Unforgottable Love (Part 2)

FF Special Sungmin’s Birthday

Judul : Unforgottable Love Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance
Length : Chapter 2 of 6

Find me on : @julianingati23 / FB : Dha Khanzaki

Main Cast :

  • Lee Sungmin
  • Kim Taeyeon

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Kim Heechul

Cuap-cuap gaje author : Hai haii… udah lama author gak apdet di site ini. Pada kangen gak? Makasih yah buat yang tetep setia ngikutin FF author meskipun gajenya gak ketulungan. Udah banyak typo, bahasanya masih berantakan, tapi temen-temen tetep nyempetin baca. Sekali lagi terima kasih banyak ^_^

Untuk kali ini pun author tetep tunggu kritik dan saran dari temen-temen *bow

Unforgottable Love by Dha Khanzaki

Part sebelumnya..

“Aku tidak yakin, tetapi aku tidak melihat temanku Taeyeon. Aku takut dia masih terjebak di dalam,” ucap seorang pria berusia tidak jauh dengan Sungmin. Mendengar hal itu Sungmin membelalakkan mata lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gerakan cepat, memindai semua orang yang ada di sana mencari keberadaan Taeyeon.

“Kau yakin? Taeyeon masih ada di dalam?” Sungmin tiba-tiba menyerobot.

Nuguseyo?” tanya pria itu tidak suka dan Sungmin tidak menghiraukannya. Ia berlari ke sekeliling sambil memanggil-manggil Taeyeon namun tidak ada jawaban.

“Terakhir kali Taeyeon terlihat di mana?” cecar Sungmin tak sabar.

“Di ruang lab nomor tiga. Letaknya di dekat ruang pertemuan—hei kau mau kemana!!!” pria yang menjelaskan tadi memekik karena tiba-tiba Sungmin berlari ke arah gedung setelah membasahi sekujur tubuhnya dengan air.

“Apa yang kau lakukan Tuan!!!” teriak pemadam kebakaran panik.

====Part 2====

Sungmin merasakan panas yang menyengat ketika ia masuk. Tempatnya berada masih belum terbakar tetapi asap tebal membuat matanya perih dan paru-parunya sesak. Ia mencari ruang lab yang dimaksud sambil berteriak memanggil Taeyeon. Beberapa bagian sudah mulai diselubungi asap tebal. Sungmin harus bergegas sebelum seluruh gedung terlalap api.

Di antara kesadaran yang semakin menipis, Taeyeon terus terbatuk-batuk sambil berusaha membuka pintu ruang lab yang terkunci. Ia menggedor-gedor pintu dengan mulut sibuk berteriak meminta tolong. Beberapa menit yang lalu ia masih berharap ada yang datang menolongnnamun detik ini Taeyeon merasa hidupnya akan berakhir.

Tubuhnya terkulai lemah sambil menyandar di dinding, menutup hidungnya dengan masker lab yang masih ia kenakan. Dalam keadaan sekarat seperti ini tiba-tiba Taeyeon teringat pada janjinya dengan Sungmin. Ia bertanya-tanya apakah Sungmin akan datang seandainya Taeyeon meminta tolong padanya. Sial, Taeyeon menyesal karena meninggalkan ponselnya di loker.

“Taeyeon!!!”

Taeyeon tersentak ketika mendengar suara Sungmin. Ia berpikir dirinya berhalusinasi sehingga cepat-cepat menggelengkan kepala. Tetapi sekali lagi ia mendengar suara Sungmin menggaungkan namanya. Ia mengerjap senang.

“Sung-min-ssi..” Taeyeon menggedor-gedor pintu dengan tenaga yang dia dapat entah dari mana.

“Taeyeon, kau di dalam??” bayangan Sungmin terlihat dari kaca transparan di luar ruangan. Taeyeon terbatuk-batuk sebelum menjawab dengan suara lemah.

“Aku akan mendobraknya! Kau harus mundur!!”

Taeyeon segera menggeser tubuhnya dan detik berikutnya pintu terdobrak berkat tendangan Sungmin. Pria itu meringsek masuk. Ketika pandangannya bertabrakan dengan sosok Taeyeon, Sungmin membelalakkan mata. “Taeyeon!”

Taeyeon merasakan Sungmin menepuk-nepuk pipinya untuk mengecek tingkat kesadarannya. Taeyeon tersenyum kecil sebagai pertanda bahwa ia baik-baik saja.

“Syukurlah kau baik-baik saja.” Sungmin memeluk Taeyeon sekilas.
Taeyeon merasa begitu lega sehingga ia hanya bisa pasrah ketika Sungmin mengangkat tubuhnya dari lantai. Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, Taeyeon sempat menatap Sungmin yang berlari dengan raut panik menuju ke luar gedung.

