Shady Girl Heechul’s Story (Part 11)

Tittle : Shady Girl Heechul’s Story Part 11
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life
Lenght : Chaptered
Find me on : @julianingati23

Main Cast :

  • Sung Youngjae
  • Kim Heechul

Warning !!
Typo bertebaran di mana-mana, awas kesandung.

Happy Reading ^_^

Shady Girl Heechul's Story by Dha Khanzaki

Part Sebelumnya…

“Jika kau menang lomba ini, kau akan pergi ke Italia?” setelah beberapa saat suasana hening mencekam, akhirnya Heechul bertanya juga.

“Tentu saja.” jawab Young Jae cepat. Heechul menoleh menatapnya sejenak. Pupil matanya tampak melebar tak percaya.

“Jadi kau akan membiarkan anak kita lahir di Italia sana? Bukankah kau ingin aku ada saat anak kita lahir?” sewotnya tak sabar. Young Jae mengap-mengap antara kaget, bingung, dan takjub.

“Oppa, itu masih lama sekali. Hyun Jung bilang, pemenang lomba itu akan pergi ke Italia satu tahun setelahnya. Sebelum itu dia akan mendapatkan bimbingan lebih dulu di Korea untuk perbekalan selama di Italia nanti. Aku yakin anak kita sudah lahir saat itu.”

“Tapi, tetap saja kau akan meninggalkanku bukan?”

“Kim Heechul, sejak kapan kau jadi kekanakan begini?” tanya Young Jae heran. Tingkah aneh Heechul kambuh semenjak mereka bertemu dengan Hong In Hee. Sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Heechul, tampak menghindari In Hee. Ia mengerjap menyadari sesuatu. Mungkinkah terjadi sesuatu di antara mereka?

====Part 11====

Young Jae sudah mencoba mencari jawaban atas rasa penasarannya namun selalu gagal. Setiap kali ia bertanya perihal In Hee dengan cepat Heechul mengalihkan topik pembicaraan ataupun menciumnya agar ia diam.

Seperti kali ini, Heechul kembali membungkam bibirnya dengan kecupan yang tak henti-hentinya. Young Jae semakin yakin ada yang disembunyikan Heechul darinya.

“Sudah malam. Sebaiknya kau tidur. Bukankah besok kau harus ikut lomba?” desah Heechul setelah melepaskannya. Young Jae meraup sebanyak-banyaknya udara ke dalam paru-paru sebelum menoleh pada suaminya yang sekarang telah berbaring sambil memejamkan mata.

“Sikapmu membuatku semakin curiga,” ujar Young Jae dengan mata menyipit. Heechul tidak menjawab, hanya menarik tubuhnya mendekat lalu memeluknya erat. Young Jae sampai tidak bisa bernapas karena wajahnya terbenam di dada bidang Heechul.

“Uhh..Oppa sesak…”

—o0o—

Hari ini Young Jae harus berkali-kali menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Ia merasa sangat gugup. Mungkin melebihi kegugupan dibandingkan saat ia sedang tes masuk universitas. Heechul mengecup keningnya sebelum membiarkan Young Jae masuk ke ruang khusus peserta lomba.

“Doakan aku,” ucap Young Jae.

“Ne. Berjuanglah. Aku akan melihat di ruang show.” Dengan berat hati Heechul melepaskan tangan Young Jae lalu berjalan menuju ruang show bersama penonton lainnya. Di babak semifinal ini masing-masing peserta lomba akan membuat sebuah baju dengan tema yang sudah ditentukan oleh dewan juri. Peserta diberi waktu 12 jam untuk menyelesaikannya dan di malam hari nanti akan diadakan fashion show dan memberikan kesempatan pada penonton memberikan penilaian peserta mana yang layak masuk ke babak final.

Young Jae berdoa di ruang lomba bersama peserta lain yang lulus. Ada sekitar dua puluh orang peserta dalam ruangan besar yang sudah disulap sebagai arena lomba itu. Setiap peserta d lengkapi dengan mesin jahit dan beberapa aksesori untuk baju seperti kancing dalam berbagai model, resleting, manik-manik, pita, dan renda. Benang-benang aneka warna pun tersedia di salah satu meja.

