Another Story In Shady Girl (Kibum’s Story) // Beautiful CEO – Ending

Another Story In Shady Girl (Kibum’s Story)

Tittle : Beautiful CEO – Ending
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, NC 17
Length : Oneshot
Twitter : @julianingati23

Main Cast :

  • Kim Kibum
  • Cho Jarin

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun as Jarin’s Older Brother

Hai, Another Story Kibum sebelumnya berjudul Beginning bukan, Nah, author menghadirkan part endingnya nih.. Buat temen-temen yang belum baca, silakan kunjungi Library FF Oneshot. Hope you enjoy this ^_^

Happy reading

Another Story In Shady Girl - Beautiful CEO by Dha Khanzaki

===Oneshot===

Entah sudah beberapa kali hari ini Cho Jarin memandangi jari manisnya yang dilingkari cincin bermata intan yang sangat cantik. Senyumnya pun lekat sekali di bibir, membuat beberapa pemegang saham yang sedang hadir di rapat itu berpandangan heran.
“Ada apa dengan putrimu?” bisik seorang pria berjas abu-abu pada pria berjas hitam dengan motif garis halus yang kebetulan duduk di dekat Jarin. Pria itu adalah Cho Seung Hwan, ayah dari Cho Jarin sang CEO perusahaan besar Cho Corp.

Cho Seung Hwan awalnya tidak terlalu memperhatikan pola tingkah putrinya yang ganjil karena terlalu fokus pada pemateri yang berbicara di depan. Namun ucapan rekannya berhasil membuatnya tertarik untuk ikut memperhatikan Jarin. Memang ada yang aneh dengan perilakunya. Sebagai ayah ia harus berseru takjub karena baru kali ini ia melihat Jarin tersenyum sesimpul itu. Sepertinya sesuatu yang membahagiakan sedang terjadi.

“Apa sinterklas datang lebih awal tahun ini? Kau terlihat sangat gembira, seperti baru saja mendapat jackpot.” Tuan Cho sengaja bertanya pada putrinya selepas rapat penting itu karena penasaran. Jarin menoleh sesaat pada Ayahnya tetap dengan wajah cerah. Dengan manja Jarin mengapit lengan Ayahnya.
“Lihat Appa, Kibum sudah melamarku,” dengan bangga Jarin memamerkan cincin bermata berlian yang kini melingkar di jari manisnya. Dia juga tidak sadar sudah menyebut nama Kibum dengan lancar saking terlalu gembira.

Tuan Cho mengerjapkan mata melihatnya. Ia bergantian menatap cincin itu dan wajah bahagia putrinya.
“Maksudmu anak dari Dokter Kim Hyun Seok?”
“Em. Dia.” Jarin tidak akan heran kalau Ayahnya mengenal Ayah Kibum. Sudah beberapa kali Ayahnya datang ke Seoul General Hospital, Rumah sakit milik keluarga Kibum untuk mengecek kesehatannya tiga bulan sekali. Sebagai seorang pemimpin perusahaan besar kesehatan sangatlah penting. Mungkin di sana Ayah mereka saling mengenal.

Tuan Cho sudah membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun terpotong oleh seruan Jarin. Pandangannya teralih ke arah depan, tepat ke arah pintu masuk di mana sesosok pria berjas berjalan masuk ke arahnya. Ah tidak, tepatnya ke arah putrinya. Tuan Cho sangat mengenal wajah ini. Dia adalah Kim Kibum.
“Chagiii…”

Tuan Cho terkesiap sendiri saat Jarin melepaskan tangannya secara tiba-tiba dan berlari memeluk kekasih tercintanya itu. Hatinya sedikit mencelos menyadari putrinya kini sudah dewasa dan memiliki seorang pria yang dicintai. Posisi dirinya di hati Jarin mungkin sudah tersisihkan oleh Kibum. Sebagai seorang ayah, ia merasa belum rela melepaskan Jarin ke tangan pria lain.

“Kau tidak ada jadwal pemeriksaan?” tanya Jarin sambil memeluk Kibum. Dia bahkan tak peduli pada tatapan beberapa pegawai yang kebetulan melihat adegan itu. Sebenarnya, bukan tanpa sengaja. Siapapun pasti tidak akan melewatkan adegan itu karena terjadi tepat di depan pintu masuk utama kantor.
“Sudah selesai setengah jam yang lalu. Aku segera kemari begitu kau menelepon. Ada apa?” Kibum sebenarnya merasa malu dipeluk seperti ini karena beberapa pasang mata kini memperhatikan mereka secara terang-terangan. Namun ia bersabar atau Jarin akan merajuk.
“Aku ingin mengajakmu makan siang bersama Appa.”

Kibum terperanjat kaget. Ia bahkan tidak diberi kesempatan oleh Jarin untuk mengutarakan pendapatnya, tangannya sudah ditarik oleh gadis itu. Menghampiri pria paruh baya yang sejak tadi memelototinya.
“Appa, ini pacar sekaligus tunanganku, Kim Kibum. Chagi, ini Appaku.”

Begitu tiba di depan Tuan Cho, Jarin segera memperkenalkan mereka. Kibum membungkukkan tubuhnya sejenak sebelum memperkenalkan diri pada Ayah Jarin. Sejujurnya ini bukan kali pertama Kibum bertemu pemilik dari Cho Corp ini, dia pernah bertemu beberapa kali karena Tuan Cho adalah ayah dari sahabatnya juga, Cho Kyuhyun. Tetapi ini kali pertamanya bertatap muka dengan Tuan Cho sebagai kekasih dari putrinya, Cho Jarin.
“Annyeong haseyo, Tuan Cho. Bagaimana kabar Anda?” tanya Kibum sopan sambil menjabat tangan Tuan Cho.
“Sangat sehat. Bagaimana kabar Ayahmu? Sudah lama aku tidak mengunjungi rumah sakitnya untuk medical check up.” Jawab Tuan Cho ramah.
“Baik-baik saja.”
“Bagaimana kalau kita mengobrol sambil makan siang saja? Perutku sudah keroncongan.” Potong Jarin. Jam memang sudah menunjukkan saatnya makan siang.

—o0o—

Kibum tidak pernah merasa segugup dan secanggung ini saat menghadapi siapapun. Ia tidak menyangka akan membutuhkan obat penenang hanya untuk berbicara lancar di depan Tuan Cho. Meskipun Tuan Cho berbicara dengan ramah tapi entah kenapa setiap pertanyaan yang diajukan terdengar seperti kalimat interogasi polisi di telinganya.
“Kudengar dari Jarin kau sudah melamarnya, apa itu benar?”

Jarin memandang Kibum yang mendadak berhenti mengunyah makanannya. Jelas itu pertanyaan yang sedikit sensitif bagi kekasihnya itu. Rahang Kibum tampak menegang.
“Ya.” Jawab Kibum dibuat tenang. Dalam hati Jarin berdoa semoga Kibum bisa lancar menjawabnya. Dia menatap Kibum dan ayahnya bergantian dengan ekspresi was-was.
“Kapan kau akan melamarnya secara resmi? Maksudku, kau dan keluargamu datang menemui kami?”

