I Hate You, But.. (Part 10-B)

Tittle : I Hate You, But.. Part 10-B
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life, Complicated
Length : Chaptered
Find me on : @julianingati23

Main Cast :

  • Choi Siwon
  • Kim Soeun

 

Happy Reading ^_^

I Hate You, But 3 by Dha Khanzaki

====Part 10-B====

*Flashback*

“Chagi, lihat putri kecil kita tertawa..”

Dong Woo begitu menikmati perannya sebagai seorang Ayah. Sore itu ia menggantikan peran Na Eun yang sedang sibuk menyiapkan makan malam. Dengan suka cita ia mengajak bayi mereka bermain di pangkuannya.

“Anak manis, senang main bersama Appa?” tanya Na Eun setelah duduk di samping suaminya. Bayi yang mereka beri nama So Eun itu menangis merasakan kehadiran ibunya.

“Oh tidak, sepertinya dia merindukanmu.” Dong Woo memberikan So Eun kecil pada istrinya. Na Eun tahu putrinya itu pasti lapar. Ia segera memberinya asi dan membiarkan anaknya tidur lelap setelahnya. Mereka berdua tertawa melihat So Eun cilik menggeliat di sela tidurnya. Na Eun menolehkan pandangannya pada Dong Woo, wajahnya sama bahagianya. Ya, kehidupan pernikahannya memang lebih bahagia pasca kelahiran So Eun.

Tangan Dong Woo terulur mengelus pipi Na Eun dengan punggung tangannya. Sorot mata pria itu berbinar kala menatap Na Eun, sanggup membuat pipi wanita yang ditatapnya merona malu.

“Aku merasa sangat bersalah padamu karena dahulu aku membuatmu menderita,” lirih Dong Woo penuh penyesalan. Na Eun lekas menggeleng dengan senyum merekah di bibir berusaha melenyapkan kekhawatiran dari wajah pria yang dicintainya. Ia menggenggam lembut tangan Dong Woo.

“Tak perlu dipikirkan lagi. Masa lalu yang pahit sudah lama kulupakan karena itu kuharap kau juga bisa melakukan hal yang sama,” ungkapnya. Dong Woo merasa begitu senang dan beruntung. Entah apa yang terjadi padanya jika ia tidak memiliki Na Eun di saat-saat paling putus asa baginya. Mungkin ia sudah bunuh diri setelah mendengar Soohae menikah dengan pria lain.

“Saranghae,” bisiknya lalu mengecup tangan Na Eun yang menggenggam tangannya. Tanpa ragu ia menarik pinggang istrinya mendekat lalu mendaratkan kecupan hangat di bibir Na Eun. Ini kecupan penuh cinta karena Na Eun bisa merasakannya dengan jelas. Oleh karena itu ia menyambutnya dengan gembira karena ciuman ini seolah menegaskan padanya bahwa Dong Woo miliknya seutuhnya.

Ketika Na Eun merasa kebahagiaannya sudah mencapai puncak, suara ketukan pintu yang terdengar bertubi-tubi kembali membuatnya tertarik ke dunia nyata. Ia memandang Dong Woo sejenak dengan pandangan heran.

“Siapa yang datang?”

“Entahlah. Tunggu, aku akan membukanya.” Dong Woo pergi untuk melihat siapa orang yang mengetuk pintu rumahnya dengan brutal. Apa orang itu tidak tahu cara yang sopan untuk bertamu ke rumah orang lain?
Dong Woo membuka pintu dan alangkah terkejutnya ketika ia mendapati sosok yang dikenalinya berdiri di sana.

“Jung Shik Hyung,” Dong Woo melebarkan matanya. Ia tidak mungkin melupakan wajah kakak laki-laki Soohae. Namun yang membuatnya sangat terkejut adalah alasan pria itu berkunjung ke rumahnya. Terlebih karena eksprei Jung Shik sekarang terlihat tidak bersahabat. “Ada perlu apa kemari?” ia juga heran karena Jung Shik datang bersama dua orang pria berseragam polisi.

Jung Shik tidak menjawab, dia justru memandang polisi yang berdiri di kedua sisi tubuhnya lalu mengangguk. Salah seorang polisi maju selangkah menimbulkan kecurigaan bagi Dong Woo. Ada apa sebenarnya?

“Apa kau pria yang bernama Kim Dong Woo?”

“Ya.” Tepat setelah mengatakannya tiba-tiba saja polisi itu memborogol kedua tangannya. Dong Woo terperanjat kaget.

“Anda kami tahan. Ikut kami ke kantor polisi.”

Dong Woo membulatkan matanya. Ia tidak mengerti sama sekali dengan semua ini. Memang kesalahan apa yang sudah diperbuatnya sampai polisi ini menahannya?

“Hyung, ada apa sebenarnya?” Dong Woo melayangkan pertanyaan dengan panik dan bingung pada Jung Shik. Pria itu menatapnya sengit.

