Unforgottable Love [Part 1]

FF Special Sungmin’s Birthday

Tittle : Unforgottable Love Part 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Sad Ending
Lenght : Chaptered

Twitter  : @julianingati23 (yang mau boleh di follow, gak maksa kok ^_^, tapi tetep promosi *kekekk*)

Main Cast :

  • Lee Sung-Min
  • Kim Tae-Yeon

Support Cast :

  • Lee Dong-Hae
  • Jung So-Yeon

Hai.. author balik lagi membawa FF yang dibuat special untuk ultah abang super aegyeo di SJ *tepok pantat Sungmin Oppa*

FF ini masih ada kaitannya dengan FF Shady Girl Sungmin’s Story, mungkin bisa dibilang ‘before story’nya yang menceritakan khusus love story-nya Sungmin-Taeyeon. Bagi yang sudah pernah membaca FF itu pasti tahu dong FF ini akhirnya bakal gimana? Buat yang gak suka pairingnya, author gak maksa untuk baca kok ^_^ tapi makasih jika sudah memaksakan membaca apalagi sampai komen *kecup manja*

Buat yang oke-oke aja hope you like this ^^

Happy Reading ^^

Unforgottable Love by Dha Khanzaki

======Part 1======

Kilaunya air tidak seindah kilau matamu
Wanginya mawar tidak semerbak tutur katamu
Lembutnya sutera tidak selembut senyum bibirmu
Damainya awan tidak sedamai saat kau ada di sisiku

Ragamu memang sudah tidak bisa lagi kusentuh
Tutur katamu memang tidak bisa lagi kudengar
Senyum lembutmu memang tidak bisa lagi kulihat
Tapi cintamu, selalu ada menyertaiku
Meskipun kau tak ada lagi di sisiku untuk membahagiakanku

Jangan menangis sayangku
Damailah di sana, aku baik-baik saja..

==Lee Sungmin==

.
.
.

One Day In Spring

“Appa, gaun Minnie ketumpahan es krim!!”
“Aigoo, makan eskrim itu pelan-pelan..”

Sungmin dengan telaten mengelap noda cokelat yang terciprat di ujung gaun putrinya yang berwarna putih.
“Kalau begini nanti Eomma akan mengomelimu,” ucapnya lalu berjalan kembali memasuki area pemakaman. Minki dengan riang berjalan di sampingnya. Sebelah tangan Sungmin menuntun tangan putrinya berjalan sementara tangan yang satunya memegang sebuket bunga lily putih, bunga kesukaan mendiang istrinya.
“Appa, Eomma tidak kesepian tinggal di tempat ini?” tanya Minki polos sambil memandang ke sekeliling yang dilihat sejauh mata memandang hanya kumpulan nisan yang berjejer rapi.
Sungmin tersenyum simpul, dengan tenang ia menjawab pertanyaan polos putrinya, “Kau tenang saja. Eomma pasti menyukai tempat ini. Di sini lebih indah dibanding yang kau lihat.”

Minki segera mengedarkan pandangannya kembali. Ia tidak mengerti kenapa tempat sepi seperti ini bisa lebih indah dari tempat lainnya. Bagi gadis berusia 5 tahun sepertinya, taman bermain jelas lebih indah dan menyenangkan dibandingkan di sini.
“Kita sudah sampai.”

Sungmin berhenti di depan sebuah nisan dengan nama Kim Taeyeon terukir di atasnya. Ia melihat ada bunga lain yang diletakkan di sana dan dupa yang baru saja dinyalakan. Ia yakin pasti ada yang datang berziarah lebih dulu sebelum dirinya.
“Ayo beri salam pada Eomma, chagi?” ucap Sungmin pada putrinya.
“Annyeong Eomma,” Minki melambaikan tangannya yang memegang stik es krim yang hampir habis. Sungmin meletakkan bunga yang dibawanya di atas nisan istrinya dan diam di sana selama beberapa saat. Mendung di pelupuk matanya kembali menyapa. Ia berusaha kuat untuk tidak menangis di depan pusara Taeyeon namun airmata itu selalu saja datang tanpa diundangnya.
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya dengan suara rendah meskipun ia yakin Taeyeon tidak akan menjawabnya. “Aku dan anak kita baik-baik saja. Seperti yang kau lihat, kami berdua hidup dengan bahagia karena itu kau juga berbahagialah di sana.” Ia terdiam sejenak, pandangannya kini menerawang.
“Aku jadi teringat pada hari pertama kali kita bertemu. Saat itu, kau sedang menangis sendirian..”

And The Story Begin..

—o0o—

“Jinjjayo? kasus pertamamu sukses? Chukkae!!! Minumlah soju ini, gratis kuberikan untukmu..”

Sungmin menggumamkan kata terima kasih pada Ahjussi pemilik restoran steak itu dan berikutnya ia menerima dua botol soju secara gratis sebagai bentuk ucapan selamat dari Ahjussi yang sudah lama dikenalnya. Hari ini memang hari paling membahagiakan bagi Lee Sungmin karena kasus pertama yang ditanganinya sebagai pengacara sukses. Ia berhasil memenangkan kasusnya karena itulah ia berada di restoran steak yang paling terkenal di daerah sana.

