Shady Girl Heechul’s Story (Part 2)

Tittle : Shady Girl Heechul’s Story Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Sung Youngjae
  • Kim Heechul

Support Cast :

  • Kangin

Cuap-cuap author : Pertama-tama author ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk reader-deul yang setia meluangkan waktunya untuk membaca FF di situs ini. *bow* Maaf author hanya bisa memberikan suguhan FF yang ala kadarnya, hasil buah pikiran otak author yang suka mengkhayal ini. Author sadar FF ini masih banyak banget kekurangan karena itu author sangat menghargai apresiasi temen-temen semua yang sudah memberikan komentar ataupun sekedar menjadi ‘pembaca dalam selimut’ alias silent reader.

Author terima semua kritik dan saran temen-temen dengan penuh rasa suka cita dan terima kasih tapi, author mohon hargai kerja keras author dengan tidak memposting ulang FF ini apalagi sampai memplagiat. Author sedih banget kalau sampai itu terjadi *nangis kejer di pojokan*

Sekali lagi terima kasih sudah meluangkan waktu membaca FF buatan author dan selamat membaca ^_^

Shady Girl Heechul by Dha Khanzaki

====Part 2====

“Hhhh~…hhhh~ akhirnya tiba juga.” Sung Young Jae patut mendesah selega-leganya ketika berhasil menginjak gedung Ri-Bon, kantor redaksi majalah fashion terkenal di Seoul. Napasnya masih tersengal, bahkan penampilannya lebih berantakan dari penampilan korban bencana angin tornado di Chicago. Ia mendesis menatap kondisi rambut, baju, dan tasnya yang kacau balau. Ia baru akan melangkah masuk melewati lobi ketika kakinya harus terpaksa berhenti kembali.
“Eun-Eun Ri…” Young Jae merasa suara yang keluar dari mulutnya begitu gugup, dan takut. Bagaimana tidak, kini di hadapannya berdiri sang Editor In Chief majalah tempatnya bekerja, Choi Eun Ri.
“Hai…” Ia berusaha mencairkan suasana karena ia tahu udara di sekitar Eun Ri lebih kelam dibandingkan aura yang mencekam saat berhadapan dengan para Dementor.

Eun Ri menyipitkan matanya. “Hentikan senyuman tak jelasmu itu!” suaranya bahkan lebih dingin dibanding gunung es di Antartika. Young Jae otomatis menghentikan tawa kecil yang sejak tadi dikeluarkannya sebagai senjata untuk membela diri.
“Kau telat dua menit, ckckck..” Eun Ri melirik jam tangannya sambil berdecak. Alhasil kalimat sederhana itu telah membuat tubuh Young Jae mengerut seperti tokoh dalam komik.
“Maaf, tadi aku menabrak pria aneh di jalanan.”
“I don’t care.” Potong Eun Ri tegas. “Aku lebih peduli pada deadline kita yang akan jatuh lusa, Sung Young Jae!!” tegasnya meluap-luap. Eun Ri bahkan melakukan hal yang sebenarnya tidak perlu dan berhasil membuat orang-orang menatap wanita berusia 28 tahun itu dengan tatapan aneh, yaitu mondar-mandir tidak jelas di hadapan Young Jae.

“Eun Ri..” Young Jae tidak bermaksud menginterupsi kesibukan Eun Ri, hanya saja ponsel gadis itu yang tergantung di lehernya bercahaya pertanda ada pesan singkat atau telepon yang masuk.
“Jangan memotong, Sung Young Jae! Aku sedang mencemaskan deadline kita yang tinggal menghitung hari.” sesekali gadis itu mengacak-acak rambut panjang bergelombangnya. Terpaksa Young Jae mengatupkan bibirnya kembali. Sesekali ia berkomat-kamit tentang menderitanya ia karena menjadi bawahan gadis berjiwa labil seperti Eun Ri. Tapi mau bagaimana lagi, ia sangat membutuhkan pekerjaan di majalah ini sebagai batu loncatan karirnya sebagai desainer mode.