“Diamlah. Kau akan tahu setelah tiba di kantor polisi nanti.”

“Tunggu dulu!! aku harus tahu apa alasan kalian menangkapku!!!” Dong Woo berteriak panik saat kedua polisi itu mengereknya ke dalam mobil polisi.

“Dong Woo Oppa!!!” Na Eun tercengang melihat suaminya dibawa paksa ke kantor polisi tanpa tahu apa kesalahannya. Ia segera menghubungi pengacara pribadi suaminya untuk meminta bantuan.

—o0o—

Dong Woo tidak mengerti sama sekali apa kesalahannya hingga Jung Shik tega melaporkannya ke polisi. Kini ia duduk di sebuah ruangan privat. Kedua tangannya masih diborgol dan otaknya terus mencari kira-kira kesalahan apa yang membuatnya berada di tempat ini.

Pintu terbuka, masuklah Jung Shik bersama dengan seorang polisi dan dua orang pria dengan seragam yang berbeda. Dong Woo yakin mereka adalah seorang pengacara dan dokter jika dilihat dari seragam yang dikenakannya. Tapi untuk apa seorang dokter juga berada di sana?

“Hyung, katakan apa kesalahanku?” Dong Woo tanpa ragu bertanya pada Jung Shik. Ia merasa tidak melakuan kesalahan apapun. Ia mengerjap karena tiba-tiba ia teringat pada Soohae, “Apa terjadi sesuatu pada Soohae?”

Barulah saat nama Soohae disebut, Jung Shik menatap tajam dirinya. Dong Woo yakin, penangkapannya pasti berhubungan erat dengan Soohae.

“Kau bajingan tengik! Kau sudah memberikan harapan palsu pada adikku dan kau mencampakkannya?!!”

Dong Woo mengerjap, “Apa terjadi sesuatu pada Soohae?” cecarnya buru-buru. Mendadak ia didera rasa cemas yang berlebihan. Jika ia sampai diseret ke polisi itu artinya memang terjadi hal yang gawat pada Soohae.

Jung Shik terlihat semakin suram dan wajahnya begitu mendung. Pria itu menundukkan dalam kepalanya sebelum akhirnya meneteskan airmata.

“Soohae meninggal dunia pagi ini,”

“Apa?!” Dong Woo merasa dunianya berhenti mendengar berita mencengangkan itu. Otaknya mendadak kosong. Soohae sudah meninggal, gadis yang dicintainya meninggal dunia? Tidak, itu tidak mungkin!!

“Mustahil..” lirihnya. Mendadak tenggorokannya terasa seperti tercekik, alhasil matanya mengabur. Pandangan matanya begitu penuh dengan kenangan indah bersama Soohae.

“Kenapa? Kenapa dia meninggal? Bagaimana bisa?!”

Jung Shik benar-benar kalap mendengar Dong Woo masih bisa mengajukan pertanyaan. Tidak adakah ras penyesalan dalam dirinya setelah mendengar berita kematian Soohae? Jung Shik yang sudah dikuasai emosi mencengkram baju Dong Woo seraya menariknya berdiri.

“KAU BEDEBAH BUSUK!! KAULAH YANG MEMBUAT ADIKKU BUNUH DIRI DENGAN OBAT PENENANG!! KAU YANG SUDAH MENGHANCURKAN HARAPAN DENGAN MENGKHIANATINYA!!” Jung Shik rasanya ingin sekali membunuh Dong Woo detik ini juga. Ia begitu syok ketika membuka pintu kamar adiknya pagi tadi, Soohae ditemukan sudah tidak bernyawa lagi di tempat tidurnya. Ia yakin alasan adiknya mengakhiri hidupnya karena pria ini.

Polisi langsung menarik cengkraman tangan Jung Shik setelah melihat Dong Woo kesulitan bernapas.

“Tenanglah tuan, kita bisa selesaikan semua ini dengan pikiran dingin,” ucapnya.

Dong Woo kembali duduk di kursinya dengan napas tersengal. Ia melihat Jung Shik duduk lunglai di kursi yang lain dengan ekspresi yang menyayat hati. Pria itu jelas terpukul karena kematian Soohae. Sesungguhnya bukan hanya dirinya, Dong Woo pun merasa sangat terpukul. Hampir dua tahun tidak ada kabar mengenai Soohae dan kini ia harus mendengar kabar buruk yang membekukan sekujur tubuhnya?

Dengan hati tak menentu Dong Woo mendengarkan kisah yang diceritakan oleh pengacara Lee Jung Shik sementara pria itu sedang menenangkan diri di sudut ruangan. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi setelah mendengar kronologis kematian Soohae. Ia terlalu kaget dan merasa amat bersalah.

Pengacara itu berkata bahwa Soohae kemungkinan bunuh diri karena depresi yang berkepanjangan. Pernyataan itu diperkuat oleh dokter yang memberikan bukti ditemukannya obat penenang dengan dosis tinggi dalam lambung Soohae sehingga dokter menyimpulkan bahwa Soohae sengaja mengkonsumsinya untuk mengakhiri hidup.

