I Hate You, But.. (Part 9)

Tittle : I Hate You, But Part 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Married Life, Sad
Twitter : @julianingati23 *follow me ^_~*

Main Cast :

  • Kim Soeun
  • Choi Siwon

Support Cast :

  • Lee Donghae
  • Cho Yoohee
  • Park Eunji

Warning : FF ini milik author. Jangan copy paste, memplagiat, memposting ulang FF ini. Hargai jerih payah Author, oke ^_^

Meskipun FF ini dipostingnya lama, bahasanya masih amburadul, tidak sesuai EYD, tanda baca ngawur, karakter aneh, cerita dan alur gak nyambung, dan banyak kekurangan lain semua karena author masih mempunyai banyak kekurangan. ^^v

Happy Reading

I Hate You, But 2 by Dha Khanzaki

===Part 9===

“Donghae!!”

Suara teriakan melengking keras disertai hiruk pikuk panik terdengar dari arah pintu masuk utama rumah sakit. So Eun masih terisak di tempatnya di dalam taksi menoleh kaget mendengarnya. Ia lebih terkejut lagi karena nama Donghae disebut-sebut.

“Pak, berhenti,” So Eun segera meminta sopir taksi untuk menghentikan mobil. Setelah berhenti, So Eun secepat mungkin berlari ke arah kerumunan mencoba melesak memasukinya. Matanya membelalak melihat seorang berpakaian rumah sakit dipindahkan ke tempat tidur dorong dan orang-orang itu segera membawanya pergi dengan raut panik. Sekilas, So Eun bisa melihat wajah orang itu. Dari sudut manapun ia tahu itu adalah Lee Donghae. Rasa paniknya bertambah dua kali lipat. So Eun ikut berlari mengejar Donghae yang dilarikan ke ruang IGD.

—o0o—

Yoo Hee tahu semenjak Donghae mencabut selang infusnya lalu berlari seperti orang kerasukan, hal seperti ini pasti akan terjadi. Ketika ia berlari mengejar Donghae lalu melihat tubuh pria itu terhuyung jatuh, Yoo Hee merasa dunianya ikut runtuh. Ia tidak pernah merasa setidak berdaya ini. Terlebih ketika dirinya meneriakkan nama pria itu yang hampir saja jatuh jika ia tidak menyongsongnya, awan mendung seperti menutupi langit. Sekujur tubuh Donghae terasa panas dalam pelukannya. Itu membuatnya jauh lebih sakit lagi.

Sekarang, ia berdiri di depan ruang IGD seperti seseorang yang hampir kehilangan anak kesayangannya. Baru kali ini ia merasa kerja kerasnya menjadi seorang dokter tak ada artinya. Ia tak henti-hentinya berdoa dan sesekali melirik pada empat orang yang menunggu dengan wajah tak kalah cemas sepertinya. Mereka adalah kedua orang tua Donghae, kakak laki-laki Donghae yang langsung datang begitu dikabari dan seorang gadis yang membuat Donghae berlari seperti orang gila. Kim So Eun.

“dr. Cho, Anda bisa pergi. Aku yakin kau masih memiliki pasien untuk di tangani,” ucap Tuan Lee sambil menenangkan istrinya yang menangis sejak awal.
“Gwaenchana. Aku akan pergi setelah memastikan Donghae-ssi baik-baik saja.” ucap Yoo Hee yakin. Ia memilih duduk di samping So Eun yang sejak tadi terus berdoa.

“So Eun-ssi,” ucapnya, tak bermaksud mengganggu acara khusuk So Eun. Merasa namanya dipanggil, So Eun menoleh.
“Yoo Hee-ssi?” gumam So Eun mengenali. Ia tidak lupa adik dari Cho Kyuhyun, sahabat Siwon yang baik dan menyenangkan itu. Ia memindai Yoo Hee dan baru menyadari bahwa gadis itu memakai pakaian khas dokter.
“Kau seorang dokter?” ucapnya terkejut. Yoo Hee mendesah lemah.
“Ah, reaksi yang sama seperti Donghae-ssi,” gumamnya. “Aku bahkan baru tahu hari ini namanya Lee Donghae.” ia menatap So Eun penuh arti. “Setelah kuamati, ternyata kalian memiliki banyak kesamaan.”

So Eun membelalakkan matanya mendengar penuturan Yoo Hee. “Apa maksudmu?”
“Hanya ada dua kemungkinan mengapa seorang pria dan wanita tampak mirip dari sisi fisik ataupun psikis. Yang pertama, kemungkinan mereka berjodoh, atau yang kedua..” Yoo Hee memandang So Eun, “Mereka bersaudara,” ucapnya nyaris berbisik.

Kali ini, So Eun merasa sekujur tubuhnya membeku. Kata-kata Yoo Hee langsung bergema di telinganya seperti kalimat yang diteriakkan di perbukitan, membuatnya merasa diteror. So Eun mengigil tanpa sebab. Ia tahu tidak ada AC di lorong ini tapi mengapa seluruh tubuhnya bergetar? Ia merasa takut. Sangat takut. Ia memeluk tubuhnya sendiri tanpa sadar.