“Kau merayakannya sendiri saja? Kemana teman-temanmu?” tanya Ahjussi itu sambil menuangkan soju ke gelas Sungmin.

“Mereka masih sibuk bekerja. Aku yakin tak lama lagi akan datang.” ujar Sungmin lalu meminum sojunya sekali teguk. Ia terlalu gembira untuk protes. “Sebenarnya aku menunggu sepupuku dan pacarnya, tapi aku ragu mereka akan datang tepat waktu.” Sungmin melirik jam tangannya dan menyadari waktu perjanjian sudah lewat. Mungkin Donghae dan Soyeon terjebak macet.

“Sambil menunggu, ayo ceritakan tentang kasusmu,” Ahjussi itu terlihat sangat penasaran dan Sungmin dengan senang hati membagi kisahnya. Ia bercerita panjang lebar mengenai usahanya memenangkan kasus dan Ahjussi itu tampak sangat tertarik. Berkali-kali wajah penuh kerutannya bersinar kagum.

“Aku sangat mengagumi anak muda penuh semangat sepertimu. Kau mengingatkanku pada seseorang ketika dia masih muda dulu,” gumamnya mengenang.
Jinjjayo? Nugu?”
“Aku,” serunya bangga diiringi gelak tawa. Sungmin ikut tertawa. Berkat kejadian hari ini ia menjadi begitu mudah tertawa, Sungmin iseng mengedarkan pandangan ke sekeliling dan ketika ia melihat ke bagian luar restoran, pandangannya terhenti.

Sungmin melihat seorang gadis duduk di sana dengan tangan menopang dagunya. Sungmin tidak tahu apa yang menarik dari gadis itu, mungkin ekspresinya yang membuat Sungmin merasa simpati. Meskipun jarak mereka terlampau tiga meter, namun Sungmin bisa melihat dengan jelas jejak airmata di pipinya. Dia menangis.

“Dia Taeyeon, dia gadis yang sangat ramah dan baik,” Sungmin memutar kepalanya cepat dan bertatapan dengan Ahjussi di depannya. Sungmin merasa pipinya memanas menyadari ia terlalu lama menatap gadis itu sampai-sampai Ahjussi menyadarinya. Tetapi berhubung Ahjussi itu terlanjur bercerita, Sungmin tidak akan ragu lagi untuk bertanya.
“Apa dia selalu terlihat sedih?”
“Mungkin adik dan kakaknya bertengkar lagi, entahlah. Kau tanya langsung saja padanya.” Ahjussi mengedipkan sebelah matanya. Sungmin menundukkan kepala malu, Ahjussi itu pasti berpikir macam-macam.

Sungmin menolehkan pandangan kembali pada gadis bernama Taeyeon itu. Kali ini Taeyeon tampak membuang napas, lalu meneguk minumannya tak berselera. Sepertinya dia memang sedang menghadapi masalah serius. Ah, sial, mengapa tiba-tiba Sungmin didorong keinginan untuk menghilangkan ekspresi sedih dari wajahnya? Ini aneh sekali.

“Hyung!!” Sungmin tersentak ketika pundaknya mendapat tepukan ringan. Ia mengalihkan pandangannya pada Lee Donghae yang tersenyum lebar dan Jung Soyeon, kekasihnya.

“Kemana saja kalian? Aku sudah hampir pergi jika kalian tidak kunjung muncul 5 menit lagi,” Sungmin ingin sekali terlihat marah namun nyatanya bibirnya tetap tersenyum. Terlebih ia gembira melihat Donghae dan Soyeon, mereka pasangan yang serasi. Sungmin berdoa semoga hubungan mereka bisa berlangsung hingga jenjang pernikahan.

“Maaf Hyung, Dosen Kim hari ini menyeramkan sekali. Aku diberi tugas banyak sekali.” jelas Donghae. Sungmin mengangguk ringan, ia sudah biasa mendengar cerita seru Donghae tentang kuliahnya yang menjelang akhir itu. Iseng ia melirik ke arah Taeyeon berada. Gadis itu masih di sana, kini dia tampak merenung. Kepalanya menunduk dan tangannya mengurut pelipisnya. Astaga, Sungmin benar-benar penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran gadis itu saat ini.

“Oppa, aku penasaran sekali dengan ceritamu,” suara Soyeon membuat Sungmin kembali menoleh. Ia menceritakan kembali kisah serunya di persidangan sama seperti pada Ahjussi tadi. Sesekali Sungmin mengalihkan pandangannya pada Taeyeon. Ia terkejut karena tiba-tiba Taeyeon menoleh ke arahnya dan pandangan mereka bertemu.

Deg.

