!!” ia menutup telinganya rapat-rapat. Baik Heechul maupun Kibum tercengang melihat Taeyeon menangis.

Taeyeon menatap keduanya satu persatu, “Baik, jika Oppa tidak menginginkanku menikah aku tidak akan menikah! Tapi kumohon kalian jangan bertengkar..” ia mengiba, memohon dengan sepenuh hati agar Kibum dan Heechul berhenti perang dingin, “Pertengkaran kalian membuatku terluka. Memang apa untungnya saling memaki? Kalian berdua adalah saudara. Pantaskah saudara yang dialiri darah yang sama saling berteriak? Apa kalian pikir pertengkaran membuat kalian merasa lebih bahagia?” Taeyeon menghapus airmatanya lalu pergi dari tempat itu, meninggalkan Heechul dan Kibum yang terpaku. Namun tak berapa lama gadis itu berlari, tiba-tiba saja ia terkapar jatuh sebelum menaiki tangga.

—o0o—

Taeyeon melihat sekilat cahaya putih sebelum ia membuka matanya. Aku berada di rumah sakit lagi. Ia langsung menyimpulkan itu karena menemukan selang infus tertempel di tangannya.

“Jangan bangun, kau harus banyak istirahat.” Taeyeon menoleh saat mendengar suara Sungmin. Senyumnya terbit begitu saja melihat calon suaminya ada di sana, memandangnya dengan wajah cemas.

Taeyeon membiarkan Sungmin membantunya berbaring kembali. Pria itu membenarkan letak selimutnya lalu mengecup keningnya lembut. “Aku akan memberitahu Ayahmu bahwa kau sudah siuman.” Bisik Sungmin.

Taeyeon terkejut menyadari Sungmin akan pergi lantas mencekal tangannya. “Jangan pergi kemana-mana.”

Sungmin menoleh kaget melihat Taeyeon begitu panik, dengan senyum lembut ia menenangkannya, “Baiklah.”

Taeyeon menghembuskan napas lega begitu Sungmin duduk di kursinya kembali. Ia berharap Sungmin menghiburnya, namun yang ia dapat justru ekspresi penuh luka dan hal itu membuatnya bertanya-tanya.

“Oppa, kenapa kau terlihat sedih?” Taeyeon mengusap pipi lembut Sungmin. Pria itu memejamkan matanya lalu mengecup punggung tangannya yang terjulur. Taeyeon mendadak merasa gelisah untuk alasan yang tidak dimengertinya.

“Apa sebaiknya kita menunda pernikahan saja?”

“Apa?” Taeyeon seketika tercengang. Wajahnya yang putih pucat terlihat begitu terkejut. “Kenapa?”

“Aku tahu apa yang terjadi, Heechul Hyung tidak mengizinkanmu menikah bukan?”

Taeyeon bergetar, ia tidak tahu Sungmin mendengar berita ini darimana tetapi ia tidak suka, ia tidak mau pernikahan mereka batal. Ia bangkit dengan susah payah.

“Karena Heechul Oppa melarang lantas kau membatalkan semua rencana pernikahan begitu saja?” ujarnya dengan suara rendah. Sungmin merasa bersalah karena sudah membuat Taeyeon sesedih ini. Ia mengeratkan genggamannya.

“Tidak Taeyeon, sunggguh aku tidak ingin. Tetapi aku tidak ingin pernikahan kita diliputi perasaan tidak setuju dari kakakmu. Kita harus menghormatinya. Lagipula kita memutuskan menikah tanpa bertanya lebih dulu padanya.”

Taeyeon kehabisan kata-kata untuk membalas. Ia menundukkan kepalanya, ia ingin membantah usulan Sungmin tetapi kata-kata pria itu sebagian benar. Heechul tetap kakaknya, ia harus menghormati keinginan Heechul. Ia tidak mau jika kakaknya tidak hadir ketika ia menikah nanti. Karena itu dengan berat hati Taeyeon mengangguk.