Jarin mencengkram sendok yang ada ditangannya dengan erat. Ia menatap tegang ayahnya dan Kibum. Terlebih karena kini Kibum terdiam, merenungkan sesuatu. Jarin tahu Kibum tidak akan bisa menjawabnya. Jarin sudah lebih dulu mengajukan pertanyaan yang sama namun selalu dijawab dengan nada tidak yakin oleh Kibum. Ia tidak tahu alasan jelasnya namun Jarin yakin jawabannya tidak akan membuatnya terluka.
“Masih butuh banyak persiapan untuk itu.” Kibum tersenyum untuk melengkapi jawabannya namun tetap sopan dan meyakinkan. Tuan Cho juga sepertinya tidak berniat membahasnya karena pertanyaan yang diajukan berikutnya berbeda.
“Kau juga seorang dokter?”

Jarin melihat Kibum mendesah lega sebelum mengangguk. “Ya.”
“Di rumah sakit yang sama dengan Ayahmu?”
“Ya.”
“Wah, kau pasti akan menjadi penerus Ayahmu,” seru Tuan Cho kagum. Kibum tersenyum bangga mendengarnya. Ia dan Jarin saling bertatapan sejenak. “Sejujurnya aku mengharapkan menantu yang bisa menggantikan Jarin mengurus perusahaan’” senyum Kibum dan Jarin terhenti seketika setelah mendengar ucapan Tuan Cho selanjutnya. Kibum tercengang menatap Tuan Cho yang tidak menyadari keterkejutannya. “Aku tidak tega membiarkan putriku mengurus perusahaan sebesar ini. Jika sudah menikah dia harus tinggal di rumah dan fokus mengurus suami dan anak-anaknya kelak.”

“Ah, itu tidak penting sebenarnya.” Sela Jarin menyadari wajah Kibum yang memucat. “Appa, bukankah sudah kukatakan, aku pasti bisa mengurus Cho Corp dengan baik.” Ia lupa Kibum tidak pernah tahu apapun soal keinginan ayahnya itu. Sebelum suasana kian memburuk dan canggung, ia harus menyudahi makan siang ini.
“Lagipula aku bangga jika kelak memiliki suami yang berprofesi sebagai dokter,” Jarin menggenggam tangan Kibum yang tergeletak kaku di atas meja. Kibum seperti tersadar, lantas menoleh padanya. Sejenak ia merasa lega setelah melihat senyum menenangkan Jarin. Setelah itu makan siang berakhir karena Kibum mendapatkan panggilan dari rumah sakit.

—o0o—

“Appa, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan masalah itu lagi?” protes Jarin begitu ia dan Ayahnya menginjak ruangan kantor Jarin. Tuan Cho menatap punggung putrinya tanpa rasa bersalah.
“Masalah mana yang kau maksud?” tanyanya balik seraya mendudukkan diri di atas salah satu sofa empuk di sudut ruangan. Jarin menjatuhkan dirinya di sofa lain dan duduk menghadap ayahnya dengan wajah merengut kesal.
“Soal menantu idamanmu, Appa! Pembicaraan ini seharusnya berakhir saat aku memutuskan mengambil alih kursi pemimpin perusahaan ini. Itu artinya aku bebas memilih pria manapun untuk menjadi suamiku.”

Tuan Cho menghela nafas, “Appa bukannya melarangmu, nak. Appa hanya tidak ingin membiarkanmu menghabiskan separuh hidupmu untuk mengurus perusahaan. Itu akan menyita tenaga dan pikiranmu.” Ucapnya dan sebelum Jarin kembali protes, ia menambahkan “Tentu saja Appa tidak masalah sama sekali memiliki menantu seorang dokter, yah siapapun dia. Hanya saja Appa tidak mau mendengar keluhan apapun jika kalian sudah menikah lama. Appa takut suamimu kelak keberatan karena istrinya sibuk mengurusi perusahaan sementara rumah tangga dan anak-anakmu terlantar. Akan lebih baik kalau kau menikahi laki-laki yang bisa mengambil alih Cho Corp.”

Jarin tidak percaya Ayahnya masih juga mempermasalahkan hal ini. Memang apa salahnya jika seorang perempuan memimpin perusahaan?
“Appa masih heran kenapa kau memutuskan pertunanganmu dengan Hangeng—“
“Appa, stop it!!” seru Jarin tegas. Sungguh, ia tidak bermaksud sama sekali membentak ayahnya namun Jarin sudah tidak bisa menahan diri lagi karena sekarang Ayahnya sudah mulai mengungkit-ungkit kejadian masa lalu.

Sebelum berpacaran dengan Kibum Jarin memang sempat bertunangan dengan seorang pria bernama Tan Hangeng, dia adalah calon suami pilihan Ayahnya. Ayahnya yakin—sangat yakin Hangeng mampu menggantikan posisinya menjadi pemimpin Cho Corp. Namun Jarin menolaknya karena hatinya sudah terpaut pada Kibum seutuhnya. Beruntung Hangeng pria yang baik sehingga dia membiarkan Jarin memutuskan pertunangan dan berlari ke pelukan Kibum. *baca Shady Girl Kibum’s Story*

Tuan Cho terkejut karena ini pertama kalinya ia mendengar Jarin berkata padanya dengan suara tinggi, terlebih karena ekspresi terluka yang dilihatnya di wajah Jarin.
“Aku sangat mencintai dokter Kim, tak peduli Appa menyukainya atau tidak. Terlepas dari dia yang tidak masuk kriteria menantu idamanmu, aku hanya ingin mengatakan bahwa dia adalah pria yang sangat baik dan bertanggung jawab. Jadi kumohon, jangan pernah ungkit masalah ini lagi.” Jarin berkata dengan suara lirih dan tercekat. Jelas terlihat putrinya sedang berusaha menahan tangis. Jarin bangkit, lalu keluar dengan langkah cepat meninggalkan Tuan Cho yang terpaku di tempatnya.

“Jarin..” panggil Tuan Cho namun terlambat, Jarin sudah menghilang dari ruangan itu. Ia terdiam dan hatinya sedikit terluka. “Bukan maksud Appa untuk menyakitimu, nak. Appa hanya belum bisa melepaskanmu. Appa belum rela memberikan putri kecil Appa pada pria lain.” Lirihnya sedih. Ya, begitulah semua perasaan Ayah yang menyayangi putrinya di dunia ini. Ia tahu putrinya akan tumbuh dewasa dan suatu saat akan tiba saat dimana ia harus menyerahkan tangan putrinya pada orang lain. Sejujurnya, ia belum siap.

