Shady Girl Heechul’s Story (Part 10)

Tittle : Shady Girl Heechul’s Story Part 10
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life
Length : Chaptered
Twitter : @julianingati23

Main Cast :

  • Kim Heechul
  • Sung Youngjae

Support Cast :

  • Kim Kibum

Part ini akhirnya bisa diterbitkan juga.. ^_^ Happy Reading..

Shady Girl Heechul's Story by Dha Khanzaki

=====Part 10=====

Hari minggu tiba lebih cepat dari yang direncanakan. Young Jae membereskan lembaran-lembaran sketsanya untuk persiapan lomba dan sketsa gaun Hwang Jin Mi. Sejak kamar tidurnya berpindah ke kamar Heechul, Young Jae diberi kekuasaan atas kamar tidur lamanya dan dia mengubah tempat itu menjadi ruang kerja pribadinya—lebih kecil dibandingkan ruang kerja Heechul.

“Oppa, kau sudah siap?” tanya Young Jae sambil merapikan posisi poninya yang baru dipotong. Tak lupa ia merapikan bajunya meskipun tahu perutnya masih rata sampai usia kehamilannya menginjak bulan ke-empat. Jika ia tidak bilang orang-orang tidak akan tahu dia sedang mengandung. Tapi tak apalah, toh setelah bulan ke-lima ia akan melihat sendiri ukuran perutnya membesar dan semakin besar di bulan ke-sembilan. Young Jae sedang menghitung-hitung kapan bulan ke sembilan itu ketika pintu kamar mandi menjeblak terbuka.

“Huh, sepertinya aku harus beli alat cukur baru. Milikku sudah usang,” gerutu Heechul sambil merapikan jas semi formal abu-abunya. Senyum di wajah Young Jae terbit.

“Aku baru tahu suamiku pria paling tampan di dunia,” ucapnya penuh kekaguman sambil tak henti-hentinya memandangi Heechul seolah dia adalah maha karya yang lebih indah dari lukisan Monalisa milik Leonardo Da Vinci.

“Seluruh dunia juga sudah tahu. Kau saja yang terlambat menyadarinya,” Heechul tampaknya tak terkesan sama sekali dengan ucapan Young jae. Dengan cueknya pria itu melangkah melintasi Young Jae yang cemberut menatapnya.

“Tidak berperasaan. Seharusnya kau balas memujiku; ‘Oh, tentu saja istriku yang paling cantik di dunia’.”

“Aku tidak akan membuang waktuku untuk membual seperti itu. Lagipula apa untungnya memfitnah orang lain?”

“Omo, fitnah??” ulang Young Jae terperangah. Lagi-lagi ia merasa sangat tersinggung dengan sikap tak berperikemanusiaan Heechul. Pria ini tidak berubah rupanya, masih juga senang menyinggung orang lain. Ia mendenguskan nafasnya berkali-kali lalu membuang wajahnya. Ia pergi sambil menghentak-hentakkan kaki.

“Apa haknya berkata aku tidak cantik? Dia bahkan berdandan lebih lama dari perempuan. Dasar pria aneh,” gerutunya sambil lalu.

“Menggerutu sendiri lagi,” lirih Heechul geli.

—o0o—

Pesta ulang tahun sederhana itu dilangsungkan di kebun belakang rumah Kim Kibum, dokter muda dari Seoul General Hospital itu. Heechul dan istrinya menghentikan mobil di depan garasi yang cukup luas di depan rumah berlantai dua dengan cat putih dan beranda berpagar besi di lantai dua.

“Rumah ini milik Taeyeon, sebenarnya.” Gumam Heechul ketika mereka baru turun dari mobil. “Tapi adikku yang baik hati itu memberikannya pada Kibum.”

Young Jae tak menjawab apapun, dia hanya diam sambil mengikuti Heechul yang berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah menekan bel, mereka menunggu cukup lama hingga akhirnya pintu dibuka oleh Jarin, istri Kibum.

“Akhirnya, kami bertanya-tanya kapan kalian datang.” Jarin menyambut mereka hangat sambil membukakan pintu lebar-lebar. Heechul mengusap tengkuknya canggung. Young Jae tersenyum simpul melihat kegugupan suaminya. Ia memeluk Jarin sebentar.