—o0o—

Udara yang terhirup terasa begitu segar dan tidak menyesakkan lagi ketika Taeyeon siuman. Terakhir kali hal yang diingatnya adalah Sungmin menyelamatkannya dan setelah itu semuanya menjadi gelap. Tersentak sadar, Taeyeon bangkit cepat dan menyadari tempatnya berada sekarang adalah sebuah ruangan rumah sakit. Ia sangat mengenali setiap detail ruangan rumah sakit milik keluarganya. Karena itu ia sangat yakin dimana tempatnya berada.

“Kau sudah siuman?” Taeyeon baru menyadari Sungmin berada di dalam ruangannya saat ia menoleh. Pria itu berjalan tenang ke samping tempat tidurnya.

“Bagaimana kondisimu?”

Taeyeon mengecek keadaan tubuhnya sendiri dan bersyukur tidak ada satupun luka di tubuhnya, “Aku baik-baik saja.”

“Syukurlah,” Sungmin menghela napas lega, tidak hanya ekspresinya saja namun nada suaranya pun terdengar begitu lapang dan penuh syukur. Membuat hati Taeyeon rusuh tak terkendali.

Taeyeon menundukkan kepala malu, namun detik kemudian ia mengeryit ketika pandangannya jatuh pada pergelangan tangan Sungmin yang diperban.

“Sungmin-ssi, tanganmu..”

Sungmin ikut melirik tangannya yang dibalut perban. Tadi ketika menyelamatkan Taeyeon ia sempat terkena serpihan kayu yang terbakar namun demi menenangkan Taeyeon ia lebih memilih menyimpannya dalam hati.

“Hanya luka kecil, tak perlu dipikirkan.”

Seketika raut wajah Taeyeon berubah, ia terlihat menyesal. Demi menyelamatkanku kau..Taeyeon menahan airmata rasa bersalahnya. Tiba-tiba tanpa disadari sedikitpun tangannya sudah melingkar di punggung Sungmin. Pria itu terkejut, hanya bisa berdiri kaku.

Kamsahamnida, Sungmin-ssi.”

Taeyeon merasa begitu terharu karena pertama kalinya ada seseorang yang rela berkorban seperti ini untuknya. Sudut hatinya tersentuh.

Sungmin masih belum bisa menguasai keadaan, mulutnya bergetar kaku. Ia tidak pernah speechless seperti ini. Meskipun semua indera tubuhnya terkunci, namun Sungmin merasa bahagia. Hatinya berbunga-bunga dan yang ingin ia lakukan adalah balas memeluk Taeyeon. Saat kedua tangannya sudah terangkat untuk memeluk Taeyeon, tiba-tiba saja pintu menjeblak terbuka dan beberapa orang masuk menimbulkan suasana gaduh. Sungmin sontak menjauhkan tubuhnya.

“Taeyeon, kau sudah siuman?”
“Kau baik-baik saja bukan? Aigoo, kau membuat Eomma cemas.”
Nuna, syukurlah kau tidak apa-apa.”

Semua orang berbicara di saat yang hampir bersamaan. Taeyeon tersenyum simpul melihat kepanikan di wajah keluarganya. Ia mencoba menenangkan sambil berkata dengan nada lembut, “Aku baik-baik saja.”

Sungmin melihat bagaimana keluarga Taeyeon mengkhawatirkan gadis itu dengan perasaan kagum. Taeyeon sungguh beruntung dikelilingi orang-orang yang mencintainya begitu besar. Ia merasa sedikit sedih dan tersisihkan karena keberadaannya sekarang sepertinya sudah tidak berarti lagi.

“Aigoo, Appa mendengar kau sempat terjebak di dalam?” Pria paruh baya berseragam dokter berkata dengan nada cemas dan buru-buru. Taeyeon mengangguk.

“Tetapi ada Sungmin-ssi yang menyelamatkanku.” Taeyeon tiba-tiba menoleh ke arahnya dan di saat bersamaan ia tersentak sadar pandangan semua orang tertuju padanya. Tercengang seolah keberadaannya baru diketahui. Sebelum ia menguasai diri lagi-lagi ia terpaku karena Taeyeon menatapnya lurus.

“Dia mengesampingkan keselamatannya sendiri demi menyelamatkanku.”
Sungmin merasa sesuatu dalam hatinya bergeser dan ia berdebar. Ia masih berdiri kaku di tempatnya. Ia tidak mungkin tersadar seandainya ia tidak mendengar suara seseorang menyerukan namanya.

“Hyung!!”