Sungmin merasa jantungnya seperti jatuh. Suara gaduh pun tercipta karena tanpa sengaja Sungmin menjatuhkan sumpit yang digenggamnya. Ia tersenyum kikuk pada Soyeon dan Donghae berharap mereka tidak bertanya macam-macam. Ia berniat melanjutkan ceritanya ketika Donghae mendadak berseru.

“Oh, Taeyeon Nuna!!”

Sungmin kembali merasa dunia berhenti, terlebih karena ia mendengar nama Taeyeon. Donghae melambaikan tangannya dan ketika Sungmin menoleh, gadis bernama Taeyeon itu menyadari keberadaannya dan tersenyum.

Astaga, lirih Sungmin dalam hati. Bagaimana bisa ada seseorang yang tersenyum dengan begitu manis seperti dirinya. Jelas sekali Taeyeon bukan tersenyum untuknya melainkan karena dia mengenali Donghae.

“Donghae-ya!” untuk pertama kalinya Sungmin mendengar suara Taeyeon. Gadis itu beranjak dari tempatnya duduk lalu berjalan menghampiri meja mereka. Mendadak Sungmin diserang kegugupan, lebih parah daripada ketika dirinya akan menghadapi persidangan pertamanya. Duduknya mulai tidak nyaman dan ia berkeringat dingin.

Taeyeon kini sudah berdiri di depan meja mereka, tersenyum pada Donghae. Sungmin hanya pura-pura makan untuk menjaga wibawanya.
“Tak kusangka akan melihatmu di sini. Wah, sedang makan siang bersama pacarmu? Kibum tidak ikut denganmu?”

Sungmin mengangkat kepalanya mendengar Taeyeon menyinggung Kibum, hoobaenya di universitas sekaligus sahabat baik Donghae. Taeyeon kini sudah duduk di kursi tepat di sampingnya. Astaga, ini lebih membuatnya gugup lagi.

“Kau tahu Nuna, dia sibuk mempersiapkan untuk magang pertamanya di rumah sakit. Ah, perkenalkan ini Jung Soyeon, pacarku dan dia Sungmin Hyung, kakak sepupuku.”
Sungmin terkejut ketika Taeyeon menoleh padanya, tersenyum hangat sambil mengulurkan tangan.
“Oh, jadi kau yang bernama Sungmin?” Taeyeon mengerjap takjub.
“Kau mengenalku sebelumnya?” Sungmin membelalakkan mata tak percaya.

Taeyeon mengangguk mantap, “Em. Kibum sering bercerita tentangmu. Dia bilang kau calon pengacara yang hebat,” Dengan kaku Sungmin menjabat tangan Taeyeon dan dia tahu itu adalah tangan paling halus yang pernah ia pegang. Sungmin menelan ludahnya gugup namun kemudian ia mengerutkan kening bingung.

“Bagaimana kalian bisa saling kenal?”

Donghae tersenyum manis dan menjawab lebih dulu sebelum Taeyeon membuka mulut. “Hyung tidak tahu? Dia kakak perempuan Kibum.”
“Jinjja?” Sungmin melebarkan matanya lalu menoleh pada Taeyeon. Ia mencoba mencari kemiripan Taeyeon dengan Kibum. Tidak terlalu mirip meskipun Sungmin merasa senyum Taeyeon mirip dengan Kibum. “Kalau begitu Heechul Hyung,” Sungmin menggantungkan kalimatnya.
Seolah paham, Taeyeon mengangguk. “Ya, dia Oppa-ku.”

Aigoo, lirih Sungmin pelan. Sekarang ia baru sadar kenapa Taeyeon begitu murung. Ya, siapa yang tidak tahu hubungan dingin yang terjadi antara Kibum dan Heechul—setidaknya teman-teman dekat Kibum tahu. Jadi penyebab mendung di wajah Taeyeon adalah mereka?

“Jadi, apa itu sebabnya kau menangis?” Sungmin tidak tahu kenapa ia bertanya. Ketika melihat Taeyeon melebarkan mata, Sungmin sadar sudah bertanya hal yang aneh.

“Bagaimana kau tahu?” Taeyeon bertanya heran. Sungmin mengulurkan tangannya menyentuh pipi Taeyeon, mengusap jejak airmata yang tersisa di pipinya. Sungmin bisa merasakan kulit lembut dan hangat Taeyeon di jari tangannya, membuat hatinya berdesir.

“Ada sisa airmata di pipimu.” Sungmin berkata lirih, merasa malu dengan tindakan impulsifnya. Ia sempat takut Taeyeon akan marah, tetapi nyatanya gadis itu justru mengerjapkan mata berkali-kali lalu menundukkan wajahnya dengan pipi merona.

“Ah, memalukan sekali.” Taeyeon menutup matanya dengan kedua tangan. Sungmin mengulum senyum melihat tingkah menggemaskan Taeyeon.

“Nuna, kau menangis?” Donghae terkejut. Ia tidak menyadari seandainya Sungmin tidak berkata apa-apa.

Taeyeon mengangkat wajahnya cepat, menatap Donghae dengan sorot penuh permohonan, “Jebal, jangan katakan tentang ini pada Kibum atau Heechul Oppa. Aku tidak mau membuat mereka bertengkar kembali.”