“Pestanya di halaman belakang, ayo..” Jarin menuntun mereka ke halaman belakang  melewati beberapa ruangan hingga akhirnya tiba di halaman yang tidak terlalu luas tapi cukup untuk mengadakan pesta barbeque dengan kapasitas dua puluh orang.

Young Jae berseru takjub melihat taman belakang yang diramaikan oleh gelak tawa dan candaan memenuhi udara. Bau harum sosis dan daging yang dibakar tercium jelas. Di dekat kolam ikan terdapat meja yang menghidangkan aneka makanan lezat, camilan dan berbagai jenis minuman dingin.

“Bukankah kau bilang ini pesta sederhana?” ujar Heechul menoleh pada istrinya. Young Jae mengendikkan bahu. Jarin mengajaknya bergabung dengan beberapa orang yang asyik bercengkrama sambil membakar sosis di atas bara api.

Heechul tidak lantas bergabung. Ia memilih diam di tempatnya, di atas teras dibandingkan ikut berbaur di atas tanah pekarangan bersama yang lainnya seperti yang Young Jae lakukan. Heechul memandangi kerumunan orang-orang itu dengan ekspresi tak terbaca. Jelas Heechul dilanda rasa canggung yang luar biasa. Selama ini ia sudah bertindak kurang ajar pada adiknya sendiri. Bagaimana ia harus menghadapi Kibum dalam situasi seperti ini?

“Mana Heechul Hyung?” tanya Kibum heran ketika ia melihat Young Jae hanya memberi ucapan selamat padanya seorang diri. Young Jae melirik ke samping dan baru sadar Heechul tidak ada bersamanya. Ia harus mengedarkan pandangan untuk menemukan sosok Heechul yang ternyata masih berdiri di atas teras.

“E—sepertinya ada yang ingin dibicarakannya denganmu. Sesuatu yang penting dan hanya ingin didengar oleh kalian berdua saja.” ucap Young Jae menyadari tindakan Heechul. Kibum menoleh ke arah kakaknya itu sejenak sebelum pamit sebentar dari Kyuhyun dan Siwon yang mengobrol dengannya sejak tadi.

“Hyung kau tidak bergabung?” Kibum bertanya setelah berada di depan Heechul.

“Ah, ne..” gumam Heechul canggung. “Aku tidak akan berada lama di sini.”

“Waeyo? Pestanya baru akan dimulai,” Kibum memperlihatkan wajah bingungnya. Tak ada rasa canggung, marah, ataupun mengejek seperti yang Heechul bayangkan sebelumnya. Kibum tetap ramah dan menyambutnya seolah tak terjadi apapun, seperti biasa.

“Aku hanya ingin meminta maaf atas sikapku selama ini. Aku merasa buruk sekali karena sudah memperlakukanmu tidak adil—kau tahu maksudku,” Heechul merasa pidato di depan presiden tidak akan membuatnya gugup seperti ini terlebih dengan beberapa orang yang diam-diam mencuri dengar pembicaraan mereka. Rupanya tanpa disadari Heechul beberapa teman dekat Kibum memang menyadari keanehan hubungan antara Kibum dan kakak laki-lakinya itu namun mereka tidak pernah mempertanyakannya sama sekali karena Kibum selalu berkata Heechul baik-baik saja dengannya.

Heechul diam sejenak melihat Kibum justru melongo menatapnya. Apa dirinya terlihat bodoh sekarang atau Kibum diam memikirkan kalimat untuk mengolok-oloknya? Tanpa disangka detik berikutnya Kibum tersenyum hangat.

“Tak ada alasan bagiku membencimu, Hyung..”

Heechul mendesah lega mendengarnya. Seperti baru saja melepaskan beban berat yang ia panggul selama bertahun-tahun. Untuk pertama kalinya ia bisa tersenyum bebas pada adiknya.
“Jadi, masih ingin pergi?” tanya Kibum.
“Oh, kau mengusirku?”
“Tentu saja tidak. Sekarang ayo bergabung dengan yang lain.”

