Shady Girl Heechul’s Story (Part 3)

Tittle : Shady Girl Heechul’s Story Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life
Lenght : Chaptered
Akun FB/Twitter : Dha Khanzaki/@julianingati23 *follow me ^^

Main Cast :

  • Sung Young Jae
  • Kim Heechul

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Cho Jarin

Untuk yang bertanya-tanya kenapa author postingnya lama, itu adalah unsur disengaja. Author rada-rada trauma nih, gara-gara postingnya keseringan eh, FFnya dicopas. Jadilah author menjaga jarak agar bisa memonitor FF kesayangan author dengan lebih leluasa. Gak papa yah ^_^

Sekali lagi terima kasih sudah meluangkan waktunya mengunjungi situs ini dan membaca karya-karya author yang masih abal-abal. Author merasa terharu karena FF karya author dihargai oleh temen-temen. Padahal siapa sih authornya, bukan orang yang berpendidikan tinggi seperti kebanyakan author hebat di luar sana, hanya orang biasa saja yang hobinya merangkai kata dan menghayal, itu aja. Karyanya dibaca aja udah syukur apalagi sampai dihargai *hiks, #elap ingus*

Oke stop bermelankolis ria, sekarang kita baca bareng-bareng aja yuk..

Shady Girl Heechul by Dha Khanzaki

===Part 3===

Young Jae menggerak-gerakkan kakinya gelisah meskipun kini ia duduk di sebuah sofa mahal, di ruang tamu yang didesain begitu elegan dan terkesan hangat serta nyaman. Namun sofa empuk berwarna putih gading, tirai yang menutupi jendela besar berwarna merah marun, Tv set super lengkap di depannya, dan beberapa lukisan klasik yang pasti berharga di atas lima puluh juta won tidak membuatnya nyaman dan tersenyum. Ia justru merasa gugup, takut, dan khawatir setengah mati.

Bagaimana tidak, hubungannya dengan Kim Heechul dimulai dengan kejadian yang tidak menyenangkan. Tidak, itu tidak bisa disebut hubungan. Mereka berkenalan saja belum. Ia juga tidak yakin Heechul senang melihatnya. Bisa dilihat dari ekspresi yang ditunjukkan pria itu.
“Namamu Sung Young Jae, right?” Young Jae tersentak mendengar suara mencekam milik Heechul. Ragu-ragu ia menoleh ke arah samping, tepat di mana pria itu duduk angkuh dengan kaki ditumpangkan di atas kakinya yang lain.
“Iya,” suara Young Jae begitu kecil dan jauh. Ia gugup sekali, ia lebih gugup dibandingkan saat wawancara kerja dulu.
Heechul melanjutkan, “Aku tidak suka bertele-tele. Kita langsung saja ke intinya. Aku tidak suka padamu dan aku sebenarnya tidak menyetujui pernikahan di atas kertas yang sudah orang tua kita lakukan. Tapi, ada satu hal penting yang mengharuskanku melakukannya dan aku mau tidak mau menyetujui hal ini. Lagipula, bagaimana mungkin aku mau setelah tahu bahwa gadis yang akan menjadi istriku adalah gadis tengik yang sudah membuat cincinku yang berharga menjadi benda yang tak lebih bagus dari baju yang kau pakai sekarang.”

Mendengar serentetan kata dari mulut Kim Heechul yang dilontarkan padanya, Young Jae hanya bisa melongo. Pertama, ia takjub karena pertama kalinya melihat pria mampu berceramah panjang lebar seperti ini. Kedua, ia bingung karena Heechul terlalu cepat mengucapkan setiap katanya sehingga hanya sedikit saja yang bisa ia tangkap. Ketiga, ia terkejut karena ada beberapa kata yang begitu jelas terdengar di telinganya karena Heechul berkata penuh penekanan ketika mengucapkannya. Yaitu ‘tidak suka’, ‘tidak menyetujui’, dan ‘gadis tengik’.
“Kenapa kau malah menatapku?” Heechul jengah melihat gadis di depannya justru menatapnya dengan mata tak berkedip sama sekali.
“Ah, tidak,” Young Jae menggelengkan kepalanya cepat. Intinya, Heechul tidak suka dengan kehadirannya saat ini. Lalu, apa ia harus pergi dari rumah ini?
“Jadi, apa aku harus pergi dari rumah ini dan kita anggap saja surat itu tidak pernah ada?” tanya Young Jae hati-hati.
“SIAPA YANG MENYURUHMU MELAKUKAN ITU?!!!” Heechul mendadak berteriak padanya.
Young Jae melonjak kaget. Ya ampun, bukankah dia bisa mengucapkan kalimat itu dengan intonasi yang normal saja jika memang tidak setuju. Dasar pria aneh. Batinnya.

