Because WGM, You’ll Be Mine !! [Part 8]

Tittle : Because WGM You’ll Be Mine !! Part 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance
Lenght : Chaptered
Find me on : @julianingati23

Main Cast :
Shin Jeyoung
Cho Kyuhyun

Another story of Kyu-Young Story ^_^ happy reading all..

Because WGM You'll Be Mine !! By Dha Khanzaki

Part sebelumnya..

Kyuhyun mengikutiku menuju apartement kecilku yang ada di lantai tiga. Beruntung tidak ada tetangga yang keluar di malam hari seperti ini sehingga tidak ada yang menyadari kedatangan Kyuhyun. Pria ini cukup tahu diri dengan membungkam mulut cerewetnya selama kami dalam perjalanan ke sana. Ketika kami tiba di depan pintu apartementku, darah di seluruh tubuhku rasanya terhenti karena kini di depan apartementku berdiri sosok yang kutakuti.

“Siapa?” tanya Kyuhyun sambil berbisik melihat wajahku memucat.

“Shin Je Young…” suara berat dan mencekam milik Papaku terdengar juga. Matanya yang setajam elang menatapku dan Kyuhyun bergantian seolah ingin menguliti kami dengan tatapannya.

“Papa..” lirihku terbata.

Aku tahu detik itu juga, hidupku akan berakhir di tangan Papa yang bahkan lebih menyeramkan dari siapapun di dunia ini.

====Part 8====

Jeyoung POV

Jika aku bisa memanggil seorang Shinigami aku ingin dia mencabut nyawaku sekarang juga. Aku tidak bisa menghadapi Papaku yang lebih menyeramkan dari Adolf Hitler. Dia bahkan lebih diktatoral dari pemimpin legendaris Jerman itu. Aku hanya bisa berdiri di tempatku dalam posisi yang tidak nyaman sama sekali. Aku tidak mungkin bergerak ke samping kanan atau kiriku karena resikonya bisa saja aku menabrak tembok atau lebih parah, aku menabrak Kyuhyun. Oh iya, Kyuhyun!! Bagaimana aku melupakan dirinya.

Secepat kilat pandanganku mengalih ke arah samping. Kyuhyun terlihat biasa saja. Tentu, dia tidak tahu sekejam apa Papaku. Aku harus segera membawanya pergi sebelum dia menjadi korban interogasi Papa seperti beberapa pria sebelum ini. Semua pria yang mendekatiku tidak luput dari acara tanya-jawab yang dilakukan Papa. Bahkan ada yang lari tunggang langgang karena pertanyaan Papa yang terlalu menyudutkan.

“Kita harus pergi dari sini,” bisikku sambil meraih tangannya mencoba kabur dari situasi ini. Aku harus mengevakuasi Kyuhyun ke tempat yang aman terlebih dahulu sebelum menghadapi Papa.

“Kenapa kita harus pergi? Memang dia siapa?” Kyuhyun menolak kukerek pergi dari tempat ini. Ia justru menoleh pada pria yang tidak diketahui olehnya bahwa itu adalah Papaku. Kyuhyun tidak tahu bahwa Papa dua kali lebih menyeramkan di bandingkan Ji Hoon Oppa jika sedang marah.

“Shin Jeyoung, hendak kemana kau di saat malam sudah larut seperti ini!”

Tubuhku lagi-lagi membeku ketika suara bariton Papa menggema di lorong sempit di depan pintu apartementku. Terpaksa aku memandang wajah tegasnya dengan perasaan was-was bercampur takut.

“Selamat malam, Papa.” Aku membungkukkan badanku memberi salam.

“Papa?” seru Kyuhyun melonjak kaget. “Shin Jeyoung, jadi dia Ayahmu? Kenapa tidak bilang?”

Sekarang bukan situasi yang tepat untuk memperkenalkanmu pada Papa, batinku. “Tapi kenapa rasanya berbeda dengan orang tuamu yang hadir saat syuting WGM?”

“Papa menyuruh orang lain mewakilinya saat itu.”

“Kenapa kau memanggil Ayahmu dengan sebutan Papa? Kau terdengar seperti orang asing.”

Astaga, kenapa Kyuhyun begitu penasaran dengan Ayahku? “Ceritanya panjang,” ucapku cepat sambil mengibaskan tangan tak peduli. Aku sekarang mencemaskan Papa karena dari sudut mataku aku bisa merasakan tatapannya menusuk kepalaku. Mungkin sudah bolong jika tatapan itu bisa melukai.

Setelah skandal besar yang membuat Papa geger setengah mati itu aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padaku saat kami bertatapan langsung. Jika ditelepon saja aku bisa diceramahi dua jam penuh sampai telingaku mendengung dan panas, entah apa yang dilakukan Papa padaku sekarang ini. Dia bisa saja ikut menyiksa Kyuhyun karena secara langsung Kyuhyun yang membuatku terseret skandal ciuman itu. dan kenyataan lain yang membuat posisi Kyuhyun semakin rawan adalah kenyataan bahwa Papa tidak menyukai seorang artis.

