Shady Girl Heechul’s Story (Part 1)

Tittle : Shady Girl Heechul’s Story Part 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Sung Youngjae
  • Kim Heechul

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Kangin

Hai-hai.. Shady Girl Series hadir lagi loh. Kali ini author bawa abang cantik jadi main cast utamanya *lirik abang Chullie*. Kalau temen-temen setia ngikutin FF Shady Girl dari awal, pasti tahu dong siapa tokoh ceweknya.. ^_^

Oh Iya, di seri sebelumnya ada beberapa reader yang berkomentar gak ngerti kenapa muncul cerita baru padahal cerita sebelumnya udah tamat. Ahaaa.. author tahu temen-temen yang komentar begitu pasti belum baca Shady Girl seri sebelum-sebelumnya kan.. ^_^ itu memang sudah gaya author loh, setiap satu serial tamat, pasti ada hint yang merujuk ke Shady girl seri berikutnya ^_^ syukur deh masih banyak reader yang ngerti juga maksud dan tujuan author sehingga bisa menebak siapa main cast berikutnya yaitu Kim Heechul *yeiiiii*

So, Happy reading dan semoga seri ini pun tidak mengecewakan..

Shady Girl Heechul by Dha Khanzaki

===Part 1===

20.00 KST

“Menikah?????”

Kim Heechul hampir saja tersedak makanan yang sedang dikunyahnya. Buru-buru ia mengambil air di hadapannya. Ia melotot pada sosok sang adik, Kim Kibum yang kebetulan duduk di seberangnya.
Makan malam kali ini rupanya akan kembali membahas topik yang paling membosankan di dunia. Pernikahan.

Baru saja namja tampan itu mengatakan bahwa dirinya akan menikah dengan Cho Ja Rin, yeojachingu yang sudah dikencaninya selama beberapa tahun terakhir. Omonaaa.. ia saja belum memikirkan soal itu dan mengapa adiknya begitu buru-buru ingin menikah?

“Apa kamu sudah membicarakannya dengan Tuan Cho?” Tanya Appa pada Kibum. Namja yang ditanya mengangguk yakin. Heechul tetap melanjutkan kegiatan makannya tanpa menghiraukan yang lain. Toh ini memang bukan urusannya.
“Sudah. Dan Tuan Cho menyetujuinya. Aku hanya tinggal mendengar persetujuan Appa dan Eomma saja.” Jelas Kibum dengan wajah cerah. Sebenarnya ini sudah ke sekian kali Kibum mengutarakan maksudnya menikahi Ja Rin, adik dari sahabatnya sendiri. Namun tak kunjung mendapatkan persetujuan dari orang tuanya sendiri. Dan ia berharap kali ini ia akan mendapatkan jawaban yang berbeda dari sebelumnya. Karena itu, ia harus setenang dan sesabar mungkin.

Appa dan Eomma sempat terdiam dan saling pandang. Ada rona ragu menghiasi wajah keduanya. Dan hal ini lah yang langsung membuat rasa percaya diri Kibum jatuh hingga ke dasar. Heechul harap-harap cemas menunggu salah satu dari orang tuanya membuka mulut.

“Kibum-ah..” Eomma mulai berbicara. Nada suaranya di buat sehalus mungkin. Kibum menyiapkan diri untuk kemungkinan buruk yang akan didengarnya.. lagi..
“Eomma bukan bermaksud menghalangimu untuk bahagia, sayang. Tapi bagaimana Eomma bisa membiarkanmu menikah sementara Hyungmu saja belum menikah. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaannya?” ucap Eomma sambil mengenggam tangan Kibum yang disandarkan di atas meja.

Heechul tersentak kaget. Benar saja. Pasti alasan yang sama. Kenapa harus dirinya yang selalu dipermasalahkan? Memang kenapa jika dirinya tidak ingin segera menikah? Apa seburuk itu? Oke, usianya sudah 34 tahun dan ia tidak memiliki yeojachingu. Apa itu yang membuat orang tuanya cemas?

Kibum menghela napas paham. Ia mengangguk perlahan. Ia sudah dewasa, dan bisa memahami maksud dari orang tuanya. Ia tidak akan berteriak dan protes atas keputusan yang harus diterimanya. Kali ini ia akan kembali mengalah demi kakaknya, Heechul.
“Baiklah. Jika itu yang Appa dan Eomma putuskan.” Ucapnya dengan suara tercekat.

