Shady Girl Heechul’s Story (Part 8)

Tittle : Shady Girl Heechul’s Story Part 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life, NC 21
Length : Chaptered
Twitter : @julianingati23

Main Cast :

  • Sung Young-Jae
  • Kim Hee-Chul

Support Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Kim Ryeo-Wook
  • Henry Lau
  • Kim Ki-Bum

Ada yang kangen gak ama FF ini???? ^_^ Author cukup lama juga gak apdet FF ini. Mudah-mudahan temen-temen masih ingat cerita sebelumnya..

Happy Reading ^_^

Shady Girl Heechul by Dha Khanzaki

========Part 8=========

Young Jae dan Heechul tiba di tempat resepsi pernikahan Kim Ryeowook dan Tiffany Hwang disambut oleh kilatan blitz yang berasal dari awak media yang ingin meliput kemeriahan acara pesta artis seterkenal Tiffany. Young Jae baru pertama kali ini merasakan betapa kemilaunya dunia showbiz Korea. Ia seperti sedang berjalan di red karpet. Dia agak terkejut ketika Heechul menggandeng tangannya lalu berbisik.

“Tersenyum dan jangan perlihatkan kegugupanmu.”

Seketika senyum di wajah Young Jae terbit. Mereka harus berakting di depan semua orang dan memperlihatkan pada dunia bahwa mereka adalah pasangan yang serasi dan harmonis. Ia mencoba berjalan seimbang meskipun rasanya gugup sekali berjalan sambil dihujani kilatan blitz dari kamera para wartawan. Heechul sepertinya sudah terbiasa menghadapi awak media karena dia berjalan begitu luwes, percaya diri, dan memberikan senyuman tanpa rasa canggung sedikitpun.

“Whuaa..” tanpa sadar Young Jae berseru takjub ketika mereka tiba di aula hotel yang sudah disulap menjadi aula pesta dengan dekorasi yang mewah, glamor, dan penuh dengan nuansa bunga mawar. Hidangan-hidangan kelas tinggi tertata rapi di atas meja panjang yang sudah dihias begitu cantik. Dan yang lebih menakjubkan dari semuanya adalah, ia melihat banyak selebriti dimana-mana.

“Tutup mulutmu sebelum seekor lalat terlanjur masuk,” bisik Heechul. Young Jae baru sadar bahwa sejak tadi mulutnya menganga lantas segera mengatupkannya. Ia melirik ke arah Heechul yang memilih menjawab beberapa orang yang menyapanya di banding memperhatikan dirinya.
Pria ini benar-benar menderita penyakit jiwa yang parah,” desisnya.
“Kau mengatakan sesuatu?”

Young Jae mengerjap kaget. Heechul bisa mendengar desisan suaranya di tengah hiruk-pikuk pesta? Pria itu menoleh padanya. Ia mendekatkan wajah ke telinga Young Jae, lalu berbisik tajam meskipun wajahnya tetap dihiasi senyuman manis.
“Hentikan kebiasaan suka menggerutumu itu. Jika didengar orang lain reputasiku bisa jatuh.”

Young Jae merasakan bulu kuduknya meremang, dan ia tahu apa akibatnya jika tidak menurut. “Arraseo,” balasnya memaksakan senyum. Heechul menoleh ke arah lain seolah tidak terjadi sesuatu dan Young Jae baru sadar kalau mereka kini sudah berdiri di depan pelaminan sampai suara Tiffany terdengar.
“Young Jae-ssi, Heechul-ssi.”

Perhatian Young Jae kini teralih pada megahnya pelaminan dan pasangan pengantin yang berdiri berdampingan. Ia tak menyangka bahwa gaun yang dirancangnya akan terlihat begitu pas dan indah di badan Tiffany. Young Jae harus berdecak iri sekaligus kagum. Bagaimanapun, sebagai seorang wanita ia selalu mendambakan bisa memakai gaun yang indah di hari paling istimewa bersama pria yang dicintainya. Tetapi menyadari kenyataan yang dialaminya tidak seindah itu, entah Young Jae harus marah pada siapa.
“Kau tampak sangat cantik,” ucap Young Jae kagum.
“Semua berkat perancangnya,” balas Tiffany membuat Young Jae merona malu.
“Kalian terlihat serasi,” kini terdengar Heechul berkata.
“Terima kasih,” Ryeowook—suami Tiffany yang menjawab. “Terima kasih juga sudah merancangkan cincin pernikahan seindah ini.” Tambahnya.

Heechul hanya tersenyum seadanya. Young Jae heran melihat itu. Seharusnya ia merasa sangat-sangat tersanjung mendengar pujian keluar dari orang-orang sehebat Tiffany dan suaminya.

