[Ficlet] Crazy Moment with You

Judul : Crazy Moment With You
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life, NC-17
Length : Ficlet

Main Cast :

  • Lee Dong-Hae
  • Jung Ha-Ni

Author sedang berada dalam mood yang super duper bagus ^_^ Jadi sekedar membagi kebahagiaan, author posting banyak FF hari ini.

Untuk yang masih di bawah umur jangan baca ya, ini khusus kawasan 17 tahun ke atas. Hehehhe..

Happy reading ^_^

Crazy moment with You cover by Dha Khanzaki

====Ficlet====

Dong-Hae akan terus kesulitan mengatur napasnya agar kembali normal selama Ha-Ni masih berada dalam pelukannya. Tetapi itulah posisi yang paling membuatnya nyaman. Penatnya seperti hilang dan yang tersisa hanya kebahagiaan. Dong-Hae rela menukar setahun penuh hasil jerih payahnya hanya untuk menghabiskan waktu selama 30 menit bersama istrinya.

Napas mereka masih beradu menimbulkan suasana yang lebih intim lagi. tatapan Dong-Hae membuat Ha-Ni kembali merona malu. Bagaimana tidak, semenjak beberapa menit waktu panas itu berlalu ia hanya berbaring dalam dekapan erat Dong-Hae. Tubuh keduanya menempel, tanpa halangan apapun. Ha-Ni menahan mati-matian jantungnya agar tidak meledak saat setiap gerakan kecil yang dilakukannya menimbulkan gesekan yang memabukkan.

Honey,” bisikan suara Dong-Hae membuat Ha-Ni mendongak menatapnya. Dong-Hae merayu Ha-Ni dengan mengecup lepas bibirnya berkali-kali. Ha-Ni melenguh karena tak kuasa menahan desiran yang membakar seluruh tubuhnya saat tangan Dong-Hae tidak bertahan di pinggangnya lagi. Kini kembali meraba sepanjang sisi tubuhnya, semakin turun dan hinggap di titik terpanas di tubuhnya.

“Saranghaeyo,” hanya seuntai kalimat sederhana namun begitu memukau dan mendebarkan jika Dong-Hae yang mengucapkannya. Ha-Ni melebarkan mata dengan hati meluapkan perasaan senang, haru, dan bahagia. Ia tidak peduli apakah itu hanya salah satu cara Dong-Hae melatih kemampuan aktingnya, namun ia tahu Dong-Hae mengatakannya dengan sangat tulus. Ha-Ni membalas tatapan intens Dong-Hae sejak tadi dengan melumat bibirnya singkat namun berkesan.

“Nado,” Ha-Ni meletakkan tangannya di leher Dong-Hae, memeluknya lembut.

Dong-Hae menarik sudut bibir tipisnya ke atas, menampilkan seringaian ringan pertanda dirinya sudah berhasil memperdaya Ha-Ni. Ia memang tidak pernah gagal memperdaya wanita manapun.

“Apa tidak masalah jika aku menginginkanmu kembali?”

Ha-Ni terkejut mendengar kata-kata yang diucapkan dengan nada ringan namun penuh hasrat itu. Mereka sama-sama tahu bahwa itu bukanlah pertanyaan melainkan pernyataan. Dong-Hae memang menginginkan Ha-Ni kembali karena itu ia tidak ragu membuka jalan di antara kedua kaki Ha-Ni dan melabuhkan kekuasaannya di sana.

Ha-Ni harus meringis halus karena ada sedikit efek perih yang ditimbulkan. Dong-Hae sadar kemungkinan ia sudah melukai istrinya karena ia sadar malam ini ia seperti orang kerasukan, keduanya sama-sama bersemangat memadu cinta di atas ranjang hangat di kamar mereka. Oleh karena itu Dong-Hae berjanji akan bergerak pelan-pelan dan menikmati sensasinya sedikit demi sedikit. Matanya terpejam dan ia mengajak Ha-Ni ikut dalam gejolaknya dengan mencumbu bibirnya dalam-dalam.