Ekspresi Kibum tidak bisa dijelaskan. Ia tampak kecewa. Sangat. Heechul merasa hatinya mencelos melihat ekspresi itu. Rasa bersalah kembali menerpa dirinya. Mengapa ia selalu melihat ekspresi itu dari wajah adiknya? Entah sudah berapa kali wajah sedih dan kecewa seperti itu dilihatnya. Dan sebagian besar semuanya disebabkan oleh dirinya.

Kibum pasti kembali berpikir bahwa dirinya hanyalah anak yang sebenarnya tidak diharapkan orangtuanya.

—o0o—

Perlakuan berbeda terhadap Kibum dan Heechul sudah terjadi sejak Heechul berusia 7 tahun. Tepat di saat Kibum kecil masih berusia 2 tahun. Semuanya di sebabkan karena dulu Heechul adalah seorang anak yang lemah.
Penyakit asma membuatnya tidak bisa beraktivitas terlalu sering. Kelelahan sering sekali dirasakannya. Karena itu pula, kedua orang tuanya yang kebetulan seorang dokter memberikan perhatian lebih. Keseriusan orang tuanya terutama sang Appa dalam memperjuangkannya agar sembuh membuat mereka melupakan bahwa Kibum yang masih sangat kecil-lah yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih.
Hampir tiap minggu ia pergi ke rumah sakit milik keluarganya untuk menjalani terapi. Hal ini pula yang membuat Heechul membenci rumah sakit dan menolak untuk menjadi dokter dan meneruskan bisnis keluarganya itu.
Heechul ingat, Setiap kali Kibum menangis ingin bermanja-manja, Eomma tidak terlalu mempedulikannya. Ia malah menyuruh pembantu untuk mengajak Kibum pergi . sementara dirinya dilarang melakukan kegiatan yang membuatnya lelah. Ekspresi sedih dan kecewa itu dilihatnya untuk pertama kali.

Beruntung saat itu ada Taeyeon—adik perempuannya yang kini telah meninggal dunia—selalu mengajak Kibum bermain hingga melupakan rasa kesepiannya karena tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orangtua.

Entah sebenarnya Heechul harus iri atau tidak.

Heechul sebenarnya sadar pada perasaan Kibum setiap kali mendapatkan perlakuan berbeda dari kedua orang tuanya. Namun sejauh ini adiknya itu selalu tegar dan tidak pernah mengeluh ataupun berteriak kencang. Sikap diam Kibumlah yang membuatnya selalu merasa bersalah.

Sebenarnya siapa yang didiskrimasikan di sini? Mengapa justru Heechul merasa dirinyalah yang didiskriminasikan. Kebebasannya direnggut dan masa kecil yang seharusnya indah ia habiskan di dalam rumah.

Heechul yang sudah mulai berjiwa pemberontak saat itu geram. Entah pada siapa. Namun ia sendiri bingung kenapa ia selalu melampiaskan kekesalannya pada Kibum. Selalu membuat Kibum panas hati dengan mengatakan bahwa dirinya memang tidak di sayangi. Heechul tidak pernah bermaksud mengucapkannya. Ia melakukan itu semata-mata karena ingin Kibum menjadi pribadi yang lebih kuat dan tegar. Memang berhasil. Dan apa akibatnya? Dirinya menjadi pribadi yang lemah dan rapuh.

—o0o—

Heechul tersenyum hambar. Dirinya sendiri bingung mengapa. Sekarang ia paham mengapa ia tidak pernah berpikir untuk menikah atau sekedar mencari yeojachingu. Setelah ia dinyatakan sembuh dari penyakit asma, Heechul merasa sudah menemukan dunia baru yang lebih cemerlang. Karena itu pula, ia memilih keluar dari rumah, menjadi seorang desainer perhiasan—sesuai dengan hobinya—dan menikmati masa-masa bebasnya demi menggantikan hari-hari yang sudah dilaluinya dengan sia-sia.