Sungmin menoleh, Kibum tersenyum senang lalu merangkulnya, “terima kasih sudah menyelamatkan Nuna.” Sebagai balasan Sungmin hanya tersenyum.

“Aku kebetulan berada di sana,” lirihnya canggung.

“Kau Lee Sungmin? Aku Kim Heechul. Terima kasih sudah menyelamatkan Taeyeon,” Heechul mengulurkan tangan padanya. Sungmin menjabatnya.

Detik berikutnya suasana menjadi cair dan Sungmin diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Kim yang tak pernah disangka begitu menyambutnya. Ayah dan Ibu Taeyeon bahkan memperlakukannya dengan begitu baik.

“Oh, jadi kau putra Lee Dongjun?” Kim Hyunseok, Ayah Taeyeon mengerjap.

“Anda mengenal Ayahku?” Sungmin tidak pernah menyangka bahwa Ayah mereka ternyata saling mengenal.

“Siapa yang tidak tahu seorang Hakim terkenal sepertinya? Dia adalah pria paling tegas dalam menegakkan hukum yang pernah kukenal. Tak kusangka dia memiliki putra seorang pengacara sepertimu, dia pasti sangat bangga.”

Sungmin tersanjung, “Kuharap aku bisa membanggakannya.”

“Hyung, kau masih saja merendah. Apa keberhasilan dalam kasus pertama yang kau tangani tidak membuatmu senang?” serobot Kibum.

“Kau terlalu melebih-lebihkan,” Sungmin tidak ingin terlalu berbangga diri saat ini karena di sekitarnya berada orang-orang yang jauh lebih hebat.

“Kudengar dia mengalahkan pengacara kondang Shin Donghee dalam kasus itu.” tambah Kibum membuat orang-orang yang mendengarnya semakin berdecak kagum.

Taeyeon tersenyum penuh arti. Pandangannya tak lepas dari sosok Sungmin yang ternyata lebih mengagumkan dari yang ia kira selama ini. Pantas saja Kibum begitu menghormatinya. Ia tahu, sesuatu dalam hatinya tergerak melihat senyum Sungmin, bahkan setiap mengetahui keberadaan pria itu di dekatnya, Taeyeon selalu merasa hidupnya sudah sempurna.

Heechul menyadari ekspresi Taeyeon, ia menoleh memandang Sungmin lalu menghela napas. Detik itu juga ia tahu adiknya sudah jatuh cinta pada Lee Sungmin.

—-o0o—

“Sebenarnya, apa yang ingin kau bicarakan? Bukankah kau meminta bertemu untuk mengatakan sesuatu?”

Taeyeon menoleh pada Sungmin yang sedang meletakkan bunga ke dalam vas. Berkat kejadian kemarin, penyakit anemia Taeyeon kambuh kembali. Ayahnya belum mengizinkan Taeyeon pulang karena itu ia harus tetap berada di rumah sakit hingga esok hari.

Ucapan Sungmin membuat Taeyeon mengerjap, ia hampir melupakan tujuannya mengajak Sungmin bertemu. “Ah,” Taeyeon menepuk tangannya, “Memang ada hal penting yang ingin kukatakan padamu, Oppa.”

Sungmin menoleh, agak janggal karena Taeyeon memanggilnya dengan sapaan seakrab itu. Tiba-tiba saja ia merasa hatinya sakit, apa mungkin Taeyeon bermaksud menceritakan tentang lamaran temannya yang ia terima? Jika memang benar maka ia menyesal sudah bertanya.

“Apa?” Sungmin menyiapkan hati dan telinganya seandainya mendengar hal yang tidak ia inginkan.

“Aku mendapatkan penghargaan dan beasiswa di Sains Fair tahun ini,” ungkapnya semangat dengan mata berbinar-binar. Seketika Sungmin menoleh. Ia lega sekaligus bahagia mendengar berita mengejutkan itu.

“Jeongmal? Chukkae!!” Sungmin bergerak hendak memeluk Taeyeon namun terhenti karena menurutnya itu tidak sopan. Dengan berat hati Sungmin hanya mampu menjabat tangan Taeyeon. Gadis itu kecewa karena Sungmin batal memeluknya namun ia tidak bisa berkata apapun.

“Jadi itu yang ingin kau katakan?” lirih Sungmin kikuk. Mendadak suasana menjadi canggung.

Taeyeon mengerutkan kening. Kenapa ia merasa Sungmin curiga ia akan menceritakan hal lain yang lebih gawat? “Tentu saja. Oppa kira ada hal lain?”