Suara-suara indah yang terdengar panas dan bergairah kembali mengisi keheningan di dalam kamar yang diterangi cahaya bulan itu.

—o0o—

Dong-Hae menggeliat bangun dari tidurnya. Ia sedikit meregangkan tubuhnya dan bergegas bangkit ketika sadar Ha-Ni sudah tidak ada bersamanya lagi. Selalu seperti itu setiap paginya. Ha-Ni tidak tahu bahwa Dong-Hae ingin sekali menemukan wajah cantik istrinya ketika pertama kali membuka mata di awal harinya. Ia hanya bisa mendesah dan mengambil kimono tidurnya, bersiap-siap untuk memulai rutinitas hariannya sebagai seorang publik figur.

“Honey,” Dong-Hae memanggil Ha-Ni saat dirinya sudah rapi dengan atasan panjang wol yang hangat dan celana bahan berwarna abu-abu. Ia berniat bersantai selama dua jam ke depan sebelum managernya datang dan ia pergi bekerja.

“Ada apa, yeobo?” Ha-Ni muncul dari dapur dengan dua piring berisi makanan yang masih mengepulkan asap lalu berjalan melewatinya menuju meja makan. Menatanya sambil bersenandung ringan. Dong-Hae mengerutkan keningnya melihat penampilan Ha-Ni pagi ini. Istrinya itu tidak sadar sejak tadi suaminya menatapnya dengan wajah merengut.

“Honey, aku selalu bertanya-tanya kenapa kau suka sekali memakai pakaianku?” akhirnya setelah tidak tahan terus bertanya-tanya sendiri, Donghae menyuarakan isi kepalanya.

Ha-Ni membalikkan badannya dan tersenyum santai, “Aku suka memakainya. Baunya seperti dirimu. Aku seringkali merindukanmu, ingin memelukmu tetapi kau selalu sibuk dengan jadwal syuting. Karena itu aku memakai bajumu dan memeluk diriku sendiri. Rasanya seperti benar-benar memelukmu.” Ha-Ni menghirup bau feromon Dong-Hae yang tertinggal di kemeja kotak-kotak yang dipakai suaminya kemarin sebelum menariknya ke atas ranjang, lalu memeluk dirinya sendiri dengan ekspresi memuja. Rasanya begitu lega seperti air yang melepaskan dahaganya.

Bukannya tersanjung Dong-Hae justru mengeluarkan tawa pelan yang terdengar sinis. Ia tidak habis pikir bagaimana hatinya bisa terbakar mendengar hal itu. Ia tidak mungkin cemburu pada sehelai baju tak berarti. Tetapi kata-kata Ha-Ni sungguh mengusiknya. Bukankah secara tidak langsung Ha-Ni lebih menyukai melampiaskan kerinduannya pada baju-baju itu dibandingkan repot-repot menemuinya demi sebuah pelukan?

“Lepaskan baju itu!” titah Donghae dingin.

“Mwo?” Ha-Ni membelalakkan mata. Ia sontak menyilangkan tangannya di depan dada. “Shireo! Aku suka baju ini.” Ia memundurkan tubuhnya karena merasa terancam oleh Dong-Hae.

“Lepaskan, itu baju kesayanganku! Lagipula itu terlalu kebesaran di tubuh kecilmu itu,” Dong-Hae melangkah mendekatinya.

“Shireo!” Ha-Ni mengambil langkah seribu lalu berlari menghindari Dong-Hae yang berniat melepaskan baju itu dari tubuhnya.

“Ya!” Dong-Hae mengejarnya.

Mereka saling kejar-kejaran di dalam apartement. Dong-Hae seharusnya tahu Ha-Ni adalah tipikal wanita lincah berkat latihannya selama bertahun-tahun di sanggar tari. Tetapi bukan berarti ia pria lemah. Bagaimana pun seluruh tubuhnya sudah terlatih dengan baik di pusat kebugaran milik temannya, Eun-Hyuk. Dong-Hae bisa membaca gerakan Ha-Ni dan hanya menunggu waktu sampai dirinya bisa menangkap Ha-Ni. Benar, detik berikutnya Dong-Hae berhasil meraih pinggang Ha-Ni dan tangannya dengan sigap meloloskan baju itu dari tubuhnya.