Pintu terbuka diikuti beberapa orang masuk ke dalam ruangan. Suasana yang semula berisik hening seketika. Ketegangan membumbung di udara membuat beberapa orang merasa mual dan pusing. Young Jae memegang erat tangannya sendiri. Ia mengerjapkan mata saat sadar salah satu dewan juri yang berdiri di depan sana terdapat satu wajah yang sangat dikenalnya, Henry Lau. Rasa penasaran Young Jae terpotong ketika salah seorang dari mereka maju untuk memberikan sambutannya.

“Selamat kepada peserta yang sudah lolos, perkenalkan saya Michelle Lee, ketua dewan juri untuk lomba ini. Kalian tentu sudah tahu bahwa siapapun yang berhasil menjawab tantangan dari kami dan keluar sebagai pemenangnya akan mendapatkan kesempatan belajar desain langsung dari rumah mode terkenal di Italia. Kami yakin semua peserta yang lolos memiliki kesempatan yang sama dengan kemampuan hebat yang tersembunyi. Keluarkan seluruh kemampuan kalian dan buatlah kami terpesona,” ucap Michelle Lee, wanita berusia sekitar 40 tahunan dan Young Jae tahu bahwa Michelle Lee seorang desainer professional pemilik brand pakaian Michelle yang terkenal. Setiap musim fashion shownya selalu digelar dan karya-karya pun sudah mendunia. Dia adalah desainer favorit Young Jae setelah Donatella Versace.

Berikutnya Michelle Lee memperkenalkan beberapa dewan juri yang akan ikut memberikan penilaian di antaranya pria bernama Han Jung Shin, dia seorang pengamat fashion yang memiliki insting tajam dalam mengkritik setiap mode busana yang sedang booming. Setiap kata-katanya sangat berpengaruh terhadap terkenal atau tidaknya sebuah model pakaian. Berikutnya ada Choi Ma Joon, penggagas lomba desain fashion ini yang menjabat sebagai ketua asosiasi desainer pro di Korea . Juri yang ketiga seorang super model yang sekarang bekerja di Hollywood yaitu Clara Jung. Dan yang terakhir, sosok yang membuatnya sempat terkejut yaitu Henry Lau, photografer yang sekarang sedang naik daun berkat buku berisi kumpulan foto hasil jepretannya yang ternyata mendapat pujian dari istri Presiden.

“Dia tidak bilang kalau dia dewan juri di sini,” gumam Young Jae takjub. Henry sepertinya tidak menyadari keberadaannya karena pria itu tampak tenang-tenang saja.

“Tema untuk lomba kali ini adalah,” Michelle Lee menunjuk sebuah proyektor yang ada di depan, yang memunculkan seuntai kalimat, Glamorous Tea Party. Itulah tema lombanya?

Gelombang kasak kusuk seketika terdengar memenuhi penjuru ruangan. Semua peserta mempertanyakan apa maksud dari tema tersebut. Termasuk Young Jae. Ia sendiri tidak mengerti makna dari kalimat ‘Glamorous Tea Party’ sendiri.

“Kami memberi kalian watu sepuluh jam. Selesaikanlah karya kalian dalam tempo waktu itu. Tepat jam delapan malam nanti, karya kalian akan ditampilkan di fashion show dan akan disaksikan oleh seluruh pengunjung dan tamu undangan. Nah, dengan ini lomba dimulai..”

Ketika layar proyektor itu menunjukkan jam analog yang menghitung mundur, semua peserta bergegas membuat pakaian sesuai tema lomba. Bahan-bahan yang diperlukan sudah disediakan oleh panitia di ruang khusus yang ada di sebelah aula tersebut. Waktu yang terbatas ditambah tema yang sudah ditentukan membuat beberapa orang kelimpungan sendiri. Beberapa ada yang mengacak rambutnya frustasi. Mereka bahkan tidak ada waktu untuk membuat desain.

“Bukankah temanya sudah jelas sekali, Tea Party. Pesta Minum teh. Para juri itu pasti ingin kita membuat pakaian yang digunakan untuk menghadiri pesta minum teh.” Ucap In Hee, terdengar angkuh dan sok. Young Jae dan beberapa orang lain menoleh padanya. Beberapa ada yang mendapatkan inspirasinya lalu berlari mengambil bahan yang diinginkannya. Young Jae sebenarnya memiliki pemikiran lain tentang ‘Glamorous Tea Party’. Jadi ia tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan terpengaruh oleh ucapan In Hee. Ia mengambil bahan yang dicarinya lalu segera membuat pola.