“Aku tidak menyuruhmu pergi dan bagaimana bisa surat yang dikeluarkan secara resmi seperti ini bisa di lupakan begitu saja!” Heechul meletakkan surat yang sama seperti yang Young Jae miliki dengan keras di atas meja. Lagi-lagi Young Jae dibuat terkejut. Aigoo, jika terus seperti ini situasinya, sama saja seperti ia sedang berada di persidangan.
“Lalu apa yang harus kulakukan?” desis Young Jae bingung dan takut.
Heechul menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa lalu menghela napas. “Ayo kita lakukan saja. Kita turuti apa mau mereka.”
“Hah?” Young Jae kali ini harus memeriksakan telinganya pada dokter THT. Sepertinya ia selalu salah dengar. Apa baru saja Heechul mengatakan ‘aku bersedia menikah denganmu’?
Lagi-lagi gadis ini melongo. Batin Heechul gemas. Ia mengurut pelipisnya karena rasa pening menyerang kepalanya.

“Haruskah aku mengulangi setiap ucapanku?” tanyanya sarkastis. Biasanya wanita lain akan langsung menggeleng cepat karena tidak tahan melihat ekspresinya namun Sung Young Jae lagi-lagi melakukan sesuatu yang membuat kepalanya semakin berdenyut sakit.
“Ulangi lagi hingga aku paham,”
Astaga gadis ini, geram Heechul dalam hati. Ia ingin marah sebenarnya. Hanya saja ekspresi polos Young Jae membuatnya terpaksa menahan diri. Gadis ini sepertinya memiliki prosessor otak yang lambat seperti siput.

“Aku bilang, kita lakukan saja. Kita turuti apa mau kedua orang tua kita.” Jelas Heechul sepelan mungkin.
“Jadi maksudmu kita harus berakting di depan orang tua kita? Kita harus berpura-pura bahagia saat berada di depan mereka?” ucap Young Jae.
“Bingo!” Heechul menjentikkan jarinya puas.
Young Jae mendengus. “Dasar pendusta,” gumam Young Jae. Heechul menoleh dengan alis berkerut. “Aku mana bisa membohongi kedua orangtuaku! Lagipula aku tidak bisa berakting. Kenapa kau memutuskan sesuatu yang kekanakan seperti itu! Kita bukan anak remaja lagi dan sudah sepatutnya para orang tua itu mendengarkan apa keinginan kita sebenarnya!” sungut Young Jae kesal.
Heechul megap-megap dibuatnya. Aish, jinjja yeoja ini!

