Shady Girl Heechul’s Story (Part 9)

Judul : Shady Girl Heechul’s Story Part 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life
Length : Chaptered
Twitter : @julianingati23

Main Cast :

  • Kim Heechul
  • Sung Youngjae

Semoga ada yang kangen ama FF ini. *Amin* Tak ada kata-kata yang bisa author sampaikan untuk ceramah pembuka jadi cukup Happy Reading dan semoga kalian suka ^_^

Shady Girl Heechul by Dha Khanzaki

======Part 9======

Setibanya di rumah, Young Jae menemukan Heechul sedang duduk di sudut sofa ruang tamu dengan wajah ditekuk. Ia berniat menceritakan berita gembira tentang kehamilannya namun senyumnya menghilang seketika menyadari aura kelam yang mengelilingi suaminya.

“Kenapa? Apa sesuatu terjadi?” tanyanya hati-hati. Heechul melihatnya sekilas lalu mendengus kencang, berkali-kali.
“Klienku hari ini benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa dia menghina hasil rancanganku.”
“Jinjja?” Young Jae terkejut mendengar hal itu. Baru pertama kali ia mendengar ada orang yang tidak terpukau dengan rancangan suaminya. Orang tersebut pasti memiliki selera yang tidak biasa.

“Mungkin dia seorang seniman yang memiliki citarasanya sendiri,” hibur Young Jae hati-hati. “Apa dia sudah tua?” ya, karena biasanya para orang tua itu sulit sekali menerima sesuatu yang baru.
“Dia masih sangat muda, yah, mungkin masih mahasiswa,” ucap Heechul malas. Moodnya benar-benar hilang berkat orang itu. “Dia arogan sekali, aku tidak mau sampai memiliki anak seperti dia.”

Glek.

Young Jae menelan ludahnya gugup. Ia tidak bisa menceritakan kehamilannya sekarang di saat emosi Heechul sedang tidak stabil. Bisa-bisa Heechul mengusirnya dari rumah. Ia tahu betapa arogannya pria ini.
“Kau kenapa?” Heechul mengerutkan kening melihat Young Jae gelisah di tempatnya. Belum lenyap kekesalannya setelah pertemuan menyebalkan tadi sekarang istrinya pun bertingkah aneh.

“Itu..” Young Jae memegangi perutnya yang masih datar. Kerutan di kening Heechul semakin bertambah. Kini pria itu benar-benar penasaran. Ia memusatkan perhatiannya pada Young Jae secara penuh.
“Kau lapar?” tanyanya mencoba menebak. Young Jae menggeleng cepat. Ia masih ragu antara memberitahukannya atau tidak. Ia berdialog dalam pikirannya sendiri. Ia mencoba mendalami ekspresi wajah Heechul dan memastikan apakah aman memberitahukan berita kehamilannya sekarang. Sepertinya tidak masalah.

“Apa wajahku terlihat aneh?” pikir Heechul sambil memegangi wajahnya sendiri karena Young Jae sejak tadi hanya menatap wajahnya. Young Jae memejamkan matanya rapat-rapat sebelum berkata dengan gugup.
“Aku akan mengatakan sesuatu tapi janji apapun yang terjadi kau tidak akan marah.” Ucap Young Jae penuh permohonan. Seketika Heechul memasang mimik curiga. Ada apa gerangan dengan istrinya? Hal apa yang membuat Young Jae berwajah panik dan gugup seperti itu?

“Aku hamil,” ujar Young Jae dengan suara bergetar.

“Mwo?????” Young Jae menundukkan kepalanya dalam-dalam begitu teriakan kaget Heechul menggelegar.
“Kau..” teriak Heechul dengan tangan menunjuk-nunjuknya. Matanya membulat kaget. Reaksi Heechul tepat seperti dugaannya. Pria itu pasti marah, karena itu Young Jae cepat-cepat bangkit lalu membungkukkan tubuhnya berkali-kali. Heechul yang terkesiap dengan tindakan Young Jae hanya memandangnya dengan alis terangkat sebelah.

“Aku tahu kau marah. Aku tahu kau tidak mau aku hamil. Kau boleh marah atau membenciku tapi kumohon jangan memintaku menggugurkan bayi dalam rahimku. Dia tidak bersalah, dia tidak tahu apapun.”
“Apa yang kau bicarakan?” ucap Heechul seraya bangkit. Pria itu masih menatap tajam Young Jae dan membuatnya tidak sanggup sekedar mengangkat wajah.