Waktu seolah bergerak cepat dan tanpa terasa tinggal tersisa dua jam lagi sebelum batas waktunya habis. Young Jae bisa merasakan kepanikan di ruangan itu.

“Hah, hebat sekali. Dia sudah selesai!”

Young jae menolehkan pandangan pada sosok In Hee yang kini berjalan menuju ke luar ruangan dengan sebuah baju yang diselubungi kain pelindung warna gelap. Setiap peserta yang telah selesai membuat karyanya bisa meninggalkan ruangan itu dan pindah ke ruang dressing. Di sana sudah di siapkan model yang akan mengenakan pakaian hasil rancangan mereka.

Young Jae merasa terpacu. Ia juga harus menyelesaikan semuanya dengan cepat sebelum waktu habis dan dia didiskualifikasi. Hanya ada lima orang yang akan dipilih untuk masuk ke babak final. Kesempatan yang sangat kecil. Ia harus mengalahkan sembilan belas peserta lain untuk mendapatkan satu tempat di putaran final.

—-o0o—-

Heechul melirik jam tangannya. Sekarang waktu menunjukkan tepat pukul delapan malam. Ia melirik ke arah panggung yang sudah siap untuk menampilkan baju hasil rancangan para peserta lomba. Akhirnya, acara dimulai setelah kasak-kusuk penonton yang tidak sabar menggaung memenuhi ruangan. Seorang MC naik ke atas panggung dan memulai kata sambutannya.

“Lama sekali, mulai saja langsung,” cibir Heechul yang sudah tidak sabar lagi. Ia lebih mencemaskan kondisi istrinya saat ini. Sudah hampir seharian ia tidak melihat Young Jae. Ia tidak tahu apakah istrinya itu baik-baik saja selama mengikuti lomba, apakah Young Jae memakan bekal yang dibawanya sampai habis? Heechul tidak bisa duduk dengan tenang sekarang. Ia semakin didera kekhawatiran mengingat Young Jae sedang hamil muda. Lelah sedikit saja itu bisa mengganggu janin yang dikandungnya. Ia berharap Young Jae tidak memaksakan diri. Seandainya dia tidak masuk babak final pun, Heechul akan tetap gembira karena dengan begitu Young Jae tidak perlu kelelahan mengikuti lomba lagi.

Heechul tidak mempedulikan ucapan MC itu dan sekarang tanpa terasa masuk ke acara inti. Ia menegakkan duduknya saat model yang memakai baju peserta pertama berjalan di atas catwalk. Para Juri mengamatinya baik-baik untuk memberikan penilaian. Heechul bertanya-tanya yang mana busana rancangan istrinya.

“yah, tidak terasa tiba saatnya untuk juri mengumumkan hasil penilaiannya, siapa saja peserta yang lolos masuk ke babak final untuk memperebutkan satu tiket pesawat menuju rumah mode terkenal di Italia!!!!” MC berteriak heboh ketika acara mulai memasuki babak akhir. Heechul mencibir kembali mengatai MC yang menurutnya sudah membuang-buang waktu terlalu banyak. Tapi sepertinya hanya dirinya sendiri yang tidak bahagia di ruangan itu. Penonton lain bersorak-sorai menyemangati peserta favorit mereka.

“Baiklah, kita sambut para peserta lomba kita beserta busana rancangan mereka!!”

“Young Jae..” lirih Heechul senang karena ia melihat Young Jae memasuki panggung bersama seorang model wanita yang memakai hasil rancangannya. Setelah beberapa jam lamanya ia duduk di sana dengan wajah ditekuk, akhirnya malam ini Heechul bisa tersenyum lega setelah melihat istrinya baik-baik saja. Malah bisa tersenyum ceria seperti itu.

Juri mulai memberikan pengumuman untuk siapa saja yang lolos ke tahap final. Heechul sadar dirinya ikut menegang ketika menatap wajah tegang Young Jae. Apapun yang terjadi semoga menjadi hal terbaik yang diterima Young Jae nanti. batin Heechul berdoa.

“Peserta pertama yang lolos peserta dengan nomor urut..” ucap Choi Ma Joon sang ketua dewan Juri, “Tujuh.”

Riuh rendah tepuk tangan terdengar memenuhi penjuru ruangan. Young Jae terkesiap ternyata itu adalah nomor urut In Hee. Sementara nomor urutnya adalah 13. Ah, kenapa harus angka 13? Bukankah itu angka sial? Juri terus menyebutkan peserta-peserta yang lolos hingga akhirnya hanya tersisa satu kesempatan lagi. Suasana semakin menegang, Heechul tak henti-hentinya berkomat-kamit entah mengucapkan jampi-jampi tertentu atau pun doa.

