I Hate You, But.. (Part 10-A)

Tittle : I Hate You, But Part 10-A
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life, Complicated
Length : Chaptered
Twitter : @julianingati23
FB : Dha Khanzaki

Main Cast :

  • Kim So-Eun
  • Choi Si-Won

Support Cast :

  • Lee Dong-Hae

Wah, udah lama author gak apdet FF kesayangan author yang satu ini. FF ini bergenre nyesek di awal dan author janji endingnya bakal bahagia sejahtera kayak di dongeng-dongeng, xixixixi

Adakah yang kangen? Semoga ada deh. Author sudah berusaha melanjutkan jadi kalau tetep tidak memuaskan jangan dibash ya ^_^

Maaf untuk typo, bahasa yang tidak sesuai EYD, susunan kata-kata yang amburadul, cerita membosankan, dan feelnya gak dapet. Author terima kritik dan saran kalian dengan penuh rasa terima kasih.

Oh iya, khusus part ini menceritakan kisah masa lalu Ayah dan ibu So Eun dan kenapa Donghae-Soeun bersaudara.

Happy reading ^_^

I Hate You, But 3 by Dha Khanzaki

==Cerita Sebelumnya==

“Kau sudah sadar?”

Pandangannya kini teralih pada sosok Siwon yang masuk ke dalam ruangan. Wajahnya menyiratkan kelegaan yang luar biasa melihat So Eun sudah siuman. Ia menarik kursi di samping tempat tidur lalu mengecek suhu badan So Eun. Syukurlah suhunya sudah kembali normal.

“Oppa, mianhae.” Gumam So Eun ketika ia sadar bahwa mereka sedang bertengkar ketika ia pingsan. Ia memang salah karena tidak bisa jujur pada Siwon. Tak disangka Siwon justru memegang tangannya dengan mata berbinar-binar.
“Kau, gadis licik. Selalu saja tahu cara membuatku berhenti marah padamu.” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Apa maksudnya?” So Eun tidak paham maksud Siwon. Ia hanya tahu satu hal, Siwon tidak marah lagi padanya.