Ha-Ni memekik ketika baju itu terlepas, merasakan secara langsung udara dingin yang berasal dari AC di dinding di belakangnya sementara Dong-Hae terpaku. Mendadak lidahnya kelu menyadari Ha-Ni tidak memakai apa-apa lagi di balik kemejanya. Tubuh moleknya itu hanya terbalut hotpants warna hitam.

“Kenapa lihat-lihat?” Ha-Ni melingkarkan tangannya di depan dada untuk menutupi buah dadanya yang terekspos bebas. Ia mengerucutkan bibirnya sementara Dong-Hae menatapnya dengan mata seolah ingin keluar dari tempatnya.

“Kau tidak memakai bra?” bukannya meminta maaf Dong-Hae justru mengajukan pertanyaan yang membuat Ha-Ni semakin keki di pagi hari ini. Wajah innocentnya itu yang membuat Ha-Ni jengkel.

“Mana sempat! Aku harus bangun, menyiapkan sarapan, membereskan rumah, mencuci piring, pakaian, belum menyiapkan bajumu untuk show…” Ha-Ni terus menyebutkan kesibukannya di pagi hari, semua yang dilakukannya untuk suami tercintanya itu sementara Dong-Hae berdiri mematung di tempatnya dengan mata berbinar terharu. Seulas senyum kecil terbit dari sudut bibirnya. Ia tahu dibalik nada sebal Ha-Ni tersembunyi cinta yang besar untuknya. Ia sangat bahagia bisa dicintai seperti itu oleh seorang wanita.

Kemeja yang menjadi biang kejar-kejaran mereka di tangannya terlepas jatuh begitu saja di lantai. Dong-Hae sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk memeluk Ha-Ni, melingkari sekujur tubuh Ha-Ni dengan kehangatan yang berasal dari rasa cinta dan bahagianya.

Ha-Ni tersentak dan sempat memekik ketika Dong-hae mendadak memeluknya. Kedua tangannya terjepit di antara tubuhnya dan Dong-Hae. Belum sempat ia menyesuaikan diri, Dong-Hae sudah melumat bibirnya. Berbeda dengan ciuman panas yang sering dituntut Dong-Hae di pagi hari sebelum-sebelumnya, pagi ini ciuman itu terasa lembut, pelan, dan penuh rasa terima kasih. Ha-Ni tidak pernah merasa begitu berdebar sekaligus lumer seperti ini. Pelukan Dong-Hae yang terlalu erat membuatnya tidak bisa bergerak, namun pelukan itu membuatnya hangat.

Dong-Hae menjauhkan wajahnya kemudian menampilkan senyum manis yang selalu membuat Ha-Ni jatuh cinta, termasuk ratusan penggemarnya. Namun kali ini senyum itu ditujukan hanya untuknya. Ha-Ni merasa begitu beruntung dan istimewa.

“Gomawo,” lirih Dong-Hae singkat lalu kembali mengecupnya. Ha-Ni hanya diberi kesempatan untuk menerima semua itu, bukan membalasnya. Ketika Dong-Hae menjauhkan wajah dan menatapnya kembali, Ha-Ni hanya bisa mengerjapkan mata gugup tanpa bisa berkata apapun.

“Bagaimana, apa menurutmu memakai bajuku jauh lebih baik dibanding dipeluk langsung seperti ini olehku?”topik pembicaraan tiba-tiba mengarah kembali pada topik yeng membuat mereka ribut beberapa saat yang lalu. Sekujur tubuh Ha-Ni seketika memerah dan ia baru menyadari Dong-Hae memeluknya tanpa menghiraukan kondisinya tubuhnya yang tak terbalut sehelai benang pun di bagian atas.

Ha-Ni mencibir pelan, ia ingin mengeluh meski pada kenyataannya yang keluar justru kalimat yang bernada manja, “Kau membuatku kedinginan.”