“Kau pikir aku tidak tahu?! Aish, kau ini benar-benar,” Heechul mengacak rambutnya frustasi. Ia tak menyangka jika akan sesulit ini menghadapi wanita yang tampang luarnya terlihat polos dan bodoh namun ternyata bermulut tajam juga.
“Aku mengajakmu bekerja sama kau malah,” Heechul menunjuk-nunjuknya kesal. “Baik, jika kau memang menolak tawaranku, kalau begitu aku tidak akan segan-segan.” Heechul bangkit, pergi entah kemana selama beberapa saat lalu kembali lagi dengan seberkas kertas di tangannya. Ia menyerahkan berkas itu pada Young Jae.
“Apa ini?” tanya Young Jae bingung.
“Aku minta ganti rugi karena kau sudah membuat cincinku yang senilai 60 jt won jatuh harga menjadi 800 ribu won saja.”
“Hahhhhh!!!! Kapan aku menjatuhkan cincinmu???” Young Jae terbelalak kaget.
“Kau tidak ingat?!” Heechul bertanya dengan nada menyindir. “Biar kuingatkan. Saat itu aku sedang berdiri dengan tangan memegang cincin itu ketika tiba-tiba saja ada orang bodoh yang menyenggolku dan cincinku jatuh ke dalam got.”
Young Jae teringat kejadian hari itu. Saat ia pergi terburu-buru ke kantor dan tanpa sengaja menabrak seseorang hingga terjatuh.
“Tapi, aku tidak tahu saat itu kau memegang cincin, salah sendiri mengapa tidak memegang benda itu baik-baik. Malah menyalahkan orang lain—“ awalnya Young Jae ingin melanjutkan omelannya, namun kalimatnya tersendat setelah ia melihat ekspresi Heechul yang lebih menyeramkan di banding malaikat pencabut nyawa. Gawat, aku sudah salah bicara. Batin Young Jae. Akhirnya ia cepat mengatupkan bibirnya kembali.

“Jadi kau benar-benar ingin mengganti kerugianku? Baiklah,” Heechul bangkit, membuat bulu kuduk Young Jae meremang. Mau apa dia? Heechul tiba-tiba menatap Young Jae dengan mata iblisnya. “Rupanya kau memang memilih jalan pintas. Akan kusiapkan surat perjanjian pembayarannya.”

Heechul melangkah dan saat itulah Young Jae merasa dunianya menggelap. Cek senilai 60 juta won melayang-layang dalam benaknya. Darimana ia mendapatkan uang sebanyak itu? gajinya bekerja selama satu tahun tidak akan cukup. Tunggu, tidak hanya itu masalahnya. Jika ia memilih membayar uang itu, bukankah artinya ia tidak bisa tinggal di rumah ini dan ia akan menjadi gelandangan selama beberapa hari sampai menemukan apartement yang cocok? Tidak, tidak, tidak!!!!!
“Aaaaaarrgghhh, tunggu!!!” Young Jae mendadak berteriak. Langkah Heechul terhenti seketika. Matanya membulat karena terkejut. Ia menoleh ke arah Young Jae yang kini duduk bersimpuh di lantai sambil memeluk kakinya.
“Aku..aku bersedia bekerja sama denganmu.” Lirih Young Jae dengan kepala menunduk. Hatinya bergetar saat ia mengatakan kalimat itu. Perlahan, dengan penuh keraguan namun pasti Young Jae mengangkat kepalanya, menatap Heechul yang melongo melihatnya.
“Ayo, kita berpura-pura saling mencintai di depan para orang tua itu hingga mereka puas.”

Heechul tersenyum. Inilah kalimat yang ia tunggu-tunggu. “Keputusan yang bijak,” ia mengendikkan kakinya. “Sekarang lepaskan kakiku!”
Young Jae sadar sejak tadi ia dalam posisi memalukan. Secepat mungkin ia melepaskan lingkaran tangannya di kaki Heechul lalu buru-buru bangkit.
“Jadi, aku boleh tinggal di sini?” tanya Young Jae dengan wajah berseri.
“Hanya sementara,” ralat Heechul. “Setelah kondisi kembali tenang, kita bisa ‘bercerai’.” Ucapnya sambil memalingkan wajah. Young Jae tersentak mendengar kata bercerai. Jadi, mereka benar-benar akan menjalani pernikahan kontrak seperti ini? Lagipula kondisi seperti apa yang mengharuskan Heechul menerima semua ini? Mendadak saja Young Jae penasaran.
“Baiklah, sebaiknya kita mulai saja.”

Hah?

