Shady Girl Heechul’S Story (Part 7)

Judul : Shady Girl Heechul’s Story Part 7
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life
Length : Chaptered
Twitter : @julianingati 23

Main Cast :

  • Sung Youngjae
  • Kim Heechul

Support Cast :

  • Find By Yourself

 

Happy Reading ^_^

Shady Girl Heechul by Dha Khanzaki

=======Part 7=======

Pernikahan putra kedua dari Pemilik Seoul General Hospital, rumah sakit besar di Seoul itu digelar di aula hotel milik Cho Corp. Sebuah penantian yang berakhir dengan indah bagi Kim Kibum dan Cho Jarin—sang tokoh utama pesta meriah itu. Wajah keduanya begitu bahagia, lebih bahagia dari siapapun di pesta itu. Akhirnya, setelah melalui proses pemberkatan yang panjang, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Kibum senang karena pada akhirnya bisa mewujudkan keinginan terbesar Jarin dan dirinya sendiri, mengikuti teman-temannya yang sudah menikah lebih dulu.

“Wow, kau cantik sekali.”

Young Jae menundukkan kepala sejenak menerima pujian itu dari Kim Mira, istri Lee Hyuk Jae sang CEO SJ TV yang dikenalkan oleh Heechul tadi. Sebenarnya tidak benar-benar dikenalkan. Mereka—teman-teman Heechul sangat penasaran dengan wanita yang dinikahinya sehingga memaksa Heechul untuk mengenalkan Young Jae begitu mereka berpapasan.

Heechul hanya berdecak malas melihatnya. “Dasar,”

“Hyung, kau berhasil mengejutkanku. Aku tak pernah melihat kau bersama pacarmu dan sekarang, kau membuatku hampir mati berdiri karena datang membawa istrimu,” sahut Eunhyuk. “Kalian tidak menikah karena ‘kecelakaan’ kan?” tambahnya sambil tersenyum usil. Young Jae terkesiap kaget sementara Heechul hanya melengos.

“Jika memang begitu istriku sekarang pasti sedang hamil beberapa bulan seperti istrimu,” ucapnya sambil melirik Mira yang perutnya sedikit buncit. Young Jae mengerjap senang menyadari hal itu.
“Jadi kau sedang hamil? Berapa bulan?”
“Tepat enam bulan. Aku tidak sabar menantikannya lahir karena ini adalah anak pertama kami,” jelas Mira senang sambil mengusap perutnya.

“Whuaa..aku iri. Seandainya aku juga bisa cepat hamil—“
“Sung Young Jae, ayo pergi,” Heechul tiba-tiba saja menyela perkataan Young Jae lalu menarik istrinya itu pergi. Saat Young Jae hampir saja mengatakan soal kehamilan, Heechul merasa jantungnya berhenti berdetak. Young Jae hamil? Yang benar saja? Bukankah sejak awal pernikahan mereka hanya pernikahan di atas kertas saja. Tanpa ada pemberkatan atau apapun.

“Kau itu kenapa sih?” seru Young Jae sambil mencoba melepaskan genggaman Heechul di tangannya. Heechul berhenti lalu berkacak pinggang sambil memelototi gadis di depannya.
“Jangan berkata yang tidak-tidak tentang hal itu, arraseo. Kita hanya terlibat kontrak selama satu tahun setelah itu semua baaamm!! Tamat!” ucap Heechul menggebu, “Selanjutnya kita akan hidup masing-masing. Kau bisa bebas menjalani hidup seperti apa begitupun aku.”

Young Jae berhenti memicingkan matanya. Tentu saja dirinya tidak lupa hal itu. Tapi haruskan Heechul mengingatkannya? Ia sudah bekerja keras untuk melupakan kenyataan itu agar hatinya tidak terlalu berharap. Heechul hanya tidak tahu bahwa wanita yang tinggal satu atap dengannya itu, sudah jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada pria tak berperasaan, egois, mudah marah, dan keras kepala seperti Heechul. Ia sangat menyayangi Heechul tak peduli pria itu mencintainya atau tidak.
“Arraseo,” ucapnya sedih.
“Hyung…”

Heechul terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja ada seseorang yang merangkul bahunya. Dia hampir berteriak memaki saat sadar bahwa yang melakukan itu adalah Kyuhyun.

“Apa yang kau lakukan bodoh! Kau selalu seperti ini setiap kali bertemu denganku? Wae? kau menyukaiku?” ucapnya konyol sambil mengendikkan bahu agar Kyuhyun berhenti melakukannya di tengah keramaian seperti ini.
“Aku senang sekali sekarang kita sudah menjadi saudara, oh, kau belum mengenalkan istrimu padaku,” Kyuhyun melirik Young Jae penasaran. Hyun Jung yang berdiri di sampingnya hanya memberi senyuman hangat pada kedua orang itu.