—o0o—

Jarin tahu, satu-satunya tempat ia bisa menangis dengan bebas hanyalah Kyuhyun, kakak laki-lakinya. Ia tidak mungkin mendadak muncul di rumah sakit, menangis meraung-raung di pelukan Kibum di tengah-tengah pasien dan bau alkohol yang menyengat. Sayangnya, Jarin tidak pernah menyukai rumah sakit.

“Sekarang apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun di ujung sana. Jarin menatap lobi kantor di bawahnya dengan pandangan mengabur.
“Appa, dia tidak menerima dokter Kim menjadi menantunya. Bagaimana ini…”
“Jinjja?” suara Kyuhyun terdengar kaget. “Appa mengatakannya langsung, kepadamu?”

Jarin menggeleng sambil memindahkan ponselnya ke telinga kiri. “Tidak secara langsung. Tapi Appa mengatakan di depan dokter Kim bahwa Appa menginginkan menantu yang bisa meneruskan bisnis Cho Corp. Jelas sekali itu mengejutkannya. Kau tidak tahu bagaimana ekspresinya, Chokobi?” tanya Jarin menggebu.
“Wajahnya pucat.” Tambah Jarin sebelum Kyuhyun menjawab “Bayangkan wajah chagiyaku yang tampan itu pucat pasi. Aku tidak tega melihatnya,” ucap Jarin menggebu.

“Aku bingung kenapa Appa mendadak membahas hal itu. Appa pasti sengaja. Dia tidak suka dokter Kim, aku tahu itu!” lanjut Jarin kesal. Terdengar helaan napas Kyuhyun di antara suara-suara aneh yang lain. Sepertinya kakaknya itu sedang bermain game seperti biasanya. Kyuhyun adalah seorang CEO perusahaan game besar Korea.
“Jarin dengar, Kau mengenal Appa lebih dari siapapun. Satu-satunya hal yang dicemaskannya hanyalah Cho Corp dan keluarga. Dia tidak akan punya waktu untuk mengurusi masalah percintaan anak-anaknya. Tentu saja Appa juga tidak akan keberatan dengan siapapun menantu yang dipilih anak-anaknya. Itu hanya perasaanmu saja. Percayalah.”
“Tapi..”
“Jarin, Appa tidak akan menolak Kibum menjadi menantunya dengan syarat kau sangat mencintai Kibum.” Tegas Kyuhyun kata perkatanya sekali lagi. Jarin tertegun selama beberapa saat. Jika dipikir-pikir ucapan Kyuhyun ada benarnya juga. Setelah menyadari kesalahannya, Jarin menghapus airmata lalu tersenyum.
“Terima kasih. Kau selalu dapat diandalkan, Chokobi.”

—o0o—

Jarin merasa lebih lapang setelah berbicara dengan Kyuhyun. Tak tahu kenapa, namun kakaknya itu selalu memberikan saran bagus meskipun tidak selalu berupa solusi atas masalahnya. Kyuhyun benar, Ayahnya tidak bermaksud berkata Kibum bukanlah menantu yang pantas untuk keluarganya. Ia jadi merasa bersalah karena sudah membentak Ayahnya tadi.
“Aku harus kembali,” gumam Jarin lalu berbalik pergi dari tempatnya.

“Gegabah sekali, Tuan Cho memberikan jabatan direktur pada putrinya.”

Langkah Jarin seketika terhenti ketika telinganya tanpa sengaja mendengar beberapa orang yang tadi ikut rapat berbicara tentang dirinya dan Ayahnya. Setidaknya ada 4 orang pemegang saham yang kini sedang bergosip tentangnya sambil berjalan menuju lift. Jarin segera bersembunyi sebelum orang-orang itu menyadari keberadaannya. Ia penasaran mengapa mereka berkata begitu.
“Cho Jarin masih terlalu muda untuk posisi ini.”
“Benar, lihat kelakuannya di rapat tadi?”
“Apa aman jika kita mempercayakan saham kita di tangannya?”
“Ya, jika anak itu melakukan kesalahan sedikit saja, lebih baik kita mendesak agar Tuan Cho menurunkan jabatan gadis itu. Jika Tuan Cho masih bersikukuh, lebih baik aku kembali menarik investasiku untuk perusahaan ini.”
“Kita lihat saja bagaimana kinerjanya ketika pembukaan hotel baru nanti.”

Jarin membeku di tempatnya. Mereka jelas meragukan kemampuannya dan memang ia akui, pengalamannya dalam hal berbisnis masih sangat minim meskipun selama ia menjabat di posisi tertinggi perusahaan itu, belum ada satupun komplain yang masuk. Ia kira kinerjanya sudah cukup memuaskan namun siapa sangka ternyata komplain datang dari para pemegang saham sendiri.
Apa yang membuat mereka tidak puas? Apakah cara kerjanya, usianya, atau karena ia seorang anak perempuan?
Mendadak saja perasaan cemas dan takut merundung Jarin. Ia merasa begitu linglung dan kalut. Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana jika ternyata ia gagal melaksanakan tugasnya?

===o0o===

Kibum mengerutkan kening menyadari Jarin terlalu pendiam malam ini. Sepanjang makan malam hingga saat ini mereka duduk bersama di ruang tengah di temani tv yang menyala, belum ada obrolan yang menghangatkan suasana. Biasanya gadis itu selalu berceloteh panjang lebar mengenai apa saja yang terjadi hari ini.
“Apa terjadi sesuatu?” Kibum yang sudah tidak tahan mulai bertanya.
Pertanyaan Kibum membuyarkan lamunan Jarin. Kepalanya sontak menoleh ke arah di mana kekasihnya duduk. Jarin lekas memudarkan raut muramnya menyadari tatapan menyelidik Kibum.
“Tidak ada, chagi,” senyum Jarin merekah meski hanya senyum pura-pura. “Waeyo?”

Kibum sesungguhnya tahu ada sesuatu yang menjadi beban pikiran Jarin saat ini namun ia menolak untuk memaksa Jarin menceritakan perkara itu padanya. Ia akan menunggu.
“Aku hanya merasa wajahmu terlalu suram,” ia bertanya sambil menatap lekat kekasihnya, “Apa ayahmu mengatakan sesuatu?”

Kali ini Jarin yang terperanjat. Bagaimana bisa Kibum mengaitkan wajah murungnya dengan Sang Ayah? Oh mungkinkah Kibum masih terpikirkan kata-kata Ayahnya tadi siang?
“Bukan, sama sekali tidak ada hubungannya dan kumohon jangan ambil hati ucapan Ayahku. Dia sangat senang memiliki calon menantu seorang dokter, sungguh.”
Kibum sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Namun berkat perkataan Jarin, kini ia kembali teringat akan hal itu. Mendadak saja wajahnya menjadi sesuram milik Jarin beberapa saat yang lalu.
“Apa Ayahmu sungguh menginginkan menantu yang bisa menggantikannya memimpin perusahaan?”