Dong-Hae mengangkat alisnya sebelah, “Bukankah aku sudah memelukmu?”

Ha-Ni kembali kehabisan kata-kata, memang baju berbahan wol yang dikenakan Donghae membuatnya hangat, bahkan nyaris kepanasan.

“Ya, itu—eh,” kata-kata Ha-Ni tersendat tepat ketika Dong-Hae mendaratkan kecupan ringan di lehernya berkali-kali, seolah ingin menggodanya. Ha-Ni berusaha berpikir normal namun demi apapun Dong-Hae selalu berhasil membuat pikirannya kacau balau. Ia mencoba mengalihkan perhatian Dong-Hae dari lehernya dengan berkata, “Kita harus sarapan.”

“Aku ingin menu yang berbeda hari ini,” lirih Dong-Hae, tetap bergelut dalam kegiatannya. Kini ia sibuk membuat jejak baru di sepanjang bahu istrinya. Ia selalu hafal menu sarapan yang dibuat Ha-Ni, roti bakar dan telur goreng. Terkadang oats penuh nutrisi dan salad buah. Meski hanya hidangan biasa namun Dong-Hae selalu menikmatinya.

“Apa kau tidak suka spageti carbonara?” Ha-Ni susah payah berkata. Ia memang sudah memasak hidangan khas negeri kelahirannya karena tahu Dong-Hae pasti bosan dengan menu yang biasanya.

“Tidak buruk, tapi aku ingin menu lain.” Dong-Hae menjauhkan wajahnya, lalu menatap intens Ha-Ni, “Kau.”

“Mwo?”

“Ne, Kau. Aku ingin memakanmu pagi ini.”

Ha-Ni melebarkan mata ketika menyadari maksud dari kalimat Dong-Hae. Ia menyipitkan matanya sementara Dong-Hae tersenyum penuh arti, “Come on,” rayunya dengan wajah aegyeo.

“Semalam tidak cukupkah?”

“Aku butuh asupan nutrisi di pagi hari,”

Akhirnya Ha-Ni tidak bisa berkata-kata lagi sehingga ia hanya bisa mendesis, “Dasar Ikan mesum! Bukankah kau harus pergi bekerja?”

“Manager Hong menjemputku jam sembilan nanti. Jadi aku masih memiliki waktu bebas untuk kuhabiskan bersamamu.”

Ha-Ni melirik jam yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Ia mendesah kalah lalu menatap suaminya kembali, “Asal kau biarkan aku memakai bajumu lagi,”

Dong-Hae tersenyum lebar lalu menggendong Ha-Ni ke dalam pelukannya, “Kau bisa memakainya sepuasmu.” Ha-Ni sempat memekik panik ketika Dong-Hae membawanya dengan langkah tidak sabar menuju kamar mereka.

Fin

197 thoughts on “[Ficlet] Crazy Moment with You

  1. Thor…kemana aja nich ???

    I married the bad boy part 18 ko’ ฑƍล๊ Update-Update…

    PenggemarMu menunggu terlalu lama…

    Tolong penjelasannya, dilanjutkah or tidak, ceritanya mengharu-biru; menggemaskan bikin penasaran Thor !!!

    Tolong diInfokan…
    Thank’s

  2. Aku mau lebih!!!!!! Aku sangat tidak puas dengan kisah singkat ini. *menatap frustasi pada author*. Mau versi panjang dong thor. Suka banget soalnya. Aku jadi pengen baca kisah awal mereka. Hehehe. *pasang tampang manis biar dikabulin* wřkwkwk

  3. Ini NC tapi bahasanya itu loh kak lembut halus jadi ga enek. Pas banget buat pembaca di bawah umur kaya aku lol. Ah sering sering aja bikin yang sweet bukan main kaya gini ya kak aihhhh.

  4. Ff ini Manis… Romantis… Kebahagiaan sebuah pernikahan yang penuh cinta…🙂
    Aq suka… Aku suka …

    Terimakasih Author telah membuat ff semanis ini…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s