“Mulai apa?” Young Jae bingung. Tiba-tiba saja Heechul mengatakan ‘kita mulai saja’. Maksudnya ia harus memulai apa?
Heechul hanya bisa mendesah menghadapi kelambatan Young Jae. Ia pergi sebentar lalu kembali lagi. Dengan santai dan wajah tanpa ekspresi, Heechul mengacungkan sebuah cincin ke arah Young Jae.
“Aku harus memakai cincin itu?” tanya Young Jae
“Iya.”
“Tapi cincin itu, em apa ya,” Young Jae tidak tega mengatakannya tapi ia hampir meringis melihat kondisi cincin yang lebih terlihat seperti cincin mainan.
“Kau lupa, ini cincin seharga 60 jt yang kau jatuhkan!”
“Mwo?????” Young Jae memekik kaget. Ia bergantian menatap Heechul dan cincin di tangannya bergantian. Tidak sabar, Heechul meraih tangan Young Jae lalu memasangkan di jari manisnya dengan paksa. Ia tersenyum puas melihat cincin itu kini melingkar di jari tangan Young Jae.“Kau pantas sekali memakainya.”
“….” Young Jae tidak bisa berkata apapun.
“Sebenarnya, cincin itu kurancang untuk kuberikan pada saat aku melamar seseorang. Tapi, itu sudah tidak bisa dipakai lagi.” Heechul mengendikkan bahu tak peduli. Meskipun begitu, Young Jae bisa melihat raut kecewa di wajah pria itu. Mendadak rasa bersalah menyerangnya. Ia tersentuh melihat raut sedih Heechul. Namun suasana itu hanya berlangsung beberapa saat saja.
“Mulai sekarang, kau istriku. Ingat, ada peraturan di rumah ini yang harus kau patuhi. Pertama, jangan pernah mengajak siapapun ke rumah ini karena aku tidak suka. Kedua, jangan pulang lebih dari jam sepuluh malam jika tidak, terpaksa kau tidur di luar dan ketiga, jangan sekalipun kau masuk ke dalam ruangan itu. Arraseo!!” Heechul menunjuk sebuah pintu ganda dengan cat pintu berwarna cokelat tua. Kepala Young Jae ikut berputar ke arah yang ditunjuk Heechul. Ruangan apa itu memangnya?
“Mengerti tidak???” Heechul agak menyentak karena Young Jae justru terdiam.
“Oh, iya.”
Setelahnya, Heechul pergi melenggang meninggalkannya tercengang sendiri di tempat. Semoga apa yang kuputuskan tidak akan membuatku menyesal.

—o0o—

Young Jae sudah membereskan barang-barangnya di kamar tamu yang ada di sebelak sudut rumah itu. Heechul sendiri menempati kamar utama yang ada di dekat ruang tengah. Ia membuka sedikit pintu kamarnya lalu mengintip keluar. Ia sebenarnya penasaran, sejak resmi berkenalan dengan Heechul, ia belum sempat bertanya apa pekerjaan pria itu. Oleh sebab itu, ia memberanikan diri keluar dari kamarnya untuk mencari Heechul.
“Tadi dia melarangku ke sini. Memang ini ruangan apa?” Young Jae berdiri di depan pintu yang tadi ditunjuk Heechul. Ini daerah terlarang baginya. Tapi kenapa? Mengabaikan larangan Heechul, Young Jae berpikir mungkin pria itu tidak akan keberatan jika ia mengintip sebentar ke dalam. Setelah itu ia berjanji akan pura-pura tidak tahu dan tidak pernah melihatnya.

“Sedang apa kau?”

Young Jae tersentak kaget dan gerakan tangannya meraih engsel pintu berhenti di udara. Suara mencekam ini. Batinnya. Dengan gerakan perlahan dan takut, Young Jae menolehkan kepala ke samping.
“Heechul-ssi,” cicitnya takut. Heechul menyipitkan mata.
“Bukankah aku sudah bilang kalau tempat ini terlarang untukmu? Atau telingamu tuli?”
“E—aku kira ini kamar kecil.” Kilah Young Jae gugup.
“Kamar kecil ada di dekat dapur.”
“Kalau begitu aku akan ke sana,” Young Jae berbalik dan berniat pergi namun tiba-tiba saja tangan Heechul menghalanginya.
“Arahnya bukan ke sana. Tapi ke sana,” Heechul menunjuk dengan dagunya. Young Jae tersenyum kikuk.
“Maaf, aku orang baru di rumah ini,” saat ia berbalik untuk pergi ke arah yang dimaksud, tangan Heechul yang lain menghalanginya. Ia mengerang dalam hati. Sebenarnya, apa yang diinginkannya? Sekarang ia terkurung antara dinding dan tubuh pria ini.