“Kami menemukan secarik surat ini di bawah bantalnya. Aku yakin ini ditujukan untukmu,” Pengacara itu menyerahkan secarik surat pada Dong Woo yang langsung diterima olehnya dengan tangan bergetar.

Aku akan beristirahat dengan tenang, terima kasih sudah mencintaiku Kim Dong Woo.

Airmata mengalir dengan sendirinya setelah membaca kalimat yang tertera di atas kerta. Dari tulisan tangan Soohae ia seolah bisa merasakan betapa menderita dan tertekannya Soohae saat menuliskan kalimat ini. Ia bahkan bisa melihat jejak tetesan airmata di permukaan kertas itu. Astaga, apa yang ia lakukan? Bagaimanapun kematian Soohae karena ulahnya.

“Maafkan aku Soohae..seandainya aku mencarimu..” lirihnya menyesal. “Aku kira kau sudah bahagia dengan pria lain. Aku mendengarnya dari salah satu temanku, kau sudah menikah dan memiliki anak..”

“Aku memang sudah menyuruh Soohae menikah!” sela Jung Shik. Dong Woo menoleh padanya. “Namun dia menolak karena tidak bisa melupakanmu!” Jung Shik kembali duduk untuk menenangkan emosinya.

Mendengar hal itu Dong Woo semakin terpuruk. Ternyata gosip Soohae menikah adalah kabar burung semata? Jadi Soohae tidak pernah menikah? Oh bodohnya ia.. bodoh, bodoh, bodoh! Jika ia tahu ini lebih awal, mungkin saja ia bisa menemui gadis itu dan menghentikan penderitaannya.

“Alasan sebenarnya Soohae menolak menikah saat itu adalah ini..”

Pengacara itu dengan tenang kembali menyerahkan sesuatu pada Dong Woo yang sedang kacau balau. Kali ini bukanlah secarik surat, namun selembar foto. Dong Woo terkesiap melihat seorang anak laki-laki berusia kira-kira dua tahun digendong oleh Soohae. Jantungnya mendadak berdebar.

“Mungkinkah..” Dong Woo menatap pengacara di depannya dengan raut penasaran sekaligus takut. Tahu maksud pertanyaan Dong Woo, pengacara itu mengangguk.

“Dia adalah Donghae, anakmu dan Soohae.”

Dong Woo merasa hatinya mencelos jatuh. Pertama kali melihatnya saja ia sudah bisa merasakannya. Garis wajah anak ini mirip sekali dengan Soohae dan dirinya. Ia yakin sekali ini anaknya. Mungkinkah ini anak yang lahir karena kejadian malam itu sebelum pernikahannya dengan Na Eun? Oh, betapa bejatnya ia. Bagaimana bisa ia membiarkan Soohae melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri? Laki-laki macam apa dia?

“Maafkan aku Soohae..maafkan..” Dong Woo mencengkeram rambutnya frustasi. Ia sedih sekali, dan menyesal dengan ulah bodohnya di masa lalu.

“Karena ulah tidak berperikemanusiaanmu, adikku menjadi korbannya. Kau sudah berjanji akan menikahinya, lalu kau menghamilinya namun di akhir kau justru mengkhianatinya. Aku sudah meminta Soohae untuk menagih pertanggung jawabanmu ketika anaknya lahir namun ia tidak tega melakukannya karena ia melihat kau sangat bahagia dengan kehamilan istrimu. Seandainya saat itu aku memaksa Soohae, mungkin dia…” Jung Shik mencengkram erat tangannya sendiri. Ia pun sangat menyesali dirinya yang tidak bisa bertindak tegas terhadap masalah Soohae.

“Aku tahu.. karena itu maafkan aku..” Dong Woo bangkit lalu berlutut di hadapan Jung Shik. “Aku bersalah pada Soohae..aku bersalah padanya..”

“Bagaimana mungkin kau kumaafkan setelah semua ini terjadi? Kau harus dipenjara karena ulah bejatmu!!” setelah mengatakannya Jung Shik bangkit berniat meninggalkan ruangan.

“Tunggu dulu! Izinkan aku bertemu dengan Donghae..biarkan aku melihatnya!!!” teriak Dong Woo namun Jung Shik tampak tuli. Dengan hati dingin pria itu keluar meninggalkannya yang frustasi seorang diri. Dong Woo merasa dirinya begitu buruk. Ia terpuruk sendirian di ruangan itu. Menyesali semua kesalahannya pada Soohae.

Aku memang pria busuk. Aku mengingkari janjiku sendiri pada Soohae, membuatnya menderita dan memutuskan untuk bunuh diri. Aku patut menerima hukuman dipenjara seumur hidup.