“Eung..” Sungmin mengusap tengkuknya, “Kupikir kau akan menceritakan tentang lamaran..eh..Lupakan.” Sungmin tersenyum lebar. Ia sadar tidak sepantasnya menyinggung hal yang sangat pribadi. Lagipula apa urusannya Taeyeon menerima lamaran itu atau tidak.

Taeyeon tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Jadi Sungmin terpikirkan ceritanya tentang lamaran temannya itu? Lagipula Taeyeon sudah menolaknya dengan baik-baik, ia sendiri tidak tahu kenapa. Sampai saat itu ia tidak tahu. Tetapi sekarang ia tahu apa alasannya.

“Aku menolaknya.”

Kata-kata singkat itu kembali membuat Sungmin tercengang. Ia menatap Taeyeon lekat untuk mencari pembenaran atas kata-katanya. Taeyeon terlihat begitu jujur dan sungguh-sungguh. Hati Sungmin seketika diselimuti rasa bahagia sampai rasanya ia ingin memeluk Taeyeon erat-erat. Syukurlah. Syukurlah.

“Benarkah?” Sungmin berkata dengan suara pelan. Baru kali ini ia merasa begitu lega hanya karena pernyataan sederhana dari seseorang. “Kenapa kau menolaknya?”

Taeyeon mengangkat bahu, “Mungkin karena aku tidak yakin untuk menghabiskan waktuku bersamanya. Lagipula,” tatapan Taeyeon beralih pada mata hitam Sungmin. “Sepertinya aku mengharapkan orang lain.”

Deg.

Sungmin terpaku pada mata Taeyeon. Sesaat suasana menjadi hening dan Sungmin sepertinya hanya mendengar suara detak jantungnya sendiri. Apa sebaiknya aku mengatakan sekarang isi hatiku? Benak Sungmin berkata. Tetapi jika aku mengatakannya, apakah itu sopan? Apakah Taeyeon akan marah padaku? Apakah..

Terjadi perdebatan kecil dalam otaknya yang membuat Sungmin tidak bisa fokus memandang satu titik. Taeyeon menyadari hal itu. Sesuatu sedang mengusik Sungmin saat ini dan ia penasaran apa yang membuatnya seperti itu. Mungkinkah Sungmin berpikir dirinya gadis yang terlalu lancang? Tiba-tiba Taeyeon merasa takut Sungmin akan berbalik pergi meninggalkannya. Ia bangkit dari tempat tidurnya untuk menghampiri Sungmin. Ia ingin memastikan sesuatu.

Sungmin mengerjap dan ia tersentak saat sadar Taeyeon sudah berdiri di depannya. Ia tidak berniat mundur sama sekali karena matanya terlalu terpaku pada sorot mata Taeyeon. Gadis ini menatapnya dengan iris mata sayu, seolah ingin menyampaikan sesuatu. Hatinya tergetar, terpengaruh oleh retina itu. Sungmin tidak bisa menahan diri untuk menyentuh lengan Taeyeon, menariknya mendekat. Ketika Sungmin berhasil memeluk Taeyeon, ia mengerjap sadar.

“Apa aku lancang?” ia berbisik. Jika Taeyeon menunjukkan reaksi penolakan sedikit saja Sungmin akan melepaskannya.

“Aku ingin memberimu hadiah, tanda terima kasihku karena sudah menolongku.” Balas Taeyeon. Sungmin mengeryitkan kening bingung. Bukan itu jawaban yang ia harapkan. Tiba-tiba Taeyeon mengangkat wajahnya lalu detik berikutnya, bibir mereka bersentuhan.

Sungmin sempat membelalakkan mata. Jadi ini hadiah yang dimaksud Taeyeon? Kenapa Taeyeon memberinya hadiah ciuman? Mungkinkah..

Sentuhan itu berlangsung begitu singkat. Kini ketika Taeyeon menjauhkan sedikit wajahnya, ia merasa jantungnya berhenti berdetak. Sesuatu meledak-ledak dalam dirinya. Perasaan yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Sungmin akhirnya kalah pada pendiriannya sendiri. Ia memeluk pinggang Taeyeon dan kembali mendaratkan bibirnya di bibir Taeyeon. Sungmin merasa begitu luar biasa dan bahagia ketika Taeyeon membalas ciumannya. Apa mungkin Taeyeon juga merasakan hal yang sama sepertinya? Perasaan cinta?

Sungmin harus menyudahinya karena ia tidak bisa menahan apa yang terus diteriakkan hatinya. Ia harus mengungkapkannya pada Taeyeon dan ketika ia menjauhkan wajah, Sungmin berbisik dengan lembut di telinga Taeyeon.

Saranghae, aku mencintaimu Kim Taeyeon.”

