I Hate You, But.. [Part 8]

Tittle : I Hate You, But Part 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, Married Life, Complicated

Main Cast :

  • Kim Soeun
  • Choi Siwon

Support Cast :

  • Lee Donghae
  • Cho Yoohee
  • Park Eunji

Warning : Dimohon kepada reader yang berniat tidak baik terhadap saya,misalnya berniat memplagiat FF buatan saya ataupun mengkopi paste dan memposting ulang FF ini tanpa seizin saya, silakan tekan tombol back.

Akhirnya, FF ini bisa diposting juga. Gak kelamaan kan nunggunya? Author lagi fokus baca komik nih makanya sempat menelantarkan FF yang numpuk minta dirampungkan *nyengir kuda*.

Author tetap memohon maaf jikalau di tengah cerita di temukan typo, bahasa ngawur, tidak sesuai EYD, dan pemilihan kata yang tidak tepat. Author masih amatir dan butuh banyak pembelajaran.

Ditunggu kritik dan sarannya. Happy Reading ^_^

I Hate You But By Dha Khanzaki

===Part 8===

So Eun terdiam seperti orang bisu di sudut tempat tidurnya. Matanya menerawang kosong ke depan. Siwon mulai mencemaskan kondisi psikologis istrinya semenjak kembali dari rumah sakit. Ia seringkali menemukan So Eun melamun lalu menghela nafas, seperti menanggung beban berat di pundaknya.
“Sebenarnya apa yang terjadi, chagi?” Siwon duduk di samping So Eun, membelai halus rambut panjangnya.
“Tidak ada.”

Lagi-lagi jawaban sama ia dapatkan. Siwon agak kecewa karena So Eun tidak mau membicarakan masala secara terbuka padanya. Ia suaminya. Apa yang membuat So Eun ragu berbagi masalah dengannya? Sepertinya memang terjadi sesuatu yang membuatnya begitu syok. Siwon menyesal karena tidak mengikuti So Eun waktu itu. Ia hanya mendapati So Eun mengusap airmatanya lalu mengajaknya pulang.
“Jika ada yang ingin kau ceritakan, aku siap mendengarnya. Mungkin aku bisa membantumu mencari solusinya,” Siwon merayu So Eun lagi agar mau membuka mulutnya. So Eun menoleh padanya dengan mata yang sayu dan kosong.
“Satu-satunya orang yang bisa menjawab kegusaranku hanyalah Appa,” So Eun bangkit lalu membuka tirai jendela. Langit sudah gelap ketika dia mendongkakkan kepalanya menatap pekat hitam langit yang tak bertabur bintang.

Siwon terkesiap mendengar perkataan yang diucapkan begitu lirih, membuatnya merasa iba karena sampai kapanpun So Eun tidak akan pernah mendapatkan jawabannya. Ayahnya sudah beristirahat dengan tenang di alam baka. Ia menghela nafas berat lalu menghampiri So Eun. Wajah putus asa istrinya seperti pisau yang menyayat hati.
“Sudah malam. Sekarang tidurlah,” Siwon meraih pinggang So Eun lembut lalu perlahan-lahan menggiringnya ke tempat tidur.

Setelah berbaring nyaman, So Eun membenamkan wajahnya di dada hangat Siwon, bergelung di dalam lingkaran tangan suaminya. Ia bersyukur karena dalam situasi seperti ini masih ia masih memiliki sosok hebat yang bisa menjadi tempatnya berlindung. So Eun tak sanggup membayangkan betapa menyedihkan hidupnya jika ia belum menikah dengan Siwon. Mungkin ia akan merasa sendiri, malang, dan tak berdaya.
“Aku tidak akan memaksamu bercerita. Untuk saat ini renungkanlah. Jika kau sudah siap untuk bercerita, saat itu aku ada untukmu,” lirih Siwon dengan sebelah tangan mengusap lembut rambut So Eun.

So Eun begitu terharu atas pengertian Siwon hingga tak bisa menjawab apapun. Tangannya yang semula pasif terhimpit di antara tubuhnya dan tubuh kekar Siwon pelan-pelan merangkak naik melingkari lehernya.
“Terima kasih sudah memahamiku, Oppa.” Balasnya berbisik. So Eun mendongakkan kepalanya untuk menempelkan bibirnya di pipi Siwon tetapi Siwon yang paham tujuan istrinya lebih dulu meraup bibir mungil So Eun.