“Kau bilang tadi kau hamil?” tanya Heechul mendekat. Tanpa sadar Young Jae memundurkan tubuhnya takut jikalau Heechul ingin memukulnya dengan sapu. Heechul mengulurkan tangan hendak menyentuhnya. Tubuh Young Jae refleks mengerut takut. Ia kira Heechul akan menyentil keningnya namun kejadian selanjutnya membuat jantung Young Jae hampir saja jatuh di tempatnya.

Tiba-tiba saja Heechul memeluknya erat dan memutar tubuhnya seraya berteriak; “Kau Hamil!!!!!” dengan kencang. Dari nada suaranya Heechul tidak terdengar kecewa ataupun marah. Melainkan gembira dan tak percaya. Young Jae memekik kaget ketika Heechul dengan gerakan cepat mengangkat tubuhnya dari lantai lalu memutarnya sampai ia merasa pusing.

Young Jae ikut tertawa lega. Ia harus berpegangan erat pada pundak suaminya begitu Heechul menurukannya karena pandangannya masih kabur.
“Jadi, Oppa tidak marah?” Young Jae bertanya setelah ia bisa memandang Heechul dengan jelas.
“Untuk apa aku marah? Kau sudah memberiku anak,” ucap Heechul sambil melingkarkan tangannya menyelubungi tubuh Young Jae, lalu melepaskannya. Pria itu mengepalkan tangannya erat sambil menatap langit-langit dengan gaya dramatis.

“Dengar kau Cho Kyuhyun, ISTRIKU HAMIL!! Ha ha ha, akhirnya bisa kubuktikan padamu bahwa aku ini pria sejati!!!” teriaknya seperti orang gila. Rupanya Heechul masih dendam pada ucapan Kyuhyun tentang kemampuannya sebagai pria. “Young Jae, kita harus besarkan anak kita!” ucapnya menggebu. Namun ketika dia membalikkan badan, Young Jae sudah tidak ada di tempatnya lagi.
“Loh, kemana dia?” gumamnya heran. Heechul mencarinya dan ia mendesah lega saat menemukan Young Jae duduk di tepi tempat tidurnya dengan ponsel menempel di telinga.

“Sedang apa?”

Young Jae menoleh sebentar pada Heechul yang sudah duduk di sampingnya, “Aku sedang mencoba menghubungi Eomma di luar negeri. Tapi sepertinya tidak diangkat,” sejak tadi yang di dengarnya hanya nada tunggu.
“Oh, diangkat!” seru Young Jae senang. “Eomma..ini aku, putrimu..”

Heechul mendengarkan Young Jae yang mengobrol dengan Ibunya sambil tersenyum. Istrinya itu berkata dengan wajah berbunga-bunga bahwa dirinya hamil dan Heechul samar-samar bisa mendengar teriakan riang ibu mertuanya. Heechul tidak pernah bertemu dengan orang tua Young Jae sebelumnya karena itu ia penasaran seperti apa rupa mereka. Ia baru teringat sesuatu, selama ini Young Jae belum pernah membahas tentang orang tuanya. Ia tidak tahu apapun tentang keluarga Young Jae. Astaga, kemana saja dirinya selama ini? Ia tidak mungkin hidup dengan wanita yang bahkan asal usulnya tak ia ketahui.

“Bagaimana?” tanya Heechul saat Young Jae menutup pembicaraan dengan wajah cerah.
“Eomma sangat senang dan dia mewanti-wantiku agar tidak makan sembarangan. Aku disuruh memeriksakan kandunganku paling tidak sebulan sekali, dan masih banyak lagi. Dia juga bertanya tentang dirimu,”
“Oh ya?” Heechul terperangah mendengarnya. “Apa yang kau katakan tentangku?”

“Yah, kau suami yang baik. Meskipun suka sekali mengungkapkan perasaannya dengan cara yang tidak biasa,” Young Jae mengapit tangan Heechul dengan manja sambil menyandarkan kepala di pundak suaminya.
“Omong-omong, kau tahu darimana kau hamil?”
“Aku memeriksakan diri ke rumah sakit Ayahmu. Di sana aku bertemu Kibum.”
“Mwo???” tanpa sadar Heechul memekik kaget. Ia membelalak pada Young Jae.
“Jangan bilang dia juga yang memberitahumu kau hamil?”