“Selamat malam Tuan Shin, aku Cho Kyuhyun.” Kyuhyun yang tidak tahu Papa memperkenalkan diri dengan wajah cerah. Tindakannya itu membuatku terkejut. Aku siap membawanya kabur seandainya reaksi Papa menunjukkan situasi berbahaya.

Alis Papa naik sebelah, pose yang kukenal seumur hidup adalah pose Papa ketika dia sedang menyelidiki kelayakan seseorang untuk masuk ke dalam kehidupannya.

“Jadi kau Cho Kyuhyun, si artis yang tampil dalam variety show bersama putriku?”

“Ya.”

“Kebetulan sekali, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.”

Deg. Aku terkejut ketika melihat kilatan marah dari sorot mata Papa. Aku menoleh pada Kyuhyun lalu menggeleng cepat agar Kyuhyun menolak ajakan Papa. Namun Kyuhyun sepertinya tidak paham dengan kode yang kuberikan karena berikutnya dengan antusias Kyuhyun mengangguk.

“Dengan senang hati Tuan,” Aku tidak bisa membiarkan pria yang kusukai dilukai oleh Papaku sendiri. Tidak, tidak boleh. Kyuhyun terlalu berharga untuk menghadapi kekejaman Papa.

“Kita bicara di dalam,”

“Mwo?” aku spontan memekik. Aku tidak berniat memotong namun jika yang dimaksud Papa ‘bicara di dalam’ adalah di dalam apartement sederhanaku maka hal ini benar-benar telah berubah menjadi sebuah bencana. Kyuhyun tidak boleh bicara dengan Papa, hari ini, detik ini, atau kapanpun.

“Papa, ini sudah–”

“Bukakan pintu, Papa ingin berbicara sesuatu dengan temanmu,” Papa menyela sambil mengendikkan dagu ke arah pintu. Bahuku melemas. Tanpa membantah seperti robot, aku mendekati pintu apartemenku dan memasukkan beberapa kode kombinasi di alat pengaman rumah. Dengan pasrah aku membukakan pintu untuk kedua pria yang membuatku terjepit.

“Duduklah,” ucap Papa. Sebagai Tuan Rumah yang tidak dianggap aku hanya bisa menuruti apapun yang dikatakan Papa. Dimanapun dan kapanpun Papa berada dia selalu bersikap superior.

Secara tidak sengaja kami duduk berdampingan. Aku dan Kyuhyun sempat melemparkan kontak mata yang tak kumengerti apa maksudnya. Jantungku seperti jatuh dari tempatnya begitu mataku dihujani senyum memikat Kyuhyun. Pria ini, untuk apa dia tersenyum seperti itu?

“Kenapa kau ikut duduk?” aku tersentak mendengar Papa berbicara sambil menatapku, “Kau tidak menyiapkan minum?”

“Hah?” reaksi lambatku membuat Papa menajamkan pandangannya. Detik itu aku sadar Papa bermaksud mengusirku agar ia bisa berbicara bebas pada Kyuhyun. Dengan berat hati aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan ke dapur. Aku memutuskan menyiapkan teh sambil menajamkan telinga. Sial, aku tidak bisa mendengar apapun yang Papa katakan. Aku cemas Papa mengatakan sesuatu yang menyinggung Kyuhyun. Kegelisahan ini membuatku tidak fokus membuat teh. Kuputuskan mempercepat menyelesaikan pekerjaan ini lalu membawanya ke ruang tamu tempat kedua pria itu berada.

“Baiklah, kalau memang begitu. Aku harap kau menjaga kata-katamu.”

Aku terperangah melihat Papa berdiri. Aku menghampirinya setelah meletakkan cangkir teh di atas meja. Sejujurnya aku kecewa sekaligus penasaran karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan selama aku tidak di sana.

“Kenapa cepat sekali?” seruku kecewa. Aku ingin Papa tinggal dan mengulang kembali apa yang dikatakannya pada Kyuhyun namun Papa tidak mempedulikan dan memakai kembali syalnya.

“Jeyoung, kau harus pastikan dia tidak menginap di rumahmu.” Papa mengecup puncak kepalaku singkat lalu keluar dari apartementku. Aku tercengang selama beberapa detik lalu menghampiri Kyuhyun yang sedang menyeruput teh yang tadi kusajikan.

“Apa yang Papa bicarakan denganmu?” aku terburu-buru mengajukan pertanyaan padanya. Kyuhyun tidak lantas menjawab dan hal itu membuatku semakin khawatir.

“Kau tenang saja, dia hanya bertanya hal yang umum.” Kyuhyun tersenyum hangat. Aku curiga dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Papa tidak mungkin mengatakan sesuatu yang tidak menyakitkan pada seseorang yang tidak disukainya. Aku yakin skandal kemarin tidak membuat Papa menyukai Kyuhyun.

