Shady Girl Heechul’s Story (Part 5)

Tittle : Shady Girl Heechul’s Story Part 5
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life
Twitter : @julianingati23 *follow me^_~*

Main Cast :

  • Sung Youngjae
  • Kim Heechul

Support Cast :

  • Henry Lau
  • Kangin

 

Happy reading ^_^

Shady Girl Heechul by Dha Khanzaki

===Part 5===

“Young Jae, Sung Young Jae!!!”

Henry mengerutkan keningnya bingung karena sudah ketiga kalinya ia memanggil nama Young Jae namun gadis itu tak kunjung menyahut. Sekarang malah asyik melamun dengan kepala menengadah ke langit. Ia mendekat, lalu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah gadis itu. Tak ada reaksi. Henry mulai curiga jangan-jangan Sung Young Jae kerasukan setan kantor. Atau stress dikarenakan tekanan dari bos mereka, Eun Ri. Karena penasaran dengan bodohnya Henry ikut menengadah ke langit-langit. Ia penasaran dengan apa yang Young Jae perhatikan.

Young Jae tersadar dengan sendirinya. Gantian dia yang merasa bingung melihat tingkah Henry.
“Kau kenapa sih?”
“Kau kenapa sejak tadi melamun?” Henry buru-buru memasang pose normal. “Pemotretan sudah selesai dan kita tinggal tunggu hasilnya saja. Bukankah kau juga sudah menyerahkan rancanganmu? Lalu apa yang kau pikirkan? Sekarang waktunya pulang.”

Young Jae menatap ke sekeliling dan baru sadar bahwa studio tempat pemotretan sudah sepi. Tinggal dirinya dan Henry saja.
“Sepupumu Tiffany Hwang, dia memintaku merancangkan gaun pengantin untuk pesta pernikahannya,” gumam Young Jae sambil membereskan barang-barangnya. Henry terkesiap takjub.
Really? Itu bagus, Young Jae. Kau sudah membuat rancangannya?” Henry tampak begitu berminat terhadap topik pembicaraan ini mengingat pesta pernikahan Tiffany akan menjadi topik hangat bagi dunia entertainment Korea. Young Jae menggelengkan kepala lemah dengan raut kecewa.
“Belum. Otakku mendadak kosong jika memikirkan masalah ini. Merancang gaun pengantin sangat berbeda dengan merancang baju biasa karena gaun pengantin itu merepresentativekan jati diri seseorang dan untuk moment sekali seumur hidup. Aku harus berhati-hati dalam membuatnya. Apalagi gaun ini untuk pernikahan artis sekaliber Tiffany Hwang. Hasilnya haruslah spektakuler. Dan ada satu masalah kecil lagi. Mesin jahitku rusak..,” Jelas Young Jae dengan wajah nyaris putus asa.

Henry mengerti kebimbangan teman sekantornya itu. Lantas ia duduk di samping Young Jae untuk memberikan beberapa saran kecil untuknya. “Ada yang perlu kau tahu satu hal tentang sepupuku yang cantik itu, Young Jae,” ia menepuk pundak Young Jae pelan. Gadis itu menoleh menatapnya.
“Tiffany hanya ingin gaun pengantin yang membuat dirinya merasa begitu dicintai. Sederhana bukan?”

Young Jae tertegun karena ucapan Henry sama dengan ucapan Tiffany saat gadis itu meminta Heechul merancangkan cincin pernikahan untuknya. Jadi, dirinya pun harus membuat gaun dengan perasaan seperti itu? Dimana ia menemukan inspirasi semacam itu?

—o0o—

Heechul memandangi jam tangannya dengan kesal. Sudah hampir jam sepuluh malam tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Sung Young Jae di rumahnya. Bukahkah dia sudah pernah mengatakan sebelumnya dilarang pulang lebih dari jam sepuluh malam? Meskipun ia tahu Sung Young Jae ber-IQ rendah tapi seharusnya gadis itu ingat dan kenapa juga ia merasa cemas seperti ini? Satu fakta yang sangat aneh.