Siwon mengangkat sebelah tangannya, lalu mengecupnya lembut dengan hidung dan bibirnya. So Eun melebarkan mata takjub. Apa yang terjadi sebenarnya?
“Terima kasih sudah memberiku malaikat kecil, Kim So Eun,” gumamnya lalu menatap lurus So Eun. “Kau hamil, chagi.”
Apa? mata So Eun melebar terkejut mendengarnya.

~~~

====Part 10====

Author POV

Rasa gembira yang tak pernah So Eun rasakan sebelumnya kini meluap bagai mata air yang menemukan jalan keluarnya. Semua kebahagiaan tak bisa dibendung lagi, bahkan sampai membuat So Eun meneteskan airmata haru. Pandangannya tertoleh pada suaminya yang tersenyum penuh arti, tanpa aba-aba apapun ia segera menghambur memeluk Siwon meskipun tubuhnya masih lemah dan tak bertenaga.
“Aku akan menjadi seorang ibu..aku tidak percaya ini..” bisiknya dengan suara bergetar tercampur oleh isak tangis. Siwon tersenyum simpul. Dengan gerakan perlahan tangannya membalas pelukan So Eun.
“Ini bukan mimpi, percayalah.”

Siwon meminta So Eun beristirahat setelah tangisan harunya mereda. Ia merapatkan selimut hingga setinggi bahu agar So Eun tidak kedinginan. Dalam diam So Eun menatapi semua yang dilakukan Siwon dengan perasaan yang campur aduk. Ia senang, namun di sisi lain ia merasa bersalah. Sesuatu sudah disembunyikan dari suaminya selama ini dan itulah alasan mengapa mereka bertengkar. So Eun harus menjelaskan semuanya sekarang. Sudah tiba saatnya Siwon tahu rahasia yang tersimpan antara dirinya dan Donghae.
“Oppa..” panggil So Eun dengan suara seraknya. Siwon menoleh, dengan gerakan cepat ia berjalan menghampiri istrinya. Ia berpikir So Eun mungkin memerlukan sesuatu.
“Ada yang kau perlukan? Katakan saja.”

So Eun menggeleng. Ia mengulurkan tangan untuk menarik Siwon agar duduk di kursi samping ranjangnya. Siwon menurut. Ia menatap lekat istrinya sambil menggenggam erat tangan So Eun yang lemah.

“Ada yang ingin kuceritakan padamu,” ujar So Eun pelan. Siwon mengerjapkan mata berkali-kali. Mendadak ia teringat alasan mengapa mereka bertengkar. Apa mungkin So Eun akan menceritakan sesuatu tentang itu? Cerita sebenarnya yang terjadi di rumah sakit? Dugaan Siwon memang benar karena kata berikutnya yang terucap dari bibir So Eun membuat tubuhnya membeku.

“Ini rahasia tentangku dan Donghae Oppa..” tanpa sadar Siwon menggenggam erat tangan So Eun. Ia mendadak ragu apakah ia siap mendengarnya atau tidak. Ia takut hal yang akan diakui So Eun adalah sesuatu yang membuatnya patah hati. Tidak mungkin bukan So Eun mengatakan bahwa dia akan meninggalkannya? Hatinya takut membayangkan hal tersebut.

“Selama ini aku menahan diri tidak bercerita kepadamu karena aku belum siap. Tapi, setelah kupikirkan baik-baik kau seharusnya tahu hal ini agar tidak ada lagi yang perlu dicurigai,” So Eun menarik napas sejenak sementara Siwon berdebar-debar. Mata So Eun kini menatapnya lurus, begitupun yang dilakukan Siwon. Mereka kini saling menatap dan Siwon bisa melihat berbagai macam kilatan emosi di dalam manik mata So Eun. Ia menemukan kilatan sedih, frustasi, dan penyesalan.

“Aku dan Donghae Oppa, kami bersaudara.”

Siwon merasakan dunia di sekitarnya mendadak hening setelah mendengar berita mengejutkan dari bibir So Eun langsung. Apa telinganya sudah mulai rusak? Bagaimana bisa ia mendengar kalimat yang berbunyi; ‘Aku dan Donghae bersaudara?’. Matanya pun melebar takjub, tak percaya, dan kaget. Tidak mungkin.
“Tidak mungkin,” tanpa sadar Siwon menyuarakan isi otaknya. Ia tercengang menatap So Eun meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya. Lelucon tak lucu apa ini? “Kau bercanda?”

Bola mata So Eun mulai berair lagi dan Siwon bisa merasakan tangan yang digenggamnya bergetar. “Tidak Oppa, aku tidak bercanda..” lirihnya sarat akan luka.

Detik berikutnya So Eun menceritakan semuanya yang terjadi hari itu di ruang rawat Donghae. Tak ada satupun yang terlewati karena setiap patah kata yang diucapkan Tuan Lee menggema dengan jelas dalam pikirannya, membuatnya pusing sekaligus frustasi. Bagaimana Tuan Lee menceritakan perlakuan buruk Ayahnya pada ibu kandung Donghae sampai membuatnya bunuh diri hingga kenyataan bahwa ternyata Ayah yang disanjungnya menyembunyikan kenyataan itu selama bertahun-tahun darinya. So Eun merasa dikhianati dan dibohongi. Jika memang sejak awal Ayahnya tahu Donghae adalah anak kandungnya, mengapa tidak mengatakan hal itu sejak awal? Kenapa Ayahnya membuat ia terus bertanya-tanya dan curiga?