“Baiklah. Jika itu keputusanmu. Aku bersedia menundanya.”

Sungmin tersenyum miris lalu bangkit untuk memeluknya. Taeyeon menangis di pelukan Sungmin hari itu. Ia merasa sedih bukan karena Sungmin menunda pernikahannya. Tetapi kenapa ia hingga detik ini belum bisa juga membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Sungmin mengusap-usap rambut panjang Taeyeon dan membisikkan sesuatu dengan lembut.

“Tenanglah, kita akan mencari cara agar kakakmu menyetujui pernikahan kita.”

—o0o—

Dua hari kemudian Sungmin menjemput Taeyeon keluar dari rumah sakit. Pria itu dengan telaten membantu Taeyeon mengepak pakaiannya, sampai membantu gadis itu memakaikan sweter dan syal untuknya.

“Gomawo,” Taeyeon tersenyum penuh terima kasih atas seluruh perhatian Sungmin. Pria itu rela menyisihkan waktu untuknya di sela jadwal padatnya sebagai pengacara baru. Sungmin hanya tersenyum lalu merapikan rambutnya.

“Kita pulang,”

Dari kejauhan, Heechul menyaksikan semua itu dengan perasaan sendu. Dalam hati ia merasa bersalah karena secara tidak langsung dirinyalah penyebab semua ini. Seandainya ia tidak egois mungkin Taeyeon tidak akan jatuh sakit seperti sekarang dan mereka tidak akan memutuskan untuk menunda pernikahan. Taeyeon tidak seharusnya menderita karena keegoisannya. Dia harus bahagia, bagaimana pun caranya.

—o0o—

“Oppa kau berjanji mengantarku bukan? Sekarang acara Sains Fair dan aku akan menerima penghargaan.” Seru Taeyeon di telepon.

“Arraseo, tunggu di sana. Apa yang lain akan datang juga?”

“Kibum tidak bisa datang karena ujian sementara Appa ada jadwal operasi yang tidak bisa ditunda. Eomma harus pergi ke China untuk seminar. Karena itu kau harapanku.”

“Apa kakakmu tidak bisa datang?”

“Tentu saja dia ikut, sekarang kami sedang dalam perjalanan ke tempat acara.”

“Baiklah, baiklah. Aku akan bergegas.”

Taeyeon menutup flap ponselnya lalu menoleh pada Heechul yang sibuk menyetir di sampingnya. “Oppa, apa mobil ini tidak bisa melaju lebih cepat lagi? kita sudah terlambat.”

Heechul mengelap dahinya yang berkeringat, “Aigoo, kita bisa menabrak mobil lain jika melaju terlalu cepat. Jalanan sedang ramai.”

Taeyeon duduk dengan gelisah. Ia berkali-kali melirik jam tangannya. Jalanan memang sedang ramai dan ketika mereka terburu-buru, sesuatu yang sial terjadi. Mereka terjebak macet.

“Orang bodoh mana yang membuat kemacetan di hari seperti ini!!!” dengus Heechul sambil memukul kemudinya.

“Bagaimana ini Oppa, kita sudah terlambat.” Taeyeon bergerak-gerak panik. Ia segera menelepon Sungmin meminta bantuannya. Ia menyebut tempatnya berada sekarang dan Sungmin berkata akan menjemputnya segera.

“Menjemput bagaimana?” ujar Taeyeon sambil mengerutkan kening. Dalam keadaan macet seperti ini bagaimana cara Sungmin datang ke tempatnya?

Sepuluh menit Taeyeon menunggu dengan cemas. Ah, acaranya pasti sudah dimulai. Jika ia tidak muncul di panggung saat namanya disebut, ia pasti akan mempermalukan lembaga penelitian tempatnya bergabung sekarang. Saat ia sibuk dengan pikirannya sendiri ponselnya kembali berbunyi nyaring.

“Yeobseo, Oppa kau dimana?” seru Taeyeon panik. “Omo, kau di..”