Young Jae gugup setengah mati dengan perubahan sikap Heechul yang terlalu mendadak. Sekarang, pria ini menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Aku, aku kebelet pipis,” Young Jae berkata dengan mata sibuk menatap ke arah lain. Heechul tidak mengatakan apapun, hanya mendekatkan wajahnya hingga Young Jae tersudut ke dinding.
Aigoo, apa yang akan dilakukan pria ini????
Heechul sebenarnya ingin tertawa kencang namun ia menahannya. Tadi sempat terlintas dalam pikirannya untuk menjahili Young Jae. Ia ingin tahu reaksi gadis ini. Tak disangka Young Jae jauh lebih polos dari yang dikiranya.

Kim Heechul, what are you doing????” mendengar suara asing yang menggaung di sebelah, baik Heechul dan Young Jae menoleh bersamaan.
Yang lebih dulu bereaksi adalah Heechul. Betapa terkejutnya ia ketika sadar bahwa yang berdiri di depannya dengan wajah tercengang adalah ibunya sendiri.
“Eomma,” ia segera menjauhkan diri dari Young Jae. Sementara Young Jae menatap wanita di depannya dengan alis bertautan. Sepertinya wajah ini familiar.
Eomma berjalan mendekati putra sulungnya yang kini berdiri dengan canggung. “Kau memiliki pacar mengapa tidak mengatakan pada Eomma, dasar anak nakal!” Eomma mengulum senyum sambil menepuk pelan pundak Heechul. Pria itu sudah membuka mulut untuk menjawab namun Eomma lebih dulu berseru karena saat menoleh pada gadis di sampingnya, ia sadar bahwa ia mengenali sosok gadis ini.
“Omo, bukankah kau Sung Young Jae?”
Young Jae terkejut. “Ne.”
“Aigoo, siapa sangka kau sudah menjadi gadis secantik ini.” Eomma memeluk Young Jae meskipun gadis itu masih belum ingat dimana ia pernah bertemu dengan Ahjumma ini. Heechul hanya mendengus. Ia tidak heran jika Eomma sudah mengenal gadis ini. Bukankah Eomma yang menjodohkan gadis ini dengannya? Pasti Eomma mengenalinya.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Eomma melepaskan pelukannya. “Kau tidak ingat? Saat kau sakit dulu dan dirawat di rumah sakit, kita bertemu di sana.”

Young Jae mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia sakit dan mengharuskannya di rawat di sana. Ah, bukankah dulu ia memang pernah tinggal lama di rumah sakit karena penyakit bronkhitis? Saat itu, Dokter Kim—Ayah Heechul—yang membantu pengobatan dirinya. Lalu pada masa-masa penyembuhan, seorang Ahjumma bersama anak perempuan dan laki-lakinya entah berapa kali datang menjenguk.
“Oh, apakah Anda Chae Hye An-ssi?”
“Ah, kau bahkan masih ingat namaku!!” seru Eomma heboh sambil menjentikkan jarinya. “Dulu aku sering datang menjengukmu bersama Taeyeon dan Kibum. Ah, kau benar-benar tumbuh menjadi gadis cantik,” Eomma kemudian menoleh pada Heechul. “Kali ini Eomma pintar memilih gadis untukmu, bukan?”
“Ck,” Heechul hanya berdecak.
“Jadi kalian sudah bertemu lebih dulu? syukurlah. Eomma baru akan mengajakmu menemui Sung Young Jae karena Eomma mendapat kabar bahwa orang tuanya pindah ke luar negeri. Kau harus tinggal di sini. Arra?”
Heechul terkejut. “Tunggu dulu? orang tuanya pindah?”
“Iya. Eomma tidak mungkin membiarkannya tinggal sendiri di Korea. Karena itu Eomma menawarkan agar dia tinggal saja bersamamu. Tapi rasanya tidak baik jika pria dan wanita tinggal dalam satu atap tanpa ikatan apapun. Jadi Eomma mendaftarkan kalian sebagai pasangan suami istri.”