So Eun menangis setelah menceritakan beban itu. Ia merasa sakit sekaligus lega karena akhirnya bisa membagi penderitaan itu dengan orang lain juga. Sebelumnya ia sangat bingung, sedih, dan sangat malang harus menanggung semua itu seorang diri. Ia tidak sanggup menceritakannya pada siapapun. Ia sangat kecewa dan malu pada dirinya sendiri.

“Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi semua ini. Aku tidak percaya Appa membohongiku selama ini. Kenapa dia membuatku harus membenci seseorang yang ternyata kakakku sendiri? Seharusnya yang kubenci adalah Ayahku..”

Siwon lekas menarik So Eun ke dalam pelukannya. Ia merasa sedih sekaligus iba. Apapun yang dikatakannya tidak akan berguna saat ini. Sekarang ia menyesal kenapa membiarkan So Eun melewati masa sulit ini seorang diri. Dan ia menyesal sudah berburuk sangka sebelumnya.
“Semuanya sudah terjadi. Apa yang bisa kita lakukan?” hiburnya. Siwon mengusap rambut panjang So Eun dengan lembut berharap kasih sayangnya bisa meredakan sedih di hati So Eun.
“Apa aku harus membenci Ayahku?” lirih So Eun sambil menatap Siwon dengan lelehan airmata di pipi. Siwon menggeleng pelan sambil menghapus bulir bening itu dari wajah pucat So Eun.
“Kau tidak bisa menghakimi Ayahmu hanya karena pendapat buruk yang kau dengar dari satu pihak saja. Apa kau sudah bertanya pada ibumu?”

So Eun menggeleng dan ia terkesiap menyadarinya. “Kau harus mendengar kisah dari sisi Ayahmu baru bisa memutuskan apa yang akan kau lakukan. Ibumu pasti tahu cerita sebenarnya. Mungkin, Ayahmu memiliki alasan mengapa dia melakukan semuanya.” Ucap Siwon. Ucapan Siwon memang benar. Ia harus mendengar cerita dari sudut pandang keluarganya. Jika Ayahnya masih hidup mungkin ia bisa menceritakan kisah sebenarnya. Harapan satu-satunya kini hanya ibunya saja.
“Oppa, maukah kau menemaniku menemui Eomma?” pinta So Eun. Ia tidak akan sanggup jika harus mendengar ceritanya seorang diri. Siwon mengangguk yakin. Apapun akan ia lakukan demi ketenangan hati So Eun.

“Pasti chagi, pasti.”

—o0o—

Beberapa hari setelahnya, Siwon mengantar So Eun mengunjungi ibunya yang masih menempati rumah lama keluarganya. Mereka tidak hanya berdua karena ternyata, Donghae meminta ikut bersama. Pria itu sama penasarannya dengan So Eun. Dia ingin mendengar langsung cerita dari sisi Ayah kandungnya.

Nyonya Kim—Eomma So Eun sempat terkejut ketika putrinya datang bersama suaminya. Tetapi ia lebih terkejut lagi ketika melihat Donghae pun ikut bersama mereka. Sekarang mereka duduk di ruang keluarga dengan suasana yang canggung. Udara yang terasa berat dan pengap menyubungi ruangan yang sebenarnya luas dengan jendela besar yang terbuka. Nyonya Kim menghela napas sebelum memulai ceritanya. Ia sudah tahu maksud kedatangan So Eun setelah putrinya itu memohon padanya untuk menceritakan kisah cinta mendiang Ayahnya dengan wajah memelas.

“Aku kenal Lee Soohae,” ujar Nyonya Kim dengan suara rendah dan hangat. Ia memberikan senyumnya pada ketiga orang yang menatapnya dengan wajah tegang. “Dia adalah wanita yang cantik dan sangat beruntung karena dicintai begitu besar oleh Ayahmu,” Nyonya Lee menatap Donghae sejenak dan pria itu mengerjapkan mata. “Mereka saling mencintai bahkan sebelum Ayahmu dijodohkan dengan Eomma.”

Ketiga orang itu terkesiap dan menahan napas bersamaan. Jadi, mereka memang saling mencintai pada awalnya?
“Ayahmu berjanji untuk menikahi Soohae dan itulah yang membuatnya begitu semangat membangun perusahaan yang dirintisnya. Namun segalanya menjadi kacau balau saat Kakek So Eun meminta Ayahmu menikah dengan Eomma. Dia sangat kecewa dan mulai menentang ide pernikahan..” bersamaan dengan itu So Eun seperti melihat kembali kejadian di masa lalu seperti film yang diputar balikkan versi keluarganya. Kenyataan dibalik sikap permusuhan yang diperlihatkan oleh Ayahnya maupun keluarga Donghae dan semua kejadian itu membuatnya semakin sulit bernapas.

*Flashback*