Eun Ri terus mengoceh sampai akhirnya ia sadar sendiri bahwa ponselnya bergetar terus menerus. Young Jae menghembuskan napas lega selama beberapa detik saat Eun Ri menghentikan omelannya dan memilih mengangkat panggilan—entah dari siapa.
“Oh, chagiya—“ wajah Eun Ri luar biasa sumringah dan tak perlu waktu lama untuk Young Jae sadar siapa yang tengah menelepon itu. Ia kembali mendesah begitu tahu yang sedang berbicara dengan Eun Ri adalah Yesung, kekasih gadis itu.
“Beruntungnya Eun Ri, memiliki pacar yang menyayanginya setengah mati dan tidak bisa hidup tanpanya..” entah Young Jae harus mengasihani nasib siapa. Yang pasti ia merasa dirinyalah yang paling malang di antara semua wanita lajang di dunia ini. Bagaimana bisa di usianya yang ke 29 ia tidak pernah berpacaran dengan satu pria pun. Bahkan didekati oleh makhluk berjenis kelamin laki-laki saja tidak pernah.

Ibunya memang sering berceramah masalah pernikahan padanya. Hanya saja itu hanya di bahas sesekali saat mereka berkumpul bersama di ruang makan dan sebagai topik ringan saja. Tidak pernah membahasnya secara serius. Seserius ketika Ayahnya membahas masalah saham, neraca laba-rugi, dan nilai inflasi mata uang Won. Sebagai orang tua tentu mereka cemas mengingat putri mereka satu-satunya belum pernah menjalin hubungan asmara apalagi memikirkan pernikahan di usianya yang bukan usia remaja lagi. Yang menjadi fokus Young Jae sejak lulus SMA hanyalah; menjadi desainer terkenal sekelas Tom Ford dan Donatella Versace.
Kembali, helaan napas Young Jae terdengar. Bukannya bekerja di rumah mode terkenal di Italia ia justru bekerja di majalah fashion di Seoul. Tapi bagaimanapun Young Jae tetap optimis karirnya akan berhasil bila dia bekerja di sana, sebelum ia tahu atasannya secerewet dan menyulitkan seperti Choi Eun Ri.
“Young Jae, aku tunggu kau di ruang rapat. Kau harus segera mempresentasikan rencana pakaian yang akan dipakai untuk majalah edisi bulan ini!!” Eun Ri berkata sambil berjalan menjauhinya. Young Jae sempat tergagap selama beberapa saat karena terkejut mendengar perintah Eun Ri. Ia mengepalkan tangan, dengan semangat meninju kepalan tangannya itu ke udara.
“Sung Young Jae, aja aja fighting!!!!!”

—o0o—

“Kau lihat saja gadis tengik. Ketika aku menemukanmu nanti, kubuat kau jadi budakku sampai cincinku kembali mengkilat!!!” desisnya dengan mata berkilat-kilat marah. Heechul terlihat seperti penjahat yang sedang merancang rencana kejam untuk membalas dendam kesumatnya.
“Aish, sial!!!” Heechul akhirnya menyerah menyikat cincin masterpiecenya, melempar sikat dan cincin itu ke bak wastafel berisi air di depannya. Setelah berhasil menyelamatkan benda berharga itu dari dalam got—Heechul sampai memanggil Tim SAR untuk mengeluarkannya—Heechul harus meringis ngeri melihat cincin kebanggaannya bercampur lumpur got dan tidak berkilau seperti semula lagi. Warnanya bahkan tidak keemasan lagi.
“Sudahlah. Kau menyerah saja.” Kangin mengomentari usaha Heechul saat pria itu kembali berkutat membersihkan cincin malangnya.
“Diam kau, sebelum sikat ditanganku terpaksa berpindah ke wajahmu.” Ancamnya dingin. Heechul benar-benar sudah diliputi rasa dendam. Kangin tahu jika sudah seperti ini, tinggal menunggu waktu sampai Heechul menemukan gadis itu lalu menyiksanya. Ia tahu dengan benar bagaimana keras kepalanya seorang Kim Heechul jika sudah membenci sesuatu.