—o0o—

Na Eun sudah melakukan hal apapun yang dia bisa untuk mengeluarkan suaminya dari penjara termasuk bernegosiasi dengan pihak Jung Shik. Namun keluarga Lee Jung Shik tetap bersikukuh untuk membawa kasus ini ke meja hijau.

Hari itu, Na Eun duduk mendampingi Dong Woo sebelum persidangan di mulai. Ia merasa menyesal dan hatinya perih melihat suaminya begitu kurus dan pucat. Jelas sekali penjara dan masalah ini membuatnya terpuruk. Ia sudah mendengar semuanya. Ia memang terkejut saat tahu Soohae tewas bunuh diri dan meninggalkan seorang anak laki-laki, anak Soohae dan Dong Woo. Na Eun tidak bisa menyalahkan suaminya begitu saja. Dong Woo sudah cukup mendapatkan hukumannya. Ia tahu suaminya sangat menyesali kejadian ini.

“Sidang akan dimulai, kau silakan masuk,” ucap salah seorang opsir polisi. Na Eun membantu suaminya bangkit. Sebelum masuk ruangan, mereka berdua berpapasan dengan Jung Shik dan istrinya yang menggendong seorang balita laki-laki. Sekali saja Dong Woo sudah tahu itu adalah putranya dan Soohae. Ia tersenyum, untuk pertama kalinya setelah diseret ke kantor polisi seminggu yang lalu.

“Donghae..” lirihnya bahagia. Matanya memandang penuh kerinduan bayi itu. Lihat wajahnya, benar-benar mengingatkannya pada Soohae. Ia ingin menyentuhnya namun ditepis cepat oleh Lee Jung Shik.

“Dia tidak pantas kau sentuh.” Desisnya tajam. Dong Woo tahu hal itu, karenanya saat mereka memasuki ruangan, ia hanya bisa menatap Donghae kecil dari jauh.

“Oppa, kau tenang saja. aku pasti akan menolongmu,” bisik Na Eun seraya menggenggam tangannya sebelum membiarkan pria itu duduk di kursi yang disediakan untuknya. Dong Woo mengangguk. Ia mengecup kening istrinya singkat lalu pergi.

Persidangan berlangsung dengan sengit. Dong Woo hanya duduk termenung di tempatnya dengan pikiran mengelana. Soohae, kenapa kau pergi? Soohae, kenapa kau tidak mencariku? Soohae,kenapa kau membiarkan anak kita lahir tanpa didampingi ayahnya? Soohae, kenapa kau memutuskan mengakhiri hidup? Soohae, apakah kau membenciku? Dan banyak pertanyaan lain yang berseliweran dalam otaknya. Semua pertanyaan yang tertuju untuk gadis yang dicintainya, yang kini sudah tenang di alam baka. Sungguh tidak ada kata lain yang mampu menggambarkan betapa menyesalnya ia sekarang.

Jika dipenjara seumur hidup adalah ganjaran yang setimpal untuk kesalahannya, ia rela. Namun ia juga memikirkan hal lain. Bagaimana nasib istri dan putrinya, So Eun? Tentu saja mereka pun merasakan sakit yang sama. Terlebih Na Eun. Istrinya itu pasti merasa sangat sakit hati karena secara tidak langsung ia sudah mengkhianatinya. Perhatiannya lalu tertoleh pada Donghae, bayi kecil yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. Bagaimana ia bisa memandang wajah tak berdosa itu dengan segala kesalahan yang sudah dilakukannya pada ibu kandungnya?

Samar-samar ia mendengar suara hakim yang akan menjatuhkan vonis untuknya. “Dengan ini kami menyatakan saudara Kim Dong Woo, tidak bersalah dan dibebaskan dari segala tuntutan..” terdengar ketukan palu tiga kali diiringi oleh suara ribut yang menggaung riuh rendah di ruangan sidang itu. Separuh peserta menentang keras keputusan hakim dan separuh lagi yang merupakan pendukungnya menyerukan rasa syukur. “Sidang ditutup.” Para hakim itu satu persatu pergi meninggalkan ruangan.

Dong Woo hanya terpaku. Ia dibebaskan. Apakah Hakim baru saja mengatakan bahwa ia dibebaskan? Untuk pertama kalinya Dong Woo merasa udara yang dihirupnya begitu ringan dan dadanya terasa sangat lapang. Ia lega, sangat lega. Ia duduk lemas di kursinya merasa sangat tidak bertenaga setelah karena terlalu tegang selama sidang. Ia baru sadar kembali saat pelukan hangat Na Eun menyelubungi tubuhnya.

“Kau bebas, Oppa. Hakim tahu bahwa kau tidak bersalah dalam hal ini,”
Dong Woo tersenyum dengan tangan balas melingkari punggung istrinya.