Heechul membuang napas kesal. “Baik, aku tidak peduli lagi! sekarang sudah malam dan aku mengantuk!” ia memutuskan untuk mengunci pintu rumah lalu berbalik tidur. Namun saat langkahnya hendak memasuki kamar, ia terhenti. Kepalanya kembali tertoleh ke arah belakang, tepat ke pintu masuk.
“Jika pintunya kukunci, dia bisa tidur di luar semalaman.” Aish, kenapa ia menjadi gusar sendiri seperti ini. Ia terus mengingatkan diri sendiri agar meminta nomor ponsel gadis itu lain kali. Membuat orang cemas saja.
Malam ini Heechul bertingkah seperti orang gila. Berkali-kali dirinya bergumam sendiri karena bingung memutuskan harus membiarkan pintu tidak terkunci atau tidak.
“Ah, aku tidak peduli!” Heechul akhirnya membiarkan pintu depan rumahnya tak terkunci sementara dirinya bergerak memasuki kamar. Ia yakin tidak akan ada yang terjadi meskipun pintunya tidak terkunci semalaman. Sistem keamanan rumahnya dua tingkat lebih tinggi di banding rumah pada umumnya.
“Gadis itu pergi kemana? Bukankah seharusnya sore tadi dia sudah pulang?” Heechul bertanya-tanya sambil melepaskan kausnya untuk tidur. Ia memang terbiasa tidur sambil bertelanjang dada. Setelahnya ia membaringkan diri di tempat tidur.

Tepat pukul satu malam, Sung Young Jae berjalan terhuyung-huyung memasuki rumah. Ia sempat heran karena pintu tidak terkunci. Rupanya Kim Heechul hanya bercanda ketika mengatakan bahwa akan membiarkannya tidur di luar jika belum pulang lewat jam sepuluh. Ia terlalu asyik menenggak soju sampai tidak sadar bahwa malam sudah larut.
“Ah, gelap sekali,” lirihnya linglung. Mendapatkan inspirasi yang spektakuler tidak semudah dugaannya. Kepalanya sampai pusing. Sekarang yang harus dilakukannya adalah tidur. Ia membuka kenop pintu kamar yang ditemukannya, membuka blazer dan kausnya lalu berbaring tidur. Tak lupa juga ia memeluk guling yang ditemukannya. Rasanya nyaman sekali dan dalam tempo beberapa detik dirinya sudah jatuh terlelap di alam mimpi.

—o0o—

“Gaun pengantin sudah, dekorasi sudah, tinggal menentukan cincin pernikahannya saja,” Eomma berniat menekan bel rumah Kim Heechul ketika sadar bahwa pintu rumah putranya itu tidak terkunci. Ia tersentak heran. Aneh sekali. Padahal ia sengaja datang sepagi ini untuk meminta putra sulungnya itu mendesainkan cincin pernikahan adiknya, Kibum. Eomma mendorong daun pintu itu hingga terbuka seluruhnya dengan ragu. Apa mungkin rumahnya baru saja kerampokan mengingat banyak sekali desain perhiasan yang di simpan di rumah ini. Mendadak Eomma panik.

“Heechul!!” pekiknya seperti baru saja kebakaran jenggot. Eomma berlarian mencari putranya, membuka pintu kamar Heechul dengan cepat berharap menemukan pria itu di sana. Dan memang benar, ia menemukan Heechul masih tertidur pulas di sana. Hanya saja, pemandangan yang kini tengah disaksikannya membuatnya hampir terpeleset jatuh.
“Omona!!” Eomma buru-buru menutup mulutnya. Apa matanya tidak salah lihat? Berkali-kali ia mengucek mata takut yang baru saja dilihatnya hanya sebuah ilusi. Ternyata tidak. Ia benar-benar melihat Heechul dan Young Jae tidur bersama.