“Bohong,” aku menatapnya dengan mata menyipit. Kyuhyun diam sejenak melihat ekspresiku dan tak disangka berikutnya ia tertawa. Reaksi itu membuatku jengkel. Setelah khawatir, cemas, dan gelisah mengingat dia berhadapan dengan pria paling menyeramkan dalam hidupku dia tampak begitu tenang, duduk sambil menyeruput teh lalu menertawaiku.

“Kenapa tertawa?” protesku sebal. Kyuhyun mencubit pipiku gemas, tindakan yang membuatku ingin mengacak-acak rambutnya.

“Aigoo, kau terlalu mengkhawatirkanku rupanya. Manis sekali.”

“Mwo?”

“Kau tenang saja, Ayahmu yang ramah itu tidak mengancamku atau semacamnya. Dia hanya memintaku agar menjagamu dengan baik dan tidak menimbulkan masalah lagi padamu. itu saja.”

“Benarkah? Aku tidak yakin.”

“Kau tidak percaya padaku?” Kyuhyun terkejut, ia lalu menatapku lekat-lekat, “Tatap mataku baik-baik dan kau akan tahu saat aku berbohong.”

Aku tidak sanggup menatap matamu. Aku ingin mengeluh tetapi itu membuatku tampak konyol. Aku mengerjapkan mataku gugup dan hanya mampu memandang langsung iris matanya selama beberapa detik. Pipiku mulai memanas sehingga terpaksa kepalaku kutundukkan untuk menyembunyikannya.

Aku kembali mendengar kekehan Kyuhyun. “Kau berhutang penjelasan padaku.” Pertanyaannya membuatku terkejut sekaligus lega.

“Penjelasan apa?” ucapku pura-pura. Aku tahu Kyuhyun mempertanyakan insiden di studio tv tadi dan kenapa aku diantar van Infinite.

“Hei, kau mencoba menghindar Youngie?” matanya menyipit curiga.

Tatapan itu membuatku lebih gugup lagi. Gusar, aku akhirnya memutuskan menjelaskan semuanya. Aku juga tidak berniat menutupi kenyataan apapun dari Kyuhyun. Sejak kecil aku tidak pernah pandai berbohong. Ketika aku selesai menjelaskan detailnya, kulihat Kyuhyun tercengang. Ia menatapku tak percaya.

“Kau mengenal L Infinite dan pulang diantar olehnya?” suara Kyuhyun memang tidak membentakku, tetapi matanya yang membelalak kaget membuatku merasa terintimidasi. Aku meremas tanganku sendiri, rasanya seperti tertangkap basah telah berselingkuh.

“Aku tidak bisa menolaknya. Kau tidak tahu bertemu dengan teman lama di dunia artis sulitnya bukan main karena itu aku merasa pertemuan ini sebagai keberuntungan.” Ucapku terbata, sambil mengatakannya sesekali aku memandang Kyuhyun. Ekpresinya kembali berubah, pria itu tercengang.

“Keberuntungan.” Lirihnya jauh. Aku tidak tahu kata-kataku menyinggungnya atau tidak tetapi sepertinya Kyuhyun syok. “Jadi bertemu denganku tidak kau anggap sebagai keberuntungan?” Kyuhyun memandangku dengan ekspresi penuh harap dan kecewa yang mendalam. Suaranya bahkan semakin melemah, seperti kehabisan energi.

Aku terenyuh, sekaligus terhanyut oleh iris matanya. Kata-kata Kyuhyun membuatku terperangah sekaligus berharap. Sorot mataku meredup. Kenapa kau bertanya dengan ekspresi dan nada seperti itu padaku? Kau membuatku mengharap, menginginkan hal yang mustahil. Aku berharap kau mencintaiku. Kami berpandangan selama beberapa saat dan di saat itulah aku mendapat keberanian untuk mengutarakan hal yang paling ingin kukatakan ketika bertemu dengannya.

“Sebagai seorang fans, keberuntungan terbesarnya adalah ketika bertatap muka langsung dengan idolanya. Apa bagimu hal itu tidak membuktikan bahwa aku merasa sangat beruntung bertemu denganmu?”

Bola mata Kyuhyun melebar, kini ekspresinya tidak setegang tadi. Perlahan-lahan ia tersenyum. Apa kata-kataku berhasil menghiburnya?

“Begitukah? Jadi kau benar-benar seorang Sparkyu?” ia menganggukkan kepalanya puas. “Baguslah. Aku khawatir sekali kau akan meninggalkanku.”

Aku tahu Kyuhyun tidak pernah bermaksud membuatku terkejut, tetapi kata-katanya hampir saja membuat jantungku jatuh. Kuhipnotis diriku sendiri agar tidak berpikir yang aneh-aneh. Itu hanya kalimat biasa yang ditujukan idola pada fansnya. Kyuhyun tidak ingin aku berpindah mengidolakan artis lain. Ya, pasti itu.