Setelah mereka berbasa-basi sebentar, Heechul segera menarik Young Jae dari hadapan Tiffany dan suaminya karena mereka harus memberi salam pada tamu lain.
“Ya! Aku masih ingin berbincang banyak dengan Tiffany-ssi!” protes Young Jae karena Heechul terus menyeretnya seperti menyeret kantong sampah.
“Kau pikir Tiffany adalah adikmu? Lebih baik kau makan saja!” ujar Heechul ketika mereka sudah berdiri di depan meja berisi hidangan ala barat. Young Jae mendengus singkat lalu mengambil piring kosong untuk mengisinya dengan beberapa makanan. Harus diakui perutnya memang keroncongan sejak tadi. Apa Heechul mendengarnya? Hahah, mustahil. Bunyi perutnya pasti dikalahkan oleh suara musik yang mengalun mengisi penjuru aula.

“Gaunnya indah sekali, siapa yang merancangnya ya?”

Young Jae terkesiap ketika mengambil nacos telinganya mendengar beberapa orang artis wanita yang sering muncul di tv berbincang tentang gaun rancangannya. Sekujur tubuhnya langsung merona malu dan ia ingin berteriak pada segenap tamu di ruangan itu bahwa dirinyalah yang merancangnya tetapi Young Jae cukup tahu diri dan akhirnya lebih memilih diam karena Heechul saja tidak pamer meskipun banyak juga yang berkata secara terang-terangan betapa indahnya cincin pernikahan yang tersemat di jari Tiffany dan suaminya. Ia berdehem, membuat ketiga artis yang sedang berbincang itu menoleh. Young Jae hanya tersenyum singkat lalu menghampiri Heechul dengan wajah gembira.

“Wajahmu kenapa?” tanya Heechul heran. Young Jae mengatupkan bibirnya, menahan senyum agar tidak menguar seperti orang gila lalu menggelengkan kepala.
“Tidak ada,” balasnya misterius. Heechul berdecak, lalu menyesap sampanyenya.
“Jangan besar kepala hanya karena banyak orang yang memuji gaun rancanganmu karena pada kenyataannya, tak ada yang menyadari bahwa kau lah orang dibalik semua itu.” ucapnya dingin dan datar. Young Jae menoleh cepat ke arah suaminya dengan pandangan tajam.

Pria ini benar-benar pintar menghancurkan mood orang!! Geram Young Jae dalam hati. Ia memilih tak menyuarakannya dan melahap nacosnya sampai mulutnya menggembung penuh.

“Sung Young Jae!!!!”

Young Jae tersedak nacos yang sedang dikunyahnya ketika ia melihat Henry berjalan cepat ke arahnya. Ekspresi wajah Heechul langsung berubah melihat pria yang ditemuinya tempo hari di kantor Young Jae.
“Kenapa dia kemari???” gumam Heechul malas. Ia menoleh pada istirnya yang kelabakan mencari air minum. Heechul segera memberikan gelas berisi sampanye padanya. Young Jae tanpa pikir panjang segera meneguknya sampai habis.
“Apa ini??” gerutunya menyadari air yang diminumnya berasa aneh.

Heechul ingin tertawa melihat Young Jae yang menjengit ngeri seperti baru saja meminum air cucian piring. Belum sempat ia menjawab pria bernama Henry Lau itu sudah tiba di depan mereka dengan wajah ceria. Young Jae buru-buru memasang senyum di wajahnya menyambut Henry.

Mau tak mau Heechul harus berdecak sebal melihatnya. Ekspresi mereka, ekspresi yang benar-benar membuat hati Heechul bergolak seperti air mendidih. Sekarang lihat mereka, asyik mengobrol dan mengabaikan keberadaannya.
“Aku tahu kau bisa melakukannya. Lihat sepupuku yang cantik itu, dia terlihat seperti ratu!” seru Henry kagum.
“Terima kasih atas pujiannya.”
“Kau harus memberitahu Eunri tentang hal ini. Aku yakin dia pasti akan menaikkan gajimu atau paling tidak, menjadikanmu desainer utama untuk majalahnya!”
“Ah, berhentilah memujiku,” Young Jae yang tidak bisa menyembunyikan rasa tersanjungnya lagi memukul pelan bahu Henry dengan wajah tersipu.

Heechul ingin rasanya tertawa kencang mengasihani Sung Young Jae yang tertipu dengan mudahnya oleh mulut manis Henry Lau. Namun ia menahannya dan memilih diam.
“Kau pantas mendapatkan pujian, Young Jae.”

Heechul sudah tidak bisa lagi menahan gejolak asing yang meletup-letup di dadanya. Ingin rasanya ia mendorong Henry dari hadapan Young Jae lalu membawa pergi istrinya jauh-jauh karena ia tidak suka. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa pria itu mampu membuat Young Jae tersipu seperti sekarang. Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa membuat Young Jae tersipu seperti yang dilakukan Henry.
“Jangan mudah termakan pujian. Kebanyakan seseorang gagal untuk sukses karena ia terlalu percaya diri hanya karena satu pujian yang didapatkannya bertubi-tubi,” gumam Heechul, bermaksud menyindir. Ia berharap Young Jae berhenti memperhatikan Henry. Tak disangka Young Jae justru tersenyum sambil menatapnya penuh arti.
“Tidak perlu cemburu. Bukankah sudah kubilang Henry dan aku hanya berteman.”