Semuanya bersenang-senang hari itu. Heechul tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Kini ia bisa bercanda bebas dengan adiknya tanpa beban apapun. Young Jae tersenyum diam-diam sambil menatapi suaminya. Ia menoleh kembali pada Haebin, istri dari Lee Donghae dan mereka sedang berkonsultasi seputar cara menangani suami yang mudah sekali marah.

“Kudengar dari dokter Kim kau sedang hamil?” tanya Haebin sambil menggendong putranya, Haeyoung. Pipi Young Jae seketika merona.

“Ya, baru sekitar dua minggu.” Ujarnya gembira seraya mengusap perut.

“Rasanya tidak sabar ingin menggendongnya.”

“Ah, tunggu sampai anakmu lahir nanti. Mengurus bayi jauh lebih repot dibandingkan mengurus anak-anak usia 6 tahun. Kau akan kerepotan setengah mati.” Kali ini yang menimpali adalah Insung, istri dari Sungmin yang Young Jae baru ketahui adalah mantan suami dari adik Heechul, Kim Taeyeon yang sudah meninggal dunia.

“Benarkah?” Young Jae tidak tahu sama sekali tentang cara-cara mengurus bayi. Mungkin sekarang sudah saatnya dia membaca buku mengenai hal itu.

“Ah, artinya hanya aku di sini yang belum tahu rasanya mengandung? Mira-ssi saja sedang mengandung sekarang..” Hyun Jung yang sejak tadi hanya memperhatikan kali ini ikut bicara. Dia menoleh pada suaminya, Kyuhyun yang sibuk berbincang dengan Heechul. Mungkin membahas tentang bisnis mereka.

Kibum menghampiri Young Jae yang kini sedang mengisi piring makannya untuk yang ke-lima kali. Dirinya sendiri terkejut bisa makan sebanyak itu.
“Semua wanita hamil memang makan sebanyak itu?” tanyanya melirik piring penuh potongan daging asap di tangan Young Jae.

“Entahlah, aku hanya tahu aku masih lapar.” Young Jae tersenyum tipis. Perhatiannya kini teralih pada jam tangan yang dipakai Kibum sekarang. Entah kenapa rasanya itu familiar sekali baginya.

“Oh, ini hadiah ulang tahun dari Heechul Hyung, bagus bukan?” ucapnya bangga menyadari arah tatapan Young Jae. Gadis itu seketika mengerjap sadar. Pantas saja ia seperti mengenali jam itu. Ia tahu betul model rancangan favorit Heechul seperti apa. Jam itu jelas dirancang oleh Heechul dan ia melihatnya terpajang dalam etalase khusus di ruang kerja suaminya.

“Kau tahu, hadiah buatan sendiri nilainya jauh lebih berharga daripada hadiah mahal yang dibeli di sebuah toko,” ucap Young Jae dan Kibum langsung tersenyum karena tahu maksudnya.

“Hyung sangat menyayangiku karena dia memberiku mahakaryanya.” Senyum Kibum membuat Young Jae teringat satu pertanyaan yang membuatnya sangat penasaran.

“Apa yang membuatmu tidak pernah marah setiap kakakmu memperlakukanmu tidak adil?” tanya Young Jae hati-hati dan penuh selidik. Kibum diam untuk beberapa saat, sempat membuat Young Jae berpikir pertanyaannya sudah membuat Kibum tersinggung. Namun beberapa saat kemudian Kibum memperlihatkan senyumnya. Young Jae menghela nafas lega.

“Bohong jika aku tidak pernah marah. Untuk beberapa tahun sejak Nuna meninggal aku sempat marah setiap kali Hyung membodoh-bodohiku, mengataiku bahwa aku hanyalah anak yang tak diharapkan. Tapi, sejak peringatan kematian Nuna yang ke lima, pertama kalinya aku melihat Hyung menangis diam-diam di depan altar Nuna aku baru sadar. Yang benar-benar sedih atas kehilangan Nuna bukanlah aku ataupun kedua orang tuaku, melainkan Heechul Hyung.”