“Sepertinya aku harus pulang,” kata-kata Kyuhyun memecahkan keheningan yang sesaat melingkupi suasana di antara kami. Aku secepatnya mengembalikan akal sehatku dan mengangguk senormal mungkin.

“Aku akan mengantarmu hingga ke depan.” Aku bangkit mengikutinya.

“Tidak perlu,” cegah Kyuhyun. “Aku bisa sendiri.” dia tersenyum hangat sambil memakai kembali sepatunya. Aku agak kecewa, tetapi tidak mempunyai kalimat untuk membatahnya.

“Hati-hati di jalan. Sekarang sudah hampir tengah malam. Seharusnya kau tidak kemari tadi, seharusnya kau istira—“ kalimatku terhenti karena tiba-tiba saja Kyuhyun menciumku. Mulutku tertutup oleh mulutnya. Aku terpaku dan berimbas pada meningkatnya detak jantungku. Ketika aku mulai tergoda dan ingin membalasnya, Kyuhyun melepaskanku. Kami saling bertatapan dalam diam selama beberapa saat.

Aku tidak tahu arti ciuman Kyuhyun kali ini, aku hanya bisa menatapnya dengan wajah bertanya-tanya. Ketika Kyuhyun mendekat, aku tidak bisa berkutik. Kukira Kyuhyun akan menciumku kembali. Tak kusangka pelukan hangatnyalah yang kuterima kali ini.

“Sampai bertemu lagi di lokasi syuting.” Bisiknya tepat di telingaku. Apa aku pernah bilang bahwa pelukan Kyuhyun adalah pelukan terhangat yang pernah kuterima? Cara Kyuhyun memelukku membuatku nyaman, bahkan tidak pernah membuatku bosan. Seperti kali ini, meski sempat menegang namun berangsur-angsur tubuhku mulai menerimanya. Aku mendesah diam-diam, meresapi nyamannya pelukan Kyuhyun. Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku di pundaknya.

“Ne,” lirihku pelan. Aku kecewa saat Kyuhyun melepaskan pelukannya tetapi melihat senyumnya dan tatapannya yang mematikan itu, aku merasa itu bayaran yang sebanding. Pipiku kembali merona.

“Kalau begitu selamat malam.” sebelum beranjak dari apartemenku Kyuhyun menciumku lagi. kali ini bibirnya mendarat di keningku. Meskipun durasinya lebih singkat, getaran yang ditimbulkannya tetap saja membuat sekujur tubuhku melumer. Aku masih tenggelam dalam fantasiku sendiri dan baru tersadar ketika mendengar suara pintu tertutup. Seluruh tubuhku merona malu dan pipiku memanas. Dengan wajah memerah aku berlari ke kamar dan bergelung di balik selimut sambil mencoba memutar kembali saat-saat Kyuhyun menciumku.

Semuanya terlalu indah untuk dilupakan. Aku mendesah sambil menyandarkan kepalaku pada bantal. Apa yang akan terjadi seandainya syuting WGM sudah selesai? Apa aku masih bisa bertemu dengan Kyuhyun? Apakah Kyuhyun akan ingat padaku? Tetapi yang paling membuatku penasaran adalah, apakah Kyuhyun akan merindukanku?

—o0o—

Author POV

Syuting WGM kembali dilaksanakan hari itu setelah sempat tertunda selama hampir dua minggu karena skandal ciuman pemain utamanya. Jeyoung sebenarnya malu datang ke lokasi syuting karena takut para kru akan memandangnya dengan cara yang berbeda. Tetapi ketika ia tiba di lokasi, semuanya tampak sama. Para kru tetap memperlakukannya seperti sedia kala. Jeyoung mendesah lega sekaligus merasa malu karena sudah berpikir yang bukan-bukan. Tentu saja, mereka professional. Skandal kemarin hanya hal remeh bagi mereka.

“Shin Jeyoung..” PD memanggil Jeyoung ketika ia sudah dirias. Mereka kini akan syuting di tempat terbuka di sebuah resort dengan taman yang indah. Jeyoung bertanya-tanya seberapa banyak sponsor yang mendanai acara ini sampai bisa menyewa tempat mewah seperti resort tempatnya berada sekarang.

“Kemarilah, kita harus briefing.” Perintahnya. Jeyoung berjalan cepat menghampirinya.

“Annyeong haseyo,” Jeyoung menundukkan kepala. Ketika menegakkan tubuh ia tersentak menyadari Kyuhyun dan managernya juga berada di sana, duduk tenang di dekat PD. Pria itu dengan santai melambaikan tangan padanya. Tiba-tiba Jeyoung merasa pipinya merona karena ia teringat kejadian tempo hari. Dengan malu-malu Jeyoung duduk di sofa lain.