Ketakutannya sedikit teratasi ketika pintu ruang IGD terbuka. Yoo Hee dengan sigap menghampiri dokter dan beberapa asistennya yang keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana?”cecar Yoo Hee tak sabar. Dokter itu tersenyum. “Tak ada yang perlu dicemaskan lagi. Kondisi pasien sudah kembali stabil. Hanya saja, saat siuman nanti tolong jangan biarkan dia menerima kabar yang mengejutkan atau semacamnya. Itu akan mempengaruhi kondisi psikologisnya lagi.”

Semua orang yang mendengarkan dengan seksama itu mengangguk bersamaan. Eomma mendesah lega dan segera memeluk suaminya. So Eun tidak sempat melihat Donghae karena ia terlalu syok atas ucapan Yoo Hee. Ia undur diri secara diam-diam. Pergi dari tempat itu tanpa seorang pun yang menyadarinya.

—o0o—

Siwon menyadari rumahnya gelap gulita ketika ia tiba di rumah. Ia bertanya-tanya apakah So Eun belum pulang dari kantornya tetapi ketika ia melihat lampu kamar menyala, Siwon tersenyum menemukan istrinya berada di sana. Senyumnya pudar perlahan saat Siwon melihat raut sedih di wajah So Eun.

“Ada apa?” tanyanya bingung. Siwon menyingkap rambut panjang So Eun yang menutupi wajahnya. Hatinya bergeser sakit saat ia melihat lelehan airmata di pipi istrinya. “Kau seperti ini sejak kembali dari rumah sakit. Sebenarnya apa yang dibicarakan dokter tentang Donghae?”

Nama Donghae yang disebut-sebut Siwon seperti alarm yang mengingatkannya pada kisah menyedihkan dalam hidupnya. So Eun merasa sangat frustasi dan marah. Ia merasa seperti orang bodoh yang sudah dibohongi selama bertahun-tahun oleh orang tuanya sendiri terutama Ayahnya.

“So Eun,” Siwon menyentuh dagu So Eun dan menghadapkan wajah sedih istrinya ke arahnya. Hatinya mencelos melihat lelehan airmata membekas di wajah So Eun. Jelas sekali istrinya ini baru saja menangis. So Eun melingkarkan tangannya di leher Siwon sebelum suaminya itu membuka mulut. Alhasil, semua kata-kata yang akan diucapkan Siwon tertelan kembali. Ia bahkan lupa beberapa saat lalu ia marah pada istrinya ini. Ia balas memeluk So Eun yang menyembunyikan wajah di lehernya.

So Eun tanpa mengatakan sepatah katapun perlahan mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu dan Siwon bisa melihat sekelebat bayang kesedihan dalam sorot mata jernih So Eun. Mulutnya sudah bergerak untuk bertanya, namun lagi-lagi kalimatnya tak berhasil disuarakan karena tangan So Eun menarik wajahnya mendekat, dan bibir mereka bertemu kemudian.

Siwon tahu ini cara So Eun agar ia berhenti bertanya tentang masalah yang membuatnya menangis. Ia mengakui pikirannya mengabur berkat ulah So Eun dan ia tidak peduli lagi apakah ini hanya akal-akalan So Eun saja karena pada kenyataannya Siwon mulai terpancing. Buktinya So Eun tidak menolak ataupun protes ketika Siwon mendorong dirinya jatuh ke atas tempat tidur dan setelahnya, mereka kembali terbakar rasa yang membuat diri mereka melayang tinggi.

—o0o—

Donghae baru siuman dua hari setelah kejadian itu. Ia terbangun di pagi hari yang dihiasi rintik hujan. Ruangan tempatnya di rawat terasa lembab namun hangat, dan wangi. Samar-samar Donghae melihat sesosok wanita sedang memeriksa kondisinya. Ia sempat mengira itu adalah suster yang biasa datang mengecek keadaannya. Tetapi ketika ia memicingkan mata untuk melihat lebih jelas, ia sadar bahwa itu adalah gadis dokter yang bernama Cho Yoo Hee.

“Oh, kau sudah siuman.” Entah hanya perasaan Donghae saja namun kata-kata Yoo Hee terdengar gembira dan lega.
“Berapa lama aku terkapar?” gumam Donghae sambil berusaha bangun. Yoo Hee segera membantunya.
“Dua hari, tapi tenang saja kondisimu sudah kembali stabil. Lain kali jangan bergerak berlebihan seperti hari itu. Sebenarnya apa yang kau kejar sih? Berlari seperti orang kerasukan dengan kondisi sakit. Beruntung kau tidak mati.” Cerocos Yoo Hee panjang lebar. Donghae tidak berniat menjawab karena rasanya aneh jika ia menceritakannya pada orang asing seperti Yoo Hee. Ia berteriak kaget ketika Yoo Hee tanpa mengatakan apapun menyentuh baju rumah sakitnya, hendak membuka bajunya.