So Eun sempat terkejut karena bibir Siwon bergerak melumatnya terlalu menggebu. Keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat. Detik berikutnya So Eun ikut tenggelam dalam cumbuan manis yang diberikan Siwon. Mereka saling melumat, sama-sama ingin mendominasi. Siwon sadar titik gairahnya sudah tersentuh hingga ia tidak sanggup menahannya lagi. Menjelajahi mulut So Eun rasanya belum cukup untuk meluapkan perasaan yang membuncah dalam dirinya. Tangannya mulai bergerak menyisiri punggung So Eun dengan gerakan mengusap yang seduktif. Siwon tahu tindakannya membuat pagutannya terlepas, So Eun menjauhkan wajahnya sejenak untuk mendesah.

Siwon tersenyum ketika pandangan matanya bertemu dengan iris mata jernih milik So Eun. Pipinya yang terhias semburat merah membuatnya tampak begitu manis dan menggoda.
“Kau tahu chagi, apa yang kupikirkan sekarang?” tanya Siwon misterius.
“Tidak. Kau pikir aku cenayang?” ujar So Eun berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin memanas. Cara Siwon menatapnya benar-benar membuatnya salah tingkah.

Siwon sedikit membungkukkan badannya agar bisa berbisik di telinga So Eun. “Kita harus menyelesaikan apa yang tertunda sebelum pergi ke rumah sakit kemarin.”
Sepersekian detik setelahnya, sekujur tubuh So Eun berdesir kencang dan wajahnya semakin memerah saja. Siwon tak perlu mengucapkannya untuk membuat So Eun paham hal apa yang mereka tunda sebelum akhirnya kalang kabut ke rumah sakit.
“So, may I..” Siwon iseng bertanya padahal mereka sama-sama tahu saat ini tangan Siwon sudah dengan cekatan menurunkan tali gaun tidur So Eun.
“Aku bilang tidak pun kau tetap menginginkannya, kan?”
“Tepat sekali!”

Siwon tidak membuang waktu untuk kembali menyatukan bibir mereka dalam cumbuan mesra. Kini tubuh kekar Siwon sudah menutupi tubuh mungil So Eun di bawahnya dan selama satu jam ke depan, mereka habiskan untuk saling memuja satu sama lain.

—o0o—

Seminggu kemudian, Donghae sudah mulai bisa bergerak dari tempat tidurnya meskipun ia harus meringis sesekali merasakan sakit di beberapa persendiannya.

Donghae menoleh cepat saat ia mendengar derit pintu membuka dan ia tersenyum pada suster yang datang untuk mengecek kondisinya secara berkala.
“Apa kau butuh sesuatu, Tuan?” tanya suster itu setelah memeriksa keadaannya dan mencatatnya untuk dilaporkan pada dokter.
“Kudengar aku harus mendapat transfusi darah saat dioperasi dulu. Apa itu benar?” Donghae teringat hal yang pernah didengarnya dari Dokter Park, dokter yang menangani operasinya. Itupun tanpa sengaja mencuri dengar pembicaraan Dokter Park dengan Ayahnya beberapa hari lalu.
“Ne. Salah satu dari anggota keluarga Anda yang menyumbangkan darahnya untuk Anda,”
“Jinjjayo? Siapa?” Donghae melebarkan matanya, semakin penasaran. Ia menebak-nebak itu adalah kakak laki-lakinya.
“Seorang gadis bernama So Eun.”

Raut penasaran di wajah Donghae memudar dan berganti dengan raut terkejut. Matanya membelalak lebar dan Donghae hampir saja kesulitan bernafas mendengarnya.
“Maksudmu Kim So Eun?”
Suster itu mengangguk lalu membungkukkan badannya pergi meninggalkan Donghae dengan segala kebingungannya.

Kenapa Kim So Eun mendonorkan darah untuknya?
Kenapa tidak keluarganya saja?
Apa tidak ada satupun dari mereka yang bergolongan darah sama dengannya?
Tidak, pasti ada. Tapi kenapa tidak melakukannya?