Jarin menegang karena pertanyaan itu. Bukan pertanyaan Kibum yang membuatnya membeku melainkan karena ia teringat kembali pada perkataan para pemegang saham siang tadi. Jika ia gagal, bukan hal yang mustahil Cho Corp akan kehilangan banyak sekali investor dan jika itu terjadi besar kemungkinan Ayahnya akan menjodohkanya dengan orang lain seperti saat ia dijodohkan dengan Hangeng dulu. Tidak, ia tidak mau berpisah dengan Kibum!!

Melihat kekalutan di wajah kekasihnya, Kibum merasa semakin sedih dan bersalah. Kenapa kisah cintanya harus serumit ini?
“Apa aku harus berhenti menjadi dokter?” gumam Kibum membuat Jarin melonjak kaget. Gadis itu melebarkan matanya.
“Tidak perlu sampai seekstrem itu chagi, aku yakin aku bisa menggantikan posisi Appa di perusahaan,” hiburnya meyakinkan. Ia tidak mau menjadi beban bagi Kibum dan ia cukup tahu betapa kekasihnya itu sangat mencintai pekerjaannya.

Kibum sangat ingin menjadi dokter sejak kehilangan sahabatnya, Im Yoona karena penyakit kanker. Jarin juga sangat tahu bahwa Kibum ingin sekali membanggakan orang tuanya dengan menjadi seorang dokter sehingga di masa depan kelak ia akan mewarisi rumah sakit milik keluarganya.

Jarin menggenggam tangan Kibum dengan mata menatapnya sungguh-sungguh.
“Tidak perlu cemas, aku pasti bisa membuat Appa bangga sehingga dia tidak perlu lagi memikirkan masalah menantu yang harus menggantikan posisinya.” Entah mendapat kepercayaan diri sekaligus keberanian dari mana, Jarin bertekad kuat. Ia akan bekerja sebaik-baiknya demi Ayahnya, keluarganya, orang-orang yang bekerja di perusahaan, dan demi Kibum.

Tekad Jarin perlahan-lahan membuat Kim Kibum tersenyum. Ia bisa merasakan kesungguhan Jarin yang membuatnya merasa begitu bangga telah memilih gadis ini sebagai calon istrinya. Seandainya ia bisa memberikan kontribusi yang sama seperti yang Jarin lakukan, ia pasti tidak akan merasa bersalah seperti sekarang. Ia ingin sekali memberikan apa yang Jarin inginkan selama ini, yaitu mengajaknya ke pelaminan namun ia tidak memiliki kuasa untuk menentang keputusan Ayahnya. Kedua orang tuanya tetap bersikukuh tidak mengizinkannya menikah sebelum kakaknya, Kim Heechul menikah.

“Apa yang membuatmu gusar, chagi?” kali ini Jarin yang bertanya dengan nada cemas melihat Kibum mendadak saja terdiam sambil memandangnya. Jutaan emosi berkelebat dalam sorot mata hitam milik Kibum dan itu membuat Jarin khawatir. Tangannya yang sejak tadi hanya ia tumpukan di atas paha perlahan terangkat naik mengusap pipi Kibum.

Pria itu mengerjapkan mata berkali-kali, sadar dirinya sudah tenggelam dalam kekalutannya sendiri. Tahu Jarin sedang menantikan jawabannya, ia tersenyum untuk menghilangkan raut bingung itu dari wajah cantik kekasihnya. Pandangannya perlahan jatuh ke bibir plum Jarin yang basah. Ia tidak mengalihkan sama sekali perhatiannya dari titik itu. Jarin hanya bisa menutup mata ketika Kibum mendaratkan kecupan lembut di bibirnya. Ciuman Kibum kali ini sedikit menggebu, tidak seperti cara mencium Kim Kibum yang diketahuinya selalu tenang dan penuh perasaan.

“Chagi..” desah Jarin sambil mendekap leher Kibum begitu dirinya terdesak jatuh di atas sofa yang di dudukinya. Ia tidak keberatan, sungguh. Hanya saja ia jadi bertanya-tanya kenapa Kibum mendadak menjadi agresif seperti ini. Pasti ada yang sedang dipikirkannya. Ia tahu itu karena bisa dirasakan dari emosi yang tersalur di setiap lumatan-lumatan menggebu yang didapatinya.

Jarin terengah, terombang-ambing antara senang dan bingung. Ini sisi liar yang akhirnya Kibum perlihatkan padanya. Meskipun ia hampir kehabisan napas ia tetap mencoba mengimbangi Kibum. Sekarang ia terjepit di bawah tindihan tubuh kekar kekasihnya namun Jarin justru senang. Kibum menjauhkan wajahnya sedetik sebelum Jarin terpaksa mendorong bahu kekasihnya karena kehabisan napas.

Napas Kibum yang memburu menerpa wajah Jarin, terasa hangat dan tidak beraturan. Mata mereka beradu memperlihatkan bermacam-macam emosi. Keduanya sama-sama sibuk mengatur napas, tak ada yang berani bersuara kecuali televisi yang sejak tadi diabaikan keduanya.
“Kau kenapa?” Jarin bertanya dengan suara rendah. Kedua tangannya menangkup rahang Kibum yang terlihat sedih seolah seluruh permasalahan dunia disebabkan olehnya.
“Jarin,” gumam Kibum, mengecup singkat bibirnya sekali lagi. “Andai segalanya lebih mudah, aku mungkin bisa memberimu kebahagiaan. Bukan sekedar janji yang aku sendiri tidak tahu kapan janji itu terlaksana.”

Jarin mengerjapkan matanya berkali-kali. Tak perlu bertanya ia tahu janji apa yang dimaksudkan Kibum dan ia merasa sangat bersalah karena selalu mendesak Kibum untuk menikahinya. Ia tidak bermaksud sama sekali membuat Kibum frustasi seperti ini.
“Maafkan aku, apa sikapku sangat keterlaluan? Sungguh, aku sabar menanti hingga janji itu terlaksana. Kau tidak perlu memikirkannya sampai seperti ini,” ungkap Jarin sungguh-sungguh. Ia menarik Kibum untuk mengecupnya berkali-kali. Ia hanya ingin Kibum tahu ia tidak merasa keberatan sama sekali dan berhenti memperlihatkan wajah bersalah seperti ini. Eskpresi sedih itu justru membuatnya merasa begitu buruk. Ia takut jika terus seperti ini mungkin kelak Kibum akan melepaskannya, merelakannya menikah dengan pria lain. Ia tidak mau itu terjadi.
Pelukan Kibum terasa semakin erat. Pria itu entah kenapa memeluknya begitu possessif malam ini dan Jarin membiarkannya.

