Celebrity Girlfriend

FF Special Donghae’s Birthday

Tittle : Celebrity Girlfriend
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, School
Length : Oneshot

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Jung Seohee

Sebenernya author iseng sih bikin FF ini. Udah lamaaaaa banget tapi baru diposting sekarang di moment yang pas banget yaitu ulang tahun abang Ikan paling kece di SJ. Semoga ceritanya berkenan di hati. Ini adalah hadiah dari author buat temen-temen yang mengagumi Uri Donghae Oppa *salah satunya author* ^_^

Happy Reading

My Rival My Boyfriend (Celebrity Girlfriend)

===Oneshot===

“Lee Donghae, jadilah pacarku!!”

Donghae menjatuhkan bola basket yang ada dalam genggamannya mendengar pernyataan tiba-tiba dari Jung Seohee, perempuan cantik yang terkenal di sekolahnya; Royal President High School. Ia mencoba tidak terlalu menganga dengan mengelap keringatnya yang bercucuran setelah letih berlatih basket.
“Waeyo? Kenapa aku harus menurutimu?” Donghae bertanya dengan nada tak peduli. Jung Seohee mendekati Donghae yang sedang mendribble bola. Ia mencoba melupakan sikap egoisnya sebagai seorang wanita dan seorang artis idola.

“Aku menyukaimu.”

“Hah?” Donghae menaikkan alisnya sebelah sambil menatap lekat gadis di hadapannya. Telinganya terasa gatal mendengar pernyataan suka Seohee. Itu bukanlah sesuatu hal yang mengejutkan baginya karena sudah ratusan gadis yang berkata hal yang sama. Namun yang membuatnya terkejut adalah Jung Seohee, seorang aktris terkenal menyatakan ketertarikannya pada laki-laki biasa sepertinya?
“Berikan aku satu alasan kenapa aku harus menerima proposalmu?” tanya Donghae sambil melipat kedua tangannya. Seohee menggigit bibirnya ragu. Ia pun mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke tanah. Donghae memperhatikan setiap gelagat Seohee dengan alis bertautan.

“Sebenarnya..” perlahan Seohee mengangkat kepalanya menatap Donghae. “Aku butuh bantuanmu.”

The Story Begin..

—o0o—

Menghadapi kerumunan media massa dan kilatan cahaya kamera bukanlah hal asing bagi Jung Seohee. Sebagai seorang aktris, pekerjaan itu menuntutnya untuk bisa tampil mempesona meskipun dirinya tersandung skandal yang cukup serius. Dirinya digosipkan terlibat hubungan asmara dengan Kim Kibum, lawan mainnya dalam drama yang sama. Beruntung dirinya memiliki jalan keluar yang jitu dan secara perlahan-lahan gosip tentang dirinya tenggelam tertelan gosip lain yang lebih panas.

Seohee secara mengejutkan mengaku bahwa dia berpacaran dengan teman satu sekolahnya, Lee Donghae. Wartawan perlahan mengerti alasan kenapa Kibum dan Seohee terlihat sangat akrab. Tak lain karena Lee Donghae, namjachingu Seohee adalah sahabat baik Kibum. Gosip pun mereda.
“Pemotretan selesai jam berapa?” tanya Seohee pada managernya, An Jae In.
“Jam 3. Waeyo?” Manager An heran melihat Seohee begitu gelisah.
“Hari ini namjachinguku ada pertandingan basket dan aku ingin sekali melihatnya bertanding.” Ujar Seohee sambil melirik jam tangannya. Manager An yang sedang menggulung rambut Seohee terkejut.
“Untuk apa? Bukankah kalian hanya berpura-pura pacaran?” ucapnya dengan mata membelalak. Seohee mengerucutkan bibir. Itu menurutmu. Batinnya jengkel. Ia memandang pantulan dirinya yang sudah siap dengan kostum untuk pemotretan lengkap dengan aksesori dan make-up.

Sebenarnya, aku memang menyukai Lee Donghae sejak lama. batinnya. Tidak hanya karena wajahnya yang tampan, tapi juga karena kepribadiannya yang mengagumkan.