Young jae mengangguk antara ragu dan takut. “Memang kenapa?”
“Ganti dokter kandunganmu! Kibum bukan dokter spesialis kandungan.” Berang Heechul, refleks Young Jae menggeser duduknya menjauh.
“Arro, aku akan mengganti dokter, benar-benar dokter kandungan. Kau tidak perlu berteriak, membuat orang takut saja.” Young Jae melindungi perutnya dengan kedua tangan seolah takut Heechul akan membuat bayinya kaget. Tatapan takut Young Jae membuat Heechul membuang nafas keras.
“Baiklah, baiklah. Mulai sekarang aku akan mengontrol emosiku. Aku tahu ibu hamil lebih sensitif dua kali lipat dari biasanya. Meskipun aku tahu kau bodoh dan lugu, tapi kuharap itu tidak mempengaruhi anak kita. Kau berhati-hatilah selama mengandung.”

Young Jae memang senang Heechul berkata dengan nada perhatian seperti ini tapi mengapa rasanya ia justru tersinggung dibandingkan senang? Bukankah secara tidak langsung Heechul mengatainya bodoh? Sampai kapan pria ini terus memanggilnya wanita bodoh?
“Bicara soal Kibum,” Young Jae diam sejenak teringat sesuatu, “Dia mengundang kita ke acara ulang tahunnya hari minggu nanti. Ya, hanya pesta kecil-kecilan dan dia ingin kita datang terutama kau, Oppa.”

Heechul menoleh cepat, terkejut seperti baru menyadari hal yang kerapkali dilupakannya. Ia menoleh ke arah kalender sebentar sebelum menjawab dengan nada malas. “Aku tidak akan datang.”
“Waeyo? Ini pesta ulang tahun Kim Kibum, adikmu. Kenapa tidak mau datang?” ujar Young Jae membelalak kaget. “Datang ya, Kibum mengundang kita secara pribadi. Aku tidak mau membuatnya sedih, aku sudah berjanji.” mohonnya sambil mengguncang lengan Heechul. Pria itu mulai merasa terganggu juga dengan rengekan Young Jae.

“Kubilang aku tidak mau!!!” teriaknya tanpa sadar sambil menepis tangan Young Jae dari lengannya. Young Jae merasa hatinya ditusuk panah saat Heechul melepaskan tangannya. Matanya pun seperti ditusuk-tusuk, rasanya perih sekali dan tak lama kemudian pandanganya mengabur.
“Kenapa kau kasar begini pada adikmu? Kasihan Kibum jika kita tidak datang..” lirihnya sakit hati diiringi isakan halus. Detik berikutnya Young Jae menangis. Heechul melonjak kaget melihatnya. Ia panik mencoba meredakan tangisan Young Jae.

“Aigooo.. iya, iya, aku akan lihat jadwalku dulu bisa datang atau tidak,” Heechul merangkul bahu Young Jae sementara tangannya yang lain mengusap-usap rambutnya. Dia tidak pernah merasa mudah panik seperti ini melihat wanita menangis. Ia sendiri kaget begitu menyadari hal ini. Ia melirik kalender sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar memfokuskan segenap perhatiannya akhir pekan ini untuk menghibur Young Jae.
Heechul hampir saja melupakannya. Minggu depan memang ulang tahun Kibum.

—o0o—

Heechul melirik jam wekernya dan mengeluh menyadari waktu masih pagi tetapi siapa orang bodoh yang membunyikan bel di hari sepagi ini? Disebabkan rasa kantuk yang tak tertahankan, Heechul membenamkan kepalanya di bawah bantal dan melanjutkan mimpinya dibandingkan turun dari ranjang lalu membuka pintu.

Bel tetap berbunyi nyaring dan kali ini Young Jae yang terbangun. Ia menoleh pada Heechul yang tertidur nyaman di balik tumpukan bantal di kepalanya. Semalam mereka memutuskan untuk hidup selayaknya suami-istri normal dan langkah pertama yang diambil mereka adalah tidur di atas ranjang yang sama.
“Siapa yang datang pagi-pagi begini?” ujarnya sambil menguap. Young Jae menyibak selimut lalu beranjak membuka pintu.

“Young Jae putriku!!!!” kantuk Young Jae hilang sempurna ketika ia melihat sosok ibunya di balik pintu. Matanya mengedip berkali-kali untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.
“Eomma,” gumam Young Jae, terdengar tidak yakin. Ia masih menganggap dirinya bermimpi sampai ia merasakan pelukan hangat ibunya. Young Jae mendesah lega menyadari dirinya tidak sedang berkhayal. Ibunya memang ada di sini, memeluknya erat. Perasaan lega dan rindu seketika menyelubungi hatinya.