“Astaga,mereka belum berubah juga?” Donghae mendesah iba. Sebagai sahabat Kibum tentu ia tahu betapa tidak akurnya Kibum dan Heechul. Mereka kerap kali terlibat perang dingin. “Sekarang apa lagi masalahnya?”

Taeyeon mengurut pelipisnya, ia membuang napas lelah berkali-kali. “Seperti biasa, Heechul Oppa berkata Kibum tidak cocok menjadi dokter, entah apa tujuannya memanasi Kibum. Akhirnya mereka bertengkar dan Heechul Oppa memutuskan pergi dari rumah.”

Sungmin bisa merasakan sakit seperti paru-paru yang diperas kuat. Wajah Taeyeon, cara Taeyeon menceritakan, semua itu membuat Sungmin merasa iba dan ingin melakukan sesuatu untuk membuatnya berhenti bersedih. Tetapi ia tidak mau dianggap lancang. Sehingga tangan yang sejak tadi berpangku di atas pahanya hanya bisa mengepal erat, ia ingin memeluk Taeyeon, sungguh. Tetapi Sungmin menahannya mati-matian.
Setelah mengumpat karena tidak bisa berbuat apa-apa, Sungmin berhasil membuka mulutnya untuk berkata, “Kau sudah berusaha hingga sejauh ini, meskipun pada akhirnya bukan happy ending yang kau dapat. Setidaknya kau masih ada jika mereka membutuhkanmu. Tidak perlu merasa bersalah. Semua bukan salahmu.”

Taeyeon tertegun menatap Sungmin. Selama beberapa detik keheningan itu Sungmin merasakan sesuatu berhasil menggerakkan hatinya. Ia tidak bisa menyimpulkan apa perasaan itu. Namun sesuatu yang merasuk tiba-tiba itu membuatnya bahagia.

—-o0o—-

“Terima kasih dan maaf karena ceritaku mengacaukan acaramu. Seharusnya kau bersenang-senang hari ini.” Taeyeon meminta maaf sekaligus berpamitan pada Sungmin, Donghae, dan Soyeon sebelum dia masuk ke dalam mobilnya.

“Gwaenchana. Aku tidak keberatan. Senang bertemu denganmu, Taeyeon-ssi.” Sungmin tersenyum tulus. Ia memang merasa harus mensyukuri pertemuan mereka hari ini. Taeyeon sempat terdiam menatapi Sungmin sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya lalu pergi.
Sungmin tidak melepaskan perhatiannya pada mobil Taeyeon sampai mobil sedan berwarna putih itu menghilang dari pandangannya.

“Kau sengaja memanggil Taeyeon tadi bukan?” ujar Sungmin tanpa memandang Donghae. Kemenakannya itu tersentak, lalu tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya.

“Seperti biasa, kau selalu bisa menebakku, Hyung.” Akunya sambil nyengir kuda. “Memang siapa yang tidak curiga di saat kau terus menerus menatap ke satu tempat.” Donghae terdiam sejenak, menatap Sungmin intens, “Kau menyukainya, Hyung?”

Sungmin mengerjapkan mata sontak menoleh, “Suka?” ia berkata lirih, tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Ia sendiri tidak bisa memutuskan apakah perasaannya memang rasa suka atau bukan. Tetapi ia bisa memastikan satu hal, Aku hanya berharap bisa bertemu dengannya lagi untuk memastikan perasaan ini.

—o0o—

Sungmin tidak pernah menyangka pertemuan singkat dengan Taeyeon di restoran itu menjadi gerbang awal yang akan membawanya pada perasaan yang tidak pernah ia duga. Sungmin mendapati dirinya merindukan Taeyeon. Ia terlalu malu untuk bertanya pada Donghae tentang Taeyeon, terlebih bertanya langsung pada Kibum. Akhirnya Sungmin memutuskan mengunjungi restoran steak favoritnya dengan harapan bisa menemukan Taeyeon di sana.

“Mencari Taeyeon?” Ahjussi itu bertanya usil melihat Sungmin mengedarkan pandangan lebih dahulu sebelum menyebutkan pesanannya. Sungmin yang kaget menoleh cepat.

“Aniyo,” elaknya lalu menyebutkan pesanannya. Sungmin tidak tahu apakah tingkahnya terlalu menunjukkan bahwa ia mencari seseorang tetapi bagaimana Ahjussi ini menyangkut pautkan tingkah anehnya dengan Taeyeon?

“Taeyeon hanya berkunjung di hari selasa dan sabtu. Aku yakin hari ini ia sedang sibuk dengan penelitiannya di Lab.”
“Penelitian?” Sungmin mengerutkan kening.
“Taeyeon seorang peneliti. Apa dia tidak bercerita?”
Sungmin menggeleng sekaligus kecewa karena sadar ia tidak mengetahui apapun tetang Taeyeon. Terlebih ia tidak mungkin menemukan Taeyeon hari ini. Ia menyesal kenapa datang kemari di hari Senin. Seharusnya ia datang besok.