Dalam hati Heechul mengerang. Ada apa dengan semua orang di pesta ini? Kenapa mereka merasa begitu ingin mengenal wanita yang dibawanya? Tahu begini mungkin ia memilih pergi seorang diri saja. Terpaksa Heechul memperkenalkan mereka dan merasa ajaib karena Young Jae bisa akrab dengan istri Cho Kyuhyun itu.

“Bagaimana kalau kau mencoba ikut lomba design?” ujar Hyun Jung membuat Young Jae terkejut gembira.
“Jinjja? Dimana?” teriaknya riang. Heechul dan Kyuhyun hanya saling pandang melihatnya.
“Perusahaan Appa menjadi salah satu sponsor acara lomba ini. Jika kau berhasil keluar sebagai pemenangnya, kau bisa mendapatkan kesempatan belajar mode langsung di italia, di rumah mode milik Armani di Italia,”

Mata Young Jae semakin membulat saja mendengarnya. “Are you kidding me? Aku mau!!! Aku akan mencoba ikut lombanya lalu pergi ke Italia untuk belajar mode!!” Young Jae mengguncang-guncang tangan Hyun Jung yang digenggamnya. Ia sangat berterima kasih pada Hyun Jung yang sangat baik hati memberinya informasi semenakjubkan ini.

Heechul merasa aneh karena detik ini hatinya seperti baru tersiram air es mendengar Young Jae akan pergi ke Italia. Meskipun yah, memenangkan lomba itu adalah sebuah anugerah yang disertai dengan kerjakeras dan bakat cemerlang, tapi tak menutup kemungkinan Young Jae akan keluar sebagai pemenangnya. Tapi,tapi, mengapa ia merasa tidak rela jika hal itu terjadi?

“Hyung, kau menikah karena mencintainya atau karena ingin adikmu bisa cepat menikah?” pertanyaan sederhana Kyuhyun membuat Heechul membulatkan matanya lalu mengalihkan tatapannya dari Young Jae pada pria di sampingnya. Kyuhyun menatapnya ingin tahu. Ia sungguh dibuat penasaran ketika mendengar Heechul sudah menikah diam-diam.

Heechul tidak menjawab, karena itu Kyuhyun melanjutkan, “Aku tahu Hyung begitu menyayangi Kibum meskipun unik sekali caramu mengungkapkannya. Karena itu kau rela menikah agar adikmu itu bisa bahagia, iya kan?”

Heechul tersinggung mendengar ucapan Kyuhyun. Hatinya seperti bergeser. Ia menolak bahwa ucapan Kyuhyun setengahnya benar. Tapi ia tidak mau mengakui bahwa sebenarnya ia menikah tanpa rasa cinta. Itu terdengar seperti pria tak bermoral yang hanya mementingkan urusan pribadinya saja.
“Kau mengenal istrimu dimana?”

Kali ini Heechul sungguh ingin menyumpal mulut Kyuhyun dengan patung es berbentung puteri duyung yang ada di atas minuman yang ditata menyerupai kolam ikan kecil. “Kenapa kau penasaran?” tanyanya dingin.
“Aku tidak pernah mendengar kau mengencani seorang gadis. Istrimu pasti orang hebat karena bisa membuatmu berpikir soal pernikahan. Oh, mungkin istrimu sekarang sedang hamil?”

Heechul melonjak karena lagi-lagi mendengar kalimat yang sama. Memangnya harus hamil dulu untuk bisa menikah tiba-tiba? Aish, jinjja!!
“Tentu saja tidak!!” bentak Heechul jengkel. “Kau kira aku ini pria macam apa!”

Kyuhyun menyunggingkan senyum terpancing kata-kata Heechul.
“Itu jelas menjawab kenapa kau memutuskan menikah begitu lama. Kau tidak memiliki kepercayaan diri untuk merayu wanita. Kau kurang ‘pria’ Hyung,” ledek Kyuhyun. Skak mat untuk Heechul karena kata-kata itu sudah memukulnya dengan telak. Seringaian liciknya semakin melebar begitu kata-kata pembelaan Heechul menguar.

“Kau sombong sekali. Kau saja belum bisa membuat istrimu hamil!” geramnya dengan suara sepelan mungkin. Heechul masih cukup waras untuk tidak berteriak di tengah keramaian pesta. Harga dirinya sebagai pria sejati dilukai oleh mulut tajam pria yang lebih muda lima tahun darinya. Tidak bisa dimaafkan.