“Cepatlah menikah atau setidaknya mencari kekasih.” Nasihat Eomma kembali di dengarnya. Heechul hanya mengangguk tanpa berniat menurutinya sedikitpun. Ia sudah dewasa dan bukan saatnya untuk di atur-atur kembali mengenai bagaimana hidup seharusnya.
“Aku akan memikirkannya nanti.” Ujarnya malas.
“Kapan? Usiamu sudah 34 tahun. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Kibum? Eomma tidak enak jika harus menolak keinginannya untuk menikah.”

Oke, inilah yang membuatnya sangat sangat bingung. Jika memang tidak enak mengapa tidak membiarkannya menikah saja? mengapa harus menunggu dirinya menikah dulu? Jujur saja, Heechul tidak masalah jika Kibum harus menikah lebih dulu. Lalu saat Taeyeon memutuskan menikah mengapa kedua orang tuanya setuju? Dan mengapa juga Kibum harus mendapatkan penolakan?
“Atau bagaimana jika kau kembali ikut perjodohan?”

Kali ini Heechul menoleh dengan pandangan agak histeris.

“Lagi? Tidak, terima kasih. Apa Eomma tahu gadis-gadis yang dijodohkan denganku? Semuanya tidak bersikap selayaknya manusia. Mereka hanya bersandiwara di hadapanku. Pura-pura menjadi gadis sempurna dengan melakukan berbagai macam perombakan di tubuhnya sendiri. Aku ingin seorang yeoja. Bukan yeoja yang ditempeli berbagai macam bahan plastik.” Jelasnya panjang lebar dan sukses membuat Eomma menganga tak percaya.
“Lalu kau ingin yeoja yang seperti apa? Eomma bisa mencarikannya untukmu.” Ternyata Eomma masih belum menyerah juga.
“Ah, sudahlah.” Heechul memutuskan pergi. Kepalanya sudah sangat pening.

Saat akan masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan rumah, Heechul menemukan Kibum sedang duduk merenung di atas ayunan yang ada di halaman depan rumahnya. Itu adalah tempat favorit Kibum saat masih kanak-kanak dulu. Dia selalu berada di sana manakala hatinya sedih. Di ayunan itu pula Heechul melihat Kibum menangis seorang diri.

Tempat itu bisa terlihat dengan jelas dari kamarnya dulu. Dan setiap kali Kibum menangis, selalu datang Yoona, gadis manis yang kebetulan tinggal di sebelah rumahnya. Gadis cilik itu pula yang menjadi teman Kibum selain Taeyeon. Namun sayang, Yoona meninggal dunia saat usianya 15 tahun karena penyakit kanker. Mungkin hal itu juga yang membuat Kibum ingin menjadi dokter.

“Hei..” ucap Heechul. Ia bermaksud memanggil. Namun ia canggung jika harus menyebut nama adiknya.
Kepala Kibum mendongak ke arahnya. Meskipun hanya diterpa sinar bulan, Heechul bisa melihat dengan jelas raut sedihnya.

“Kau tidak pulang?”
(pulang di sini itu pulang ke rumah Kibum sendiri ya, bukan rumah orang tuanya^_^ kan mereka udah pada punya rumah sendiri. Reader: iya. Iya tau..)
“Aku masih betah di sini.” Jawab Kibum kembali menundukkan kepalanya.
“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Tanya Heechul lagi. Ia masih berdiri di sebelah Kibum. Padahal bisa saja ia duduk di ayunan satunya lagi.
“Tidak ada. Aku hanya menunggu keputusan Appa dan Eomma saja.” suara Kibum terdengar putus asa.
“Kau tidak berniat, kawin lari?” Tanya Heechul. Sekedar penasaran.

Kibum menggeleng. “Itu akan membahayakan bagi Ja Rin” jawabnya. Ah.. Heechul hampir saja lupa kalau calon adik iparnya itu adalah seorang direktur muda perusahaan besar Cho Corp. kawin lari? Bagaimana jika itu diketahui publik? Cho Corp bisa hancur dalam hitungan hari.
“Lalu, kau akan diam saja dan hanya menunggu keputusan dari Appa?” Tanya Heechul agak sebal. Mengapa juga Kibum begini pasrah dan penurut? Jika dirinya adalah Kibum, ia sudah memberontak dan memilih cara yang berbahaya seperti kawin lari. Namun beginilah perbedaan antara dirinya dan Kibum.