Akhirnya Sungmin menikmati steak favoritnya dengan setengah hati. Ia membayar makanan yang dihabiskannya dan bersiap keluar dari restoran. Ketika ia hendak membuka pintu, gerakannya terhenti karena pintu itu mengayun terbuka lebih dulu dan menampilkan sosok yang memang dicarinya sejak tadi. Sungmin seketika terpaku.
“Taeyeon-ssi,”
“Sungmin-ssi,” Taeyeon mengerjap tak percaya, ia sempat tercengang sebelum tersenyum dan menyapanya. “Lama tak berjumpa. Aku tidak percaya kita bertemu lagi di sini.” Senyum manis yang disukai Sungmin muncul di bibir gadis itu.

“Kau akan makan di sini?” tanya Sungmin dengan nada kecewa. Kenapa Taeyeon datang di saat dirinya akan pergi?
“Ya, dan kulihat kau sudah selesai.”
“Ya.” Sungmin menggeser tubuhnya agar Taeyeon masuk. “kalau begitu sampai nanti.” Sungmin tersenyum sedih, membungkukkan badannya singkat lalu keluar dari restoran. Dalam hati ia mengumpat bodoh kenapa tidak bisa mengajak Taeyeon berbicara lebih lama. Bukankah tujuannya datang kemari memang untuk mencari gadis itu? Sungmin memejamkan matanya erat untuk meyakinkan diri sebelum berbalik menghadap Taeyeon.
“Taeyeon-ssi,” panggilnya kembali. Taeyeon menoleh. “hari ini, apa kau tidak keberatan menemaniku?” Sungmin terlalu gugup sampai-sampai mengatakan kalimat itu dengan nada cepat dan kaku. Taeyeon mengeryitkan kening karena kata-kata itu hanya terdengar sebagian.

Sungmin berdehem lalu mengulai kalimatnya dengan nada yang lebih pelan, “Apa kau tidak keberatan menemaniku hari ini?”

Taeyeon termangu, mungkin terkejut dengan ajakannya yang terlalu mendadak. Hal itu membuat Sungmin merasa sangat konyol dan malu. Ia mengumpati diri dalam hati dan berniat meminta maaf saat Taeyeon tiba-tiba tertawa kecil.

“Gwaenchana Sungmin-ssi, aku tidak keberatan menemanimu. Aku memang butuh teman hari ini.”
Seuntai kata-kata singkat itu membuat Sungmin lega. Ia melemaskan tubuhnya dan entah kenapa, ikut tertawa ringan setelahnya. Aigoo, apa yang terjadi denganmu Lee Sungmin? Lirihnya tak habis pikir.
“Kalau begitu, ayo.” Sebelum Sungmin keluar, tanpa sengaja ia menoleh pada Ahjussi pemilik restoran dan tanpa disangka, Ahjussi itu mengedipkan mata jahil. Sungmin tersenyum malu lalu menundukkan kepala.

Sungmin mengajak Taeyeon berjalan-jalan sambil mengobrol. Mereka berbagi banyak cerita termasuk tentang keluarga, pekerjaan, hobi, sampai film kesukaan. Sungmin tidak menyangka bisa begitu nyaman ketika berbicara dengan seorang wanita. Bahkan Taeyeon bisa-bisanya tertawa ketika Sungmin mengeluarkan joke andalannya yang selalu dicibir Donghae karena super-tidak-lucu.

“Apa kau memiliki niat untuk menikah muda?” Taeyeon bertanya tiba-tiba ketika mereka berjalan-jalan di daerah Myeong-dong yang ramai oleh pejalan kaki di malam hari seperti sekarang.

Sungmin mengerjap, pertanyaan yang tak pernah ia sangka sama sekali, “Jika ada wanita yang bersedia menikah denganku, mengapa tidak?”

Taeyeon tersenyum kecil, “Bahkan di saat kau belum siap?”
Sungmin sedikit menengadahkan kepalanya, dengan pandangan menerawang dan tersenyum dia menjawab, “Siap atau tidak kau tidak akan tahu. Tetapi jika sudah bertemu dengan wanita yang siap hidup bersama denganku, maka saat itu aku tahu aku sudah siap. Bukankah pernikahan itu tidak hanya dijalani sendirian, tetapi bersama-sama.”

Taeyeon lagi-lagi tertegun menatapi Sungmin. Ia menengadahkan kepalanya sejenak, lalu mendesah ringan, “Beruntung sekali wanita yang menikah denganmu. Dia pasti akan sangat bahagia. Kau sungguh pria yang baik.”

Aku berharap wanita beruntung itu dirimu, batin Sungmin. Ia cepat menggelengkan kepala saat sadar sudah berpikir yang tidak-tidak. Sekarang terlalu cepat untuk memikirkan tentang pernikahan. “Kenapa bertanya? Kau ingin segera menikah?”
Taeyeon mendesah kembali, terdengar lebih frustasi dari sebelumnya, “Ada seorang rekan kerjaku yang mengajakku menikah.”