PD sempat memperhatikan gelagat aneh Jeyoung dengan alis terangkat, tetapi ia lebih memilih tidak bertanya dan bersikap professional karena itu ia segera memulai briefing sebelum syuting dimulai.

“Dengar, skandal kemarin terlanjur dikatakan sebagai bagian dari syuting, karena itu terpaksa kalian harus melakukan adegan itu untuk episode kali ini.” Ungkap PD tenang. Jeyoung terkejut, ia memekik spontan.

“Maksudmu, kita harus…berciuman?” potong Jeyoung terbata. Ketiga orang itu memandangnya di saat yang bersamaan. Jeyoung merutuk dirinya sendiri karena menyela di saat yang tidak tepat.

“Ya, memang skandal besar apa yang membuat heboh seluruh negeri akhir-akhir ini?” PD melemparkan senyum misterius yang membuat Jeyoung semakin menunduk malu. Ia menyesal sudah menyinggung kembali topik itu.

PD mendesah sambil menyandarkan punggungnya, “Kukira skandal akan membuat WGM kali ini dihentikan, tak kukira sponsor justru berdatangan karena mereka berpikir skandal itu bisa menarik banyak penonton. Mereka semua penasaran apakah kalian akan benar-benar melakukannya. Karena itu kita harus menjawab rasa penasaran publik.” Jelasnya menggebu.

“Ke-kenapa harus ada adegan semacam itu, aku tidak bisa melakukannya..” tolak Jeyoung tegas. Ia menoleh pada Kyuhyun meminta bantuan tetapi anehnya pria itu hanya mengangguk-angguk ringan. Kenapa Kyuhyun tidak ikut protes? Apa Kyuhyun tidak tahu bahaya besar yang akan Jeyoung hadapi jika adegan itu benar-benar dilakoni? Mungkin saat episode ini tayang nanti, ia hanya akan tinggal nama karena fansnya pasti memburunya sampai mati.

“Sudahlah, lagipula kalian sudah pernah melakukannya bukan? Sekarang perbedaannya hanya adegan itu dilakukan di depan kamera.” Manager Kyuhyun bahkan sampai ikut berkomentar. Jeyoung tidak tahu harus mengeluarkan ekspresi seperti apa lagi. Ia sudah kehabisan kata-kata dan yang ingin ia dengar sekarang adalah pendapat Kyuhyun. Ia menatap Kyuhyun lekat-lekat berharap pria itu mengatakan sesuatu.

Kyuhyun mendesah, sepertinya sudah memutuskan sesuatu. Jeyoung menanti dengan tidak sabar apa yang akan dikatakannya.

“Baiklah, aku tidak keberatan.”

A-apa! Jeyoung menganga di tempatnya. Persetujuan Kyuhyun membuatnya jauh lebih terkejut lagi. Sekarang setelah Kyuhyun bersedia tidak ada lagi yang membelanya. Ia hanya bisa mendesah pasrah. PD pun sudah setuju dan mengatakan syuting akan dimulai tiga puluh menit lagi. Dia bersama manager Kyuhyun pergi meninggalkannya berdua saja dengan Kyuhyun yang pura-pura sibuk membaca script.

“Kenapa kau setuju? Seharusnya kau menolaknya.” Jeyoung tidak bisa menahan dirinya untuk protes. Ia kesal sekaligus khawatir karena Kyuhyun menyetujui ide gila itu.

Kyuhyun tahu Jeyoung tidak akan menyetujuinya, tetapi harus bagaimana lagi. Ia sudah menolak mati-matian ide itu sejak PD mengatakan padanya seusai konferensi pers lalu. PD benar, mereka sudah terlanjur membohongi publik tentang fakta yang sesungguhnya. Karena itu PD pun terpaksa melakukannya.

“Apa yang bisa kulakukan? Bukankah kau sudah tahu bahwa skandal itu adalah latihan untuk syuting WGM? Mau tidak mau kita harus benar-benar melakukannya karena jika tidak, publik akan mengira pernyataan di konferensi pers hanyalah rekayasa untuk menutupi fakta sesungguhnya. Jika itu terjadi media akan mencari tahu dan masalah baru akan bermunculan.” Jelas Kyuhyun tenang. Ia menjabarkannya dengan nada perlahan kata-perkatanya. Ia mencoba menjaga perasaan Jeyoung.

Jeyoung masih belum bisa menerima penjelasan Kyuhyun, tampak jelas dari ekspresinya. Kyuhyun mencoba memberikan pengertian dengan memandangnya lembut. “Kau tahu bukan betapa menyeramkannya media jika sudah mengkritik sesuatu? Aku tidak mau menyulitkanmu lebih dari sebelumnya.”

Sudut hati Jeyoung mulai tersentuh. Apa Kyuhyun mengkhawatirkan keadaannya? Ia sadar ia hanya memikirkan diri sendiri beberapa saat lalu. Ia tidak memikirkan perasaan Kyuhyun sama sekali. Kyuhyun tampak tersiksa juga, tetapi pria itu tetap memperlihatkan sikap professional seorang bintang.