Taeyeon segera menoleh ke luar jendela dan ia mengerjapkan mata melihat Sungmin berada di sisi jalan dengan sepeda berwarna merah muda.

“Kau sungguh tak terduga!” lirihnya tak percaya. Tanpa basa-basi Taeyeon segera keluar dari mobil—melupakan Heechul sama sekali—dan pergi menghampiri Sungmin. Taeyeon tersenyum manis sementara Sungmin berwajah panik.

“Ayo naik. Kita sudah terlambat!!”

Taeyeon tersentak sadar. Sekarang memang bukan saatnya pengaguman. Ia segera duduk di belakang Sungmin lalu memeluk pinggangnya erat. Sungmin segera mengayuh sepedanya secepat yang ia bisa. Heechul yang menyaksikan kejadian itu hanya termangu.

Sambil mengayuh sesekali Sungmin meminta petunjuk arah dan Taeyeon hanya mengulum senyum bangga. Ia semakin mengeratkan pelukannya karena ia merasa sangat beruntung memiliki seseorang yang rela bersusah payah demi dirinya.

Lima belas menit kemudian mereka tiba di tempat acara berlangsung. Sungmin menyuruh Taeyeon bergegas memasuki gedung sementara ia mencari tempat parkir untuk sepedanya. Taeyeon berlari masuk dan ia sadar datang di saat yang paling tepat. Ia mendengar namanya disebut oleh MC di atas panggung dan sadar tiba gilirannya untuk naik. Dengan kondisi baju dan rambut yang tidak kondusif sama sekali Taeyeon bergegas naik. Tepuk tangan menggema di seluruh penjuru ruangan. Taeyeon menerima trofi dan ketika ia menoleh ke arah atasannya di lembaga penelitian, dia tersenyum lega sambil bertepuk tangan. Aigoo, mungkin satu jam ke belakang ia sudah membuat mereka cemas setengah mati.

Dari atas panggung Taeyeon melihat Sungmin berlari masuk, ia tersenyum lalu beralih ke depan podium untuk mengucapkan beberapa patah kata.

“Kupikir hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku, terima kasih sudah memberiku penghargaan ini dan membuatku merasa kerja kerasku selama ini tidak sia-sia,” Taeyeon menebarkan senyum kepada seluruh orang di ruangan itu terutama pada Sungmin yang tersenyum bangga, ia memberikan pidato yang menggugah dan membuat beberapa orang terharu dengan kata-katanya hingga di akhir pidatonya Taeyeon mengatakan sesuatu yang membuat semua orang melongo kaget tak terkecuali Sungmin.

“Sejujurnya, aku tidak pernah mau pernikahanku tertunda..”

Sungmin membelalakkan mata mendengar kalimat itu, terlebih karena Taeyeon kini sedang menatapnya langsung. Jelas Taeyeon ingin membeberkan seluruh isi hatinya di depan banyak orang seperti ini.

“Sungmin Oppa, aku ingin kau mempertimbangkan keputusanmu kembali. Aku benar-benar ingin menikah denganmu secepatnya. Jadi cepat bawa aku ke pelaminan sebelum aku bosan menunggu.”

Tepuk tangan menggema di seluruh penjuru ruangan. Taeyeon tersenyum lebar diiringi decakan kagum orang-orang. Sementara itu Sungmin hanya bisa menatap Taeyeon dengan mulut terbuka. Ia kehilangan kata-kata mendengar pernyataan tak terduga dari kekasihnya itu. Ia sangat terharu dan ingin sekali memeluk Taeyeon detik ini juga. Tetapi ketika gadis itu sudah berdiri di depannya, yang bisa ia lakukan hanya menatapnya lekat-lekat.

“Apa jawabanmu?” Taeyeon mengangkat dagunya meminta Sungmin menjawab pernyataannya tadi. Sungmin menyipitkan mata. Melihat reaksi Sungmin Taeyeon merasa sedikit cemas.