Tiba-tiba Sungmin merasa jantungnya hampir jatuh. Langkahnya terhenti seketika. Ia tercengang, “Benarkah?” bisiknya kaku.
Taeyeon tidak menyadari sama sekali perubahan di wajah Sungmin, dia terus melanjutkan tak peduli Sungmin merasa hatinya seperti tersengat listrik, “Ne. Dia memintaku hari ini. Aku tidak tahu, apa yang harus kukatakan padanya. Dia temanku sekaligus partner kerjaku yang baik.”

“Lalu apa yang membuatmu bimbang?”

“Masalahnya, aku tidak tahu seperti apa perasaanku padanya.” mereka bersiap di tepi jalan menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi merah. “Dia berkata bahwa dia mencintaiku dan ingin hidup bersamaku, tetapi aku tidak mengerti perasaan halus seperti cinta. Aku tidak yakin,” tepat saat itu lampu berubah merah dan mobil-mobil di jalanan berhenti, memberikan kesempatan para pejalan kaki untuk menyeberang. Sungmin dan Taeyeon segera melangkah buru-buru bersama puluhan pejalan kaki lain.

Sungmin menatap Taeyeon sedih. Ia tidak senang mendengar cerita Taeyeon, padahal sebelumnya ia merasa berbincang dengan Taeyeon adalah hal paling menyenangkan dalam hidupnya. Sungmin bingung mengapa ia bisa sangat cemburu pada pria yang bahkan tidak pernah ia temui. Mungkin karena pria itu berani mengajak Taeyeon menikah sementara dirinya..

“Taeyeon-ssi,!!” Sungmin dengan sigap menangkap tubuh Taeyeon yang terhuyung karena seseorang menubruknya dengan keras dari arah berlawanan. Orang yang menabrak tadi meminta maaf lalu pergi dengan cepat. Sungmin buru-buru membawa Taeyeon ke sisi jalan lain sebelum lampu terlanjur berubah hijau.

Gwaenchana?” Sungmin bertanya setelah mereka berdiri di atas trotoar.
“Ne.” Pipi Taeyeon merona merah dan pandanganya tertuju pada tangan mereka yang entah sejak kapan tertaut. Sungmin yang baru menyadari hal itu segera melepaskan tangannya.
“Mianhae. Aku..” Sungmin mengusap tengkuknya canggung. Taeyeon hanya menanggapinya dengan senyuman ringan dan mereka kembali melanjutkan perbincangan. Sungmin menghembuskan napas lega karena Taeyeon tidak membahas tentang masalah pria itu lagi.

“Kamsahamnida Sungmin-ssi, aku senang kau mau menemaniku hari ini. Mungkin aku sudah menangis sendirian lagi jika kau tidak ada.” Taeyeon menundukkan kepalanya sekilas sebelum masuk ke dalam mobilnya. Sungmin mengangguk ringan sambil tersenyum.

“Jangan terlalu banyak menangis. Airmatamu terlalu berharga untuk dihamburkan. Keluarkan airmatamu untuk orang-orang yang benar-benar kau sayangi,” Sungmin terdiam sejenak meskipun tidak yakin akan mengatakan kalimat berikutnya. “Untuk masalah pernikahan itu, jika kau memang merasa yakin dengan pria itu. Terima saja sebelum kau menyesal karena terlambat menyadari bahwa pria itu sangat penting bagimu.” Sungmin menundukkan kepalanya sekilas lalu masuk lebih dulu ke dalam mobilnya. Ia pergi dengan perasaan perih dan hati menyesal. Ia pasti akan menyesal dengan kata-katanya sekarang. Menyerah sebelum bertanding, terdengar seperti pengecut.

—o0o—

Sungmin mencoba untuk melupakan Taeyeon. Dia memfokuskan perhatiannya pada pekerjaan. Namun bukannya berhasil melenyapkan Taeyeon dari pikirannya, ia justru semakin teringat Taeyeon.
Sikap Taeyeon yang rendah hati dan supel membuat Sungmin merasa nyaman sekaligus terpukau. Sungmin sadar apa yang ia rasakan untuk Taeyeon berbeda dengan perasaan ketika ia menghadapi gadis manapun.

Sungmin kerap kali tertawa dan merasa bahagia melihat Taeyeon tersenyum. Hatinya juga selalu merasa seperti tersayat pisau setiap kali Taeyeon meneteskan airmata. Dan bodohnya, Sungmin baru menyadari perasaannya setelah sekian lama tak bertatap muka dengan gadis itu.

Sungmin duduk termenung di kamarnya ditemani sebuah lagu yang mengalun lembut dari ipod kesayangannya.