Lagi-lagi Kibum mengangguk. Membuat Heechul makin syok dan jengkel. Sikap Kibum yang terlalu ‘berada dalam jalur’ membuatnya keki. Harusnya adiknya itu sudah marah sekarang. Sebaliknya, Kibum tampak diam dan hanya merenungi semua kesedihannya seorang diri. Heechul tersenyum sinis kemudian.
“Benar juga. Appa dan Eomma tidak terlalu peduli dengan kebahagiaanmu. Kau tahu alasan mengapa mereka bersikap seperti itu?” Tanya Heechul dengan nada sinis. Kibum tak berkata apapun. Namun ada perubahan ekspresi dalam raut wajah sedihnya. Rahangnya tampak mengeras dan Kibum menggigit bibirnya sendiri. Menahan emosinya. Aha, Heechul suka reaksi ini. Lantas ia melanjutkan.
“Karena mereka lebih menyayangiku di bandingkan dirimu.” Ucap Heechul. Ada sedikit perasaan lega dan sesal saat kalimat itu terucap begitu saja.

Kibum mengeratkan tangannya yang mencengkram rantai penyangga ayunan. Ia sebal. Bagus. Lebih baik ia mendengar adiknya itu berteriak kesal padanya daripada melihat Kibum hanya menyimpan rasa sakit hatinya seorang diri.
Namun ternyata pikirannya salah. Kibum tidak meluapkannya. Namja itu tampak menghela napas, lalu ia bangkit.
“Memang begitulah kenyataannya. Tak perlu di katakan pun aku sudah mengetahuinya. Jadi Hyung, aku harap kau bisa mendapatkan kekasih secepatnya.” Ucap Kibum sambil berjalan melewatinya. Perlu di camkan, tanpa menatapnya sedikitpun!! Heechul merasa hatinya seperti di tikam ribuan belati panas. Pedih dan sakit rasanya. Ia sosok Kibum yang berjalan menuju mobilnya dengan tatapan yang sulit di utarakan. Hingga mobil Kibum menghilang sepenuhnya, ia tetap merasa sakit hatinya tak kunjung pudar juga. Bukan sakit hati karena dendam atau perasaan terluka. Tapi lebih pada rasa iba dan sedih.

Ia tidak boleh menyusahkan Kibum lebih dari ini.

—o0o—

Matahari sudah tinggi ke dudukannya di cakrawala. Namun Sung Young Jae masih tetap terlelap dalam tidurnya. Kegiatannya menyusun tesis membuatnya tidak tidur semalaman. Belum lagi pekerjaannya yang menumpuk sebagai seorang fashion stylist majalah mode terkenal di Seoul.

“Young Jae-ah, bangun!! Ini sudah jam 10. Apa kau tidak ingin pergi bekerja!!” teriak Eomma dari luar kamar seraya menggedor pintu kamar gadis berusia 29 tahun itu. Young Jae hanya menggeliat tanpa berniat sedikitpun membuka matanya. Dengan mata setengah terpejam, ia melirik jam weker yang berdiri manis di nakas samping tempat tidurnya.
“Jam sepuluh.. hoamh…” ucapnya setengah sadar. Rupanya nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Seketika ia mengerjap begitu ‘ngeh’.
“Omonaaa!!!” pekiknya panik. Tanpa membuang waktu lagi, Young Jae bergegas turun dari ranjang kemudian berlari dengan kecepatan menggila menuju kamar mandi. Kegiatan yang seharusnya menjadi ritual penting bagi seorang yeoja itu hanya berlangsung 3 menit saja. ia segera berlari mencari baju yang akan dikenakannya untuk ke kantor. Di tariknya blouse berwarna biru muda dan rok lipit berwarna hitam. Berdandan pun ia lakukan sekenanya. Ini kondisi darurat tingkat sepuluh!!