Taeyeon tersenyum mendengar pengakuan itu. Ia merasa begitu lega karena ia sendiri sadar bahwa inilah alasannya kenapa ia tidak bisa menerima lamaran temannya. Karena ia mencintai Lee Sungmin, entah sejak kapan. Mungkin perasaan itu sudah ada sejak awal namun ia baru menyadarinya hari ini.

“Aku senang mendengarnya,” pipi Taeyeon merona kemerahan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Sungmin, enggan melepaskan pelukannya. Rasanya nyaman dan hangat seperti ini.

“Kau bersedia menjadi kekasihku?” Sungmin tidak tahu apa yang dia pikirkan ketika mengatakannya, tetapi ia benar-benar ingin Taeyeon menjadi wanita penting dalam hidupnya. Hal ini sudah terasa sejak pertama kali menatap Taeyeon di restoran steak kala itu.
Taeyeon tidak menjawabnya dengan suara, hanya dengan anggukan ringan dan itu lebih dari cukup mengkonfirmasikan segalanya. Sungmin memeluk Taeyeon semakin erat. Matanya memejam dan ia merasa begitu bahagia dan sempurna.

====o0o====

Taeyeon diizinkan pulang keesokan harinya. Sungmin sengaja meluangkan waktunya untuk mengantarkan Taeyeon pulang. Kebetulan semua anggota keluarga Taeyeon disibukkan oleh kegiatan masing-masing, Sungmin diberi mandat langsung oleh Ayah Taeyeon untuk membawa putrinya kembali ke rumah. Sungmin menerimanya dengan senang hati.

“Apa kau sudah mengatakan pada orang tuamu tentang hubungan kita?” Sungmin bertanya ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang. Taeyeon mengangguk.

“Sepertinya mereka melihat ketika kita sedang berciuman kemarin karena ketika kau pulang, ibuku menanyaiku macam-macam tentangmu dan terkuaklah semuanya.” Ujar Taeyeon polos. Sungmin meringis malu membayangkan semua itu.

“Sepertinya aku tidak sanggup menemui orang tuamu setelah ini.”

“Kau bercanda,” seru Taeyeon sambil terkekeh. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Sungmin, “Kau harus bertemu mereka lagi, mereka menyukaimu.”

“Benarkah? Kalau begitu aku akan sering-sering bermain ke rumahmu,” mereka tertawa kemudian dan Sungmin merasa sangat gembira. Hanya dengan bersama Taeyeon seperti ini ia merasa hidupnya sudah lengkap.

Sungmin sempat bingung ketika Taeyeon mengajaknya pulang ke sebuah rumah minimalis berlantai dua. Dilihat dari bentuknya Sungmin yakin ini bukanlah rumah kedua orang tua Taeyeon.

“Ini rumahku, Oppa.” Ucap Taeyeon menjawab pertanyaan tak terlontarkan yang terlihat dari ekspresi Sungmin. Pria itu menoleh padanya dengan tatapan tak terbaca lalu tersenyum tipis.

“Kau memiliki rumah sendiri? luar biasa.”

“Orangtuaku yang memberikannya,” Taeyeon terlihat tidak ingin membahasnya karena itu Sungmin segera mengikuti Taeyeon yang sudah lebih dulu masuk ke rumah.

Taeyeon sungguh beruntung, batin Sungmin. Di saat harga rumah selangit gadis itu sudah memiliki satu di usia yang sangat muda. Tiba-tiba saja Sungmin terpacu untuk memiliki rumah sendiri juga. Jika kelak mereka menikah, Sungmin ingin mengajak Taeyeon tinggal di sana. Pipinya memerah sendiri saat sadar ia sudah berpikir terlalu jauh. Menikah dengan Taeyeon? Rasanya itu masih jauh sekali.

“Kau ingin minum apa?”

Suara Taeyeon membuat lamunan Sungmin buyar. “Tidak perlu repot-repot, lagipula aku tidak akan lama.” Sungmin melihat Taeyeon masih sibuk membuat minuman untuknya di dapur. Ia terpaksa menghampirinya,

“Tak perlu repot, lagipula kau belum sehat bukan?”

“Ini tidak merepotkan, hanya membuat teh.”

“Kalau begitu biar aku yang buat. Kau duduk saja.” Sungmin mendudukkan Taeyeon di salah satu kursi meja makan dan dia mengambil alih membuatkan teh untuk mereka berdua. Setelah selesai ia meletakkan teh itu di atas meja.

“Kudengar dari Ayahmu kau memiliki anemia?” Sungmin bertanya cemas, bahkan hingga kini pun wajah Taeyeon masih terlihat pucat.