“Eomma!!” kini Young Jae balas memeluk ibunya dengan segenap perasaan rindunya. Setitik airmata mengalir di pipinya. Sudah berapa lama ia tidak bertemu orang tuanya? Ia hampir melupakan kenyataan bahwa dirinya terjebak dalam pernikahan konyol ini karena kepindahan orang tuanya yang tiba-tiba ke luar negeri.
“Kenapa tidak bilang akan kemari?” ucap Young Jae sambil melepaskan pelukannya. Ia segera membawa ibunya masuk.
“Begitu mendengar kabar bahwa kau hamil, Eomma segera mengambil penerbangan pertama kemari.” Jawab Eomma dengan wajah berbinar.

Eomma menggenggap tangan putrinya dengan erat. “Nak, Eomma senang kau akan menjadi ibu. Astaga, putri kecil Eomma sudah besar rupanya..” bola mata Eomma terasa berair. Young Jae mengerjap kaget secepat kilat langsung menyambar kotak tissue yang tergeletak di atas meja lalu memberikannya pada Eomma.

“Eomma jangan menangis,” ucap Young Jae pelan dengan suara menahan tangis. Eomma mengelap tetesan airmata di ekor matanya dengan penuh haru. Ia tak menyangka saat-saat dirinya akan menjadi seorang nenek tiba juga. Sudah lama ia dan suaminya menanti momen ini.
“Dengar, kau harus menjaga kesehatan baik-baik. Lakukan apapun yang dokter sarankan dan jangan terlalu banyak bekerja. Kalau bisa kau mundur saja dari pekerjaanmu.”
“Apa, tidak mungkin!” elak Young Jae nyaris menjerit. “Aku bersusah payah mencapai tahap ini dan aku yakin terwujudnya mimpiku tinggal menunggu waktu.” Ujarnya menggebu.

“Eomma paham,” Sela Eomma dengan sikap keibuannya, “Tapi kau juga jangan lupa bahwa kau seorang ibu. Jika kau terlalu lelah anakmu di dalam sini dua kali lipat lebih lelah. Kau tidak mau bukan terjadi sesuatu yang buruk padanya? jangan terlalu memforsir tenagamu untuk bekerja.”
“Aku mengerti,” Young Jae menudukkan kepalanya menatap perut ratanya sendiri. Benaknya membenarkan ucapan Eomma. Sekarang ia tidak hidup hanya untuk dirinya saja, tapi juga untuk bayi yang sedang dikandungnya. “Eomma aku—“

“Menantuku!!!!!” tiba-tiba saja Eomma berseru ke arah belakang bahu Young Jae. Alhasil niat Young Jae mengatakan sesuatu terputus sudah. Ia ikut menoleh ke arah belakang dan dia menemukan Heechul sedang berjalan keluar dari kamar. Penampilannya yang berantakan tentu menjelaskan bahwa dia baru bangun tidur.

Heechul sedang menguap ketika dia melonjak kaget mendengar suara teriakan ibu-ibu ke arahnya. Matanya membelalak histeris melihat sesosok wanita paruh baya berjalan cepat ke arah dirinya yang sebagian nyawanya bahkan belum terkumpul. Heechul belum sempat menghindar, wanita itu sudah memeluknya erat.
“A-anu..” ucapnya tergagap dan pikirannya macet. Siapa wanita ini? Pandangannya terpaksa mengedar dan ia menemukan sosok istrinya duduk di ruang tamu, menatapnya dengan ekspresi memelas. Seperti lampu yang menyala dalam otak, barulah Heechul sadar bahwa wanita yang memeluknya sekarang adalah ibu dari Sung Young Jae.

Eomma melepaskan pelukannya, “Aigoo, kau persis sekali seperti Ayahmu. Lihat wajah tampan ini,” ucap Eomma sambil mengusap pipi Heechul.

“Terima kasih nak, kau sudah memberikan kebahagiaan untuk keluarga kecil kami,” ucap Eomma dengan mata berbinar. Heechul termenung untuk beberapa saat. Ia merasa tersanjung mendengar Eomma Young Jae yang menyanjungnya seperti pahlawan. Ia meraba pipinya sendiri. Dikatakan tampan oleh orang lain siapa yang tidak bangga? Namun beberapa detik kemudian ia berdehem karena sadar wanita di hadapannya menunggu jawaban darinya.