Baru saja ia mengenakan boot beludru kesayangannya ketika ponselnya berbunyi. Young Jae celingak-celinguk mencari ponselnya. Tak terlihat. Hanya terdengar suaranya saja. sial!! Di mana ia letakkan benda penting ke dua setelah laptopnya itu?
“Ah, ini dia..” seru Young Jae senang begitu menemukannya tertindih di antara bantal dan selimut.
“Yeobseo..”
“SUNG YOUNG JAE!!!!!!”
Young Jae buru-buru menjauhkan ponsel dari telinganya begitu pekikan yang lebih dahsyat dari halilintar menerjang. Baru dia berucap satu kata, seseorang di ujung sana sudah meneriakinya seperti orang kesetanan. Dan Young Jae tahu siapa ini.
“Lee Eunri, kau tidak perlu berteriak pun aku bisa mendengarmu..” ucap Young Jae bermaksud menenangkan sahabat sekaligus atasannya itu.
“DI MANA KAU SEKARANG? CEPAT DATANG KEMARI ATAU GAJIMU SELAMA 2 BULAN KE DEPAN AKAN KUPOTONG!!” teriak lagi kemudian menutup sambungan dengan seenaknya tanpa mendengar penjelasan darinya dulu. Young Jae mendengus sebal.
“Ok, aku akan segera ke sana.” Ucapnya pada ponsel di tangannya.

Young Jae tahu benar apa kesalahannya hingga Eunri—sang editor in chief—itu ‘meledak’. Hari ini ada meeting penting yang membahas konsep majalah bulan ini. Oh, tidak. Bahkan deadline-nya tinggal satu minggu lagi. Ia yakin Eunri akan menyuruhnya lembur satu minggu ini.

“Young Jae, sarapan..” ucap Eomma begitu Young Jae melintasi ruang makan. Waktunya sudah tidak ada lagi, namun dia sangat lapar. Perutnya keroncongan sekarang. Eomma menawarkan sepiring panekuk dengan madu—menu sarapan favoritnya—namun sepertinya ia harus merelakan cacing diperutnya demo kali ini.
“Aku ingin sekali Eomma, tapi sayang aku sudah terlambat.” Oh, bye bye panekuk maduku.. batin Young Jae dengan wajah memelas. Young Jae bergegas mencari kunci mobil yang entah ia lupa di letakkan di mana. Salah satu sifat buruknya, ia pelupa dan ceroboh.
“Eomma, kemana kunci mobilku..” teriak Young Jae saat tidak menemukan kunci itu di dalam laci lemari yang ada di dekat pintu masuk.
“Ah, mobilmu di pinjam pamanmu. Bukankah Eomma sudah mengatakannya kemarin..” teriak Eomma dari dapur. Young Jae menepuk jidatnya sendiri hingga memerah. Sial!! Mengapa ia lupa. Bukankah dirinya sendiri yang meminjamkan mobilnya pada sang paman?
“Benar. Aku lupa..” ucapnya putus asa dan kesal. Jadi aku harus berlari hingga halte bis begitu? Batinnya berkecamuk kembali.

“Young Jae-ah..” Eomma menghampirinya dengan wajah berseri.
“Apa. Cepatlah. Aku sedang buru-buru..” ucap Young Jae sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya.
“Eomma hanya meminta kau menandatangani ini..” ucap Eomma sambil menyerahkan seberkas kertas pada Young Jae.
“Ini apa?”
“Ah, hanya berkas biasa untuk kependudukan. Bukankah kita akan pindah minggu ini?”
Young Jae mengangguk saja dan tanpa rasa curiga sedikitpun ia menandatangani surat itu.
“Baiklah, aku berangkat dulu Eomma, chuu—“ Young Jae mengecup singkat pipi Eomma kemudian melesat pergi.

Sepeninggal putrinya, Eomma tersenyum misterius sambil menatap kertas yang baru saja ditanda tangani putrinya.
“Kau akan mengerti kenapa Eomma melakukan ini.”

—o0o—

Heechul terbangun dengan keringat mengucur disekitar keningnya. Raut wajahnya lebih mirip seperti orang yang ketakutan melihat malaikat maut. Ia singkap selimut yang menutupi tubuhnya. Bahkan kaus putih tanpa lengan yang dikenakannya terasa lengket dan basah oleh keringat. Sekarangia merasa makin frustasi. Sudah ketiga kalinya sejak malam itu ia dihantui mimpi buruk.

Kau harus segera menikah agar adikmu bisa menikah.
Kau tidak bisat erus seperti ini, nak. Eomma juga ingin adikmu bahagia.
Berpikirlah dewasa.Jangan terus bermain-main
Cepat cari istri atau Eomma akan menikahkanmu dengan gadis pilihan Eomma.