“MWOOOOO????” kali ini Heechul dan Young Jae memekik bersamaan. Mereka tak menyangka bahwa itu alasan di balik hal konyol yang mereka dapat? Jadi, selama ini orang tua mereka memang sudah merencanakannya?
“Jadi ini alasan sebenarnya! Kenapa harus tinggal bersamaku? Jika memang kasihan mengapa tidak tinggal di rumah Eomma saja? bukankah di sana masih banyak kamar tersisa?” protes Heechul.
“Kau ini. Kau pikir Eomma tidak cemas karena kau terus sendiri bahkan setelah usiamu melewati 30 tahun? Dia ini istrimu sekarang! Perlakukan dia dengan baik atau Eomma akan memukulmu!”
“Aku bukan anak usia 10 tahun lagi!”
Eomma memukul pundak Heechul karena gemas. “Karena itu kau harus ikuti apa kata orang tua! Ini demi adikmu juga!” Eomma memelototi Heechul. Setelahnya, Eomma berbalik menghadap Young Jae kembali.
“Untuk menyambut kepindahanmu, Eomma akan memasakkan banyak sekali makanan. Malam ini kau dan Heechul harus datang. Oke.”
“Hah?” Young Jae tercengang. Kali ini apa lagi yang akan terjadi?

—o0o—

08.00 pm, di kediaman keluarga Kim

Makan malam kali ini sedikit berbeda karena datangnya satu anggota baru dalam keluarga Kim. Young Jae tidak menyangka bahwa berkumpul dengan keluarga Heechul menimbulkan kesan akrab dan nyaman seperti ini. Baik ayah dan ibu Heechul menerimana dengan tangan terbuka. Malam ini pun Young Jae berkenalan dengan adik Heechul, Kim Kibum yang ternyata jauh lebih tampan dari Heechul sendiri. Usianya tidak jauh berbeda dengannya. Sayang sekali adiknya sudah memiliki kekasih dan akan menikah tak lama lagi.
“Aku senang kau tumbuh sehat hingga sebesar ini,” ujar tuan Kim sambil sesekali menyuap makan malamnya.
“Anda juga ikut andil dalam hal ini,” balas Young Jae gugup. Ia menatap sekeliling. Di meja makan ini hanya terisi enam kursi saja. Ia sempat ingin bertanya bukankah seharusnya Dokter Kim memiliki anak perempuan? Namun sebelum bertanya, hal itu sudah terjawab ketika Eomma bercerita bahwa putri satu-satunya meninggal beberapa tahun yang lalu karena komplikasi pasca melahirkan.

“Eomma sudah meminta Sungmin mengantarkan Minki kemari. Tapi Minki sudah terlanjur bersama orangtuanya Sungmin. Ah, padahal Eomma sangat merindukannya.” Gerutu Eomma saat membicarakan cucunya—anak dari Sungmin dan Taeyeon, mendiang putrinya.
“Sudahlah Eomma, bukankah dua hari lalu Minki menginap di sini,” Sela Kibum. Ja Rin yang duduk di sampingnya hanya tersenyum.
“Chagi, kau tidak paham. Semua nenek di dunia ini pasti merindukan cucunya dengan mudah.”
“Tuh, kekasihmu saja tahu,” timpal Heechul, sedikit sinis. Kibum hanya menggelengkan kepala menanggapinya.
Young Jae menoleh pada pria di sampingnya. Mengapa rasanya ada yang aneh? Jika diperhatikan, entah sudah berapa kali Heechul selalu bersikap sinis pada adiknya? Apa ini hanya perasaannya saja? Ataukah memang ada sesuatu di antara mereka? Ah, jangan-jangan Heechul merasa iri karena adiknya lebih tampan dan akan segera menikah? Tunggu, yang terakhir gagasan yang terlalu dipaksakan.