“Aku dan Hyun Jung memang menundanya,” balas Kyuhyun penuh kemenangan. Tangannya sudah gatal ingin melempar sesuatu namun Heechul sekuat tenaga menahannya dengan tetap tersenyum penuh karisma. Lebih baik ia menyudahi perbincangannya sebelum terpaksa ia mengacaukan pesta resepsi adiknya. Ia menggenggam tangan Young Jae tiba-tiba, mengagetkan Young Jae yang sedang berbincang seru dengan Hyun Jung.

“Kita belum memberi selamat pada pengantin, chagi,” tanpa permisi, Heechul mengerek Young Jae pergi. Dia yang tak tahu apa-apa hanya memandang suaminya heran. Heechul tampak mengeraskan rahangnya dan tangannya diremas kencang. Sepertinya dia sedang kesal.

“Apa Kyuhyun-ssi tadi mengatakan sesuatu?” tanyanya pelan-pelan. Heechul menoleh dengan mata melotot. Young Jae langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan tak perlu menjawab pun ia tahu Heechul tidak ingin membahasnya sama sekali. Heechul kembali menyeretnya menuju Kibum dan Jarin yang sedang mengobrol berdua di pelaminan. Kebahagiaan jelas terpancar dari ekspresi keduanya. Heechul sebenarnya tidak mau menginterupsi kebahagiaan itu, namun ia terpaksa melakukannya.

“Oh, Heechul Oppa!” Jarin lebih dulu menyadari kedatangan Heechul dan istrinya. Heechul tersenyum ramah—sok ramah tepatnya. Young Jae memperhatikan dengan was-was dan ia harus mempersiapkan diri jikalau Heechul berniat mengacau.

“Selamat. Akhirnya keinginanmu terkabul.” Ucapnya ketika sudah berhadapan dengan Kibum. Wajahnya memang dihiasi senyuman manis, namun nada bicaranya lebih mirip seperti ejekan dibanding ucapan selamat.
“Yah. Itu semua berkatmu Hyung. Tentu saja kau juga berjasa, Nuna,” balas Kibum santai sambil melirik Young Jae yang salah tingkah karena dipanggil ‘Nuna’ oleh Kibum. Sejak dahulu Kibum memang tidak pernah menanggapi sikap Heechul yang sinis padanya. Ia hanya tak mengerti alasan mengapa Heechul memperlakukannya seperti ini. Seharusnya dirinya yang protes karena diperlakukan tidak adil begitu lama.

“Setelah ini, aku tidak perlu merasa kesepian lagi.” Kibum mengatakannya sambil menatap lurus ke dalam mata Heechul. Cara bicaranya ramah, itu yang terdengar. Tetapi Heechul merasakan gemuruh di hatinya setelah terprovokasi oleh ucapan Kibum barusan. Kibum menyindirnya secara halus. Ia yakin itu. Young Jae melebarkan matanya melihat rahang Heechul mengeras.

“Akan kuberitahu padamu apa arti ‘kesepian’ yang sesungguhnya,” lirih Heechul dingin. Kibum tak bergeming di tempatnya. Ia siap menerima apapun kalimat yang akan Heechul lontarkan.

“Kesepian itu adalah di saat kau memiliki kebebasan, tapi tidak bisa menggunakannya. Di saat kau memiliki mimpi, tapi tidak diberi kesempatan untuk mewujudkannya. Baik, aku mungkin pernah mengatakan padamu betapa menyedihkannya hidup tanpa diperhatikan oleh kedua orang tua. Kau hanyalah anak yang tak dianggap dalam keluarga,” Heechul mengendikkan bahunya sementara Kibm mengepalkan tangannya erat. Young Jae dan Jarin memperhatikan kakak beradik itu dengan perasaan was-was.

“Tapi kau jelas menjadi lebih baik bukan dengan kondisi seperti itu? Kau tidak tahu bagaimana rasanya masa kecilmu yang direnggut paksa oleh orang tua. Kau masih bisa bermain bebas tanpa ada penyakit yang menggerogoti tubuhmu sendiri. Kau tidak tahu rasa sepi yang kurasakan saat itu. Temanku hanya udara kamar yang kosong dan burung-burung yang berlalu lalang di luar jendela—“

“Oppa, hentikan!!”

Ucapan Heechul seketika terhenti ketika ia mendengar Young Jae memanggilnya dengan kata keramat. Ia menoleh dengan mata menajam pada gadis di sampingnya.
“Kau bilang apa tadi?”