“Baiklah.” Jeyoung mengangguk paham pada akhirnya, “Aku hanya cemas saja, aku takut adegan itu memicu keributan yang lebih besar dari penggemarmu.”

Kyuhyun tergelak mendengar ucapan polos Jeyoung, dengan gemas ia mencubit pipinya. “Kau tenang saja. Mungkin akan menghebohkan pada awalnya, tetapi perlahan mereka pasti melupakannya.” Ucapan Kyuhyun sedikit memberikan penghiburan, tetapi Jeyoung masih belum bisa tenang sepenuhnya. Ia harus menghadapi masalah yang lebih besar. Berciuman dengan seorang pria di depan kamera. Astaga, bagaimana reaksi orang tuanya jika melihat hal itu?

—-o0o—-

Semua setting sudah sempurna dan Jeyoung tinggal menunggu instruksi dari sutradara saja. Episode kali ini akan menayangkan pasangan Kyuhyun-Jeyoung yang sedang berbulan madu. Mereka pergi ke sebuah resort terkenal dan menghabiskan waktu bersama di sana. PD menginginkan banyak scene romantis dalam episode ini dan Jeyoung merasa frustasi karena tidak tahu harus melakukan apa. Ditambah kenyataan ia harus melakukannya bersama Kyuhyun. Ia masih belum terbiasa menghadapi artis idolanya itu.

“Kenapa gugup? Kau akan tampak jelek di kamera nanti.” komentar Kyuhyun membuat Jeyoung mengerjap sadar. Ia sempat melamun sehingga tidak sadar kini suami virtualnya itu sudah berdiri di sampingnya. Jeyoung harus mengatur napasnya yang mulai sesak karena menyadari Kyuhyun terlihat begitu tampan hari ini, dengan baju semi formalnya.

Angin pantai yang kencang membuat rambut Kyuhyun agak berantakan, tetapi efek itu justru membuatnya bertambah tampan dua kali lipat. Jeyoung tidak tahan menatapnya lama-lama memilih menatap pemandangan laut di belakangnya.

“Aku memang tidak terlalu cantik,” dengus Jeyoung mengalihkan kegugupannya. Ia masih mencoba menormalkan detak jantungnya kembali.

“Kalian mengobrol di sini dan cobalah membuat suasana romantis. Lalu di moment yang tepat kalian berciuman.” Ujar PD yang berdiri di dekat kameraman.

“Nde, disini?” pekik Jeyoung kaget. Ia kira adegan itu akan dilakukan di tempat yang lebih tertutup, bukan di ruang terbuka seperti sekarang. Ini adalah sebuah taman yang menghadap ke laut dan ia takut adegannya itu akan dilihat orang lain. Oh ayolah, bukankah dimanapun pada akhirnya adegan itu akan tetap disaksikan orang lain?

PD mengangguk ringan, “Semoga berhasil.” Ia lalu kembali memberikan instruksi pada juru kamera.

Kyuhyun menarik napasnya, tanpa Jeyoung sadari sebenarnya ia sangat gugup. Siapapun tahu ia tidak terlalu pandai berakting romantis, tetapi untuk orang yang dicintainya, ia rela melakukan apapun. Syuting pun dimulai.

“Kau suka tempat ini?” Kyuhyun memulai percakapan pertamanya. Jeyoung tersenyum hangat, selayaknya seorang istri yang merasa gembira karena diajak suaminya ke tempat yang luar biasa indah. Ia memandang ke sekeliling dengan kagum.

“Di sini indah sekali, bagaimana Oppa tahu tempat seperti ini?” mereka berjalan perlahan menyusuri jalan setapak.

“Aku hanya ingin melihat kau tersenyum bahagia karena itu aku memilih tempat ini.” Kyuhyun memperlihatkan senyum andalannya. Tanpa berakting pun Jeyoung tersipu dengan sendirinya. Dalam hati ia mengumpati PD yang sudah membuat ide seperti ini. Ia tidak kuat menahan pesona Kyuhyun yang terus menerus menyerangnya.

“Gomawo,” Jeyoung tersenyum kikuk, karena terlalu kikuk ia tersandung sepatu high heelnya sendiri. Ia memekik dan hampir saja terjerembab di rerumputan taman jika Kyuhyun tidak cepat menahan pinggangnya.

“Bagus sekali,” desis PD yang menyaksikan adegan itu dari balik kamera. Harus diakui ekspesi keduanya saat ini begitu mengagumkan. Tampak sama-sama terkejut namun tersembunyi kekaguman dari sorot mata masing-masing. Mereka terlihat seperti orang yang sama-sama jatuh cinta, saling memuja satu sama lain. Bahkan kru lain yang melihatnya berdecak iri.