Hangeoreum hangeoreum gayo
[Step by step i walk away]
Geudaedo naegero wayo
[You come and follow me]
Geudae jageun misoneun
[Your small smile]
Naegen jeonbuga dwaeyo
[Means everything to me]

Sarangigetjyo ireon nae maeumeun
[It must be love – what i’m feeling right now]
Sarangigetjyo bujokhajiman
[It must be love – although my love is lacking]
Nuneul gamado gwireul magado geudaen
[Even if i close m eyes,even if i block my ears]
Neukkyeojineun naeanui sarang
[I can still feel you in my love]
–Daddy Long Legs by Baek Ae Yeon–

Ini adalah cinta, Sungmin sangat yakin akan hal itu. Ia tidak tahu bagaimana bisa menyimpulkan perasaan asing dalam hatinya adalah cinta. Tetapi semua itu bisa ia jelaskan. Ia merasa bahagia dan hidupnya berjalan benar jika Taeyeon ada bersamanya. Sebaliknya, ia merasa hampir mati saat mendengar cerita Taeyeon tentang pria lain. Tapi, apa cinta memang sedangkal itu?

“Kau jelas jatuh cinta,” sungmin mengerjap lantas mengangkat kepalanya menatap ibunya. Entah sejak kapan ibunya sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Eomma bicara apa?” Sungmin tertawa hambar saat ibunya berjalan menghampiri lalu mengusap kepalanya.
“Tidak perlu menyembunyikannya dari Eomma. Eomma mengenalmu dengan baik, sayang. Kau sekarang jatuh cinta. Jika tidak kenapa kau terus memandangi gadis itu seolah dialah jawaban dari seluruh masalah di dunia.”

Sungmin menoleh menatap ibunya, Eomma menatapnya dengan penuh kasih sayang, “Nyatakan perasaanmu padanya sebelum semuanya terlambat.”
“Mungkin semuanya sudah terlambat,” sesal Sungmin teringat ucapannya sebelum berpisah dengan Taeyeon. Gadis itu pasti sudah menerima lamaran temannya.
“Menyerah sebelum berusaha? Itu tidak terdengar seperti putra Eomma. Kau sudah menjadi pengacara hebat. Eomma rasa memenangkan hati satu orang wanita tidaklah sulit.”

Kata-kata ibunya begitu mengetuk hati Sungmin. Benar, tidak ada salahnya untuk mencoba. Meskipun mungkin kelak Taeyeon akan menolaknya, ia tidak akan menyesal. Di saat ia sibuk menyusun rencananya untuk mengajak Taeyeon bertemu, ponselnya bergetar. Tanpa menunggu Sungmin mengangkatnya.
“Yeobseo,”
“Sungmin-ssi,”
Senyum cerah terbit di bibir Sungmin ketika suara Taeyeon terdengar. “Taeyeon-ssi? Ada apa menelepon?”

“Apa hari ini kau ada waktu?”

“Ne, waeyo? Apa ada sesuatu yang ingin kau rayakan? Suaramu terdengar senang.”
“Kau memang pengacara peka. Aku memang sedang gembira dan aku ingin merayakannya dengan seseorang dan orang pertama yang terlintas adalah kau.”
Sungmin senang bukan main mendengarnya, “Apa terjadi sesuatu yang luar biasa?”
“Iya, akan kuceritakan nanti. Bagaimana kalau jam 6? Di restoran steak yang biasa.”
“Oke.”
“Sampai nanti.”

Setelah pembicaraan selesai Sungmin masih tetap tersenyum. Ia merasa begitu lega seolah beban hidupnya menghilang. Ia bertanya-tanya apa yang membuat Taeyeon begitu gembira namun detik kemudian senyumnya menghilang. Mungkinkah Taeyeon akan memberitahunya tentang lamaran pria itu? Oh Tuhan, jangan katakan Taeyeon sudah menerima lamaran pria itu.

—o0o—

Sungmin tidak sabar menunggu waktu pertemuan tiba. Ia sudah didera rasa penasaran, cemas, sekaligus takut sepanjang hari. Sebelum ia menjadi gila, akhirnya ia memutuskan mengambil kunci mobilnya dan pergi untuk menjemput Taeyeon. Dia sudah meminta agar Taeyeon mau dijemput olehnya.

Sepanjang perjalanan Sungmin merasa hatinya tidak nyaman untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan. Jantungnya berdebar kencang dan ia merasa begitu cemas akan sesuatu. Firasat apa ini? Setelah sadar sesuatu yang buruk mungkin sedang atau akan terjadi, Sungmin mempercepat laju mobilnya.

Kecemasannya terjawab ketika ia tiba di lab tempat penelitian. Mengapa banyak sekali orang di sana? Sungmin bisa melihat asap hitam tebal membumbung di udara, menggulung-gulung di langit seolah berlomba untuk mengubah langit sore itu menjadi kelabu. Sungmin menggenggam setirnya erat. Jangan katakan…

“Taeyeon!!” serta merta Sungmin turun dari mobilnya dan berlari menembus kerumunan orang-orang. Benar saja, ketika tiba di depan gedung, Sungmin membelalak melihat gedung tempat penelitian itu terbakar.