“AAArrrgghh..aku bisa gila!!!” Heechul meremas rambutnya kencang berharap kalimat-kalimat yang berdengung di telinganya bisa hilang. Kata-kata Eomma sungguh menghantui hati dan pikirannya. Ia memusatkan pandangannya ke luar jendela. Saat ini bulan sabit terlihat malu-malu di balik awan. Membuat pikirannya melanglang buana. Semakin jauh, semakin jauh hingga ia merasa tersesat dalam kesemrawutan hidup.
“Cukup! Aku harus cari jalan keluarnya. Tidak mungkin juga aku menerima tawaran bodoh Eomma.” Ia beranjak turun dari ranjang lalu menyalakan lampu. Setelah kamar terang benderang, ia menghampiri lemari untuk mengambil sebuah berkas yang Eomma berikan siang tadi.

Seringaian sinis melengkung di bibirnya. Ia sampai tak habis pikir dengan tindakan tak masuk akal yang dilakukan ibunya sendiri. Bagaimana bisa Eomma memintanya menandatangani surat yang menyatakan bahwa ia sudah menikah dengan seorang gadis. Konyol sekali. Ia bahkan tidak mengenal nama gadis yang tercantum di surat itu.
“Aku harus mencari gadis yang mau kujadikan pacar.” Lirihnya sambil melempar map itu kembali ke dalam lemari.

—o0o—

“He? Kau serius ingin mencari kekasih di sini?”
Kangin terang saja terkesiap mendengar teman baiknya berkata sesuatu yang tak masuk akal. Ia sudah cukup dikagetkan dengan telepon dari Heechul karena biasanya pria bernama Kim Heechul tidak akan pernah sempat menelepon teman lama apalagi mengajaknya bertemu untuk menemani pria itu mencari kekasih. Jelas Kangin terkejut bukan main mendengarnya.
Heechul bersedekap dengan wajah serius namun bagi setiap orang yang melihat ekspresinya sekarang, pasti akan berteriak ‘pria itutampan sekali’.
“Tentu saja.”
Kangin mendesah berat lalu ikut bersandar pada pagar besi yang ada di belakangnya. Ia menoleh pada Heechul untuk memberikan saran namun tak jadi karena Heechul selalu memiliki kalimat bagus untuk membantah kata-katanya. Karena itu ia menutup mulutnya kembali.

Mereka terdiam beberapa saat menatapi orang-orangyang berjalan hilir mudik di trotoar sepanjang jalan di dekat pusat kota.
“Tapi kenapa tiba-tiba kau berpikiran untuk mencari pacar? Sebelumnya kau tidak pernah memusingkan hal itu.” Akhirnya Kangin menemukan pertanyaan untuk di ajukan.
“Tanyakan hal itu pada Eommaku. Bahkan aku pun tidak mengerti kenapa. Seharusnya aku tidak perlu merasa terbebani dengan ucapan Eomma namun kali ini aku sama sekali tidak bisa. Kali ini aku merasa sangat bersalah pada Kibum.”
“Oh, adikmu yang dokter itu?”
Yes, same as my father.” Tambah Heechul malas. Ia sedikit jengkel jika ada orang yang bertanya ‘mengapa kau tidak menjadi dokter juga?’. Hanya karena Ayah dan adiknya dokter mengapa ia juga harus menjadi dokter? Memang salah jika ia lebih memilih menjadi seorang desainer perhiasan?

“Adikku ingin segera menikah dengan kekasihnya. Namun Appa dan Eomma belum menyetujui selama aku belum menikah.” Jelas Heechul dengan wajah semakin ditekuk sebal.
“Oh, ya..” Kangin tersenyum. Dia baru teringat kalau Kim Kibum, adik dari Kim Heechul adalah kekasih dari Cho Jarin, Presiden Direktur di perusahaan tempatnya bekerja.
“Adikmu sangat beruntung karena bisa mendapatkan direktur Cho. Aku tahu jika mereka ingin segera menikah. Entah berapa kali Direktur Cho mengeluh padaku karena adikmu gagal mendapatkan izin dari orangtuamu. Uh, jangan sampai Direktur merajuk dan terpaksa posisinya di ambilalih oleh kakaknya yang aneh itu.”
Heechul menoleh heran. “Maksudmu, Kyuhyun?”
“AAhh.. iya. Dia benar-benar orang paling aneh yang pernah kutemui. Untung saja dia hanya pengganti sementara. Aku tidak tahan jika harus menghadapinya.” Kangin teringat masa-masa melelahkannya saat Kyuhyun menggantikan posisi Ja Rin meski hanya berlangsung selama dua minggu.
“Sekali lagi, adikmu benar-benar beruntung.” Ucap Kangin.“Kapan lagi bisa mendapatkan pacar secantik dan sepintar Direktur Cho.”