Young Jae mengerjap, ia terkejut mendengar hal itu. Sebelum mulutnya terbuka untuk membalas, Kibum melanjutkan “Dulu, selama Hyung sakit, Nuna yang ditugasi merawatnya jika Appa dan Eomma pergi bekerja. Hyung menyayangi Nuna lebih dari apapun dan dia yang paling terkejut ketika Nuna meninggal dunia. Hampir satu bulan Hyung tidak berbicara pada siapapun dan setelah itu, sikapnya mulai berubah. Awalnya aku sebal namun lambat laun aku justru merasa iba padanya.” Kibum tampak menarik nafas panjang demi menghilangkan tenggorokan tercekatnya. Ia sudah berjanji pada kakak perempuannya bahwa ia tidak akan menangis jika teringat padanya.
“Yah, aku bersyukur Hyung sudah bisa hidup selayaknya manusia normal lagi,”

Youngjae bingung harus berkata apa untuk menanggapi cerita Kibum. Ia hanya tersenyum lalu menoleh ke arah Heechul yang masih damai mengobrol dengan beberapa orang. Ya, senyumnya memang tampak lebih natural.

—o0o—

Kehidupan Young Jae dan Heechul menjadi lebih baik setelah hari itu. Sifat buruk Heechul pun secara perlahan berkurang meskipun terkadang jiwa liar dalam dirinya muncul saat ia mulai kehabisan kesabarannya menghadapi acara mengidam Young Jae.

“Aku ingin tteokbokki, Oppa…” entah itu permintaan yang ke berapa, yang pasti tidur nyenyak Heechul kali ini pun kembali terganggu. Ia bangkit dengan wajah jengkel lalu menatap Young Jae.

“Tapi sekarang pagi buta, Young Jae. Mana ada penjual tteokbokki yang masih buka,” gerutu Heechul. Benar sekali, jam dinding masih menunjukkan pukul 2 dini hari dan Young Jae masih juga meminta Heechul meladeni acara mengidamnya.

“Yang memintanya kan bukan aku tapi anakmu!!” seru Young Jae agak membentak sekaligus merengek. Heechul menguap, ia mencoba mengabaikan kali ini. Besok ia harus menemui klien penting dan ia tidak mau tampak mengantuk karena itu Heechul memutuskan kembali tidur.

“Sudah, besok aku belikan. Sekarang ayo kita tidur lagi,” bujuk Heechul sambil merebahkan diri.

“Oppa, kau jahat sekali padahal ini keinginan anakmu…huweeee Eomma..”
Tidur Heechul sukses terganggu—lagi. Matanya membelalak terbuka mendengar isak tangis Young Jae. “Arraseo, aku akan coba carikan..” ucap Heechul pasrah. Ia memaksakan diri turun dari ranjang meski harus melawan rasa kantuk. Dalam hati ia menggerutu sendiri kenapa semua ibu hamil harus mengalami acara mengidam yang merepotkan para suami.

Tak lama Heechul pergi bergelut dengan udara pagi buta yang dingin menusuk tulang, pria itu kembali dengan tangan kosong. Ia sudah mencari semampu yang ia bisa namun waktu-lah yang membuatnya tak menemukan satupun penjual kue beras yang diinginkan Young Jae.

“Sudah kubilang, tidak ada penjual tteok yang buka pagi-pagi begini..” keluh Heechul sambil memeluk tubuhnya sendiri. Tadi saking buru-burunya ia tidak sempat mengenakan mantel hangat. Alhasil, tubuhnya menggigil kedinginan.

Young Jae awalnya ingin mengomel kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi namun ketika melihat kondisi suaminya, ia menelan kembali semua kalimat keluhan yang ingin dilontarkannya. Dengan panik ia menghampiri Heechul, menariknya untuk duduk di atas sofa setelah itu Young Jae buru-buru membuatkan cokelat panas.

“Minum ini Oppa. Aigoo, maaf sudah menyusahkanmu..” lirih Young Jae bersalah sambil mengusap pipi suaminya yang terasa dingin di permukaan tangannya yang hangat. Tak lupa ia menyampirkan selimut hangat di bahu suaminya. Heechul mendengus sambil menyesap cokelat yang masih mengepulkan asap itu.