Young Jae menelan ludahnya takut saat sadar aura yang dipancarkan Heechul sedingin air es di laut antartika.
“Oppa..” cicitnya.
“Ikut denganku, Sung Young Jae!” perintahnya tajam tiba-tiba. Heechul memalingkan wajah lalu tersenyum singkat pada Kibum dan Jarin. Setelahnya ia melenggang pergi tanpa permisi. Young Jae berjanji akan menampar mulutnya sendiri jika ia sampai melihat ekspresi Heechul yang supermenyeramkan seperti tadi. Itu sama saja seperti menjatuhkan diri ke dalam lubang penuh buaya kelaparan.

“Hyung benar-benar harus berkonsultasi pada psikiater,” lirih Kibum seraya menggelengkan kepala.
“Ya, aku mungkin memang harus membawanya ke psikiater,” Young Jae menghembuskan nafas berat. Ia berjalan lemah ke arah Heechul yang sudah menunggunya di dekat pintu keluar aula.

===o0o===

“Aku tidak paham mengapa kau bersikap seperti itu pada Kibum. Apa salahnya sampai kau selalu bersikap menyebalkan di depannya?” tanya Young Jae hati-hati saat mereka berdiri berdua di teras tempat resepsi itu.
“Kau hanya basa basi atau memang penasaran?” Heechul bertanya sambil menyenderkan punggungnya pada pagar besi pembatas.
“Itu pertanyaan yang aku ingin sekali tahu jawabannya,” Young Jae menatap Heechul yang tak mau menatapnya dengan serius. “Kau terlihat tidak bahagia setiap kali melihatnya bahagia. Dan kau tersenyum setiap kali melihat wajah sedih Kibum. Waeyo?”

Heechul terdiam selama beberapa saat. Selama beberapa tahun ini, beban di hatinya sangat berat. Ia selalu merasa marah setiap kali mengingat masa lalunya, entah marah pada siapa. Ia tidak tahu apakah orang akan mengerti perasaannya seandainya ia bercerita karena itu Heechul tidak pernah mau membagi penat di hatinya dengan siapapun. Heechul menoleh pada Young Jae dan dengan pandangan datar ia menjawab pertanyaan Young Jae.

“Bukankah kau sudah mendengarnya? Karena aku ingin membuat Kibum lebih tegar.”
“I know that! But why? Dia sudah terlihat kuat dan baik-baik saja. Seharusnya kau senang. Kau lebih terlihat seperti seseorang yang gagal menjatuhkan orang lain. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, seharusnya kau menceritakannya. Bukan melampiaskannya pada orang yang tidak bersalah!” Young Jae sempat terdiam menyadari Heechul menatapnya dengan tangan mengepal dan rahang mengeras. Oh, tidak, pria ini tersinggng.

“Ah, aku rasa aku tahu jawabannya,” gumam Young Jae. Heechul berhenti bersandar dan menegakkan tubuhnya. Ia penasaran dengan jawaban Young Jae.
“Kau sangat menyayangi adikmu,”

Heechul membelalak kaget, “Apa kau bilang?!” ia tidak suka gagasan itu. Sangat tidak suka. Young Jae tidak gentar menghadapi Heechul yang memelototinya.

“Jika kau membenci Kibum, kau tidak akan melakukan semua ini. Kau tidak akan berpikir untuk membuatnya tegar dan kau tidak akan berpikir untuk menjalani pernikahan kontrak kita agar adikmu bisa menikah. Kau sangat menyayanginya, aku paham sekarang.”

Kata-kata Young Jae mirip sekali dengan yang pernah dikatakan Kangin dulu. Tidak, ia tidak mencintai adiknya. Ia justru ingin sekali Kibum memberontak seperti dirinya. Bukan diam dan menerima segala diskriminasi yang orang tuanya berikan. Kibum harus bisa melawan karena ia tidak sanggup melihat wajah sedih Kibum. Wajah yang bahkan dua kali lebih menderita ketika sahabat terdekatnya, Yoona meninggal dunia dan Taeyeon—satu-satunya yang mendukungnya dalam keluarga—menyusul pergi beberapa tahun kemudian. Ia tidak sanggup melihatnya lagi. Sedetik kemudian, mata Heechul melebar ketika menyadarinya.

“Young Jae, diam!” Heechul menyuruhnya diam namun Young Jae tetap berbicara. “Kau benar-benar tidak tahu cara mencintai rupanya. Jika memang sayang, kenapa tidak bilang ‘Aku ada di sini untuk mendukungmu’ atau ‘Kau tidak sendirian karena ada aku, kakakmu.’. Jika kau menyayanginya—“ aliran kata-kata Young jae terhenti karena Heechul membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman yang tiba-tiba. Tidak hanya menciumnya Heechul bahkan memeluk tubuhnya erat seolah ingin Young Jae berhenti berkata lagi.