“Senang bertemu denganmu, Eommanim. Young Jae sering sekali berbicara tentangmu. Rupanya seperti yang dikatakan Young Jae, Anda masih tampak cantik.” Puji Heechul dan langsung membuat pipi Eomma memerah, tersipu.
“Ah, anak nakal itu terlalu melebih-lebih kan,” Eomma mengibaskan tangan malu. Diam-diam Heechul mendelik pada Young Jae meminta penjelasan. Dengan bahasa isyarat Young Jae mengatakan bahwa kedatangan Eommanya diluar perkiraannya.

“Aku tidak menyangka Eomma akan datang begitu aku mengabarinya,” bisik Young Jae ketika mereka berdua duduk di depan meja makan, membiarkan Eomma membuatkan mereka sarapan. Sebenarnya Eomma yang memaksa menyiapkan sarapan meskipun Young Jae dan Heechul kompak berkata tidak perlu repot-repot.
“Ah, ini buruk sekali. Jika aku tahu aku akan menyambutnya dengan lebih baik lagi,” ujar Heechul nyaris mengerang penuh penyesalan. Ia teringat sendiri betapa memalukannya penampilannya tadi. Dilihat dalam penampilan paling memalukan oleh mertuanya di hari pertama bertemu? Heechul bahkan tidak sanggup menatap wajah Eomma tanpa ada rasa malu terselip dalam setiap pandangannya.

“Santai saja. Aku saja bertemu dengan Eommanim dalam kondisi memalukan,” gumam Young Jae teringat pertemuan pertamanya dengan Eomma Heechul. Saat itu Eomma mertuanya menangkap basah mereka dalam posisi hampir berciuman.
“Jangan dibahas,” geram Heechul tahu kondisi apa yang dimaksud Young Jae.

“Ayo makan sarapannya,” obrolan serius Young Jae-Heechul terpotong oleh suara hangat Eomma. Begitu mengalihkan pandangan mereka sadar di depan mereka kini tersaji beberapa piring hidangan lezat yang menggugah selera. Wajah mereka seketika berseri sama cerahnya dengan matahari yang bersinar di luar sana.

“Selamat makan,” seru Young Jae lebih dulu lalu mengambil sepotong ayam goreng namun Eomma cepat menepisnya.
“Waeyo??” protes Young Jae bingung. Eomma hanya tersenyum sambil meletakkan semangkuk sereal oats penuh nutrisi di depannya dan segelas jus susu ibu hamil.
“Ibu hamil perlu banyak nutrisi.”

Heechul harus menahan tawanya sekuat tenaga karena demi apapun ekspresi Young Jae sekarang lucu sekali. Mulut istrinya menganga dengan wajah memelas bercampur depresi, pasrah, tidak terima, bingung, dan memelas. Jelas sekali Young Jae tidak terlalu suka makanan penuh nutrisi.
“Eomma, aku bukan gadis remaja yang harus berdiet, untuk apa makan oats segala?” protesnya lagi.
“Oh, ayolah. Aku mengerti maksud Eommanim. Dia tidak ingin cucunya memiliki pipi chubby sepertimu,” goda Heechul sambil menusuknusukkan jarinya ke pipi Young Jae. Setelah itu—jelas sekali sengaja Heechul mengambil sepotong paha ayam lalu memakannya penuh kenikmatan. Dia sengaja menampakkan wajah ‘em, ini enak sekali’ di depan Young Jae.

Young Jae meneguk ludahnya dengan susah payah dan perutnya keroncongan di saat yang bersamaan. Mendadak dia dipenuhi hasrat yang kuat untuk merebut paha ayam yang sedang dimakan suaminya.
“Aku mau itu..” desisnya lalu berusaha mengambil paha ayam yang digenggam Heechul.
“Apa sih, kan masih banyak paha ayam di piring!” seru Heechul menyuruh Young Jae mengambil ayam yang lain, asal jangan yang sedang dimakannya.
“Aku mau itu, berikan padaku!!” rengek Young Jae sambil menarik-narik lengan piyama Heechul. Pria itu membelalak tak percaya.
“Ya, kau bukan anak kecil lagi, ambil sana!!”
“Tapi aku mau itu..” Young Jae tetap memaksa ingin menjangkau paha ayam di tangan Heechul yang dijauhkan oleh si empunya tangan.