Sejak awal masuk ke sekolah yang sama dengan Donghae, Seohee menaruh hati diam-diam pada pemuda itu. Seluruh murid satu sekolahnya tahu bahwa dirinya adalah seorang artis dan agensinya pun melarang dirinya terlibat hubungan yang bisa menimbulkan skandal besar. Karena itu ia menahan diri untuk mengungkapkan perasaannya sampai akhirnya, Tuhan memberinya kesempatan. Ia harus berterima kasih pada Kibum yang memberinya hadiah cincin dan secara kebetulan, paparazzi berhasil mengabadikannya lalu membuatnya menjadi berita terhangat satu negara keesokan harinya.
“Meskipun hanya pura-pura, aku tetap menganggapnya pacarku.” Ucapnya lalu bangkit. Pemotretan sudah dimulai. Ia memilih meninggalkan managernya yang pasti akan menodongnya dengan ratusan pertanyaan lain. Manager An sempat menentang solusi yang diusulkan Seohee. Beruntung agensinya setuju sehingga manager berusia 28 tahun itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

—o0o—

“Katakan sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Kibum,” interogasi Jeyoung, sahabat baiknya ketika mereka menonton pertandingan Donghae melawan tim basket Neul Paran High School.

“Bagaimana ceritanya sampai Kibum memberimu hadiah cincin?” serobot Jia saat Seohee hendak membuka mulutnya. Ia menatap gemas sahabatnya yang menjadi pengagum Kim Kibum itu.
“Kami bertaruh tentang siapa yang akan memenangkan polling pemirsa sebagai aktor/aktris terbaik. Yang kalah harus memberikan hadiah untuk si pemenang. Pada akhirnya, aku menang. Aku hanya tidak menyangka Kibum akan memberikan cincin padaku. Sialnya lagi, ketika Kibum memberikannya padaku, paparazzi memotretnya dan mengira kami berpacaran.”

Jeyoung dan Jia mengangguk paham. Seohee kembali memfokuskan perhatiannya pada pertandingan. Dia melonjak sambil bersorak kencang ketika Donghae berhasil menambah point untuk timnya.
“Kyaaa..itu pacarku!!” teriak Seohee ribut, hal yang dilakukannya tanpa sadar. Semua orang sampai memperhatikan ke arahnya tak terkecuali Donghae yang berada jauh di lapangan. Donghae tersenyum saja menanggapi sikap pacar gadungannya itu.

Pertandingan usai dengan kemenangan di tangan Royal President High School. Donghae seperti biasa, selalu pulang paling akhir dibandingkan anggota lainnya. Seohee menghampiri Donghae yang kini sedang membenarkan simpul tali sepatunya.
“Ini untukmu.”
Donghae menoleh pada tangan Seohee yang memegang sekaleng jus untuknya. Pandangan Donghae kemudian naik ke wajah cantik Seohee. Gadis itu tersenyum cerah seperti biasanya.
“Gomawo,” Donghae mengambilnya sambil bangkit. “Kau belum pulang?”
“Aku berencana pulang denganmu.”
“Wae?” Donghae membuka kaleng jus itu lalu meminumnya. Seohee menatap laki-laki itu dengan kening berkerut.
“Bisakah kau berhenti bertanya ‘kenapa’ padaku? Kau membuatku seperti penjahat saja.” protesnya.
“Hanya mengatakan alasannya apa susahnya? Aku tahu kau artis dengan jadwal padat. Seharusnya kau tidak membuang-buang waktumu bersamaku.”
“Memang kenapa jika aku ingin menghabiskan waktuku bersama kekasihku? Tidak akan ada yang marah.”
“Bukankah aku pacar gadunganmu?”

Seohee kehabisan kata-kata untuk mendebat Donghae lagi. Sudah sejak awal Donghae mengatakan padanya bahwa ia hanya menganggap ‘hubungan’ mereka tak lebih dari status saja. Donghae tidak akan membantu Seohee lebih dari itu.
“Aku tahu,” Seohee berusaha menahan emosinya. “Bagaimanapun, seluruh Korea tahu kau adalah pacarku. Karena itu akan terlihat aneh jika kita tidak pernah terlihat berkencan sama sekali.”
“Jadi?”

Seohee menahan diri agar tidak berteriak pada pria tak peka di depannya. Demi apapun, haruskah ia bersikap seperti gadis tak tahu diri di depannya? Gadis yang tidak punya harga diri meskipun sudah ditolak berkali-kali tetap mengejar-ngejar pria pujaannya? Tidak, ia bukan gadis semacam itu.
“Tentu saja aku ingin mengajakmu berkencan.”