Kibum begitu dikuasai gairahnya sendiri hingga ia tidak bisa berpikir jernih. Apakah jika Jarin hamil Ayahnya akan mengizinkannya menikah? Apakah jika ia berhasil membuat Jarin hamil ia benar-benar bisa menikahinya? Pikiran itu begitu menghantuinya hingga tanpa sadar kini ia sudah membenamkan wajahnya di ceruk leher Jarin, menciumi bagian itu dengan segenap perasaannya.
Jarin seperti terbakar rasa yang menjebaknya dalam dunia asing, yang mampu mendidihkan seluruh darah dalam tubuhnya ketika ia mendapat ciuman bertubi-tubi di lehernya. Desahannya keluar tak beraturan dan kepalanya bergerak gelisah mengimbangi gerakan Kibum mencetak jejak-jejak kepemilikannya di sana.
“Nghhhh..”
Sekarang bibir Kibum menari di atas dadanya, memberikan jejak yang serupa seperti sebelumnya. Jarin membiarkan Kibum menurunkan gaun tidurnya sebatas dada, membuat dadanya yang tertekan oleh tubuh Kibum menyembul, begitu menggairahkan mata lelaki Kibum.

Diam-diam Jarin tersenyum. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah Kibum akan melewati batasannya dan mereka melakukannya malam ini seperti yang diharapkan Jarin sebelum-sebelumnya. Sekarang yang bisa dilakukannya hanyalah memberikan respon yang seharusnya. Tubuhnya menggelinjang ketika mulut Kibum singgah di puncak dadanya, menghembuskan napas hangatnya di sana hingga bagian itu menegang sempurna.
“Ahhhh, chagii..” Jarin menelusupkan jari-jarinya di rambut hitam Kibum. Ia tidak bisa berhenti mendesah selama Kibum terus menerus mencumbu dadanya seperti ini. Tubuhnya bergetar dan sesekali bergerak gelisah di bawah tindihan Kibum.

Tangan Kibum yang sejak tadi pasif memeluk tubuh Jarin kini mulai menyusup masuk ke dalam celana dalam yang masih membalut daerah pribadi Jarin. Tubuh Jarin menggeletar saat ia mengusap bagian itu. Ia merasa begitu bergairah ketika indera perabanya merasakan betapa lembut dan basah daerah intim Jarin. Seketika itu juga ia tersentak sadar. Oh tidak, apa yang dilakukannya? Apa baru saja ia berpikir untuk menghamili Jarin? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Seluruh pergerakan tubuhnya terhenti saat akal sehat berhasil menguasainya kembali. Kibum menghentikan aksinya dan kini ia memeluk erat tubuh Jarin yang mulai berkeringat, sama sepertinya.

“Chagi..”

Jarin tersentak kaget, tubuhnya yang semula seperti terbakar api tiba-tiba saja mendingin bagai disiram air es ketika Kibum menghentikan aktivitasnya. Lagi-lagi seperti ini. Desahnya dalam hati. Kibum selalu berhasil mengontrol gairahnya di saat yang paling tepat.
“Maafkan aku, aku hampir kehilangan kontrol diriku. Maafkan aku..” Kibum merasa sangat bersalah karena membiarkan dirinya dikuasai nafsu dibandingkan akal sehatnya. Ia tidak mengerti dengan jalan pikirannya beberapa waktu lalu namun berkat itu ia hampir saja membuat Jarin kehilangan miliknya yang berharga. Bagaimana mungkin ia berpikir untuk menghamili Jarin? Kedua orang tua mereka pasti akan sangat kecewa seandainya hal itu terjadi dan pernikahan mereka kelak bukanlah pernikahan yang benar-benar diberkati.

Jarin tertegun, membiarkan Kibum memeluknya erat dengan napas tersengal. Yang bisa ia lakukan hanya mengelus rambut lebat Kibum seperti mengenangkan anak kecil yang menangis. Jarin paham, ia sangat mengerti betapa kalutnya Kibum saat ini karena itu ia tidak akan berkomentar. Akhirnya malam itu mereka tidur di sofa dalam keadaan saling memeluk.

—o0o—

Sejak hari itu Jarin bertekad tidak akan mengungkit ataupun bertanya kapan Kibum akan menikahinya karena ia pun sedang berjuang untuk posisinya di perusahaan Ayahnya agar tidak ada lagi yang meragukan kemampuannya termasuk para pemegang saham itu. Jangan pernah meremehkan kekuatan putra-putri keluarga Cho. Jika kakaknya saja bisa membangun perusahaan sendiri tanpa bantuan Ayahnya mengapa ia tidak bisa. Ia hanya tinggal melanjutkan manajemen yang sudah ada.

“Kau terlalu keras berlatih, chagi,” gumam Kibum sambil mengecup puncak kepala Jarin sebelum ia memasuki mobilnya. Jarin masuk melalui pintu lain setelah itu duduk di kursi samping, tepat di samping Kibum.
“Kau tidak mengerti betapa gugupnya aku karena harus berpidato di acara peresmian hotel nanti. Aku tidak pernah bicara panjang lebar sebelumnya dan ini adalah kali pertamaku menghadiri acara resmi di mana banyak sekali media yang datang untuk meliput,” ungkap Jarin mengeluarkan semua kegugupannya.
“Kau pasti bisa. Aku percaya padamu,” Kibum mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah mereka. Ia akan mengantarkan Kibum ke tempat acara peresmian hotel baru.

“Maaf aku tidak bisa menemanimu,” ucap Kibum sebelum Jarin turun dari mobilnya.
“Gwaenchana, aku tahu seorang dokter tidak boleh meninggalkan pasiennya.” Jarin sempat menerima kecupan ‘good luck’ dari Kibum. Dengan perasaan bahagia ia turun dari mobil dan melambaikan tangannya ketika mobil kekasihnya itu bergerak meninggalkan pelataran hotel. Ia membalikkan badan. Semangat menggelora di dalam dirinya.
“Cho Jarin, fighting!!!” teriaknya.

—-o0o—-

“Seharusnya kau berhati-hati, Cheonsa-ssi,” Kibum berkata pada salah satu dokter bimbingannya, Han Cheonsa. Gadis itu baru saja diterima bekerja di Seoul General Hospital dan masuk ke dalam daftar dokter yang harus dibimbingnya. “Bagaimana bisa kau membiarkan dirimu sendiri jatuh, lihat bahumu memar.”
“Mianhamnida, dr. Kim. Ini semua karena Chansung lalai meletakkan peralatannya. Aku terpeleset dan jatuh, akkkhhhh..” ia meringis sendiri sembari merutuki diri karena ceroboh di hari pertamanya bekerja. Ia jatuh karena terpeleset sehingga bahunya membentur meja di belakang. Beruntung bukan kepalanya yang terbentur.

“Dokter, apa kau ada acara penting hari ini? Jika kuperhatikan ini kelima kalinya kau memandangi jam dinding.” Ujar Cheonsa sambil menatapi dokter tampan di hadapannya. Kibum mengerjap, rupanya Cheonsa cukup pintar untuk menyadari tingkah anehnya. Ia memang gusar sejak tadi karena Jarin. Seharian ini karena terlalu sibuk mengurus pasien ia tidak sempat menelepon kekasihnya itu sekedar menanyakan bagaimana pidatonya.