Puluhan pertanyaan muncul secara bersamaan di otaknya, membuat kepalanya pening sesaat. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Samar-samar telinganya menangkap suara langkah kaki memasuki ruangan. Pusing dikepalanya menghilang begitu suara lembut Eommanya terdengar.
“Kau sudah baikan, nak?” Eomma mengecup kening Donghae sekilas lalu meletakkan kantong berisi makanan di atas tempat tidur Donghae.
“Lebih baik dari kemarin,” lirih Donghae, menatap Eommanya dengan tatapan menyelidik. Sepertinya Eomma tidak menyadari Donghae yang menatapnya lurus karena wanita paruh baya itu sibuk mengeluarkan barang-barang yang dibawanya tadi.
“Eomma membuatkan sup tulang sapi untukmu. Dokter bilang itu bagus untuk membantu proses penyembuhan tulang-tulang di tubuhmu,” ungkap Eomma sambil menata makanan-makanan itu di atas meja geser agar Donghae bisa makan dengan nyaman.
“Apa benar So Eun yang mendonorkan darahnya untuk menyelamatkanku?”

Seluruh gerakan Eomma berikut senyuman di wajahnya terhenti ketika pertanyaan Donghae jatuh seperti bom atom. Eomma memaksakan diri menatap wajah putranya yang mengerut diselubungi rasa penasaran. Mendadak saja, Eomma merasakan kakinya melemas hingga ia harus berpegangan pada sisi ranjang agar tidak jatuh. Donghae yang terkejut segera menahan lengan ibunya yang hampir terhuyung jatuh.
“Eomma, gwaenchana?” tanyanya panik. Donghae menyesal sudah bertanya karena ia tidak tahu bahwa ibunya akan syok mendengar pertanyaannya. Eomma meminta Donghae agar melepaskan tangannya dan membiarkannya duduk di kursi samping tempat tidur.

Eomma tidak akan bertanya darimana Donghae tahu tentang hal itu. Siapapun bisa memberitahunya secara sengaja atau tidak sengaja. Hanya saja ia tidak menyangka waktunya akan tiba secepat ini. Ia belum menyiapkan jawaban yang tidak akan membuat anaknya histeris.
“Ya, dia memang menyumbangkan darahnya untukmu,” Eomma mulai berkata dengan suara parau.
“Kenapa harus dia? Apa di antara anggota keluarga Lee tidak ada yang bisa menyumbangkan darahnya?”
“Tidak, Donghae!” sela Eomma sambil mengangkat tangannya agar Donghae berhenti berbicara. “Eomma mohon jangan bertanya lebih banyak lagi. Eomma akan menjawabnya tapi tidak saat ini.”

Kadar kecurigaan Donghae meningkat menyadari Eomma seperti berusaha menyembunyikan suatu fakta penting darinya. “Waeyo? Sekarang ataupun nanti sama saja bukan. Atau..” mata Donghae menyipit, “Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?”
“Tidak ada, nak. Sungguh.” Ucap Eomma setengah memohon. Ia bangkit lalu mengusap kepala Donghae penuh kasih sayang. “Sekarang sebaiknya kau habiskan makananmu dulu setelah itu kita kembali bicara,” Eomma mengecup puncak kepalanya sebelum akhirnya menghindar dari pertanyaan Donghae dengan pergi keluar dari ruangan itu.

Dalam diam, Donghae menatap pintu ruangannya yang perlahan menutup. Ia bukan anak kecil yang bisa dibohongi dengan mudah. Ia tahu ada yang tidak beres. Sesuatu yang berusaha disembunyikan darinya.

—o0o—

“Di Etoile yeobo, jangan terlambat!”

Siwon menutup teleponnya dengan senyum secerah matahari di bibirnya. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di basement gedung kantor. Langkahnya terhenti ketika beberapa langkah lagi dirinya tiba di samping mobilnya. Matanya terpaku pada sosok Eun Ji yang baru saja keluar dari mobil.
“Selamat siang, Choi Sajangnim,” salam Eun Ji formal sambil membungkukkan kepalanya. Siwon memasang pose waspada ketika gadis itu berjalan menuju ke arahnya. Sikap manis yang ditunjukkannya membuat Siwon jauh lebih curiga lagi.
“Ada perlu apa kemari?” Siwon mencoba menjaga nada suaranya agar terkesan biasa saja. Eun Ji mengangkat map di tangannya ke arah Siwon.
“Aku hanya ingin menyerahkan ini.”
Siwon menerimanya meski kadar kecurigaan itu belum juga berkurang, “Apa ini?”
“Itu proposal proyek yang sempat kami ajukan bulan lalu. Bukankah Anda meminta kami membuat ulang?”