Heechul mendelik, matanya membelalak kaget menatap Young Jae. Kalau tidak salah Young Jae baru saja mengatakan bahwa dirinya cemburu? CEM-BU-RU!!!
“Aku tidak cemburu!” ujar Heechul pelan namun tajam kata perkatanya.
“Kau cemburu,” yakin Young Jae.
“Aku-tidak-CEMBURU!!”

Henry menyadari bahwa sudah saatnya ia keluar dari obrolan ini sebelum terlibat dalam pertengkaran Young Jae dan suaminya. Ia kabur diam-diam di saat kedua orang itu tidak menyadarinya.
“Sung Young Jae, kau tahu apa yang akan kulakukan jika kau masih juga bersikap menyebalkan seperti ini?” Heechul memperingatkan. Tiba-tiba saja Young Jae teringat tindakan tiba-tiba Heechul yang dilakukan di pesta pernikahan adiknya. Pipinya memanas dengan sendirinya dan ucapannya terhenti.
“Bagus kalau kau tahu!” Heechul tersenyum evil di akhir perdebatan, “Dan aku ingin mempe—“ Heechul terperanjat ketika ia menoleh, Henry sudah tidak ada di tempatnya. “Loh, kemana dia??” geramnya marah. Setelah menjadi penyebab pertengkarannya dengan Young Jae, pria itu kabur begitu saja? Dasar tidak bertanggung jawab! Young Jae menarik jas Heechul dan menunjukkan padanya sosok Henry yang kini sedang sibuk memotret Tiffany.
“Kau masih ingin protes padanya?”

Heechul mendengus, “Di sini mulai membosankan. Ayo kita pulang!!”
“Ya! Aku masih betah di sini. Jebal jangan pulang dulu.” mohon Young Jae. Ia menoleh ke sekitar di mana banyak sekali artis-artis yang selalu dilihatnya di televisi. Ia ingin berkenalan dengan salah satunya.
“Tidak ada waktunya untuk tebar pesona! Sekarang sudah jam sepuluh malam!” ucap Heechul sambil menarik lengan Young Jae pergi.
“Cinderella saja pulang jam 12 malam, kenapa kita tidak ikuti cara Cinderella saja.”
“Karena kau tidak datang ke pesta untuk menarik perhatian pangeran. Kau sudah memiliki pangeranmu, yaitu aku.” ucapnya penuh percaya diri.
“Tapi kau kan bisa memegang tanganku! Jangan tarik lenganku seperti menarik sapi!!”

—o0o—

Young Jae tiba di rumah dengan perasaan campur aduk. Ia ingin marah. Hanya saja ia tahu marah pada seekor singa sama saja dengan bunuh diri. Ia juga ingin menangis, namun percuma karena sampai tangisannya membanjiri kota Seoul pun Heechul tetap teguh menariknya pulang.
“Kenapa wajahmu ditekuk begitu?” gumam Heechul sambil melepaskan dasinya lalu melemparkannya ke atas sofa. Young Jae melepas stiletto hitam yang dikenakannya sambil menatap tajam punggung Heechul.
“Kau tahu Heechul-ssi. Orang sepertimu harus sering-sering berkonsultasi pada psikiater!”
“Mwo?” Heechul membalikkan badan. Jika dilihat dari ekspresinya, tampak jelas bahwa ia tersinggung. “Kau pikir aku gila?”
“Kau perlu belajar bagaimana cara mengekspresikan perasaanmu dengan cara yang benar. Saat kau cemburu, kau justru mengejek habis-habisan. Saat kau kesal, bukannya marah kau justru melampiaskan pada orang lain dengan cara yang—yah, tak biasa! Saat kau mencintai seseorang, kau justru berusaha membuatnya merasa sangat malang..” Young Jae terkesiap sendiri dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya. Ia seakan disadarkan oleh kalimatnya sendiri.

Heechul selalu mengejeknya saat ia merasa cemburu. Di saat kesal oleh dirinya, Heechul menciumnya untuk membuatnya berhenti. Dan yang terakhir, Heechul kerap kali menindasnya, membuat dirinya merasa sangat malang. Mungkinkah..mungkinkah Heechul mencintainya??