—o0o—

Donghae menoleh ke sekelilingnya dengan canggung. Dia berkali-kali meminta perhatian Seohee yang duduk di depannya tengah menikmati makanannya. Spagetti marinara di depannya tidak ia habiskan karena ia merasa kurang nyaman dengan orang-orang yang memperhatikan mereka. Samar-samar Donghae mendengar mereka berbisik tentangnya dan Seohee.

“Kau ingin aku menjadi bahan gosip seluruh negeri?” gumam Donghae sambil mengunyah makanannya. Seohee paham maksud Donghae dan menoleh ke sekeliling mereka. Cukup menebarkan satu senyuman manis orang-orang itu kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
See, problem’s solved,” Seohee tersenyum menang. Donghae menghela nafas lalu meneguk air. Ia teringat sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Seohee.
“Kapan kau berencana mengakhiri sandiwara kita?”

Kegiatan makan Seohee terhenti berkat pertanyaan Donghae. Ia gusar menatap pria yang kini memandangnya datar.
“Aku tidak berencana mengakhirinya,” jawabnya setelah berhasil menenangkan perdebatan dalam benaknya sendiri.
“Kenapa?” Donghae terkejut, alisnya bertautan. Seohee menghindar bertemu pandang dengan tatapan Donghae. Ia pura-pura sibuk dengan makanannya.
“Aku sudah selesai makan. Kau sudah?” Seohee melirik piring makan Donghae yang sudah kosong. Lantas ia memanggil pelayan untuk menanyakan bill. Ketika pelayan itu datang menyerahkan bill padanya, Donghae meletakkan beberapa uang di atas meja sebelum Seohee mengeluarkan uangnya.
“Ambil saja kembaliannya,” ujar Donghae. Ia segera menarik tangan Seohee yang terbelalak kaget atas tindakannya. Gadis itu sempat memekik histeris dikerek tiba-tiba keluar restoran oleh Donghae.

“Kau tidak bisa membawaku keluar dengan cara manis! Orang-orang memperhatikan tadi!” omel Seohee ketika mereka kini berada di sebuah taman yang tak jauh dari restoran.
“Kau tahu aku bukan tipe pria yang suka berbuat romantis. Jadi berhenti bermain-main dan katakan yang jelas kapan kau akan mengakhiri hubungan kita?!” paksa Donghae tak sabar. Lagi-lagi Donghae membahas hal ini. Apa dia tidak mengerti dengan yang dikatakan Seohee di restoran tadi? Perlukah ia berteriak kencang atau menuliskannya agar Donghae berhenti mengajukan pertanyaan yang sama?
“Sudah kubilang aku tidak mau kita putus!” bentak Seohee. Runtuh sudah sikap manis yang dipertahankannya mati-matian sejak tadi.
“Iya tapi kenapa? Bukankah skandalmu sudah berakhir dan alasan untuk mempertahankan sandiwara ini sudah tidak ada lagi. Kau tidak pernah tahu bagaimana kesulitannya diriku ketika berita ini menyebar kemana-mana. Aku bahkan ditanyai macam-macam oleh wartawan dan keluargaku..” aliran kata-kata Donghae terhenti karena tiba-tiba saja Seohee menarik kepalanya mendekat, lalu mencium bibirnya. Matanya membelalak lebar dan Donghae merasakan nyawanya seperti baru lepas dari tubuhnya. Gadis ini, apa yang dilakukannya sekarang!!

Seohee tidak tahu kenapa dia melakukan hal memalukan seperti ini pada Donghae. Hanya saja ia tidak tahan mendengar Donghae terus berkata tidak bahagia berpacaran dengannya. Perlahan, ia menjauhkan wajahnya dari Donghae. meskipun takut, ia memberanikan diri memandang wajah pria di depannya. Ia ingin tahu bagaimana ekspresi Donghae dan Seohee tidak terlalu kaget begitu mata mereka bertemu, sorot mata Donghae tampak datar dan dingin. Pria ini memang seperti ini sejak awal.
“Jika kau bertanya kenapa aku melakukan ini, kuanggap ini adalah hadiah ulangtahunku,” gumam Seohee. Secara bertahap Seohee melangkah mundur. Donghae terkejut mendengarnya. Jadi, hari ini Seohee ulang tahun?
“Sekarang sudah malam. Aku harus pergi,” Seohee pamit tanpa memandang wajahnya lagi. Donghae hendak mencegahnya namun sosok Seohee langsung menghilang.