Kali ini Siwon harus terkesiap kaget karena Eun Ji berbicara dengannya memakai bahasa formal. Ada apa sebenarnya dengan Park Eun Ji hari ini? Apa dia sedang merencanakan sesuatu atau dirinya memang sudah berubah sejak pesta ulang tahun kemarin? Atau jangan-jangan sosok yang berdiri di depanya bukanlah Park Eun Ji melainkan orang lain yang mirip dengannya?
“Hari ini kau terlihat berbeda.” ujar Siwon sambil melihat-lihat isi map yang diserahkan Eun Ji tadi. Ia melirik sekilas ketika gadis itu tertawa kecil.
“Aku sudah menyerah, Choi Sajangnim.” Ungkap Eun Ji. “Aku tidak akan mengejarmu lagi. Aku justru berpikir untuk berdamai denganmu dan istrimu.”

Demi daun yang jatuh dari rantingnya, Siwon terkejut bukan main mendengar pengakuan Eun Ji. Ia menatap gadis itu dengan mata membulat dan ia kehabisan kata-kata untuk membalas ucapannya.
“Aku sudah memikirkannya semalaman. Kupikir hidupku akan sia-sia jika aku terus berada dalam bayang-bayang masa lalu. Karena itu, aku mencoba untuk move on darimu.”
Siwon masih tak percaya dengan telinganya sendiri. Ia mencoba mengatasi wajah tercengangnya dengan berdehem.
“Senang mendengarnya,” lirih Siwon, masih terkejut.
“Nah, aku tidak akan mengganggumu. Kau pasti akan pergi makan siang dengan istrimu. Sampaikan salamku padanya,” Eun Ji membungkukkan badannya sebentar lalu kembali lagi ke mobilnya.

Siwon masih terpaku di tempatnya. Sungguhkah gadis itu berubah? Tapi rasanya terlalu cepat sepuluh tahun untuk seorang Park Eun Ji berubah. But who cares. Jika itu benar, bukankah satu masalah sudah teratasi. Siwon tersenyum menyadarinya.

—o0o—

Siwon tidak bisa menahan diri untuk bercerita pada istrinya ketika mereka makan siang bahwa Eun Ji sudah mengibarkan bendera putih dengan kata lain, dia sudah menyerah untuk mengganggu kehidupan pernikahan mereka lagi. So Eun mendesah lega mendengarnya. Ia tahu Eun Ji pada akhirnya akan mengerti situasinya. Benar dugaannya, Eun Ji bukanlah wanita seburuk yang ia kira.
“Aku ingin tahu alasan mengapa Appa begitu membenci Eun Ji,” ujar Siwon tiba-tiba. So Eun mengangkat wajahnya menatap Siwon. “Appa tidak pernah mengatakannya,” tambah Siwon karena So Eun menatapnya dengan mata membulat.

So Eun menyuapkan asparagus ke mulutnya dengan gerakan lemah. Mendengar itu ia jadi teringat masalahnya dengan Donghae. Rasa sesak di tenggorokan yang sempat terlupa itu kembali mencekiknya.
“Appa pasti memiliki alasan yang kuat,” So Eun berkata pelan lalu meneguk air untuk menghilangkan rasa perih di kerongkongannya. Ia hanya berharap alasan Ayah mertuanya membenci Eun Ji tidak sama dengan alasan Ayahnya membenci Donghae.