Kangin diam sambil menyilangkan kaki di atas sofa di ruang tengah rumah Kim Heechul. Matanya sesekali mengerling pada sosok pria yang sedang tekun di wastafel dekat dapur dengan wajah jengkel dan keki. Pandangannya kemudian teralih menatap amplop besar berwarna cokelat yang tergeletak begitu saja di atas meja.
“Berkas apa ini?” Kangin penasaran juga lalu mencoba melirik isinya.
Heechul menjulurkan kepalanya melihat tingkah Kangin, matanya membesar. “Jangan sentuh itu!!” ia menderap lalu mengambil amplop cokelat itu dari tangannya. “Ini adalah bukti kegilaan Eommaku yang lain!” ucapnya dengan ekspresi horor. Kangin menjengit ngeri seolah Heechul baru menceritakan kisah Drakula penghisap darah dari Rumania.
“Memang apa yang dilakukan Bibi kali ini?”
“Dia ingin aku menikah dengan gadis pilihannya.”

Kangin terperanjat kaget. Matanya membulat sebulat-bulatnya, “Lalu kau setuju?”
Heechul duduk di atas sofa lalu mendesah menatap langit-langit rumahnya. “Kulakukan demi adikku, Kibum.”
Pembicaraan ini mulai mengarah ke hal yang menarik bagi Kangin. Tidak biasanya ia melihat Heechul sepasrah ini menghadapi sesuatu. “Sepertinya Kim Heechul memang sangat sangat sangat sangat sangat…” Kangin terus menyebutkan kata ‘sangat’ sampai lebih dari seratus kali. Heechul sampai harus mengeryitkan keningnya melihat tingkah aneh Kangin.
“Hentikan ocehanmu!” potong Heechul jengkel. Namun bukannya berhenti

Kangin justru terus melanjutkan kata-katanya. “…sangat sangat mencintai adikmu.” Kangin mengacungkan jempol di akhir kalimatnya. Senyum lima senti tersungging di bibirnya menimbulkan rasa keki yang berkepanjangan di hati Heechul.
“Kau pikir aku mau dijodohkan seperti ini? Tentu saja tidak.”
“Jalani sajalah. Sepertinya menarik. Aku ingin tahu gadis seperti apa yang dipilih bibi untukmu. Aku sedikit salut dengan tipe menantu ‘idealnya’.” Sindir Kangin lalu terkekeh. Heechul bergidig ngeri. Ia memeluk tubuhnya sendiri saat udara dingin mencekam itu menyapa kulitnya. Membayangkan gadis-gadis yang dipilih Eommanya membuat rasa takut, cemas, dan ngeri Heechul kambuh.
“Yah, asal jangan cerewet saja.” Heechul membayangkan gadis bernama Hong In Hee, saat berkencan buta dengannya beberapa bulan lalu gadis itu tak henti-hentinya berkata. Bahkan Heechul tidak tega menyela.
“Atau pengkritik.” Timpal Kangin saat Heechul bercerita tentang Min Yoo, gadis yang senang mengkritik apapun tindakan Heechul.
“Atau pemarah.”
“Overprotektif…”
“Pencemburu,”
“Kutu buku,”
“Dan plin plan!!!” Heechul dan Kangin tertawa kemudian. Heechul tak menyangka sudah dijodohkan dengan berbagai macam gadis dengan latar belakang dan sifat yang menurutnya aneh. Mengapa ibunya memilih gadis-gadis semacam itu? Ia mendesah lalu menyandarkan punggungnya pada sofa. Ia terus merenungkan nasib malang dirinya sambil menatap langit-langit.
“Menurutmu, apa aku terima saja tawaran ibuku?” Heechul bertanya putus asa.
“Maksudmu menerima pernikahan itu?”
“Em. Dengan begitu aku tidak terlalu merasa bersalah pada Kibum.”
“Ya sudah. Terima saja. Siapa tahu gadis itu memang jodohmu.” Ucap Kangin enteng. Mereka terdiam selama beberapa saat sampai akhirnya salah satu dari mereka ada yang memekik histeris.
“Ah siaaaalllll, kerannya!!!” Heechul meloncat dari duduknya menyadari ia lupa mematikan air keran. Alhasil, wastafelnya yang ia pakai untuk mencuci cincin tadi penuh oleh air yang sudah meluber membanjiri lantai dapurnya.