Keseluruhan kerja tubuhnya memang berhenti. Hanya jantung yang tetap berdetak semakin cepat. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih, bernafas dengan benar dan bergerak leluasa semenjak Heechul membungkamnya dengan cara yang tak terduga.

Heechul tahu saat kalimat pertama keluar dari mulut Young Jae, ia menyadari bahwa ia memang menyayangi Kibum sebanyak Taeyeon menyayanginya. Young Jae benar ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan kasih sayang dengan benar. Ia hanya tahu cara yang ambigu. Tapi, sejauh ini tidak ada yang menyadari hal itu. Bagaimana bisa gadis bodoh ini menyadari semuanya dengan mudah dan membuatnya tampak seperti manusia bodoh.

Sejujurnya, Young Jae lebih menyukai cara Heechul mencumbunya seperti yang mereka lakukan malam itu. Tapi tidak dalam situasi seperti ini. Setiap pagutan yang Heechul berikan justru membuatnya merasa sedih. Heechul seperti ingin melampiaskan emosinya dan Young Jae tidak berniat membalasnya sedikitpun.

Heechul terkesiap menyadari Young Jae mencengkram kerah tuxedonya memintanya berhenti. Wajahnya menjauh dan tautan bibir mereka terlepas. Young Jae meraup udara sebanyak-banyaknya. Ia tidak berani menatap Heechul.
“Jika kau berbicara hal aneh seperti tadi, aku akan menghentikannya dengan cara yang lebih ekstrim dari ini,” ancam Heechul, terengah.
“Aku tidak keberatan sama sekali. Lakukan saja jika memang berani,” tantang Young Jae dengan mata melotot. “Itu justru membuktikan bahwa ucapanku benar. Kau sangat menyayangi adikmu.”

Heechul bersiap memberi Young Jae pelajaran kembali ketika dia merasakan tangan mungil memeluk kakinya. Kepala Heechul menunduk ke bawah dan matanya melebar saat sadar seorang bayi berusia sekitar dua tahun menatapnya dengan mimik menggemaskan. Hilang sudah kekesalah Heechul dan Young Jae ketika melihat bayi lucu itu.

“Owh, manisnya!!” Young Jae langsung menggendong bayi itu. Ia tidak tahu ini bayi siapa tapi dia benar-benar menggemaskan. Bayi itu tertawa ketika Young Jae mencubit-cubit pipi chubbynya. Tanpa sadar, senyum di wajah Heechul terbit memandangi Young Jae menggendong bayi. Pikirannya meliar. Mungkin pemandangan itu akan semakin bagus jika yang digendong Young Jae adalah anak mereka. Tunggu! Heechul cepat menepis pikirannya. Mereka memiliki anak? Lucu sekali mengingat mereka belum pantas untuk menjadi orang tua.

“Hae Young!!”

Heechul dan Young Jae menoleh ketika menyadari seseorang sedang berjalan ke arah mereka dengan tampang lega. Itu adalah Lee Donghae. Young Jae sempat dikenalkan padanya oleh Heechul saat mereka baru tiba di acara itu.

“Oh Hyung, syukurlah Hae Young bersamamu. Kukira anakku menghilang entah kemana.” Desah Donghae lega melihat anaknya ada bersama Heechul dan istrinya.
“Jadi dia putramu?” Heechul menunjuk bayi yang digendong Young Jae. Pantas ia merasa pernah melihatnya. “Aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di sini karena aku pun terkejut tiba-tiba dia sudah memeluk kakiku,” ucap Heechul menjelaskan. Ia takut Donghae menuduhnya yang tidak-tidak.

“Aku tahu. Hae Young kami sedang belajar berjalan. Aku baru melepaskan perhatian darinya beberapa menit saja dia sudah menghilang.” Cerita Donghae. Ia lalu mengambil putranya dari gendongan Young Jae.
“Nuna, maaf sudah merepotkanmu. Youngie, kau benar-benar tidak mau diam seperti ibumu!” tegur Donghae pada putranya namun wajahnya tersenyum ceria. Ia pamit pada Heechul dan Young Jae.

Diam-diam, Young Jae menatap iri Donghae yang membawa pergi anaknya. Memiliki bayi selucu itu mungkin merupakan suatu anugerah yang sangat indah. Ia melirik Heechul yang tampak tak peduli lalu menghela nafas. Rasanya tidak mungkin mereka memiliki anak mengingat sifat mereka yang belum pantas menjadi orang tua.
“Kenapa melihatku seperti itu?” pertanyaan Heechul menyadarkan Young Jae dari pikirannya. Ia mendengus sebelum akhirnya beranjak pergi.
“Nothing,”
Heechul berjalan menyusul Young Jae. “Kita pulang. Aku sudah bosan berada di sini.”