“Peserta terakhir yang lolos adalah..” juri itu diam sejenak. Doa Young Jae terucap semakin kencang dan intents, ia ingin sekali lolos dalam lomba ini.

“Tiga.” Ucap Juri membuat Young Jae membelalakkan matanya. Begitu pun Heechul. Ia tidak lolos. Ia tidak lolos. Kata-kata itu terus berputar di dalam kepalanya. Ia hampir menangis ketika suara juri terdengar lagi.

“Tiga belas. Peserta yang terakhir lolos adalah peserta dengan nomor urut tiga belas.”

Apa?????? Young Jae kembali membelalakkan mata. Ia ingin sekali berteriak kencang saat ini, terlebih ketika semua perhatian tertuju padanya dan lampu sorot menghujaninya membuat ia menjadi pusat perhatian. Heechul yang terlalu gembira sampai berseru heboh dan tepuk tangan langsung membahana. Young Jae langsung berdiri bersama empat peserta lain yang berdiri di depan dengan wajah gembira, meninggalkan peserta lain yang berwajah sedih di belakang.

“Selamat kepada para peserta yang lolos. Rancangan kalian memenuhi tema lomba ini. Kalian akan kembali berkompetisi di babak final yang akan dilangsungkan minggu depan. Manfaatkanlah waktu senggang kalian dengan berlatih karena kompetisi di babak final lebih sulit dibandingkan babak semifinal.” Ucap Michelle Lee mengakhiri lomba hari itu.

Young Jae langsung mengedarkan pandangannya ke arah bangku penonton untuk mencari sosok suaminya. Ia tidak sabar ingin sekali membagi kegembiraan yang dirasakannya. Begitu ia menemukan Heechul berdiri di deretan pertama di sebelah sisi kanan panggung. Tanpa menunggu waktu lagi ia berlari turun dari dari panggung, sedikit berlari menghampiri suaminya.

“Jangan berlari,” tegur Heechul takut mengingat Young Jae sedang hamil muda. Namun Young Jae tidak mendengarkan karena detik berikutnya ia sudah mendaratkan diri dalam pelukan Heechul. Pria itu refleks membalas pelukannya. Dengan penuh perasaan gembira dia meluapkan isi hatinya.

“Aku berhasil lolos, Oppa. Aku berhasil..!!”

Heechul berusaha agar tidak mengeluh karena Young Jae memeluknya terlalu erat terlebih karena sebagian besar penonton di sana memperhatikan mereka. Ia hanya bisa membalas pelukan Young Jae dengan membelai rambutnya.

“Iya. Selamat untukmu,” Heechul tersenyum di balik tubuh Young Jae. Ia mengecup pelipisnya sekali sebagai bentuk dari rasa bangganya.

In Hee mencibir melihat Heechul berpelukan dengan Young Jae di tempat umum, tepat di hadapannya. Ia mencoba untuk tidak peduli, tapi tetap saja perhatiannya selalu kembali mengarah pada mereka.

“Kim Heechul, kupastikan senyummu itu tidak akan bertahan lama.” tekadnya bulat.

—o0o—

“Aku akan mentraktirmu makan malam, kau ingin makan apa?” Heechul bertanya sambil melirik sekilas Young Jae yang duduk di sampingnya. Mereka sekarang sedang berada di dalam mobil yang melintas bersama ratusan mobil lainnya di jalan raya.

Young Jae tidak perlu berpikir untuk menjawab makanan apa yang ingin disantapnya sekarang, “Aku ingin tteokbokki.”

“Haaahhh??” seru Heechul malas dan pasrah. “Lagi? Tidak bisakah kau meminta makanan lain?”

Young Jae menggeleng. “Aku ingin makan itu. Ya, ya…” rayunya sambil mengguncang lengan suaminya.

“Baiklah,” Heechul dengan berat hati membelokkan mobilnya dan ia mencari rumah makan yang menjajakan makanan yang mendadak menjadi favorit Young Jae sejak hamil.