“Ya, apa yang kau lakukan!” serunya dengan suara serak. Yoo Hee menyingkirkan tangan Donghae dari dadanya.
“Aku ingin memeriksa kondisimu. Diamlah, Donghae-ssi.”

Donghae mengerutkan kening dan berhenti protes. Ia jusru heran karena Yoo Hee menyebutkan namanya dengan cara yang berbeda seperti orang kebanyakan. Terlebih ia tidak ingat kapan ia memberitahukan namanya pada gadis ini. Yoo Hee memeriksa menggunakan stetoskopnya, memeriksa denyut nadinya, dan mencatatnya dengan tekun. Donghae hanya memperhatikannya dengan wajah bertanya-tanya. Entah kenapa ia tertarik memperhatikan ekspresi Yoo Hee ketika gadis itu mengangguk-angguk setelah memeriksanya. Donghae menggelengkan kepalanya cepat menyadari tindakan aneh yang dilakukannya.

“Aku akan kembali siang nanti untuk mengecek kondisimu lagi. Sekarang beristirahatlah,” ucap Yoo Hee sambil membereskan peralatan yang dibawanya.
“Lebih baik kau jangan kembali,” gumam Donghae. Yoo Hee menoleh, ia tidak mendengar jelas apa yang Donghae katakan tadi.
“Apa?”
“Aniya. Pergilah. Aku akan istirahat.” Yoo Hee tersenyum lalu beranjak keluar dari ruangannya. Ketika ia akan menutup pintu ruangan, ia berpapasan dengan seorang gadis. Sepertinya dia akan menjenguk Donghae.
“Apa Donghae ada?” tanyanya hati-hati. Yoo Hee menatapnya menyelidik. Ia tidak suka melihat seorang wanita yang datang menjenguk Donghae, entah kenapa.
“Ada. Tapi dia baru saja beristirahat. Anda siapanya?”
“Aku kekasihnya.” Ucap gadis itu membuat Yoo Hee mengerjapkan mata. Ia menoleh ke dalam ruangan sekilas, jadi Donghae sudah memiliki pacar?
“Oh,” ucap Yoo Hee kikuk. Ia membuka pintu kamar Donghae lalu berkata pada pria yang sedang berbaring di atas ranjang dengan perasaan campur aduk. “Donghae-ssi, ada tamu.”

Donghae sebenarnya tengah termenung memikirkan masalah antara dirinya dan So Eun. Ia berencana mengkonfirmasi hal itu pada kedua orang tuanya saat mereka datang menjenguknya nanti tetapi lamunannya itu buyar ketika ia mendengar suara Yoo Hee.
“Donghae-ssi, ada tamu.”

Kepalanya terangkat ke arah pintu. Yoo Hee mempersilakan seseorang masuk. Donghae mengerjapkan mata ketika seorang gadis masuk lalu tersenyum padanya. Keningnya berkerut. Ia heran kenapa gadis yang ditemuinya di pesta waktu itu bisa berada di sini.

“Park Eun Ji,” ucapnya dengan nada memastikan. Eun Ji melambaikan tangan dengan wajah ceria.
“Jadi dia kekasihmu ya, cantik sekali.” ucap Yoo Hee dengan senyum yang terlihat aneh. Donghae terkejut mendengarnya. Namun entah kenapa ia tidak keberatan dengan anggapan Yoo Hee. Mungkin dengan begitu Yoo Hee akan berhenti mengganggunya.
“Ya, dia kekasihku.” Lirihnya. Yoo Hee berhenti tersenyum.
“Begitu ya. Kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian,” ia menundukkan kepala sekilas lalu pergi dengan wajah yang menyiratkan luka. Sebenarnya Donghae merasa bersalah sudah membuat Yoo Hee berwajah seperti itu. Ia menepis rasa bersalahnya dengan menatap Eun Ji.
“Gadis tadi sepertinya menyukaimu,” ucap Eun Ji sambil berjalan mendekatinya. Ia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Donghae.
“Dia hanya dokter yang merawatku,” tepis Donghae. “Ada perlu apa kau kemari?”

Eun Ji mengeluarkan kotak cokelat dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Donghae. “Aku datang untuk menjengukmu. Aku mendengar dari Siwon kau kecelakaan.”
“Sebenarnya, kau tak perlu repot-repot menjengkukku dan membawakan..cokelat.” Donghae agak ragu melihat cokelat di tangannya. Ia masih curiga pada Eun Ji yang sempat menawarinya bekerja sama untuk memisahkan Siwon dan So Eun. Baginya, sekarang memisahkan So Eun bukan inti masalah dalam hidupnya lagi. Tak ada gunanya ia melakukan hal itu karena dirinya dan So Eun bersaudara. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa bersatu dengan So Eun. Mereka terhalang oleh hubungan darah yang bahkan lebih kental dari pada air. Lebih kuat dibandingkan simpul tali apapun.