Tiba-tiba Sungmin tersenyum dan sebelum sempat Taeyeon bereaksi, pria itu memeluknya erat, “Kau, membuatku terpaksa mengabulkannya. Dasar gadis licik.” Suara Sungmin bergetar, karena ia merasa begitu senang. di balik kenekatannya Teyeon benar-benar ingin menikah dengannya dan itu adalah hal yang paling membahagiakan. Diam-diam Taeyeon tersenyum gembira lalu melingkarkan tangannya di punggung Sungmin.

Heechul menyaksikan semuanya dan detik itu juga ia merasa sangat bersalah pada Taeyeon. Ia sudah terlalu egois dan adiknya pantas untuk bahagia. Selama ini, rasa takut kehilangan yang membuatnya tidak bisa merelakan Taeyeon menikah. Karena jika Taeyeon menikah, Heechul tidak akan pernah mendapat perhatian yang sama lagi darinya. Ia tersenyum miris. Cemburu untuk hal yang tidak seharusnya? Kekanakan sekali. baiklah, mulai sekarang aku harus bersikap dewasa. Tekadnya. Karena terlalu banyak merenung Heechul tidak sadar Sungmin dan Taeyeon sudah berada di dekatnya.

“Oppa..” Taeyeon menyentuh halus pundaknya. Heechul mengerjapkan mata lalu menoleh.

“Ayo kita pulang,” ajaknya. Sungmin menundukkan kepalanya sekilas sebelum pergi menyusul Taeyeon.

“Tunggu!” cegah Heechul refleks. Kedua orang itu kompak menoleh.

Sekarang saatnya, batin Heechul. Ia menatap Taeyeon dan Sungmin bergantian. Ia sudah yakin dengan keputusannya, “Aku merestui kalian menikah.” Ucapnya dengan nada kaku.

Untuk sesaat Taeyeon dan Sungmin hanya tercengang lalu salin pandang. Kecanggungan itu membuat Heechul merasa begitu konyol. Ia mengusap tengkuknya gelisah. Ayo ucapkan sesuatu..batinnya. saat yang dinanti pun tiba ketika Taeyeon perlahan-lahan tersenyum gembira lalu berhambur memeluknya. Heechul mendesah begitu lega lalu tersenyum pelan-pelan. Ia tidak pernah merasa selapang ini sebelumnya.

“Gomawo, Oppa.. Gomawo..” Taeyeon berkata lirih.

“Ne, menikah dan bahagialah..” Heechul menepuk punggung Taeyeon. Ia melirik pada Sungmin yang tersenyum simpul, senyum paling tulus yang pernah ia lihat.

…To be continued…

46 thoughts on “Unforgottable Love (Part 3)

  1. Dha….pas lg ol za,…fb q kq gak di add..???
    “Anak kecil sepertimu tahu apa?! Jangan berpikir karena sekarang kau adalah mahasiswa kedokteran kau berani mengkhotbahiku.”….kadang sok tau itu wajib hukumnya,..biar jadi motifasi utk belajar lebih dr kesombongn yg terlnjur trcetus,.nnnn tidak takut utk menuangkan ide2 gila…thank’s mghibur bget,ditengah menumpuknya tugasq.

  2. sedih tapi envy baca nya romantis baget sih sungmin oppa tetep semangat yah buat lanjutin ff nya🙂
    aku tetep nunggu I Married The Bad Boy loh author😀

  3. Tetep aja,,, selalu so sweet.

    Tapi klo inget cerita ini akan sad ending,,, mau gak mau tetep nangis.

    Author tanggung jawab,,,, banjir nieh….

  4. aaaaaaaaaaaaahhh demi apa aku emang lagi buka wp in abis baca shaddy girl heechul eh taunya ngepost ff baru dan gacuma satuuu hahahaha asik asikkk next part mereka menikah trs taeyeon hamil minki!! hahahahah daebak keep writing thor!