“Terima kasih sudah membantuku, Na Eun,” ia tidak tahu harus berterima kasih pada siapa lagi. Hanya Na Eun yang 100 persen berada di pihaknya dan memperjuangkan agar ia dibebaskan. Ia mengerjap ketika melihat Jung Shik dan keluarganya bergerak meningalkan ruang sidang. Ia buru-buru melepaskan pelukan Na Eun lalu berjalan cepat menghampiri Jung Shik. Meski ia dibebaskan dari segala tuntutan namun bukan berarti ia bebas dari tanggung jawab. Ada hal yang sangat ingin ia sampaikan pada pria itu.

“Hyung..” panggilnya pada Jung Shik. Pria itu menoleh, masih dengan pandangan tidak bersahabat. Dong Woo menundukkan kepalanya sekilas lalu menoleh pada wajah Donghae yang masih digendong oleh istri Jung Shik.

“Beruntung hakim membebaskanmu. Tapi setelah ini jangan harap kau bisa menyakiti keluarga kami lagi,” ucapnya dengan nada tinggi. Dong Woo membuka lebar mulutnya yang tergagap ingin mengatakan sesuatu. Ia tahu apa ia pantas mengatakan ini namun ia bertekad mengatakannya daripada ia harus menyesal seumur hidup. Dengan segenap keberanian ia kembali menatap Jung Shik, dengan sorot mata tulus dan memohon.

“Hyung, izinkan aku merawat Donghae. Aku berjanji akan membesarkannya dengan baik dan penuh dengan kasih sayang karena itu..”

“KAU PIKIR SIAPA DIRIMU?!!!!”

Dong Woo terkejut dan aliran kata-katanya terhenti mendengar teriakan berang dari mulut Jung Shik. Bahkan Donghae sampai menangis karena terkejut. Buru-buru istri Jung Shik itu menenangkannya. Na Eun yang merasa suaminya mulai terancam mendekat untuk memberinya sedikit keberanian.

“Aku tidak peduli kau ayahnya atau bukan. Sampai mati pun aku tidak akan memberikan Donghae padamu! Dia adalah satu-satunya peninggalan Soohae. Dia akan kubesarkan seperti anakku sendiri dan tidak akan pernah kuberitahu bahwa ayah kandungnya adalah pria brengsek sepertimu. Jangan pernah mencoba mencari tahu tentang Donghae karena mulai detik ini dia adalah anakku!!”

Dong Woo terkejut bukan main mendapat hujatan mengerikan dari Jung Shik. Bahkan sebelum Dong Woo menyuarakan isi hatinya, Jung Shik segera menarik istrinya pergi. Dong Woo menatap nanar putranya yang dibawa pergi oleh Jung Shik.

“Tidak, tunggu Hyung..” Dong Woo hendak mengejarnya namun Na Eun segera memeluk Dong Woo dari belakang.

“Sudahlah Oppa..” desisnya dengan suara tak kalah terluka seperti hati Dong Woo kini. Dong Woo yang sadar bahwa tindakannya sia-sia saja, akhirnya diam menuruti ucapan lirih istrinya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Kini, yang tersisa di hatinya hanyalah penyesalan dan rasa bersalah. Ia sudah membuat wanita yang dicintainya pergi dan menelantarkan putranya.

“Donghae..” lirihnya dengan suara pedih.

“Sudahlah Oppa, jangan bersedih.” Meskipun Na Eun berkata begitu namun pada kenyataannya justru ia yang menangis. Ia bisa merasakan bagaimana terlukanya hati Dong Woo saat ini karena itu ia tidak akan membiarkan suaminya terluka sendirian.

Flash back End

“Sejak saat itu kami tidak pernah membicarakan ataupun menyinggung tentang keluarga Soohae. Kami berdua sepakat untuk menyimpan rahasia ini rapat-rapat termasuk darimu, So Eun..” Eomma memandang putrinya lekat, dengan aimata yang sudah membanjiri pipinya. So Eun tidak tega melihat ibunya menangis, lantas mengusapnya dengan jari-jarinya.

“Eomma harap kau tidak membenci Ayahmu. Ketahuilah, ia sangat menyesal. Menelantarkan Soohae dan putranya adalah penyesalan terbesar seumur hidupnya,”

“Arraseo Eomma, sudah..” So Eun memeluk ibunya erat, berharap pelukan itu bisa sedikit meredakan luka yang menggemuruh bak badai di hati ibunya. Ia tidak tega, sungguh. Setelah mendengar semua ceritanya sekarang ia justru merasa menyesal. Menyesal karena sudah bertanya. Menyesal karena sudah mencurigai Ayahnya yang bukan-bukan. Dalam hati ia terus berucap kata sesal pada mendiang ayahnya, sekaligus menumpahkan rasa simpatinya pada sang Ayah.

Ayah bodoh, kenapa harus menyesal seumur hidup? Jika menyesal Ayah justru menyia-nyiakan cinta Soohae. Gadis itu rela membiarkan dirinya menderita demi kebahagiaanmu. Harusnya Ayah hidup bahagia. Batin So Eun.