“Aku tahu mungkin terdengar aneh. Tapi sepertinya aku tertarik padamu,” ujar Eun Ji. Donghae tidak terkejut mendengar kalimat itu. Sudah banyak wanita yang mengatakan hal yang sama seperti yang Eun Ji katakan barusan.
“Yah, sepertinya itu alasanmu datang kemari.”

Eun Ji tertawa. Mungkin itu akan terlihat manis di mata pria lain namun bagi Donghae, senyum So Eun tetaplah yang paling indah. Namun sepertinya Donghae tidak tahu bahwa Eun Ji pintar sekali membuat para pria terpesona padanya. Seperti saat ini, tanpa sadar Donghae ikut tersenyum. Entah berapa lama ia mendengar cerita Eun Ji tentang dirinya, keluarganya, dan kisah cintanya bersama Siwon.

“Jadi, kau belum bertemu dengan ibumu sampai detik ini?” tanya Donghae. Eun Ji sekarang sedang duduk di tepi tempat tidurnya sambil mengupaskan apel untuk Donghae.
“Appa tidak pernah membicarakan ibu semenjak mereka bercerai ketika usiaku masih kecil. Aku tidak tahu ibuku masih hidup atau tidak.”
“Apa kau tidak merindukannya?”

Eun Ji menoleh menatap Donghae, sinar wajahnya meredup. “Terkadang. Namun aku tidak pernah kekurangan kasih sayang dari ayahku. Karena itu aku tidak pernah berpikir untuk mencari ibuku.”

Donghae terdiam menatap tangannya yang memegang potongan apel, ia mendadak ragu apakah harus bertanya perihal masalahnya atau tidak. Ia memang penasaran. Tapi ia takut hal itu akan membuat keluarga yang membesarkannya terluka. Selama ia kecil hingga sekarang tak pernah sedikitpun ia kekurangan cinta. Mereka membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Apakah terkesan kurang ajar jika ia menorehkan luka pada orang tua yang sudah membesarkannya sebaik mereka?

—o0o—

So Eun berpapasan dengan Eun Ji ketika ia datang untuk menjenguk Donghae. Ia sempat memasang pose waspada namun ketika gadis itu tersenyum manis, So Eun melemaskan tubuhnya. Sepertinya Siwon benar tentang Eun Ji yang sudah berubah.

“Wah, tak kusangka kita bertemu di sini.” Ungkap Eun Ji. Ia menilik keranjang buah yang dibawa So Eun. “Kau ingin menjenguk seseorang? Apakah itu Donghae?”
So Eun terkejut, “Bagaimana kau tahu?”

Eun Ji tersenyum ramah, “Aku baru saja menjenguknya.”
“Oh, ne.” So Eun mengangguk pelan meskipun ia masih bingung bagaimana Eun Ji bisa mengenal Donghae. Ia menundukkan kepalanya pamit. Baru beberapa langkah ia berjalan, Eun Ji kembali memanggilnya.
“So Eun-ssi.”

So Eun menoleh. Eun Ji kini memperlihatkan senyum bersahabat padanya. “Maafkan sikapku selama ini. Mungkin semuanya akan berjalan baik jika kita menjalin hubungan baik sejak awal. Apakah kita bisa berteman?”
So Eun tahu saat mendengarnya, ia merasa sangat lega. Benar seperti dugaannya. Eun Ji tetaplah manusia biasa. Ia berjalan menghampiri Eun Ji lalu mengulurkan tangannya.
“Tentu saja.”

Eun Ji tersenyum pada So Eun dan mereka berjabat tangan. So Eun berbalik pergi dengan senyum lega terpatri di wajahnya. Senang sekali mengetahui bahwa ia sudah tidak memiliki musuh lagi. Senyumnya perlahan-lahan pudar ketika dirinya sudah tiba di depan kamar rawat Donghae. Ia melihat kedua orang tua Donghae berada di sana. So Eun mnarik napasnya sebelum masuk.

Kedua orang tua Donghae tampak terkejut, begitu pun Donghae. So Eun berani sekali datang kemari seorang diri. Batin Donghae ketika melihat So Eun tersenyum lalu membungkukkan badannya.
Tuan Lee tetap memperlihatkan wajah angkuhnya sementara Nyonya Lee menyambut So Eun karena tidak ingin melihat wajah sedih putranya.
“Aku tidak akan berlama-lama di sini, Tuan dan Nyonya Lee,” ucap So Eun langsung. Seluruh mata di ruangan itu memandangnya tak terkecuali Donghae. Pria itu bertanya-tanya apa yang ingin dikatakannya. Perhatiannya kini beralih pada Tuan Lee.

“Aku hanya ingin Anda menceritakan satu kisah padaku.” So Eun menarik napas sejenak, “Ceritakan bagaimana bisa aku dan Donghae bersaudara.”
Tuan Lee dan istrinya saling pandang sementara Donghae merasa hatinya tersayat-sayat melihat So Eun berkata dengan mata berkaca-kaca. Ia bisa merasakan apa yang So Eun rasakan sekarang. Ia ikut menatap Ayahnya seperti So Eun menatapnya.