“Kenapa baru sadar sekarang, Nyonya Kim. Kau selalu menyusahkanku di waktu yang tidak tepat.” Keluhnya.

“Maaf..” ucap Young Jae bersalah sambil mengusap perutnya. Ia menunduk menatap perutnya yang masih datar. “Aegi, maaf kau belum bisa mendapatkan tteok sekarang. Appa sudah mencarinya tapi tidak ketemu. Jangan menyusahkan Appa lagi ya, kau tidur yang tenang sayang..” lirihnya dengan nada sedih dan dalam. Heechul tertegun memperhatikan setiap cara Young Jae mengelus perutnya sendiri dengan perasaan haru bercampur rasa bersalah. Ia menggeser tubuhnya mendekat lalu menyingkirkan tangan Young Jae dari perutnya.

“Aegi, jangan merasa sedih karena ucapan Eommamu tadi. Appa sama sekali tidak merasa disusahkan. Tenang saja, kau pasti akan mendapatkan tteokbokki-mu.”

Young Jae mengerjapkan mata berkali-kali melihat Heechul berbicara lembut pada janin di dalam perutnya. Entah ia harus merasa senang, bangga, atau menangis terharu namun apa yang dilakukan Heechul membuat perasaannya hangat. Heechul tersenyum lalu mengecup perutnya dengan penuh kasih sayang, membuat Young Jae merasa diterbangkan ke awang-awang.

“Oppa..” lirih Young Jae terharu. Heechul menegakkan tubuhnya, membiarkan mata mereka saling bertemu dengan berbagai macam perasaan yang tersirat dalam sorot mata masing-masing. Heechul mengulurkan tangannya menarik pinggang Young Jae mendekat lalu menyampirkan selimut yang ada di bahunya ke pundak Young Jae agar mereka bisa merasakan kehangatan bersama.

“Dasar Eomma cengeng,” bisik Heechul ketika melihat mata istrinya berkaca-kaca.

Who cares,” balas Young Jae sambil mendekatkan wajahnya. Heechul bergerak lebih dulu memiringkan wajahnya dan bibir mereka bertemu detik berikutnya. Heechul tidak merasa dingin lagi karena tangannya kini memeluk tubuh hangat Young Jae hingga tak ada jarak yang memisahkan mereka sementara tangan Young Jae sejak tadi membelit di lehernya. Heechul tahu ia tidak akan pernah bosan menyapa bibir Young Jae yang lembut dan entah kenapa terasa semakin menggairahkan sejak dia hamil.

Young Jae terengah ketika Heechul melepas ciumannya. Pipinya merona menyadari Heechul sedang memandanginya dari jarak yang sangat dekat. Dahi mereka saling menempel dan Young Jae bisa merasakan hangatnya nafas Heechul membelai kulit wajahnya, sesekali bibir Heechul mengecup kilat bibirnya. Young Jae harus mengendalikan jantungnya yang berdegup kencang.

“Aku bertanya-tanya apa boleh kita berhubungan intim selagi kau hamil?” tanya Heechul pelan. Wajah Young Jae semakin merona malu.

“Dokter bilang, kita baru bisa melakukannya setelah kehamilanku mencapai tiga atau empat bulan.”

“Aigoo, harus menunggu selama itu?” ujar Heechul terperangah. “Dokter manapun yang berkata begitu dia pasti tidak pernah menikah! Aku bisa tersiksa karena tidak bisa menyentuh istriku sendiri.”

“Oppa!!” Young Jae membelalakkan matanya tak percaya suaminya akan mengatakan hal mesum semacam ini. Sejak kapan tepatnya Heechul menjadi se-pervet ini. Pria itu tergelak melihat reaksi Young Jae.

“Aku bercanda. Kau ini sungguh lugu. Wanita lain mungkin akan menanggapi lelucon semacam ini dengan santai. Kenapa kau menganggapnya serius sekali?” katanya di sela tawa. Young Jae mendengus kesal. Rupanya ia termakan candaan Heechul—entah untuk yang keberapa. Semenjak tinggal bersama, Heechul tak pernah bosan menggodanya. Itu sedikit membuatnya kesal.