Sekarang, Donghae berdiri terpaku di tempatnya dengan perasaan campur aduk. Ia merasa sebuah perasaan asing menyusup di relung hatinya seperti air dingin yang menyejukkan tenggorokan dalam cuaca panas. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya menyentuh bibir. Rasa bibir Seohee masih terasa, kelembutannya masih tersisa. Gadis itu, sebenarnya apa yang diinginkan dari pria biasa sepertinya?

—o0o—

“Mwo? Kau bilang apa?”

Seohee menutup telinganya rapat-rapat mendengar teriakan melengking dari mulut Kang Hyorin, sahabat sekaligus Ketua OSIS di sekolahnya.
“Kau tidak perlu berteriak.” Gerutu Seohee menahan malu. “Aku tidak tahu harus menceritakan pada siapa lagi. Aku yakin kau satu-satunya yang tidak akan menertawakanku.”

Hyorin menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil mendesah, “Kau menjatuhkan martabat kaum hawa. Bagaimana bisa kau mencium pria lebih dulu!?”
“Aku juga tidak tahu kenapa hal itu terjadi. Yang kutahu malam itu aku tidak mau sampai Donghae memutuskanku. Mau ditaruh dimana mukaku jika orang-orang mendengar Jung Seohee diputuskan kekasihnya sendiri.” ia mengacak-acak rambutnya sendiri. “Jadi, apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak berani menatap Donghae lagi.”

Hyorin mendesah berat lagi. “Aku bukan badan konseling karena itu aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Jika kau butuh saran kau bisa bertanya pada Eunhyuk. Dia sangat mengerti perempuan dan selalu memiliki jawaban yang memuaskan.”
“Tidak! Eunhyuk adalah sahabat Donghae. Dia bisa bercerita macam-macam pada pria itu!” Seohee lebih histeris lagi.
“Baiklah, baiklah. Kalau begitu aku hanya ingin bertanya satu hal padamu.”
Seohee menolehkan pandangannya pada Hyorin. Gadis itu menopangkan dagunya sambil menatap lurus Seohee. “Apa kau mencintai Lee Donghae?”

Deg.

Jantung Seohee seolah jatuh dari tempatnya. Tubuhnya membeku dan bibirnya mendadak kelu. Hyorin melihat reaksi itu sebagai jawaban ‘iya’. Ia tersenyum lalu bangkit.
“Jika memang begitu, katakanlah yang sebenarnya. Aku tahu Lee Donghae pria yang baik. Meskipun selalu bersikap dingin dan tak peduli, namun dia sangat perhatian pada orang-orang yang dianggap penting baginya. Mulai sekarang, berhenti bersikap canggung dan jadilah Jung Seohee yang penuh percaya diri!” Hyorin menegakkan tubuh Seohee yang sedikit membungkuk lalu mengangkat dagunya.
“Lee Donghae tidak akan menyia-nyiakan gadis cantik sepertimu,” Hyorin mengedipkan matanya sebagai tindakan akhir untuk membangkitkan rasa percaya diri Seohee.

—o0o—

Meskipun sudah berkonsultasi dengan Hyorin, Seohee tetap saja menunjukkan rasa canggungnya setiap berpapasan dengan Donghae. Ia selalu menghindar jika mereka tanpa sengaja bertemu di lorong ataupun bersinggungan ketika hendak makan di kafetaria. Seperti kali ini, Seohee berbalik pergi ketika dia akan meminjam buku ke kelas Nara—Donghae satu kelas dengannya. Tidak biasanya Donghae ada di kelas di jam istirahat karena itu ia memilih meminjam buku ke kelas Jia saja.