“Kim So Eun, tak sepantasnya kau—“ ucapan Nyonya Lee terpotong karena Tuan Lee memegang tangannya. Nyonya Lee menoleh pada suaminya yang tampak pucat. Ia tidak tega melihat suaminya seperti ini namun suaminya itu terlihat yakin bahwa ia memang harus menjelaskan sesuatu pada dua anak muda di depannya.
“Appa, pikirkanlah lagi sebelum bercerita.” Pinta Nyonya Lee.
“Sebegitu sulitnya kah?” semua perhatian kini teralih pada Donghae yang sejak tadi diam. Pria itu menatap kedua orang tuanya dengan penuh kesungguhan. Cukup, kumohon kalian berhenti menyembunyikan semua ini dariku, itulah arti ekspresi yang tersirat di wajah Donghae.

Tuan Lee tidak pernah tega membuat anak-anaknya menderita. Mungkin memang sudah saatnya Donghae tahu cerita sebenarnya mengenai dirinya dan masa lalunya. Tuan Lee menghela napas berat. Ia bangkit mengambil sebuah buku tua yang ada di dalam tas kerjanya lalu menyerahkannya pada Donghae. Kim So Eun menatapnya ingin tahu.
“Apa ini?” tanya Donghae bingung.
“Itu buku harian mendiang ibumu,” gumam Tuan Lee dengan suara tercekat.

Donghae dan So Eun mengerjap. Donghae membuka buku dengan sampul yang terbuat dari bahan kulit itu tidak sabar, So Eun bangkit dari duduknya untuk melihat sendiri apa isi di atas buku harian itu. Tidak ada yang istimewa selain tulisan tangan yang tercetak dengan huruf-huruf yang tertata rapi. Donghae melebarkan mata ketika ia melihat selembar foto tertempel di halaman kedua.
“For My Memories, Lee Soohae,” Donghae langsung melemparkan tatapannya kepada Ayahnya dengan raut bertanya-tanya. Seolah paham, Tuan Lee mengangguk membenarkan.
“Dia adalah Mendiang ibumu.”

Sekujur tubuh Donghae bergetar. So Eun menutup mulutnya tak percaya, hari ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sosok ibu Donghae sebenarnya. Jadi seperti ini, garis wajahnya, sorot matanya, sampai caranya tersenyum dalam foto sungguh cerminan dari Donghae.
“Bagaimana beliau bisa menjalin cinta dengan Ayahku? Tepatnya, kapan? Jika mereka menjalin hubungan ketika Ayah sudah menikah dengan Ibu, itu artinya mereka berselingkuh?” tanya So Eun tak sabar. Hatinya bergemuruh hebat jika mengingat bahwa Ayahnya sendiri melakukan tindakan sekeji itu pada Ibunya. Ia tidak mau percaya jika seandainya Tuan Lee berkata ‘iya’ karena itu artinya, selama ini ia sudah mengagung-agungkan seorang pria yang berkhianat pada istrinya sendiri?

Tuan Lee menatap So Eun dengan emosi yang tak stabil karena ia akan menceritakan kisah yang sudah disimpannya selama bertahun-tahun.

“Soohae dan Ayahmu mulai menjalin hubungan ketika mereka masih duduk di bangku kuliah,” ujarnya mengawali. “Mereka saling mencintai dan sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Ayahmu berjanji pada keluarga kami akan menikahi Soohae begitu dia berhasil memenangkan tender untuk perusahaan yang dirintisnya. Aku jelas tidak bisa menentang karena tidak bisa melihat Soohae sedih sehingga kami membiarkan mereka menjalin hubungan..”

Donghae dan So Eun mendengarkan cerita itu dengan perasaan campur aduk. Sesekali mereka saling memandang untuk mengetahui ekspresi masing-masing.
“Namun pria itu, Ayahmu..!!” tiba-tiba Tuan Lee menggeram sambil menatap So Eun. “Dia mengkhianati Soohae. Dia yang sudah berjanji akan menikahi Soohae justru menikahi wanita lain dan menghancurkan hubungan mereka yang sudah terjalin lama. Soohae yang syok mengurung dirinya selama berhari-hari. Di hari pernikahan ayah ibumu, Soohae menangis tersedu-sedu sambil menatapi foto Ayahmu. Dia bahkan tidak mengatakan bahwa dia hamil. Dua bulan setelah pernikahan Ayahmu, kami dibuat terkejut saat mengetahui Soohae kami sedang mengandung dalam kondisi yang sangat lemah. Aku tidak perlu memaksanya untuk memberitahu siapa yang membuatnya hamil karena aku tahu ayahmulah pelakunya!” Tuan Lee menunjuk So Eun dengan pandangan tajam.
“Appa, sudah..” Nyonya Lee berusaha menenangkan suaminya.