“Kau tahu aku seperti ini kenapa masih saja bercanda?” Young Jae melepaskan diri dari pelukan Heechul lalu melipat kedua tangannya dengan wajah menekuk sebal.

“Yeobo..” rayu Heechul sambil mencolek dagu Young Jae. “Kau menjadi sangat sensitif semenjak mengandung.” Young Jae memalingkan wajah kesal. “Aku masih ingin tteokbokki-ku.”

Mendengar kata tteokbokki lagi, Heechul mengerjapkan mata sadar. Ia terkesiap berdiri dengan ekspresi tercengang. Sial, kenapa ia melupakannya. Ada satu tempat dimana ia bisa mendapatkan tteokbokki di waktu seganjil ini.

“Young Jae, ayo pergi!” tiba-tiba Heechul menariknya bangkit. Young Jae belum sempat bertanya kemana, Heechul sudah membawanya pergi ke suatu tempat.

—o0o—

“Seharusnya kau bilang sejak tadi, kasihan Young Jae jika tidak bisa mendapatkan keinginannya.”

Young Jae menundukkan wajahnya malu sementara Heechul memperlihatkan wajah tak berdosa pada ibunya yang kini sedang membuatkan tteokbokki dengan saus gojuchang untuk menantu tercintanya yang tengah mengandung.

“Kenapa tidak bilang kita akan ke rumah Eommanim?” bisik Young Jae pada Heechul. “Aku tidak enak mengganggunya di pagi buta begini.”

“Sudahlah, Eomma tidak akan merasa keberatan. Dia justru merasa senang.” Ucap Heechul mencoba menepis wajah bersalah Young Jae. Heechul mengendikkan dagunya menyuruh Young Jae mengalihkan pandangan pada Eomma yang sedang mengolah tteok dengan wajah gembira.

“See, dia bahkan sampai bersenandung begitu.”

Young Jae diam-diam tersenyum. Ia sempat takut saat Heechul berhenti di depan rumah mertuanya tadi hanya untuk meminta kue beras. Ia berpikir orang tua Heechul akan marah karena mereka mengganggu di saat yang tidak tepat seperti sekarang. Namun anggapannya salah setelah ia melihat Eomma mertuanya menyambut dengan gembira kedatangan mereka. Bahkan dengan senang hati membuatkannya tteokbokki.

“Nah, selamat makan.” ucap Young Jae saat Eomma meletakkan sepiring kue beras dengan saus merah di depannya. Ia menghirup sejenak wanginya yang tercium begitu sedap kemudian memakannya dengan lahap.

“Hati-hati tersedak,” ucap Heechul. Young Jae tersenyum dengan mulut penuh, ia pun tak lupa menyuapi suaminya.

“Ini enak sekali, Eommanim. Kamsahamnida,” Young Jae menoleh pada Ibu mertuanya yang tersenyum penuh arti memperhatikannya.

“Ah, Eomma jadi tidak sabar menanti anakmu lahir. Rasanya ingin sekali mempercepat waktu sembilan bulan.”

Young Jae berhenti makan, kini pandangannya fokus menatap Eomma. “Apa melahirkan itu sakit?” tanyanya penasaran. Jika memikirkan hal itu Young Jae selalu merasa khawatir. Ia takut tidak akan kuat menahan sakit saat melahirkan anaknya.

“Yah, memang sangat sakit. Tapi yakinlah setelah bayimu lahir, rasa sakit itu terkalahkan oleh rasa bahagia. Eomma saja sampai menangis ketika melahirkan Heechul, Ayahnya bahkan sampai menangis tersedu. Dia senang sekali karena anak pertamanya laki-laki.”

“Jinjja?” Young Jae sempat bergidig ngeri membayangkan proses yang akan dilaluinya nanti. Tapi setelah mendengar betapa bahagianya saat bayinya lahir, sepertinya Young Jae harus bersiap agar ia bisa melalui proses persalinannya tanpa hambatan apapun. Ia menoleh pada Heechul dan memandangnya penuh harap.