Seperti ada yang menuangkan minyak ke atas kompor,dada Heechul semakin bergemuruh. “I know how lucky because my brother can get a girl as great as her but then, I don’t care.
Okay, and then..why you look so pity? What’s wrong with you? Kau serius dengan apa yang akan kita lakukan?” balas Kangin sambil menatap kasihan Heechul.

“Ya. Aku memang berniat mencari pacar dari salah satu gadis yang berlalu lalang di sini.”Ucapnya diiringi seringaian iblis. Kangin bergidig. Ia tahu jika Heechul sudah menunjukkan smirk seperti itu, pertanda kali ini ia sangat serius.
“Lalu jika kau sudah menemukannya, apa yang akan kau lakukan?”

Mendengar pertanyaan Kangin yang lebih terdengar seperti sebuah tantangan membuat Heechul merogoh sesuatu dari dalam saku jas yang dikenakannya. Kangin mengerjap melihat sebuah cincn dengan desain indah ada di tangan Heechul.
“Akan kuberikan cincin ini padanya.” Ucapnya dengan mata menyipit. Fokusnya tertuju pada cincin itu seolah ingin membuat cincin hasil rancangannya sendiri itu meleleh.
“Whuaa..siapapun perempuan itu pasti dia the luckiest woman in this world.” Seru Kangin takjub. Dia sama sekali tidakmengada-ngada dengan ucapannya. Cincin di tangan Heechul memang tampak sanga tindah. Ia yakin cincin itu adalah masterpiece dari semua karya Heechul. Pria itu memang sering mengatakan, akan melamar wanita yang dicintainya dengan cincin terindah dari semua cincin yang pernah ia buat.
“Karena itu kau harus serius membantuku.”

Kangin mengangguk lalu dimulailah misi mereka mencari kekasih untuk Heechul. Beberapa gadis yang lewat di depan mereka ada yang mulai terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada Kangin dan Heechul. Bagaimana tidak menarik perhatian, Heechul memiliki wajah yang tampan bahkan nyaris dikatakan cantik. Entah berapa banyak gadis yang terang-terangan menyatakan rasa iri mereka melihat wajah Heechul.
Keluarga Kim memang memiliki gen di atas rata-rata.Lihat saja adiknya, Kim Kibum yang bisa menjadi seorang dokter di usianya yang masih muda. Rumah sakit tempatnya bekerja selalu ramai karena banyak yang ingin diobati oleh Kibum. Lalu Kim Taeyeon, adiknya yang kini telah meninggal dunia. Dia sosok gadis yang cantik dan berkali-kali mendapatkan beasiswa di bidang sains. Seorang ilmuan yang menginspiratif banyak orang.
“Hei, kau lihat gadis yang di sana..” Kangin menepuk pundak Heechul sambil mengerling ke arah seorang gadis yang berjalan dengan sangat anggun tak jauh dari tempat mereka berdiri. Heechul menatapi gadis itu selama beberapa detik untuk mencari tahu apakah hatinya berdesir kala menatap gadis itu. Ya, sedikitlah ada.
“Tak ada salahnya mencoba.” Heechul berjalan dengan sendirinya ke arah gadis itu dengan penuh percaya diri. Ia sudah tersenyum saat pandangan gadis itu bertemu dengan pandangannya. Mereka terdiam selama beberapa detik. Ia mengeluarkan cincinnya untuk gadis itu.
Dia pasti gadis yang dikirim untukku. Batinnya yakin. Heechul baru menggerakkan kakinya satu langkah ketika tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seseorang.

“Kau yang disana..minggir!!!”