Seharusnya ia tidak sekaget ini mengingat mereka secara hukum resmi sebagai suami isteri. Yang membuat jantungnya hampir saja jatuh adalah kondisi mereka. Ia melihat Heechul tidur tanpa kaus atasan dan Young Jae yang tidur sambil memeluknya hanya memakai pakaian dalam saja. Pikirannya mulai melayang kemana-mana. Apa mungkin mereka semalam…?

Menghindari kecurigaan, Eomma menutup pintu kembali. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah untuk menghindari kegugupannya. Wajar saja bukan, jika pria dan wanita yang tinggal dalam satu atap yang sama dengan ikatan pernikahan melakukan itu? Benar, itu wajar sekali. Bukankah itu artinya, tak lama lagi ia akan mendapatkan seorang cucu? Mengingat kata ‘cucu’, senyum Eomma tersungging seketika. Jika Heechul memiliki anak, ia tak perlu susah-susah meminta Sungmin agar menitipkan Minki padanya.

—o0o—

Heechul merasa paginya terusik dengan suara berisik yang berasal dari dapur. Dengan mata yang masih terpejam dan nyawa yang belum terkumpul seutuhnya, ia menghadapkan tubuhnya ke samping. Dengan mata yang setengah terbuka, ia melihat sesosok gadis tidur dengan tangan memeluk tubuhnya.
“Damai sekali tidurnya,” batin Heechul dalam hati. sesaat ia tertegun melihat wajah damai gadis di depannya. Beberapa detik setelahnya, matanya membulat. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Seingatnya semalam ia tidur seorang diri. Akhirnya Heechul memaksakan diri membuka matanya.

“Whuuaaaaaaaaa!!!!” tubuhnya refleks melepaskan diri lalu mengkeret ke sudut tempat tidur lalu terjatuh ke lantai. Heechul kaget bukan main saat matanya menoleh ke samping, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah pulas Sung Young Jae.

Teriakan panik Heechul berhasil membuat Young Jae tersadar dari tidur nyenyaknya. Gadis itu mengerjapkan mata lalu duduk di atas tempat tidur sambil mengucek matanya. Sesekali ia menguap.
“Yaaa, apa yang kau lakukan di kamarku!!! Kenapa kau tidur di tempat tidurku!!” teriak Heechul histeris sambil menunjuk-nunjuk Young Jae seolah gadis itu baru saja melakukan pelecehan seksual padanya.

Young Jae yang nyawanya masih belum terkumpul, hanya mengedarkan pandangannya. “Oh, ini bukan kamarku. Aku salah masuk kamar rupanya,” tanpa menghiraukan Heechul yang menatapnya horor, ia turun dari tempat tidur lalu meninggalkan pria itu dengan santai. Heechul menggeram sendiri melihat tingkah tak terduga Young Jae.
“Yaaaaaa!!!!!!!!” ia beringsut bangun mengejar gadis itu. “Chankamman!!” teriaknya sambil mencekal tangan gadis itu.
“Wae??” Young Jae mengucek matanya. Kesadarannya masih belum pulih seratus persen.
“Kau, apa yang kau lakukan semalaman di kamarku eoh? Dan pakaianmu, bagaimana bisa kau tidur di kasurku dengan pakaian minim seperti itu!”

Heechul menunjuk ngeri pakaian yang dikenakan Young Jae sekarang. Dengan polosnya, gadis itu menundukkan kepala untuk melihat pakaian yang dimaksud Heechul.
Dalam tempo sepersekian detik, Young Jae melebarkan matanya terkejut. Nyawa seolah sudah terkumpul kembali dalam dirinya. Ia mengangkat wajah menatap Heechul dan ekspresinya berubah pucat menyadari Heechul kini tengah bertelanjang dada.

“Kyaaaaaaaa!” Young Jae menjerit. Tangannya refleks menyilang di depan dada. “Apa yang kau lakukan padaku semalam, Kim Heechul! Kau ingin memperkosaku!!” tuduhnya histeris. Heechul terkejut bukan main menerima tuduhan sembarangan yang dilayangkan gadis ini.
“Enak saja, seharusnya aku yang bertanya! Kau yang tiba-tiba sudah berada di atas kasurku pagi tadi!” tubuh Heechul balik. Young Jae memegang kedua pipinya berusaha mengingat apa yang sekiranya terjadi semalam.