“Ada apa dengan Seohee? Biasanya dia selalu bersemangat jika bertemu denganmu. Apa sesuatu sedang terjadi?” tanya Siwon heran. Donghae menoleh singkat pada sahabatnya lalu kembali menekuni buku yang sedang dibacanya. Itu juga menjadi pertanyaannya selama satu minggu ini. Tepatnya, semenjak insiden ciuman itu Seohee selalu mencoba menghindarinya. Seharusnya dia yang begitu.
Sebenarnya, semenjak Seohee berhenti bersikap manis padanya Donghae merasa ada sesuatu yang hilang. Senyum manis gadis itu, sikap percaya dirinya, cara bicaranya, semuanya tidak Donghae lihat lagi dan itu membuatnya sedikit frustasi. Ia harus membicarakan semua ini dengan Seohee. Sore ini ia harus berhasil mengajak gadis itu berbicara.

“Seohee izin pulang lebih awal.” Ungkap Park Hani, teman sekelas sekaligus sahabat Seohee ketika Donghae datang ke kelasnya saat bel pulang sudah berbunyi.
“Kenapa? Dia sakit?” tanyanya cemas sekaligus terkejut.
“Bukan. Ada jadwal syuting CF sore ini. Dia meminta izin bersama Kibum. Mungkin mereka akan syuting bersama.”

Donghae mengangguk singkat lalu menggumamkan kata terima kasih sebelum pergi. Ia mengerutkan kening. Seohee pasti sengaja mengambil jadwal syuting lebih awal agar tidak bertemu dengannya. Baiklah, jika Seohee memang menghindarinya, bukankah itu bagus? Ia memang ingin Seohee jauh dari awal. Tapi kenapa ia kesal dengan kenyataan itu?

—o0o—

“Kau bertengkar dengan Donghae?”

Seohee terkejut lalu menoleh pada Kibum yang sedang dirias di sampingnya. Pria itu selalu saja menanyakan hal usil padanya. Ia mencoba menormalkan ekspresinya sambil membenarkan posisi kacamata hitam di hidungnya.
“Memang kelihatan begitu?” tanyanya balik, mencoba bersikap acuh tak acuh. Berbeda sekali dengan hatinya yang bergemuruh.
“Sejujurnya iya. Kau tahu, semenjak hubungan kalian merenggang, Donghae terlihat seperti orang linglung. Aku tidak mengerti pada awalnya. Namun ketika melihat ekspresi Donghae setiap kali kau menghindarinya, aku baru tahu jawabannya.” Cerita Kibum membuat Seohee tertarik.
“Apa itu?”
Kibum menoleh, lalu memamerkan senyum yang membuat seluruh fans wanitanya jatuh bangun terpesona. “Donghae sedang patah hati.”
“Mwo?” Seohee terkejut mendengarnya. “Kau bilang dia patah hati?”
“Em. Auranya begitu suram. Meskipun Donghae tidak pernah mengatakannya secara langsung. Aku tahu penyebab kesedihan di wajahnya adalah dirimu,” ujar Kibum sambil menunjuk Seohee tepat di hidungnya. Seohee mendadak merasa gugup dan gelisah.
“Jadi maksudmu, Donghae jatuh cinta padaku?”
“Entahlah. Kau tanyakan saja padanya.”

—o0o—

“Kau harus mengundang Seohee ke acara pesta ulang tahunmu,” ucap Kyuhyun sambil mendribble bola, melewati Donghae yang mencoba mem-blocknya. Setelah itu ia melemparkan bola ke dalam ring dan masuk.
“Aku tidak akan membebani gadis sibuk sepertinya. Percuma saja meskipun kuundang dia tidak mungkin datang. Aku sudah bertanya pada Nara dan minggu depan jadwal Seohee sangat padat.” Ucap Donghae datar, terselip nada kecewa dari cara bicaranya. Yah, Seohee tidak mungkin datang selain karena jadwal syutingnya yang padat, gadis itu pasti tidak ingin bertemu dengannya. Ia berinisiatif menghentikan sesi latihan basket dan berjalan keluar lapangan lalu duduk di kursi panjang di sisi lapangan.
“Yah, mencoba tidak ada salahnya.” Bujuk Kyuhyun sambil meraih botol minuman dan tasnya. “Aku pulang duluan. Jika aku terlambat seseorang akan marah padaku.” Pamitnya. Donghae tersenyum sekilas lalu kembali merenung sendirian di lapangan basket indoor yang sudah sepi penghuni itu.

Kyuhyun benar, tidak ada salahnya ia mencoba mengundang Seohee. Setelah itu terserah padanya datang atau tidak. Donghae mengambil selembar kartu undangan dari dalam tasnya. Jika telepon dan sms tidak bisa menjadi sarananya memberi tahu Seohee, ia harus menyelipkan kartu undangan ini ke dalam tasnya.