Siwon mengerutkan keningnya menatap Donghae sejenak, ingin tahu bagaimana reaksi pria itu. Tak seperti dugaannya, Donghae hanya termangu tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya. Apa pria itu tidak tersentuh mendengar keseluruhan cerita?

Sebenarnya pikiran Siwon salah besar. Donghae justru merasa sangat sedih sampai ia tidak tahu harus berkomentar apa. Perasaannya berkecamuk sementara ingatannya melayang-layang pada momentum saat dirinya pertama kali bertatap muka dengan Ayah So Eun. Entah kenapa ia merasa begitu familiar dengan wajah itu meskipun yakin ia tidak pernah bertemu dengannya. Ia tidak mengerti alasan kenapa Ayah So Eun begitu membencinya meski begitu ia tidak pernah sanggup membenci pria itu.

Namun sekarang ia paham, rasa rindu yang ia rasakan ketika bertemu dengan Ayah So Eun adalah sebuah ikatan kasat mata yang menghubungkan perasaan seorang Ayah pada anaknya, ikatan darah. Sekarang ia paham mengapa ia tidak pernah membenci Ayah So Eun. Karena ia tidak pernah bisa membenci ayah kandungnya. Dan di atas segalanya, ia paham rasa kehilangan yang menyesakkan ketika ia mendengar Ayah So Eun meninggal dunia. Karena ia merasa sangat kehilangan. Entah kenapa sekarang ia merasa sangat menyesal karena tidak menyadari semuanya sejak awal. Jika ia tahu, mungkin segalanya tidak akan seperti ini.

“Ayahmu tidak berniat sama sekali untuk menyakitimu,” suara Eomma kembali terdengar. Kini wanita paruh baya itu kembali menjadi pusat perhatian. So Eun menggenggam tangan ibunya, mencoba menyalurkan kekuatan.

“Dia berjanji tidak akan pernah menyakiti anaknya dan akan menerima siapapun pria yang dicintai olehmu tapi semuanya menjadi berubah ketika kau datang bersama Donghae hari itu. Ayahmu terkejut saat kau memperkenalkan Donghae. tentu saja Ayahmu tidak akan pernah melupakannya. Wajah Donghae benar-benar mengingatkannya pada mendiang Soohae. Ayahmu sempat berpikir mungkin ini hanya kebetulan namun saat Donghae menceritakan keluarganya, terkuak sudah segalanya. Ayahmu tahu Donghae adalah putra kandungnya. Karena itu dia menolak karena sampai kapanpun kalian tidak akan pernah bisa menikah. Kalian terikat hubungan darah..” jelas Eomma dengan suara terputus-putus karena terselingi oleh isak tangis.

“Apa itu alasan mengapa Appa menyuruhku menikah dengan Siwon?” So Eun bertanya hati-hati. Siwon menoleh memandangnya, agak terkejut mengapa So Eun mempertanyakan hal itu. Eomma Siwon mengangguk.

“Ayahmu segera mencari calon suami untukmu agar kau tidak terjerumus pada kesalahan masa lalunya. Meskipun ia tidak tega melakukan ini karena pasti akan membuatmu terluka, namun ia sangat bersyukur memiliki anak penurut sepertimu.”

So Eun menatap Eommanya dalam, “Kenapa Appa tidak menceritakan hal ini dari awal?”

“Appamu tidak bisa melakukannya. Menceritakan tentang Soohae berarti membuka kembali lembaran kelam yang ingin ia hapus dalam hidupnya. Ayahmu sudah cukup tersiksa dengan penyesalan yang dipendamnya selama dua puluh tahun lebih. Bahkan ia sampai menderita penyakit paru-paru karena di dera rasa bersalah yang membuat dadanya sesak. Tolong maafkan Ayahmu, So Eun..”

So Eun lekas memeluk ibunya, “Tentu saja, Eomma. Aku pasti memaafkan Appa.”

Eomma tidak pernah merasa selega ini semenjak suaminya meninggal dunia. Ia merasa begitu lapang setelah beban yang mengungkungnya selama ini. Ia menoleh pada Donghae dan untuk pertama kalinya ia bisa tersenyum ringan pada pria itu.

“Hidup berbahagialah, nak. Kau berhak hidup bahagia. Jangan terlalu terpaku pada masa lalu. Cinta tidak hanya ada di satu tempat saja,”

Donghae balas tersenyum. Bagaimana bisa ia marah setelah mendengar cerita ini. Sudah cukup ia menderita karena tidak bisa melupakan So Eun. Ia tidak mau menyia-nyiakan hidupnya seperti yang dilakukan oleh mendiang ibunya. Eomma So Eun benar, cinta tidak hanya ada di satu tempat. Jika ia tidak bisa mendapatkan cinta So Eun, bukankah tidak ada salahnya jika mencarinya di tempat lain?