Heechul melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tampak tak terpengaruh ucapan Young Jae. Ekspresinya tetap sama, datar dan dingin.
“Lalu?” tanyanya dingin. Young Jae merasa tubuhnya membeku saat Heechul berjalan ke arahnya. Tanpa sadar ia berjalan mundur satu langkah saat Heechul selangkah mendekatinya. Saat punggungnya membentur tembok, Young Jae sadar dirinya tidak bisa kabur lagi.
“Jadi maksudmu aku mencintaimu, begitu?” tanya Heechul. Young Jae terkesiap ketika tangan Heechul singgah di tembok yang ada di kedua sisi kepalanya.

“Tidak begitu tepatnya,” Young Jae berkata gugup. “Aku masih, masih ragu. Aku justru merasa kau membenciku. Kau selalu memperingatkan tentang kontrak kita yang akan berakhir beberapa bulan lagi.”

Heechul tertawa kecil, entah apa yang lucu. Ia kembali memandang Youn Jae dan gadis itu semakin merasa terintimidasi oleh tatapannya. Kakinya terasa lemas dan desiran-desiran asing mengalir di setiap urat nadi di tubuhnya, membuatnya bergetar.
“Kau harus tahu Young Jae,” lirih Heechul, sebelah tangannya memainkan helaian rambut panjang Young Jae, “Jika aku membencimu, jika sejak awal aku membencimu, aku tidak akan membiarkanmu tinggal di sini. Aku akan menendangmu jauh-jauh seperti yang kulakukan pada gadis lain. Aku tidak suka hidupku diganggu oleh orang lain. Aku tidak suka didatangi orang-orang yang tidak kuinginkan. Lalu, jika aku memang membencimu, mengapa kau tetap tinggal di sini hingga sekarang? Kenapa aku memberimu gaun ini? Dan kenapa aku memintamu mengajariku tentang cinta?”

Pikiran Young Jae kosong seketika. Ia masih mencerna baik-baik apa yang baru saja Heechul katakan. Butuh beberapa lama hingga akhirnya ia bisa memahami maksud ucapannya. Bola mata Young Jae melebar menyadarinya. Ia menatap Heechul penuh tanda tanya, meminta kepastian pada pria di hadapannya itu.
“Apa kau baru saja berkata bahwa kau mencintaiku?” tanyanya ragu. Heechul tak menjawab, sudut bibirnya justru tertarik membentuk seringaian.
“Menurutmu?”

Young Jae sadar jarak antara dirinya dan Heechul mulai menipis saat hembusan hangat terasa jelas di pipinya. Ia mencoba memalingkan wajah, tapi percuma saja. Debaran jantungnya tak kunjung menormal bahkan saat Heechul mulai mendaratkan satu kecupan manis di pipinya, ia yakin dirinya bisa saja jatuh pingsan jika kedua tangan Heechul tidak memegang pinggangnya.
“Aku pikir kita bisa membicarakan ini baik-baik,” sela Young Jae berusaha menguasai dirinya yang mulai terhanyut dalam permainan Heechul. Ia mencoba mendorong tubuh Heechul namun pria itu justru semakin merapatkan tubuh mereka. Semua hal yang ingin dikatakannya buyar ketika ia merasakan sapuan bibir Heechul di permukaan bibirnya.

Young Jae terlalu terkejut untuk menghindar. Ia bahkan diam saja walaupun tahu tangan Heechul kini mencoba menurunkan gaun yang dikenakannya.
Apa yang dilakukan pria ini? Batinnya. Ia ingin menolaknya tapi tidak bisa. Ia tahu bahwa seluruh tubuhnya tidak bisa menolak sentuhan Heechul sejak awal dan pada akhirnya, Young Jae tenggelam juga dalam perasaan yang menyesatkan hatinya sendiri.

Perhatian Young Jae kembali tertarik ke dunia nyata ketika Heechul membelai tengkuknya dan entah sejak kapan, rambutnya yang tergerai sudah tergulung menjadi satu di kepalanya, kembali mempertontonkan tengkuknya yang sejak awal ditutupi karena Heechul tak menyukainya.
“Apa aku pernah bilang kalau aku menyukai saat lehermu terekspos seperti ini?”

Young Jae menggeleng lemah meskipun pikirannya masih kacau balau. Heechul tersenyum penuh kemenangan melihat ketidakberdayaan Young Jae. Kesempatan ini ia pakai untuk menciumnya kembali dan kali ini Young Jae tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan seperti sebelumnya. Young Jae juga tidak menolak ketika Heechul mengangkat tubuhnya dari lantai dan perlahan-lahan membawanya ke kamar tidur.

—o0o—

Senyum di bibir Young Jae tidak kunjung hilang sejak Heechul menidurkannya di atas ranjang empuk di kamar pria itu. Matanya memejam rapat menikmati perlakuan Heechul di atas tubuhnya yang sudah tak terbalut apapun lagi. Ia mencengkram halus bantal tempat pipinya bersandar sementara bibir lincah pria itu bergerak menelusuri punggungnya dengan kecupan lembut. Tubuhnya bergerak meliuk merespon sentuhan Heechul yang semakin naik hingga akhirnya tiba di tengkuknya.