Dering ponsel yang nyaring mengagetkan lamunan So Eun. Ia melirik ponselnya yang berkedip-kedip. Nomor tak dikenal muncul di layarnya.
“Yeobseo,” jawab So Eun cepat.
“Apa ini dengan Kim So Eun?” suara berat terdengar di ujung sana.
“Ne. Anda siapa?”
“Aku Lee Jung Shik,” Mata So Eun melebar mendengar nama itu. Ia sudah hafal nama Ayah Lee Donghae di luar kepala. Ia segera menegakkan tubuhnya lalu menunduk hormat meskipun ia tahu pria tua itu tidak akan melihatnya.
“Ne, Ahjussi. Ada perlu apa?” tanya So Eun gugup. Siwon menatapnya bingung lalu bertanya tanpa mengeluarkan suara, “nugu?”
“Dari rumah sakit,” So Eun menjawabnya tanpa suara juga. Berikutnya ia fokus mendengarkan apa yang dikatakan Tuan Lee padanya. Sesekali ia mengangguk patuh dengan raut cemas. Siwon mengamatinya hingga So Eun menyelesaikan percakapannya lalu menghembuskan nafas.
“Ada perlu apa rumah sakit meneleponmu?” Siwon tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lagi. So Eun meneguk air lagi, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Aku sudah selesai makan.” ucapnya sambil merapikan penampilannya sedikit.
“Loh, kau mau kemana?” Siwon terkejut.
“Aku ada urusan dengan rumah sakit. Ada yang ingin dibicarakan seputar Donghae Oppa.” Entah kenapa So Eun tidak bisa memberitahukan bahwa ia akan bertemu dengan ayah Donghae pada Siwon. Ia belum siap jika Siwon bertanya-tanya lebih jauh lagi.

Siwon mendengus sebal. Ia tidak suka mendengar bahwa segala urusan tentang Lee Donghae berhasil mengganggu kebersamaannya dengan So Eun.
“Kali ini untuk urusan apa lagi? Apa Lee Donghae sedang sekarat?” gumam Siwon dengan nada jengkel.
“Oppa!” sela So Eun kaget dengan ucapan asal suaminya, “Bukan hal terlalu penting. hanya ingin membahas soal kesehatannya.”
“Bukankah Donghae masih memiliki keluarganya?! Kenapa harus memanggilmu dan mengganggu acara makan siang kita?”
“Oh ayolah, kita bisa makan siang seperti ini lain kali,” So Eun memohon pengertian dari Siwon. Merasa kalah, Siwon mendesah pasrah lalu mengangguk pertanda bahwa ia mengizinkan So Eun pergi. So Eun melonjak senang.
“You’re the best, Oppa. Saranghae.” So Eun mengecup keningnya sebelum pergi meninggalkan Siwon sendirian di sana. Siwon menatap punggung istrinya dengan wajah memelas tak berdaya.
“Huh, dia bahkan tidak berbasa-basi mengajakku pergi bersamanya.”

—o0o—

Rumah sakit selalu menjadi tempat yang memberikan aura buruk bagi Donghae. Ia tidak suka bau obat yang tercium di tiap sudutnya meksipun ruangannya sudah dipasangi pengharum ruangan beraroma mawar. Ia ingin merasakan udara segar. Karena itu Donghae mencoba turun dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar rawatnya perlahan-lahan sambil menarik tiang tempat infusnya tergantung.
“Auh!!” Donghae merasa linu di kakinya ketika ia akan melangkah melewati lobi rumah sakit. Ia hampir saja jatuh tersungkur jika tak ada sepasang tangan yang menahan pinggangnya.
“Gwaenchana?” suara lembut yang terdengar di belakangnya membuat Donghae menoleh. Ia terkesiap melihat gadis yang ditemui di pesta kemarin ada di hadapannya. Senyum manis gadis itu tidak membuat wajah heran bercampur kaget Donghae menghilang. Perhatian Donghae kini tertuju pada jubah putih panjang yang dikenakannya lalu turun ke tangan gadis itu yang masih bertengger di pinggangnya.
Menyadari tatapan Donghae, gadis itu segera melepaskan tangannya setelah yakin Donghae tidak akan jatuh lagi.
“Aku tak menyangka kita bisa bertemu di sini,”

Donghae belum menjawab. Ia masih terpaku pada baju dokter yang dikenakannya.
“Kau lupa padaku? Kita pernah bertemu di pesta. Namaku Cho Yoo Hee.” Yoo Hee mengulurkan tangannya kembali karena waktu itu ia belum sempat berkenalan dengannya.
Alih-alih menjawab atau paling tidak menjabat tangan Yoo Hee, Donghae justru bertanya dengan nada heran. “Kau dokter?”
“Sebenarnya belum bisa dibilang begitu. Baru seminggu aku bekerja di sini, masih banyak yang harus kupelajari.” Ucapnya agak berbisik. Donghae tidak terlalu terpengaruh wajah ceria Yoo Hee karena ia tidak memiliki ide apapun untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Akhirnya ia hanya menghangguk singkat lalu pamit pergi.