Sekelebat bayangkan terlintas dalam benaknya. Setelah pulang dari kantor bersama Henry, ia berniat mencari inspirasi dengan berjalan-jalan dan tanpa di sangka perjalanannya berhanti pada rumahnya terdahulu. Rumah yang masih berbentuk sama, hanya saja dengan cat yang berbeda.
Young Jae sempat tertegun menatapi pagar rumah itu yang sudah diperbaharui. Rasa sentimentilnya tergugah. Tangannya terulur begitu saja menekan bel yang berada di atas papan nama pemilik baru rumah tempat tinggalnya dulu.
“Siapa?” Young Jae tersadar bahwa tindakannya begitu aneh ketika ia mendengar suara yang keluar dari interkom. Suara seorang gadis yang tinggal di rumahnya dahulu. Ia menggelengkan kepala cepat. Seolah teringatkan bahwa kini, rumah penuh kenangan ini bukan miliknya lagi.
Seorang gadis berambut panjang keluar dan menatap Young Jae yang berdiri di balik pagar dengan kening berkerut. Young Jae tak sanggup lagi melihatnya. Ia terpukul. Ia seharusnya tidak datang kesana. Dengan begitu rasa sakit yang kini dirasakannya tidak akan timbul. Rumah itu begitu penuh kenangan baginya. Ia tak pernah menyangka dalam mimpi terasing pun, akan meninggalkan rumah yang menjadi saksi bisu kehidupannya selama dua puluh tahun terakhir.
Tubuhnya berbalik, lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu. Bukannya mendapat inspirasi, justru rasa frustasi yang diterimanya. Kepalanya begitu berat dan satu-satunya cara yang ia tahu untuk menghilangkannya adalah dengan menenggak soju.

“Ah,” Young Jae memekik tertahan karena keningnya mendapat sentilan pedas dari Heechul. Pria itu sepertinya mulai gemas karena Young Jae malah asyik melamun dibandingkan menjawab rasa penasarannya.
“Sakit!”
“Aku tidak menyuruhmu melamun! Aku memintamu menjawab pertanyaanku! Kenapa kau berada di kasurku semalam!”
Young Jae mengusapi keningnya, “Aku mabuk karena kebanyakan menenggak soju. Saat pulang, keadaan rumah gelap. Aku tidak menyadari masuk ke kamar yang salah. Mianhae,” wajahnya tampak menyesal dan pipinya menggembung.
“Aigooo,” Heechul menyentil kembali keningnya, gemas. “Kau itu bodoh atau apa sih? Sudah jelas kamarmu ada di sana. Bagaimana bisa masuk kamarku! Ah, aku harus hati-hati mulai sekarang. Bagaimana jika saat aku terlelap kau melakukan sesuatu padaku!”
“Ngawur!” teriak Young Jae tidak terima.

“Ekhem..”
Kedua orang itu menoleh karena suara deheman. Heechul mengerjap kaget menyadari sejak tadi Eomma berdiri di dapur dengan apron terpasang di badannya.
“Eomma, sejak kapan datang?”
Eomma tersenyum simpul lalu menoleh pada Young Jae yang buru-buru membungkukan badan padanya.
“Sejak satu jam lalu,”
“Mwo? Kenapa Eomma tidak membangunkan kami?” serobot Heechul.
“Kalian terlihat nyenyak dan Eomma tidak berani mengganggu,” jawab Eomma penuh arti. Young Jae dan Heechul saling menatap untuk beberapa saat, lalu memalingkan wajah dengan wajah memerah satu sama lain. Eomma tersenyum senang melihatnya.
“Kalian manis sekali, bertengkar pagi-pagi begini. Ayo sarapan. Eomma sudah menyiapkan untuk kalian.” Eomma kembali ke dapur. Young Jae menyadari suasana di antara dirinya dan Heechul menjadi canggung pasca penuturan Eomma barusan. Eomma pasti melihat mereka tidur bersama.