Sekarang sudah malam dan ia yakin Jarin pasti akan merajuk jika ia tidak segera menelepon.
“Aniyo.” Tepis Kibum sambil tersenyum. Setelah mengobati Cheonsa ia berjanji akan menelepon Jarin. “Bisa tolong turunkan sedikit bajumu agar lukanya bisa kuobati semua,” ujar Kibum sopan. Cheonsa menurut dan tangannya mulai bergerak menurunkan bajunya sehingga bahunya yang memar terpampang. Kibum bisa leluasa mengobatinya.

Kibum sedang berkonsentrasi mengobati Cheonsa ketika tiba-tiba ia mendengar suara benda jatuh. Refleks pandangannya menoleh ke arah sumber suara. Alangkah terkejutnya Kibum saat ia melihat Jarin berdiri di sana dengan pandangan membelalak.
“Jarin,” lirihnya antara bingung dan tidak percaya. Ia sadar mengapa Jarin begitu terpaku. Jelas sekali gadis itu salah paham dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Cheonsa. Gadis itu menggeleng lemah lalu berlari meninggalkan tempat itu.
“Jarin!!!” teriak Kibum. “Cheonsa-ssi, aku akan memanggilkan Chansung agar dia bisa mengobatimu,” ia berkata buru-buru karena panik. Cheonsa hanya mengangguk dan membiarkan Kibum meninggalkan ruangan tempatnya berada.

Selalu seperti ini, batin Kibum. Jarin selalu salah sangka setiap kali melihatnya bersama ataupun bersentuhan dengan seorang gadis. Dahulu Jarin pun pernah seperti ini, cemburu pada Lee Sunhee—adik sahabatnya sendiri—padahal ia hanya bermaksud menolong gadis karena penyakit yang di deritanya *baca Shady Girl Siwon’s Story*. Saat itu ia butuh waktu satu minggu untuk membujuk Jarin kembali dan sekarang mengapa itu bisa terjadi lagi?

—o0o—

Hujan turun dengan deras ketika Jarin berlari menghindari Kibum. Ia berharap air hujan kembali menjernihkan pikirannya. Ia sudah terlalu kalut seharian karena tidak mendapatkan pesan singkat ataupun telepon dari kekasihnya. Ia datang ke rumah bermaksud merayakan keberhasilannya pidatonya dengan makan malam bersama. Namun ketika melihat Kibum bersama seorang gadis, hatinya bergemuruh. Ia sudah berkali-kali mengingatkan diri bahwa Kibum hanya mencintainya dan mungkin saja tadi Kibum hanya mengobati gadis itu. Tapi hatinya tidak berkata begitu. Ia duduk di bangku taman, sendirian di tengah hujan lebat malam itu.

Kibum berlari mencari Jarin dengan menggunakan payung. Ia melihat mobil Jarin masih berada di pelataran rumah sakit. Ia yakin kekasihnya itu tidak akan pergi jauh. Benar saja, ia akhirnya menemukan Jarin duduk di taman belakang rumah sakit dengan kondisi tubuh yang basah seluruhnya.
“Jarin!!” serunya. Ia segera menghampiri kekasihnya itu. “Jarin, gwaenchana?” dengan mata yang sayu dan basah, Jarin mendongakkan kepalanya menatap Kibum yang begitu cemas.
Bibirnya bergetar. Gawat, ia kedinginan! “Kenapa kau datang lama sekali. Kenapa kau lama sekali menemukanku..” lirih Jarin di sela tangisannya. Kibum tak menghiraukan lagi apabila dirinya ikut terguyur air karena kini ia harus membopong Jarin dari sana dan membawanya pulang.

—o0o—

Kibum membawa Jarin yang basah kuyup kembali ke rumahnya. Benaknya kini dipenuhi perasaan panik dan cemas. Ia membaringkan Jarin di atas tempat tidurnya. Mendapati tubuh Jarin yang mulai menggigil, Kibum semakin dirudung kepanikan. Ia harus melepaskan baju basah Jarin dan menggantinya dengan yang baru. Kibum tanpa pikir panjang langsung bergegas ke lemari, mengambil piyama bersih, sehelai underwear dan bra lalu menghampiri Jarin yang tak sadarkan diri di tempat tidur.

Kibum sempat ragu apakah ia harus melepas semua pakaian Jarin atau tidak. Jika tidak, mungkin Jarin akan sakit keesokan harinya tapi jika ia menggantinya, secara langsung ia pasti harus menyaksikan tubuh polos Jarin. Tapi tidak ada pilihan lain. Ini demi kesehatan Jarin maka dari itu Kibum memohon maaf pada Jarin sebelum melepaskan pakaian basah dari tubuh kekasihnya itu.

Kibum duduk di tepi tempat tidur lalu melepaskan baju dan rok yang dipakai Jarin lalu melemparnya ke sudut ruangan. Ia mengangkat sedikit punggung Jarin untuk melepaskan kaitan branya. Kibum sempat tertegun melihat gundukan kembar Jarin yang selama ini diam-diam dikaguminya. Putingnya yang kecokelatan mencuat indah seolah memanggil Kibum untuk menghisapnya dan tangannya pun ikut gatal ingin sekali merasakan bagaimana sensasi saat benda itu digenggamnya. Kibum menggelengkan kepala, Ia mengambil handuk untuk mengusap titik-titik air di tubuh Jarin lalu memakaikan bra yang kering dengan terburu-buru. Setelah itu Kibum melepaskan celana dalam Jarin namun kali ini ia menutupi pinggang Jarin dengan selembar handuk, demi mencegah jiwa laki-lakinya terpancing birahi melihat sesuatu yang belum pantas dilihatnya.

Kibum menghela napas setelah ia berhasil memakaikan Jarin pakaian kering. Ia segera menyelimuti Jarin lalu mengecup keningnya. Ia harus mengganti baju karena seluruh pakaiannya pun basah. Ia hendak beranjak dari tempat tidur ketika mendengar suara rintihan Jarin. Ia menoleh, melihat Jarin begitu gelisah dalam tidurnya. Tidak tega, Kibum melepas pakaiannya yang basah lalu naik ke tempat tidur kembali.
“Jarin,” bisiknya. Jarin terlihat sedikit tenang ketika ia sudah berbaring di sampingnya. Ia mendesah berat, malam ini sepertinya ia harus menemani Jarin tidur.