“Ayah terlalu melebih-lebih kan. Itu hanya gejala darah rendah saja.” taeyeon lalu menyeruput tehnya, “Ah, hangat sekali.”

Sungmin tidak berniat melanjutkan pertanyaan itu karena Taeyeon tampak tidak mau membahasnya, ia harus mencari topik lain. “Aku penasaran apa yang menyebabkan gedung penelitian itu terbakar. Apa asal apinya dari ruanganmu?”

“Bukan, itu dari lab nomor 4. Ada instalasi kabel di sana yang koslet dan membuat percikan api. Kebetulan banyak sekali bahan-bahan yang mudah terbakar. Aku sedang serius mengerjakan penelitianku saat kebakaran terjadi dan ketika aku hendak melarikan diri, pintu itu tidak terbuka. Aku lupa bahwa labku dilengkapi sistem otomatis dan tidak akan terbuka jika listriknya padam. Aku terjebak di sana dan sempat terlintas dalam pikiranku mungkin aku akan mati kehabisan napas di sana sampai kau datang menolongku.” Taeyeon menatap Sungmin kembali, “Suaramu memberiku secercah harapan, Oppa. Gomawo.”

Sungmin tak pernah merasa terharu sekaligus tersanjung seperti ini. Taeyeon tidak tahu bahwa hatinya bergetar mengetahui ia sudah menyelamatkan hidup seseorang. Tangannya terangkat mengusap pipi Taeyeon, “Mungkin aku yang akan menyesal seandainya tidak datang menolongmu.” Ia menatap Taeyeon tulus. Matanya mulai berkabut, Sungmin mengerjapkan matanya berkali-kali dan berhasil mengurungkan airmatanya menyeruak keluar. Ia menyeruput tehnya singkat.

“Lukamu apa sudah sembuh?” Taeyeon melihat tangan Sungmin masih diperban. Sungmin melirik tangannya.

“Jangan khawatirkan ini, aku berniat mengganti perbannya nanti.”

“Biar aku saja yang menggantinya,” usul Taeyeon. Sungmin berniat menolak tetapi Taeyeon terlanjur berangkat dan kembali lagi dengan kotak P3K. “Ulurkan tanganmu, Oppa.”

Sungmin mengulurkan tangannya dan membiarkan Taeyeon mengganti perban lukanya dengan yang baru. Taeyeon terlihat begitu ahli, Sungmin menyimpulkan mungkin itu keterampilan yang didapatkannya dari kedua orang tuanya yang sama-sama seorang dokter.

“Selesai,” Taeyeon mengangkat wajahnya dan tersenyum manis, senyum yang menular pada Sungmin. Hati Sungmin terasa begitu hangat, ia menarik tangan Taeyeon lalu mengecupnya lembut. Taeyeon terperangah, entah terharu atau terpana melihat tangannya dicium ala putri raja di negeri dongeng.
“Gomawo,” Sungmin memperlihatkan senyum manisnya. Taeyeon tidak kuasa menahan detak jantungnya sendiri, ia menundukkan kepala sebelum Sungmin menyadari perubahan warna di wajahnya.

Sungmin ingin tertawa, namun ia menahannya dan memilih mencari topik pembicaraan lain. “Kudengar kau pintar sekali bernyanyi?”

Taeyeon mengangkat wajahnya dengan ekspresi bingung, “Ah, siapa yang bilang?”

“Adikmu.”

Taeyeon mengangguk-angguk lalu kembali menoleh, “Ingin kunyanyikan satu lagu?”

Sungmin mengerjap, “Jinjja? Aku akan sangat terhormat bisa mendengarnya.” Antusiasme Sungmin membuat Taeyeon merasa tersanjung. Ia meminta Sungmin menunggu sementara ia mengambil gitar dan kembali duduk di sampingnya.

“Oppa bisa bermain gitar?”

“Tentu, kau ingin menyanyi lagu apa?”

“Em,bagaimana kalau lagu Noel yang berjudul If You Love?” Taeyeon memandang Sungmin, bertanya apakah Sungmin bisa mengiringinya menyanyikan lagu itu. Sungmin mengangguk ringan, pertanda itu bukanlah masalah.
It’s okay. Kau siap?” Sungmin siap dengan gitarnya dan Taeyeon berdehem sebelum mulai menyanyi. Sungmin memainkan intro awal lagu itu sementara Taeyeon mendengarkannya dengan senyum hangat lalu mulai menyanyi.