—o0o—

“Ada perlu apa Eomma kemari?” Heechul bertanya ketika mereka sarapan bersama.
“Pesta pernikahan Kibum dan Jarin akan dilaksanakan akhir minggu ini. Semuanya sudah siap. Tinggal cincin pernikahannya saja. Kibum bilang ingin sekali kau yang merancangkan cincin pernikahannya dan Ja Rin.” Penjelasan Eomma membuat Heechul berhenti mengunyah makanan. Young Jae yang menyadari hal itu ikut berhenti.

Heechul tampak kaget dan tercengang. Matanya mengerjap beberapa kali. “Cepat sekali,” komentarnya pelan. Heechul kembali mengunyah makanannya. “Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?” ucapan Heechul memang terdengar acuh tak acuh, tapi Young Jae bisa melihat dengan jelas jiwa terguncangnya.

Eomma menepuk tangannya, “Mianhae. Eomma terlalu sibuk menyiapkan pestanya. Kau mau kan membantu Eomma?”
“Em,” ucap Heechul malas. Ia bangkit lalu pergi. tak lama Heechul kembali membawa satu kotak beludru berwarna biru.
“Itu adalah desain terbaikku. Kuharap Kibum mau menerimanya sebagai hadiah dariku. Maaf jika aku tidak bisa memberikan yang lebih bagus dari itu,” ucapnya dengan ekspresi datar. Eomma membuka kotak itu dan matanya melebar takjub melihat hasil kejeniusan putranya.
“Indah sekali. Kibum pasti senang. Gomawo.” Eomma terdiam menatap Heechul dalam. “Kau sudah berdamai?”

Heechul terkejut sekaligus bingung dilontarkan pertanyaan seperti itu. “Berdamai? Dengan siapa?”
“Dengan dirimu sendiri.” ungkapan Eomma membuat Heechul terlonjak. Eomma tersenyum penuh arti atas reaksinya.
“Berhentilah mengeluh atas apa yang sudah terjadi. Masa lalu suram yang sudah kau lewati tidak bisa diubah, jangan kesal karena itu. Dan berhenti salurkan kekesalanmu itu pada adikmu. Dia terlalu polos untuk menerima semua kemarahanmu. Eomma memintamu menikah cepat bukan hanya karena Kibum, tapi Eomma ingin kau belajar untuk bertanggung jawab pada tindakanmu dan agar kau bisa berpikir dewasa.”

Young Jae menatap Heechul yang tak bergeming dengan rasa penasaran. Pria itu hanya duduk mematung sambil memainkan sumpit. Sepertinya ucapan Eomma benar-benar menyinggungnya.
“Baik, Eomma.” gumam Heechul pelan.
“Baguslah kalau kau paham. Di pesta nanti, jangan sampai tidak datang Arraseo! Kalau begitu Eomma pamit.” Eomma bangkit. Setelah Eomma pulang, Young Jae tidak berani bertanya pada Heechul ataupun mengajaknya bicara. Pria itu seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Karena itu ia lebih memilih untuk tidak ikut campur.

“Apa aku benar-benar pria lemah?” lirih Heechul tiba-tiba. Young Jae berhenti memakan pudingnya lalu menatap Heechul. Ia agak terperangah melihat ekspresi terlukanya.
Young Jae hanya bisa membuka mulutnya namun tak sepatah kata pun yang berhasil keluar. Dia cepat membungkam mulutnya kembali. Heechul semakin menekuk wajahnya kala tak ada jawaban dari Young Jae. Ia mendesah berat lalu bangkit.
“Aku harus menyelesaikan desainku.”

—o0o—

“Apa aku benar-benar pria lemah?”

Sepanjang hari, Young Jae terganggu oleh pertanyaan Heechul sehingga ia tidak bisa berkonsentrasi pada rapat yang diselenggarakan untuk menentukan konsep majalah bulan ini. Eun Ri menarik napas dalam sebelum meluapkan kekesalannya pada Young Jae yang selalu melamun di saat rapat penting seperti ini.