Kim Dong Woo menatap marah gadis di depannya sementara Kang Na Eun hanya mampu menatap kosong gelas teh yang ada di hadapannya. Ia tidak sanggup berkata, bahkan bernapas pun sulit. Ia tahu keputusannya menyetujui perjodohan ini sangat bodoh namun ia tidak bisa menolak tawaran ayahnya sendiri saat tahu pria yang dijodohkan dengannya adalah Kim Dong Woo, pria yang dicintainya diam-diam. Na Eun mengenal Dong Woo yang satu kampus dengannya sebagai pria yang gigih, ramah pada siapa saja, baik, dan dicintai semua orang. Itulah hal mendasar yang membuatnya jatuh cinta pada Dong Woo.
“Bukankah sudah kukatakan aku mencintai gadis lain, mengapa kau tetap menyetujui pernikahan ini?”

Tentu saja aku tahu itu, batin Na Eun. Ia sudah mendengar gosip bahwa Dong Woo menjalin hubungan dengan seorang gadis dari kampus yang sama. Namun sekali lagi sepertinya perjodohan ini adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan untuknya sehingga ia setuju begitu saja tanpa memikirkan perasaan Dong Woo. “Ayahku sakit parah dan aku sebagai anak tunggalnya hanya bisa melakukan ini,”
“Alasan klasik,” rutuk Dong Woo dengki. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Na Eun memberanikan diri mengangkat kepalanya dan detik itu juga hatinya mencelos kala ia menangkap raut putus asa dan penuh penyesalan di wajah pria calon suaminya itu. Saat itu ia sadar, ia sudah menorehkan luka di hati orang paling dicintainya.
“Aku memberikanmu kesempatan berpikir lagi. Kuharap jawaban yang kudapat berikutnya adalah penolakan darimu. Jika kau masih tetap bersikukuh juga, jangan salahkan aku jika aku menggunakan cara-cara menyakitkan untuk membuatmu mengakhiri perjodohan ini,” ujar Dong Woo dengan nada dingin.

Na Eun mencoba untuk mengabaikan ancaman Dong Woo. Ia rela mengambil resiko tidak mendapatkan cinta pria itu asalkan bisa menikah dengannya. Tak apa jika orang mengatakan ia wanita egois karena cinta selalu mampu membuat sesuatu yang buruk menjadi baik.

—o0o—

Beberapa hari setelahnya tanpa sengaja ia melihat Dong Woo mengajak seorang gadis masuk ke dalam rumah pria itu ketika ia hendak mengantarkan sesuatu atas perintah calon ibu mertuanya.
“Siapa gadis itu?” pikirnya. Mungkinkah itu Lee Soohae, gadis yang dicintai Dong Woo? Rupanya hubungan mereka belum berakhir juga bahkan di saat pernikahan dirinya dan Dong Woo tinggal dua minggu lagi.

Sejauh ini Na Eun tetap bersikukuh pada keinginannya menjadi istri Dong Woo. Ia tidak peduli pada kenyataan bahwa ada dua hati tersakiti karena keegoisannya. Meskipun didera keraguan, ia tetap mendekati rumah itu dan mengendap-endap seperti pencuri. Dari ambang jendela yang terbuka, ia bisa melihat Dong Woo sedang duduk berdampingan bersama seorang gadis yang diyakininya adalah Soohae. Ekspresi keduanya sama-sama cemas, kalut, dan putus asa.

“Tunggulah sebentar lagi, Soohae. Aku yakin Na Eun pasti akan membatalkan rencana pernikahan dan saat itu kita akan menikah.”

Na Eun terpaku di tempatnya. Ia memegang erat kotak makanan yang digenggamnya. Ia memang sengaja menguping, namun tidak menyangka sama sekali akan mendengar pembicaraan menyakitkan seperti ini. Dong Woo sungguh mencintai Soohae dan tidak ada niatan sama sekali untuk memalingkan hati padanya. Betapa kejamnya, padahal selama ini—jauh sebelum perjodohan ia diam-diam mencintai pria itu dan ia yakin rasa cintanya tidak kalah besar seperti rasa cinta milik Soohae.

Soohae tampak bimbang namun ia membiarkan Dong Woo menggenggam tangannya. Mereka tidak menyadari kehadiran Na Eun sama sekali karena tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
“Tapi dia calon istrimu, meskipun kita saling mencintai tidak selayaknya..”
“Tidak, Soohae. Aku sudah berjanji padamu. lagipula seharusnya kau tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak bisa mencintainya, seberapa besar pun aku berusaha,” Dong Woo berusaha meyakinkan. Mendengar kesungguhan Dong woo, Soohae luluh juga. Ya, ia tidak bisa membohongi diri bahwa ia pun mencintai pria ini. Ia menatap penuh harapan kekasihnya.
“Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu? Kau tahu seperti apa keluargaku. Jika kau tidak bisa menepati janjimu aku yakin kakakku tidak akan melepaskanmu begitu saja.”