“Engh..” desahan lolos dari bibir Young Jae kala Heechul menghadiahi tengkuknya dengan kecupan yang bertubi-tubi, tidak berlangsung lama karena persinggahan berikutnya adalah pipinya. Ia tertawa kecil saat Heechul menciumi pipinya berkali-kali. Heechul gemas juga melihat Young jae terkikik geli karena itu ia menarik dagu gadis itu dan meraup bibirnya. Mereka berciuman panas selama beberapa saat, sampai saling berperang lidah karena terbawa suasana.

“Kenapa tertawa? Kau ingin mempermainkanku?” tanya Heechul pelan. Ia membalikkan tubuh Young Jae menghadapnya. Young Jae masih tertawa bahkan di saat pria itu kini berada di atasnya.
“Milikmu menggelitikiku sejak tadi. Siapa yang tidak geli,” lirih Young Jae dengan pipi merona. Heechul baru ikut tertawa pelan saat sadar tubuhnya memang sudah terbangun sejak tadi. Pantas saja ia merasa lebih bergairah di banding sebelumnya.
“Shut up,” Titah Heechul entah malu atau memang meminta Young Jae diam. “Kau akan menyukainya nanti.”
“Kapan saat itu tiba?”

Heechul menatap tak percaya kalimat seprovokatif itu bisa keluar dari mulut gadis polos dan lugu seperti Young Jae. Sejujurnya ia sendiri memang tidak sabar ingin mencapai moment itu segera, tapi bisakah Young Jae tidak tersenyum semenggoda itu? Ia ingin bermain-main dahulu. Heechul hanya bisa menyeringai sementara Young Jae tidak tahu maksud dari seringaian itu.
“Kau tebak saja kapan. Aku ingin menikmatimu dulu.”
“Apa?”

Detik demi detik berikutnya menjadi momen bergairah malam itu, dimula saat Heechul mendaratkan ciuman di sekujur tubuhnya, Young Jae sudah tidak bisa memberontak lagi. Ia akui itu adalah cara Heechul ‘menikmati’ tubuhnya. Ia hanya bisa meraba-raba tempat yang bisa dijangkaunya untuk berpegangan kala ciuman itu menyentuh titik-titik sensitifnya. Dadanya tidak luput dari santapan Heechul, bagian itu sudah mulai menegang karena tidak henti-hentinya dilumat dan dipijat gemas. Bahkan pusat tubuhnya pun sudah basah karena berorgasme beberapa kali. Ia tidak peduli apapun karena bibirnya sibuk mendesah. Young Jae ingin membalas perlakuan Heechul tapi tidak tahu caranya.

Heechul tersenyum lagi setelah puas mengeksplorasi tubuh Young jae dengan bibir dan tangannya. Kini giliran bagian lain yang meneksplorasi bagian dalam tubuh Young Jae yang jauh lebih nikmat dan menggairahkan. Surga dunianya. Ia menatap Young Jae yang sibuk mengatur nafasnya. Demi mengalihkan perhatian gadis itu padanya, ia mengecup perlahan keningnya. Tepat setelahnya, Heechul langsung mendapatkan perhatian Young Jae seutuhnya.
“Kau bertanya bukan kapan kau akan merasakannya?”

Young Jae hanya bisa tersenyum lembut dengan tangannya mengusap pipi Heechul dan sebagai jawaban, ia mengangguk. Heechul tidak akan membiarkan Young Jae menunggu lagi. Ia segera mendesakkan pinggulnya memasuki tubuh di bawahnya.
“Ahhhh..”
Tidak, gelombang itu datang lagi. Pikir Young Jae. Tepat begitu tubuhnya terasa begitu penuh dan sesak, ia mendesah lega. Sangat nikmat dan memabukkan. Pikirnya. Heechul rupanya tidak memberikan waktu untuknya menikmati. Pria itu sudah menggerakkan tubuhnya dan ia tidak bisa berpikir lagi,hanya sibuk mengerang nikmat.

Young Jae mulai meracau. Ia menatap Heechul dari bawah yang tampak menikmati setiap pergerakan yang diciptakannya sendiri. Pria itu memejamkan mata, seperti berkonsentrasi. Ekspresi yang sama seperti yang sering dilihatnya saat Heechul membuat karya-karya mengagumkan di ruang kerjanya. Mungkin sekarang Heechul juga sedang membuat karya mengagumkan untuk keluarga mereka kelak. Ya, seorang anak.
“Young Jae..aku hampir gila..” desah Heechul saat menyadari Young Jae menatapnya sejak tadi.
“Ya, aku juga.” bisik Young Jae. Ia memeluk Heechul erat dengan senyum mengembang. Saat-saat paling panas itu akhirnya tiba juga, dimana gerakan Heechul semakin menggila pertanda akan tiba. Bibir Young Jae sudah habis dilumatnya untuk pelampiasan dan ketika saat itu tiba, Young Jae mengerang tertahan karena Heechul menghujam tubuhnya dalam sampai tubuh mereka benar-benar menempel. Young Jae membiarkan tubuh Heechul jatuh di atasnya sementara ia merasakan kehangatan yang mengaliri rahimnya dengan senyum bahagia.