“Eonni, meskipun rasanya canggung, tapi selamat atas pernikahanmu. Aku sedikit bingung mengapa kau dan Heechul Oppa memutuskan mendaftarkan pernikahan dulu baru resepsi.” Ucapan Ja Rin melemparkan Young Jae kembali ke dunia nyata. Ia melemparkan pandangan bingung pada Heechul. Pria itu hanya menatapnya dengan ekspresi ‘mengapa menatapku? Jawab sendiri’.
Pandangan semua orang kini terfokus pada Young Jae. Gadis itu kembali gugup. “Eh, itu..”
“Itu karena kami merasa belum saatnya resepsi. Young Jae harus menyelesaikan proyek kerjanya lebih dulu baru setelah itu kami akan mengadakan resepsi,” Serobot Heechul lebih dulu. Young Jae tersentak sementara Ja Rin mengangguk.
“Kau sangat keren, Oppa. Chagi, kenapa dulu kau tidak seperti itu juga?” Ja Rin menoleh pada Kibum. Heechul mendengus karena ia yakin sudah berhasil memperdaya Ja Rin mentah-mentah. Baik Kibum maupun Ja Rin hanya tahu bahwa Young Jae dan Heechul menikah karena saling mencintai. Jika mereka tahu alasan sebenarnya, mereka pasti akan sedih.
“Dia tidak akan berani melakukannya, Ja Rin-ah,” timpal Heechul. Lagi-lagi Young Jae mendengar nada menyindir dari kalimatnya. Ia menoleh ke arah Kibum, ingin melihat reaksinya. Ia pikir Kibum akan menggeram kesal ternyata tidak, pria itu tersenyum lalu melemparkan senyum mautnya itu pada Ja Rin.
“Aku ingin pernikahan yang nyata, chagi. Jika kita bisa menikah di depan altar dan disaksikan banyak orang lalu mendaftarkan pernikahan kita setelahnya, mengapa tidak?”
“Aigoo…kau yang terbaik!!” seru Ja Rin gembira. Gadis itu dengan riangnya memeluk lengan Kibum.

Young Jae berdecak kagum mendengarnya. Benar sekali. Ia juga mendambakan pernikahan semacam itu. Tapi mengapa justru pernikahan seperti ini yang ia dapat? Ia iseng menoleh ke arah Heechul. Kali ini matanya kembali dibuat terbelalak.
Heechul terlihat kesal. Terlihat jelas dari urat-urat dilehernya yang tampak menegang dan caranya menggenggam sumpit.
“Ck, bermulut manis,” decaknya pelan lalu meneguk air. Young Jae tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Heechul? Kenapa dia terlihat begitu membenci Kibum yang tampak baik dan manis?

Penasaran, Young Jae menanyakan hal itu setelah makan malam selesai. Ia berjalan di samping Heechul dengan pikiran bertanya-tanya. Saat ia hampir membuka mulut, mendadak langkah Heechul terhenti. Young Jae ikut menghentikan langkahnya. Saat ia menoleh ke arah depan, rupanya ada Kibum dan Ja Rin yang akan masuk ke dalam mobil.
“Ho, adik ipar, mengapa tidak menginap di sini saja?” tanya Heechul manis pada Ja Rin.
“Terima kasih. Tapi setelah ini aku masih ada janji dengan kakakku,” ucap Ja Rin lalu masuk ke dalam mobil.

Heechul melirik Kibum yang menutup pintu mobil lalu berjalan memutar hendak membuka pintu kemudi. Ia kembali menyela, “Kau senang?”
Kibum menoleh, “Tentu saja. Aku senang kita bisa makan malam semenyenangkan ini. Semuanya berkat Kakak ipar.” Ucapnya lalu melirik Young Jae. Gadis itu tersipu malu.
“Bukan itu maksudku. Tapi, apa kau senang karena sekarang Appa memberikanmu restu untuk menikah? Kau tentu tidak akan menyalahkan aku lagi bukan?” sindirnya.

Kali ini Kibum terdiam selama beberapa detik sebelum melanjutkan, “Hyung, sepertinya kau salah paham.”
“Salah paham?”
“Aku memang sering didiskriminasikan di rumah ini. Tapi aku tahu sebenarnya mereka sangat menyayangiku. Memang benar, aku sekarang senang karena akhirnya, Appa mengizinkanku menikah. Tapi kau salah. Sekalipun, aku tidak pernah menyalahkanmu atas penolakan Appa. Sekali lagi mereka benar. Bagaimana bisa aku egois ingin menikah sementara kakaku sendiri saja belum menikah? Itu baru diskriminasi, Hyung.”