“Arraseo,” Donghae menatap ibu So Eun lekat, membuat wanita itu mengerjap karena sorot mata Donghae sungguh membuatnya teringat pada sorot mata suaminya. Entah kenapa ia justru merasa lega karena sorot mata Donghae berhasil membuatnya yakin bahwa suaminya tidak benar-benar pergi meninggalkannya.

===o0o===

So Eun POV

Kami berpamitan pulang meskipun aku sebenarnya tidak tega meninggalkan Eomma sendiri. Aku khawatir Eomma akan menangis setelah ditinggal sendirian.

“Eomma yakin tidak apa-apa?” tanyaku cemas. Eomma memberikan sedikit ulasan senyum di bibirnya, senyum yang ringan dan itu membuat rasa khawatirku menguap. Sepertinya aku terlalu berlebihan memikirkannya.

Kulihat Eomma menoleh pada Donghae, menghampirinya lalu melakukan hal yang membuatku terkejut; Eomma memeluknya. Donghae pun sempat terkejut namun detik berikutnya ia balas memeluk Eomma.

“Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu, nak. Bagaimanapun kau tetap darah daging dari suamiku,” ujar Eomma.

“Terima kasih,” Donghae berkata dengan nada ringan dan saat itu aku tahu benar-benar sadar rupanya begitu banyak kesamaan antara aku dan Donghae Oppa. Sikap kami, cara kami menghadapi masalah, cara kami tersenyum, dan caranya memeluk Eomma. Semuanya sama. Tentu saja, karena kami memiliki ayah yang sama.

Dahulu kupikir aku bisa begitu cocok dengan Donghae karena aku berjodoh dengannya, rupanya aku salah. Aku sadar mulutku menganga jika Siwon tidak segera mengusap pipiku. Aku mengerjapkan mata lantas mengalihkan pandanganku padanya.

“Syukurlah semuanya sudah selesai,” aku tersenyum melihat senyumannya. Lesung pipi yang kusukai terukir kembali di pipinya. Aku balas memeluk Siwon Oppa dengan segenap rasa lega yang kurasa.

“Mulai saat ini, bisakah Oppa berhenti membenci Donghae Oppa? Bagaimana pun dia adalah kandungku.”

“Rasanya tidak ada alasan lagi untuk cemburu padanya,” aku hendak berkata ketika suara Siwon Oppa kembali menginterupsiku, “Sekarang saatnya kau fokus mengurus anak kita.”

Pipiku merona bersamaan dengan itu aku baru ingat bahwa aku belum sempat memberitahu Eomma berita gembira ini. Aku lantas melepaskan pelukan Siwon lalu menghampiri Eomma yang sedang mengobrol ringan dengan Donghae. Eomma begitu senang mendengar berita ini begitupun Donghae. Senyum cerah terpancar di bibir semua orang yang kusayangi setelah beberapa saat lalu kami meneteskan airmata. Aku tersenyum, syukurlah masih ada sejumput kebahagiaan untuk kami di ujung masalah yang akhirnya bisa teruraikan.

===o0o===

Hari-hari berikutnya kulalui dengan perasaan yang lebih ringan. Seolah tidak terjadi masalah apapun, baik aku maupun Siwon sepakat tidak akan membahas lagi cerita tentang Ayahku dan Donghae. Kini aku kembali menikmati peranku sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan untuk suamiku yang sekarang mungkin sedang bersiap-siap pergi ke kantor.

“Choi So Eun, kau tidak perlu memaksakan diri membuat sarapan, sayang. Aku masih bisa membuat sarapan sendiri,” tubuhku tersentak kaget saat sepasang tangan tiba-tiba saja melingkari pinggangku ketika aku sedang menyiapkan sarapan untuknya. Terpaksa kuletakkan kembali waffle yang baru saja kukeluarkan dari alat pemanggang.

“Ini tugasku, tidak perlu merasa sungkan.”

“Tapi kau tidak lupa bukan sekarang kau tidak hidup seorang diri lagi. Kau tidak boleh terlalu lelah, kau harus memikirkan anak kita juga,” tangan yang sedari tadi hanya memeluk perutku kini bergerak mengusapnya. Tanpa disadari pipiku memanas dengan sendirinya.

“Tentu saja aku tidak lupa, Tuan Choi,” ungkapku malu-malu. Sejujurnya aku tidak akan pernah terbiasa dengan sikap romantis suamiku. Dia selalu seperti ini semenjak dokter memberitahukan kehamilanku seminggu yang lalu. Perhatiannya bertambah dua kali lipat. Meskipun aku belum menunjukkan tanda-tanda menderita sindrom ‘mengidam’ seperti kebanyakan wanita hamil lainnya, namun suamiku ini tetap setia memberikan apapun yang kubutuhkan walau aku tidak menyuarakan keinginanku, seperti sekarang ini.