—o0o—

Young Jae merasa sangat lelah dan pusing saat ia menginjakkan kaki di rumahnya. Sambil mengganti sepatunya dengan sandal rumah, pikirannya melayang kembali pada rapat gila-gilaan yang digelar siang tadi. Benar dugaannya, Eun Ri memang membuat otaknya semakin berat. Bagaimana bisa dia memintanya membuat ulang konsep rancangan baju untuk 13 scene yang berbeda?
“Dia tidak tahu sih, mencari inspirasi untuk satu konsep rancangan itu susahnya setengah mati apalagi 13! Aish, bisa-bisa leherku keram…” Young Jae mengusap bagian belakang lehernya sambil menjentikkan sakelar lampu ruang tengah. Ia baru sadar sejak tadi rumah begitu sepi dan hening. Kemana Ayah dan Ibunya?
“Eomma.. Appa…” Young Jae mencari-cari kedua orang tuanya di kamar, di dapur, dan di seluruh rumah namun tak berhasil menemukan mereka. Aneh. Pasti terjadi sesuatu. Ia berjalan ke dapur untuk mencari petunjuk. Biasanya Eomma meninggalkan semacam pesan di pintu kulkas. Benar saja, Young Jae menemukan post-it berwarna kuning tertempel pintu kulkas.

Young Jae,
Eomma pergi ke Swiss menyusul Appamu hari ini. Maaf tidak memberitahumu. Eomma sudah mencoba menghubungi ponselmu tapi tidak bisa. Karena itu Eomma pergi tanpa berpamitan denganmu. Kau jaga diri baik-baik di sana. Eomma akan mengirimkan sejumlah uang ke rekeningmu untuk berjaga-jaga. Oh, iya. Rumah sudah Eomma jual. Kamu harus pindah dari rumah itu dan tinggal di rumah seseorang yang sudah Eomma pilihkan. Alamatnya ada di dalam amplop cokelat yang ada di atas meja. Jaga kesehatan baik-baik, Eomma mencintaimu.
Eomma

Young Jae sempat membelalakkan mata selama beberapa detik sebelum akhirnya terduduk lemas di salah satu kursi meja makan. Terlebih saat ia membaca bagian terakhir pesan ibunya. Ia memang tahu bahwa Eomma akan pindah ke Swiss selama satu tahun dan rumah ini dijual. Ia kira Eomma akan menyewakan sebuah apartement untuknya. Tak disangka Eomma malah menyuruhnya tinggal di rumah orang lain. Masalahnya, siapa orang yang dimaksud Eomma?
Dalam pesan dikatakan bahwa alamatnya ada di dalam amplop yang berada di atas meja. Young Jae melirik malas amplop mencurigakan yang sejak tadi memang menjadi objek rasa penasarannya, tergeletak manis di tengah meja dekat vas bunga. Perlahan ia menarik amplop itu lalu membuka untuk melihat apa isinya. Ia menemukan beberapa lembar kertas dengan logo resmi di atasnya.
“Apa ini?” ucapnya agak memekik saat ia mengetahui isinya bukanlah alamat yang dimaksud, melainkan sebuah surat dengan kop surat resmi. Ini jelas bukan surat asal jadi, melainkan surat resmi yang di buat oleh instansi pemerintah.