So Eun tidak bisa menahan bendungan airmatanya lagi. Ia jatuh terduduk di lantai saat mengetahui cerita pahit di balik kenyataan dirinya dan Donghae bersaudara. Hatinya sangat perih. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri berharap rasa nyeri itu bisa menghilang namun upayanya percuma. Sementara Donghae hanya terdiam di tempatnya. Pandangannya menerawang kosong. Jadi, Ayah kandungku sudah mencampakkan ibu kandungku? Batinnya pedih.

“Kami sudah memaksa Soohae untuk meminta pertanggung jawaban Ayahmu tapi dia menolak dengan alasan tidak ingin merusak pernikahan orang lain, cih!!” Tuan Lee mengumpat. “Donghae lahir beberapa bulan kemudian. Awalnya kondisi Soohae sudah membaik. Sambil menimang-nimang bayinya Soohae selalu bergumam bahwa suatu hari mungkin Ayahmu akan bercerai dengan Ibumu dan pergi menikahinya tapi bulan berganti bulan, Ayahmu tidak kunjung datang dan kenyataan itu membuat kondisi kejiwaan Soohae menurun drastis. Apalagi ketika dia mengetahui kabar bahwa Ayahmu akan memiliki anak dari ibumu, yaitu kau!!” semakin lama nada bicara Tuan Lee semakin tinggi. Pada akhirnya justru terdengar seperti menyalahkan So Eun. Ya, menurutnya So Eun adalah kesalahan terbesar yang menyebabkan Soohae terpuruk. Jika So Eun tidak ada mungkin Soohae..mungkin Soohae masih bisa bertahan hidup.

“Lalu, apa yang terjadi?” terdengar Donghae berkata dengan suara lirih. Dia memang tidak terisak, namun dari kedua sudut matanya mengalir lelehan bening.
“Suatu pagi di musim semi, kami menemukan Soohae tewas karena keracunan obat penenang yang sering dikonsumsinya. Hasil otopsi mengatakan bahwa Soohae bukan meninggal secara tidak sengaja, tetapi dia memang sengaja mengkonsumsi obat penenang dalam jumlah banyak. Ini semua karena ulah bejat ayahmu! Dia benar-benar pria brengsek yang tidak bertanggung jawab, hanya berani mengumbar janji-janji palsu dan pada akhirnya membuat hati rapuh Soohae kami hancur. Itulah dasar yang membuatnya memilih mengakhiri hidup..” Tuan Lee jatuh terduduk di sofa dengan lelehan airmata di pipinya.

“Aku sangat menyesal karena tidak bisa memberinya dorongan dan membiarkannya terpuruk seorang diri.” Tuan Lee masih merasa kematian Soohae adalah kesalahannya juga. “Soohae, dia adalah adik perempuanku satu-satunya..” lirihnya berat.
Donghae memandang Tuan Lee dengan tatapan nanar, sama dengan reaksi So Eun. Mulutnya bergetar, jadi, sebenarnya ia memiliki hubungan darah dengan Tuan Lee. Dia, dia tidak benar-benar sendiri di dunia ini.

“Aku sudah mencoba menuntut ayahmu dan membawa perkara ini ke meja hijau namun hakim memutuskan bahwa ayahmu tidak bersalah. Setelah itu aku memilih untuk membesarkan Donghae jauh dari jangkauannya. Jauh dari bayangan pria brengsek yang membuat hidup ibunya menderita. Aku mengangkatnya sebagai anakku dan membesarkannya tanpa memori tentang ibu dan ayah kandungnya.” Tuan Lee menarik napas panjang di akhir ceritanya. Ia menatap So Eun dan Donghae satu persatu.

“Karena itu aku sangat menentang kalian menjalin hubungan di saat Donghae pertama kali membawa So Eun ke rumah kami. Aku tidak masalah dia membawa gadis manapun tapi, di saat So Eun memperkenalkan dirinya dan asal usulnya, darahku langsung mendidih ketika kau menyebutkan nama Ayahmu. Rasa benci itu timbul kembali sama seperti kayu kering yang tersulut api. Kalian tidak bisa bersama karena kalian bersaudara dan karena kau anak ayahmu!” Tuan Lee bangkit lalu meninggalkan ruangannya dengan wajah menahan emosi. Ia bertahan untuk tidak melampiaskan semua amarahnya pada So eun.

Bagaimanapun dia tidak tahu apa-apa mengenai kesalahan yang diperbuat ayahnya. Nyonya Lee ikut menyusul kemudian.
Suasana masih hening bahkan setelah hanya tersisa Donghae dan So Eun di ruangan itu.
“Aku tidak pernah meminta lahir sebagai anak Ayahmu,” gumam Donghae dengan suara tercekat. So Eun menoleh padanya. Donghae mencengkram ujung selimutnya kencang. “Aku bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan!!!!” teriaknya kencang. So Eun terkejut, ia langsung mendekap Donghae yang terlihat kalap.