Dong Woo tahu, aral yang harus dilewatinya jika ia berhasil membatalkan pernikahan itu adalah kakak laki-laki Soohae yang amat menyayangi adik semata wayangnya. Namun ia mengeratkan genggamannya demi menumbuhkan keyakinan dalam hati Soohae.
“Aku sangat mencintaimu Soohae, aku pasti akan menikah denganmu..”
“Kau tahu aku lebih mencintaimu,” ungkap Soohae dengan airmata berlinang. “Tapi bagaimana kau bisa meyakinkan kedua orang tuamu untuk membatalkan rencana pernikahan itu?”

Dong Woo terdiam, pandangannya menerawang. Tampak jelas ia sedang memikirkan solusi yang tepat. Ia terkesiap lau kembali memandang Soohae begitu menemukan jawabannya.
“Jika kau hamil, mungkin Ayahku akan mengizinkanku menikah denganmu, kau tahu harga diri Ayahku sangat tinggi. Dia tidak akan membiarkanku menelantarkan wanita yang dihamilinya.” Ujarnya yakin. Soohae tidak berkata, ia hanya menatap Dong Woo dengan segala macam emosi bercampur baur.

Lambat laun ia tersenyum pertanda setuju dengan usul Dong Woo. Saat itu perasaan keduanya seperti terbakar dan mereka melupakan segalanya dengan saling mendekatkan wajah satu sama lain lalu berciuman. Dengan sigap Dong Woo membuka seluruh pakaian Soohae dan mereka tenggelam dalam dunia milik mereka sendiri.
Na Eun menutup mulutnya dengan kedua tangan melihat adegan itu. Ia berusaha menahan agar isak tangisnya tidak terdengar hingga ke dalam sana meskipun airmatanya terus meleleh membasahi wajah dan telapak tangannya. Ia segera berlari dari sana karena tahu adegan selanjutnya tidak akan sanggup ia lihat.

—o0o—

Hari pernikahan semakin dekat dan Na Eun sudah memutuskan bahwa ia akan mundur. Ia bukanlah wanita tidak tahu diri yang buta pada ketidakbahagiaan calon suaminya. Ia tidak mau memutuskan tali cinta yang terhubung di hati Dong Woo dan Soohae karena itu hari ini ia berniat menemui Dong Woo untuk mengatakan hasil perenungannya selama beberapa hari ini.

Tetapi hari itu, terjadi hal di luar dugaan. Ibu Dong Woo meninggal dunia dan dalam wasiat terakhirnya, dia ingin putranya menikah dengan Na Eun. Sebagai seorang putra yang mencintai ibunya, Dong Woo hanya bisa menerima wasiat itu dengan hati pedih. Di hari setelah pemakaman, ia menemui Na Eun.
“Baiklah, kita menikah..” Na Eun dikejutkan oleh kata-kata mendadak Dong Woo.
“Kenapa tiba-tiba setuju?” jelas saja Na Eun heran. Ia tahu cinta Dong Woo pada Soohae tidak tergantikan dan beberapa hari yang lalu ia mendengar sendiri bahwa Dong Woo akan membatalkan pernikahan dengan cara apapun. Terpaksa Na Eun menelan kembali niatnya untuk membatalkan pernikahan itu.

Dong Woo memalingkan pandangannya, “Semuanya kulakukan demi ibuku. Beliau berwasiat agar aku menikahimu,” ucapnya dengan pandangan kosong. Entah Na Eun harus gembira atau sedih, namun ia merasa jantungnya seperti ditusuk sebilah pisau saat sorot mata penuh luka itu menatapnya. “Tapi jangan harap aku akan mencintaimu karena bagiku, Soohae tetap satu-satunya gadis yang pantas memiliki cintaku.”

Na Eun hanya duduk terpaku di tempatnya setelah Dong Woo melancarkan kalimat pedas itu. Ia bahkan tidak sanggup berkata, hanya sanggup menatap sedih pria yang akan menikah dengannya, namun hatinya itu jelas tidak akan dimilikinya. Sebenarnya hari itu Na Eun bisa saja menolak pernikahan itu dan membiarkan Dong Woo bahagia dengan gadis yang dicintainya namun sudut hatinya yang egois telah mengunci mulutnya. Jika ini cara Tuhan untuk memberinya kebahagiaan, akan ia lewati meskipun jalannya terjal dan penuh duri.

—o0o—

Awalnya ia yakin bisa, namun saat pernikahannya dengan Dong Woo digelar mewah dan meriah, saat itu ia melihat ekspresi dua orang yang begitu menyayat hati. Dong Woo, suaminya sama sekali tidak gembira di hari pernikahannya dan gadis itu—Soohae, memandang sedih ke arah mereka dari kejauhan. Na Eun merasa amat bersalah. Meskipun begitu ia tetap berpikir positif. Ia yakin seiring berjalannya waktu suaminya pasti akan berbalik mencintainya.