Sedetik setelah ia selesai membaca seluruh isi surat itu, Young Jae merasa dunia di sekitarnya berhenti. Tangannya bergetar dan lututnya lemas.
“Apa maksudnya????!!!!” ia berteriak histeris, entah pada siapa. Yang pasti ia tidak paham sedikitpun maksud Eomma melakukan hal tersebut padanya. Kertas yang dipegangnya adalah Surat Pendaftaran Pernikahan yang dikeluarkan oleh instansi terkait. Dalam surat resmi itu jelas tertulis namanya, jadi tidak mungkin ia salah membaca.
“Siapa yang sudah menikah? Dan kapan aku menandatangani ini??” jeritnya frustasi. Ia memutar otak untuk mengingat kembali kapan kira-kira ia menandatangani surat mencurigakan seperti ini. Seketika ia ingat, tadi pagi bukankah Eomma memintanya untuk menandatangani sesuatu? Jangan-jangan tanpa sadar ia sudah menandatangani surat ini? Oh, tidak.
Young Jae menggeram. Ia tak percaya Eomma mencurangi putrinya sendiri. Dan yang ia tidak mengerti adalah, apa tujuan Eommanya melakukan hal tak penting seperti ini? Bagaimana bisa dirinya terdaftar di departement pernikahan sebagai wanita yang telah bersuami? Padahal menikah saja belum pernah.
“Eomma harus memberiku penjelasan!” Young Jae merasa otaknya hampir meledak, karena itu ia cepat menelepon Eomma. Sekali lagi ia berteriak frustasi saat tahu Eomma tidak mengangkat teleponnya.

Akhirnya, semalaman Young Jae tidak bisa tidur. Ia terus memandangi surat itu dengan hati cemas, galau, bimbang, dan takut.
“Eomma keterlaluan. Aku tahu Eomma ingin aku segera menikah tapi tidak dengan cara seperti ini juga.” gerutunya sambil melempar boneka-boneka kesayangannya. Ada satu hal yang terus Eomma pertanyakan padanya sejak ia lulus kuliah beberapa tahun lalu.
Young Jae, kapan kamu mengenalkan pacarmu pada Eomma? Young Jae, kapan kamu akan menikah? Young Jae, jangan terlalu sibuk bekerja. Cepat cari suami. Usiamu sudah tidak muda lagi. Kamu tidak takut disebut perawan tua oleh tetangga? Dan sederet pertanyaan yang garis besarnya mempertanyakan kapan ia menikah.
“Memangnya menikah itu penting ya? Well, usiaku memang tidak remaja lagi. But, aku juga ingin mewujudkan cita-citaku lebih dulu baru menikah. Mengapa Eomma tidak pernah paham sih?” saat itu Young Jae pernah mendebat Eommanya dengan kata-kata seperti itu dan hasilnya adalah, ia diceramahi selama satu malam penuh hingga telinganya kepanasan.

Young Jae mencermati surat itu dan baru menyadari bahwa ada tanda tangan lain yang tertera di surat itu juga. Itu adalah nama pria yang dinyatakan oleh surat ini adalah suaminya.
“Kim Heechul?” Young Jae mengeryit bingung saat membacanya. Siapa Kim Heechul? Ia merasa sangat asing dengan nama ini. Apakah ini nama kenalannya? Atau teman SD, SMP, SMA, Kuliah? Ia mencoba mengingatnya sekali-lagi namun hasilnya nihil. Ini nama yang benar-benar asing.
“Kenapa juga pria ini setuju dengan hal gila semacam ini? Jangan-jangan dia adalah seorang duda tua yang kesepian karena ditinggal istri dan anak-anaknya sudah tidak mau mengurusnya lagi? Tidaaaaakkk..” Young Jae histeris sendiri sambil memegang kedua pipinya. “Aku tidak mau menjadi istri mudanya…” ia mulai mengkhayal yang bukan-bukan lagi.