Sejenak, suasana hening. Rasanya selalu sama. Seperti sedang menikmati jamuan paling lezat di seluruh dunia. Tidak membuatnya kenyang, hanya perasaan puas seolah satu kebutuhan penting telah terpenuhi. Heechul menggulingkan tubuhnya ke samping lalu memeluk tubuh Young Jae. Ia menarik selimut untuk menyelubungi tubuh polos keduanya.

Keduanya sama-sama tersenyum saling memandang. Heechul menelusuri wajah istrinya dengan jari-jari sementara Young Jae mengusap keringat di kening suaminya. Mereka kembali berciuman sebagai penutup peraduan mereka malam itu.

—o0o—

Malam sudah semakin larut. Dari sela gordin yang tertiup angin, Young Jae bisa melihat bulan yang mengintip malu di balik awan. Ia memandang ke sekeliling kamar yang remang-remang. Satu-satunya penerangan hanyalah lampu meja yang ada di dekat pintu kamar mandi. Ternyata seperti ini kamar Heechul? Batinnya tanpa sadar. Rapi dan tidak terlalu banyak barang. Ia tak percaya malam ini ia bisa tidur di atas ranjang ‘suami’nya. Ia merasakan gerakan halus di pinggangnya. Senyumnya mengembang saat tahu itu adalah tangan Heechul.
“Apa yang kau pikirkan?”

Young Jae menoleh ke arah sang pemilik tangan, yang saat ini sedang tersenyum penuh arti. Sejujurnya ia tidak bisa membaca arti dibalik senyum itu. Ia hanya bisa berharap itu adalah cara Heechul menunjukkan cintanya.
“Tidak ada,” gumam Young Jae lemah, balas menatap Heechul dengan ekspresi bertanya-tanya.
“Ada yang ingin kau tanyakan?” Heechul merasa Young Jae ingin bertanya sesuatu padanya.

Young Jae meragu. Ia memegang erat ujung selimut yang menutupi dirinya. Ia takut jika bertanya, Heechul akan mengatakan sesuatu yang membuat kepercayaan dirinya jatuh. Seperti yang diketahui, Heechul tidak pernah berkata manis dan tulus pada perempuan. Tak terkecuali dirinya.
“Kau berjanji harus menjawabnya dengan jujur,” ujar Young Jae.
“Em, oke.”
“Apa kau mencintaiku?”
Seketika, suasana sunyi senyap. Reaksi Heechul yang langsung diam membuat hati Young Jae sakit. Kenapa dia harus menikah dengan pria seperti dia? Pria yang tidak romantis. Bahkan tidak tahu cara menyatakan cinta dengan benar. Tunggu dulu, mereka bahkan tidak menikah dengan cara yang benar.

Heechul menyentil kening Young Jae, seketika gadis itu meringis kesakitan dan tersadar dari lamunannya.
“Aw!! Appo!” lirihnya sambil mengusap kening.
“Hal seperti itu kau masih bertanya juga?” jengkel Heechul. Young Jae mendengus berkali-kali.
“Gadis manapun tidak akan tahu jika tidak diberitahu oleh kata-kata!” gerutunya.

Heechul menarik Young Jae ke dalam pelukannya, mengikis kembali jarak di antara mereka. Ia ingin Young Jae merasakan kehangatan yang beberapa saat lalu diberikannya. Young Jae tertegun menikmati dekapan Heechul. Rasa kesalnya menguap entah kemana saat sadar tangan Heechul melingkari tubuhnya. Pria ini, tahu cara membungkamnya. Kesal Young Jae.
“Kau masih bertanya di saat kita sudah melakukannya dua kali, hmm..?”
“Di belahan dunia manapun itu bukan cara menyatakan cinta, Tuan Kim!” gerutu Young Jae dengan pipi memerah. Astaga, haruskah Heechul mengingatkanya tentang ‘hal itu’?
“Yah, anggap saja itu pernyataan cintaku.”
Young Jae mendongkakan kepalanya menatap wajah Heechul, tercengang. “Apa, apa? Jadi kau mencintaiku?”