“Young Jae!” Henry yang menyadari tanduk di kepala Eun Ri segera melempar Young Jae dengan bola kertas. “Ssstt, Young Jae!”
“Ne?” Young Jae terkesiap sadar. Ia menoleh pada Henry yang memberikan isyarat tangan padanya agar fokus. Sadar akan hal itu, Young Jae kembali menegakkan posisi duduknya.

Eun Ri tersenyum puas melihat Young Jae sudah keluar dari lamunannya lantas berdehem.
“Ekhem, aku memiliki usul bagus untuk konsep kita bulan ini.” Ujarnya membuat seluruh peserta rapat menoleh padanya. Eun Ri melanjutkan.
“Kalian tahu bukan bulan ini Tiffany Hwang akan melangsungkan pesta pernikahan? Pasti menyenangkan jika kita meliput segala sesuatu tentangnya. Dan aku menemukan satu topik yang menarik tentang hal ini. Apa kalian tahu Kim Heechul?”

Young Jae menjatuhkan buku dan pulpennya saat nama suaminya disebut Eun Ri. Keributan itu membuat Young Jae kembali menjadi pusat perhatian untuk sementara. Kenapa Eun Ri membawa-bawa nama Heechul?
“Bukankah dia desainer perhiasan yang terkenal itu?” jawab salah satu peserta
“Bingo!” Eun Ri menepuk tangannya, “Aku dengar dia yang akan merancang cincin pernikahan untuk Tiffany. Sudah lama aku ingin sekali mewawancarainya tapi tidak menemukan alasan yang bagus dan aku yakin kesempatan ini bisa dipakai untuk membuat jadwal wawancara dengannya. Pembaca pasti akan senang.”

Young Jae memutuskan menjadi pendengar saja dalam topik kali ini. Ia tahu betapa beresikonya jika ikut campur dalam kehidupan Kim Heechul.
“Tapi, bukankah sangat sulit melakukan wawancara dengannya?” timpal Henry. Seperti yang diketahui, melakukan sesi wawancara dengan desainer sekaliber Kim Heechul sama seperti sulitnya mewawancarai seorang presiden meskipun tak dapat dipungkiri begitu banyak orang yang penasaran pada sosok yang mampu menciptakan perhiasan-perhiasan indah sepertinya.
“Benar juga,” Eun Ri mengangguk. “Ah, begini saja. Yang berhasil mendapatkan izin wawancara darinya, akan aku berikan bonus gaji bulan ini bagaimana?”

Kali ini, Young Jae yang semula tidak peduli mulai tertarik. Bonus gaji? Ya ampun, dengan uang itu mungkin ia bisa membeli mesin jahit baru mengingat mesin jahitnya sudah rusak.
“Aku,” semua orang terkejut saat melihat Young Jae mengangkat tangannya. Gadis itu sendiri tak menyangka bahwa ia akan mengajukan diri melakukan tugas berbahaya seperti ini.
“Aku akan mendapatkan izin wawancara, bagaimana?”
Eun Ri terkejut, begitupun yang lain. Mereka langsung melemparkan reaksi tak percaya.
“Kau yakin?” tanya Eun Ri sangsi. Young Jae mengangguk semangat.
“Ne.”
“Apa yang membuatmu percaya diri seperti itu? Aku bahkan sudah dua kali mengajukan dan Heechul-ssi sendiri selalu menolaknya mentah-mentah.”
Young Jae menundukkan kepala sebentar, lalu mengangkatnya kembali. Ia ragu apakah pantas mengatakan ini atau tidak. “Dia, sebenarnya..suamiku.”
Haaaaaaaaaaaaaa!!!!!!

—-o0o—-

“Katakan padaku kau berbohong Sung Young Jae, kapan kau menikah dengan pria berwajah cantik seperti Kim Heechul!!” Henry memberondong Young Jae dengan pertanyaan panjang pasca pengakuan mengejutkannya di rapat tadi. Dia benar-benar tahu cara mengejutkan orang lain.