Heechul tersentak mendengar penuturan Kibum. Ia terpaku di tempatnya berdiri. Mulutnya bahkan terbungkam rapat. Ia hanya menatap Kibum yang tersenyum sebentar lalu pergi setelahnya. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan cepat berkali-kali.
Young Jae mendekat, perlahan tangannya terangkat hendak mengusap pundak pria itu ketika Heechul tiba-tiba saja berkata, “Aku benar-benar benci sikapnya yang selalu ‘berada di dalam jalur’. Kenapa dia tidak pernah marah saat kupanasi?”
Gerakan tangan Young Jae sukses terhenti karena gadis itu kini tercengang. “Jadi, tadi kau sengaja memanasi adikmu agar dia berteriak marah, begitu?” tanyanya tak percaya. Heechul mendengus.
“Aku melakukannya karena ingin dia menjadi orang yang tegar dan kuat, bukan menjadi lemah seperti itu!”
Young Jae tertawa mengejek mendengarnya. Heechul sungguh pria konyol dan kekanakan. Ia baru tahu itu. “Kau sukses membuat adikmu menjadi orang yang tegar dan kuat, Kim Heechul.”
“Mwo?” Heechul menoleh kaget. Young Jae kini menatapnya serius.
“Tapi sebaliknya, kau justru menjadi pria yang lemah.”
Heechul terbelalak mendengarnya. Jantungnya seperti bergeser beberapa senti mendengar Young Jae mengatakan kalimat itu dengan mata berkilat serius.

Kau sukses membuat adikmu menjadi orang yang tegar dan kuat, Kim Heechul. Tapi sebaliknya, kau justru menjadi pria yang lemah.

==To be continued==

147 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 3)

  1. huuuuaaaa setelah baca dari part.1 cerita’a seru bangeeett….
    .kasian young jae udd jatuh tertimpa tangga pula….eeeh tpi dia beruntung bisa nikah ma kim heechul.
    .saluuuut ma hechul, dia jdi hyung yg rela berkorban buat dongsaeng,a

  2. saranku aja ya eoni. ffnya ditambah gambar gaun rancangan yang dibuat youngjae dan cincin yang dibuat heecul lebih bagus loh eoni. para reader jadi bisa bayangin hasil karya tokoh utama. lgipula di ff ini kan pemeran utamanya bekerja di fashion design, hehehe . . . semoga eoni baca saranku ^^

  3. Akhir’a ki-rin bisa berbahagia karna akan terwujud pernikahan’a..

    Heechul itu gregetan karna gga pernah-mungkin- liat kibum ngeluapin esmosi’a..

    Next..😉

  4. ya ampun kata” heechul pedes bangett dah , tp kibum emang beneran baik , dya slalu senyum apapun yg heechul bilang🙂
    kayaknya young jae bakal jd istri yg pengertian degh >_<

  5. Sebenernya kadian young jae eonni, siapa sih yang gak mau nikah resmi baru di daftarin itu kan wajib dan seharusnya >< begitu jg sama youngjae … miris banget, udah rumah di jual suruh nikah tp lngsung resepsi, abis itu cerai nnti sama oppa…
    ya ampun miris bangettt, sabar eonn entar jg kebuka tuh mata nya heechul oppa^^

  6. good^^

    leeteuk kpn y muncul di blog sini eonnie??? hmmm q pngen da crita yg cast-nya suami q hehe
    dan cast perempuanya aku ‘park hyo hwa’ gyahaha * ngarep *

    mau dong dibikinin crita ma teuki oppa hehe bikinin y eonnie,,,

    sma teuki oppa yg bijaksana, romantis, penyayang, pengertian ahhh smua yg sweet2 da di dia ahaha *curcol*

    intinya part 3 bagus

  7. Jejejejeng! Apa kejaian seru setelah youngjae mengatakan sesuatu yg menohok hati heechul? A.heechul marah
    B.heechul jatuh cinta
    Yaa mari kita baca part selanjutnyaa😀

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s