“Selamat makan!!” Young Jae berseru dan beberapa detik kemudian satu tteok sudah masuk ke dalam mulutnya. Mereka kini menikmati makanan itu di sebuah kedai pinggir jalan yang lumayan banyak dikunjungi orang. Tteokbokki di sini terkenal lezat, itulah alasan yang membuat warung tenda sederhana ini dipenuhi pengunjung.

“Ah, mashita!!”

Baru sekitar dua menit Heechul tidak memperhatikan Young Jae karena sibuk berbicara di telepon dengan kliennya, satu piring tteok sudah habis dimakan istrinya itu.

“Wow, kau kelaparan?” tanya Heechul takjub. Young Jae mengangguk dengan mulut penuh saus merah. Heechul menghapus saus di bibir Young Jae dengan ibu jarinya. Ia heran bagaimana bisa wanita dewasa makan seperti bayi. Young tersipu selama beberapa saat sebelum menoleh pada Ahjumma penjual tteok.

“Ahjumma, satu porsi lagi. Tteokbokki buatanmu sangaaat lezat,” seru Young Jae sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian.

“Young Jae, turunkan tanganmu…” bisik Heechul menahan malu. Ia berusaha menurunkan tangan Young Jae yang mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi untuk Ahjumma yang sedang mengolah makanan di depan sana.

“Wah, sepertinya kau sangat menyukai kue beras.” Ucap Ahjumma ramah sambil meletakkan sepiring kue beras di meja Young Jae. “Makan malam bersama suami?” tanyanya sambil melirik Heechul.

“Ya, dia sedang mengidam dan satu-satunya makanan yang dia minta hanya kue beras.” Sindir Heechul senang. Young Jae hanya meleletkan lidah lalu menyuapkan kembali tteok ke mulutnya.

“Ah, manis sekali. Kalau begitu aku berikan satu porsi lagi gratis.” Ahjumma penjual itu terlihat senang sekali begitu tahu Young Jae sedang hamil. Dengan senang hati dia memberikan Young Jae satu porsi tteok sampai perutnya kekenyangan.

—o0o—

“Ah, kenyang sekali!” Young Jae berteriak senang sambil menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Heechul hanya menggelengkan kepala mendengarnya.

“Wajar saja. Kau menghabiskan lima porsi tteok sendirian.”

“Kau sendiri tadi tidak makan apapun, hanya meminum soju saja.” balas Young Jae.

“Melihatmu makan dengan lahap saja aku sudah kenyang,” ucap Heechul santai sambil mengganti pakaiannya. Young Jae menoleh padanya lalu terkikik geli.

“Dasar penggombal! Mana mungkin hanya melihat wajahku saja perutmu sudah kenyang.” Ucapnya seraya mendudukkan diri. Heechul menghela nafas lalu duduk di samping Young Jae.

“Bukankah kau memang ingin aku bersikap seperti ini? Kau bilang tidak suka padaku yang tidak pernah memujimu,” Heechul mencubit pipi Young Jae gemas. Pandangannya lalu turun pada pakaian yang dikenakan Young Jae. “Sebaiknya kau ganti baju. Ini sudah larut dan ibu hamil tidak boleh tidur terlalu malam. Kasihan anak kita di dalam sini,” ucapnya seraya mengusap perut Young Jae lembut, menimbulkan rona merah di kedua pipi istrinya.

“Kalau begitu gantikan bajuku,” Young Jae mulai bermanja-manja pada Heechul lagi, entah ini karena bawaan bayi atau memang sifat manjanya sedang kambuh yang pasti Heechul tidak mengeluh atau menolak permintaan istrinya sama sekali.

“Baiklah,” jawab pria itu pelan lalu bangkit. Heechul membuka pintu lemari lalu mengambil piyama sutera berwarna merah muda setelah itu kembali duduk di samping Young Jae.

Young Jae membiarkan tangan Heechul bekerja dengan baik melepas pakaiannya lalu memakaikan piyama itu dengan tekun. Yang dilakukan olehnya hanya menatapnya dari jarak yang sangat dekat. Jantungnya memompa darah ke seluruh tubuh dengan sangat cepat, membuat jalan pikirannya sedikit terganggu. Karena itu ketika pandangannya jatuh ke pipi putih Heechul yang ada tepat di depannya, Young Jae tidak bisa menahan diri lagi. Bibirnya bergerak sendiri mengecup pipi Heechul dengan gerakan cepat. Pria itu mengerjap kaget saat merasakan kecupan kilat di pipinya.