Young Jae ingin sekali menampar mulutnya sendiri setelah mengatakan kalimat keramat seperti itu. Ia tidak bisa membayangkan wajah kejam Heechul ketika mengetahui dirinya telah mengumbar-umbar kenyataan yang seharusnya disembunyikan rapat-rapat dari dunia. Hanya demi bonus gaji bagaimana bisa dirinya mempertaruhkan hidup damainya? Ah, sung Young Jae..kau ceroboh!!
“Tidak ada yang mustahil di dunia ini,”
“Whuaa.. You are really something, Young Jae! Menakhlukan Kim Heechul sama seperti kau berhasil menjinakkan seekor singa.”
Young Jae menghela napas seiring langkahnya yang terhenti. “Yah, aku memang tinggal bersama singa,” dengusnya pasrah. Kini yang ada dipikirannya adalah bagaimana meminta Heechul datang ke kantor redaksi untuk melakukan sesi wawancara.

—o0o—

“Chogi..” Young Jae ragu-ragu menatap Heechul yang sedang sibuk di ruang kerjanya, membuat salah satu karya yang akan menjadi masterpiece berikutnya.
“Ada apa?” tanya Heechul tanpa menatapnya. Young Jae mengetuk-ngetukkan ujung sandal rumahnya dengan gelisah.
“Majalah tempatku bekerja ingin mewawancaraimu, apa kau ada waktu?”

Heechul bereaksi. Dia membuka kacamata pelindungnya lalu berbalik menatap Young Jae dengan alis terangkat.
“Kau bilang apa? Wawancara? Bagaimana bisa, kau mengatakan sesuatu tentang kita? Kau!!!” sudah ia duga Heechul akan membentaknya seperti ini. Young Jae mundur satu langkah. “Bagaimana bisa kau seceroboh itu! batalkan sekarang juga!!!”
“Tapi..”
“Batalkan! Aku tidak suka diwawancara!” Heechul memotong dengan ketus lalu kembali bekerja setelahnya. Young Jae kehabisan kata-kata ia menundukkan kepalanya dengan kecewa lalu undur diri dari ruangan itu. Ia sangat kecewa karena Heechul menolaknya mentah-mentah. Sesekali ia menggerutu.

Sesaat setelah Young Jae pergi, Heechul tertegun. Ia kembali teringat pertemuannya dengan Kangin siang tadi.

#Flashback

“Penampilanmu mengapa senewen begitu?” Kangin hampir memekik kaget melihat penampilan sahabatnya yang lain dari biasanya. Jika sebelumnya Heechul selalu berpenampilan rapi dan modis, lain halnya hari ini. Ia tampak kusut dan kemeja yang dikenakannya tidak dimasukkan ke dalam celananya. Jasnya pun tersampir begitu saja di pundaknya. Heechul mendesah super berat. Kangin khawatir ini adalah tanda-tanda kegilaan seorang Kim Heechul mengingat terakhir kali ia menemui sahabatnya, keadaan pria itu sedang uring-uringan.

“Jangan pedulikan aku,” Heechul mengibaskan tangannya lalu meminta Kangin duduk saja di salah satu kursi yang tersedia di kantornya.
“Ada apa memanggilku, tidak biasanya,” Kangin langsung saja ke topik pembicaraan. Ia kembali dikejutkan dengan telepon Heechul tadi ketika dia sibuk di kantornya.
“Aku butuh beberapa saran darimu,” Heechul berkata dengan nada berat sambil memijat keningnya.
“Saran apa?”
“Aku sedang merancang cincin untuk pernikahan seseorang. Dan aku sama sekali tidak bisa menemukan ide untuk itu,”