—o0o—

Setelah syuting selesai, Seohee membereskan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Sejujurnya selama sepekan ini hatinya terasa hampa, hampa sekali. Mungkin ini efek karena ia tidak bisa berbicara dengan Dongahe.
“Jung Seohee, ini semua kau yang memulai, maka nikmatilah sendiri.” lirihnya sedih karena saat itu juga ia benar-benar merindukan Donghae. Pria dengan sikap dingin dan tidak pedulinya itu, bagaimana bisa membuatnya begitu tergila-gila?

Ketika mengambil sepatu dari dalam tas, sebuah kartu jatuh ke kakinya. Seohee mengerjapkan mata, kartu apa itu? Seingatnya ia tidak pernah memiliki kartu seperti ini. Bagaimana bisa ada di dalam tasnya? Ia mengambilnya karena penasaran lalu membacanya sekilas.

Invitation
Donghae’s Birthday Party
Okt 15 07.00 pm at La Fleur Restaurant

Matanya melebar, serta merta Seohee berdiri dan berseru. “Siapapun beritahu aku tanggal berapa sekarang!!!” teriaknya heboh dan panik. Beberapa orang kru yang sedang membereskan syuting menoleh kaget.
“Tanggal 15 oktober. Wae?”
“Aaargggggggghhhhh!!!!” Seohee menjambak rambutnya sendiri. Mereka yang menyaksikan tingkah Seohee hanya berpandangan heran.

Oh, Seohee tidak peduli sama sekali tentang imagenya sekarang. Demi apa, bagaimana bisa ia MELUPAKAN HARI ULANG TAHUN KEKASIH SENDIRI!!!! Pacar macam apa dia?! Seohee segera merebut ponselnya yang kebetulan saat itu sedang digenggam Manager An untuk mengecek apakah Donghae mengirim pesan padanya atau tidak.

Hatinya mencelos ketika ia melihat banyak sekali pesan masuk dari Donghae dan semuanya berisi undangan untuk dirinya. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Jika ia bergegas, mungkin ia masih bisa datang ke pesta ulang tahun kekasihnya.
“Seohee kau mau kemana???” teriak Manager An kaget ketika artisnya lari kalang kabut dari tempat syuting seperti orang kerasukan.

—o0o—

Donghae menatap tamu terakhir yang pulang dari rumahnya dengan wajah sedih. Ternyata, sampai pesta selesai pun Seohee tidak kunjung tiba juga. Entah ia harus kecewa atau maklum, tapi yang pasti hatinya terasa hampa dan sedih. Ia melirik potongan kue pertama yang rencananya akan ia berikan untuk Seohee jika gadis itu datang, kini tergeletak begitu saja di tengah meja bersama tumpukan kado yang belum ia buka. Nafasnya terhembus berat untuk yang ke sekian kali. Ia berjalan keluar restauran untuk menghirup udara segar. Hatinya sesak.

“Donghae….!!!!”

Seseorang berteriak memanggilnya. Ia baru saja membalikkan badan ketika seseorang berlari memeluknya tiba-tiba. Ia hampir saja terjungkal jatuh ke belakang jika tidak memantapkan posisi berdirinya.
“Seohee?” tanyanya ragu pada gadis yang memeluknya. Ia yakin gadis yang didekapnya sekarang adalah Seohee.
“Mianhae..” lirih suara yang dikenalnya. Donghae menghela nafas lega, sangat lega karena akhirnya gadis ini datang juga meskipun sangat terlambat. Seohee melepaskan pelukannya dengan mata berkaca-kaca.
“Mianhae…” lirihnya lagi, kali ini ia terisak. “Apa aku datang terlambat?” tanyanya berat.

Donghae melirik ke dalam restoran yang sudah sepi dari manusia. “Pestanya sudah selesai.”
Sedetik setelah mendengarnya, mata Seohee melebar kaget. Akhirnya, airmata yang sejak tadi terbendung di pelupuk mata jatuh sudah membanjiri pipi putih Seohee. Ia benar-benar merasa bersalah. “Mianhae…aku tidak datang ke pesta ulang tahun mu..aku pacar yang sangat buruk..” Seohee menangis begitu kencang sampai menarik perhatian banyak orang yang melintas di tempat itu.