—o0o—

Pagi hari Jarin terbangun karena belaian di kepalanya. Ia buru-buru bangun saat sadar yang melakukan itu adalah Kim Kibum. Ia tercengang dan bertanya-tanya mengapa ia bisa tidur sambil memeluk Kibum. Terlebih mengapa Kibum tidur di ranjangnya dengan hanya memakai pakaian dalam? Oh tunggu, bajunya juga tidak sama seperti yang dipakainya kemarin. Mungkinkah…
“Chagi..” Jarin menatap Kibum cepat dengan sejuta pertanyaan di wajahnya.

Senyum melekat di bibir Kibum. Dengan santai pria itu menarik Jarin kembali ke pelukannya. Lagi-lagi Jarin mengerutkan kening. Apa yang terjadi dengan kekasihnya? Apa semalam memang terjadi sesuatu? Kibum tidak pernah semanis ini jika sedang membangunkannya. Ah sial, terlalu banyak hal yang dipertanyakan hingga membuat kepalanya seperti akan meledak.
“Chagi, sebenarnya ada apa?” Jarin bertanya kembali, ia membiarkan Kibum memeluknya seperti ini. Rasanya hangat sekali.
“Aku hanya ingin menjelaskan bahwa gadis yang kau lihat semalam adalah Cheonsa, dia dokter baru yang bekerja di rumah sakit dan aku tidak melakukan apapun selain mengobati luka memar di bahunya,” jelas Kibum tanpa Jarin minta. Ia yakin sebenarnya ini jawaban yang ingin didengar Jarin setelah acara ngambeknya semalam.

Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali. Ia bahkan lupa bahwa semalam ia marah karena melihat Kibum bersama wanita lain. Ia sadar lebih dulu bahwa tindakannya kekanakan karena itu sekarang Jarin tidak akan mempermasalahkannya lagi.
“Aku tahu,” gumamnya seraya membenamkan kepalanya ke dada Kibum. Tercium bau feromon pria ini yang disukainya.
“Lalu kenapa kau berlari menghindar lalu membiarkan dirimu basah kuyup oleh hujan?”
“Aku hanya ingin menjernihkan pikiranku. Lagipula siapa yang tidak kesal, aku menunggu ucapan selamatmu sejak siang yang tak kunjung datang. ternyata ketika aku menemuimu kau sedang asyik bercanda dengan perempuan lain,”
“Itu..” untuk kali ini Kibum merasa sangat bersalah. “Mianhae, pasienku banyak hari ini hingga aku lupa untuk menanyakan hal itu.” ia menarik Jarin agar memandangnya. “kau pasti kesal.”
“Huh, kau tahu dengan jelas,” gerutu Jarin. Ia terdiam karena sadar kini Kibum sedang menatapnya lekat.
“Waeyo?”
“Jarin..” gumamnya. Kedua tangannya entah sejak kapan sudah bertengger manis di pinggang Jarin. Gadis itu hanya mengerjapkan mata. Benar bukan, tingkah Kibum begitu aneh pagi ini.
“Kau mendadak manis. Apa terjadi sesuatu semalam?” tanya Jarin dengan alis terangkat sebelah.
“Tidak,”
“Lalu..”

Kibum tidak berkata apapun, hanya merapikan rambut berantakan Jarin dengan jari tangannya. “Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu,”
“Apa?” Jarin mendadak waspada. Melihat ekspresi Kibum yang menegang, ia takut berita yang akan didengarnya adalah berita buruk.
Kibum menarik tengkuknya mendekat lantas menempelkan bibir mereka. Pagi-pagi begini Kibum sudah mengajaknya berfrench-kiss. Sebenarnya berita apa yang ingin disampaikan kekasihnya sampai-sampai harus diawali oleh hal romantis seperti ini? Omo, mungkinkah Kibum akan memutuskannya? Ia pernah mendapat perlakuan seperti ini dari salah satu kekasihnya dahulu. Kekasih yang hendak memutuskannya itu tiba-tiba menciumnya dalam lalu mengakhiri hubungan mereka. Apa mungkin Kibum juga akan seperti itu?

Dengan pikiran yang dipenuhi rasa takut kehilangan ia lekas mendorong bahu Kibum. “Apa yang akan kau katakan? Jangan membuatku bingung,” tegas Jarin. Wajahnya tampak memelas. Bukannya menjawab Kibum justru mengecupnya lagi sampai ia kesulitan bernapas.
“Kim Kibum!!!” Jarin terpaksa menyebut namanya. Mengapa Kibum suka sekali membuat orang penasaran sekaligus salah paham? Dia selalu membuat segalanya tampak misterius.

Kibum sama sekali tidak terpengaruh raut marah Jarin. Ia justru tertawa lalu mengecupnya singkat sebelum berkata, “Lama sekali rasanya aku tidak mendengarmu menyebut namaku.”
“Mwo?” Jarin menaikkan alisnya sebelah dengan ekspresi tidak mengerti. Kibum memeluknya kembali tanpa berniat menjawab kebingungannya sama sekali. Jarin sungguh tidak habis pikir dengan yang terjadi pada kekasihnya pagi ini.
“Apa kau salah minum obat?” bisik Jarin ketika Kibum meletakkan dagu di pundaknya.
“Aku tidak meminum obat apapun.”
“Lalu kenapa kau bertingkah aneh?”
Kibum lagi-lagi tidak menjawab, hanya diam sambil sesekali menghirup wangi tubuh Jarin. Gadis itu sudah tidak sabar lagi, ingin kembali melayangkan protes namun Kibum menahannya agar tidak beranjak. Jarin akhirnya pasrah, ia mendiamkan diri dalam pelukan Kibum. Ia bertanya-tanya dalam hati kenapa pria ini tidak pergi bekerja, padahal sekarang bukanlah hari minggu.

“Jarin, apa kau bersedia menjadi istriku?”

Jarin melebarkan mata mendengar nama itu. Apa ia tidak salah dengar? Ia terburu-buru membalikkan badannya menghadap Kibum. Bertanya dengan nada senang dan tidak percaya.
“Apa?” ia tak percaya dengan telinganya sendiri karena itu ia menatap Kibum. Kumohon jangan bercanda karena itu sama sekali tidak lucu. Aku terlalu senang sekarang sampai aku tidak yakin masih bisa hidup seandainya tahu kau berbohong. Batinnya.

Kibum mengangguk pasti, “Aku bertanya pada Appa hari ini dan entah apa alasannya, tiba-tiba saja dia menyetujui kita menikah,”
“Jinjjayo?” Jarin lekas memeluk Kibum dengan seluruh rasa senang melingkupi dirinya, “Kau tidak bercanda bukan?” bisiknya. Kibum balas memeluk Jarin tak kalah erat. Ia begitu gembira karena akhirnya bisa memberikan kebahagiaan yang diharapkan Jarin.
“Tentu saja tidak,” balasnya.
Jarin tertawa di sela rasa bahagianya, “Jadi ini alasan kenapa kau bertingkah aneh, kenapa tidak mengatakan langsung saja? Dasar Tuan misterius!”
“Aku suka sekali membuatmu terkejut,” kekeh Kibum lalu mengecup pelipisnya lembut. Jarin bisa mendengar tarikan napas leganya. “Kita akan menikah,” ulangnya.
“Ya, aku tidak sabar ingin menjadi istrimu,”

—o0o—

Segalanya berubah menjadi baik semenjak hari itu. Jarin tidak pernah mendengar komplain dari para pemegang saham yang tampaknya puas dengan hasil kerja kerasnya. Dan hari ini adalah puncak kebahagiaan bagi Jarin dan Kibum karena hari ini adalah hari pernikahan keduanya.