Kangin tampak terkejut kali ini, “Kau kehilangan inspirasimu? Astaga! Seorang Kim Heechul tidak mungkin mengalaminya!” dia berseru seheboh orang yang melihat beruang kutub di gurun sahara. Heechul sendiri merasa sangat heran dengan dirinya. Biasanya ia tidak pernah seperti ini. Kehilangan inspirasi adalah bencana besar bagi seorang desainer sepertinya.
“Karena itu aku butuh saranmu. Beritahu aku apa hal yang paling penting untuk membuat seseorang merasa dicintai?”
“Merasa dicintai?” Kangin mengerutkan kening mendengarnya. “Jujur saja, aku tidak tahu” ucapnya jujur dan langsung tanpa dipikirkan. Jelas saja jawaban lugas seperti itu membuat Heechul semakin stress.
“Ah, percuma aku meneleponmu,” Heechul mengacak-acak rambutnya frustasi. Kangin memperhatikan setiap gerak-gerik Heechul yang tidak biasanya. Sepertinya kawannya ini memang butuh saran dari seseorang.
“Kalau begitu hanya ada satu cara,” celetuk Kangin dengan wajah dibuat serius.
“Apa, katakan?!!” Heechul menatapnya tidak sabar. Kangin tersenyum misterius.
“Kau harus jatuh cinta,”

Lagi-lagi, dia mendengar pernyataan seperti itu. Memang kenapa harus jatuh cinta dahulu baru mendapatkan inspirasi? Benar-benar tidak masuk akal.
“Kenapa kau dan Young Jae kompak sekali menyuruhku jatuh cinta? aish, apa tidak ada cara efektif lain?”

Kangin tersenyum karena untuk pertama kalinya ia mendengar Heechul menyebut nama istrinya. Ia memang sudah tahu beberapa hari lalu bahwa Heechul sudah ‘menikah’dengan seorang gadis. Tentu saja dia sempat terkejut terlebih saat tahu wanita yang menjadi istri sahabatnya itu adalah gadis yang benar-benar ingin Heechul siksa. Sepertinya akan sangat menarik.
“Kenapa kau tersenyum?” Heechul merasa tindak tanduk Kangin begitu mencurigakan. Bisa dilihat sahabatnya itu sudah menemukan jalan keluar untuk masalahnya.
“Bagaimana kalau kau mencoba untuk meminta tolong istrimu.”
“Maksudmu?” seru Heechul terkejut.
“Minta bantuannya agar kau bisa merasakan cinta. Kebanyakan pria akan menemukan kembali inspirasinya saat dirinya bisa merasakan cinta.”
“Ha? Tak masuk akal!” Heechul menepuk mejanya. Kangin bersiul santai, lalu menatap Heechul dengan mimik penuh arti.
“Kau akan lihat jika sudah melakukannya sendiri. Dia istrimu bukan, pasti tidak masalah membantumu sedikit saja.”

Heechul tertegun. Dia menyandarkan punggungnya sambil mengusap dagu. Sepertinya cara ini tidak buruk. Malam ini, dia harus meminta bantuan Young Jae.
#Flashback End

===To be continued===

(See you at the next part ^_^)

134 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 5)

  1. Bantuan apa coba? Youngjae aja lgi frustasi gegara gga ketemu solusi’a-___-”

    Youngjae dengan polos’a bilang klo heechul suami’a cuma buat mesin jahit baru? Kenapa gga minta ma chullie?

    Next part..

  2. couple yang agak aneh tapi aku beneran suka sama couple ini
    jinjja jhoaaaaa ^^
    penasaran bantuan apa ya???
    oke oke gak sabar next

  3. Ekhemm ada yang minta bantuan pengen rasain nama nya jatuh cinta.. awas oppa nnti jatuh cinta sungguhan hehe
    Kasian young jae pd hal dia mau beli mesin jahit, tp heechul oppa gak mau di wawancara terus gimana nasib baju yang tiffany pake ><

  4. ya ampun heechul tinggal wawancara doang ga susah ko. kasihan young jae padahal dia ingin beli mesin jahit yang baru. huh heechul kejam banget.

  5. Kira2 mminta bantuan sprti apa ya yg Heechul inginkan??
    Skrg smua org udh tau Heechul udh mnikah,, smua org takjub mndngarnya???

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s