“Se-Seohee..” Donghae mencoba menenangkan Seohee karena orang-orang mulai memandangnya dengan berbagai macam ekspresi.
“Lihat pria itu, sudah membuat kekasihnya menangis.” bisik beberapa wanita yang melintas sambil melirik tajam Donghae.
“Jahat sekali, pasti dia tertangkap berselingkuh.” Komentar tiga orang siswa berseragam dengan mata menyipit curiga. Syukurlah karena tidak ada yang berpikir gadis yang menangis di depannya itu adalah Jung Seohee, sang aktris terkenal. Mungkin cara menangisnya yang ajaib itu yang membuatnya tidak dikenali.
“Nak, kalau kau tidak bisa menjaga kekasihmu. Jangan kau buat dia menangis begitu.” Bahkan sampai ibu-ibu pun memarahi Donghae. Pria itu hanya mengusap tengkuknya bingung. Sejujurnya ia tidak tahu bagaimana cara menenangkan perempuan yang menangis. Seandainya ada Eunhyuk ia sudah meminta saran padanya.

Akhirnya yang bisa ia lakukan hanya satu, menarik Seohee ke pelukannya. Ia bahkan tidak tahu cara memeluk dengan benar karena tubuhnya terasa kaku sama sekali.
“Gwaenchana. Aku tahu kau sibuk.” Hibur Donghae.
“Mianhae..”
“Sudah-sudah. Lagipula bukankah aku juga melupakan ulang tahunmu dulu? Aku anggap kita impas.”

Seohee menghentikan tangisannya lalu menatap Donghae datar, “Aku tidak suka balas dendam.”
Donghae tersentak, “I know that.” Ia memperhatikan ke sekitar. Sebelum orang-orang terlanjur mengenali Seohee, ia menarik gadis itu ke dalam restoran. Donghae meminta orang-orang yang sedang membereskan sisa-sisa pesta meninggalkan mereka sejenak.

Seohee tidak pernah merasa sekonyol dan bersalah seperti sekarang. Tanpa sadar ia kembali menangis.
“Seohee..” lirih Donghae sambil menghapus airmatanya.
“Aku sudah memaksamu berpacaran denganku, setelah itu menciummu tiba-tiba. Seminggu yang lalu aku mengacuhkanmu dan sekarang, aku melupakan ulang tahunmu..Maafkan aku..”
“Seohee,”
“Aku sungguh kekasih yang tidak berguna. Aku tidak pantas menjadi kekasihmu. Jika kau merasa marah padaku kau bisa me—“ ucapan Seohee tersendat tiba-tiba karena tanpa disangka, Donghae menciumnya. Bulir airmata yang sejak tadi terurai pun tersumbat sudah. Sekarang, ia justru membeku. Donghae menciumnya? Donghae menciumnya? Kalimat itu terus berulang-ulang dalam kepalanya seperti kaset kusut. Di sisi lain, hatinya berbunga-bunga sampai berefek pada pipinya yang merona merah.

Setelah yakin Seohee tenang, Donghae menjauhkan wajahnya. Kini mata tajam milik pria itu menatap lurus gadis di depannya. Ia menghapus jejak airmata Seohee sekali lagi.
“Aku sudah memaafkanmu, Jung Seohee. Tak peduli kau ini suka sekali memaksa, suka mengabaikan, canggung untuk hal yang tidak semestinya, dan tidak terduga. Aku sudah memaafkanmu. Dan kau tenang saja, aku tidak akan memutuskanmu karena hal yang sepele seperti, datang terlambat ke pesta ulang tahunku ataupun menciumku tiba-tiba…” Donghae terdiam sejenak dan ia tersenyum mendapati rona merah di pipi Seohee.
“Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu.”
“Apa?”
“Kenapa kau menghindariku seminggu kemarin?”

Kepala Seohee terangkat cepat menatap Donghae. Pertanyaan Donghae membuat Seohee tersentak. “Aku tidak menghindarimu,” elak Seohee. Donghae menatapnya.
“Kalau begitu kenapa kau selalu lari setiap kali berpapasan denganku. Kau pikir aku hantu yang akan memangsamu?”
“I-itu..” Seohee menundukkan kepalanya malu. “Maaf..”