“Berikan saja, Heechul. Mungkin Young Jae sedang mengidam.” Ucap Eomma melerai.
“Mwo?” Heechul menoleh bingung pada Eomma, sedikit meminta penjelasan.
“Semua wanita hamil seperti itu. Jadi jika dia meminta sesuatu atau menginginkan sesuatu, kau harus memberikannya.” Eomma menjelaskannya sambil mekan dengan tenang.
“Sejak kapan ada peraturan konyol seperti itu—ya!!!” Heechul mengerjap ketika Young Jae berhasil mendapatkan ayam dari tangannya. Ia diam sejenak melihat Young Jae memakan ayam itu dengan wajah puas. Ya ampun, jika orang melihatnya mereka akan mengira Young Jae tidak makan selama satu bulan. Ia menoleh kembali pada Eomma yang duduk di seberangnya.

“Sejak dulu. Tanyakan saja pada Ayahmu jika tidak percaya. Para suami selalu dibuat kalang kabut oleh istri-istri mereka yang sedang hamil, terutama hamil muda. Kebanyakan mereka mengidam hal-hal yang aneh. Bukan yang mustahil, sesuatu yang umum hanya saja sulit di dapat dan terkadang di saat-saat tak biasa. Kau harus bersiap jika sewaktu-waktu Young Jae memintamu mengupas buah kastanye saat tengah malam.”

Heechul bergidig ngeri mendengarnya. Ia menoleh pada Young Jae yang sekarang sudah menghabiskan ayamnya. Ia menoleh kembali pada Eomma saat Eomma bertanya lagi, “Kau tidak tahu?”
“Jelas tidak tahu, Eomma. Heechul Oppa tidak pernah bergaul dengan perempuan dan aku yakin dia tidak mau membahas hal semacam ini dengan adik dokternya atau siapapun,” serobot Young Jae sebelum Heechul menjawabnya.

“Enak saja. Aku punya adik perempuan, asal kau tahu. Aku sudah sering direpotkan olehnya saat dia sedang mengandung—“ Heechul mendadak berhenti bercerita karena sekarang, mendadak ia sedih. Setiap kali teringat Taeyeon—adik perempuannya yang sudah meninggal dunia—ia selalu didera rasa sesak yang luar biasa. Ia selalu menyayangkan kepergian adiknya yang terlalu cepat. Usianya baru 22 tahun saat meninggal dunia.

Young Jae menyadari kesedihan di wajah suaminya. “Pasti itu adalah saat-saat paling menyenangkan.” Hiburnya. Heechul menyadari sikapnya membuat suasana menjadi canggung dan sepi. Ia lantas tersenyum untuk menghangatkan suasana.

“Yah, itu sudah lama sekali dan aku tidak keberatan mengalaminya lagi.”
Eomma menatap Heechul penuh arti, “Kau kakak yang sangat baik,” ujarnya. Heechul menolehkan pandangannya pada Eomma, kaget. “Aku kenal Taeyeon,” ujar Eomma seolah mengerti ekspresi Heechul.
“Kami sering bertemu. Dia seorang peneliti muda, bukan? Ah, gadis yang cantik dan ramah. Mau tak mau aku harus mengakui Ayah ibumu berhasil melahirkan anak-anak pintar dan membanggakan—dia salah satunya. Taeyeon selalu membanggakan kau yang pintar sekali melukis dan sering membantunya membuat PR prakarya. Dia juga mengatakan kau sangat bisa diandalkan meskipun terkadang sering terlalu keras pada adikmu yang paling kecil—siapa namanya?”
“Kibum,” ucap Young Jae karena Heechul terpaku mendengar cerita Eomma.

“Ah, ya. Kibum. Taeyeon selalu berkata meskipun kalian berdua membuatnya pusing dengan pertengkaran-pertengkaran kecil, tapi dia merasa sangat bahagia memilikimu dan adikmu. Senyumnya tampak paling cerah ketika dia berdiri di atas pelaminan dengan gaun pengantin di hari pernikahannya. Eomma datang waktu itu, melihat sendiri bagaimana dia menangis karena melihat kau dan adikmu tidak bertengkar hari itu.”
“Ya,” gumam Heechul dengan pandangan menerawang. Young Jae terkejut melihat Heechul tersenyum sambil meneteskan airmata. Itu, adalah ekspresi paling manusiawi yang pernah dilihat Young Jae. Jelas sekali saat ini perasaan sedih dan terharu bercampur baur dalam hati seorang Kim Heechul.