Yoo Hee agak kecewa dengan sikap acuh tak acuh Donghae. Pria itu tak berubah. Pikirnya. Karena masih penasaran dengan sosok Donghae, Yoo Hee malah menghampiri pria itu lagi.
“Sudah berapa lama kau di sini?” tanya Yoo Hee sambil berjalan di samping Donghae yang melangkah dengan begitu pelan.
“Sepuluh hari.”
“Kecelakaan?”
“Ya.”
Yoo Hee mengerucutkan bibir. Lagi-lagi dijawab dengan lugas dan singkat. Jika begitu terus ia bisa kehabisan bahan pembicaraan.
“Ah, andai aku sudah bekerja di sini waktu itu. Aku pasti akan membantu menanganimu,” Yoo Hee bermaksud bergurau agar Donghae paling tidak tersenyum padanya. Tetapi reaksi Donghae selalu membuatnya gemas. Pria itu kini malah menghentikan langkah, lalu menoleh padanya.
“Kau tidak ada pasien yang harus ditangani?”
“Sebenarnya ada sih.”
“Kalau begitu kau boleh pergi menemui pasienmu dan tinggalkan aku sendiri,”
“Kau boleh ikut jika tak keberatan,” ucap Yoo Hee sambil tersenyum manis. Ia memutar pandangan ke arah lain lalu menunjuk sekumpulan pasien anak-anak yang berkumpul di dekat akuarium yang ada di lobi rumah sakit.
“Mereka pasien yang harus kutangani sekarang. Kau tertarik untuk ikut?”
“Kau dokter anak?” lagi-lagi Donghae menjawabnya dengan pertanyaan.
“Tidak juga. Aku dokter spesialis penyakit dalam. Mereka adalah anak-anak yang menderita penyakit-penyakit parah. Dan aku ingin memberikan sedikit hiburan untuk mereka. Kau mau ikut?”

Donghae diam sejenak. Sepertinya ini bisa menjadi penghiburan juga untuknya. Donghae mengangguk kemudian.

—o0o—

So Eun tiba di kafetaria rumah sakit dengan perasaan gugup. Ia melihat Tuan dan Nyonya Lee duduk di kursi yang terletak di dekat counter minuman lalu berjalan menghampiri mereka.
“Selamat siang,” So Eun membungkukkan badannya untuk memberi hormat ketika tiba di hadapan mereka.
“Duduklah,” Nyonya Lee terlihat lebih ramah hari ini. So Eun tidak terlalu gugup lagi setelah melihatnya. Ia duduk di kursi kosong yang ada di hadapan Tuan Lee yang duduk tegap.
“Kau tentu tahu kenapa aku mengajakmu berbicara hari ini,” Tuan Lee mengawali obrolan dengan suara ringan. So Eun mengangguk. Diam-diam ia meremas ujung bajunya untuk menyalurkan tubuhnya yang sedikit bergetar. “Ini tentang Donghae.”
Nyonya Lee hanya menunjukkan raut pasrah dan tak mengatakan apapun.
“Donghae tahu kau mendonorkan darahmu untuknya.”

Apa? So Eun membelalakkan matanya lebar. Ia menatap pria paruh baya di depannya dengan wajah terkejut. Sebenarnya itu tidak sopan namun So Eun tidak tahu bagaimana cara menyembunyikannya.
“Dia pasti akan bertanya macam-macam soal ini dan aku ingin memintamu agar tidak berkata apapun seandainya Donghae bertanya padamu karena kami akan melakukan hal yang sama,” Karena So Eun masih mengatupkan bibirnya Tuan Lee kembali berkata, “Ini masalah serius bagi kami. Karena itu kau harus berjanji.”