Baramanbwado nunmulnaneun saram
(Just by looking at you, you make me shed tears)
Gyeote eobseumyeon bogo shipeun saram
(If I draw you out while falling asleep, will we meet in my dreams?)
Neol geurida jamdeulmyeon ggumsokeseo mannalga oneuldo nan neol saenggakhae
(If you’re not by my side, I miss you. Again today, I think of you)

Sungmin terpukau seutuhnya melihat cara Taeyeon bernyanyi dan suara indahnya. Lagu yang dinyanyikan Taeyeon merasuk seperti udara yang menghangatkan sekaligus membuatnya mengigil. Terlebih karena Taeyeon menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Lagu ini untuknya, bolehkah ia berharap begitu?

Nega nae sarangiramyeon nega nae sarangiramyeon
(If you were my love If you were my love)
Eolmana joheulgga negyeote naega seondamyeon
(how great would that be? If I live next to you)
Maeil oeroume apado maeil gidarime jichyeodo
(Even if I hurt every day in loneliness, Even if I get weary from waiting)
Nan gwaenchanha naega saranghanigga
(I’m okay, because I love you)

Tepat di saat dentingan gitarnya berakhir, Sungmin segera bertepuk tangan takjub. “Daebak, rupanya Kibum tidak pernah bermain-main memuji kakaknya. Bagaimana bisa kau memiliki suara seperti itu?”

Taeyeon tersenyum dengan pipi memerah, “Bukan hal besar, aku hanya kebetulan diberi kemampuan menyanyi oleh Tuhan.” Ia tidak pernah menyangka akan semendebarkan ini saat nyanyiannya membuat orang lain kagum. Apa mungkin ini karena Taeyeon menyanyikannya untuk orang lain selain keluarganya?

“Memiliki suara indah adalah suatu anugerah, tidak semua orang memiliki itu. Kenapa tidak menjadi penyanyi saja?”

Taeyeon menghela napas, dengan pandangan menerawang ia menjawabnya, “Aku lebih tertarik pada sains dibandingkan apapun. Karena itu aku menjadi peneliti. Orang lain menganggap aku bodoh karena menyia-nyiakan bakat yang kumiliki tapi inilah hidupku. Aku hanya menjalani apa yang membuatku bahagia.” Sebenarnya tidak hanya Sungmin yang bertanya ‘kenapa tidak menjadi penyanyi saja?’, ada ratusan orang pernah melontarkan pertanyaan serupa dan jawaban Taeyeon tetap sama. Sains membuatnya bahagia,  untuk itulah ia menjadi peneliti.

Sungmin tertegun sekaligus takjub mendengar jawaban penuh filosofi dari Taeyeon. Kata-katanya tidaklah salah. Hidup seseorang tidak ditentukan oleh orang lain. Tetapi gairah dan kebahagiaan ketika menjalani sesuatu. Taeyeon suka belajar dan jalan itu membuatnya bahagia. Begitupun Sungmin, ia merasa bahagia bisa menjadi pengacara. Karena itu ia memilih profesi itu dibandingkan profesi manapun di dunia ini.

“Kenapa diam?” Taeyeon merasa tidak enak karena sudah membuat Sungmin tertegun. Sungmin tersentak sadar. Ia tersenyum menatap Taeyeon lekat.

“Tidak, kata-katamu membuatku sadar,” Sungmin terdiam sejenak, “Hidup yang berarti adalah hidup yang kita ambil untuk membuat diri sendiri bahagia. Karena dengan begitu, kau bisa membuat orang lain ikut bahagia,”
Taeyeon tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi. Ia segera memeluk Sungmin penuh kasih sayang. “Kau memang pria yang bijak, aku tahu aku tidak salah jatuh cinta padamu.”

“Terima kasih, suaramu membuatku terinspirasi.” Sungmin mengecup ujung hidung Taeyeon sebelum turun ke bibirnya. Taeyeon mengalungkan tangannya di leher Sungmin dan tersenyum di sela cumbuannya. Sungguh, Taeyeon ingin sekali menghabiskan hidupnya bersama pria ini karena dia sangat mencintainya.

To Be Continued

49 thoughts on “Unforgottable Love (Part 2)

  1. Cwo ky sungmin oppa itu udh langka zaman skrng cba klo msh ada bnyk cwo ky gtu q jg mw..kekekekekekekeke..taeyeon b’untung bgt bs dptin cwo yg dewasa dan bijaksana ky sungmin oppa..aaaa..so sweet bgt story’y mreka..