Eomma menghela nafas, “Gadis baik, Tuhan begitu menyayanginya sampai memanggilnya begitu cepat.” Eomma terisak pelan di sela cerita mengharukannya. Young Jae menoleh pada Heechul dan terkejut karena Heechul saat ini menangis. Meski tidak terisak, namun airmata tak henti-hentinya mengalir. Saat itu Young Jae tahu, Heechul merindukan adik perempuan satu-satunya.

Tanpa isyarat apapun Young Jae mengulurkan tangannya menghapus sendiri airmata itu dari pipi Heechul. Hatinya ikut tersayat melihat tetes demi tetes air mata yang berhasil dihapus tangannya.
“Dia pintar bernyanyi,” lirih Heechul dengan suara tercekat. “Ketika aku masih terbaring sakit, dia selalu bernyanyi untuk membuatku tertidur. Suaranya indah sekali, kau tahu?” Heechul menoleh pada Young Jae seolah ingin Young Jae terkesan mendengarnya. Young Jae mengangguk antusias demi rasa rindu Heechul pada adiknya.
“Terkadang aku jengkel juga ketika Taeyeon memaksaku meminum obat setelah bernyanyi. Tapi, sekarang, aku rela meminum obat sebanyak apapun demi mendengar suaranya nyanyiannya..”

“Owh..” Young Jae langsung memeluk Heechul demi menenangkannya yang sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Heechul pasti sudah memendam perasaan ini sejak lama. Ia tahu Heechul sedih lebih dari siapapun namun ego Heechul menahannya untuk mengumbar rasa sedihnya pada dunia. Eomma tersenyum simpul melihat pemandangan di depannya. Ia menghela nafas lega. Syukurlah ternyata mereka saling mencintai dan memahami. Ia sempat mengira rencanannya menjodohkan Heechul dan Young Jae akan gagal total mengingat sifat keduanya yang sama-sama keras kepala.
“Aku bisa menyanyi untukmu,” bisik Young Jae, bermaksud menghibur.
“Tidak mau, suaramu jelek.” Jawab Heechul langsung. Young Jae merengut tersinggung.
“Kau akan terkejut mendengar suaraku yang seindah milik Mariah Carey—“

“Jangan membual,” potong Eomma, “Terakhir kali kau bernyanyi, kau membuat burung parkit milik tetangga mati di kandangnya.” Ucapnya tegas. Heechul langsung tergelak puas sementara Young Jae mendengus tak terima.
“Eomma!!”
“hahaha.. Eommanim, kau serius suara mengerikan Young Jae sangat mematikan untuk spesies burung parkit?” tanya Heechul di sela tawa kencangnya. Eomma mengangguk dan detik berikutnya tawa Heechul kembali menggelegar. Rasa sedihnya hilang seketika. Ia tak menyangka selera humor ibu mertuanya bagus juga. Young Jae bersedekap di tempat duduknya.
“Oke fine, selera makanku hilang sekarang.”

—o0o—

Setelah mengantar Ibu Young Jae ke bandara—yang menolak menginap dengan alasan tidak bisa meninggalkan suaminya lama-lama—Heechul dan Young Jae menghabiskan sisa hari mereka dengan berjalan-jalan di taman kota yang tampak indah di sore hari. Young Jae harus menghirup udara segar setelah diberi petuah oleh ibunya sepanjang perjalanan menuju bandara. Mereka berdiri di atas jembatan sambil memandang riak air sungai di bawah.

“Sepertinya kau benar,” gumam Heechul, setelah merenung cukup lama.
“Benar apa?” Young Jae seperti biasanya butuh waktu berpikir ekstra untuk memahami setiap ucapan penuh teka-teki milik Heechul. Seingatnya ia tidak pernah menjawab pertanyaan apapun selain ‘Ingin jalan-jalan kemana?’ sejak keluar dari bandara.
“Aku harus berbaikan dengan Kibum. Aku terlalu meluapkan kemarahanku padanya untuk hal-hal yang tidak seharusnya.” Ucap Heechul sambil memandang lurus ke depan. Sejak mendengarkan cerita ibu mertuanya tentang Taeyeon, Heechul seperti tersadarkan tentang banyak hal. Taeyeon mencintainya, itu benar. Adiknya perempuannya ataupun Ayah itunya tidak pernah mendiskriminasikan siapapun. Selama ini ia hanya salah sangka saja.