 

“Hah?” Young Jae menutup mulutnya dengan kedua tangan menyadari keagresifannya.
“Hei..” Heechul menatapnya dengan mata menyipit gemas. “Beginikah caramu mencium suamimu sendiri? Mencuri saat dirinya lengah?”

Young Jae menundukkan kepalanya malu, malu sekali. “Maaf, ini mungkin bawaan bayi,” kilahnya gugup. Ia terlalu malu untuk menatap wajah suaminya lantas membaringkan diri dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Heechul ingin tertawa kencang namun ditahannya mati-matian karena ia tahu Young Jae lebih sensitif semenjak hamil. Ia lebih baik membalas sikap merajuk istrinya dengan sikap manis.

“Youngie..” rayu Heechul ikut berbaring di samping Young Jae.
“Sejak kapan kau memanggilku ‘Youngie’..?” ujar Young Jae dari balik selimutnya.

“Sejak kapan juga kau jadi pemalu seperti ini?” Heechul memeluknya erat. Ia ikut bergelung di balik selimut bersama Young Jae. “Tentu saja kau boleh menciumku kapan saja kalau kau mau,” Heechul malah menggoda Young Jae. Alhasil seluruh permukaan kulit gadis itu memerah malu.

“Berhenti menggodaku Kim Heechul!!”

“Seharusnya kau menciumku di tempat yang tepat, ayo cium aku di sini,” Heechul menyentuhkan jari Young Jae pada bibirnya.

“Hentikan..!!” erang Young Jae dengan wajah semakin merona merah. Kali ini Heechul tertawa puas. Hobinya menjahili orang rupanya belum hilang.

“Arro, aku akan berhenti sekarang.” Heechul memeluk Young Jae erat lalu mengecup pipinya. Young Jae membelalakkan mata ketika pipinya disapa ciuman lembut.

“Kalau aku yang menciummu, kau tentu tidak akan malu lagi bukan?” suara lirih Heechul terdengar di telinganya, membuat desiran-desiran menyenangkan menjalari aliran darahnya.

“Oppa,” gumamnya dengan suara kaku.
“Apa?”
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Em.”

Young Jae membalikkan tubuhnya menghadap Heechul. Menatap lurus pria itu dengan sorot mata cemas.

“Soal perjanjian kita, apakah bisa kita membatalkannya?”

Kening Heechul mengerut mendengarnya, “Janji yang mana? Ah..” desahnya ketika ingat. “Maksudmu perjanjian awal kita tentang pernikahan ini?”

Young Jae mengangguk cepat. “Ne. Itu. Apa kau benar-benar berniat menceraikanku ketika anniversarry kita yang pertama?” tanyanya ragu dan takut. Tiba-tiba Heechul tergelak mendengarnya. Young Jae yang tidak paham dimana letak kelucuan dari topik pembicaraan ini bangkit. Ia menatap Heechul bingung dan marah.

“Apanya yang lucu?” serobotnya. Heechul menghentikan tawanya sejenak lalu ikut bangkit.

“Kau ini lucu sekali. Memang kapan kita menikah sampai mengatakan hari anniversarry yang pertama?”

Young Jae terperanjat sadar mendengarnya. Memang benar, mereka tidak pernah mengadakan resepsi pernikahan ataupun upacara pemberkatan. Pernikahan mereka tak lebih dari sekedar tandatangan di atas kertas bermaterai. Hanya sah secara hukum negara saja.

“Waeyo?” Heechul menggenggam tangan Young Jae yang mendadak murung. Sepertinya ia salah berucap tadi.

“Kau benar Oppa, kita tidak pernah menikah,” lirihnya sedih. Airmatanya membendung di pelupuk mata secara mendadak. “Kita bahkan tidak pernah berucap janji sehidup semati di depan altar.”

“Hei, hei..” Heechul kalang kabut menghapus airmata Young Jae yang tiba-tiba saja merebak jatuh. Ia tidak bermaksud membuat istrinya ini menangis, tidak ada niat sama sekali.

“Lalu bagaimana dengan anak kita jika kita berpisah setelah perjanjian itu habis..huweeeee..” tangisan Young Jae benar-benar meledak malam itu. Heechul panik. Serta merta ia menarik Young Jae ke pelukannya untuk membuatnya tenang.