Jarin berdiri di depan cermin besar. Matanya berkaca-kaca melihat pantulan dirinya sendiri dalam balutan gaun putih yang sangat indah. Ia mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun, kakak laki-lakinya yang kini sedang menatapnya dengan wajah merengut.
“Kenapa wajahmu, Chokobi?” tanyanya heran. Kyuhyun mendekat, lantas memeluknya tegas.
“Aku tidak percaya, akhirnya kau menikah dengan Kibum juga. Jinjja Cho Jarin, aku sangat senang hari ini.”
Di balik tubuh Kyuhyun Jarin tersenyum simpul. Ia tahu meskipun terkadang kakaknya sangat menyebalkan, namun dia tetaplah kakak terbaik baginya.
“Gomawo.”
“Jaga Kibum baik-baik, dia sahabatku..”
“Huh, kenapa rasanya seperti kau takut kehilangan Kibum ya?”
“Diamlah,” ujar Kyuhyun, ia masih memeluk Jarin karena ini adalah kali terakhirnya sebelum Jarin resmi menyandang marga lain di depan namanya.

Jarin melepaskan pelukan Kyuhyun lalu mengalihkan perhatiannya pada pria lain yang terlihat paling sedih hari ini, yaitu Ayahnya.
“Appa..” Jarin memanggil Ayahnya lembut, pria itu masih tidak mau menoleh padanya. Terlalu sibuk merenungi diri. “Seharusnya Appa menjadi yang paling bahagia hari ini, kenapa Appa justru sedih?”

Tuan Cho dengan berat hati mengangkat kepalanya menatap Jarin, ia berjalan mendekati putrinya. Menggenggam erat tangan Jarin dengan mata berkaca-kaca, “Oh Jarin, sungguh Appa masih tidak sanggup melepaskanmu menikah hari ini. Putri kecil Appa, sekarang akan menjadi milik pria lain, Oh tidak..”
“Appa..” Jarin memeluk Ayahnya yang menangis sesenggukan. Ia menoleh pada ibunya yang baru saja masuk ke dalam ruangan tempatnya berada.
“Loh, kenapa Ayahmu menangis?”
Jarin hanya tersenyum kecil, “Hanya tidak rela membiarkan putrinya menikah.”
“Appa, kau sungguh kekanakan.” Ujar Eomma sambil mencoba melepaskan pelukannya pada Jarin. “Kau harus belajar menerima kenyataan. Jarin sudah dewasa. Tidak mungkin selamanya akan tinggal bersama kita, bukan?”

Jarin menggelengkan kepala melihat Ayahnya masih terus bersedih ria di bahu ibunya. Sepertinya sekarang ia tahu darimana Kyuhyun mendapatkan sikap manja, melankolis, dan terkadang cengeng jika sudah menyangkut orang yang dicintai. Tentu saja sifat itu didapatkannya dari Ayahnya.
“Jarin, bersiaplah, acaranya akan dimulai beberapa saat lagi dan Kyuhyun, Hyun Jung mencarimu di aula,”
Kyuhyun mengangguk lalu pergi untuk menghampiri istrinya sementara Jarin langsung didera kegugupan yang biasa melanda para calon pengantin sebelum acara pemberkatan. Dengan digandeng Ayahnya yang sudah tenang, perlahan ia melangkah keluar dari kamar rias menuju tempat pemberkatan dilaksanakan. Jinjja, ia sungguh gugup. Ia bahkan ragu apa bisa melangkah dengan benar saat menuju altar nanti.

—o0o—

Senyum Kibum hari ini adalah senyum paling indah seumur hidupnya. Ketika mars pernikahan mengumandang, matanya terpaku pada sosok cantik yang berjalan di atas karpet merah yang ditaburi kelopak mawar putih dengan gaun pengantin. Meskipun gaun itu indah, namun menurutnya tak bisa mengalahkan keindahan gadis yang kini memakainya. Dialah Cho Jarin, gadis yang amat dicintainya.

Akhirnya setelah melewati masa pacaran yang panjang dan berliku, tiba saatnya dimana ia akan mengikat gadis itu dalam ikatan suci seperti yang diidamkan mereka sejak lama.
Ia begitu terpaku, dan senyumnya semakin merekah tatkala Jarin sudah berdiri di depan matanya dengan senyum termanis yang membuatnya berdebar. Ia mengapit tangan Jarin yang terbalut sarung tangan transparan. Memandang sejenak wajah Ayah mertuanya yang tersenyum bahagia.
“Jagalah Jarin untukku.”
“Tentu saja,” Kibum tersenyum lalu membimbing Jarin agar berdiri di sampingnya, menghadap pada pendeta yang akan mengukuhkan mereka sebagai suami isteri.

Suara tepuk tangan terdengar tatkala pendeta itu mengesahkan mereka sebagai suami isteri. Jarin ingin menangis, namun ditahannya karena airmata harunya sudah terwakili oleh tangisan yang keluar dari mata ibu, Ayah, dan kakaknya. Sekarang ia terpaku menatap Kibum. Bolehkah ia memanggilnya ‘suamiku’ mulai saat ini?
Mulutnya masih kelu untuk berkata, sehingga Kibum lebih dulu berkata.
“Saranghae,” ujarnya sambil menyematkan cincin di jari manis Jarin. Cincin yang dirancang khusus oleh kakak laki-laki Kibum, Kim Heechul. Tanpa menunggu aba-aba dari pendeta Kibum lekas memagut bibirnya. Jarin agak terkejut, namun detik berikutnya ia balas mencium bibir suaminya tak kalah menggebu.

Teriakan riuh rendah kembali terdengar heboh. Teman-teman Kibum-lah pelaku utamanya. Tentu saja yang paling keras berteriak adalah Kyuhyun dan Eunhyuk.

“Nado saranghae,” bisik Jarin rendah.

The End

159 thoughts on “Another Story In Shady Girl (Kibum’s Story) // Beautiful CEO – Ending

  1. Ciee kibum jarin :v akhirnya menikah. Setelah melewati masa-masa yang cukup sulit mereka bisa bersama juga. Aeh, aku bisa membayangkan wajah kibum saat di altar. Ahh, pasti sangat mempesona :v
    happy end

  2. Aww~~~yeyyy finally they are married
    Uhh happy endingnya suka bangett 😘😘😘😘😘

    Good idea,good job 👍👍👍👍

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s