Young Jae melonjak senang, sejujurnya inilah hal yang ditunggu-tunggu sejak lama. Waktu di saat Heechul mengaku kalah pada sisi egoisnya.
“Seharusnya begitu sejak dulu!” serunya riang. “Jadi, kita datang ke pesta ulang tahun Kibum?”
“Em, ya..” Heechul masih agak ragu. “Lagipula jadwalku kosong minggu ini.”
“Ah, itu baru suamiku!!” Young Jae memeluknya erat.

===To be continued===

250 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 9)

  1. , wach slmat Heechul akhr’y bkl jd appa hahaha ngbyng’n heechul jd appa lucu bngt hahaha
    , yach emng shrs’y heechul ma kibum akur.. next

  2. Oul~
    harus ngmong gmana nie. .
    Bingung. .
    Bagus lah pokoknya Daebak. . .
    Brharap heechul oppa tambah romantis lagi. .jangan teriak2 mulu kasian thu yongie~
    otte ?😉

    keep writing and FIGHTING eon🙂

  3. ternyata heechul itu masih punya dendam ama kyuhyun,pastas saja dia seneng banget denger istrinya hamil…

    moga di next part heechul ama kibum baikan lagi…

    selanjutnya ditunggu,dan figting…:)

  4. aku ikut terharu pas eomma yongie cerita ttg taeyong :’)
    Dan akhirnya.. Teng teng teng.. Heechul insaf😀
    Haha.. Akhinya dia mau jadi lebih baik buat adiknya..😀
    Eon, lanjutannya please..😀

  5. Huaaaaaa terharu banget denger cerita tentang taeyeon.
    Tapi heechul mengacaukan semuanya lagi.
    Ckckck.

    Mereka so sweet banget.
    Next ditunggu.
    Fighting.

  6. Huaaaaaa terharu banget denger cerita tentang taeyeon.
    Tapi heechul mengacaukan semuanya lagi.
    Ckckck.

    Mereka so sweet banget.
    Next ditunggu.
    Fighting..

  7. Keren banget jalan ceritanya😀 please jangan buat si youngjae keguguran atau apalah yg sedih” lainnya ya thor😦 Itu suasana lagi bagus”nya, sayang kalo dirusak :)) hehe :$ ditunggu next part-nya!

  8. WOW !!! ternyata heechul oppa lelaki sejati hahaha… :v #digolok_petals
    emm.. thor kira-kira shady girl heechul ampe berapa part thor???
    lanjut yah thor jangan lama-lama =D

  9. Waaaaa~

    udah lama nunggu.. dan hasilnya memuaskan..

    BAGUS BANGET TAU THOR😀 DAEBAKKKK

    gak sabar nunggu part 10..😀

    tambahin bagian romantisnya chulie ama jae dong thor.. ^^
    mereka so sweet gtu..

    POKOKNYA.. I Like It.. I Love Heechul.. :*

    part selanjutnya jangan lama2 ya thor..😀

  10. ahahaha
    q suka banget monet past yongjae bilang dia hamil ma ekpresi heechul oppa
    ahahaha
    trs yg dia masih dendam ma kyu juga
    kekekek

  11. Nah gitu donk, jdi kan gga ada permusuhan yg gga jelas..

    Keluaga’a heechul belom dikasih tau kabar gembira ini..

    Next

  12. yeah akhirnya young jae hamil \^_^/
    seneng tuh heechul hehehehehe
    trus gmna soal kontrak pernikahan mereka ???
    gg jd dilanjutin kan thor ??????
    lucu degh wktu eomma young jae blng wktu dy nyanyi burung tetangga mati ,;hahahahaha kocak bgt😀

  13. Seneng deh baca part ini, bnyk perubahan di diri heechul. Selamat ya untuk young jae and heechul, klian akan mnjdi orang tua. Hihihi….

    Maaf ya author bru bsa coment di part ini …

  14. Hahaha chukkae-yo chul-jae akhirnya jadi appa dan eomma hihihi
    gak bisa banyangin chullie jd appa, lucu kali ya^^
    mudah2-an makin romantis deh couple ini ><

  15. Momentnya sweet bgt,,,
    bnr kata Youngjae,,knpa Heechul gk dri dlu aja brdamai,,tp skrg udah mngkuinya aja udah bgus bgt,, jrang2kn Heechul mngkui kesalahannya…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s