“Wae?” tanya Heechul bingung.

“Oppa janji akan menemaniku saat proses persalinan nanti?” tanya Young Jae cemas. Ia yakin jika Heechul ada di sampingnya, ia bisa melalui persalinan dengan perasaan terlindungi. Heechul terperangah selama beberapa saat.

“Tentu saja. Pukul aku jika sampai tidak datang.” ucapnya yakin.

“Kau yakin?” tanya Eomma. Heechul dan Young Jae menoleh menatapnya.

“Ayahmu saja sampai jatuh lemas karena tidak tega melihat Eomma kesakitan.”

Heechul dan Young Jae saling berpandangan dengan ekspresi yang sulit diartikan. Setelah itu mereka pamit pulang karena fajar ternyata sudah menyingsing dan mereka sama sekali tidak tidur setelahnya.

—o0o—

Berkat cerita Eomma tentang proses persalinan, sukses membuat Young Jae tidak tenang. Sudah berhari-hari ini ia mewanti-wanti suaminya agar sering berolahraga agar tidak lemah ketika menemaninya melahirkan nanti dan ia pun mengikuti program senam kehamilan agar proses persalinannya lancar.

Sebulan berlalu dan tiba saatnya Young Jae menyerahkan sketsanya pada Hwang Jin Mi, gadis konglomerat yang meminta ia merancangkan gaun malam untuknya. Jin Mi merasa sangat senang dan antusias ketika melihat hasil rancangan Young Jae yang indah dan pas sekali di badannya. Gaun malam berwarna hitam itu membuat Jin Mi terlihat begitu elegan dan anggun.
Young Jae tersenyum senang sekaligus lega. Dua orang terpuaskan dengan hasil rancangannya.

Kabar bahagia lain juga datang dari Lomba desain yang diikuti Young Jae. Betapa histerisnya ia ketika dirinya lulus seleksi dan masuk ke tahap semifinal.
“Aku lulus seleksi!!”
Young Jae langsung memeluk Heechul erat di tengah orang-orang yang berkumpul di lobi hotel tempat pengumaman lomba itu dilangsungkan.
“Chukkae..” balas Heechul antara senang dan tidak senang. Ia hanya tidak rela jika—meskipun kemungkinannya kecil—Young Jae menang, ia harus merelakan istrinya itu pergi ke Italia selama beberapa bulan. Ditambah lagi keadaannya yang tengah mengandung.
“Wah, lihat siapa di sini?”

Heechul dan Young Jae menoleh pada sosok perempuan yang berdiri di depan mereka dengan tangan melipat di depan dada dan wajah angkuh.

“Hong In Hee,” gumam Heechul mengenali gadis itu. “Sedang apa kau di sini?”

“Aku ikut lomba ini. Tentu saja aku lulus seleksi dan siapa wanita di sampingmu? Tunggu dulu, bukankah dia pembantu di rumahmu?” tanyanya setelah mengamati Young Jae baik-baik. Ia tidak mungkin lupa wajah lusuh gadis yang menyambutnya dengan tidak baik ketika ia mengunjungi rumah Heechul beberapa waktu lalu. Heechul menarik Young Jae kedekatnya seraya menggenggam erat tangannya. Ia merasa tatapan In Hee sedikit mengancam.

“Siapa yang kau sebut pembantu, hah! Dia adalah istriku.” Sahut Heechul sinis. Seketika raut wajah In Hee berubah. Gadis dengan penampilan modis itu tercengang sambil menatapi Heechul dan Young Jae bergantian.

“Kalian? Dia? Tidak mungkin. Aku tidak pernah mendengar kabar pernikahanmu!” ucap In Hee dengan nada tinggi. Tampak jelas gadis itu tidak mau menerima dan tidak mau percaya perkataan Heechul.

“Yah, maaf kalau kau tidak tahu tapi aku memang tidak mengundangmu.”
In Hee membelalakkan matanya. “Kau bohong.” Ucapnya masih tidak percaya. Heechul mengendikkan bahu tak peduli.