Siapa sangka usaha Na Eun menjadi istri yang pantas di mata Dong Woo tidak membuahkan hasil sama sekali. Dong Woo benar-benar membuat pernikahan mereka hanya sekedar status. Meskipun tinggal dalam satu atap, namun mereka tidur di kamar yang terpisah. Sejak pernikahan Na Eun belum merasakan indahnya menjadi seorang pengantin. Dong Woo tidak pernah menyentuhnya atau sekedar memeluk. Na Eun yakin suaminya masih mencintai Soohae. Ia merasa dikhianati karena suaminya menaruh hati pada gadis lain dan tahu seharusnya ia tidak perlu merasa sakit. Ia tahu inilah konsekuensinya sejak awal. Sesuatu yang harus ditanggung karena menikah dengan pria yang tidak mencintainya.

Na Eun sudah berniat mengabulkan keinginan tak terucapkan Dong Woo saat pernikahan mereka sudah berjalan satu tahun lebih karena suaminya itu tidak kunjung memberikan perhatian padanya. Meskipun di depan para orang tua mereka berpura-pura menjadi sepasang suami istri yang harmonis, namun rumah tangga yang dibangun tanpa cinta bukanlah rumah, tapi hanya bangunan tanpa isi. Ia juga tahu Dong Woo pasti akan senang jika ia mengajukan cerai dan suaminya itu bisa kembali memeluk Soohae.

Dong Woo memang tidak pernah mengatakannya secara jujur, namun Na Eun yakin suaminya itu sangat merindukan Soohae. Dong Woo selalu pura-pura tersenyum selama ini. Karena sudah tidak tahan melihat wajah penuh sandiwara suaminya, Na Eun mengajak Dong Woo berbicara malam itu.

“Jika kau sudah tidak sanggup mempertahankan pernikahan ini, kau bisa menggugat cerai diriku,” Na Eun berkata dengan suara bergetar pada suaminya yang sedang duduk termenung sambil sesekali menenggak soju. Malam itu turun hujan deras, membuat suasana terasa sepi dan senyap. Namun ketegangan menyelimuti sepasang suami istri yang sedang berbicara di ruang tengah yang remang-remang itu. Na Eun melihat ekspresi sang suami begitu tertekan, seperti tidak sanggup menanggung beban lagi.

Dong Woo menoleh padanya, dengan pipi memerah karena pengaruh alkohol yang sudah terlalu banyak ditenggaknya, “Kenapa baru sekarang kau mengajukan hal bodoh itu?”

Na Eun meremas tangannya sendiri, gugup sekaligus takut. “Tidak ada lagi alasan untukmu menjalani pernikahan ini lagi. Jika kita bercerai, kau bisa kembali pada Soohae..”
“Lupakan Soohae,” desisnya frustasi, menyela ucapan Na Eun. Gadis itu jelas terkejut. Ini pertama kalinya ia mendengar Dong Woo menyinggung soal Soohae dengan nada selemas ini. Apa gerangan yang terjadi?
“Gadis itu menghilang entah kemana. Kudengar dari salah satu temanku dia sudah menikah dan memiliki anak, entahlah..” Dong Woo meremas rambutnya sendiri, matanya mulai berair dan Na Eun yakin saat ini suaminya itu sedang mencoba menahan tangisannya. “Percuma aku mencari gadis yang sudah pergi meninggalkanku, Soohae..dia meninggalkanku..”

Sekujur tubuh Na Eun melemas, bukan karena ceritanya tentang Soohae, tapi karena ia melihat bahu suaminya bergetar. Memang tidak ada isak tangis, namun ia melihat airmata merebak keluar dari kedua sudut mata pria itu. Dalam keremangan ruangan tempat mereka berada, Na Eun merasa begitu sakit melihat suaminya menangis diam-diam. Ia berada di sana, tetapi tidak bisa berbuat apapun. Itulah hal paling menyesakkan.
“Oppa..” untuk pertama kalinya Na Eun memanggil suaminya dengan nada iba, ia menyentuh halus bahu Dong Woo yang bergetar lalu perlahan-lahan memeluk tubuh suaminya. Na Eun merelakan bahunya basah oleh airmata suaminya dan airmata itu lebih dari cukup menceritakan betapa sakitnya hati Dong Woo saat ini. Ia hanya ingin Dong Woo tahu ia ada dan siap melewati masa terburuk bersamanya.

Pelukan Na Eun memang begitu membantunya. Dong Woo merasa tidak ragu lagi untuk bersedih karena ia memiliki tempat bersandar sekarang. Tanpa sadar kini kedua tangannya sudah memeluk erat Na Eun. Untuk pertama kalinya, Na Eun dipeluk oleh suaminya dan perasaan bahagia yang selama ini ia damba akhirnya bisa ia rasakan.
“Keluarkan semua kesedihanmu, jangan ragu,” bisik Ji Eun. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman bahagia. Maaf aku gembira di atas kesedihanmu, batin Na Eun.

Dong Woo perlahan mengangkat wajahnya dari bahu Ji Eun. Dengan perasaan campur aduk ia menatap gadis yang selama ini diabaikannya. Ia tidak menyangka setelah sekian banyak luka yang ia berikan, gadis ini masih memiliki sisa perasaan untuk bersimpati padanya. Na Eun, dia gadis yang luar biasa dan itu adalah istrinya.