Entah sejak kapan bibirnya yang seksi itu mendarat di tengkukku. Mengecup bagian yang terbuka itu dengan gerakan intens. Aku tidak menggerai rambutku karena akhir-akhir ini aku mudah sekali berkeringat, mungkin itu efek dari kehamilan di trimester pertama. Aku juga tidak bisa bekerja terlalu lama karena cepat lelah karena itu Siwon melarangku pergi bekerja dan semua tugas kantor diambil alih olehnya.

Mataku terpejam menikmati cumbuannya. Bibirku mendesis mengeluarkan desahan halus, membuat geraman Siwon terdengar sadar aku sudah berhasil membangkitkan hasratnya. Dia membalik tubuhku menghadapnya. Dengan mata tajam nan indah dia menatapku. Sejujurnya aku tidak sanggup balas menatapnya karena bagaimana pun, mata itu selalu berhasil membuat debaran jantungku meningkat drastis. Aku bahkan ragu mengapa aku masih bisa berdiri tegak dalam pelukannya setelah ditatap lurus olehnya.

“Ke-kenapa memandangku? Oppa tidak takut terlambat pergi ke kantor?” aku sengaja mengalihkan pandanganku ke arah lain demi meredakan rusuh dalam hatiku. Mengapa dia hobi sekali membuatku gugup?

“Terlambat sesekali kurasa tidak masalah,” gumamnya dengan pandangan turun ke bibiriku. Refleks aku membasahi bibirku yang mengering, tahu dia mengincarnya sejak tadi. Entah apa alasannya aku melakukan itu tapi Siwon sepertinya paham tindakanku tadi seperti sinyal untuknya menciumku. Oh, Kim So Eun, bagaimana bisa kau bertindak sevulgar itu di hadapan suamimu yang akan pergi bekerja? Dia masih harus sarapan dan melakukan hal lain yang lebih penting.

“Terlambat bukanlah kebiasaan Choi Siwon yang kukenal,”
Siwon memutar bola matanya, dengan senyum memukau yang dulu—hingga sekarang membuatku terpesona dia kembali berkata, “Apa ada yang salah dengan suami yang ingin bermesraan dengan istrinya di pagi hari?”

Mataku melebar dan aku belum sempat menjawab apa-apa ketika kurasakan bibir lembut Siwon menempel di bibirku. Aku agak kewalahan meladeni cara berciumannya yang sedikit liar pagi ini. Bibirku di lumat tanpa ampun seolah dia takut aku akan pergi jika tidak melakukannya. Diam-diam aku tersenyum karena Siwon tahu dengan tepat aku menginginkan ini. Aku tidak tahu mengapa, namun semenjak mengandung aku tidak bisa menjadi wanita agresif untuk suamiku sendiri. Selalu Siwon yang menciumku atau memelukku lebih dulu. Aku sangat bersyukur dia selalu paham apa yang kumau tanpa aku harus mengatakannya.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya dahulu aku menolak menikah denganmu,” gumamku membuat Siwon terpaksa menyudahi ciuman romantisnya.

“Bersyukurlah karena itu tidak terjadi.” tepat setelah mengatakannya, Siwon kembali menciumku. Kali ini aku memeluk erat lehernya untuk menopang diri meskipun yakin Siwon tidak akan membiarkanku terdesak jatuh.

“Saranghae,” bisiknya.

“Nado,” balasku. Ya, mungkin inilah balasan yang kudapat karena mau menuruti apa yang diinginkan oleh orang tuaku. Aku tahu, Appa tidak mungkin membiarkan anaknya menderita. Semua yang Appa lakukan bertujuan untuk membahagiakanku.

Appa, jika kau mendengar suara hatiku. Kuharap kau berbahagia di dunia sana. Jangan cemaskan aku, Donghae Oppa, ataupun Eomma. Kami hidup bahagia di sini.

..To be continued..

114 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 10-B)

  1. Bener” untuk masalah eun-hae dah kelar tinggal masalah appa’a siwon yg gga setuju ma hubungan’a ji-won.. Next part😀

  2. Tuh kan sebenernya appa so eun n haeppa sebenernya menyayangi haeppa juga? tapi kk dari ibu nya haeppa yang menjauhkan mereka karna sakit hati sama appa nya so eun.

    Tegar banget dah ibu kandung nya so eun, diperlakuin begitu dan gak di cintai. so eun lahir baru dia mencintai istri nya :^

    Bener kalo mau mengambil suatu tindakan kita harus menderngar kesimpulan jangan 1 pihak. tetapi 2 pihak agar kita tau nanti kita ambil keputusan seperti apa yang baik.

  3. jadi itu alasan dibalik nama mereka…
    Kang Nae Eun + Lee Soo Hae = Jadilah Kim So Eun.
    Kim Dong Woo + Lee Soo Hae = Jadilah Lee Dong Hae.
    Maka dari itu Lee Soo Hae dan Kim Dong Woo akan selalu ada di antara kehidupan Eun-Hae…

    Pengin liat Donghae+YooHee

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s