So Eun merasa darah di sekujur tubuhnya membeku. Jantungnya berdebar kencang dan yang ingin ia lakukan adalah menangis. Tarikan nafasnya semakin pendek dan ia takut tidak akan sanggup menahan rasa frustasi yang menyesakkan dadanya. Karena itu dengan segenap kekuatan yang tersisa So Eun menatap Tuan Lee intens.
“Aku berjanji tidak akan mengatakan apapun jika Anda menjawab satu pertanyaanku.”
Tuan Lee dan istrinya saling memandang sejenak, “Katakanlah,” ucap Tuan Lee mengizinkan.
“Apa Donghae anak kandung Anda?”

Kilatan kaget bisa So Eun temukan di wajah kedua orang itu seolah So Eun baru saja menuduh mereka adalah pelaku kejahatan. Tidak hanya keterkejutan yang tergambar jelas di wajah keduanya tapi juga ketakutan. Mereka takut dan ada sedikit emosi terselip dalam sorot mata mereka.
Tuan Lee menghela nafas kemudian sebelum dia melontarkan hal yang membuat So Eun terkejut bukan main.
“Donghae, dia bukan anak kandungku,” Ucapnya diiringi desahan putus asa dari mulut Nyonya Lee.

Bumi tempat berpijak So Eun terasa berguncang dan So Eun sadar dirinya hampir saja pingsan karena pengakuan itu. Donghae bukan anak kandung Tuan Lee. Kata-kata itu terus berputar dalam otaknya seperti gasing. Kepalanya pusing. Dalam keadaan limbung So Eun menatap kembali Tuan Lee.
“Lalu, kenapa Anda membenciku? Kenapa dahulu Anda melarang hubunganku dengan Donghae Oppa jika ternyata dia bukanlah anak kandung Anda? Seharusnya itu tidak masalah bukan?”

Wajah Tuan Lee pucat pasi mendengar pertanyaan So Eun berikutnya. Pria tua itu tampak linglung dan hampir saja jatuh jika tidak di sadarkan istrinya. “Appa, tenanglah.”
Nyonya Lee tahu jika pembicaraan ini diteruskan penyakit hipertensi suaminya bisa kambuh. Maka ia menoleh pada So Eun untuk memintanya menyudahi pembicaraan ini.
“Sepertinya pembicaraan harus selesai sampai di sini. Kau boleh pergi.”

So Eun terkejut dengan tindakan Nyonya Lee mengusirnya di saat rasa penasarannya tidak terbendung lagi. Ia ingin tahu jawabannya sekarang atau ia bisa gila. Tetapi melihat kondisi Tuan Lee yang terus mengurut kepalanya, So Eun mengurungkan niat. Ia membungkukkan kepalanya lalu pergi ke luar kafetaria.

—o0o—

Donghae menyadari dirinya terus tersenyum setelah ia ikut berpartisipasi menghibur anak-anak malang yang harus menjalani kemoterapi karena penyakit berat yang mereka idap. Ia sempat menyanyikan satu lagu sambil memainkan gitar dan tak disangka anak-anak itu begitu menyukainya.
“Suaramu bagus, kenapa tidak menjadi penyanyi saja?”

Seketika, senyum Donghae terhenti lalu kepalanya berputar ke arah Yoo Hee yang berjalan di sampingnya. Gadis ini bersikeras mengantarnya kembali ke ruangan dengan alasan memastikan agar ia tidak jatuh tiba-tiba di tengah jalan. Donghae tidak bisa menolak karena tak memiliki alasan bagus untuk mengusirnya pergi.
“Terima kasih,” gumam Donghae. “Aku mudah sekali demam panggung.” Tambahnya acuh tak acuh.
Yoo Hee hanya ber-o ria sambil menganggukkan kepala. Ia terkesiap saat Donghae mendadak menghentikan langkahnya. Wajah pria itu menegang. Penasaran, Yoo Hee ikut menoleh ke arah fokus perhatian Donghae. Mereka sedang melintasi area kafetaria rumah sakit sekarang dan Yoo Hee tidak melihat hal istimewa selain seorang gadis yang baru saja keluar lalu berjalan cepat meninggalkan kafetaria.