—o0o—

Waktu berlalu hingga tak terasa tiba waktunya Tiffany Hwang datang kembali untuk mengambil cincin yang ia pesan. Kali ini Tiffany datang ke kantor Heechul untuk mengambil cincin pesanannya.

Young Jae merasa tidak enak hati ketika Tiffany menyipitkan matanya sambil mengatakan bahwa ia tersinggung karena Young Jae tidak berkata dirinya dan Heechul sudah menikah saat Tiffany datang beberapa waktu lalu.

“Henry yang sudah mengatakannya padaku. Kenapa kau tidak jujur waktu itu? Dan kau bahkan tidak mengundangmu ke acara pesta pernikahanmu?” tanyanya pura-pura marah. Namun kepura-puraan Tiffany justru membuat Young Jae merasa sangat bersalah. Gadis itu menundukkan kepalanya berkali-kali sebagai permintaan maaf.
“Ini sangat mendadak. Maafkan aku, Tiffany-ssi.”

Tiffany tertawa puas sekali melihat atas reaksi polos Young Jae. Jinjja gadis ini. Pikirnya.
“Aku hanya bercanda. Jangan diambil hati begitu,” ucapnya sambil berusaha menghentikan tawa. Young Jae mengusap tengkuknya gugup. Tak lama Heechul datang dengan kotak berwarna biru navy di tangannya.
“Aku harap, ini sesuai dengan yang kau inginkan.”

Heechul menoleh pada Young Jae sekilas ketika Tiffany menerima kotak itu dengan mata berbinar. Ketika Young Jae berbalik menatapnya, Heechul segera mengalihkan perhatiannya pada Tiffany yang sedang membuka kotak perhiasan itu.
“Oh dear,” terdengar seruan kagum Tiffany. Young Jae memfokuskan perhatiannya pada Tiffany yang kini menatap cincin pesanannya dengan mata berbinar dan penuh kekaguman. Heechul tersenyum puas. Jelas sekali cincinnya sangat memuaskan Tiffany.
“Ini indah sekali,” kagumnya. Ia menatapnya dalam sesaat lalu menoleh pada Heechul. “Kau pasti sangat mencintai istrimu. Aku merasa sangat dicintai saat melihatnya.”

Heechul maupun Young Jae terkesiap lalu saling memandang dengan raut kaget. Berbagai perasaan bercampur baur ketika mata mereka saling menatap. Young Jae mengalihkan pandangannya pada cincin di tangan Tiffany dibandingkan harus berlama-lama bertatapan dengan Heechul.

Cincin itu, harus diakui memang sangat indah. Sebagian sisinya polos mengkilat dan tepat ditengah, tertatahkan batu berlian 32 karat berwarna putih dengan ukiran indah di sekelilingnya membentuk hati. Sulit menjabarkan betapa indah cincin itu. Sekarang ia melihat sendiri bukti kejeniusan seorang Kim Heechul.

“Sekarang aku ingin melihat gaun hasil rancanganmu,” ucapan Tiffany menyadarkan Young Jae. Tanpa membuang waktu, Young Jae memberikan kotak yang lebih besar pada Tiffany. Kotak itu benar-benar besar sampai Tiffany harus meletakkannya di atas meja. Young Jae merasa seperti sedang dinilai oleh juri ajang pencarian bakat ketika Tiffany membuka tutup kotaknya.

“How awesome!!” Tiffany terpukau melihat gaun pengantin di depannya. Ia langsung mengeluarkannya dari dalam kotak lalu berdiri untuk mengukur gaun itu dengan tubuhnya. “Bisa kucoba sekarang?”
“Tentu saja,” Young Jae segera menggiring Tiffany ke ruangan khusus agar bisa mencobanya.

Young Jae hampir menitikkan airmata saat melihat Tiffany dalam balutan gaun yang dirancangnya dengan sepenuh hati. Gadis itu terlihat sangat cantik dan gaunnya seolah diciptakan hanya untuknya.
“Ini, indah sekali. Andai Ryeowook melihatku sekarang,” gumam Tiffany mengagumi penampilan dirinya dari pantulan cermin. Gaun itu tidak terlalu banyak renda namun detail payet dan bordir bunga-bunga cantik lebih mendominasi terutama di sekitar pinggangnya. Modelnya mirip sekali seperti gaun Permaisuri Napoleon Bonaparte. Tiffany menoleh pada Young jae, lalu memeluknya.