Young Jae buru-buru turun dari tempat tidurnya lalu mengepak pakaian ke dalam koper.
“Aku harus kabur dari tempat ini. Tapi kemana?” ia berhenti sejenak, berpikir. “Ah, ke rumah Eun Ri saja!!” ia tersenyum lalu mengepak kembali pakaiannya. Sesaat kemudian ia berhenti. “Tunggu, jika aku tinggal dengan Eun Ri, bisa-bisa hidupku lebih dijajah olehnya. Tiap hari aku akan diteror dengan tenggat deadline-lah, rancangan yang harus diselesaikan-lah, belum lagi emosinya yang labil itu. Ah, tidak tidak!!” ia terdiam memikirkan kemungkinan lain.
“Aku tahu, sebaiknya aku ke rumah Henry saja!” ide yang bagus, namun sesaat kemudian ia terdiam. “Aku tidak tahu rumahnya dimana. Lagipula dia pria, bukan? Bisa gawat jika aku tinggal bersama Henry. Lihat wajahnya yang tampan saja aku sudah lemas apalagi harus tinggal bersamanya.”
Akhinya, Young Jae menyerah. Ia jatuh lemas di lantai lalu menyandarkan punggung ke lemari. “Mungkin aku harus mencari apartement.”

Keesokan paginya, Young Jae dikejutkan oleh suara bel. Ia terbangun dari tidurnya. Semalam karena terlalu lelah memikirkan cara untuk menghindar dari masalah ini, ia tertidur sambil meringkuk di atas karpet di kamarnya. Ia tersentak lalu menatap sekeliling dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
“Apa sih?” gerutunya linglung. Ia memaksakan diri bangun, berjalan dengan gontai ke lantai bawah untuk membukakan pintu.
“Ada apa?” Young Jae sesekali menguap dan ia terkejut ketika mendapati beberapa orang ada di depan rumahnya.
“Kami petugas dari agen perumahan. Benar rumah ini akan dijual? Jika benar, kami sudah menemukan pembelinya.”
“Hah????” mendengar sederet kalimat dari petugas itu, seluruh nyawa Young Jae langsung terkumpul dan detik itu pula ia memekik histeris.
“Tapi, aku masih tinggal di sini pak. Jika ini dijual lalu aku harus tinggal di mana????” ucapnya panik. Petugas itu hanya tersenyum, tanpa mengatakan apapun ia dan beberapa orang dibelakangnya menerobos masuk dan melihat-lihat seluruh isi rumahnya.
“Kosongkan semua barang itu.” perintahnya kepada anak buahnya. Young Jae panik bukan main.
“Tunggu dulu!! Anda tidak bisa seenaknya gitu dong.” Protes Young Jae ketika orang-orang itu mulai menyentuh dan memindahkan barang-barang di rumahnya.
“Maaf nona, tapi ibu anda sendiri yang menandatangai surat pernyataan bahwa rumah ini akan dijual. Berhubung kami sudah menemukan pembelinya, jadi rumah ini harus di kosongkan sekarang juga.”

Entah Young Jae harus menangis atau tidak, yang pasti ia rasanya ingin menjerit kencang saat melihat rumah yang sudah dua puluh tahun lebih ia tinggali sudah menjadi milik orang lain. Ia ingin protes saat orang-orang itu dengan berani memindahkan perabotan di rumahnya tapi tidak bisa karena surat yang diperlihatkan petugas itu jelas sekali dan terdapat tanda tangan Eommanya. Mendadak ia benci sekali pada tanda tangan. Ia ingin rasanya menghancurkan orang bodoh yang sudah membuat ide semacam tanda tangan untuk mengesahkan sesuatu.
Kini, ia resmi tidak memiliki rumah dan menjadi gelandangan. Ia menatap nanar rumahnya yang terdapat papan bertuliskan ‘rumah ini sudah dijual’ sebelum akhirnya pergi sambil mengerek koper dan boneka beruang kesayangannya.