“KENAPA IBUKU HARUS BUNUH DIRI HANYA KARENA DICAMPAKKAN SATU PRIA? KENAPA DIA TIDAK KASIHAN PADAKU YANG TIDAK TAHU APAPUN! KENAPA DIA MEMILIH PERGI SENDIRI, KENAPA DIA TIDAK MENGAJAKKU PERGI BERSAMANYA!!!” amarah Donghae meledak. Ia berteriak frustasi seperti orang gila. So Eun terus mendekapnya berharap Donghae bisa tenang.
“Tenanglah, Oppa. Aku di sini. Aku di sini,” lirihnya. So Eun ikut menangis karena ia bisa merasakan rasa kesal, frustasi, dan sedih yang Donghae rasakan. Memang menyedihkan saat tahu orang yang membesarkan bukanlah orang tua yang sesungguhnya, terlebih saat tahu orang tua kandung sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Donghae menangis tersedu-sedu di pelukan So Eun, “Kenapa..kenapa semua ini terjadi padaku..?? Kesalahan apa yang kuperbuat??” suaranya yang tercekat dan serak membuat tangis So Eun semakin kentara.
“Kau tidak salah, Oppa. Semua terjadi bukan atas kehendak kita.”
Akhirnya, seharian itu So Eun menemani Donghae hingga pria itu tenang seutuhnya.

—o0o—

“Sibuk menjenguk Donghae lagi?”

So Eun menoleh pada Siwon yang menatapnya dengan pandangan tidak suka. Sudah hampir satu bulan ini So Eun selalu sibuk dengan urusan pria yang bahkan bukan saudaranya.
“Ne. Hari ini Donghae Oppa akan keluar dari rumah sakit.” ucap So Eun ceria. Semakin hari Siwon selalu melihat sikap perhatian So Eun pada Donghae dengan wajah yang semakin lama semakin ditekuk. Ia tidak suka. Jika boleh berkata jujur ia tidak suka melihat So Eun memberikan perhatian pada pria lain selain dirinya. Ia cemburu, itu benar. Namun ia tidak tega melihat wajah sedih So Eun. Hingga detik ini, So Eun bahkan belum menceritakan penyebab muram di wajahnya.
“Waeyo???” tanya So Eun melihat wajah tidak suka Siwon. Ia sudah membuatkan Siwon hawaiian rocomoco agar suaminya itu berhenti cemberut tapi sepertinya kali ini tidak mempan.

“Pagi-pagi begini apa yang membuat suamiku murung ya?” tanyanya sambil melingkarkan tangan di leher Siwon lalu mengecup pipinya.
“Berhenti menjenguk pria itu, aku tidak suka,” Gumam Siwon tajam. So Eun terperanjat kaget. Tanpa sadar ia melepaskan pelukannya.
“Aku tidak bisa,” So Eun memalingkan wajah. Siwon tersinggung mendengar penolakan istrinya. Ia berbalik memandang wajah So Eun yang mencoba menghindari tatapannya.

“Kenapa? Kau masih mencintainya?” tentu saja ucapan Siwon membuat So Eun terkejut setengah mati. Ia balik menatap suaminya seolah Siwon baru saja berkata bahwa dirinya berselingkuh.
“Oppa tidak bisa menuduhku sembarangan.” Elaknya.
“Lalu kenapa kau tidak menceritakan kenapa kau selalu sedih akhir-akhir ini?” Siwon akhirnya tidak bisa menahan unek-uneknya lagi. Cukup ia menunggu selama berminggu-minggu dengan perasaan yang tidak pasti.
“Kau selalu berwajah sedih setiap kali kembali setelah menjenguk pria itu. Kau pikir aku tidak tahu?”

“Kenapa Oppa berteriak padaku seolah aku penjahat?”
“Karena kau menyembunyikan sesuatu dariku!”
“Aku tidak menyembunyikan apapun!!” teriak So Eun. Siwon terkejut melihat istrinya tampak begitu tersiksa. Seperti orang yang menanggung beban berat seorang diri. “Aku pasti akan menceritakannya padamu tapi tidak saat ini. Jadi kumohon..” So Eun mengatupkan kedua tangannya di depan dada, seperti orang yang meminta permohonan. “Kumohon jangan memaksaku bercerita sebelum aku siap..”

Siwon tidak mudah untuk luluh. Semakin So Eun meminta Siwon untuk berhenti memaksanya bercerita, kadar kecurigaannya justru kian bertambah.
“Kenapa aku tidak boleh tahu? Beri aku alasan yang masuk akal kenapa aku tidak boleh memintamu bercerita?! Kau anggap aku apa? Aku ini suamimu, Kim So Eun. Aku berhak tahu apapun tentang masalahmu. Mungkin aku bisa membantumu mencari solusi atas masalah itu.”

So Eun menggeleng cepat, ia membalikkan badan membelakangi Siwon. “Kau tidak akan bisa membantuku memecahkan masalah ini.” Gumamnya lemah. Ya, Siwon tidak akan bisa memberikan solusi masalahnya dengan Donghae karena dia tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
Siwon mengangguk tegas, sekarang ia semakin paham kenapa So Eun terus bertingkah aneh akhir-akhir ini. “Aku tahu, kau memang masih mencintai Lee Donghae.” gumamnya. Ia berbalik pergi setelah merasa tidak ada gunanya lagi berdebat dengan So Eun.