“Terima kasih sudah membuat gaun seindah ini untukku,” bisiknya senang. Young Jae menghela nafas lega.
“Syukurlah jika kau menyukainya.” Tiffany melepaskan pelukannya, “Datanglah ke pesta pernikahanku minggu ini. Kau dan suamimu harus menyempatkan waktu. Aku akan marah jika kau tidak datang.”

Young Jae mengerjap senang. “Jinjja? Aku diundang juga??”
“Of course. Kau harus memastikan gaunmu menjadi objek pembicaraan hangat di sana.”

Tak ada hal yang lebih menggembirakan dibanding ini. Tentu saja ia dengan senang hati menerima undangan Tiffany. Kapan lagi ia menghadiri moment penting seperti pernikahan ditambah kenyataan bahwa Tiffany adalah seorang model terkenal.

—o0o—

Heechul sadar bahwa yang dilakukannya sekarang adalah sesuatu yang tak masuk akal. Dipikir beberapa kali pun ia tak paham mengapa ia bisa sampai melakukan hal ini. Ia mengetuk pintu kamar Young Jae dengan gugup. Tangannya yang memegang kotak mulai berkeringat.

Pintu dibuka dan Young Jae muncul dengan balutan gaun berwarna hijau. Ia sempat terpaku selama beberapa detik. Mulai lagi. Ia sering sekali mendapati dirinya melamun sejak kejadian di kantornya tempo hari. Entah kenapa sejak saat itu, setiap kali bertatapan dengan istrinya Heechul merasa lebih ‘hidup’. Hal aneh yang tak diketahui alasannya.

“Kau belum mengganti bajumu? Kita akan ke pesta pernikahan Tiffany-ssi satu jam lagi,” ucap Young Jae heran karena Heechul masih mengenakan pakaian santainya. Melihat gaun yang dipakai Young Jae, Heechul merasa apa yang dilakukannya semakin tidak beralasan. Bagaimanapun gaun Young Jae sekarang sudah sangat bagus. Tentu saja, dia seorang desainer. Membuat gaun indah bukan hal yang sulit.
“Waeyo?” Young Jae semakin heran karena kini Heechul terlihat tidak nyaman.

“Tidak. Aku hanya ingin memastikan kau tidak membuat kita terlambat,” ucap Heechul, sedikit ketus. Young Jae melirik kotak yang ada di tangan Heechul. “Apa itu?” tanyanya penasaran sambil menunjuk kotak.

“Bukan apa-apa.” Heechul hendak pergi namun Young Jae dengan sigap mengambilnya. Ia membuka kotak itu karena penasaran dengan isinya. Young Jae terkesiap beberapa detik kemudian. Ia menoleh pada Heechul ingin memastikan apakah isi kotak itu memang untuknya atau bukan.

“Gaun ini, untukku?” tanyanya dengan nada terharu. Heechul menahan diri agar tidak terlihat salah tingkah melihat ekspresi Young Jae sekarang. Ia harus tampak tidak peduli.
“Jika tidak mau kau tidak perlu memakainya. Lagipula,” Heechul menilik gaun yang dipakai Young Jae. “Gaun itu lebih bagus daripada yang ada di kotak itu,”

Beberapa detik setelahnya, Young Jae mematung menatap punggung Heechul yang menjauh lalu menghilang setelah masuk ke dalam kamarnya. Ia memandang kembali gaun warna hitam yang ada di dalam kotak, lalu mengeluarkannya.

Heechul tidak tahu bahwa kini, Young Jae ingin sekali menangis terharu karena Heechul untuk pertama kalinya memberikan sesuatu untuknya. Gaun ini, meskipun memiliki model yang sederhana tapi entah kenapa ia menyukainya. Tanpa membuang waktu, Young Jae segera berlari ke kamarnya untuk mengganti baju.

Satu jam kemudian, Heechul hampir tak mengedipkan matanya mendapati Young Jae muncul dalam balutan gaun hitam selutut yang diberikannya tadi. Gadis ini rela mengganti gaun bagusnya dengan gaun pilihannya yang terbilang biasa ini? Heechul memang tidak terlalu pandai memilihkan hadiah untuk wanita karena ia memang tidak pernah melakukannya. Karena itu ia tersanjung Young Jae mau mengenakan pakaian pilihannya.

“Bagaimana penampilanku?” tanya Young Jae sambil menyampirkan helaian rambutnya yang jatuh di sisi wajahnya ke belakang telinga. Heechul memaksakan dirinya berpikir meskipun pada kenyataannya otaknya sudah kacau balau karena gadis ini. Ia memindai Young Jae dari ujung rambut ke ujung kaki dengan seksama.