Heechul benar-benar ingin membungkam mulut Young Jae dengan ciumannya lagi karena gadis ini selalu membuatnya gemas. “Iya, nona manis. Jika kau bertanya lagi aku pastikan kau tidak akan bisa tidur sampai nanti pagi!” ancamnya. Young Jae terkikik sendiri lalu ia memeluk Heechul erat, sangat erat sampai pria itu merasa lehernya sedang dicekik.
“Young jae, leherku..”
“Aku juga mencintaimu,” ucap Young Jae penuh perasaan. Mendengarnya, untuk sesaat Heechul melupakan paru-parunya yang kesulitan mengambil nafas. Ia berhenti meronta dan beralih menatap Young Jae.
“Aku mencintaimu,” ulang Young Jae ketika mereka saling bertatapan. Heechul tersenyum, diiringi senyuman Young Jae.
“Me, too.” Balas Heechul sambil mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. “Tapi, bisakah kau berhenti mencekikku?”

Young Jae sadar sejak tadi ia sudah mencekik leher Heechul. Serta merta ia menarik tangannya namun Heechul menahannya.
“Tak perlu dilepaskan. Hanya dilonggarkan saja.” ucapnya sambil melonggarkan lingkaran tangan Young Jae. Rasa bahagia yang membuncah di benak Young Jae hanya bisa ia luapkan lewat pelukan. Young Jae tidak berani melakukan hal lain selain mengagumi wajah tampan Heechul dari jarak yang sangat dekat.
“Jadi, alasan kau bersikap kejam pada wanita-wanita yang datang adalah karena kau tidak mau berurusan dengan orang yang tidak kau sukai?” tanya Young Jae.

“Bukan bersikap kejam, hanya ‘acuh tak acuh’. Aku mencoba menghindari mereka. Anehnya, semakin aku menjauhi mereka, justru mereka semakin mendekatiku. Kau tahu gadis gila bernama Hong In Hee? Dia yang paling nekat di antara yang lain. Ini semua karena Eomma yang sembarangan mengatur kencan buta untukku.” Curhat Heechul. Young Jae tertawa pelan membayangkannya. Tak heran kenapa dulu Heechul langsung menyuruhnya mengusir gadis-gadis itu tanpa ingin menemuinya.
“Ngomong-ngomong, kau harus memanggilku ‘oppa’ mulai detik ini.”
Young Jae membelalakkan mata, terkejut. “Kenapa harus?” ia tidak terbiasa memanggil siapapun dengan sebutan ‘Oppa’. Ia mencoba memberi jarak di antara mereka.
“Usia kita terpaut 4 tahun bukan? Panggil aku Oppa baru kulepaskan,” tawar Heechul karena Young Jae terus memberontak. Young Jae mendesah kalah.
“Baik, Heechul Oppa..” lirihnya membuat Heechul tersenyum lebar.
“Good. Sekarang kita tidur.”

Mereka terlelap beberapa saat kemudian.

—o0o—

Young Jae teringat lomba yang pernah dibicarakan dengan Hyun Jung. Karena itu hari ini ia di antar Heechul pergi untuk mendaftar. Young Jae merasa gugup karena lomba itu diikuti oleh banyak peserta. Panitia mengatakan bahwa dia paling tidak harus mengirimkan tiga desain originalnya agar bisa lolos seleksi menuju semifinal. Young Jae sudah memenuhi syarat-syarat itu. Tinggal menunggu hasil yang akan diumumkan satu bulan kemudian.

Young Jae bekerja seperti biasanya di majalan Ri-Bon. Ia merasa aneh dengan orang-orang di kantor yang memperhatikannya seperti dirinya adalah artis terkenal. Ia memeriksa penampilannya sendiri, ragu apakah ia memakai baju dengan model aneh ataukah sepatu yang dipakainya menginjak kotoran. Tapi sepertinya tidak. Ia sempat tersandung karena gugup ketika akan masuk lift.
“Huh, kenapa dengan orang-orang?” gumamnya gelisah. Lift berdenting dan ia berjalan keluar menuju ruangannya.
“Sung Young Jae, kau dipanggil Eun Ri!” teriak salah satu staff di bagian editing. Young Jae mengangguk, ia segera membelok menuju ruangan Eun Ri, melupakan niatnya mulai merancang busana untuk majalah edisi bulan ini.

“Kau sudah tiba,” ucap Eun Ri ketika Young Jae tiba di ruangannya. Young Jae membungkuk sekilas ketika melihat ada orang lain duduk di ruangannya. Siapa dia, tanpa sadar dirinya memandangi gadis cantik yang tersenyum padanya.
“Ada perlu apa?” tanya Young Jae penasaran.
“Perkenalkan Dia Hwang Jin Mi. Kau tahu bukan, dia calon pewaris dari Hwang Group.”
Young Jae melebarkan matanya terkejut. Jelas ia tahu meski hanya disebutkan namanya saja. Keluarga Hwang adalah keluarga bangsawan yang memiliki kekayaan turun-temurun. Dan Hwang Jin Mi—adalah putri mahkotanya dengan kata lain, dialah sang pewaris kerajaan bisnis Hwang.
“Aku Sung Young Jae. Senang bertemu anda,” ucap Young Jae sambil mengulurkan tangan. Dia senang sekali bisa berkenalan dengan sosok gadis yang sering muncul di tv itu.