So Eun menoleh cepat ke arah Siwon yang menyambar mantelnya lalu berjalan ke arah pintu. Gambaran Siwon yang pergi dengan wajah penuh amaran terngiang kembali. Memori-memori kelam awal pernikahannya seperti terbayang-bayang lagi mengaburkan pandangan So Eun. Ia mengedipkan matanya berkali-kali dan menyadari dunianya mulai berkunang-kunang.
“Oppa..” So Eun sebenarnya berteriak kencang. Namun yang keluar dari mulutnya justru ucapan lirih yang sangat kecil. Kepalanya seperti meledak dan beberapa detik setelahnya ia jatuh tak sadarkan diri.

—o0o—

So Eun terbangun setelah hidungnya mencium bau obat yang menyengat. Matanya memicing memindai tempatnya berada sekarang. Rupanya sebuah kamar rawat rumah sakit. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Samar-samar ia ingat kejadian sebelum ia pingsan. Ia berteriak pada Siwon yang berjalan pergi dan setelah itu pandangannya menggelap.
“Kau sudah sadar?”

Pandangannya kini teralih pada sosok Siwon yang masuk ke dalam ruangan. Wajahnya menyiratkan kelegaan yang luar biasa melihat So Eun sudah siuman. Ia menarik kursi di samping tempat tidur lalu mengecek suhu badan So Eun. Syukurlah suhunya sudah kembali normal.
“Oppa, mianhae.” Gumam So Eun ketika ia sadar bahwa mereka sedang bertengkar ketika ia pingsan. Ia memang salah karena tidak bisa jujur pada Siwon. Tak disangka Siwon justru memegang tangannya dengan mata berbinar-binar.

“Kau, gadis licik. Selalu saja tahu cara membuatku berhenti marah padamu.” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Apa maksudnya?” So Eun tidak paham maksud Siwon. Ia hanya tahu satu hal, Siwon tidak marah lagi padanya.
Siwon mengangkat sebelah tangannya, lalu mengecupnya lembut dengan hidung dan bibirnya. So Eun melebarkan mata takjub. Apa yang terjadi sebenarnya?
“Terima kasih sudah memberiku malaikat kecil, Kim So Eun,” gumamnya lalu menatap lurus So Eun. “Kau hamil, chagi.”

Apa? mata So Eun melebar terkejut mendengarnya.

===To be continued===

[See You at the next part ^^v]

177 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 9)

  1. greget deh sama so eun kenapa gak cerita aja sih sma siwon , harusnya cerita aja biar siwon gak curiga
    tapi seneng siwon gak jadi marah gara” so eun hamil ^^
    aku penasaran deh sama eun ji , dia itu bener” berubah atau emang ada niat jahat sih ??
    bener” gak bisa nebak
    dan poor lee dong hae T.T
    terakhir author sukses bikin aku penasaran
    daebaaak

  2. apa susah nya segh sooeun cerita ada apa , kan kasian siwon murung terus😦
    yeah akhirnya soo eun hamil🙂
    benarkah eunji udda berubah ?????
    kasian ihh yoon hee dicuekin am donghae😦

  3. ahh smoga donghae oppa sma yoo hee aja jngan sma eunji

    waah bner” mengejutkan prnyataan tuan lee , q bnr” smpe gg bsa brkta apa”

    waaah chukkae wonppa ma so eun akhirnya pnya baby

    wonppa jangan curigaan ma cmburu lagi y ma so eun🙂

  4. Lgi bnyak masalah malah diberi kabar gembira😀 akhir’a soeun hamilll! Yeay! Yoohee kasian ya blom utarain perasaan’a tpi dah patah hati duluan..

  5. kabar hamiiill .. aish selalu ikut bahagia pas denger berita kek gini ^^
    meski ditengah masalah keluarga so eun yg cukup rumit😦 tokoh keluarga Lee sepertinya lebih dominan
    next deh

  6. so eun harusny mw berbagi mslhny dgn siwon..biar mereka g ribut lg..appa donghae jg harusny cerita yg sbnrny dr awal n g nyalahin so eun..masa anak yg g tw apa2 dsalahn..part ini bnyk kejutanny..

  7. Soeun hamil??😮 akibat dari masalah yangd ihadapi soeun akhir nya ada kebahagiaan walau itu cuman sedikit. Semoga hubungan donghae dan soeun akan lebih membaik dan saling mengerti.🙂

  8. kenapa sih soo eun tdk mau cerita ke siwon .. gak ngaruh apa2 juga kan . malah siwon bisa bernafas lega dan gak marah2 lagi klo soo eun menemui dong hae .. haisshh ! btw chukkae soo eun hamil …😀

  9. yeayyyy… so eun hamil.

    kenapa so eun mah ga mau cerita ya? aku tau maslah ini.berat but dia. tp aku jg ngerti sm perasaan siwpn yg khawatir sm so eun. berharap masalah ini segera selesai

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s