Jeyoung mengerjapkan mata. Posisinya rawan sekali dan sangat bergantung pada pelukan Kyuhyun. Jika pria itu melepaskan tangan dari pinggangnya, ia akan jatuh memalukan di rumput. Kyuhyun bahkan tidak bisa berkata apapun saat mata mereka bertatapan. Jeyoung dengan riasan natural seperti sekarang terlihat begitu cantik apalagi saat dipandang dari jarak yang sedekat ini. Jika Kyuhyun tidak ingat bahwa pinggangnya mulai berdenyut sakit, mungkin ia akan tetap pada posisi itu. Kyuhyun menegakkan tubuhnya kembali.

“Gwaenchana?” tanyanya cemas. Jeyoung mengangguk canggung. Kyuhyun mendesah lega sambil mencubit pipinya, “Aigoo, sepertinya aku harus memegang tanganmu agar kau tidak tersandung lagi,”

“A-apa?”

Belum sempat Jeyoung mengelak, pria itu segera menautkan tangan di sela-sela jarinya dan menariknya berjalan bersama. Jeyoung hanya mengerjapkan mata. Ia berjalan gugup di samping Kyuhyun. Sadar ia harus berkata sesuatu, Jeyoung mencoba membuat rileks dirinya sendiri.

“Apa menjadi penyanyi adalah cita-citamu sejak dulu?” tanyanya. Kyuhyun menoleh.

“Hmm..bisa dibilang iya. Mungkin karena aku berbakat dalam menyanyi. Jika aku tidak, mungkin saja cita-citaku adalah menjadi seorang programmer, atau seorang pengacara andal.”

Jeyoung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Jadi kau menjadi penyanyi karena merasa pintar dalam menyanyi. Ah, sungguh menyenangkan jika memiliki bakat sejak awal. Sementara aku..” Jeyoung menghela napas berat, “Aku tidak tahu akan menjadi apa di masa depan. Bahkan aku tidak memiliki bakat yang menakjubkan sepertimu. Sejujurnya aku sangat iri pada orang-orang yang memiliki kemampuan hebat sejak awal dan bisa membuatnya sukses di saat mereka masih muda.”

Kata-kata Jeyoung tidak salah, tetapi sebenarnya Kyuhyun tidak setuju dengannya, “Aku tidak setuju denganmu.” sanggahnya. Jeyoung menatap lekat Kyuhyun, meminta Kyuhyun melanjutkan kalimatnya.
“Seseorang bisa sukses bukan karena bakat cemerlang yang dimilikinya,” Kyuhyun balas menatap Jeyoung, “Tetapi karena orang itu menjalani apapun yang membuatnya bahagia.

Jeyoung terperangah, bahkan berdecak kagum mendengar ucapan Kyuhyun. Ia tidak pernah tahu dibaling wajah tampan, suara emasnya, sifat jahil dan tak terduganya Kyuhyun bisa mengucapkan kata mutiara semenggugah itu. Tetapi ucapan Kyuhyun benar, bahkan sangat benar.

Untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki bakat. Tetapi menjalani apapun yang membuatnya merasa gembira. Karena itu seseorang bisa hidup tanpa merasa tertekan.

“Kau salah jika berkata seorang pengusaha dengan harta melimpah dan asset yang berharga dikatakan sukses. Dia tidak sukses sebenarnya jika dia tidak merasa gembira dengan apa yang dilakukannya. Tetapi seorang petani dengan segala kesederhanaannya namun gembira saat melakukan pekerjaannya di ladang, berpikir bahwa apa yang dilakukannya bisa menyejahterakan keluarganya dan orang lain, maka itulah yang disebut sukses.” Tambah Kyuhyun lagi.

Jeyoung lagi-lagi terharu, ia tidak bisa menahan rasa bahagia yang ia rasa sekarang. Ia tidak tahu ini perasaan cinta atau rasa bangganya karena telah mengidolakan Kyuhyun, tetapi ia benar-benar ingin memeluk pria di sampingnya itu. Akhirnya Jeyoung hanya bisa menatap Kyuhyun sambil berkata, “Kau sangat mengagumkan.”

“Ya, mengagumkan dan super tampan.” Tambah Kyuhyun penuh percaya diri.

“Mwo?” Jeyoung mengerjapkan mata sambil tertawa, merasa ucapan Kyuhyun sungguh menggelikan. Namun apa yang dikatakannya memang kenyataan. Kyuhyun sangat menakjubkan dan..

“Kau suka bunga daisy?” Kyuhyun menyodorkan sekuntum bunga daisy yang dipetiknya dari rumpun bunga di dekat mereka. Jeyoung sebenarnya lebih menyukai bunga sakura, tetapi ia tetap menerimanya sambil tersenyum.

“Gomawo.”

Kyuhyun mengambil kuntum lain kemudian tanpa diduga menyelipkannya di telinga Jeyoung. Tindakan sederhana Kyuhyun tetap membuat Jeyoung tersanjung, wajahnya yang putih terlihat memerah. Kyuhyun tampak sangat puas, bibirnya tersenyum lebar dan ia menyadari bunga daisy itu semakin mempercantik ‘istri’nya.