Young Jae bahkan mendiamkan ponselnya yang sejak tadi berbunyi nyaring. Ia tahu Eun Ri pasti marah besar karena ia tidak masuk kerja hari ini. Sekarang ia hanya diam di sebuah bangku taman tanpa tahu arah tujuan. Yang ada dipikirannya adalah, ia harus menemukan tempat tinggal secepat mungkin atau malam nanti ia akan tidur kedinginan.
“Tunggu, alamat pria itu!!” Young Jae teringat dengan pria bernama Kim Heechul yang tertera di surat kemarin. Mungkin saja pria itu bisa memberinya tempat tinggal untuk sementara. Ia melihat alamat yang tertera di surat itu lalu mengerjap senang. Betul juga, ia bisa meminta tolong bantuannya. Siapa tahu meskipun tua, pria ini sangat baik hati. Lagipula pria mana yang tega melihat wanita sengsara.
Ia tertawa tidak jelas sambil memainkan bonekanya. “Casey, ayo kita pergi ke rumah Paman Kim…” ucapnya sambil mencubit pipi boneka beruangnya yang ia beri nama Casey, karena ia mengidolakan Casey Abrams, salah satu musisi Amerika. Young Jae pergi dengan wajah riang untuk berkunjung ke rumah pria bernama Kim Heechul itu.

Setibanya di depan sebuah rumah dengan pagar besi bercat putih, Young Jae sempat ternganga selama beberapa detik. Ia terlalu kagum dan tidak menyangka bahwa ‘suaminya’ adalah orang dengan penghasilan di atas rata-rata. Buktinya, rumahnya saja bisa seindah ini. Young Jae memencet bel dengan pandangan mengedar ke sekitarnya. Bahkan taman depan rumah pun di tata dengan begitu indah dan elegan. Ia jadi penasaran seperti apa pria bernama Kim Heechul itu.
Tak lama Young Jae merasa pintu dibuka dari dalam. Ia berdiri tegak dan memasang senyum semanis mungkin bermaksud meluluhkan hati sang pemilik rumah. Saat pintu semakin dibuka lebar dan ia bisa melihat dengan jelas sosok di balik pintu, senyum di wajah Young Jae memudar seketika. Yang ada kini adalah ekpresi kaget dan tak percaya. Mulutnya bahkan terbuka lebar.
Bagaimana bisa, bukankah pria itu adalah pria yang ditabraknya tempo hari? Jadi, jadi Kim Heechul yang dimaksud adalah dia? Oh tidak.

Heechul, yang sempat kaget dengan penampilan masih berantakan—karena ia baru saja bangun tidur—langsung mengeryitkan keningnya, bingung. Siapa perempuan ini, pikirnya.
Young Jae membuang wajahnya ke arah lain takut Heechul bisa mengenalinya. Dengan agak panik ia bertanya.
“Apa ini rumah Kim Heechul-ssi?”
“Ya.” Jawab Heechul cepat, suara angkuhnya membuat Young Jae merinding. Heechul mengerutkan kening berusaha mengingat-ingat karena ia merasa wanita ini begitu familiar.
“Aku, Sung Young Jae..aku..”
Mendengar kata ‘Young Jae’, Heechul langsung teringat pada nama gadis yang tertera dalam surat yang diserahkan Eommanya kemarin. Ia mendecak malas.
“Oh, jadi kau istriku.”