Heechul belum sempat menyadari apapun saat tiba-tiba tubuhnya ditubruk dari arah belakang dan alhasil, cincin yang dipegangnya lepas dari tangan, menggelinding lalu masuk kecelah got di sisi trotoar.
“Aaaaaaaaaaaaahhhhh..”Heechul menjerit histeris dengan tangan hendak meraih cincin yang sudah terlanjur jatuh. Semua aktivitas di sekitar mereka berhenti seketika mendengar teriakan heboh Heechul. Ia menoleh cepat ke arah seorang gadis yang baru saja menabraknya.

Heechul menatap gadis itu penuh amarah. Gadis itu tidak memperhatikan raut tajam Heechul sama sekali karena sibuk membereskan berkas-berkasnya yang jatuh.
“Yaaa!! Kau tidak punya mata, eoh!! Seharusnya kau menggunakan matamu dengan benar jika sedang berjalan jangan asal menabrak—“
“Mianhae..aku sedang buru-buru.” Gadis itu menginterupsi ucapan Heechul, lalu pergi begitu saja tanpa memandangnya sama sekali.
“Hei gadis tengik!!!!” Heechul meneriaki gadis yang saat ini sudah lari terbirit-birit seperti dikejar anjing. Sepertinya dia sedang terburu-buru.
Heechul menoleh kearah gadis yang tadi di incarnya. Ia kembali tercengang karena gadis incarannya tadi sudah menghilang entah kemana.
“Kim Heechul, kau harus tenang..” Kangin mencoba menenangkan Heechul karena pria itu terdiam mematung di tempatnya dengan wajah menahan amarah.
“Perempuan itu…dia..jika aku menemukannya..aku akan menyiksanya!!!!!!!” tegasnya berapi-api.

==To be continued==

142 thoughts on “Shady Girl Heechul’s Story (Part 1)

  1. Huahaha chullie klo ma yeoja anggun itu kau tidak berjodoh tpi dngan yeoja ‘serampangan’ itu mungkin ㅎㅎㅎ:D

    Jgn” surat yg ditanda tanganin youngjae itu surat berkas sama yg dikasih hee eomma buat chullie??

    Next..😉

  2. young jae itu yang ada ryeowook story yah ?
    perancang gaunnya tiffany sekaligus temennya henry kan?
    dan eun ri sahabatnya itu dia itu pacarnya yesung bukan sih ?

    aku penasaran sama surat yang ditandatanganin sama young jae sma heechul, pasti surat itu isinya sama dan itu surat nikah?
    loh kok bisa?
    penasaraaaan ayo next next deh

  3. Btw , ijin baca ff ini yooo thor ^^
    Aku dpt refrensi baca ff ini dri baca behind story nya author jilid 3 ..
    And bener , baru part 1ajah udh penasaran dgn crta selanjutnya yg keliatan menarik .. Karakter heecull dsni mirip kyuhyun yaaa yg suka menindas .. Kkkkkk

  4. okeh critanya msh bikin q pngen baca part slanjutnya haha

    ini udah hmpir 3kali q baca shady girl dan ttep jd favorit q bingit:-D
    tp maap krn bru komen😦
    jgn marah y eonnie *kedip2 mata*

    oh y klo q ga komen di part slanjutnya ga pa pa kan? haha *peluk author*

    sarangahayo^^

  5. kasihan kimbum gara heechul kebahagiannya jadi tertunda.
    heechul egois banget. rasakan itu heechul cincin nya jatuh. hahhahahha

  6. Wowwww emak luu bner” kejem yehhh hahaha cocok bnvet dgn karakter luu yg super duper kejem ahhahaah kira” pnyiksaan sprti apa yah yg bklan di trina yeoja it?????

  7. Lah.. yeoja yg lagi duduk siapa? Kalo yeojaa yg keburuburu mah pasti youngjae..
    Btw eonnie aku minta maaf sekaligus izin ya aku skip shady girl yg ryewook story heheeh mian, soalnya aaku gak suka sma castnya (couplenya) jadi takut gak tambah kebawa feeling nya malah jadi nge-bash wwkwkwk sekali lagi maaf yaaa~ (‘∀`)

  8. Qu ingin ketawa liat tingkah aneh Heechul,,,wlw kliatan sikapnya dingin n jutek,,tp dy orgnya baik ko… Jdohmu udh d dpn mata bang Chulli kekekekeke

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s