Jeyoung menyadari jarak mereka terlalu dekat, ia begitu gugup sampai tidak bisa menahan debaran yang terlalu kencang. Ia menoleh, bermaksud mengajak Kyuhyun pergi tetapi yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tak terduga. Bibirnya menyentuh material lembut dan detik berikutnya Jeyoung menyadari Kyuhyun sedang menciumnya. Dan kali ini di depan kamera.

PD dan beberapa orang yang melihatnya menahan napas, merasa adegan itu terlalu romantis dan menghayati. Bahkan Manager Kyuhyun menggelengkan kepala lalu menutup wajahnya dengan sebelah tangan.

“Dia benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati.” desisnya pasrah. PD mencengkeram script yang dipegangnya karena merasa adegan itu akan meningkatkan rating acara. Ia benar-benar gemas sekaligus kagum.

Semuanya berlangsung cepat—Jeyoung bahkan belum sempat bereaksi—Kyuhyun menyudahinya. Jeyoung sempat menangkap rona merah di kedua pipi Kyuhyun, tampak menggemaskan namun dia segera memeluknya dan menyembunyikan ekpresi itu darinya. Mendadak, Jeyoung merasa benaknya menghangat. Apa Kyuhyun juga merasa malu dengan adegan tadi?

“Jinjja, sepertinya aku akan dibully oleh Hyungdeul jika mereka melihat tayangan ini,” bisik Kyuhyun.

“Wae?” Jeyoung membiarkan Kyuhyun tetap memeluknya. Tubuhnya yang terbalut gaun dengan model bahu terbuka menjadi hangat dan terlindung dari terpaan angin pantai yang dingin.

“Mereka tahu kelemahanku, karena itu saat mereka mengejekku aku tidak bisa membalasnya.”

“Kelemahan?” Jeyoung kebingungan, “Kau tidak pandai bermesraan dengan wanita?”

“Aniyeo,” sela Kyuhyun cepat, agak tersinggung karena Jeyoung berpikir ia tidak pandai bermesraan dengan perempuan. Jika ia tidak bisa bagaimana ia mencium Jeyoung seperti tadi?

Kau. Kelemahanku itu kau. Batin Kyuhyun. Betapa ia ingin mengatakannya tetapi yang bisa ia lakukan hanya menatap Jeyoung. Gadis itu tak berkedip sekali dan Kyuhyun merasakan seluruh tubuh Jeyoung menegang. Astaga, ekspesinya sungguh menggemaskan dan membuatnya ingin tertawa. Akhirnya Kyuhyun tidak bisa menahan senyumnya lagi.

“Kau tebak saja sendiri.” ujarnya tiba-tiba sambil meleletkan lidah.

“Apa-apan itu?” Jeyoung mendengus sambil melemaskan bahunya. Ia sempat tegang karena berpikir Kyuhyun akan mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Sungguh mengecewakan sekaligus melegakan. Kyuhyun tertawa puas berhasil menjahili Jeyoung lagi. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan saat marah karena sadar telah dibodohi.

Jeyoung menggembungkan pipinya, ia kesal dibohongi mentah-mentah oleh pria jahat ini. Kyuhyun sadar tindakannya sudah keterlaluan. Ia berhenti tertawa lalu mengapit tangan Jeyoung. Gadis itu menoleh padanya dengan mata mengerjap. Kyuhyun mengangkat tangannya hingga ke dekat wajahnya lalu menciumnya dengan lembut.

“Mianhae, kau memaafkanku bukan?”

“A-apa?” Jeyoung tak bisa berkata-kata. Kini Kyuhyun mengeluarkan puppy eyesnya memohon agar ia memaafkannya. Bukannya marah Jeyoung justru tertawa kecil. Tingkahnya sungguh kekanakan. Aigoo, bagaimana ia lupa kalau Kyuhyun adalah seorang maknae?

“Baiklah, aku memaafkanmu.”

Kyuhyun melonjak begitu senang lalu mengecup tangannya lagi. Jeyoug merasa seperti putri sungguhan hari ini. Tetapi senyumnya tidak bertahan lama karena satu kalimat Kyuhyun membuatnya membelalak kaget.

“Saranghaeyo.”

Jeyoung merasa jantungnya berhenti berdetak mendengar kalimat itu. Kyuhyun mencintainya?

..To be continued..

203 thoughts on “Because WGM, You’ll Be Mine !! [Part 8]

  1. Kesempatan ngga datang 2 x ya kyu ,, jadi terima aja adegan kissing nya ,, jeyoung pasti baper nih denger kyuhyun bilang saranghaeyo ,dia pasti bingung itu beneran apa akting ,, padahal sih itu isi hati kyuhyun ,, penasaran apa yang di bicarakan kyuhyun dan tuan shin ,, sikap kyuhyun keliahatan santai

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s