Hwang Jin Mi tersenyum hangat padanya. “Aku tidak bisa berbasa-basi karena waktuku tidak banyak. Aku adalah sepupu Tiffany Hwang. Aku datang kemari karena dia yang merekomendasikanmu padaku. Dia mengatakan bahwa kau yang merancangkan gaun pernikahan untuknya benar?”
Young Jae terkesiap mendengarnya, “Ya, ya!” serunya semangat, senang, dan penasaran.
“Aku ingin kau merancangkan sebuah gaun untukku. Gaun itu akan kupakai untuk jamuan makan malam di pesta ulang tahun Pangeran Akihito. Sejujurnya, aku sangat tertarik dengan gaun hasil rancanganmu. Tentu gaun malam bukan masalah bagimu jika kau bisa membuat baju pengantin seindah itu.”

Kali ini, Young Jae benar-benar terkejut mendengarnya. Gadis dengan status setinggi dia memintanya—desainer yang bahkan tidak terlalu terkenal—untuk merancangkan gaun malam yang akan dipakainya di pesta ulang tahun Pangeran Akihito, pangeran dari negeri sakura itu???? Young Jae menampar pipinya sendiri berkali-kali untuk memastikan dia tidak sedang bermimpi. Jin Mi dan Eun Ri saling pandang heran melihat tingkah Young Jae.
“Apa kau bersedia?” tanya Jin Mi memastikan dengan nada cemas.
“Aku bersedia!!” ucap Young Jae cepat. Jin Mi tersenyum dan mereka saling berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan. Young Jae bersorak-sorai dalam hatinya. Setelah Tiffany Hwang, bahkan Hwang Jin Mi pun mengakui kemampuanya. Tak ada yang lebih membahagiakan dari ini.

—o0o—

Young Jae merasa dirinya aneh hari ini. Ia kerap kali merasa pandangannya berkunang-kunang dan perutnya mual. Heechul tidak ada di rumah hari minggu begini. Sejak pagi dia pergi untuk menemui klien di Cheongdam. Karena itu hari ini ia pergi seorang diri untuk memeriksakan dirinya ke dokter.
“Selamat Nuna,” ucap Kibum sambil menyerahkan hasil pemeriksaannya pada Young Jae. Tentu saja ucapan Kibum cukup membingungkan bagi Young Jae.
“Selamat untuk apa?”

Kibum melebarkan senyumnya. “Kau hamil, Nuna.”
Mendengar kata ‘hamil’, mulut Young Jae menganga seketika. Otaknya mendadak kosong dan tangannya memegang perutnya sendiri. Di dalam perutnya sekarang ada calon anaknya? Anaknya dengan Heechul? Young Jae masih terdiam di tempatnya, membuat Kibum cemas.
“Nuna, gwaenchana?”

“Aku hamil? Ba-bagaimana bisa?” tanyanya, lebih pada diri sendiri. Kibum sempat bingung selama beberapa saat. Ia mengusap bagian belakang kepalanya.
“Tentu saja bisa. Kalian sudah suami istri,” ujarnya yakin lalu ragu sejenak, “Kalian pernah melakukannya bukan?” tanyanya ragu dan hati-hati.
“Dua kali,” gumam Young Jae dengan pandangan kosong. Kibum menjentikkan jarinya. “Itu dia. Sekali cukup untuk membuatmu hamil.”
Ucapan Kibum rupanya belum cukup membuat Young Jae tersadar dari wajah tercengangnya.
“Berapa usia janinku?” tanya Young Jae masih dengan pandangan kosong.
“Yah, hampir dua minggu.” Ucap Kibum sambil melihat hasil pemeriksaannya sekali lagi. Young Jae mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka tidur bersama dan memang benar, kejadiannya hampir dua minggu yang lalu. Perlahan-lahan, rasa gembira menyusup di hadi Young Jae, membuat senyum lebarnya terbit.

“Aku hamil? Aku hamil??” lirihnya perlahan. Ia bergerak-gerak kegirangan dan Kibum hanya tertawa melihatnya. Lelehan airmata mengalir di pipinya. Young Jae menutup mulutnya sendiri merasa tidak percaya atas berita bahagia yang diterimanya hari ini. Ia tidak percaya bahwa dirinya akan menjadi ibu. Heechul harus tahu hal ini. Dia harus tahu.

To Be Continued

(See You At The Next Part)

324 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 8)

  1. Aduh c Youngjae ini jujur bgt ngmng ama Kibum hahahahah jd gmes sndri liat tingkah polosnya..
    Slmat akhirny cita2 jd seorg ibu trwjud..

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s