  2. yeeeeeeaay….
    eonni ngepost ff lg..
    senangnya selama dua minggu lbih g’ mncul..

    heheheheheheh…
    seperti biasa..ff eonni daebak…
    trus dpat feel stiap membaca ff eonni…

    oh y eonni..
    ff IMWTBB sgera d post lg y eonni…
    pnasaran sma klanjutan critanya…

    #fighting eonni

  3. yeeeeeeaay….
    eonni ngepost ff lg..
    senangnya selama dua minggu lbih g’ mncul..

    heheheheheheh…
    seperti biasa..ff eonni daebak…
    trus dpat feel stiap membaca ff eonni…

    oh y eonni..
    ff IMWTBB sgera d post lg y eonni…
    pnasaran sma klanjutan critanya…

    #fighting eonniii

  4. Daebak ff, so sweet banget My Lovely Bias Sungmin oppa and Taeyeon oennie, feels cintanya dapat banget.. semua kata2nya bagus dan menyentuh serta penuh makna, ditunggu kelanjutannya chingu

  5. sungminieeeeee plisss sweet banget dan dewasa disini. ah suka banget perawakan dia disini aaahh daeeeebakk!! lanjutttt thorrr hihi

  6. Akhir’x publish juga ff mu eonn ^^
    sungmin oppa bener” bijaksana bgt..
    dibalik sisi lembut’x dia adalah laki” yg tegas..
    kkeke suami idaman🙂
    di lanjutt eonn ..
    fightingggggg😉

  7. walaupun udh tau ending nya seperti apa tapi tetep aja penasaran, faighting thor buat lanjut ff nya terutama I Married The Bad Boy udh nunggu lama ini ntar bisa bisa lumutan lagi hehehehe…🙂

  8. Huaa senengnya… baca ff di blog ini,udh 3 ff aku baca sekaligus.. Daebak!!

    Kirain sampe part 2 langsung end, eh ternyata sampe part 6. Jadi ga rela, kalo akhirnya taeyeon meninggal.. T.T

    • Ff nya beneran sampe part 6?? Kok aku cari di blog ini yg part 3nya ga ada deh?? Aku penasaran banget sama lanjutannyaaaaa!!!!!!!!!

  9. Aahh… so sweet banget… sayang sad ending… coba klo taeyeon nya gk meninggal… pasti menjadi keluarga bahagia… tapi yaa begitulah hidup, gak ada satu orang pun yang tau bagaimana kehidupan kita dimasa depan🙂

    Thor kpan IMWTBB dilanjut?? ditunggu yaa kelanjutannya… Fighting!

  10. So sweet banget ceritanya berasa nonton drama korea gitu
    Suka sama couple ini hihi
    Kemaren mau komen ga bisa -_-
    Eon IMTBB dilanjut dong ya ya ;;)

  11. AIGOO AUTHOR…..
    SUMPAH,,, mereka manis banged…….
    Gak tau mo ngomong apa,,,, yang jelas mereka itu…
    SO SWEET……!!!!!!!!!!!

  12. Huaaa sweet bgt kyag abang minie, hihi😀
    nahh dr pada shady girl laennya kyg nya ini kisah plg normal dan romantis🙂 jd gk sabar pengn ngerti lanjutannya yahh meskipun ntar akhirnya taeyeon mninggal pas nglahirin.,

  13. Daebak ffnya,,wah so sweet”sungmin oppa bener2 dewasa banget,,,beruntungnya taeyeon eonni dapat cowok kayak sungmin oppa”dan juga seneng banget karna orang tua taeyeon eonni juga ngerestui,,pokoknya super2 so sweet and daebak,,author fighting nulis lanjutannya,,aku selalu menunggu ff mu,,!!

  14. Sungmin is Taeyeon Hero…Detik2 menegangkan pas taeng udh hampir pingsan akhirnya bisa diselametin jg
    Masih pacaran aja sweet bngt apalagi nanti udh nikah makin2 sweet
    next part

  15. Aish so sweet banget minie ma tae…lirik laguny nyesek banget kena banget d hati…q suka banget ma ceritany dari mulai minie ma in sung y kalo g salah nama cast yeojany…palagi pas da min ki lucu banget min ki ny…

  16. daebak,,, author emang yng terbaik,,,, fighting eon,, aku slalu setya menunggu kelanjutannya,, Fighting,,,

    ,mau tanya,, kapan zach,,, IMTBB part 18 kapan di lanjutin? udah gk sbar nich,,

  17. finally..comeback page nih thor…rda lumutan jg nunggu update-ny,but ttp smgt ea..
    Minnie oppa tmbh rmntis aja..pgnny taeyeon jgn jd mninggl donk..but,shady girl story ny uda dbkin sdemikian rupa..but whatever ff Dhakanzaki always amaZing..^_^

  18. syukurlah tidak terjadi apa2 sama sungmin dan taeyon.
    jadi keduanya saling mencintai ternyata.
    sungmin so sweet banget

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s