Cantik. Sangat cantik. Batinnya. Namun yang terucap di mulutnya justru “Tidak seburuk yang kukira,” Heechul sendiri terkejut nada bicaranya terdengar tak peduli. Young Jae mengerucutkan bibir. Ia kecewa karena Heechul tak terlihat histeris padahal ia sudah berdandan habis-habisan untuk momen ini.

“Tunggu,” Heechul mencegah tangan Young Jae yang akan membuka pintu mobil. Young Jae menoleh. Jantungnya berdetak kencang ketika ia sadar Heechul sedang mendekat padanya. Kegugupannya kian parah saat tangan Heechul menyentuh gulungan rambutnya, lalu melakukan sesuatu yang membuat rambut panjang Young Jae terurai kembali, jatuh menutupi bahu dan punggungnya.

“Kau akan menjadi santapan mata pria-pria di pesta nanti jika kau gulung rambutmu ke atas,” bisik Heechul. Gaun yang dipakai Young Jae saat ini memiliki potongan dada yang sedikit rendah dan mengekspos bahu putih Young Jae. Ia tidak suka jika keindahan yang hanya boleh dilihat olehnya dinikmati dengan bebas oleh pria lain. Sekarang, Heechul agak menyesal sudah memberikan gaun ini pada Young Jae.

Sementara Young Jae harus menahan nafasnya karena jarak mereka yang terlalu dekat dan bau parfum Heechul tercium sangat kuat. Bau yang ia hirup ketika mereka berbagi kasih malam itu. Sial, jika ia terlalu lama dalam posisi ini, ia bisa jatuh pingsan kembali dan itu tidak lucu.

“Sekarang masuk,” Heechul mendorong halus tubuh Young Jae lalu membuka pintu mobilnya, mempersilahkan gadis itu masuk. Young Jae harus menarik nafas dalam-dalam ketika Heechul menjauh untuk masuk dari sisi yang satunya. Pria ini benar-benar tahu cara membuat wanita sesak nafas. Setelah mengatur perasaannya hingga tenang kembali, Young Jae masuk ke dalam mobil dan mereka pergi bersama menghadiri acara pernikahan Tiffany.

To be continued

193 thoughts on “Shady Girl Heechul’S Story (Part 7)

  1. aku nunggu part ini sampai lumutan tapi nggak pa2 karna sudah bisa baca juga , ff I merried and the bad boyx di tunggu ya soalx aku penasaran sama kisah kyujinya# maksabangat

  2. mian ne eon aku komen part2 tertentu aja..

    suka banget sama ceritanya..🙂
    good story, the best author..
    and your story so interesting.. ^^

    mian kalo ga komen di next part2 nya,,
    yakinlah karyamu sangat bagus..;)

  3. nungguin lanjutannya bikin gak bisa tidur tenang >_<….. lanjutkan sampe akhir min,,,,, semangattttttttt jangan kecewakan kami pembaca setiamuuuu

  4. perasaanku gak karu karuan baca ff mu min,,,
    >_< apalagi yang seri terlarang,,,, kyaaaaaaa,,,,, wkkwkwkwkw bikin senyam senyum sendiriiii hahahaha

  5. Keren……..>_< mudah mudahan happy ending .Thor kapan keluar next part nya nunggu lama nih. Kyk nunggu i married the bad boy deh. Jngan lama" ya thor ngpost nya. Penasaran kelanjutan nya

  6. seperti nya heechul menyukai young jae. Kasihan kalo heechul harus berperang sama dirinya sendiri. Tenang oppa young jae ada di samping mu. Ceritakan lah ke dia.

  7. Dipart ini aq dongkol sama heechul!!
    Setelah dy ‘melakukan’ eh di pesta’a kibum dy malah ngebahas soal nikah kontrak! Dah kyak rumah!
    Aq kira itu kontra batal kan dah ada kejadian ‘itu’ tpi? Ckck~

    Next part..😉

  8. ya ampun young jae emang bener” istri yg baik buat heechul dya pengertian bgt >_<
    heechul harus nya bersyukur jangan malah marah" hohohoho
    tanpa mereka sadari mereka udda saling menyayangi❤

  9. Aigoo aegi haeppa muncul *pasti gemesin banget*
    Ayo dong chullie oppa sadar dan bilang *aku mencintaimu young-ah* Jadi greget nih sama chullie gengsi nya tinggi banget, tp perhatian ><
    Kalo sampe young jae ke italia dan chllie oppa nyesel*gak kebayang*

  10. Gengsinya gede jg c Heechul hehehehe,,,tp seorang Kim Heechul mmbri prhtian trhdp org lain adlh hal yg sgt mnkjubkan…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s