  5. Wah daebak kelanjutan ff nya, akhirnya Heechul oppa menerima dan menyatakan kesediaan kalau Taeyeon adiknya blh menikah dgn Sungmin oppa, so sweet banget pasangan ini.. Wlpn hrs diawali oleh beradu mulut dgn Kibum oppa akhirnya Heechul oppa menyadari kalau ia slm ini egois dan kekanakan u menahan kebahagiaan adik tercintanya Taeyeon.. ditunggu kelanjutannya chingu

  6. Aigooo..sungmin oppa bnrn lelaki idaman dech,baik,pekerja krz,tanggung jwb,yg pling penting oppa jg rmntiz bgt…b’untung’y taeyeon dptin namja ky sungmin oppa..emank bnr kt org,klo org baik itu psti dpt psngn’y jg yg baik..pengen bgt jd taeyeon yg d’cintai sgtu bsr’y sm sungmin oppa.

  7. aaah…
    sungmin oppa romantis bnget apalgi pas ming oppa nyanyiin lgu BABY BABY….
    t kan lgu faforit aku klwu yg ngebawain ming oppa..
    jd mngkhayal…..

    eonni…
    ff ny kereeen lgi….

  8. wuuuaaaa,,,, romantis bgt sungmin oppa, pengen juga dilamar kyk gtu hehehe

    tp sedih juga ya heechull oppa koq gtu ya, cemburu tdak pd tempatnya hehehe

    #tgl ultah sungmin oppa typo ya???

  9. benar-benar pnh prjuangn cinta min ma taeyeon..lmrny romantis abis..’coz Baby Baby fav.aq bgd..’
    typo ny:tgl lmrny 31 desember hrsny^thor nglamunin Kyuhyun ea..keke..^uri Minnie kn ultah pas mlm taun baru..but no problem,your ff always Daebakkk..

  10. Ya ampun heechul kebiasaan, bikin onar mulu hahaha tapi ya konfliknya kan ada di dia sama kibum kan aku gak bisa bayangin hidup dikeluarga kaya taeyeon, jelas pasti aku banjir air mata terus udah gitu aduh sungmin oppa tetep so sweeet, sepeda “pink” telah membantu mereka , ya yayaya bener bener unforgottable love ais jadi sedih sendiri kalo inget taeyeon udah ngga ada kalo tau ceritanya kaya gini, untung sungmin oppa udah dibikin bahagia sama kakak jadi ya nyesek ga nyesek sih yo wish lah ditunggu cerita lainnya ya kak! Semoga inspirasi ngalir, waktunya ngalir, dan FIGHTING!!! Haha C:

  11. Weeeks~~~
    Ituu heecul ngomongnyaaa Jleb bgt buat kibum.
    Gak nyangka ajjah perjalanan cinta semaniis itu hrus sad ending.
    Huaaaa~~~ #nangisbombaybarengsungminoppa
    nice ff ^^v

  12. Ohh ohh mnegangkann..
    Susah y klo punya kakak mnjerumus ke sister komplex, mau merid aja mesti sakit ama ngomong pas penghargaan dulu,
    Tp ketawa-ketiwi pas bagian sungmin bawa sepeda buat nganter taeyeon pas macet, ttp y “ping” astaga bang.. *geleng”*

  13. Oh se sweet,,!!sungmin oppa dewasa dan bertanggungjawab sekalisih,jadi kepengen punya calon suami kayak sungmin oppa”kasihan kimbum oppa diperlakukan kayak gitu sama hyoungnya sendiri,,,yg sabar bumpa,,heechul oppa pasti ada alasan kenapa dia bersikap kaya gitu sm bumpa””pokoknya ff author emang daebak
    author fighting sering2 ngeposting kayak gini ffnya,,,”

  14. Sayangnya kenapa taeyeon harus meninggal…(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) padahal mereka sangan serasi………

  15. taeyeon-sungmin diizinkan menikah??
    wahh.. wahh ini awal kebahagiaan sekaligus awal kesedihan yang akan melanda mereka berdua..
    seruuuu SANGATTT eonn..
    ditunggu kelanjutan’x ^^
    fightingggg eonn😉

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s