“Entah bagaimana aku harus berterima kasih padamu, hari ini kau sudah bersedia menjadi tempatku bersandar..”
“Aku selalu bersedia menjadi tempatmu bersandar,” sela Na Eun. Ia tidak mau membiarkan rasa bahagia yang baru dirasakannya menguap begitu saja. Ia menggenggam kedua tangan Dong Woo. Ia rasa ini adalah kesempatan untuk memiliki hati pria ini.
“Bolehkah aku meminta hal lain sebagai ucapan terima kasihmu untukku?” ucapnya sungguh-sungguh.
“Apa?” Dong Woo merasa berhutang karena itu ia akan mengabulkan apapun yang diminta Na Eun untuk kali ini saja.

“Cobalah belajar mencintaiku.”

Dong Woo melebarkan mata sedetik setelah mendengarnya. Na Eun yakin Dong Woo mengira dirinya gila dan terlalu mengada-ngada namun ia tidak peduli. Ia ingin sekali dicintai, setiap wanita pasti mendambakan dicintai oleh pria yang dikasihinya.

Dong Woo masih merenung. Percuma ia mengharapkan Soohaae karena gadis itu sudah menikah dan memiliki anak, ia mendengar hal itu dari salah satu temannya. Mungkin sudah saatnya ia belajar mencintai gadis yang sudah setia menemaninya selama lebih dari satu tahun ini. Ia menatap Na Eun lekat-lekat.
“Perlu waktu untuk belajar mencintai gadis lain,” Dong Woo berkata pelan dengan mata mereka yang saling menatap satu sama lain.
“Aku siap menunggu,” balas Na Eun lembut. Dong Woo begitu takjub dengan cara Na Eun mengucapkannya. Sorot matanya, bahkan senyumnya membuat Dong Woo terhipnotis. Na Eun terkesiap sadar secara perlahan Dong Woo mendekatkan wajahnya. Ia tidak beranjak sama sekali justru matanya mulai menutup menyambut bibir pria itu pelan-pelan mendarat di bibirnya. Hatinya ikut tergerak dan rasa bahagia membuncah. Ini adalah ciuman pertamanya. Na Eun membiarkan Dong Woo menciumnya begitu dalam karena ia sudah lama mendambakan hal ini. Bahkan di saat keromantisan itu mengarah pada sesuatu yang lebih intim, Na Eun menerimanya dengan perasaan bahagia. Siapa yang disangka malam itu akan menjadi malam pengantinnya.

—o0o—

Senyum Na Eun semakin mengembang seiring dengan membaiknya hubungan antara dirinya dan Dong Woo. Pria itu perlahan-lahan membuka hatinya semenjak mereka terbangun di ranjang yang sama tanpa sehelai benang pun pagi itu. Na Eun pun tidak akan melupakan rasa bahagia ketika ia membuka mata pagi itu, ia melihat wajah tampan Dong Woo berbaring di sampingnya. Mengingat apa yang terjadi di antara mereka semalam, pipi Na Eun memerah dengan sendirinya. Kabar tentang Soohae pun tidak di sebut lagi dan kehidupan pernikahannya semakin sempurna ketika dokter mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung. Berita itu santer dimuat di koran-koran lokal karena bagaimanapun keluarga mereka berdua adalah keluarga terkenal.

Na Eun kira Dong Woo akan menolak kehamilannya, siapa yang menyangka pria itu tersenyum dan memeluknya saat ia memberitahukan bahwa dirinya sedang mengandung anaknya. Dong Woo semakin memberikan perhatian ekstra pada Na Eun selama sembilan bulan kehamilannya dan ketika anak mereka lahir di suatu hari di musim semi, betapa bahagianya Na Eun karena saat itu untuk pertama kalinya ia melihat wajah gembira Dong woo, benar-benar gembira. Bahkan airmata haru sampai menitik di sudut matanya.
“Dia sangat cantik bukan?” Na Eun hanya bisa menatap suaminya yang terus menimang bayi yang baru dilahirkannya beberapa jam lalu dengan bibir tersenyum. Dong Woo menoleh padanya, lalu mengecup keningnya dalam. Na Eun bisa merasakan kasih sayang dari ciuman itu.
“Aku mencintaimu, Na Eun. Terima kasih sudah memberiku putri secantik ini.”

Betapa terharunya Na Eun mendengarnya. Haruskah ia menunggu sampai selama ini hanya untuk mendengar kalimat ‘aku mencintaimu’ dari mulut suaminya? Dengan tubuh yang masih lemah, ia menggunakan seluruh tenaganya untuk memeluk Dong Woo.
“Aku juga mencintaimu..”

Dahulu mungkin ia tidak akan sudi menyatakan cinta pada gadis selain Soohae. Namun sekarang, demi apapun setelah melihat sendiri anaknya, semua rasa bimbang, benci, dan frustasi yang selama ini mengekang hatinya lenyap seketika. Ia sekarang merasa sangat bahagia karena akhirnya ia bisa menjadi seorang ayah. Bayi ini adalah anugerah terindah untuknya dan istrinya.