“Apa semua orang sudah keluar?” tanya salah seorang pemadam kebakaran pada beberapa orang dengan baju putih panjang.

“Aku tidak yakin, tetapi aku tidak melihat temanku Taeyeon. Aku takut dia masih terjebak di dalam,” ucap seorang pria yang usianya mungkin tidak jauh dengan Sungmin. Mendengar hal itu Sungmin membelalakkan mata dan mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gerakan cepat, memindai semua orang yang berada di sana mencoba mencari keberadaan Taeyeon.

“Kau yakin? Taeyeon masih ada di dalam?” Sungmin tiba-tiba menyerobot.
“Nuguseyo?” tanya pria itu tidak suka, Sungmin tidak menghiraukannya.
Ia berlari ke sekeliling sambil memanggil-manggil Taeyeon namun tidak ada jawaban.

“Terakhir kali Taeyeon terlihat di mana?” cecar Sungmin tak sabar.
“Di ruang lab nomor tiga. Letaknya di dekat ruang pertemuan—hei kau mau kemana!!!” pria yang menjelaskan tadi memekik karena tiba-tiba Sungmin berlari ke arah gedung setelah membasahi sekujur tubuhnya dengan air.

“Apa yang kau lakukan Tuan!!!” teriak pemadam kebakaran panik.

…To be continued…

91 thoughts on “Unforgottable Love [Part 1]

  1. Waw mantab ini cerita awal pertemuan Sungmin oppa dan Taeyeon istrinya, flashback story nya bagus bgt, smg Taeyeon bs diselamatkan Sungmin oppa dan nanti oppa hrs berani mengungkapkan rasa cintanya pd Taeyeon, ditunggu kisah selanjutnya chingu

  2. Huuaaa ini knp sama email ku??ff udah ada tiga yg d publish knp gak ada emailnya!?? Igeo eotheokhe???
    Waahhh alur cerita ini terjadi sblum shady girl series ya thoor??? Lamaaa bingiit heheee
    waaahhh umin sweet deeh…jadii superman yaa d sini. Mnyelamatkan sang pujaan hatii. Next chapt d tunggu yaaa….

  3. Whuah ini awal crta shady girlnya sungmin ya… Keren thor, wlaupun qt smua tau gmn akhirnya nanti tp crtanya ttep bkin pnasaran, gmn sih awal ksahnya tae-ming hehehe lanjut….

  4. sebelumnya selalu penasaran ttg kisah sungmin-taeyeon..
    Akhirnya bisa tau juga sekarang ^.^
    Waaah, author yg satu ini benar benar daebaak. . .
    Fighting!!

  5. Ini shady girl tentanh sungmin oppa dan taeyon eonni…
    Terimakasih kpda authornya yng udh bikin crta ini,, jdi tau dh bgaimana ksh cinta mrka

  6. whuuuaaa author mian2 bru bisa comment.. dri kmrin.g ke kirim komment’a.. othokke…. (T_T)

    sebelum’a.. gomawooo ne untuk kerja keras’a.. n kyak’a bkal t’haru bgt nich.. suka sma crta yg lmbut bgini… cinta pandangan pertma kyak’a… hehej
    d tunggu kelanjutan’a.. dan tetep semangat… !!!!

  7. Ohhh..
    Awal pertemuan mereka kayak gituu.. Aku emang penasaran dari dulu chingu, gimana cerita antara Sungmin oppa dan Taeyon eonni..
    Ditunggu lanjutannya yaa chingu🙂
    Makasi udah publish cerita inii🙂

  8. seeddiihh banget rasa pas baca,
    Walaupun udh tau cerita akhirnya sperti apa tapi tetep aja penasaran, author daebak deh udh bikin aku penasaran hehehe😀

  9. .author, udah lama bgt gax muncul lgi,, kenapa gax dilanjut cerita’y,, tiap hari ngecek ni blog ttp sama. Kalo author ada masalah moga cpt selesai dehh, gue udah kangen BERAT ma FF’y author … Figthing

  10. .author, udah lama bgt gax muncul lgi,, kenapa gax dilanjut cerita’y,, tiap hari ngecek ni blog ttp sama. Kalo author ada masalah moga cpt selesai dehh, gue udah kangen BERAT ma FF’y author,, udah males bca FF lain klo bukan FF author… Figthing

  11. aku baru baca ff ini ><a dan aku senang karena eonni membuat cerita semacam shady girl versi sungmin-taeyeon hehe terimakasih eonni ^^ ah iya eon shady girl heechulnya ditunggu eon next partnya😉

  12. Udah lama dipost tapi baru baca skarang biar gak penasaran bacanya hehe
    sungmin tingkahnya bikin geregetan aja, next taeyeon gmana?

  13. pengen baca… tapi kok nggak tega…. ;_____; maksud saya.. endingnya kan taeyon kudu dibikin meninggal kan yaak~ saya kurang suka sama cerita sad ending akhir2 ini… T^T hiks, kapan2 aja deh bacanya, kalo mood nya pengen cerita angst.. T^T

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s