“Young Jae..” lirihnya, “Aku berjanji tidak akan menceraikanmu meskipun perjanjian itu berakhir.” Ia lalu melepaskan pelukannya, menghapus airmata di pipi Young Jae sambil menatapnya lembut. “Setelahnya, kita bisa merayakan hari jadi kita yang pertama. Yah, kau benar. Kita anggap hari dimana kau masuk ke rumah ini sebagai hari pernikahan kita.”

Berangsur-angsur tangisan Young Jae mereda mendengarnya. Kini yang tersisa tinggal isak tangis pelan dan jejak airmata di pipi saja. “Kau berjanji?”

“Em,” Heechul mengangguk yakin. “Kau tidak perlu cemas, chagi,” ucapnya seraya menghapus airmata istrinya. “Lagipula orang tuaku akan memukulku sampai pingsan jika sampai menceraikanmu. Terutama ibuku, dia pasti akan terkena serangan jantung jika aku melakukannya. Dia sangat menantikan cucunya lahir, kau tahu? Akhirnya setelah Minki keluarga Kim mendapat cucu lagi. Betapa bahagianya orang tuaku menantikan itu.”

“Oppa!!” Young Jae sangat terharu lantas memeluk erat suaminya. “Aku senang sekali mendengarnya. Kau pria terbaik yang dipilihkan Eomma untukku.”

Heechul tertawa pelan mendengarnya, “Mungkin aku memang satu-satunya pria yang pernah mendekatimu.”

“Ne, kau benar untuk itu.” Young Jae tidak peduli lagi dengan apapun yang diucapkan suaminya. Entah itu bertujuan untuk menyindirnya atau memujinya, ia tidak peduli karena sekarang hatinya terasa begiut lega dan lapang.

“Kalau begitu bolehkah aku tahu apa yang terjadi antara dirimu dan In Hee?”

Senyum Heechul hilang sama sekali begitu mendengarnya. “Kenapa kau ingin tahu soal In Hee?” tanyanya dingin. Young Jae menjauhkan wajahnya agar bisa menatap Heechul lekat.

“Hubungan kalian terlihat mencurigakan. Kau juga selalu menghindarinya setiap kali kalian bertemu. Apa terjadi sesuatu di masa lalu?”

Heechul terdiam selama beberapa saat karena kini Young Jae menatapnya penasaran. Yeoja ini benar- benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.

“Dengar,” Heechul menghela nafas. Setelah berdebat dengan hatinya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk menceritakannya pada Young Jae.

“In Hee adalah salah satu kencan butaku sebelum Eomma memutuskan menyuruhku menikah—di atas kertas.”

Young Jae melebarkan mata. Ia tak tahu sama sekali kalau suaminya pernah mengikuti kencan buta di masa lalu.

“Kuakui dia sangat cantik dan sesuai dengan tipe idealku. Tapi, setelah kami berbincang lama aku menemukan banyak sekali ketidak cocokan. Aku sudah berkata baik-baik bahwa aku tidak tertarik padanya dan meminta kencan buta itu di akhiri. In Hee tidak terima dan dia terus merecokiku selama beberapa waktu sampai aku seperti diteror rasanya. Beruntung Eomma segera menawarkan pernikahan padaku. Karena itu, lebih baik aku menerimanya dibandingkan harus menghadapi In Hee. Dia benar-benar wanita yang mengerikan.” Jelas Heechul panjang lebar sambil bergidig ngeri. Ia melirik Young Jae yang melongo menatapnya. Hatinya bertanya-tanya apakah Young Jae terkejut dengan ceritanya atau justru takjub.

“Young Jae..” Heechul mengguncang halus bahunya. Gadis itu mengerjapkan mata tersadar. “hah?”

“Jadi, kau percaya dengan kata-kataku?” tanya Heechul hati-hati. Young Jae sejujurnya simpati mendengar cerita suaminya. Suaminya ini tidak salah. Wanita itulah yang bermasalah, benar. Young Jae tersenyum kemudian, membuat Heechul mendesah lega.

“Aku percaya padamu.”

Good. Kalau begitu kita bisa tidur sekarang?” senyum Heechul menular pada Young Jae, hati gadis itu berbunga dan kepalanya mengangguk antusias. Detik berikutnya, mereka sudah berbaring bersama dan terjun ke alam mimpi beberapa saat kemudian.

..To Be Continued..

163 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 11)

  1. dasar wanita jalang udsh di tolak mentah2 ama chullie oppa ttep aja kekeh!! udah tau udah punya istri! ayo dong nikah secara agama kasian bayi mu oppa

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s