“Apa nama yang pantas untuk anak kita?” Dong Woo bertanya pada isterinya. Na Eun mengecup kening bayi yang tengah ditimangnya sebelum menjawab dengan mantap.
“Kim So Eun. Kurasa itu nama yang sempurna.”

Dong Woo mengerjapkan mata. Kim So Eun? Entah ini hanya perasaannya saja atau Na Eun memang sengaja memberi nama anak mereka dengan perpaduan nama Soohae dan dirinya?

*Flash back End*

Siwon menghapus airmata di pipi So Eun karena ia bisa merasakan bermacam perasaan yang berkecamuk dalam hati istrinya. Ibu mertuanya baru saja menceritakan kisah masa lalu yang menjadi asal mula perseteruan dua keluarga. Ia tidak bisa berkomentar, hanya diam. Ini bukan tempatnya berkomentar.

Meskipun ingin, So Eun tidak bisa menghentikan airmata yang menerobos keluar tanpa permisi. Ia bingung apakah harus marah pada mendiang ayahnya atau justru simpati. Entah siapa yang patut dipersalahkan namun ia merasa Ayahnya tidak salah. Semua orang yang mencintai pasti rela melakukan apapun untuk mempertahankan jalinan cintanya. Ia kembali memokuskan pandangannya pada sang ibu yang terisak. Sementara Donghae hanya terdiam dengan pandangan menerawang. So Eun yakin perasaannya pun tak kalah kacau balau seperti dirinya.

“Sungguh So Eun, meskipun saat itu Ayahmu tidak mencintai Eomma. Namun semenjak kau lahir, wajah tak berdosamu seperti magnet yang membuat perasaan mendiang Ayahmu berpaling pada Eomma.”
“Arraseo, Eomma..” So Eun memegang tangan ibunya. Ia tahu memaksa ibunya menceritakan ini sama saja seperti membuka luka lama yang berusaha ibunya sembuhkan selama bertahun-tahun. Pasti berat menjalani pernikahan dengan suami yang tidak mencintainya, apalagi ditambah kenyataan bahwa sang suami mencintai wanita lain. Itu sangat berat, So Eun tahu karena ia sempat mengalaminya. Ibunya adalah wanita yang tegar dan kuat. Masih bisa mencintai ayahnya bahkan sampai sekarang. So Eun merasa sangat bangga dan kagum pada ibunya.

“Eomma tetap harus menceritakan inti dari cerita ini pada kau dan Donghae..” lanjut Eomma setelah perasaannya lebih tenang. Ia menatap lembut ketiga orang yang ada di sekitarnya terutama So Eun dan Donghae.
“Eomma harap setelah kalian mendengarnya, kalian bisa mengambil keputusan yang bijak.” Pandangan Eomma teralih pada So Eun, “Eomma harap kau tidak membenci ayahmu,” setelah itu lalu tertoleh pada Donghae, “Eomma juga berharap kau tidak membenci kedua orang tuamu..”

Donghae masih belum menjawab. Ia sedang menyiapkan hati sebelum benar-benar mendengar ceritanya dari sudut pandang berbeda. Ia yakin pada kenyataannya, Ayah kandungnya tidak sejahat seperti yang diceritakan oleh Ayahnya.

..To Be continued..

176 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 10-A)

  1. waah udh mulai trkuak masa lalu appa n eommanya haeppa n so eun
    tpi msih pnsaran klanjutannya

    ttap tgar y haeppa n so eun
    fighting !!!🙂

  2. jadi sebenernya drama lama dua keluarga itu cuman salah paham aja.. papi soeun ngira emaknya donghae udah nikah ama orang lain, tanpa tahu sebenernya donghae itu anaknya?? O_O
    nah terus dia tau nggak kalo donghae itu anak dia??

  3. ternyata ibu so eun pernah menjalani pernikahan yg mirip sama so eun tpi so eun lebih cepat bisa membuat suaminya jatuh cinta sama dia , sedangkan ibunya lama baru bisa mebuat hati ayah so eun berpaling mencintainya. wah keren…

  4. Deg deg,, masih deg”an saia ngedenger’a apa lgi ngedenger mereka mo buat baby dulu biar direstuin ckck miriss ya si na eun ini..

  5. Aigoo ternyata kisah cinta eomma nya so eun sama kayak yang so eun rasakan ya😦 tapi untung nya wonppa udah bisa mencintai secepat itu, gak kayak eomma so eun, bener2 wanita tegar ne?
    kasian sama haeppa? appa mereka tau gak kalo haeppa anak kandung nya dia atau gak tau?

  6. Ternyata kisah antara soeun dan eomma nya benar” sama. Yang membedakan adalah siwon dan appa soeun kekeke😀 tpi, bangga banget sama eomma soeun dia benar” tegar, kuat, dan berbakti kepada orang tua nya pantas aja soeun juga nurun sifat dari eomma dan appa nya (y) daebak banget cerita nya (y)

  7. ampun deh .. kehidupan soo eun mengulangi kembali kisah cinta ortunya. tp untung aja siwon gak menghamili eunji ..
    donghae oppa, fighting !

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s