Donghae mendengus karena lagi-lagi mendengar kata maaf dari bibir Seohee. Ia sudah bosan mendengar kata itu. Yang ia butuhkan adalah penjelasan.
“Jadi katakan padaku kenapa kau melakukannya! Kau sungguh membuatku bingung dan aku tidak bisa belajar dengan tenang, bermain basket dengan serius, bahkan untuk membaca komik favoritku saja aku tidak bisa. Kau sungguh menyebalkan. Jika kau masih tidak mau berkata jujur juga sebaiknya kita putus saja.”

Seohee terpaku mendengar kalimat yang diucapkan secara beruntun tanpa jeda sama sekali itu. Ia mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan bahwa pria di depannya memang Lee Donghae, bukan orang lain karena baginya, aneh sekali seorang Donghae berbicara sepanjang ini dengan nada cemas dalam sekali tarikan nafas.
“Kenapa? Kau pikir aku sedang berlatih akting di depanmu?” serobot Donghae tersinggung melihat gadis di depannya mematung.
“Kau mencintaiku?”

Kali ini Donghae yang mematung. Ia tidak menyangka akan mendapatkan serangan balik dari Seohee. “Kau mencintaiku?” ulangnya. “Jika kau tidak mencintaiku kenapa kau harus memusingkan sikapku? Bukankah kau selalu ingin kita putus?”
Donghae terpaku di tatap dengan sorot penuh selidik oleh Seohee. Ia mendengus, mengalihkan pandangan lalu berkata dengan sangat lirih.
“Jika aku memang mencintaimu, lalu kau mau apa?”

Seohee kehabisan kata-kata mendengarnya. Inilah kalimat yang ia tunggu selama ini. Rasa bahagia dalam dirinya begitu membuncah sampai-sampai ia bingung harus melakukan apa untuk meluapkannya.
“Aaaaaa… I Love You, too Lee Donghae!!!!!” Seohee menghambur ke pelukan Donghae dengan airmata haru menetes di wajahnya. Donghae tersenyum lega. Ia tidak pernah merasa selega ini seumur hidupnya. Inilah balasan yang diterimanya jika ia bisa jujur pada hatinya sendiri. Ia bahagia.
“Maukah kau menjadi pacarku?” gumam Donghae. Seohee tidak perlu beranjak dari pelukan Donghae untuk menjawabnya.
“Aku selalu bersedia, Lee Donghae..” gumamnya senang. Donghae tersenyum simpul.
“Yah, ini hadiah ulang tahun terindah. Terima kasih.”

Seohee mengangkat kepalanya dari pundak Donghae. Ia teringat dengan hadiah yang belum sempat diberikannya. “Aku lupa hadiahnya..”
Donghae mencegah Seohee sebelum gadis itu pergi. “Tak perlu, Seohee..”
“Tapi..”
“Temani aku sebentar. Ada hal yang sangat ingin kulakukan saat di pesta tadi.” Donghae menarik Seohee ke pelukannya lalu hal yang dilakukannya kemudian membuat Seohee mengerjap terharu. Pria itu mengajaknya berdansa, bahkan tanpa alunan musik sedikitpun. Seohee melingkarkan tangannya di leher kekasihnya yang tertampan. Hanya menatapnya begitupun Donghae.
“Tidak masalah bagimu memiliki kekasih seorang selebriti?” tanya Seohee penasaran.
“Jika tidak aku tidak akan setuju jadi pacarmu.” Sahut Donghae. Seohee tertawa. Ia memeluk Donghae kembali. “Saengil chukkae..” lirihnya.
“Gomawo..”

Dalam hati, Seohee tersenyum gembira karena akhirnya bisa mendapatkan cinta dari orang yang dikaguminya sejak lama. Semuanya tidak akan berakhir indah jika tidak bermula oleh sesuatu yang pahit. Mungkin, ia harus berterima kasih pada paparazzi yang sudah membuat gosip heboh tentangnya karena tanpa itu, menjadi kekasih Lee Donghae hanyalah sekedar mimpi untuknya.

==The End==

171 thoughts on “Celebrity Girlfriend

  1. Aaaaaahhh manis bngeeeeeettt😀 aku ska penggambran karakter dongek disiniiii. Cooooollll. Kak dha kereeeennn!!! *angkat banner😀

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s