Young Jae tersentak kaget. Jadi pria ini benar-benar Kim Heechul? Astaga, apa ia boleh berteriak histeris sekarang? Bagaimana bisa Eommanya begitu pintar memilihkan seorang pria untuknya?
Heechul menyadari gadis ini menatapnya penuh selidik. Detik itu juga seperti ada lampu yang menyala di otaknya, Heechul berseru.
“Ah, aku ingat!! Kau gadis yang menjatuhkan cincinku!!!”
Young Jae membelalakkan mata dan saat itulah Heechul yakin bahwa gadis ini memang gadis yang waktu itu. Gawat, gawat, gawat, dia sadar!! Teriak Young Jae dalam hati.
Mendadak saja, Heechul merasa dendam kesumat dalam dirinya tersulut kembali saat tahu sang penyebab onar sudah berdiri di depan mata. Ia memang tidak menyukai kenyataan bahwa hari esok mungkin hidupnya tidak akan sama lagi, namun jika itu berarti dia bisa melaksanakan niat kejamnya, itu bukan masalah sama sekali. Heechul menyeringai, membuat Young Jae bergidig ngeri.
Welcome in the hell, princess..” lirihnya tajam dengan mata menyipit.
Seketika, Young Jae langsung merasa dirinya berdiri di depan pintu neraka dengan Hades yang berdiri di depannya siap membuat hari-harinya buruk.

===To be continued===

(ditunggu kritik dan sarannya ^_^)

202 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 2)

  1. hahaha langsung ketawa pas baca dendam kesumat heechul😀
    feelnya gmna gitu
    seruu^^ makin greget ceritanya thor
    nah lhoo gmna klanjutannya
    young jae-ah tamatlah riwayatmu😀
    #jump to next part

  2. wkwk..
    ketawa ketiwi sndiri pas baca…
    untung ga di marahin eomma…
    hihihi…
    welcome in the hell,youngjae..
    selamatkan dirimu sebelum dimakan si setan cantik.. wkwk

  3. Assa!!!
    I’m back..
    Q lupa d part sblmnya q ud komen ato blm..😀
    Tlg d maklumi klo kdang2 lupa ninggalin jejak #bow
    Hohohoho hee oppa bnr2 ti2san iblis..selain evil maknae tentunya..😀
    Penasaran kira2 apa aj yg bkal d lakuin hee oppa..

  4. baca yang hee chul dlu…
    baru yang ryewook…. *pdhl kan kebalik harusnyaa wookie dluu,
    tapi2, penasaran bngt sama chullie^^
    dan ternyata, daebak…
    abang wookie, jangan ngambek yaak… abis ini aku pasti membaca cerita ttg mu🙂

  5. Huahaha mengejutkan..

    Thorrr!! Aq termasuk sider donk ya?? Aq sering baca didalem selimut soal’a😀 하하하

    Next part..😉

  6. huaaaa ketawa deh pas heechul ngomong “welcome in the hell princess” kebayang banget mukanya heechul hahaha *suka scene akhirnya itu*
    asik marriage life yaa, aku suka genre ini ! hihi
    suka suka sama ide ceritanya bikin penasaraaaan
    daebak !!
    oke next ^^

  7. Ya ampun beda dari acara perm0d0han laenya apa lg di sandy girl d0nghae.hahaha
    k0k bisa kepikiran kaya gini eonn? Pinter deh

  8. Hahaha dendam kesumat akan terbalaskan..
    dasar oppa, kalo jatuh cinta gimana?
    keren nih penasaran selanjutnya young jae di apa-in sama oppa!! ><

  9. kasihan young jae dikerjain sama ibunya sendiri dan sekarang berhadapan dengan manusia paling menyebalkan dan keras kepala. young jae fighting

  10. Dua2nya bgtu pas dgn pmbwaan karakter msing2 yg sling mlengkapi… Heechul gk prlu repot2 mncri Youngjae tuk blas dendam,, hei orgnya udh ada d dpn mata??? Mnyrahkan dirinya sndri,,,, hahahah ntah ini kbruntungan apa gk buat Youngjae,,qt lihat aja nnti,,,,,,

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s