“Kim So Eun!!” Donghae mendapati dirinya berteriak dan senyumnya mengembang. Ia yakin matanya tidak mungkin salah melihat. Wanita yang baru saja keluar dari kafetaria adalah Kim So Eun. Donghae berniat memanggilnya kembali saat ia melihat kedua orang tuanya juga keluar dari kafetaria itu. Ia memiringkan kepalanya heran. Bagaimana bisa mereka berada di tempat yang sama di saat yang bersamaan. Ia mengerjap ketika sadar bahwa hanya ada satu kemungkinan hal itu terjadi.
Kakinya melangkah hendak menyapa kedua orang tuanya yang tak menyadari keberadaannya di belakang mereka.
“Bagaimana cara kita menjelaskan pertanyaan So Eun tadi?”

Langkah Donghae terhenti ketika ia mendengar ucapan kedua orang tuanya. Ia terkejut. Jadi tadi orang tuanya memang bertemu dengan So Eun. Donghae lebih penasaran lagi karena Ayahnya yang selalu tenang tampak frustasi. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?
“Sepertinya sudah tiba waktunya bagi kita berkata hal yang sejujurnya,” kali ini Eommanya yang berkata. “Kita harus katakan bahwa Donghae dan So Eun bersaudara karena itu mereka tidak bisa bersama sejak awal.”

Donghae merasakan jantungnya jatuh mendengar hal itu. Pikirannya kosong melompong detik itu juga. Sekujur tubuhnya bergetar bersamaan dengan keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhnya. Kemalangan apa lagi yang harus ia terima setelah cintanya dengan So Eun harus berakhir. Sekarang, ia harus mengetahui bahwa dirinya dan Kim So Eun BERSAUDARA?
“Apa maksudnya itu, Appa, Eomma?” dalam keadaan setengah sadar Donghae mendapati dirinya berbicara. Kedua orang tua yang berada di depannya itu terkejut mengenali suara Donghae. Mereka menoleh cepat dengan raut tercengang. Donghae berjalan mendekati kedua orang tuanya perlahan. Langkahnya bahkan tak seimbang karena bumi tempatnya berpijak seakan bergoyang karena gempa.
“Donghae, ini..” Eomma mencoba meraih tangan Donghae namun secepat kilat Donghae menepisnya. Donghae bahkan sudah tidak bisa memandang kedua orang tuanya dengan jelas lagi karena matanya sudah mengabur oleh airmata.
“Aku dan So Eun bersaudara? Kami bersaudara? Dan aku bukan anak kandung kalian?” tanyanya dengan suara tercekat. Ketika kedua orang tuanya tidak menjawab, hati kecil Donghae semakin rapuh dan hancur. Serta merta Donghae segera melepas jarum infus di tangannya, lalu berlari mengejar So Eun dengan segenap tenaga yang tersisa dalam dirinya.

“Donghae!!” Teriak Eomma panik. Yoo Hee yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu ikut memekik panik lalu berlari menyusul Donghae.

Donghae tahu, seluruh tubuhnya protes kesakitan karena ia memaksakan diri berlari dalam kondisi seperti ini. Ia tidak peduli seandainya tubuhnya lumpuh karena hal ini namun ia tidak tahu lagi harus meminta penjelasan pada siapa lagi. Jika orang tuanya tidak mau menjawab maka hanya So Eun-lah harapan terakhirnya. Ia melihat punggung So Eun berada di depan rumah sakit bersiap menaiki taksi.
“So Eun!!” Donghae berteriak dan nyaris menangis putus asa karena kakinya mulai kesakitan. So Eun tidak mendengar panggilannya karena gadis itu masuk ke dalam taksi dan tak lama taksi mulai berjalan.
“Andwae, ANDWAE!!!!” teriak Donghae ketika ia tiba di luar rumah sakit mendapati taksi yang dinaiki So Eun pergi meninggalkan area rumah sakit. Seluruh persendiannya terasa sakit dan Donghae sudah tidak sanggup berdiri lagi. Ia jatuh terkulai di lantai bersamaan dengan kesadaran dirinya yang semakin menipis. Seluruh tubuhnya terasa panas, sakit, dan ia tidak sanggup bernafas lagi dan sebelum dunianya menjadi gelap gulita, Donghae sempat mendengar seseorang meneriakkan namanya.

“Donghae!!”

Detik berikutnya, Donghae merasakan dirinya seperti melayang dan tidak menapaki bumi lagi.

==To Be Continue==

151 thoughts on “I Hate You, But.. [Part 8]

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s