“Terserah kau-lah. Chagi, ayo pergi.” sebelum terjadi hal yang tidak-tidak, Heechul menarik istrinya pergi dari tempat itu. Toh lomba berikutnya baru akan dilaksanakan dua hari berikutnya. In Hee terperanjat kaget, ia menunjuk-nunjuk Heechul yang pergi meninggalkannya.

“Ya, jangan kabur Kim Heechul!!”

“Ah, wanita yang berisik!” gerutu Heechul seraya menutup telinganya.

—o0o—

“Kenapa kau menghindarinya?” tanya Young Jae sambil menatap lekat suaminya yang pura-pura sibuk memasang sabuk pengaman. Mereka kini sudah berada di dalam mobil, bersiap untuk pulang. “Memang kau pernah membuat masalah dengannya?”

“Masalah? Yang benar saja. Dia itu gadis yang sangat menyusahkan. Aku malas dekat-dekat dengannya,” kilah Heechul. Mobil pun bergerak meninggalkan area hotel. Young Jae mengerucutkan bibirnya. Ia berkali-kali membuka mulut ingin mengatakan sesuatu namun menutupnya lagi.

“Jika kau menang lomba ini, kau akan pergi ke Italia?” setelah beberapa saat suasana hening mencekam, akhirnya Heechul bertanya juga.

“Tentu saja.” jawab Young Jae cepat. Heechul menoleh menatapnya sejenak. Pupil matanya tampak melebar tak percaya.

“Jadi kau akan membiarkan anak kita lahir di Italia sana? Bukankah kau ingin aku ada saat anak kita lahir?” sewotnya tak sabar. Young Jae mengap-mengap antara kaget, bingung, dan takjub.

“Oppa, itu masih lama sekali. Hyun Jung bilang, pemenang lomba itu akan pergi ke Italia satu tahun setelahnya, sebelum itu dia akan mendapatkan bimbingan lebih dulu di Korea untuk perbekalan selama di Italia nanti. Aku yakin anak kita sudah lahir saat itu.”

“Tapi, tetap saja kau akan meninggalkanku bukan?”

“Kim Heechul, sejak kapan kau jadi kekanakan begini?” tanya Young Jae heran. Tingkah aneh Heechul kambuh semenjak mereka bertemu dengan Hong In Hee. Sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Heechul, tampak menghindari In Hee. Ia mengerjap menyadari sesuatu. Mungkinkah terjadi sesuatu di antara mereka?

…To be continued…

234 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 10)

  1. keren…, aku baru mulai baca ini tadi pagi
    eh.. udah di part 10 ajah…
    keren thor…, aku emang udah lama nyarik ff cast oppa heechul yg sekeren ini
    hwaiting author
    cepat di share ne, part selanjutnya🙂 :*

  2. mian thor saya iktn bca,,
    keren ni akhrnya nemu ff dngan cast utama bias tercinta hehehe
    ff nya bgus thor,bhasanya bgus,feelnya sll dpt pkoknya keren lh,,td udh bca ff ini dr part 6,,smuanya bgus pas par NC jg bhasanya bgus dan gak vulgar,,pkoknya saya suka dan d tnggu next partnya

  3. sebenernya q belum baca dari awal
    tp q bener2 suka sifat chulie oppa disini
    kerennn bgt
    charming gentle tp dinginnya heechul masih adfa

  4. siapa sih perempuan menyebalkan itu ?
    jangan” pernah terjadi sesuatu antara mereka?
    wahhh konfliknya mulai muncul sepertinya😦
    siap” dehh😦
    oke oke next

  5. Akhirnya adek kk udah baik kan..
    terenyuh pas adegan ngelus perut young jae ><
    *Hhhuuaa jangan pergi dong young jae anak kamu siapa yang urus? kalo misalkan kamu menang..
    kayak nya ada rahasia deh antara chullie dan in hee#Penasaran

  6. Sifat protectif Heechul udah kliatan,,trnyata dy syg bgt ya ama Youngjae…
    Dri nada bicaranya Heechul tkut d tinggl sndrian oleh Youngjae…ap Youngjae tdk tau klo Inhee itu kencan butanya Heechul dlu???

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s